Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN AKHIR

KAJIAN EPIDEMI PENYAKIT BULAI


PERONOSCLEROSPORA MAYDIS (ROCIB) UNTUK
MENDUKUNG PRIMATANI JAGUNG DI KABUPATEN
BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT

SURAT PERINTAH KERJA PELAKSANAAN PENELITIAN


PL.757/LB.620/I.1/2009
TANGGAL 20 PEBRUARI 2009

IMAN SUSWANTO
PERLINDUNGAN TANAMAN

UNIVERSITAS TANJUNGPURA
Bekerjasama dengan
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
TAHUN 2009

LAPORAN AKHIR KEGIATAN

1.

Nomor dan tanggal Kontrak

: PL.757/LB.620/I.1/2009
tanggal 20 Pebruari 2009

2.

Judul Penelitian

: Kajian

epidemi

penyakit
bulai
(Rocib) untuk
mendukung primatani jagung di Kabupaten
Bengkayang, Kalimantan Barat

Peronosclerospora

maydis

3.

Penanggungjawab kegiatan

: Dr. Ir. Iman Suswanto, MP

4.

Nilai kontrak

: Rp.70.000.000,- (Tujuh puluh juta rupiah)

5.

Jangka waktu

: 300 hari
Mulai tanggal 1 Maret 2009
Selesai tanggal 30 Desember 2009

6.

Dana yang sudah diterima

: Rp. 70.000.000,- (Tujuh puluh juta rupiah)

7.

Lokasi kegiatan

: Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat

8.

Kegiatan yang telah dilaksanakan : Penelitian epidemi penyakit bulaui pada jagung

9.

Rencana kegiatan selanjutnya

: Penelitian Tahun II berupa Penerpan Model


Penyakit sebagai dasar pengendalian bulai

10. Masalah-masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan : -

Pontianak, 25 Nopember 2009


Mengetahui,
Ketua Lembaga Penelitian Untan

Prof. DR. H. M. Asrori, M.Pd


NIP. 131 459 754

Penanggungjawab,

Dr. Ir. Iman Suswanto, MP


NIP. 19681012 199303 1 004

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT. atas limpahan nikmatNya hingga kami dapat
menyelesaikan program penelitian KKP3T tahun pertama dengan judul Kajian Epidemi
Penyakit Bulai Peronosclespora Maydis (Rocib) untuk Mendukung Kegiatan Primatani
Jagung di Kabipaten Bengkayang Kalimantan Barat.
Program ini merupakan kerjasama kemitraan penelitian antara perguruan tinggi
dengan Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Universitas Tanjungpura
Pontianak merupakan salah satu perguruan tinggi yang mendapatkan kesempatan
melaksanakan program ini pada tahun 2009-2010.
Atas terlaksananya program ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala
Badan Litbang Pertanian, yang telah memberi kepercayaan dan dana bagi program ini.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pimpinan Lembaga Penelitian Untan,
Prof.. HM. Asrori, M.Pd. dan Dekan Fakultas Pertanian Untan, Dr.Ir. Radian, MS yang
telah memberikan ijin bagi terlaksananya program ini ini. Selain itu ucapan terima kasih
juga tertuju kepada rekan-rekan dari BPTP Kalbar yang ikut membantu terlaksananya
penelitian ini.
Semoga hasil dari program ini dapat ditindaklanjuti dan bermanfaat bagi
masyarakat. Amin.

Pontianak, 26 November 2009


Ketua Tim Pelaksana

Dr.Ir. Iman Suswanto, MP.

DAFTAR ISI
Halaman pengesahan

Ringkasan Penelitian ..
Prakata
..
Daftar Isi
Daftar Tabel .
Daftar Gambar
.
Daftar Lampiran .
1.
2.
3.

4.
5.
6.

7.

Pendahuluan

Tujuan Kegiatan .
Keluaran yang diharapkan
...
3.1. Keluaran Jangka Panjang ..
3.2. Keluaran Penelitian Tahun berjalan
..
Lingkup dan Rencana Kegiatan ....
Metodologi
...
Hasil dan Pembahasan ....
6.1. Agihan penyakit bulai
6.2. Uji penularan patogen .
6.3. Tanda dan gejala penyakit .
6.4. Penelitian model penyakit bulai .
Kesimpulan dan Saran
................................
Daftar Pustaka
Daftar Tabel
Daftar Gambar

i
ii
iii
iv
v
vi
vii
1
3
3
3
4
4
5
10
10
12
14
17
31

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Agihan penyakit bulai di beberapa sentra jagung Kalimantan Barat

11

Tabel 2. Hasil pengamatan blotter dan seedling test beberapa varietas local dari
Sanggau Ledo
..

14

Tabel 3. Hasil perhitungan regresi hubungan antara intensitas penyakit bulai


dengan berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh
varietas yang ditanam pada waktu berbeda
.

21

Tabel 4. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang
ditanam pada 24 Mei 2009 .

28

Tabel 5. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang
ditanam pada 14 Juni 2009 ..

29

Tabel 6. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang
ditanam pada 5 Juli 2009 ..

30

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Inokulasi bulai dari sumber inokulum alami ke tanaman uji .....
Gambar 2.

12

Uji benih dengan metoda blotter test bulai dan seedling test untuk
mengetahui cara penularan bulai melalui biji .

13

Gambar 3.

Gejala dan tanda pada tanaman terinfeksi bulai ..

16

Gambar 4.

Pertambahan tanaman sakit setiap minggu pada beberapa


golongan waktu tanam
.

18

Gambar 5. Laju infeksi penyakit bulai pada tiga waktu tanam berbeda ....

19

Gambar 6. Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca


dengan intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam
periode awal, Sanggau Ledo 2009.

23

Gambar 7.

Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca


dengan intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam
periode pertengahan, Sanggau Ledo 2009 ...
24

Gambar 8.

Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca


dengan intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam
periode akhir, Sanggau Ledo 2009 25

Gambar 9.

Sebaran data cuaca antara kondisi yang kondusif (T2) dan kurang
kondusif
(T1)
tehadap
perkembangan
penyakit
bulai 26
..

Ringkasan Penelitian
Kajian epidemi penyakit bulai Peronosclerospora maydis (Rocib) untuk mendukung
primatani jagung di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat

Penelitian Tahun I mengenai epidemiologi bulai di Kalimantan Barat. Penelitian


dilakukan dengan survai agihan/distribusi dan intensitas penyakit di beberapa sentra
jagung Kalbar. Kajian hubungan antara intensitas penyakit dengan berbagai anasir
penyakit dilakukan melalui penelitian di lahan petani Sanggau Ledo yang merupakan
daerah endemis bulai. Hubungan antara intensitas penyakit bulai dengan berbagai
anasir penyakit disusun dalam model regresi Y= a + b1x1 + b2x2 + ........ + error. Uji
lintas dilakukan untuk menjelaskan hubungan berbagai variabel secara kualitatif.
Pendukung penelitian lapangan dilakukan beberapa uji di laboratorium dan rumah kasa
meliputi uji penularan melalui benih dan tanaman muda serta pengamatan gejala dan
tanda pada tanaman sakit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bulai telah tersebar di berbagai sentra
jagung di Kalimantan Barat seperti di Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, Singkawang,
Sambas dan Bengkayang. Pola penularan bulai secara acak menunjukkan bahwa
patogen ditularkan melalui udara. Penelitian juga membuktikan bahwa penyakit tidak
dapat ditularkan melalui benih. Sebagian besar petani menggunakan benih dari
tanaman musim tanaman sebelumnya. Pengamatan gejala mikro dan tanda penyakit
menunjukkan bahwa unit penularan bulai di Kalimantan Barat berupa konidia. Deposisi
konidia pada permukaan daun sangat melimpah, tetapi konidia yang mampu bertahan
dan menginfeksi sangat rendah. Hal ini disebabkan penetrasi hifa hanya terjadi melalui
stomata. Untuk mencapai stomata, tabung kecambah memanjang sampai beberapa
milimeter. Pembentukan tabung kecambah merupakan fase kritis pertumbuhan
patogen. Hal ini dapat menjelaskan pengaruh cuaca sangat besar terhadap
perkembangan penyakit. Faktor cuaca yang perlu diperhatikan dalam mendukung
perkembangan bulai di Sanggau Ledo berupa suhu pagi, lama penyinaran, kecepatan
angin dan curah hujan. Pola perkembangan penyakit mengikuti bunga majemuk.
Infeksi primer terjadi melalui penularan konidia dari luar pertanaman. Penularan
sekunder terjadi di dalam pertanaman melalui penularan dari tanaman sakit ke
tanaman sekitarnya. Masa rentan penyakit sampai 4 MST. Tingkat serangan bulai
ditentukan oleh penggunaan varietas tahan, waktu tanam dan penerapan
pengendalian. Varietas tahan berupa P12 dan B 8/16, dan waktu tanam yang kurang
kondusif saat cuaca cerah dan kecepatan rata-rata angin relatif rendah (tanang). Upaya
pengendalian pada dasarnya berusaha menunda infeksi setelah masa kritis sampai 4
MST.

