Anda di halaman 1dari 9

Sumber:

http://nataliatyas1212.blogspot.com/2013/11/makalah-tentang-

kerusakan-hutan.html

MAKALAH KERUSAKAN HUTAN


1. Pendahuluan
Hutan sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dianugerahkan kepada Bangsa
Indonesia, merupakan kekayaan yang dikuasai oleh Negara yang memberikan manfaat
serbaguna bagi umat manusia, cenderung kondisinya semakin menurun. Hutan juga
merupakan salah satu sumber daya alam yang berperan dalam menjaga, mempertahankan dan
meningkatkan ketersediaan air dan kesuburan tanah. Ketersediaan air dan kesuburan tanah
merupakan urat nadi kehidupan manusia.Indonesia dikenal memiliki hutan tropis yang cukup
luas dengan keaneka-ragaman hayati yang sangat tinggi dan bahkan tertinggi kedua di dunia
setelah Brazillia.
Seiring dengan berjalannya waktu dan tingkat kebutuhan akan kayu semakin
meningkat, mendorong masyarakat baik secara individu maupun kelompok melakukan
eksploitasi hasil hutan dengan tidak memperhatikan kelestariannya. Eksploitasi hasil hutan
tersebut biasanya dilakukan secara ilegal seperti melakukan pembalakan liar, perambahan,
pencurian yang mengakibatkan kerusakan hutan di Indonesia yang tidak terkendali.
Akibatnya, kerusakan hutan atau lingkungan tak terkendali tersebut mengakibatkan luas
hutan semakin menurun, lahan kritis semakin bertambah, dan sering terjadi bencana alam
seperti banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya.
Kerusakan hutan di Indonesia tidak hanya terjadi pada hutan alam tetapi juga telah
terjadi pada hutan lindung. Padahal, hutan lindung memiliki fungsi yang spesifik terutama
berkaitan dengan ketersediaan air. Air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting
terhadap keberlanjutan kehidupan bagi semua mahluk hidup. Hal ini seperti telah tertuang
dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan yang
menjelaskan bahwa hutan lindung merupakan kawasan hutan karena keadaan sifat alamnya
diperuntukkan guna pengaturan tata air, pencegahan banjir dan erosi serta pemeliharaan
kesuburan tanah. Oleh karena itu, hutan lindung perlu perhatian yang serius dari semua pihak
agar kelestariannya tetap terjamin.
Kerusakan hutan yang terus terjadi telah mengakibatkan malapetaka dan bencana
yang menelan korban harta dan jiwa yang tidak sedikit, seperti musibah kebakaran dan
kekeringan pada musim kemarau, banjir dan tanah longsor pada musim hujan dan lain
sebagainya. Hal ini tentu merupakan tantangan bagi semua pihak untuk mencari akar
permasalahan dan solusi pemecahannya.

2. Pembahasan
2.1 Hakekat Hutan
Pada eksistensinya hutan merupakan subekosistem global yang menenpati posisi
penting sebagai paru-paru dunia (Zain, 1996). Senada dengan itu, Radon (2009) menjelaskan
hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan
lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan
berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, serta pelestari tanah, dan
merupakan salah satu aspek biosfera Bumi yang paling penting.
Dari uraian di atas jelaslah bahwa hutan merupakan bentuk kehidupan yang tersebar
di seluruh dunia. Kita dapat menemukan hutan baik di daerah tropis maupun daerah beriklim
dingin, di dataran rendah maupun di pegunungan, di pulau kecil maupun di benua besar.

