Anda di halaman 1dari 78

RAHASIA

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGI


PRAKTEK KERJA MAJORING KLINIS
KASUS II
I. IDENTITAS
1. Identitas Subjek
Nama
: RM
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tgl. Lahir : Sumedang / 27 Maret 1979 (31 tahun)
Suku Bangsa : Sunda
Agama
: Islam
Anak ke
: 3 dari 5 bersaudara
Status Perkawinan :
Kawin
Pendidikan
: SMEA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Jl. S S II rt 05/10 Kota B
2. Identitas Ayah
Nama Ayah
:
Suku Bangsa :
Agama
:
Pekerjaan
:
Alamat
:

DK (alm)
Sunda
Islam
-

3. Identitas Ibu
Nama Ibu
Suku Bangsa
Agama
Pekerjaan
Alamat

AR
Sunda
Islam
Ibu Rumah Tangga
Sumedang

:
:
:
:
:

4. Identitas Pemeriksa
Nama Pemeriksa : Junaidi
NPM
: 190420080022
Tujuan Pemeriksaan:
Konsultasi Psikologi
Tempat Pemeriksaan
:
RS. Hasan Sadikin Bandung
Pembimbing
: Dr. Ratna Hartanto, M.Si

Pemeriksaan yang dilakukan:


No.
1.

Tanggal
Pemeriksaan
02 Februari 2010

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Kegiatan
Pertemuan I

Page 1

RAHASIA

2.

03 Februari 2010

3.

17 Februari 2010

4.

02 Maret 2010

5.

22 Maret 2010

Menyampaikan keluhan
RH
Pertemuan II
Anamnesa
WZT dan Grafis
Pertemuan III
Anamnesa
WB
Pertemuan IV
SSCT
Anamnesa
Pertemuan V
Rorschach
Anamnesa

II. KELUHAN
Pada saat pertama sekali datang kepoli psikologi S memiliki
beberapa keluhan yaitu :
(1) Merasa memiliki sakit kepala yang selalu muncul setiap pagi
dan tidak pernah sembuh ;
(2) S juga merasakan akhir-akhir ini hubungan dengan suaminya
semakin memburuk.
III. RIWAYAT KELUHAN
S datang ke poli Psikologi RSHS atas saran dokter dibagian
syaraf, menurut diagnosa dokter saat ini ia mengalami gangguan
depresi. Setelah bertemu dengan pemeriksa S mulai menceritakan
keluhan yang ia alami kemudian S juga menerangkan bahwasanya ia
sudah beberapa kali memeriksakan diri ke dokter umum dibeberapa
tempat

namun

dokter

umum

hanya

memberikan

obat

untuk

menghilangkan rasa sakit dikepalanya saja dan bila obatnya habis


maka ia selalu rutin kedokter untuk memeriksakan kembali. S
menyatakan bahwa ia juga pernah periksa ke dokter spesialis mata di
Cicendo,

karena

dia

pikir

kemungkinan

ada

pengaruh

dari

penglihatannya yang terkadang suka kabur. Hasil pemriksaan dari RS


mata di cicendo menyatakan bahwa matanya baik-baik saja.
Akhirnya karena tidak ada kemajuan ia memeriksakan diri kebagian
spesialis syaraf di RSHS dengan keluhan yang sama yaitu sakit

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 2

RAHASIA

dibagian kepala, karena menurutnya ia merasa yakin pasti ada


gangguan dibagian kepalanya sehingga tidak kunjung sembuh.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter dan hasil rontgen tidak
ditemukan adanya gangguan syaraf dibagian kepala S namun
menurut diagnosa dokter saat ini S sedang mengalami gangguan
depresi.
Menurut S sakit dikepalanya sudah ada sejak tahun 2008 namun
S merasa sakit dikepalanya semakin parah sejak tanggal 14 januari
kemaren, setiap pagi S merasakan sakit kepala yang selalu datang
tiba-tiba tanpa ada yang dia pikirkan, hal tersebut dia rasakan dari
pukul 8 hingga pukul 12 siang. Sakit yang ia rasakan menurutnya
seperti kepalanya serasa mau pecah. Bila sedang menyerang maka
ia hanya bisa tiduran saja dirumah sambil segera minum obat yang
diberikan dokter dan berangsur-angsur sakitnya akan menghilang.
S juga menceritakan bahwa hubungan dengan suaminya akhirakhir ini tidak baik. Hal tersebut diawali setelah tahun baru
disumedang, ditempat orang tua dan keluarga besarnya berada.
Disana S bertengkar dengan kakaknya, namun melihat hal tersebut
suaminya justru tidak acuh padanya malah justru ikut menyalahkan
S.
Hubungan dengan suaminya kurang harmonis, menurut S
suaminya kurang memberikan rasa sayang. Suaminya sehari-hari
hanya memperlakukan ia seperti pembantu rumah tangga saja yang
hanya dicukupkan dengan materi berupa uang sementara S masih
membutuhkan hal yang lain seperti perhatian dan kasih sayang.
Seperti yang baru terjadi, S mengungkapkan dipertemuan pertama
bahwa ia baru bertengkar dengan suaminya. Disamping itu, bila ia
sedang menghadapi masalah S sangat berharap suaminya mau
membantu

memecahkan

masalahnya,

bukan

ikut-ikutan

menyalahkan dirinya seperti yang dilakukan oleh keluarganya saat


ini.
IV. STATUS PRAESENS

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 3

RAHASIA

1. Status Fisik
S adalah seorang perempuan berperawakan kurus dan tinggi
dimana diperkirakan tinggi badan sekitar 154 cm dan berat badan
sekitar 45 kg. Pada pertemuan pertama S berpenampilan cukup rapi
dengan menggunakan kemeja bunga-bunga merah dipadu dengan
tas hitam ditangan, celana jeans serta menggunakan sandal kulit.
Pertemuan kedua ia mengenakan pakaian yang serasi dengan baju
warna kuning dan coklat, celana jeans biru muda, sepatu putih, jam
tangan dipergelangan kiri serta rambut dibiarkan tergerai tidak
diikat. Pertemuan selanjutnya yaitu yang ketiga, ia berpakaian
tangan panjang berwarna hijau kotak-kotak, celana jeans dan jaket
coklat. Memang pada saat pemeriksaan ketiga sedang turun hujan
dan cuaca cukup dingin. Ia memakai make up tipis dan ramput diikat
dengan aksesoris yang cukup menarik yaitu motif bunga. Pertemuan
keempat, S mengenakan pakaian berwarna biru muda dan bermotif
bunga serta celana kain dasar warna abu-abu. Dan pada pertemuan
kelima, S mengenakan baju warna coklat muda dan celana kain dasar
warna gelap. S memiliki warna kulit sawo matang dan rambut
panjang se dada. Secara keseluruhan, penampilan S cukup bersih
dan rapi.
2. Status Psikis
Pertama kali bertemu dengan pemeriksa, S terkesan malu dan
kurang bersemangat, genggaman tangannya lemah dan dingin.
Selain

itu

ketika

berjalan

memasuki

ruangan

pandangannya

tertunduk ke bawah dan langkah kakinya cukup pelan, namun ketika


S memperkenalkan dirinya, pemeriksa mampu mendengar dengan
jelas nama yang disebutkannya. Terlihat diwajahnya yang murung
dan matanya yang sembab seperti baru habis menangis. Pada
pertemuan ketiga begitu juga wajah S terlihat sedih, setelah
ditanyakan ternyata S dua hari yang lalu baru bertengkar dengan
suaminya. Disetiap pemeriksaan S sering kali menangis terutama bila
menceritakan keadaan diri dan hubungan dengan suaminya. Ia

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 4

RAHASIA

kurang mampu menjaga kontak mata dengan pemeriksa selama


pemeriksaan berlangsung, sesekali ia melihat ke arah lain atau ke
orang lain yang sedang ada di dalam ruangan pemeriksaan atau bila
menangis ia tertunduk sambil menyeka air mata dengan sapu
tangannya.

Status

kesadarannya

compos

mentis.

Secara

keseluruhan, S cukup kooperatif dalam melakukan pemeriksaan


psikologi.
V. OBSERVASI
1. Observasi Umum
Selama pemeriksaan berlangsung, S jarang mampu untuk
menjaga kontak mata dengan pemeriksa, ia hanya sesekali untuk
melihat ke arah pemeriksa. Selain itu, terkadang suaranya terdengar
jelas dan tiba-tiba suaranya menjadi lebih kecil sehingga pemeriksa
meminta S untuk kembali mengulang apa yang telah dikatakannya.
Ketika S menceritakan tentang dirinya, hubungannya dengan suami,
dan kedua orangtuanya maka ia akan menangis dengan suaranya
bergetar. Sering menyeka air mata dengan sapu tangannya.
Selain itu, saat mengerjakan tes, ia cukup kooperatif dimana S
mampu memahami dan menjawab pertanyaan, dan sering kali
mengulang kata-kata pertanyaan yang diucapkan oleh pemeriksa.
Ketika ia tidak mengetahui jawabannya, ia akan menggelengkan
kepala sambil mengatakan, gak tahu. S juga terkadang berada
pada posisi duduk menyandar ke kursi dan juga terkadang agak
condong mendekati meja.
2. Observasi Khusus
a. Lembar Riwayat Hidup
S mengisi lembar riwayat hidup sambil dibimbing oleh
pemeriksa. Ia sesekali mengangguk-anggukkan kepala sebagai
pertanda bahwa ia mengerti apa yang harus dilakukannya. S
mengingat dengan jelas tahun kelulusannya sehingga ia lancar
menuliskannya.

tidak

mengisi

kolom

kursus

karena

ia

mengatakan bahwa tidak pernah mengikuti kursus-kursus. Begitu

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 5

RAHASIA

pula pada kolom pengalaman kerja, berorganisasi, olahraga,


kesenian dan hobby.
Pada kolom cita cita, ia mengisi dengan keinginan untuk
kursus salon namun ia mengatakan hal itu tidak pernah tercapai
sampai saat ini. Kemudian S menceritakan kejadian saat ia sakit
tipes pada tahun 1991 disaat dia masih sekolah dan begitu pula
saat mengalami kecelakaann motor namun ia tidak sampai
dirawat

di

rumah

sakit.

Tetapi

menurutnya

itu

hanyalah

kecelakaan biasa, karena hasil pemeriksaan dokter mengatakan


bahwa ia baik-baik saja walaupun badannya sedikit mengalami
luka-luka. Secara keseluruhan, S mampu menyelesaikan lembar
pengisian riwayat hidup dengan baik.
b. Anamnesa
Pemeriksa menjelaskan kepada S bahwa nantinya akan ada
beberapa
diharapkan

pertanyaan
S

mengenai

mampu

kehidupan

menjawab

dan

pribadi

dan

menceritakannya.

Mendengar penjelasan dari pemeriksa, S menganggukkan kepala


dan posisi duduk menyandar ke kursi. Setiap akan menjawab, S
nampak terdiam dan terkadang menangis, kemudian ia bercerita
dengan suara yang cukup kecil sehingga terkadang pemeriksa
meminta S untuk mengulang kata-katanya.
S menceritakan kehidupan pribadinya dengan cukup detail
dan runtun, namun ia tidak menjaga kontak mata dengan
pemeriksa. Matanya menatap ke depan tetapi hanya sesekali
melihat ke arah pemeriksa. Selain itu, ia kelihatan sedih dan
sampai menagis ketika membicarakan ibunya dan menceritakan
bahwa hubungan dalam keluarga mereka kurang harmonis. Ketika
S menceritakan tentang hubungannya dengan suaminya, raut
wajahnya juga kelihatan sedih, sampai beberapa kali ia menangis.
Secara keseluruhan, S mudah untuk menceritakan kehidupan
pribadinya dan mudah tergugah secara emosi jika menceritakan
kondisi

keluarga

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

dan kehidupan pribadinya,

raut wajahnya

Page 6

RAHASIA

menunjukkan kesedihan jika isi ceritanya mengandung makna


sedih, dan ia akan tersenyum bahkan tertawa jika isi cerita
menarik bagi dirinya.
c. Grafis
WZT (8 menit)
Ketika S diminta untuk menggambar, ia kelihatan bingung, dan
mengatakan bahwa ia tidak bisa menggambar, namun ia tetap
mengerjakan tes ini. S menyelesaikan gambar tidak berurutan
dan terkesan sangat sederhana gambar yang dibuatnya. S
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan
stimulus 7 dan stimulus 3 dibandingkan stimulus lainnya. S
kelihatan kebingungan ingin menggambar apa sehingga ia
memandang ke arah lain kemudian kembali ke kertas untuk
menggambar.
DAP (06 menit 09 detik)
Pemeriksa meletakkan

kertas

kosong

dihadapan

dan

memintanya untuk menggambar orang. Pemeriksa menjelaskan


bahwa gambar S tidak akan dinilai bagus atau buruknya. Gambar
orang yang pertama kali digambar adalah wanita. S mulai
menggambar dari bagian kepala, wajah, rambut, kuping, badan,
dan tangan. S melakukan pengulangan garis hampir di seluruh
bagian gambar orang tersebut. S kemudian menggambar bagian
bawah dan bagian kaki.
Pemeriksa kemudian memberikan

kertas

kosong

baru

dan

meminta S menggambar orang dengan jenis kelamin yang


berbeda

dengan

gambar

orang

sebelumnya.

kemudian

mencoba menggambar dimulai dari bagian kepala, rambut,


wajah, badan, tangan, dan bagian bawah gambar orang tersebut.
S tidak membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan
gambar yang berjenis kelamin laki laki dibandingkan gambar
yang berjenis kelamin perempuan.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 7

RAHASIA

BAUM (03 menit 02 detik)


Pemeriksa memberikan kertas kosong kehadapan S dan
memintanya untuk menggambar pohon. S menggambar pohon
dimulai dari bagian batang, kemudian secara bergantian
menggambar daun sebelah kiri dan sebelah kanan. S kemudian
menambahkan garis-garis pada batang, serta menambahkan
batang disebelah kanan pohon yang memiliki buah. Setelah
gambar itu selesai.

d. WB (1 jam 45 menit)
Information
S memahami instruksi dan hanya mampu untuk menjawab
beberapa pertanyaan yang diberikan. Jika ia tidak mengetahui
jawabannya, ia akan mengatakan gak tau sambil menggelengkan
kepala.
Comprehension
Pada sub tes ini, S mampu menjawab pertanyaan dengan cukup
jelas. Selain itu, jika ia kurang memahami soal yang diberikan, ia
akan meminta pemeriksa untuk mengulangnya.
Digit Span
Pemeriksa menjelaskan tentang sub tes ini dan diperhatikan
dengan seksama oleh S. Saat mendengarkan deret angka yang
disebutkan oleh pemeriksa dan mengulangi deret angka tersebut,
ia akan memejamkan matanya. S hanya sesekali membuka
matanya.
Arithmetic
S kurang mampu menjawab soal-soal hitungan ini dengan cepat.
Ketika menjawab, S nampak berpikir sambil sesekali menutup
matanya. S menjawab salah untuk soal nomor 3, 4, 5, 7 dan 10,
walaupun pemeriksa masih memberikannya kesempatan untuk
memperbaiki jawaban, akan tetapi S tetap memberikan jawaban
yang salah.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 8

RAHASIA

Similiarities
Pemeriksa menjelaskan

tentang

sub

tes

similiarities

dan

nampaknya S memahami apa yang harus dilakukannya. Pada soal


nomor 1 dan 8, S menjawab menggunakan kata kata sama
sama

namun

selanjutnya

langsung

menyebutkan

persamaannya saja. Bila ia tidak mengetahui jawaban dari


pertanyaan tersebut maka S akan mengatakan gak tau sambil
menggelengkan kepalanya.
Vocabulary
S memberikan jawaban-jawaban

yang

singkat

dan

jelas.

