Anda di halaman 1dari 22

BAB I

KAJIAN TEORI
PEMERIKSAAN
MOTORIK Anatomi
Sistem motorik adalah sistem yang bertanggung jawab terhadap kerja kelompokkelompok otot, yaitu inisisasi gerakan volunter dan terampil. Serabut serabut motorik
bersama sama input yang berasal dari sistem-sistem yang terlibat dalam kontrol gerakan
yang meliputi sistem ekstrapiramidal, vestibular, serebellar dan propioceptive afferent
semuanya bergabung didalam badan-badan sel neuron pada cornu anterior medulla
spinalis. Dari sel cornu anterior impuls dibawa ke otot (Gambar

Gambar 1. The Motor Pathway

Prinsip-prinsip Pemeriksaan Fungsi Motorik


Sistem motorik diperiksa dalam hal :

Bentuk/ massa otot

Tonus otot

Kekuatan otot

Selain ketiga poin tersebut kita juga perlu menilai


1. Grakan volunteer
2. Gerakan involunter
3. Gerakan Koordinasi
Jenis-jenis Pemeriksaan
Pada tiap bagian badan yang dapat bergerak harus dilakukan :
1. Inspeksi
Pada inspeksi diperhatikan sikap, bentuk, ukuran, dan adanya gerak abnormal yang
tidak dapat dikendalikan.
a. Sikap
Perhatikan sikap secara keseluruhan dan sikap tiap bagian tubuh. Bagaimana sikap
pasien waktu berdiri, duduk, berbaring, bergerak, dan berjalan. Jika pasien berdiri,
perhatikan sikap dan posisi badannya, baik secara keseluruhan maupun sebagian. Pasien
dengan gangguan serebelum berdiri dengan muka membelok ke arah kontralateral
terhadap lesi, bahunya pada sisi lesi agak lebih rendah, dan badannya miring ke sisi lesi.
Penderita penyakit Parkinson berdiri dengan kepala dan leher dibungkukkan ke depan,
lengan dan tungkai berada dalam fleksi. Bila ia jalan, tampaknya seolah-olah hendak
jatuh ke depan; gerakan asosiatifnya terganggu, lengan kurang dilenggangkan, dan
terlihat tremor kasar, terutama di tangan.
Pada anak dengan distrofia muskulorum progresiva terlihat lordosis yang jelas; bila ia
berjalan, panggul seolah-olah berputar dengan maksud agar berat badan berpindah ke
tungkai yang sedang bertumpuh.
Pada penderita hemiparese oleh gangguan sistem piramidal, lengan berada dalam sikap
fleksi, sedangkan tungkai dalam ekstensi. Bila ia berjalan, tungkai membuat gerak
sirkumdiksi.
Pada pasien dengan paraparese jenis sentral, cara berjalannya seperti gunting, yaitu
tungkai seolah-olah menyilang. Penderita dengan gangguan di serebelumberjalan
dengan kaki mengangkang, demikian juga penderita tabes dorsalis.
Selain itu, penderita tabes dorsalis selalu melihat ke bawah memperhatikan kaki dan
jalannya, sebab kalau tidak, ia akan jatuh.
Pasien polineuritis berjalan seperti ayam, yaitu tungkai difleksikan tinggi-tinggi pada
persendian lutut, supaya dapat mengangkat kakinya yang kurang mampu melakukan
dorsofleksi.
b. Bentuk :
Perhatikan adanya deformitas.

