Anda di halaman 1dari 135

KATA PENGANTAR

Pelaksanaan desentralisasi fiskal yang dimulai sejak tahun 2001 menunjukkan fakta bahwa dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan ke daerah dari tahun ke tahun terus meningkat. Alokasi dana dimaksud diharapkan dapat meningkatkan kinerja daerah dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan termasuk penyediaan layanan publik yang memadai. Tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya tersebut adalah bagaimana memanfaatkan sumber-sumber pendanaan yang tersedia untuk menghasilkan output/ pelayanan publik yang optimal.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan fiskal yang utama bagi pemerintah daerah. Anggaran Belanja Daerah yang tercantum dalam APBD mencerminkan potret pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Penetapan prioritas- prioritas tersebut beserta upaya pencapaiannya merupakan konsekuensi dari meningkatnya peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mengelola pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan demikian, daerah harus memastikan dana tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk program dan kegiatan yang memiliki nilai tambah besar bagi masyarakat.

Dengan jumlah daerah yang telah mencapai 539 pemerintah daerah saat ini, maka informasi mengenai APBD secara nasional sangat diperlukan guna menunjang ketepatan pengambilan kebijakan di bidang hubungan keuangan antara pusat dan daerah. Dalam konteks itulah perlu diperoleh gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah berdasarkan data yang berasal dari APBD Tahun Anggaran 2014 dari seluruh pemerintah provinsi,

kabupaten dan kota. Buku ini akan menyajikan berbagai rasio keuangan aspek pendapatan, belanja, surplus/defisit dan pembiayaan daerahnya yang dapat dilihat baik secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota per provinsi maupun berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Maluku Papua).

Kami mengharapkan agar buku Deskripsi dan Analisis APBD 2014 ini dapat bermanfaat bagi semua pihak-pihak yang berkepentingan baik di pusat maupun di daerah sebagai bahan masukan dalam pengambilan kebijakan yang terkait dengan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal.

Jakarta,

Juni 2014

Plt. Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah

Direktur Evaluasi Pendanaan dan Informasi Keuangan Daerah Rukijo NIP 19670210 199310 1 001 i v Deskripsi

Rukijo NIP 19670210 199310 1 001

RINGKASAN EKSEKUTIF

• Secara agregat, rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota hanya 2,1% dari PDRB non migas. Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio pajak tertinggi yaitu sebesar 9,4%. Hal ini tentunya didukung oleh posisi DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, sehingga perkembangan ekonominya jauh lebih maju dan kemungkinan menggali pajak jauh lebih besar karena basis pajak yang ada di DKI Jakarta cukup banyak. Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 0,4%.

• Mengingat bahwa kewenangan yang diberikan kepada daerah untuk memungut pajak daerah bersifat terbatas (closed list) dan sumber penerimaan pajak daerah yang berlaku saat ini cenderung bias ke daerah yang tingkat urbanisasinya tinggi (urban-biased), seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Kendaraan Bermotor, hal ini menyebabkan untuk daerah yang unsur kekotaannya tidak terlalu tinggi, potensi penerimaan pajaknya menjadi kecil.

• Provinsi Kalimantan Timur mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu mencapai 61,7%. Tingginya ruang fiskal di Provinsi Kalimantan Timur tentunya didukung oleh penerimaan daerah dari Dana Bagi Hasil yang cukup besar yaitu mencapai 60,6% dari total Pendapatan Daerah. Meskipun Belanja Pegawai di Provinsi Kalimantan Timur mencapai 34,3% dari total pendapatan, namun masih menyisakan ruang fiskal yang besar sehingga porsi Belanja Modalnya pun mencapai 58,4% dari total pendapatannya.

• Sementara itu, Provinsi Aceh memiliki ruang fiskal terendah yaitu 22,2%. Porsi Belanja Pegawai pemerintah daerah se-Provinsi Aceh sangat besar

yaitu 42,5% dari total Pendapatan Daerah, sehingga ruang fiskal yang tersisa sangat kecil. Dengan demikian Provinsi Aceh harus memanfaatkan ruang fiskal yang ada dengan merencanakan Belanja Daerah yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya.

• Dari hasil telaah pembandingan deviasi antara penetapan alokasi transfer oleh Pemerintah dengan penetapan dalam APBD, secara umum untuk alokasi Dana Perimbangan yang penyampaian informasinya ke publik dilakukan segera setelah pengesahan UU APBN oleh DPR RI dapat dimanfaatkan dengan baik oleh daerah dalam menyusun APBD. Adapun untuk DBH yang informasi alokasinya diumumkan lebih lambat dari DAU dan DAK (sekitar Desember hingga Januari) atau setelah APBD ditetapkan oleh daerah, nampak terjadi deviasi yang relatif tinggi antara penetapan alokasi dari Pusat dengan penetapan dalam APBD.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah 42,78%. Rasio ini lebih rendah dari tahun anggaran sebelumnya yang mencapai rata-rata 44,7%. Penurunan rasio belanja pegawai secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, meskipun penurunannya relatif kecil namun menunjukkan upaya rasionalisasi terhadap struktur belanja daerah.

• Terdapat 5 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai lebih dari 50 %, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi- provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja selain Belanja Pegawainya. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar Belanja Pegawai yang bisa didanai, khususnya dalam mendukung pemenuhan layanan publik.

• Sulawesi adalah wilayah yang memiliki rasio Belanja Pegawai tertinggi, yaitu sebesar 48,65% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 33,37%. Rasio Belanja Pegawai

per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya masih di bawah 50,0%. Dengan demikian, wilayah Sulawesi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi Belanja Daerah yang dapat digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 49,41%. Rasio ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,6%. Peningkatan rasio jumlah guru yang diiringi dengan penurunan rasio belanja pegawai secara keseluruhan, sekali lagi menunjukkan bahwa daerah telah menjadi lebih rasional dalam alokasi belanja pegawainya dengan semakin menurunkan porsi jumlah PNS maupun besaran belanja untuk PNS yang bekerja di bidang administrasi.

• Rata-rata rasio Belanja Modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota sebesar 24,81%. Tahun 2012, rata-rata porsi belanja modal menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah yaitu sebesar 23,4%. Dengan demikian telah terjadi shifting dari penurunan porsi belanja pegawai kepada peningkatan belanja modal. Hal ini merupakan indikasi positif terhadap perbaikan kualitas struktur belanja daerah. Provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan angka sebesar 12,59% sedangkan rasio tertinggi terdapat pada Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 44,08%.

• Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata pengeluaran daerah untuk Belanja Bantuan Sosial adalah 1,05%. Meskipun relatif kecil, namun belanja bantuan sosial ini perlu dicermati karena mempunyai potensi untuk tumpang tindih dengan belanja yang seharusnya menjadi tanggung jawab SKPD. Selain itu, jenis belanja ini juga cukup rentan terhadap isu politik yang seringkali membuat dispute antara eksekutif dan legislative. Terdapat 9 provinsi yang angka rasionya melebihi angka rata- rata agregat provinsi, kabupaten dan kota. Daerah yang memiliki rasio terbesar secara agregat adalah Provinsi Kepulauan Riau, yaitu sebesar

3,71%, diikuti oleh DKI Jakarta, Papua. Papua Barat dan Aceh. Hal ini perlu dicermati mengingat Aceh yang mempunyai Ruang Fiskal terkecil di Indonesia, rasio Belanja Modal kedua terendah di Indonesia, namun mempunyai rasio bantuan sosial yang relatif tinggi dibandingkan daerah lainnya.

• Data APBD menunjukkan bahwa adanya kecenderungan daerah untuk menganggarkan defisit dalam APBD-nya. Hal ini terlihat dari 491 kabupaten/kota dan 33 provinsi di Indonesia pada Tahun Anggaran (TA) 2013 sebanyak 457 daerah menganggarkan defisit dalam APBD- nya, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 447 daerah yang menganggarkan defisit. Kecenderungan daerah menganggarkan defisit tersebut karena adanya SiLPA dalam APBD mereka, artinya sebenarnya secara umum daerah tidak sedang dalam kondisi defisit secara riil, tetapi mereka menganggarkan defisit karena untuk menyerap SiLPA tahun sebelumnya. Hal lain yang juga menarik untuk dicermati adalah bahwa pada umumnya daerah terbukti mengalami surplus pada saat realisasi.

• Rata-rata rasio defisit secara nasional (agregat provinsi, kabupaten, dan kota) adalah 7,5% dengan kontribusi SiLPA untuk menutup defisit tersebut sekitar 91,3% sedangkan kontribusi penerimaan pinjaman dan obligasi daerah 5,9%. Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah dengan rasio defisit terbesar di mana faktor utama penyebab hal tersebut adalah untuk mengakomodasi SiLPA tahun sebelumnya yang jumlahnya cukup besar agar bisa digunakan dalam belanja publik.

• Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah pembiayaan masih bernilai minus. Kabupaten Sarmi merupakan daerah dengan nilai Defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar Rp80 miliar. Hal ini harus menjadi perhatian Pemerintah Pusat sebagai otoritas yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembinaan di bidang pengelolaan keuangan, karena fenomena di atas menunjukkan bahwa terdapat daerah-daerah yang

akan menganggarkan belanja tanpa adanya kepastian sumber dananya. Hal ini secara normatif tidak layak untuk dilakukan karena menimbulkan ketidakpastian dalam alokasi belanja publik.

• Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah tertinggi ada di wilayah Kalimantan (15,62%), rata-rata nasional untuk rasio ini adalah sebesar 7,75%, semakin besar rasio menunjukkan semakin besar dana idle yang tidak dapat dimanfaatkan pada tahun 2012, sedangkan rasio terendah SiLPA terhadap belanja terjadi di wilayah Sulawesi (2,93%).

• Rasio pinjaman terhadap pendapatan APBD secara rata-rata adalah sebesar 0,7%. Nilai tersebut masih jauh lebih kecil dibanding batas pinjaman yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 137/ PMK.07/2012, yaitu 6% dari total Pendapatan Daerah untuk masing- masing pemerintah daerah. Secara agregat provinsi, kabupaten, dan kota tidak tampak daerah yang melampaui batas yang ditentukan, ini disebabkan pemerintah telah menaikkan batas ketentuan yaitu dari 3,5% di TA 2011 (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 149/PMK07/2010 menjadi 5% di TA 2012 dan TA 2013). Rasio pinjaman tertinggi adalah Sulawesi Tenggara (4,3%).

• Pergerakan dana pemda di perbankan pada bulan Desember merupakan titik terendah dalam tiap tahunnya dan kembali meningkat pada awal tahun berikutnya. Besaran dana pemda di perbankan Desember 2012 lebih besar dibanding dengan Desember 2011, hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan besaran SiLPA tahun berkenaan tahun 2012.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

 

iii

RINGKASAN EKSEKUTIF

v

DAFTAR

ISI

x

DAFTAR

TAbEl

 

xiii

DAFTAR GRAFIK

xiv

bAb I PENDAHUlUAN

1

 

A. Latar Belakang

1

B. Gambaran Umum APBD 2014

2

 

1.

Pendapatan Daerah

5

2.

Belanja Daerah

7

3.

Surplus, Defisit, dan Pembiayaan Daerah

9

 

C. Trend APBD (2010 – 2014)

11

bAb II ANAlISIS PENDAPATAN DAERAH

21

 

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

24

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

25

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

26

3. Pemerintah Provinsi

28

4. Per Wilayah

29

 

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

29

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

30

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

31

3. Pemerintah Provinsi

32

4. Per Wilayah

33

 

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

34

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

35

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

36

3. Pemerintah Provinsi

38

4.

Per Wilayah

40

D. Rasio Ketergantungan Daerah

41

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

41

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

43

3. Pemerintah Provinsi

 

44

4. Per Wilayah

 

45

E. Deviasi Alokasi Transfer ke Daerah pada APBD

46

 

1.

Dana Bagi Hasil (DBH)

 

48

2.

Dana Alokasi Umum (DAU)

50

3.

Dana

Alokasi

Khusus

(DAK)

51

bAb III

ANAlISIS bElANJA DAERAH

54

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

56

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

57

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

59

3. Pemerintah Provinsi

 

61

4. Per Wilayah

 

62

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

64

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

65

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

66

3. Pemerintah Provinsi

 

67

4. Per Wilayah

 

68

C. Rasio Belanja Modal terhadap Jumlah Penduduk

69

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

70

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

71

3. Pemerintah Provinsi

 

72

4. Per Wilayah

 

73

D. Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Daerah

74

 

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

75

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

76

3. Pemerintah Provinsi

 

77

4. Per Wilayah

 

78

bAb IV ANAlISIS SURPlUS/DEFISIT DAN PEMbIAYAAN DAERAH

80

A.

Defisit

80

1. Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

81

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

82

3. Pemerintah Provinsi

83

4. Per Wilayah

84

5. Daerah dengan Defisit yang tidak dapat ditutup oleh pembiayaan

85

B. Pembiayaan Daerah

88

a.

Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

91

C. Penerimaan Pembiayaan yang berasal dari Pinjaman

95

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

96

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

97

3. Pemerintah Provinsi

97

4. Per Wilayah

98

5. Daerah yang Melampaui Batas Maksimal Defisit yang Dibiayai Pinjaman

99

D. Dana Idle

101

bAb V REAlISASI bElANJA DAERAH APbD 2014 SAMPAI DENGAN bUlAN MEI 2014

104

DAFTAR PUSTAKA

110

UCAPAN TERIMA KASIH

111

DAFTAR TAbEl

Tabel 1.1

Ringkasan APBD 2014 secara Nasional (Konsolidasi)

2

Tabel 1.2

Pembiayaan Daerah APBD 2014 (Juta Rupiah)

5

Tabel 1.3

Rata-rata pertumbuhan (2010 – 2014) SiLPA Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

19

Tabel 2.1

Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DBH Tertinggi

48

Tabel 2.2

Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Positif Alokasi DBH Tertinggi

49

Tabel 2.3

Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DAU Negatif Tertinggi

50

Tabel 2.4

Daftar Daerah Persentase Deviasi Positif Alokasi DAU Tertinggi

51

Tabel 2.5

Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

52

Tabel 2.6

Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAK Tertinggi

53

Tabel 4.1

Daerah dengan Besaran Defisit yang tidak dapat ditutup oleh Pembiayaan

85

Tabel 4.2

Daerah yang Menganggarkan SILPA Tahun Berkenaan

86

Tabel 4.3

Daerah dengan % Pinjaman diatas Batas yang ditetapkan

100

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1.1

Komposisi Pendapatan Daerah APBD 2014

4

Grafik 1.2

Komposisi Belanja Daerah APBD 2014

4

Grafik 1.3

Rasio Pendapatan Daerah APBD 2014 Per Wilayah

6

Grafik 1.4

Rasio Belanja Daerah APBD 2014 Per Wilayah

7

Grafik 1.5

Pembiayaan APBD 2014 Per Wilayah

9

Grafik 1.6

Trend APBD TA 2010 – 2014

11

Grafik 1.7

Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2010 – 2014

12

Grafik 1.8

Rata-rata Pertumbuhan (2010 – 2014) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

14

Grafik 1.9

Trend Belanja Daerah TA 2010 – 2014

15

Grafik 1.10 Rata-rata Pertumbuhan (2010 – 2014) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