Terkadang ia meminta soal yang disebutkan oleh pemeriksa


diulangi, dan terkadang pula ia cukup lama dalam memberikan
jawaban yang ia kurang mengerti namun ia berusaha untuk tetap
memberikan jawaban.
Digit Symbol
S memperhatikan dengan seksama instruksi yang diberikan oleh
pemeriksa untuk mengerjakan sub tes ini. Dalam mengerjakan
tugas ini, S sering kali melihat ke contoh tanda sehingga ia
lamban dalam menyelesaikan tugas ini.
Picture Arrangement
S mampu mengerjakan sub tes ini dengan cepat, akan tetapi
setelah menyusun urutan gambar, ia terkadang mengubah
susunan gambarnya, sehingga waktu yang digunakan bertambah
lama. S menceritakan apa yang dilihatnya pada urutan gambar
itu.
Picture Completion
Dalam menjawab sub tes ini, S membutuhkan waktu yang cukup
lama untuk mengamati bagian penting yang hilang dalam
gambar. Pada nomor 9 ia mengatakan gak tau dan pada nomor
13 dan 14 ia mengatakan dengan jawaban yang salah.
Block Design
S mengerjakan tugas ini membutuhkan waktu yang tidak terlalu
lama kecuali pada nomor ke 6 hingga waktu berakhir ia tetap
tidak

bisa

menyusun

pengerjaannya

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

bentuk

memulai

yang

secara

dicontohkan.

tidak

beraturan,

Dalam
bahkan

Page 9

RAHASIA

terkadang membolak-balik balok secara berulang kali namun


tidak

menemukan

sisi

yang

pas

untuk

digunakan.

Ia

mengerjakannya secara trial error.


Object Assembly
Pada sub tes ini, S tidak nampak kesulitan dalam menyelesaikan
tugas yang diberikan. Kepingan pertama diselesaikannya dengan
baik, begitupula untuk kepingan 2 dan 3.
e. SSCT
Sebelum mengerjakan tes ini, pemeriksa menjelaskan bahwa S
cukup menjawab pernyataan-pernyataan yang tercantum sesuai
dengan pikiran yang pertama kali muncul ketika melihat
pernyataan tersebut. S mengerjakan dengan berurutan, jika ia
kesulitan untuk menyelesaikan suatu pernyataan maka ia akan
beralih ke pernyataan berikutnya. S kembali mengecek
jawabannya dan mengisi jawaban pernyataan yang masih kosong
f.

Rorschach (1 jam 24 menit)


Tes ini dilakukan pada pertemuan kelima, dan pemeriksa
memberikan prolog lengkap mengenai tes ini. S menganggukanggukkan kepalanya dan berkata iya, sebagai tanda bahwa ia
mengerti apa yang harus dilakukannya. S memegang kartu dan
sering memutar-mutar kartu lalu memberikan respon. Setelah
respon pertama disebutkan, ia kembali memutar-mutar kartu
sambil

mengamati

kartu

tersebut.

cukup

lama

untuk

meletakkan kembali kartu dan mengatakan sudah, ga ada lagi


yang bisa saya liat sehingga waktu yang digunakan untuk
melihat satu kartu cukup lama. S memberikan respon hanya 1
untuk tiap kartunya, kecuali untuk kartu nomor 3 dan 6, ia
memberikan 2 respon. Sedangkan kartu 4 dan 9, ia menolaknya
dengan mengatakan saya tidak bisa melihat apa-apa disitu
Pemeriksa memberikan testing the limit untuk mengetahui
apakah S dapat melihat warna dan bentuk yaitu kupu-kupu
berwarna merah pada kartu III, namun S mengatakan bahwa ia

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 10

RAHASIA

tidak melihatnya. S menjawab bahwa ia melihat daerah merah itu


seperti jantung, karena jantung berwarna merah. Kemudian
pemeriksa memberikan testing the limit pada kartu VI untuk
memunculkan shading, yaitu kulit binatang yang dibentangkan,
namun S juga tidak mampu melihat bentuk itu. S mengatakan
bahwa mungkin orang lain dapat melihat sebagai kulit binatang,
tetapi dirinya tidak melihat itu sebagai kulit binatang. Secara
keseluruhan, S cukup kooperatif dalam memberikan respon pada
performance proper dan pada saat inquiry, hanya saja dalam
memberikan respon, S menggunakan waktu yang cukup lama.

VI. ANAMNESA
1. Latar Belakang Keluarga
S adalah anak ketiga dari lima bersaudara dengan urutan
sebagai berikut:
1. Rk, 37 tahun, perempuan, ibu rumah tangga, menikah.
2. Rj, 35 tahun, laki-laki, wiraswasta, menikah.
3. Subjek, 30 tahun, perempuan, ibu rumah tangga,menikah
4. Rn, 24 tahun, perempuan, ibu rumah tangga, menikah
5. Rp, 17 tahun, laki laki, pelajar, belum menikah
Kedua orangtua S berasal dari salah satu desa di Sumedang dan
suku bangsa sunda. S berasal dari keadaan ekonomi keluarga
menengah, ayahnya (alm) seorang pegawai di perusahaan negara
dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga.
S menceritakan bahwa ia kurang dekat dengan ayahnya, karena
ayahnya sibuk bekerja. Dan bila liburpun ayah lebih senang pergi
dengan ibunya, sehingga ia kurang mendapat perhatian dari
ayahnya. Ayah dianggap sebagai sosok yang kurang memberikan
perhatian

kepada

anak

anak,

kurang

hangat

dan

jarang

berkomunikasi. Ayahnya kurang memberikan nilai-nilai keagamaan


dan norma-norma sosial. S mengatakan bahwa ayahnya jarang
memperhatikan dirinya, sekolah ataupun tugas-tugas dari sekolah
tidak diperdulikan oleh ayahnya. Namun menurutnya dibandingkan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 11

RAHASIA

dengan anak anak yang lain ayah masih lebih memperhatikan


adiknya yang bungsu. Ia sangat sedih bila merasakan hal itu dimana
ayah kurang memberi perhatian padanya, kalau sudah seperti itu
biasanya S akan diam saja dan memendam perasaannya.
Hubungan S dengan ibunya juga kurang terjalin dengan baik. Ibu
terlihat

sama

dengan

ayah

yang

lebih

memperhatikan

adik

bungsunya, apa yang diminta pasti dituruti karena kalau tidak


adiknya akan marah. Misalnya sewaktu kecil adik meminta dibelikan
es krim maka ibu akan menyuruh ayah mencarikannya. Menurut s
didalam keluarga ibu lebih dominan dibandingkan ayah. Keputusan
didalam keluarga lebih banyak ibu yang memutuskan dibandingkan
ayah. Jika liburan ibunya menyenangi olahraga voli dan ayah pasti
akan lebih memilih menemani ibu hingga keluar kota hanya untuk
bermain voli saja tanpa mengajak anak anaknya. Disamping adiknya
yang bungsu, ibu juga terlihat lebih sayang dengan kakaknya yang
pertama, sebab bila dimarahi ibu biasanya kakak tersebut akan
pingsan. Sehingga menurutnya kakak dan adiknya lebih disayang
dibandingkan dirinya, begitupula dengan saudara saudara lainnya. Ia
merasa sedih karena ia dibedakan dibandingkan dengan yang lain.
Pernah sewaktu masih kecil semua saudara saudaranya dibelikan
pakaian baru bahkan saudara sepupunya kebagian dibelikan juga,
sementara dirinya tidak dibelikan, ia menanyakan kepada ibu namun
ibunya menjawab ibu bingung dengan selera kamu, nanti saja..
namun hingga sekarang ibu tidak pernah membelikannya. Kemudian
sewaktu ia pertama sekali mendapat haid, ia merasa seharusnya
mendapat penjelasan dari ibu sebagai orang tuanya tapi begitu ia
menanyakan tentang hal itu ia malah justru kena marah, begitupula
saat ia meminta untuk dibelikan pembalut tetap tidak mendapat
perhatian dari ibu sehingga ia memakai kain yang disobek sobek
sebagai pengganti pembalut. Padahal pekerjaan rumah banyak yang
dilimpahkan kepadanya dibandingkan dengan saudara saudara yang

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 12

RAHASIA

lain. S sangat kecewa sekali dengan perlakuan ibunya, sehingga


pernah ia berpikir sebenarnya dia itu anak mereka bukan?. Bila
sudah seperti itu biasanya S hanya menangis dikamar sambil
merenungi kenapa nasibnya bisa seperti ini.
Sewaktu ia masih kecil, s merasa bahwa kedua orang tuanya
hanya mementingkan dan memuaskan diri mereka sendiri dan tidak
memperhatikan anak anaknya terutama dirinya, semua tingkah laku
maupun kerjaan yang dilakukannya salah dimata orang tuanya.
Terkadang S bingung kenapa saya selalu disalahkan, Ia merasa
sedih dan kecewa atas sikap ibunya yang selalu menyalahkannya.
Palagi bila ia benar-benar melakukan kesalahan seperti misalnya bila
ia membersihkan rumah dan pada saat itu pernah ia memecahkan
gayung mandi maka iapun mendapat marah berupa omelan dari
ibunya. Kalau sudah dimarahi ibu, S akan berlari masuk kekamarnya
dan menangis.
Hubungan kekerabatan antara S dengan saudara kurang begitu
dekat, mereka jarang bermain bersama. Ia lebih memilih bermain
sendiri dibandingkan dengan saudara saudaranya. Sebab mereka
justru sering menyalahkan dirinya. S terkadang heran kenapa kakakkakaknya juga suka menyalahkan dirinya dan tidak mau bermain
bersamanya.

Mereka

juga

sering

bertengkar

misalnya

dalam

memperebutkan mainan atau remote tv. Ia sering bertengkar dengan


kakaknya yang kedua yaitu RJ. Sebab kakaknya tersebut paling
sering menyalahkan dirinya sehingga membuat ia marah dan selalu
melawan kakaknya RJ itu.
Dirumah ia menempati kamar bersama saudaranya Rn yang
perempuan padahal menurutnya ia sangat ingin memiliki kamar
sendiri karena baginya ia merasa tidak nyaman bila bersama orang
lain. Dibandingkan pada waktu SMP ia tinggal dirumah nenek dan
memiliki kamar sendiri.
Pada waktu ia berusia 7 tahun ia tinggal bersama neneknya
dikosambi dan iapun memasuki sekolah dasar. Nenek lebih banyak

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 13

RAHASIA

menanamkan kedisiplinan, nilai nilai agama dan sosial, namun ia


tidak lama tinggal dengan nenek. Ketika S naik kelas 2 iapun kembali
tinggal dengan kedua orang tuanya. Pada saat itu menurutnya ia
sedih kenapa harus kembali kerumah orang tuanya, tapi karena ia
tidak berdaya untuk menolak maka ia menurut saja untuk kembali
tinggal dirumah bersama keluarganya. Kemudian memasuki sekolah
menengah pertama iapun tinggal kembali dengan neneknya hingga
ia duduk dikelas 3. Baginya ia merasa lebih enak dan nyaman tinggal
dirumah nenek dibandingkan tinggal dengan kedua orang tuanya.
Nenek lebih sayang padanya. Ia sering mendapat uang jajan dan
perhatian yang lebih dari neneknya. Apapun yang diinginkannya pasti
selalu dipenuhi oleh nenek dan kakeknya.
Sewaktu kelas 1 SMK ia pernah berkelahi secara fisik dengan
kakaknya yang kedua, gara gara ia ketauan merokok dan kakaknya
tersebut menampar wajahnya, dan iapun tidak terima perlakuan
tersebut. Kemudian ia kembali memukul kakaknya Rj dan merekapun
bertengkar fisik. Pada saat itu kedua orang tuanya tidak ada dirumah,
mereka sedang pergi keluar kota untuk bermain voli. Baginya
perlakuan kakaknya sangat berlebihan karena ia merasa kakaknya
sendiri saja perilakunya tidak benar, ngapain mengurusi dirinya.
Pada tahun 1997, saat S duduk dikelas II SMK ia pernah dirawat
di rumah sakit karena sakit typus, pada waktu itu ia merasakan
keluarganya benar-benar tidak begitu peduli pada dirinya, ia dirawat
selama 20 hari di RS, keluarganya hanya sesekali menjenguk dan
melihatnya. S sangat kecewa atas perlakuan keluarganya itu tapi ia
tidak dapat mengungkapkan pada mereka, ia hanya bisa mengeluh
pada pacarnya yang saat ini telah menjadi suaminya. Menurutnya ia
masih beruntung sebab walaupun keluarga tidak memperhatikan
dirinya, ia masih memiliki pasangan yang pada saat itu begitu
sayang padanya dan mau berkorban untuk dirinya. Selama sekolah di
SMK ia menyatakan bahwa sering tidak masuk sekolah dengan
alasan sakit apalagi setelah dirawat di RS itu, ia terkadang tidak

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 14

RAHASIA

masuk hanya gara-gara kepalanya sakit, demam, dan merasa kurang


sehat badannya.
Dirumah menurutnya ia suka merasa tidak nyaman, sehingga ia
lebih memilih bermain keluar bersama teman-temannya. Terkadang
ia

membohongi

kedua

orang

tuanya

bahwa

ada

kegiatan

ekstrakurikuler namun ia pergi jalan-jalan dengan temannya.


