Anda di halaman 1dari 3

HIKAYAT HANG TUAH

Hikayat hang tuah pertama kali dikenal oleh orang Eropa melalui buku
Oud en Nieuw Oost-Indie terbit pada tahun 1726 karangan misionaris
Belanda, F. Valentijin dan alur ceria Hang Tuah terdiri lebih dari 500
halaman. Menurut pendapat B.B. Parnickel, Hikayat Hang Tuah diberi
bentuk yang terakhir di Kesultanan Johor pada masa tiga puluh tahun
kejayaan sejarahnya, yaitu pada tahun 40-70 dalam abad ke-17. Tujuan
penulisan tentang Laksamana Hang Tuah yaitu untuk memuji seorang
pembesar Johor yang paling berkuasa dan penganti laksamana-laksamana
Malaka dari zaman sebelumnya,

yaitu Laksamana Abdul Jamil. B.B.

Parnicel menunjukkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada abad ke-17 di


Johor dan tercermin di dalam hikayat ini, dan juga usaha penulis untuk
mengalihkan suasana masa sekarang ke masa lampau pada beberapa
episodenya.
Isi Hikayat Hang Tuah membangkitkan asosiasi dengan sejarah Johor
sekitar tahun 50-80 abad ke-17, pertama berkaitan dengan permusuhan
antara kesultanan-kesultanan Johor dan Jambi di Sumatra Selatan,
menurut buku Braginsky dalam melukiskan pertentangan antara Malaka
dan Majapahit, yang mengambil sebagian tempat dalam hikayat itu.
Malaka merupakan lambang untuk Johor sedangkan Majapahit lambang
untuk Jambi.
Secara Struktural Hikayat Hang Tuah adalah sebuah Alegori Sejarah, yang
serupa dengan bentuk pasemon, hikayat ini mengambarkan pertikaian
antara

kerajaan-kerajaan

Johor

dengan

Jambi

dengan

berkedok

perselisihan antara kerajaan Malaka dan Kerajaan Majapahit. Hikayat


Hang Tuah haruslah terbit tidak lebih awal dari kemenangan atas Jambi,
yaitu pada tahun 1679, dan mungkin sesudah kemenangan atas Jambi,
yaitu pada tahun 1688. Dugaan terakhir itu dibenarkan oleh kenyataan,
bahwa di sepanjang alur cerita tokoh Bendahara mendapat penghargaan
yang positif. Lepas dari sifat Hikayat Hang Tuah sebagai cerita alegoris,
pandangan penulis hikayat terhadap watak Bendahara yang demikian,
serta

tidak

ditemukannya

resensi-resensi

hikayat

ini

yang

besar

perbedaannya. Berdasarkan pernyataan itu dapat disimpulkan, Hikayat


Hang Tuah disusun sekaligus di Johor, pada masa antara tahun 1688
sampai dasawarsa pertama abad ke-18.
Hikayat Hana Tuah menduduki salah satu tempat paling atas dalam
jenjang seni kebahasaan melayu bukan karena pengarangnya berhasil
memuaskan hati pegawai tinggi dengan pasemon tentang peristiwaperistiwa aktual. Keharuman hikayat ini berdasarkan terlebih dahulu pada
keunggulannya sebagai karya sastra yang indah dan tanggapan etikanya
yang mendalam dan penuh pengetahuan tentang budi pekerti manusia.
Dalam bagian Hikayat Hang Tuah yang terlihat paling penting yaitu dari
kisah perang tanding tokoh utama melawan seseorang yang mengamuk
sampai kisah lawatan Hang Tuah ke negeri Cina. Dari segi struktural
komposisi Hikayat Hang Tuah jelas menyerupai karangan-karangan
sejarah tradisional, seerti halnya sejarah melayu.
Hikayat ini terdiri dari dua bagian, yang pertama berisi mitos tentang asal
usul keluarga raja-raja melayu, yaitu kisah pengejawantahan ke gunung
Seguntang dan bagian kedua berisi uraian tentang kejadian-kejadian
dalam sejarah (lebih tepat pseudo sejarah) Malaka, dari saat timbul
sampai jatuhnya.
Karya ini sarat dengan butir-butir yang denga tepat melukiskan kehidupan
sehari-hari yang khas

dikota

dan di istana, upacara perkawinan,

penobatan raja, perjamuan kerajaan, penyambutan duta asing, aneka


macam hiburan seperti sepak raga, sambung ayam, main catur,
kepercayaan dan takhayul di kalangan rakyat jelata dal lain-lain. Semua
itu menyebabkan pada satu pihak, Hikayat Hang Tuah menjadi lebih dekat
dengan sejarah melayu,. Tapi walaupun ada persamaan, hikayat hang
Tuah dengan Sejarah melayu perbedaannya pun terlihat jelas diataranya
yaitu unsur genealogi yang tidak terdapat di dalam Hikayat Hang Tuah.
Urutan diakronis negarawan-negarawan, yang selalu terdapat dalam
kronik-kronik melayu, secara sadar diganti di dalam Hikayat Hang Tuah
dengan semacam golongan tokoh-tokoh pseudo sejarah yang singkronis

dan memiliki arti sebagai pelambang-pelambang. Dari segi makna luar


pelambang itu dimaksud untuk menyusun pasemon sedangkan segi
makna dalamnya kompresi sejarah yaitu proyeksi masa lampau Malaka
yang jauh atas masa lampau Johor yang lebih dekat, pelambangpelambang itu dimaksud untuk menyingkap arti tersirat kedua-dua masa
lampau yang utuh, serta menonjolkan pengajaran dan pengalaman. Jadi
sekali lagi menemui konsep hubungn Raja dengan hambanya yang setia,
menurut konsep tersebut seorang raja adalah lambang tenaga kekuasaan
yang sakti dan daulat.
Konsep tersebut merupakan ide pokok hikayat dan menggerakkan hampir
setiap depisode-episodenya sedangkan inti struktur komposisi karya ini
ialah riwayat hidup Sultan dan Hang Tuah, yang dikisahkan secara sejajar.
Saling menyatakan dengan seutuhnya konsep tersebut, riwayat hidup
kedua tokoh yang meleambangkan turun naiknya nasib malaka ini
dituturkan menurut cara yang sangat sesuai dengan gaya cerita hikayat,
yang memadu antara realisme intuitif dengan unsur-unsur simbolik.
Episode yang saling menyusul bagaikan satu kaleidoskop namun berasas
sebuah konsep tunggal. Sehingga menjadi hampir mirip dengan ceritacerita dalam karangan genre cermin didaktis yang bermaksud mengurai
pertmbangan-pertimbangan tertentu. Dalam pengambaran raja malaka
itu tidak terdapat ciri-ciri khas raja lalim yang bertindak sewenanangwenang yang tipikal bagi sastra melayu Tradisional.
Dengan demikian Hikayat Hang Tuah merupakan sebuah contoh karya
epos, yang memadu ciri-ciri epos kepahlawanan dengan epos sejarah,
benar-benar bersemangat kebangsaan. Epos ini menceritakan sejarah,
sesuai dengan pengertian tradisi melayu, sebagai riwayat hidup tokoh
utama dan dengan jalan demikian mengurai isinya yang didaktis.