Orang awam mungkin memandang hutan sebagai sekumpulan pohon kehijauan dengan
beraneka jenis satwa dan tumbuhan liar yang terkesan gelap, tak beraturan, dan jauh dari
pusat peradaban dan bahkan menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan.
Namun, jika kita mengikuti pengertian hutan secara konsepsional yuridis dirumuskan
di dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Menurut Undang-undang tersebut, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan
lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Selain itu, jika dikaji dari
sisi ilmu kehutanan, hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau
tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Pohon sendiri adalah
tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayursayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara
mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk
(mahkota daun) yang jelas. Suatu kumpulan pepohonan dianggap hutan jika mampu
menciptakan iklim dan kondisi lingkungan yang khas setempat, yang berbeda daripada
daerah di luarnya.
2.2 Peran Hutan Terhadap Lingkungan
Hutan bukanlah warisan nenek moyang, tetapi pinjaman anak cucu kita yang harus
dilestarikan. Jika terjadi bencana, maka dipastikan biaya pengembaliannya jauh lebih besar
ketimbang melakukan pencegahan secara dini. Begitu pentingnya fungsi hutan sehingga pada
21 Januari 2004 Presiden Megawati merasa perlu mencanangkan Gerakan Nasional
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL) yaitu gerakan moral yang melibatkan semua
komponen masyarakat bangsa untuk memperbaiki kondisi hutan dan lahan kritis. Dengan
harapan, agar lahan kritis itu dapat berfungsi optimal, yang juga pada gilirannya bermanfaat
bagi masyarakat sendiri. Tujuan melibatkan komponen masyarakat, tentu saja agar mereka
menyadari bahwa hutan dan lingkungan itu sangat penting dijaga kelestariannya.
Hutan memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia diantaranya sebagai
berikut.
1)

2)

3)

Pelestarian Plasma Nutfah


Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk pembangunan di masa
depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan, obat-obatan dan industri. Penguasaannya
merupakan keuntungan komparatif yang besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena itu,
plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama untuk mempertahankan
keanekaragaman hayati.
Penahan dan Penyaring
Partikel padat dari udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang
dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya hutan, partikel
padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat dibersihkan oleh tajuk pohon
melalui proses jerapan dan serapan. Partikel yang melayang-layang di permukaan bumi
sebagian akan terjerap pada permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang
mempunyai permukaan yang kasar dan sebagian lagi terserap masuk ke dalam ruang stomata
daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang dan ranting. Dengan
demikian hutan menyaring udara menjadi lebih bersih dan sehat.
Penyerap Partikel Timbal dan Debu Semen

4)

5)

6)

7)

8)
9)

Kendaraan bermotor merupakan sumber utama timbal yang mencemari udara di


daerah perkotaan. Diperkirakan sekitar 60-70 % dari partikel timbal di udara perkotaan
berasal dari kendaraan bermotor. Hutan dengan kanekaragaman tumbuhan yang terkandung
di dalamnya mempunyai kemampuan menurunkan kandungan timbal dari udara. Debu semen
merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan
penyakit sementosis. Oleh karena itu debu semen yang terdapat di udara bebas harus
diturunkan kadarnya.
Peredam Kebisingan
Pohon dapat meredam suara dan menyerap kebisingan sampai 95% dengan cara
mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling
efektif untuk meredam suara ialah yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang
rindang. Berbagai jenis tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan
dapat mengurangi kebisingan, khususnya dari kebisingan yang sumbernya berasal dari
bawah.
Mengurangi Bahaya Hujan Asam
Pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan asam melalui proses
fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi. Proses gutasi akan memberikan beberapa unsur
diantaranya ialah : Ca, Na, Mg, K dan bahan organik seperti glumatin dan gula. Bahan anorganik yang diturunkan ke lantai hutan dari tajuk melalui proses through fall dengan urutan
K>Ca> Mg>Na baik untuk tajuk dari tegakan daun lebar maupun dari daun jarum. Hujan
yang mengandung H2SO4 atau HNO3 apabila tiba di permukaan daun akan mengalami reaksi.
Pada saat permukaan daun mulai dibasahi, maka asam seperti H 2SO4 akan bereaksi dengan
Ca yang terdapat pada daun membentuk garam CaSO 4 yang bersifat netral. Dengan demikian
adanya proses intersepsi dan gutasi oleh permukaan daun akan sangat membantu dalam
menaikkan pH, sehingga air hujan menjadi tidak begitu berbahaya lagi bagi lingkungan. pH
air hujan yang telah melewati tajuk pohon lebih tinggi, jika dibandingkan dengan pH air
hujan yang tidak melewati tajuk pohon.
Penyerap Karbon-monoksida
Mikro organisme serta tanah pada lantai hutan mempunyai peranan yang baik dalam
menyerap gas. Tanah dengan mikroorganismenya dapat menyerap gas ini dari udara yang
semula konsentrasinya sebesar 120 ppm (13,8 x 104 ug/m3) menjadi hampir mendekati nol
hanya dalam waktu 3 jam saja.
Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari fitoplankton,
ganggang dan rumput laut di samudera. Cahaya matahari akan dimanfaatkan oleh semua
tumbuhan baik di hutan kota, hutan alami, tanaman pertanian dan lainnya dalam proses
fotosintesis yang berfungsi untuk mengubah gas CO 2 dan air menjadi karbohidrat dan
oksigen. Dengan demikian proses ini sangat bermanfaat bagi manusia, karena dapat
menyerap gas yang bila konsentrasinya meningkat akan beracun bagi manusia dan hewan
serta akan mengakibatkan efek rumah kaca. Di lain pihak proses ini menghasilkan gas
oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan hewan.
Penahan Angin
Angin kencang dapat dikurangi 75-80% oleh suatu penahan angin yang berupa hutan
kota.
Penyerap dan Penapis Bau

