Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Evolusi dalam kajian biologi berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan
suatu populasi organisme gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup
dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi,
keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari
perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer gen antar populasi dan antar spesies.
Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga
dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara
organisme.
Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih
umum atau langka dalam suatu populasi. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh
kombinasi 3 proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Evolusi didorong oleh 2
mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan
sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk keberlangsungan
hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan
sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena
individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi,
sehingga lebih banyak individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat
yang menguntungkan ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui
kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan
seleksi alam. Sementara itu, hanyutan genetic merupakan sebuah proses bebas yang
menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi.
Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sidat akan
diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi. Walaupun
perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam kecil, perubahan ini akan
berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang substansial pada organisme. Proses
ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan spesies yang baru. Sebenarnya,
kemiripan antara organisme yang satu dengan organisme yang lain mensugestikan
bahwa semua spesies yang kita kenal berasal dari nenek moyang yang sama melalui
proses divergen yang terjadi secara perlahan ini.

1.2 Rumusan masalah


Masalah yang akan dibahas pada makalah ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1. Apa saja teori-teori para ilmuwan tentang evolusi.
2. Apa saja bukti-bukti evolusi.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui teori-teori para ilmuwan tentang evolusi.
2. Mengetahui bukti-bukti evolusi.

BAB II
PEMBAHASAN
Evolusi adalah proses perubahan pada makhluk hidup dari generasi ke
generasi berikutnya dalam kurun waktu yang sangat lama. Perubahan yang terjadi
akibat teori evolusi bisa bermacam-macam bentuknya. Sebagai hasil dari proses
perubahan-perubahan dalam evolusi tersebut bisa kita lihat dalam keanekaragaman
makhluk hidup yang ada sekarang ini.
2.1 Teori-teori evolusi
Beberapa teori-teori dari para ilmuwan tentang evolusi adalah sebagai berikut:

a. Teori Fixisme
Diyakini oleh para pemikir pada masa-masa terdahulu. Teori ini meyakini
adanya eaneka ragam spesies makhluk yang bersifat independen, artinya manusia
berasal dari manusia dan seluruh binatang yang lain juga berasal dari spesies
mereka masing-masing.
b. Teori Transformisme
Beranggapan bahwa penciptaan spesies-spesies yang ada sekarang ini berasal
dari makhluk dan spesies-spesies yang berbeda. Para ilmuwan berkeyakinan bahwa
teori evolusi alam natural paling tidak sesuai dengan masa para filosof Yunani.
Sebagai contoh, Heraclitus meyakini bahwa segala sesuatu senantiasa mengalami
proses dan evolusi. Jika manusia memiliki bentuk seperti yang dapat kita lihat
sekarang ini sejak dari permulaan, niscaya ia tidak akan dapat bertahan hidup.
c. Teori Katastropisme
Merupakan paham tentang keanekaragaman makhluk hidup dihasilkan oleh
nenek moyang yang umum, dan muncul atau punahnya makhluk hidup disebabkan
oleh bencana alam. Teori ini dikenalkan oleh George Cuvier (1796-1832), seorang
ahli Palentologi (ilmu fosil). Alasan Cuvier adalah karena ia mengamati stiap
sedimen bebatuan kuno yang ia temukan mengandung beberapa jenis hewan dan
tumbuhan yang berbeda. Karena itu, ia berpikir bahwa sedimen mewakili tiap masa
atau waktu evolusi. Tiap sedimen yang mengandung jenis-jenis organisme hidup
dan mati karena bencana. Ia berkeyakinan bahwa makhluk hidup muncul selama
masa yang beranekaragam dalam tataran geologis. Teori ini dalam ilmu geologi
dikenal dengan nama Catastrophisme; yaitu evolusi besar di permukaan bumi. Ia
mengingkari jenis hubungan kefamilian antara makhluk hidup yang hidup pada
masa kini dengan makhluk hidup yang pernah hidup.
d. Teori Kresionisme
Merupakan teori tentang penciptaan yang terjadi dalam sekali waktu
kehidupan sekaligus lengkap, kemudian selesai dan taka da lagi evolusi atau
prubahan. Paham ini dianut berdasar keyakinan agama juga berdasarkan
keterangan Aristoteles (hidup pada masa 300 SM). Teori Kreasionisme dianggap
tidak valid karena kenyatannya banyak spesies yang hidupnya tidak sekaligus ada
pada satu zaman. Misalnya, masa hidup dinosaurus tidak bersamaan dengan masa
hidup manusia.
e. Teori Gradualisme
Dikemukakan oleh ahli geologi Swedia bernama James Hutton (1795). Paham
tersebut menyatakan bahwa perubahan geologis berlangsung pelan-pelan tetapi
pasti. Teori ini tidak mampu dijelaskan dengan mekanisme yang meyakinkan.