c. Ukuran
Perhatikan apakah panjang badan tubuh sebelah kiri sama dengan yang kanan. Orang
dewasa yang mengalami lumpuh sejak masa kanak-kanak, ukuran ekstremitas yang
lumpuh lebih pendek daripada yang sehat.
Kemudian perhatikan besar (isi) kontur (bentuk) otot. Adakah atrofi atau hipertrofi.
Perhatikan kontur (bentuk) otot. Pada atrofi besar otot berkurang dan bentuknya
berubah. Kelumpuhan jenis perifer disertai oleh hipotrofi atau atrofi.
Perhatikan besarnya otot, bandingkan dengan otot sisi lainnya. Bila dicurigai adanya
atrofi, ukurlah kelilingnya. Pengukuran dilakukan dengan menyebutkan tempat di mana
dilakukan pengukuran. Biasanya digunakan tonjolan tulang sebagai patokan. Misalnya 3
cm di atas olekranon, atau patella atau tonjolan lainnya. Setelah itu perhatikan pula
bentuk otot. Hal ini dilakukan dalam keadaan otot beristirahat dan sewaktu
berkontraksi. Bila didapatkan atrofi, kontur biasanya berubah atau berkurang.
Pada keadaan pseudo-hipertrofi, ukuran otot tampak lebih besar, namun tenaganya
kurang. Hal ini disebabkan karena jaringan otot diganti oleh jaringan lemak atau
jaringan ikat. Hal ini didapatkan pada distrofia muskulorum progresiva, dan terjadi di
otot betis dan gluteus.
Gerakan abnormal dapat terjadi dalam berbagai bentuk dan keadaan. Gerakan abnormal
merupakan kontraksi otot-otot volunteer yang tidak terkendali. Nilainya secara klinis
dalam menentukan diagnosis dan lokalisasi penyakit saraf dapat sangat besar, oleh
karenanya harus diamati dengan baik. Gerakan abnormal ini dapat mengenai tiap bagian
tubuh. Ia timbul karena terlibatnya berbagai bagian sistem motorik, misalnya : korteks,
serabut yang turun dari korteks, ganglia basal, batang otak dan pusat-pusatnya,
serebelum dan hubungan-hubungannya, medulla spinalis, serabut saraf perifer, atau
ototnya sendiri. Sifat gerakan dipengaruhi oleh letak lesi dan kelainan patologiknya.
Lesi pada tempat yang berlainan kadang dapat menyebabkan gerakan yang identik, dan
proses patologis yang berlainan pada tempat yang sama kadang dapat mengakibatkan
bermacam bentuk gerakan abnormal.
Pada pemeriksaan gerakan abnormal kita harus mengobservasi penampilan klinisnya
dan manifestasi visualnya, menganalisis pola gerakan dan melukiskan komponenkomponennya.
Bila gerakan sesuai dengan gambaran klinik tertentu yang telah mempunyai nama, nama
ini digunakan untuk gerakan tersebut, tetapi sebaiknya ditambah dengan melukiskan
gerakan tersebut, daripada hanya memberi suatu nama saja. Kadang-kadang untuk
mengetahui gerakan abnormal ini dibutuhkan palpasi, terlebih bila gerakannya sangat
lemah dan terbatas pada sebagian dari kelompok otot.
Bentuk/ Massa Otot

Pemeriksaan motorik dimulai dengan inspeksi tiap daerah yang diperiksa. Setelah pasien
berbaring, seluruh otot pasien perlu diamati, termasuk kelompok otot yang tidak tampak
saat pasien berbaring datar. Bandingkan kesimetrisan kontur massa otot, inspeksi baik
proksimal dan distal. Amati apakah ada kelemahan otot/ atropi, hipertropi, hipotropi.
Otot yang mengecil tampak dari berkurangnya massa dan penampakan yang kendur.
Cari juga ada tidaknya fasikulasi dan gerakan involunter (spontan) pada anggota gerak
atau tremor pada jari tangan. Gerakan involunter tersebut dapat diperkuat dengan menjentik
otot dengan lembut.
Atropi otot merupakan lanjutan dari pengurangan massa otot. Hal ini dapat
diakibatkan dari penyakit-penyakit pada system saraf perifer; misalnya pada neuropathi
DM. Penyebab lain dari atropi ini adalah kelainan-kelainan pada motor neuron, disuse
otot, remathoid arthritis dan malnutrisi kalori protein. Atropi otot tangan terjadi normal
pada proses penuaan (Gambar 2B)

A.

B.

Gambar 2. Tangan Wanita Umur 40-an (A) dan Umur


80-an (B)
Hipertropi otot adalah peningkatan massa otot disertai dengan kekuatan yang proporsional.
Peningkatan massa otot dengan kekuatan yang menurun disebut pseudohipertropi.
Fasikulasi terlihat seperti desiran atau kedutan tidak teratur di bawah kulit pada
saat otot istirahat. Fasikulasi dapat terjadi pada kelainan lower motor neuron, biasanya
pada otot-otot yang mengecil. Fasikulasi non patologi kadang terjadi setelah olahraga berat
pada orang sehat.

2. Pergerakan Volunter
Yang diperiksa adalah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa, misalnya:
a. Mengangkat kedua tangan pada sendi bahu.
b. Fleksi dan ekstensi artikulus kubiti.
c. Mengepal dan membuka jari-jari tangan.
d. Mengangkat kedua tungkai pada sendi panggul.
e. Fleksi dan ekstensi artikulus genu.
f. Plantar fleksi dan dorso fleksi kaki.
g. Gerakan jari- jari kaki.
3. Kekuatan Otot
Pemeriksaan ini menilai kekuatan otot, untuk memeriksa kekuatan otot ada dua
cara:
Cara menilai kekuatan otot
0
1

: Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot, lumpuh total


: Terdapat sedikit kontraksi otot, namun tidak didapatkan
gerakan pada persendiaan yang harus digerakkan oleh otot
tersebut.

