Anda di halaman 1dari 18

RESIN UREA-FORMALDEHID

DAN
RESIN FENOL-FORMALDEHID
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
presentasi Pengetahuan Bahan

Dosen Pembimbing : Ir.Retno Indarti, MT

Disusun Oleh :
Anditania Sari Dwi Putri (101411003)
Nurul Sarah (101411023)
Kelas : 2A















D-3 TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2011
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamiin
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga
tetap tercurahkan kepada junjunan alam, Nabi Muhammad SAW.
Makalah berjudul Resin Urea Formaldehid dan Resin Fenol
Formaldehid ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengetahuan
Bahan. Pada penyusunan makalah ini, penyusun banyak mendapat bantuan, saran dan
motivasi dari berbagai pihak sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun sebagai acuan dalam pembuatan makalah yang
lainnya. Semoga amal baik yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT
dan laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi
pembaca.

Bandung, Januari 2011


Penyusun














BAB I
PENDAHULUAN

Polimer dan Monomer
Polimer
Molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan unit ulangan kimia yang
kecil, sederhanadan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan ini biasanya setara atau
hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.

Monomer
Zat yang dapat dikonversi menjadi suatu polimer. Untuk contoh, etilena adalah
monomer yang dapat dipolimerisasi menjadi polietilena (lihat reaksi berikut). Asam
amino termasuk monomer juga, yang dapat dipolimerisasi menjadi polipeptida dengan
pelepasan air.

Sumber polimer dibagi dua yaitu alami contohnya Pati, Selulosa, Protein, Lipid,
Asam Nukleat, dsbdan Sintetik contohnya Polietilena, Polivinil Klorida, dsb. Cara
Pembuatan dibagi menjadi dua proses yaitu Polimer Adisi dan Polimer Kondensasi.
Polimerisasi Adisi, Monomer mengadisi monomer lainsehingga produk polimer
mengandung semua atom yang ada pada monomer awal. Polimerisasi Kondensasi,
Sebagian dari molekul monomer tidak termasuk dalam polimer akhir. Polimer memiliki
2 Reaksi terhadap Kalor yaitu Polimer Termoplastik Bila dipanaskan melunak dan dapat
dibentuk dengan bantuan tekanan dan Polimer Termoset Dapat dilebur dalam
pembuatannya tapi menjadi kerasselamanya tidak melunak dan tidak dapat dicetak
ulang. Contoh polimer termoset ialah :
a.Resin Phenol
Merupakan resin sintetik yang dibuat dengan mereaksikan phenol
denganformaldehida, wujud nya keras, kuat, awet dan dapat dicetak pada berbegai
kondisi.Bahan ini mempunyai daya tahan panas dan air yang baik dan dapat diberi
macam-macam warna,sering digunakan sebagai bahan pelapis dan laminating, pengikat
batu gerinda, pengikat logam ataugelas, dapat dicetak menjadi kotak, isolator listrik,
tutup botol dan tangkai pisau.
b. Resin Amino
2 jenis resin amino, yakni: formaldehida urea dan formaldehida melamin.
Formaldehida melamin banyak di pasarkan dalam bentuk serbuk, untuk kemudian di
cetak, sedangkan bila bentuk cair (larutan), untuk digunakan sebagai perekat.Untuk
meningkatkan sifat mekanik dan listrik, maka pada melamin ditambahkan bahan
pengisi,sehingga dapat juga digunakan untuk membuat sendok-garpu, bagian
busi, tombol-tombol dan alat cukur.
Formaldehida urea. Resin urea, dapat dicetak tekan, memiliki permukaan yang keras
dan mempunyainilai dielektrik yang tinggi dan dapat diberi berbagai warna. Produk
yang dihasilkan dari resin urea adalah: peralatan listrik, kancing, dll. Kedua jenis resin
ini banyak juga digunakan untuk mencegah berkerut dan kusut nya kain katun dan
untuk mencegah menyusutnya kayu.
c. Resin Furan.
Resin ini berasal dari hasil pengolahan limbah pertanian, seperti: tongkol jagung dan
bijikapas. Warna produk nya agak tua, tahan air dan mempunyai sifat-sifat listrik yang
baik.
d. Resin Epoksida.
Resin jenis ini banyak dipakai untuk keperluan: pengecoran, pelapisan, protektor alat-
alat listrik, campuran cat dan sebagai adhesif (perekat/lem).Karena alasan resin ini tahan
terhadap aus dan beban kejut, maka sering juga digunakan untuk membuat cetakan
tekan (metalurgi serbuk), panel sirkuit listrik, tangki dan jig.
e. Resin SilikonPolimer dengan silikon sebagai bahan dasar
Mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan bahan dasar plastik (atom karbon) lain
nya. Sifat-sifat spesifik nya adalah: stabilitas (tahan terhadapsuhu tinggi), kedap air,
oleh karena itu sering digunakan untuk membuat: minyak gemuk (fat), resin, perekat
dan karet sintetis.Contoh polimer termoplastik ialah Selulosa yang dibuat dari serat
kapas dan kayu, namun sangat kuat dan ulet serta dapat diberi ber- bagai warna.
Pengertian Resin
Resin adalah suatu campuran yang kompleks dari ekskret tumbu-tumbuhan dan
insekta, biasanya berbentuk padat dan amorf dan merupakan hasil terakhir dari
metabolisme dan dibentuk dari ruang-ruang skizogen dan skizolisigen. Secara fisis,
resin ini biasanya keras, transparan plastis dan pada pemanasan menjadi lembek. Secara
kimiawi, resin adalah campuran yang kompleks dari asam-asam resinat, alkoholresinat,
resinotannol, ester-ester dan resene-resene. Bebas dari zat lemas dan mengandung
sedikit oksigen karena mengandung zat karbon dalam kadar tinggi, maka kalau dibakar
menghasilkan angus. Ada juga yang menganggap bahwa resin terdiri dari zat-zat
terpenoid, yang dengan jalan addisi dengan air menjadi dammar dan fitosterin.sifatny
tidak larut dalam air, sebagian larut dalam alcohol, larut dalam eter, aseton, petroleum
eter, kloroform, dan lain-lain. Apabila resin-resin dipisahkan dan dimurnikan, biasanya
dibentuk dalam zat padat yang getas dan amorf, yang kalau dipanaskan akan menjadi
lembek dan akan habis terbakar. Resin ini juga tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
alcohol dan pelarut organic lainnya. Isi dari resin pada umumnya adalah asam-asam
resinat dan alkohol-alkohol resinat.








