Anda di halaman 1dari 2

Eko Supriyanto dan Solo Dance Studio; “Awake-ning & eL”

GK. Dewi Asri, STSI Bandung


07 November 2008
Catatan dari hasil pantauan untuk KELOLA

Dialog yang Berjarak Antara Koreografi Dengan Penonton

Malam itu, 7 November 2008, saya bergegas menuju STSI untuk menyaksikan pertunjukkan tari
karya Eko Supriyanto dan Solo Dance Studio. Lewat telpon seluler saya berkenalan dengan Eko dan
bersepakat untuk bertemu sekadar berbincang kecil sebelum pertunjukkannya dimulai. Tepat pukul 7
malam, saya tiba di gedung Dewi Asri yang tampak lengang.

Lobi masih sepi, hanya terlihat beberapa orang yang bertugas menjaga meja tamu dan pintu masuk.
Saya langsung menuju lantai dua, melalui tangga yang gelap, hanya tersinari bias lampu dari gedung
olahraga yang berada tepat di seberang gedung pertunjukkan. Tangga menuju lantai dua semakin
mengecil dan sempit, mungkin ini dimaksudkan agar penonton membiasakan ‘budaya’ antri untuk
bisa masuk ke dalam gedung.

Pintu terbuka, lengang. Saya tidak mendapati satupun properti atau set panggung terpasang di sana.
Eko nampak santai duduk di tangga, di sebelahnya nampak beberapa orang penari yang sedang
beristirahat sambil menunggu waktu pertunjukkan. Ini kali pertama saya berkenalan dan bertemu
langsung dengan koreografer muda asal Solo, Eko Supriyanto yang pernah menjadi salah satu penari
latar Madonna dan merupakan dosen jurusan tari di ISI Surakarta. Kami bersalaman, lantas
berbincang selintas seputar karya-karyanya yang akan ditampilkan. Tidak lebih dari 20 menit kami
berbincang, kemudian Eko pamit untuk bersiap-siap, diikuti oleh penari lainnya.

Eko mengungkapkan, bahwa karyanya merupakan karya yang sangat kontemporer, di mana dia
mengkolaborasikan masa kini dengan simbolik ritual tradisi dalam salah satu nomor karyanya.
Sayang, sebelum sempat menikmati karyanya, terlebih dahulu penonton dihadapkan pada sebuah
tradisi bernama "jam karet". Jam karet, tradisi yang tak pernah mati yang selalu menjadi kekinian (di
Bandung) layaknya kontemporer itu sendiri yang memiliki karakter "pop", juga menjadi kekinian
yang ahistoris dan diskontinu.

Pertunjukan yang sekiranya dijadwalkan pukul 19.30 WIB, baru dimulai pukul 20.10 WIB setelah
beberapa pejabat STSI berbasabasi memberi sambutan dan ritual pemberian cenderamata. Meskipun
pertunjukkan terlambat, gedung yang berkapasitas 300 orang ini hanya diisi seperempatnya saja yang
mayoritas adalah mahasiswa jurusan tari STSI Bandung sendiri. Bukan sebuah kegagalan pun bukan
tolak keberhasilan jika kursi terisi penuh, namun menjadi catatan sejauh mana praktek promosi,
komunikasi dan sosialisasi sebuah kegiatan diterapkan oleh para pelaku seni untuk menjaring
penonton dalam upaya menularkan seni sebagai sebuah media komunikasi dan bukan hanya sebuah
aktivitas yang eksklusif.

Menikmati Seorang Eko (Awake-ning & eL)

Pertunjukkan tari yang memakai kurang lebih 30 buah lampu ini, dibagi menjadi dua babak; 40 menit
babak pertama Eko menampilkan dua judul ; yaitu "TUTU Dance" yang berdurasi 10 menit dan
"Awake-Ning" yang berdurasi 30 menit. Sementara 40 menit babak kedua, diisi dengan "Wiri-wiri",
"eL" atau "Silent Dance", "Tonggo", "Here" dan "Talent".