: Didapatkan gerakan,tetapi gerakan ini tidak mampu


melawan gaya berat ( gravitasi ).

: Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat.

: Disamping dapat melawan gaya berat ia dapat pula

mengatasi sedikit tahanan yang diberikan.


5 :Tidak ada kelumpuhan ( normal ).
Cara menilai kekuatan otot ada dua cara.
Dengan menggunakan angka dari 0 minus 4
Nilai 0 -1 -2 -3 -4
a. Gerakan bebas + + + + b. Melawan gravitasi + + + - c. Melawan pemeriksa + + - - Nilai O berarti normal, -1 = parese ringan, -2 = parese moderat, -3= parese hebat, -4
paralisis.
Anggota gerak atas.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pemeriksaan otot oponens digiti kuinti ( C7,C8,T1,saraf ulnaris)


Pemeriksaan otot aduktor policis ( C8,T1 , saraf ulnaris ).
Pemeriksaan otot interosei palmaris ( C8,T1,saraf ulnaris ).
Pemeriksaan otot interosei dorsalis ( C8,T1, saraf ulnaris ).
Pemeriksaan abduksi ibu jari.
Pemeriksaan otot ekstensor digitorum (C7,8,saraf radialis ).
Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian atas ( C5-C8).

h.
i.
j.
k.
l.
m.

Pemeriksaan otot pektoralis mayor bagian bawah ( C5-C8).


Pemeriksaan otot latisimus dorsi ( C5-C8, saraf subskapularis).
Pemeriksaan otot seratus aterior ( C5-C7,saraf torakalis ).
Pemeriksaan otot deltoid ( C5,C5, saraf aksilaris ).
Pemeriksaan otot biseps ( C5,C6, saraf muskulokutaneus ).
Pemeriksaan otot triseps ( C6-C8, saraf radialis ).

Anggota gerak bawah.


a.
b.
c.
d.
e.

Pemeriksaan otot kuadriseps femoris ( L2-L4,saraf femoralis ).


Pemeriksaan otot aduktor ( L2-L4, saraf obturatorius).
Pemeriksaan otot kelompok hamstring (L4,L5,S1,S2,saraf siatika ).
Pemeriksaan otot gastroknemius ( L5,S1, S2,saraf tibialis ).
Pemeriksaan otot fleksor digitorum longus ( S1, S2, saraf tibialis
4. Pemeriksaan Tonus
Pasien diminta melemaskan ekstremitas yang hendak diperiksa kemudian
ekstremitas tersebut kita gerak-gerakkan fleksi dan ekstensi pada sendi siku
dan lutut . Pada orang normal terdapat tahanan yang wajar.
a. Flaccid : tidak ada tahanan sama sekali ( dijumpai pada kelumpuhan
LMN).
b. Hipotoni : tahanan berkurang.
c. Spastik : tahanan meningkat dan terdapat pada awal gerakan , ini
dijumpai pada kelumpuhan UMN.
d. Rigid : tahanan kuat terus menerus selama gerakan misalnya pada
Parkinson.
5. Pemeriksaan Gerak Involunter (abnormal yang tidak terkendali)
Gerakan involunter ditimbulkan oleh gejala pelepasan yang bersifat
positif, yaitu dikeluarkan aktivitas oleh suatu nukleus tertentu dalam susunan
ekstrapiramidalis yang kehilangan kontrol akibat lesi pada nukleus
pengontrolnya.

Susunan

ekstrapiramidal

ini

mencakup

kortex

ekstrapiramidalis, nuklues kaudatus, globus pallidus, putamen, corpus luysi,


substansia nigra, nukleus ruber, nukleus ventrolateralis thalami substansia
retikularis dan serebelum.
a. Tremor fisiologis didapatkan bila anggota gerak ditempatkan pada
posisi yang sulit, atau bila kita melakukan gerakan volunteer dengan
sangat lambat. Tremor yang terlihat pada orang normal yang sedang
marah atau ketakutan merupakan aksentuasi dari tremor fisiologis
ini.
b. Tremor saat istirahat : disebut juga tremol striatal, disebabkan lesi
pada corpus striatum ( nukleus kaudatus, putamen, globus pallidus
dan lintasan lintasan penghubungnya ) misalnya kerusakan
substansia nigra pada sindroma Parkinson.

