Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Flokulasi adalah suatu proses aglomerasi (penggumpalan) partikelpartikel terdestabilisasi menjadi flok dengan ukuran yang memungkinkan dapat
dipisahkan oleh sedimentasi dan filtrasi. Flokulator adalah alat yang digunakan
untuk flokulasi.
Proses

flokulasi

dalam

pengolahan

air

bertujuan

untuk

mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses


koagulasi.

Partikel-partikel

yang

telah

distabilkan

selanjutnya

saling

bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang


ukurannya makin lama makin besar serta mudah mengendap. Gradien
kecepatan merupakan faktor penting dalam desain bak flokulasi. Jika nilai
gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan mencegah
pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradient terlalu rendah/tidak memadai
maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar
serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien
kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik.
Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap maka bak
flokulasi dibagi atas tiga kompartemen, dimana pada kompertemen pertama
terjadi

proses

pendewasaan

flok,

pada

kompartemen

kedua

terjadi

proses penggabungan flok, dan pada kompartemen ketiga terjadi pemadatan


flok. Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan
dengan metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses
koagulasi, perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan di mana pada
proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil dibanding gradien kecepatan
koagulasi.

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

1.2. Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat disusun rumusan masalah sebagai
berikut:
a. Apa yang dimaksud dengan flokulasi dan flokulator?
b. Apa fungsi dari flokulator?
c. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya flok?
d. Bagaimana prinsip kerja flokulator?
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini antara lain :
a. Menjelaskan definisi flokulasi dan flokulator.
b. Menjelaskan fungsi dari flokulator.
c. Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya flok.
d. Menjelaskan prinsip cara kerja flokulator.

BAB II
OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

PEMBAHASAN
2.1. Definisi Flokulator
Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Pada
hakekatnya flokulator adalah kombinasi anatara pencampuran dan pengadukan
sehingga flok-flok halus yang terbetuk pada bak pencampur cepat akan saling
bertumbukan dengan paartikel-partikel kotoran atau flok-flok yang lain
sehingga terjadi gumpalan-gumpalan flok yang besar dan stabil. Flokulasi
adalah suatu proses penggabungan partikel-partikel menjadi satu sehingga
ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring atau diendapkan.

Gambar 2.1. Flokulator (jar test)

2.2. Fungsi Flokulator


Fungsi flokulator adalah untuk pembentukan flok-flok agar menjadi
besar dan stabil sehingga dapat diendapkan dengan mudah atau disaring. Untuk
proses pengendapan dan penyaringan maka pertikel-partikel kotoran halus
maupun koloid yang ada dalam air baku harus digumpalkan menjadi flok-flok
yang cukup besar dan kuat untuk dapat diendapkan dan disaring.
Flokulator terbagi menjadi dua macam:
1. Paddle flocculator

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

Termasuk

jenis flocculator yang digunakan untuk instalasi berkapasitas

sangat besar dengan kualitas air permukaan yang fluktuatif.


2. Pipe flocculator
Termasuk jenis flocculator yang jarang digunakan di PDAM atau malah
belum ada yang menerapkannya.
2.3. Faktor yang mempengaruhi proses flokulasi
Factor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya flok pada proses
flokulator antara lain:
1. Suhu air
Suhu air yang rendah mempunyai pengaruh terhadap efisiensi proses
koagulasi. Bila suhu air diturunkan , maka besarnya daerah pH yang
optimum pada proses kagulasi akan berubah dan merubah pembubuhan
dosis koagulan.
2. Derajat Keasaman (pH)
Proses koagulasi akan berjalan dengan baik bila berada pada daerah pH
yang optimum. Untuk tiap jenis koagulan mempunyai pH optimum yang
berbeda satu sama lainnya.
3. Jenis Koagulan
Pemilihan jenis koagulan didasarkan pada pertimbangan segi ekonomis dan
daya efektivitas daripadakoagulan dalam pembentukan flok. Koagulan
dalam bentuk larutan lebih efektif dibanding koagulan dalam bentuk
serbukatau butiran.
4. Kadar ion terlarut
Pengaruh ion-ion yang terlarut dalam air terhadap proses koagulasi yaitu :
pengaruh anion lebih bsar daripada kation. Dengan demikian ion natrium,
kalsium dan magnesium tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap
proses koagulasi.