10)

11)

12)

13)

14)

15)

16)

Daerah yang merupakan tempat penimbunan sampah sementara atau permanen


mempunyai bau yang tidak sedap. Tanaman dapat menyerap bau secara langsung, atau
tanaman akan menahan gerakan angin yang bergerak dari sumber bau.
Mengatasi Penggenangan
Daerah bawah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis tanaman yang
mempunyai kemampuan evapotranspirasi yang tinggi. Jenis tanaman yang memenuhi kriteria
ini adalah tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai
stomata yang banyak pula.
Mengatasi Intrusi Air Laut dan Abrasi
Kota-kota yang terletak di tepi pantai seperti DKI Jakarta pada beberapa tahun
terakhir ini dihantui oleh intrusi air laut. Pemilihan jenis tanaman dalam pembangunan hutan
kota pada kota yang mempunyai masalah intrusi air laut harus betul-betul diperhatikan.
Upaya untuk mengatasi masalah ini yakni membangun hutan lindung kota pada daerah
resapan air dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Hutan
berupa formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam gempuran ombak dan dapat
membantu proses pengendapan lumpur di pantai. Dengan demikian hutan selain dapat
mengurangi bahaya abrasi pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan daratan.
Produksi Terbatas
Hutan memiliki fungsi in-tangible juga tangible. Sebagai contoh, pohon mahoni di
hutan kota Sukabumi sebanyak 490 pohon telah dilelang dengan harga Rp. 74 juta.
Penanaman dengan tanaman yang menghasilkan biji atau buah yang dapat dipergunakan
untuk berbagai macam keperluan warga masyarakat dapat meningkatkan taraf gizi dan
penghasilan masyarakat.
Ameliorasi Iklim
Salah satu masalah penting yang cukup merisaukan penduduk perkotaan adalah
berkurangnya rasa kenyamanan sebagai akibat meningkatnya suhu udara di perkotaan. Hutan
kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan agar pada saat siang hari tidak
terlalu panas, sebagai akibat banyaknya jalan aspal, gedung bertingkat, jembatan layang,
papan reklame, menara, antene pemancar radio, televisi dan lain-lain. sebaliknya pada malam
hari dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik (reradiasi) dari
bumi.
Pelestarian Air Tanah
Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan
memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan
kemampuan menyerap air yang besar maka kadar air tanah hutan akan meningkat. Jika hujan
lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam
menjadi air infiltrasi dan air tanah dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan. Dengan
demikian pelestarian hutan pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat
membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik.
Penapis Cahaya Silau
Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti
kaca, aluminium, baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda
tersebut memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan
mengurangi daya pandang pengendara. Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan
cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya.
Mengurangi Stress, Meningkatkan Pariwisata dan Pencinta Alam
Kehidupan masyarakat di lingkungan hidup kota mempunyai kemungkinan yang
sangat tinggi untuk tercemar, baik oleh kendaraan bermotor maupun industri. Petugas lalu
lintas sering bertindak galak serta pengemudi dan pemakai jalan lainnya sering mempunyai
temperamen yang tinggi diakibatkan oleh cemaran timbal dan karbon-monoksida. Oleh sebab

