Anda di halaman 1dari 18

DISUSUN OLEH

NAMA :

Muhammad Al-Azhari
Mujiburrahman Fuadi
Rangga Ryoza
PENERAPAN BIOTEKNOLOGI DALAM PROSES KLONING

1.1 Latar Belakang


Bioteknologi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan
makhluk hidup baik itu bakteri, fungi, virus, dan lain-lain maupun produk dari
makhluk hidup enzim, alkohol dalam proses produksi untuk menghasilkan barang
dan jasa. Pada zaman sekarang ini perkembangan Bioteknologi tidak hanya
semata mata pada bidang ilmu biologi saja melainkan juga perkembangan pada
bidang bidang ilmu murni dan terapan lain seperti biokimia, computer, genetika,
biologi molekuler, maupun mikrobiologi. Penerapan bioteknologi dalam
kehidupan sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Beberapa penerapan dalam
bidang teknologi yang sudah banyak dilakukan misalnya bidang teknologi pangan
adalah pembuatan bir, roti, maupun keju, pemuliaan tanaman untuk menghasilkan
varietas-varietas baru di bidang pertanian, serta pemuliaan dan reproduksi hewan.
Di bidang medis, penerapan bioteknologi pada masa lalu dibuktikan antara lain
dengan penemuan vaksin, antibiotik, dan insulin.
Pada zaman sekarang, di Negara Negara maju dan berkembang bioteknologi
berkembang dengan sangat pesat. Kemajuan ini ditandai dengan ditemukannya
berbagai macam teknologi seperti rekayasa genetika, kultur jaringan, DNA
rekombinan pengembangbiakan sel induk, kloning, dan lain-lain. Teknologi ini
memungkinkan kita untuk memperoleh penyembuhan penyakit-penyakit genetik
maupun kronis yang belum dapat disembuhkan. Selain itu Hal hal yang

mendorong perkembangan bioteknologi ini adalah untuk meningkatkan mutu baik


itu dalam bidang pangan, medis, maupun bidang kehidupan lainnya. Bioteknologi
secara umum berarti meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi
teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu
organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen
pada organisme tersebut. Salah satu penerapan bidang bioteknologi yang sering
dibicarakan orang yaitu Kloning. Dimana dengan dilakukannya kloning ini maka
akan bermanfaat bagi kehidupan manusia baik itu dalam bidang pengobatan
maupun yang lainnya.

Sejarah dan Definisi Kloning


Definisi
Secara definisi, Kloning adalah suatu upaya untuk memproduksi sejumlah
individu yang secara genetic sama persis (identik). Sedangkan istilah klon adalah
sekelompok organisme hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang dihasilkan melalui
reproduksi aseksual dan berasal dari satu induk yang sama. Setiap anggota dari
klon tersebut mempunyai susunan dan jumlah gen yang sama dan kemungkinan
besar fenotipnya juga sama. Cloning didasarkan pada prinsip bahwa setiap
makhluk hidup mempunyai kemampuan totipotensi yang artinya setiap sel
mempunyai kemampuan untuk menjadi individu.
SEJARAH KLONING
Kata kloning, dari kata Inggris clone, pertama kali diusulkan oleh Herbert
Webber pada tahun 1903 untuk mengistilahkan sekelompok makhluk hidup yang
dilahirkan tanpa proses seksual dari satu induk. Secara alami kloning hanya terjadi
pada tanaman : menanam pohon dengan stek. Kloning pada tanaman dalam arti
melalui kultur sel mula-mula dilakukan pada tanaman wortel. Dalam hal ini sel
akar wortel dikultur, dan tiap selnya dapat tumbuh menjadi tanaman lengkap.
Teknik ini digunakan untuk membuat klon tanaman dalam perkebunan. Dari
sebuah sel yang mempunyai sifat unggul, kemudian dipacu untuk membelah