BAB II
ISI

2.1 Resin Urea Formaldehid
Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil
kondensasi urea dengan formaldehid. Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai urea-
metanal) adalah suatu resin atau plastik thermosetting yang terbuat dari urea dan
formaldehid yang dipanaskan dalam suasana basa lembut seperti amoniak atau piridin.
Sifat fisik

Memiliki sifat tidak dapat meleleh
Absorpsi air yang rendah
Dapat dicetak tekan atau transfer
Memiliki permukaan yang keras
Dapat diberi berbagai jenis warna

Sifat mekanik

Massa jenis 1,47-1,52 (g/cm
3
)
Kekuatan tarik 4,2-9,1 (kgf/mm
2
)
Perpanjangan 0,4-1,0%
Ketahanan panas 75
0
C

Sifat kimia
thermosetting
Tidak larut dalam pelarut apapun
Kenaikan temperatur dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-formaldehid.
Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang baru,
sehingga memperkecil ukuran molekul resin.
Resin urea formaldehid lebih buruk daripada resin fenol, resin melamin, dsb, yaitu
dalam hal ketahanan air, kestabilan dimensi, dan ketahanan terhadap penuaan,
sehingga sifat-sifat tersebut diperbaiki dengan penambahan bahan lain atau
diproses menjadi kopolimer dengan fenol, melamin, dsb.


Gambar 1

Struktur resin urea formaldehyd
2.1.1 Pembuatan Resin urea-formaldehid
a) Sintesis amonia dari karbondioksida
Amonia dan karbondioksida (reaktan) dicampurkan pada tekanan tinggi
menghasilkan ammonium karbamat. Amonium karbamat selanjutnya dipekatkan pada
evaporator vakum menghasilkan urea. Urea yang dihasilkan dari hasil reaksi akan
dipisahkan menggunakan evaporator. Evaporatot bekerja dengan prinsip destilasi, yatu
berdasarkan perbedaan titik didih. Komponen yang akan dipisahkan adalah urea dari
dari air yang melarutkannya. Air akan terpisahkan menuju labu lan karena titik didihnya
yang lebih rendah dari urea, yaitu 100
o
C sedangkan urea 132,7
o
C.
Prinsip kerja : Evaporator berfungsi untuk mengurangi bahkan menghilangkan kadar
air dari suatu zat cair, sehingga didapat zat cair yang lebih pekat, berkonsentrasi tinggi,
dan lebih murni. Dalam hal ini zat yang menjadi lebih murni dan pekat adalah urea.




Gambar 2


Evaporator vakum
b) Kondensasi urea dengan formaldehyd
Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi kondensasi antara urea dengan
formaldehid. Pada umumnya reaksi menggunakan katalis hidroksida alkali dan kondisi
reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi reaksi Cannizaro, yaitu reaksi
diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam karboksilat. Untuk menjaga agar
pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia sebagai buffer ke dalam campuran.
Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni metlolasi, propagasi
(kondensasi), dan proses curing.
1. Tahap Metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea,
dan menghasilkan metilol urea. Urea dan formaldehid direaksikan dengan
ditambahkannya katalis basa. Basa yang digunakan dapat berupa barium hidroksida
ataupun kalium hidroksida.Dari reaksi tsbt diperoleh monomer atau yang disebut
mono-metilol dan dimetilol. Monometilol adalah hasil reaksi penggabungan antara 1
molekul urea dengan 1 molekul formaldehid, sedangkan dimetilol adalah hasil
reaksi penggabungan 2 molekul formaldehid dan 1 molekul urea.Baik mono-metilol
urea maupun dimetilol urea larut dalam air sehingga reaksi pembentukannya
dilakukan dalam fasa pelarut air.
2. Tahap Propagansi
Tahap propagasi (kondensasi), yaitureaksi kondensasi dari monomer-monomer
mono dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus. Kondensasi
lanjutan ini akan menghasilkan jembatan metilen antara dua molekul urea.
3. Tahap Curring
Tahap curing, yaitu proses terakhir yang dipengaruhi oleh katalis, panas dan tekanan
tinggi. Pada proses ini,ketika kondensasi tetap berlangsung, polimer membentuk
rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi resin thermosetting.
Temperatur curing dilakukan pada sekitar temperatur 120 Celcius dan pH < 5.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Urea-Formaldehid