17

Grafik 2.1

Perkembangan Pendapatan Asli Daerah

22

Grafik 2.2

Perkembangan Transfer ke Daerah

23

Grafik 2.3

Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

26

Grafik 2.4

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

27

Grafik 2.5

Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

28

Grafik 2.6

Rasio Pajak per Wilayah

29

Grafik 2.7

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

31

Grafik 2.8

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi

32

Grafik 2.9

Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

33

Grafik 2.10 Rasio Tax per Kapita Per Wilayah

34

Grafik 2.11 Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

36

Grafik 2.12 Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi

38

Grafik 2.13 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

38

Grafik 2.14

Ruang Fiskal Per Wilayah

40

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

42

Grafik 2.16 Rasio KetergantunganPemerintahKabupatendan kota Se-Provinsi

43

Grafik 2.17 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

44

Grafik 2.18 Rasio Ketergantungan Per Wilayah

45

Grafik 3.1

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

58

Grafik 3.2

Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

59

Grafik 3.3

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

60

Grafik 3.4

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

61

Grafik 3.5

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

62

Grafik 3.6

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

63

Grafik 3.7

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah

64

Grafik 3.8

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

66

Grafik 3.9

Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

67

Grafik 3.10 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

68

Grafik 3.11 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

69

Grafik 3.12 Rasio Belanja Modal per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

70

Grafik 3.13 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

72

Grafik 3.14 Rasio Belanja Modal per Kapita Pemerintah Provinsi

73

Grafik 3.15 Rasio Belanja Modal per Kapita per Wilayah

74

Grafik 3.16 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Total Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

76

Grafik 3.17 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

77

Grafik 3.18 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

78

Grafik 3.19 Rasio Belanja Bantuan Sosial Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

79

Grafik 4.1

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan, Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

81

Grafik 4.2

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Kabupaten

dan Kota se-Provinsi

82

Grafik 4.3

Rasio Surplus/defisit terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

83

Grafik 4.4

Rasio Defisit terhadap Pendapatan Per Wilayah

84

Grafik 4.5

Penerimaan Pembiayaan Provinsi dan Kab/Kota

88

Grafik 4.6

Persentase Penerimaan Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

88

Grafik 4.7

Pengeluaran Pembiayaan Provinsi dan Kabupaten/Kota

90

Grafik 4.8

Persentase Pengeluaran Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

90

Grafik 4.9

Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

92

Grafik 4.10 Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota se-

Provinsi

93

Grafik 4.11 Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

94

Grafik 4.12 Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah

95

Grafik 4.13 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

96

Grafik 4.14 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

97

Grafik 4.15 Rasio Pinjaman terhadap Pendapatan Pemerintah Provinsi

98

Grafik 4.16 Rasio pinjaman/pendapatan per wilayah

99

Grafik 4.17 Dana Pemda di Perbankan per Bulan (Bulan Desember)

102

Grafik 4.18 Dana Pemda di Perbankan Agregat Kab/kota/Provinsi

103

Grafik 5.1 Perbandingan Realisasi APBD 2011, 2012, 2013 dan 2014 (Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota) (%)

106

Grafik 5.2 Realisasi Belanja Daerah (Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota)

Bulan Mei 2014 (triliun rupiah)

107

Grafik 5.3 Realisasi Belanja Daerah Secara Agregat Provinsi, Kabupaten, dan

Kota Per Provinsi Bulan Mei 2014 (%)

108

bAb I PENDAHUlUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka melaksanakan pelayanan publik di daerah, instrumen utama yang digunakan dalam kebijakan fiskal adalah melalui APBD. Pelaksanaan APBD dimaksud diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan di berbagai sektor. APBD yang direncanakan setiap tahun dengan mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pada dasarnya menunjukkan sumber-sumber pendapatan daerah, berapa besar alokasi belanja untuk melaksanakan program/kegiatan, serta pembiayaan yang muncul apabila terjadi surplus atau defisit. Pendapatan daerah bersumber dari penerimaan pajak daerah, retribusi daerah, dana transfer dari pemerintah pusat, serta dari lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Perwujudan pelayanan publik di daerah berkorelasi erat dengan kebijakan belanja daerah. Belanja daerah merupakan seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendanai seluruh program/kegiatan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap pelayanan publik di daerah. Dalam pelaksanaan penganggaran dapat terjadi selisih antara pendapatan dan belanja daerah (surplus/defisit), dan untuk selanjutnya ditutup dengan kebijakan pembiayaan daerah. Apabila terjadi surplus, daerah harus menganggarkan untuk pengeluaran pembiayaan tertentu, misalnya untuk investasi, atau dapat juga dengan mengoptimalisasi dana tersebut guna mendanai belanja kegiatan yang telah direncanakan. Sebaliknya apabila terjadi defisit, daerah perlu mencari alternatif pembiayaan berupa pinjaman daerah,

penggunaan SiLPA, atau dapat pula melakukan penghematan anggaran dengan melakukan penyisiran kegiatan yang tidak perlu dilaksanakan atau ditunda pelaksanannya.

Untuk melihat gambaran secara komprehensif atas anggaran daerah pada tahun 2014, diperlukan suatu telaah ringkas mengenai APBD 2014 secara agregatif, maupun terpisah antara provinsi dengan kabupaten/kota. Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kondisi fiskal atau keuangan seluruh daerah di Indonesia, berdasarkan data yang berasal dari APBD TA 2014 dari seluruh Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Analisis APBD dilakukan dari aspek pendapatan, belanja, surplus/defisit, dan pembiayaan. Dalam analisis ini juga digunakan beberapa data sekunder lainnya berupa data anggaran sebelum APBD 2014, realisasi APBD tahun- tahun sebelumnya, hingga data pendukung lainnya yang digunakan untuk melakukan analisis time-series. Alat analisis utamanya adalah rasio keuangan yang dilakukan secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota), per provinsi, kabupaten dan kota dan berdasarkan wilayah (Sumatera, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua).

B. Gambaran Umum APBD 2014

Gambaran umum APBD 2014 secara nasional (konsolidasi) dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini.

Tabel 1.1 Ringkasan APBD 2014 secara Nasional (Konsolidasi)

 

Nasional

Uraian

(Juta Rupiah)

Pendapatan

759.476.113

PAD

180.347.447

Dana Perimbangan

482.221.122

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah

96.907.544

Belanja

817.674.081

 

Nasional

Uraian

(Juta Rupiah)

Belanja Barang dan jasa

182.522.886

Belanja Modal

213.669.585

Belanja Pegawai

326.736.914

Belanja Lain-lain

94.744.696

Surplus/defisit

(58.197.968)

Pembiayaan Netto

59.197.160

Penerimaan Pembiayaan

74.617.064

SiLPA TA sebelumnya

70.686.810

Pencairan dana cadangan

579.179

Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

65.621

Penerimaan Pinjaman Daerah dan Obligasi Daerah

2.192.461

Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman

1.092.993

Pengeluaran Pembiayaan

15.419.903

Pembentukan Dana Cadangan

582.866

Penyertaan Modal (Investasi) Daerah

12.136.858

Pembayaran Pokok Utang

2.296.522

Pemberian Pinjaman Daerah

220.896

Pembayaran Kegiatan Lanjutan

15.985

Pengeluaran Perhitungan Pihak Ketiga

166.777

Sumber: APBD 2014 (data diolah)

Dari Tabel 1.1. di atas, komposisi Pendapatan Daerah dalam APBD 2014 terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah. Sementara itu, besarnya jumlah dana dan persentase dari masing-masing komposisi Pendapatan Daerah terhadap total dapat dilihat pada Grafik 1.1 di bawah ini. Dari Grafik 1.1 tersebut dapat dilihat bahwa Dana Perimbangan yang bersumber transfer dari pusat masih mendominasi sumber Pendapatan Daerah, yaitu mencapai sebesar Rp482,22 triliun (63,49%). Sementara itu PAD dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah masing-masing hanya mencapai sebesar Rp180,35 triliun (23,75%) dan sebesar Rp96,91 triliun (12,76%).

Grafik 1.1 Komposisi Pendapatan Daerah APBD 2014 (Dalam Juta Rupiah)

96.907.544 12,76% 180.347.447 23,75% 482.221.122 63,49% Sumber: APBD 2014 (data diolah)
96.907.544
12,76%
180.347.447
23,75%
482.221.122
63,49%
Sumber: APBD 2014 (data diolah)

PAD23,75% 482.221.122 63,49% Sumber: APBD 2014 (data diolah) Dana Perimbangan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Grafik

Dana Perimbangan482.221.122 63,49% Sumber: APBD 2014 (data diolah) PAD Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Grafik 1.2 Komposisi

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah63,49% Sumber: APBD 2014 (data diolah) PAD Dana Perimbangan Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah APBD 2014

Grafik 1.2 Komposisi Belanja Daerah APBD 2014 (Dalam Juta Rupiah)

131.995.827 182.522.886 15,44% 21,35% 326.736.914 213.669.585 24,99% 38,22% Sumber: APBD 2014 (data diolah)
131.995.827
182.522.886
15,44%
21,35%
326.736.914 213.669.585
24,99%
38,22%
Sumber: APBD 2014 (data diolah)

Belanja Barang dan jasa213.669.585 24,99% 38,22% Sumber: APBD 2014 (data diolah) Belanja Modal Belanja Pegawai Belanja Lain-lain 4

Belanja ModalSumber: APBD 2014 (data diolah) Belanja Barang dan jasa Belanja Pegawai Belanja Lain-lain 4 Deskripsi dan

Belanja PegawaiAPBD 2014 (data diolah) Belanja Barang dan jasa Belanja Modal Belanja Lain-lain 4 Deskripsi dan Analisis

Belanja Lain-lainAPBD 2014 (data diolah) Belanja Barang dan jasa Belanja Modal Belanja Pegawai 4 Deskripsi dan Analisis

Grafik 1.2 menunjukkan komposisi Belanja Daerah secara nasional yang mencapai Rp817,67 triliun. Dari jumlah tersebut, porsi Belanja Pegawai masih mendominasi, yaitu mencapai sebesar Rp326,74 triliun (38,22%), sedangkan Belanja Modal, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Lainnya masing-masing mencapai sebesar Rp213,67 triliun (24,99%), sebesar Rp182,52 triliun (21,35%), dan sebesar Rp131,96 triliun (15,44%).

Dari defisit APBD 2014 secara nasional yang mencapai Rp58,20 triliun, memerlukan Pembiayaan sebesar Rp59,20 triliun, yang terdiri dari Penerimaan Pembiayaan (SiLPA, Pinjaman dan lain-lain) sebesar Rp74,62 triliun dan Pengeluaran Pembiayaan sebesar Rp15,42 triliun. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Pembiayaan Daerah APBD 2014 (Juta Rupiah)

Pembiayaan

59.197.160

Penerimaan Pembiayaan

74.617.063

Pengeluaran Pembiayaan

(15.419.903)

Sumber: APBD 2014 (diolah)

Selanjutnya, rincian komposisi APBD Tahun 2014 untuk provinsi, kabupaten, dan kota dapat dikelompokkan sesuai dengan wilayah pulaunya masing-masing. Pengelompokan daerah berdasarkan pulau terdiri dari daerah- daerah di Pulau Jawa dan Bali, daerah-daerah di deretan pulau di timur Indonesia antara lain Nusa Tenggara, Maluku dan Papua, daerah-daerah di pulau Sumatera, pulau Kalimantan, dan pulau Sulawesi.

1. Pendapatan Daerah

Potret rasio Pendapatan Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun 2014 pada kabupaten, kota, dan provinsi di beberapa wilayah secara agregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.3 Rasio Pendapatan Daerah APBD 2014 Per Wilayah

80%

70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Dana Perimbangan/Total PAD/Total Pendapatan Pendapatan Lain-lain Pend.
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Dana Perimbangan/Total
PAD/Total Pendapatan
Pendapatan
Lain-lain Pend. Daerah yang
sah/Total Pendapatan
Sumatera
15,66%
71,43%
12,91%
Jawa-Bali
37,36%
50,19%
12,45%
Kalimantan
18,83%
73,51%
7,66%
Sulawesi
14,14%
74,55%
11,31%
NT-Maluku-Papua
7,08%
73,14%
19,78%
Persentase

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2014 (Diolah)

Dari Grafik 1.3 di atas, dapat dilihat bahwa daerah yang mempunyai rasio PAD dibandingkan dengan total Pendapatan Daerah yang tertinggi adalah daerah-daerah di wilayah Jawa dan Bali, yaitu mencapai 37,36%. Sementara itu daerah-daerah yang mempunyai rasio terendah berada di wilayah pulau Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, yaitu hanya 7,08%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemandirian seluruh daerah yang berada di wilayah Jawa dan Bali relatif lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Dalam kaitannya dengan rasio Dana Perimbangan apabila dibandingkan dengan total Pendapatan Daerah, dapat dilihat bahwa secara agregat daerah- daerah di wilayah pulau Jawa dan Bali hanya memiliki ketergantungan terhadap Dana Perimbangan paling rendah, yaitu 50,19%. Adapun wilayah yang memiliki tingkat ketergantungan tertinggi terhadap Dana Perimbangan adalah di wilayah Sulawesi yang mencapai 74,55% persen. Sementara itu

untuk rasio lain-lain Pendapatan Daerah yang sah terhadap total Pendapatan Daerah dapat disampaikan bahwa wilayah di pulau Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua masih yang tertinggi hingga mencapai 19,78%, sedangkan wilayah Sumatera memiliki rasio sebesar 12,91%. Untuk wilayah Kalimantan memiliki rasio yang paling rendah, yaitu sebesar 7,66%. Salah satu faktor penyebab dua wilayah yaitu pulau Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua serta pulau Sumatera memiliki rasio lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah yang relatif tinggi terutama adanya dana Otonomi Khusus di wilayah tersebut, yaitu di Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat dan Provinsi Aceh.

2. Belanja Daerah

Potret rasio Belanja Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun 2014 di kabupaten, kota, dan provinsi pada beberapa wilayah secara agregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.4 Rasio Belanja Daerah APBD 2014 Per Wilayah

50% 40% 30% 20% 10% 0% Bel. Pegawai/Tot. Belanja Bel. Modal/Tot. Belanja Bel. Barang &
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Bel. Pegawai/Tot. Belanja
Bel. Modal/Tot. Belanja
Bel. Barang & Jasa/Tot. Belanja
Sumatera
41,06%
26,56%
22,73%
Jawa-Bali
41,10%
23,86%
21,97%
Kalimantan
32,29%
35,19%
22,94%
Sulawesi
47,52%
22,77%
21,39%
NT-Maluku-Papua
35,75%
25,60%
22,40%
Persentase

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2014 (Diolah)

Dari Grafik 1.4. dapat dilihat bahwa Belanja Pegawai masih menempati porsi terbesar dalam Belanja Daerah APBD Tahun 2014, yang selanjutnya diikuti oleh Belanja Modal, serta Belanja Barang dan Jasa.

Di wilayah Sulawesi, Belanja Pegawai mencapai 47,52%, atau terbesar apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya, sedangkan porsi Belanja Pegawai di wilayah Kalimantan menempati posisi yang terendah, yaitu 32,29%. Sementara itu, apabila dilihat dari rasio jumlah pegawai terhadap total jumlah penduduk di wilayah Sulawesi dan wilayah Kalimantan secara berturut-turut adalah 1:83 dan 1:94. Hal ini berarti bahwa 1 (satu) orang PNSD di wilayah Sulawesi memberikan layanan publik kepada 83 orang penduduk. Sedangkan di wilayah Kalimantan 1 (satu) orang PNSD memberikan layanan publik kepada 94 orang penduduk.

