Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL

KULIAH KERJA LAPANGAN

OPTIMALISASI PELAYANAN PARIWISATA OLEH PEMERINTAH


KOTA BATU PADA KAWASAN AGROWISATA
(Studi kasus di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu)

Oleh :
LINDA VIDYA MEIRINA
NIM. 115010101111053

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERISTAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
2014

LEMBAR PERSETUJUAN
KULIAH KERJA LAPANGAN

Disetujui pada tanggal


Oleh :
LINDA VIDYA MEIRINA
NIM. 115010101111053

A. JUDUL
OPTIMALISASI PELAYANAN PARIWISATA OLEH PEMERINTAH
KOTA BATU PADA KAWASAN AGROWISATA
(Studi kasus di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu)
B. LATAR BELAKANG
Pariwisata merupakan salah satu sektor yang diandalkan pemerintah
untuk memperoleh penghasilan non migas. Hal ini didukung dengan adanya
potensi keindahan alam dan keanekaragaman budaya Indonesia yang khas.
Sektor

pariwisata

keberadaannya

saat

ini

sangat

potensial

untuk

dikembangkan. Hal itu didukung dengan adanya potensi keindahan alam dan
keanekaragaman budaya yang khas. Selain itu sektor pariwisata merupakan
potensi yang dapat diperbaharui serta merupakan suatu kesatuan berbagai
kegiatan perekonomian yang meliputi perhubungan, perindustrian, pertanian,
seni dan budaya. Disamping itu keberadaan sektor pariwisata diharapkan
dapat menciptakan lapangan kerja baru sehingga diharapkan selain terjadi
peningkatan pendapatan daerah juga dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.
Pengembangan potensi sektor pariwisata saat ini seringkali dikaitkan
dengan peranannya sebagai salah satu kekuatan sumber kontribusi pemasukan
pendapatan daerah, terutama dengan adanya otonomi daerah, dimana masingmasing daerah berlomba-lomba untuk menggali potensi-potensi yang dimiliki
dan mengembangkan potensi-potensi yang diharapkan dapat memberikan
nilai tambah bagi penerimaan daerah atau biasanya sektor pariwisata
pengembangannya lebih pada usaha peningkatan kontribusinya terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD). Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia
diawali sejak pemerintah mengeluarkan keputusan mengenai Perkembangan
Kepariwisataan Nasional pada tahun 1969 (Pelita I). Hingga saat ini, sektor
pariwisata berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional,
disamping dari perolehan devisa, juga dapat mendorong peningkatan dan
pertumbuhan di sektor lainnya.
Dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah, seiring dengan
diberlakukannya UU No. 32 tahun 2004, Otonomi Daerah adalah hak,
wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai

dengan peraturan perundang-undangan.1 Disini tiap daerah memiliki


kewenangan, bukan saja dalam perencanaan pengembangan pariwisata, tetapi
juga dalam pengoptimalisasian pelayanan pariwisata oleh pemerintah daerah
Kota Batu lebih khususnya.
Sebagaimana tersirat pada ketentuan umum pasal 1 angka 6 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan
dalam bahwa Daerah Otonom selanjutnya disebut daerah, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2 Kemudian
sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tersebut
ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah Kota Batu Nomor 1 Tahun 2013
tentang Penyelenggaraan Kepariwisataan menjadikan kewenangan di bidang
Kepariwisataan menjadi semakin luas, baik yang terkait dengan pembinaan,
pengembangan