1. Pendahuluan
Salah satu kendala produksi jagung di Kalimantan Barat adalah penyakit bulai.
Penyakit ini perlu mendapat perhatian khusus karena sampai saat ini belum tersedia
varietas tahan dan teknik pengendalian yang memuaskan. Perbaikan sifat ketahanan
jagung terhadap bulai telah banyak dilaporkan, namun belum diperoleh varietas yang
benar-benar tahan. Varietas unggul saat ini lebih mengedepankan produktifitas,
kualitas gizi yang lebih baik, toleran stres lingkungan dan sisa biomas yang tetap hijau
(still green) untuk keperluan pakan ternak. Kombinasi sifat-sifat tersebut terbukti
mampu meningkatkan hasil, tetapi belum mampu mengatasi masalah penyakit bulai.
Kendala penyusunan varietas tahan bulai adalah umumnya sumber ketahanan
dikendalikan oleh banyak gen, dan patogen bulai sendiri mudah sekali membentuk ras
fisiologi baru untuk beradaptasi varietas baru (Subandi et al., 1982).
Beberapa pengujian jagung varietas unggul di BPTP Kalbar menunjukkan
bahwa varietas Bisma, Lamuru, Sukmaraga, Srikandi Kuning-1, Srikandi Putih-1, dan
Anoman-1 menunjukkan kerentanan terhadap bulai (BPTP Kalbar, 2006). Baru-baru ini,
Wakman & Rezha (2008) menyatakan bahwa pengujian 20 varietas dan 24 galur
diperoleh 2 varietas tahan yaitu Bisi 8/16 dan Bima 3, serta satu galur BMD 2 dengan
intensitas penyakit berturut-turut 2, 15 dan 7 %. Lebih lanjut dikatakan Wakman
(2008), perlakuan benih dengan beberapa dosisi aplikasi metal aksil tidak efektif
menekan infeksi bulai di Sanggau Ledo, Kalimantan Barat.
Hasil-hasil pengujian tersebut dapat menjadi kendala serius bagi program
pembangunan pertanian melalui pendekatan kawasan dan agribisnis jagung di
Kalimantan Barat. Pemerintah propinsi menetapkan 12 kawasan usaha agribisnis
terpadu (KUAT) sebagai daerah prioritas pengembangan pertanian. Badan Litbang
Pertanian Kalimantan Barat mendukung program KUAT dalam bentuk program rintisan
dan akselerasi inovasi teknologi pertanian (Prima Tani) di 6 lokasi KUAT. Salah satu
daerah KUAT adalah Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang yang menetapkan jagung
sebagai komoditas unggulan. Dalam rencana jangka panjang Pemprov Kalbar
mentargetkan penanaman jagung mencapai 700 ribu hektar pada akhir tahun 2010.
Saat ini Kabupaten Bengkayang merupakan daerah penghasil jagung terbesar di
Kalbar. Sayangnya, sejak tahun 1999 Sanggau Ledo dianggap sebagai salah satu

daerah endemis bulai di Indonesia. Dampak dari epidemi, selain menyebabkan


penurunan produksi, juga menimbulkan trauma bagi masyarakat untuk menanam
jagung kambali (komunikasi pribadi, 2008; BPTP Kalbar, 2006).
Menurut Wakman & Kontong (2000), kerugian akibat penyakit bervariasi antara
40-100%. Kerugian yang besar tersebut akan tetap terjadi selama kendala pengelolaan
penyakit bulai belum teratasi, antara lain keterbatasan teknologi pengendalian yang
hanya bertumpu pada penggunaan varietas tahan dan fungisida. Hal serupa telah
dilaporkan pula oleh Mikoshiba (1983) dan Subandi, et al. (1982), yang menyatakan
bahwa beberapa varietas tahan bulai seperti Arjuna TB, Lagaligo, Bayu dan Parikesit di
beberapa lokasi ternyata memperlihatkan respons rentan sampai agak tahan.
Penyakit bulai jagung disebabkan oleh Peronosclerospora yang merupakan
jamur obligat. Menurut van der Plank (1984), penyakit bulai tergolong high-sugar

disease, yang berarti kepekaan tanaman terhadap infeksi ditentukan oleh kadar gula
yang tinggi. Suswanto et al. (2008) menyatakan bahwa kadar gula total dalam jaringan
batang dan daun pada Pioneer 21, Sweet Boy, dan Bisi 21 dapat berperan sebagai
faktor predisposisi terhadap penyakit bulai. Ketiga varietas tersebut mempunyai laju
akumulasi gula total yang lebih tinggi dibandingkan Pioneer 12 dan jagung merah
(lokal) pada fase vegetatif awal. Pioneer 12 dan jagung merah Varietas menunjukkan
respons ketahanan terhadap bulai yang lebih baik.
Penelitian bulai di Kalimantan Barat umumnya terbatas pada satu aspek kajian
saja, misalnya pengaruh teknik pengendalian, varietas atau teknik budidaya di lahan
asam/gambut terhadap infeksi bulai. Penelitian epidemi bersifat menyeluruh meliputi
aspek patogen, inang dan lingkungan sehingga luarannya dapat menjelaskan peranan
masing-masing aspek dalam perkembangan penyakit. Penelliitan epidemiologi penting
dilakukan berkaitan dengan karakter iklim hutan hujan tropis yang relatif basah
sepanjang musim. Kondisi ini mendukung kelangsungan patogen melalui ketersediaan
inang, baik jagung maupun gulma, mendukung proses infeksi, penetrasi sampai
sporulasi dan bahkan pembentukan ras fisiologi baru.
Salah satu metoda yang memuaskan dalam menjelaskan hubungan antara
perkembangan penyakit dengan berbagai anasirnya adalah analisis lintas (path

analysis). Hasil analisis ini dapat mengetahui interaksi timbal balik antar anasir penyakit
dan dapat pula mengetahui pengaruh anasir secara langsung atau tidak langsung

terhadap perkembangan penyakit. Penggabungan kedua jenis pengaruh hasil uji lintas
diperlukan dalam upaya memperbesar alternatif pengendalian. Hasil ini tidak dapat
dicapai jika hanya menggunakan uji regresi, karena hanya dapat menginformasikan
anasir yang berpengaruh saja. Dengan mengkombinasikan kedua teknik pengujian,
maka akan diperoleh suatu model hubungan penyakit yang dapat dijelaskan baik
secara kualitatif maupun kauntitatif (Sastrahidayat, 1997).

2. Tujuan Kegiatan
Secara umum tujuan penelitian adalah menyusun model peramalan bulai yaitu
suatu upaya untuk memperkirakan kapan suatu penyakit berkembang ke arah ledakan
penyakit dan berapa besar kerusakan yang akan ditimbulkannya. Model peramalan
diperlukan karena pola perkembangan penyakit bulai dari musim ke musim tidak
menentu. Model penyakit membantu mengarahkan tindakan pengendalian, sehingga
biaya perawatan lebih efisien dan menjamin keberhasilan usaha tani. Untuk mencapai
sasaran tersebut diperluka beberapa tahapan penelitian dengan tujuan khusus sebagai
berikut:
1). Mengetahui agihan bulai di sentra jagung Kalbar; 2) Mengkaji faktor cuaca
yang berperan dalam perkembangan bulai; 3) Respons ketahanan varietas terhadap
bulai di Kalbar; dan 3) Penyusunan model peramalan bulai di sentra jagung Kalimantan
Barat.

3. Keluaran yang diharapkan


3.1. Keluaran jangka panjang
Keluaran secara lengkap diperoleh setelah tahun ke 2 (tahun 2010) sebagai
berikut:
a) Diperoleh model peramalan penyakit bulai di Kalbar. Model peramalan
sedapat mungkin menggunakan dasar peramalan yang paling sederhana misalnya satu
unsur cuaca, sehingga mudah digunakan namun mempunyai akurasi yang tinggi.
Penelitian ini tersedia dua kelompok dasar peramalan yaitu menggunakan unsur cuaca
dan spora bulai. Dengan dua komponen ini maka keakurasian model akan lebih
terjamin.

10

b) Diperoleh informasi agihan daerah endemis. Informasi ini membantu


penentuan varietas yang cocok untuk lokasi tertentu. Di masa yang akan datang
informasi ini juga dapat dikaitkan dengan peta kesesuaian lahan untuk pengembangan
jagung.
c) Diperoleh informasi pemilihan teknik pengendalian, khususnya melalui
pengaturan tanam dan pemilihan varietas.

