Anda di halaman 1dari 33

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Hubungan antara atau interaksi hewan dan lingkungannya dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Hal ini menunjukkan adanya interaksi yang dilakukan oleh hewan dan lingkungannya. Terlepas dari hal tersebut perubahan kondisi yang terjadi pada lingkungan dapat berpengaruh pada hewan. Adanya perubahan yang terjadi pada lingkungannya, maka hewan juga dapat merespon perubahan tersebut dengan suatu perubahan berupa perubahan secara fisik, fisiologis, serta tingkah laku untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hewan merupakan mahluk hidup perlu melakukan aktivitas dalam kesehariannya yaitu bergerak, mencari makan, mencari tempat untuknya berlindung, serta untuk hewan yang telah memasuki masa dewasa juga butuh berkembang biak dengan cara kawin, beranak atau bertelur hewan juga membutuhkan istirahat guna memulihkan tenaga yang ada dalam dirinya setelah beraktivitas penuh Di alam ini, semua mahluk hidup mengambil pola-pola perilaku yang membutuhkan kecerdasan agar bisa bertahan hidup. Pola-pola perilaku ini, yang mendasari kecakapan, kepiawaian dan kemampuan-kemampuan perencanaan unggul memiliki satu kesamaan. Masing-masing perilaku ini mensyaratkan adanya kemampuan. Kecakapan yang hanya dapat dikuasai manusia dengan cara belajar, latihan ulang dan pengalaman ini, telah ada pada mahluk-mahluk hidup sejak pertama kali mereka lahir. Pertumbuhan dan perkembangan mahluk hidup sangat dipengaruhi oleh lingkungan sebagai tempat hidupnya. Perubahan lingkungan sehari-hari yang ditentukan oleh perputaran bumi mengelilingi matahari mengakibatkan mahluk hidup akan beradaptasi untuk mengoptimalkan daya hidupnya dengan jalan mengorganisasi aktivitasnya dalam siklus 24 jam. Organisme-organisme mempunyai mekanisme secara fisiologi untuk mengukur waktu, yang dikenal dengan jam biologi (biological clock). Manisfestasi yang paling umum adalah yang disebut ritme circadian (cyrcadian rythme), atau kemampuan untuk menentukan waktu dan mengulangi fungsi-

fungsi pada sekitar interval-interval 24 jam sekalipun dalam keadaan tanpa adanya tanda-tanda siang yang nyata. Keuntungan ekologi atau selektif dari jam biologi ini yaitu merangkaikan ritme-ritme lingkungan dengan fisiologi serta memungkinkan makhluk- makhluk itu mengetahui lebih dahulu atau merasakan lebih dahulu periodisitas harian, musiman, dan lain-lainnya dari sinar, suhu, pasang dan sebagainya. Selama sehari dan dari hari ke hari, suatu hewan menjalani waktu itu dengan berbagai aktivitas yang diperlukan bagi keberhasilan hidupnya. Hewan yang mobil akan bergerak untuk mencari makan, dan mencari tempat berlindung agar terhindar dari kondisi lingkungan yang kurang baik baginya. Pada hewan dewasa, seksual yang sudah siap kawin, aktivitas hariannya akan mencakup berbagai kegiatan perkembangbiakan seperti menemukan pasangan, berkopulasi, bertelur dan sebagainya. Di samping kegiatan-kegiatan tersebut hewan juga memerlukan istirahat (inaktif). Dengan mengambil bekicot (keong racun, Achatina fulica) sebagai hewan objek pengamatan dalam praktikum ini, kami ingin mengetahui bagaimana pola aktivitas harian dari Achatina fulica sehubungan dengan fluktuasi kondisi faktor-faktor lingkungannya dan keperluan hidupnya. Selain itu kami juga membuat suatu estimasi mengenai berapa jauh jarak yang ditempuh hewan tersebut dalam melakukan aktivitas hidupnya, serta mengetahui korelasi antara jarak edar dengan ukuran tubuh. Hal tersebut dilakukan karena adanya variasi individual dari Achatina fulica meliputi berat, panjang, dan cangkang Faktor abiotik lingkungan tempat hidup suatu hewan tidaklah konstan, melainkan dalam rentang sehari itu fluktuasi dari waktu ke waktu. Suhu udara misalnya, pada pagi hari rendah dan makin siang makin naik hingga mencapai tingkat suhu maksimum untuk hari itu. Pada sore dan malam hari, suhu terus menurun sampai tingkat suhu minimum sekitar subuh, dan begitu seterusnya. Akibat adanya faktor abiotik lingkungan tempat hidup suatu hewan yang tidak konstan maka kami melakukan secara berkala menurut selang waktu tertentu dan meliputi rentang waktu yang relatif lebih lama di lapangan sehingga akan didapatkan time series data. Rentang waktu yang diperlukan dalam pengamatan ini adalah sehari (24 jam) dengan interval waktu 2 jam.

1.2

Rumusan Masalah

1.2.1 Berapa rata-rata jarak yang ditempuh Achatina fulica dalam melakukan

aktivitas hidupnya dan pola aktivitas harian Achatina fulica? 1.2.2 Apakah jarak edar harian Achatina fulica berkorelasi dengan ukuran tubuh? 1.2.3 Apa sajakah faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi jarak edar dan pola aktivitas harian Achatina fulica?

1.2

Tujuan

 
 

1.3.1

Untuk mengetahui pola aktivitas dan jarak edar harian Achatina fulica.

1.3.2

Untuk mengetahui hubungan jarak edar harian Achatina fulica dengan ukuran tubuh

1.3.3

Untuk

mengetahui

pengaruh

faktor

lingkungan

terhadap

aktivitas

 

Achatina fulica.

 

1.4

Manfaat

 

1.4.1 Mengetahui pola aktivitas dan jarak edar harian Achatina fulica.

1.4.2 Mengetahui hubungan jarak edar harian Achatina fulica dengan ukuran

tubuh

1.4.3 Mengetahui pengaruh faktor lingkungan terhadap aktivitas Achatina fulica

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Jarak edar adalah sebuah gerakan periodik hewan dari tempat di mana ia telah tinggal ke daerah yang baru dan kemudian melakukan perjalanan kembali ke habitat asli. Jarak edar pergerakan binatang dipengaruhi oleh distribusi dan sumber daya seperti makanan atau habitat pemeliharaan keturunannya, dan dengan struktur fisik bentang lahan (Aprianto, 2010). Ruang lingkup jarak edar hewan bisa menjadi luas seperti migrasi. Migrasi hewan umumnya menggunakan rute yang sama dari tahun ke tahun dari generasi ke generasi. Tanah lintas hewan bisa berupa gunung, sungai, dan padang tanahyang luas. Burung, kelelawar, dan serangga terbang dalam jangkauan jarak yang panjang, kadang-kadang melampaui seluruh benua atau lautan. hewan yang berenang sering kali bermigrasi hampit meliputi jarak setengah dari seluruh dunia (Kusumaningsih,

2004).

Bumi ini dihuni oleh berjuta jenis hewan yang berbeda dan setiap jenis memiliki perbedaan sendiri. Demikian juga dengan perilaku, hewan memiliki perilaku umum yang dimiliki oleh banyak jenis dan sedikit pola perilaku yang dimiliki oleh banyak jenis. Ketika semua jenis hewan memerlukan reproduksi, makan dan juga mencoba untuk tidam menjadi santapan oleh makhluk apapun, semua jenis hewan memiliki beberapa jenis tipe perilaku reproduksi, perilaku mencari makan dan perilaku bertahan. Untuk sekian lama, seleksi alam juga memungkinkan jenis hewan tertentu memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan- tujuan perilaku termasuk perilaku komunikasi, perilaku penguasaan wilayah, perilaku penyebaran dan perilaku sosial (Tomiyama, 1996). Gerakan berpindah hewan biasanya terkait dengan perubahan musim. Banyak hewan bermigrasi ke daerah utara selama bulan-bulan dalam musim panas. karena pada hari musim panas yang panjang di bagian paling utara dunia dapat menjamin pemberian pasokan makanan yang baik. Seperti pada pendekatan ramalan cuaca musim gugur dan dingin, banyak hewan bermigrasi ke selatan untuk mencari cuaca yang hangat pada musim dingin dan tersedianya makanan (Browidjojo, 1989:92). Perilaku adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya. Perilaku dapat terjadi sebagai akibat stimulus dari

luar. Reseptor diperlukan untuk mendeteksi stimulus, saraf diperlukan untuk mengkoordinasikan respon dan efektor untuk melaksanakan aksi.Perilaku dapat pula terjadi sebagai stimulus dari dalam. Stimulus dari dalam, misalnya rasa lapar, memberikan motivasi akan aksi yang akan diambil bila makanan benar-benar terlihat atau tercium.Umumnya perilaku suatu organisme merupakan akibat gabungan stimulus dari dalam dan dari luar (Struthers, 2002). Hewan memiliki perilaku umum yang dimiliki oleh banyak jenis dan sedikit pola perilaku yang dimiliki oleh banyak jenis. Ketika semua jenis hewan memerlukan reproduksi, makan dan juga mencoba untuk tidam menjadi santapan oleh makhluk apapun, semua jenis hewan memiliki beberapa jenis tipe perilaku reproduksi, perilaku mencari makan dan perilaku bertahan. Untuk sekian lama, seleksi alam juga memungkinkan jenis hewan tertentu memiliki kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan perilaku termasuk perilaku komunikasi, perilaku penguasaan wilayah, perilaku penyebaran dan perilaku sosial (Sukarsono,

2009:63).