c. Tremor saat bergerak ( intensional ) : disebut juga tremor serebellar,


disebabkan gangguan mekanisme feedback oleh serebellum
terhadap aktivitas kortes piramidalis dan ekstrapiramidal hingga
timbul kekacauan gerakan volunter.
d. Khorea : gerakan involunter pada ekstremitas, biasanya lengan atau
tangan, eksplosif, cepat berganti sifat dan arah gerakan secara tidak
teratur, yang hanya terhenti pada waktu tidur. Khorea disebabkan
oleh lesi di corpus striataum, substansia nigra dan corpus
subthalamicus.
e. Athetose : gerakan involenter pada ektremitas, terutama lengan atau
tangan atau tangan yang agak lambat dan menunjukkan pada gerakan
melilit lilit , torsi ekstensi atau torsi fleksi pada sendi bahu, siku dan
pergelangan tangan. Gerakan ini dianggap sebagai manifestasi lesi di
nukleus kaudatus.
f. Ballismus: gerakan involunter otot proksimal ekstremitas dan
paravertebra,

hingga

menyerupai

gerakan

seorang

yang

melemparkan cakram. Gerkaan ini dihubungkan dengan lesi di


corpus subthalamicus, corpus luysi, area prerubral dan berkas porel.
g. Fasikulasi: kontrasi abnormal yang halus dan spontan pada sisa
serabut otot yang masih sehat pada otot yang mengalami kerusakan
motor neuron. Kontraksi nampak sebagai keduten keduten dibawah
kulit.
h. Myokimia: fasikulasi benigna. Frekwensi keduten tidak secepat
fasikulasi dan berlangsung lebih lama dari fasikulasi. Myokloni :
gerakan involunter yang bangkit tiba tiba cepat, berlangsung sejenak,
aritmik, dapat timbul sekali saja atau berkali kali ditiap bagian otot
skelet dan pada setiap waktu, waktu bergerak maupun waktu
istirahat.
6. Gerak Koordinasi
Koordinasi gerakan
Koordinasi gerak terutama diatur oleh serebelum. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa gangguan utama dari lesi di serebelum ialah adanya dissinergia,
yaitu kurangnya koordinasi. Artinya bila dilakukan gerakan yang membutuhkan
kerjasama antar otot, maka otot-otot ini tidak bekerja sama secara baik, walaupun
tidak didapatkan kelumpuhan. Hal ini terlihat jika pasien berdiri, jalan,
membungkuk, atau menggerakkan anggota badan.
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada dissinergia ini, yaitu :
1. gangguan gerakan
2. dismetria.

Selain itu, serebelum ikut berpartisipasi dalam mengatur sikap, tonus,


mengintegrasi, dan mengkoordinasi gerakan somatik. Lesi pada serebelum
dapat menyebabkan gangguan sikap dan tonus, dissinergia atau gangguan
koordinasi gerakan (ataksia). Gerakan menjadi terpecah-pecah, dengan lain
perkataan : kombinasi gerakan yang seharusnya dilakukan secara simultan
(sinkron) dan harmonis, menjadi terpecah-pecah dan dilakukan satu per
satu serta kadang simpang siur. Dissinergia ialah kehilangan kemampuan
untuk melakukan gerakan majemuk dengan tangkas, harmonis, dan lancar.
Gejala klinis yang kita dapatkan pada gangguan serebelar ialah adanya:
gangguan koordinasi gerakan (ataksia), disdiadokhokinesia, dismetria, tremor
intensi, disgrafia (makrografia), gangguan sikap, nistagmus, fenomena rebound,
astenia, atonia, dan disartria.
Tonus Otot
Tonus dapat didefinisikan sebagai sedikit ketegangan residual pada otot yang rileks secara
volunter. Peningkatan tonus disebut hipertonia, sedangkan penurunan tonus disebut
hipotonia. Tonus dinilai dengan resistensi terhadap gerak pasif; dengan cara menggerakkan
sendi-sendi utama lengan dan tungkai (siku, paha, dan lutut) secara pasif untuk menentukan
jumlah resistensi terhadap gerakan pemeriksa. Mintalah pasien untuk relaks kemudian
lakukan gerak pasif pada otot itu. Siku diekstensikan kemudian difleksikan. Lengan
dipronasikan kemudian disupinasikan. Paha dan lutut difleksikan kemudian diekstensikan.
Bandingkan satu sisi dengan sisi yang lainnya. Hipotonia mudah dikenali dengan tanda
ekstremitas terasa terkulai dan biasanya disertai dengan kelemahan otot yang mencolok;
sedangkan hipertonia dapat luput dari deteksi.
Meningkatnya