Pada tahun 2000 S menikah diusia 28 tahun. S sangat senang
sekali bisa menikah dengan orang yang selama ini menyayanginya.
Begitu

dilamar

oleh

pasangannya

pada

waktu

itu

ia

segera

menyetujui karena ia berpikir nantinya ada seseorang yang akan


lebih memperhatikan dia daripada saat ini berada dikeluarganya. Ia
mengenal calon suaminya selama lima tahun dan kemudian mereka
memutuskan untuk menikah. S memiliki 3 orang anak laki-laki. S
menceritakan bahwa ia dulunya sangat senang berada dalam
keluarganya. Suaminya adalah seorang pegawai negri di instansi
pemerintah

propinsi.

Namun

setelah

menginjak

dua

tahun

perkawinan ia berpikir kenapa suaminya sekarang sangat berbeda


dengan dulu sewaktu pacaran yang lebih memperhatikan dirinya. Ia
merasa sekarang suaminya lebih sibuk mengurusi pekerjaannya
dikantor. Bila pulang dari kantor suaminya terlihat sering marahmarah, terkadang hanya persoalan sepele seperti masakan yang
dimasak S kurang cocok dengan selera suami, rumah sedikit
berantakan, maka suaminya akan mudah sekali menyalahkannya dan
pertengkaran diantara mereka pun akan terjadi. Ia sangat sedih dan
kecewa sekali dengan perilaku suami yang mulai berubah dan tidak
seperti dulu lagi. Kalau sudah bertengkar dengan suaminya biasanya
S hanya bisa menangis.
Semakin hari hubungan dengan suaminya semakin kurang
harmonis, suaminya kurang memberikan rasa sayang. Suaminya
sehari-hari hanya memperlakukan ia seperti pembantu rumah tangga
saja yang hanya dicukupkan dengan materi berupa uang sementara
ia masih membutuhkan hal yang lain seperti perhatian dan kasih

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 15

RAHASIA

sayang itu. S juga menyampaikan bahwa akhir-akhir ini ia merasa


kehilangan

gairah

hubungan

seksual

dengan

suaminya.

Bila

suaminya mengajaknya untuk berhubungan, ia akan mencoba


beberapa kali untuk menolak atau dengan cara pura pura tidur. Bila
pun terpaksa ia akan melakukannya tanpa ada rasa gairah.
Disamping itu bila ia sedang menghadapi masalah S sangat berharap
suaminya mau membantu memecahkan masalahnya, bukan ikut
menyalahkan dirinya seperti yang dilakukan oleh keluarganya saat
ini.
Saat ini bila ia sedang mengalami masalah dengan keluarganya
seharusnya suami melindungi dan peduli padanya tapi yang ia dapat
justru suami malah ikut mempersalahkan dirinya juga. Seperti
kejadian sewaktu tahun baru kemarin disumedang, ditempat orang
tua dan keluarga besarnya berada. Disana diadakan acara keluarga
dimana semua keluarga berkumpul sampai menyewa organ. Pada
saat itu adiknya yang perempuan hingga larut malam belum juga
pulang kerumah. Ia sangat mengkhawatirkan keadaannya dan
merasa was was akan keberadaan adiknya itu. Namun hal itu justru
dinilai salah oleh keluarganya terutama kakaknya yang laki laki
nomor dua. Kakaknya bilang sudahlah ina kan sudah besar ngapain
dikhawatirkan seperti itu, kamu ini berlebihan sekali, lagian dia
jugakan punya suami, suaminya biasa aja, kog kamu yang sibuk hal
tersebut justru membuat S heran apa salah ia mencemaskan
adiknya, bagaimana kalo ada yang mencelakakan ina diluar
Kejadian itu menjadi ia bersitegang dengan kakaknya, melihat hal
tersebut suaminya justru tidak acuh padanya malah justru ikut
menyalahkan dia yang seperti itu. Bila sudah seperti itu ia hanya
diam saja dan merasa tidak berdaya.
Pada tahun 2008 yang lalu, S menyatakan bahwa ia sering
mengalami sakit kepala yang berkepanjangan sehingga mendatangi
beberapa dokter. Ia sudah beberapa kali diperiksa oleh dokter yang
berbeda mulai dari dokter umum, dokter mata dan dokter syaraf.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 16

RAHASIA

Namun ia merasa penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh


tapi akhir-akhir ini malah justru semakin parah. Diagnosa dokter
syaraf di RSHS menyatakan bahwa ia menderita depresi, sehingga
akhirnya

ia

memutuskan

untuk

mendatangi

psikolog

untuk

memeriksaan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


2. Riwayat Pendidikan
Sekolah Dasar dilalui S dibeberapa tempat berbeda. Menurutnya
hal itu disebabkan S harus menemani neneknya sehingga iapun
sekolah yang dekat dengan tempat tinggal nenek. Kelas 1 ia
menempuh pendidikan di SD Cipaera Kosambi. Naik kelas 2 ia pindah
ke SD Cikadut, ia disana sampai kelas 3. Hal ini disebabkan karena
orangtuanya menghendaki S untuk kembali kerumah orang tua kelas
4 S pindah sekolah ke SDN 5 antapani hingga ia menamatkan sekolah
dasarnya disana. Selama di sekolah dasar, S belajar selalu sendiri,
orang tua tidak pernah mendisiplinkan tentang waktu belajar.
Rangking disekolahnya juga menurutnya biasa-biasa saja yaitu selalu
berada ditengah antara sepuluh dan duapuluh. Namun menurutnya
saat lulus dari sekolah dasar ia memperoleh NEM yang cukup baik
sehingga pada saat itu orangtuanya memuji atas prestasi yang
diperolehnya. Sewaktu sekolah dasar S sangat menyenangi pelajaran
ketrampilan karena pelajarannya santai dan sambil bisa berkreasi,
sedangkan pelajaran yang tidak disukainya adalah matematika sebab
pelajaran itu baginya sangat sulit dan susah dimengerti.
Sekolah menengah pertama ditempuhnya di SMPN 6 Bandung.
Prestasi yang diperolehnya pun selama di SMP biasa-biasa saja. Kelas
1 ia bisa berusaha sampai rangking 9, namun begitu naik kelas 2 dan
3 prestasinya menurun. Ia hanya bisa berada dirangking kelas
berkisar

sepuluh

hingga

duapuluh.

Menurutnya

prestasi

yang

diperolehnya tidak bisa membanggakan karena didalam belajar


selama di SMP hanya dilakukan pada saat mau ujian saja. Pelajaran
yang S senangi juga hanya bahasa inggris dan olahraga volley.
Menurutnya, ia bisa bermain volley karena sering melihat ibunya

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 17

RAHASIA

bermain.

Sedangkan

pelajaran

yang

tidak

senanginya

adalah

matematika. Ketika lulus SMP ia memperoleh NEM yang rendah,


baginya hal itu wajar karena ia memang jarang belajar. Namun
dampak yang ia rasakan adalah S sulit untuk melanjutkan ke SMA di
Sumedang. Akhirnya atas saran dari kakaknya RJ, S melanjutkan ke
SMEA di bandung. Alasan kakaknya itu agar setelah lulus sekolah, ia
nanti dapat mudah mencari pekerjaan minimal menjadi SPG di tokotoko atau mall.
Atas saran kakaknya itu S pun melanjutkan ke SMEA Pasundan I
di Bandung. Selama sekolah, S jarang belajar. Ia hanya belajar pada
saat-saat mau ujian saja. Sehingga prestasinya juga tidak begitu baik
selama pendidikan disekolah itu. Pelajaran yang disenanginya adalah
pemasaran dan bahasa inggris karena baginya kedua pelajaran
tersebut mudah dimengertinya, sedangkan pelajaran yang tidak
disenanginya adalah perpajakan sebab mata pelajaran tersebut
selalu menggunakan hitung-hitungan.
3. Emosi dan Dorongan
S mengungkapkan bahwa ia adalah sosok yang tertutup untuk
menceritakan masalah pribadinya. Ia sulit untuk menyampaikan halhal yang berkaitan dengan perasaannya kepada orang lain. Misalnya
ia kecewa atau marah karena ada sikap seseorang yang kurang
berkenan, ia tidak mampu untuk menyampaikan hal itu kepada orang
yang bersangkutan karena tidak ingin menyinggung perasaan orang
tersebut. Ia menganggap dirinya kurang hangat terhadap orang lain
namun ia mudah tergugah secara emosional. Ketika ia bercerita
tentang perlakuan orangtua terhadap dirinya, kehidupan rumah
tangganya, matanya berkaca-kaca disertai dengan intonasi suara
yang bergetar. Hal itu juga terjadi ketika ia bercerita tentang masalah
yang muncul antara S dengan saudaranya terutama mereka yang
suka menyalahkan dirinya. S mengatakan bahwa ia ingin bisa terbuka
terhadap orang lain, tetapi ia sulit untuk melakukan hal itu

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 18

RAHASIA

dikarenakan ia jarang mendapatkan pengalaman dimana ia mampu


berkomunikasi dan melibatkan emosi dengan orang lain.
Berkaitan dengan dorongan yang dimiliki, S mengungkapkan
bahwa ia akan menerima apa adanya dan bila keinginannya tidak
terpenuhi maka iapun akan diam saja dan merenungi dirinya sendiri
sambil berkata dalam hari kenapa aku harus mengalami seperti ini.
4. Relasi Sosial dan Heteroseksual
S menganggap dirinya mudah untuk berinteraksi dengan orang
lain. Ia merasa bisa berteman dengan siapa saja seperti dengan
teman teman adiknya atau kakaknya RJ. Hanya saja ia selalu
menjaga jarak

dengan orang lain karena takut menyinggung

perasaan mereka. S mengatakan bahwa ia senang berbicara dengan


orang-orang yang memiliki pemahaman yang sama dengan dirinya
karena lebih mudah mengerti apa yang dibicarakan. Kalau tidak
sepaham dengan dirinya bahkan orang itu sering menceritakan
kejelekan orang lain, S tidak akan mau untuk berbicara lebih banyak
lagi dengan orang tersebut. S juga jarang untuk menceritakan
masalah pribadinya ke orang lain, ia cenderung memilih diam.
Pada waktu sekolah menengah pertama ia memiliki teman
dekat, s merasa bisa bercerita apapun padanya, mereka bisa saling
cerita karena temannya tersebut memiliki permasalahan keluarga
yang sama dengan dirinya. Mereka merasa sebagai anak yang tidak
diistimewakan oleh keluarganya dan kurang diberikan kasih sayang
sehingga menurut S mereka berperilaku sebagai anak yang nakal
seperti merokok dan terkadang minum alkohol, namun begitu mereka
minum tidak sampai mabuk hanya sekedar minum saja. Hal itu
dilakukan saat duduk dikelas 3 SMP dan keluarga mereka tidak ada
seorangpun yang mengetahuinya. Ia berhenti minum setelah duduk
dikelas 3 SMK. Hubungan dengan sahabatnya itu dilakukan sampai
sekarang dan mereka masih sering cerita tentang keadaan keluarga
masing masing.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 19

RAHASIA

Ia mulai berpacaran dengan suaminya tersebut sejak duduk


dikelas 3 SMP. Pacarnya pada saat itu suka membatasi dirinya untuk
berteman dengan yang lain. Bila pulang sekolah selalu ditemani.
Pada saat itu mereka berpacaran masih sembunyi sembunyi dari
orang tuanya. Karena suka dibatasi berteman oleh pacarnya tersebut
ia merasa pada saat itu ia kurang memiliki teman, apalagi pacarnya
seorang pencemburu.
VII.

KESIMPULAN SEMENTARA
S adalah perempuan berusia 31 tahun, anak ketiga dari lima

bersaudara yang memiliki pola kepribadian neglected yaitu dimana ia


kurang

mendapatkan

perhatian/afeksi

dari

kedua

orangtuanya

sehingga ia tumbuh menjadi orang yang kurang percaya diri.


Sewaktu masih kanak-kanak, S dibesarkan oleh orangtua yang
kurang

memberikan

afeksi

padanya.

Ayah

lebih

banyak

memperhatikan ibu dibandingkan dirinya dan saudara-saudaranya.


Begitu juga ibu, yang sangat cerewet dan sering memarahi S,
terutama dalam hal kegiatan sehari hari seperti membersihkan
rumah. Ibupun kurang memberikan perhatian dan kasih sayang
padanya.
Saat S memasuki masa remaja, S mulai tertarik dengan lawan
jenis dan mencoba untuk menjalin relasi yang lebih mendalam
(berpacaran). Pacaran ini dilakukan S untuk mendapatkan perhatian
dan tempat bergantung, sebagai pengganti dari perhatian orangtua
yang mulai berkurang kepadanya. Oleh pacarnya itu yang sekarang
menjadi suaminya. S banyak memperoleh apa yang diinginkannya
yang selama ini tidak didapat dari kedua orangtuanya. Seperti dalam
hal materi, pacarnya yang sudah bekerja dapat memenuhi kebutuhan
hidup dan sekolah S. Begitu juga dalam hal kasih sayang dan
perhatian.