pembangunan,

perijinan

maupun

pengawasan

dan

pengendaliannya.
Implikasi pelaksanaan Otonomi Daerah di Kota Batu membawa
dampak positif terhadap struktur kelembagaan pemerintah di Kota Batu.
Mengingat sektor pariwisata merupakan sektor andalan perekonomian daerah,
maka dengan dikembangkannya sektor pariwisata, dari penggalian potensipotensi yang ada diharapkan sektor pariwisata dapat berperan sebagai Agent
of Development untuk menunjang pembangunan sektor-sektor lainnya dan
sebagai katalisator dalam pembangunan bekelanjutan.
Pengembangan sektor pariwisata di Kota Batu tidak lepas dari potensi
pariwisata yang dimiliki. Dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah di
Kota Batu, diperlukan berbagai usaha baik melalui penerimaan pajak/retribusi
maupun pendapatan lainnya yang dimungkinkan dapat menambah keuangan
daerah. Dengan semakin pesatnya pembangunan pada dewasa ini yang mana
tentunya sangat membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit maka faktor
1 UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

pemasukan dari pajak maupun retribusi masih merupakan andalan pendapatan


daerah disamping dana perimbangan dari pemerintah pusat (DAU) yang
masing-masing daerah berbeda.
Wilayah Kota Batu terletak pada koordinat 7 44' 55,11" sampai
dengan 8 26' 35,45" Lintang Selatan dan 122 17' 10,90" sampai dengan
122 57' 00,00" Bujur Timur.3 Batas-batas wilayah/daerah Kota Batu :
- Sebelah Utara: Kabupaten Mojokerto dan Kecamatan Prigen
- Sebelah Selatan
: Kecamatan Dau dan Kecamatan Wagir
- Sebelah Barat
: Kecamatan Pujon
- Sebelah Timur
: Kecamatan Karang ploso dan Kecamatan Dau4
Kota Batu mempunyai luas wilayah 202,30 km. Secara administrasi
terdiri dari 3 kecamatan yang dibagi lagi menjadi 19 desa dan 5 kelurahan.
Kecamatan di Kota Batu adalah Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
Meskipun hanya dari luas wilayah sebanyak 202,30 km tersebut Kota
Batu kaya akan obyek wisata yang berpotensi dan banyak tersebar di
kecamatan-kecamatan baik yang sudah dikelola maupun yang belum dikelola.
Obyek-obyek wisata yang berpeluang untuk dijadikan daerah tujuan
wisata yaitu :
Wisata gua
Wisata gua terdapat di Cangar dan Tlekung
Air terjun
Coban Rais
Coban Talun
Coban Rondo
Pemandian
Songgoriti (pemandian air dingin dan panas)
Selecta (pemandian air dingin)
Cangar (pemandian air panas mengandung belerang)
Agrowisata
Kusuma Agrowisata (perkebunan apel, stroberi, jambu, dan jeruk, serta

tempat outbound
Perkemahan (hiking)
Taman Hutan Rakyat R. Soerjo (Cangar)
Gunung Panderman
Coban Rondo
Wisata Lainnya

3 http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batu, diakses tanggal 28 April 2014.


4 http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/35/name/jawatimur/detail/3579/kota-batu, diakses tanggal 28 April 2014.

Batu Secret Zoo (Jatim Park 2)


Jatim Park 1
Batu Night Spectacular
Batu Wonderland
Eco Green Park
Museum Angkut
Paralayang5
Namun dari beberapa obyek wisata tersebut di atas kunjungan
wisatawan masih didominasi oleh wisatawan Nusantara sedangkan wisatawan
Manca Negara masih belum berarti sama sekali.
Upaya-upaya untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pembangunan
sektor Pariwisata pada tahun 2013 khususnya mengupayakan adanya
peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan lama tinggal di Kota Batu,
maka diperlukan suatu sistem penyebarluasan informasi Kepariwisataan yang
strategis, terencana, terarah dan efektif.
Mengingat pentingnya peran

kepariwisataan

sebagai

pilar

perekonomian Kota Batu maka upaya pengembangannya haruslah terarah,


terkoordinasi,

komprehensif

dan

berkesinambungan.

