Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

Fototropisme: Pengaruh Cahaya Terhadap


Pertumbuhan Kecambah Zea mays dan Phaseolus
radiatus
Yasir arafat (1510100), Qintan istighfarin (151110007), Nururl Alfiyah (1511100072) Jurusan
Biologi, Fakultas FMIPA, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: nurulalfie@gmail.com

AbstrakFototropisme

merupakan salah satu gerak


yang terjadi pada tumbuhan yang disebabkan oleh adanya
rangsangan cahaya. Bila cahaya yang datang dari atas
tumbuhan, tumbuhan akan tumbuh tegak mengarah ke
atas, oleh karena itu dalam praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh cahaya dalam pertumbuhan
perkecambahan yaitu fotrotopisme. Bahan yang
digunakan adalah 10 biji kacang hijau dan 10 biji jagung
dengan 3 perlakuan yaitu tutup total, terbuka sebagian
dan terbuka total. Praktiukum ini di lakukan di gedung H
laboratorium botani ITS Surabaya dan di dapatkan hasil
bahwa pertumbuhan perkecambahan pada kacang hijau
dan jagung di pengaruhi oleh faktor internal dan
eksternal. Dalam hal ini Faktor yang paling
mempengaruhi adalah cahaya, untuk mengetahui efek
fototropisme terhadap perkecambahan kacang hijau dan
jagung. Batang kacang hijau dan jagung yang di tutup
total oleh aluminium foil lebih cepat tumbuh daripada
yang di beri perlakuan ditutup aluminium foil sebagian
dan kontrol yang tidak di tutup sama sekali. Selain
batang yang tumbuh membelok,warna daun juga
berwarna kekuningan yang menandakan terjadinya
etiolasi.
Kata Kunci Fototropisme, Cahaya, Biji Jagung, Biji
Kacang Hijau

umum adalah berupa gerak. Gerak berupa perubahan


posisi tubuh atau perpindahan yang meliputi seluruh atau
sebagian dari tubuh. Jika pada hewan rangsang
disalurkan melalui saraf, maka pada tumbuhan rangsang
disalurkan melalui benang plasma (plasmodema) yang
masuk ke dalam sel melalui dinding yang disebut
noktah[2].
Fototropisme merupakan salah satu gerak yang terjadi
pada tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan
cahaya. Bila cahaya yang datang dari atas tumbuhan,
tumbuhan akan tumbuh tegak mengarah ke atas [3].
Macam macam gerak pada tumbuhan selain
fototropisme yaitu di bagi 3 macam gerak. Antara lain:
gerak autonom (endonom), gerak esionom, dan gerak
higroskopis[3].
Gerak autonom (endonom) adalah gerak yang belum
diketahui penyebabnya secara pasti,namun diperkirakan
gerak ini disebabkan oleh rangsangan yang berasal dari
dalam tubuh tumbuhan itu sendiri.Dengan kata lain,gerak
autonom adalah gerak yang tidak disebabkan oleh
rangsangan dari luar [1]. Contoh,Gerak mengalirnya
sitoplasma dalam sel.Gerak melengkungnya kuncup daun
karena perbedaan kecepatan Tumbuh. Gerak yang
diperlihatkan tumbuhan ketika tumbuh seperti tumbuhnya
akar,batang,daun,dan bunga.Gerak kloroplas memutar
mengelilingi isi sel pada sel-sel daun Hydrilla sp.

I. PENDAHULUAN

raktikum ini bertujuan untuk mengetahui arah


perkecambahan karena pengaruh cahaya. Tumbuhan
bereaksi terhadap perubahan lingkungan dengan
perwujudan yang
tampak
antara
lain pada
pertumbuhannya. Respon terhadap perubahan lingkungan
yang diwujudkan sebagai pertumbuhan mengakibatkan
bagian tertentu lebih cepat tumbuh dibandingkan yang
lainnya. Respon ini dapat menghasilkan gerak yang nyata
walaupun umumnya lebih lambat dari pada gerak nasti.
Di antara gerak akibat tumbuh yang dikenal adalah gerak
tropisme. gerak bagian tumbuhan yang dipengaruhi oleh
arah datangnya cahaya disebut fototropisme[1].
Setiap organisme mampu menerima rangsang yang
disebut iritabilitas, dan mampu pula menanggapi
rangsang tersebut. Salah satu bentuk tanggapan yang

Gambar gerak endonom Hydrilla sp.


Gerak higroskopis adalah gerak bagian tumbuhan yang
diakibatkan oleh pengaruh perubahan kadar air dari selsel sehingga terjadi pengerutan yang tidak sama.
Contohnya antaralain: Pecahnya buah polong yang sudah
kering pada lamtoro,jarak,dan kembang merak.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

Membukanya sporangium pada tumbuhan paku akibat


berkerutnya sel-sel anulus.

Gambar Gerak Higroskopis pada lamtoro (Leucaena sp.)

