Anda di halaman 1dari 11

A.

Latar Belakang
Tumor parotis adalah tumor yang menyerang kelenjar liur parotis. Dari tiap 5 tumor
kelenjar liur, 4 terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar liur kecil atau
submandibularis dan 30 % adalah maligna. Disebutkan bahwa adanya perbedaan geografik
dan suku bangsa: pada orang Eskimo tumor ini lebih sering ditemukan, penyebabnya tidak
diketahui. Sinar yang mengionisasi diduga sebagai faktor etiologi.
Dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis,
kelenjar submandibularis, dan kelenjar sub lingualis. Kelenjar parotis merupakan
kelenjar liur utama yang terbesar dan menempati ruangan di depan prosesus mastoid dan
liang telinga luar. Tumor ganas parotis pada anak jarang didapat. Tumor paling sering
pada anak adalah karsinoma mukoepidermoid, biasanya jenis derajat rendah. Massa
dalam kelenjar liur dapat menjadi ganas seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi
tumor ganas yang biasanya terjadi pada orang dengan usia lebih dari 40 tahun adalah 25
% tumor parotis, 50 % tumor submandibula, dan satu setengah sampai dua pertiga dari
seluruh tumor kelenjar liur minor adalah ganas.
Mengingat banyaknya masalah yang dialami akibat yang ditimbulkan, maka perlu
adanya perawatan dan support sistem yang intensif, serta tindakan yang komprehensif
melalui proses asuhan keperawatan, sehingga diharapkan masalah yang ada dapat teratasi
dan komplikasi yang mungkin terjadi dapat dihindari secara dini.
Peran perawat pada kasus tumor parotis meliputi sebagai pemberi asuhan
keperawatan langsung kepada klien yang mengalami tumor parotis, sebagai pendidik
memberikan pendidikan kesehatan untuk mencegah komplikasi, serta sebagai peneliti
yaitu dimana perawat berupaya meneliti asuhan keperawatan kepada klien tumor parotis
melalui metode ilmiah.
B. Definisi
Adenocarcinoma adalah kanker yang terjadi pada kelenjar. Adenocarcinoma pada
kepala-leher adalah tumor ganas yang menyerang kelenjar ludah yaitu jaringan yang
memproduksi air liur. Adenocarcinoma menempati peringkat ketiga dari seluruh tumor
ganas rongga mulut setelah Squamous Cell Carcinoma, dan Undifferentiated Carcinoma.
Keganasan pada kelenjar ludah sebagian besar bersifat asimtomatik, sering ditemukan
pada stadium lanjut dan sulit disembuhkan sehingga prognosis dari kanker ini adalah
buruk (Kentjono, 2006).
Adenocarcinoma atau yang biasa disebut kanker kelenjar ludah adalah tumor ganas
dari jaringan yang memproduksi air liur. Kanker kelenjar ludah merupakan salah satu dari
lima jenis utama kanker di daerah kepala dan leher, yang disebut dalam pengelompokan
kanker kepala dan leher yang paling sering ditemukan. Keganasan pada kelenjar liur

sebagian besar bersifat asimtomatik, tumbuhnya lambat, dan berbentuk massa soliter. Rasa
sakit dan rasa nyeri didapatkan secara episodik mengindikasikan adanya peradangan atau
obstruksi daripada akibat keganasan itu sendiri. Adenocarcinoma merupakan kanker yang
sering dijumpai menyerang kelenjar parotis. Kanker ini jarang ditemukan menyerang pada
usia 40 tahun, dan memiliki insiden atau kejadian pada usia-usia lanjut. Kanker ini lebih
banyak menyerang laki-laki daripada perempuan (Zahroh, 2012).
C. Etiologi
Etiologi Tumor parotis antara lain (Smeltzer, 2002) :
1. Idiopatik
Idiopatik adalah jenis yang paling sering dijumpai. Siklus ulserasi yang sangat nyeri
dan penyembuhan spontan dapat terjadi beberapa kali disdalam setahun. Infeksi virus,
defisiensi nutrisi, dan stress emosional, adalah factor etiologik yang umum.
2. Genetik
Resiko kanker / tumor yang paling besar diketahui ketika ada kerabat utama dari pasien
dengan kanker / tumor diturunkan dominan autososom. Onkogen merupakan segmen
dna yang menyebabkan sel meningkatkan atau menurunkan produk produk penting
yang berkaitan dengan pertumbuhan dan difesiensi sel .akibatnya sel memperlihatkan
pertumbuhan dan penyebaran yang tidak terkendali semua sifat sieat kanker fragmen
fragmen genetic ini dapat merupakan bagian dari virus virus tumor.
3. Bahan-bahan kimia
obat-obatan hormonal Kaitan hormon hormon dengan perkembangan kanker
tertentu telah terbukti. Hormon bukanlah karsinogen, tetapi dapat mempengaruhi
karsigogesis Hormon dapat mengendalikan atau menambah pertumbuhan tumor.
4. Faktor imunologis
Kegagalan mekanisme imun dapat mampredisposisikan seseorang untuk mendapat kan
kanker tertentu.Sel sel yang mempengaruhi perubahan { bermutasi} berbeda secara
antigenis dari sel sel yang normal dan harus dikenal oleh system imun tubuh yang
kemudian memusnahannya.Dua puncak insiden yang tinggi untuk tumbuh nya tumor
pada masa kanak kanak dan lanjut usia, yaitu dua periode ketika system imun sedang
lemah.

