Anda di halaman 1dari 28

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sistem golongan darah pertama diterangkan oleh Karl Landsteiner pada abad ke
20. Pengetahuan tentang golongan darah telah berkembang dan hingga saat ini telah
diketahui lebih dari 400 antigen sel darah merah dalam 24 sistem golongan darah.
Masing-masing golongan darah mempunyai kelompok anggota dan masing-masing
anggota tersebut terdiri dari satu atau lebih. Setiap antigen dikontrol oleh satu gena
(Permono et al, 2010).
Incompatibility ABO adalah suatu penyakit hemolitik bayi baru lahir karena
ketidakcocokan (Incompatibility) golongan darah A dan B, yaitu bahwa biasanya ibu
memiliki golongan darah O dan bayi memiliki golongan darah Aatau B (Nelson, 2000).
Perlu diketahui bagi para calon ibu yang bergolongan darah O, ada baiknya
mengetahui golongan darah sang suami. Bila suami selain golongan darah O, perlu di
cek pula resesif atau dominan. Apabila dominan,bisa dipastikan anaknya nanti semua
akan bergolongan

darah ikut suami. Orang yang golongan darahnya O, memiliki

antibodi yang akan menyerang sel darah merah gol A, B, AB. Jadi, antibodinya akan
"menghancurkan" sel darah merah si bayi jika bayinya golongan darahnya bukan O.
Antibodi ini masuk ke bayi dan titernya masih tinggi sampai bayi berusia 5 hari. Namun
demikian, ada juga ibu O dan anak bukan O tapi anaknya tidak mengalami jaundice yg
bermakna. Mungkin kadar antibodi si ibu tidak tinggi. Kondisi ABO incompatibility
tidak ada kaitan dengan rhesus si ibu (Wisegeek, 2013).
Penyakit hemolitik ini dapat terjadi bila antigen golongan darah mayor fetus
berbeda dari golongan darah ibunya. Golongan darah mayor adalah A, B, AB, dan O.
Pada ras kulit putih Amerika Utara, 46% mempunyai golongan darah O, 42% golongan
darah A, 9% golongan darah B, dan 3% golongan darah AB. Incompatibility ABO terjadi
pada 12% kehamilan, tetapi hanya 1% yang berkaitan dengan hemolisis berat (Nelson,
2000). Di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat dari bulan januari hingga juni 2010. Data
yang dikumpulkan sebanyak 50 bayi dengan riwayat ibu bergolongan darah O. Setelah
dilakukan pengolahan data ditemukan bayi bergolongan darah A, 18% mengalami
hiperbilirubin. Dan bayi bergolongan darah B, 20% mengalami hiperbilirubin. Data ini
menunjukkan

bahwa

ABO(Thamrin).

ikterus

dapat meningkat

pada keadaan inkompatibilitas

Incompatibility golongan darah ABO umumnya menyebabkan penyakit yang


tidak terlalu berat. Incompatibility ABO terjadi pada 12% kehamilan, tetapi hanya 1%
yang berkaitan dengan hemolisis berat. Ibu biasanya memiliki golongan darah O dan
janin memiliki golongan darah A, B, atau AB. Manifestasi primer dari penyakit hemolitik
ABO adalah ikterus. Biasanya, ikterus ini muncul pada 24 jam pertama kehidupan dan jika tidak
ditangani, menjadi cukup berat dan menyebabkan kernikterus bahkan kematian. Akan tetapi, hanya
10%sampai 20% dari janin dengan incompatibilitas ABO yang mengalami ikterus(Christensen,
2000). Kasus yang paling berat terjadi pada bayi yang memiliki golongan darah A
sedangkan ibu memiliki golongan darah O. Selain eritrosit, antigen yang terlibat pada
incompatibility ini tersebar luas dalam jaringan, yang mungkin mengurangi efek
transmisi antibodi melalui plasenta. Berbeda dengan incompatibility Rh, penyakit ini
dapat terjadi pada kehamilan pertama. Bayi-bayi dengan incompatibility ABO yang
memiliki tes Coomb positif cenderung dua kali lebih besar memiliki kadar bilirubin lebih
dari 12mg/dl daripada bayi yang compatibel ABO(Bobak, 2005).Sedangkan menurut
data statistik tahun 2010 kira-kira 20% dari seluruh kehamilan terlihat dalam
ketidakselarasan golongan darah O dab janin golongan darah A atau B yang dapat
menyebabkan ikterus pada bayi. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Donna
Nurliana (2006) ikterus bisa disebabkan karena inkompatibilitas rhesus, kira-kira 85%
orang kulit putih mempunyai rhesus positif dan 15% rhesus negative.
Jika mengalami ABO incomptability, solusinya bayi harus banyak minum dan
dijemur. Jangan panik bila bayi kuning dan kadar bilirubin naik turun, tetapi segera
mencari pelayanan kesehatan terdekat.

Hampir semua bayi yang menderita

incompatibility ABO dapat ditangani dengan fototerapi. Ikterus berat disertai dengan
incompatibility ABO memerlukan penanganan agresif yang sama seperti pada penyakit
Rh karena adanya bukti peningkatan resiko berkembangnya ensepalopati bilirubin. Bayibayi ini juga perlu dipantau terhadap timbulnya anemia awitan lambat pada usia 2-3
minggu(Nelson,2000) dan (Wong, 2009).
1.2. Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui dan mampu melakukan
asuhan keperawatan pada pasien dengan ABO incompatibility.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Dapat menguraikan konsep golongan darah ABO

2. Dapat menguraikan definisi ABO incompatibility .


3. Dapat menjelaskan etiologi dan faktor resiko ABO incompalibility
4. Dapat menjelaskan patofisiologidari ABO incompalibility
5. Dapat menjelaskan manifestasi klinis dari ABO incompalibility
6. Dapat menjelaskan pemeriksaan diagnostik ABO incompalibility
7. Dapat menjelaskan penatalaksanaan pasien dengan ABO incompatibility.
8. Dapat menjelaskan prognosis dari ABO incompalibility.
9. Dapat menjelaskan WOC dan komplikasi dari ABO incompalibility.
10. Dapat melakukan asuhan keperawatan meliputi pengkajian melalui pemeriksaan
fisik dan anamnese pada pasien dengan ABO incompatibility.
11. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan ABO
incompatibility.
12. Dapat menyusun rencana asuhan keperawatan pada pasien dengan ABO
incompatibility.
1.3 Manfaat
1) Diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran pada khususnya
dan pembaca tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan ABO incompatibility.
2) Dapat menjadi referensi ilmu bagi fakultas keperawatan dalam rangka pengembangan
sumber daya manusia dalam menangani kasus pasien dengan ABO incompatibility.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi Dan Fisiologi Darah
Darah merupakan larutan koloid cair serta elektrolit yang berfungsi sebagai
medium pertukaran antara sel tubuh (lingkungan interior) dan eksterior. Komponen darah

memiliki karakteristik yang jelas, termasuk warna yang beragam (darah arterial berwarna
merah terang dan darah vena berwarna merah gelap), viskositas (darah tiga sampai mepat
kali ;ebih kental dibandingkan air), pH (7.35 7.4), dan volume sekitar 70-75 ml/kgBB.
Plasma terdiri dari sekitar 55% volume darah, sedangkan sisanya adalah unsur selular
yang tercangkup di dalamnya terdiri dari 45%.
Fungsi penting darah adalah :
1. Mengangkut oksigen dan nutrien yang diabsorpsi kedalam sel
2. Mengangkut karbondioksida dan produk buangan lainnya ke paru-paru, ginjal, sistem
3.
4.
5.
6.
7.