f. Teori Uiformitarianisme
Dinyatakan oleh Charles Lyell (1797-1875). Paham ini meyatakan bahwa
proses-proses geologis ternyata menuruti pola yang seragam sehingga kecepata dan
pengaruh perubahan selalu seimbang dalam kurun waktu. Misalnya, terbentuknya
gunung selalu diimbangi dengan erosi gunung. Teori ini tidak dapat menjelaskan
kejadian terbentuknya spesies.
g. Teori Lammarck
Pada abad ke-18, sejumlah naturalis (termasuk kakek Darwin, Erasmus
Darwin) berpendapat bahwa makhluk hidup berevolusi seiring perubahan
lingkungan. Namun, hanya satu pendahulu Charles Darwin yang mengajukan
mekanisme bagaimana makhluk hidup berubah seiring waktu: ahli biologi Prancis
Jean-Baptiste de Lamarck (1744-1829).
Lamarck menerbitkan hipotesisnya pada 1809 tahun ketika Darwin dilahirkan.
Dengan membandingkan spesies hidup dan bentuk fosil. Lamarck menemukan
sesuatu yang tampaknya merupakan sejumlah garris keturunan. Masing-masing
garis keturunan merupakan rangkaian kronologis dari fosil yang lebih tua ke fosil
yang lebih muda dan mengarah ke spesies yang masih ada saat ini. Ia menjelaskan
temuannya menggunakan dua prinsip. Prinsip pertama adalah digunakan atau
dibuang (use ndisuse), gagasan bahwa bagian tubuh yang sering digunakan
menjadi lebih besar dan kuat, sementara yang jarang digunakan menjadi lemah.
Sebagai contoh, ia menyebutkan jerapah yang meregangkan lehernya untuk
mencapai dedaunan dicabang yang tinggi. Prinsip kedua, pewarisan sifat dari
karakteristik yang diperoleh (inheritance of aquired characteristic), menyatakan
bahwa suatu organisme dapat meneruskan modifikasi-modifikasi karakteristik
kepada keturunannya. Lamarck menalar bahwa leher yang panjang dan berotot
milik jerapah yang masih hidup saat ini telah dievolusikan selama beberapa
generasi seiring rentangan leher jerapah yang semakin tinggi.
Lamarck juga mengira bahwa evolusi terjadi karena organisme memiliki
dorongan bawaan untuk menjadi lebih kompleks. Darwin menolak gagasan ini,
namun ia juga menduga bahwa variasi muncul dalam proses evolusi sebagian
melalui pewarisan sifat yang diperoleh. Akan tetapi, pemahaman kita sekarang
mengenai genetika menggugurkan mekanisme ini: tidak ada bukti bahwa
karakteristik yang diperoleh dapat diwariskan memalui cara yang diajukan oleh
Lamarck.
h. Teori Darwin

Darwin menalar bahwa dalam jangka waktu yang amat panjang, penurunan
dengan modifikasi pada akhirnya menyebabkan tingginya keanekaragaman
makhluk hidup yang kita lihat sekarang ini. Darwin memandang sejarah kehidupan
sebagai sebuah pohon, dengan banyak cabang dari batang bersama menuju
keujung-ujung ranting termudah. Ujung-ujung ranting tersebut mencerminkan
keanekaragaman organisme yang ada saat ini. Setiap percabangan pada pohon
mencerminkan nenek moyang dari semua garis evolusi yang kemudian bercabang
dari titik tersebut. Spesies yang berkerabat dekat, misalnya gajah Asia dan gajah
Afrika, sangat mirip sebab mereka berada pada garis keturunan yang sama sebelum
baru-baru ini memisah dari nenek moyang bersama mereka.
Dalam upayanya untuk mengklasifikasikan makhluk hidup, Linnaeus
menyadari bahwa sejumlah organisme memiliki kemiripan yang lebih banyak
daripada organisme lain, namun ia tidak mengaitkan kemiripan tersebut dengan
evolusi. Bagaimanapun juga karna ia telah menyadari bahwa keanekaragaman luar
biasa dari organisme dapat disusun ke dalam kelompok dibawah kelompok
(ungkapan Darwin), sistem Linnaeus sangat sesuai dengan hipotesis Darwin. Bagi
Darwin, hirarki Linnaean mencerminkan sejarah percabangan dari pohon
kehidupan dengan organisme pada tingkat yang berbeda berkerabat melalui
penurunan dari nenek moyang bersama
2.2 Bukti-Bukti Evolusi
1. Biogeografi
Penyebaran geografis spesies biogeagrafi adalah hal yang pertama kali
memberi ide akan adanya evolusi kepada Darwin. Pulau-pulau memiliki banyak
spesies tumbuhan dan hewan yang bersifat indigenous (asli, tidak ditemukan di
tempat lain) namunsangat erat hubungan kekerabatannya dengan spesies di daratan
utama terdekat atau di pulau-pulau sekitarnya. Beberapa pertanyaan muncul.
Kenapa dua pulau dengan lingkungan yang mirip di tempat yang berbeda di Bumi
ini dihuni bukan oleh spesies yang memiliki hubungan kekerabatan yang sangat
erat, tetapi oleh spesies yang secara taksonomi terkait dengan tumbuhan dan hewan
pada daratan yang terdekat, dimana lingkunganya sering kali sangat berbeda?
Kenapa hewan tropis Amerika Selatan lebih dekat hubungannya dengan spesies
gurun Amerika Selatan dibangdingkan dengan spesies daerah tropis afrika? Kenapa
Australia merupakan tempat tinggal bagi begitu banyak mamalia berkantung
(marshupial) tetapi relative sedikit hewan berplasenta (eutheria), binatang yang

