Anda di halaman 1dari 8

MODELING DAN ANALISIS DATA BIOFARMASETIKA

DENGAN WINSAAM

I.

Tujuan Percobaan
Mempelajari modeling dan analisis data penelitian biofarmasetika
dengan pengkhususan data in vivo menggunakan software
WinSAAM.

II.

Pinsip
a. Modeling
Merupakan sistem simultan yang tersusun atas persamaan
differensial dan atau persamaan aljabar yang mendefinisikan
peranan variable-variable serta koefisien transportpada suatu sistem
fisika, kimia, biologis. Modeling yang didesign dengan baik dan
benar akan menjadi suatu metode yang handal dan dapat dipercaya
dalam analisis data dan mendukung pengambilan kesimpulan.
b. Kompartemen
Suatu materi karakteristik yang dapat berupa suatu bentuk kimia
tertentu, materi biologis (organ, bagian organ) yang memiliki
ruangan atau volume tertentu.
c. WinSAAM
Software yang memungkinkan

untuk

menganalisis

data

eksperimental berdasarkan model kompartemen tertentu secara


langsung.

III.

Teori
Farmakokinetika
Nasib obat sesudah diminum adalah didistribusikan ke seluruh tubuh

oleh cairan tubuh (darah), tetapi kita tidak dapat mengetahui dengan pasti
kemana dan berapa jumlahnya pada jaringan penerima distribusi.Untuk
mengirakan hal tersebut, maka secara farmakokinetika dibuatlah modelmodel yang melihat tubuh sebagai kompartemen. Sebagai bapak dari

model

kompartemen

adalah

Teorell

yang

mengatakan

tujuan

farmakokinetika adalah menurunkan persamaan matematika yang


memungkinkan kita menerangkan kinetika dan distribusi obat dalam
tubuh. Dikemukakan model satu kompartemen dan model multi
kompartemen (yang terbanyak dua kompartemen dari model multi
kompartemen), yang dapat digambarkan sebagai berikut : (Bourne,
2009).

Gambar 1. Skema transfer massa


model dua kompartemen (Shargel, 2005)
Dengan memberikan obat secara suntikan intra vena, kemudian
ditentukan kadar obat dalam darah pada waktu-waktu tertentu, akan
didapat parameter farmakokinetika V dan K pada model satu
kompartemen serta Vc, k12, k21 dan k10 pada model dua kompartemen.
Harga ka dan F didapat dari pemberian obat yang harus melewati
membran untuk sampai ke kompartemen pusat. Dengan mengetahui
harga parameter farmakokinetika dan model kompartemen berapa yang
diikuti oleh obat, maka dapatlah dihitung berapa dosis obat dan berapa
selang waktu pemberian obat pada pemakian ganda. Obat akan bekerja
dengan manjur dan aman jika kadarnya berada di atas konsentrasi
minimum efektif (MEC) tetapi di bawah konsentrasi maksimum yang
dapat menimbulkan gejala keracunan (MTC). Makin dekat jarak antara
MEC dan MTC, maka perhitungan farmakokinetika dilakukan dengan
teliti (Shargel, 2005).
Biofarmasi
Pada umumnya obat diberikan dalam bentuk sediaan seperti tablet,
kapsul , suspensi dan lain-lain. Suatu bentuk sediaan obat terdiri dari
bahan obat dan bahan-bahan pembantu yang tersusun dalam formula dan
diikuti dengan petunjuk cara proses pembuatan. Kita mengetahui bahwa

sangat banyak sediaan farmasi dengan obat, dosis dan bentuk sediaan
yang sama , diproduksi oleh industri-industri farmasi dengan nama-nama
yang berbeda. Dengan berbagai alasan dari industri-industri, maka
umumnya formula sediaan tersebut berbeda. Pada akhir tahun lima
puluhan dan awal tahun enam puluhan bermunculan laporan, publikasi
dan diskusi yang mengemukakan bahwa banyak obat-obat dengan
kandungan, dosis dan bentuk sediaan yang sama dan dikeluarkan oleh
industri farmasi yang berbeda memberikan kemanjuran yang berbeda.
Laporan-laporan

dan

publikasi-publikasi

tersebut

menyebabkan

munculnya ilmu baru dalam bidang farmasi yaitu biofarmasi (Bourne,


2009).
Selanjutnya perkembangan ilmu biofarmasi , melihat bentuk sediaan
sebagai suatu drug delivery system yang menyangkut pelepasan obat
berkhasiat dari sediaannya, absorpsi dari obat berkhasiat yang sudah
dilepaskan, distribusi obat yang sudah diabsorpsi oleh cairan tubuh,
metabolisme obat dalam tubuh serta eliminasi obat dari tubuh (Arora,
2005).
Kecepatan pelepasan obat dipengaruhi oleh bentuk sediaan, formula
dan cara pembuatan sehingga bisa terjadi sebagian obat dilepas di saluran
cerna dan sebagian lagi masih belum dilepas sehingga belum sempat
diabsorpsi sudah keluar dari saluran cerna. Umumnya obat yang sudah
terlarut dalam cairan saluran cerna bisa diabsorpsi oleh dinding saluran
cerna, tetapi dilain pihak obat yang sudah terlarut itu bisa terurai
tergantung dari sifatnya , sehingga sudah berkurang obat yang diabsorpsi
(Darko, 2003).
Modelling merupakan sistem simultan yang tersusun atas persamaan
differensial dan atau persamaan aljabar yang mendefinisikan peranan
variable-variable serta koefisien transportpada suatu sistem fisika, kimia,
biologis. Modeling yang didesign dengan baik dan benar akan menjadi
suatu metode yang handal dan dapat dipercaya dalam analisis data dan
mendukung pengambilan kesimpulan. Metode ini sangat membantu
dalam melakukan summary data, mengeksplorasi mekanisme proses,

serta memprediksikan suatu parameter/variable tertentu berdasarkan


suatu model (Darko, 2003).
Kebutuhan analisis data yang cepat dan akurat membuat metode
dengan

regresi

linier

kurang

praktis

diterapkan.