pencernaan, serta kulit


Mengangkut hormon dari kelenjar endokrin ke organ serta jaringan sasaran
Melindungi tubuh dari mikroorganisme yang mengancam hidup
Mengatur keseimbangan asam basa
Melindungi dari pengeluaran darah melalui mekanisme hemostasis
Mengatur suhu tubuh dengan cara memindahkan panas
Membran sel darah manusia mengandung berbagai antigen, juga dikenal

aglutinogen, suatu substansi yang mampu memproduksi respons imun bila dikenali oleh
tubuh sebagai benda asing. Hubungan timbal balik antara antigen pada SDM dan
antibodi dalam plasmamenyebabkan aglutinasi (penggumpalan). Dengan kata lain,
antibodi dalam plasma salah satu golongan darah (kecuali golongan AB, yang tidak
mengandung antibodi) menghasilkan aglutinasi bila dicampur dengan antigen dari
golongan darah yang berbeda.
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu berdasarkan
ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah.
Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada
permukaan membran sel darah merah tersebut. Dua jenis penggolongan darah yang
paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini
sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih
jarang

dijumpai.Transfusi

darah dari

golongan

yang

tidak

kompatibel

dapat

menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal


ginjal, syok, dan kematian.
Golongan

darah

manusia

ditentukan

berdasarkan

jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:

Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di
permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B

dalam serumdarahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya


dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.

Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah
merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya.
Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari
orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.

Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan
B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang
dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan
golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan
golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama ABpositif.

Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi
memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan
darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah
ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah Onegatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia,

meskipun di beberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih
dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah
AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang
paling jarang dijumpai di dunia.

B. Inkontabilitas ABO
1. Pengertian
Inkompatibilitas ABO adalah ketidak sesuaian golongan darah antara ibu dan bayi.
Inkompatibilitas ABO dapat meyebabkan reaksi isoimun berupa hemolisis yang
terjadi apabila antibodi anti-A dan anti-B pada ibu dengan golongan darah O, A, atau
B dapat melewati plasenta dan mensensitisasi sel darah merah dengan antigen A, B,
atau AB pada janin.

2. Sistem golongan darah ABO


Sistem ABO ditemukan pada tahun 1900 oleh Karl Landsteiner. Antigenantigen
utamanya disebut A dan B, antibodi utamanya adalah anti-A dan anti-B. Adanya
antibodi ini serta spesifitasnya tidak ditentukan secara genetis. Antibodi ini terbentuk
setelah tubuh terpajan ke antigen-antigen yang banyak terdapat di alam yang memiliki
kemiripan struktur dan spesifisitas dengan antigen sel darah merah Berikut pada tabel
2.1 adalah klasifikasi golongan darah ABO oleh Karl Landsteiner.

3. Patofisiologi
Patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya reaksi hemolitik pada
inkompatibilas ABO akibat kesalahan transfusi adalah akibat antibodi dalam plasma
pasien akan melisiskan sel darah merah yang inkompatibel. Meskipun volume darah
inkompatibel hanya sedikit (10-50 ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat.
Semakin banyak volume darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan
risiko.
Sedangkan patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya penyakit
inkompabilitas Rh dan ABO adalah terjadi ketika sistem imun ibu menghasilkan
antibodi yang melawan sel darah merah janin yang dikandungnya. Pada saat ibu
hamil, eritrosit janin dalam beberapa insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu
yang dinamakan fetomaternal microtransfusion. Bila ibu tidak memiliki antigen
seperti yang terdapat pada eritrosit janin, maka ibu akan distimulasi untuk membentuk
imun antibodi. Imun anti bodi tipe IgG tersebut dapat melewati plasenta dan
kemudian masuk kedalam peredaran darah janin sehingga sel-sel eritrosit janin akan
diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya terjadi aglutinasi dan
hemolisis, yang kemudian akan menyebabkan anemia (reaksi hipersensitivitas tipe II).
Hal ini akan dikompensasi oleh tubuh bayi dengan cara memproduksi dan melepaskan
sel-sel darah merah yang imatur yang berinti banyak, disebut dengan eritroblas (yang
berasal dari sumsum tulang) secara berlebihan.
Produksi eritroblas yang berlebihan dapat menyebabkan pembesaran hati dan
limpa yang selanjutnya dapat menyebabkan rusaknya hepar dan ruptur limpa.
Produksi eritroblas ini melibatkan berbagai komponen sel-sel darah, seperti platelet
dan faktor penting lainnya untuk pembekuan darah. Pada saat berkurangnya faktor

pembekuan dapat menyebabkan terjadinya perdarahan yang banyak dan dapat


memperberat komplikasi. Lebih dari 400 antigen terdapat pada permukaan eritrosit,
tetapi secara klinis hanya sedikit yang penting sebagai penyebab penyakit hemolitik.
Kurangnya antigen eritrosit dalam tubuh berpotensi menghasilkan antibodi jika
terpapar dengan antigen tersebut. Antibodi tersebut berbahaya terhadap diri sendiri
pada saat transfusi atau berbahaya bagi janin.
Hemolisis yang berat biasanya terjadi oleh adanya sensitisasi maternal
sebelumnya, misalnya karena abortus, ruptur kehamilan di luar kandungan,
amniosentesis, transfusi darah Rhesus positif atau pada kehamilan kedua dan
berikutnya. Penghancuran sel-sel darah merah dapat melepaskan pigmen darah merah
(hemoglobin), yang mana bahan tersebut dikenal dengan bilirubin. Bilirubin secara
normal dibentuk dari sel-sel darah merah yang telah mati, tetapi tubuh dapat
mengatasi kekurangan kadar bilirubin dalam sirkulasi darah pada suatu waktu.
Eritroblastosis fetalis menyebabkan terjadinya penumpukan bilirubin pada bayi. Bayi
dapat berkembang menjadi kernikterus.
Gejala lain yang mungkin hadir adalah peningkatan kadar insulin dan
penurunan kadar gula darah, dimana keadaan ini disebut sebagai hydrops fetalis.
Hydrops fetalis ditujukkan oleh adanya penumpukan cairan pada tubuh, yang
memberikan gambaran membengkak (swollen). Penumpukan cairan ini menghambat
pernafasan normal, karena paru tidak dapat mengembang maksimal dan mungkin
mengandung cairan. Jika keadaan ini berlanjut untuk jangka waktu tertentu akan
mengganggu pertumbuhan paru. Hydrops fetalis dan anemia dapat menimbulkan
masalah jantung (Leveno, et al., 2004)(Benson & Pernoll, 2009) (Bherman, et al.,
2000).
4. Manifestasi Klinis
Jaundis muncul segera setelah lahir (selama 24 jam pertama) dan kadar
bilirubin tak terkonjunggasi dalam serum meningkat cepat. Anemia terjadi akibat
hemolysis sejumlah besar eritrosit. Hiperbilirubinemiadan jaundis terjadi akibat
ketidak mampuan hati mengonjugasi dan mengekskresi kelebihan bilirubin.
Kebanyakan bayi baru lahir dengan HDN tidak jaundis saat lahir. Akan tetapi,
hepatosplenomigali dan berbagai derajat hidrops tampak jelas. Bila bayi terserang
hebat, tanda anemia (terlihat sangat pucat) Dan syok hipovolemik sangat jelas.
Hiploglikemia dapat terjadi sebagai akibat hiperplasia sel pangkreas (Wong, 2009).
5. Pemeriksaan Diagnostik