Gerak etionom yaitu gerak yang dipengaruhi rangsang


dari luar
Gerak etionom merupakan reaksi gerak
tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan dari
luar. Berdasarkan hubungan antara arah respon gerakan
dengan asal rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan
menjadi gerak taksis, tropisme, dan nasti.
GERAK TROPISME,Tropisme adalah gerak
bagian tumbuhan yang arah geraknya
dipengaruhi arah datangnya rangsangan.
Bagian yang bergerak itu misalnya cabang,
daun, kuncup bunga atau sulur. Gerak
tropisme dapat dibedakan menjadi tropisme
positif apabila gerak itu menuju sumber
rangsang dan tropisme negatif apabila gerak
itu menjauhi sumber rangsang. Ditinjau dari
macam sumber rangsangannya, tropisme
dapat dibedakan lagi menjadi fototropisme,
geotropism, hidrotropisme, kemotropisme,
dan tigmotropisme[4]
Fototropisme, Fototropisme adalah gerak
bagian
tumbuhan
karena
rangsangan
cahaya. Gerak bagian tumbuhan yang
menuju kearah cahaya disebut fototropisme
positif. Misalnya
gerak
ujung
batang
tumbuhan
yang
membelok
ke
arah
datangnya cahaya. Sedangkan pertumbuhan
bagian tumbuhan menjauhi arah datangnya
cahaya disebut dengan fototropisme negatif.
Misalnya gerak pertumbuhan ujung akar.
Fototropisme atau heliotropisme adalah
gerak
tumbuhan
yang
terjadi
akibat
pengaruh arah datangnya rangsang berupa
cahaya. Fototropisme dibagi menjadi dua,
yaitu: Fototropisme positif dan Fototropisme
negatif.Fototropisme positif adalah gerak
tanaman menuju ke arah datangnya cahaya.
Contohnya ujung batang bunga matahari
yang membelok menuju ke arah datangnya
cahaya sedangkan Fototropisme negatif
adalah gerak tanaman atau bagian tanaman
menjauhi.

Geotropisme,Geotropisme adalah gerak bagian


tumbuhan karena pengaruh gravitasi bumi (geo = bumi).
Jika arah geraknya menuju rangsang disebut geotropisme
positif, misalnya gerakan akar menuju tanah. Jika arah
geraknya menjauhi rangsang disebut geotropisme negatif,
misalnya gerak tumbuh batang menjauhi tanah.
Hidrotropisme, Hidrotropisme adalah
gerak bagian tumbuhan karena rangsangan
air (hidro = air). Jika gerakan itu mendekati
air maka disebut hidrotropisme positif.
Misalnya, akar tanaman tumbuh bergerk
menuju tempat yang banyak airnya ditanah.
Jika tanaman tumbuh menjauhi air disebut
hidrotropisme negatif. Misal, gerak pucuk
batang tumbuhan yang tumbuh keatas air.
Kemotropisme, Kemotropisme adalah
gerak bagian tumbuhan karena rangsangan
zat kimia. Jika gerakannya mendekati zat
kimia tertentu disebut kemotropisme positif.
Misalnya, gerak akar menuju zat didalam
tanah. Jika gerakannya menjauhi zat kimia
tertentu disebut kemotropisme negatif,
contohnya gerak akar menjauhi racun.
Tigmotropisme , merupakan Gerak bagian tumbuhan
karena adanya rangsangan sentuhan satu sisi atau
persinggungan disebut trigmotropisme. Gerakan ini
tampak jelas pada gerak membelit ujung batang ataupun
ujung sulur dari Cucurbitaceae dan Passiflora. Contoh
tanaman yang bersulur adalah ercis, anggur, markisa,
semangka, dan mentimun.
Mekanisme Fototropisme ,Fototropisme kuncup
utama pada kebanyakan tanaman yang tumbuh di tempat
terbuka dilakukan untuk berkembang kearah vertikal,
meskipun batangnya sering tumbuh secara horizontal.
Jika sebuah kotak diisi tanaman yang tumbuh secara
vertikal dan lubang dibuat agar cahaya dapat masuk dari
salah satu sisi, maka ujung taaman mulai membengkok
kearah cahaya. Pada beberapa saat bila kotak tersebut
dipindahkan
dengan
kompensasi
pertumbuhamn
pembengkokan dikarenakan ujung tanaman tumbuh
secara vertikal. Pergerakan pertumbuhan kearah cahaya
disebut fototropisme positif, sedangkan pergerakan
tumbuhan menjauhi cahaya disebut fototropisme negatif.
Pucuk dan kuncup ujung beberapa tanaman merupakan
fototropisme positif, namun akan sangat sensitif dengan
cahaya[2].
GERAK NASTI
adalah gerak bagian tubuh
tumbuhan yang artinya tidak dipengaruhi oleh
rangsangan. Jenis gerak nasti dibagi menjadi[5]. Gerak
nasti antara lain: Tigmonosti (Seismonasti) Tigmonasti
atau seismonasti adalah gerakan nasti yang disebabkan
oleh rangsang sentuhan atau getaran. Contoh gerak
menutupnya daun sikejut atau putri malu (Mimosa
pudica), jika disentuh. Jika hanya satu anak daun
dirangsang dengan sentuhan, rangsangan itu diteruskan