Perilaku hewan dibedakan menjadi beberapa bagian, diataranya:

1. Perilaku reproduksi, kebanyakan hewan harus menemukan pasangan untuk bereproduksi. Umumnya jantan, mencoba untuk berperilaku atraktif untuk menarik lawan jenisnya.

2. Perilaku mencari makan, hewan memperlihatkan beberapa tipe perilaku mencari makan yang berbeda. Beberapa jenis hewan sangat selektif terhadap apa yang mereka makan.

3. Perilaku bertahan, beberapa jenis hewan memiliki kemampuan perilaku untuk melepaskan diri dari pemangsa.

4. Perilaku komunikasi, memegang peran penting bagi hewan dengan menggunakan tanda (signal) dan suara, beberapa jenis hewan melakukan komunikasi dengan menggunakan baha-bahan kimia.

5. Perilaku territorial, perancangan dan pemeliharaan kawasanmerupakan perilaku yang diperlihatkan oleh hewan. Pemilik hewan pada umumnya mencoba mengusir individu lain yang memasuki kawasannya.

6. Perilaku sosial, temasuk perilaku penyebaran yang diperlihatkan oleh individu hewan dengan menjauhi area dimana mereka dilahirkan. Perilaku sosial

didefinisikan sebagai interaksi diantara individu, secara normal di dalam spesies yang sama yang saling mempengaruhi satu sama lain

7. Perilaku migrasi, banyak jenis hewan melakukan perjalanan untuk bersarang

atau berpinda dari suatu tempat ke tempat lainnya. Untuk melakukan hal ini, hewan harus melakukan sendiri jalur terbang dengan stimulus lingkungan. Perjalanan sekelompok hewan dalam jarak jauh disebut migrasi. Tujuan atau orientasi pergerakan sudah jelas untuk menghindari kondisi lingkungan yang sangat tidak menguntungkan bagi kelangsungan hidup populasinya atau untuk kegiatan bereproduksi (Sukarsono, 2009:82). Kehidupan hewan sangat tergantung pada habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah di suatu daerah sangat ditentukan keadaan daerah itu. Dengan perkataan lain keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis hewan tanah disuatu daerah tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan abiotik dn lingkungan biotik. Dalam studi ekologi hewan, pengukuran faktor lingkungan abiotik penting dilakukan karena besarnya pengaruh faktor abiotik itu terhadap keberadaan dan kepadatan populasi kelompok hewan ini. Dengan dilakukan pengukuran faktor lingkungan abiotik, maka akan dapat diketahui faktor besar yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan dan kepadatan populasi hewan yang diteliti. Pada studi tentang cacing tanah, misalnya, pengukuran pH tanah akan dapat memberikan gambaran tentang penyebaran suatu jenis cacing tanah (Wirahadikusumah, 2003:101). Bekicot (Achatina fulica) merupakan hewan yang paling banyak ditemukan diberbagai daerah di Indonesia, meskipun demikian hewan ini bukan spesies pribumi Indonesia melainkan merupakan pendatang dari benua Afrika yang telah menetap ± 50 tahun lamanya. Bekicot bersifat hermaprodit namun perkawinan tidak dapat dilakukan oleh satu individu saja melainkan membutuhkan individu lain pada proses kawinnya. Pada waktu kopulasi penis masing-masing individu yang berwarna keputih-putihan dan lembab, akan masuk ke dalam lubang genital individu pasangan kawinnya. Bekicot dikenal sebagai hewan nokturnal dan herbivora, karena kebiasaan makannya itu, sehingga bekicot digolongkan dalam sebagai kelompok hewan yang berpotensi sebagai hama bagi kebun sayuran dan bunga-bungaan. Bekicot termasuk dalam golongan hewan lunak dan biasanya

disebut Molusca. Anggota bekicot ini sangat banyak hidup di bebagai alam (darat, air tawar, air payau dan di laut) misalnya cumi-cumi, gurita dan kerang-kerangan. Bekicot termasuk ke dalam kelas Gastropoda atau berkaki perut. Di Indonesia dikenal ada dua jenis (spesies) bekicot yaitu Achatina fulica dan Achatina fariegata. Secara garis besar tubuh bekicot terdiri atas dua bagian yaitu cangkang bekicot; berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuhnya dari mangsanya. Cangkang bekicot dewasa dapat mencapai 7,5 11,5 cm diukur dari ujung cangkang sampai kedasar cangkang. Achatina fulica mempunyai cangkang bergaris-garis semar, ramping dan runcing, sedangkan Achatina fariegata memiliki cangkang bergaris tebal, lebih gemuk, dan membulat, dan badan bekicot; yang sederhana terdiri atas kepala dan perut (Majidsyahreza, 2012). Faktor yang berpengaruh dalam interaksi populasi adalah faktor biotik lingkungan yang pada dasarnya bersifat acak tidak langsung terkait dengan perubahan komunitas, terutama faktor iklim dan curah hujan. Banyak data mengarahkan perubahan acak iklim itulah yang pertama-tama menentukan kerapatan populasi. Perubahan yang cocok dapat meningkatkan kerapatan populasi, sebaliknya poipulasi dapat mati kalau tidak cocok. Pada dasarnya pengaruh yang baru diuraikan berlaku bagi kebanyakan organisme tetapi pengaruh yang sebenarnya malah dapat memicu perubahan mendasar sampai kepada variasai. Persaingan dalam komunitas dalam artian yang luas persaingan ditunjukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Persaingan ini dapat terjadi antara indifidu yang sejenis ataupun antara indifidu yang berbeda jenis. Persaingan yang terjadi antara individu yang sejenis disebut dengan persaingan intraspesifik sedangkan persaingan yang terjadi antara individu yang berbeda jenisnya disebut sebagai persaingan interspesifik (Herliani, 2013). Molusca adalah hewan lunak dan tidak memiliki ruas. Tubuh hewamn triploblastik, bilateral simetri, umummnya memiliki mantel yang dapat mengahsilkan bahan cangkok berupa kalsium karbonat. Cangkok tersebut berfungsi sebagai rumah (rangka luar) yang terbuat dari zat kapur misalnya kerang, tiram, siput dan bekicot. Namun ada pula molusca yang tidak memiliki cangkok seperti cumi-cumi sotong, gurita,. Molusca memilki struktur berotot yang disebut kaki yang bentuk dan fungsinya berbeda untuk setiap kelasya. Molllusca

merupakan filum Arthropoda. Saat ini diperkirakan ada 75 ribu jenis, serta 35 ribu jenis kedalam bentuk fosil. Mollusca hidup dilaut, air tawar, payau dan darat (Gembong, 2004:89). Gastropoda merupakan hewan jenis mollusca yang menggunakan perut, tubuh memiliki cangkang yang melintir, kepala dibagian depan, pada bagian kepala terdapat tentakel panjang yang terdapat bintik mata dan tentakel pendek berfungsi untuk indera pembau dan peraba. Hidup didarat, air tawar, air laut. Bersifat hermafrodit, perkawinan silanng. Pembuahan terjadi ditubuh betina. Contoh Achatina fulica atau bekicot, Lymnea atau siput sawah, Melania atau sumpil (Pechenik, 2000:156). Bekicot menggunakan perutnya untuk bergerak. Sebagian dari badannya digunakan sebagai alat gerak yang disebut dengan kaki. Pada bekicot sewaktu bergerak pada ujung depan kaki terdapat suatu kelenjar yang mengeluarkan lendir untuk memudahkan pergerakannya. Anus terletak disebelah sisi kanan kepala, sebagai tempat pengeluaran sisa makanan. Biasanya anus terbuka pada rongga tersebut. Sedang lubang genital terdapat di dekat kepala. Bekicot memiliki dua macam tentakel berupa sepasang tentakel panjang dengan mata untuk menerima rangsang gelap terang dan sepasang tentakel pendek sebagai alat peraba dan alat pembau, bagian tubuh yang peka terhadap rangsangan-rangsangan luar adalah kaki dan tentakel yang panjang, yang peka terhadap sinar dengan intensitas tertentu. Kaki dan kepala dapat disimpan dalam cangkang bila keadaan tidak mengijinkan. bila keadaan aman tubuh dijulurkan keluar dan yang nampak pertama kali adalah kakinya. Kebanyakan hewan mencari makanan pada malam hari (Campbell,

2000:235).