perkembangan embrionya diselesaikan dalam uterus? Sebenarnya, bukan karena


Australia tidak ramah terhadap mamalia berplasenta, pada tahun terakhir ini,
manusia telah memasukan kelinci ke Australia, dan populasi kelinci meledak.
Hypothesis yang berlaku adalah bahwa pauna Australia yang unik itu berkembang
dipulau benua Australia dalam keadaan terisolasi dari tempat-tempat dimana nenek
moyang mamalia berplasenta hidup.
Distribusi geografis dari organisme dipengaruhi oleh banyak factor, termasuk
hanyutan benua, pergerakan lambat benua di Bumi seiring waktu. Sekitar 250 juta
tahun yang lalu, gerakan-gerakan ini menyatukan semua massa daratan Bumi
menjadi salah satu benua besar, disebut Pangaea.

Sekitar 200 juta tahun lalu, Pangaea mulai terpecah-pecah; pada 20 juta tahun
lalu, benua-benua yang kita kenal sekarang berada beberapa ratus kilometer
jauhnya dari posisi saat ini.
Kita bisa menggunakan pemahaman kita tentang evolui dan hanyutan benua
untuk memperkirakan letak fosil dari kelompok-kelompok organisme yang berbeda

dapat ditemukan. Misalnya ahli biologi evolusi telah membangun pohon evolusi
kuda berdasarkan dta anatomis, berdasarkan pohon-pohon semcam itu dan umur
fosil nenek moyang kuda, para peneliti memperkirakan bahwa spesies kuda masa
kini bermula 5 juta tahun lalu di Amerika utara. Pada saat itu Amerika Utara dan
Amerika Selatan berada dekat dengan posisinya saat ini, namun kedua benua itu
belum terhubung satu sama lain, sehingga kuda sulit berpindah dari Amerika Utara
ke Amerika Selatan. Dengan demikian, kita memperkirakan bahwa fosil kuda
tertua hanya akan ditemukan dibenua tempat kuda itu bermula yaitu Amerika
Utara.
Kita juga dapat menggunakan pemahaman kita tentang evolusi untuk
menjelaskan data biogeografis. Misalnya, pulau-pulau biasanya memiliki banyak
spesies hewan dan tumbuhan endemic, yang artinya tidak ditemukan ditempat lain
didunia. Namun seperti yang dijabarkan oleh Darwin dalam the origin of spesies,
kebanyakan spesies yang hidup didaratan utaman terdekat atau pulau terdekat. Ia
menjelaskan pengamatan ini dengan menyatakan baha pulau dikolonisasi oleh
spesies dari daratan terdekat . para penghuni ini pada akhirnya memunculkan
spesies baru sewaktu beradaptasi dengan lingkungan baru. Proses semacam ini juga
menjelaskan mengapa dua pulau berbeda dihuni bukan oleh spesies yang mirip
dengan hidup didaratan utama terdekat, yang lingkungannya seringkali cukup
berbeda.
2. Anatomi Perbandingan
Pewarisan dengan modifikasi sangat jelas terlihat pada kemiripan anatomi
antara anatomi spesies yang dikelompokan dalam kategori taksonomi yang sama.
Sebagai contoh, banyak elemen kerangka yang sama menyusun tungkai depan
manusia, kucing, paus, kelelawar, dan semua mamalia lain, meskipun tungkai
tersebut mempunyai fungsi yang sangat berbeda. Tentunya, cara ternaik untuk
membangun infrastruktur sayap kelelawar bukan merupakan cara terbaik utnuk
membangun sirip paus. Perbedaan anatomi seperti itu tidak masuk akal, jika
struktur tersebut secara unik direkayasa dan tidak saling berhubungan. Suatu
penjelasan yang lebih mungkin adalah bahwa kemiripan dasar tungkai depan ini
adalah akibat diturunkannya semua mamalia dari satu nenek moyang yang sama.
Tungkai depan, sayap, sirip, dan lengan dari mamalia yang berbeda adalah variasi
dari pokok struktur dasar yang sama. Akibat fungsi yang berbeda pada setiap
spesies, maka struktur dasarnya dimodifikasi.