resistensi,

seperti

pada

rigiditas

atau

spastisitas

otot,

berarti

meningkatnya tonus otot. Penurunan resistensi seperti pada pincang atau spasiditas berarti
penurunan tonus. Spastisitas adalah resistensi awal terhadap upaya peregangan otot dan
resistensi tersebut tersebut meningkat sesuai dengan gaya yang diberikan sampai akhirnya
hilang mendadak pada tegangan tertentu (efek pisau lipat). Spastisitas disebabkan oleh lesi
di pyramid atau upper motor neuron; misalnya stroke di kapsula interna dan lesi medulla
spinalis leher. Rigiditas adalah resistensi terhadap gerakan pasif dan resistensi tersebut
tidak berubah selama pergerakan (pipa besi). Rigiditas biasanya dijumpai pada lesi
ekstrapiramidal dan terutama pada penyakit Parkinson. Clonus adalah kontraksi secara
ritmik yang diakibatkan peregangan otot. Hal ini dapat terjadi pada individu yang normal

ketika kelelahan atau gelisah. Jika clonus terjadi secara terus menerus ini menunjukkan
adanya kerusakan upper motor neuron. Dan hal ini disertai dengan spastisitas.

BAB II
PROSEDUR PENILAIAN
Pemeriksaan fungsi motorik, meliputi : Observasi, Penilaian terhadap ketangkasan gerakan
volunteer, Penilaian tonus otot, Pemeriksaan trofi otot, Pemeriksaan kekuatan ekstremitas
OBSERVASI
Fisioterapis melakukan observasi terhadap pasien dengan gangguan motorik pada
waktu ia masuk ke kamar periksa. Apakah ia berjalan sendiri ? Apakah ia dipapah ?
Bagaimana gaya berjalannya ? Setiap gangguan somatomotorik yang ringan dapat
diketahui

dari observasi terhadap gerakan menutup/ membuka kancing baju,

menggantungkan pakaian, melepaskan sandal, menaiki tempat periksa, merebahkan


diri dan sebagainya. Bilamana pasien sudah berbaring di atas tempat periksa, simetri
tubuh pasien harus diperhatikan.
PENILAIAN TERHADAP KETANGKASAN GERAKAN VOLUNTER
Gerakan volunter yang dimaksud ialah gerakan pasien atas permintaan pemeriksa.
Penilaian

ini bersifat

dapat menekukkan

umum,

yaitu untuk mengetahui

apakah pasien masih

lengannya di sendi siku, mengangkat lengan di sendi bahu,

mengepal dan meluruskan jari-jari tangan, menekukkan di sendi lutut dan panggul
serta menggerakkan jari-jari kakinya.
Lankah-langkah pemeriksaan:

Posisikan pasien dalam keadaan yang nyaman dan rileks


Minta pasien melakukan gerakan disetiap regio mulai dari fleksi, ektensi,

endorotasi, eksorotasi, pronasi, dan supinasi.


Perhatikan pasien saat melakukan gerakan apakah mengalami kesulitan atau
tidak selain itu perhatikan pula ROM dari setiap pergerakan

PENILAIAN TONUS OTOT


Langkah-Langkah Pemeriksaan

Ruang pemeriksaan sebaiknya dalam kondisi hangat

Mintalah pasien untuk berbaring telentang pada ranjang pemeriksaan

Mintalah pasien untuk rileks (perhatian dialihkan dengan mengajak berbicara

Pada pemeriksaan anggota gerak atas :


Tangan pemeriksa memegang siku pasien untuk menyangga

Dengan tangan yang lain rotasikan lengan pasien

Fleksi dan ekstensi pada pergelangan tangan, siku dan pergelangan lengan

Pada pemeriksaan anggota gerak bawah (Gambar 3) :


Rotasikan betis pasien
Angkat dengan cepat lutut pasien sehingga ke posisi fleksi (Gambar 3A & B)
Pemeriksaan klonus lutut: dengan kondisi pasien relaks dan lutut ekstensi; tekan
dengan keras dengan ibu jari dan jari telunjuk disuperior lutut dan dorong kearah
lutut selama beberapa detik

Pemeriksaan clonus pergelangan kaki : tahan betis pasien dan fleksikan 900

pada lutut dan pergelangan kaki. Secara cepat dorsifleksikan (Gambar 3C)

