Anda di halaman 1dari 17

Mikroba rumen

JANGAN LUPA KASIH HALAMAN


Outline
Klasifikasi dan karakteristik mikroba rumen
Siklus hidup mikroba rumen
Fungsi kerja mikroba rumen dalam proses
pencernaan di rumen
Faktor yang mempengaruhi polpulasi
mikroba rumen
Interaksi yang terjadi antar mikroba rumen.

Klasifikasi mikroba rumen


1. Bakteri
a. Selulolitik
menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisis ikatan glukosida
1.4, sellulosa dan dimer selobiosa.
contoh: Ruminicoccus flavefaciens dan Ruminicoccus albus.
b. Hemiselulolitik
menghasilkan enzim yang dapat menghidrolisa hemiselulosa.
contoh: Butyrivibrio fibriosolven dan Bacteriodes ruminicola.
c. Pengguna asam
Beberapa janis bakteri dalam rumen dapat menggunakan asam
laktat. Jenis lainnya dapat menggunakan asam suksinat, malat dan
fumarat yang merupakan hasil akhir fermentasi oleh bakteri jenis
lainnya. Contoh: Propioni bacterium dan Selemonas lactilytica.

a. Pengguna gula
menghasilkan enzim yang dapat memfermentasi
gula(polisakarida,disakarida, monosakarida.
b. Amilolitik
Bakteri yang berperan penting dalam menceerna pati.
Contoh: Bacteriodes amylophilus dan Bacteroides
ruminicola.
c. Lipolitik
menghasilakn enzim yang mampu menghidrolisa
lemak dalam chloroplast. Contoh: Anaerovibrio
lipolytica dan Selemonas ruminantium var. Lactilytica.

a. Proteolitik
menghasilkan enzim yang dapat
mencerna protein. Contoh: Bacteroides
amylophilus,Clostridium sporogenes
b. methanogenik
Sekitar 25 persen dari gas yang diproduksi
didalam rumen adalah gas methan.Contoh:
Methanobacterium ruminantium dan
Methanobacterium formicium

Klasifikasi mikroba rumen (lanjutan)


2. Protozoa
a. Oligotrica
. Mempunyai ukuran sel lebih kecil dari holotrica dan hanya memiliki cilia di
sekitar prostoma (mulut).
. Pencernaan selulosa dapat dilakukan karena protozoa memangsa bakteri dan
bakteri inilah yang akan menghasilkan enzim selulase didalam tubuh protozoa
sehingga selulosa yang dimangsa dapat dicerna
Contoh: Diplodinium dentatum dan Entodinium caudatum.
a. Holotrica
Mempunyai ukuran sel lebih besar dengan cilia menutup seluruh tubuh.
Jenis ciliata rumen ini mempunyai peranan penting dalam metabolisme
karbohidrat dengan jalan menelan gula segera setelah masuk ke rumen dan
menyimpannya dalam bentuk amilopektin, yang selanjutnya akan melepaskan
kembali senyawa ini kedalam cairan rumen pada saat populasi Holotricha
mengalami lisis atau pada fase pertumbuhannya.
Contoh: Isotricha intestinalis dan Isotricha prostoma.

Klasifikasi mikroba rumen (lanjutan)


3. Jamur
Salah satu ciri khas jamur rumen ini bila dibandingkan
dengan jenis jamur lainnya adalah kebutuhannya akan
kondisi absolut anaerobik (strictly anaerobic) untuk
pertumbuhan dan terbentuknya senyawa hidrogen (H) dalam
proses fermentasi selulosa. Siklus kehidupan
mikroorganisme ini dilaporkan berlangsung antara 24 30
jam, menandakan bahwa jamur rumen sangat erat
kaitannya dengan material yang
sukar dicerna. Sampai dengan saat ini telah dikenal lebih
dari 20 spesies yang berbeda,
meskipun sebagian belum mempunyai nama.
Contoh: Neocallimastix frontalis dan Piromonas communis.