Kemiripan dalam ciri khusus yang dihasilkan dari nenek moyang yang sama
disebut homologi, dan tanda-tanda anatomi evolusi seperti itu disebut struktur
homolog (homologous structure). Anatomi perbandingan konsisten dengan semua
bukti-bukti lain dalam memberikan bukti bahwa evolusi adalah suatu proses
pemodelan ulang dimana struktur nenek moyang yang berfungsi dalam satu
kapasitas dimodifikasi ketika mereka mengemban fungsi baru.
Beberapa struktur homolog yang paling menarik adalah organ vestigial (organ
sisa yang tidak berguna lagi ), yaitu struktur dengan arti penting yang kecil, jika
ada, bagi organisme tersebut. Organ vestigial merupakan sis-sisa historis dari
struktur yang memiliki fungsi penting pada leluhurnya. Sebagai contoh, paus masa
kini tidak memiliki tungkai belakang tetapi memilki dua sisa tulang pelvis dan kaki
lrluhur daratnya yang berkaki empat. Pada tingkat dasar, organ vestigial tampaknya
bisa mendukung konsep Menggunakan dan tidak menggunakan yang
dikemukakan oleh Lamarck, tetapi sebagai mana telah kita bahas, pengaruh
penggunaan struktur tubuh oleh suatu individu tidak diwariskan ke keturunan
individu tersebut. Sebaiknya, organ vestigial merupakan bukti evolusi melalu
seleksi alam. Karena akan membuang waktu saja untuk terus menyediakan darah,
zat-zat makanan dan ruangan bagi organ yang tidak lagi memiliki fungsi penting,
maka seleksi alam cinderung menguntungkan individu yang memiliki organ
tersebut dalam bentuk tereduksi, dan dengan demilikian cinderung akan
menghilangkan struktur yang tidak berfungsi lagi. Akhirnya, perubahan struktur
seperti adaptasi ekor sebagai uatu struktur pendorong utama dan reduksi tungkai
belakang pada paus melibatkan perubahan pada pola ekspresi gen selama
perkembangan embrio. Karena beragai proses yang terjadi saat perkembangan
embrio mempengaruhi fungsi organisme dewasa, maka organisme itu sendiri
merupakan pokok dari proses seleksi alam. Dengan demilikian, organ vestigial
mewakili perubahan dalam perkembangan embrio organisme yang ditempa atau
dibentuk oleh seleksi alam.

3. Embriologi perbandingan
Organisme yang memiliki hubungan kekerabatan yang dekat akan mengalami
tahapan yang sama dalam perkembangan embrionya. Sebagai contoh, semua
embrio vertebrata akan mengalami suatu tahapan diman mereka memilki kantong
insang

pada

bagian

samping

tenggorokannya.

Memang,

pada

tahapan

perkembangan ini, persamaan pada ikan, katak, ular, burung, manusia, dan semua
vertebrata lain jauh lebh terlihat daripada perbedaanya. Sementara perkembangan
itu berlangsung, berbagai vertebrata menjadi semakin bervariasi, dan akhirnya akan
memiliki ciri khas pada kelasnya. Pada ikan, misalnya, kantung insang berkembang
menjadi insang ; pada vertebrata darat, struktur embrio tersebut akan dimodivikasi
untuk fungsi-fungsi lain, seperti saluran eutachius yang menghubungkan telinga
tengah dengan tenggorokan pada manusia. Embriologi berbandingan sering kali
membentuk homologi pada beberapa struktur, seperti kantung insang, yang mejadi
sedemikian berubah pada perkembangan selanjutnya sehingga asal mulanya yang
sama tidak lagi terlihat dengan jelas saat membandingkan bentuknya telah
berkembang secara lengkap.
Diilhami oleh prinsip Darwinan mengenai pewarisan yang dimodifikasi,
banyak ahli embriologi pada akhir abad ke-19 mengemukakan pandangan ekstrim
yaitu Entogeni memberikan ikhtisar filogeni. Pendapat ini menganggap bahwa
perkembangan organisme individu, atau ontogeni, merupakan pengulangan sejarah
evolusioner spesies, atau filogeni. Teori rekapitulasi ini adalah suatu pernyataan
yang berlebihan. Meskipun semua vertebrata memiliki banyak ciri perkembangan
embrio yang sama, tidak benar bahwa mamalia pertama-tama mengalami tahapan

perkembangan ikan, kemudian tahapan amfibia, dan seterusnya. Ontogeny


dapat memberikan petunjuk untuk filogeni, tetapi penting untuk diingat bahwa
semua tahapan perkembangan itu bisa berubah sepanjang rentetan proses evolusi
yang panjang.