D. Patofisiologi
Patogenesis dari Adenocarcinoma berasal dari perubahan genetik, yaitu adanya
mutasi gen yang terjadi selama periode bertahun-tahun. Perubahan ini terjadi pada gen-

gen yang mengkodekan protein yang mengendalikan siklus sel, proliferasi sel, maupun
apoptosis sel. Keganasan akan dipercepat dengan adanya aktivasi gen-genyang mengatur
metastasis (metastatic gene). Sehingga sel akan tumbuh tidak terkontrol dan terjadilah
kanker dan peningkatan progesifitas kanker (Adham, 2010).
Kelainan peradangan biasanya muncul sebagai pembesaran kelenjer difus atau nyeri
tekan. Infeksi bakterial adalah akibat obstruksi duktus dan infeksi retograd oleh bakteri
mulut. Parotitis bacterial akut dapat dijumpai pada penderita pascaoperasi yang sudah tua
yang mengalami dehidrasi dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus.
Tumor-tumor Dari semua tumor kelenjer saliva, 70% adalah tumor benigna, dan dari
tumor benigna 70% adalah adenoma plemorfik. Adenoma plemorfik adalah proliferasi
baik sel epitel dan mioepitel duktus sebagaimana juga disertai penigkatan komponen
stroma. Tumor-tumor ini dapat tumbuh membesar tanpa menyebabkan gejala nervus
vasialis. Adenoma plemorfik biasanya muncul sebagai masa tunggal yang tak nyeri pada
permukaan lobus parotis. Degenerasi maligna adenoma plemorfik terjadi pada 2%
sampai 10%.
Tumor-tumor jinak dari glandula parotis yang terletak di bagian medial n.facialis,
dapat menonjol ke dalam oropharynx, dan mendorong tonsil ke medial. Tumor-tumor
jinak bebatas tegas dan tampak bersimpai baik dengan konsistensi padat atau
kistik.Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh infeksi telinga yang berulang dan juga
dapat menyebabkan ganguan pendengaran. Tumor parotis juga dapat disebabkan oleh
peradangan tonsil yang berulang.
Adenocarcinoma dapat bermetastasis ke kelenjar getah bening regional, paru, liver,
maupun pada tulang. Metastasis dari Adenocarcinoma jauh berkembang menurut
gambaran histologisnya. Metastasis jarang terjadi pada low-grade, namun pada
highgrade mencapai 30%-46% dari kasus.
E. Tanda dan gejala
1. Adanya benjolan yang mudah digerakkan
2. Pertumbuhan amat lambat
3. Tidak memberikan keluhan
4. Paralisis fasial unilateral
Secara histologi, keganasan pada kelenjar parotis dapat dibagi atas tumor high grade dan
low grade. Tumor high grade antara lain karsinoma duktus kelenjar liur, karsinoma sel
skuamosa, adenoma pleomorfik, adenokarsinoma, karsinoma mukoepidermoid, karsinoma
adenoid kistik, karsinoma tidak berdifferensiasi. Tumor low grade antara lain adalah

karsinoma sel asinus, karsinoma mukoepidermoid, karsinoma mioepitelial, karsinoma


onkositik dan karsinoma sebaseus.
Union Internationale Contre le Cancer (UICC) tahun 1997 dan American Joint
Commitee (AJCC) tahun 2002, membagi stadium dari tumor ganas kelenjar parotis
berdasarkan ukuran tumor (T), pembesaran kelenjar getah bening regional (N), dan ada atau
tidaknya metastasis (M).

