Anda di halaman 1dari 19

PENGAWASAN TERHADAP PENGELOLA LABORATORIUM

dan PENGELOLAAN ALAT dan BAHAN PRAKTIKUM

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Manajemen Laboratorium
yang dibina oleh Bapak Drs. Derrmawan Afandy, M.Pd,
Ibu Prof.Dr.Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd, dan ibu Erni Yulianti, S.Pd, M.Pd

Oleh
Kelompok 2 Off A
Andina Dewi Rizkia
(130351603592)
Citra Larasati
(130311603591)
Ghufron Nurpatriya Krisna (130351603582)
Miftakhul Annisa
(130351603593)
Rifka Amilia
(130351615569)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Februari 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut, sekolah
sebagai lembaga penyelenggara pendidikan pun memiliki peranan yang sangat besar
untuk keberhasilan suatu pendidikan. Mulai dari peran guru, lingkungan belajar sampai
pada ketersediaan fasilitas belajar mengajar. Salah satu fasilitas dalam proses belajar
mengajar yang tidak boleh dikesampingkan adalah Laboratorium. Diharapkan
laboratorium yang tersedia merupakan tempat latihan yang memiliki kesamaan
operasional dan peralatan dengan yang akan digunakan didalam tempat kerjanya
kelak.Laboratorium merupakan perangkat kelengkapan akademik dalam menunjang
kegiatan proses belajar mengajar. Selain itu, laboratorium juga merupakan tempat
melakukan aktifitas praktikum untuk mengaplikasikan teori ke dalam praktek. Menurut
Konsorsium Ilmu Pendidikan, laboratorium diartikan sebagai sarana, prasarana dan
mekanisme kerja yang menunjang secara unik satu atau lebih dharma perguruan tinggi
melalui pengalaman langsung dalam membentuk ketermapilan, pemahaman, dan
wawasan dalam pendidikan dsn pengajaran serta dalam pengembangan ilmu dan
teknologi dan pengabdian pada masyarakat. Sedangkanmenurut PP No.25/1980, pasal
27, laboratorium/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu atau seni tertentu
sesuai dengan keperluan bidang studi yang bersangkutan.
Laboratorium sering diartikan sebagai suatu ruang atau tempat dilakukannya
atau penelitian. Ruang dimaksud dapat berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan

atap atau alam terbuka misalnya kebun botani. Pada pembelajaran science keberadaan
laboratorium menjadi sangat penting. Pada konteks proses belajar mengajar sains di
sekolah-sekolah seringkali istilah laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu
suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum.
Laboratorium ialah suatu tempat dimana percobaan dan penyelidikan dilakukan.
Bentuknya boleh ruang tertutup (kamar) dan boleh ruang terbuka (kebun). Ruang
penunjang kegiatan dalam melakukan pembelajaran terdiri dari : ruang persiapan, ruang
penyimpanan (gudang), ruang gelap, ruang timbang, dan kebun sekolah atau rumah
kaca.
Pengelolaan merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif
dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan
memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium berkaitan
dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan
laboratorium, spesimen biologi, bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di
laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada dasarnya pengelolaan
laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna.
Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa
terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja.
Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu
tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja
mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu
bekerja di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah:
a. Bagaimanakah pengawasan terhadap pengelolaan Laboratorium?
b. Bagaimanakah pengelolaan alat dan bahan praktikum?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui:
a. Untuk mendeskripsikan pengawasan terhadap pengelolaan laboratorium
b. Untuk mendeskripsikan pengelolaan alat dan dan bahan praktikum

BAB II
ISI
2.1 Pengawasan Terhadap Pengelolaan Laboratorium
Pengelolaan merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara
efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal
dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Organisasi secara efektif dan
efisien dengan menggunakan segala upaya dan daya yang ada. Manajemen fasilitas
laboratorium sangat penting artinya bagi sebuah organisasi pendidikan sebagai usaha
untuk mencapai tujuan.
Jadi, pengelolaan merupakan suatu proses pendaya gunaan sumber daya secara
efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal
dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Pengelolaan laboratorium
berkaitan

dengan

pengelola

dan

pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan,

peralatan laboratorium, spesimen biologi, bahan

kimia),

dan

aktivitas

yang

dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.