BAB 3. METODE PERCOBAAN

3.1 Tempat dan Waktu Percobaan

Tempat

: Halaman Depan Gedung Pendidikan Biologi (Parkiran

Hari/Tanggal

Mobil) FKIP Gedung 3, Universitas Jember : Sabtu dan Minggu, 2-3 Mei 2015

Waktu Percobaan : Pukul 09.00 WIB - 09.00 WIB ( 24 Jam)

3.2 Alat dan Bahan Percobaan Alat

:

o

Neraca analitik/ ohaus

o

Jangka sorong

o

Penggaris

o

Thermohigrometer

o

Soil tester

o

Lux meter

o

Meteran

o

Patok bambu

o

Bendera

o

Senter

o

Tali rafia :

Bahan

o

Bekicot (Achatina fulica)

o

Penanda (cat putih/ tipe-ex) Bambu atau Kayu

o

Bendera untuk menandai jarak edar bekicot (untuk kelompok 4C Biru)

3.3

Desain percobaan

36 m
36 m
3.3 Desain percobaan 36 m 1 m 2 m 3.4 Prosedur Percobaan 3.3.1 Tahap Persiapan Persiapan
1 m 2 m
1 m
2 m

3.4 Prosedur Percobaan

3.3.1 Tahap Persiapan Persiapan dilakukan dengan menentukan tempat/daerah yang akan

dijadikan area percobaan jarak edar bekicot.

3.3.2 Tahap Koleksi

Berikut ini adalah prosedur pengambilan data :

1. Mengambil bekicot sebanyak 10 buah dengan panjang cangkang kurang lebih 40 mm

2. Mencuci bekicot dengan air yang mengalir (dari kran) keringkan dengan menggunakan tissu

3.

Melakukan penimbangan terhadap berat dan pengukuran panjang

cangkang bekicot sebagai berat awal dan panjang awal

4. Memilih bekicot yang memiliki berat yang seragam

5. Memberi tanda berupa nomor kelompok dan nomor bekicot pada

cangkang bekicot dengan menggunakan cat putih atau tip-x

6. Meletakkan bekicot di tempat yang ternaung cahaya (di bawah

pohon) Setelah bekicot diberi tanda.

7. Memberi pasak yang telah diberi tanda (bendera) sebagai lokasi awal

bekicot

8. Melakukan pengukuran terhadap faktor faktor fisik (pH tanah,

suhu, kelembaban udara, kelembaban tanah)

9. Melakukan pengamatan tiap 2 jam sekali dengan interval 24 jam

10. Memberikan tanda dengan menggunakan pasak pada bekicot yang

ditemukan di tempat tertentu

11. Mengukur jarak edar bekicot dari titik awal ke titik dimana bekicot

ditemukan.

12. Melakukan pengukuran faktor fisik (suhu, kelembaban udara,

kelembaban tanah dan pH tanah), begitu seterusnya dengan interval

13. Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di sediakan, membuat

peta jarak edar bekicot pada kertas millimeter blok

14. Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di sediakan, membuat

peta jarak edar bekicot pada kertas millimeter blok

3.5 Skema Alur Percobaan

Mengambil bekicot sebanyak 10 buah dengan panjang cangkang kurang lebih 40 mm

sebanyak 10 buah dengan panjang cangkang kurang lebih 40 mm Mencuci bekicot dengan air yang mengalir

Mencuci bekicot dengan air yang mengalir (dari kran) keringkan dengan menggunakan tissu

yang mengalir (dari kran) keringkan dengan menggunakan tissu Melakukan penimbangan terhadap berat dan pengukuran panjang

Melakukan penimbangan terhadap berat dan pengukuran panjang cangkang bekicot sebagai berat awal dan panjang awal

11

Memilih bekicot yang memiliki berat yang seragam Memberi tanda berupa nomor kelompok dan nomor bekicot

Memilih bekicot yang memiliki berat yang seragam

Memilih bekicot yang memiliki berat yang seragam Memberi tanda berupa nomor kelompok dan nomor bekicot pada

Memberi tanda berupa nomor kelompok dan nomor bekicot pada cangkang bekicot dengan menggunakan cat putih atau tip-x

cangkang bekicot dengan menggunakan cat putih atau tip-x Meletakkan bekicot di tempat yang ternaung cahaya (di

Meletakkan bekicot di tempat yang ternaung cahaya (di bawah pohon) Setelah bekicot diberi tanda.

cahaya (di bawah pohon) Setelah bekicot diberi tanda. Memberi pasak yang telah diberi tanda (bendera) sebagai

Memberi pasak yang telah diberi tanda (bendera) sebagai lokasi awal bekicot

telah diberi tanda (bendera) sebagai lokasi awal bekicot Melakukan pengukuran terhadap faktor – faktor fisik (

Melakukan pengukuran terhadap faktor faktor fisik (pH tanah, suhu,

kelembaban udara, kelembaban tanah)

( pH tanah, suhu, kelembaban udara, kelembaban tanah ) Melakukan pengamatan tiap 2 jam sekali dengan

Melakukan pengamatan tiap 2 jam sekali dengan interval 24 jam

pengamatan tiap 2 jam sekali dengan interval 24 jam Memberikan tanda dengan menggunakan pasak pada bekicot

Memberikan tanda dengan menggunakan pasak pada bekicot yang ditemukan di tempat tertentu

pasak pada bekicot yang ditemukan di tempat tertentu Mengukur jarak edar bekicot dari titik awal ke

Mengukur jarak edar bekicot dari titik awal ke titik dimana bekicot ditemukan.

bekicot dari titik awal ke titik dimana bekicot ditemukan. Melakukan pengukuran faktor fisik (suhu, kelembaban udara,

Melakukan pengukuran faktor fisik (suhu, kelembaban udara, kelembaban tanah dan pH tanah), begitu seterusnya dengan interval

Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di sediakan, membuat peta jarak edar bekicot pada kertas

Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di sediakan, membuat peta jarak edar bekicot pada kertas millimeter blok

membuat peta jarak edar bekicot pada kertas millimeter blok Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di

Mencatat data pengamatan dalam tabel yang di sediakan, membuat peta jarak edar bekicot pada kertas millimeter blok

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Analisis Data Regresi

Tabel 4.1 Descriptive Statistics

   

Std.

 

Mean

Deviation

N

Jarak Edar

137.6154

182.29971

130

Berat Awal

28.5410

.83620

130

Panjang Awal

6.7160

.24127

130

PH

5.6200

1.32887

130

Kelembapan Udara

82.8846

20.30762

130

Suhu

24.2592

13.98844

130

Kelembapan Tanah

2.7138

1.45734

130

Kecepatan Angin

9.1915

15.07541

130

Intensitas Cahaya

574.6800

680.53845

130

Tabel 4.1 Descriptive Statistics diatas, menjelaskan hasil Rata-rata (Mean) dan

Simpangan baku (Std.Deviation) serta Jumlah Siput, yaitu 10 siput dikalikan 13 kali

waktu pengamatan. Jadi untuk N diperoleh angka 130.

1)

Jarak Edar dari 10 siput pada 13 kali waktu pengamatan, memiliki rata-rata

137,62 cm dengan Simpangan baku yaitu 182,30.

2) Berat awal siput memiliki rata-rata 28,54 gram dengan simpangan baku

yaitu 0,84.

3)

Panjang awal siput memiliki rata-rata 6,72 cm dengan simpangan baku yaitu

0,24.

4)

PH tanah yang merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-rata 5,62 yang

berarti memiliki rata-rata PH basa, dengan simpangan baku yaitu 1,33.

5)

Kelembapan udara yang juga merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-

rata 82,89% dengan simpangan baku yaitu 20,3.

6) Suhu yang merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-rata suhu yaitu

24,26 0 C, dengan simpangan baku 13,99.

7) Kelembapan tanah yang merupakan faktor luar, memiliki rata-rata sebesar

2,72 m/hg, dengan simpangan baku 1,46.

8) Kecepatan angin yang juga merupakan faktor luar, memiliki rata-rata

keceparan angin sebesar 9,19 m/s, dengan simpangan baku yaitu 15,07.

9) Intensitas cahaya yang merupakan faktor luar, memiliki rata-rata sebesar

574,68 cd, dengan simpangan baku 680,54.