2.3

1)

2)
3)

itu gejala stress (tekanan psikologis) dan tindakan ugal-ugalan sangat mudah ditemukan pada
anggota masyarakat yang tinggal dan berusaha di kota atau mereka yang hanya bekerja untuk
memenuhi keperluannya saja di kota. Hutan kota juga dapat mengurangi rasa kekakuan.
Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan Hutan
Kerusakan hutan dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap kayu,
meluasnya konversi hutan menjadi perkebunan sawit, korupsi dan tidak ada pengakuan
terhadap hak rakyat dalam pengelolaan hutan. Kerusakan hutan berdampak negatif dan dan
positif.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan hutan antara lain :
Kebakaran Hutan
Penyebab kebakaran hutan sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan, apakah
karena alami atau karena kegiatan manusia. Namun berdasarkan beberapa hasil penelitian
menunjukkan bahwa penyebab utama kebakaran hutan adalah faktor manusia yang berawal
dari kegiatan atau permasalahan sebagai berikut:
Sistem perladangan tradisional dari penduduk setempat yang berpindah-pindah.
Perladangan berpindah merupakan upaya pertanian tradisional di kawasan hutan
dimana pembukaan lahannya selalu dilakukan dengan cara pembakaran karena cepat, mudsah
dan praktis. Namun pembukaan lahan untuk perladangan tersebut umumnya sangat terbatas
dan terkendali karena telah mengikuti aturan turun temurun (Dove, 1988).
Pembukaan hutan oleh para pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) untuk insdustri kayu
maupun perkebunan kelapa sawit.
Pembukaan hutan oleh pemegang HPH dan perusahaan perkebunan untuk
pengembangan tanaman industri dan perkebunan umumnya mencakup areal yang cukup luas.
Metoda pembukaan lahan dengan cara tebang habis dan pembakaran merupakan alternatif
pembukaan lahan yang paling murah, mudah dan cepat. Namun metoda ini sering berakibat
kebakaran tidak hanya terbatas pada areal yang disiapkan untuk pengembangan tanaman
industri atau perkebunan, tetapi meluas ke hutan lindung, hutan produksi dan lahan lainnya.
Penyebab struktural, yaitu kombinasi antara kemiskinan, kebijakan pembangunan dan tata
pemerintahan, sehingga menimbulkan konflik antar hukum adat dan hukum positif negara.
Penyebab struktural, umumnya berawal dari suatu konflik antara para pemilik modal
industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli yang merasa kepemilikan
tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi
pengesahan melalui hukum positif negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan
dengan melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki secara
turun temurun. Disini kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan
masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk memadamkannya.
Penebangan hutan secara sembarangan.
Menebang hutan sembarangan akan menyebabkan hutan menjadi gundul. Ditambah
lagi akhir-akhir ini penebangan hutan liar semakin marak terjadi.
Penegakan Hukum yang Lemah
Menteri Kehutanan Republik Indonesia M.S.Kaban SE.MSi menyebutkan bahwa
lemahnya penegakan hukum di Indonesia telah turut memperparah kerusakan hutan
Indonesia. Menurut Kabag penegakan hukum barulah menjangkau para pelaku di lapangan
saja. Biasanya mereka hanya orang-orang upahan yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan
hidup mereka sehari-harinya. Mereka hanyalah suruhan dan bukan orang yang paling
bertanggungjawab. Orang yang menyuruh mereka dan paling bertanggungjawab sering belum
disentuh hukum. Mereka biasanya mempunyai modal yang besar dan memiliki jaringan
kepada penguasa. Kejahatan seperti ini sering juga melibatkan aparat pemerintahan yang
berwenang dan seharusnya menjadi benteng pertahanan untuk menjaga kelestarian hutan
seperti polisi kehutanan dan dinas kehutanan.