Dalam pengelolahan laboratorium, pengelolaannya meliputi beberapa aspek
yaitu sebagai berikut:
1. Perencanaan
Perencanaan merupakan sebuah proses pemikiran yang sistematis, analitis, logis
tentang kegiatan yang harus dilakukan, langkah-langkah, metode, SDM, tenaga dan
dana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan
efisien.
Perencanaan ini dimaksudkan untuk merencakan konsep dari suatu laboratorium
itu sendiri.Bagaimanakah bentuk laboratorum yang ideal? Berapa besarkah ukurannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak serta merta dapat kita dijawab, karena sebuah
laboratium dibangun untuk tujuan tertentu. Artinya sebelum laboratoium itu dibangun
harus tahu dulu untuk keperluan apa dan untuk dipakai siapa laboratorium tersebut.
Misalnya laboratorium yang akan digunakan untuk pembelajaran Biologi di Sekolah
Menengah tentunya akan memiliki bentuk yang berbeda dengan laboratorium untuk
penelitian. Demikian pula, laboratorium untuk penelitian atau percobaan fisiologi

tumbuhan akan berbeda dengan laboratorium untuk ekologi. Pada umumnya bentuk,
ukuran dan tata ruang suatu laboratorium didesain sedemikian rupa sehingga pemakai
laboratorium mudah melakukan aktivitasnya.
Disamping bentuk, ukuran laboratorium perlu mendapat perhatian, karena fungsi
laboratorium di sekolah-sekolah tidak hanya digunakan untuk percobaan yang bersifat
individual. Umumnya laboratorium digunakan untuk berbagai kegiatan percobaan
dalam konteks proses belajar mengajar. Jumlah siswa yang melebihi kapasiitas ruangan
laboratorium dalam satu kali percobaan akan mengganggu kenyamanan dan jalannya
percobaan atau aktivitas lainnya. Sebuah laboratorium dengan ukuran lantai seluas 100
m2 dapat digunakan oleh sekitar 40 orang siswa, dengan rasio setiap siswa
menggunakan tempat seluas 2,5 m2dari keseluruhan luas laboratorium. Laboratorium
untuk keperluan praktikum mahasiswa membutuhkan ukuran lebih luas lagi, misalnya 3
4 m2 untuk setiap mahasiswa.
2. Penataan
Tata letak peralatan adalah suatu bentuk usaha pengaturan penempatan peralatan
di laboratorium, sehingga laboratorium tersebut berwujud dan memenuhi persyaratan
untuk beroperasi. Kata pengaturan dalam kalimat di atas mengandung makna yang
sangat luas, yaitu bahwa dalam mewujudkan suatu laboratorium yang layak operasi
diperlukan penempatan perlatan yang tersusun yang rapi berdasar kepada proses dan
langkah-langkah penggunaan/aktivitas dalam laboratorium yang diharapkan, begitu pula
dengan

daerah

kerja

harus

memiliki

luas

yang

memungkinkan

pengguna/pekerja/operator dapat bergerak bebas, aman dan nyaman, di samping lalu


lintas bahan yang akan digunakan dapat sampai ke tempat kerja dengan mudah dan
lancar.
a. Tujuan Tata Letak laboratorium

Mengurangi hambatan dalam upaya melaksanakan suatu pekerjaan yang menjadi


tanggung jawabnya.

memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna/pekerja/operato.

Memaksimalkan penggunaan peralatan.

b.

Memberikan hasil yang maksimal dengan pendanaan yang minimal

Mempermudah pengawasan.

Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun tata letak peralatan dan
perabotan laboratorium adalah:

a. Mudah Dilihat
b. Mudah Dijangkau
c. Aman Untuk Alat
d. Aman Untuk Pemakai
3. Pengadministrasian
Pengadministrasian sering juga disebut sebagai kegiatan menginventaris.
Inventaris adalah sutu kegiatan dan usaha untuk mnyediakan catatan tentang keadaan
semua fasilitas, barang-barang yang dimiliki sekolah. Bagi SMA yang mempunyai
beberapa lab sangat penting untuk mendata fasilitas/menginventaris alat dan bahan lab
untuk kegiatan pembelajaran siswa. Dengan kegiatan invetarisasi yang memadai akan
dapat diperoleh pedoman untuk mempersiapan anggaran atau mempersiapkan kegiatan
pada tahun yang akan datang.
Catatan inventaris yang baik akan mempermudah pergantian tanggung jawab
dari pengelola yang satu ke yang lainnya. Inventaris juga akan mempermudah untuk
mengetahui dimana suatu peralatan akan ditempatkan. Dengan demikian akan
mempermudahkan pengontrolan, seperti terhadap kehilangan yang disebabkan oleh
kecerobohan atau kecurian.
Menurut Instruksi Mendikbud No. 4/M/1980 tentang tata pelaksanaan dan
pelaporan hasil inventarisasi barang milik/kekayaan negara di lingkungan Depdikbud,
maka ada beberapa daftar alat inventarisasi yang harus digunakan atau diisi,
diantaranya:

Buku Induk Barang Inventaris

Buku Catatan Barang Inventaris

Buku Golongan Barang Inventaris

Laporan Triwulan Mutasi barang

Daftar Isian Barang

Daftar Rekapitulasi barang Inventaris


Contoh format dokumen/alat inventaris yang telah banyak dikembangkan dan
digunakan:
Daftar Isian Barang Inventaris Yang Dipakai

No

Nama

Barang
Nama

Inventaris

Kelompok Kode Barang

Jumlah Barang

Barang
1
2

4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan


Pada

dasarnya

pengamanan, perawatan dan pengawasan

laboratorium

merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Mengatur dan
memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi
sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup
usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di
laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.
Usaha yang dilakukan dalam memelihara kelancaran penggunaan laboratorium,
antara lain:
a. Jadwal penggunaan laboratorium yang jelas
b. Tata tertib laboratorium yang dilaksanakan dengan tegas
c. Alat penanggulangan kecelakaan : pemadam kebakaran, kotak P3K, dll
Dalam keadaan baik dan dipahami Sarana pengamanan yang diperlukan dan
harus ditaati di hampir semua laboratorium antara lain:
a. Saluran air dengan kran dan shower
b. Saluran gas dengan kran sentral
c. Jaringan listrik yang dilengkapi dengan sekering atau pemutus arus
d. Kotak p3k yang berisi lengkap obat

e. Nomor telepon kantor pemadam kebakaran, rumah sakit, dan dokter


f. Alat pemadam kebakaran yang siap pakai dan mudah dijangkau
g. Aturan dan tata tertib penanggulangan kecelakaan
Dan untuk pengawasan biasanya hanya dilakukan oleh ara

pengelola

laboratorium yang memiliki pemahaman dan keterampilan kerja di laboratorium,


bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya, dan mengikuti peraturan. Pengelola
laboratorium di sekolah umumnya sebagai berikut:
a. Kepala Sekolah
b. Wakil Kepala Sekolah
c. Koordinator Laboratorium
d. Penanggung jawab Laboratorium
e. Laboran
2.2 Pengelolaan Alat dan Bahan Praktikum
Alat laboratorium science merupakan benda yang digunakan dalam kegiatan
dilaboratorium science yang dapat dipergunakan berulang-ulang. Contoh alat
laboratorium science adalah pinset, pembakar spiritus, thermometer, stopwatch, tabung
reaksi, gelas ukur jangka sorong dan mikroskop. Alat yang digunakan secara tidak
langsung di dalam praktikum merupakan alat bantu laboratorium, seperti tang, obeng,
pemadam kebakaran dan kotak Pertolongan Pertama.
Keselamatan di laboratorium akan terjamin bila penanganan bahan kimia
dilakukan dengan berpedoman pada rambu-rambu yang ada pada etiket kemasan bahan
kimia. Aktivitas di laboratorium yang menggunakan bahan-bahan kimia tentu tidak
lepas dari peralatan yang digunakan sehingga bahaya tidak hanya disebabkan oleh
penanganan bahan yang salah, namun juga dapat terjadi bahaya fisik dari peralatan yang
kita gunakan bila kita tidak berpedoman pada aturan tentang penanganan alat.
A. Macam-Macam Alat Laboratorium IPA
Macam peralatan laboratorium meliputi :
1. Alat ukur, seperti thermometer, barometer, respirometer, gelas ukur, stopwatch,
mikrometer sekrup, dsb.