Tabel 4.2 Correlations

   

Panja

 

Kelem

 

Kelem

Kecepa

Intensit

 

Jarak

Berat

ng

bapan

bapan

tan

as

Edar

Awal

Awal

PH

Udara

Suhu

Tanah

Angin

Cahaya

Pearson

Jarak Edar

1.000

.277

.044

-.083

.061

.041

-.186

-.247

-.316

Correlatio

Berat Awal

.277

1.000

-.079

.000

.000

.000

.000

.000

.000

n

Panjang

.044

-.079

1.000

.000

.000

.000

.000

.000

.000

Awal

PH

-.083

.000

.000

1.000

-.423

.047

.374

.194

.386

Kelembapan

.061

.000

.000

-.423

1.000

.074

-.160

.003

-.068

Udara

Suhu

.041

.000

.000

.047

.074

1.00

-.202

.118

.296

 

0

 

Kelembapan

-.186

.000

.000

.374

-.160

-.202

1.000

.681

.614

Tanah

Kecepatan

-.247

.000

.000

.194

.003

.118

.681

1.000

.586

Angin

Intensitas

-.316

.000

.000

.386

-.068

.296

.614

.586

1.000

Cahaya

Tabel 4.2 Correlation menjelaskan adanya hubungan antara semua variabel.

Hasil yang diperoleh dari tabel correlation yaitu:

1) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) terhadap dirinya sendiri (Jarak Edar) adalah sebesar 1,000, karena diproyeksikan terhadap dirinya sendiri. 2) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Berat Awal Bekicot (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar 0,277, artinya Berat Awal Bekicot berkorelasi sebesar 27% terhadap Jarak Edar Bekicot. 3) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Panjang Cangkang Awal Bekicot (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar 0,044, artinya Panjang Cangkang Awal Bekicot berkorelasi sebesar 4,4% terhadap Jarak Edar Bekicot.

Besar korelasi (Pearson Correlation) antara pH Tanah (faktor independent)

terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar -0,083, artinya pH Tanah berkorelasi sebesar 8,3% terhadap Jarak Edar Bekicot. 5) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Kelembaban Udara (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar 0,061, artinya Kelembaban Udara berkorelasi sebesar 6,1% terhadap Jarak Edar Bekicot. 6) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Suhu (faktor independent)

terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar 0,041, artinya Suhu berkorelasi sebesar 4,1% terhadap Jarak Edar Bekicot. 7) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Kelembaban Tanah (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar - 0,186, artinya Kelembaban Tanah berkorelasi sebesar 18,6% terhadap Jarak Edar Bekicot. 8) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Kecepatan Angin (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar - 0,247, artinya Kecepatan Angin berkorelasi sebesar 24,7% terhadap Jarak Edar Bekicot. 9) Besar korelasi (Pearson Correlation) antara Intensitas Cahaya (faktor independent) terhadap Jarak Edar Bekicot (faktor dependent) sebesar -

4)

0,316, artinya Intensitas Cahaya berkorelasi sebesar 32,6% terhadap Jarak

Edar Bekicot.

Tabel 4.3 Coefficients a

 

Standardize

   
 

Unstandardized

d

Coefficients

Coefficients

Model

B

Std. Error

Beta

T

Sig.

1

(Constant)

-2132.481

676.407

 

-3.153

.002

Berat Awal (X 1 )

61.598

17.394

.283

3.541

.001

Panjang Awal (X 2 )

50.108

60.286

.066

.831

.408

PH (X 3 )

6.750

13.347

.049

.506

.614

Kelembapan Udara (X 4 )

.698

.799

.078

.874

.384

Suhu (X 5 )

3.218

1.304

.247

2.469

.015

Kelembapan Tanah (X 6 )

34.753

18.019

.278

1.929

.056

Kecepatan Angin (X 7 )

-2.561

1.444

-.212

-1.773

.079

Intensitas Cahaya (X 8 )

-.120

.033

-.449

-3.632

.000

a. Dependent Variable: Jarak Edar

Persamaan regresinya adalah sebagai berikut:

Y = -2132,481 + 61,598 X 1 + 50,108 X 2 + 6,750 X 3 + 0,698 X 4 + 3,218 X 5

+ 34,753 X 6 2,561 X 7 0,12 X 8

Konstanta sebesar 2132,48, artinya jika X 1 , X 2 , X 3 , X 4 , X 5 , X 6 , X 7 , X 8

nilainya adalah 0, maka Jarak Edar Y nilainya adalah 544.577.

1) Koefisien regresi dengan variable independen Berat Awal Bekicot (X 1 )

adalah sebesar 61,598. Koefisien bernilai positif, artinya kenaikan Berat

Awal Bekicot (X 1 ) diikuti dengan kenaikan Jarak Edar Bekicot.

2) Koefisien regresi dengan variable independen Panjang Cangkang Awal

Bekicot (X 2 ) adalah sebesar 50,108. Koefisien bernilai positif, artinya

kenaikan Panjang Cangkang Awal Bekicot (X 2 ) diikuti dengan kenaikan

Jarak Edar Bekicot.

3) Koefisien regresi dengan variable independen pH Tanah (X 3 ) adalah sebesar 6,750. Koefisien bernilai positif, artinya kenaikan pH Tanah (X 3 ) diikuti dengan kenaikan Jarak Edar Bekicot. 4) Koefisien regresi dengan variable independen Kelembaban Udara (X 4 ) adalah sebesar 0,698. Koefisien bernilai positif, artinya kenaikan Kelembaban Udara (X 4 ) diikuti dengan kenaikan Jarak Edar Bekicot. 5) Koefisien regresi dengan variable independen Suhu (X 5 ) adalah sebesar 3,218. Koefisien bernilai positif, artinya kenaikan Suhu (X 5 ) diikuti dengan kenaikan Jarak Edar Bekicot. 6) Koefisien regresi dengan variable independen Kelembaban Tanah (X 6 ) adalah sebesar 34,753. Koefisien bernilai positif, artinya kenaikan Kelembaban Tanah (X 6 ) diikuti dengan kenaikan Jarak Edar Bekicot. 7) Koefisien regresi dengan variable independen Kecepatan Angin (X 7 ) adalah sebesar 2,561. Koefisien bernilai negatif, artinya kenaikan Kecepatan Angin (X 7 ) diikuti dengan penurunan Jarak Edar Bekicot. 8) Koefisien regresi dengan variable independen Intensitas Cahaya (X 8 ) adalah sebesar 0,12. Koefisien bernilai negatif, artinya kenaikan Intensitas Cahaya (X 8 ) diikuti dengan penurunan Jarak Edar Bekicot.

4.2 Pembahasan

Pembahasan Konsep Umum

Pada praktikum kali ini adalah dilakukan pengamatan terhadap pola aktivitas dan jarak edar harian hewan yang menggunakan bekicot (Acatina fulica) sebagai hewan uji cobanya. Kusumaningsih (2004) menjelaskan bahwa jarak edar adalah sebuah gerakan periodik hewan dari tempat di mana ia telah tinggal ke daerah yang baru dan kemudian melakukan perjalanan kembali ke habitat asli. Jarak edar pergerakan binatang dipengaruhi oleh distribusi dan sumber daya seperti makanan atau habitat pemeliharaan keturunannya, dan dengan struktur fisik bentang lahan. Dengan demikian, ketika suatu hewan akan optimum menyesuaikan diri pada lahan yang lembab, maka hewaan tersebut akan bergerak mencari tempat yang lembab. Konsekuensinya adalah lahan yang lembab akan menjadi suatu

teritori bagi hewan tersebut dan di tempat itu sebagian besar dari mereka akan berkumpul sedangkan kalau di lahan yang kering, akan sepi dengan spesies hewan tersebut. Hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh pada keseimbangan ekosistem. Begitu juga dengan jarak edar pada bekicot (Achatina fulica). Bekicot (Achatina fulica) dikenal sebagai hewan nocturnal, dengan demikian akan diketahui bagaimana pola aktivitasnya di siang dan di malam hari. Tujuan penggunaan hewan bekicot (Acatina fulica) untuk bisa mempermudah dalam mengontrol jarak edar suatu hewan dalam interval waktu tertentu yang telah ditentukan. Bekicot (Acatina fulica) merupakan salah satu hewan yang memiliki pola pergerakan yang sangat lambat sehingga memungkinkan untuk peneliti mengamati seberapa jauh bekicot (Acatina fulica) itu akan bergerak. Hal ini didukung oleh sebuah literatur menurut Campbell, dkk. (2000) yang menyatakan bahwa bekicot menggunakan perutnya untuk bergerak. Sebagian dari badannya digunakan sebagai alat gerak yang disebut dengan kaki. Dengan pergerakan menggunakan perutnya itulah yang membuat bekicot berjalan dengan lambat, pergerakan yang lambat itupun sudah dibantu dengan menggunakan lendir. Pada bekicot sewaktu bergerak pada ujung depan kaki terdapat suatu kelenjar yang mengeluarkan lendir untuk memudahkan pergerakannya. Berbeda dengan menggunakan hewan yang memiliki daya gerak yang relatif tinggi, misalnya kelinci yang mudah untuk berpindah tempat sehingga peneliti tidak akan bisa mengontrol dalam interval waktu yang cukup lama (sekitar 2 jam). Selain untuk mengetahui jarak edarnya, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola aktifitas hariannya sehubungan dengan fluktuasi kondisi faktor-faktor lingkungannya dan keperluan hidupnya. Oleh karena itu, dalam praktikum ini dilakukan pengukuran baik faktor yang berasal dari dalam tubuh bekicot itu sendiri atau faktor abiotik lain yang ada di lingkungan sehingga dapat dibuat acuan faktor apa saja yang akan mempengaruhi jarak edar dari bekicot (Acatina fulica) sebagai hewan nocturnal.