Sebagai perbandingan, rasio PNSD dan penduduk di wilayah Jawa dan

Bali adalah 1:196. Hal ini dapat diartikan bahwa jumlah PNSD di wilayah Jawa masih sedikit karena total penduduknya sangat banyak, sehingga rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja juga besar, yaitu 41,10%. Berbagai pengeluaran kegiatan yang terangkum dalam akun Belanja Modal

di wilayah Jawa dan Bali sangat kecil, yaitu hanya 23,86%. Hal ini dapat

memunculkan 2 (dua) pendapat, yaitu kebutuhan infrastruktur di wilayah

Jawa dan Bali relatif rendah sehingga setiap daerah di wilayah tersebut tidak perlu menganggarkan terlalu banyak Belanja Modal, atau atau memang APBD

di semua daerah di wilayah Jawa dan Bali dirasakan cukup berat untuk

diarahkan dalam pemberian pelayanan publik yang dicerminkan dari besarnya jumlah pegawai dan rasio Belanja Pegawai per Total Belanjanya yang juga besar.

Untuk daerah-daerah di wilayah Kalimantan menunjukkan perkembangan pembangunan infrastruktur yang paling signifikan. Hal ini tercermin dari rasio Belanja Modalnya yang mencapai 35,19%, demikian pula rasio Belanja Barang dan Jasanya yang juga relatif tinggi yaitu 22,94%.

3. Surplus, Defisit, dan Pembiayaan Daerah

Potret beberapa rasio yang terkait Pembiayaan Daerah berdasarkan data konsolidasi APBD Tahun 2014 di kabupaten, kota, dan provinsi pada beberapa wilayah secara agregat menunjukkan fakta sebagai berikut:

Grafik 1.5 Pembiayaan APBD 2014 Per Wilayah

NT-Maluku-Papua Sulawesi Kalimantan Jawa-Bali Sumatera -25% -20% -15% -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20%
NT-Maluku-Papua
Sulawesi
Kalimantan
Jawa-Bali
Sumatera
-25%
-20%
-15%
-10%
-5%
0%
5%
10%
15%
20%
25%
Sumatera
Jawa-Bali
Kalimantan
Sulawesi
NT-Maluku-Papua
Pinjaman/Pendapatan
0,29%
0,14%
0,16%
0,89%
0,43%
SiLPA/Pendapatan
9,02%
8,85%
21,48%
3,78%
4,56%
Defisit/Pendapatan
-8,18%
-5,99%
-20,52%
-3,83%
-3,79%

Sumber: Data Konsolidasi APBD 2014 (Diolah)

Besarnya defisit APBD Tahun 2014 yang paling tinggi terjadi di wilayah Kalimantan, yaitu mencapai 20,52%. Untuk menutup defisit tersebut, seluruh daerah di wilayah Kalimantan bisa menggunakan SiLPA tahun lalu dikarenakan persentase SiLPA sudah melampaui defisit tersebut. Namun demikian, bila dilihat dari rasio pinjaman daerah sekitar 0,16%, maka bisa ditengarai bahwa tidak seluruh daerah itu mempunyai SiLPA yang besar untuk menutup defisit anggarannya. Hal ini berarti bahwa bisa juga sebagian

daerah tersebut mengandalkan penerimaan pembiayaan dari pinjaman untuk menutup defisit anggaran daerahnya.

Potret nilai agregat defisit anggaran yang secara langsung bisa ditutup dengan SiLPA tahun sebelumnya juga terlihat di wilayah Sumatera, wilayah Jawa dan Bali, dan wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Di wilayah Sulawesi terlihat sedikit berbeda, dimana secara agregat rasio defisitnya sebesar -3,83% akan tetapi SiLPA-nya hanya 3,78%, sehingga secara agregat pinjaman daerah di wilayah tersebut mencapai 0,89%. Hal ini ditengarai bahwa sebagian besar daerah memutuskan untuk melakukan pinjamam sebagai upaya antisipasi apabila proyeksi pendapatan daerahnya tidak tercapai. Di sisi yang lain sebagian daerah juga membuat kebijakan ekspansi pembangunan dengan mengandalkan sumber pembiayaan berupa pinjaman daerah.

Melihat dari besarnya ketergantungan daerah atas dana Transfer ke Daerah serta besarnya resiko fiskal yang ditanggung oleh APBN, maka daerah seyogyanya juga harus memasukkan berbagai resiko fiskal yang terkait dalam proyeksi pendapatan maupun belanja daerah. Porsi Belanja Pegawai yang masih tinggi berdampak terhadap berkurangnya alternatif untuk melakukan efisiensi belanja daerah. Hal ini berarti daerah harus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan PADnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Upaya optimalisasi pajak daerah dan retribusi daerah berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 lebih mengedepankan pada perluasan objek pajak, penambahan jenis pajak baru secara limitatif, serta optimalisasi tarif pajak yang akan dipungut berdasarkan diskresi masing-masing daerah.

Perkembangan anggaran pajak daerah dan retribusi daerah setiap tahunnya menunjukkan trend peningkatan yang cukup besar. Apabila pada tahun 2010 total pajak daerah secara nasional hanya sebesar Rp47,68 triliun, maka sejak diberlakukannya UU tersebut seluruh pemerintah daerah pada tahun 2014 telah menganggarkan penerimaan dari pajak daerah sebesar Rp132,93 triliun atau meningkat sebesar 178,80 persen. Begitu juga dengan

retribusi daerah di mana pada tahun 2010 hanya sebesar Rp8,03 triliun lalu mengalami peningkatan terus setiap tahunnya hingga di tahun 2014 menjadi sebesar Rp13,21 triliun atau meningkat sebesar 64,51%.

C. Tren APBD (2010 – 2014)

APBD

dijelaskan sebagai berikut:

Tren

Tahun

2010-2014

yang

telah

dikonsolidasikan

dapat

Grafik 1.6 Trend APBD TA 2010 – 2014 (dalam miliar rupiah)

1.000.000

800.000 600.000 400.000 200.000 0 Milyar Rupiah
800.000
600.000
400.000
200.000
0
Milyar Rupiah
(200.000) 2010 2011 2012 2013 2014 Pendapatan 386.338 459.893 551.946 653.512 759.476 Belanja 426.857
(200.000)
2010
2011
2012
2013
2014
Pendapatan
386.338
459.893
551.946
653.512
759.476
Belanja
426.857
495.274
592.660
707.890
817.674
Surplus/defisit
(40.519)
(35.381)
(40.714)
(54.378)
(58.198)
Pembiayaan Netto
40.791
36.119
41.120
54.814
59.197

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (diolah)

Dari Grafik 1.6 di atas dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu 2010- 2014, pendapatan daerah setiap tahunnya meningkat rata-rata sebesar 18,42%. Pendapatan Daerah di tahun 2014 menjadi 759,48 triliun, atau meningkat sebesar Rp105,97 triliun (16,21%) dari tahun sebelumnya Rp653,51 triliun. Dalam periode yang sama, trend anggaran belanja daerah

juga mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan rata-rata peningkatan 17,66%. Apabila Belanja Daerah pada tahun 2013 sebesar Rp707,89 triliun, maka pada tahun 2014 meningkat menjadi sebesar Rp817,67 triliun

(15,51%).

Selanjutnya, trend defisit yang dianggarkan daerah cenderung fluktuatif. Apabila dalam tahun 2010-2011 mengalami penurunan, maka setelah itu hingga tahun 2014 terus mengalami peningkatan, di mana defisit anggaran tahun 2014 meningkat 7,02%. Trend peningkatan pembiayaan netto juga relatif sama polanya setiap tahun dengan trend defisit. Sementara itu persentase pembiayaan netto pada tahun 2014 meningkat 8,00% dari tahun sebelumnya.

Grafik 1.7 Trend Komposisi Pendapatan Daerah TA 2010 – 2014 (dalam miliar rupiah)

500.000 400.000 300.000 200.000 100.000 0 2010 2011 2012 2013 2014 PAD 71.852 90.393 112.745
500.000
400.000
300.000
200.000
100.000
0
2010
2011
2012
2013
2014
PAD
71.852
90.393
112.745
140.328
180.347
Dana Perimbangan
Lain-lain Pend. Daerah yang Sah
292.281
327.368
380.984
433.213
482.221
22.205
42.132
58.218
79.971
96.908
Milyar Rupiah

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (Diolah)

Komposisi setiap jenis Pendapatan Daerah beserta trend-nya terlihat pada Grafik 1.7 di atas. Secara nasional porsi Dana Perimbangan masih dominan setiap tahunnya, akan tetapi laju peningkatannya lebih rendah apabila dibandingkan dengan laju peningkatan PAD. Apabila PAD PAD seluruh daerah secara nasional di tahun 2010 mencapai Rp71,85 miliar, maka pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp180,35 miliar rupiah. Secara rata- rata, peningkatan PAD tahun 2010 s.d. 2014 adalah 25,88%. Peningkatan terbesar terjadi dari tahun 2013 ke tahun 2014, yaitu meningkat 28,52%.

Untuk Dana Perimbangan, secara nasional setiap tahunnya juga mengalami peningkatan. Apabila Dana Perimbangan tahun 2010 baru mencapai sebesar Rp292,28 triliun, maka pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp482,22. Secara rata-rata, peningkatan Dana Perimbangan tahun 2010 s.d. 2014 adalah 25,88%. Peningkatan terbesar terjadi dari tahun 2013 ke tahun 2014, yaitu meningkat 11,31%.

Selanjutnya, untuk Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah juga menunjukkan tren yang meningkat. Apabila secara nasional Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah tahun 2010 masih di kisaran Rp22,21 triliun, maka dalam kurun waktu 5 tahun hingga tahun 2014 terdapat peningkatan rata-rata per tahunnya sebesar 46,62%, sehingga pada tahun 2014 sudah mencapai Rp96,91 triliun. Hal ini berarti bahwa Lain-lain Pendapatan yang Sah tahun 2014 meningkat 21,18% dari tahun sebelumnya.

Grafik 1.8 Rata-rata Pertumbuhan (2010 – 2014) Pendapatan Daerah per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

30%

PAD Dana Perimbangan 25% 20% 15% 10% 5% 0% Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 -
PAD
Dana Perimbangan
25%
20%
15%
10%
5%
0%
Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (Diolah)
Bengkulu
Papua
Malut
Sultra
Kalteng
Maluku
Sumbar
Babel
Sumsel
Aceh
Riau
Kep. Riau
Kaltim
Jambi
Papua Barat
Sulsel
NTB
DI Yogyakarta
Sulbar
Jawa Tengah
NTT
Jawa Timur
Gorontalo
Sulteng
Sumut
Bali
Sulut
Kalsel
Lampung
Kalbar
Jawa Barat
DKI Jakarta
Banten

Berdasarkan data trend tahun 2010-2014, juga dapat dilihat gambaran tingkat pertumbuhan total Pendapatan Daerah beserta komponen utamanya, yaitu PAD dan Dana Perimbangan. Secara agregat pendapatan seluruh daerah per provinsi dapat dilihat bahwa rata-rata pertumbuhan total Pendapatan Daerah yang tertinggi adalah di Provinsi DKI Jakarta (22,98%), lalu diikuti oleh Provinsi Banten (19,08%) dan Provinsi Jawa Barat (16,45%). Sementara itu, rata-rata pertumbuhan Pendapatan Daerah yang terendah adalah di Provinsi Kalimantan Timur (9,03%), Provinsi Kalimantan Tengah (11,53%), dan Provinsi Maluku (11,98%).

Apabila dilihat dari rata-rata pertumbuhan PAD tahun 2010-2014, Provinsi Banten merupakan provinsi yang rata-rata PADnya paling tinggi, yaitu mencapai 26,69%. Selanjutnya diikuti oleh Provinsi DKI Jakarta yang mencapai 25,74%, dan Provinsi Jawa Barat yang mencapai 22,33%. Untuk daerah yang rata-rata pertumbuhan PADnya paling rendah adalah Provinsi

Bengkulu yang hanya mencapai 5,70%, Provinsi Papua 6,31%, dan Provinsi Maluku Utara dengan capaian 6,83%.

Di sisi lain, rata-rata pertumbuhan Dana Perimbangan tahun 2010-2014 cenderung lebih merata dan tidak berfluktuasi terlalu tajam, serta berada dalam rentang 5,52% s.d. 14,99%. Daerah dengan peningkatan Dana Perimbangan tertinggi adalah Provinsi Sumatera Selatan, sedangkan daerah dengan peningkatan Dana Perimbangan terendah adalah Provinsi Kalimantan Timur.

Grafik 1.9 Trend Belanja Daerah TA 2010 – 2014 (dalam miliar rupiah)

350.000 300.000 250.000 200.000 150.000 100.000 50.000 0 2010 2011 2012 2013 2014 Belanja Pegawai
350.000
300.000
250.000
200.000
150.000
100.000
50.000
0
2010
2011
2012
2013
2014
Belanja Pegawai
198.562
229.081
261.358
296.818
326.737
Belanja Barang dan jasa
82.007
104.116
122.422
148.171
182.523
Belanja Modal
96.179
113.523
137.525
175.808
213.670
Belanja Lain-lain
50.110
48.554
71.355
87.093
94.745
Milyar Rupiah

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (Diolah)

Berdasarkan Grafik 1.9 maka dapat dilihat porsi tiap jenis Belanja Daerah setiap tahun dan trend kenaikan/penurunannya antar tahun. Apabila dicermati Belanja Pegawai (langsung dan tidak langsung) secara nasional cenderung

terus meningkat dari tahun 2010 hingga tahun 2014. Total Belanja Pegawai secara nasional tahun 2010 sebesar Rp198,56 miliar, meningkat menjadi Rp326,74 miliar di tahun 2014, dengan rata-rata peningkatan Belanja Pegawai mencapai 13,28%. Namun apabila dilihat dari persentasenya, terdapat penurunan jumlah belanja pegawai sejak tahun 2011 hingga tahun 2014, secara berturut-turut dari yaitu 15,37%, 14,09%, 13,57%, dan

10,08%.

Sementara itu, besarnya Belanja Barang dan Jasa juga terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Jika pada tahun 2010 total Belanja Barang dan Jasa secara nasional di kisaran Rp82,01 miliar, maka pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp182,52 miliar rupiah. Peningkatan Belanja Barang dan Jasa secara rata-rata dari tahun 2010 hingga 2014 adalah sebesar 22,19%. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka peningkatan Belanja Barang dan Jasa secara agregat provinsi, kabupaten/kota cenderung lebih fluktuatif. Jika pada tahun 2011 meningkat 26,96% dari tahun sebelumnya, namun pada tahun 2012 menurun 17,58%, dan meningkat kembali pada tahun 2013 sebesar 21,03%. Pada tahun 2014, persentase peningkatan porsi Belanja Barang dan Jasa juga meningkat 23,18%, yang berarti berada di atas rata-rata peningkatan dalam 5 tahun terakhir sebesar

22,19%.

Hal yang sama juga terjadi pada pos Belanja Modal. Dapat kita lihat, dari trend Belanja Modal tahun 2010 hingga 2014. Jika Belanja Modal pada pada tahun 2010 mencapai Rp96,18 miliar, maka pada tahun 2014 sudah mencapai Rp213,67 miliar, yang berarti secara rata-rata mengalami peningkatan 22,14%. Namun demikian, apabila dilihat dari persentasenya, peningkatan Belanja Modal lebih fluktuatif. Jika total Belanja Modal di tahun 2011 meningkat 18,03%, dan meningkat lagi tahun 2013 sebesar 27,84%, namun pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 21,54%.

Dalam periode yang sama, Belanja Lain-Lain juga cenderung fluktuatif. Pada tahun 2010 Belanja Lain-Lain secara total mencapai Rp50,11 miliar, dan

mengalami penurunan menjadi Rp48,55 miliar di tahun 2011. Selanjutnya pada tahun 2012, 2013, dan 2014 mengalami kenaikan sehingga masing- masing menjadi Rp71,36 miliar, Rp87,09 miliar, dan Rp94,75 miliar. Secara rata-rata peningkatan total Belanja Barang dan Jasa pada tahun 2010 hingga 2014 adalah sebesar 18,67%.