dalam kultur, sampai ribuan atau bahkan sampai jutaan sel. Tiap sel mempunyai
susunan gen yang sama, sehingga tiap sel merupakan klon dari tanaman tersebut.
Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada amfibi (kodok), dengan
mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi.
Sebagai donor digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium
perkembangan. Ternyata donor nukleus dari sel somatik yang diambil dari sel
epitel usus kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal. Keberhasilan
ini tentu memicu penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan penerapan teknologi
kloning ini pada hewan lain dan manusia. Hingga akhirnya pada tanggal 13
Oktober 1993, dua peneliti Amerika, Jerry L. Hall dan Robert J. Stillman dari
Universitas George Washington mengumumkan hasil kerjanya tentang kloning
manusia dengan menggunakan metode embryo splitting (pemisahan embrio ketika
berada dalam tahap totipotent) atas embrio yang dibuat secara in vitro fertilization
(IVF). Dari proses embryo splitting tersebut, Hall dan Stillman mendapatkan 48
embrio baru yang secara genetis sama persis. 18 Penelitian terhadap kloning ini
pun tetap berlanjut. Sejarah tentang hewan kloning telah muncul sejak tahun
1900, tetapi hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Dr. Ian Willmut
seorang ilmuwan skotlandia pada tahun 1997, dan untuk pertama kali
membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa.
Metode kloning yang digunakan untuk mengklon biri-biri tersebut adalah metode
somatic cell nuclear transfer (SCNT). Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti
sel epitel ambing domba dewasa yang dikultur dalam suatu medium, kemudian
ditransfer ke dalam ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan, yang
akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Dolly.
Kloning domba Dolly merupakan peristiwa penting dalam sejarah kloning.
Dolly direproduksi tanpa bantuan domba jantan, melainkan diciptakan dari sebuah
sel kelenjar susu yang di ambil dari seekor domba betina. Dalam proses ini Dr. Ian
Willmut menggunkan sel kelenjar susu domba finndorset sebagai donor inti sel
dan sel telur domba blackface sebagi resepien. Sel telur domba blackface
dihilangkan intinya dengan cara mengisap nukleusnya keluar dari selnya
menggunakan pipet mikro. Kemudian, sel kelenjar susu domba finndorset

difusikan (digabungkan) dengan sel telur domba blackface yang tanpa nukleus.
Proses penggabungan ini dibantu oleh kejutan/sengatan listrik, sehingga terbentuk
fusi antara sel telur domba blackface tanpa nucleus dengan sel kelenjar susu
dompa finndorsat. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam
tabung percobaan dan kemudian dipindahkan ke rahim domba blackface.
Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan ciri-ciri sama dengan domba
finndorset.
Sejak Wilmut et al. berhasil membuat klon anak domba yang donor
nukleusnya diambil dari sel kelenjar susu domba dewasa, maka terbukti bahwa
pada mammalia pun klon dapat dibuat. Atas dasar itu para ahli berpendapat bahwa
pada manusia pun secara teknis klon dapat dibuat.
2.2 Jenis Jenis Kloning
Kloning adalah tindakan menggandakan atau mendapatkan keturunan tanpa
fertilisasi, berasal dari induk yang sama, mempunyai susunan (jumlah dan gen)
yang sama dan kemungkinan besar mempunyai fenotip yang sama. Berdasarkan
pengertian diatas, terdapat beberapa jenis kloning yang dikenal, antara lain :
1.

Kloning DNA Rekombinan


Kloning DNA adalah memasukkan DNA asing ke dalam plasmid suatu sel

bakteri. DNA yang dimasukkan ini akan bereplikasi (memperbanyak diri) dan
diturunkan pada sel anak pada waktu sel tersebut membelah. Gen asing ini tetap
melakukan fungsi seperti sel asalnya, walaupun berada dalam sel bakteri.
Pembentukan DNA rekombinan ini disebut juga rekayasa genetika. Perekayasaan
genetika terhadap satu sel dapat dilakukan dengan hanya menghilangkan,
menyisipkan atau menularkan satu atau beberapa pasang basa nukleotida
penyusun molekul DNA tersebut. Untuk kloning ini diperlukan plasmid dan
enzim untuk memotong DNA, serta enzim untuk menyambungkan gen yang
disisipkan itu ke plasmid.
Beberapa jenis bakteri mempunyai sejumlah molekul DNA melingkar yang
ukurannya kecil sekali, hanya mengandung beberapa ribu pasang basa, selain
mempunyai kromosom utama dengan 4 juta pasang basa. Kromosom mini ini
dinamakan juga plasmid. Plasmid dapat bereplikasi secara otonom. Plasmid ini