Diagnosis Incompatibility ABO dapat ditegakkan secara :


1. Uji Coombs direk
Dalam uji Coombs direk ditemukan hasil positif lemah sampai dengan sedang,
hasil ini dapat terus positif setiap minggu minggu pertama.
2. Adanya sferosit pada hapusan darah
Kadang memberi kesan adanya sferositosis herediter
3. Hiperbilirubinemia
Sering merupakan satu-satunya kelainan laboratorium
4. Darah lengkap terutama Hb
Kadar Hb biasanya normal tetapi kadang serendah 10-12 g/dl (100-120 g/L) maka
bayi cenderung mengalami anemia hingga berat.
5. Retikulosit
Kadar retikulosit dapat naik sampai 10-15%
6. Polikromasia
Hasilnya yang luas dan kenaikan jumlah sel darah merah berinti
7. Serum bilirubin tak terkonjugasi
Kadar serum bilirubin tak terkonjugasinya dapat mencapai 20mg/dl atau lebih jika
tidak dilakukan fototerapi.
8. Ultrasonografi (USG)
USG ini sangat penting dalam mendeteksi isoimunisasi yang berhubungan dengan
plasenta, volume cairan amnion, dan syaraf umbilikal.
6. Penatalaksanaan
Pengobatan Incompatibility ABO dapat dilakukan dengan cara (Nelson,
2000) dan (Klaus& Fanaroff, 1998):
1. Fototerapi
Sejak pengamatan oleh Cremer menyatakan bahwa konsentrasi serum
bilirubin menurun lebih cepat bila bayi terpapar cahaya matahari atau cahaya
fluresein biru, maka fototerapi digunakan secara luas untuk pengobatan
hiperbilirubin neonatal.Cahaya menurunkan konsentrasi bilirubin serum melalui
dua mekanisme dasar yaitu: fotoisomerisasi dan oksidasi fotosensitif. Sirkulasi
intramolekuler bilirubin dapat terjadi dari paparan cahaya untuk membentuk
isomer lain (isomer luminar), fotobilirunin dan luminar adalah zat yang larut dalam
air dan dapat di ekskresi melalui empedu dan urin tanpa konjugasi oleh hati.
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi
Penggantiuntuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan
intensitasyang tinggi (a boun of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light
spectrum)akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar
Bilirubindengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini
terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi

menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari


jaringan ke pembuluhdarah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah
Fotobilirubin berikatan denganAlbumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin
kemudian bergerak ke Empedu dandiekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang
bersama feses tanpa proses konjugasioleh Hati. Hasil Fotodegradasi terbentuk
ketika sinarmengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Fototherapi
mempunyaiperanan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin, tetapi tidak
dapat mengubahpenyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
Secara umumindikasi dari tindakan Fototherapi adalah (Klaus& Fanaroff,
1998):
a. Fototerapiyang diberi fototerapi pada umur 24 jam.
b. Fototerapi efektif untuk mengontrol hiperbilirubinemia pada bayi dengan berat
badan lahir antara 2000-2500 gram jika konsentrasi bilirubin serum awal diatas
10mg/dl dan pada bayi yang lebih berat daripada 2500 gram dengan konsentrasi
bilirubin serum bilirubin lebih dari 13mg/dl dengan syarat tidak terdapat
penyakit hemolitik.
Kemajuan fototerapi dalam penurunan konsentrasi bilirubin serum
biasanya tergantung pada spektrum cahaya atau aliran yang terus menerus dari
sumber cahaya dalam interval 400-800nm tergantung sinar apa yang digunakan.
Sinar biru mempunyai panjang gelombang antara 400-500nm, sinar hijau 550800nm, dan sinar putih 350-800nm. Cahaya biru atau blue violet biasanya lebih
efektif daripada cahaya yang lain karena pancarannya lebih tinggi berdasarkan
panjang gelombangnya, tetapi juga mempunyai kerugian yaitu cahaya biru
menyebabkan bayi tampak biru dan menurunkan kemampuan untuk mengetahui
klinis sianosis. Logaritma keluaran energi dalam interval biru berhubungan positif
dengan kecepatan penurunan konsentrasi bilirubin serum. Bola lampu (neon) juga
merupakan alternatif lain yang efektif untuk cahaya fluoresen dalam pemberian
fototerapi (Klaus& Fanaroff, 1998).
Pada saat bayi dialakukan fototerapi ada hal yang harus diperhatikan
antara lain:
a. Memonitor suhu bayi tiap 4 jam. Untuk bayi dalam inkubator harus dilindungi
dari cahaya dengan memberi selimut.
b. Menimbang bayi setiap hari dan mengawasi penurunan berata badan yang
bermakna akibat peningkatan hilangnya air secara evaporasi atau diare, terutama
pada bayi prematur dan anjurka untuk meningkatkan asupan cairan dan nitrisi.
c. Melindungi mata dan gonad dari sumber cahaya
d. Mengubah posisi bayi tiap 6 jam maksimal

e. Memeriksa konsentrasi bilirubin serum secara teratur, jangan percaya pada kulit
bayi untuk melihat derajat ikterus
f. Menghentikan fototerapi saat orang tua mengunjungi bayinya dan membuka
pelindung mata untuk memudahkan interaksi alami antara orang tua dan bayi.
g. Memonitor konsentrasi bilirubin sehari setelah fototerapi dihentikan untuk
mendeteksi adanya kenaikan kembali dari konsentrasi bilirubin serum.
Bayi yang menjalani fototerapi dapat mengalami efek samping
diantaranya adalah kerusakan iradiasi atau komplikasi fotodinamik. Oleh karena itu
observasi yang ketat sangat diperlukan dalam menentukan penghentian fototerapi
atau saat mengadakan tindakan perbaikan. Berikut ini dijelaskan masing-masing
komplikasi dan mekanisme penyebabnya dalam sebuah tabel.
Tabel 2. Komplikasi fototerapi menurut (Klaus& Fanaroff, 1998)
Abnormalitas
Tanning (perubahan warna kulit)