Dalam

perkembangannya, beberapa sektor pariwisata mengalami kendala dalam


pelayanan pariwisatanya.
Istilah pelayanan dalam bahasa Inggris adalah service A.S. Moenir
mendefinisikan pelayanan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
atau

sekelompok

orang

dengan

landasan

tertentu

dimana

tingkat

pemuasannya hanya dapat dirasakan oleh orang yang melayani atau dilayani,
tergantung kepada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan
pengguna.6
Menurut Kotler pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan
yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.7

5 Ibid.
6 A.S. Moenir, Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia, Bumi Aksara, Jakarta
2002.hal. 26-27.
7 Fajar, Laksana, Manajemen Pemasaran, Graha Ilmu, Yogyakarta 2008.hal.85.

Menurut Richard Sihite pariwisata adalah suatu perjalanan yang


dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu
tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu
perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah
di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan
pertamsyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka
ragam.8
Berdasarkan uraian diatas, pada dasarnya pelayanan pariwisata adalah
kegiatan atau tindakan yang dilakukan suatu Organisasi Pariwisata Nasional
(OPN) atau Organisasi Pariwisata Daerah (OPD) untuk memuaskan
wisatawan dengan memenuhi harapan pengguna jasa wisata, agar lebih lama
tinggal dan lebih banyak membelanjakan dolar atau rupiahnya pada Daerah
Tujuan Wisata (DTW) yang dikunjungi.
Mengingat pentingnya peran

kepariwisataan

sebagai

pilar

perekonomian Kota Batu maka upaya pelayanan pariwisatanya haruslah


terarah, terkoordinasi, komprehensif dan berkesinambungan. Prospek
pengembangan dan pembangunan pariwisata Kota Batu jika ditinjau dari
Jawa Timur, memiliki posisi yang strategis, hal ini didasarkan pada kondisi
alam dan letak geografis yang sangat mendukung. Atraksi wisata di Kota
Batu dibuat berbeda antara satu dengan lainya sehingga tidak terjadi
persaingan yang cukup berarti. Sumber daya wisata yang dimiliki oleh Kota
Batu cukup beragam dan dapat dengan mudah ditemui karena lokasinya yang
relatif berdekatan. Salah satu tempat yang menarik untuk dijadikan Daerah
Tujuan Wisata di Kota Batu adalah Kusuma Agrowisata. Kusuma Agrowisata
Batu Malang terletak di Jalan Abdul Gani Atas, Kota Batu,Malang, Jawa
Timur Kota Batu terletak 19 km dari kota Malang dan berada pada ketinggian
antara 680 1.700 m dpl. Kota Batu sudah terkenal sejak dahulu sebagai
daerah tujuan wisata. PT. Kusuma Satria Dinasasri Wisatajaya (Kusuma
Agrowisata Batu Malang) didirikan oleh Ir. Edy Antoro pada lahan seluas 4
ha pada tahun 1989. Tahun 1992 mulai membangun cottage sebanyak 16
kamar kemudian pada tahun berikutnya (1993) menambah kamar menjadi 66
8 Marpaung, Happy dan Herman Bahar,Pengantar Pariwisata, Penerbit Alfabeta,
Bandung 2008.hal.46-47.