Pembahasan Langkah Kerja Langkah kerja yang dilakukan pada praktikum ini adalah dengan menggunakan lahan kebun di sekitar FKIP-UNEJ gedung 3 yaitu di sekitar parkiran dosen. Hal ini dikarenakan pada lingkungan itu merupakan lahan yang sangat luas

sehingga masih memungkinkan untuk bisa dijangkau oleh bekicot ketika bekicot itu bergerak. Dalam artian lain, dengan lahan yang sangat luas maka bekicot hanya memiliki kemungkinan yang sangat sedikit untu bergerak melebihi garis yang membatasi lahan. Setelah dilakukan pemetaan lahan secara ke seluruhan dengan ukuran 1x1 m. Tujuannya agar memudahkan peneliti untuk membuat skala pada milimeter blok dan memudahkan peneliti untuk mengetahui ke arah mana bekicot itu bergerak (bekicot itu bergerak melewati berapa petak lahan). Dimana dalam satu petak satuan 1 cm milimeter block kita skalakan sebagai 1 m. Inilah tujuan kenapa lahan yang luas tersebut dipetakkan dengan ukuran 1x1 m. Cara pemetakannya adalah dengan menentukan 1 titik paling ujung sebagai acuan kemudian dari satu titik ujung itu dilakukan pengukuran baik searah ke nanan atau ke kiri dengan ukuran 1 m. Setelah itu menandaai dengan patok setiap 1 m sekali (dari semua sisi mata angin yaitu dari sisi utara, selatan, timur dan barat). Tujuannya agar didapatkan ukuran yang benar-benar valid yaitu 1x1 m. Jika tidak dilakukan pemaatokan secara keseluran dari 4 arah, maka ditakutkan pada salah satu sisi tidak memiliki panjang 1x1 m sehingga akan membuat kesulitan ketika dipetaakkan dalam milimeter block. Setelah dilakukan pematokan dengan pasak, maka langkah selanjutnya adalah memasang tali rafia. Pemasangan tali rafia harus diselang-seling seperti anyaman. Tujuannya adalah agar tali rafia tidak mudah bergeser ketika terkena angin atau terkena faktor lain yang memungkinkan tali rafia itu bergeser. Disisi lain, anggota yang lain melakukan penimbangan berat badan bekicot dan pengukuran panjang cangkang bekicot. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berat badan bekicot itu memiliki kontribusi yang sangat tinggi atau tidak terhadap jarak edarnya. Begitu juga dengan panjang cangkang bekicot apakah panjang cangkang bekicot akan memiliki kontribusi yang cukup tinggi atau tidak terhadap jarak edar bekicot. Selain itu juga digunakan sebagai pembanding dengan berat badan bekicot ketika bekicot selesai melakukan aktivitas selama 24 jam. Apakah bekicot itu akan bertambah berat setelah melakukan aktivitas atau tidak dan apakah panjang cangkang akan bertambah setelah bekicot melakukan aktivitas selama 24 jam. Untuk berat badan bekicot setelah aktivitas 24 jam, cenderung mengalami peningkatan yang kemungkinan pada lahan yang lepas tersedia banyak sumber makanan yang emmungkinkan bekicot itu terus makan dan bisa bertambah

berat badan. Selain itu, selama pergerakannya bekict akan mengeluarkan lendir terus-menerus. Dimungkinkan lendir yang dikeluarkan itu akan menyelimuti seluruh permukaan tubuhnya dan tubuhnya akan menjadi banyak air jika dibandingkan ketika bekicot diam. Hal inilah yang mungkin juga mampu menyebabkan berat badan bekicot bertambah setelah seharian beraktivitas. Setelah bekicot itu ditimbang berat badan dan diukur panjang cangkangnya maka setiap kelas harus memilih satu pohon besar yang digunakan sebagai titik awal strart. Selain itu, juga untuk mengetahui ke arah mana bekicot itu akan bergerk (ke arah vertikal atau ke arah orizontal). Perhitungan jarak edar hanya lebih difokuskan pada jarak edar secara horizotal karena akan memudahkan memetakan dalam milimeter block. Sedangkan untuk yang pergerakan secara vertikal jika digambarkan pada milimeter block akan hanya terlihat titik 0 saja (tidak bisa di gambar). Namun untuk seberapa jauh pergerakannya, maka tetap ditulis sebagai keterangan. Setelah memilih pohon besar sebagai titik awal bekicoit diletakkan maka dipasang juga bendera strart yang tujuangnya untuk bisa mengetahui dimana persis bekicot tiap kelompok di letakkan. Peletakkan bekicot pada satu pohon, tidak hanya satu kelompok saja namun semua kelompok dalam satu kelas, bekicotnya juga diletakkan pada satu pohon ynag sama. jika tiap kelompok tidak memasang bendera strat, maka tidak akan bisa dilakukan pengukuran seberapa jauh jarak edar bekicot ke titik selanjutnya karena tidak ada acuan disana. Pengukuran jarak edar dilakukan selama 2 jam (dengan interval yang sama) sehingga dapat diketahui dalam interval waktu yang sama namun dengan kondisi lingkungan yang berbeda akan memberikan efek yang sama atau berbeda terhadap pola aktivitas dan jarak edar tiap bekicotnya. Setelah 2 jam sekali dilkukan pengamatan terhadap jarak edar dengan acuan bendera awal hingga letak bekicot selanjutanya. Langkah ini dilakukan ingga bekicot bergerak sampai 10 kali. Pengukuran jarak edar yang sekarang diacukan pada bendera yang sebelumnya. Setelah dilakukan pengukuran jarak edar bekicot, juga dilakukan pengamatan terhadap aktivitas masing-masing bekicot. Apakah bekicot itu inaktif (tidur) atau aktif (makan, ataupun reproduksi). Tujuannya adalah untuk mengetahui lebih aktif mana bekicot pada malam hari atau pada siang hari. Hal ini dikaitkan dengan karakter bekicot sebagai hewan nocturnal. Hewan nokturnal merupakan hewan

yang lebih aktif pada malanm hari jika dibandingkan dengan siang hari. Oleh karena itu, dengan pengamatan pola aktivitas bekicot maka akan bisa dibuktikan apakah bekicot adalah benar-benar hewan nokturnal atau hewan diurnal. Dan dari hasil pengamatan, bekicot lebih aktif pada malam hari jika dibandingkan dengan siang hari. Kebnyakan pada siang hari mereka inaktif sesangkan pada malam hari mereka cenderung berjalan yang jauh. Hal ini kemungkinan dipengarui oleh faktor lingkungan yang mana bekicot akan mampu bergerak dengan cepat ketika tubuhnya mengeluarkan lendir dan salah satu adaptasinya dengan lingkungan adalah dia selalu membasahi dirinya denagn lendir tersebut untuk mengurangi penguapan. Jika bekicot aktif pada siang hari maka akan banyak sinar matahari yang terpancar ke dalam tubuhnya. Ketika dia aktif pada siang hari maka tubuhnya akan sebagian besar keluar dari cangkangnya dan ketika semakin banyak tubuhnya keluar dari cangkangnya, maka akan semakin banyak pula cairan dalam tubuhnya mengalami penguapan. Denagn demikian pada siang hari bekicot akan inaktif dan pada malam hari saat tidak ada cahaya dia aktif yang tujuannya untuk mempertahankan kondisi tubuhnya. Selain pengukuran tersebut, juga dilakukan pula pengukuran faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi jarak edar bekicot. Misalnya suhu udara, kecepatan angin, kelembaban udara, kelembaban tanah dan pH tanah. Tujuan dari pengukuran faktor lingkungan ini adalah untuk mengetahui apakah faktor-faktor itu mempengaruhi jarak edar bekicot. Selain itu juga untuk mengetahui faktor mana yang paling berkontribusi secara langsung terhadap tingginya jarak edar bekicot ketika dilakukan uji terhadap spss. Sehingga kita dapat menyimpulkan faktor apa yang paling berpengaruh terhadap jarak edar bekict dan apa alasannya yang mendasari sehingga faktor itu bisa berkontribusi secara langsug pada jarak edar bekicot.