Siklus hidup

Daur hidup virus

Fungsi kerja di rumen


BELUM ADA DATA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


POPULASI MIKROBA RUMEN

A. Suhu
Temperatur rumen dikatakan normal
apabila berada pada kisaran antara 39 41C. Segera setelah makan, temperatur
rumen biasanya akan meningkat sampai
dengan 41C, terutama selam proses
fermentasi terjadi didalam rumen.
Sebaliknya
temperatur akan menurun sampai dibawah
suhu normal bila ternak minum air dingin.

lanjutan
B. pH
keasaman rumen
berkisar antara 5,5 - 7,0. Keasaman lambung atau rumen
dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti macam pakan serta waktu
setelah makan. Untuk menjaga agar pH rumen tidak
menurun atau meningkat secara drastis maka perlu
adanya hijauan didalam ransum dalam proporsi yang
memadai ( 40 persen dari total ransum atau dengan
kadar serat kasar sekitar 20 persen) dimana 70 persen
dari serat kasar ini harus dalam bentuk polisakarida
berstruktur untuk dapat merangsang produksi saliva
selama proses ruminasi.

lanjutan
c). Pengaruh osmotik dan ionik
PadOsmolalitas isi rumen akan cenderung menjadi
hipertonik pada saat beberapa jam setelah makan,
sebaliknya akan menjadi hipotonik setelah minum.
d). Komposisi Gas
Komposisi gas didalam rumen kurang lebih terdiri
dari 63-63,35 % CO2; 26,76-2% CH4; 7% N2 dan
sedikit H2S, H2 dan O2. Karena kondisi anaerob
didalam rumen merupakan faktor yang sangat
penting maka produksi CO2 pada proses fermentasi
sangat menentukan terciptanya kondisi anaerob.

lanjutan
e). Tekanan Permukaan
Tekanan permukaan cairan rumen biasanya diantara 45 - 59
dynes/cm. kasus terjadinya kembung (bloat) adalah erat
kaitannya dengan perubahan tekanan permukaan.
f). Variasi Harian
Konsentrasi mikroba rumen akan berfluktuasi sepanjang hari.
Beberapa faktor penyebabnya antara lain: makanan, kelaparan
(starvation) dan pengenceran (dilution rate) cairan rumen
g). Nutrisi
Enersi yang diperlukan mikroba diperoleh dari proses
fermentasi polimer tanaman terutama selulosa dan pati
dengan menghasilkan VFA, CH4 dan CO2. Sedangkan untuk
proses biosintesis diperoleh dari protein yaitu dari unsur-unsur
C, H, O, N dan S

INTERAKSI ANTARA MIKROBA DI


DALAM RUMEN
a). Interaksi antar Bakteri
Interaksi antar bakteri terjadi baik pada bakteri yang
terdapat/menenmpel pada partikel digesta maupun yang terdapat
pada ephitelium rumen. Bentuk hubungan ini biasanya bersifat
mutualisme dimana hasil hasil fermentasi oleh satu jenis bakteri
akan digunakan oleh bakteri jenis lainnya untuk pertumbuhannya
b). Interaksi antara Protozoa-Bakteri
Protozoa memangsa bakteri yang terdapat pada cairan rumen dan
mencernanya sebagai sumber asam amino bagi pertumbuhannya,
akibatnya biomassa bakteri akan berkurang sehingga laju kolonisasi
partikel makanan didalam rumen akan berkurang pula. Sehingga
memperpanjang fase lag.
Diperkirakan tiap ekor protozoa dapat memangsa bakteri dengan
kecepatan antara 130 - 21200 bakteri/protozoa/jam pada kondisi
kepadatan bakteri 109 sel/ml.

lanjutan
c). Interaksi antara Bakteri-Jamur dan Protozoa
Jumlah bakteri dan jamur meningkat setelah
defaunasi. Sehingga daya cerna serat kasar akan
meningkat secara nyata 6 - 10 unit/24 jam.
Defaunasi memberikan pengaruh positif terhadap
efisiensi penggunaan enersi yang digunakan
untuk proses sintesis protein mikrobial.
Protozoa dengan populasi yang besar akan
mengurangi produktivitas ternak, melalui
penurunan ratio antara asam amino dengan
enersi pada hasil pencernaan yang terserap