merupakan elemen genetis yang tidak berhubungan dengan kromosom utama dan
mengandung gen-gen yang resisten terhadap antibiotik, antara lain yaitu antibiotik
tetrasiklin dan ampisilin). Keresistenan terhadap antibiotik memerlukan sejumlah
enzim yang secara kimiawi dapat menetralisir antibiotik tersebut.
Dengan menempatkan gen pada plasmid, masing-masing gen ada dalam
salinan (copy) sejumlah plasmid tertentu yang dinamakan episom. Plasmid ini
mampu bergerak mendekati dan menjauhi elemen kromosom utama. Hal ini
menunjukkan bahwa plasmid memiliki elemen-elemen genetis yang bergerak,
yang dilakukan melalui fusi secara bebas dari dua unit DNA replikasi (replikon).
Plasmid dapat diintegrasikan (dimasukkan) ke dalam kromosom bakteri dan dapat
dipindahkan dari satu sel bakteri ke bakteri yang lain melalui transformasi, jika
kromosom sel-sel tersebut merupakan pasangannya.
Transformasi adalah pemindahan satu sifat mikroba melalui bagian DNA
tertentu dari mikroba. Oleh karena DNA plasmid sangat kecil daripada fragmen
DNA kromosom, maka dapat dengan mudah dipisahkan dan dimurnikan. Di
dalam laboratorium, jika plasmid dicampurkan dengan bakteri, dengan adanya ion
Ca++, DNA plasmid tersedot ke dalam sel bakteri, sehingga bakteri mengandung
plasmid yang tersedot tersebut. Sel bakteri mempunyai satu bentuk plasmid.
Kenyataannya bahwa enzim Eco Ri menghasilkan potongan ujung khusus yang
kohesif yang selanjutnya merupakan metode praktis untuk kloning fragmen DNA.
Cara yang penting adalah memasukkan suatu fragmen DNA yang telah dipotong
dengan enzim restriksi Eco Ri ke dalam plasmid hibrid yang dapat digunakan
untuk mempengaruhi bakteri. Masing-masing sel bakteri memperoleh satu sel
plasmid rekombinan yang mengandung fragmen DNA asing yang dimasukkan.
Penggunaan antibiotik secara ekstensif dan penyalahgunaan antibiotik
dalam pengobatan manusia dan hewan ternak menyebabkan strain bakteri alami
menjadi resisten terhadap kebanyakan antibiotik yang bersifat umum. Biasanya
keresistenan ini tergantung pada respon (tanggapan) plasmid bakteri yang
mempunyai enzim khusus yang dapat menguraikan antibiotik. Jika digunakan
plasmid yang resisten antibiotik bersama-sama dengan sel bakteri yang
plasmidnya sensitive terhadap antibiotik, dengan memasukkan plasmid resisten

terhadap antibiotik yang mengandung gen rekombinan, plasmid ini dapat


dideteksi dengan mudah. Plasmid pbR 322 adalah salah satu contoh plasmid yang
mengandung gen resisten terhadap dua jenis antibiotik yaitu ampisilin dan
tetrasiklin. Selain itu tempat untuk enzim restriksi bekerja berada di antara gengen yang resisten terhadap antibiotik tersebut (lihat Gambar 2). Dengan demikian,
jika sepotong DNA asing dikombinasikan ke dalam satu atau lebih gen resisten
antibiotik, gen tersebut tidak akan aktif. Hal ini berarti bahwa keberhasilan
pemotongan DNA asing ke dalam satu gen resisten antibiotik dengan mudah
dideteksi. Potensi genetis untuk resisten tersebut dieleminir. Jika plasmid
dimasukkan ke dalam sel bakteri (hos), bakteri akan memperoleh keresistenan
khusus yang kedua karena gen tersebut masih utuh..
Plasmid yang membawa gen resisten antibiotik itu tersebar luas di alam
dan plasmid tersebut dimutasikan agar tidak dapat bergerak secara spontan dari
satu sel ke sel yang lain. Dengan menggunakan strain bakteri tertentu, percobaan
dengan menggunakan plasmid yang resisten obat sangat berguna tanpa
menimbulkan resiko yang berarti. Plasmid yang pertama kali dipakai sebagai
vektor untuk rekombinan DNA adalah plasmid dari sel bakteri Escherichia coli.
Plasmid ragi Saccharomyces cerevisiae, dan plasmid bakteri Bacillus subtilis dan
virus saat ini juga digunakan sebagai vektor untuk rekombinan DNA.
Dalam melakukan pengklonan suatu DNA asing atau DNA yang
diinginkan atau DNA sasaran harus memenuhi hal-hal sebagai berikut. DNA
plasmid vektor harus dimurnikan dan dipotong dengan enzim yang sesuai
sehingga terbuka. DNA yang akan disisipkan ke molekul vektor untuk
membentuk rekombinan buatan harus dipotong dengan enzim yang sama. Reaksi
pemotongan

dan

penggabungan

harus

dipantau

dengan

menggunakan

elektroforesis gel. Rekombinan buatan harus ditransformasikan ke E. coli atau ke


vektor lainnya.
Rekayasa genetik dengan menggunakan plasmid bakteri E. coli dapat
dilakukan sebagai berikut.
1. Menentukan gen yang diinginkan untuk disisipkan, misalnya gen pengkode
hormone insulin dari sel-sel pankreas manusia atau gen pengkode hormone