Pembahasan Hasil Setelah hasil pengamatan dimasukkan ke dalam tabel hasil pengamatan, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan analisis data menggunakan spss dengan menggunakan analisis data regresi linier (bila setiap tahapan kenaikan X diikuti dengan kenaikan Y secara konsisten. Sehingga tujuan dari regresi adalah selain

untuk mengetahui keterkaitan antara X dan Y juga dgunakan untuk mengetahui kemiringan dari alfa atau kemiringan dari garis linier yang terbentuk akibat korelasi dari X dan Y. Keunggulan dari regresi juga terletak pada adanya uji anova. Sehingga selain untuk mengetahui keterkaitan antara faktor pengaruh dan faktor akibat, juga bisa digunakan untuk mengetahui suatu pengaruh dari faktor sebab terhadap akibat. Keunggulan lain dari analisis data regresi adalah terletak pada metode pencarian data yang hilang. Ketika ada suatu data yang ilang, maka dengan menggunakan regresi data yang hilang itu bisa dicari meskipun hilang pada tengah- tengah posisi.

Analisis Deskriptif Dalam analisis regresi, terdapat kolom deskriptif, tabel korelasi dan tabel koefisient. Tabel deskriptif adalah tabel yang didalamnya data-data tertentu untuk mendeskripsikan data yang ada pada tabel misalnya rata-rata, simpangan baku maupun jumlah tiap variabel. Pada tabel deskriptif ini, tidak terdapat kolom untuk menganalisis data dan tidak ada besaran signifikansi. Karena pada tabel in anya digunakan untuk memberikan informasi seputar data saja tidak untuk mengolah data. Pada tabel ini terlihat jumlah yang sama antara semua variabel yaitu 130. 130 ini diperoleh dari jumlah siput, yaitu 10 siput dikalikan 13 kali waktu pengamatan. Jadi untuk N diperoleh angka 130. Untuk kolom mean, digunakan untuk menampilkan rata-rata tiap variabel. Dengan demikian, dapat diketahui rata-rata berapa yang mungkin terjadi setelah dilakukan banyak kai pengamatan.Dari kolom rata-rata yang dibanadingkan dengan tabel hasil pengamatan yang secara rinci maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi satuan pengukuran maka semakin tinggi pula rata-rata yang akan diperoleh pada tabel deskriptif. Misalnya perbandingan pada jarak edar dan pH tanah. Jarak edar bekicot, pengukurannya denga menggunakan satuan cm sedangkan perjalanan bekicot ada yang mencapai satuan meter. Maka jika dikonversikan dari meter menjadi cm maka akan naik dalam satuan yaitu dari 1 m menjadi 100 cm. sedangkan untuk pH hanya memiliki rentang antara 1-14 saja. Dimana pH 1-6 bersifat asam, 7 netral dan selebihnya adalah basa. Dengan demikian jika dibandingkan diantara keduanya maka unuk jarak, akan memiliki nilai yang lebih besar jika dibandingkan dengan pH tanah. Dengan

demikian rata-rata yang emmiliki satuan kecil, tidak akan bisa melebihi rata-rata dengan satuan yang besar. Semakin tinggi satuan hitung maka semakin tinggi pula rata-rata yang akan diperoleh. Pada hasil analisis data deskriptif, maka dapat dilakukan pendeskripsian data sebagai berikut: untuk jarak edar bekicot, jarak edar dari 10 siput pada 13 kali waktu pengamatan, memiliki rata-rata 137,62 cm dengan Simpangan baku yaitu 182,30. Sedangkan untuk berat awal siput memiliki rata-rata 28,54 gram dengan simpangan baku yaitu 0,84. Panjang awal siput memiliki rata-rata 6,72 cm dengan simpangan baku yaitu 0,24. Untuk pH tanah yang merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-rata 5,62 yang berarti memiliki rata-rata pH asam, dengan simpangan baku yaitu 1,33. pH ini termasuk asam karena pada rentang 1-6 adalah asam, 7 netral dan selebihnya adalah basa. Maka semakin tinggi angka yang ditunjukkan pada alat ukur pH maka ph tanah tersebut berarti basa begitu juga sebaliknya jika semakin rendah angka ynag tertera pada alat ukur pH maka menandakan pH tanah tersebut adalah asam. Sedangkan untuk kelembapan udara yang juga merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-rata 82,89% dengan simpangan baku yaitu 20,3. Dari data ini maka dapat disimpulkan bahwa pada lahan tersebut memiliki kelembaban yang tinggi namun karena analisis hanya menggunakan tabel deskriptif maka kita tidak bisa mengetahui bagaimana peran kelembaban tanah terhadap jarak edar bekicot. Apakah dengan kelembaban yang tinggi akan meningkatkan jarak edar bekicot ataukah mungkin sebaliknya, kelembaban yang tinggi akan menurunkan jarak edar bekicot. Karena sekali lagi tabel analisis deskriptif ini hanya bisa digunakan untuk mendeskripsikan data saja tidak bisa untuk mengolah data atau menganalisis data yang lebih. Selanjutnya adalah suhu yang merupakan faktor lingkungan, memiliki rata-rata suhu yaitu 24,26 0 C, dengan simpangan baku 13,99. Selanjutnya adalah kelembapan tanah yang merupakan faktor luar, memiliki rata- rata sebesar 2,72 m/hg, dengan simpangan baku 1,46. Jika dalam tabel krelasi ataupun tabel koefisien maka akan diketahui korelasi antara faktor dan jarak edar. Ketika semakin tinggi korelasi yang tertera maka akan seamkin tinggi pengaruh yang ditimbulkan oleh faktor-faktr tertentu terhadap jarak edar bekicot. Selanjutnya adalah kecepatan angin yang juga merupakan faktor luar, memiliki rata-rata keceparan angin sebesar 9,19 m/s, dengan simpangan baku yaitu 15,07. Dan

intensitas cahaya yang merupakan faktor luar, memiliki rata-rata sebesar 574,68 cd, dengan simpangan baku 680,54. Untuk kecepatan angin dan itensitas cahaya biasanya memiliki korelasi yang negatif artinya semakin tinggi kecepatan angin dan semakin tinggi intensitas cahaya, maka akan semakin rendah jarak edar bekicot tersebut. Namun untuk hipotesis ini tidak bisa dibuktikan selama belum menggunakan tabel korelasi, karena pada tabel ini hanya tabel deskripsi yang hanya mendeskripsikan saja dari tiap data tanpa adanya angka signifikansi. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa analisis deskriptif membatasi generalisasinya pada kelompok individu tertentu yang diobservasi dan data deskriptif hanya menggambarkan suatu kelompok dan hanya untuk kelompok itu sendiri, tidak untuk mengetahui hubungan atau pengaruh dari variabel satu terhadap variabel yang lainnya.

Tabel Korelasi Tabel selanjutnya adalah tabel korelasi, tabel ini menunjukkan adaanya hubungan antar satu variabel dengan variabel yang lain. Korelasi ini akan memberikan hubungan antara prediktor terhadap asil. Dimana prediktor yang ada pada tabel korelasi ini adalah faktor-faktor baik faktor lingkungan maupun faktor internal bekicot terhadap akibat atau hasil yaitu jarak edar dari bekicot tersebut. Dalam tabel korelasi ini akan tampak koefisien korelasi yang positif dan negati. Jika koefisien korelasi yang tampak adalah positif maka data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan faktor lingkungan atau faktor internal tubuh bekicot tertentu diikuti dengan peningkatan daya edar dan jika koefisien korelasi itu menunjukkan negatif maka data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan faktor lingkungan atau faktor internal tubuh bekicot diikuti dengan penurunan jarak edar bekicot. Jadi untuk analisis korelasi ini hanya menunjukkan hubungan antara variabel X dan Y saja dimana seri X memiliki hubungan atau tidak dengan seri Y. Pada analisis ini tidak ada kontrol dan treathment karena yang dikorelasikan ya hanya dua variabel itu saja yang merupakan data tunggal. Berbeda dengan anova yang menggunakan treathment dan kontrol yang menjadikan data lebih dan mengetahui pengaruh dari