3.2. Keluaran penelitian tahun berjalan


a) Informasi agihan bulai di beberapa sentra jagung Kalbar.
b) Pola perkembangan penyakit;
c) Model regresi sederhana penyakit bulai Y= a+b1x1+b2x2 + ....... + error;
d) Informasi

kulitatif

dan

kuantitatif

peranan

unsur

cuaca

terhadap

perkembangan penyakit.
4. Lingkup dan Rencana Kegiatan
Penelitian tahun I berkaitan dengan epidemiologi bulai di Kalimantan Barat.
Sebagian besar wilayah Kalbar memiliki curah hujan tinggi dan tersebar merata
sepanjang tahun. Di sentra-sentra jagung dapat dijumpai pola tanam jagungjagungjagung-jagung sehingga ketersediaan inang dapat dikatakan selalu tersedia sepanjang
musim. Permasalahannya adalah distribusi curah hujan yang tidak jelas antara musim
hujan dan kemarau menyebabkan perkembangan bulai dapat terjadi setiap musim
tanam. Oleh karena itu perlu pengkajian secara khusus berbagai anasir penyakit baik
dari sisi inang, patogen maupun lingkungan.
Penelitian yang dilakukan berupa survai agihan/distribusi dan intensitas penyakit
di beberapa sentra jagung Kalbar seperti Kabuapten Pontianak, Kubu Raya,
Singkawang, dan Sambas. Dari survay diperoleh beberapa sampel tanaman sakit dan
gulma yang diperkirakan dapat berperan sebagai inang. Sampel dibawa ke
laboratorium untuk diidentifikasi jenis patogen dan diperbanyak sebagai sumber
inokulan.
Penelitian lain adalah kajian hubungan antara intensitas penyakit dengan
berbagai anasir penyakit. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bengakyang yang
merupakan daerah endemis bulai. Berbagai anasir tersebut dapat dibuat dalam sebuah
model yang menggambarkan hubungannya dengan intensitas penyakit pada suatu

11

lokasi misalnya Y= a + b1x1 + b2x2 + ........ + error. Keterangan: Y merupakan variabel


tidak tetap berupa intensitas penyakit, sedangkan x1, x2, dan seterusnya merupakan
variabel tetap yang mewakili anasir tanaman inang, patogen dan lingkungan.
Model hubungan antara intensitas penyakit bulai (Y) dengan variabel-variabel
komponen penyakit (unsur cuaca dan kepadatan spora) ditunjukkan dengan gambar
garis-garis. Garis lurus (a-h) menunjukkan pengaruh langsung komponen penyakit tdh
intensitas penyakit. Besarnya indeks a-h dapat diketahui melalui uji regresi seperti yang
digambarkan pada paragraf sebelumnya. Uji lintas ini dapat menjelaskan secara kualitatif
mengapa suatu komponen penyakit Xn dapat berpengaruh nyata atau tidak nyata.
Penjelasan secara kualitatif tersebut dapat diketahui melalui garis lengkung (rij).

5. Metodologi
5.1. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian tahun I dilakukan pada periode kondusif bagi epidemi bulai yaitu
antara bulan Maret - Deseber 2009. Penelitian dilakukan di Kebun Percontohan BPTP
Kalbar di Lokasi Kuat Kabupaten Bengkayang, lahan petani jagung di Kabupaten
Pontianak, Kubu Raya, Singkawang dan Sambas, rumah kasa serta Laboratorium
Proteksi Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura.
5.2. Alat Penelitian
Alat pengamatan patogen berupa mikroskop cahaya, mikroskop stereo, kaca
pembesar, perangkap spora,

refraktometer, termos plastik, mortar, mikrotip,

mikrotube, mikropipet, labu takar, gelas piala, erlenmeyer, environtmental chamber,


pot, dan timbangan analitik. Alat-alat lainnya untuk kelengkapan kerja seperti, kamera
digital dan komputer untuk keperluan analisis data, pelaporan, dan dokumentasi.
5.3. Bahan Penelitian
Bahan penelitian terdiri atas Bisi 8/16 (sangat tahan), P12 (tahan), Sukmaraga
(rentan) dan P21 (sangat rentan). Bahan fiksasi miselium jamur lactophenol cotton
blue, vaselin, alkohol, kapas, KOH, gliserol, bufer NaH2PO4.H2O, Na2HPO4.12 H2O,
Natrium hipoklorit, obyek gelas, tabung reaksi, kertas merang, polibag dan pupuk
sintetis NPK. Bila diperlukan digunakan pestisida untuk pengendalian hama.

12

5.4. Pelaksanaan Penelitian


Penelitian dilakukan di laboratorium, rumah kasa, dan lapangan. Penelitian
terdiri atas: a) agihan penyakit bulai di sentra jagung kalbar; b) Uji patogen terbawa
benih, c) Pengamatan tanda dan gejala mikro di laboratorium dan d) penelitian model
penyakit bulai.

a) Agihan penyakit bulai di sentra jagung Kalbar


Agihan (distribution) penyakit bulai diketahui dengan survay di sentra jagung
Kabupaten Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, Sambas dan Bengkayang. Setiap
kabupaten

dipilih 5 kecamatan, masing-masing ditentukan 5 petak pengambilan

sampel. Sampel per petak pengamatan ditentukan sebanyak 25 tanaman. Pengamatan


dilakukan dengan menentapkan suatu petakan pertanaman jagung sebagai unit
sampel, kemudian

menghitung tanaman bergejala yang dipilih secara acak pada

bidang diagonal. Pertanaman jagung yang dipilih adalah tanaman yang berumur antara
48 minggu setelah tanam (MST). Pengamatan agihan penyakit ini dilakukan sekali
pada bulan Februari-Maret yang merupakan kondisi ideal bagi perkembangan bulai.
Interpretasi data intensitas penyakit dilakukan secara deskriptif yang menunjukkan
distribusi penyakit dan tingkat keparahan di berbagai lokasi.

b) Uji patogen terbawa benih


Kebiasaan petani setempat bertanam 2-3 kali setahun memungkinkan penularan
melalui biji. Semangun (1991) menyatakan bahwa benih kurang mempunyai arti
penting sebagai agen penularan bulai. Namun kebiasaan petani menggunakan benih
dari hasil panen sebelumnya, maka perlu dikaji penularan penyakit melalui biji.
Pengujian bulai tertular benih dilakukkan dengan uji blotter (blotter method)
sesuai dengan Mathur et al. (1989). Sebanyak 256 biji dari jagung pipilan hasil panen
masyarakat masing-masing perlakuan dipilih secara acak. Mula-mula biji dicuci dengan
air kran, dilanjutkan dengan perendaman dalam natrium hipoklorit 3% selama 5 menit
untuk membunuh jamur saprofit. Sebanyak 16 biji disusun melingkar dalam cawan
petri diameter 25 cm yang sebelumnya telah ditempatkan 3 lembar kertas merang
basah. Inkubasi pada ruang yang disinari UV selama 7 hari. Selama dibawah UV, dijaga
kelembapannya dengan menambahkan aquades secukupnya. Pengamatan dilakukan

13

terhadap gejala bulai dan konidiofor beserta konidia pada kecambah. Dihitung
prosentasenya kecambah bergejala, panjang radicle dan tunas.
Pengujian juga dilakukan dengan seedling test. Sebanyak 10 biji ditanam dalam
polibag ukuran 10 kg yang telah diisi dengan media tanah. Selanjutnya disungkup
dengan kantong plastik untuk menciptakan kondisi lembap. Kelembapan yang tinggi
juga di jaga dengan penyemprotan air menggunakan hand sprayer. Tanaman dipelihara
sampai muncul gejala. Pengamatan lainnya adalah menghitung jagung bergejala untuk
memperoleh tanaman sakit.

c) Tanda dan gejala penyakit


Data pendukung berupa pengamatan bagian-bagian cendawan P. maydis
seperti milselium, konidia, penetrasi hifa pada jaringan sesuai dengan metoda yang
dikembangkan oleh Andrea et al. (2002). Pengamatan dilakukan pada daun tua dan
muda, bersamaan dengan pengamatan intensitas penyakit. Daun yang masih
menunjukkan gejala lokal dipotong, kemudian direndam dalam alkohol 70% selama 6
jam. Daun setelah

tidak

mengandung hijau daun ditiriskan, kemudian diwarnai

dengan safranin.

d) Penelitian model penyakit bulai


Lokasi penelitian dilakukan di Kebun Percontohan BPTP Kalbar di Lokasi Kuat
Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang pada periode tanam Januari-Maret 2009. Dasar
pemilihan lokasi adalah kondisi lingkungan baik unsur cuaca maupun sumber inokulum
sangat mendukung kajian epidemi bulai. Kondisi yang kondusif bagi epidemi bulai
merupakan persyaratan penting karena kendala utama penelitian fitopatologi umumnya
adalah apabila salah satu komponen penyakit terutama lingkungan tidak sesuai, maka
tidak terjadi penyakit. Kondisi lingkungan yang kondusif diharapkan akan diperoleh
data yang menggambarkan secara jelas interaksi antara inang-patogen-lingkungan.
Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan
ulangan sebanyak 4 kali. Perlakuan berupa kombinasi faktorial antara varietas dengan
golongan waktu tanam. Varietas terdiri atas V1: Bisi 8/16 (sangat tahan), V2: P 12
(tahan), V3: Sukmaraga (sedang) dan V4 Bisi 12 (rentan). Golongan waktu tanam
dibagi dalam waktu tanam normal (T1: 25 Mei 2009), pertengahan (T2: 8 Juni 2009)

14

dan akhir (2 Juli 2009). Penggolongan waktu tanam bertujuan untuk memperoleh
variasi kondisi cuaca dan kepadatan sumber inokulum.
Kebiasaan waktu tanam di Sanggau Ledo sendiri sebenarnya tidak jelas. Pada
waktu

bersaman

dapat

dijumpai

petani

yang

menanam,

menyiangi

rumput/membumbun atau panen. Penggolongan waktu tanam bertujuan untuk


memperoleh variasi kondisi cuaca dan kepadatan sumber inokulum.
Dibutuhkan 12 petak dalam satu ulangan, sehingga total petak percobaan
sebanyak 48 petak. Ukuran petak 6 x 9 m2 berupa bedengan, jarak tanam 60 x 60 cm
sehingga dalam satu berisi 150 lubang tanam. Antar petak dipisahkan dengan alur
selebar 70 cm. Biji ditanam dengan ditugal dan diisi 1 biji/lubang tanam. Perawatan
dengan pemupukan NPK sesuai dosis anjuran setempat dan penyemprotan dengan
insektisida untuk melindungi serangan hama.