1. Katalis
Penggunaan katalis pada suatu reaksi akan meningkatkan laju reaksi tersebut. Begitu
juga yang terjadi pada reaksi urea-formaldehid ini. Laju reaksinya akan meningkat jika
digunakan katalis. Katalis yang diguanakan pada percobaan ini adalah NH
4
OH karena
reaksi ini berlangsung pada kondisi basa.
2. Temperatur
Kenaikan temperatur selalu mengakibatkan peningkatan laju suatu reaksi. Namun,
kenaikan temperatur ini dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk,
bergantung pada jenis reaksi tersebut (eksoterm atau endoterm). Oleh karena itu,
diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Kenaikan temperatur juga dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-
formaldehid. Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang
baru, sehingga memperkecil ukuran molekul resin.
3. Waktu Reaksi
Jumlah dan sifat produk yang dihasilkan dari suatu reaksi juga dipengaruhi oleh waktu
reaksi. Makin lama waktu reaksi, jumlah produk yang dihasilkan makin banyak
akibatnya, resin yang dihasilkan akan berkadar tinggi dan memiliki Mr tinggi.
Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu berleher yang dilengkapi
kondensor ohm meter, termometer, agitator. Kondensor berfungsi mengembunkan air
yang menguap selama proses polimerisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat
tercapainya kesetimbangan reaksi. Agitator berfungsi membuat larutan tetap homogen
selama proses berlangsung.
Kerugian penggunaan urea-formaldehid sebagai resin dibandingkan polimer lain
adalah resistensinya terhadap kadar air (moisture) apalagi jika dikombinasikan dengan
panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan monomer
monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer. Monomer ini biasanya
beracun misalnya formaldehid yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, ada
baiknya bila kita akan menggunakan peralatan makan yang terbuat dari bahan polimer,
sebaiknya peralatan tersebut direndam dahulu dengan air panas dengan tujuan agar
monomer monomer yang belum sempurna bereaksi terlepas pada air rendaman.