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

ke seluruh tumbuhan sehingga anak daun lain ikut


mengatup. Mekanisme gerak ini juga disebabkan oleh
pengaruh perubahan tekanan turgor di dalam sel-sel pada
persendian daun. Sentuhan merupakan salah satu
rangsang dari luar terhadap gerakan daun tanaman putri
malu. Arah menutupnya daun akibat sentuhan adalah
tetap walaupun rangsang sentuhannya berbeda.
Termonasti, Gerak nasti karena pengaruh rangsang
cahaya. Contoh : gerak membukanya buka tulip atau
Termonasti merupakan gerak nasti yang disebabkan oleh
rangsang suhu, seperti mekarnya bunga tulip dan crocus.
Bunga-bunga tersebut mekar jika mendadak mengalami
kenaikan temperature, dan akan menutup kembali bila
temperatur menurun. Contoh termonasti yang terjadi di
daerah dingin, misalnya bunga tulip dan bunga crokus
yang membuka karena pengaruh suhu. Bunga-bunga
tersebut mengembang jika mengalami kenaikan suhu. Jika
suhu menurun maka bunga-bunga tersebut akan menutup
lagi. Fotonasti Gerak nasti karena pengaruh rangsang
cahaya. Contoh : gerak mekarnya bunga pukul empat,
bunga waru, dan bunga kupu kupu. Niktinasti, gerak
menutup atau rebahnya tumbuhan karena pengaruh gelap
atau menjelang malam. Contoh : gerak tidur daun lamtoro
pada malam hari. Nasti Kompleks, gerak nasti yang
disebabkan oleh beberapa factor sekaligus yang saling
terikat. Contoh : Membuka dan menutupnya sel pada
stomata. Niktinasti ,Gerak niktinasti (nyktos = malam)
adalah gerak bagian tubuh tumbuhan karena pengaruh
rangsang dari lingkungan di malam hari. Contoh gerak
niktinasti adalah pada malam hari daun-daun tumbuhan
Leguminosae atau polong- polongan (Leguminosaceae)
seperti bunga merak (Caesalpinia pulcherrima) dan daun
kupu-kupu (Bauhinia purpurea) akan menutup dan akan
membuka keesokan harinya ketika matahari terbit. Daundaun tersebut akan membuka kembali pada pagi hari.
Selain disebabkan oleh suasana gelap, gerak tidur
daun-daun tersebut dapat terjadi akibat perubahan
tekanan turgor di dalam persendian daun. Haptonasi
,Haptonasi merupakan gerak nasti yang terjadi pada
tumbuhan insektivora yang disebabkan oleh sentuhan
serangga. Contoh: menutupnya daun tanaman kantung
semar ketika tersentuh serangga kecil. Jika seekor
serangga mendarat di permukaan daun, daun akan cepat
menutup. Akibatnya, serangga tersebut terperangkap dan
tidak dapat keluar
GERAK
TAKSIS,Taksis
merupakan
gerak
perpindahan tempat sebagian atau seluruh bagian
tumbuhan akibat dari adanya rangsangan[5] Jika yang
bergerak hanya bagian dari tumbuhan maka disebut gerak
tropisme. Jika yang bergerak seluruh bagian tumbuhan
maka disebut gerak taksis. Jika gerakan itu tidak
dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan disebut
gerak nasti.
Macam macam taksis yaitu [5]: Kemotaksis, gerak
taksis yang disebabkan oleh zat kimia. Contohnya
pergerakan sel gamet jantan pada tumbuhan lumurt

bergerak menuju sel gamet betina. Fototaksis, gerak


taksis yang disebabkan oleh cahaya matahari. Contohnya
pergerakan ganggang hijau chlamy domonos yang
langsung bergerak menuju cahaya yang intensitasnya
sedang.
Praktiku ini menggunakan tanaman Jagung (Zea mays.
L) dan kacang dan kacang hijau (Phaseolus radiatus).
Jagung (Zea mays. L) merupakan tanaman semusim yang
menyelesaikan satu siklus hidupnya selama 80-150 hari.
Tanaman jagung merupakan tanaman tingkat tinggi
dengan klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Class
: Monocotyledoneae
Ordo
: Poales
Familia
: Poaceae
Genus
: Zea
Spesies
: Zea mays L.[6]
Tanaman jagung mempunyai batang yang tidak
bercabang, berbentuk silindris, dan terdiri atas sejumlah
ruas dan buku ruas. Pada buku ruas terdapat tunas yang
berkembang menjadi tongkol. Dua tunas teratas
berkembang menjadi tongkol yang produktif. Batang
memiliki tiga komponen jaringan utama, yaitu kulit
(epidermis), jaringan pembuluh (bundles vaskuler), dan
pusat batang (pith). Bundles vaskuler tertata dalam
lingkaran konsentris dengan kepadatan bundles yang
tinggi, dan lingkaran-lingkaran menuju perikarp dekat
epidermis. Kepadatan bundles berkurang begitu
mendekati pusat batang. Konsentrasi bundles vaskuler
yang tinggi di bawah epidermis menyebabkan batang
tahan rebah[7]
Tanaman jagung memerlukan beberapa minggu
untuk berkembang dari benih hingga dewasa, rata-rata
tingginya mencapai 2-3.5 m.Sesudah koleoptil muncul di
atas permukaan tanah, daun jagung mulai terbuka. Setiap
daun terdiri atas helaian daun, ligula, dan pelepah daun
yang erat melekat pada batang. Jumlah daun sama
dengan jumlah buku batang. Jumlah daun umumya
berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun
yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun.
Daun tanaman jagung mampu berkembang hingga 20-21
helai daun, walaupun jagung memproduksi 20 helai daun
namun hanya 14-15 saja yang menyelesaikan stadia
vegetatifnya[8]
Tipe perkecambahan tanaman jagung termasuk tipe
Hipogeal,hipogeal adalah apabila terjadi pembentangan
ruas batang teratas (epikotil) sehingga daun lembaga ikut
tertarik ke atas tanah, tetapi kotiledon tetap di bawah
tanah. Misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum) [9]
Kacang hijau adalah sejenis tanaman budidaya dan
palawija yang dikenal luas di daerah tropika. Tumbuhan
yang termasuk suku polongpolongan. Tanaman kacang
hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat
bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung varietasnya.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk


bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada
yang hijau dan ada yang ungu. Dalam dunia tumbuhan
tanaman ini diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledone
Ordo
: Rosales
Family : Leguminosae (Fabaceae)
Genus : Vigna
Spesies : Vigna radiate atau Phaseolus radiates
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan
letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang,
lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda
sampai hiaju tua. Bunga kacang hijau berwarna kuning,
tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang,
dan dapat menyerbuk sendiri.Polong kacang hijau
berbentuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan
biasanya berbulu pendek. Sewaktu muda polong
berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam atau
coklat. Setiap polong berisi 10-15 Biji kacang hijau lebih
kecil dibanding biji kacang kacangan lain.tipe
perkecambahan kacang hijau termasuk tipe epigel, tipe
ini terjadi jika plumula dan kotiledon muncul di atas
permukaan tanah[10] .