Grafik 1.10 Rata-rata Pertumbuhan (2010 – 2014) Belanja Daerah Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

35% Belanja Pegawai Belanja Barang dan jasa Belanja Modal 30% 25% 20% 15% 10% 5%
35%
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan jasa
Belanja Modal
30%
25%
20%
15%
10%
5%
0%
Kaltim
Kalteng
Babel
Sumbar
Maluku
Bengkulu
Malut
Sultra
Sulut
Aceh
Papua
Kep. Riau
NTT
Gorontalo
NTB
Kalbar
Kalsel
Sulteng
Sulsel
Sumut
Sulbar
Papua Barat
Jambi
Riau
Jawa Timur
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Bali
Sumsel
Lampung
Banten
DKI Jakarta

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (Diolah)

Berdasarkan Grafik 1.7 dapat dilihat mengenai gambaran rata-rata tingkat pertumbuhan total Belanja Daerah beserta komponen utamanya yaitu Belanja Pegawai, Belanja Barang dan Jasa, serta Belanja Modal dari tahun 2010 – 2014. Secara agregat, rata-rata pertumbuhan total belanja daerah yang tertinggi adalah di Provinsi DKI Jakarta (21,50%), lalu diikuti oleh Provinsi Banten (19,14%) dan Provinsi Lampung (16,20%). Sementara itu rata-rata pertumbuhan belanja daerah yang terendah terdapat di Provinsi Kalimantan

Timur (8,77%), Provinsi Kalimantan Tengah (10,67%), dan Provinsi Bangka Belitung (10,77%).

Apabila dilihat berdasarkan rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai per tahunnya, maka secara berurutan yang tertinggi adalah Provinsi Maluku Utara (13,16%), lalu diikuti oleh Provinsi Maluku (12,94%), dan Provinsi Sulawesi Tengah (12,91%). Sementara itu rata-rata pertumbuhan Belanja Pegawai yang terendah secara berurutan terdapat di Provinsi Kalimantan Timur (6,87%), Provinsi Kepulauan Riau (9,08%), dan Provinsi Sumatera Selatan (10,07%).

Untuk rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang tertinggi terdapat di Provinsi Banten (24,48%), Provinsi Bali (23,59%), dan Provinsi Lampung (21,63%), sedangkan untuk rata-rata pertumbuhan Belanja Barang dan Jasa yang terendah terdapat di Provinsi Maluku (11,96%), Provinsi Kalimantan Timur (12,45%), dan Provinsi Sulawesi Tenggara (13,42%).

Secara berurutan rata-rata pertumbuhan Belanja Modal yang tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta (29,64%), lalu diikuti oleh Provinsi DI Yogyakarta (25,97%), dan Provinsi Banten (25,07%). Sementara itu, rata- rata pertumbuhan Belanja Modal yang terendah terdapat di Provinsi Bangka Belitung (5,39%), Provinsi Kalimantan Timur (7,55%), dan Provinsi Aceh (7,80%). Khusus untuk belanja modal di Provinsi Aceh relatif terus menurun mengingat pembangunan infrastruktur sejak terjadinya tsunami di Provinsi Aceh lebih didominasi dari bantuan hibah yang masuk pada kelompok Lain- lain Pendapatan Daerah yang sah.

Tabel 1.3 Rata-rata pertumbuhan (2010 – 2014) SiLPA Per Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

No

Se-Provinsi

SiLPA (%)

No

Se-Provinsi

SiLPA (%)

1

Prov. Bangka Belitung

-20,47%

18

Prov. Sulawesi Tengah

5,56%

2

Prov. Sumatera Barat

-20,38%

19

Prov. Jawa Timur

5,68%

3

Prov. Lampung

-18,65%

20

Prov. Bengkulu

8,20%

4

Prov. Nusa Tenggara Timur

-15,74%

21

Prov. Sulawesi Utara

9,91%

5

Prov. Sulawesi Tenggara

-15,48%

22

Prov. Maluku Utara

10,57%

6

Prov. Papua

-9,13%

23

Prov. Kalimantan Timur

10,66%

7

Prov. Aceh

-9,09%

24

Prov. Jawa Tengah

11,68%

8

Prov. Sumatera Utara

-7,34%

25

Prov. Kalimantan Selatan

12,61%

9

Prov. Kepulauan Riau

-5,62%

26

Prov. Sumatera Selatan

13,91%

10

Prov. Sulawesi Selatan

-4,53%

27

Prov. Jambi

14,53%

11

Prov. Nusa Tenggara Barat

-4,37%

28

Prov. Maluku

15,35%

12

Prov. Jawa Barat

-3,54%

29

Prov. Bali

15,88%

13

Prov. Kalimantan Tengah

-0,13%

30

Prov. Banten

21,00%

14

Prov. DI Yogyakarta

1,80%

31

Prov. Riau

22,78%

15

Prov. Papua Barat

1,93%

32

Prov. DKI Jakarta

28,99%

16

Prov. Gorontalo

3,29%

33

Prov. Sulawesi Barat

41,73%

17

Prov. Kalimantan Barat

5,37%

34

Prov. Kalimantan Utara

n/a

Sumber: Data APBD Konsolidasi 2010 - 2014 (Diolah)

Di sisi Pembiayaan Daerah, bisa dilihat gambaran mengenai rata-rata pertumbuhan SiLPA Daerah agregat provinsi, kabupaten dan kota dalam kurun waktu 2010-2014. Rata-rata pertumbuhan SiLPA yang terendah terdapat di Provinsi Bangka Belitung yaitu (-20,47%), yang diikuti oleh Provinsi Sumatera Barat (-20,38%), dan Provinsi Lampung (-18,65%). Kecenderungan pertumbuhan SiLPA yang negatif setiap tahunnya bisa diartikan bahwa dalam proses perencanaan anggaran secara keseluruhan, Pemerintah Daerah di provinsi tersebut lebih mengedepankan prinsip kehati-

hatian dalam melakukan estimasi terhadap sumber pendanaan yang akan diterima pada saat anggaran tahun berjalan atau mengindikasikan daerah tersebut sudah semakin mengoptimalkan pos SiLPAnya dalam anggaran.

Sementara itu, daerah dengan rata-rata pertumbuhan SiLPA tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat (41,73%), Provinsi DKI Jakarta (28,99%), dan Provinsi Riau (22,78%). Kecenderungan ini bisa diartikan bahwa pemerintah daerah di provinsi tersebut lebih optimis terhadap estimasi dana yang akan diterima pada tahun anggaran berjalan, namun tidak berani mengalokasikannya dalam jenis belanja untuk mendanai kegiatan layanan publik di dalam APBD-nya.

Di sisi lain, pinjaman daerah belum mempunyai peran yang cukup kuat dalam pembiayaan daerah. Hal ini disebabkan karena SiLPA di daerah relatif masih cukup tinggi, sehingga daerah cenderung akan menutup defisit dari SiLPA, yang notabene merupakan dana dari internal yang bersifat jangka pendek. Selain itu, masih kompleksnya pengajuan dan administrasi pinjaman daerah juga menjadi salah satu faktor belum berkembangnya pinjaman daerah dalam mendanai APBD.

bAb II ANAlISIS PENDAPATAN DAERAH

Desentralisasi fiskal di Indonesia pada dasarnya menekankan pada expenditure assignment, yang ditandai dengan pembagian urusan pada berbagai tingkat pemerintahan. Pemerintah daerah memiliki 31 urusan yang terdiri dari urusan wajib dan pilihan. Dalam mendanai pelaksanaan urusan tersebut, terdapat dua sumber pendanaan utama, yaitu Pendapatan Asli Daerah dan Transfer ke Daerah.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Kekayaan Daerah yang Dipisahkan, dan Lain-lain PAD. Perkembangan PAD dari sebelum pelaksanaan desentralisasi fiskal tahun 2001 hingga tahun 2014 dapat dilihat pada grafik 2.1. Jika pada tahun pertama pelaksanaan desentralisasi fiskal PAD meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp15,2 triliun dari sebelumnya Rp5,5 triliun, maka pada tahun 2014 sudah mencapai Rp180,3 triliun, yang berarti meningkat hampir 12 kali lipat. Dari keempat komponen PAD tersebut, peran Pajak Daerah sangat signifikan, terlihat dari total Pajak Daerah tahun 2014 untuk seluruh pemerintah daerah mencapai sebesar Rp132,9 triliun, atau 73,7% dari total PAD. Peningkatan PAD ini didorong antara lain oleh adanya kebijakan penguatan kewenangan perpajakan daerah, pertumbuhan ekonomi, upaya penggalian PAD oleh daerah, dan jumlah daerah.

Grafik 2.1 Perkembangan Pendapatan Asli Daerah

200 180 Desentralisasi Fiskal 160 UU 34/2000 140 120 100 80 64,7 52,2 60 44,7
200
180
Desentralisasi Fiskal
160
UU 34/2000
140
120
100
80
64,7
52,2
60
44,7
38,1
40
26
26,7
21,5
15,2
20
7,1
5,5
0
Rp Triliun
1999/2000
Sebelum Desentralisasi Fiskal
2000
2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008

Sumber: DJPK, (diolah)

180,3 UU 28/2009 140,3 131,8 109,2 81,2 67,6 2009 2010 2011 2012 2013 2014
180,3
UU 28/2009
140,3
131,8
109,2
81,2
67,6
2009
2010
2011
2012
2013
2014

Dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, penguatan perpajakan daerah dilakukan, antara lain melalui pemberian diskresi penetapan tarif dan pendaerahan beberapa jenis pajak baru seperti Pajak Rokok, Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Bumi dan Bangunan – Perkotaan dan Pedesaan (PBB-P2). Outcome dari perubahan kebijakan penguatan perpajakan daerah tersebut terlihat dari peningkatan PAD mulai tahun 2010 sampai dengan 2014 yang mencapai 22,1% secara rata-rata.

Sebagai konsekuensi logis dari penyerahan kewenangan/urusan dan sesuai dengan prinsip money follows function, pemerintah pusat setiap tahunnya mengalokasikan dana Transfer ke Daerah kepada pemerintah daerah. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan APBN, jumlah dana yang ditransfer ke daerah selalu meningkat setiap tahunnya, terakhir pada tahun 2014 dialokasikan sebesar Rp592,5 triliun. Dana Transfer ke Daerah dalam APBD diklasifikasikan ke dalam Dana Perimbangan untuk Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus (DAK), serta Lain-Lain Pendapatan yang Sah untuk Dana Otonomi Khusus, Dana

2003
2004

2013
2014

2007
2008

2000

2009
2010

2005
2006

1999/2000

2011
2012

2001
2002

Keistimewaan, dan Dana Penyesuaian. Perkembangan Transfer ke Daerah dari sebelum pelaksanaan desentralisasi sampai dengan tahun 2014 dapat dilihat pada grafik 2.2 di bawah ini.

Grafik 2.2 Perkembangan Transfer ke Daerah

700 Desentralisasi Fiskal 592,5 600 529,4 478,8 500 411,3 400 344,7 308,6 292,4 300 253,3
700
Desentralisasi Fiskal
592,5
600
529,4
478,8
500
411,3
400
344,7
308,6
292,4
300
253,3
226,2
200
149,58
130
116,9
98,5
82,4
100
33,9
22,9
0
Rp triliun
Sebelum Desentralisasi Fiskal

Sumber: DJPK, (diolah)

Jika dilihat dari proporsi antara besaran PAD dan Transfer ke Daerah, maka dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah relatif masih tergantung kepada dana dari pemerintah pusat, kecuali beberapa daerah yang memiliki potensi PAD yang besar seperti DKI Jakarta. Data APBD Tahun 2014 menunjukkan rata-rata secara agregat komposisi dana transfer dalam pendapatan daerah mencapai 81,6%. Fenomena ini perlu dikaji, karena jika dilihat berdasarkan data yang ada, potensi ekonomi yang dimiliki daerah untuk mengembangkan PAD masih cukup besar, namun potensi-potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan dengan baik.

Dalam tulisan ini akan dicoba untuk memberikan gambaran kondisi pendapatan daerah yang tercermin dalam APBD. Beberapa indikator yang akan digunakan dalam analisis ini yaitu rasio pajak daerah, rasio pajak per kapita, rasio ruang fiskal daerah, dan rasio ketergantungan daerah. Setiap

perhitungan rasio akan dibagi ke dalam 5 jenis, yaitu perhitungan rasio secara nasional (agregat pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota), rasio seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi, rasio pemerintah provinsi, dan rasio per wilayah (pembagian 5 wilayah yaitu Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali, Sulawesi, serta dan Nusa Tenggara, Maluku, Papua). Untuk rasio pajak terhadap PDRB, mengingat terdapat keterbatasan data untuk Provinsi Kalimantan Utara maka penghitungan masih digabungkan dengan provinsi induknya yaitu Provinsi Kalimantan Timur. Selanjutnya, pada bagian terakhir analisis ini, juga akan dibahas mengenai deviasi antara besaran Dana Perimbangan (DBH, DAU, dan DAK) yang dicantumkan dalam APBD dengan besaran alokasi Dana Perimbangan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Keuangan untuk melihat sejauh mana informasi transfer ke daerah yang disampaikan oleh pemerintah pusat diakomodir dalam APBD.

A. Rasio Pajak (Tax Ratio)

Kebijakan pajak daerah yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 mengenai Pajak Daerah dan Retribusi Daerah menerapkan closed list system untuk jenis pajak daerah yang dapat dikelola oleh pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota. Pemerintah provinsi diberi kewenangan untuk memungut 5 jenis pajak dan pemerintah kabupaten dan kota diberi kewenangan untuk memungut 11 jenis pajak. Salah satu kebijakan baru dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 adalah adanya PBB-P2 dan BPHTB dari pusat ke daerah. Dengan adanya pengalihan kewenangan pemungutan kedua pajak tersebut kepada daerah, diharapkan akan menambah peluang bagi daerah untuk melakukan pemungutan secara lebih optimal.

Rasio pajak (tax ratio) merupakan rasio yang menggambarkan perbandingan jumlah penerimaan pajak dengan Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara dalam satu tahun. Di tingkat daerah, rasio pajak merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak daerah dengan PDRB. Rasio

pajak dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak, mengukur kinerja perpajakan, dan melihat potensi pajak yang dimiliki.

PDRB sangat erat kaitannya dengan pajak daerah karena dapat menggambarkan kegiatan ekonomi masyarakat. Jika pertumbuhan ekonomi daerah baik tentunya akan menjadi potensi penerimaan pajak di wilayah tersebut. PDRB yang akan digunakan dalam analisis ini adalah PDRB atas dasar harga berlaku yang merupakan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada setiap tahun. Nilai PDRB ini pada umumnya digunakan untuk melihat pergeseran struktur ekonomi yang terjadi di suatu wilayah.

Perhitungan rasio pajak di berbagai wilayah di Indonesia akan memberikan gambaran hubungan antara penerimaan pajak daerah di wilayah tersebut dengan PDRB-nya, menilai kondisi suatu daerah, dan membandingkannya dengan daerah lain.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.3 menunjukkan rasio pajak secara agregat provinsi, kabupaten dan kota pada 33 provinsi seluruh Indonesia. Secara agregat, rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten dan kota hanya 1,9% dari PDRB non migas.