Lebih

jauh,

mentransformasikan data juga dimungkinkan dapat mendistorsi IerrorI


setiap data, sehingga secara teoritis tidak dianjurkan. Keberadaan
komputer yang menggunakan prosesor canggih dan cepat serta
dipublikasikannya berbagai software memungkinkan untuk menganalisis
data eksperimental berdasarkan model kompartemen tertentu secara
langsung. Meskipun software semacam ini pada umumnya tersedia
berbagai software komersialyang mahal, beberapa software yang gratis
juga sebetulnya dapat digunakan. Salah satu softwaretersebut adalah
WinSAAM (Windows Simulation Analysis And Modeling) (Darko,
2003).
Dengan program yang berbasis Windows, juga memberikan
keuntungan tambahan dalam meningkatkan produktivitas pemakaian,
misalnya :
Dukungan yang lebih baikdan fleksibel pada sistem grafik plotting
serta sistem export ke format file gambar atau langsung ke Word
Processor (Darko, 2003).
Expor data hasil analisis (fitting) ke sistem spreadsheet semacam
Excel sehingga memungkinkan eksplorasi lanjut dengan software
statistic atau software untuk data processing (Darko, 2003).

IV. Alat dan Bahan


a. Komputer (Sistem Operasi Windows)
b. CD instalasi software WinSAAM atau koneksi internet untuk
dapat mendownload secara langsung WinSAAM dari situs
http://www.winsaam.com
V.

Prosedur
1. Download WinSAAM
2. Open WinSAAM
3. Masukkan parameter farmakokinetik, perhatikan penggunaan
4.
5.
6.
7.
8.
9.

titik dan koma


Save WinSAAM working file, tutup (hanya working file saja)
Ketik deck, enter
Ketik solve, enter
Ketik Iter, enter
ketik plot q(1), enter
Lihat bentuk kurva, jika belum saling berhimpitan itu berarti data

kita belum sesuai dengan prediksi winsaam


10. Jika sudah berhimpitan kurvanya, simpan gambar kurva, klik
11.
12.
13.
14.
15.
16.

file, safe plot as, simpan dalam JPG, OK


Tutup gambar
Simpan halaman utama file, save, beri nama, OK
Langkah selanjutnya memindahkan data dari spreadsheet
Dari halaman utama winsam, buka command, batch saam
Copy data hasil analisis winsaam ke excel
Kolom 1, 2, 3, dan hasil copy dan hasil copy di excel masih
berupa satu kolom. Maka untuk memisahkannya, blok data
tersebut (kolom1,2,3, C, D, dan SAAM)

17.
18.
19.
20.
21.

Klik data, text to column


Tandai delimited, next, centang space, next, finish
Buat grafik hubungan T (time) terhadap QO
Data kita diberi nama QO
Karena sebenarnya kurva saling tumpang tindih antara data kita
dengan winsaam, maka kita buat titik dengan warna yang berbeda

untuk membedakan data kita dengan prediksi winsaam


22. Agar kedua titik-titik grafik tersebut lebih jelas, maka dapat
diubah format markernya
VI. Data Pengamatan

Waktu (hr)

10

Cp (mcg/ml)

75

51

33

20

14

No D
1 1
2 1
3 1
4 1
5 1
6 1
7 1

C
G
G
G
G
G
G
G

---CAT-2
2
2
2
2
2
2
I.

T
THETA
QC
1,00E+04 0.0000E+00 2,72E+06
2,00E+04 0.0000E+00 3,29E+06
3,00E+04 0.0000E+00 3,11E+06
4,00E+04 0.0000E+00 2,71E+06
6,00E+04 0.0000E+00 1,89E+06
8,00E+04 0.0000E+00 1,28E+06
1,00E+05 0.0000E+00 8,60E+05
Tabel Data Pengamatan Konvensional

QO
QO-QC
7,20E+06
4,48E+04
5,10E+06
1,81E+04
3,30E+06
1,93E+03
2,00E+06 -7,06E+03
1,40E+06 -4,91E+03
9,00E+05 -3,80E+03
4,00E+05 -4,60E+03

QC/Q
0.377
0.644
0.941
1.353
1.351
1.422
2.149

II. Tabel Data WinSAAM

WinSAAM

Kab

Kel

Vol.Distribusi

0,938

0,2

2L

Konvensional
III. Tabel Perbandingan Data WinSAAM dan Konvensional

I.
II.
III.
I. Grafik Hubungan T terhadap QO
PERHITUNGAN
VII.Pembahasan
VIII. Kesimpulan
IX.

II. Kurva Parameter farmakokinetik


Sediaan IV

DAFTAR PUSTAKA

Shargel L. 2005. Applied Biopharmaceutics and Pharmacokinetiks, 5th


ed. New York: Appleton and Large.
Arora S. 2005. Floating Drug Delivery Systems: A Review. AAPS
Pharm. Sci. Tech.; 6(3): 372-390.
Bourne, D. W. A., 2009. Pharmakokinetics and Biopharceutics.
(http:/www.boomer.org) [diakses tanggal 20 Desember 2009]
Darko Stevanoski, Peter J. Moate and Raymoond C, Boston. 2003.
WinSAAM: a windows-based compartemental modeling system,
Metabolism, 52 (9): 1153-1166