Gbr Di Tutup Alumunium foil Seluruhnya

Di Tutup Alumunium foil Sebagian (Terbuka


Sebagian)
Di ambil biji kacang hijau dan biji jagung kemudian di
rendam dalam air selama 1 sampai 2 jam dalam wadah
yang berbeda. Di siapkan 2 botol nescafe yang bersih dan
di dalamnya atau di bagian dasar di beri kapas dan di
basahi dengan air aquades secukupnya. Di tutup semua
botol nescafe seperti botol 1 di atas, tetapi di beri lubang
yang berbentuk persegi ukuran 5X5cm pada salah satu
pinggir botol. Kemudian dimasukkan 10 bji tanaman
kacang hijau ke dalm botol nescafe 1 dan 10 biji jagung
ke dalam botol nescafe nomer 2. Ditutup bagian atas
gelas dengan alumnium foil. Dan kemudian di amati
hasilnya setelah 1 minggu.

II. METODOLOGI
A. Waktu dan tempat
Praktikum ini di lakukan di gedung H laboratorium Botani
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam ITS Surabaya. Dilaksanakn tanggal 5 November 2013
pukul 15.00-selesai WIB.
B. ALAT dan BAHAN
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu botol
nescafe, baskom plastik kecil, dan alumunium foil.
Sedangkan bahan yang dipakai dalam praktikum ini adalah
biji jagung (Zea mays) dan biji kacang hijau (Phaseolus
radiatus)
C.LANGKAH-LANGKAH KERJA

Di Tutup Alumunium foil Seluruhnya


Di ambil biji kacang hijau dan biji jagung kemudian di
rendam dalam air selama 1 sampai 2 jam dalam wadah
yang berbeda. Di siapkan 2 botol nescafe yang bersih dan
di dalamnya atau di bagian dasar di beri kapas dan di
basahi dengan air aquades secukupnya. Di tutup semua
permukaan botol nescafe dengan alumunium foil.
Kemudian dimasukkan 10 biji kacang hijau ke dalm botol
nescafe 1 dan 10 biji jagung ke botol nescafe nomer 2.
Ditutup bagian atas gelas dengan alumnium foil. Dan
kemudian
di amati hasilnya setelah
1
minggu.

Gbr Di Tutup Alumunium foil Sebagian (Terbuka Sebagian)

Tidak di Tutup Alumunium foil ( Terbuka)


Di ambil biji kacang hijau dan biji jagung, kemudian di
rendam dalam air selama 1 sampai 2 jam. Di siapkan 2
botol nescafe yang bersih dan di dalamnya atau di bagian
dasar di beri kapas dan di basahi dengan air aquades
secukupnya. Di biarkan terbuka semua botol nescafe
untuk digunakan sebagai kontrol. Kemudian dimasukkan
10 bji tanaman kacang hijuan ke dalm botol nescafe 1
dan 10 biji jagung ke dalam botol nescafe 2, kemudian
ditutup bagian atas gelas dengan alumnium foil. Dan di
amati hasilnya setelah 1 minggu.

Gbr Tidak di Tutup Alumunium foil ( Terbuka)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

Dari ketiga perlakuan yang berbeda di atas, di


dapatkan 6 total botol nescafe dengan perlakuan dan
bahan yang berbeda. Semua di amati pertumbuhan
kecambah dengan perlakuan yang berbeda, kemudian
hasil yang diperoleh dari masing-masing perlakuan di
bandingkan. Dan lihat pengaruh cahaya terhadap
pertumbuhan dari masing-masing tanaman dalam media
dengan perlakuan yang tidak sama.
III. PEMBAHASAN
Praktikum fototropisme ini, di awali dengan perendaman
biji kacang hijau dan biji jagung dalam wadah berbeda agar
tidak bercampur, perendaman dilakukan dengan air selama 1
sampai 2 jam sebelum digunakan, hal ini berfungsi untuk
mendapatkan biji yang baik. Selain itu dalam perendaman
ini proses imbisisi dalam biji juga akan berlangsung, sambil
menunggu perendaman, disiapkan 6 botol nescafe yang
bersih sebagai medium tempat mempercambahkan biji jagung
dan biji kacang hijau. Dibagian bawah atau dasar botol diberi
kapas sebagai pengganti media tanah dan kapas diberi air
akuades secukupnya yang berfungsi untuk mengkondisikan
media agar tetap lembab,yang merupakan sebagai salah satu
syarat media atau faktor eksternal bagi proses perkecambahan
biji jagung dan biji kacang hijau. 6 botol nescafe di bagi
menjadi 3 kelompok untuk perlakuan yang berbeda. masing
masing kelompok perlakuan terdiri dari 2 botol yang nantinya
di isi oleh biji jagung dan biji kacang hijau. Botol kelompok
pertama yang terdiri dua botol, semua permukaan ditutup
dengan aluminium foil yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh tidak adanya cahaya dalam proses perkecambahan
biji jagung dan biji kacang hijau. Setelah ditutup semua, 10
biji kacang hijau dan 10 biji jagung di masukkan ke masingmasing botol dan diamati perbedaan pertumbuhan biji
tersebut dengan perlakuan tanpa ada cahaya. Pada kelompok
ke 2 yang terdiri dari 2 botol di perlakukan dengan ditutup
alumunium seperti kelompok 1, akan tetapidiberi lubang pada
salah satu pinggir botol yang bertujuan untuk mengetahui
proses perkecambahan dengan kapasitas cahaya yang sedikit.
Pada kelompok 3 yang terdiri dari 2 botol juga, di perlakukan
sebagai kontrol, yang di posisikan terbuka yaitu terkena
cahaya atau tidak di tutupi dengan alumunium foil, hal ini
untuk mengetahui pertumbuhan kecambah dengan kapasitas
cahaya yang banyak, atau terpapar cahaya. Dari tiga
perlakuan di atas bertujuan untuk mengetahui perbedaan
pertumbuhan kecambah dengan terkena cahaya, sedikit
cahaya dan tidak terkena cahaya.