Provinsi Bali memiliki rasio pajak tertinggi, yaitu sebesar 5,3%. Pencapaian tersebut terutama karena didukung oleh posisi Bali sebagai daerah tujuan wisata, sehingga memiliki basis pajak yang cukup besar terutama yang terkait dengan hotel, restoran dan sarana hiburan lainnya. Sementara itu, provinsi yang memiliki rasio pajak paling rendah adalah Provinsi Riau dan Provinsi Papua Barat, yaitu masing-masing hanya 0,5%.

Kewenangan yang diberikan kepada daerah untuk memungut pajak daerah memang terbatas (closed list). Sumber penerimaan pajak daerah yang

berlaku saat ini cenderung bias ke daerah yang tingkat urbanisasinya tinggi (urban-biased), seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Kendaraan Bermotor.

Grafik 2.3 Rasio Pajak Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

*
*

Sumber: APBD 2014 (Diolah) (*) termasuk Provinsi Kalimantan Utara

Berdasarkan data rasio pajak di seluruh provinsi, diperoleh gambaran bahwa rata-rata rasio pajak daerah secara nasional adalah 1,9%. Provinsi yang memiliki rasio pajak diatas rata-rata nasional sebanyak 12 provinsi sebagaimana terlihat pada grafik diatas.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 2.4 memperlihatkan rasio pajak per pemerintah kabupaten dan kota untuk masing-masing wilayah provinsi. Rata-rata pajak yang bisa dipungut oleh pemerintah kabupaten dan kota di Indonesia sebesar 0,53% dari PDRB non migasnya. Rasio ini meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 0,37%. Hal ini menunjukkan bahwa upaya perluasan objek

pajak dan pengalihan beberapa jenis pajak ke daerah yang diatur dalam UU 28 Tahun 2009 telah memberikan efek positif kepada penguatan perpajakan daerah. Rasio pajak pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Bali menunjukkan angka yang paling tinggi, yaitu sebesar 3,4%. Sebagai daerah tujuan wisata, sumber penerimaan pajak daerah di Bali berasal dari sektor pariwisata seperti Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan, sehingga potensi penerimaan pajaknya menjadi lebih tinggi dibanding daerah lain.

Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat pada pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Papua Barat dan Provinsi Riau, yaitu sebesar 0,1%. Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh rendahnya potensi penerimaan pajak daerah kabupaten dan kota. Potensi penerimaan yang tinggi di Provinsi Papua Barat dan Riau adalah dari sektor pertambangan, yang merupakan sumber penerimaan Negara, dan selanjutnya akan menjadi sumber pendapatan bagi hasil sumber daya alam (DBH SDA) yang dalam rasio ini tidak dihitung.

Grafik 2.4 Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan KotaSe-Provinsi *)

*
*

Sumber: APBD 2014 (Diolah), Tidak termasuk DKI Jakarta *) termasuk Provinsi Kalimantan Utara

3. Pemerintah Provinsi

Grafik 2.5 Rasio Pajak Pemerintah Provinsi

*
*

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *)termasuk Provinsi Kalimantan Utara

Grafik 2.5 memperlihatkan rata-rata pajak yang dipungut oleh pemerintah provinsi sebesar 1,4% dari PDRB non migas. Untuk seluruh pemerintah provinsi di Indonesia, rasio pajak tertinggi dicapai oleh Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu sebesar 3,1%. Tingginya rasio pajak provinsi Kalimantan Selatan ini menarik untuk dikaji, mengingat rasio pajak Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2014 mampu melampaui Provinsi DKI Jakarta.

Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat di Provinsi Papua Barat dan Provinsi Riau (0,4%). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk meningkatkan penerimaan pajak daerah di kedua provinsi tersebut belum optimal mengingat jumlah pajak yang bisa dipungut dari potensi basis pajak yang ada masih rendah.

4. Per Wilayah

Berdasarkan pembagian 5 wilayah di Indonesia, secara rata-rata rasio pajak per wilayah sebesar 1,97%. Dengan mengeluarkan Provinsi DKI Jakarta dalam perhitungan, rasio pajak di wilayah Jawa dan Bali merupakan wilayah yang rasio pajaknya paling tinggi dibandingkan 4 wilayah lainnya, yaitu sebesar 2,6%, sedangkan wilayah dengan rasio pajak terendah sebesar 1,37% terdapat di wilayah Sumatera.

Grafik 2.6 Rasio Pajak per Wilayah*)

di wilayah Sumatera. Grafik 2.6 Rasio Pajak per Wilayah*) Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

B. Pajak per Kapita (Tax per Capita)

Pajak per kapita (tax per capita) belum banyak digunakan dalam menghitung tingkat keberhasilan pajak sebagai sumber Pendapatan Daerah. Namun begitu, pajak per kapita dapat digunakan sebagai alternatif dalam menghitung efektifitas pemungutan pajak daerah. Pajak per kapita merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak yang dihasilkan suatu daerah dengan jumlah penduduknya, yang berarti pula menunjukkan kontribusi setiap penduduk pada pajak daerah.

Menurut Gregory N. Mankiw, rasio pajak per PDB merupakan ukuran yang paling umum digunakan. Namun demikian, semakin tinggi tingkat persentase pajak akan semakin menurunkan PDB penduduk setempat sehingga ukuran tersebut dapat terlihat bias. Untuk tujuan tertentu (misalnya statistik yang lebih baik), pajak per kapita (tax per personal) dapat digunakan. Pajak per kapita dihitung dengan mengalikan rasio pajak dengan PDRB per kapita, sehingga diperoleh pajak/PDRB x PDRB/personal=pajak / personal.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rata-rata rasio pajak per kapita secara nasional (agregat provinsi, kabupaten dan kota) sebesar Rp496.217,00. Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio pajak per kapita tertinggi, yaitu sebesar Rp3.189.570,00, yang berarti bahwa secara rata-rata setiap penduduk yang ada di Provinsi DKI Jakarta memberikan kontribusi melebihi Rp3,1 juta untuk Pendapatan Daerah melalui pajak daerah.

Sementara itu, Provinsi Kalimantan Utara sebagai daerah otonom baru memiliki rasio pajak per kapita sebesar Rp70.189,00, dan merupakan yang terendah dibandingkan dengan 33 provinsi lainnya di Indonesia. Selanjutnya, pada grafik 2.7, terlihat masih banyak daerah yang rasio pajak per kapitanya berada di bawah rata-rata nasional. Hanya 7 (tujuh) provinsi yang rasio pajak per kapitanya berada di atas rata-rata nasional, yaitu Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Kalimantan Tengah, Provinsi Bali, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Kalimantan Selatan, Provinsi Kepulauan Riau, dan Provinsi Banten.

Grafik 2.7 Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Rasio Pajak per Kapita Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota Sumber: APBD 2014 (Diolah) 2. Pemerintah Kabupaten

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

Rasio pajak per kapita pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dapat dilihat pada grafik 2.8. Rasio tersebut menunjukkan nilai total pajak daerah seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota dalam satu provinsi dibagi dengan total seluruh penduduk di provinsi tersebut. Dalam perhitungan rasio ini, Provinsi DKI Jakarta tidak diikutsertakan.

Rasio pajak per kapita tertinggi terdapat di Provinsi Bali, yaitu sebesar Rp683.557,00. Sementara itu, Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki rasio terendah yaitu sebesar Rp37.548,00. Besaran nilai rasio tergantung pada basis pajak yang dimiliki masing-masing daerah, serta jumlah penduduk di daerah tersebut.

Grafik 2.8 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *)

Tax per Kapita Pemerintah Kabupaten dan kota se-Provinsi *) Sumber: APBD 2014 (Diolah) *)Tidak termasuk DKI

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *)Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Pajak per kapita pada seluruh pemerintah provinsi sebagaimana pada grafik 2.9 menunjukkan bahwa Provinsi DKI Jakarta merupakan daerah yang memiliki pajak per kapita terbesar, sama dengan pajak per kapita pada agregat provinsi, kabupaten dan kota yaitu sebesar Rp3.189.570,00 per kapita. Sementara itu dua provinsi yang memiliki rasio per kapita terendah yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar Rp105.087,00, dan Provinsi Kalimantan Utara yang sampai tahun 2014 belum menganggarkan penerimaan dari pajak daerah, sehingga rasio pajak per kapita masih nol. Kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan yang cukup besar antara rasio yang tertinggi dan terendah. Rata-rata rasio pajak per kapita pemerintah provinsi sebesar Rp380.522,00, dimana sebagian besar diantaranya berada di bawah rata-rata nasional. Dari keseluruhan provinsi, terdapat 28 provinsi yang memiliki rasio pajak per kapita di bawah rata-rata nasional, dan hanya 6 provinsi yang berada di atas rata-rata nasional.

Grafik 2.9 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi

Grafik 2.9 Rasio Tax per Kapita Pemerintah Provinsi Sumber: APBD 2014 (Diolah) 4. Per Wilayah Grafik

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

4. Per Wilayah

Grafik 2.10 memperlihatkan rasio pajak per kapita per wilayah, dengan rasio tertinggi berada di wilayah Kalimantan yang mencapai sebesar Rp616.227 per kapita, dan rasio terendah di berada wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua sebesar Rp224.888 per kapita. Sementara itu, rata-rata rasio pajak per kapita per wilayah sebesar Rp423.495, dan hanya wilayah Kalimantan yang memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Untuk wilayah Jawa dan Bali hanya memiliki rasio sebesar Rp558.481. Jika memasukkan Provinsi DKI Jakarta ke dalam perhitungan, maka rasio pajak di wilayah Jawa dan Bali menjadi Rp934.351 per kapita. Terkait dengan tingginya rasio pajak per kapita di Kalimantan, hal ini disebabkan oleh lebih rendahnya jumlah penduduk yang menjadi pembagi rasio tersebut. Sementara itu, besarnya rasio pajak per kapita di wilayah Jawa dan Bali disebabkan oleh banyaknya jumlah penerimaan pajak daerah yang diimbangi dengan banyaknya jumlah penduduk.

Grafik 2.10 Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*)

Grafik 2.10 Rasio Tax per Kapita Per Wilayah*) Sumber: APBD 2014(Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sumber: APBD 2014(Diolah), *) Tidak termasuk DKI Jakarta

C. Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Ruang fiskal (fiscal space) merupakan suatu konsep untuk mengukur fleksibilitas yang dimiliki pemerintah daerah dalam mengalokasikan APBD untuk membiayai kegiatan yang menjadi prioritas daerah. Semakin besar ruang fiskal yang dimiliki suatu daerah, maka akan semakin besar pula fleksibilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah untuk mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah, seperti pembangunan infrastruktur daerah.

Ruang fiskal daerah diperoleh dengan menghitung total Pendapatan Daerah dikurangi dengan pendapatan hibah, pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked) yaitu DAK, Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian serta Dana Darurat, dan belanja yang sifatnya mengikat, yaitu Belanja Pegawai dan Belanja Bunga, dan selanjutnya dibagi dengan total pendapatannya.

Ruang fiskal daerah saat ini masih sangat terbatas karena sebagian besar anggaran digunakan untuk belanja rutin (Belanja Pegawai). Memperbesar ruang fiskal daerah untuk Belanja Modal sangat penting karena dapat menjadi stimulus perekonomian daerah. Untuk itu, Pemerintah Daerah diharapkan dapat membuat kebijakan yang mampu menciptakan iklim perekonomian yang kondusif. Selain itu, efektifitas dan efisiensi penggunaan anggaran di daerah juga dapat mendukung terciptanya ruang fiskal.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.11 menunjukkan ruang fiskal secara agregat provinsi, kabupaten dan kota. Dari keseluruhan 34 provinsi, Provinsi DKI Jakarta mempunyai ruang fiskal tertinggi yaitu mencapai 60,64%. Tingginya ruang fiskal di Provinsi DKI Jakarta karena didukung oleh tingginya PAD yang mencapai 61,13% dari total pendapatan. Dengan ruang fiskal sebesar itu, belanja modal yang dianggarkan pada APBD cukup besar yaitu mencapai 44,75% dari total anggaran belanja daerah.

Sementara itu, Provinsi Aceh memiliki ruang fiskal terendah yaitu 21,63%. Rendahnya ruang fiskal di Provinsi Aceh karena porsi Pendapatan dari Dana Otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian pemerintah daerah se Provinsi Aceh cukup besar, yaitu 31,24% dari total Pendapatan Daerah, sehingga ruang fiskal yang tersisa sangat kecil karena pendapatan tersebut telah dibatasi penggunaannya. Dengan demikian, Provinsi Aceh harus memanfaatkan ruang fiskal yang ada dengan merencanakan Belanja Daerah yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerahnya.

Grafik 2.11 Ruang Fiskal Agregat Provinsi, Kabupaten, dan Kota

70% Ruang Fiskal Rata2 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Prov. Aceh Prov. Jawa
70%
Ruang Fiskal
Rata2
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prov. Aceh
Prov. Jawa Tengah
Prov. Sumatera Barat
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Lampung
Prov. Bengkulu
Prov. Gorontalo
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Sumatera Utara
Prov. Jawa Timur
Prov. Maluku
Prov. Papua
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Bali
Prov. Jawa Barat
Prov. Papua Barat
Prov. Jambi
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. Maluku Utara
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Bangka Belitung
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Banten
Prov. Sumatera Selatan
Prov. Riau
Prov. Kalimantan Utara
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Kalimantan Timur
Prov. DKI Jakarta

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

Secara agregat, rata-rata ruang fiskal seluruh pemerintah daerah di Indonesia sebesar 39,31%. Dari rata-rata tersebut, terdapat 14 provinsi dengan ruang fiskal yang berada di atas rata-rata nasional.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Ruang fiskal seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota pada satu provinsi digambarkan pada grafik 2.12. Secara rata-rata, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota memiliki ruang fiskal sebesar 34,82% dari total pendapatannya. Dari rata-rata tersebut, terdapat 18 daerah yang memiliki ruang fiskal di bawah rata-rata dan 15 daerah lainnya di atas rata- rata nasional.

Ruang fiskal tertinggi untuk kabupaten dan kota terdapat di Provinsi Kalimantan Utara yang mencapai sebesar 55,41%. Tingginya angka ini dapat disebabkan oleh pendapatan yang tidak dibatasi penggunaannya, yang didominasi oleh sektor pertambangan dan migas, serta sektor kehutanan. Pendapatan Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh transfer pemerintah pusat berupa DBH yang mencapai 50% dari total pendapatan. Sebagai daerah

otonom baru, besarnya ruang fiskal yang dimiliki oleh Provinsi Kalimantan Utara diikuti dengan kebijakan penganggaran belanja modal yang mencapai 71% dari total anggaran belanja tahun 2014.

Kabupaten dan Kota yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Provinsi Jawa Tengah memiliki ruang fiskal terendah, yaitu sebesar 21,19%. Ruang fiskal kedua provinsi tersebut rendah karena porsi Belanja Pegawai kabupaten/kota di kedua provinsi tersebut mencapai lebih dari 55% dari total pendapatan. Sementara itu, komposisi Pendapatan Daerah pemerintah kabupaten dan kota di kedua provinsi tersebut masih didominasi oleh transfer dari pemerintah pusat terutama dari DAU yang mencapai lebih dari 60% dari total Pendapatan Daerah. Persentase PAD terhadap total Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah hanya sebesar 12,06%, dimana pajak daerah hanya memberikan kontribusi sebesar 4,39% dari total Pendapatan Daerah. Kondisi yang sama juga dialami oleh Provinsi NTB yang memiliki persentase PAD hanya sebesar 8,74% terhadap total pendapatan, dimana pajak daerah hanya memberikan kontribusi sebesar 2,68% terhadap total pendapatan. Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa pemerintah daerah di Provinsi NTB dan Jawa Tengah belum mengoptimalkan pemungutan pajak dari basis pajak yang dimilikinya.