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen

Foto foto rontgen tengkorak dan leher kadang-kadang dapat menunjukan ikut
sertanya

tulang-tulang.

Sedangakan

foto

thorax

diperlukan

untuk

penilaian

kemungkinan metastasis hematogen.


Pemeriksaan rontgen glandula parotis dan submandibularis dengan bahan kontras
(sialografi) dapat menunjukan, apakah tumor yang ditetapkan klinis itu berasal dari atau
berhubungan dengan kelenjer-kelenjer ludah tersebut. Pemeriksaan ini penting untuk
membedakan antara suatu tumor dengan radang (khronik), dan kalau dapat ditambah
dengan temografi. Metode ini kurang berguna untuk membedakan antara tumor jinak
dan ganas.
2. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap, urin.
2) Laboratorium patologi anatomi
3. Pemeriksaan CT-Scan
Diagnosa dari suatu tumor dapat tergantung pada batas-batas tumor dan hasil biobsi
dari lesi. Kanker dari organ-organ visceral lebih sulit di diagnosis dan di biobsi.
Informasi dari pemeriksaan CT-Scan dapat bermanfaat untuk membantu mendiagnosis.
G. Penatalaksanaan
a. Tumor operabel
1) Pembedahan
Parotidektomi superfisial dilakukan pada tumor jinak parotis lobus superfisialis
b) Parotidektomi total dilakukan pada tumor ganas parotis yang belum ekstensi
ekstraparenkin dan n VII, tumor jinak parotis yang mengenai lobus profundus
c) Parotidektomi total diperluasa dilakukan pada tumor ganas parotis yang sudah
ekstensi ekstraparenkim dan mengenai n VII
d) Deseksi leher radikal (RND) dilakukan pada metastase kelenjar getah bening yang
masih operabel
2) Radioterapi pasca pembeddahan diberikan pada tumor ganas kelenjar liur dengan
kriteria high grade malignancy, masih ada residu makroskopis dan mikroskopis, tumor
menempel pada saraf, setiap T3 dan T4, karsinoma parotis lobus profundus.
Radioterapi sebaiknya dimulai 4-6 minggu setelah pembedahan untuk memberikan
penyembuhan operasi adekuat .
b. Tumor non operabel
1. terapi utama: radioterapi 65-70 Gydalam 7-8 minggu

2. terapi tambahan : kemoterapi


1) untuk jenis adenokarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma,
malignant mixed tumor, acinic cell carcinoma)
a) adriamisin 50 mg/ m2 iv pada hari pertama
b) 5 fluorourasil 500 mg / m2 iv pada hari 1 diulang tiap 3 minggu
c) Sisplatin 100 mg/m2 pada hari kedua
2) Untuk jenis karsinoma sel skuamous
a) Methotrexate 50 mg/m2 iv pada hari 1 dan 7 diulang tiap 3 minggu
b) Sisplatin 100 mg/m2 iv pada hari 2

H. Pathway
Faktor resiko : genetik, lingkungan, gaya hidup
Kerusakan DNA
Mutasi genom sel somatik
Pengaktifan onkogen

perubahan gen yang mengendalikan

Pendorong pertumbuhan

pertumbuhan

penonaktifan
supresor kanker

Eksspresi produk gen yang mengalami


Perubahan dan hilangnya produk gen
Regulator
Neoplasia ganas pada sel target (kelenjar parotis)
Menyerang retromandibular mendesak sel syaraf mendesak jaringan

perubahan status
kesehatan

Lobus bagian dalam


Parapharingeal
Disfagia
Intake nutrisi berkurang
Nutrisi kurang dari kebutuhan

interupsi sel saraf


nyeri

ukurn pipi >>


Gg.Body image

<<pengetahuan

I. Pengkajian
Pengakjian merupakan langkah awal dasar dari proses keperawatan. Tujuan utama
dari pengkajian ini adalah untuk mendapatkan data secara lengakap dan akurat karena dari
data tersebut akan ditentukan masalah keperawatan yang dihadapi klien.
1. Keluhan
a. Padad umumnya hanya benjolan soliter tidak nyeri di pre/intra/retro aurikula (tunor
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

paroti submandibula atau intra oral


Rasa nyeri seddang sampai hebat padda keganasan parotis atau ubmandibula
Paralisis n.fasialis pada keganasan parotis
Disfagia, sakit tenggorokan, gangguan pendengaran (lobus profundus terlibat)
Paralisis n.glosofaringeus, vagus, accesoris, hipoglosus, pleksus aimatkus
Pembesaran kelenjar getah bening
Perjalanan penyakit
Faktor etiologi an resiko
Pengobatan yang telah diberikan dan responnya
Berapa lama kelambatan pertumbuhan massa