Gambar 1. Berbagai alat laboratorium


yang dapat digunakan untuk mengukur
2. Alat dari gelas, seperti tabung reaksi, labu erlenmeyer, pembakar spiritus, dsb.

Gambar 2.

Berbagai
alat laboratorium yang terbuat dari gelas.

3. Model, seperti model pencernaan, model pernapasan, model kerangka, model


indera dan organ lainnya.

Gambar 3. Berbagai alat laboratorium yang merupakan


model dimana model ini biasanya digunankan pada pelajaran biologi.
4. Bagan, seperti bagan klasifikasi makhluk hidup, bagan metamorfosis pada katak,
bagan sistem pengeluaran manusia, dsb.

Gambar 4. Berbagai alat laboratorium yang merupakan bagan dimana bagan ini
biasanya digunankan pada pelajaran biologi.

5. Alat siap pakai (rakitan), seperti kit listrik, kit magnet, kit optik, dsb.

Gambar 5. Berbagai alat laboratorium yang berupa


rakitan, biasanya ini digunakan pada laboratorium
fisika atau laboratorium tekhnik.
6. Alat

bantu

proses

percobaan

seperti

pinset,

gunting

dan

pembakar

bunsen/spiritus, mortar dan pastel.

Gambar 6. Berbagai alat bantu


dalam laboratorium.

Perlengkapan pendukung (perkakas) yang diperlukan selama bekerja di


laboratorium IPA, seperti :
1. Alat pemadam kebakaran, dapat diganti dengan pasir basah dan karung goni
basah.
2. Kotak Pertolongan Pertama lengkap dengan isinya (obat, kasa, plester, obat
luka)
3. Alat kebersihan seperti sapu, pengki/serokan sampah, lap pel, sikat tabung
reaksi.

4. Alat bantu lainnya seperti obeng, palu, tang, gergaji dsb.

Gambar 7. Berbagai alat laboratorium


yang merupakan perkakas pendukung.
Alat di laboratorium IPA berdasarkan bahan pembuatnya, meliputi kelompok :
1. Alat optik (kaca), seperti tabung reaksi, labu erlenmeyer, pembakar spiritus.
2. Alat dari logam, seperti kasa asbes, peralatan bedah dsb.
3. Alat dari kayu, seperti rak tabung reaksi, penjepit tabung reaksi dsb
4. Alat dari plastik, seperti botol zat kimia dsb.
5.

Alat dari bahan lainnya seperti sikat tabung reaksi dari ijuk, sumbat gabus dan
mortar dari porselain.

Gambar 8. Berbagai alat laboratorium yang dikelompokkan berdasarkan bahan pembuatnya .

B.

Penataan alat dan bahan

Penataan (ordering) alat / bahan adalah proses pengaturan alat / bahan di laboratorium
agar tertata dengan baik. Dalam menata alat / bahan tersebut berkaitan erat dengan
keteraturan dalam penyimpanan maupun kemudahan dalam pemeliharaan
Yang harus diketahui sebelum melakukan penataan:

Mengenali alat dan fungsinya

Mengenali sifat bahan

Kualitas alat termasuk kecanggihan dan ketelitian

Keperangkatan

Nilai/harga alat

Kualitas alat tersebut dan kelangkaannya

Bahan dasar penyusun alat

Bentuk dan ukuran alat

Bobot/berat alat

C. Cara Menyimpan Alat Laboratorium IPA


Alat yang digunakan dalam kegiatan di laboratorium IPA memerlukan perlakuan
khusus sesuai sifat dan karakteristik masing-masing. Perlakuan yang salah dalam
membawa, menggunakan dan menyimpan alat di laboratorium IPA dapat menyebabkan
kerusakan alat dan bahan, terjadinya kecelakaan kerja serta dapat menimbulkan
penyakit.
Cara memperlakukan alat dan bahan di laboratorium IPA secara tepat dapat
menentukan keberhasilan dan kelancaran kegiatan. Cara menyimpan alat laboratorium
IPA dengan memperhatikan bahan pembuat alat tersebut, bobot alat, keterpakaiannya,
serta sesuai pokok bahasannya. Penyimpanan alat menurut aturan tertentu harus
disepakati antara pengelola laboratorium dan diketahui oleh pengguna/praktikan.
Untuk memudahkan dalam penyimpanan dan pengambilan kembali alat di
laboratorium, maka sebaiknya dibuatkan daftar inventaris alat yang lengkap dengan
kode dan jumlah masing-masing. Alat yang rusak atau pecah sebaiknya ditempatkan
pada tempat tersendiri, dan dituliskan dalam buku kasus dan buku inventaris
laboratorium IPA.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan alat yaitu :


1. Bahan dasar pembuatan alat
2. Bobot alat
3. Kepekaan alat terhadap lingkungan
4. Pengaruh alat yang lain
5. Kelengkapan perangkat alat dalam suatu set
Penataan dan penyimpanan alat / bahan didasarkan pada :
1. Keadaan laboratorium yang ditentukan oleh fasilitas, susunan laboratorium, dan
keadaan alat/bahan.
2. Kepentingan pemakai ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan dicapai,
keamanan dalam penyimpanan dan pengambilannya.
Dasar dari penyimpanan alat, yaitu :
1.

Jenis Alat, misalnya gelas kimia, corong, cawan petri, lumpang dan alu

2.

Jenis bahan pembuat, misalnya kaca, porselin, logam dan kayu

3.

Percobaan, misalnya laju reaksi, kesetimbangan, dll

4.

Seberapa sering alat digunakan


-

Yang sering digunakan misalnya: gelas kimia

Yang jarang digunakan misalnya: lumpang & alu

Penyimpanan alat dan bahan


1. Alat-alat yang sering digunakan, alat yang boleh diambil sendiri oleh siswa dan

alat- alat yang mahal harganya penyimpanannya dipisah.


2. Alat-alat untuk percobaan fisika biasanya dikumpulkan menurut golongan

percobaannya.
3. Alat-alat yang digunakan untuk beberapa jenis percobaan disimpan tersendiri
ditempat khusus.
4. Alat-alat untuk percobaan biologi umumnya disimpan menurut judul percobaan
atau dapat dilakukan berdasarkan atas bahan alat

Gambar 9. Salah satu cara penanganan dan


penggunaan alat laboratorium

Adapun perlakuan terhadap alat-alat di laboratorium seperti :


1. Membawa alat sesuai petunjuk penggunaan
2. Menggunakan alat sesuai petunjuk penggunaan.
3. Menjaga kebersihan alat
4. Menyimpan alat

Gambar 10. Berbagai alat laboratorium yang


disimpan pada lemari alat.

Tata letak dan pengaturan perabot laboratorium IPA


o Prinsip keamanan
Alat disimpan supaya aman dari pencuri dan kerusakan, atas dasar alat yang mudah
dibawa dan mahal harganya seperti stop watch perlu disimpan pada lemari terkunci.