Variabel yang diamati

a. Data anasir cuaca


Data cuaca berupa lama penyinaran, temperatur udara, kelembapan udara, dan
curah hujan diperoleh dari Stasiun Meteorologi Singkawang II Sanggau Ledo yang
berjarak sekitar 3 km dari lokasi percobaan. Data yang diambil mulai bulan Januari
sampai Agustus 2009.

b. Kepadatan spora
Untuk keperluan pengamatan kepadatan spora, ditempatkan perangkap spora.
Alat perangkap ditempatkan setinggi 1,5 m dari permukaan tanah. Pada tiap alat
perangkap spora dipasang 3 buah gelas obyek yang diganti 2 kali, setiap pukul 06.00
pagi dan sore. Jadi dalam satu hari dibutuhkan 30 gelas obyek. Sebelum dipasang,
gelas obyek dilapisi vaselin yang dipaparkan ke arah atas dari alat perangkap.
Pengamatan kepadatan spora dilakukan selama masa kritis jagung terhadap infeksi
bulai yaitu sampai 4 MST. Jadi total pengamatan dilakukan selama 6 minggu sampai
golongan tanam terakhir. Gelas obyek selanjutnya ditempatkan pada rak untuk
dilakukan penghitungan spora bulai dengan bantuan mikroskop cahaya.

15

c. Perkembangan penyakit
Untuk memperoleh informasi perkembangan penyakit maka diperlukan data
intensitas penyakit yang diamati selama 1-5 MST. Pengamatan intensitas penyakit
dilakukan sampai minggu ke 5 disebabkan oleh masa inkubasi penyakit sekitar 1
minggu. Jadi gejala yang muncul pada saat pengamatan sebenarnya disebabkan oleh
infeksi oleh spora 1 minggu sebelumnya. Perhitungan rumus intensitas penyakit
sebagai berikut:

IP=

n
x 100%
N

Keterangan:
IP: intensitas penyakit

n: Jumlah tanam bergejala dan N: jumlah total tanaman yang diamati


Data hasil pengamatan intensitas penyakit selanjutnya digunakan untuk
mengukur laju infeksi (r). Tujuan pengamatan ini adalah untuk mengetahui pola
perkembangan

penyakit

dan

respons

ketahanan

tanaman

terhadap

patogen.

Perhitungan laju infeksi sesuai dengan rumus epidemiologi van der Plank (1963):
Xt= Xo.ert
Xt= intensitas penyakit pada waktu t
Xo= intensitas penyakit pada awal pengamatan (t = 0)
e = logaritma natural, yaitu konstanta sebesar 2,71828
r = laju infeksi
t = waktu antara to dan tt

Analisis data
Data hasil pengamatan intensitas penyakit ditransformasi data dengan arc sin
1/4 (n). Selanjutnya data hasil transformasi dilakukan beberapa uji statistika berupa
uji ragam (analysis of variance) korelasi, perbandingan duncan, lintas dan regresi
sampai batas kepercayaan 95%. Semua data statistika dianalisis dengan program SAS
(SAS Institute. 1990).

16

Uji keragaman dilakukan untuk menunjukkan adanya perbedaan kepekaan


varietas jagung terhadap infeksi dan intensitas penyakit akiabt waktu tanam.
Penentuan varietas dan waktu tanam yang paling peka infeksi bulai diketahui dengan
uji perbandingan Duncan. Uji korelasi dilakukan untuk menunjukkan keeratan
hubungan antar variabel. Selanjutnya apabila terdapat hubungan yang nyata
dilanjutkan ke uji regresi sederhana. Uji regresi dilakukan untuk menunjukkan besarnya
hubungan variabel bebas (unsur-unsur cuaca, jumlah tanaman sakit dan jumlah spora)
dan tidak bebas (intensitas penyakit) dengan model regresi Y = a + bx apabila hanya
ada satu variabel bebas yang dominan, dan Y= a + b1x1 + b2x2 + ........ + bnxn apabila
ada

bebrapa

variabel

bebas

yang

dominan.

Uji

lintas

digunakan

untuk

menginterpretasikan model penyakit secara kualitaitif.

6. Hasil dan Pembahasan


Hasil-hasil yang telah dicapai dalam kegiatan penelitian epidemi bulai pada
Tahun I sebagai berikut:
a) Agihan penyakit bulai
Agihan (distribution) penyakit bulai diketahui dengan survay di beberapa sentra
jagung Kabupaten Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, Sambas dan Bengkayang.
Pengamatan di Kabupaten Sambas dilakukan di Kecamatan Tangaran (Desa Pancur,
Simpang empat dan Semate), Kecamatan Jawai (Desa Dungun Laut, SB Kuala dan SB
Kolam), dan Kecamatan Tekarang (Desa Sempadian, Cempala dan Sari Makmur).
Kabupaten Kubu Raya meliputi Kecamatan Rasau Jaya (Rasau Jaya I, Bintang Mas 2,
dan Pematang Tujuh), Kecamatan Kubu (Desa Pinang Luar, Pinang Dalam dan
Kampung Baru) dan Kecamatan Kakap (Desa Kalimas, Kakap, dan Siantan). Kabupaten
Pontianak meliputi Kecamatan Mempawah Hulu, Sungai Kunyit, dan Batu Layang.
Kabupaten Singkawang meliputi Singkawang Timur, Utara dan Selatan. Hasil
pengamatan agihan bulai dapat dilihat pada Tabel 1.

17

Tabel 1. Agihan penyakit bulai di beberapa sentra jagung Kalimantan Barat


Kabupaten

Intensitas Penyakit
Bulai (%)
17

Agihan Bulai

Pontianak

Acak

Bengkayang

23

Acak

Kubu Raya

Acak

Singkawang

Acak

Sambas

Acak

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bulai telah tersebar di berbagai sentra


jagung di Kalbar. Varietas jagung yang banyak ditanam masyarakat umumnya varietas
lokal dan sebagian kecil berupa hibrida. Di Kabupaten Kubu Raya dan Singkawang
dijumpai tanaman jagung manis dalam jumlah besar, sedangkan di kabupaten lain
umumnya berupa jagung pipilan. Penanaman jagung umumnya menggunakan benih
yang berasal dari tanaman sebelumnya. Rata-arata intensitas penyakit di berbagai
lokasi berkisar rendah sampai sedang. Hal ini berarti penyakit disebarkan secara efektif
ke berbagai lokasi secara acak. Agen penyebar demikian dapat dibantu oleh angin
(Zadoks & Schein, 1979).
Penyakit bulai mudah dijumpai saat tanaman masih muda berkisar antara 3-4
MST. Penyakit dapat dikenali dengan terbentuknya struktur jamur menyerupai tepung
pada permkaan daun. Umumnya petani kurang menghiraukan keberadaan tanaman
sakit dan dipertahankan sampai dewasa. Hal ini berarti keberadaan sumber inokulum
bulai sebenarnya dengan mudah dapat dijumpai di pertanaman jagung, sementara
petani juga tidak melakukan tindakan pengendalian penyakit. Meskipun demikian,
penyakit bulai tidak serta merta dapat berkembang ke arah epidemi. Hasil pengamatan
ini memberi gambaran terdapat faktor kendali yang dapat menekan perkembangan
bulai antara lain berupa ketahanan terhadap bulai akan meningkat saat tanaman
memasuki fase generatif dan perkembangan penyakit secara intensif harus didukung
dengan kondisi cuaca yang menguntungkan bagi penyakit. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa infeksi bulai dapat terjadi sampai
umur tanaman mencapai 6 MST dan kondisi hujan beberapa hari dibutuhkan untuk
terjadinya infeksi bulai (Suswanto et al., 2008).

18

b) Uji Penularan Patogen


Hasil pengamatan penularan bulai dari sumber inokulum tanaman sakit ke
jagung baik melalui kontak, perlukaan dengan karborundum dan suspensi spora
dengan

pelapisan zat perekat belum memberikan hasil yang memuaskan. Seluruh

penularan dengan metoda tersebut tidak ada yang berhasil. Gambar 2 memperlihatkan
cara pelaksanaan penularan.
Terjadinya infeksi membutuhkan temperatur 18-26oC dan kelembapan lebih
90% dilakukan dengan penyungkupan dengan plastik transparan dan menambah kain
basah. Upaya ini telah dilakukan, tetapi belum memberikan hasil yang diinginkan.
Beberapa periode pengujian juga dilakukan pada saat periode hari hujan.
Shurtleff (1980), patogen penyebab bulai merupakan patogen

Menurut

yang hanya dapat

bertahan pada jaringan hidup. Kegagalan penularan dapat terjadi karena konidia bulai
mudah rusak akibat pengaruh lingkungan seperti kelembapan rendah dan temperatur
tinggi.