pertumbuhan dari kelenjar pituitari. Kromosom sel-sel pankreas dikeluarkan


dengan memecah membran plasma. Membran plasma ini dipecah dengan diberi
kejutan listrik atau dengan pemberian zat kimia yaitu polietilen glikol atau
kalsium klorida (CaCl2), sehingga kromosom dapat keluar dari sel pankreas.
2. Kromosom yang diinginkan tadi dipotong dengan menggunakan enzim restriksi
endonuklease untuk melepaskan bagian DNA yang diinginkan, kemudian
memurnikan DNA tersebut. Elektroforesis dapat juga digunakan untuk persiapan
memurnikan fragmen DNA tertentu, selain digunakan untuk menganalisis.
3. Mengektraksi plasmid dari sel bakteri. Plasmid dipisahkan dari sel dengan cara
memecah dinding sel bakteri. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan
deterjen atau dengan enzim lisozim, kemudian dilisis dengan natrium hidroksida
(NaOH) dan larutan dedosil sulfat. DNA kromosom akan menggumpal dan
dinetralisir dengan natrium asetat. DNA plasmid ini akan menggumpal
membentuk jaring-jaring dan dengan mudah mengendap. Untuk memisahkan
DNA ini dilakukan sentrifugasi.
4. Cairan yang mengandung plasmid ini dijenuhkan dengan pengendapan etanol.
DNA plasmid yang dimurnikan dengan filtrasi gel. Plasmid yang berbentuk
lingkaran itu dipotong dengan enzim restriksi endonuklease yaitu enzim yang
sama digunakan untuk memotong DNA pankreas. Enzim ini memecah ikatan
fosfodiester pada molekul DNA. Endonuklease memecah asam nukleat pada
posisi internal, sedangkan enzim eksonuklase memecah molekul DNA dari ujung
molekulnya.
5. Kemudian pemasangan gen pengkode yang diinginkan tadi ke dalam plasmid
dengan menggunakan enzim ligase yang fungsinya menggabungkan ikatan
fosfodiester

antara

fragmen

ujung-ujung

yang

terpotong

tadi.

Proses

penyambungan tersebut disebut ligasi. Karena enzim yang digunakan untuk


memotong DNA sel pankreas dan plasmid sama jenisnya, akan menghasilkan
ujung-ujung yang lengket yang sama strukturnya, sehingga penyambungannya
akan menyatu sempurna. Suhu optimum untuk ligasi adalah 37 oC, tetapi ikatannya
tidak stabil. Ligasi akan berhasil jika dilakukan pada suhu 4o-150oC.

6. Plasmid yang telah disisipi gen pengkode yang diinginkan itu dimasukkan ke
dalam sel bakteri coli dengan cara tranformasi. Transformasi dilakukan dengan
memasukkan bakteri E. coli ke dalam larutan CaCl2 sehingga terbentuk lubanglubang sementara, sehingga plasmid dapat masuk ke dalam sel bakteri.
Diharapkan bakteri yang telah disisipi gen tersebut mewarisi sifat gen baru,
sehingga bakteri yang telah disisipi dengan gen pengkode insulin dapatm
memproduksi insulin.
7. Langkah selanjutnya adalah mengembangbiakkan bakteri hasil rekayasa dalam
tabung fermentasi yang berisi medium untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan
bakteri E. coli untuk memproduksi insulin dalam jumlah yang banyak. Insulin
yang terbentuk kemudian dipisahkan dari senyawa yang lain.
Langkah pembuatan insulin dengan menggunakan plasmid bakteri yang
dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.
2. Kloning Kesehatan (Terapeutic Cloning)
Kloning terapeutik bagian dari terapi sel punca yang bertujuan untuk
menghindari adanya reaksi penolakan terhadap sistem imun pasien pada saat
dilakukan terapi. Kloning terapeutik dilakukan dengan sel induk, dimaksudkan
untuk tujuan terapeutik (penyembuhan) dan riset medis, bukan untuk menciptakan
manusia baru. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi SCNT (Somatic
Cell Nuclear Transfer). Sel punca memiliki potensi yang sangat menjanjikan
untuk terapi berbagai penyakit sehingga menimbulkan harapan baru untuk
mengobatinya. Sampai saat ini, ada 3 golongan penyakit yang dapat diatasi
dengan penggunaan sel punca, di antaranya adalah:
1. Penyakit autoimun,
2. Penyakit degeneratif, contoh stroke, Parkinson, Alzhimer.
3. Penyakit kanker, contoh leukemia.
Sel punca embrionik sangat plastis dan mudah dikembangkan menjadi
berbagai macam jaringan sel, seperti neuron, kardiomiosit, osteoblast, fibroblast,
dan sebagainya. Oleh karena itu, sel punca embrionik dapat digunakan untuk
transplantasi jaringan yang rusak. Selain itu, sel punca embrionik memiliki tingkat