Mekanisme Penyebab yang Diusulkan


Induksi sintesis melanin dan/ atau dispersi
oleh cahaya ultraviolet

Sindrom bayi bronze

Penurunan ekskresi hepatik dari foto


produk bilirubin

Diare

Bilirubin menginduksi sekresi usus

Intoleransi laktosa

Trauma mukosa dan epitel viili

Hemolisis

Trauma fotosensitif pada erirosit sirkulasi

Kulit terbakar

Paparan

berlabihan

karena

emisi

gelombang pendek lampu fluoresen


Dehidrasi

Peningkatan kehilangan air yang tidak


disadari

karena

energi

feton

yang

diabsorbsi
Ruam kulit

Trauma fotosensitif pada sel mast kulit


dengan pelepasan histamin

2. Transfusi tukar
Tranfusi tukar adalah tindakan menukar darah neonatus dengan darah
yang berasal dari donor, dengan tujuan mengganti darah untuk memperbaiki

keadaan bayi dan mempertahankan bilirubin serum pada tingkat yang tidak
menimbulkan keracunan pada saraf oleh sebab apapun (Klaus& Fanaroff, 1998).
a. Indikasi dilakukan transfusi tukar adalah:
1) Hiperbilirubinemia
2) Penyakit hemolisis pada neonatus
3) Koagulasi intravaskuler secara menyeluruh (DIC)
4) Hiperkalemia yang tidak berhasil dalam pengobatan (Calsium Glukonas,
Natrium Bikarbonat, Insulin)
5) Hipermagnesia disertai gangguan nafas berat
6) Gangguan metabolik
7) Sepsis
Pada tindakan transfusi tukar, darah yang diperlikan harus sesegera
mungkin didapatkan. Heparin dapat digunakan sebagai antikoagulan. Jika darah
diambil sebelum persalinan darah seharusnya diambil dari donor golongan O, Rh
negatif dengan titer anti A dan anti B yang rendah serta harus cocok dengan serum
ibu dengan uji Coomb indirek. Sesudah persalinan darah harus diambil dari donor
Rh negatif yang sel-selnya cocok dengan serum bayi maupun ibu, bila mungkin
biasanya digunakan sel donor golongan O, tetapi sel-sel golongan darah ABO bayi
dapat digunakan bila ibu mempunyai golongan yang sama. Intinya pada transfusi
tukar memakai golongan darah yang sam seperti golongan darah ibu bayi (tipe Rh
harus diuji silang dengan darah bayi) (Nelson, 2000).
Kriteria untuk dilakukan transfusi tukar pada neonatus adalah berdasarkan
evaluasi hemoglobin dan level bilirubin tali pusat atau serum seperti dalam tabel 4
di bawah ini, sedangkan apabila dalam keadaan dimana kadar antibodi ibu tidak
dapat terdeteksi maka kebutuhan transfusi tukar tergantung berat badan bayi dan
kadar bilirubin serta ada atau tidaknya komplikasi
Tabel 5. Kriteria Transfusi Tukar
Temuan
Anti D antibodi ibu
Hb tali pusat
Bilirubin tali pusat
Hb dalam kapiler

Monitoring

Pertimbangan

Transfusi tukar

< 1: 64
>14 g/dl
<4 mg/dl
>12gm/dl

transfusi tukar
>1:64
12-14 g/dl
4-5 mg/dl
<12 gm/dl

<12 g/dl
>5 mg/dl
<12
gm/dl

dan

menurun dalam 24
jam

pertama

post

natal

b. Macam- macam transfusi tukar


1) Double volume
Darah yang ditranfusi tukar sebanyak dua kali lipat volume darah
bayi. Bayi cukup bulan mempunyai volume darah 80 ml/kgBB, sedangkan
bayi premature 95 ml/kgBB. Jumlah ini dikali dua, menjadi jumlah darah
yang harus ditranfusi tukar.
2) Transfusi tukar parsial (Partial Exchange)
Yaitu memberikan cairan koloid atau kristaloid pada kasus
polisiremia, atau darah pada anemia. Pada polisitemia, dilakukan trasfusi
tukar dengan NaCl 0,9% atau plasma, sedangkan pada anemia digunakan
PRC.
Volume darah yang dibutuhkan pada polisitemia dihitung dengan rumus :
Volume darah transfusi (ml) = Perkiraan jml. darah bayi (ml) x BB (kg)
x (Ht bayi Ht target) / Ht bayi
Sedangkan untuk anemia, dihitung dengan rumus :
Volume darah transfusi (ml) = Perkiraan jumlah darah bayi (ml) x BB
(kg) x (Hb target Hb bayi) / (Hb PRC Hb bayi)
3) Iso volume
Yaitu hanya membutuhkan sebanyak volume darah bayi yang dapat
mengganti 65% Hb bayi.
c. Teknik transfusi tukar
1) Simple double volume (push pull method),
Untuk keluar masuk darah hanya diperlukan satu jalur transfuse
(biasanya dari vena besar, seperti vena umbilikal). Teknik ini digunakan

untuk hiperbilirubinemia tanpa komplikasi (seperti anemia, sepsis, dll).


Waktu rata-rata perkali untuk keluar masuk kira-kira 3-5 menit. sehingga
total transfuse akan berlangsung selama 90-120 menit.
2) Isovolumetric double volume.
Pada teknik ini, dilakukan pemasangan 2 jalur, bisa arteri dan vena
(pada umbilical ataupun perifer) ataupun vena dengan vena, dibutuhkan 2
operator untuk memasukkan dan mengeluarkan darah. Jika dipakai jalur
arateri dan metode ini adalah proses masuk dan keluar darah bisa dilakukan
pada waktu bersamaan sehingga gangguan hemodinamik minimal, di
samping itu waktu pelaksanaan transfusi tukar juga lebih singkat (45-60
menit). Waktu pelaksanaan bisa diperpanjang sampai 4 jam untuk
memungkinkan ekuilibrasi bilirubin di darah dan jaringan, hal ini akan
meningkatkan kadar bilirubin yang bisa di hilangkan. Pada kasus hydrops
fetalis berat, teknik ini merupakan pilihan, karena fluktuasi volume minimal,
sehingga gangguan miokardium juga minimal.
3) Transfusi tukar parsial.
Dilakukan transfusi dengan plasma atau PRC, sesuai indikasi
(polisitemia atau anemia berat).
d. Komplikasi transfusi tukar
1) Selama proses transfusi:
a) Emboli
b) Gangguan keseimbangan cairan
c) Aritmia
d) Asidosis
e) Sesak nafas
f) Hiperkalemia
g) Anemia dan polisitemia
h) Fluktuasi tekanan darah serebral
2) Sesudah proses transfusi:
a) Infeksi
b) Hipokalsemia
c) Hipoglikemia
d) Hipernatremia