5. Tingkat kekeruhan
Pada tingkat kekeruhan yang rendahproses destibilisasi akan sukar terjadi.
Sebaliknya pada tingkat kekeruhan air yang tinggi maka proses destabilisasi
OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

akan berlangsung cepat. Tetapi apabila kondisi tersebut digunakan dosis


koagulan yang rendah maka pembentukan flok kurang efektif.
6. Dosis koagulan
Untuk menghasilkan inti flok yang lain dari proses koagulasi dan flokulasi
sangattergantung dari dosis koagulasi yang dibutuhkan Bila pembubuhan
koagulan sesuai dengan dosis yang dibutuhkan maka proses pembentukan
inti flok akan berjalan dengan baik.
7. Kecepatan pengadukan
Tujuan pengadukan adalah untuk mencampurkan koagulan ke dalam air.
Dalam pengadukan hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengadukan
harus benar-benar merata, sehingga semua koagulan yang dibubuhkan dapat
bereaksi dengan partikel-partikel atau ion-ion yang berada dalam air.
Kecepatan pengadukan sangat berpengaruh terhadap pembentukan flok bila
pengadukan terlalu lambat mengakibaykan lambatnya flok terbentuk dan
sebaliknya apabila pengadukan terlalu cepat berakibat pecahnya flok yang
terbentuk
8. Alkalinitas
Alkalinitas dalam air ditentukan oleh kadar asam atau basa yang terjadi
dalam air. Alkalinitas dalam air dapat membentuk flok dengan menghasil
ion hidroksida pada reaksihidrolisa koagulan.
2.4. Pengadukan
Faktor penting pada proses flokulator adalah pengadukan. Pengadukan
merupakan operasi yang mutlak diperlukan pada proses flokulasi. Pengadukan
cepat berperan penting dalam pencampuran koagulan dan destabilisasi partikel.
Pengadukan lambat berperan dalam upaya penggabungan flok.
Jenis pengadukan dapat dikelompokkan berdasarkan kecepatan
pengadukan dan metoda pengadukan. Berdasarkan kecepatannya, pengadukan
dibedakan menjadi pengadukan cepat dan pengadukan lambat. Berdasarkan
metodanya, pengadukan dibedakan menjadi pengadukan mekanis, pengadukan
hidrolis, dan pengadukan pneumatis.

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

Kecepatan pengadukan dinyatakan dengan gradien kecepatan (G),


yang merupakan fungsi dari tenaga yang disuplai (P):

Jenis-jenis pengadukan:
a. Pengadukan Cepat
Tujuan pengadukan cepat dalam pengolahan air adalah untuk menghasilkan
turbulensi air sehingga dapat mendispersikan bahan kimia yang akan
dilarutkan dalam air. Secara umum, pengadukan cepat adalah pengadukan
yang dilakukan pada gradien kecepatan besar (300 sampai 1000 detik-1)
selama 5 hingga 60 detik atau nilai GTd (bilangan Champ) berkisar 300
hingga 1700. Secara spesifik, nilai G dan td bergantung pada maksud atau
sasaran pengadukan cepat.
Untuk proses koagulasi-flokulasi:
Waktu detensi = 20 - 60 detik
G = 1000 - 700 detik-1
Untuk penurunan kesadahan (pelarutan kapur/soda):
Waktu detensi = 20 - 60 detik
G = 1000 - 700 detik-1
Untuk presipitasi kimia (penurunan fosfat, logam berat, dan lain-lain)
Waktu detensi = 0,5 - 6 menit
G = 1000 - 700 detik-1
Pengadukan cepat dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Pengadukan mekanis
OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

2. Pengadukan hidrolis
3. Pengadukan pneumatis
b. Pengadukan Lambat
Tujuan

pengadukan

lambat

dalam

pengolahan

air

adalah

untuk

menghasilkan gerakan air secara perlahan sehingga terjadi kontak antar


partikel untuk membentuk gabungan partikel hingga berukuran besar.
Pengadukan lambat adalah pengadukan yang dilakukan dengan gradien
kecepatan kecil (20 sampai 100 detik-1) selama 10 hingga 60 menit atau
nilai GTd (bilangan Champ) berkisar 48000 hingga 210000. Untuk
menghasilkan flok yang baik, gradien kecepatan diturunkan secara bertahap
agar flok yang telah terbentuk tidak pecah lagi dan berkesempatan
bergabung dengan yang lain membentuk gumpalan yang lebih besar.
Secara spesifik, nilai G dan waktu detensi untuk proses flokulasi adalah
sebagai berikut:
- Untuk air sungai:
Waktu detensi

= minimum 20 menit

= 10 - 50 detik-1

- Untuk air waduk:


Waktu

= 30 menit

= 10 - 75 detik-1

- Untuk air keruh:


Waktu dan G lebih rendah
- Bila menggunakan garam besi sebagai koagulan:
G tidak lebih dari 50 detik-1
- Untuk flokulator 3 kompartemen:
G kompartemen 1 : nilai terbesar
G kompartemen 2 : 40 % dari G kompartemen 1
G kompartemen 3 : nilai terkecil
- Untuk penurunan kesadahan (pelarutan kapur/soda):
Waktu detensi

= minimum 30 menit

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

= 10 - 50 detik

- Untuk presipitasi kimia (penurunan fosfat, logam berat, dan lain-lain)


Waktu detensi = 15 - 30 menit
G

= 20 - 75 detik-1

GTd

= 10.000 - 100.000

Pengadukan lambat dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain


1. Pengadukan mekanis
2. Pengadukan hidrolisis
c. Pengadukan mekanis
Pengadukan mekanis adalah metoda pengadukan menggunakan peralatan
mekanis yang terdiri atas motor, poros pengaduk (shaft), dan alat pengaduk
(impeller). Peralatan tersebut digerakkan dengan motor bertenaga listrik.
Berdasarkan bentuknya, ada tiga macam impeller, yaitu paddle (pedal),
turbine, dan propeller (baling-baling).

(a)

(c)

(b)

(d)

(e)

Gambar 2.4.1. Tipe turbine dan propeller


Keterangan: (a) turbine blade lurus, (b) turbine blade dengan piringan, (c) turbin
dengan blade menyerong, (d) propeller 2 blade, (e) propeller 3 blade

Pengadukan mekanis dengan tujuan pengadukan cepat umumnya dilakukan


dalam waktu singkat dalam satu bak (Gambar 2.4.2.). Pengadukan mekanis
dengan tujuan pengadukan lambat umumnya memerlukan tiga kompartemen

OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

dengan ketentuan G di kompartemen I lebih besar dari pada G di


kompartemen II dan G di kompartemen III adalah yang paling kecil.
Pengadukan mekanis yang umum digunakan untuk pengadukan lambat
adalah tipe paddle yang dimodifikasi hingga membentuk roda (paddle
wheel), baik dengan posisi horisontal maupun vertikal (Gambar 2.4.3.).

Gambar 2.4.2. pengadukan cepat dengan alat pengaduk

Gambar 2.4.3. pengadukan lambat dengan alat pengaduk

d. Pengadukan hidrolis
Pengadukan hidrolis adalah pengadukan yang memanfaatkan aliran air
sebagai tenaga pengadukan. Tenaga pengadukan ini dihasilkan dari energi
hidrolik yang dihasilkan dari suatu aliran hidrolik. Energi hidrolik dapat
berupa energi gesek, energi potensial (jatuhan) atau adanya lompatan
hidrolik dalam suatu aliran.
Jenis pengadukan hidrolis yang digunakan pada pengadukan cepat haruslah
aliran air yang menghasilkan energi hidrolik yang besar. Dalam hal ini dapat
dilihat dari besarnya kehilangan energi (headloss) atau perbedaan muka air.
Dengan tujuan menghasilkan turbulensi yang besar tersebut, maka jenis

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

aliran yang sering digunakan sebagai pengadukan cepat adalah terjunan


(Gambar 2.4.4.), loncatan hidrolik, dan parshall flume.
Jenis pengadukan hidrolis yang digunakan pada pengadukan lambat adalah
aliran air yang menghasilkan energi hidrolik yang lebih kecil. Aliran air
dibuat relatif lebih tenag dan dihindari terjadinya turbulensi agar flok yang
terbentuk tidak pecah lagi. Beberapa contoh pengadukan hidrolis untuk
pengadukan lambat adalah kanal bersekat (baffled channel, Gambar 2.4.5.),
perforated wall, gravel bed dan sebagainya.

Gambar 2.4.4. Pengadukan cepat dengan terjunan

Gambar 2.4.5. Denah pengadukan lambat dengan baffle channel

e. Pengadukan pneumatis
Pengadukan pneumatis adalah pengadukan yang menggunakan udara (gas)
berbentuk gelembung sebagai tenaga pengadukan. Gelembung tersebut
dimasukkan ke dalam air dan akan menimbulkan gerakan pada air (Gambar
OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

2.4.6.). Injeksi udara bertekanan ke dalam air akan menimbulkan turbulensi,


akibat lepasnya gelembung udara ke permukaan air. Aliran udara yang
digunakan untuk pengadukan cepat harus mempunyai tekanan yang cukup
besar sehingga mampu menekan dan menggerakkan air. Makin besar
tekanan udara, kecepatan gelembung udara yang dihasilkan makin besar dan
diperoleh turbulensi yang makin besar pula.