Gambar 3. Pemeriksaan Tonus Anggota Gerak Bawah

Penilaian Kekuatan Otot

Pemeriksaan kekuatan otot dengan menyuruh pasien bergerak secara aktif melawan tahanan
anda. Kekuatan tiap-tiap kelompok otot di lengan dan di tungkai harus selalu dinilai. Setiap
gerakan pasien harus dibandingkan dengan kekuatan pemeriksa sendiri atau dengan
yang dianggap kekuatan normal pasien. Bandingkan satu sisi dengan sisi lainnya. Jika otot
terlalu lemah dalam melawan tahanan, periksa kekuatan dengan melawan gravitasinya
sendiri; contohnya : pada saat lengan bawah dalam posisi istirahat dan supinasi,
dorsofleksikan pergelangan tangan. Jika pasien tidak mampu menggerakkan anggota
tubuhnya, amati kontraksi ototnya.
Berikut ini adalah skala ar bitrer yang lazim dipakai untuk menunjukkan kekuatan otot :
0: Tidak Ada

Tidak ada kontraksi otot

1: Sangat Lemah

Hanya ada sedikit kontraksi

2: Lemah

Gerakan yang dibatasi oleh gravitasi

3: Cukup Kuat

Gerakan melawan gravitasi

4: Baik

Gerakan melawan gravitasi dengan sedikit tahanan

5: Normal

Gerakan melawan gravitasi dengan tahanan penuh

Jika menemukan kelemahan otot, perbandingan kekuatan proksimal dan distal penting.
Pada umumnya kelemahan proksimal berkaitan dengan penyakit otot; kelemahan distal
berkaitan dengan penyakit neurologik.
Pemeriksaan Fleksi Lengan Bawah
Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 4)

Pasien diminta untuk mengepalkan tinju dan memfleksikan lengan bawahnya

Pemeriksa harus memegang tinju atau pergelangan pasien

Mintalah pasien untuk menarik lengannya kearah dirinya sendiri dengan melawan
tahanan anda, dengan demikian dapat dinilai kekuatan otot bisep

Gambar 4. Pemeriksaan Fleksi Lengan Bawah

Pemeriksaan Ekstensi Lengan


Bawah
Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 5)
Mintalah

pasien

mempertahankannya

untuk

mengabduksikan

lengannya

di pertengahan di antara fleksi dan ekstensi

Sokonglah lengan pasien dengan memegang pergelangan tangannya

Pasien diminta untuk mengekstensikan lengannya melawan tahanan anda

Lakukan pada lengan kanan dan kiri

Gambar 5. Pemeriksaan Ekstensi Lengan


Bawah
Pemeriksaan Ekstensi Pergelangan Tangan
Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 6)

Mintalah pasien untuk mengepalkan tangannya

Mintalah pasien untuk menahan dorongan pemeriksa

Lakukan pada tangan kanan dan kiri

Gambar 6. Pemeriksaan Ekstensi Pergelangan Tangan

dan

Pemeriksaan Kekuatan Genggaman Tangan


Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 7)

Lengan pasien dalam posisi ekstensi

Mintalah pasien untuk menggengam 2 jari pemeriksa (jari telunjuk dan


tengah) sekuat mungkin

Pemeriksa menarik jarinya dari genggaman pasien

Pemeriksaan genggaman dilakukan simultan pada tangan kanan dan kiri

Gambar 7. Pemeriksaan Kekuatan Genggaman Tangan


Pemeriksaan Abduksi Jari Tangan
Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 8)

Posisikan tangan pasien dengan permukaan palmar dibawah dan jari-jari melebar

Mintalah pasien untuk mempertahankan jari-jarinya ketika pemeriksa mengerakkan

Lakukan pada tangan kanan dan kiri

Gambar 8. Pemeriksaan Abduksi Jari Tangan

Pemeriksaan Fleksi Paha


Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 9)

Pemeriksa meletakan tangannya diatas paha pasien

Pasien diminta untuk mengangkat tungkai bawah melawan tahanan pemeriksa

Lakukan pada paha kanan dan kiri

Gambar 9. Pemeriksaan Fleksi Paha

Pemeriksaan Ekstensi Paha


Langkah-Langkah Pemeriksaan

Pemeriksa meletakan tangannya dibawah paha pasien

Pasien diminta untuk mendorong paha ke bawah melawan tahanan pemeriksa

Lakukan pada paha kanan dan kiri

Pemeriksaan Fleksi Sendi Lutut


Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 10)

Kaki pasien dalam kondisi rileks di atas tempat tidur

Posisikan tungkai bawah paha pasien sehingga lutut dalam keadaan fleksi

Pasien diminta untuk menarik tungkai bawah ke bawah melawan tarikan ke atas

pemeriksa

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri

Gambar 10. Pemeriksaan Fleksi Sendi


Lutut

Pemeriksaan Ekstensi Sendi Lutut


Langkah-Langkah Pemeriksaan (Gambar 11)