2.1.3 Pencetakan Resi n urea-formaldehid
a. Cetak Tekan
Prinsip cetak tekan dibambarkan pada gambar di bawah ini. Sejumlah bahan
dimasukan dalam cetakan logam yang telah dipanaskan terlebih dahulu. Pada waktu
cetakan ditutup, bahan yang telah lunak tertekan sehingga mengalir mengisi rongga
cetakan. Bahan yang digunakan dapat berbentuk serbuk atau tablet prabentuk. Tekanan
yang lazim digunakan berkisar antara 0,7 sampai 55 Mpa, tergantung pada bahan yang
digunakan dan bentuk produk. Suhunya berkisara antara 120 hingga 205C. Panas
sangat penting bagi resin termosetting, karena pertama-tama diperlukan untuk plastisasi,
kemudian untuk polimerisasi atau untuk pengerasan. Serbuk perlu dipanaskan secara
merata, suatu hal yang cukup sulit karena daya hantar panas bahan tidak baik.
Beberapa jenis bahan diolah dengan penekanan, akan tetapi siklus pemanasan dan
pendinginan cetakan yang cepat akan menimbulkan kesulitan. Produk mungkin cacat
sewaktu dikeluarkan bila pendonginan cetakan tidak sempurna.
Ada bermacam jenis mesin pres hidrolik, mulai dari yang dikendalikan dengan
tangan sampai kepada jenis otomatik. Fungsi dari pres adalah memberikan tekanan dan
panas yang cukup sekaligus sehingga terjadi plastisasi yang sempurna dari bahan. Panas
yang diperlukan dapat dialirkan melalui pelat peemanas, atau langsung ke cetakan dan
berasal dari uap, cairan yang dipanaskan, listrik atau berfrekuensi tinggi.
b. Cetak Transfer
Pada proses cetak transfer, serbuk termosetting atau benda prabentuk diletakkan pada
tempat tersendiri atau alam ruang tekanan di atas rongga cetakan, seperti tampak pada
gambar di bawah ini. Di sini bahan mengalami plastisasi akibat panas dan tekanan dan
diinjeksikan ke dalam rongga cetakan, sebagai cairan panas, di sini bahan tersebut
kemudian mengalami pengerasan. Waktu reaksi pengerasan untuk cetak-transfer lebih
singkat dibandingkan proses cetak-tekan. Waktu pengisian pun lebih singkat karena
digunakan bahan pembentuk yang lebih besar yang dapat dipanaskan lebih cepat. Proses
ini sangat cocok untuk membuat bagian-bagian yang memerlukan sisipan logam yang
keecil, karena bahan plastik yang panas memasuki rongga cetakan secara bertahap tanpa
tekanan yang tinggi. Bentuk yang rumit dan bentuk dengan variasi penampang yang
besar dapat juga duhasilkan dengan cara cetak transfer. Keterbatasan dari proses ini
ialah: kehilangan bahan dalam saluran pengalir, spru dan harga cetakan yang lebih
mahal dibandingkan dengan cetakan pada proses cetak-tekan.
c. Cara Injeksi Bahan Termosett
Bahan termosett dalam batas-batas tertentu dapat dibentuk dengan cara cetak-jet.
Setelah dimodifikasi mesin cetak-injeksi untuk bahan termoplastik, dapat diubah untuk
keprluan cetak jet. Nosel, yang merupakan bahan terpenting dari mesin harus dapat
dipanaskan dan didinginkan selama siklus injeksi. Mula-mula resin dipanaskan dalam
silinder yang menglilingi penekanan, sampai lunak namun belum terpolimerisasi. Pada
waktu penekan menekan resin melalui nosel ke dalam cetakan, terjadi panas tambahan.
Pada saat cetakan penuh, nosel didinginkan dengan cepat dengan mengalirkan air untuk
mencegah polimerisasi bahan yang tersisa.
Mesin ulir umpan balik kini mulai digantikan dengan mesin cetak-jet seperti tampak
pada gambar di bawah ini. Bahan masuk, (di bawah pengaruh gravitasi), sementara
didorong oleh ulir yang berputar, bahan sekaligus dipanaskan. Pada waktu ulir berputar,
bahan terplastisasi di muka ulir, dan masih terhalang oleh plunyer sampai terkumpul
sejumlah bahan tertentu. Plunyer kemudian turun, dan ulir memaksa bahan memasuki
ruang transfer. Bahan kemudian ditekan memasuki rongga cetakan.

2.1.4 Kegunaan resin urea-formaldehid

1. Bahan ini digunakan untuk barang-barang kecil yang digunakan sehari-hari seperti
pelindung cahaya, soket, alat-alat listrik, kancing, tutup wadah, kotak, baki, dan
mangkuk.
2. Salah satu jenis resin yang digunakan sebagai bahan perekat dan pelapis kayu atau
kertas.
3. Resin ini digunakan untuk mencegah berkerut dan kusutnya kain katundan untuk
mencegah menyusutnya kayu.
4. Digunakan untuk laminating.
5. Karena resin ini sangat terang warnanya dan sehingga lebih cocok untuk pemakaian
dekoratif. Contohnya : Counter berwarna cerah dan taplak-taplak dibuat dengan
kertas yang diimpregnasi resin urea, serta kayu lapis interior dekoratif biasanya
menempel dengan resin urea karena resin fenol yang berwarna gelap bisa mendai
lapisan pernisnya. Akan tetapi, kayu lapis eksterior merekat dengan damar fenol
karena mempunyai ketahanan cuaca yang lebih baik.
6. Dalam bidang koting, resin urea-formaldehid kadangkala dipadukan dengan alkyd
baking enemels untuk memperbaiki kekerasan.
7. Resin urea dipergunakan untuk memberikan ketahanan crease danshrink kepada
produk melalui reaksi-reaksi ikat silang.
8. Aplikasi utama lainnya dari polimer urea-formaldehid adalah dalam menginsulasi
busa. Hal ini biasanya difabrikasi on-site dengan peralatan pembusaan yang portable.
Bahan-bahannya mencakup resin, surfaktan untuk menstabilkan busa, katalis
(biasanya asam fosfat), dan udara bertekanan. Surfaktan dan katalis biasanya
dicampur terlebih dahulu. Ketiga komponen tersebut (resin, surfaktan plus katalis,
dan udara) kemudian dipompakan secara terpisah ke dalam wadahnya untuk diisikan.
Busa terbentuk dalam beberapa menit dan mengeras secara sempurna dalam sehari.
Telah banyak kontroversi di sekitar pemakaian busa urea-formaldehid untuk
menginsulasi rumah karena aspek-aspek kesehatan yang timbul dari lepasnya uap
formaldehida.