Pacarnya

akan

slalu

berada

disampingnya,

mau

mengantar dan menjemputnya kesekolah.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 20

RAHASIA

Memasuki masa dewasa awal, S mulai menikah dengan pacarnya


selama ini. Namun apa yang didapat saat mereka berpacaran seperti
perhatian dan kasih sayang, sekarang didalam rumah tangga sudah
tidak ditemukannya lagi. Lama-kelamaan perhatian dan kasih sayang
dari suami mulai berkurang. Suami hanya memenuhi kebutuhan
materinya saja. Sehingga S beranggapan bahwa ia hanya sebagai
seorang pembantu dirumahnya. Pada saat mereka beberapakali
berselisih paham dimana S yang memiliki sifat yang keras dan tidak
mau mengalah maka ia akan memaksakan keinginannya pada suami.
Misalnya saja pada saat ingin membeli suatu barang. Mereka akan
berselisih-paham, sebab keinginan dirinya dan suaminya pasti
berbeda. Kalau sudah seperti itu biasanya terjadi pertengkaran. Dan
bila ia selalu disalahkan maka akan timbullah sakit dikepalanya. Saat
ini s diperlakukan oleh suaminya sebagai seorang wanita dewasa
yang tidak memperoleh perhatian dan kasih sayang, sehingga
kemungkinan ia datang kepsikolog untuk mencari atensi dan butuh
pengarahan tentang apa yang sebaiknya ia lakukan
Sebenarnya, S cukup peka dan relasi sosialnya juga cukup baik
dengan orang lain, S juga cukup terbuka dan bisa menyatakan
perasaannya pada orang lain namun penempatan dirinya dengan
orang lain itu yang kurang baik. Hal ini kemungkinan karena ibu dan
kakaknya sering menyalahkan S. Bila S sudah merasa terluka, maka
akan

menurunkan

menyebabkan

kemampuan
memilih

solusi

kognisinya.
dengan

Hal

cara

inilah

yang

melawan

dan

berargumen kepada mereka, namun bila sudah seperti itu maka sakit
kepalanya akan menyerang.
Proses yang dilakukan S dengan mendatangi beberapa dokter
untuk

memeriksakan

sakit

dikepala,

sebenarnya

hanya

untuk

mencari pengakuan dari orang profesional atas apa yang sedang


dialaminya sehingga nantinya ia memperoleh perhatian dari keluarga
bahwa saat ini ia sedang sakit.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 21

RAHASIA

VIII. RENCANA ALAT TES YANG DIGUNAKAN


1. GRAFIS DAN WZT
2.
WB
3. SSCT
4. RORSCHACH
IX. TINJAUAN TEORITIS
1. Somatoform
Pada tahun 1859 seorang dokter berkebangsaan Francis Pierre
Briquet menggambarkan suatu sindrom yang pada awalnya diberi
nama sesuai dengan namanya, sindrom Briquet, dan kini dalam DSMIV-TR disebut gangguan somatisasi.
Kata somatoform diambil dari bahasa Yunani yaitu soma yang
berarti tubuh. Dalam gangguan somatoform (somatoform disorder),
orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik,
namun tidak ada abnormalitas fisik yang dapat ditemukan sebagai
penyebab. Somatoform disorder adalah suatu kelompok gangguan
yang ditandai dengan keluhan tentang masalah atau simtom fisik
yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab gangguan

fisik secara

medis (misalnya nyeri, mual, dan pening/sakit kepala). Berbagai


simtom dan keluhan somatik tersebut serius, sehingga menyebabkan
stres

emosional

dan

gangguan

untuk

dapat

berfungsi

dalam

kehidupan sosial dan pekerjaan.


Keluhan somatik yang berulang dan banyak yang memerlukan
perhatian medis, namun tidak memiliki sebab fisik yang jelas
merupakan dasar gangguan ini. Untuk memenuhi kriteria diagnostik,
yang bersangkutan harus mengalami keempat hal di bawah ini:
1. empat simtom rasa sakit di bagian yang berbeda (seperti
kepala, punggung, sendi);
2. dua simtom gastrointestinal (seperti: diare, mual);
3. satu simtom seksual selain rasa sakit (seperti tidak berminat
pada hubungan seksual, disfungsi ereksi);

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 22

RAHASIA

4. satu simtom pseudoneurologis (seperti : seperti yang terjadi


dalam gangguan konversi).
Diagnosis gangguan somatoform ini diberikan apabila diketahui
bahwa faktor psikologis memegang peranan penting dalam memicu
dan mempengaruhi tingkat keparahan serta lamanya gangguan
dialami (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).

Simtom-simtom yang

ditunjukkan merupakan refleksi dari konflik psikologi dalam diri orang


yang mengalami gangguan somatoform. Misalnya beberapa orang
mengeluhkan masalah dalam bernafas, menelan, atau seperti ada
sesuatu yang menekan dalam tenggorokan. Masalah-masalah seperti
ini dapat merefleksikan aktivitas yang berlebihan dari cabang
simpatis

sistem

saraf

otonomik

yang

dihubungkan

dengan

kecemasan. Kadang kala, sejumlah simtom muncul dalam bentuk


yang lebih tidak biasa, seperti kelumpuhan pada tangan atau kaki
yang tidak konsisten dengan kerja sistem saraf.
Simtom-simtom tersebut, yang lebih pervasif dibanding keluhan
hipokondriasis, biasanya menyebabkan hendaya, terutama dalam
pekerjaan.

DSM-IV-TR

mencatat

bahwa

simtom-simtom

spesifik

gangguan ini dapat bervariasi antarbudaya. Sebagai contoh, tangan


terbakar atau seperti ada semut-semut yang berjalan di bawah kulit
sering terjadi di Asia dan Afrika dibanding di Amerika Utara. Terlebih
lagi, gangguan tersebut dinilai lebih sering terjadi pada budaya yang
tidak mendorong ekspresi emosi secara terbuka (Ford, 1995).
Gangguan somatisasi dan gangguan konversi memiliki banyak
persamaan simtom, dan keduanya dapat ditegakkan pada pasien
yang sama (a.l., Ford & Folks, 1985). Kunjungan ke dokter,
kadangkala ke banyak dokter pada waktu yang bersamaan, sering
kali dilakukan, juga penggunaan obat-obatan. Perawatan di rumah
sakit dan bahkan operasi menjadi hal umum (Guze, 1967). Masalah
menstruasi dan hambatan seksual sering terjadi (Swartz dkk., 1986).
Para pasien umumnya menyampaikan keluhan mereka secara

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 23

RAHASIA

histrionik

dan

berlebih-lebihan

atau

sebagai

bagian

riwayat

kesehatan yang panjang dan penuh komplikasi. Banyak yang


meyakini bahwa mereka telah mengalami sakit sepanjang hidup.
Komorbiditas tinggi dengan gangguan anxietas, gangguan mood,
penyalahgunaan zat, dan sejumlah gangguan kepribadian (Golding,
Smith, & Kashner, 1991; Kirmayer, Robbins, & Paris, 1994)
Prevalensi sepanjang hidup gangguan somatisasi diperkirakan kurang
dari

0.5

persen

perempuan,

dari

terutama

populasi
keturunan

AS;

lebih

Afrika

sering

Amerika

terjadi
dan

pada

Hispanik

(Escobar dkk., 1987), dan di kalangan pasien dalam perawatan


medis. Prevalensi lebih tinggi di beberapa negara Amerika Selatan
dan Puerto Rico (Tomasson, Kent, & Coryell, 1991).
Berbagai perbedaan budaya tersebut tidak dapat langsung
diinterpretasi begitu saja (Kirmayer & Young, 1998). Berdasarkan
perspektif Eropa Barat, contohnya, kadangkala muncul pendapat
bahwa perwujudan fisik masalah psikologis dalam satu atau lain hal
merupakan sesuatu yang primitif atau tidak canggih. Namun,
perbedaan dualistik antara fisik dan psikologis mencerminkan tradisi
medis yang tidak diterima secara universal (contohnya, dalam ilmu
pengobatan Cina). Jauh lebih beralasan untuk memandang budaya
seseorang sebagai sesuatu yang memberikan konsep mengenai
distress dan bagaimana cara mengomunikasikan distress itu.
Gangguan somatisasi umumnya bermula pada masa dewasa
awal (Cloninger dkk., 1986). Walaupun mungkin tidak sestabil seperti
yang disebutkan dalam DSM karena dalam satu studi mutakhir hanya
sepertiga dari pasien yang menderita gangguan somatisasi masih
memenuhi kriteria diagnostik ketika diukur kembali 12 bulan
kemudian (Simon & Gureje, 1999). Kecemasan dan depresi sering kali
dilaporkan, juga sejumlah masalah perilaku dan interpersonal, seperti
membolos kerja, catatan kerja yang jelek, dan masalah perkawinan.
Gangguan somatisasi tampaknya juga terjadi dalam keluarga;

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 24

RAHASIA

gangguan ini terjadi pada sekitar 20 persen kerabat tingkat pertama


kasus indeks, yaitu individu yang didiagnosis menderita gangguan
somatisasi (Guze, 1993).
Beberapa kriteria DSM-IV-TR untuk gangguan somatisasi :

Terdapat riwayat banyak keluhan fisik selama beberapa tahun


yaitu ada empat simtom : 1. rasa sakit dikepala; 2. gastrointestinal; 3. seksual, dan 4 pseudoneurologis

Simtom-simtom tidak disebabkan oleh kondisi medis atau


berlebihan bila ditilik kondisi medis yang mungkin dialami
orang yang bersangkutan

Etiologi Gangguan Somatoform


Sebagian besar teori mengenai gangguan somatoform hanya
diarahkan pada pemahaman histeria sebagaimana dikonseptualisasi
oleh Freud. Konsekuensinya, teori ini memfokuskan pada penjelasan
gangguan konversi. Pada akhir bagian ini, kami mengkaji pandangan
psikoanalisis mengenai gangguan konversi kemudian membahas
penjelasan para teoris, behavioral, kognitif, dan biologis. Pertama,
kami membahas secara singkat berbagai pemikiran tentang etiologi
gangguan somatisasi.
Etiologi Gangguan Somatisasi. Pendapat mengatakan bahwa
para pasien penderita gangguan somatisasi lebih sensitif terhadap
sensasi fisik, memberikan perhatian berlebihan terhadap sensasi
tersebut,

atau

menginterpretasinya

sebagai

sesuatu

yang

membahayakan (Kirmayer dkk., 1994; Rief dkk., 1998). Kemungkinan


lain adalah mereka memiliki sensasi fisik yang lebih kuat dibanding
orang lain (Rief & Auer, 2001). Sebuah pandangan perilaku mengenai
gangguan somatisasi menyatakan bahwa berbagai macam rasa sakit
dan nyeri, rasa tidak nyaman, dan disfungsi raerupakan manifestasi
kecemasan yang tidak realistis dalam sistem-sistem tubuh. Sejalan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 25

RAHASIA

dengan pemikiran bahwa terdapat faktor kecemasan yang tinggi,


pasien penderita gangguan somatisasi memiliki level kortisol tinggi,
suatu indikasi bahwa mereka berada di bawah tekanan (Rief dkk.,
1998). Mungkin ketegangan ekstrem yang dialami individu terpusat
pada otot-otot perut, mengakibatkan rasa mual atau muntah. Bila
keberfungsian normal terganggu, pola maladaptif akan menguat
karena menghasilkan perhatian dan alasan untuk menghindari
sesuatu.
Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, dimana
pasien

berpura-pura

mendapatkan

hasil

mengalami
yang

jelas

simtom
seperti

dengan

tujuan

menghindari

untuk

pekerjaan.

Gangguan tersebut juga berbeda dengan factitious disorder, yang


bentuk paling umumnya adalah munchausen syndrome. Munchausen
adalah suatu bentuk penyakit yang dibuat-buat dimana orang
tersebut berpura-pura sakit atau membuat dirinya sendiri sakit
seperti dengan cara memasukkan zat beracun. Sejumlah pasien
munchausen menjalani operasi bedah yang tidak perlu meski mereka
tahu tidak ada yang salah dengan diri mereka. Simtom pada
factitious

disorder,

tidak

terhubung

dengan

hasil

yang

jelas.

Gangguan ini memungkinkan adanya suatu kebutuhan psikologis.


Dengan menampilkan peran sakit dalam lingkungan rumah sakit
yang terlindungi memberikan suatu rasa aman yang kurang di dapat
pada masa kecil.
Somatoform
& Pain
Disorder
Mengalami
beberapa
gejala
sakit
fisik
yang
subyektif tanpa
sebab organis

Psychosomatic
Disorder

Malingering

Factitious
Disorder

Mengalami sakit
fisik yang nyata,
faktor psikologis
ikut ber-kontribusi
pada sakitnya

Sengaja
menipu
sakit
secara
fisik
untuk
menghindari
situasi
tidak

Sengaja
menipu
sakit
secara
fisik
untuk menarik
perhatian
secara medis

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 26

RAHASIA

(pengalaman
sakit termasuk
kedalam
pain
disorder)

menyenangkan
, seperti tugas
kemiliteran

Disini kita membahas beberapa tipe utama dari gangguan


somatoform seperti gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan
dismorfik tubuh, dan gangguan somatisasi.
A.

Klasifikasi
Terdapat beberapa tipe utama dari gangguan somatoform:

gangguan konversi, hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, dan


gangguan somatisasi. Dalam DSM IV-TR, yang termasuk dalam
Somatoform Disorder sebagai berikut :
300.81
300.82
300.11
300.xx
300.80
300.89

Somatization Disorder
Undifferentiated Somatoform Disorder
Conversion Disorder
Pain Disorder
Associated With Psychological Factors
Associated With Both Psychological Factors and a
General Mediacal Condition
300.7 Hypochondriasis
300.7 Body Dismorphic Disorder
300.82 Somatoform Disorder NOS
Namun disini hanya akan membahas beberapa tipe utama
dari

gangguan

somatoform,

yaitu

gangguan

konversi,

hipokondriasis, gangguan dismorfik tubuh, gangguan somatisasi


dan gangguan nyeri.
1. Gangguan Konversi
a.