Kaki pasien dalam kondisi rileks di atas tempat tidur

Posisikan tungkai bawah paha pasien sehingga lutut dalam keadaan fleksi

Pasien diminta untuk meluruskan tungkai bawah melawan dorongan tangan

pemeriksa

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri

Gambar 11. Pemeriksaan Ekstensi Sendi Lutut


Pemeriksaan Dorsifleksi dan Plantarfleksi
Langkah-Langkah Pemeriksaan

Pemeriksa meletakkan tangannya di permukaan dosum pedis pasien

Mintalah pasien untuk menahan tarikan tangan pemeriksa (Gambar 12)

Pemeriksa meletakkan tangannya di permukaan plantar pedis pasien

Mintalah pasien untuk mendorong tangan pemeriksa (Gambar 13)

Lakukan pada tungkai kanan dan kiri

Gambar 12. Pemeriksaan Dorsofleksi

Gambar 13. Pemeriksaan Plantarfleks


Pemeriksaan Gerakan Involunter
Pemeriksaan dengan melihat/tergantung kepada penyebab yang dicurigai
Contoh :
a. Tremor
1) Tremor fisiologis didapatkan bila anggota gerak ditempatkan pada posisi yang
sulit, atau bila pasien melakukan gerakan volunteer dengan sangat lambat. Tremor
yang terlihat pada orang normal yang sedang marah atau ketakutan merupakan
aksentuasi dari tremor fisiologis ini
2) Tremor istirahat (halus)
Pemeriksa menempatkan kertas di atas jari-jari pasien dan tampaklah kertas
tersebut bergetar walaupun tremor belum jelas terlihat
3) Intention Tremor (Kasar)
Tremor yang didapatkan pada penyakit Parkinson. Ini merupakan tremor yang
lambat, kasar, dan majemuk.
Pemeriksaan Gerak Koordinasi
Statis
a. Finger to finger test
Pasien diminta merentangkan kedua tangan sambil menutup mata lalu diminta
mempertemukan kedua jari telunjuk di tengah depan jika pasien dapat melakukan
tes telunjuk-telunjuk secara cepat dan tepat maka dinyatakan normal. Tapi, jika
lengan di sisi lesi akan ketinggalan sehingga jari sisi yang sehat melampaui garis
tengah, (Lesi cerebelar)
b. Finger to nose
Minta pasien menutup mata dan meluruskan lengan ke samping lalu minta pasien
menyentuhkan hidungnya
Gangguan pada serebelum atau saraf saraf propioseptif dapat juga menyebabkan
ataxia tipe dismetria. Dismetria berarti hilangnya kemampuan untuk memulai atau
menghentikan suatu gerak motorik halus. jika pasien dapat melakukan tes jari

hidung secara cepat dan tepat maka dinyatakan normal. Tapi jika melakukannya
dengan telunjuk tidak sampai di hidung tapi melewati atau sampai di pipi
dinamakan Dismetria
c. Diadokinesia
1) pasien dalam keadaan duduk/berdiri
2) melakukan gerakan pronasi dan supinasi secara bergantian. \
ika pasien dapat melakukan Tes pronasi-supinasi secara bergantian maka
dinyatakan normal. Tapi pada saat pasien melakukan pronasi dan supinasi, saat
tangan sebelah pasien pronasi tapi sebelahnya keadaan supinasi maka dinyatakan
abnormal.
Gangguan : disdiadokinesia = gangguan gerakan bergantian secara cepat akibat
kerusakan kordinasi ketepatan waktu beberapa kelompok otot antagonistik
d. Heel to toe
1) Pasien dalam keadaan duduk/baring
2) Menyentuhkan kaki yang satu dengan kaki satunya dengan menyentuhkan
calcaneus dengan jari-jari kaki yang satunya sampai dengan patela.
jika pasien dapat melakukan tes heel to toe tepat dengan calcaneus kaki yang satu
bertemu dengan jari-jari kaki yang satunya sampai dengan patela maka dinyatakan
normal. Tapi, jika calcaneus tidak bisa bersentuhan dengan jari-jari kaki, maka
dinyatakan abnormal
e. Romberg
Minta pasien berdiri tegak dengan posisi tumit yang bertemu, kemudian
perintahkan

untuk

menutup

mata.