4)

2.4
1)

2)

3)

Keadaan ini sering menimbulkan tidak adanya koordinasi yang maksimal baik
diantara kepolisian, kejaksaan dan pengadilan sehingga banyak kasus yang tidak dapat
diungkap dan penegakan hukum menjadi sangat lemah.
Mentalitas Manusia.
Manusia sering memposisikan dirinya sebagai pihak yang memiliki otonomi untuk
menyusun blue print dalam perencanaan dan pengelolaan hutan, baik untuk kepentingan
generasi sekarang maupun untuk anak cucunya. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
manusia sering menganggap dirinya sebagai ciptaan yang lebih sempurna dari yang lainnya.
Pemikiran antrhroposentris seperti ini menjadikan manusia sebagai pusat. Bahkan posisi
seperti ini sering ditafsirkan memberi lisensi kepada manusia untuk menguasai hutan.
Karena manusia memposisikan dirinya sebagai pihak yang dominan, maka
keputusan dan tindakan yang dilaksanakanpun sering lebih banyak di dominasi untuk
kepentingan manusia dan sering hanya memikirkan kepentingan sekarang daripada masa
yang akan datang. Akhirnya hutanpun dianggap hanya sebagai sumber penghasilan yang
dapat dimanfaatkan dengan sesuka hati. Masyarakat biasa melakukan pembukaan hutan
dengan berpindah-pindah dengan alasan akan dijadikan sebagai lahan pertanian.
Kalangan pengusaha menjadikan hutan sebagai lahan perkebunan atau penambangan
dengan alasan untuk pembangunan serta menampung tenaga kerja yang akan mengurangi
jumlah pengangguran. Tetapi semua itu dilaksanakan dengan cara pengelolaan yang
exploitative yang akhirnya menimbulkan kerusakan hutan. Dalam struktur birokrasi
pemerintahan mentalitas demikian juga seakan-akan telah membuat aparat tidak serius untuk
menegakkan hukum dalam mengatasi kerusakan hutan bahkan terlibat di dalamnya.
Dampak Kerusakan Hutan
Kerusakan hutan akan menimbulkan beberapa dampak negatif yang besar di bumi, di
antaranya :
Efek Rumah Kaca (Green house effect).
Hutan merupakan paru-paru bumi yang mempunyai fungsi mengabsorsi gas Co2.
Berkurangnya hutan dan meningkatnya pemakaian energi fosil (minyak, batu bara, dll) akan
menyebabkan kenaikan gas Co2 di atmosfer yang menyelebungi bumi. Gas ini makin lama
akan semakin banyak, yang akhirnya membentuk satu lapisan yang mempunyai sifat seperti
kaca yang mampu meneruskan pancaran sinar matahari yang berupa energi cahaya ke
permukaan bumi, tetapi tidak dapat dilewati oleh pancaran energi panas dari permukaan
bumi. Akibatnya energi panas akan dipantulkan kembali kepermukaan bumi oleh lapisan Co2
tersebut, sehingga terjadi pemanasan di permukaan bumi. Inilah yang disebut efek rumah
kaca.
Keadaan ini menimbulkan kenaikan suhu atau perubahan iklim bumi pada
umumnya. Kalau ini berlangsung terus maka suhu bumi akan semakin meningkat, sehingga
gumpalan es di kutub utara dan selatan akan mencair. Hal ini akhirnya akan berakibat
naiknya permukaan air laut, sehingga beberapa kota dan wilayah di pinggir pantai akan
terbenam air, sementara daerah yang kering karena kenaikan suhu akan menjadi semakin
kering.
Kerusakan Lapisan Ozon
Lapisan Ozon (O3) yang menyelimuti bumi berfungsi menahan radiasi sinar
ultraviolet yang berbahaya bagi kehidupan di bumi. Di tengah-tengah kerusakan hutan,
meningkatnya zat-zat kimia di bumi akan dapat menimbulkan rusaknya lapisan ozon.
Kerusakan itu akan menimbulkan lubang-lubang pada lapisan ozon yang makin lama dapat
semakin bertambah besar. Melalui lubang-lubang itu sinar ultraviolet akan menembus sampai
ke bumi, sehingga dapat menyebabkan kanker kulit dan kerusakan pada tanaman-tanaman di
bumi.
Kepunahan Species