e) Trombositopenia
f) Gangguan pembekuan darah
g) Infeksi melalui darah donor
3. Terapi Obat
Ada beberapa obat yang mungkin digunakan dan beberapa yang
lebih lazimdigunakan dalam terapi hiperbilirubin.
a. Fenobarbital
Obat ini memperbesar konjugasi dan ekskresi bilirubin. Pemberiannya
akan membatasi perkembangan ikterus fisiologis pada bayi baru lahir bila
diberikan pada ibu dengan dosis 90mg/24jam sebelum persalinan atau
pada bayi saat lahir dengan dosis 10mg/kg/24jam. Meskipun demikian,
fenobarbital tidak secara rutin dianjurkan untuk mengobati ikterus pada
neonatus. (1) Karena pengaruhnya pada metabolisme bilirubin biasanya
tidak terlihat sebelum mencapai beberapa hari, (2) karena efektifitas obat
ini lebih kecil daripada fototerapi dalam menurunkan kadar bilirubin, (3)
karena dapat mempunyai pengaruh sedatif yang tidak menguntungkan
serta, (4) tidak menambah respons terhadap fototerapi (Nelson, 2000).
b. Obat yang menghambat degradasi hame sehingga mengurangi kadar
bilirubinantara lain metaloporfirin, D-penisilamin, dan inhibitor peptida
(Suresh et al.,2003).
c. Obat yang meningkatkan konjugsi bilirubin antara lain fenobarbital,
klofibrat,dan ramuan herbal Cina (World Health Organization,2004).
d. Peningkatan asupan oral bayi.
Infus Albumin memperbanyak lokasi peningkatan, mengurangi resiko
bilirubin bebas melewati sawar darah-otak dan dapat digunakan bila orang
tua menolak transfusi darah atau ketika tidak ada produk darah yang
cocok.
Penatalaksanaan keperawatan pada bayi dengan ABO inkompatibilitas adalah
Health Education pada orang tua agar mengobservasi ikterus (warna kuning pada
badan dan sklera), bila sudah terjadi ikterus maka ibu sebaiknya rutin menjemur
bayinya di bawah sinar matahari langsung setiap pagi dan bayi harus banyak minum
dan dijemur. Jangan panik bila bayi kuning dan kadar bilirubin naik turun, tetapi
segera mencari pelayanan kesehatan terdekat (Nelson, 2000).
7. Komplikasi
a. Penyakit kernikterus
b. Bilirubin Encephalopathy ( komplikasi serius )
c. Retardasi mental - Kerusakan neurologis
d. Gangguan pendengaran dan penglihatan

e. Kematian.

8. Prognosis
Pada ABO incompatibility ini umumnya dapat kembali secara normal, tetapi
pada ikterus berat yang disertai dengan ABO incompatibility memerlukan penanganan
agresif yang sama dengan penyakit Rh karena adanya bukti peningkatan resiko
berkembangnya ensepalopati bilirubin yang dapat menyebabkan kematian(Nelson,
2000).
C. Asuhan Keperawatan
1.
Identitas
Pada beberapa ibu dengan golongan darah O memiliki hemolisin Ig G anti A dan anti
B yang menembus dinding plasenta sehingga bereaksi dengan antigen A dan antigen
B dipermukaan darah dan merusak darah bayi. Atau ibu dengan Rhesus negative
dengan bayi yang beresus positif juga akan menyebabkan reaksi lisis pada darah bayi,
keturunan asli Amerika, Jepang, Cina dan kebangsaan Korea (Ladewig, 2005).
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Kuning, menghisap lemah, pergerakan anak tidak aktif
3. Terjadinya Hiperbilirubin
Ikterus fisiologis muncul pada hari ke 2 atau ke 3 pasca kelahiran sedangkan ikterus
patologis muncul dalam 24 jam pertama dan sangat menggambarkan terjadinya hemolisis
hebat atau sepsis, ini merupakan salah satu tanda dari penyakit ABO incompatibiity (Nelson,
2000).
4. Riwayat Prenatal / maternal
a. Ibu dengan rhesus negatif dan ayah dengan rhesus positif
b. Ibu dengan DM, toxoplasma, rubella dan herpes
c. Infeksi seperti toksoplasmosis, hepatitis, rubella, Citomegalovirus dan herpes
yang mungkin terinfeksi intrauterin melalui plasenta selama kehamilankehamilan, pemberian obat-obatan/ hormon (Norobiosin, pregnanediol).
5. Riwayat Intranatal
a. Ketuban pecah dini, pemberian obat-obatan anastesia
b. Trauma kelahiran, kelahiran dengan vakum ekstrasi adanya hematoma atau injuri
c. Mungkin preterm
d. Bayi kecil untuk gestasi, premature, polyhidramnion
e. Bayi dengan retardasi pertumbuhan intra uterus (IUGR)
f. Bayi besar untuk usia gestasi
g. Nilai apgar untuk melihat indikasi asfixia
6. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya penyakit golongan darah inkompatibilitas ABO atau Rh, polycythemia,
gangguan saluran cerna dan hati (hepatitis).
7. Riwayat Pikososial

Orang tua terutama ibu yang mengalami anak dengan incompatibilitas ABO akan
merasakan kecemasan oleh tindakan fototerapi atau tranfusi tukar, perubahan peran
orang tua karena anak menjalani hospitalisasi.
8. Pengetahuan Keluarga
Penyebab perawatan pengobatan dan pemahan ortu terhadap bayi yang ikterus.
A Kebutuhan dasar sehari-hari(Doenges,2005)
Nutrisi
Pada umumnya bayi malas minum (reflek menghisap dan menelan lemah)
sehingga BB bayi mengalami penurunan.
Eliminasi
Biasanya bayi mengalami diare, urin mengalami perubahan warna gelap dan tinja
berwarna pucat.
Istirahat dan istirahat
Bayi tampak cengeng dan mudah terbangun, bayi biasanya mengalami penurunan
aktivitas, letargi, hipototonus dan mudah terusik.
Personal hygiene
Kebutuhan personal hygiene bayi oleh keluarga terutama ibu.
B Pemeriksaan fisik (Doenges, 2005)
Kepala dan leher
a. Penilaian

ikterus

secara

klinis

dengan

menggunakan

rumus

KRAMER(Surasmi,2003):
Menurut Kramer, ikterus dimulai dari kepala, leher, dan seterusnya.
Untuk penilaian ikterus, Kramer membagi tubuh bayi baru lahir menjadi 5
bagian yang dimulai dari kepala dan leher, dada sampai dengan pusat, pusat
bagian bawah sampai tumit, tumit sampai pergelangan kaki dan dari bahu
sampai pergelangan tangan, yang terakhir kaki dan tangan termasuk telapak kaki
dan telapak tangan.
Gambar 1 Pembagian derajat ikterus menurut Kramer

Cara pemeriksaannya adalah dengan menekan jari telunjuk ditempat


yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung, tulang dada, lutut dan yang lain.
Kemudian penilaian kadar bilirubin dari tiap- tiap nomor disesuaikan dengan
angka rata- rata didalam gambar diatas. Cara Pemeriksaan ini juga tidak
menunjukkan intensitas ikterus di dalam plasma bayi baru lahir. Nomor urut
menunjukkan arah meluasnya ikterus.