Grafik 2.12 Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *) 60% Ruang Fiskal Rata2 50%
Grafik 2.12
Ruang Fiskal Pemerintah Kabupaten dan kota Se-Provinsi *)
60%
Ruang Fiskal
Rata2
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. Jawa Tengah
Prov. Sumatera Barat
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Lampung
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Gorontalo
Prov. Bengkulu
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Jawa Timur
Prov. Sumatera Utara
Prov. Maluku
Prov. Jawa Barat
Prov. Aceh
Prov. Bali
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. Bangka Belitung
Prov. Jambi
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Maluku Utara
Prov. Papua Barat
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Banten
Prov. Papua
Prov. Sumatera Selatan
Prov. Riau
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Kalimantan Timur
Prov. Kalimantan Utara

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

Grafik 2.13 Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi

90% Ruang Fiskal Rata2 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% Prov. Aceh
90%
Ruang Fiskal
Rata2
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prov. Aceh
Prov. Papua
Prov. Jawa Tengah
Prov. Papua Barat
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Bengkulu
Prov. Maluku
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Gorontalo
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Maluku Utara
Prov. Bangka Belitung
Prov. Sumatera Barat
Prov. Jambi
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Lampung
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Bali
Prov. Sumatera Utara
Prov. Jawa Timur
Prov. Jawa Barat
Prov. Riau
Prov. DKI Jakarta
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Banten
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. Sumatera Selatan
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Kalimantan Timur
Prov. Kalimantan Utara

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

Grafik 2.13 menggambarkan ruang fiskal pada masing-masing pemerintah provinsi. Secara rata-rata pemerintah provinsi memiliki ruang fiskal sebesar 60,60% dari total pendapatannya. Dalam hal ini, terdapat 19 daerah yang memiliki ruang fiskal di bawah rata-rata nasional, dan 15 daerah memiliki ruang fiskal di atas rata-rata nasional.

Ruang fiskal tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Utara yang mencapai sebesar 81,94%. Tingginya angka ini karena adanya pendapatan yang tidak dibatasi penggunaannya yang didominasi oleh sektor pertambangan dan migas, serta sektor kehutanan. Pendapatan Provinsi Kalimantan Utara didominasi oleh transfer pemerintah pusat berupa DBH yang mencapai 65,77% dari total pendapatan. Sebagai daerah otonom baru hasil pembentukan tahun 2013, besarnya ruang fiskal yang dimiliki oleh Provinsi Kalimantan Utara perlu diikuti dengan kebijakan penganggaran belanja modal yang lebih ekspansif untuk membangun sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh masyarakat. Namun demikian, Provinsi Kalimantan Utara baru menganggarkan sekitar 22% dari pendapatannya untuk belanja modal pada tahun 2014 ini.

Selain itu, Pemda Provinsi Kalimantan Timur juga memiliki ruang fiskal yang tinggi yaitu sebesar 74,51%. Hal ini didukung dari penerimaan DBH dan penerimaan pajak daerah yang cukup besar. Sementara itu porsi Belanja Pegawai jumlahnya tidak terlalu besar sehingga ruang fiskal yang tersedia masih besar. Oleh karena itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur perlu memanfaatkan ruang fiskal yang tinggi tersebut untuk kegiatan yang dapat memacu pembangunan di daerahnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat meningkatkan potensi penerimaan pajak daerah.

Sementara itu ,Provinsi Aceh mempunyai ruang fiskal terendah yaitu sebesar 20,22%. Hal ini disebabkan karena kontribusi terbesar pada Pendapatan Daerah Provinsi Aceh adalah pendapatan dari dana otonomi khusus yang sudah dibatasi penggunaannya.

4. Per Wilayah

Grafik 2.14 memperlihatkan ruang fiskal yang dimiliki agregat pemerintah provinsi, kabupaten dan kota di Indonesia per wilayah di Indonesia. Terlihat bahwa wilayah Kalimantan memiliki ruang fiskal tertinggi yaitu sebesar 46,49%. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Kalimantan memiliki ruang fiskal yang cukup untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan daerahnya. Percepatan pembangunan di daerah tentunya diharapkan dapat memberikan multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi di daerahnya.

Grafik 2.14 Ruang Fiskal Per Wilayah*) 50% Ruang Fiskal Rata2 40% 30% 27,29% 20% 10%
Grafik 2.14
Ruang Fiskal Per Wilayah*)
50%
Ruang Fiskal
Rata2
40%
30%
27,29%
20%
10%
0%
Sulawesi
Jawa-Bali
Papua-Maluku-Nusa
Sumatera
Kalimantan
Tenggara

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sementara itu, wilayah Sulawesi memiliki ruang fiskal terendah yaitu sebesar 26,66%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar daerah di wilayah Sulawesi memiliki ruang fiskal yang terbatas untuk melakukan belanja pemerintah dalam rangka pembangunan di daerahnya. Dengan ruang fiskal yang tersedia, diharapkan pemerintah daerah di wilayah Sulawesi dapat mengalokasikan belanjanya pada kegiatan-kegiatan yang menjadi prioritas daerah dan mempunyai daya ungkit (leverage) yang tinggi bagi perekonomian daerahnya.

D. Rasio Ketergantungan Daerah

Rasio ketergantungan daerah menggambarkan tingkat ketergantungan suatu daerah terhadap bantuan pihak eksternal, baik yang bersumber dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah lain. Rasio ini ditunjukkan oleh rasio PAD terhadap total pendapatan dan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Rasio PAD terhadap total pendapatan memiliki arti yang berkebalikan dengan rasio dana transfer terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD maka ketergantungan daerah semakin kecil. Sebaliknya, semakin besar angka rasio dana transfer, maka semakin besar tingkat ketergantungan daerah terhadap bantuan pihak eksternal. Dengan demikian, daerah yang memiliki tingkat ketergantungan yang rendah adalah daerah yang memiliki rasio PAD yang tinggi, sekaligus rasio dana transfer yang rendah.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 2.15 menggambarkan potret rasio PAD dan dana transfer terhadap pendapatan seluruh pemda yang dikelompokkan menurut provinsi. Perhitungan dilakukan dengan menjumlahkan PAD seluruh pemda pada satu provinsi, dan untuk selanjutnya dibagi dengan total pendapatan untuk wilayah yang sama. Hal yang sama juga berlaku untuk rasio Dana Transfer, yang terdiri dari Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus, dan Dana Penyesuaian, yang kemudian dibandingkan dengan total pendapatan daerah tersebut. Secara agregat (provinsi, kabupaten, dan kota), rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan sebesar 18,08% dan rata-rata rasio Dana Transfer terhadap Pendapatan sebesar 80,52%.

Berdasarkan hasil analisis, Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio PAD yang paling tinggi, yaitu sebesar 61,13%, sekaligus rasio dana transfer terendah yaitu sebesar 31,15%. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki rasio PAD terendah sebesar 3,62% sekaligus rasio dana transfer tertinggi yaitu sebesar 95,96%. Hal ini menunjukkan bahwa, Provinsi DKI Jakarta

memiliki ketergantungan daerah yang paling rendah dibandingkan provinsi- provinsi yang lain. Sebaliknya, Provinsi Papua Barat menunjukkan tingkat ketergantungan yang paling tinggi, baik dari sisi PAD yang dihasilkan maupun dari sisi dana transfer yang diterima dari pusat.

Grafik 2.15 Rasio Ketergantungan Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

120% PAD/Pdptn Transfer/Pdptn Rata2 PAD/Pdptn Rata2 Transfer/Pdptn 100% 80% 60% 40% 20% 0% Prov. Papua
120%
PAD/Pdptn
Transfer/Pdptn
Rata2 PAD/Pdptn
Rata2 Transfer/Pdptn
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Prov. Papua Barat
Prov. Kalimantan Utara
Prov. Papua
Prov. Maluku
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Maluku Utara
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. Aceh
Prov. Bengkulu
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Gorontalo
Prov. Jambi
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Bangka Belitung
Prov. Sumatera Selatan
Prov. Sumatera Barat
Prov. Riau
Prov. Lampung
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Sumatera Utara
Prov. Kalimantan Timur
Prov. Jawa Tengah
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Jawa Timur
Prov. Jawa Barat
Prov. Bali
Prov. Banten
Prov. DKI Jakarta

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

Rendahnya tingkat ketergantungan di Provinsi DKI Jakarta tersebut disebabkan oleh tingginya sumber-sumber PAD khususnya dari pajak daerah dan retribusi daerah. Hal ini sejalan dengan analisis pada bagian rasio pajak yang menempatkan DKI Jakarta pada posisi pertama dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya. Sementara itu, Provinsi Papua Barat memiliki tingkat ketergantungan tertinggi disebabkan oleh rendahnya PAD, khususnya pajak daerah dan retribusi daerah di wilayah tersebut, dan tingginya dana transfer yang diterima.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Pada Grafik 2.16 terlihat bahwa rata-rata rasio PAD terhadap Pendapatan Daerah adalah 8,5%, sedangkan rata-rata rasio dana transfer terhadap Pendapatan Daerah mencapai 91,2%. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota terhadap dana transfer masih sangat tinggi.

Rasio PAD terhadap pendapatan tertinggi terdapat pada seluruh pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali yang mencapai 31,6%, sedangkan yang terendah adalah di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua Barat yaitu hanya sebesar 2,4%.

Grafik 2.16 Rasio KetergantunganPemerintahKabupatendan kota Se-Provinsi *)

100% 80% 60% 40% 20% 0% Prov. Papua Prov. Maluku Prov. Papua Barat Prov. Sulawesi
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Prov. Papua
Prov. Maluku
Prov. Papua Barat
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Bengkulu
Prov. Kalimantan Utara
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Aceh
Prov. Jambi
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Maluku Utara
Prov. Lampung
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Sumatera Selatan
Prov. Sumatera Barat
Prov. Kalimantan Timur
Prov. Riau
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. Gorontalo
Prov. Bangka Belitung
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Sumatera Utara
Prov. Jawa Tengah
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Jawa Timur
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Jawa Barat
Prov. Banten
Prov. Bali

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Sementara itu, rasio dana transfer terhadap pendapatan yang tertinggi terdapat di pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang mencapai sebesar 97,4%, sedangkan yang terendah adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota di Provinsi Bali yang mencapai sebesar 68,4%.

3. Pemerintah Provinsi

Untuk tingkat pemerintah provinsi, rata-rata rasio PAD terhadap pendapatan adalah sebesar 37,5% dan untuk rasio dana transfer terhadap pendapatan sebesar 60,79%. Dari keseluruhan provinsi, terdapat 18 pemerintah provinsi yang memiliki rasio PAD terhadap pendapatan di atas rata-rata nasional, dan 16 pemerintah provinsi yang memiliki rasio dana transfer terhadap pendapatan di atas rata-rata-rata secara nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak daerah yang sangat bergantung bantuan dana dari pihak eksternal.

Pemerintah Provinsi Banten memiliki rasio PAD terhadap pendapatan yang paling tinggi, yaitu sebesar 67,97%, sedangkan Pemerintah Provinsi Papua Barat memiliki rasio yang terendah yaitu sebesar 3,87%. Sebaliknya, rasio dana transfer terhadap total pendapatan yang tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 96,13%, sedangkan yang terendah terdapat di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 31,15%.

Grafik 2.17 Rasio Ketergantungan Pemerintah Provinsi

120% 100% 80% 60% 40% 20% 0% Prov. Kalimantan Utara Prov. Papua Barat Prov. Papua
120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Prov. Kalimantan Utara
Prov. Papua Barat
Prov. Papua
Prov. Aceh
Prov. Maluku Utara
Prov. Sulawesi Barat
Prov. Gorontalo
Prov. Maluku
Prov. Nusa Tenggara Timur
Prov. Sulawesi Tenggara
Prov. Bangka Belitung
Prov. Kepulauan Riau
Prov. Bengkulu
Prov. Sulawesi Tengah
Prov. Jambi
Prov. Sumatera Selatan
Prov. DI Yogyakarta
Prov. Riau
Prov. Nusa Tenggara Barat
Prov. Sulawesi Utara
Prov. Kalimantan Tengah
Prov. Kalimantan Barat
Prov. Sumatera Barat
Prov. Kalimantan Timur
Prov. Lampung
Prov. Sulawesi Selatan
Prov. Bali
Prov. Sumatera Utara
Prov. Jawa Tengah
Prov. DKI Jakarta
Prov. Kalimantan Selatan
Prov. Jawa Timur
Prov. Jawa Barat
Prov. Banten

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

4. Per Wilayah

Analisis rasio ketergantungan daerah berdasarkan wilayah dimaksudkan untuk menunjukkan seberapa besar ketergantungan daerah pada 5 kelompok wilayah yang memiliki karakteristik pendapatan yang sama.

Grafik 2.18 Rasio Ketergantungan Per Wilayah*) 100% 80% 60% 40% 20% 0% Papua-Maluku-Nusa Kalimantan Sulawesi
Grafik 2.18
Rasio Ketergantungan Per Wilayah*)
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Papua-Maluku-Nusa
Kalimantan
Sulawesi
Sumatera
Jawa-Bali
Tenggara
PAD/Pdptn
TRANSFER/Pdptn
RATA2 PAD/Pdptn
RATA2 TRANSFER/Pdptn

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

Berdasarkan pembagian 5 wilayah, secara rata-rata rasio PAD terhadap total pendapatan hanya sebesar 9,04%, sedangkan rata-rata rasio dana transfer terhadap total pendapatan mencapai sebesar 84,01%. Rasio PAD terhadap total pendapatan di wilayah Jawa dan Bali mempunyai rasio yang paling tinggi dibandingkan dengan 4 wilayah lainnya, yaitu sebesar 27,6%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan pemerintah daerah di wilayah Jawa dan Bali dalam menghasilkan sumber-sumber PAD relatif cukup tinggi. Hal ini berbeda dengan wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua yang rasio PAD terhadap total pendapatannya sangat rendah, yang hanya mencapai 4,63%.

Namun demikian, secara umum ke-5 wilayah tersebut masih memiliki rasio PAD terhadap total pendapatan rata-rata di bawah 50% (sekitar 16%), yang berarti masih memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap Pusat.

Berdasarkan analisis terhadap rasio dana transfer terhadap pendapatan, wilayah Jawa dan Bali memiliki angka yang paling rendah, yaitu 73,14%. Walaupun angka tersebut masih besar, namun apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya, rasio ini menunjukkan bahwa wilayah Jawa dan Bali memiliki tingkat ketergantungan dengan dana transfer yang paling rendah. Sementara itu, rasio dana transfer terhadap total pendapatan yang tertinggi terdapat di wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua yang mencapai sebesar 92,97%. Ini berarti wilayah tersebut memiliki rasio ketergantungan daerah yang tinggi.

E. Deviasi Alokasi Transfer ke Daerah pada APBD

Salah satu permasalahan yang sering disampaikan oleh daerah dalam penyusunan APBD adalah terlambatnya informasi alokasi dana Transfer ke Daerah yang ditetapkan dalam APBN setiap tahunnya. Terlambatnya informasi alokasi Transfer ke Daerah dari Kementerian Keuangan yang diterima oleh daerah mempengaruhi perencanaan APBD, terutama dari sisi pendapatan. Kepastian jumlah pendapatan akan mempengaruhi besaran belanja yang akan direncanakan oleh pemerintah daerah.