Hutan di Indonesia dikenal dengan keanekaragaman hayati di dalamnya. Dengan


rusaknya hutan sudah pasti keanekaragaman ini tidak lagi dapat dipertahankan bahkan akan
mengalami kepunahan. Dalam peringatan Hari Keragaman Hayati Sedunia dua tahun yang
lalu Departemen Kehutanan mengumumkan bahwa setiap harinya Indonesia kehilangan satu
species (punah) dan kehilangan hampir 70% habitat alami pada sepuluh tahun terakhir ini.
4) Merugikan Keuangan Negara.
Sebenarnya bila pemerintah mau mengelola hutan dengan lebih baik, jujur dan adil,
pendapatan dari sektor kehutanan sangat besar. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Misalnya tahun 2003 jumlah produksi kayu bulat yang legal (ada ijinnya) adalah sebesar 12
juta m3/tahun. Padahal kebutuhan konsumsi kayu keseluruhan sebanyak 98 juta m3/tahun.
Data ini menunjukkan terdapat kesenjangan antara pasokan dan permintaan kayu bulat
sebesar 86 juta m3. Kesenjangan teramat besar ini dipenuhi dari pencurian kayu (illegal
loging). Dari praktek tersebut diperkirakan kerugian yang dialami Indonesia mencapai Rp.30
trilyun/tahun. Hal inilah yang menyebabkan pendapatan sektor kehutanan dianggap masih
kecil yang akhirnya mempengaruhi pengembangan program pemerintah untuk masyarakat
Indonesia.
5) Banjir.
Dalam peristiwa banjir yang sering melanda Indonesia akhir-akhir ini, disebutkan
bahwa salah satu akar penyebabnya adalah karena rusaknya hutan yang berfungsi sebagai
daerah resapan dan tangkapan air (catchment area). Hutan yang berfungsi untuk
mengendalikan banjir di waktu musim hujan dan menjamin ketersediaan air di waktu musim
kemarau, akibat kerusakan hutan makin hari makin berkurang luasnya.
Tempat-tempat untuk meresapnya air hujan (infiltrasi) sangat berkurang, sehingga
air hujan yang mengalir di permukaan tanah jumlahnya semakin besar dan mengerosi daerah
yang dilaluinya. Limpahannya akan menuju ke tempat yang lebih rendah sehingga
menyebabkan banjir. Bencana banjir dapat akan semakin bertambah dan akan berulang
apabila hutan semakin mengalami kerusakan yang parah. Tidak hanya akan menimbulkan
kerugian materi, tetapi nyawa manusia akan menjadi taruhannya. Banjir di Jawatimur dan
Jawa tengah adalah contoh nyata.
2.5 Upaya Pelestarian Hutan
Pemerintah Indonesia melalui keputusan bersama Departemen Kehutanan dan
Departemen Perindustrian dan Perdagangan sejak tahun 2001 telah mengeluarkan larangan
ekspor kayu bulat (log) dan bahan baku serpih. Selain itu, Pemerintah juga telah
berkomitmen untuk melakukan pemberantasan illegal logging dan juga melakukan
rehabilitasi hutan melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL) yang
diharapkan di tahun 2008 akan dihutankan kembali areal seluas tiga juta hektar.
Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki
tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian
lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:
1. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna
Tanah.
2. Menerbitkan UU No. 23 Tahun 1997, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
3. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan).
4. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan
pokoknya:
a) Menanggulangi kasus pencemaran.

b) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).


c) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.
Berangkat dari kompleksnya faktor penyebab kerusakan hutan di Indonesia
dibutuhkan solusi yang cepat dan tepat, untuk menyatukan visi dan misi
seluruh stakeholders dalam menjaga eksistensi hutan di negara ini. Jeda penebangan hutan
atau Moratorium Logging adalah suatu metode pembekuan atau penghentian sementara
seluruh aktifitas penebangan kayu skala besar (skala industri) untuk sementara waktu tertentu
sampai sebuah kondisi yang diinginkan tercapai. Lama atau masa diberlakukannya
moratorium biasanya ditentukan oleh berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
kondisi tersebut (Hardiman dalam Hutan Hancur, Moratorium Manjur).
Sebagai langkah awal dalam pencegahan kerusakan hutan nasional, metode ini
dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak. Bentuknya dapat berupa reformasi hutan yang
dilaksanakan oleh semua pihak sebgai bentuk partisipasi pemerintah, privat, dan masyarakat
dalam melindungi hutan dari kerusakan. Moratorium Logging dapat memberikan manfaat
bagi semua pihak.
Berikut adalah gambaran manfaat yang dapat diterima oleh stakeholders bila jeda
penebangan hutan dilaksanakan saat ini:
Pemerintah
Pemerintah mendapatkan manfaat berupa jangka waktu dalam melakukan restrukturisasi dan
renasionalisasi industri olahan kayu nasional, mengkoreksi over kapasitas yang dihasilkan
oleh indsutri kayu, serta mengatur hak-hak pemberdayaan sumber daya hutan, dan melakukan
pengawasan illegal logging bersama sector private dan masyarakat.
Private/investor
Private/investor mendapatkan keuntungan dengan meningkatnya harga kayu di pasaran,
sumber daya (kayu) kembali terjamin keberadaannya, serta meningkatkan efisiensi
pemakaian bahan kayu dan membangun hutan-hutan tanamannya sendiri.
Masyarakat
Masyarakat mendapatkan keuntungan dengan kembali hijaunya hutan disekeliling lingkungan
tinggal mereka, serta dapat terhindar dari potensi bencana akibat kerusakan hutan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan
Model pengelolaan hutan dalam jangka menengah dan jangka panjang dilakukan
dengan membuat Master Plan Pengelolaan Hutan, yang proses penyusunannya melibatkan
semua unsur terkait (Pemerintah daerah, masyarakat dan perhutani). Master plan pengelolaan
hutan penyusunannya didasarkan pada sistemSocial Forestry, dengan harapan dapat
mewujudkan: pengamanan hutan secara berkesinambungan, menjaga pelestarian hutan dan
peran hutan sebagai penyeimbang lingkungan.
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan
tumbuhan lainnya. Kerusakan hutan adalah kegiatan pembalakan hutan, merupakan kegiatan
yang merusak kondisi hutan setelah penebangan, karena di luar dari perencanaan yang telah
ada. Kerusakan hutan kita dipicu oleh tingginya permintaan pasar dunia terhadap kayu,
meluasnya konversi hutan menjadi perkebunan sawit, korupsi dan tidak ada pengakuan
terhadap hak rakyat dalam pengelolaan hutan.

Kerusakan hutan telah menimbulkan perubahan kandungan hara dalam tanah dan
hilangnya lapisan atas tanah yang mendorong erosi permukaan dan membawa hara penting
bagi pertumbuhan tegakan. Terbukanya tajuk iokut menunjang segara habisnya lapisan atas
tanah yang subur dan membawa serasah sebagai pelindung sekaligus simpanan hara sebelum
terjadinya dekomposisi oleh organisme tanah. Terjadinya kerusakan hutan, apabila terjadi
perubahan.yang menganggu fungsi hutan yang berdampak negatif, misalnya: adanya
pembalakan liar (illegal logging) menyebabkan terjadinya hutan gundul, banjir, tanah lonsor,
kehidupan masyarakat terganggu akibat hutan yang jadi tumpuhan hidup dan kehidupanya
tidak berarti lagi serta kesulitan dalam memenuhi ekonominya.
B.

Saran
Konsep pengelolaan hutan secara bijaksana, harus mengembalikan fungsi hutan
secara menyeluruh (fungsi ekologis, fungsi sosial dan fungsi ekonomi) dengan lebih
menekankan kepada peran pemerintah, peran masyarakat dan peran swasta. Langkahlangkah yang sinergi dari ke tiga komponen (pemerintah, masyarakat dan swasta) akan
mewujudkan fungsi hutan secara menyeluruh yang menciptakan pengamanan dan pelestarian
hutan.