Tabel 1. Hubungan kadar bilirubin dengan ikterus


Derajat

Daerah ikterus

ikterus

Perkiraan

kadar Perkiraan

kadar

bilirubin

(rata- bilirubin

(rata-

rata) aterm

rata) preterm

Kepala sampai leher

5,4

Kepala,badan sampai umbilikus

8, 9

9,4

Kepala, badan , paha sampai lutut

11,8

11,4

Kepala, badan, ekstremitas sampai

15,8

13,8

>16

>14

dengan pergelangan tangan dan


kaki
5

Kepala, badan, semua ekstremitas


sampai ujung jari

b. Cyanosis pada bayi hipoxia


c. Sefalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal
karena truma lahiran (ekstraksi vakum, forcep).
d. Fontanela menonjol
2. Dada
Pernafasan apnea, dispnea pada kernikterus, dan asfixia.
3. Perut
a. Abdomen yang membesar
b. Pembesaran hati dan limpa
c. Bising usus hipoaktif, pasase mekoneum mungkin lambat
d. Distensi abdomen dengan gambaran usus yang tampak pada dinding abdomen
dan muntah campur empedu adalah tanda obstruksi intestinal.
4. Ekstremitas
Tampak ikterik padas seluruh ekstremitas atau hanya sebagian, letargi, tonus otot
meninggi.
5. Neurologi
Hipotonia, tremor, reflek moro dan menghisap menurun.
6. Urogenenetalia
a. Warna urine gelap pekat
b. Feses lunak/ coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin atau warna feses
seperti dempul

C DiagnosaKeperawatan
1

Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan aktif volume cairan


(evaporasi), diare, efek sekunder terhadap fototerapi, kemampuan menghisap
menurun.

Kerusakan integritas kulit berhubungan denganhiperbilirubinemia, diare

(efek

fototerapi)
3

Resiko cidera internal : kernikterus berhubungan dengan peningkatan kadar

4
5

bilirubin dalam darah.


Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penururnan O2 kejaringan perifer.
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kemampuan menghisap menurun, anoreksia, gangguan metabolisme hati.

Kurang pengetahuan orang tua tentang bayinya berhubungan dengan kurangnya /


tidak mempunyai pengalaman

Ansietas orang tua berhubungan dengan status kesehatan (hospitalitasi dan


fototerapi)

Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan bayi berhubungan dengan


kerusakan system saraf pusat

D Intervensi
1

Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan aktif volume cairan


(evaporasi), diare, efek sekunder terhadap fototerapi, kemampuan menghisap
menurun.
Tujuan : Bayi tidak mengalami deficit volume cairan selama pelaksanaan foto
terapi dan suhu badan dalam batas normal.
Kriteria Hasil :
Turgor kulit baik
Penurunan berat badan tidak boleh lebih dari 2%
Produksi urine 1-2 cc/kgBB/jam
Ubun-ubun besar tidak cekung
Mukosa lembab
Suhu axial 36,5-37,5 OC
Intervensi :
1) Pertahankan intake cairan/ASIadekuat (berikan minum sesuai jadwal).
R/ Intake cairan yang adekuat sesuai kebutuhan dapat mencegah dehidrasi.
Bayi dapat tidur lebih lama dalam hubungan dengan foto terapi. Hal ini dapat

meningkatkan resiko dehidrasi jika jadwal pemberian minum yang sering tidak
dipertahankan.
2) Berikan ASI dengan cara pemberiannya memakai sendok, dan anjurkan
orangtua berinteraksi dengan bayi (kontak mata, bicara dengan bayi selama
pemberian minum)
R/ Membantu mengembangkan proses kedekatan, yang mungkin lambat
karena perpisahan yang diperlukan untuk foto terapi. Stimulasi visual, taktil
dan auditorius membantu bayi mengatasi penyimpangan sensori.
3) Observasi kemampuan menghisap
R/ Kemampuan menghisap baik asupan ASI / nutrisi adekuat.
4) Timbang berat badan setiap hari
R/ Penurunan berat badan >2% dapat merupakan gejala dari dehidrasi.
5) Observasi suhu tubuh setiap 3 jam atau bila perlu.
R/ Fluktuasi pada suhu tubuh dapat terjadi sebagai respons terhadap
pemajanan sinar, radiasi, dan konveksi.
6) Pantau masukan dan haluaran cairan (perhatikan tanda-tanda dehidrasi)
jumlash dan warna urine
R/ Peningkatan kehilangan air melalui feses dan evaporasi dapat menyebabkan
dehidrasi.
7) Kolaborasi dalam pemberian cairan per parenteral sesuai indikasi.
R/ Mungkin perlu untuk memperbaiki atau mencegah dehidrasi berat/ jika ada
penurunan BB > 2%, peningkatan suhu tubuh, BAB yang berlebihan, dan
mencret.
8) Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi :
Kadar bilirubin setiap 12 jam
R/ Penurunan kadar bilirubin menandakan keefektifan foto terapi :
peningkatam yang kontinyu menandakan hemolisis yang kontinyu dan

dapat menandakan kebutuhan terhadap transfusi tukar.


Kadar Hb
R/ Hemolisis lanjut di manifestasikan oleh penurunan kontinyu pada kadar

Hb
Trombosit dan sel darah putih
R/ Trombositopenia selama foto terapi telah dilaporkan pada beberapa bayi

penurunan SDP menunjukkan kemungkinan efek pada limfosit perifer.


9) Ukur suhu tubuh klien tiap 4 jam atau lebih sering bila diperlukan
R/ Mengetahui peningkatan suhu yang drastis
10) Anjurkan klien untuk memakai baju yang tipis dan menyerap keringat
R/ Evaporasi akan menjadi cepat terjadi
11) Berikan selimut bila klien menggigil
R/ Untuk mengatasi vasokontriksi pembuluh darah
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia, diare (efek
fototerapi)

Tujuan : Klien tidak mengalami gangguan integritas kulit


Kriteria Hasil :

Tidak ada rash pada kulit


Tidak ada iritasi kulit genetalia / sekitar glutea
Intervensi :
1) Observasi dan catat adanya perubahan pada kulit seperti rash dan iritasi
R/ Efek samping tidak umum dari foto terapi meliputi perubahan pigmen
menyolok (hitam kecoklatan) yang dapat terjadi bila kadar bilirubin
terkonjugasi meningkat.
2) Perhatikan warna dan frekuensi defekasi dan urine.
R/ Defekasi encer, sering dan kehijauan serta urin kehijauan menandakan
keefektifan foto terapi dengan pemecahan dan ekskresi bilirubin.
3) Dengan hati-hati cuci area perional setiap selesai defekasi inspeksi kulit
terhadap kemungkinan iritasi atau kerusakan
R/ Membantu mencegah iritasi dan ekskoriasi dari defekasi yang sering atau
encer.
4) Ubah posisi tiap 6 jam
R/ Memungkinkan pemajanan berlebihan dari bagian tubuh individu/ dan
membatasi are tertekan
5) Jaga popok tetap kering dan bersih
R/ Kontak kulit dan popok bayi yang terus menerus / dalam waktu lama dapat
menimbulkan iritasi pada kulit dan kehilangan suhu secara konduksi.
6) Berikan penutup/pelindung untuk menutup mata.
R/ Mencegah kemungkinan kerusakan retina dan konjungtiva dari sinar