Diagnosa
Tujuan
Intervensi
Rasional
Nyeri kronis b.d agen injuri
NOC:
Pain level
biologis
Pain management:
Setelah dilakukan tindakan 1. Monitoring nyeri secara 1. Monitoring nyeri dilakukan
untuk
mengkaji
nyeri,
keperawatan selama ..x24
komprehensif
termasuk
sajuah mana nyeri teratasi.
jam,
lokasi, karakteristik, durasi,
Jika dengan tindakan yang
1. level nyeri menurun dengan
frekuensi, kualitas dan
sudah diberikan nyeri tetap
indikator:
faktor presipitasi.
tidak
teratasi
atau
a. Melaporkan nyeri (5)
b. Ekspresi nyeri pada
bertambah maka perlu
wajah (5)
dikaji ulang apakah ada
penyebab lain dari nyeri
2. nyeri dapat dikontrol dengan
2. Observasi reaksi nonverbal
2. Observasi reaksi nonverbal
indikator:
adalah salah satu cara untuk
dari ketidaknyamanan.
a. Onset nyeri berkurang
mengetahui
pengalaman
(5)
nyeri pasien sebelumnya,
b. Melaporkan perubahan
dan dari reaksi verbal ini
gejala nyeri (5)
dapat ditentukan skala nyeri
c. Melaporkan
nyeri
dengan nyata
dapat dikontrol
3. Napas dalam membuat
3. Ajarkan tentang teknik non
relaksasi tubuh sehingga
farmakologi: napas dalam
Keterangan:
dapat menurunkan nyeri
1 (sangat berat)
4. Analgetik merupakan obat
4. Kolaborasi dengan tenaga
2 (berat)
yang
digunakan
untuk
medis untuk pemberian
3 (sedang)
mengurangi nyeri. Dimana
analgetik untuk mengurangi
4 (ringan)
obat nyeri ini biasanya
nyeri.
5 (tidak ada)
menghambat
pengeluaran
prostaglandin yang dapat
menimbulkan rasa nyeri.
Ketidakseimbangan
nutrisi NOC :
NIC :
kurang dari kebutuhan tubuh Nutritional Status : food and Nutrition Management
b.d intake yang kurang
Fluid Intake
1. Awasi
konsumsi 1. Mengidentifikasi
kekurangan nutrisi
Setelah dilakukan tindakan
makanan / cairan
2. Gejala yang menyertai
keperawatan selama ...x24 2. Perhatikan adanya mual
akumulasi toksin endogen
jam, status nutrisi pasien
dan muntah
yang dapat mengubah atau
membaik, dengan kriteria
menurunkan
pemasukan
hasil :
dan memerlukan intervensi
1. Adanya peningkatan berat
3. Porsi lebih kecil dapat

J. Nursing
Care
plan

Referensi

Adham, Marlinda., Sutanti, Mella. (2010). Parotidektomi radikal pada karsinoma sel asinus
parotis. Laporan Kasus terdapat dalam digilib.ui.ac.id
Kentjono, Widodo Ario. (2006). Pembedahan pada tumor parotis dan kanker rongga mulut.
Majalah Kedokteraan Tropis Indonesia volume 17 nomor 2 Juli 2006.
NANDA. (2012). Diagnosa Keperwatan 2012-2014. Jakarta:EGC
Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Zahroh, Silfiyatus. (2012). Prevalensi, prognosis, perawatan dan kekambuhan perawatan
penderita Adenocarcinoma kepala-leher yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
Tahun 2007-2011. Skripsi Universitas jember

STASE KEPERAWATAN DEWASA I


LAPORAN PENDAHULUAN ADENOCARCINOMA PAROTIS
DI RUANG BOUGENVILE RSMS

ARINDI AYUANITA SAPUTRI


G4D014020

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
PROGRAM PROFESI NERS
UNIVERSITAS ENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2014