antara kontrol dan treathment terhadap hasil. Pada analisis korelasi ini banyaknya X selalu diikuti dengan banyaknya Y. Maka dalam data korelasi dapat dilakukan interpretasi bahwa besar korelasi (pearson correlation) antara jarak edar bekicot (faktor dependent) terhadap dirinya sendiri (jarak edar) adalah sebesar 1,000, karena diproyeksikan terhadap dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan data yang sangat valid. Jika saja data ini tidak sama dengan satu maka terdapat error dalam data yang dianalisis. Tidak mungkin jika diri sendiri dikorelasikan dengan dirinya sendiri akan menghasilkan koefisien korelasi kurang dari 1,00. Yang kedua adalah korelasi antara berat awal bekicot dan jarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara berat awal bekicot (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar 0,277, artinya berat awal bekicot berkorelasi sebesar 27% terhadap jarak edar bekicot. Dan ini menandakan bahwa terjadi grafik naik (naiknya berat tubuh akan diikuti dengan jarak edar bekicot). Korelasi yang ketiga adalah korelasi antara panjang cangkang terhadap jarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara panjang cangkang awal bekicot (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar 0,044, artinya panjang cangkang awal bekicot berkorelasi sebesar 4,4% terhadap jarak edar bekicot. Hal ini menandakan bahwa terjadi grafik naik (naiknya panjang cangkang akan diikuti dengan jarak edar bekicot), namun koefisien korelasinya hanya sedikit yang hanya sekitar 4,4%. Besar korelasi (pearson correlation) antara ph tanah (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar -0,083, artinya ph tanah berkorelasi sebesar 8,3% terhadap jarak edar bekicot. Namun tanda negatif menunjukkan bahwa kenaikan variabel X yang sebagai prediktor yaitu ph tanah diikuti dengan penurunan variabel Y sebagai hasil yaitu jarak edar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi ph tanah maka kondisi tanah tersebut akan semakin basah. Dan ketika semakin basah ph tanah maka analisis korelasi ini menunjukkan semakin menurunnya jarak edar bekicot. Korelasi selanjutnya adalah antara prediktor kelembaban udara terhadap jarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara kelembaban udara (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar 0,061, artinya kelembaban udara berkorelasi sebesar 6,1% terhadap jarak edar bekicot. Dengan koefisien tanda positif tersebut

berarti menunjukkan bahwa semakin tinggi kelembaban udara akan semakin tinggi jarak edar bekicot karena tanda positif koefisien korelasi menunjukan bahwa peningkatan variabel X yang sebagai prediktor yaitu kelembaban suhu diikuti dengan peningkatan jarak edar bekicot. Korelasi yang selanjutnya adalah korelasi antara suhu terhadap jarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara suhu (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar 0,041, artinya suhu berkorelasi sebesar 4,1% terhadap jarak edar bekicot. Suhu sebenarnya jika dilakukan analisis, maka suhu yang tinggi akan menyebabkan jarak edar bekicot semakin rendah. Hal ini terkait dengan tubuh bekicot yang cenderung lunak dan berlendir, ketika suhu tingga maka bekicot cenderung untuk diam tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan. Misalkan saja bekicot aktif bergerak pada suhu yang tinggi maka semakin banyak pula bagian tubuh yang terkena cahaya matahari. Hal ini akan menyebabkan semakin banyak lendir tubuh yang terkena cahaya dan terjadi penguapan. Oleh karena itu siput merupakan hewan nokturnal yang lebih aktif pada malam hari yang tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan pada dalam dirinya. Dengan pernyataan yang seperti inilah maka semakin tinggi suhu akan semakin rendah jarak edar. Dan dengan demikian seharusnya koefisien korelasi akan menunjukkan angka yang negatif. Karena jika semakin tinggi variabel X yang sebagai prediktor akan diikuti dengan penurunan jarak edar bekicot. Korelasi yang selanjutnya adalah antara kelembaban tanah terhadapjarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara kelembaban tanah (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar - 0,186, artinya kelembaban tanah berkorelasi sebesar 18,6% terhadap jarak edar bekicot. Untuk analisis korelasi antara kelembaban tanah terhadap jarak edar bekicot ini sangat sulit untuk di percaya. Dalam kontribusi kelembaban tanah terhadap jarak edar bekicot, maka kelembaban tanah ini dimungkinkan memiliki kontribusi yang paling tinggi terhadap jarak edar bekicot. Jika dikaitkan dengan analisis teori, maka bekicot akan mudah bergerak dalam tanah yang lembab. Kelembaban tanah tersebut dengan bantuan lendir dari dalam tubuhnya, akan memudahkan bekicot tersebut untuk mudah dalam bergerak. Bagian gasternya bekicot, terjadi kontak langsng dengan dengan tanah sehingga akan memungkinkan ketika semakin lembab tanah yang digunakan untuk bekicot bergerak maka akan

semakin mudah bekicot tersebut menyensor tanah tersebut sehingga semakin tinggi kelembaban tanah maka akan semakin tinggi jarak edar bekicot. Keadaan yang berbalik denagn teori ini kemungkinan disebabkan oleh adanya kesalahan praktikan saat melakukan pengukuran atau saat melakukan pemasukan data pada tabel pengamtan. Selanjutnya adlah korelasi antara kecepatan angin terhadap jarak edar. Besar korelasi (pearson correlation) antara kecepatan angin (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar -0,247, artinya kecepatan angin berkorelasi sebesar 24,7% terhadap jarak edar bekicot. Dan korelasi yang terakhir adalah antara intensitas cahaya terhadap jarak edar bekicot. Besar korelasi (pearson correlation) antara intensitas cahaya (faktor independent) terhadap jarak edar bekicot (faktor dependent) sebesar -0,316, artinya intensitas cahaya berkorelasi sebesar 32,6% terhadap jarak edar bekicot. Dari keseluruhan data tersebut maka tingkat koefisien korelasi antara prediktor terhadap hasil memiliki tingkat yang berbeda-beda. Ada yang memiliki tingkat korelasi yag positif yang menandakan bahwa peningkatan prediktor diikuti dengan peningkatan jarak edar bekicot. Namun untuk tingkat korelasi yang negatif, maka menandakan bahwa peningkatan presiktor diikuti denagn penurunan hasil (variabel Y).

Tabel Koefisien Analisis tabel yang selanjutnya adalah tabel koefisien. Tabel koefisien ini merupakan tabel yang menggambarkan regresi antara varibel yang satu dengan variabel yang lainnya. Analisis regresi ini yang biasa dilakukan adalah tipe linier yaitu bila tiap step-step penaikan X diikuti denngan penaikan Y, sehingga akan terlihat garis lurus. Namun yang dijadikan acuan bukan seberapa besar nilai penaikan tapi nilai penaikan akan menyesuaikan dengan garis linier tersebut sehingga akan tampak garis yang lurus. Regresi ini sebenarmya sama dengan korelasi namun regresi lebih kompleks karenakita juga bisa mengetahui besarnya Y ketika koefisien dan intercept-nya telah diketahui. Dalam hasil tabel kefisien ini didapatkan persamaan regresi sebagai berikut: Y = a+bX. Dan hasil dari analisis koefisien tersebut didapatkan bahwa Y= -2132,481 + 61,598 X 1 + 50,108 X 2 + 6,750 X 3 + 0,698 X 4 + 3,218 X 5 + 34,753 X 6 2,561 X 7 0,12 X 8. Nilai Y menunjukkan variabel yang terikat terhadap X. -

2132,481 merupakan suatu intercept, makna dari angka intercept atau konstanta adalah besarnya adalah sama dengan intercept ketika besarnya nilai X adalah sama dengan 0. Ketika angka intercept adalah -2132,481 maka nilai Y juga -2132,481. Sedangkan b adalah koefisien regresi, yang mana koefisien regresi ini merupakan kemiringan atau slope dari suatu hubungan variabel X terhadap Y. Besarnya

yang

disebut dengan tangen α. Semakin besar nilai α maka semakin besar kemiringan X terhadap Y. Dengan melihat hasil interpretasi data tersbut maka yang memiliki kntribusi paling tinggi adalah berat awal sebesar 61,598, kemudian disusul dengan panjang awal sebesar 50,108, kemudian kelembaban tanah yaitu sebesar 34,753, kemudian disusul oleh Ph sebesar 6,750, suhu sebesar 3,218, kelembaban udara sebesar 0,698, intensitas cahaya sebesar -0,12 dan kecepatan angin sebesar -2,561. Dengan demikian maka ada koefisien yang memiliki nilai positif dan ada koefisien yang memiliki nilai negatif. Kebanyak faktor memiliki nilai koefisien yang positif kecuali pada intensitas cahaya dan kecepatan angin.

kemiringan tersebut adalah α yang bisa dilihat dari perbandingan antara

Analisis Regresi Berdasarkan Faktor Prediksi Jika dikaitkan dengan faktor kecepatan angin dan intensitas cahaya, maka dapat dipercaya jika nilai koefisiennya adalah negatif. Hal ini dikaitkan dengan sifat bekicot sebagai hewan nokturnal yaotu hewan yang aktif beraktivitas pada malam hari. Sehingga pada siang hari maka hewan ini cenderung akan diam. Apalagi dengan intensitas cahaya yang tinggi dan kecepatan angin yang tingi. Bekicot cenderung selalu mensekresikan lendir untuk menjaga homeostasis dalam tubuhnya karena aktivitas bekicot cenderung menjadikan tubuhnya keluar dari angkangnya, maka semakin tinggi cahaya dan semakin tinggi kecepatan angin dn bekicot tetap keluar dari cangkang, maka semakin cepat pula lendir yang dikeluarkan itu akan mengalami penguapan. Dengan demikian untuk mengurangi penguapan tersebut, bekicot akan cenderung diam pada siang hari. Apalagi semakin tinggi intensitas cahaya dan kecepatan angin maka akan semakin tinggi suhu yang akan membuat bekicot cenderung menyensor keadaan tersebut untuk tidak keluar dari cangkang.