Gambar Perkembangan embrio vertebrata. Semua vertebrata memiliki celah-celah


insang pada stadium embrional (Widodo, Lestari, U., Amin, M., 2003).
4. Biologi Molekuler
Ahli biologi juga mengamati kemiripan organisme pada tingkat molecular.
Semua bentuk kehidupan menggunakan Bahasa genetika yang sama yaitu DNA
dan RNA, dan kode genetika tersebut pada dasarnya bersifat universal. Dengan
demikian, ada kemungkinan bahwa semua spesies merupakan keturunan dari nenek
moyang bersama yang menggunakan kode ini.
Hubungan evolusi di antara spesies dicerminkan dalam DNA dan proteinnya
dalam gen produk gennya. Jika dua spesies memiliki pustaka gen dan protein
dengan urutan monomer yang sangat bersesuaian, urutan itu pasti disalin dari
nenek moyang yang sama. Jika dua paragraf yang panjang adalah sama meskipun
ada penggantian satu huruf di beberapa tempat, tentunya kita akan mengatakan
bahwa paragraf itu berasal dari satu sumber yang sama. Biologi molekuler
mendukung pemikiran darwin yang paling berani bahwa semua bentuk kehidupan
saling berhubungan sampai tingkat tertentu melalui cabang-cabang keturunan dari
erorganisme yang paling awal. Bahkan organisme yang secara taksonomi berbeda
jauh, seperti manusia dan bakteri, memiliki beberapa protein yang sama, misalnya
sitokrom c, suatu protein yang terlibat dalam respirasi seluler pada semua spesies

aerob. Mutasi telah menggantikan asam amino dibeberapa tempat pada protein
tersebut selama perjalanan perjalanan panjang evolusi, tetapi molekul sitokrom c
pada semua spesies sangat mirip dalam struktur dan fungsi. Tidak jauh berbeda
dalam hemoglobin pada beberapa vertebrata memperkuat bukti-bukti paleontologi
dan anatomi perbandingan mengenai hubungan evolusioner di antara-antara
spesies-spesies tersebut.
Suatu kode genetik yang sama merupakan bukti yang tak terbantahkan
mengenai fakta bahwa semua kehidupan saling berhubungan. Dengan demikian
jelas, bahasa kode genetik telah diturunkan melalui semua cabang pohon
kehidupan sejak permulaan munculnya kode genetik tersebut pada bentuk
kehidupan yang lebih awal. Dengan de,mikian biologi molekuler telah
menambahkan babah terbaru pada bukti-bukti bahwa evolusi adalah dasar kesatuan
dan keanekaragaman kehidupan.
5. Bukti Paleontologi
Fosil (dalam bahasa Latin: fossa yang berarti "menggali keluar dari dalam
tanah" ) adalah sisa-sisa atau bekas-bekas makhluk hidup yang menjadi batu atau
mineral. Fosil merupakan makhluk hidup atau sebagian dari makhluk hidup yang
tertimbun oleh tanah, pasir, lumpur dan akhirnya membatu, atau kadang-kadang
hanya bekas-bekas organisme. Pada umumnya fosil yang telah ditemukan terdapat
dalam keadaan tidak utuh, yaitu h/anya merupakan suatu bagian atau beberapa
bagian dari tubuh makhluk hidup.
Hancurnya tubuh makhluk hidup yang telah mati disebabkan karena pengaruh
air, angin, bakteri pembusuk, hewan-hewan pemakan bangkai dan lain-lain. Fosilfosil dapat ditemukan diberbagai macam lapisan bumi, sehingga penentuan
umumnya didasarkan atas umur lapisan yang paling dalam, mempunyai umur yang
lebih tua sedangkan umur fosil yang ditemukan yang lebih atas mempunyai umur
yang lebih muda. Dengan membandingkan fosil-fosil yang ditemukan diberbagai
lapisan bumi yaitu mulai dari sederetan fosil-fosil yang telah ditemukan dalam
lapisan batuan bumi dari yang tua sampai ke yang muda menunjukkan ada
perubahan yang terjadi secara berangsur-angsur maka dapat disimpulkan bahwa
fosil merupakan petunjuk adanya evolusi (Widodo, Lestari, U., Amin, M., 2003).
Fosil merupakan catatan sejarah penting sebagai petunjuk adanya evolusi.
Dengan membandingkan struktur tubuh hewan masa lampau yang telah menjadi
fosil dengan hewan sekarang dapat disimpulkan bahwa keadaan lingkungan di

masa lampau berbeda dengan sekarang. Tokoh yang mempelajari fosil dan
hubungannya dengan evolusi adalah:
a) Leonardo da Vinci (Italia 1452-1519). Orang yang pertama kali berpendapat
fosil merupakan bukti adanya makhluk hidup di masa lampau.
b) George Cuvier (Perancis 1769-1832) merupakan ahli anatomi perbandingan.
Ia mengadakan studi perbandingan antara fosil-fosil dari berbagai
lapisan bumi dan makhluk hidup yang ada sekarang. Cuvier menyimpulkan
bahwa pada masa tertentu telah diciptakan makhluk-makhluk hidup yang
berbeda dari masa ke masa. Setiap masa diakhiri kehancuran alam. Paham ini
dikenal dengan kataklisma.
c) Darwin mengatakan bahwa makhluk hidup pada lapisan bumi tua mengadakan
perubahan bentuk untuk menyesuaikan diri dengan lapisan bumi yang lebih
muda. Oleh sebab itu, fosil pada lapisan bumi muda berbeda dengan fosil di
lapisan bumi tua (Anonim, 2009).
Fosil jarang ditemukan dalam keadaan lengkap (utuh), umumnya merupakan
suatu bagian atau beberapa bagian tubuh makhluk hidup. Faktor-faktor yang
menyebabkan jarang ditemukan fosil dalam keadaan lengkap, yaitu:
1) Terjadinya lipatan batuan bumi;
2) Pengaruh air, angin, dan bakteri pembusuk;
3) Hewan pemakan bangkai;
4) Jenis organisme, ada organisme yang tidak mungkin menjadi fosil,
misalnyaamoeba; (Anonim, 2010)
Keadaan lingkungan yang tidak memungkinkan suatu bagian tubuh organisme
menjadi fosil. Untuk menjadi fosil, sisa-sisa hewan atau tanaman ini harus segera
tertutup sedimen. Proses Pembentukan fosil disebut dengan fosilisasi.
Fosilisasi
Fosilisasi merupakan proses penimbunan sisa-sisa hewan atau tumbuhan yang
terakumulasi dalam sedimen atau endapan-endapan baik yang mengalami
pengawetan secara menyeluruh, sebagian ataupun jejaknya saja. Terdapat beberapa
syarat terjadinya pemfosilan yaitu antara lain:
1. Organisme mempunyai bagian tubuh yang keras
2. Mengalami pengawetan
3. Terbebas dari bakteri pembusuk

