Anda di halaman 1dari 17

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmatnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Askep ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana.
Harapan penulis semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga penulis dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah Askep ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam makalah Askep ini, untuk
itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.
Semarang, 25 Juni 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................

KATA PENGANTAR ................................................................................................

DAFTAR ISI .............................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..........................................................................................................
B. Tujuan .......................................................................................................................

3
3

BAB II PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

Pengertian ................................................................................................................. 4
Etiologi ..................................................................................................................... 4
Klasifikasi ................................................................................................................. 6
Patofisiologi .............................................................................................................. 7
Tanda dan Gejala ....................................................................................................... 7
Manifestasi Klinis ..................................................................................................... 8
Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................ 8
Penatalaksanaan ........................................................................................................ 9
Komplikasi ................................................................................................................ 10
Faktor Risiko / Predisposisi Yang (Diduga) Berhubungan Dengan Terjadinya Abortus
....................................................................................................................................11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABORTUS

A.
B.
C.
D.

Pengkajian .................................................................................................................
Diagnosa ...................................................................................................................
Intervensi ..................................................................................................................
Evaluasi .....................................................................................................................

12
15
15
20

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................................

21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................

22

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah
abortus berarti mengeluarkan hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum

janin dapat hidup diluar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin
sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh. Menurut buku ilmu kebidanan, istilah abortus
dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan (Wiknjosastro, 1991;h.302). Selain itu aborsi dapat juga didefinisikan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum fetus mencapai waktunya dan biasanya terjadi sebelum
kehamilan mencapai umur 20-24 minggu.
Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan atau tindakan untuk menetapkan,
merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien
untuk mencapai dan memelihara kesehatannya seoptimal mungkin. Tindakan keperawatan
tersebut dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis. Agar
dapat memberikan asuhan keperawatan sebaik-baiknya, perlu dilakukan penggajian dan
pemberian intervensi yang tepat. Kita juga mengetahui bahwa peran perawat yang paling
utama adalah melakukan promosi dan pencegahan terjadinya gangguan kesehatan baik l,
sehingga dalam hal ini perlu diberikan pendidikan kesehatan yang efektif guna meningkatkan
kualitas kesehatannya.
B.
1.
2.
3.

TUJUAN
Untuk mengetahui dan memahami tentang pengkajian pada klien dengan abortus
Untuk mengetahui dan memahami tentang diagnose yang muncul pada klien dengan abortus
Untuk mengetahui dan memahami intervensai dan asuhan keperawatan yang diberikan pada
klien dengan abortus
.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN

Abotus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu
hidup di luar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat badan janin kurang 500 gram.
Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi
belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Derek liewollyn&Jones,
2002).
Abor-tus adalah berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar (FK
UNPAD, Obstetri Patologi, Bandung: bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD).
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Mansjoer,Arif,dkk. 2000. Kapita
Selekta Kedokteran Edisi ketiga, jilid I, hlm: 260 FKUI Jakarta: Media Aesculapius).
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 28 minggu
atau berat janin kurang dari 1.000 gram. ( Junaidi,Purnawan 1982 Kapita Selekta Kedokteran
Edisi ketiga, jilid I, h1m:260 FKUI Jakarta: Media. Aesculapius).
B. ETIOLOGI
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu :
1. Faktor Pertumbuhan Hasil Konsepsi.
Kelainan pertumbuahan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat
bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan, gangguan pertumbuhan hasil
a.
b.
1)
2)
c.
1)
2)

kosepsi dapat terjadi karena:


Faktor kromosom.
Gangguan terjadi sejak sernula pertemuan kromosom, terinasuk kromosorn seks.
Faktor lingkungan endometritum.
Endometrium belurn siap untuk menerima implasi hasil konsepsi.
Gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendek jarak kehamilan.
Pengaruh luar
Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi.
Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi

terganggu.
2. Kelainan Pada Plasenta
a. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat berfungsi.
b. Gangguan pembuluh darah palsenta, diantaranya pada diabetes melitus.
c. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan
keguguran.
3. Penyakit Ibu
Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam
kandungan melalui plasenta:

a. Penyakit infeksi seperti pneumonia, tifus abdominalis, malaria, sifilis.


b. Anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasi retroplasenter.
c. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes
melitus.
4. Kelainan Yang Terdapat Dalam Rahim
Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan abnormal dalam
bentuk mioma uteri, uterus arkatus, uterus septus, retrofleksi uteri, serviks inkompeten, bekas
operasi pada serviks (konisasi, amputasi serviks), robekan serviks postpartum.
a.