imunogenisitas yang rendah selama belum mengalami diferensiasi. Salah satu cara
untuk menghindari terjadinya graft versus host disease (GVHD) adalah dengan
menggunakan sel punca embrionik dengan sel somatik yang bersumber dari
pasien itu sendiri sehingga tidak akan ada penolakan lagi terhadap sistem
imunnya. Dengan menggunakan teknologi SCNT, sel punca embrionik yang
dihasilkan akan identik dengan induknya (dalam hal ini adalah pasien itu sendiri).
Hal itu mengakibatkan tidak akan adanya reaksi penolakan terhadap sistem imun
pasien apabila dilakukan transplantasi.
Secara teoritis, teknik SCNT memiliki potensi besar dalam dunia
kesehatan karena dapat dipergunakan untuk transplantasi berbagai organ dan
jaringan pada manusia. Secara singkat tahapan untuk melakukan kloning
terapeutik pada manusia (Gambar 2) Pertama mengambil biopsi sel somatik dari
tubuh pasien dan inti dari sel somatik tersebut ditransfer ke dalam sel telur donor
yang telah dikeluarkan intinya (unfertilized enucleated oocyte). Sel telur hasil
manipulasi dikultur sampai ke tahapan tertentu dan setelah mengalami berbagai
proses akan didapatkan sel punca embrionik. Sel punca embrionik ini diarahkan
perkembangannya menjadi suatu jaringan atau organ tertentu yang akan dapat
digunakan untuk transplantasi jaringan atau organ dan tidak akan mengalami
rejeksi sistem imun pada pasien itu sendiri (immunologically compatible
transplant). Dengan menggunakan bantuan mikroskop, pergerakan sel telur
ditahan dengan holding pipette. Kemudian, DNA dari sel somatik pasien (yang
berada di dalam injection pipette) diintroduksikan ke dalam sel telur enucleated.
Sel telur hasil manipulasi dikultur secara in vitro menjadi blastosit selama 5-6
hari. Lalu, inner cell mass diisolasi dan dikultur di cawan petri sehingga akan
berkembang menjadi sel punca embrionik yang memiliki profil imunologi yang
sama dengan pasien.
3. Kloning Reproduksi (Reproductive Cloning)
Kloning reproduktif pertama kali dilakukan oleh seorang Ilmuan Inggris,
John Gurdon. Beliau berhasil melakukan kloning pada katak. Kemudian para
peneliti dengan antusias melakukan percobaan lain pada mamalia. Sampai dengan

tahun 1996 tepatnya 5 Juli, Ian Wilmut dan para peneliti yang lain dari Roslin
Institute di Edinburg (Skotlandia) berhasil menciptakan biri-biri yang diberi nama
Dolly, akan tetapi penelitian ini dikatakan belum berhasil karena Dolly yang
seharusnya dapat mencapai umur 11 tahun ternyata hanya dapat mencapai umur 6
tahun. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa Dolly mengalami penuaan dini,
menderita penyakit radang sendi, dan infeksi paru kronis.
Kloning reproduktif mengandung arti suatu teknologi yang digunakan
untuk menghasilkan individu baru atau teknologi yang digunakan untuk
menghasilkan hewan yang sama dengan menggunakan teknik SCNT. Genetika
individu klon tidak seluruhnya memiliki kesamaan dengan sang induk, persamaan
genetika individu klon dengan induknya hanya terletak pada inti DNA donor yang
berada di kromosom. Individu klon juga memiliki material genetik lainnya yang
berasal dari DNA mitokondria di sitoplasma. Teknologi kloning reproduktif dapat
digunakan untuk mencegah terjadinya kepunahan hewan-hewan langka ataupun
hewan-hewan sulit dikembangbiakkan. Namun, laju keberhasilan teknologi ini
sangatlah rendah seperti pada contoh yaitu Domba Dolly merupakan contoh
kloning reproduktif yang satu-satunya klon yang berhasil lahir setelah dilakukan
276 kali percobaan.
Pada kloning reproduktif ini sel donor yang berupa sel somatik (2n)
diintroduksikan ke enucleated oocyte. Keberhasilan proses aktivasi embrio
konstruksi secara kimiawi atau mekanik mengakibatkan terjadinya proses
pembelahan sampai ke tahap blastosit. Kemudian, embrio dimplantasikan ke
dalam rahim untuk dilahirkan secara normal. Berbeda pada kloning kesehatan
yang setelah embrio mencapai tahapan blastosit, embrio dikultur secara in vitro
untuk didiferensiasikan menjadi berbagai jenis sel untuk kegunaan terapeutik atau
kesehatan.
Sampai saat ini, hewan klon yang berhasil diproduksi jumlahnya cukup
banyak, di antaranya adalah domba, sapi, kambing, kelinci, kucing, dan mencit.
Sementara itu, tingkat keberhasilan kloning masih rendah pada hewan anjing,
ayam, kuda, dan primata. Masalah yang kerap kali timbul dalam kloning
reproduktif adalah biaya dan efisiensinya. Penelitian dalam kloning reproduktif