4. Terjadi secara alamiah


5. Mengandung kadar oksigen dalam jumlah yang sedikit
6. Umurnya lebih dari 10.000 tahun yang lalu (Anonim, 2010).
Fosil hidup
Istilah "fosil hidup" adalah istilah yang digunakan suatu spesies hidup yang
menyerupai sebuah spesies yang hanya diketahui dari fosil. Beberapa fosil hidup
antara lain ikan coelacanth, burung Finch dan pohon ginkgo. Fosil hidup juga dapat
mengacu kepada sebuah spesies hidup yang tidak memiliki spesies dekat lainnya
atau sebuah kelompok kecil spesies dekat yang tidak memiliki spesies dekat
lainnya. Contoh dari kriteria terakhir ini adalah nautilus (Anonim, 2009).
Tempat penemuan fosil
Kebanyakan fosil ditemukan dalam batuan endapan (sedimen) yang
permukaannya terbuka. Batu karang yang mengandung banyak fosil disebut
fosiliferus. Tipe-tipe fosil yang terkandung di dalam batuan tergantung dari tipe
lingkungan tempat sedimen secara ilmiah terendapkan. Sedimen laut, dari garis pantai
dan laut dangkal, biasanya mengandung paling banyak fosil (Anonim, 2010).
Proses terbentuknya fosil
Fosil terbentuk dari proses dari proses penghancuran peninggalan organisme
yang pernah hidup. Hal ini sering terjadi ketika tumbuhan atau hewan terkubur
dalam kondisi lingkungan yang bebas oksigen. Fosil yang ada jarang terawetkan
dalam bentuknya yang asli. Dalam beberapa kasus, kandungan mineralnya berubah
secara kimiawi atau sisa-sisanya terlarut semua sehingga digantikan dengan
cetakan.
Pemanfaatan fosil
Fosil penting untuk memahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi dari
waktu geologi dan kecocokannya dengan lapisan batuan tergantung pada fosil.
Organisme berubah sesuai dengan berjalannya waktu dan perubahan ini digunakan
untuk menandai periode waktu. Sebagai contoh, batuan yang mengandung fosil
graptolit harus diberi tanggal dari era paleozoikum. Persebaran geografi fosil

memungkinkan para ahli geologi untuk mencocokan susunan batuan dari bagianbagian lain di dunia.
1. Fosil tumbuhan
Salah satu fosil tumbuhan yang pernah ditemukan adalah Archaefructus
liaoningensis yang berusia 140 juta tahun. Struktur fosil ini mirip daun dan pada
fosil tersebut mengandung minyak tumbuh-tumbuhan. Minyak ini merupakan
suatu ciri khas yang hanya dimiliki tanaman berbunga.
Jika dilihat dari fosil yang terekam dalam lapisan-lapisan sedimen di
kerak Bumi, fosil tumbuh-tumbuhan tertua tercatat berusia 425 juta tahun,
yang ditunjukkan dengan keberadaan fosil fern, fir, conifer dan beberapa
varietas tumbuhan purba yang lain. Sementara di masa 130 juta tahun silam
tumbuhan berbunga mulai mewarnai permukaan Bumi. Di antara dua masa itu
tidak diketahui secara pasti bagaimana tumbuhan yang lebih
berevolusi

tua

mampu

membentuk tumbuhan berbunga. Charles Darwin menjumpai

fenomena ini sejak abad 19 lalu (Smunsa, 2001).


Sejak itu berbagai kemungkinan diungkapkan, namun permasalahan ini
masih kontroversial hingga sekarang. Di kalangan ilmuwan, fenomena ini
dikenal sebagai salah satu misteri
Darwin.
Oleanane
Gambar

disamping

merupakan rumus bangun molekul oleanane


yang

berhasil dideteksi Moldowan dan rekanrekannya

dari

deposit

sedimen

berminyakyang berusia ratusan juta tahun.