Aman juga berarti tidak menimbulkan akibat rusaknya alat dan bahan sehingga
fungsinya berkurang.
o Prinsip Kemudahan
Untuk memudahkan mencari letak masing masing alat dan bahan, perlu diberi
tanda yaitu dengan menggunakan label pada setiap tempat penyimpanan alat
(lemari, rak atau laci).
o Prinsip Keleluasaan
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari,
rak dan laci yang ukurannya disesuaikan dengan luas ruangan yang tersedia.
o Prinsip Keindahan
Cara penyimpanan alat dan bahan dapat berdasarkan jenis alat, pokok bahasan,
golongan percobaan dan bahan pembuat alat :
1. Pengelompokan alat-alat fisika berdasarkan pokok bahasannya seperti : Gaya
dan Usaha (Mekanika), Panas, Bunyi, Gelombang, Optik, Magnet, Listrik, Ilmu,
dan Alat reparasi.
2. Pengelompokan alat-alat biologi menurut golongan percobaannya, seperti :
Anatomi, Fisiologi, Ekologi dan Morfologi.
3. Pengelompokan alat-alat kimia berdasarkan bahan pembuat alat tersebut seperti :
logam, kaca, porselen, plastik dan karet.
Jika alat laboratorium dibuat dari beberapa bahan, alat itu dimasukkan ke dalam
kelompok bahan yang banyak digunakan.
Penyimpanan alat diperlukan ruang penyimpanan dan perlengkapan seperti lemari,
rak dan laci . Pengelompokan alat-alat kimia berdasarkan bahan pembuat alat tersebut
seperti : logam, kaca, porselen, plastik dan karet. Penyimpanan alat dan bahan selain
berdasar hal-hal di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu :
1. Mikroskop disimpan dalam lemari terpisah dengan zat higroskopis dan dipasang
lampu yang selalu menyala untuk menjaga agar udara tetap kering dan
mencegah tumbuhnya jamur.
2. Alat berbentuk set, penyimpanannya harus dalam bentuk set yang tidak
terpasang.

3. Ada alat yang harus disimpan berdiri, misalnya higrometer, neraca lengan dan
beaker glass.
4. Alat yang memiliki bobot relatif berat, disimpan pada tempat yang tingginya
tidak melebihi tinggi bahu.
5. Penyimpanan zat kimia harus diberi label dengan jelas dan disusun menurut
abjad.
6. Zat kimia beracun harus disimpan dalam lemari terpisah dan terkunci, zat kimia
yang mudah menguap harus disimpan di ruangan terpisah dengan ventilasi yang
baik.
Penyimpanan alat perlu memperhatikan frekuensi pemakaian alat. Apabila alat
itu sering dipakai maka alat tersebut disimpan pada tempat yang mudah diambil. Alat
alat yang boleh diambil oleh siswa dengan sepengetahuan guru pembimbing, hendaknya
diletakkan pada meja demonstrasi atau di lemari di bawah meja keramik yang
menempel di dinding. Contoh alat yang dapat diletakkan di meja demonstrasi adalah :
kaki tiga, asbes dengan kasa dan tabung reaksi.
Penyimpanan dan pemeliharaan alat / bahan harus memperhitungkan sumber
kerusakan alat dan bahan. Sumber kerusakan alat dan bahan akibat lingkungan meliputi
hal hal berikut :
1. Udara
Udara mengandung oksigen dan uap air (memilki kelembaban). Kandungan ini
memungkinkan alat dari besi menjadi berkarat dan membuat kusam logam lainnya
seperti tembaga dan kuningan. Usaha untuk menghindarkan barang tersebut terkena
udara bebas seprti dengan cara mengecat, memoles, memvernis serta melapisi dengan
khrom atau nikel. Kontak dengan udara bebas dapat menyebabkan bahan kimia
bereaksi.
Akibat reaksi bahan kimia dengan udara bebas seperti timbulnya zat baru,
terjadinya endapan, gas dan panas. Dampaknya bahan kimia tersebut tidak berfungsi
lagi serta dapat menimbulkan kecelakaan dan keracunan.
2. Air dan Asam Basa
Alat laboratorium sebaiknya disimpan dalam keadaan kering dan bersih, jauh
dari air, asam dan basa. Senyawa air, asam dan basa dapat menyebabkan kerusakan alat