membutuhkan biaya yang sangat tinggi dan tingkat kegagalannya tinggi. Di


samping tingkat keberhasilan yang rendah, hewan klon cenderung mengalami
masalah defisiensi sistem imun serta sangat rentan terhadap infeksi, pertumbuhan
tumor, dan kelainan-kelainan lainnya. Penyebab timbulnya berbagai masalah di
atas

adalah

adanya

kesalahan

saat

pemrograman

material

genetik

(reprogramming) dari sel donor. Kesalahan pengkopian DNA dari sel donor atau
yang lebih dikenal dengan sebutan genomic imprinting akan mengakibatkan
terjadinya perkembangan embrio yang abnormal. Berbagai contoh abnormalitas
yang

terjadi

pada

klon

mencit

adalah

obesitas,

pembesaran

plasenta

(placentomegally), kematian pada usia dini. Parameter yang dijadikan sebagai


tolak ukur keberhasilan dalam SCNT adalah kemampuan sitoplasma pada sel telur
untuk mereprogram inti dari sel donor dan juga kemampuan sitoplasma untuk
mencegah terjadinya perubahan-perubahan secara epigenetik selama dalam
perkembangannya. Dari semua penelitian yang telah dipublikasikan, tercatat
hanya sebagian kecil saja dari embrio hasil rekonstruksi (menggunakan sel
somatik dewasa atau fetal) yang berkembang menjadi individu muda yang sehat.
3.3 Manfaat Kloning
Secara garis besar kloning bermanfaat:
1. Untuk pengembangan ilmu pengetahuan
Manfaat kloning terutama dalam rangka pengembangan biologi, khususnya
reproduksi-embriologi dan diferensiasi. Dengan pengembangan ilu pengetahuan
baru di bidang bioteknologi akan membuka peluang lebar bagi peneliti untuk
menemukan cara baru lagi untuk memecahkan masalah-masalah yangberujung
pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
2. Untuk mengembangkan dan memperbanyak bibit unggul
Seperti telah kita ketahui, pada sapi telah dilakukan embrio transfer. Hal yang
serupa tentu saja dapat juga dilakukan pada hewan ternak lain, seperti pada
domba, kambing dan lain-lain. Dalam hal ini jika nukleus sel donornya diambil
dari bibit unggul, maka anggota klonnya pun akan mempunyai sifat-sifat unggul
tersebut. Sifat unggul tersebut dapat lebih meningkat lagi, jika dikombinasikan

dengan teknik transgenik. Dalam hal ini ke dalam nukleus zigot dimasukkan gen
yang dikehendaki, sehingga anggota klonnya akan mempunyai gen tambahan
yang lebih unggul.
3. Untuk tujuan diagnostik dan terapi
Sebagai contoh jika sepasang suami isteri diduga akan menurunkan penyakit
genetika thalasemia mayor. Dahulu pasangan tersebut dianjurkan untuk tidak
mempunyai anak. Sekarang mereka dapat dianjurkan menjalani terapi gen dengan
terlebih dahulu dibuat klon pada tingkat blastomer. Jika ternyata salah satu klon
blastomer tersebut mengandung kelainan gen yang menjurus ke thalasemia mayor,
maka dianjurkan untuk melakukan terapi gen pada blastomer yang lain, sebelum
dikembangkan menjadi blastosit.
Contoh lain adalah mengkultur sel pokok (stem cells) in vitro, membentuk organ
atau jaringan untuk menggantikan organ atau jaringan yang rusak. Mengingat
fakta bahwa sel dapat dimanipulasi untuk meniru jenis sel lain, ini dapat
memberikan cara baru untuk mengobati penyakit seperti kanker dan Alzheimer.
Kloning

juga menawarkan

harapan

kepada

orang

yang

membutuhkan

transplantasi organ. Orang-orang yang membutuhkan transplantasi organ untuk


bertahan hidup akibat suatu penyakit sering menunggu bertahun-tahun untuk
donor mendapatkan donor yang cocok. Dengan teknologi kloning maka pasien
tidak perlu menunggu lama untuk donor transplantasi organ tersebut.
4. Menolong atau menyembuhkan pasangan infertil mempunyai turunan
Manfaat yang tidak kalah penting adalah bahwa kloning manusia dapat
membantu/menyembuhkan pasangan infertil mempunyai turunan. Secara medis
infertilitas dapat digolongkan sebagai penyakit, sedangkan secara psikologis ia
merupakan kondisis yang menghancurkan, atau membuat frustasi. Salah satu
bantuan ialah menggunakan teknik fertilisasi in vitro. (in vitro fertilization = IVF).
Namun IVF tidak dapat menolong semua pasangan infertil. Misalnya bagi seorang
ibu yang tidak dapat memproduksi sel telur atau seorang pria yang tidak dapat
menghasilkan sperma, IVF tidak akan membantu.
Dalam hubungan ini, maka teknik kloning merupakan hal yang
revolusioner sebagai pengobatan infertilitas, karena penderita tidak perlu