buah dan fasilitas yang lain diantaranya kolam renang, restoran,dan ruang
pertemuan. Tahun 1995 dibangun hotel tiga lantai sehingga total kamarnya
menjadi 152 kamar. Tahun 1996 dibangun rumah kaca (green house) untuk
tanaman hias dan menanam jenis kopi Arabika kerdil varietas Kartika 1 seluas
9 ha dan berikutnya pada tahun 1997 membuka usaha estate dan travel. Tahun
1998 hingga 2000 menambah jenis tanaman untuk wisata agro yaitu stroberi
dan membangun green house lagi untuk sayur dan tanaman jenis hidroponik
lainnya. Tahun itu pula dibangun home industry dengan bahan utama buah
apel.
Oleh sebab itu pengoptimalisasian pelayanan yang terpadu oleh
pemerintah Kota Batu khususnya di kawasan Kusuma Agrowisata, diperlukan
untuk mengatasi masalah penurunan daya tarik, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan jumlah kunjungannya serta meningkatkan kontribusinya
terhadap PAD. Peningkatan jumlah pengunjung yang ada nantinya diharapkan
lebih berorientasi pada pengunjung luar daerah bahkan luar negeri dan bukan
hanya pengunjung lokal, serta diharapkan juga optimalisasi pelayanan yang
prima itu nantinya dapat mendorong pertumbuhan obyek-obyek wisata lain
ataupun sektor-sektor lainnya di Kota Batu itu sendiri. Dalam hal ini penulis
kemudian mengambil judul Optimalisasi Pelayanan Pariwisata Oleh
Pemerintah Kota Batu Pada Kawasan Agrowisata.
C. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Bertolak dari kerangka dasar berfikir sebagaimana diuraikan pada
bagian latar belakang tersebut, maka ruang lingkup kegiatan Kuliah Kerja
Lapangan yang dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
Batu ini adalah mengidentifikasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan :
A. Nama kantor lembaga KKL;
B. Fungsi dan tugas lembaga KKL;
C. Bekerjanya lembaga tempat KKL;
D. Kendala pelayanan yang dihadapi dalam bekerjanya lembaga tempat
KKL;
E. Upaya yang sudah dilaksanakan oleh lembaga tempat KKL;
F. Analisis dan rekomendasi tentang optimalsasi pelayanan paeriwisata
yang diberikan mahasiswa peserta KKL untuk perbaikan terhadap
bekerjanya lembaga tempat KKL.

D. TUJUAN KEGIATAN
Adapun tujuan yang hendak dicapai dari pelaksanaan Kuliah Kerja
Lapangan yang dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
Batu ini adalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Mengetahui dan mendeskripsikan tentang fungsi dan tugas Kantor
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota batu;
2. Memahami dan mendeskripsikan bagaimana peranan Pemerintah
Kota Batu khususnya di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kota Batu dalam rangka mendukung optimalisasi pelayanan di
Kusuma Agrowisata;
3. Mengetahui dan memahami kendala maupun permasalahan apa
saja yang dihadapi oleh Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Kota Batu dalam rangka mendukung optimalisasi pelayanan di
Kusuma Agrowisata;
4. Untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan oleh
Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu untuk
menyelesaikan kendala maupun permasalahan yang ada tersebut
terkait dengan optimalisasi pelayanan pariwisata.
E. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat dari pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan di Kantor Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu ini memiliki manfaat praktis dan
teoritis sebagaimana yang diuraikan sebagai berikut :
1. Manfaat Praktis
a. Manfaat Bagi Pemerintah
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan
kepada Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kota Batu, untuk mengoptimalkan pelayanan wisata dan
untuk meningkatkan potensi obyek wisata.
b. Manfaat Bagi Masyarakat
1. Bagi masyarakat terutama dalam kaitannya dengan optimalisasi
pelayanan pariwisata, disini akan ikut terlibat sehingga hasil yang
didapatkan sesuai dengan aspirasi masyarakat.
2. Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai kendala atau
permasalahan tentang obyek wisata, terutama dalam hal pelayanan
dan masyarakat bisa memberikan masukan-masukan bagi penulis
maupun Pemerintah Daerah alternatif pemecahan masalah.

c. Manfaat Bagi Mahasiswa


1. Pelaksanaan kegiatan

Kuliah

Kerja

Lapangan

ini

dapat

mendekatkan diri mahasiswa dengan dunia kerja;


2. Pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini dapat menambah
wawasan berpikir, keterampilan dan pengalaman kerja;
3. Pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini dapat melatih
ketajaman

berfikir

mahasiswa

dalam

menganalisis

dan

memberikan rekomendasi secara tepat terhadap permasalahan


yang dihadapi lembaga tempat diselenggarakannya kegiatan
Kuliah Kerja Lapangan tersebut;
4. Hasil pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan ini digunakan
dalam rangka memenuhi salah satu tugas dalam menyelesaikan
Program Sarjana di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya
Malang.
2. Manfaat Teoritis
a. Menerapkan pengetahuan

teoritis

yang

diperoleh

perkuliahan dengan kehidupan nyata di tempat kerja;


b. Meningkatkan
relevansi
antara
kondisi
di

dalam
tempat

diselenggarakannya kegiatan Kuliah Kerja Lapangan dengan


berbagai program pendidikan di fakultas hukum;
c. Sebagai suatu bahan wacana bagi masyarakat umum tentang
realitas kinerja dan peranan tempat diselenggarakannya kegiatan
Kuliah Kerja Lapangan terhadap kelancaran pembangunan;
d. Sebagai studi pendahuluan dalam rangka menganalisis peranan
Pemerintah Kota Batu dalam rangka mendukung optimalisasi
pelayanan pariwisata pada kawasan Kusuma Agrowisata, hasil
kegiatan kuliah kerja lapangan ini dapat dimanfaatkan oleh Kantor
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu untuk memberikan
suatu pengayaan wacana agar lebih memahami tentang pelayanan
pariwisata daerah, khususnya di Kantor Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kota Batu dalam menjalankan perannya.
e. Sebagai suatu bahan wacana bagi aparatur negara yang berada di
daerah lain tentang pentingnya peran Pengembangan Pariwisata
Daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
F. METODE KEGIATAN

Metode-metode yang digunakan dalam mengumpulkan berbagai data


informasi tentang optimalisasi pelayanan dalam rangka mendukung
kelancaran kegiatan pariwisata pada pelaksanaan kegiatan kuliah kerja
lapangan yang dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
Batu ini antara lain adalah sebagai berikut :
1. Metode Partisipatif
Dalam metode ini, mahasiswa peserta program kegiatan Kuliah Kerja
Lapangan terlibat secara langsung dalam proses kegiatan yang dilakukan oleh
Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu. Partisipasi mahasiswa
di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu dalam jangka waktu 1
bulan penuh.
2. Metode Wawancara
Dalam jangka waktu 1 bulan penuh tersebut, mahasiswa peserta program
Kuliah Kerja Lapangan juga melakukan kegiatan wawancara guna
mengumpulkan data informasi yang terkait dengan peranan pemerintah Kota
Batu dalam rangka mendukung pengoptimalisasian pelayanan pariwisata.
Kegiatan wawancara tersebut dilakukan terhadap beberapa informan kunci di
Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu, antara lain :
a. Kepala Sub Dinas Pengembangan Produk Pariwisata dari Dinas
Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu
b. Kepala Sub Dinas Pengembangan Sumber Daya Manusia Pariwisata
dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu
Kegiatan wawancara tersebut dilaksanakan dengan menggunakan
teknik interview guide (wawancara terarah) dan bersifat perorangan. Untuk
memandu wawancara tersebut, bagi setiap informan kunci dalam kegiatan ini
disediakan daftar pertanyaan yang disusun secara terstruktur dan terbuka. Hal
ini dilakukan dengan asumsi akan dapat dijaring informasi yang lebih akurat,
sehingga hasil kegiatan kuliah kerja lapangan ini mendekati validitas yang
memadai.
3. Metode Studi Dokumentasi
Melalui metode ini, mahasiswa peserta kuliah kerja lapangan menelusuri
kepustakaan dari buku-buku textbook dan peraturan perundang-undangan
yang memiliki hubungan dengan obyek permasalahan yang diuraikan, serta
arsip-arsip dokumen yang terdapat di Kantor Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Kota Batu.