Definisi
Gangguan konversi dicirikan oleh suatu perubahan besar

dalam fungsi fisik atau hilangnya fungsi fisik, meski tidak ada
temuan medis yang dapat ditemukan sebagai penyebab
simtom

atau

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

kemunduran

fisik

tersebut.

Simtom-simtom

Page 27

RAHASIA

tersebut tidaklah dibuat secara sengaja. Orang tersebut tidak


melakukan malingering. Simtom fisik itu biasanya timbul tibatiba dalam situasi yang penuh tekanan.
Gangguan konversi dinamakan demikian karena adanya
keyakinan

psikodinamika

bahwa

gangguan

tersebut

mencerminkan penyaluran, atau konversi, dari energi seksual


atau agresif yang direpresikan ke simtom fisik. Gangguan
konversi sebelumnya disebut neurosis histerikal atau histeria.
Menurut DSM,

simtom konversi

menyerupai kondisi

neurologis atau medis umum yang melibatkan masalah dengan


fungsi motorik (gerakan) yang volunter atau fungsi sensoris.
Beberapa pola simtom yang klasik melibatkan kelumpuhan,
epilepsi, masalah dalam koordinasi, kebutaan dan tunnel vision
(hanya bisa melihat apa yang berada tepat di depan mata),
kehilangan

indera

pendengaran

dan

penciuman,

atau

kehilangan rasa pada anggota badan (anestesi). Simtomsimtom tubuh yang ditemukan dalam gangguan konversi
seringkali tidak sesuai dengan kondisi medis yang mengacu.
Misalnya, orang yang menjadi tidak mampu berdiri atau
berjalan dilain pihak dapat melakukan gerakan kaki lainnya
secara normal.
Beberapa orang dengan gangguan konversi menunjukkan
ketidakpedulian yang mengejutan terhadap simtom-simtom
yang muncul, suatu fenomena yang diistilahkan sebagai la
belle indifference (ketidakpedulian yang indah).
b. Treatment
Pemberian treatmen dengan menggunakan pendekatan
psikoanalisa untuk pasien konversi adalah berfokus pada
pengekspresian emosi dan ingatan yang menyakitkan dan
insight bahwa gangguan berkaitan dengan simtom konversi
(Gavin, 1995). Gangguan konversi yang kronis lebih sulit untuk

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 28

RAHASIA

ditangani. Ketika simtom muncul lebih dari satu bulan, riwayat


pasien sering mirip gangguan somatisasi dan diperlakukan
seperti itu.
Sementara

treatmen

dengan

pendekatan

behavioral

berfokus pada mengurangi kecemasan pasien yang berasal dari


trauma yang menyebabkan simtom konversi. Terapi behavioral
bisa dilakukan dengan metode systematic desensitization dan
vivo exposure therapy.
2. Hipokondriasis
a. Definisi
Ciri
ketakutan

utama

dari

bahwa

merupakan

hipokondriasis

simtom

fisik

dari

suatu

akibat

adalah

yang

fokus

dialami

penyakit

atau

seseorang

serius

yang

mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung. Rasa sakit


tetap ada meskipun telah diyakinkan secara medis bahwa
ketakutan itu tidak mendasar.
Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpurapura akan simtom fisiknya. Mereka umumnya mengalami
ketidaknyamanan

fisik,

sering

kali

melibatkan

sistem

pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri. Orang


yang mengembangkan hipokondriasis sangat peduli, bahkan
benar-benar terlalu peduli, terhadap simtom dan hal-hal yang
mungkin mewakili apa yang ia takutkan. Orang dengan
hipokondriasis menjadi sangat sensitif terhadap perubahan
ringan dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam
detak jantung dan sedikit rasa sakit serta nyeri (Barsky dkk.,
2001).

Padahal

menimbulkan

kecemasan

sensasi

fisik

akan

simtom

tersendiri,

fisik

misalnya

dapat
keringat

berlebihan dan pusing, bahkan pingsan. Dengan demikian,


sebuah lingkaran setan (vicious cycle) akan muncul. Orang
dengan hipokondriasis dapat menjadi marah saat dokter
Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 29

RAHASIA

mengatakan

betapa

ketakutan

mereka

sendirilah

yang

menyebabkan simtom-simtom fisik tersebut. Mereka sering


belanja dokter dengan harapan bahwa seorang dokter yang
kompeten dan simpatik akan memperhatikan mereka sebelum
terlambat.
b. Treatment
Untuk penanganan pasien dengan hipokondria dengan
pendekatan psikoanalisa. Pasien diajak untuk mengidentifikasi
perasaan dan pikiran dibalik simtom yang muncul dan mencari
cara melakukan coping yang adaptif.
Selain itu, penanganan hipokondria dengan pendekatan
kognitif, pasien dibantu untuk belajar menginterpretasikan
simtom-simtom fisik dan menghindari bencana simtom fisik.
3. Gangguan Dismorfik Tubuh
a. Definisi
Definisi

gangguan

ini

adalah

preokupasi

dengan

kecacatan tubuh yang tidak nyata, misalnya seseorang yang


merasa

hidungnya

kurang

mancung,

atau

keluhan

yang

berlebihan tentang kekurangan tubuh yang minimal atau kecil


(Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994). Orang dengan gangguan
dismorfik tubuh terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan
atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka (APA,
2004).

Beberapa

pasien

cenderung

menghabiskan

waktu

berjam-jam untuk mengamati kekurangan mereka di cermin.


Bahkan

agar

tidak

menyembunyikan

mengingatnya,

cermin

atau

terkadang

menggunakan

mereka

kamuflase,

misalnya dengan menggunakan pakaian yang sangat longgar


atau tindakan paling ekstrim menjalani operasi plasti yang
tidak dibutuhkan.
Orang dengan Body Dysmorphic Disorder percaya bahwa
orang lain memandang diri mereka jelek atau berubah bentuk
Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 30

RAHASIA

menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka yang tidak


menarik mendorong orang lain untuk berpikir negatif tentang
karakter atau harga diri mereka sebagai manusia (Rosen,
1996). Mereka sering menunjukkan pola berdandan atau
mencuci atau menata rambut secara kompulsif dalam rangka
mengoreksi kerusakan yang dipersepsikan.
Pada gangguan ini faktor subyektif berperan penting.
Gangguan ini lebih banyak berpengaruh pada perempuan
dibanding laki-laki, dan onset biasanya muncul sekitar usia 1520 tahun (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994).
b.Treatment
Terapi psikoanalisa berfokus pada tujuan insight sebagai
kekhawatiran

yang

direpres

mengarah

pada

simtom.

Sementara terapi behavioral berfokus pada menghadapkan


pasien pada situasi yang ditakuti pasien tentang kekhawatiran
tentang tubuh mereka, menghilangkan kekhawatiran mereka
tentang bagian tubuh mereka dan mencegah respon yang
kompulsif

terhadap

bagian

tubuh

tertentu.

Meningkatkan

seretonin dalam otak bisa menghilangkan obsesi-kompulsif


pada bagian tubuh.
4. Gangguan Somatisasi
a. Definisi
Gangguan

somatisasi

adalah

gangguan

dengan

karakteristik sebagai keluhan atau gejala somatik yang tidak


dapat dijelaskan secara adekuat dengan menggunakan hasil
pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Perbedaan antara
gangguan somatisasi dengan gangguan somatoform lainnya
adalah banyaknya keluhan dan banyaknya sistem tubuh yang
terpengaruh. Gangguan ini sifatnya kronis muncul selama
beberapa tahun dan terjadi sebelum usia 30 tahun, dan
berhubungan dengan stres psikologis yang signifikan, hendaya
Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 31

RAHASIA

dalam kehidupan sosial dan pekerjaan, serta perilaku mencari


pertolongan medis yang berlebihan (Kaplan, Sandock, & Grebb,
1994). Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup
sistem-sistem organ yang berbeda (Spitzer, dkk, 1989). Jarang
dalam setahun berlalu tanpa munculnya beberapa keluhan fisik
yang mengawali kenjungan ke dokter. Orang dengan gangguan
somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan
pelayanan medis (G.R. Smith, 1994).
Gangguan somatisasi biasanya bermula pada masa
remaja

atau

gangguan

dewasa

yang

muda

kronis

atau

dan

tampaknya

bahkan

yang

merupakan
berlangsung

sepanjang hidup (Kirmayer, Robbins & Paris, 1994; Smith,


1994). Gangguan ini biasanya muncul dalam konteks gangguan
psikologis lain, terutama gangguan kecemasan dan gangguan
depresi (Swartz dkk, 1991). Meskipun tidak banyak diketahui
tentang latar belakang masa kecil dari orang dengan gangguan
somatisasi, suatu penelitian melaporkan bahwa wanita dengan
gangguan ini lebih mungkin untuk melaporkan penganiayaan
seksual di masa kecil daripada kelompok wanita pembanding
yang mengalami gangguan mood (Morrison, 1989). Orang
dengan gangguan somatisasi terganggu dengan simtomnya
sendiri. Namun gangguan ini tetap controversial. Banyak
pasien, terutama pasien wanita, salah didiagnosis dengan
gangguan psikologis, termasuk gangguan somatisasi, karena
kegagalan dari kedokteran modern untuk mengidentifikasi
dasar medis dari keluhan fisik mereka (Klonoff & Landrine,
1997).
b. Treatment
Penanganan

gangguan

somatisasi

sama

dengan

penanganan pada hipokondria. Pada penanganan treatment


dengan

pendekatan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

psikoanalisa,

pasien

diajak

untuk

Page 32

RAHASIA

mengidentifikasi perasaan dan pikiran dibalik simtom yang


muncul dan mencari cara melakukan coping yang adaptif.
Selain itu, pendekatan kognitif pasien dengan gangguan
somatisasi ditangani dengan cara membantu pasien belajar
menginterpretasikan simtom-simtom fisik dan menghindari
bencana simtom fisik.
5. Gangguan Nyeri
a.

Definisi
Pada gangguan ini individu mengalami gejala sakit atau

nyeri pada satu tempat atau lebih, yang tidak dapat dijelaskan
dengan pemeriksaan medis (non-psikiatris) maupun neurologis.
Simtom ini menimbulkan stres emosional atau gangguan
fungsional. Gangguan ini dianggap memiliki hubungan sebab
akibat dengan faktor psikologis.
Keluhan yang dirasakan pasien berfluktuatif intensitasnya
dan sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi, kognitif, atensi
dan situasi (Kaplan, Sandock, & Grebb, 1994). Dengan kata
lain, faktor psikologis mempengaruhi kemunculan, bertahannya
dan tingkat keparahan gangguan (Davidson & Neale, 2001).
Prevalensi gangguan nyeri pada perempuan dua kali lebih
banyak dibandingkan laki-laki, dan puncak onsetnya terjadi
sekitar usia 40-50 tahun, mungkin karena pada usia tersebut
toleransi

terhadap

rasa

sakit

sudah

berkurang

(Kaplan,

Sandock, & Grebb, 1994).


b. Treatment
Treatment

untuk

gangguan

nyeri

sama

dengan

penanganan pada pasien dengan gangguan somatisasi. Melalui


pendekatan psikoanalisa, pasien diajak untuk mengidentifikasi
perasaan dan pikiran dibalik simtom yang muncul dan mencari
cara melakukan coping yang adaptif.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 33

RAHASIA

Pada pendekatan kognitif, pasien dengan gangguan nyeri


ditangani

dengan

cara

membantu

pasien

belajar

menginterpretasikan simtom-simtom fisik dan menghindari


bencana simtom fisik.

Somatoform
Somatoform Disorder memiliki karakteristik gejala fisik atau
keluhan yang muncul karena sebab psikologis
Disorder
Kunci Gejala
Conversion Disorder Kehilangan fungsi pada bagian tubuh dengan
alas an psikologis daripada alasan fisik.
Somatization
Riwayat keluhan tentang gejala fisik,
Disorder
mempengaruhi beberapa area tubuh yang
berbeda agar mendapat perhatian secara
medis namun tidak memiliki sebab fisik
Pain Disorder
Riwayat keluhan tentang nyeri untuk
mendapat perhatian secara medis tetapi
tidak ada penyebab fisik
Hypochondriasis
Kekhawatiran kronis tentang suatu penyakit
fisik namun tidak ada bukti satupun, secara
berulang mencari perhatian medis.
Body
Dysmorphic Senang berlebihan dengan satu bagian
Disorder
tubuh yang diyakininya sangat kurang/tidak
sempurna
B.Dinamika Gangguan
Gangguan

konversi

atau

histeria

diperkenalkan

oleh

Hippocrates, yang mengatribusikan simtom tubuh yang aneh pada


berjalan-jalannya rahim yang menimbulkan kekacauan internal.
Istilah hysterical (histerikal) diambil dari bahasa Yunani hystera
yang berarti rahim. Hippocrates menemukan bahwa keluhan ini
lebih jarang terjadi pada wanita yang menikah daripada yang tidak
menikah.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 34

RAHASIA

Teori modern yang membahas gangguan somatoform hampir


selalu berasal dari teori psikoanalisa dan teori belajar. Meski tidak
banyak yang diketahui mengenai dasar biologis dari gangguan
somatoform, bukti mengindikasikan bahwa gangguan somatisasi
cenderung diwariskan dalam keluarga terutama antara anggota
keluarga yang perempuan (Guze, 1993). Hubungan genetis ini
masih berupa dugaan, meski kita tidak dapat mengesampingkan
kemungkinan

bahwa

pengaruh

keluarga

berperan

dalam

menjelaskan hubungan kekeluargaan ini.