menghasilkan sperma atau telur. Mereka hanya memerlukan sejumlah sel somatik
dari manapun diambil, sudah memungkinkan mereka punya turunan yang
mengandung gen dari suami atau istrinya.
5. Melemstarikan Spesies Langka
Meskipun upaya terbaik dari konservasionis di seluruh dunia, beberapa spesies
yang hampir punah. Kloning Dolly sukses merupakan langkah pertama dalam
melindungi satwa langka. Contoh lainnya adalah hasil cloning yang melahirkan
Noah, hewan gaur (spesies dari Asia Tenggara yang mirip bison), yang
merepresentasikan percobaan pertama yang dilakukan oleh para ilmuwan untuk
mengkloning hewan yang terancam punah. Para ilmuwan di Amerika berharap
bisa mengambil langkah besar dalam upaya melindungi spesies yang terancam
punah dengan melahirkan kloningan gaur di sebuah peternakan di Iowa.
6. Meningkatkan pasokan makanan
Kloning dapat menyediakan sarana budidaya tanaman yang lebih kuat dan lebih
tahan terhadap penyakit, sambil menghasilkan produk lebih. Hal yang sama bisa
terjadi pada ternak serta di mana penyakit seperti penyakit kaki dan ulut bisa
menjadi eradicated. Kloning karena itu bisa secara efektif memecahkan masalah
pangan dunia dan meminimalkan atau mungkin kelaparan.

EFEK NEGATIF KLONING

Jika kloning pada tanaman bertujuan menghasilkan tanaman baru yang

memiliki sifat-sifat identik dengan induknya maka kloning pada tanaman akan
menghasilkan individu baru yang sama dengan sifat induknya. Hal ini hal ini akan
menurunkan keanekaragaman tanaman baru yang dihasilkan. Tentu hal ini akan
menurunkan keanekaragaman tanaman baru yang dihasilkan. Akibatnya,
keanekaragaman tumbuhan yang merupakan sumber daya alam hayati pun akan
semakin menurun. Demikian juga kloning pada hewan, akan menurunkan
keanekaragaman hewan. Keanekaragaman genetik memainkan peran yang sangat
penting dalam sintasan dan adaptabilitas suatu spesies, karena ketika lingkungan
suatu spesies berubah, variasi gen yang kecil diperlukan agar spesies dapat
bertahan hidup dan beradaptasi. Spesies yang memiliki derajat keanekaragaman
genetik yang tinggi pada populasinya akan memiliki lebih banyak variasi alel

yang dapat diseleksi. Seleksi yang memiliki sangat sedikit variasi cendering
memiliki risiko lebih besar. Dengan sedikitnya variasi gen dalam spesies,
reproduksi yang sehat akan semakin sulit, dan keturunannya akan menghadapi
permasalahan yang ditemui

Kloning pada hewan dan manusia masih dipertentangkan karena akibat


yang ditimbulkan seperti contohnya: resiko kesehatan terhadap individu hasil
kloning. Beberapa kalangan berpendapat bahwa kloning manusia dapat
disalahgunakan untuk menciptakan spesies atau ras baru dengahn tujuan yang
bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Lagipula, kloning pada mamalia belum
sepenuhnya sempurna. Dapat dilihat dari domba Dolly yang menderita berbagai
penyakit dan berumur pendek.. Setelah hidup hanya 6 tahun (umur domba
biasanya mencapai 11-12 tahun), Dolly mati muda disebabkan penyakit paru-paru
yang biasanya menyerang domba-domba yang lanjut usia. Dolly juga mengidap
penyakit arthritis, mengerasnya sendi-sendi dan engsel tulang, lagi-lagi penyakit
yang biasa ditemukan pada domba yang sudah mulai uzur. Penelitian sesudah
kematiannya, menunjukkan bahwa Dolly memiliki telomer yang lebih pendek
daripada domba normal seusianya. Telomer adalah bagian yang melindungi ujungujung kromosom (bundelan rantai DNA) yang memendek setiap kali sebuah sel
membelah, atau boleh dikatakan setiap saat individu itu bertumbuh. Individu hasil
kloning sel-selnya diperoleh dari induknya. Ini berarti umur sel-sel hasil kloning
pun sama dengan umur sel-sel induknya. Oleh karena itu, individu hasil kloning
pun akan memiliki umur sama dengan induknya. Dolly dikloning dari domba
yang berusia 6 tahun dan hasil penelitian ini seolah-olah menunjukkan bahwa
tubuh Dolly sudah berumur 6 tahun pada saat dilahirkan.