Gambar 1. Inokulasi bulai dari sumber inokulum alami ke tanaman uji

19

Hasil pengamatan penularan patogen melalui biji baik melalui blotter test
maupun seedling test seperti yang tercantum pada tabel 2 menunjukkan bahwa bulai
tidak dapat ditularkan melalui benih. Uji ini dilakukan sebagai upaya klarifikasi
terjadinya epidemi bulai di Sanggau Ledo kemungkinan disebabkan oleh penularan
melalui biji. Hal ini didasarkan pada sebagian besar petani menggunakan benih dari
hasil panen sebelumnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa benih ternyata bukan
media penularan bulai. Pengujian penularan bulai melalui benih tidak terbukti, tetapi
diduga penggunaan benih secara terus menerus dari tanaman sebelumnya memegang
andil yang besar terhadap prevalensi bulai di Sanggau Ledo. Hal ini didasarkan pada
hasil survai pada pertanaman jagung di Kabupaten Kubu Raya menunjukkan bahwa
sebagian besar jagung yang memperlihatkan bulai merupakan tanaman yang berasal
dari benih tanaman sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini sesuai dengan
pendapat Semangun (1991) menyatakan bahwa penularan bulai hanya dapat dilakukan
melalui udara dan biiji bukan merupakan agen penular yang efektif.

Gambar 2.

Uji benih dengan metoda blotter test bulai dan seedling test untuk
mengetahui cara penualran bulai melalui biji

20

Pengamatan lapangan yang menunjukkan jagung yang ditanam dari benih


tanaman sebelumnya lebih mudah terinfeksi bulai. Hal ini dapat terjadi akibat kualitas
benih yang kurang baik sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman yang kurang
baik. Kondisi tanaman yang kurang sehat akan lebih mudah terinfeksi dibandingkan
dengan tanaman yang berasal dari benih unggul atau hibrida. Dengan demikian
pengamatan ini dapat dijadikan indikator bahwa penyakit bulai membutuhkan faktor
predisposisi berupa pertumbuhan yang kurang optimum atau tanaman dalam kondisi
lemah akibat benih yang kurang baik maupun perawatan yang kurang optimal.
Tabel 2.

Hasil pengamatan blotter dan seedling test beberapa varietas lokal dari
Sanggau Ledo
Lokasi pengambilan
Penyakit terbawa benih (%)
sampel
Bulai
Fusarium Aspergillus Penicillium
Curvularia

Paket A

10,94

7,67

25

1,56

Paket B

9,0

12,25

28,25

Paket C

13,75

13,0

11,5

Paket D

3,0

3,5

8,45

c. Tanda dan gejala penyakit


Hasil pengamatan mikroskopis dapat digunakan sebagai gambaran proses
infeksi bulai seperti yang tercantum pada Gambar 3. Gambar 3a memperlihatkan gejala
bulai berupa klorosis sejajar tulang daun. Dalam kondisi lembap, pada bagian bergajala
ini dapat dijumpai struktur menyerupai tepung yang menempel pada permukaan daun.
Apabila dilihat di mikroskop stereo perbesaran 40 kali, maka struktur menyerupai
tepung sebenarnya merupakan kumpulan dari struktur penghasil konidia atau
kumpulan konidiofor seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3c. Pada gambar terlihat
antar kumpulan/rumpun konidifor bukanlah bagian yang terpisah, tetapi terhubung
dengan konidofor lainnya.
Menurut Semangun (1991), dalam kondisi lembap 90% dan suhu rendah 24oC,
konidia akan terlepas dari konidiofor. Mekanisme pelepasan konidia terjadi secara
mekanis dengan cara pangkal konidiofor terpilin, kemudian berputar kembali ke kondisi
normal. Gerak mekanis ini menyebabkan konidia yang berada di ujung konidiofor akan
terlempar. Penyakit bulai menular dari tanaman sakit sebagai sumber inokulum ke ke

21

tanaman lainnya dengan konidia. Mula-mula konidia jatuh di permukaan daun atas
maupun bawah. Jumlah konidia pada permukaan daun sangat melimpah, namun tidak
selalu diikuti keberhasilan infeksi karena kebanyakan konidia gagal berkecambah
(Gambar 3d). Hal ini diduga disebabkan oleh tabung kecambah konidia yang sangat
panjang untuk mencapai stomata. Perkecambahan merupakan kondisi yang paling
lemah dan peka tehadap perubahan faktor lingkungan. Perubahan lingkungan yang
drastis akan menyebabkan kematian tabung kecambah sehingga tidak terjadi infeksi.
Kegagalan inokulasi di rumah kasa diduga disebabkan oleh faktor lingkungan yang
kurang mendukung dan bukan disebabkan oleh kegagalan deposisi konidia. Menurut
Agrios (2005), proses infeksi jamur melewati fase perkecambahan, penetrasi, infeksi,
kolonisasi dan sporulasi. Proses perkecambahan memegang peranan penting dalam
keberhasilan infeksi karena merupakan fase yang paling rentan tehadap perubahan
lingkungan.
Berdasarkan gambar di atas dapat disimpulkan bahwa keberhasilan infeksi bulai
membutuhkan kondisi lingkungan yang kondusif selama perkecambahan konidia.
Pembentukan tabung kecambah sampai

terjadinya penetrasi

melalui

stomata

merupakan fase infeksi yang paling rentan terhadap pengaruh lingkungan. Keberhasilan
infeksi ditandai dengan masuknya tabung kecambah ke dalam sel mesofil daun jagung
sehingga konidia dapat berkembang melangsungkan proses infeksi berikutnya.

22

Gambar 3.

Gejala dan tanda pada tanaman terinfeksi bulai. Gejala bulai (a),
pengamatan dengan mikroskop stereo perbesaran 40 kali (b), konidiofor
dan konidia pada permukaan daun (c dan d) dan perbandingan konidia
yang mendarat dan berkecambah pada permukaan tanaman (e dan f)

23

d) Penelitian model penyakit bulai


Hasil pengamatan dan perhitungan statistika percobaan lapangan menunjukkan
bahwa model penyakit bulai pada varietas jagung rentan di Kecamatan Sinar Tebudak
dan Sanggau Ledo berupa Y1 = -0.026 + 0.023x1 + 0.001x4 + 0.91x8 + e dan Y3 = 0.002
2

+ 0.974x1 dengan standar determinasi masing-masing (R )= 0,99 serta Y2 = 1.182 +


0.20x1+0.002x4

0,014x5 0,02x7 + 1,03x8 + e, dengan standar determinasi (R )=

0,96, (Y1,2,3: intensitas penyakit bulai pada kondisi kurang kondusif (Y 1 dan 3) dan
kondusif (Y2), X1: kepadatan konidia (cm2), X2: suhu pagi (oC), X3: suhu siangi (oC), x4=
curah hujan (mm/hari), x5= kelembapan pagi (%), x6= kelembapan siang (%), X7:
rata-rata kecepatan angin (jam/km) dan X8: lama penyinaran (jam). Hal ini menunjukkan

bahwa penyakit bulai di Kecamatan Sanggau Ledo dan Sinar Tebudak dapat dijumpai di
sepanjang musim tanam. Namun demikian terdapat variasi tingkat keparahan antar
waktu tanam maupun antar varietas
Secara umum penyebab penyakit ditentukan oleh 3 komponen penyakit berupa
kepadatan konidia, curah hujan dan lama penyinaran. Kecepatan rata-rata angin juga
berperan dalam meningkatkan intensitas penyakit, di duga berperan penting dalam
penyebaran dan menjadi penyebab predisposisi tanaman sehingga tanaman mudah
terinfeksi bulai. Berdasarkan perhitungan laju infeksi (r), dalam kondisi kondusif ratarata pertambahan tanaman terinfeksi bulai dapat mencapai 144 tanaman/minggu.
Mekanisme penularan bulai adalah tanaman sakit pada awal musim terjadi akibat
infeksi konidia dari luar pertanaman. Selanjutnya penyakit akan berkembang dari hasil
penularan konidia tanaman sakit di dalam pertanaman. Puncak penularan terjadi pada
minggu ke-4. Efektifitas penularan konidia sangat tergantung pada kondisi kelembapan
dan temperatur. Konidia yang diterbangkan terlalu lama di udara pada suhu diatas 25
o

C akan mati.

24

40

B8/16

P12

SR

P21

35
30

40

40

35

B8/16 P12 35

30

SR

25

25

25

20

20

20

15

15

15

10

10

10

B8/16 P12

P21 30

SR

P21

Gambar 4. Pertambahan tananam sakit setiap minggu pada beberapa golongan waktu tanam

25

Laju Perkembangan Penyakit


Perhitungan laju infeksi menunjukkan bahwa periode tanam T2 (14 Juli 2009)
menyebabkan keparahan penyakit tertinggi pada 6 MST diikuti T3 dan T1 berturut-turut
sebesar 55,9%, 31,9 dan 14,7%. Berdasarkan pengamatan kerusakan tanaman oleh
bulai maka perbedaan intensitas penyakit sangat besar. Hal ini berbeda dengan
perhitungan laju infeksi seperti yang terlihat pada gambar 6. Dari gambar dapat terlihat
bahwa puncak laju infeksi masing-masing waktu tanam tanam tidak banyak berbeda.
Bahkan dari rata-rata laju infeksi sampai 6 MST juga tidak banyak berbeda T1, T2 dan T
3 sebesar berturut-turut sebesar 0,278, 0,335 dan 0,307 tanaman/minggu. Hal ini
berarti rata-rata pertambahan tanaman sakit pada waktu tanam T1, T2 dan T3 dari 100
tanaman akan bertambah setiap minggunya sebesar 28, 34 dan 31 tanaman/minggu.