2.1.5 Dampak resin urea formaldehid

2.1.5.1 Dampak terhadap tubuh
Resin urea formaldehid ini memiliki resistensi yang rendah terhadap air dan kondisi
yang panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan monomer
monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer. Monomer ini biasanya
dilepaskan dalam bentuk formaldehid atau formalin.
Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa
menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi jadi asam
format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering,
hipotermia, juga koma, atau sampai kepada kematiannya.
Apabila bahan yang menggunakan resin urea formaldehid terpapar panas, maka
resin urea ini akan melepaskan molekul formaldehid. Formaldehid dalam suhu
ruangan ditemukan dalam bentuk gas. Apabila kadar di udara lebih dari 0.1 mg/kg,
formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa,
yang menyebabkan keluar air mata, pusing, tengorokan serasa terbakar, serta
kegerahan.
Iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluar air mata, pusing,
teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan
Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein,
sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang
menghisap formaldehida terus-terusan terserang kanker dalam hidung dan
tenggorokannya, sama juga dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan
papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar
yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan, tidak menimbulkan
pengaruh karsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat tersebut.

2.1.5.2 Dampak terhadap lingkungan
Resin ini termasuk kedalam golongan polimer thermosetting sehingga tahan terhadap
panas. Penanggulangan bahan ini tidak dapat dilakukan secara sederhana. Karena
bahan ini jika rusak tidak dapat dibentuk kembali, maka hal yang dapat dilakukan
adalah :
- Membuatnya menjadi barang baru (recycle)
- Dibakar dengan suhu pemanasan yang sangat tinggi, yaitu menggunakan insenerator
( suhu 800-1000
o
C)
2.1.6 Penanggulangan limbah polimer resin urea-formaldehid
Alat yang digunakan untuk melakukan pembakaran polimer ini adalah insenerator.
Insenerator dapat membakar dan mengubah limbah hingga yang tersisa hanya abu dan
gasnya saja. Insenerator akan membakar polimer ini dengan suhu sangat tinggi, yaitu
800-1000
o
C.
2.1.8.a Insenerator skala kecil
2.1.8.b Insenerator skala besar
Gas hasil pembakaran polimer tersebut masih mengandung zat berbahaya, maka untuk
meminimalisirnya dilakukan proses pengolahan lanjutan, yaitu dengna kondensasi.
Kondensasi merupakan satu metoda untuk mengubah gas menjadi zat cair. Hasil dari
kondensasi ini (cairan) akan mengandung za berbahaya lebih sedikit dari limbah dalam
bentuk gasnya. Setelah cair, limbah tersebut dapat diolah atau difiltrasi untuk menjadi air
pemakaian luar (bukan untuk konsumsi makhluk hidup) atau dapat langsung dibuang ke
lingkungan

2.2. Resin Fenol Formaldehid
Fenol formaldehid merupakan resin sintetis yang pertama kali digunakan secara
komersial baik dalam industri plastik maupun cat (surface coating). Sifat bahan keras,
kuat dan awet dapat dicetak dengan berbagai kondisi.

Definisi Resin Phenol Formaldehide

Phenol formaldehid termasuk kelompok resin sintetis yang dihasilkan dari reaksi
polimerisasi antara phenol dengan formaldehid. Phenol formaldehid dapat diaplikasikan
sebagai vernis karena dapat membentuk lapisan film yang kering.

Resin Fenol Formaldehid termasuk polimer thermoset. Polimer Thermoset memiliki
perilaku sebagaimana logam yang getas, gelas, atau keramik sebagai akibat dari struktur
rantai molekulnya yang kaku dengan ikatan kovalen membentuk jejaring 3 dimensi.
Pada saat polimerisasi jejaring terbentuk lengkap dan terbentuk kaitan silang tiga
dimensi secara permanen.

Proses pembentukan tidak bersifat irreversible. Tidak seperti halnya polimer
thermoplastik, thermoset tidak memiliki Tg (temperatur transisi gelas yang jelas.
Kekuatan dan kekerasan dari thermoset pun tidak banyak dipengaruhi oleh kenaikan
temperatur dan laju deformasi.

Sifat-Sifat Polimer Termosetting
Sifat produk akhir berbeda terutama karena rumusan bahan mentahnya, jenis dan
banyaknya katalis, pengisi, dan pemilihan medium dalam hal resin fenol.
Keuntungannya adalah sebagai berikut :

1. Mudah dibentuk, dan menguntungkan dalam kestabilan dimensi. Kurang
penyusutannya dan kurang keretakannya.
2. Unggul dalam sifat isolasi listrik.
3. Relatif tahan panas dan dapat padam sendiri.
4. Unggul dalam ketahanan asam
Kerugiannya adalah sebagai berikut :

1. Kurang tahan terhadap alkali
2. Aslinya agak berwarna, jadi tak bebas dalam pewarnaan
3. Ketahanan busur listriknya tidak baik