Penyebab Dari Segi Maternal

Penyebab secara umum:


1)
a)
b)
c)
2)
a)
b)
3)
4)
a)
b)
c)
d)
e)
f)
5)
6)
b.
a.
b.
c.
5.

Infeksi Akut
virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.
Infeksibakteri, misalnya streptokokus.
Parasit, misalnya malaria.
Infeksi Kronis
Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.
Tuberkulosis paru aktif.
Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.
Penyakit kronis, misalnya :
hipertensi
nephritis
diabetes
anemia berat
penyakit jantung
toxemia gravidarum
Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.
Trauma fisik.
Penyebab Yang Bersifat Lokal:
Fibroid, inkompetensia serviks.
Radang pelvis kronis, endometrtis.
Retroversikronis.
Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan

6.
a.
b.
c.

abortus.
Penyebab Dari Segi Janin
Kematian janin akibat kelainan bawaan.
Mola hidatidosa.
Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.

C. KLASIFIKASI
1. Abortus spontanea (abortus yang berlangsung tanpa tindakan) Yaitu:
a. Abortus imminens : Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasiserviks.
b. Abortus insipiens : Peristiwa perdarahanuterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan
adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.

c.

Abortus inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20

minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.


d. Abortus kompletus : Semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)
Yaitu menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada
umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan belum
mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus
bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.

D. PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan
sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam
uterus.Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara
dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu,
penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan
banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu
daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau
benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup,
mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
E.
1.
a.
b.
c.

TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala pada abortus Imminen :
Terdapat keterlambatan datang bulan
Terdapat perdarahan, disertai sakit perut atau mules
Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan dan terjadi

kontraksi otot rahim


d. Hasil periksa dalam terdapat perdarahan dari kanalis servikalis, dan kanalis servikalis masih
e.
2.
a.
b.
c.

tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.


Hasil pemeriksaan tes kehamilan masih positif
Tanda dan gejala pada abortus Insipien :
Perdarahan lebih banyak
Perut mules atau sakit lebih hebat
Pada pemariksaan dijumpai perdarahan lebih banyak, kanalis servikalis terbuka dan jaringan

atau hasil konsepsi dapat diraba


3. Tanda dan gejala abortus Inkomplit :

a.
b.
c.
d.
4.
a.
b.
c.
5.
a.
b.

Perdarahan memanjang, sampai terjadi keadaan anemis.


Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat
Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi
Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma)
Tanda dan gejala abortus Kompletus :
Uterus telah mengecil
pendarahan sedikit
Canalis servikalis telah tertutup
Tanda dan gejala Missed Abortion :
Rahim tidak membesar, malahan mengecil karena absorbsi air ketuban dan maserasi janin
Payudara mengecil kembali

F. MANIFESTASI KLINIS
1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu.
2. Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau
meningkat
3. Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi
uterus
5. Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi Vulva : perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau
busuk dari vulva
b. Inspekulo : perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau
tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari
ostium.
c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam
cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Test HCG Urine Indikator kehamilan Positif. Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3
minggu setelah abortus
2. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. Kadar Hemoglobin Status Hemodinamika Penurunan (< 10 mg%) dan Pemeriksaan kadar
fibrinogen darah pada missed abortion.
4. Kadar Sdp Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl)
5. Kultur Kuman spesifik ditemukan kuman.
H.
1.
a.
b.

PENATALAKSANAAN
Abortus Imminen
Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan merangsang mekanik berkurang.
Tes kehamilan dapat dilakukan.

c.
d.
e.
2.
a.

Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C.


Bersihkan vulva minimalkan 2 kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi.
Berikan obat penenang biasanya fenobarbital 3 x 30 mg.
Abotus Insipien
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang disertai perdarahan dengan pengosongan uterus

memakai kuret vakUun atau cunam abortus.


b. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu berikan infuse oksitoksin 10 iu dalam dekstrose 5% 500
c.

ml dimulai 8 tetes permenit.


Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadi abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam

dengan diberikan morfin.


d. Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara
manual.
3. Abortus Inkompletus
a. Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infuse cairan NaCI fisiologi atau RL dan selekas
mungkin di tranfusi darah.
b. Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajarn lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg
c.

intramuscular.
Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara

d.
4.
a.
b.
c.
d.
5.
a.
b.
c.
d.
e.

manual.
Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
Abortus Kompletus
Bila kondisi pasien baik berikan ergonometrin 3 x 1 tablet selama 3 sampai 5 hari.
Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau tranfuse darah.
Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.
Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.
Abortus Infeksiosus Atau Septik
Abortus septik harus dirujuk ke Rumah Sakit
Penangulangan infeksi
Tingkatkan asupan cairan.
Bila perdarahan banyak maka lakukan tranfuse darah.
Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi bila terjadi

perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus.


6. Habitual Abortus
a. Penderita dianjurkan untuk banyak istirahat.
b. Makanan harus adekuat mengenai protein, hidrat arang, vitamin mineral. Pembatasan obatc.

obatan yang diketahui mempuyai pengaruh jelek kepada janin.


Memfasilitasi klien untuk dapat menciptakan kondisi emosional yang tenang, dan

menghilangkan rasa cemas.


7. Missed Abortion.
a. Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ovum lalu
dengan kuret tajam.
b. Bila kadar fibrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelum atau ketika
mengeluarkan konsepsi.

c.

Bila kehamilan kurang 12 rninggu lakukan pembukaan serviks dengan gagang laminaria

selama 12 jam lalu lakukan dilatasi serviks dengan dilatator hegar.


d. Bila kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestol 3 x 5 mg lain infuse oksitoksin
10 iu dalam dekstrose 5 % sebanvak 500 ml mulai 20 tetes per menit dan naikan dosis saznpai
ada kontraksi uterus. Bila fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi
dengan menyuntik larutan garam 20 % dalam kavum uteri melalui dinding perut
I. KOMPLIKASI
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi denga pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlInfeksiu pemberian transpusi darah, Kematian karena perdarahan dapatb terjadi apabila
pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini pendrita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi.
3. Infeksi
Keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam
peredaran darah atau peritonium.
4.

Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok Hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).

J. FAKTOR RISIKO / PREDISPOSISI YANG (DIDUGA) BERHUBUNGAN DENGAN


1.
2.
3.
4.

TERJADINYA ABORTUS.
Usia ibu yang lanjut
Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
Riwayat infertilitas
Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes, penyakitgh

5.
6.
7.
8.

Imunologi sistemik dsb).


berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)
paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb).
trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama
kelainan kromosom (trisomi / monosomi)Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom
ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABOTUS
A. PENGKAJIAN
Pengkajian

adalah

pendekatan

sistematis

untuk

mengumpulkan

data

dan

menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
1. Data subjektif
a. Biodata: mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi; nama, umur, agama, suku
bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan
alamat
b. Keluhan utama: pada pasien dengan abortus, kemungkinan pasien akan datang dengan
keluhan utama perdarahan pervagina disertai dengan keluarnya bekuan darah atau jaringan,
rasa nyeri atau kram pada perut. Pasien juga mungkin mengeluhkan terasa ada tekanan pada
punggung, mengatakan bahwa hasil test kencing positif hamil, merasa lelah dan lemas serta
mengeluh sedih karena kehilangan kehamilannya.
c. Riwayat kesehatan, yang terdiri atas:
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada
saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih
besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
d.
Riwayat pembedahan: Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis
e.

pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.


Riwayat penyakit yang pernah dialami: Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien
misalnya DM, jantung, hipertensi , masalah ginekologi/urinary, penyakit endokrin, dan

f.

penyakit-penyakit lainnya.
Riwayat kesehatan keluarga: Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram
tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat
dalam keluarga.

g.

Riwayat kesehatan reproduksi: Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya,


banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause

h.

terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.


Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari

dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.


i.
Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan
j.

serta keluahn yang menyertainya.


Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis

dan jenis obat lainnya.


k. Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan
BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
l. Data psikososia:
1) Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang
menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
2) Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
l. Data spiritual: Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan
yang biasa dilakukan.
2. Data Objektif
a. Sirkulasi: pada pasien abortus terdapat perdarahan pervaginam yang banyak sehingga dapat
menimbulkan syok, pasien tampak pucat, akral dingin, tekanan darah mungkin menurun, nadi
teraba cepat dan kecil, pasien tampak meringis atau kesakitan karena nyeri.
b. Breathing : Kaji pola nafas apakah bernafas spontan/tidak, nafas cepat/lambat. Kaji apakah
ada sesak nafas/tidak, gerakan dinding dada simetris/asimetris, pola nafas teratur/tidak,
auskultasi bunyi nafas normal/tidak, kaji frekuensi nafas serta penggunaan otot bantu
pernafasan.
c. Circulation : pada pasien abortus terdapat perdarahan pervaginam yang banyak sehingga
dapat menimbulkan syok, pasien tampak pucat, akral dingin, tekanan darah mungkin
menurun, nadi teraba cepat dan kecil, pasien tampak meringis atau kesakitan karena nyeri
d. Integritas Ego: Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan,
marah atau menarik diri klien/ pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran
dalam pengalaman kelahiran. Mungkin mengekpresikan ketidak mampuan untuk menghadapi
suasana baru. Pada pasien abortus kemungkinan terjadi kesadaran menurun, syncope, pasien
tampak lemah.
e. Eliminasi: Kateter urinarius mungkin terpasang : urin jernih pusat, bising usus tidak ada.
Makanan/ cairan: Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.
f. Neurosensorik: Kerusakan gerakan pada sensori dibawah tindak anestesi spinal epidural.
g. Nyeri/ kenyamanan: Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber: misal nyeri
penyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efek anestesi: mulut mungkin kering.

h. Keamanan: Jalur parenteral bila digunakan resiko terkena infeksi karena pemasangan infus
dan nyeri tekan.
i. SeksualitasL: Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus.
3. Pemeriksaan fisik, meliputi:
a. Inspeksi
Hal yang diinspeksi antara lain:
Mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola
pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur,
penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fisik, dan seterusnya.
b. Palpasi
1) Sentuhan: merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur
kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
2) Tekanan: menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau
mencubit kulit untuk mengamati turgor.
3) Pemeriksaan dalam: menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal.
c. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh
tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
1) Menggunakan jari: ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada
tidaknya cairan, massa atau konsolidasi.
2) Menggunakan palu perkusi: ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki
bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak.
d. Auskultasi
Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi
jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin. (Johnson & Taylor,
2005:39)
4.
a.
b.
c.
d.

Sekunder Assessment
Eksposure: pasien tampak pucat
Five intervention: Tekanan darah menurun, nadi cepat dan kecil, suhu meningkat
Give Comfort: nyeri perut yang hebat, kram atau rasa tertekan pada pelvic
Head to toe: meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan ginekologi, menanyakan riwayat
kehamilan, umur kehamilan, riwayat penggunaan kontrasepsi, riwayat pemeriksaan
kehamilan (ANC), riwayat penyakit kronis atau akut, riwayat pengobatan serta riwayat alergi.

B.
1.
2.
3.
4.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri
pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.

5.

Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan,

kondisi vulva lembab.


6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7. Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih
kehilangan kehamilannya.
C. INTERVENSI KEPERWATAN
1. Diagnosa 1 : Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan x jam tidak terjadi devisit volume cairan,
seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Kriteria hasil :
a.
b.
c.
d.

Turgor kulit elastis dan lembab


Mukosa mulut lembab
Nadi 75-80x/mnt
RR 18-20x/mnt
Intevensi :

a.
b.
c.
d.
2.

Kaji kondisi status hemodinamika


Ukur pengeluaran harian
Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Evaluasi status hemodinamika
Diagnosa 2 : Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam diharapkan syok tidak
terjadi.
Kriteria evaluasi:

a.
b.
c.
d.

Kesadaran pasien CM
Tanda vital normal
Syncope tidak terjadi
Perdarahan tidak terjadi
Intervensi :

a.
b.
c.
b.
c.
1)
2)

Observasi Keadaan Umum pasien


Observasi tanda tanda vital
Observasi kesadaran pasien
Observasi tanda-tanda perdarahan, jumlah, warna, adanya stolsel/gumpalan
Kolaborasi:
Kolaborasi dalam pemberian cairan fisiologis.
Kolaborasi dalam pemberian
Rasional :

a.