Sebagai gambaran, alokasi dana transfer tahun 2014 dalam UU APBN yang disahkan tanggal 14 November 2013 mencapai Rp592,5 triliun, terdiri dari alokasi Dana Perimbangan dan Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Berdasarkan UU APBN tersebut, alokasi Dana Alokasi Khusus per daerah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 180/PMK.07/2013 tanggal 13 Desember 2013. Selain itu, informasi alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) per daerah ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 2 Tahun 2014 telah dipublikasikan pada tanggal 27 Januari 2014, sedangkan informasi alokasi DBH tahun 2014 yang dimuat dalam PMK baru dapat diterbitkan pada bulan Mei 2014. Namun demikian, untuk mempercepat penyampaian informasi alokasi yang diterima oleh setiap daerah, Kementerian Keuangan telah mengunggah informasi tersebut

ke website www.djpk.depkeu.go.id setelah UU APBN disahkan pada rapat raripurna DPR pada tanggal 14 November 2013.

Untuk melihat apakah keterlambatan informasi alokasi masih menjadi permasalahan dalam penetapan APBD, pada bagian ini akan disajikan mengenai deviasi antara besaran Dana Perimbangan (DBH, DAU, dan DAK) yang dicantumkan dalam APBD dengan besaran alokasi Dana Perimbangan sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Keuangan. Deviasi negatif diperoleh jika besaran alokasi dalam APBD lebih kecil daripada alokasi dari Kementerian Keuangan. Hal ini juga berarti pemerintah daerah bersikap pesimistis terhadap alokasi yang akan diterima tahun berikutnya. Sebaliknya, deviasi positif diperoleh ketika pemerintah daerah bersikap optimis.

Dari hasil telaah pembandingan deviasi antara penetapan Pemerintah dengan penetapan dalam APBD, secara umum dapat disimpulkan bahwa pengumuman alokasi Dana Perimbangan yang dilakukan segera setelah pengesahan UU APBN oleh DPR RI dapat dimanfaatkan oleh daerah dalam menyusun APBD. Hal ini terbukti dari banyaknya daerah yang mengalokasikan DAU dan DAK pada APBD sama besar dengan penetapan pemerintah pusat. Adapun untuk DBH yang informasi alokasinya diumumkan terlambat, yaitu pada Mei 2014 atau setelah APBD ditetapkan oleh daerah, menunjukkan gambaran bahwa seluruh daerah mengalokasikan berbeda dengan alokasi dalam PMK.

Berdasarkan hal di atas, dapat disampaikan bahwa peranan kecepatan informasi transfer mempunyai peran penting dalam menekan rendahnya deviasi alokasi transfer pada APBD. Satu hal yang perlu dicermati bahwa deviasi yang terlalu besar, akan mengakibatkan eksekusi APBD menjadi terkendala. Dalam hal dianggarkan jauh terlalu rendah dalam APBD maka akan terjadi potensi pelampauan pendapatan yang lebih lanjut akan berpotensi pada terbentuknya dana idle daerah yang tidak dapat digunakan untuk mendanai belanja publik. Di sisi lain, apabila dianggarkan oleh daerah jauh terlalu tinggi juga akan mengganggu ketersediaan dana untuk mendanai

belanja yang telah direncanakan, sehingga kegiatan yang didanai dari APBD dapat mengalami keterlambatan, atau bahkan tidak dapat diselesaikan.

1. Dana Bagi Hasil (DBH)

Dalam APBN tahun 2014, DBH yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2013 tentang APBN adalah sebesar Rp113,71 triliun, yang terdiri dari DBH Pajak sebesar Rp51,78 triliun dan DBH SDA sebesar Rp61,92 triliun. Sementara, dalam beberapa Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur tentang alokasi DBH per daerah (bersifat perkiraan), jumlah yang dialokasikan adalah sebesar Rp104,228 triliun. Adapun total alokasi DBH dalam APBD 2014 adalah sebesar Rp108,042 triliun, yang sedikit lebih besar daripada jumlah alokasi dalam PMK.

Secara total, deviasi alokasi antara APBD dan PMK hanya 3,66%, tetapi apabila dilihat per daerah, deviasi tertinggi dalam nominal mencapai Rp5,69 triliun dan dalam persentase mencapai 202,16%. Jumlah daerah dengan deviasi positif (alokasi DBH dalam APBD lebih besar daripada alokasi PMK) lebih sedikit daripada jumlah daerah dengan deviasi negatif, dengan perbandingan 190:349. Berikut disajikan daerah-daerah dengan persentase deviasi tertinggi.

Tabel 2.1 Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DBH Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi (Rp)

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kab. Mahakam Ulu

(354,938,727,913)

-92.78%

31 Dec 2013

Kab. Sabu Raijua

(5,187,440,704)

-91.72%

11 Dec 2013

Kab. Sumba Tengah

(8,489,243,739)

-80.07%

24 Dec 2013

Kab. Tambrauw

(26,989,158,311)

-77.34%

27 Dec 2013

Kab. Landak

(28,145,062,644)

-72.69%

30 Dec 2013

Sumber: DJPK (2014), data diolah

Tabel 2.1 di atas menunjukkan lima daerah yang memiliki persentase deviasi negatif tertinggi. Persentase deviasi yang diperoleh dari lima pemerintah daerah tersebut seluruhnya merupakan pemerintah daerah kabupaten yang berada pada wilayah Kalimantan, serta Nusa Tenggara dan Papua. Kelima daerah tersebut menganggarkan pendapatan DBH pada APBD terlalu pesimis hingga sekitar 90% di bawah alokasi yang akan diterimanya.

Tabel 2.2 Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Positif Alokasi DBH Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi (Rp)

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kab. Mamuju

28.146.732.024

101,05%

31 Des 2013

Kab. Nagan Raya

27.128.958.019

101,67%

30 Des 2013

Kab. Tanah Karo

19.178.771.472

101,72%

-

Kab. Labuhanbatu Selatan

30.187.140.867

109,61%

03 Mar 2014

Kab. Raja Ampat

121.884.664.177

202,16%

27 Des 2013

Sumber: DJPK (2014), data diolah

Daerah yang melakukan penganggaran dengan optimis akan mengalami deviasi yang positif atas alokasinya. Kabupaten Raja Ampat menganggarkan DBH pada APBD dua kali lebih tinggi daripada alokasi DBH pada PMK alokasi. Dengan persentase tersebut, Kabupaten Raja Ampat memiliki deviasi penganggaran DBH tertinggi. Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang cukup lambat dalam penetapan perda APBD mengalami deviasi positif anggaran DBH tertinggi kedua.

Secara umum, deviasi antara alokasi DBH pada APBD dan PMK terjadi pada seluruh daerah. Hal ini terjadi karena informasi alokasi DBH belum ditetapkan sampai saat APBD ditetapkan.

2. Dana Alokasi Umum (DAU)

Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2014 dialokasikan sebesar Rp341,2 triliun. Peraturan Presiden yang mengatur alokasi per daerah telah ditetapkan pada tanggal 27 Januari 2014. Sementara itu, DAU dalam APBD dialokasikan sebesar Rp341,34 triliun atau relatif sama besar dengan alokasi dari pemerintah pusat, sehingga secara total deviasi antara APBD dan Perpres relatif tidak signifikan (Rp120,69 juta).

Jika dilihat per daerah, sebanyak 490 daerah mengalokasikan DAU sama dengan yang ditetapkan pemerintah pusat, dimana 32 daerah mengalokasikan DAU dengan rentang deviasi +1%, serta 17 daerah dengan deviasi lebih dari +1%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengumuman informasi alokasi yang dilakukan beberapa saat setelah rapat paripurna DPR RI yang mengesahkan RUU APBN 2014 menjadi UU telah diterima dengan baik oleh sebagian besar pemerintah daerah.

Walaupun begitu, masih terdapat beberapa daerah yang memiliki deviasi cukup besar walaupun informasi alokasi untuk daerah mereka masing- masing telah dipublikasikan. Tabel 2.3 berikut ini menunjukkan lima daerah dengan persentase deviasi alokasi DAU negatif tertinggi. Kabupaten Bengkalis merupakan daerah dengan persentase deviasi negatif tertinggi dan paling lambat dalam menetapkan APBD dibandingkan 4 daerah lain. Keempat daerah lainnya yang memiliki deviasi negatif dibawah 27% menetapkan APBD sebelum Perpres Alokasi DAU ditetapkan.

Tabel 2.3 Daerah dengan Persentase Deviasi Alokasi DAU Negatif Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kab. Bengkalis

(50.961.070.569)

-59,41%

20 Mar 2014

Kab. Sumba Tengah

(111.548.944.000)

-26,97%

24 Des 2013

Kab. Kepulauan Sitaro

(60.442.761.000)

-15,09%

20 Jan 2014

Daerah

Deviasi Alokasi

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kab. Balangan

(31.589.190.000)

-9,90%

17 Des 2013

Kab. Aceh Barat

(42.832.065.000)

-7,78%

16 Des 2013

Sumber: DJPK (2014), data diolah

Sementara itu, Kabupaten Banggai Kepulauan merupakan daerah dengan persentase deviasi positif tertinggi meskipun perda APBD ditetapkan setelah Perpres Alokasi DAU ditetapkan. Seluruh daerah yang menganggarkan DAU terlalu optimis menetapkan perda APBD setelah Perpres Alokasi DAU ditetapkan kecuali Kota Bandar Lampung yang memiliki deviasi positif sebesar 10,48% dibandingkan alokasi DAU yang diperolehnya.

Tabel 2.4 Daftar Daerah Persentase Deviasi Positif Alokasi DAU Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kota Dumai

17.250.322.831

4,79%

17 Apr 2014

Kota Bandar Lampung

96.611.339.010

10,48%

27 Sep 2013

Kab. Minahasa Tenggara

60.579.834.000

17,81%

05 Feb 2014

Kab. Sumba Barat Daya

111.548.944.000

36,93%

04 Feb 2014

Kab. Banggai Kepulauan

140.679.186.419

40,54%

04 Apr 2014

Sumber: DJPK (2014), data diolah

3. Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pada APBN 2013, pemerintah pusat mengalokasikan DAK sebesar Rp31,7 triliun yang terdiri dari Rp29,7 triliun dialokasikan untuk 19 bidang dan bagi seluruh pemerintah daerah, serta Rp2 triliun yang dialokasikan untuk infrastruktur jalan dan pendidikan bagi 183 daerah tertinggal. Dari 539 daerah, terdapat 11 daerah yang tidak mendapatkan alokasi DAK dan seluruh daerah tersebut tidak menganggarkan DAK pada APBD. PMK alokasi

DAK ditetapkan lebih awal dibandingkan alokasi DAU yaitu pada tanggal 13 Desember 2013.

Sementara itu, alokasi DAK pada APBD mencapai sebesar Rp33 triliun dan anggaran DAK pada APBD 539 daerah berjumlah Rp32,83 triliun. Dibandingkan dengan total DAK yang ditetapkan pemerintah pusat, deviasi yang terjadi tidak signifikan, yaitu hanya -0,49%. Jika dibandingkan per daerah, pola yang sama dengan DAU terjadi pada DAK, yaitu 490 daerah mengalokasikan sama besar dengan DAK yang ditetapkan pemerintah pusat, 32 daerah mengalokasikan DAK dengan deviasi dalam rentang +1%, serta 17 daerah mengalokasikan DAK dengan deviasi diatas rentang +1%.

Dari tabel 2.8 di atas dapat dilihat bahwa masih terdapat daerah yang tidak menganggarkan DAK pada APBD sehingga mengakibatkan deviasi daerah tersebut menjadi sebesar 100%. Kab Bekasi menjadi daerah yang memiliki deviasi dengan nominal terbesar sekaligus persentase terbesar. Lima daerah yang memiliki persentase deviasi negatif tertinggi sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini disebabkan karena daerah tersebut tidak menganggarkan DAK pada APBD-nya. Jika dilihat dari penetapan APBD kelima daerah tersebut, seharusnya informasi DAK yang mereka peroleh sudah dapat ditampung dalam APBD.

Tabel 2.5 Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Negatif Alokasi DAK Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kab. Bekasi

(111.171.910.000)

-100,00%

24 Jan 2014

Kab. Mappi

(97.101.660.000)

-100,00%

06 Jun 2014

Kota Tarakan

(3.786.510.000)

-100,00%

31 Des 2013

Kab. Bengkalis

(24.753.430.096)

-69,26%

20 Mar 2014

Prov. Kalimantan Selatan

(29.189.940.000)

-53,87%

27 Des 2013

Sumber: DJPK (2014), data diolah

Kabupaten Kepulauan Meranti menjadi daerah yang menganggarkan DAK tahun 2014 terlalu optimis, dengan persentase deviasi hingga mencapai 900%, Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami deviasi penganggaran DAK sebesar Rp17,9 Miliar. Kabupaten tersebut menganggarkan DAK terlalu optimis meskipun tanggal penetapan APBD jauh setelah PMK alokasi DAK ditetapkan. Kecuali Kota Bandar Lampung, daerah yang mengalami deviasi DAK terbesar ini menetapkan perda APBD setelah informasi alokasi DAK dapat diperoleh daerah.

Tabel 2.6 Daftar Daerah dengan Persentase Deviasi Positif Alokasi DAK Tertinggi

Daerah

Deviasi Alokasi

Persentase Deviasi

Tanggal Perda

Kota Singkawang

19.657.451.132

41,07%

23 Mei 2014

Kota Bandar Lampung

22.186.410.000

51,79%

27 Sep 2013

Kab. Rokan Hulu

10.076.807.960

95,22%

22 Mei 2014

Kab. Tanjung Jabung Barat

2.075.221.402

115,14%

10 Apr 2014

Kab. Kepulauan Meranti

17.963.795.695

923,69%

02 Apr 2014

Sumber: DJPK (2014), data diolah

bAb III ANAlISIS bElANJA DAERAH

Dalam dua belas tahun pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia, titik beratnya diletakkan pada desentralisasi di sisi pengeluaran (expenditure assignment) yang ditandai dengan adanya pembagian urusan pada berbagai tingkat pemerintahan. Pemerintah daerah memiliki 31 urusan yang terdiri dari urusan wajib dan pilihan. Sebagai konsekuensi logis dari penyerahan kewenangan/urusan tersebut dan sesuai dengan prinsip money follow function, pemerintah pusat setiap tahunnya mengalokasikan dana Transfer ke Daerah kepada pemerintah daerah. Jumlah Transfer ke Daerah memiliki tren yang meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan APBN.

Dalam APBN tahun 2014, alokasi Transfer ke Daerah mencapai sebesar Rp592,5 triliun, yang berarti sekitar 32% dari total belanja APBN telah diserahkan pengelolaannya kepada daerah yang diikuti dengan adanya diskresi yang sangat besar. Hal tersebut diharapkan dapat mempengaruhi pola belanja di daerah yang mampu mendorong adanya peningkatan kinerja pelayanan publik di daerah. Tantangan utama yang dihadapi oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya tersebut adalah bagaimana memanfaatkan sumber-sumber pendanaan melalui kebijakan perencanaan dan penganggaran yang sejalan dengan prioritas dan kebutuhan di daerah.

Implementasi atas kebijakan perencanaan dan penganggaran tersebut adalah melalui Belanja Daerah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Anggaran Belanja Daerah akan mempunyai peran riil dalam peningkatan kualitas layanan publik dan sekaligus menjadi stimulus bagi perekonomian daerah apabila dapat direalisasikan dengan baik. Dengan demikian, Belanja Daerah seharusnya dapat menjadi komponen yang

penting dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber-sumber daya ekonomi yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat, yang pada gilirannya diharapkan akan memberikan dampak nyata pada perekonomian daerah secara luas.