2.2.1. Jenis resin fenol formaldehid
Berdasarkan perbandingan mol reaktan dan jenis katalis yang digunakan, resin
phenol formaldehid dibagi menjadi 2 jenis yaitu novolak dan resol.
Novolak yang bersifat termoplast. Jenis novolak dibuat pada suasana asam dengan
penambahan HCl, suhu 900C, dan waktu reaksi 5 jam. Novolak merupakan hasil reaksi
antara phenol ekses dengan formaldehid oleh adanya katalis asam. Jenis katalis asam
yang sering digunakan adalah asam sulfat, asam klorida, dan asam oksalat
dengan konsentrasi rendah. Hasil reaksi akan membentuk produk yang termoplast
dengan berat molekul500 - 900. Kondisi optimum jenis novolak diperoleh pada pH 2,5
dan perbandingan reaktan 1 : 0,8. Agar novolak menjadi bersifat termoset maka
membutuhkan pemanasan dan penambahan crosslinking agent (Frisch, 1967). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya pH dan perbandingan reaktan,
waktu kering semakin lama. Pada novolak, reaksi polikondensasi dapat berlangsung
sempurna sampai membentuk rantai dengan struktur methylenelink dan phenol
terminate tanpa adanya gugus fungsional dan tidak dapat cure dengan sendirinya.Pada
suasana asam, raeksi kondensasi (pembentukan jembatan methylene) berjalan cepat
dibanding pembentukan gugus methylol (Hesse, 1991). Aplikasi jenis novolak sebagai
vernis kayu menghasilkan warna yang lebih cerah (tingkat gloss tinggi) dibanding
dengan jenis resol.
Resol bersifat thermoset, merupakan hasil reaksi antara phenol dengan formaldehid
ekses oleh adanya katalis basa. jenis resol dibuat pada suasana basa dengan penambahan
NaOH, suhu 800C dan waktu reaksi 3 jam. Untuk jenis resol dicapai pada pH 10 dan
perbandingan mol reaktan 1 : 2. Jenis katalis basa yang sering digunakan adalah natrium
hidroksida dan ammonium hidroksida pada pH =8-11. Produk phenol formaldehid yang
dihasilkan dengan katalis natrium hidroksida akan mempunyai sifat larut dalam air dan
apabila katalis yang digunakan ammonium hidroksida akanmemberikan sifat tidak larut
dalam air yang dikarenakan terbentuk bis dan trishydroksylbenzylamin (Martin, 1956).
Adapun cara pembuatan Novolak adalah sebagai berikut (Rokhati, 2008) :
Disiapkan fenol
Ditambahkan formaldehid
Diperoleh monomethylol phenol
Ditambahkan fenol
Diperoleh dihidroksi diphenil methane
Selesai

2.3. Pembuatan Resin Fenol Formaldehida
Phenol formaldehid dihasilkan dari reaksi polimerisasi antara phenol dan
formaldehid. Reaksi terjadi antara phenol pada posisi ortho maupun para dengan
ormaldehid untuk membentuk rantai yangcrosslinking dan pada akhirnya akan
membentuk jaringan tiga dimensi (Hesse, 1991).

2.4. Kegunaan resin Fenol Formaldehida
Salah satu aplikasi dari resin phenol formaldehid adalah untuk vernis. Vernis adalah
bahanpelapisakhir yang tidak berwarna (clear un pigmented coating ). Istilah vernis
digunakan untuk kelompok cairan jernih yang memiliki viskositas 2 3 poise, yang bila
diaplikasikan akan membentuk lapisanfilm tipis yang kering dan bersifat gloss (glossy
film). Proses pengeringan pada vernis dapat melalui penguapan (evaporasi) dari solvent,
oksidasi dengan udara, dan polimerisasi sejumlah unsur yangterkandung dalam vernis.
Hasil akhir dari vernis adalah lapisan film transparan yang memperlihatkantekstur
bahan yang dilapisi.Perkembangan phenol formaldehid untuk aplikasi vernis dan
lacquer telah mampu menyaingi produk melamin formaldehid karena harganya yang
lebih murah. Selain itu, hasil aplikasinya dapat memunculkan jenis vernis dan lacquer
yang berwarna sedangkan melamin formaldehid tidak berwarna sehingga bila
diinginkan hasil aplikasi yang berwarna tidak perlu penambahan zat warna.Produk
phenol formaldehid ada yang memberikan warna jernih kekuning-kuningan tetapi ada
jugayang kecoklatan sampai kemerah-merahan.
Selain itu digunakan untuk bahan pelapis dan laminating pengikat batu gurinda dan
pengikat logam, dapat dicetak menjadi kotak, tutup botol, tangkai pisau, kotak radio dan
TV
Aplikasi Penggunaan Resin Phenol Forlmaldehide

Bentuk yang rumit dapat dicetak. Digunakan untuk komponen dalam bidang listrik dan
komunikasi. Tabel di bawah ini menunjukan jenis, karakteristik dan penggunaan.