intensitas tinggi
Resiko cidera internal : kernikterus berhubungan dengan peningkatan kadar
bilirubin dalam darah.
Tujuan : Klien tidak terjadi injuri internal (kernikterus)
Kriteria Hasil:
Keadaan umum baik
Kesadaran compos mentis
Tidak ada tangis melengking
Tidak kejang
Kadar bilirubin indirek <12 mg/dl (aterm) dan <10 mg/dl (preterm)
Intervensi :
1) Jelaskan pada orangtua tentang keadaan bayi dan rencana tindakan
R/ Meningkatkan pemahaman orangtua tentang kondisi bayi&rencana tindakan
sehingga dapat meningkatkan peran serta orangtua dalam perawatan anaknya
2) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
R/ Tindakan utama dalam pencegahan infeksi silang
3) Kaji factor resiko terjadinya hiperbilirubin
R/ Paling umum terjadi pada ibu dengan golongan darah O, yang antibodinya
anti A dan Anti B serupa dengan itu, bila ibu Rh-negatif

4) Observasi dan catat tanda dan gejala hiperbilirubin


R/ Ikterik patologis tampak 24 jam pertama kehidupan dan lebih mungkin
menimbulkan perkembangan kerikterus/ensepalopati bilirubin. Bayi normal
dengan ikterus pada zone II Kramer (5-12 mg/dl)
5) Observasi keadaan umum, tangisan dan tanda-tanda vital bayi setiap 3 jam
R/ Perubahan perilaku hubungan dengan kerikterus biasanya terjadi antara hari
ke 3 dan ke 10 kehidupan dan jarang terjadi sebelum 36 jam kehidupan
6) Kolaborasi :
Pemeriksaan kadar bilirubin, darah lengkap, selama maupun sesudah terapi
sinar (1-2 hari)
R/ Bayi potensial terhadap kernikterus di prediksi paling baik melalui
peningkatan kadar bilirubin indirek. Peningkatan bilirubin indirek 18-20
mg/dl pada bayi cukup bulan, atau lebih besar dari 13-15 mg/dl pada bayi
preterm atau bayi sakit adalah bermakna.
Pelaksanaan foto terapi sesuai protocol.
R/ Foto terapi menimbulkan foto-oksidasi bilirubin pada jaringan subkutan.
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penururnan O2 kejaringan perifer.
Tujuan: perfusi jaringan kembali normal
Kriteria hasil: Tekanan darah, nadi arteri, Hb/Ht dalam batas normal: pengisisan

kapiler cepat, tidak terjadi sianosis. Saturasi kadar Oksigen tubuh normal
Intervensi :
1. Pantau tanda- tanda vital catat derajat dan durasi episode hypovolemic.
R/ Luasnya keterlibatan hipofise dapat dihubungkan dengan derajat dan durasi
hipotensi. Peningkatan frekuensi pernapasan dapat menunjukkan upaya untuk
mengatasi asidosis metabolic.
2. Perhatikan tingkat kesadaran dan adanya perubahan perilaku/gerakan neonatus.
R/ Perubahan sensorium adalah indicator dini hipoksia, sianosis tanda lanjut
mungkin tidak sampai kadar Po2 turun dibawah 50 mmHg
3. Kaji dasar warna kuku mukosa mulut, gusi dan lidah serta perhatikan suhu kulit.
R/ Pada kompensasi vasokontriksi dan pirow organ vital sirkulasi pada
pembuluh darah perifer menurun mengakibatkan sianosis dan suhu kulit dingin.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam Pemeriksaan laboraturium. Pantau kadar
pH.
R/ Mendiagnosis derajat hipoksia jaringan atau asidosis yang diakibatkan oleh

pembentukan asam laktat dari metabolisme aerob menjadi anaerob.


5. Kolaborasi pemberian terapi oksigens esuai kebutuhan.
R/Memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk tranpor sirkulasi ke jaringan.
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kemampuan menghisap menurun, anoreksia, gangguan metabolisme hati.
Tujuan: Nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh
Kriteria hasil:

Berat badan klien bertambah

Klien tidak menunjukkan bukti penurunan berat badan

Klien terhindar dari episode diare

Intervensi :
1)

Timbang dan catat berat badan klien pada jam yang sama setiap hari.
R/ Untuk mendapatkan pembacaan yang paling akurat.

2)

Pantau asupan dan haluaran klien.


R/ Berat badan dapat meningkat sebagai akibat dari retensi cairan.

3)

Berikan sejumlah makanan yang dianjurkan khususnya ASI.


R/ Sesuai dengan kebutuhan klien dalam perbaikan kondisi.

4)

Ajarkan anggota keluarga terutama ibu klien dalam pemberian ASI.


R/ Membantu klien dalam perbaikan asupan nutrisi klien.

5)

Auskultasi dan catat suara nafas klien setiap 4 jam.


R/ untuk memantau aspirasi pada bayi.

6)

Dokumentasi semua tindakan pemberian nutrisi pada klien.


R/ Agar semua tindakan dapat dipertanggungjawabkan.

Defisit pengetahuan orang tua tentang bayinya berhubungan dengan kurangnya / tidak
mempunyai pengalaman.
Tujuan : Ibu memahami tentang kondisi bayinya
Kriteria Hasil :
Ibu mengungkapkan pemahaman tentang kondisi bayinya
Ibu mendemontrasikan perawatan bayi yang tepat
Intervensi :
1) Berikan informasi tentang kondisi bayi, rencana tindakan
R/ Memperbaiki kesalahan konsep, meningkatkan pemahaman, menurunkan rasa
takut dan perasaan bersalah. Ikterus neonatorus mungkin fisiologis akibat ASI,
atau patologis, dan protocol perawatan tergantung pada penyebabnya dan faktor
pemberat.
2) Libatkan orang tua dalam perawatan bayinya.
R/ Keterlibatan orang tua dalam perawatan bayinya dapat meningkatkan rasa
percaya diri ibu
3) Ajari ibu untuk mengenali tanda peningkatan kadar bilirubin khususnya bila bayi
dipulangkan dini
R/ Memungkinkan orang tua mengeneali tanda-tanda peningkatan kadar bilirubin
dan pencari bantuan medis yang tepat.