Setelah pengamatan selama seminggu di dapat kan


hasil bahwa pengaruh cahaya terhadap perkecambahan
kacang hijau dalam kondisi perlakuan kontrol dapat
diperoleh tinggi antara 16,5-24,5 cm, arah tumbuh
batang lurus ke atas, warna daun hijau semua dan jumlah
daun semuanya berjumlah 2. Hal ini dapat dilihat pada
gambar di bawah ini

Gbr hasil kacang hijau perlakuan kontrol

Pada pengamatan pertumbuhan kacang hijau dengan


perlakuan di tutup sebagian media botol nescafe
diperoleh hasil tinggi batang antara 6,5-20,5 dengan arah
tumbuh batang melengkung, warna daun hijau
kekuningan dan jumlah daun semuanya berjmlah dua.
Hal ini dapat dilihat pada gambardi bawah ini

Gbr hasil kacang hijau perlakuan dengan ditutup sebagian

Pada pengamatan pertumbuhan kacang hijau dengan


perlakuan di tutup total botol nescafe dengan alumunium
foil di dapatkan hasil tinggi batang antara 20-28 cm, arah
tumbuh melengkung, warna daun kuning dan jumlah
daun semuanya berjumlah 2. Hal ini dapat dilihat pada
gambar di bawah ini

Gbr hasil kacang hijau perlakuan dengan ditutup sebagian

Pengamatan perkecambahan jagung di dapatkan hasil


pada perlakuan kontrol yaitu tinggi antara 0-5 cm, tinggi
0 sama dengan bii jagung tidak tumbuh yaitu pada biji
ke-1. Arah tumbuh batnga pada perlakuan kontrol antara
lain. Jagung no.1 tidak tumbuh, jagung no.2 arah
melengkung dan jagung no 3-10 arah lurus. Warna daun
semuanya bewarna hijau kecuali biji jagung no.1 ,
dikarenakan busuk (tidak tumbuh). Pada jumlah daun di
dapatkan hasil yaitu pada biji jagung no. 2-7 berjumlah 1
daun sedangkan biji jagung no. 8-10 berjumlah 2 helai
daun. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Pengamatan perkecambahan pada biji jagung dengan
perlakuan di tutup sebagian di dapatkan hasil tinggi batang
antara 0,1-4,5cm. Tinggi terendan 0,1 di peroleh pada
perkecambahan biji jagung no.6 . Arah tumbuh, semuanya
tumbuh ke atas kecuali no.4 dengan arah melengkung.
Jumlah daun biji no 1,2,10 berjumlah 1 helai biji. No ke 4, 6
tidak terdapat daun karena biji tidak tumbuh, untuk biji yang
lainnya berjumlah 2 helai daun. Kemudian warna daun
semuanya hijau kekuningan, kecuali no 4 dan 6 yang tidak

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME


terdapat daun. Hal ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Gbr perlakuan tutup sebagian biji kacang hijau

Pengamatan perkecambahan 10 biji jagung pada


perlakuan di tutup semua media botol nescafe dengan
alumunium foil di dapatkan hasil bahwa tinggi batang
antara 0-0,6 dimana jagung dengan tinggi 0 yang
berarti biji jagung tersebut tidak tumbuh didapat dari
biji jagung no.4 . Arah tumbuh kecambah biji jagung
untuk no 1,6,9,10 yaitu arah melengkung, sedangan no
2,3,5,8 arahnya lurus ke atas. Warna daun semuanya
berwarna kning, kecuali biji jagung no 4 dan 7, hal ini
dikarenakan biji jagung no 4 dan 7 tidak tumbuh daun.
Untuk jumlah daun, biji jagung no 2,6,8,10 berjmlah 1
helai daun sedangkan biji jagung no 1,3,5 berjumlah 2
helai daun. Hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah
ini

Gbr biji jagung dengan perlakuan ditutup semua dengan alumunium foil

Berdasarkan hasil di atas, pada perlakuan tutup total


dengan alumuniun foil didapat tinggi batang dengan
tinggi lebih panjang di bandingkan dengan perlakuan di
tutup sebagian maupun dengan perlakuan kontrol. Hal
ini dikarenakan bahwa pada kondisi gelap tidak ada
cahaya ( di tutup totap dengan alumunium foil) hormon
auksin bekerja maksimal. Hormon auksin dapat bekerja
maksimal apabila tidak terkena cahaya matahari, akan
tetapi, dengan begitu daun yang dihasilkan dalam
kondisi gelap dan hormon auksin bekerja maksimal
akan berpengaruh pada kondisi daun, sehingga kondisi
daun menjadi berwarna pucat atau kuning, selain itu
dalam kondisi gelap arah batang cenderung
melengkung, hal ini di karenakan tidak adanya faktor
cahaya[11] . Selain itu menurut Asadi[12] menjelaskan
bahwa adaptasi tanaman terhadap naungan atau
ditutup total dengan alumunium foil dicirikan oleh: a)
peningkatan luas daun dan penurunan penggunaan
metabolit, b) penurunan jumlah tranmisi dan refleksi