C. 1.

Teori Psikodinamika
Gangguan histerikal merupakan arena debat antara teori

psikologi dan biologi di abad ke-19. Pengurangan --meskipun sering


hanya sementara dari simtom-simtom histerikal melalui hipnosis
oleh Charcot, Breuer, dan Freud memberikan kontribusi pada
keyakinan bahwa penyebab histeria bersifat psikologis dan bukan
fisik dan mendorong Freud untuk mengembangkan teori pikiran
yang tidak disadari. Freud meyakini bahwa ego berfungsi untuk
mengontrol impuls seksual dan agresif yang mengancam atau
tidak dapat diterima yang timbul dari id melalui mekanisme
pertahanan diri seperti represi.
Menurut teori psikodinamika, simtom histerikal memiliki
fungsi : memberikan orang tersebut keuntungan primer dan
sekunder. Keuntungan primer (primary gains) yang didapat adalah
memungkinkan individu untuk mempertahankan konflik internal
direpresi. Orang tersebut sadar akan simtom fisik yang muncul
namun bukan konflik yang diwakilinya. Dalam kasus-kasus seperti
itu, simtom merupakan simbol dari, dan memberikan orang
tersebut pemecahan sebagian untuk, konflik yang mendasarinya.
Misalnya,

kelumpuhan histerikal dari sebuah lengan dapat

menyimbolkan

dan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

juga

mencegah

individu

untuk

Page 35

RAHASIA

mengekspresikan impuls seksual (contoh, masturbasi) atau agresif


(contoh, membunuh) yang tidak dapat diterima dan telah direpresi.
Represi timbul secara otomatis, sehingga individu tetap tidak sadar
akan konflik yang mendasarinya. Dari pandangan psikodinamika,
gangguan konvers memiliki suatu tujuan.
Keuntungan

sekunder

(secondary

gains)

dapat

memungkinkan individu untuk menghindari tanggung jawab yang


membebani dan untuk mendapatkan dukungan dan bukan celaan
dari orang-orang di sekitar mereka. Misalnya, tentara terkadang
mengalami kelumpuhan yang tiba-tiba pada tangan mereka,
yang mencegah mereka untuk menembakkan senapannya dalam
pertempuran. Mereka kemudian dapat dikirim untuk dirawat di
rumah sakit dan bukan menghadapi tembakan musuh.

C. 2.

Teori Belajar
Teori Psikodinamika dan teori belajar sepakat bahwa simtom-

simtom dalam gangguan konversi dapat mengatasi kecemasan.


Teoretikus psikodinamika mencari penyebab kecemasan dalam
konflik-konflik yang tidak disadari. Sedangkan teoretikus belajar
berfokus pada hal-hal yang secara langsung menguatkan simtom
dan peran sekundernya dalam membantu individu menghindari
atau melarikan diri dari situasi tidak nyaman atau situasi yang
membangkitkan kecemasan.
Dalam pandangan teori belajar, simtom dari gangguan
konversi

dan

gangguan

somatoform

lain

juga

membawa

keuntungan, atau hal-hal yang me-reinforcing, pada peran sakit.


Orang dengan gangguan konversi dapat terbebaskan dari tugas
atau tanggung jawab seperti pergi kerja atau melakukan tugas
rumah

tangga

(Miller,

1987).

Menjadi

sakit

biasanya

juga

menimbulkan simpati dan dukungan. Orang yang menerima

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 36

RAHASIA

penguatan semacam ini saat sakit di masa lalu cenderung belajar


untuk mengadopsi peran sakit bahkan saat ia sedang tidak sakit
(Kendell, 1983).
Perbedaan dalam pengalaman belajar dapat menjelaskan
mengapa

secara

historis,

gangguan

konversi

lebih

sering

dilaporkan oleh wanita daripada pria. Hal ini mungkin karena


wanita dalam budaya Barat lebih cenderung untuk disosialisasikan
cara

mengatasi

stres

melalui

menampilkan

peran

sakit

dibandingkan kaum pria (Miller, 1987).


Sejumlah teoretikus belajar menghubungkan hipokondriasis
dan

gangguan

dismorfik

tubuh

dengan

gangguan

obsesif

kompulsif. Pada hipokondriasis, orang terganggu oleh pikiranpikiran yang obsesif dan menimbulkan kecemasan mengenai
kesehatan mereka. Pergi dari satu dokter ke dokter lain dapat
merupakan suatu dari perilaku kompulasif yang diperkuat oleh
hilangnya kecemasan yang dialami secara temporer saat mereka
diyakinkan kembali oleh dokternya bahwa ketakutan mereka tidak
terbukti.

Namun

pikiran-pikiran

yang

mengganggu

kembali

muncul, mendorong mereka melakukan konsultasi yang berulang.


Lingkaran tersebut kemudian berulang. Seperti itu juga, dengan
gangguan dismorfik tubuh, berdandan dan memotong yang terusmenerus dalam usaha untuk memperbaiki kekurangan fisik yang
dipersepsikan dapat memberikan kebebasan secara parsial dari
kecemasan, namun perbaikan yang dilakukan tidak pernah cukup
baik untuk menghilangkan kekhawatirkan yang mendasari secara
sepenuhnya. Satu kemungkinan adalah bahwa hipokondriasis dan
gangguan dismorfik tubuh berada pada spektrum gangguan tipe
OCD.
C. 3 Teori Kognitif
Teoretikus kognitif telah berspekulatif bahwa beberapa kasus
hipokondriasis dapat mewakili sebuah tipe dari strategi self-

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 37

RAHASIA

handicapping, suatu cara menyalahkan kinerja yang rendah pada


kesehatan yang buruk (Smith, Snyder, & Perkins, 1983). Pada
kasus-kasus lain, mengalihkan perhatian pada keluhan fisik dapat
menjadi suatu cara untuk menghidari berpikir tentang masalah
kehidupan yang lain.
Penjelasan kognitif lain berfokus pada peran dari pikiran yang
terdistorsi.

Orang

yang

menderita

hipokodriasis

memiliki

kecenderungan untuk membuat gunung dari kerikil dengan cara


membesar-besarkan signifikansi dari keluhan fisik yang minor
(Barsky dkk., 2001). Mereka salah menginterpretasikan simtomsimtom ringan yang muncul sebagai tanda dari sakit yang serius,
yang menimbulkan kecemasan yang membawa mereka dari
kunjungan satu dokter ke kunjungan dokter lain dalam usaha untuk
menemukan penyakit mengancam yang takutnya mereka miliki.
Kecemasan itu sendiri dapat menghasilkan simtom fisik yang tidak
menyenangkan, yang nantinya justru semakin dianggap penting,
menyebabkan kognisi yang semakin mengkhawatirkan.
Teoretikus kognitif berspekulasi bahwa hipokondriasis dan
gangguan panik, yang sering kali terjadi secara bersamaan, dapat
memiliki penyebab yang sama: cara berpikir yang terdistorsi yang
membuat orang tersebut salah mengartikan perubahan kecil dalam
sensasi tubuh sebagai tanda dari bencana yang akan terjadi
(Salkovskis & Clark, 1993). Perbedaan antara kedua gangguan itu
terletak pada apakah interpretasi yang salah dari tanda-tanda
tubuh membawa sebuah persepsi tentang ancaman yang akan
segera terwujud dan lalu menyebabkan terjadinya kecemasan
yang berputar cepat (gangguan panik) ataukah tentang ancaman
dengan kisaran yang lebih panjang dalam bentuk proses penyakit
yang mendasarinya (hipokondriasis). Penelitian mengenai proses
kognitif yang muncul dalam hipokondriasis membutuhkan studi
lebih lanjut. Meski ada hubungan yang mungkin terjadi antara

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 38

RAHASIA

hipokondriasis dan gangguan kecemasan seperti gangguan panik


dan

OCD,

tetap

diklasifikasikan

tidak

sebagai

jelas
suatu

apakah

hipokondriasis

gangguan

harus

somatoform

atau

gangguan kecemasan (Barsky dkk., 1992).


Kriteria gangguan somatoform dalam PPDGJ III (Maslim,
2001)
Menurut PPDGJ III, ciri utama gangguan ini adalah adanya
keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang-ulang disertai dengan
permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah beberapa kali
terbukti hasilnya negatif dan sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa
tidak ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya.
Gangguan somatoform yang diderita oleh S adalah jenis
Gangguan Hipokindrik F45.2 yang diagnostiknya adalah, harus
memiliki dua diagnostik yang harus ada yaitu :
Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya

satu

penyakit fisik yang serius yang melandasi keluhan-keluhannya,


meskipun pemeriksaan yang berulang-ulang tidak menunjang
adanya alasan fisik yang memadai, ataupun adanya preokupasi
yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan bentuk
penampakan fisiknya (tidak sampai waham)
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari
beberapa

dokter

bahwa

tidak

ditemukan

penyakit

atau

abnormalitas fisik yang melandasi keluhan-keluhannya

2. GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK


Sebuah pola yang menetap dari emosionalitas dan pencarian
perhatian yang berlebihan, dimulai dari awal masa dewasa dan
timbul dalam konteks yang bervariasi, seperti yang diindikasikan oleh
lima (atau lebih) dari hal-hal berikut ini:

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 39

RAHASIA

1. tidak nyaman dalam situasi dimana ia tidak menjadi pusat


perhatian.
2. interaksi dengan orang lain sering dikarakterisasikan oleh
tingkah laku provokatif atau menggoda secara seksual yang
tidak selayaknya.
3. menampilkan ekspresi emosi yang dangkal dan cepat berubahubah.
4. secara konsisten menggunakan penampilan fisik untuk menarik
perhatian pada dirinya.
5. memiliki gaya bicara yang sangat mengagumkan dengan
berlebihan dan kurang dalam detil.
6. menunjukkan

dramatisasi

diri

(self-dramatization),

ekspresi

emosi yang teatrikal dan berlebihan.


7. mudah dipengaruhi, contohnya, gampang dipengaruhi oleh
orang lain/situasi.
8. menganggap

suatu

hubungan

lebih

intim

daripada

yang

sebenarnya.
Etiologi Gangguan Kepribadian Histrionik
Millon dkk.
dialami

(2004)

menyebutkan

dinamika etiologi yang

oieh seseorang sehingga ia memiliki gangguan kepribadian

histrionik:
1. Genetik
2.

Jenis kelamin wanita, pria identik dengan antisocial


personality disorders.

3. Trauma masa kanak-kanak, dibentuk melalui relasi antara jenis


kelamin orang tua yang berlawanan, pengalaman masa kanakkanak

dan

konsekuensi

perkembangan

terhadap

perkembangan psikoseksual dan pembentukan karakter yang


ada sekarang.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 40

RAHASIA

4. Rendahnya fungsi mental yang berada pada tahap oral, dari


tingginya fungsi mental pada tahap perkembangan oedipal,
dimana pertumbuhan rasa keinginan seksual merupakan suatu
ketidaksadaran terhadap orang tua yang berlawanan jenis.
5. Bermasalah pada objek relasi.
6. Tidak terbentuknya super ego yang kuat.
7. Terkadang perilaku yang sama diberi hadiah, terkadang pula
tidak (tidak konsisten sehingga anak mendapatkan pengalaman
frustrasi guna mendapatkan perhatian orang tua mereka dan
melebih-lebihkan perilaku untuk memperoleh perlindungan,
pujian, afeksi).
8. Hambatan dalam perkembangan identitas.
9. Kognisi dan sistem defence mechanism digabungkan untuk
melindungi diri.
10.Menolak

situasi

yang

seharusnya

dapat

memberikan

pengetahuan bagi dirinya sehingga membatasi kesempatan


mereka untuk menghadapi tantangan intelektualitas.
11. Adanya modelling dari anggota keluarga
DARI NORMALITAS KE ABNORMALITAS
Kepribadian histrionik
1990)

jenis

dramatis

(Oldham

&

Morris,

menekan perasaan, warna, dan perhatian. Individu seperti ini

memproses dunianya secara efektif,

menghargai efek dari emosi,

dan menunjukkan emosi mereka dengan mudah dan terbuka. Mereka


mengalami hidup melalui sensasi dan romansa, dengan sengaja
membuat mereka menarik secara fisik, secara sadar berpakaian
dengan memikirkan lawan jenis dan menjadi menarik, menawan,
atau bahkan menggoda. Banyak yang sangat intuitif dengan cepat
merasakan apa yang harus dibicarakan dan bagaimana orang lain
ingin diperlakukan. Sebagian besar mempercayai orang lain dengan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 41

RAHASIA

mudah dan siap sedia ur melibatkan diri mereka dalam suatu


hubungan.
Jenis ramah (ougtoing) (Millon et al., 1994) lebih berfokus pada
keramahan daripada "tampil". Memiliki kepercayaan diri yang besar
dalam hal pengaruh dan daya tariknya, individu jenis ini pergi keluar
untuk menjadi populer dan secara alamiah tahu bagaimana membuat
orang lain menyukainya. Biasanya mereka digambarkan sebagai
individu yang hangat, hidup, dramatis, bersemangat, atau provokatif.
Sebagian besar melihat diri mereka sendiri sebagai individu yang
ceria dan optimis. Kegembiraan mereka dalam hidup menular,
menggugah orang lain untuk sama gembiranya. Banyak yang
bertindak dan berpikir seperti remaja, bahkan pada usia yang lebih
tua.

Sebagian

menemukan

besar

terbuka

kesenangan

pada

yang

luar

kemungkinan
biasa

ketika

baru

dan

menemui

pengalaman baru.
Sperry (1995) menyatakan bahwa Individu dengan gangguan
kepribadian histrionik biasanya menjadi marah, tertekan, atau iri
ketika tidak menjadi pusat perhatian, sementara individu dengan
jenis ramah menikmati pujian dan sanjungan tanpa bergantung pada
tersebut. la juga menikmati menghibur orang lain, tapi bisa
menyerahkan panggung menjadi bagian dari penonton. Secara
interpersonal, individu histrionik bergantung pada selimut pesona
seksual. Hal ini berbeda dengan jenis ramah, yang mempesona,
menarik, dan halus dengan lebih pantas. Secara emosional individu
histrionik sering berubah-ubah dengan mood mereka yang dengan
cepat berganti. Di sisi lain, jenis ramah memiliki kendali emosi yang
lebih tepat. Daya tarik fisik melalui gaya dandan, pakaian, dan
aksesoris karya desainer merupakan hal yang paling penting bagi
histrionik.