Tabel 12.1 Karakteristik Dan Penggunaan Polimer Termosetting


Jenis


Dasar

Karakteristik

Penggunaan
Umum Bubuk kayu
atau bubuk
tanaman
Murah, isolasi listrik
yang baik.
Alat listrik secara umum
soket dst.
Isolasi
listrik
Bubuk kayu
atau bubuk
tanaman
Sifat listrik dan
tahan air serta sifat
mekanisnya cukup
baik
Komponen yang isolasi
listriknya diperlukan,
untuk alat komunikasi,
otomotif dan mesin
lainnya.
Isolasi
frekuensi
tinggi
Anorganik Sifat listrik yang
sangat baik terutama
untuk frekuensi
tinggi
Komponen untuk alat
komunikasi tanpa kabel,
jaringan listrik frekuansi
tinggi.
Mesin-mesin
listrik
Bubuk kertas
dan bahan
berserat
lainnya.
Sifat listrik dan
mekaniknya baik,
terutama kekuatan
impaknya.
Komponen mesin-mesin
listrik (kotak, tutup dan
komponen lainnya untuk
operasi mekanik)
Tahan
panas
Asbes dan
bahan
anorganik
lainnya.
Tahan panas, baik
untuk penggunaan
komponen tahan
bakar dan tahan
busur listrik.
Komponen untuk kapal
laut, kereta api, dan
peralatan listrik berat.

Selain hal di atas, resin fenol juga kadang-kadang digunakan sebagai resin tukar ion
ketika gugus-gugus fungsional yang lain hadir, juga dipakai sebagai lak dan pernis,
senyawa cetakan, bahan laminating (teristimewa untuk panel dinding dekorasi dan
taplak meja, dan bahan perekat (khususnya untuk kayu lapir dan particle board).

2. Penggunaan Resin Phenol Forlmaldehid Sebagai Vernis

Novolak yang bersifat termoplast dan resol yang bersifat termoset. Jenis novolak dibuat
pada suasana asam dengan penambahan HCl, suhu 90
o
C, dan waktu reaksi 5 jam,
sedangkan jenis resol dibuat pada suasana basa dengan penambahan NaOH, suhu 80
o
C
dan waktu reaksi 3 jam. Hasil resin phenol formaldehid diaplikasikan sebagai vernis
pada kayu jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya pH dan
perbandingan reaktan, waktu kering semakin lama. Kondisi optimum jenis novolak
diperoleh pada pH 2,5 dan perbandingan reaktan 1 : 0,8, sedangkan untuk jenis resol
dicapai pada pH 10 dan perbandingan mol reaktan 1 : 2.

Aplikasi jenis novolak sebagai vernis kayu menghasilkan warna yang lebih cerah
(tingkat gloss tinggi) dibanding dengan jenis resol.

Tabel 12.2 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap waktu kering








Dari data tabel 12.2 dapat dilihat bahwa dengan semakin tinggi pH reaksi, waktu kering
vernis semakin lama. Dengan naiknya pH maka kecepatan reaksi kondensasi semakin
lambat, semakin naik pH maka rantai yang dibentuk semakin bercabang sehingga BM
polimer bertambah besar. Perbandingan reaktan (rasio mol phenol : formaldehid) akan
berpengaruh pada properties produk dan struktur polimer yang dihasilkan.

Tabel 12.2 juga menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan reaktan (P:F), waktu
kering vernis semakin lama. Semakin tinggi perbandingan P:F maka struktur rantai
yang dibentuk semakin kompleks (mulai dari short chain polimers hingga high cross-
linked polymers). Semakin besar BM senyawa resin yang dihasilkan, mengakibatkan
waktu kering semakin lama. Karena rasio Formaldehid kurang dari satu mol per mol
phenol maka walaupun mempunyai fungsionalitas yang cukup namun tidak mampu
untuk membentuk produk yang termoset tetapi membentuk produk yang termoplast
dengan berat molekul 500-900. Agar novolak menjadi bersifat termoset maka
dibutuhkan pemanasan dan penambahan crosslinking agent (Frisch, 1967).

Pada jenis resol, reaksi berlangsung pada suasana basa. Pada suasana basa reaksi addisi
berjalan dengan cepat sedangkan reaksi kondensasi (pembentukan jembatan methylen)
berjalan lambat sehingga produk yang terbentuk bersifat termoset.






(Jenis
novolak)
pH
Waktu kering (jam)
P:F = 1:0,5 P:F =
1:0,75
P:F = 1:0,8 P:F =
1:0,85
P:F = 1:0,9
1 1.5 2.5 2.25 4 5.5
2 1.5 3 4 12 24
2,5 2 4 5.25 12 48
3 4,25 5 16 24 72
4 24 24 24 48 72
Tabel 12.3 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap waktu kering
(Jenis
resol) pH
Waktu kering (jam)
P:F = 1:1,25 P:F = 1:1,5 P:F = 1:2 P:F = 1:2,5 P:F = 1:3
9 0.5 0.75 1 1.25 1.5
10 1 1.25 1.25 1.75 1.75
11 1.5 1.67 1.67 2.25 2.25
12 2.25 2.42 2.42 3.25 3.25
13 2.5 2.87 2.87 4 4

Tabel 12.3 menunjukkan bahwa pengaruh pH dan perbandingan reaktan terhadap waktu
kering vernis tidak berbeda dengan yang terjadi pada jenis novolak. Namun waktu
kering vernis jenis resol lebih cepat dibanding dengan jenis novolak, karena resin jenis
novolak mempunyai sifat termoplast, sedangkan resol mempunyai sifat termoset.