seperti berkarat, korosif dan berubah fungsinya. Bahan kimia yang bereaksi dengan zat
kimia lainnya menyebabkan bahan tersebut tidak berfungsi lagi dan menimbulkan zat
baru, gas, endapan, panas serta kemungkinan terjadinya ledakan.
3. Suhu
Suhu yang tinggi atau rendah dapat mengakibatkan :alat memuai atau
mengkerut, memacu terjadinya oksidasi, merusak cat serta mengganggu fungsi alat
elektronika.
4. Mekanis
Sebaiknya hindarkan alat dan bahan dari benturan, tarikan dan tekanan yang besar.
gangguan mekanis dapat menyebabkan terjadinya kerusakan alat / bahan.
5. Cahaya
Secara umum alat dan bahan kimia sebaiknya dihindarkan dari sengatan matahari
secara langsung. Penyimpanan bagi alat dan bahan yang dapat rusak jika terkena cahaya
matahari langsung, sebaiknya disimpan dalam lemari tertutup. Bahan kimianya
sebaiknya disimpan dalam botol yang berwarna gelap.
6. Api
Komponen yang menjadi penyebab kebakaran ada tiga, disebut sebagai segitiga
api. Komponen tersebut yaitu adanya bahan bakar, adanya panas yang cukup tinggi, dan
adanya oksigen. Oleh karenanya penyimpanan alat dan bahan laboratorium harus
memperhatikan komponen yang dapat menimbulkan kebakaran tersebut.
Langkah Langkah Penyimpanan
1. Bersihkan Ruang dan Penyimpanan Alat dan Bahan
2. Periksa data ulang alat dan bahan yang ada
3. Kelompokkan alat dan bahan yang ada berdasarkan pada keadaan alat dan bahan
di atas
4. Penyimpanan dan penataan alat dan bahan disesuaikan dengan fasilitas
Laboratorium, keadaan alat dan bahan diatas.

BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Untuk memberdayakan laboratorium diperlukan beberapa keterampilan. Salah
satu

keterampilan

tersebut

adalah

dapat

menata,

mengadministrasikan,

dan

menginventarisasi alat dan bahan.


Pengelolaan laboratorium kimia berkaitan dengan pengelola dan pengguna,
fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, bahan kimia), dan aktivitas
yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya.
Penataan dan penyimpanan alat didasarkan pada keadaan laboratorium yang
ditentukan oleh fasilitas, susunan laboratorium, keadaan alat, dan kepentingan pemakai
ditentukan berdasarkan kemudahan dicari dan dicapai, serta keamanan dalam
penyimpanan dan pengambilannya. Berdasarkan keadaan alat, maka alat dapat
dikelompokkan atas jenis alat, jenis bahan pembuat alat, seberapa sering alat tersebut
digunakan, atau jenis percobaan.
Alat dan bahan yang ada hendaknya diletakkan ketempat semula setelah selesai
digunakan dan dibersihkan sehingga tetap awet dan tidak mengundang terjadinya
bahaya.

DAFTAR PUSTAKA
Avidianto, D. 2010. Cara Menyimpan Alat dan Bahan Laboratorium IPA, (Online),
(http://devoav1997.webnode.com/news/cara-menyimpan-alat-dan-bahanlaboratorium-ipa-/), diakses 29 Januari 2015.

Hadi, Langgeng. 2008. Pengelolaan Lab Bagian 4 (Administrasi Fasilitas Di


Laboratorium, (Online), ( http://www.psb-psma.org/content/blog/pengelolaanlab-bagian-4-administrasi-fasilitas-di-laboratorium), diakses 29 Januari 2015.

Jevuska.

2009.
Pengelolaan
Laboratorium
Sekolah,(Online),
(http://www.jevuska.com/topic/pengelolaan+laboratorium+sekolah.html),
diakses 29 Januari 2015.

Kalijaga,

Sunan.
2010.
Laboratorium
Terpadu
UIN,
(Online).
(http://integratedlaboratory.uin-suka.ac.id/), diakses 29 Januari 2015.

Setiawan, dkk. 2008. Pengelolaan Laboratorium Biologi SMA,(Online) (http://www.finddocs.com/pengelolaan-laboratorium-biologi-sma-doc.html),


diakses 29
Januari 2015.

Sugiarto, Bowo. 2008. Optimalisasi Pengelolaan Laboratorium IPA SMP, (Online),


(http://bowobiologi.blogspot.com/2008/10/optimalisasi-pengelolaanlaboratorium.html), diakses 29 Januari 2015.

Sutopo, Eko. 2008. Bagaimana mengelola laboratorium sains di sekolah? Learning


Center Community, (Online),
(http://ekohs.wordpress.com/2008/12/04/),
diakses 29 Januari 2015.