cahaya. Penurunan intensitas cahaya akibat naungan


juga akan menurunkan rasio klorofil a/b, tetapi akan
meningkatkan jumlah relative klorofil. Pemberian
naungan pada tanaman akan berdampak terhadap
proses metabolism dalam tubuh tanaman dan akhirnya
akan berdampak terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman, terutama karena kurangnya intensitas cahaya
yang diterima tanaman tersebut.
Berbeda pada perlakuan yang terbuka dan terbuka
sebagian. Pada perlakuan terbuka arah batang lurus ke
atas hal ini di pengaruhi oleh intensitas cahaya yang di
peroleh.Tanaman yang mendapatkan cahaya matahari
dengan intensitas yang tinggi menyebabkan lilit batang
tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih
sempurna, internodia menjadi lebih pendek, daun lebih
tebal tetapi ukurannya lebih kecil dibanding dengan
tanaman yang terlindung (tetutup dengan alumunium
foil)[13], sedangkan pada perlakuan setengah terbuka
arah tumbuh batang melengkung, hal ini disebabkan
oleh adanya intensitas cahaya yang sedikit mengenai
pertumbuhan biji kacang hijau maupun biji jagung.
Perlakuan ini mempengaruhi sifat morfologi tanaman.
Mengakibatkan batang tidak kokoh, karena garis
tengah batang lebih kecil sehingga tanaman menjadi
mudah rebah serta tanman cenderung ke arah
datangnya matahari, dimana hormon auksin yang tidak
terkena cahaya akan bekerja maksimal sedangkan
bagian tanman yang terkena cahaya kerja hormon
auksi akan terhambat oleh karena itu arah batang
kecambah mengikuti arah adanya cahaya matahari
sehinnga dalam proses ini di sebut juga fototropisme[14].
Dalam proses perkecambahan ada beberapa tahap
sehingga biji yang di tanam menjadi tumuh. Tahapan
tersebut yaitu tahap pertama suatu perkecambahan
benih dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih,
melunaknya kulit benih dan hidrasi dari protoplasma.
Tahap kedua dimulai dengan kegiatan-kegiatan sel dan
enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih
tahap ketiga merupakan tahap dimana terjadi
penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak
dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan
ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh. Tahap keempat
adalah asimililasi dari bahan-bahan yang telah
diuraikan tadi di daerah meristematik untuk
menghasilkan energi baru, pembentukan komponen dan
pertumbuhan sel baru. Tahap kelima adalah
pertumbuhan dari kecambah melalui proses
pembelahan, pembesaran dan pembagian sel-sel pada
titik-titik tumbuh. Sementara penyerapan air oleh benih
terjadi pada tahap pertama biasanya berlangsung
sampai jaringan mempunyai kandungan air 40 60 %
(atau 67 150 % atas dasar berat kering). Dan akan
meningkat lagi pada saat munculnya radikula sampai

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME

jaringan penyimpanan dan kecambah yang sedang


tumbuh mempunyai kandungan air 70 - 90 %[15] .
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan, maka tipe
perkecambahan pada jagung adalah perkecambahan
hipogeal. Perkecambahan hipogeal adalah perecambahan
yang menghasilkan kecambah dengan kotiledon tetap
berada di bawah permukaan tanah. Dalam proses
perkecambahan, plumula dan radikel masing-masing
menembus kulit benih. Radikel menuju ke bawah dilinungi
oleh koleoriza, dan plumula menuju ke atas dilindungi oleh
koleoptil. Setelah kolepotil menembus permukaan tanah
dari bawah mencapai udara, lalu membuka dan plumula
terbebas dari lindungan koleoptil dan terus tumbuh dan
berkembang, sedangkan koleotil sendiri berhenti tumbuh.
Beberapa contoh benh dengan perkecambahan epigeal
adalah padi, jagung, dan sorgum [16].

Gambar 3. Tipe perkecambahan hipogeal pada jagung hasil praktikum.

Gambar 6. Tipe perkecambahan epigeal pada kacang hijau (literatur)[18]

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi panjang gelombang,


durasi (lama penyinaran), intensitas, dan arah datangnya
sinar cahaya. Secara fisiologis, cahaya mempengaruhi baik
langsung maupun tidak langsung bagi tubuh tanaman.
Pengaruhnya pada metabolisme secara langsung melalui
fotosintesis. Sedangkan pengaruh tidak langsungnya melalui
pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang merupakan
respon metabolik dan lebih kompleks [19].
Pancaran energi yang dibutuhkan oleh tanaman terbatas
seluruhnya pada spektrum cahaya tampak (panjang
gelombang 400-700 nm). Setiap warna cahaya memiliki
panjang gelombang yang berbeda. Semakin panjang
gelombangnya, maka energi yang dikandungnya semakin
kecil. Energi cahaya dari tinggi ke rendah berturut-turut
adalah infra merah (IR), merah, oranye, kuning, hijau, biru,
violet, ultra violet. Panjang gelombang (kualitas cahaya)
mempengaruhi proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis,
fototropisme, dan fotoperiodisme. Umumnya pertumbuhan
optimal terjadi bila seluruh kisaran spektrum cahaya tampak
diberikan [20] .
Grafik 1. Pertumbuhan Batang Kacang Hijau

Gambar 4. Tipe perkecambahan hipogeal dan bagian-bagiannya (literatur)[17]

Sedangkan tipe perkecambahan pada kacang hijau adalah


epigeal yang diawali dengan pertumbuhan radikula dengan
pemanjangan hipokotil (hipo = dibawah kotiledon). Adalah
bagian pertama dari perkecambahan kacang hijau yang akan
memanjang. Hipokotil tersebut dihubungkan sehingga
menarik daripada mendorong kotiledon dan daun yang
pertamakali muncul disebut plumula,naik ke atas tanah. Pola
perkecambahan seperti ini dikenal dengan epigeal
(Hopkins,2009).