Setiap tontonan mengandung dua aspek; entertaiment yang memberikan kenikmatan ragawi yang
menghibur dan efficacy atau santapan rohani yang memperkaya pengalaman batin.¹ Dikaitkan dengan
dua aspek di atas, pertunjukkan karya Eko setidaknya telah menjadi sebuah hiburan meski belum
memberi efek santapan rohani secara signifikan. Ini dapat dilihat dari "Awake-ning", nomor pertama
yang disajikan dengan mengambil idiom-idiom tradisi gerak ritual dan mantra pengusir setan(?) terasa
hambar dan lambat. Ada dialog yang tidak sampai dan berjarak antara koreografi yang terjadi di atas
panggung dengan penonton. Sebab, pada hakekatnya sebuah ritual justru tidak berjarak. Melebur dan
melibatkan secara utuh penontonnya. Entah disebabkan oleh atmosfer gedung atau memang adaptasi
simbolik ritual etnik hanya diberi bingkai baru yang dieksploitasi dalam ranah seni kontemporer.
Sehingga apa yang disampaikan F.X Widaryanto dalam sambutannya; "Awake-ning" (aweking)
bermakna mediasi, kosong, paradoks kosong-isi, bumi-langit, mengolah tubuh, dan menonton jeda,
baru sampai pada tataran konsep saja. Atau mungkin disebabkan repetisi yang terus-menerus sehingga
kontras dan klimaks menjadi bias?

Gedung Kesenian Dewi Asri seperti umumnya gedung kesenian yang ada di Bandung dan beberapa
kota besar lainnya, bukanlah gedung yang mapan dan layak untuk ukuran sebuah pertunjukkan seni.
Sound system yang tidak memadai, bocoran bunyi-bunyi dari luar, akustik ruang dan masalah teknis
fade-in dan fade-out lampu tidak memberikan energi positif untuk menikmati karya Eko yang satu ini.

Hanya dua nomor dari delapan nomor karya malam itu yang saya yakini menarik untuk "menikmati"
seorang Eko. Yang pertama adalah nomor yang dibawakan oleh Eko sendiri "eL" atau "Silent Dance",
dan "Wiri-wiri", kedua nomor karya ini berlangsung dengan waktu relatif singkat. Dalam "eL", Eko
memperlihatkan keberhasilan olah tubuhnya. Kelenturan dan gerakan yang bernuansakan ruang dan
waktu. Tata cahaya dan musik yang pas. Sementara "Wiri-wiri", memainkan proposi harmoni
koreografi yang menarik, mengejutkan dan berlangsung sekilat. Justru di kesekilatan itulah membuat
"Wiri-wiri" terlihat enerjik dan kontemporer. Di sini, terlihat Eko dengan latar belakang zaman dan
Eko yang pernah bermukim di NY sebagai dancer seorang penyanyi Pop Start. Pemahaman elemen-
elemen gerak, kualitas dan prinsip-prinsip bentuk seni serta pengalamannya terpadu dalam komposisi
tari dalam dua nomor ini. Bagaimana ruang, waktu dan tenaga para penari, mengolah emosi penonton.
Bagaimana tempo dan ritme dimainkan dan difungsikan.

Dari delapan nomor karya yang disajikan, ada satu hal yang paling mengganjal. Saya sangat
terganggu dengan pemilihan kostum yang terkesan seadanya dan berkesan tidak serius. Selain kendala
teknis yang terjadi di lapangan, yang tentu saja kadang (biasa) terjadi.

Dalam masa yang disebut kontemporer, apapun menjadi sah-sah saja, bagi saya mengapresiasi karya
Eko malam itu merupakan pengalaman tersendiri, meski jauh dari apa yang saya bayangkan. Bisa jadi
apa yang tertangkap merupakan bagian luarnya saja, sebab untuk menikmati, memahami dengan
sempurna dan dapat mencernakan seorang "Eko dan karyanya" memerlukan pengamatan pada karya
berikutnya. Atau memang benar, barangkali kini keterukuran memang tak penting, sebab seni bukan
lagi objek kontemplasi, melainkan sekadar siasat komunikasi dan representasi diri, tindakan
penentuan diri yang unik, atau proses yang senantiasa berjalan.² []yk

Catatan:
1. Murgiyanto, Sal
2004 “Tradisi dan Inovasi”, Beberapa Masalah Tari di Indonesia, Jakarta, Wedatama Widya Sastra.

2. Sugiharto, Bambang
2007 “Dematerialisasi Seni dan Dampaknya”, Handout Perkuliahan FSRD ITB, Bandung.

Yunis Kartika
penulis dan mahasiswa magister FSRD ITB, tinggal di Bandung