Anda di halaman 1dari 4

E.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MANIA DAN DEPRESI


1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan cara mengidentifikasi factor predisposisi ,
presipitasi dan perubahan perilaku serta mekanisme koping yang digunakan
klien
2. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang berhubungan dengan respon emosional
( gangguan alam perasaan) antara lain :
a. Berduka disfungsional
b. Ketidakberdayaan
c. Peningkatan mobilitas fisik
d. Gangguan pola tidur
e. Risiko terhadap cidera
f. Perubahan nutrisi
g. Deficit perawatan diri
h. Ansietas
3. Perencanaan
a. Tujuan keperawatan
Tujuan Umum : Mengajarkan klien untuk berespon emosional yang adatif
dan meningkatkan rasa puas serta kesenangan yang dapat diterima oleh
lingkungan.
b. Tindakan Keperawatan
pada dasarnya intervensi difokuskan pada
1) Lingkungan
2) Hubungan perawat klien
3) Afektif
4) Kognitif
5) Perilaku
6) Sosial
7) Fisiologis

1) Lingkungan
Prioritas utama dalam merawat klien mania dan depresi adalah
mencegah terjadinya kecelakan. Karema klien mania memiliki daya nilai
rendah, hiperaktif, senang tindakan yang berisiko tinggi, maka klien harus
ditempatkan dilingkungan yang aman, yaitu dilantai dasar, perabotan yang
dasar, kurangi rangsangan dan suasana yang tenang. Sedangkan merawat

klien depresi lebih ditujukan pada potensial bunuh diri,karena klien merasa
tidak berdaya, tidak berharga dan keputusnannya.
2) Hubungan Perawat- Klien
Hubungan saling percya yang terapeutik perlu dibina dan
dipertahankan . bekerja dengan klien depresi perawat harus bersifat hangat
, menerima, diam aktif, jujur dan empati. Bicara lambat sederhana dan beri
waktu pada klien untuk berfikir dan menjawab.
3) Afektif
Kesadaran dan control diri perawat pada dirinya merupakan syarat
utama, merawat klien depresi, perawat harus mempunyai harapan klien,
hangat, sederhana akan mengekspresikan pengaharapan klien. Prinsip
intervensi afektif adalah menerima klien, akan mengekpresikan dan
menenagkan klien bukan mengembirakan atau mengatakan bahwa klien
tidak perlu khawatur . klien didorong untuk mengekpresikan pengalaman
yang menyakitkan dan menyedihkan secara verbal, hal ini akan
mengurangi intensitas masalah yang dihadapi
4) Kognitif
Intervensi kognitif bertujuan untuk meningkatkan control diri klien
pada tujuan dan perilaku, meningkatkan harga diri dan membantu klien
memodifikasi harapan yang negatif.
Cara mengubah pikiran yang negatif :
a) Identifikasi semua ide, pikiran yang negatif
b) Identifikasi aspek positif yang dimiliki klien ( kemampuan,
keberhasilan)
c) Dorong klien menilai kembali persepsi, logika, rasional
d) Bantu klien mengubah persepsi yang negatif ke persepsi positif , dari
tidak realistis ke realistis
e) Sertakan klien pada aktivitas yang memperlihatkan hasil, beri
penguatan dan pujian akan keberhasilan
5) Perilaku
Intervensi perilaku bertujuan untuk mengaktifkan klien pada tujuan
yang realistis, yaitu memberi tanggung jawab secara berthap dalam
kegiatan diruangan. Klien depresi berat dengan penurunnan motivasi perlu
dibuat kegiatan yang berstruktur. Beri penguatan pada kegiatan yang
berhasil
6) Sosial
Tujuan intervsi sosial adalah meningkatkan hubungan sosial denga cara :
a) Kaji kemampuan , dukungan dan minat klien

b) Observasi dan kaji sumber dukungan yang ada pada klien


c) Bombing klien melakukan hubungan interpersonal dengan role mode
atau role play
d) Beri umpan balik dan penguatan hubungan interpersonal yang positif
e) Dorong klien untuk memulai hubungan sosial yang lebih luas.
7) Fisiologis
Intervensi fisiologis bertujuan untuk meningkatkan status
kesehatan klien, kebutuhan dasar seperti makan, minum, istirahat,
kebersihan, penampilan diri perlu mendapat perhatian perawat.
8) Kewaspadaan Perawat
Dalam memberi asuhan keperawatan kepada klien dengan
gangguan alam peraasaan berat, perawat harus memberikan prioritas yang
paling utama terhadap potensial bunuh diri. Perawatan dirumah sakit
diperlukanbila ada risiko bunuh diri, yaitu gejala meningkat secara cepat
dan support sistem tidak ada atau berkurang. Asuhan keperawatan pada
keadaan ini untuk melindungi dan menjamin agar klien tidak menciderai
diri sendiri. Percobaan bunuh diri biasanye terjadi pada saat klien keluar
dari fase depresi dan klien mempunyai energy dan kesempatan untuk
bunuh diri. Klien dalam keadaan mania akut juga mengancam
kehidupannya.
4. Evaluasi
a. Apakah sumber pencetus stress dan persepsi klien dapat digali ?
b. Apakah masalah klien mengenai konsep diri, rasa marah dan hubungan
interpersonal dapat digali ?
c. Apakah perubahan pola tingkah laku klien dan respon tersebut tampak ?
d. Apakah riwayat individu klien dan keluarganya sebelum fase depresi/
mania dapat dievaluasi sepenuhnya ?
e. Apakah perlu dilakukan tindakan untuk mencegah kemungkinan
terjadinyya bunuh diri ?
f. Apakah masyarakat lingkungan juga merupakan sumber koping ?
g. Apakah tindakan keperawatan telah mencakup semua aspek dunia klien ?
h. Apakah reaksi perubahan klien dapat diidentifikasi dan dilalui dengan baik
oleh klien ?
i. Apakah perawat mampu untuk mawas diri terhadap perasan pribadi ,
konflik dan mampu untuk menghadapi benturan emosi yang timbul dalam
hubungan dengan klien ?

j. Apakah pengalaman klien akan meningkatkan kepuasan dan kesenangan


klien terhadap dunia pribadinya ?