Jika

pasien

dapat

mempertahankan

keseimbangan tubuh artinya pasien dinyatakan normal. Sebaliknya, jika pasien


kehilangan keseimbangan saatmelakukan tes ini maka pasien dinyatakan
mengalami ke abnormalan.
Dinamis
Tendon Gait
1) Minta pasien berjalan dalam sebuah garis lurus dengan tumit saling menyentuh
jari kaki lain.
jika pasien dapat melakukan Tes heel to-toe secara dengan berjalan di satu garis
lurus dengan tepat maka dinyatakan normal. Tapi pada saat pasien berjalan dalam
keadaan belok-belok atau tidak lurus, maka dinyatakan abnormal.

BAB III
HASIL PEMERIKSAAN
No

Nama Pasien

Usia
(th)

Jenis
Kelamin

1.

Nahlah Amalia

18

2.

Anita Rahayu

19

3.

Poppy Medya
Maharani

18

4.

Dian
Ambarwaty P

18

5..

Amatullah
Afifah Khalik

18

6.

Masda Hartono

19

Jenis
Pemeriksaan

Rincian
Pemeriksaan
Pasien dapat
dengan mudah
Inspeksi
melakukan
Gerakan
gerakan volunteer
Volunter
di setiap regio
tubuh
Pasien dapat
melakukan
Penilaian
gerakan meawan
Kekuatan Otot gravitasi dengan
adanya tahanan
penuh (5)
Saat melakukan
Penilaian
gerkan pasif
Tonus Otot
memiliki tahanan
yang normal
Kertas bergetar
saatpemeriksaan
Inspeksi
tremor istirahat
Tangan tidak
Gerakan
mengenai wajah
Involunter
saat melakukan
tes khorea
Finger To Nose:
Dapat melakukan
Tes Koordinasi
gerakan jari ke
hidung dengan
cepat dan tepat
Finger To Finger:
Dapat melakukan
gerakan dari
jarinya sendiri ke
jari pemeriksa
dengan cepat dan
tepat
Hell To Top:
Dapat
menggerakkan
tumit dari lutut
hingga ibu jari
kaki dengan

Interpretaasi

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

7.

Nihlah
Ramadhani

18

8.

Dwinda Aprilia

18

normal
Fan den Gait:
Dapat berjalan
pada garis lurus
dengan posisi
berjalan dimana
tumit danibu jari
kaki bersentuhan
Dindockinesif:
Kedua lengan
dengan irama dan
ketepatan yang
sama dapat
melakukan
pronasi supinasi
elbow
Romberg:
Dapat menjaga
keseimbangan
saat posisi berdiri
dengan kedua
tumit dirapatkan
dan mata dalam
kondisi tertutup

Normal

Normal

Normal

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada pemeriksaan fungsi motoric ini pasien telah menjalankan beberapa tes fisik untuk
menilai fungsi motoriknya.
Pasien pertama melakukan pemeriksaan gerakan volunteer. Pasien dinyatakan normal
karena dapat melakukan semua gerakan yang di perintahkan tanpa mengalami kesulitan dalam
pelaksanaannya.
Pasien ke 2 melakukan pemeriksaan untuk menilai kekuatan otot dan tonus ototnya.
Saat melakukan gerakan aktif pasien dapat melakukan gerakan dengan mudah walaupun
gerakan tersebut diberikan tahanan penuh. Berasarkan parameter yang digunakan pasien
memilikinilai kekuatan otot sebesar 5 yang menanakan pasien normal. Saat melakukan gerak
pasif tahanan yang diberikan pasienadalah jenis tahanan yang normal sehingga pasien
dikategorikan memiliki tonus otot yang normal.
Pasien ke 3 melakukan pemeriksaangerakan involunter dimana pasien menjalani 2 jenis
pemerisaan yakni pemeriksaan tremor istirahat dimana pasien dinyatakan normal karena
kertas yang di letakkan di atas tangan pasien pada posisi lurus kedepan bergetar, dan
pemeriksaan khorea dimana pasienjuga dinyatakan normal karena tangan pasientidak
mengenai wajahnya saat pemeriksa melepaskan tahanan yang diberikan pada gerakanfleksi
elbow.
Pasien ke 5,6,7,dan 8 tes koordinasi tetapi masing-masing manjalani jenis pemeriksaan
yang berbeda. Pasien ke 5 menjalani tes finger to nose dengan hasil normal, pasien 6
menjalani tes hell to top dan fan den gait dengan hasi normal, pasien 7 menjalani tes
dindockinesif dengan hasil normal, serta pasien 8 yang menjalani ter Romberg juga dengan
interpretasi normal.