Terjadi kekecauan kekerabatan dan identitas diri dari klon maupun


induknya. Klon atau individu hasil cloning akan diangggap sebagai kopian dari
individu lain yang dianggap sebagai induknya karena memiliki sifat yang sama
dengan induknya. Sehinggga terjadi kekacauan apakah status klon tersebut adalah
anak atau merupakan kembaran dari individu aslinya.
3.4 Bioetika Kloning

Tujuan kloning ini adalah untuk menciptakan mahluk baru, sehingga banyak
yang berpendapat ini adalah upaya playing GODyang tidak dapat dibenarkan.
Hal ini memicu kontroversi tentang kloning di berbagai belahan dunia. Berbagai
kalangan mereaksi dengan keras bahwa jika teknologi ini diterapkan pada
manusia, maka teknologi kloning sungguh tidak dapat dibenarkan secara moral.
Teknologi kloning pada manusia akan menimbulkan begitu banyak persoalan etis
dan moral yang amat serius. Salah satu contoh pelarangan teknologi kloning pada
manusia muncul dari National Bioethics Advisory Commision (Amerika Serikat)
yang menyatakan bahwa: Untuk saat ini, secara moral tidak dapat diterima bila
seseorang mencoba untuk menciptakan anak dengan mempergunakan teknik
somatic cell nuclear transfer kloning, baik secara pribadi maupun secara umum,
baik dalam lingkup riset maupun dalam lingkup klinis. Hal yang sama juga
terjadi di Parlemen Uni Eropa yang melarang setiap negara anggotanya
melakukan kloning terhadap manusia. Meski demikian, perdebatan mengenai
kloning pada manusia masih terus berlanjut.
Hingga waktu ini sikap para ilmuwan, organisasi profesi dokter dan
masyarakat umumnya adalah bahwa pengklonan individu yaitu pengklonan untuk
tujuan reproduksi (reproductive kloning) dengan menghasilkan manusia duplikat,
kembaran identik, manusia fotokopi yang berasal dari sel induk dengan cara
implantasi inti sel tidak dibenarkan, tetapi untuk tujuan terapi (therapeutic
kloning) dianggap etis.
Etika tentang klonasi/ kloning dalam adeddum Buku Kedokteran Indonesia
disebutkan bahwa menolak dilakukan kloning terhadap manusia karena upaya itu
mencerminkan penurunan derajat serta martabat manusia sampai setingkat bakteri.
Sehingga para ilmuwan dihimbau untuk tidak melakukan klonasi dalam kaitan
dengan

reproduksi

manusia.

Tetapi

mendorong

ilmuwan

untuk

tetap

menggunakan bioteknologi kloning pada:


1. Sel atau jaringan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan melalui
antara lain: pembuatan zat anti atau antigen monoclonal yang banyak digunakan
dalam bidang kedokteran baik aspek diagnostic maupun dalam pengobatan.

2. Dalam sel maupun jaringan hewan dalam upaya penelitian kemungkinan


penggunaan klonasi organ serta penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan
digunakannya klonasi organ manusia untuk kepentingan dirinya sendiri. Kajian
bioetika sangat perlu dilakukan dengan seksama, dalam menilai masalah kloning.
Yang sangat utama untuk diperhatikan adalah seharusnya kloning hanya dilakukan
untuk kepentingan kesejahteraan kehidupan serta tidak menyalahi etika dan moral.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Adapun simpulan yang dapat penulis sampaikan yaitu :
1. Kloning adalah suatu upaya untuk memproduksi sejumlah individu yang secara
genetic sama persis (identik). Kloning pertama kali dicetuskan oleh Herbert
2.

Webber pada tahun 1903.


Terdapat beberapa jenis kloning yaitu, Kloning DNA Rekombinan, Kloning

3.

Kesehatan (Terapeutic Cloning), Kloning Reproduksi (Reproductive Cloning).


Kloning memiliki beberapa manfaat yaitu, Untuk pengembangan ilmu
pengetahuan, Untuk mengembangkan dan memperbanyak bibit unggul, Untuk
tujuan diagnostik dan terapi , Menolong atau menyembuhkan pasangan infertil
mempunyai turunan, Melestarikan Spesies Langka, Meningkatkan pasokan

4.

makanan. Namun ada juga beberapa efek negative dari kloning ini.
Bioetika kloning menyangkut pendapat pendapat mengenai kloning ini. Ada
yang pro dengan dilakukan kloning dan ada yang kontra.