Gambar 2.4.6. Pengadukan cepat secara pneumatis

2.5. Cara kerja Alat Flokulator


Cara pengadukan dalam proses flokulasi ada dua cara yaitu
pengadukan berdasarkan energi yang ada dalam air itu sendiri dan pengadukan
berdasarkan energy mekanik dari luar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan tentang susunan dan bentuk bak
flokulator yakni antara lain:
- Bak flokulator harus diletakkan di antara bak pencampur cepat dan bak
pengendapan dan lebih baik lagi jika antara bak flokulator menyatu atau
bergabung jadi satu.
- Untuk bak flokulator yang standar (bentuk persegi pamjang), harus
dilengkapi dengan peralatan pengadukan atau aliran dengan sekat (baffle
flow) yang berfungsi untuk mendapatkan hasil yang optimal.
- Kecepatan pengadukan harus dapat diatur atau dikontrol agar dapat
disesuaikan dengan kondisi kualitas air bakunya.
- Keccepatan pengadukan (kecepatan putar) untuk flokulator dengan
pengadukan dari luar antara 15-18 cm/detik, sedangkan untuk flokulator tipe
aliran dengan sekat, kecepatan rata-rata dalam bak antara 15-30 cm/detik.

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

- Bentuk dan konstruksi bak flokulator harus sedemikian rupa agar terhindar
-

terjadinya aliran singkat atau aliran stagnan (diam).


Baik flokulator harus dilengkapi dengan peralatan untuk penghilangan
lumpur atau lebih atau buih yang mungkin terjadi.

Berdasarkan cara kerjanya flokulator dibagi menjadi tiga yaitu:


1. Flokulator pneumatic yakni cara kerjanya sama seperti yang dilakukan pada
aerasi, bedanya suplai udara yang diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar
pada bak aerasi.
2. Flokulator mekanis yakni cara kerjanya dengan cara pengadukan
(mixing), karena bentuknya yang bermacam-macam inilah maka bentuk ini
sangat familiar bagi seorang engineer.
3. Flokulator baffle yakni cara kerjanya air limbah berjalan dengan cara
mengitari sekat-sekat yang ada.
Berikut adalah tahap pemisahan flok dengan cairan flok yang
terbentuk harus dipisahkan dengan cairannya, yaitu dengan cara pengendapan
atau pengapungan. Bila flok yang terbentuk dipisahkan dengan cara
pengendapan, maka dapat digunakan alat klarifier, sedangkan bila flok yang
terjadi diapungkan dengan menggunakan gelembung udara, maka flok dapat
diambil dengan menggunakan skimmer. Image Klarifier berfungsi sebagai
tempat pemisahan flok dari cairannya. Dalam klarifier diharapkan lumpur
benar-benar dapat diendapkan sehingga tidak terbawa oleh aliran air limbah
yang keluar dari klarifier, untuk itu diperlukan perencanaan pembuatan klarifier
yang akurat. Kedalaman klarifier dipengaruhi oleh diameter klarifier yang
bersangkutan. Misalkan dibuat klarifier dengan diameter lebih kecil dari 12m,
diperlukan kedalaman air dalam klarifirer minimal sebesar 3,0 m.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

- Flokulasi adalah suatu proses penggabungan partikel-partikel menjadi satu


sehingga ukurannya berubah menjadi besar, agar dapat disaring atau
diendapkan.
- Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi.
- Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya flok pada proses flokulator
adalah suhu, pH, jenis koagulan, kadar ion terlarut, tingkat kekeruhan, dosis
koagulan, kecepatan pengadukan, alkalinitas.
- Jenis-jenis pengadukan, antara lain:
1. Pengadukan cepat
2. Pengadukan lambat
3. Pengadukan mekanis
4. Pengadukan hidrolis
5. Pengadukan pneumatic
- Tipe turbine dan propeller
1.

turbine blade lurus,

2.

turbine blade dengan piringan,

3.

turbin dengan blade menyerong,

4.

propeller 2 blade, (e) propeller 3 blade

DAFTAR PUSTAKA

1. Kusnarjo, Utilitas Pabrik Kimia. 2012


2. Djokosetyardjo,M.J. Chapter II pdf Boiler. Universitas Sumatra Utara. Medan.
1990
3. Andini Putri. Sistem Boiler. ITS. Surabaya. 2008
4. www.google flokulator.com

OTK I FLOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG

OTK I FlOKULATOR
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL MALANG