1,40

24 Mei

Laju infeksi, unit/minggu

1,20

14 Juni
5 Juli

1,00

0,80

0,60

0,40

0,20

0,00
1

Um ur tan aman , ming gu


Gambar 5.

Laju infeksi penyakit bulai pada tiga waktu tanam berbeda, Sanggau Ledo
2009

26

Berdasarkan perhitungan kedua variabel

tersebut

di atas

maka dapat

disimpulkan bahwa besarnya intensitas penyakit bulai sangat ditentukan oleh waktu
infeksi. Semakin awal terjadi infeksi, maka akan diikuti dengan intensitas penyakit yang
tinggi. Hal ini terjadi disebebakan oleh sifat penularan bulai mengikuti pola penyakit
majemuk. Infeksi primer terjadi melalui penularan konidia yang berasal dari luar
pertanaman. Hal ini terjadi pada awal tanam, selanjutnya infeksi primer akan
menghasilkan infeksi sekunder selang 1 minggu kemudian. Infeksi sekunder (siklus
polisiklik) dapat terjadi antara 2-5 MST.
Implikasi dari pola perkembangan penyakit demikian adalah upaya penundaan
infeksi pada awal tanam mempunyai peranan sangat penting dalam menekan intensitas
penyakit. Pengamatan ini memberi dasar pertimbangan pentingnya perlindungan
tanaman pada awal tanam. Penundaan infeksi sampai 2 MST hanya menyebabkan
tingkat kerusakan yang rendah. Hal ini sesuai dengan Zadok dan Schein (1979)
menyatakan bahwa upaya pengendalian dengan pengaturan waktu tanam dapat
menunda terjadinya epidemi penyakit.
Laju infeksi juga memberi informasi pola penularan bulai di lapangan. Laju
infeksi pada awal tanam tinggi kemudian menurun seiring dengan peningkatan usia
tanaman menunjukkan bahwa infeksi awal berasal dari konidia yang disebarkan angin
dari luar pertanaman. Inokulum awal ini menyebabkan infeksi primer pada tanaman
yang jumlah sangat sedikit. Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa penerapan
pengendalian penyakit bulai antar periode waktu tanam harus berbeda-beda.
Penggunaan varietas tahan B 8-16 dan Pioneer 12 cukup baik mengatasi bulai dengan
intensitas tertinggi hanya 14 dan 8% (Suswanto et al.,

2009). Hasil ini sesuai pula

dengan pendapat Wakman & Rezha (2008) yang menyatakan bahwa intensitas penyakit
pada varietas Bisi 8/16 sebesar 2%.

Hubungan Penyakit dengan Sumber Inokulum dan Faktor Lingkungan


Uraian pada bagian ini membahas tentang hubungan antara hubungan penyakit
dengan berbagai komponen penyakit seperti sumber inokulum dan faktor lingkungan
secara matematis.

Intensitas penyakit (Y) sebagai dependent variable dan komponen-

komponen penyakit (x) sebagai independent variable.

27

Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa berdasarkan nilai nilai determinasi (R2)
tertinggi terjadi pada varietas rentan Sukmaraga dan P21 dibandingkan varietas tahan
Bisi 8/16 dan P12. Keeratan hubungan antara intensitas penyakit dengan varietas rentan
menunjukkan bahwa ketahanan varietas rentan ditentukan oleh faktor lingkungan. Hal
ini berarti kondisi lingkungan berupa kepadatan spora dan faktor iklim menentukan
tingkat respons ketahanan tanaman terhadap bulai. Sedangkan keparahan penyakit
pada varietas tahan mempunyai hubungan yang kuratng erat dengan faktor lingkungan,
tetapi diduga berkaitan dengan respons ketahanan dari gen tanaman bersangkutan. Hal
ini ditunjukkan dengan rendahnya nilai koefisien determinasi antara intensitas penyakit
dengan faktor lingkungan.
Tabel 3.

Waktu
Tanam

Hasil perhitungan regresi hubungan antara intensitas penyakit bulai dengan


berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang
ditanam pada waktu berbeda, Sanggau Ledo 2009
Varietas
Bisi 8/16

P 12

Persamaan Regresi
Y= 0.128 - 0.016 x8

Y= 0.504 - 0,01x2 0,002x5 - 0.006x8

R2
0,38

0,71

T1
(24 Mei-14
Juni 2009)
Sukmara
ga

P 21

Y= -0.026 + 0.023x1 + 0.001x4 +


0.91x8

Y= 1,45 - 0.029 x2 0,006x5 0,02x8

0,99

0,46

Keterangan
X8: lama penyinaran
(jam)
X2: suhu pagi (oC)
X5: Kelembapan pagi
(%)
X8: lama penyinaran
(jam)
X1: kepadatan konidia
(cm2)
X4: curah hujan
(mm/hari)
X8: lama penyinaran
(jam)
X2: suhu pagi (oC)
X5: Kelembapan pagi
(%)
X8: lama penyinaran
(jam)

28

Lanjutan Tabel 3.

Bisi 8/16

T2

P 12

Y= 1.83 - 0.023x2- 0.012x5 + 0.017 x7

0,57

Y= 0.005 + 0.89x8

0,81

(14 Juni-5
Juli 2009)

Sukmara
ga

P 21

Bisi 8/16

T3

P 12

Y=

1.182 + 0.20x1 + 0.002x4


0,014x5 0,02x7 + 1,03x8

0,96

Y= 0.0013 + 0.899 x8

0,97

Y= 0.795 - 0.015x3 + 0.004x4 -0.005x6


+ 0.013x8

0,60

Y = 0.333 + 0.008x2 - 0.008 x3 +


0.0021x4 - 0.003x6

0.64

(5-19 Juli
2009)

Y = 0.002 + 0.974x1

0,99

X2: suhu pagi (oC)


X5: Kelembapan pagi
(%)
X7: rata-rata
kecepatan angin
(jam/km)
X8: lama penyinaran
(jam)
X1: kepadatan konidia
(cm2)
X4: curah hujan
(mm/hari)
X5: Kelembapan pagi
(%)
X7: rata-rata
kecepatan angin
(jam/km)
X8: lama penyinaran
(jam)
X8: lama penyinaran
(jam)
X3: suhu siang (oC)
X4: curah hujan
(mm/hari)
X6: Kelembapan siang
(%)
X8: lama penyinaran
(jam)
X2: suhu pagi (oC)
X3: suhu siang (oC)
X4: curah hujan
(mm/hari)
X6: Kelembapan siang
(%)
X1: kepadatan konidia
(cm2)

Sukmara
ga

P 21

Y = 1.038 -0.017x3 - 0.005x4


-0.007x6 + 0.0159x8

0,62

X3: suhu siang (oC)


X4: curah hujan
(mm/hari)
X6: Kelembapan siang
(%)
X8: lama penyinaran
(jam)

29

0,25

0,25

y = -0,0675x + 0,1508

Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,20

0,15

0,10

0,15

0,10

0,05

0,05

0,00

0,50
1,00
Kepadatan Konidia (buah/cm2)

70

1,50

0,25

80
90
Kelembapan pagi (%)

100

0,25
y = -0,0051x + 0,0995
R2 = 0,0207

y = -0,0192x + 0,5573
R2 = 0,0598

0,20
Intensitas Bulai (%)

0,20
Intensitas Bulai (%)

y = 0,0029x - 0,2017
R2 = 0,0307

R = 0,0144

0,20

0,15

0,10

0,05

0,15

0,10

0,05

22,0

23,0

24,0
25,0 26,0
Suhu Pagi (oC)

27,0

28,0

3
5
7
Rata-rata Kecepatan Angin (jam/km)

0,25

0,25
y = 0,0024x + 0,0678
R 2 = 0,1201

0,20
Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,20

0,15

0,10

y = -0,0214x + 0,1793
R2 = 0,3293
0,15

0,10

0,05

0,05

0,0

Gambar 6.