Berdasarkan penelitian yang
dilakukan

oleh

tim

geologi

Amerika, penelitian ini didasarkan pada sebuah senyawa organik yang


dinamakan oleanane, yang acap ditemukan pada fosil-fosil tumbuhan. Hal ini
merupakan langkah maju. Selama ini kerja para palentolog terbatas pada
anatomi tumbuhan purba yang tercetak dalam fosil secara detil, bukan pada
molekul pembentuk (oleanane), kata Bruce Runnegar, profesor palentologi di
University California of Los Angeles.

Oleanane merupakan senyawa organik yang diproduksi oleh berbagai


macam tumbuhan dan berfungsi sebagai bagian dari mekanisme pertahanan
tumbuhan terhadap serangan serangga, jamur dan berbagai aktivitas mikroba
lainnya.

Namun

senyawa ini tidak


dijumpai

pada

beberapa tumbuhan
seperti
Gambar

pinus.
di

samping
merupakan sebuah
fosil

tumbuhan

purba berbunga (kiri) dan tumbuhan berbunga saat ini (Hanman's Fossils dalam
Tim Smunsa, 2001).Tim geologi yang dipimpin oleh Moldowan dan koleganya
mempelajari sedimen-sedimen berumur Permian yang mengandung sisa-sisa
tumbuhan purba yang dikenal sebagai gigantopterids.
Dalam lapisan sedimen yang sama pula ditemukan oleanane. Hal ini
memperlihatkan bahwa gigantopterids pun memproduksi oleanane, layaknya
tumbuhan moderan pada saat ini. Dari sini biolog David W. Taylor dari Indiana
University menyimpulkan bahwa tumbuh-tumbuhan berbunga telah ada jauh
lebih awal.
Penemuan ini cukup penting karena dalam waktu yang belum lama juga di
daratan Cina ditemukan fosil gigantopterids yang lengkap dengan daun dan
batangnya, yang sangat mirip jika dibandingkan dengan tumbuhan berbunga
modern. Taylor memperkirakan bahwa gigantopterids dan tumbuhan berbunga
mulai berevolusi dari tumbuhan yang lebih tua secara bersama-sama semenjak
250 juta tahun yang lalu. Penemuan ini sedang memasuki lapangan perdebatan
ilmiah yang sesungguhnya. Namun di samping itu, Moldowan dan rekanrekannya mencatatkan diri bahwa oleanane dapatlah dijadikan sebagai fosil
kimiawi yang penting untuk mempelajari sejarah kehidupan di muka Bumi (Tim
Smunsa, 2001)

Fosil tanaman yang paling banyak ditemukan di bumi adalah sejenis pakupakuan (fern). Salah satu temuan di dinding tambang batubara berupa fosil
tumbuhan sejenis pakis yang disebut pteridosperm yang memiliki daun selebar
sekitar 6 centimeter. Hal ini ditemukan oleh para pekerja sebuah tambang
batubara di Illinois, AS terkejut saat melihat lukisan di dinding tambang yang
menggambarkan pemandangan masa lalu. Setelah mengebor emas hitam yang
mereka inginkan, pada langit-langit gua bekas pengeboran terlihat jejak lumut,
semak belukar, dan tumbuh-tumbuhan purba lainnya.
Sebagaimana dilaporkan dalam sebuah jurnal Geologi edisi bahwa fosil
vegetasi purba yang diperkirakan berumur 300 juta tahun memenuhi kawasan
tambang hingga seluas 10 kilometer persegi. Ini merupakan fosil hutan terbesar
yang pernah ditemukan. Menurut Dr. Howard Falcon-Lang seorang pakar
kebumian dari Universitas Bristol yang menemukan situs tersebut menyatakan
bahwa Para geolog mencoba menuruni sekitar seratus meter di bawah
permukaan tanah dan menyusuri orong-lorong gelap gulita yang panjangnya
beberapa kilometer dengan fosil hutan di langit-langitnya. Mereka menemukan
jejak keragaman ekologi yang sangat kompleks. Jenis tumbuh-tumbuhan paling
banyak ditemukan berupa sejenis pakis yang tingginya sekitar 4 meter dan
membentuk sub kanopi yang menaungi vegetasi di bawahnya. Namun, ada jenis
paku-pakuan raksasa yang tingginya mencapai 40 meter dan ini merupakan
temuan yang tak ternilai.
Kenakeragaman hayati yang jelas terlihat dari kumpulan fosil tumbuhtumbuhan menjadi sumber informasi yang penting untuk mempelajari sejarah
hutan purba. Menurut Scott, proses pembentukan fosil di wilayah ini sangat lain