Jenis

ramah

juga

memiliki

ketertarikan

seperti

itu

meskipun mereka tidak sampai pada gangguan obsesif.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 42

RAHASIA

Individu dengan gangguan secara kognitif global, tercampurbaur, dan impressionistic (memberikan ide umum daripada fakta
spesifik atau informasi detil), sementara jenis normal lebih konstruktif
dalam

penilaian

detil

dan

memenuhi

syarat,

karena

keaslian

emosinya (Kernberg, 1992). Berkebalikan dengan individu terganggu,


yang secara terus menerus terlibat dalam ekspresi teatrikal dan
dramatis, jenis normal tidak terlalu berlebihan tanpa keinginan untuk
mengambil

peran utama. Sementara

individu

yang terganggu

dengan mudah tergoyahkan oleh pengaruh orang lain, jenis normal


mampu membuat keputusannya sendiri, bahkan dengan resiko
kehilangan perhatian dan persetujuan. Terakhir, individu dengan
gangguan menganggap hubungan lebih akrab atau intim daripada
yang sebenarnya, sementara jenis normal tertambat pada diri yang
lebih

utuh,

sehingga

memberikan

kesempatan

bagi

rasa

keberlangsungan yang lebih besar dan pencerahan diri yang lebih ke


dalam sifat dari hubungan personal.
VARIASI DARI KEPRIBADIAN HISTRIONIK
Theatrical Histrionic
Sangat dramatis, romantis, dan mencari perhatian, theatrical
histrionic merupakan ringkasan dari pola histrionik dasar. Dijelaskan
oleh "orientasi pemasaran" Fromm, individu seperti ini pada dasarnya
hidup sebagai komoditi, memasarkan dirinya sebagai bunglon pada
tuntutan sosial, dan mengubah karakteristik yang ditampilkannva
agar sesuai dengan penonton dan keadaan. Bagi mereka, tidak ada
yang intrinsik. Sebaliknya, diri berada di bawah persyaratan ekonomi
sosial -diubah, disintesis, dibuat, dan dikemas untuk mengoptimalkan
daya tarik mereka dalam segmen pasar yang diberikan. Gaya tidak
hanya

dihargai

melebihi

barang

tapi

juga

dihargai

sebagai

pengecualian dari barang. Sebagai hasilnya, histrionik teatrikal ada


sebagian besar tanpa kedalaman, karena dengan memiliki identitas

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 43

RAHASIA

dalam diri akan membatasi manuver potensial. Malah, membaca


motif orang lain dan merefleksikannya kembali pada dirinya apa yang
menarik, menyenangkan, dan menggoda merupakan usaha mereka
yang paling penting.
Infantile Histrionic .
Infantile histrionic (histrionik yang kekanak-kanakan), serupa dengan
kepribadian infantil dari
campuran antara
yang

Kernberg

kepribadian

(1967),

masalah

sebuah

histrionik dan borderline. Seperti

dinyatakan sebelumnya, banyak

memiliki

mewakili

ketergantungan

individu

histrionik

yang

kuat.

yang

Dengan

menseksualisasi hubungan secara prematur dan menarik orang lain


yang kuat ke dalam orbit mereka, individu histrionik mengalami
pemanjaan yang lebih banyak dan frustasi yang lebih sedikit. Oleh
karena itu, mereka tidak butuh untuk mengembangkan rasa identitas
yang utuh yang bentuknya dimulai dengan apa yang disebut oleh
analis sebagai prinsip kenyataan, kesadaran bahwa hidup secara
intrinsik sangat membuat frustasi sehingga beberapa piranti fisik
umum, yaitu ego, akan dibutuhkan untuk menghadapinya. Dengan
demikian, kehidupan individu histrionik terus menerus didominasi
oleh kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian, pencarian sensasi
yang terus menerus, dan regresi primitif ke dalam fantasi, yang
kesemuanya sesuai dengan prinsip kesenangan.
Pada histrionik infantil yang terorganisasi secara lebih primitif,
ekspresi
kurangnya

dari karakteristik tersebut bahkan lebih parah.


pembentukan

identitas

keterikatan

mereka

Karena
pada

significant other sangatlah bergantung dan menuntut. Sebagian


besar secara konstan mencari jaminan untuk mempertahankan
stabilitasnya dan bimbang antara terlalu menurut dengan depresi
yang mendalam ketika persetujuan tidak datang. Tanpa kesadaran
akan diri untuk menahan atau mengatur dorongan mereka yang
paling dasar, emosi mereka berubah dengan cepat, gampang, dan

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 44

RAHASIA

tidak bisa diprediksi, berubah drastis dari sangat cinta ke sangat


marah ke sangat bersalah, semuanya mungkin diekspresikan secara
simultan. Pada situasi yang lebih menyenangkan, mereka mungkin
bertingkah laku menyenangkan atau menawan yang kekanakkanakan tapi menjadi pemurung atau cemberut di saat berikutnya.
Banyak yang mengeluh bahwa mereka entah tidak dicintai atau
diperlakukan dengan tidak adil, sikap yang dengan cepat meningkat
menjadi tantrum ketika siapapun tidak setuju dengan mereka.
Vivacious Histrionic
Vivacious histrionic (histrionik yang riang) mensintesis daya pikat
histrionik

dengan

tingkat

energi

tipe

hipomania.

Hasilnya

memancarkan daya tarik, pesona, kejenakaan, semangat tinggi, dan


intensitas. Lebih dari sekedar ramah dan penuh semangat, vivacious
histrionic secara interpersonal periang, optimistis, spontan, dan
secara

impulsif

berekspresi,

serta

tanpa

pertimbangan

akan

konsekuensinya di masa depan. Didorong oleh suatu kebutuhan


untuk merasakan kegembiraan dan ketergugahan, banyak yang
dengan mudah tergila-gila mengikatkan diri mereka pada seseorang
dan kemudian berpindah pada orang lain dalam rangkaian yang
singkat. Secara tingkah laku, pergerakan mereka cepat dan hidup.
Mendatang dan pergi dengan menarik perhatian. Meskipun mereka
hanyalah pemikir yang superfisial, ide-ide mereka sering kali
mengalir dengan sangat cepat dan mudah sehingga orang lain
menjadi terpengaruh oleh kegembiraan mereka. Mereka yang lebih
normal berkeliling, menyelesaikan masalah, memulai proyek, dan
membujuk

orang

lain

untuk

bergabung

dengan

energi

dan

keramahan seperti yang dimiliki oleh penjual alamiah. Namun


sebagian

yang

lain

mengejar

keinginan

sementara

tanpa

menyelesaikan apapun, meninggalkan janji yang tidak ditepati,


dompet yang kosong, dan rekan yang kecewa. Tidak mengherankan,
banyak vivacious histrionic yang juga memiliki sifat narsistik.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 45

RAHASIA

Appeasing Histrionic
Subtipe

appeasing

(memuaskan)

mengkombinasikan

ciri

histrionik, dependen, dan kompulsif. Persetujuan merupakan misi


utama mereka dalam hidup: Kau harus menyukai mereka; kau harus
menjadi teman mereka. Untuk mencapai tujuan ini, mereka secara
terus menerus memuji, menyanjung, menyenangkan, menyetujui,
dan membuatmu merasa bahwa mereka akan melakukan apapun
demi dirimu: "Kau sangat cerdik! Kau telah melakukan pekerjaan
yang sempurna! Kau terlihat sangat cantik! Apa yang bisa ku bantu?"
Kapanpun mereka merasakan ketidakacuhan, mereka dengan cepat
menambah tindakannya, memposisikan penilaian mereka kembali ke
arah

yang

positif.

Sebagai

akibatnya,

mereka

menampilkan

gambaran akan niat baik yang absolut, seseorang yang menganggap


penghargaan adalah kepentingan moral. Ketika ketidakcocokan
terjadi, mereka dengan cepat mulai melancarkan masalah kembali,
bahkan ketika mereka harus berkorban, mengkompromikan keinginan
mereka sendiri, atau menyetujui poin yang penting. Daripada
menyerang mereka yang tidak bisa didamaikan, mereka memilih
untuk merasakan luka, menggambarkan diri mereka sebagai korban
yang tidak bersalah yang terjebak di dunia yang kejam, martir yang
menderita tombak dan panah nasib yang keterlaluan, selalu merasa
layak untuk mendapatkan simpati dan rasa iba.
Implikasi dari gaya hidup mendamaikan seperti ini merupakan
kompensasi bagi kekosongan yang substansial. Di balik senyuman
mereka yang ramah terdapat kekosongan dari histrionik, rasa
bersalah dari kompulsif, dan inferioritas dan ketidakberdayaan dari
dependen. Sebagian besar merasa bahwa mereka merupakan
individu yang bermasalah yang tidak dicintai dan tidak mampu. Oleh
karena itu, mereka menjadi sangat ingin menyenangkan orang lain,

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 46

RAHASIA

selalu waspada terhadap gejala yang paling halus sekalipun kapan


dan dimana penghargaan dan persetujuan mungkin didapatkan.
Secara perkembangan lebih maju daripada histrionik dasar, individuindividu

ini

telah

menginternalisasi

suara

orang

tua

yang

menghukum yang jatuh dengan kritikan dan teguran. Seperti


compulsives hyperconform (secara kompulsif selalu berusaha patuh),
individu ini memuaskan penyiksanya, secara sadar mengantisipasi
kebutuhan mereka, dan menawarkan hanya niat dan isyarat baik
sebagai balasan dari kemarahan dan permusuhan. Intinya, mereka
menjadi sangat baik dan manis sehingga mereka bisa membuat
bahkan superego dari orang yang sadis merasa bersalah.
Tempestuous Histrionic
Varian

tempestuous

kepribadian

(bergolak)

mengkombinasikan

ciri

histrionik negativistik. Individu semacam ini paling

tepat digambarkan sebagai sangat mood secara emosional berubahubah. Selama periode yang lebih baik, mereka memerankan hanya
ciri

histrionik,

menampilkan

muka

menarik,

secara

superficial

menjadi ramal suka bergaul, mengajak bicara orang lain, dan sebagai
balasannya menambahkan ekspresi emosi bebas mereka sendiri.
Seperti teatrikal histrionik, mereka dengan cepat merasa bosan,
dramatis berlebihan, hipereaktif terhadap rangsangan dari luar, dan
pencari sensasi yang impulsif. Ketika dikombinasikan dengan ciri
borderline, hasilnya adalah emosional overdrive (aktivitas emosional
yang berlebihan). Seperti individu borderline, tempestuous histrionic
hipersensitif terhadap kritikan, tidak toleran terhadap frustasi, dan
secara sosial tidak dewasa -karakteristik yang hampir memastikan
bahwa saat yang menyenangkan akan berlangsung lama. Sebagian
besar bergantian antara periode kesenangan emosi yang ekstrim dan
bertindak impulsif, diikuti oleh serangan kemarahan yang berubah
menjadi simptom kelelahan seperti depresif dan perubahan pola
makan dan tidur.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 47

RAHASIA

Jika
yang

individu

normal

kuat yang

mengembangkan

rasa

identitas-diri

membungkus dan menyembunyikan dorongan

dasar dan mengatur emosi, tempestuous histrionic tidak hanya


terlapis dengan lebih tipis daripada pola histrionik dasar tapi entah
bagaimana terpecah seperti borderline. Akibatnya, mereka lebih
rentan terhadap pertunjukkan yang tidak diatur dari emosi yang
mentah dan dengan cepat berubah. Ketika tersinggung, mereka lepas
kendaili, bereaksi seperti badai dan rusuh bahkan terhadap provokasi
kecil. Kekurangan perhatian, mereka mungkin mencari persetujuan
dengan kalut menjadi senang berdebat, murung, atau putus asa
ketika persetujuan tidak segera datang. Seiring dengan berjalannya
waktu, individu-individu ini sedikit demi sedikit mungkin menjadi
kurang histrionik dan menjadi lebih marah dan mengkritik orang lain,
merasa terhadap keberuntungan orang lain. Mereka juga mungkin
mengembangkan preokupasi terhadap fungsi tubuh dan kesehatan,
dan

secara

dramatis

mempertunjukkan penyakit

mereka

atau

mengeluh tanpa akhir mengenai penyakit untuk mendapatkan


kembali perhatian dan dukungan yang hilang.
Disingenuous Histrionic
Subtipe disingenuous (tidak tulus) mensintesiskan ciri histrionik
dan antisosial. Gambar yang agak berbeda diciptakan, bergantung
pada pengaruh relatif dari sifat histrionik dan antisosial. Pada
awalnya, mereka membuat kesan pertama yang baik dan tampak
muda bergaul dan tulus, menampilkan kespontanan dan pesona
sehingga orang lain dengan cepat memperlemah pertahanannya.
Namun kombinasi ciri histrionik dan antisosial membui subtipe
disingenuous lebih manipulatif daripada pola histrionik dasar dan
untuk tujuan selain perhatian dan persetujuan. Bagi beberapa, sifat
histrionik mereka hanya berfungsi sebagai suatu metode yang
berguna untuk berkenalan dan membuka pintu tapi melapisi dan
secara

sementara

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

menyembunyikan

karakteristik

dasar

dari

Page 48

RAHASIA

antisosial, termasuk kemauan untuk melanggar konvensi sosial,


mengingkari janji dan menghancurkan kesetiaan, bertindak secara
tidak bertanggung jawab, dan terkadang meledak dengan kemarahan
dan konfrontasi fisik. Bagi beberapa, pengaruh antisosial berhenti di
sini dengan sifat yang dianggap sebagai akibat dari kenakalan biasa.
Namun beberapa yang lain mengkombinasikan histrionik dan
karakteristik

yang

lebih

psikopatik.