10,0
20,0
30,0
40,0
Curah Hujan (mm/hari)

50,0

5
7
Lama Penyinaran (jam)

Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca dengan


intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam periode awal,
Sanggau Ledo 2009

30

0,600

0,600

y = 0,0572x + 0,1243
2

R = 0,0027

0,500
Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,500
0,400
0,300
0,200

0,50

0,70
0,90
1,10
1,30
Kepadatan Konidia (buah/cm2)

0,200

80

1,50

y = -0,0267x + 0,822
R2 = 0,0526

100

y = 0,0365x + 0,0252
R2 = 0,3934

0,500
Intensitas Bulai (%)

0,500

85
90
95
Kelembapan pagi (%)

0,600

0,600

Intensitas Bulai (%)

0,300

0,400
0,300
0,200

0,400

0,300

0,200

0,100

0,100

20,0

22,0
24,0
26,0
Suhu Pagi (oC)

28,0

3
5
7
9
Rata-rata Kecepatan Angin (jam/km)

0,600

0,600
y = -0,0008x + 0,1881

Intensitas Bulai (%)

R = 0,0041

0,400
0,300
0,200

y = -0,0025x + 0,1949
R2 = 0,0056

0,500

0,500
Intensitas Bulai (%)

0,400

0,100

0,100

0,400

0,300

0,200

0,100

0,100

0,0

Gambar 7.

y = -0,019x + 2,0119
R2 = 0,1056

20,0
40,0
Curah Hujan (mm/hari)

60,0

5
7
Lama Penyinaran (jam)

Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca dengan


intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam periode
pertengahan, Sanggau Ledo 2009

31

0,45

0,45

y = 0,0041x + 0,1281

0,40

y = 0,0003x + 0,1088
R2 = 0,0026

0,40

R = 8E-06
0,35
Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,35
0,30
0,25
0,20
0,15

0,20
0,15
0,10

0,05

0,05
-

0,50

0,70
0,90
1,10
1,30
Kepadatan Konidia (buah/cm2)

80

1,50

85
90
95
Kelembapan pagi (%)

100

0,45

0,45

0,40

0,40

y = 0,0339x - 0,7084
R2 = 0,1765

0,35

0,35
Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,25

0,10

0,30
0,25
0,20
0,15

0,25
0,20
0,15
0,10

0,05

0,05

22,0
24,0
26,0
Suhu Pagi (oC)

y = 0,0104x + 0,0657
R2 = 0,0389

0,30

0,10

20,0

28,0

3
5
7
9
Rata-rata Kecepatan Angin (jam/km)

0,45

0,45

0,40

0,40

y = 0,0009x + 0,1307

y = 0,0299x - 0,0775
R2 = 0,2996

0,35

0,35

R = 0,0015
Intensitas Bulai (%)

Intensitas Bulai (%)

0,30

0,30
0,25
0,20
0,15

0,30
0,25
0,20
0,15

0,10

0,10

0,05

0,05

0,0

Gambar 8.

10,0
20,0
Curah Hujan (mm/hari)

30,0

5
7
Lama Penyinaran (jam)

Hubungan regresi sederhana antara beberapa komponen cuaca dengan


intensitas bulai pada varietas Sukmaraga yang ditanam periode akhir,
Sanggau Ledo 2009

32

0,600

0,20

T_1

0,18

T_2

0,500

0,16
0,14

0,400

IP

IP

0,12
0,10

0,300

0,08
0,200

0,06
0,04

0,100

0,02
-

22,0

23,0

24,0

25,0

26,0

27,0

22,0

28,0

23,0

24,0

0,20

0,600

0,18
0,16

0,500

0,14

26,0

27,0

0,400

0,12
0,10

IP

IP

25,0

T_pagi

T_pagi

0,300

0,08
0,200

0,06
0,04
0,02

0,100

85

90

95

100

105

85

90

95

rH_pagi

100

105

rH_pagi

0,20

IP

0,16
0,14

0,600

0,12
0,10
0,08

0,400

0,500

IP

IP

0,18

0,06
0,04

0,300
0,200
0,100

0,02
-

10

0,0

10,0

4
6
Kec_rt

10

12

40,0

50,0

60,0

Kec_rt

0,600

0,20

0,500
0,400

0,12
0,10
0,08
0,06

IP

IP

0,18
0,16
0,14

0,200

0,04
0,02
-

0,100
0,0

10,0

20,0

30,0
CH

Gambar 9.

0,300

40,0

50,0

20,0

30,0
CH

Sebaran data cuaca antara kondisi yang kondusif (T2) dan kurang kondusif
(T1) tehadap perkembangan penyakit bulai

33

Untuk mempelajari hubungan antara faktor cuaca dengan intensitas penyakit tidaklah mudah.
Gambar 4 memperlihatkan intensitas penyakit tertinggi dijumpai pada periode tanam
pertengahan. Hal ini berarti faktor cuaca kondusif bagi perkembangan penyakit. Pada periode ini
menunjukkan bahwa

rata-rata kecepatan angin dan suhu pagi hari merupakan faktor paling

dominan yang menentukan perkembangan penyakit, ditunjukkan dengan nilai determinasi (R2)
masing-masing sebesar 39 dan 11%. Kondisi umum pada masa tersebut ditandai dengan curah
hujan yang relatif tinggi seperti yang terlihat pada Gambar 9.
Di lain pihak, pada kondisi kurang kondusif bagi perkembangan penyakit seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 9 menunjukkan bahwa kondisi curah hujan relatif rendah. Pada kondisi
ini faktor cuaca yang memegang peranan penting berupa curah hujan dan lama penyinaran
seperti yang ditunjukan pada Gambar 6 dan lama penyinaran dan suhu pagi seperti yang
ditunjukkan Gambar 8. Hal ini berarti pengaruh faktor cuaca tehadap perkembangan penyakit
tidaklah konsisten.

Untuk menentukan peran faktor-faktor yang berperan dalam perkembangan


penyakit memerlukan alat bantu pengolahan data statistika melalui analisis lintas. Hasil
analisis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa pada periode tanam 24 Mei 2009 (T1)
menunjukkan bahwa suhu pagi dan kelembapan pagi memberi sumbangan langsung
terbesar berturut-turut 0,33 dan 0,35. Tanda minus mempunyai arti sumbangan kedua
komponen bersifat berlawanan. Namun demikian pengaruh total terhadap intensitas
penyakit yang sebenarnya merupakan nilai korelasi terbesar di tentukan oleh lama
penyinaran. Kelembapan siang hari tidak nyata dalam persamaan regresi Y= -0.026 +
0.023x1 + 0.001x4 + 0.91x8, keterangan X1: kepadatan konidia (cm2), X4: curah hujan
(mm/hari) dan X8: lama penyinaran (jam) disebabkan oleh sumbangan secara tidak langsung
melalui panjang hari (0,278), dan suhu pagi (0,128) serta sumbangan secara tidak langsung
yang sifatnya berlawanan dari suhu siang dan kelembapan pagi berturut-turut 0,19 dan 0,16.
Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kondisi peyakit pada tanam awal lebih ditentukan
oleh lamanya penyinaran dan kelembapan siang hari. Kondisi yang relatif panas dan kelembapan
yang rendah di siang hari menyebabkan intensitas penyakit rendah.

34

Tabel 4. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang ditanam
pada 24 Me1 2009

OBS _NAME_
1
2
3
4
5
6
7
8
9

IP_V3
SPORE
SUHU_P
SUHU_S
CH
RH_P
RH_S
V_RATE
LONG

SPORE
0.007177
-0.074183
0.074183
0.015001
-0.024847
0.000598
-0.000829
0.014281
0.022150
-0.023130

SUHU_P SUHU_S
0.07932
0.06721
-0.33238
0.33238
-0.08321
0.03196
0.26100
0.12829
-0.00312
-0.05738

-0.08137
0.07751
0.05794
0.23143
-0.01167
-0.06598
-0.19403
-0.00125
0.11626

CH

RH_P

0.07319
-0.00177
-0.02107
-0.01105
0.21916
0.01556
0.03449
0.03140
-0.04017

-0.06115
-0.00394
0.27687
0.10052
-0.02503
-0.35259
-0.16605
-0.05769
0.12320

RH_S

V_RATE

0.18966 0.02973
-0.07631 0.05945
-0.15300 -0.00187
-0.33235 0.00108
0.06239 -0.02853
0.18668 -0.03258
0.39640 -0.01310
0.02609 - 0.19910
-0.23758 0.01382

LONG

IP_V3

0.26414
-0.14471
-0.08013
-0.23315
0.08508
0.16217
0.27817
0.03221
-0.46412
0.46412

1.00000
-0.09674
-0.23864
-0.35159
0.33396
0.17344
0.47846
-0.14932
-0.56911

Pada periode tanam kedua menunjukkan bahwa sebagian besar komponen


penyakit berperan secara aktif secara bersama-sama seperti yang terlihat pada Tabel 5
(ditunjukkan dengan angka yang dicetak tebal lebih besar daripada kolom IP_V3 yang
merupakan nilai korelasi). Hal ini berarti kondisi kondusif perkembangan penyakit
ditandai dengan nilai pengaruh langusng yang relatif besar. Hal ini juga terlihat pada
analisis regresi berupa Y=1.182 + 0.20x1 + 0.002x4 0,014x5 0,02x7 + 1,03x8 pada
varietas Sukmaraga atau Y= 0.0013 + 0.899 x8 pada varietas P 21 dengan nilai determinasi
berturut-turut 96 dan 97%. Keterangan X1: kepadatan konidia (cm2), X4: curah hujan (mm/hari),
X5: Kelembapan pagi (%), X7: rata-rata kecepatan angin (jam/km) dan X8: lama penyinaran
(jam). Hasil analisis regresi tersebut relevan karena pengaruh terbesar penyakit disumbang oleh
nilai lama penyinaran. Dengan demikian secara umum dapat disimpulkan bahwa hasil analsiis
lintas dapat menunjukkan variabel-variabel penting yang berperan dalam perkembangan
penyakit, sehingga dapat menjelaskan hasil regresi yang hanya menampilkan nilai variabel yang
mempunyai korelasi besar.