Nilai gloss merupakan pengamatan secara visual hasil refleksi dari permukaan suatu
bahan. Semakin tinggi nilai gloss, maka permukaan bahan yang dilapisi akan semakin
mengkilap. Oleh karena itu sering kali nilai gloss dapat digunakan untuk
menggambarkan kualitas dari vernis. Tabel 3 dan 4 menggambarkan hasil pengukuran
gloss dari resin phenol formaldehid yang digunakan sebagai vernis pada kayu jati.

Tabel 12.4 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap Nilai Gloss

(Jenis
novolak)
pH
Nilai Gloss (%)
P:F =
1:0,5
P:F = 1:0,75 P:F = 1:0,8 P:F = 1:0,85 P:F = 1:0,9
1 52,7 60,5 73,1 60 60
2 60,4 71 75 70,5 63
2,5 67,6 70,5 78,4 64,7 63
3 60,1 58,5 63,5 54,8 57,2
4 43,3 50,5 50 48,1 45

Tabel 12.5 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap Nilai Gloss

(Jenis
resol)
pH
Nilai Gloss (%)
P:F = 1:1,25 P:F = 1:1,5 P:F = 1:2 P:F = 1:2,5 P:F = 1:3
9 7,5 8,5 21,5 15 6,8
10 8 12 26,6 18,8 7
11 6 5,6 12 7,3 4,6
12 3,9 3,4 9,5 4,7 2,5
13 3 3,2 8,6 2,7 2
Data hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat gloss tertinggi pada jenis novolak
diperoleh pada pH 2,5 (tabel 12.4), sedangkan pada resol diperoleh pada pH 10 (tabel
12.5). Pada pH semakin tinggi, selain formaldehid bereaksi dengan phenol membentuk
resin phenol formaldehid, formaldehid juga akan mengadakan
reaksi canizzaromenghasilkan asam formiat dan methanol sehingga reaksi polimerisasi
akan berjalan lambat dan tingkat gloss menjadi turun. Pengaruh perbandingan reaktan
terhadap nilai gloss menunjukkan bahwa nilai gloss tertinggi untuk novolak diperoleh
pada perbandingan mol phenol : formaldehid 1:0,8 (tabel 12.4), sedangkan untuk resol
pada perbandingan 1:2 (tabel 4). Nilai gloss novolak lebih tinggi dibanding resol.

Tabel 12.6 Perbandingan P:F terhadap warna vernis

Resol Novolak
P:F Warna P : F Warna
1:1,25 Merah kecoklatan 1:0,5 Kuning kecoklatan
1:1,5 Merah kekuningan 1:0,75 Kuning kecoklatan
1:2 Merah kekuningan 1:0,8 Kuning kecoklatan
1:2,5 Merah kecoklatan 1:0,85 Kuning kecoklatan
1:3 Merah kecoklatan 1:0,9 Kuning kemerahan

Tabel 12.6 menunjukkan hasil warna kayu jati yang telah divernis dengan vernis jenis
novolak dan resol dari berbagai perbandingan phenol dan formaldehid. Vernis jenis
resol yang memberikan warna yang lebih tua dibanding dengan vernis jenis novolak

2.5. Pengaruh Terhadap Badan
Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu
lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini melepaskan
formaldehida pelan-pelan, formaldehidamerupakan salah satu polutan dalam ruangan
yang sering ditemukan. Apabila kadar di udara lebihdari 0,1 mg/kg, formaldehida yang
terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa,yang menyebabkan
keluarnya air mata, pusing, teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan.Jika terpapar
formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa menyebabkan
kematian.Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi menjadi asam format yang
meningkatkan keasamandarah, tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia,
juga koma, atau sampai kepada kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida bisa
menimbulkan terikatnya DNA oleh protein, sehingga menggangguekspresi genetik yang
normal. Binatang percobaan yang menghisap formaldehida terus-terusan erserang
kanker dalam hidung dan tenggorokannya, sama juga dengan yang dialami oleh
para pegawai pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila
formaldehida dalamkadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan,
tidak menimbulkan pengaruhkarsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat
tersebut.
2.6. Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut
Pertolongan tergantung pada konsentrasi cairan dan gejala yang dialami korban.
Sebelum ke rumahsakit, berikan arang aktif (norit) bila tersedia. Jangan melakukan
rangsangan agar korban muntah,karena akan menimbulkan resiko trauma korosif pada
saluran cerna atas. Di rumah sakit biasanya timmedis akan melakukan bilas lambung
(gastric lavage), memberikan arang aktif (walaupun pemberianarang aktif akan
mengganggu penglihatan pada saat endoskopi). Endoskopi adalah tindakan
untuk mendiagnosis terjadinya trauma esofagus dan saluran cerna. Untuk meningkatkan
eliminasi formalindari tubuh dapat dilakukan hemodialisis (cuci darah). Tindakan ini
diperlukan bila korbanmenunjukkan tanda-tanda asidosis metabolik berat.




Literatur: http://www.scribd.com/doc/79284205/Resin-Fenol-urea-Formaldehid