Dengan melihat koefisien yang positif maka yang paling tinggi kontribusinya adalah berat awal dan panjang sedangkan kelembaban tanah menempati keddudukan ketiga. Kemungkinan berat yang tinggi dan panjang yang lebih akan tersedia banyak visera dalam cangkang bekicot sehingga untuk mejaga homeostasis bekicot tersebut maka semakin banyak lendir yang di sekresikan. Kembali lagi dengan kaitannya fungsi lendir adalah sebagi pelicin tubuh bekicot yang memudahkan dalam pergerakan. Maka dimungkinkan semakin besar berat tubuh dan semakin panjang cangkang tubuh maka akan semakin banyak visera tubuh dan menyebakan pula semakin banyak lendir yang disekresikan. Dengan demikian akan mempermudah dalam pergerakan bekicot. Namun dalam suatu literatur lain ada yang mengatakan bahwa kelembaban yang tinggi akan memiliki kontribusi yang paling tinggi juga terhadap jarak edar bekicot. Hal ini disebabkan bekict akan lebih mudah mensensor keadaan lingkungan saat keadaan tanah itu dengan kelembaban yang tinggi. Dimana bagian perut bekicot yang digunakan sebagai kaki untuk berjalan mengalai kontak langsung dengan tanah. Maka semakin lembab kondisi tanah maka akan menyebabkan semakin jauh pula jarak edar bekicot.

Ph terlihat lebih tinggi kontribusinya terhadap jarak edar bekicot jika dibandingkan dengan suhu. Dan suhu lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelembaban udara. Dimungkinkan bekicot suka dengan tanah yang memiliki phyang tinggi maka semakin tinggi ph akan semakin tinggi pula jarak edar bekicot. Untuk kaitannya dengan suhu maka suhu kontribusinya akan lebih rendah jika dibandingkan denagn kelembaban tanah. Karena bekicot suka dengan kelembaban yang tinggi dan suhu lingkungan yang rendah. Dengan demikian tubuh bekicot khusunya bagian perutnya akan bersentuhan langsung dengan tanah sedangkan untuk yang suhu lingkungan memang benar akan memberikan dampak pada jarak edar bekicot namun untuk suhu lingkungan, tidak bisa terjadi kontak langsung dengan tubuh bekicot karena sebagian besar suhu lingkungan berada pada udara yang mana udara berada pada bagian atas tubuh bekicot. Sehingga suhu akan terhalangi oleh cangkang bekicot. Namun dalam literatur lain dijelaskan bahwa suhu memiliki hubungan yang negatif dengan jarak edar bekicot karena semakin tinggi suhu maka akan membuat bekicot semakin diam. Sehingga memberikan

perbandingan yang terbalik. Untuk kelembaban udara juga memiliki kntribusi langsung namun tidak sebesar kelembaban tanah. Karena kelembaban tanah akan bersentuhan langsung dengan tubuh bekicot sedangkan kelembaban tanah sama kasusnya dengan suhu yang mana akan terhalang oleh cangkang dari siput tersebut. Namun bedanya kelembaban suhu akan memberikan angka yang positif karena bekicot akan mudah bergerak dengan kondisi kelembaban udara yang tinggi. Dengan demikian semakin tinggi kelembaban udara maka semakin tinggi pula jarak edar bekicot meskipun kelembaban udara tersebut sedikit terhalangi oleh cangkang tubuh yang menutupi tubuh bekicot tersebut.

Pembahasan Pola Aktivitas Bekicot Bekicot merupakan hewan nokturnal yang cenderung melakukan aktivitas pada malam hari berbeda dengan hewan diurnal yang cenderung melakukan aktivitas pada siang hari ketika ada cahaya. Hal ini didukung oleh Campbell, dkk. (2000) yang menyatakan bahwa bekicot (Achatina fulica) dikenal sebagai hewan nocturnal, dengan demikian akan diketahui bagaimana pola aktivitasnya di siang dan di malam hari. Oleh karena itu, dalam hasil pengamatan maka didapatkan bahwa banyaknya aktivitas bekicot baik makan, ataupun bereproduksi, bekicot akan cenderung terjadi pada malam hari sehingga pada saat malam hari pun, akan ditemukan perpindahan bekicot yang cukup jauh. Hal ini ditunjukka denagn ukuran jarak edar pada malam hari lebih tinggi jika dibandingkan dengan pada siang hari. Dijumpai juga pada malam hari, bekicot ada yang melakukan reproduksi denagn lawan jenisnya.

BAB V. PENUTUP

5.1

Kesimpulan Dari praktikum Pola aktivitas dan jarak edar harian Achatina fulica yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa

5.2 Rata-rata jarak yang ditempuh Achatina fulica dalam melakukan aktivitas hidupnya dan pola aktivitas harian byaitu 137,62 cm untuk jumlah 10 siput pada 13 kali pengamatan.

5.3 Jarak edar harian Achatina fulica berkorelasi dengan ukuran tubuh, dimungkinkan semakin besar berat tubuh dan semakin panjang cangkang tubuh maka akan semakin banyak visera tubuh dan menyebakan pula semakin banyak lendir yang disekresikan. Dengan demikian akan mempermudah dalam pergerakan bekicot.

5.4 Faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi jarak edar dan pola aktivitas harian Achatina fulica adalah suhu udara, kecepatan angin, kelembaban udara, kelembaban tanah dan pH tanah.

5.5

Saran Perlu dilakukan uji lanjutan terkait pola aktifitas dan jarak edar harian ini sebab pada pelaksanaan praktikum sangat dimungkinkan terjadi kesalahan praktikan baik dalam hal metode pengambilan sampel, perhitungan menggunakan alat, atau yang lainnya.

Aprianto.

DAFTAR PUSTAKA

2010.

Pola

Perpindahan

Beruang

Kutub.

ac.id/index.php?subaction=showfull&id=1196835229&archive=&start_fro

m = & ucat =2&do=artikel. [Diakses, 19 Mei 2015]

Browidjojo, M. Dj. 1989. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta

Campbell, Neil. A. 2000. Biologi Jilid I. Erlangga : Jakarta

Herliani, Mica. 2008. Kompetisi Intraspesifik. http://Pengetahuan.com [Diakses, 19 Mei 2015]

Kusumaningsih, Triana. 2004. Pembuatan Kitosan dari Kitin Cangkang Bekicot (Achatina fulica) . Jurusan Kimia FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta. Vol.2(6).

Majidsyahreza. 2012. Kinerja Hewan Di Lingkungannya Dengan Menentukan Pola Aktifitas Dan Jarak Edar Serta Luas Daerah Harian Hewan. http://majidsyahreza89.wordpress.com [Diakses, 19 Mei 2015]

Pechenik, J. 2000. Biology of The Invertebrates. Four Edition : Mc Graw Hill.

Struthers, M. 2002. The physical and chemical microstructure of the Achatina fulica epiphragm. Department of Chemistry and Department of Petroleum EngineeringHeriot watt University Edinburgh EH144AS, UK. Vol.68 : 166

Sukarsono. 2009. Ekologi Hewan. UMM Press : Malang

Tjitrosoepomo, Gembong, dkk. 2004. Biologi II. Jakarta : Dedikbud

Tomiyama, Kiyonori. 1996. Mate-choice criteria in a protandrous simultaneously hermaphrodit ic land snail Achatina Fulica (FERUSSAC) (STYLOMMATOPHORA: ACHATINIDAE). Laboratory of Wildlife Conservation, National Institute for Environmental Studies, Onogawa 16-2, Tsukuba 305, Japan. Vol . 62 : 102.

Wirahadikusumah, Sambas. 2003. Dasar-Dasar Ekologi. Jakarta