4) Diskusikan penatalaksanaan di rumah dari ikterus fisiologis, termasuk


peningkatan pemberian ASI dan program penatalaksanaan
R/ Pemahaman orang tua membantu mengembangkan kerjasama mereka bila bayi
dipulangkan informasi membantu orangtua melaksanakan penatalaksanaan dengan
aman dan dengan tepat dan mengenali pentingnya semua aspek program
penatalaksanaan.
5) Berikan informasi tentang mempertahankan suplai ASI dan beri kesempatan ibu

untuk bertanya.
R/ Membantu ibu untuk mempertahankan pemahanan tentang pentingnya terapi.
Ansietas orang tua berhubungan dengan status kesehatan ( hospitalitasi dan fototerapi)
Tujuan : Keluarga mampu mengungkapkan kecemasan yang dirasakan mengenai
hospitalisasi.
Kriteria hasil :
Keluarga mampu berkomunikasi secara terbuka dengan perawat tentang keadaan
bayi.
Kontak orang tua dengan bayi tetap terjalin.
Intervensi :
1) Menjelaskan pada keluarga mengenai tujuan fototerapi.
R/ Fototerapi dapat membantu menurunkan kadar bilirubin dalam darah dimana
bilirubin dibuang melalui feces dan urin.
2) Menjelaskan prosedur pelaksanaan fototerapi.
R/ Pemasangan fototerapi dilakukan sampai kadar bilirubin dalam darah anak
normal kembali atau sesuai instruksi dokter.
3) Memberi kesempatan pada orang tua untuk kontak dengan bayi.
R/ Hubungan yang dekat antara orangtua dan bayi dapat meningkatkan hubungan

kepercayaan atau kedekatan sehingga cemas bisa berkurang.


Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan bayi berhubungan dengan kerusakan
system saraf pusat
Tujuan: Tidak terjadi keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan bayi
Kriteria Hasil:
Anak terus tumbuh dan berat badan bertambah, berdasarkan pada grafik

pertumbuhan normal sesuai usia dan jenis kelaminnya


Orang tua atau pengasuh memelihara cinta dan hubungan suportif dengan anak
Anak berpartisipasi dalam aktivitas dan bermaindalam lingkungan yang tidak

dibatasi
Intervensi:
1) Ukur berat badan anak dan kaji ulang kurva grafik pertumbuhan anak
R/ Untuk menentukan nilai tinggi dan berat badan anak saat ini dan memantau
riwayat pertumbuhannya.
2) Lakukan kolaborasi dengan bagian gizi untuk menentukan program makanan
dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak
R/ Untuk meyakinkan bahwa kebutuhan nutrisi anak setiap harinya terpenuhi.

3) Ajarkan orang tua atau pengasuh tentang kebutuhan anak akan interaksi
berkualitas dengan anggota keluarga yang lain
R/ untuk mendorong perkembangan intelektual, bahasa, dan sosial.
4) Bantu orang tua atau pengasuh dalam mengidentifikasi aktivitas dan mainan yang
tepat sesuai usia anak
R/ Untuk meningkatkan keterampilan motorik, sosialisasi, dan perkembangan
intelektual.
5) Anjarkan orang tua dan pengasuh tentang faktor-faktor resiko yang menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
R/ Sehingga orang tua atau pengasuh dapat mengindentifikasidan memperbaiki
lingkungan atau defisiensi stimulasi terhadap mereka.
6) Berikan salinan tertulis untuk orang tua atau pengasuh yang berisi rencana
pengajaran anak
R/ untuk mendorong implementasi rencana yang konsisten di rumah

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
1

Kesimpulan
Incompatibility ABO adalah suatu penyakit hemolitik bayi baru lahir karena

ketidakcocokan (Incompatibility) A dan B, yaitu bahwa biasanya ibu memiliki golongan


darah O dan bayi memiliki golongan darah Aatau B. (Nelson, 2000). Etiologi dan faktor
resikoyaitu ibu

yang memiliki golongan darah O dan golongan darah bayi A atau B.

Manifestasi klinis yang dapat di jumpai adalah : ikterus, kadar serum bilirubin tak
terkonjugasi meningkat pesat, anemia, eritroblastosis dengan derajat yang bervariasi,
retikulositosis, hepatosplenomegali, hiperbilirubin, dan hipoglikemia dapat terjadi sebagai
akibat hiperplasia sel pankreas.
Pemeriksaan Diagnosis Incompatibility ABO dapat ditegakkan secara :Uji Coombs
direk, adanya sferosit pada hapusan darah, hiperbilirubinemia, darah lengkap terutama Hb,
retikulosit, polikromasia, serum bilirubin tak terkonjugasi, Ultrasonografi (USG) ini sangat

penting dalam mendeteksi isoimunisasi yang berhubungan dengan plasenta, volume cairan
amnion, dan syaraf umbilikal.
Pengobatan Incompatibility ABO dapat dilakukan dengan cara (Nelson, 2000) : yaitu
Fototerapi, transfusi tukar dan, terapi Obat yang mungkin digunakan dan beberapa yang lebih
lazim digunakan dalam terapi hiperbilirubin. Diagnosis Banding nya adalah : Incompatibility
Rh, penyakit hemolitik dan anemia yang disebabkan oleh antibodi anti-kell, thalasemia,
infeksi kongenital (inklusi sitomegali, toksoplasmosis, rubella, sifilis), penyakit

ikerus

hemolitik aloimun dan penyakit kernikterus.


Prognosis pada ABO incompatibility ini umumnya dapat kembali secara normal, tetapi
pada ikterus berat yang disertai dengan ABO incompatibility
agresif

yang

memerlukan penanganan

sama dengan penyakit Rh karena adanya bukti peningkatan resiko

berkembangnya ensepalopati bilirubin yang dapat menyebabkan kematian. Sedangkan


komplikasi penyakit ini ialah penyakit kernikterus, bilirubin Encephalopathy (komplikasi
serius), retardasi mental - Kerusakan neurologis, gangguan pendengaran dan penglihatan dan
kematian.

Saran

Bagi Penulis
Diharapkan makalah ini yang berisi tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan
meningitis dapat menambah ilmu pengetahuan

Bagi Pembaca
Diharapkan makalah ini mampu menjadi sumber informasi yang layak dan lengkap
sebagai bahan untuk membuat makalah selanjutnya

Bagi Institusi
Diharapkan makalah ini mampu menjadi sumber referensi yang cukup baik dan
berkompeten

DAFTAR PUSTAKA
Behrman, E. Richard, 2000, Ilmu Kesehatan Anak Nelson, EGC, Jakarta
Benson, R. C. & Pernoll, M. L., 2009. Buku Saku Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta: EGC.
Bherman, Kliegman & Arvin & Nelson, 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC.
Bobak, Lowdermilk, 2005, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Ed 4, EGC, Jakarta
Corwin, Elizabeth J. 2009. Patofisiologi: Buku Saku Ed 3. Jakarta: EGC.
Doengoes, Marilynn.E, 2005, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan
dan Penatalaksanaan perawatan Pasien, EGC, Jakarta
Leveno, K. J. Et al. 2004. Obstetri Wiliam: Panduan Ringkas, Ed 21. Jakarta: EGC.
Permono, Bambang, H. 2010. Buku Ajar Hematologi-Onkologi Anak. Jakarta: Badan Penerbit
IDAI

Surasmi, Asrini. 2003.Perawatan bayi resiko tinggi., Jakarta:EGC.


Wong, Donna.L. 2009.Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Ed 6 Vol 1.Jakarta: EGC.
http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/inkompatibilitas-abo-_9510001031627 diakses tanggal 6 Mei 2014.