35

Tabel 5. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang ditanam
pada 14 Juni 2009

OBS _NAME_
1
2
3
4
5
6
7
8
9

IP_V3
SPORE
SUHU_P
SUHU_S
CH
RH_P
RH_S
V_RATE
LONG

SPORE
0.00969
0.1747
0.17470
0.02329
0.00253
-0.01393
0.00854
0.02869
-0.00798
-0.02183

SUHU_P
0.07969
-0.04635
-0.3476
0.34760
-0.10695
0.04365
0.16497
0.09703
0.01682
-0.06622

SUHU_S
0.00564
-0.00572
-0.12152
-0.39494
0.39494
0.22616
0.20746
0.09947
-0.04799
0.05745

CH
0.001184
0.001493
0.002351
0.010722
-0.01872
0.018723
-0.006986
0.001897
0.002468
-0.005718

RH_P

RH_S

V_RATE

0.11871
-0.01786
0.17340
0.19192
-0.13632
-0.36536
0.36536
-0.07337
0.17493
0.00204

-0.00918
-0.09719
0.16517
0.14903
0.05994
-0.11883
-0.59171
0.59171
0.01546
0.51252

0.28519
-0.02077
-0.02200
0.05526
-0.05995
-0.21772
-0.01188
0.45474
-0.01584

LONG

IP_V3

0.04023
0.06715
-0.10235
0.07816
-0.16408
0.00300
0.46538
0.01871
-0.53728

1.00000
0.05545
-0.22925
-0.01428
-0.06326
-0.32493
0.01552
0.62715
-0.07487

Pada periode tanam ketiga (T3) menunjukkan bahwa variabel kepadatan konidia
memberi sumbangan terbesar yaitu 0,99 seperti yang tercantum pada Tabel 6.
Kepadatan spora juga memberi pengaruh yang paling besar pada total korelasi
mencapai 0,998. Hal ini mempunyai arti kepadatan konidia mempunyai pengaruh
mutlak, sehingga persamaan regresi yang terbentuk berupa Y = 0.002 + 0.974x1,
keterangan x1= kepadatan konidia. Kondisi tersebut ternyata kurang kondusif bagi

perkembangan penyakit.

36

Tabel 6. Hasil perhitungan analisis lintas antara intensitas penyakit bulai dengan
berbagai anasir iklim dan kepadatan spora pada seluruh varietas yang ditanam
pada 5 Juli 2009

OBS _NAME_
1
2
3
4
5
6
7
8
9

SPORE

SUHU_P

SUHU_S

IP_V3 0.99257 0.0004 -0.0008


SPORE 0.99384 0.0004 -0.0011
SUHU_P 0.42190 0.0010 -0.0064
SUHU_S 0.06497 0.0004 -0.0169
CH
0.04034 -0.0002 0.0009
RH_P
0.05136 -0.0000 0.0016
RH_S -0.66144 -0.0004 0.0073
V_RATE 0.19719 0.0000 0.0006
LONG
0.53691 0.0003 -0.0003

CH
-0.00002
-0.00002
0.00012
0.00003
-0.00054
0.00016
-0.00013
0.00019
0.00008

RH_P
0.00004
0.00004
-0.00001
-0.00008
-0.00025
0.00081
-0.00007
0.00012
-0.00004

RH_S

V_RATE

LONG

IP_V3

0.0011 0.00007 0.0043 1.00000


0.0011 0.00006 0.0043 0.99872
0.0007 0.00002 0.0025 0.41992
0.0007 -0.00001 0.0001 0.04933
-0.0001 -0.00012 -0.0012 0.03847
0.0002 0.00005 -0.0004 0.05380
-0.0017 -0.00009 -0.0032 -0.65983
0.0005 0.00035 0.0023 0.20141
0.0007 0.00010 0.0079 0.54566

Semangun (1991) menyatakan bahwa terjadinya infeksi bulai memerlukan


kondisi lingkunga berupa suhu malam kurang dari 24 oC dan kelembapan lebih dari
90%. Gambar 9 menunjukkan bahwa kondisi anasir cuaca T1 yang kurang mendukung
perkembangan penyakit dan T2 yang mendukung perkembangan penyakit relatif sama
kecuali pada kecepatan angin dan curah hujan. Dengan demikian secara umum pada
kondisi kecepatan angin dan curah hujan yang tinggi pada saat tanaman muda ( 1-4
MST) akan mendukung perkembangan penyakit.
Berdasarkan analisis lintas dapat secara umum dapat disimpulkan bahwa faktor
lingkungan yang berpengaruh kuat tehadap perkembangan bulai di Sanggo Ledo berupa
berupa curah hujan, kelembapan pagi, rata-rata kecepatan angin dan lama penyinaran.
Faktor lingkungan lain yang kadang-kadang berpengaruh besar tehadap penyakit berupa
kepadatan sumber inokulum, suhu udara dan kelembapan.

37

7. Kesimpulan dan Saran


Dari uraian dimuka dapat diambil beberapa kesimpulan dan saran mengenai
penyakit bulai sebagai berikut:

a. Kesimpulan
1. Penyakit bulai telah tersebar di seluruh sentra jagung Kalimantan Barat.
2. Bulai merupakan kendala produksi terpenting di sentra jagung karena menibulkan
kerugian besar.
3. Tingkat serangan bulai ditentukan oleh penggunaan varietas tahan, waktu tanam
dan penerapan pengendalian. Varietas tahan berupa P12 dan B 8/16, dan waktu
tanam yang kurang kondusif saat cuaca cerah dan kecepatan rata-rata angin relatif
rendah (tanang)
4. Upaya pengendalian pada dasarnya berusaha menunda infeksi setelah masa kritis
sampai 4 MST.
5. Komponen cuaca yang perlu dipertimbangkan sebagai komponen peringatan dini
berupa temperatur pagi hari, curah hujan dan kecepatan angin. Meskipun
Kelembapan merupakan faktor lingkungan yang dibutuhkan dalam proses infeksi,
namun secara alami kondisi ini selalu dapat dipenuhi sehingga bukan merupakan
faktor pembatas infeksi.

b. Saran
Perlu kajian lebih lanjut mengenai pengendalian penyakit bulai. Strategi
pengendalian penyakit polisiklik dapat ditekankan pada penekanan nilai r berupa
penggunaan fungisida. Siklus penyakit yang relatif cepat kurang dari 1 minggu, maka
peranan Xo dengan roguing (pencabutan tanaman sakit) pada 2 MST.

38

Daftar Pustaka
Andrea, T., G. Torres, D. Polanco, 2002. Observations on the germination of oospores of
Peronosclerospora maydis. Agronomia Tropical 27: 511-515
Agrios, G.N. 2005. Plant Pathology 5th Ed. Elsevier Academic Press, California. 922 p.
BPTP Kalbar, 2006. Pengkajian gelar teknologi budidaya beberapa varietas jagung.
Laporan Tahunan BPTP Kaliamatan Barat.
Mathur S.B., K. Singh, H.J. Hansen. 1989. A working manual on some seed-borne fungal
disease. Danish Government Institute of Seed Pathology for Developing Countries.
Mikoshiba, H. 1983. Study on the control downy mildew disease of maize in tropical
countries of Asia TARC, Japan.
SAS Institute. 1990. SAS/STAT Users Guide, Version 6. Fourth Edition, Volume 2.
Raleigh: SAS Institute Inc.
Sastrahidayat, I.R., 1997. Model peramalan penyakit tumbuhan dengan pendekatan
epidemiologi dalam manajemen pengendalian hama penyakit. Pidato pengukuhan
sebagai guru besar Ilmu Fitopatologi Fak. Pertanian Unibraw, Malang
Semangun, H. 1991. Penyakit-Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada
University. Yogyakarta. 449 p.
Shurtleff, M.C. 1980. Compendium of Corn Diseases. Second Edition. The American
Phytopathological Society, USA, 105 p.
Subandi, A. Sudjana, A. Rifin, M.M. Dahlan. 1982. Variety x environment interaction
variances for downey mildew infection in corn. Penelitian Pertanian 2(1):27-29.
Suswanto, I, Sarbino, Darussalam. 2008. Kajian kadar sukrosa daun dan batang jagung
saat fase vegetatif sebagai indikator kepekaan infeksi bulai Peronosclerospora
maydis Rocib. Laporan Peneliti Muda Dikti 2008/09
Van Der Plank, J.E. 1984. Disease resistance in plants 2nd ed. Academic Press, London.
194 p.
Wakman, W, 2008. Uji resistensi Peronosclerospora maydis Rocib. terhadap metal aksil.
Makalah penelitian Balai Penelitian Tanaman Serealia
Wakman, W., M. S. Kontong. 2002b. Identifikasi ketahanan varietas/galur jagung dari
berbagai sumber yang berbeda terhadap penyakit busuk batang. Hasil Penelitian
Hama dan Penyakit Tahun 2002. Balai Penelitian Tanaman Serealia.

39

Wakman, W., M.S. Kontong. 2000. Pengendalian penyakit bulai pada tanaman jagung
dengan Varietas tahan dan aplikasi fungisida metalaksil. Risalah Penelitian Jagung
dan serealia lain. Vol 7:30-33.
Wakman, W., M.S. Kontong. 2002a. Efektifitas inokulsi penyakit bulai pada jagung
secara buatn dan modifikasi infeksi alami. Penelitian Pertanian 19(2):38-42.
Wakman, W., Rezha, 2008. Evaluasi ketahanan varietas jagung terhadap penyakit bulai
(Peronosclerospora maydis Rocib.). Makalah penelitian Balai Penelitian Tanaman
Serealia

40