Tipe
epigeal pada
hasil praktikum

Gambar 5.
perkecambahan
kacang hijau

Grafik

2.
Pertumbuhan Batang Jagung

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan telah menunjukkan


bahwa terdapat perbedaan perkecambahan di tempat yang
memiliki intensitas cahaya yang terang dan gelap. Hal ini
menunjukkan bahwa gelap atau terangnya suatu tempat dapat
mempengaruhi perkecambahan kacang hijau dan jagung.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME


Terutama sifat fotoreseptor dan peran auksin dalam rantai
transduksisinyal [17].
Dari grafik perkembangan biji kacang hijau dan jagung,
tampak bahwa pertumbuhan batang paling cepat adalah
pertumbuhan kacang hijau pada tempat yang gelap. Pada hari
pertama pengamatan, dimasing-masing tempat menunjukkan
bahwa biji kacang hijau dan jagung belum menunjukkan
perkembangan sama sekali. Selain itu, pengaruh zat auksin
yang terdapat pada pada tumbuhan sangat mempengaruhi
perkecambahan pada biji kacang hijau dan jagung. Zat auksin
pada tumbuhan berfungsi untuk pertumbuhan bagi tanaman
dan menjadi penghambat pertumbuhan tanaman jika terkena
cahaya matahari. Sehingga dapat dikatakan bahwa
pertumbuhan tanaman di tempat gelap lebih panjang
daripada ditempat terang karena zat auksin pada tempat
gelap tidak terganggu fungsinya. Atau dapat dikatakan bahwa
zat auksin tidak dapat bekerja secara maksimal jika terkena
cahaya matahari, dan sebaliknya zat auksin dapat bekerja
secara maksimal jika berada pada tempat yang cenderung
lebihgelap [19].
Kecambah yang di tanam di tempat gelap akan tumbuh
lebih cepat/tinggi daripada yang ditempat terang. Hal
ini disebabkan karena pengaruh auksin (hormon tumbuhan
yang mengatur pertumbuha sel di meristem ujung ) yang
terdapat pada pucuk akan terurai jika terkena cahaya
matahari. Namun, tumbuhan di tempat gelap akan tampak
kuning, pucat, kurus, daunnya tidak berkembang, dan lamalama akan mati setelah cadangan makanannya habis. Ini
karena cahaya juga merangsang pembentukkan klorofil,
tumbuhan di tempat gelap tidak dapat membuat klorofil dan
akhirnya
tidak
dapat
membuat
makanannya
sendiri( fotosintesis)[19].
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan ternyata daun
yang berwarna kuning (pucat) berada pada tanaman yang
ditanam di tempat gelap. Hal ini dikarenakan di tempat gelap
tanaman tidak mendapatkan cahaya yang diperlukan untuk
proses fotosintesis sehingga tanaman tidak dapat melakukan
proses fotosintesis tersebut. Padahal proses fotosintesis
bertujuan untuk menghasilkan karbohidrat yang berperan
penting dalam pembentukan klorofil. Karena karbohidrat
tidak terbentuk, daun pun tanpa klorofil sehingga daun tidak
berwarna hijau, melainkan kuning pucat. Untuk tanaman
yang berada di tempat ruang biasa berwarna hijau
kekuningan, hal ini dikarenakan pada tempat tersebut
terdapat sedikit cahaya meskipun tidak berupa cayaha yang
secara langsung sehingga daun tersebut dapat menggalami
proses fotosintesis dan dapat menghasilkan klorofil walaupun
dalam jumlah yang sedikit. pada tanaman yang berada pada
sinar matahari langsung dan pada bola lampu warna daun
yang dihasilkan adalah hijau, hal ini dikarenakan
Tersedianya cahaya yang memadai pada tanaman tersebut,
cahaya yang memadai itu akan meningkatkan pembentukan
kloroplas. Kloroplas merupakan organel yang mengandung
klorofil (zat hijau daun). Sehingga tanaman yang
mendapatkan cukup cahaya memiliki daun yang berwarna
hijau[17].
Fototropisme adalah gerak bagian tumbuhan yang
dipengaruhi oleh arah datangnya cahaya. Pembelokan ini
disebabkan juga oleh kesensitifan hormon auksin. Hormon
auksin adalah hormon pada tumbuhan yang berperan
merangsang pembelahan sel dan pengembangan sel yang
bersifat menjauhi cahaya [20] . Auksin terdapat paling banyak