dan lebih dinamis dibandingkan kawasan lainnya. Epos Pennsylvania yang


berlangsung antara 229-325 juta tahun lalu diperkirakan puncak periode
pembentukan formasi batubara di wilayah tersebut. Deposit tambang dan fosil
di Illinois itu mungkin terbentuk karena gempa besar yang menyebabkan
kawasan tersebut lebih rendah dari permukaan laut. Hutan yang terendam air
garam kemudian mati dan mulai tertutup endapan-endapan selama jutaan tahun
sampai menjadi batubara (Enterpises, 2010).
Biasanya, para ilmuwan mencari tahu sejarah kebumian dengan mengebor
lapisan batuan secara vertikal dan mempelajari lapisan demi lapisan. Tapi,
dengan temuan ini mereka dapat mempelajari satu periode kehidupan di Bumi
secara rinci yang terekam dalam satu lapisan yang sangat luas.
2. Fosil Hewan
Fosil Hewan paling banyak ditemukan daripada fosil tumbuhan. Fosil
vertebrata banyak ditemukan diberbagai daerah, sedangkan fosil avertebrata
sangat

jarang

ditemukan

dipermukaan

bumi.

Hal

ini

karena

pada

umumnya anggota vertebrata tidak memiliki bagian tubuh yang keras. Namun
demikian hal ini

tidak

ditemukan

dari vertebrata. Faktor adanya bagain tubuh yang keras

fosil

menutup

kemungkinan

bahwa

akan

dapat

bukanlah satu-satunya penentu adanya fosil. Jika fosil terbentuk pada zaman
es, maka pada tersebut masih terdapat bakteri pembusuk. Zaman es terjadi
beberapa juta tahun yang lalu. Pada iklim yang dingin mayoritas bakteri sedang
tidak aktif melakukan proses pembusukan. Fosil

yang ditemukan

pada

umumnya berusia lebih dari 10.000 tahun. Dengan demikian maka fosil dari
golongan Avertebrata yang hidup pada zaman es pada jutaan tahun yang lalu
sangat mungkin untuk ditemukan.
Berikut ini beberapa contoh fosil hewan yang pernah ditemukan oleh para
arkeolog.

Memang, fosil tertua yang dikenali yang diketaui adalah prokarioti.


Contoh lain adalah penampakkan kronologi dari kelas-kelas hewan veterebrata
yang berbeda-beda dalam catatan fosil. Fosil ikan adalah yang paling tua dari
semua vetebrata lain, disusul kemudian oleh amfibia, diikuti oleh reptilian,
kemudian mamalia dan burung. Urutan ini sesuai dengan sejarah keturunan
vetebrata sebagaimana diungkapkan oleh banyak jenis ti oleh para ahli
paleontology.
Pandangan Darwin mengenai kehidupan juga memperkirakan bahwa
transisi evolusioner harus meninggalan tanda-tanda dalam catatan fosil. Para
ahli

paleontology

telah

menemukan

banyak

bentuk

transisi

yang

menghubungkan fosil yang lebih tua dengan spesies modern. Sebagai contoh,
serangkaian fosil mendokumentasikan perubahan bentuk dan ukuran tengkorak
yang terjadi ketika mamalia berevolusi dari reptilian. Setiap tahun, ahli
paleontology menemukan kaitan atau hubungan penting lainnya antara bentuk

modern dengan nenek moyangya. Pada beberapa tahun ini misalnya, para
peneliti telah menemukan paus yang telah menjadi fosil yang menghubungkan
mamalia air ini dengan leluhurnya yang hidup di daratan.
Paus merupakan setasea awal, ordo mamalia. Setasea awal ini hidup 50-60
juta tahun lalu. Catatan fosil mengindikasikan bahwa sebelum masa itu,
kebanyakan mamalia bersifat teresterial (hidup didarat). Walaupun saintis telah
lama menyadari bahwa paus dan setaea lain pastilah berawal dari mamalia darat,
dahulu baru sedikit temuan fosil yang mengungkapkan bagaimana struktur
tungkai setasea berubah seiring waktu, sehingga pada akhirnya tungkai belakang
hilang dan sirip terbentuk. Akan tetapi, dalam beberapa dasawarsa terakhir,
serangkaian fosil yang menakjubkan telah ditemukan di Pakistan, Mesir, dan
Amerika Utara. Fosil-fosil tersebut mendokumentasikan transisi dari kehidupan
didarat menjadi kehidupan dilaut.

BAB III
PENUTUP
1.3 Kesimpulan
Evolusi adalah proses perubahan pada makhluk hidup dari generasi ke genersi
berikutnya dalam kurun waktu yang sangat lama. Teori-teori evolusi yaitu Teori
Fixisme,

Katastrophisme,

Transformisme,

Gradualisme,

Kreasionisme,

Uiformitanianisme, Lamarck, Darwin. Adapun bukti-bukti terjadinya evolusi yaitu


biogeografi, anatomi perbandigan, embriologi perbandingan, biologi molekuler serta
paleontologi.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Bukti Evolusi Fosil. (online). (http://www.scribd.com/doc/113164184/Bukti-EvolusiFosil, diakses tanggal 8 mei 2015 pukul 14.00
Fried, George. 2006. Biologi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Reece, Campbell. 2012. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2. Jakarta: Erlangga.