G. TAHAPAN KEGIATAN
Tahapan prosedur pelaksanaan kegiatan kuliah kerja lapangan yang
dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu ini meliputi
kegiatan persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan kuliah kerja lapangan :
1. Kegiatan Persiapan
Penyelenggaraan kegiatan persiapan kuliah kerja lapangan tersebut
meliputi perumusan mengenai tujuan dari pelaksanaan kegiatan kuliah kerja
lapangan, yaitu : latar belakang, ruang lingkup, tujuan kegiatan, manfaat
kegiatan, dan metode kegiatan dalam kegiatan yang akan dilakukan yang
akan terangkum dalam proposal yang akan diajukan dan disetujui untuk
selanjutnya dilakukan tahapan pemenuhan terhadap kelengkapan administrasi
berupa pembayaran pendaftaran program kuliah kerja lapangan dan
pemenuhan syarat-syarat administrasi lainnya yang telah ditetapkan oleh
fakultas, serta pengurusan Surat Pengantar Dekan di bagian Akademik yang
ditujukan kepada Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu.
2. Kegiatan Pelaksanaan
Dalam kegiatan pelaksanaan, mahasiswa peserta kuliah kerja lapangan
mengajukan Surat Pengantar Dekan dan proposal KKL yang telah disetujui
oleh Dosen Pembimbing ke Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota
Batu. Kegiatan pelaksanaan dilakukan sebagai perwujudan dari kegiatan KKL
yang ditempuh, dimana peserta program Kuliah Kerja Lapangan (Kantor
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu) dengan tujuan unuk
mengetahui bagaimana upaya Dinas Pariwisata Kota Batu tersebut,
menerapkan teori atau ilmu yang didapat dalam bangku perkuliahan ke dalam
realita di lapangan, serta sebagai sarana pengumpulan data yang dilakukan
dalam rangka penulisan Laporan Kuliah Kerja Lapangan tersebut.
3. Kegiatan Evaluasi
Kegiatan evaluasi merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan setelah
kegiatan Kuliah Kerja Lapangan telah selesai dilakukan sebagai kegiatan
untuk penulisan laporan kuliah kerja lapangan yang dikonsultasikan kepada
Dosen Pembimbing sesuai dengan prosedur dan metode yang terdapat dalam
Panduan

Penulisan

Laporan

Kuliah

Kerja

Lapangan,

dipertanggung-jawabkan mengenai isi dari tulisan tersebut.

serta

dapat

Adapun jadwal Pelaksanaan Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang


dilakukan di Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu adalah
sebagai berikut :
a. Kegiatan Persiapan KKL:
b. Kegiatan Pelaksanaan KKL :
c. Kegiatan Evaluasi KKL
:

DAFTAR PUSTAKA
Buku Literatur
A.S. Moenir. 2002.Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Bumi Aksara:
Jakarta
Fajar, Laksana. 2008. Manajemen Pemasaran. Graha Ilmu: Yogyakarta
Karyono.1997. Kepariwisataan,.PT. Grasindo: Jakarta
Marpaung, Happy dan Herman Bahar.2008.Pengantar Pariwisata.Alfabeta:
Bandung
Prof. Drs. C.S.T. Kansil S.H & Christine S.T Kansil, S.H., M.H., 2005. Modul
Hukum Administrasi Indonesia, PT. Pradnya Paramita: Jakarta
Purbopranoto, Koentjoro.1978.Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan
Peradilan Administrasi Negara. Alumni: Bandung
Poerwadarminta, W.J.S.2003.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka:
Jakarta
SF Marbun,S.H & Moh. Mahfud, S.H., 2000.Pokok-Pokok Hukum Administrasi
Negara,Liberty: Yogyakarta
Smith, Valene.1989. The Anthropology of Tourism.University of Pensylvania Press
Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Peraturan Walikota Batu Nomor 45 Tahun 2013 tentang Penjabaran Tugas dan
Fungsi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu.

Internet
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Batu, diakses tanggal 28 April 2014.
http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/35/name/jawatimur/detail/3579/kota-batu, diakses tanggal 28 April 2014.