pada bagian koleoktil yang di produksi pada ujung tunas akar


dan ujung tunas batang. Apabila tumbuhan mendapatkan
cahaya matahari dari salah stu sisi maka akan terjadi
perbedaan konsentrasi antara hormon auksin pada bagian
tumbuhan yang terpapar cahaya matahari dan yang tidak.
Pada bagian yang terpapar sinar matahari, memiliki
konsentrasi hormon auksin yang lebih kecil dibandingkan
bagian tumbuhan yang tidak terpapar sinar matahari.
Pengaruh hormon auksin dalam konsentrasi yang berbeda
pada bagian tubuh tanaman mengakibatkan terjadinya
pertumbuhan yang tidak seimbang. Bagian yang mengandung
auksin lebih banyak memiliki kecepatan tumbuh yang lebih
besar. Adapun bagian yang kekurangan akan mengalami
pertumbuhan lebih lambat. Jika ini terjadi pada pucuk batang,
terjadi pembengkokan arah pertumbuhan. Pengaruh auksin
terhadap perkembangan sel memperlihatkan bahwa auksin
dapat
menaikkan
tekanan
osmotik,
meningkatkan
permeabilitas sel terhadap air, menyebabkan pengurangan
tekanan pada dinding-dinding sel, meningkatkan sintesis
protein, meningkatkan plas-tisitas, mengembangnya dinding
sel Dalam hal ini, auksin bertanggung jawab untuk rilis
proton (dengan mengaktifkan pompa proton), yang
menurunkan pH dalam sel-sel pada sisi gelap dari tanaman.
Ini pengasaman daerah dinding sel mengaktifkan enzim yang
dikenal sebagai expansins yang memutuskan ikatan dalam
struktur dinding sel, membuat dinding sel kurang kaku.
Selain itu, lingkungan asam menyebabkan gangguan ikatan
hidrogen dalam selulosa yang membentuk dinding sel.
Penurunan kekuatan dinding sel menyebabkan sel
membengkak, mengerahkan tekanan mekanik yang
mendorong gerakan phototropic
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum yang berjudul Fototropisme
dapat
diambil
kesimpulan
bahwa
pertumbuhan
perkecambahan pada kacang hijau dan jagung di pengaruhi
oleh faktor internal dan eksternal. Dalam praktikum ini
Faktor yang paling mempengaruhi adalah cahaya untuk
mengetahui efek fototropisme terhadap perkecambahan
kacang hijau dan jagung. Dari hasil praktikum menunjukkan
bahwa batang kacang hijau dan jagung yang di tutup total
oleh aluminium foil lebih cepat tumbuh daripada yang di
beri perlakuan ditutup aluminium foil sebagian dan kontrol
yang tidak di tutup sama sekali. Selain batang yang tumbuh
membelok,warna daun juga berwarna kekuningan yang
menandakan terjadinya etiolasi.
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]

V.DAFTAR PUSTAKA

Champbell, at all. 2004. Biologi. Edisi Ke Lima, Jilid III. Erlangga :


Jakarta.
Salisbury, F. B. dan Cleon. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 1.
Terjemahan dari Plant Physiologi 4 th Edition oleh Diah R. Lukman dan
Sumaryono. ITB : Bandung
Prawiranata, W.S., P. Harran, dan P. Tjondronegoro. 1991. Dasar dasar
Fisiologi Tumbuhan. Departemen Botani, Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Dwijoseputro. 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan . Penerbit PT.
Gramedia : Jakarta.
Goldsworthy, F.R., dan Fisher, 1992, Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik,
UGM Press, Yogyakarta.
Iltis,H.H. and J. Doebley. 1980. Taxonomy of Zea (Gramineae). II.
Subspecific categories in the Zea mays complex and a generic synopsis.
Am. J.Bot., 67: 994-1004.

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN : FOTOTROPISME


[7]
[8]
[9]

Weatherwax, P. 1954. Indian corn in old America. New York, NY, USA,
MacMillian Publishing.
Anderson, E. 1945. What is Zea mays? A report of progress. Chron. Bot.,
9:88-92.
Weatherwax, P. 1955. History and Origin of corn. I. Early history of corn
and theories as to its origin. In G.F. Sprague, ed. Corn and Corn
Improvement, 1 st ed., p. 1-16. New York, NY, USA, Academic Press.

[10] Balitkabi. 2004. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan

dan Umbi-umbian. 30 hlm.

[11] Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.


P.T. Grafindo Persada.
[12] Asadi, Dimiarti, Arsyad. 1991. Adaptasi varietas kedelai pada
pertanaman tumpang sari dan naungan buatan. Seminar hasil penelitian
tanaman pangan, Bogor.
[13] Widiastuti, L., Tohari, Sulistyaningsih, E. 2004. Pengaruh Intensitas
Cahaya dan Kadar Daminosida terhadap Iklim Mikro dan Pertumbuhan
Tanaman Krisan dalam Pot. Jurnal Ilmu Pertanian (11)2: 35-42.
[14] Adisarwanto, T dan Wudianto. 1999. Meningkatkan Hasil Pangan
Kedelai Di Lahan Sawah-Kering-Pasang Surut. Penebar swadaya:
Bogor.
[15] Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
[16] Pramono, Eko. 2009. Perkecambahan Benih. Jurusan Budidaya
Pertanian : Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
[17] Hopkins, William G.., Norman P. A. H uner. 2009. Introduction to Plant
Physiology Fourth Edition. John wiley & sons,inc. USA.
[18] Sulistyaningsih,Endang. 2005. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan.
UGM Press. Jogjakarta.
[19] Bassuk,Nina.,Bryan Maynard. 1987. Stock Plant Etiolation.
Hortscience,Vol 22 (5),October 1987 .
[20] Suhentaka. 2010. PENGARUH KONSENTRASI BA DAN NAA PADA
TAHAP MULTIPLIKASI SECARA IN VITRO TERHADAP
KEBERHASILAN AKLIMATISASI NENAS (Ananas comosus (L)
Merr) KULTIVAR SMOOTH CAYENNE. Makalah Seminar
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
.