Anggaran Belanja Daerah yang tercantum dalam APBD mencerminkan potret pemerintah daerah dalam menentukan skala prioritas terkait program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Penyusunan anggaran Belanja Daerah dapat menunjukkan apakah suatu daerah pro poor, growth, and jobs. Pada komponen Belanja Daerah juga nampak seberapa besar porsi belanja langsung yang dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah dan terkait langsung dalam pemenuhan pelayanan kepada masyarakat.

Untuk menggambarkan seberapa besar belanja pemerintah daerah yang digunakan dalam upaya untuk menyejahterakan penduduk di suatu daerah, dapat digunakan berbagai macam tool, misalnya dengan pengukuran rasio Belanja Daerah terhadap jumlah penduduk (Belanja Daerah per kapita). Semakin besar nilai rasio Belanja Daerah per kapita, semakin besar belanja yang dikeluarkan untuk menyejahterakan satu orang penduduk wilayah tersebut sehingga semakin besar kemungkinan tercapainya. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan pemda untuk menyejahterakan penduduknya.

Namun demikian, rasio ini juga dirinci lagi menjadi per jenis belanja sehingga akan lebih menggambarkan kontribusi dari setiap jenis belanja sebagai faktor yang mendorong peningkatan kualitas layanan publik. Berbagai macam pengukuran rasio belanja akan disajikan pada bab ini. Pada prinsipnya, dalam tataran kebijakan, untuk menuju pelaksanaan Belanja Daerah yang berdampak positif kepada masyarakat perlu diupayakan agar pemerintah daerah mempercepat realisasi belanjanya dan menjalankan kebijakan belanja yang baik, antara lain dengan mendorong agar proses penetapan Perda APBD dapat dilakukan secara tepat waktu, menetapkan anggaran Belanja Modal

yang lebih besar dan tepat sasaran, mempertajam penggunaan anggaran Belanja Pegawai, dan sebagainya.

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Mengingat bahwa proporsi belanja pegawai menempati porsi terbesar dalam APBD, perlu kita hitung rasio belanja pegawai terhadap total belanja daerah. Tujuan penghitungan rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah untuk mengetahui proporsi Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah. Data Belanja Pegawai di sini adalah penjumlahan dari Belanja Pegawai langsung dan Belanja Pegawai tidak langsung. Rasio ini menggambarkan bahwa semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil angka rasio Belanja Pegawai maka semakin kecil proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai APBD.

Mengingat jumlah guru mendominasi jumlah keseluruhan dari Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD), maka menjadi penting untuk melihat proporsi jumlah guru terhadap total PNSD di suatu daerah. Selama ini banyak pihak yang menyoroti dan mengkritisi mengenai jumlah Belanja Pegawai yang dinilai terlalu besar dalam APBD. Kritik tersebut didasarkan pada argumen bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk Belanja Modal yang nota bene dipandang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat.

Namun demikian, dalam peraturan perundangan disebutkan bahwa Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dengan prioritas kepada pelaksanaan urusan daerah yang sifatnya wajib. Salah satu urusan wajib adalah bidang pendidikan, sehingga belanja untuk gaji guru sebenarnya dilakukan dalam rangka untuk mendukung pelaksanaan urusan daerah yang sifatnya wajib.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah sebesar 40,87%. Rasio ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan tahun anggaran sebelumnya yang mencapai rata-rata 42,78% pada tahun 2013 dan sebesar 44,7% pada tahun 2012. Meskipun relatif kecil, penurunan rasio belanja pegawai secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya upaya rasionalisasi terhadap struktur belanja daerah. Rasio belanja pegawai agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 15 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 19 provinsi yang lain memiliki rasio belanja pegawai yang melebihi rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai paling kecil adalah Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebesar 22,79%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Jawa Tengah dengan rasio yang mencapai sebesar 51,62%.

Grafik 3.1 menunjukkan adanya 3 provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai lebih dari 50%, yaitu Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Provinsi Jawa Tengah, meskipun rasionya masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja di luar belanja pegawai. Dengan kata lain, kondisi tersebut akan menyebabkan semakin terbatasnya sumber pendanaan yang dapat digunakan untuk mendanai program dan kegiatan yang dapat mendukung pemenuhan layanan publik.

Grafik 3.1 Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

51,62%

40,87% 22,79% DKI Jakarta Kalimantan Utara Papua Barat Kalimantan Timur Papua Kepulauan Riau Riau Banten
40,87%
22,79%
DKI Jakarta
Kalimantan Utara
Papua Barat
Kalimantan Timur
Papua
Kepulauan Riau
Riau
Banten
Sumatera Selatan
Kalimantan Tengah
Aceh
Kalimantan Selatan
Maluku Utara
Bangka Belitung
Kalimantan Barat
Jambi
Jawa Barat
Sulawesi Barat
Bali
Maluku
Sulawesi Tenggara
Jawa Timur
Sulawesi Tengah
Lampung
Gorontalo
Sulawesi Utara
Sumatera Utara
Sulawesi Selatan
Nusa Tenggara Timur
Bengkulu
DI Yogyakarta
Sumatera Barat
Nusa Tenggara Barat
Jawa Tengah

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 51,0%, lebih tinggi dibandingkan dengan rasio tahun sebelumnya yang mencapai 49,41%. Sama seperti deskripsi sebelumnya, peningkatan rasio jumlah guru yang diiringi dengan penurunan rasio belanja pegawai secara keseluruhan menunjukkan bahwa daerah semakin rasional dalam alokasi belanja pegawainya yang ditunjukkan dengan semakin menurunnya porsi jumlah PNS maupun besaran belanja untuk PNS yang bekerja di bidang administrasi. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan adanya 20 provinsi mempunyai rasio lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 14 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 43,6%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi DKI Jakarta dengan rasio sebesar 64,0%.

Grafik 3.2 Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

70% 64,0% 60% 51,0% 50% 43,6% 40% 30% 20% 10% 0% Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara
70%
64,0%
60%
51,0%
50%
43,6%
40%
30%
20%
10%
0%
Kalimantan Tengah
Sulawesi Tenggara
Aceh
Sulawesi Tengah
Bengkulu
Nusa Tenggara Barat
Kalimantan Selatan
Bali
Kalimantan Timur
Papua
Maluku Utara
Kepulauan Riau
Gorontalo
Sulawesi Barat
Riau
Sulawesi Utara
Kalimantan Barat
Sulawesi Selatan
Nusa Tenggara Timur
Sumatera Selatan
Jawa Timur
Papua Barat
Jambi
Lampung
Jawa Barat
Bangka Belitung
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Sumatera Barat
Sumatera Utara
Banten
Kalimantan Utara
Maluku
DKI Jakarta

Sumber: DJPK (Data Diolah)

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.3 memperlihatkan rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi memiliki rasio di atas 30%, kecuali Provinsi Kalimantan Utara (25,94%) dan Provinsi Kalimantan Timur (29,72%). Sementara itu, rata-rata rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya pada APBD 2014 adalah sebesar 48,61%, yang berarti lebih rendah apabila dibandingkan dengan rata-rata tahun 2013 yaitu sebesar 49,26% dan tahun 2012 yang mencapai 50,9%. Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan hampir setengah belanja daerahnya untuk membayar belanja pegawai daerah. Dari angka rata-rata tersebut, terdapat 14 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih

rendah, dan 19 provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih besar. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki rasio belanja pegawai terbesar, yaitu sebesar 59,42%, sedangkan pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Kalimantan Utara memiliki rasio belanja pegawai terhadap belanja daerah terkecil, yaitu sebesar 25,94%.

Grafik 3.3 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

35%

30%

25%

20%

15%

10%

5%

0%

30,08%

17,65% 8,21% Papua Barat Jawa Barat Papua Banten Kalimantan Timur Aceh Kalimantan Utara Kepulauan Riau
17,65%
8,21%
Papua Barat
Jawa Barat
Papua
Banten
Kalimantan Timur
Aceh
Kalimantan Utara
Kepulauan Riau
Sumatera Selatan
Sumatera Utara
Riau
Jawa Timur
Kalimantan Tengah
Lampung
Jawa Tengah
Sulawesi Barat
Kalimantan Selatan
Sulawesi Selatan
Bangka Belitung
DI Yogyakarta
Kalimantan Barat
Sumatera Barat
Nusa Tenggara Timur
Jambi
Bali
Sulawesi Tengah
Nusa Tenggara Barat
DKI Jakarta
Gorontalo
Sulawesi Utara
Maluku
Sulawesi Tenggara
Maluku Utara
Bengkulu

Sumber: APBD 2014 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.4 memperlihatkan rasio jumlah guru pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total PNSD-nya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio jumlah guru terhadap total PNSD kabupaten dan kota se-provinsi di atas 45%, dengan rata-rata sebesar 54,7%. Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan lebih dari setengah belanja pegawai daerahnya untuk membayar gaji guru daerah.

Kalimantan Tengah Sulawesi Tenggara Aceh Nusa Tenggara Barat Sulawesi Tengah Bali Kalimantan Selatan Bengkulu Papua Kalimantan Timur Kepulauan Riau Maluku Utara Sulawesi Selatan Nusa Tenggara Timur Sumatera Selatan Kalimantan Barat Sulawesi Utara Riau Jawa Timur Sulawesi Barat Gorontalo Jawa Barat Papua Barat Kalimantan Utara Jawa Tengah Lampung Jambi Banten Sumatera Utara Sumatera Barat Bangka Belitung DI Yogyakarta Maluku

Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat kabupaten dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 19 provinsi rasio jumlah guru terhadap total PNSD-nya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 14 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar 46,9%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Maluku yang mencapai sebesar 62,9%.

Grafik 3.4 Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

70%

60%

50%

40%

30%

20%

10%

0%

62,9%

54,7% 46,9%
54,7%
46,9%

Sumber: DJPK 2013 (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Pada tahun 2014, rasio belanja pegawai pemerintah provinsi di seluruh Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 17,65%, yang berarti lebih rendah apabila dibandingkan dengan rasionya di tahun 2013, yaitu sebesar 19,33% dan tahun 2012 yang hanya mencapai sebesar 21%. Dari jumlah

Papua Barat Jawa Barat Papua Banten Kalimantan Timur Aceh Kalimantan Utara Kepulauan Riau Sumatera Selatan Sumatera Utara Riau Jawa Timur Kalimantan Tengah Lampung Jawa Tengah Sulawesi Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Selatan Bangka Belitung DI Yogyakarta Kalimantan Barat Sumatera Barat Nusa Tenggara Timur Jambi Bali Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat DKI Jakarta Gorontalo Sulawesi Utara Maluku Sulawesi Tenggara Maluku Utara Bengkulu

tersebut, sebanyak 17 provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio tersebut, sedangkan 17 provinsi memiliki rasio di atas rata-rata. Grafik 3.5 memperlihatkan bahwa pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai terbesar adalah Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan rasio sebesar 30,08%, sedangkan pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai terkecil adalah Pemerintah Provinsi Papua Barat yaitu sebesar 8,21%. Grafik tersebut menunjukkan bahwa rasio belanja pegawai pemerintah provinsi relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi.

Grafik 3.5 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

35%

30%

25%

20%

15%

10%

5%

0%

30,08%

17,65% 8,21%
17,65%
8,21%

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

4. Per Wilayah

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.6 memperlihatkan rasio belanja pegawai per wilayah terhadap total belanja daerah. Berdasarkan grafik tersebut, dapat diketahui bahwa wilayah Sulawesi memiliki rasio belanja pegawai tertinggi, yaitu sebesar

47,52%, sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah yaitu sebesar 32,29%. Rasio belanja pegawai per wilayah terhadap total belanja daerah masih di bawah 50,0%. Dengan demikian, apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya, wilayah Sulawesi mengalokasikan hampir setengah belanja daerahnya untuk membayar belanja pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi belanja daerah yang dapat digunakan untuk mendanai program/ kegiatan non pegawai.

Grafik 3.6 Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah 50% 47,52% 41,10% 41,06% 40%
Grafik 3.6
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah
50%
47,52%
41,10%
41,06%
40%
39,54%
32,29%
35,75%
30%
20%
10%
0%
Jawa Bali
Sumatera
Sulawesi
Kalimantan
NT Maluku Papua

Sumber: APBD 2014 (Diolah)

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.7 menggambarkan rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 50,41%. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa untuk wilayah Jawa dan Bali memiliki rasio jumlah guru tertinggi, yaitu sebesar 54,19%, sedangkan untuk wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah yaitu sebesar 47,66%. Dengan demikian, wilayah Jawa dan

Bali mengalokasikan lebih dari setengah belanja pegawainya untuk membayar belanja pegawai bagi guru daerah.

Di wilayah Sulawesi terdapat fakta yang cukup menarik, di satu sisi dalam dua tahun terakhir mengalokasikan Belanja Pegawai tertinggi, namun di sisi yang lain jumlah guru di wilayah Sulawesi adalah rendah. Hal ini menunjukkan bahwa di wilayah Sulawesi alokasi belanja pegawai yang bersifat administratif jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Terhadap hal ini, terdapat pandangan bahwa alokasi belanja pegawai yang bersifat administratif inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena dinilai terlalu “gemuk” dan tidak efisien.

Grafik 3.7 Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*)

56%

54,19% 54% 51,99% 52% 50,41% 50% 50,00% 48,22% 47,66% 48% 46% 44% Jawa Bali Sumatera
54,19%
54%
51,99%
52%
50,41%
50%
50,00%
48,22%
47,66%
48%
46%
44%
Jawa Bali
Sumatera
Sulawesi
Kalimantan
NT Maluku Papua
Sumber: DJPK 2014 (Data Diolah)

B. Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Daerah

Porsi belanja modal dalam APBD merupakan komponen belanja yang sangat penting karena realisasi belanja modal akan memiliki multiplier effect

dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, semakin tinggi angka rasionya, diharapkan akan semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin berkurang pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Alokasi Belanja Modal terhadap Total Belanja Daerah mencerminkan porsi belanja daerah yang dibelanjakan untuk membiayai Belanja Modal. Belanja Modal ditambah Belanja Barang dan Jasa merupakan belanja pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah, di samping pengaruh dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 3.8 menunjukkan rasio belanja modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota. Rata-rata rasio belanja modal terhadap total belanja secara agregat provinsi, kabupaten dan kota adalah sebesar 25,86%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan rasio belanja modal pada APBD 2013 sebesar 24,81%. Sementara itu, rata-rata porsi belanja modal dalam APBD 2012 menunjukkan angka yang sedikit lebih rendah, yaitu sebesar 23,4%. Hal ini menunjukkan adanya shifting atau pergeseran dari penurunan porsi belanja pegawai kepada peningkatan belanja modal, yang berarti dapat menjadi indikasi positif terhadap perbaikan kualitas struktur belanja daerah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 18 provinsi masih memiliki rasio belanja modal di bawah rata-rata, sedangkan 16 provinsi lainnya berada di atas rata-rata.

Dari keseluruhan agregat provinsi, kabupaten, dan kota tersebut, provinsi yang memiliki rasio terendah adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu sebesar 15,30%, sedangkan Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio tertinggi, yaitu sebesar 44,75%. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi di Indonesia masih menganggarkan belanja modal dengan proporsi yang kecil, yaitu di bawah 25%.

Grafik 3.8 Rasio Belanja Modal Terhadap Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

50%

40%

30%

20%

10%

0%

44,75%

25,86% 15,30% DI Yogyakarta Jawa Tengah Bali Jawa Barat Jawa Timur Nusa Tenggara Barat Sulawesi
25,86%
15,30%
DI Yogyakarta
Jawa Tengah
Bali