Dengan mengobservasi KU pasien dapat di ketahui apakah pasien jatuh kedalam keadaan

syok atau tidak.


b. Penurunan tekanan darah atau denyut nadi yang tidak normal mengindikasikan adanya tanda
syok.

b. Dengan mengobservasi kesadaran pasien dapat diketahui apakah pasien mengalami syncope
atau tidak.
c. Dengan mengobservasi tanda-tanda perdarahan dapat dilakukan penanganan segera apabila
perdarahan terjadi sehingga terhindar dari syok.
d. Kolaborasi:
1) cairan fisiologis berfungsi untuk resusitasi guna mencegah kehilangan cairan lebih banyak
lagi
transfuse
2) untuk mengganti kehilangan darah yang berlebihan akibat perdarahan pervaginam
3. Diagnosa 3 : Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ...x.... jam kllien dapat melakukan
aktivitas tanpa adanya komplikasi.
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.

Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas.


Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandung,
Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien.
Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas.
Rasional :

a.

Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai

b.
c.
b.
c.
4.

untuk menccegah kondisi klien lebih buruk.


Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
Mengistiratkan klilen secara optimal.
Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan.
Menilai kondisi umum klien.
Diagnosa 4 : Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien
mengeluh nyeri pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak
meringis.
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x.. jam diharapkan nyeri berkurang
atau terkontrol.
Kriteria evaluasi :

a. Pasien melaporkan nyeri berkurang.


b. Pasien tampak rileks.
c. Tanda vital normal.
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.

Kaji tingkat nyeri pasien.


Observasi tanda vital.
Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
Ajarkan metode distraksi.
Kolaborasi dalam pemberian analgetik.

Rasional :
a.
b.
c.
d.
e.
5.

Tingkat nyeri pasien dapat dikaji menggunakan skala nyeri ataupun deskripsi.
tekanan darah terutama akan meningkat bila pasien merasa nyeri.
Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri.
Menggalihkan perhatian pasien terhadap nyeri.
Analgetik mengurangi nyeri dan membantu pasien merasa rileks.
Diagnosa 5 : Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit,
perdarahan, kondisi vulva lembab.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x... jam diharapkan tidak terjadi
infeksi selama perawatan perdarahan.
Kriteria hasil:

a. Suhu 37-38 C
b. Tidak tampak tanda-tanda infeksi
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau.


Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan.
Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
Lakukan perawatan vulva.
Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi.
Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama sesama masa perdarahan.
Rasional :

a.

Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang

b.
c.
d.
e.

lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi;
Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar.
Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart.
Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan

peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi.


f. Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi
perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan
resiko infeksi pada pasangan.
6. Diagosa 6 : Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi

a.
b.
c.
d.
e.

kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat.


Intervensi :
Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.
Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.
Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.
Rasional :

a.

Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.

b.

Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang

penyakit.
c. Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin
berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d. Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e. Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan
membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
7. Diagnosa 7 : Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien
mengeluh sedih kehilangan kehamilannya.
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperawatan selama ....x...jam diharapkan tidak terjadi
kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a.
b.
c.
d.
e.

Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.


Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.
Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.
Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.
Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.
Rasional :

a. Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.


b. Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang
penyakit.
c. Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin
berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.
d. Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.
e. Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan
membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
D.
1.
2.
3.
4.
5.

EVALUASI
Perdarahan berkrang -teratasi
Tidak terjadi syok Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Nyeri berkurang/terkontrol
Tidak terjadi infeksi
Cemas klien berkurang- hilang

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Abotus adalah suatu proses berakhirnya suatu kehamilan, dimana janin belum mampu
hidup di luar rahim (belum viable), dengan kriteria usia kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat badan janin kurang 500 gram. Pengkajian meliputi status kesehatan, pemeriksaan
fisik sampai dengan pemeriksaan laboratorium. Adapun diagnosa yang muncul pada klien
dengan abortus antara lain:
1. Devisit Volume Cairan berhubungan dengan perdarahan.
2. Risiko syok hemoragik berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
3. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
4. Nyeri akut berhubungan dengan kontraksi uterus ditandai dengan pasien mengeluh nyeri
pada perut, terasa kram, terasa ada tekanan pada punggung, pasien tampak meringis.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan hemoglobin dan granulosit, perdarahan,
kondisi vulva lembab.
6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
7. Berduka berhubungan dengan kehilangan janin ditandai dengan pasien mengeluh sedih
kehilangan kehamilannya.