Individu

ini

mensinergikan

keahlian, pesona, dan kemampuan sosial histrionik yang lebih adaptif


untuk membaca motif dan keinginan orang lain dengan maksud jahat
yang telah diperhitungkan. Jelas, varian ini lebih egosentris, sengaja
tidak tulus, dan mungkin lebih sadar akan manipulasi mereka
daripada pola histrionik dasar. Mereka sering tampak menikmati
konflik, mendapatkan suatu tingkat kepuasan atau kessnangan dari
ketegangan dan tekanan yang dihasilkan. Karena individu antisosial
biasanya mengartikan kebaikan sebagai kelemahan, sifat histrionik
mereka yang ramah kadang-kadang membuat mereka takut kalau
orang lain akan datang untuk melihat mereka dengan cara yang
persis sama. Jika mereka merasa hal tersebut benar, mereka
mungkin akan membalas impresi yang salah tersebut dengan
menjadi predator (orang yang mengeksploitasi orang lain).
Kriteria Gangguan Kepribadian Histrionik PPDGJ III (Maslim,
2001)
Gangguan kepribadian histrionik ialah gangguan kepribadian dengan
ciri-ciri;
1. Ekspresi emosi yang dibuat-buat, seperti bersandiwara, yang
dibesar-besarkan.
2. Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau
keadaan.
3. Keadaan afektif yang dangkal dan labil.
4. Terus-menerus mencari kegairahan, penghargaan dari orang
lain, dan aktivitas dimana ia menjadi pusat perhatian.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 49

RAHASIA

5. Penampilan atau perilaku "merangsang" yang tidak memadai.


6. Terlalu peduli dengan daya tarik fisik. Untuk diagnosa paling
sedikit dibutuhkan 3 ciri-ciri diatas.
X. INTERPRETASI FRAGMENTAL DAN PARADIGMA
PSIKOPATOLOGI (Terlampir)
XI. DINAMIKA KEPRIBADIAN
Ayah S kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada
S, karena ayahnya lebih disibukkan oleh bekerja dan bila memiliki
waktu luang ayah hanya lebih mementingkan perhatian ke ibu. Hal
ini mengakibatkan S kurang mendapatkan pemahaman tentang figur
ayah, sehingga ia kurang memiliki kedekatan dengan ayah yang
pada

dasarnya

merupakan

kebutuhan

untuk

mandapatkan

perhatian dari ayah. Begitu juga ibu, ibu lebih mementingkan diri
sendiri dengan aktivitas yang menyenangkan dirinya sendiri daripada
memberi perhatian keanak-anaknya terutama S sebagai seorang
wanita yang membutuhkan figur ibu yang pada dasarnya merupakan
kebutuhan S untuk penguatan identitas terhadap tanggung jawab
yang

harus

dilakukannya

sesuai

dengan

jenis

kelamin

yang

dimilikinya
Orang tua S tidak memberikan pemahaman mengenai aturanaturan yang berlaku di lingkungan masyarakat, begitu juga dengan
nilai-nilai keagamaan. Ia lebih banyak mendapatkan dari nenek,
itupun juga sangat terbatas. Ayah S kurang memberikan kasih
sayang kepada S, sehingga pola itu yang kemudian diserap oleh S
dalam berperilaku. Orang tuanya lebih mengembangkan sikap acuh
tak acuh padanya tentang bagaimana hidup yang baik. Sehingga ia
tumbuh menjadi orang yang kurang percaya diri.
Pada dasarnya S memiliki taraf kecerdasan

average

jika

dibandingkan dengan kelompok usianya. Kelebihan S terletak pada


daya abstraksi yang memungkinkan S dapat menggunakan ide-ide
abstrak dalam pemecahan masalahnya namun pada kenyataaannya

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 50

RAHASIA

S lebih menggunakan hal yang bersifat konkrit praktis dalam


penyelesaian masalahnya. Hal ini didukung oleh kepribadiannya yang
masih kurang matang sehingga memilih cara-cara yang praktis
dalam

memecahkan

masalah

dan

mendapatkan

apa

yang

diinginkannya. Walaupun memiliki potensi yang membuatnya mudah


melakukan analisa sintesa dalam melihat suatu hal untuk kemudian
melakukan problem solving. Namun kekurang mampuan untuk
melakukan regulasi dan mengintegerasikan aspek kognisi, emosi
mengarah S pada tingkah laku yang lebih mengikuti dorongan dalam
menyelesaikan permasalahan tanpa memperhatikan hal-hal yang
substansial.

Masalah-masalah

emosional

dibiarkan

tanpa

penyelesaian dan tidak diselesaikan secara efektif sehingga ia lebih


banyak terjebak oleh pikirannya sendiri. Kekurang mampuannya
dalam membedakan hal yang penting dan tidak penting disertai
kurangnya stimulasi dari lingkungan juga membuat ia kurang bisa
melihat inti dari masalah yang sedang dihadapinya. Didalam
lingkungan sosial ia bisa bergaul dan berelasi sosial dengan baik,
cukup

terbuka,

namun

ia

kurang

dapat

menempatkan

diri

dilingkungan sosialnya.
XII.

KESIMPULAN
S adalah adalah orang yang memiliki kebutuhan kasih sayang

yang sangat besar. Sebab hal tersebut tidak didapatnya dari kedua
orang tuanya semasa ia masih kecil. Kedua orangtuanya sibuk
dengan dirinya masing masing sehingga S merasa diacuhkan oleh
mereka. Kakak-kakaknya yang selalu memperlakukan dirinya dengan
keras dan suka menyalahkan membuat S tumbuh dan berkembang
menjadi seorang yang kurang percaya diri. Begitu pula hingga saat
ini, pada saat keluarga menyalahkan dirinya, S sangat mengharapkan
keberadaan suami untuk melindungi dan membelanya, namun hal itu
tidak didapatnya. Tingkah laku yang ditunjukkan S seperti sakit
kepala dan mual merupakan bentuk cara penyelesaian masalahnya.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 51

RAHASIA

Sebab dengan pola tersebut saat ini ia mendapatkan perhatian dari


mereka. Walaupun ia telah berusaha untuk berobat kedokter namun
tidak ditemukan gangguan pada fisiknya.
Disamping itu apa yang didiagnosa oleh dokter bahwa S sedang
depresi disini dapat ditolak sebab berdasarkan hasil pemeriksaan
psikologi ternyata S mengalami gangguan hipokondrik.
XIII. DIAGNOSA
Berdasarkan simptom-simptom

yang

muncul

serta

hasil

pemeriksaan psikologi pada S, maka diagnosa yang dapat ditegakkan


adalah:
Axis
Axis
Axis
Axis
Axis

I :
II :
III :
IV :
V :

F45.4 Gangguan Hipokondrik


Masalah dengan primary support group (keluarga)
75 (ada gejala sementara, masih dapat diatasi,
disabilitas ringan dalam lingkungan sosial)

XIV. PROGNOSIS
Berdasarkan hasil diagnosa psikologi, S memiliki prognosis yang
cukup baik. S memiliki kemampuan kognitif yang cukup baik, dimana
ia mampu mempertimbangkan segala sesuatunya secara rasional jika
akan bertindak serta masih dapat menjalin relasi sosial yang baik
dengan orang lain. Namun, S memerlukan pemahaman yang lebih
baik tentang pola berpikirnya yang cenderung kaku dan memiliki
pikiran

negatif

dan

rasa

tidak

berdaya

sehingga

memiliki

kepercayaan diri yang lebih baik dibanding sebelumnya.


XV.

RANCANGAN INTERVENSI
Berdasarkan analisis gangguan yang dimiliki S, maka intervensi

yang tepat diberikan pada S adalah Cognitive-behavior therapy,


dimana tujuan dari terapi ini terapis memberikan pemahaman
tentang bagaimana pikiran dan perasaan dapat mempengaruhi
seseorang dalam berperilaku. Diharapkan terapi ini dapat mengubah
pikiran negatif S yang menyebabkan terjadi kecemasan menjadi

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 52

RAHASIA

pikiran positif, dan S memiliki keterampilan yang lebih baik untuk


menyelesaikan masalahnya.
Bandung,

Mei 2010

JUNAIDI
190420080022

LAMPIRAN
LAPORAN KASUS R.M

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 53

RAHASIA

RINGKASAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG DIALAMI OLEH S


MASA/USIA
Masa Kecil
(termasuk
Sekolah
Dasar)

PERISTIWA
KEHIDUPAN
- Ayah selalu sibuk
dengan pekerjaan
sehingga
kurang
dekat padanya

- Ibu sibuk dengan


urusannya sendiri
(main voli)

- Semua
pekerjaan
dirumah
selalu
salah
dimata
ibunya
sehingga
sering
dimarahi/
diomeli
- Saudarasaudaranya
bermain

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

jarang

PIKIRAN

PERASAAN

- Ayah
kurang
perhatian
- Ayah kurang hangat
- Ayah
jarang
komunikasi

- Sedih karena tidak


ada perhatian dari
orangtua
- Cemburu
karena
ayah
lebih
memperhatikan
adiknya
yang
bungsu

- Ibu
perhatian
- Ibu egois

kurang

- Bingung kenapa ibu


selalu
menyalahkannya

- Heran
prilaku

dengan
saudaranya

- Sedih
atas
perlakuan
ibu
padanya yg tidak
memperhatikan
dirinya
- Kecewa
dengan
perlakuan ibu yg
membedakan
dirinya
dengan
saudara2nya
sehingga
dia
berpikir
sebenarnya dia itu
anak
mereka
bukan
- Kecewa dan sedih
atas perlakuan ibu

Page 54

PERILAKU
- Diam saja
- Diam saja

- Menangis dikamar
- Merenungi kenapa
nasibnya
seperti
ini

- Menangis dikamar

- Diam saja
- Bertengkar dengan
kakaknya RJ yang
paling
sering

RAHASIA

dengannya

- Tinggal
dengan
nenek dan kakek
pada saat kelas 1
dan SMP (kelas 1
s/d 3)

- Kelas
2
hingga
lulus SD tinggal
dengan ortu lagi

Masa
Remaja
(termasuk
sekolah
SMP dan
SMEA)

yang
selalu
menyalahkan
dirinya

- Nenek dan Kakek


lebih
menyayangi
dirinya
dibandingkan kedua
orangtuanya
- Kenapa
harus
kembali
kerumah
orangtuanya

- Melanjutkan
sekolah ke SMEA
atas saran kakak

- Merupakan
penting
hidupnya

- Ketauan
merokok
dan ditampar oleh
kakak

- Perlakuan kakaknya
itu
sudah
berlebihan dan dia
pikir
kakaknya
sendiri
saja
prilakunya
gak
bener,
ngapain

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

pilihan
dalam

padanya

- Sedih
dengan
perlakuan
saudaranya
- Marah
apabila
selalu disalahkan

menyalahkan
dirinya
- Senang dan jarang
bersedih bersama
nenek dan kakek,
apapun
yang
diinginkan
selalu
dipenuhi.
- Diam dan menurut
saja

- Senang dan merasa


lebih
nyaman
tinggal
bersama
nenek dan kakek

- Sedih karena harus


kembali
kerumah
ortu
- Tidak
berdaya
untuk menolak

- Diam dan menurut


saja
apa
yang
kakaknya sarankan

- Tidak terima dan


Marah
atas
apa
yang
dilakukan
kakaknya

- Kembali memukul
kakaknya
dan
merekapun
bertengkar

- Sedih

- Mengeluh

Page 55

dan

kecewa

pada

RAHASIA

- Kelas II SMEA sakit


typus dirawat di RS
selama 20 hari dan
keluarga
tidak
peduli padanya

Masa
sekarang
(2008
saat ini)

- Menikah
pacarnya

ngurusi dirinya
- Kenapa
keluarga
dan
orangtuanya
jarang
menjenguk
dan
melihatnya
selama dirawat diRS

dengan

- Dengan
segera
menikah
tentunya
akan ada yang lebih
menyayangi
dan
memper-hatikannya

- Berjalan dua tahun


perkawinan prilaku
suami
mulai
berubah,
suami
mulai sibuk dengan
kerjaan kantor

- Kenapa
prilaku
suaminya saat ini
berubah,
sudah
tidak
menyayangi
dan
memperhatikannya
lagi
malah
sibuk
dengan pekerjaan
- Menganggap
dirinya
hanya
sebagai pembantu
yang
hanya
dicukupkan materi
saja

- Acara tahun baru


dengan
keluarga
disumedang,
S
kawatir
ttg
keberadaan
adiknya tapi malah

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

- Bingung
kenapa
mengkhawatirkan
adiknya
malah

karena
ortu
dan
saudaranya
tidak
peduli padanya

pacarnya
sekarang
suaminya

yang
jadi

- Senang
dapat
menikah
dengan
orang yang selama
ini
bisa
menyayanginya

- Mau
segera
menikah,
saat
pacarnya melamar
utk
menjadi
pendamping hidup
nya

- Sedih dan kecewa


terhadap
prilaku
suami yang mulai
berubah
- Mulai tidak nyaman
dengan
prilaku
suami yang tidak
sayang lagi padanya
- Kecewa
karena
suami mulai tidak
melindungi
bila
saudara2 nya mulai
menyalahkan
dirinya

- Menangis
- Mencoba menolak
ber-hubungan
seksual
dengan
suami dengan cara
pura2 tidur

- Sedih karena justru


disalahkan

Page 56

- Melawan
dan
bertengkar dengan
kakak

RAHASIA

disalahkan
oleh
keluarga dan tidak
dibela oleh suami

dinilai salah oleh


ibu dan kakaknya RJ

- Bingung
kenapa
suami
tidak
membela
dirinya
saat dia disalahkan
keluarganya malah
justru
ikut
menyalahkannya

- Kecewa atas sikap


suami
yang
mengacuhkan
disaat
dia
membutuhkan
suami
utk
membelanya

- Diam
saja
dan
tidak berdaya atas
prilaku suaminya

Interpretasi fragmental per alat tes


Alat

Aspek Kognitif

Aspek Motivasi

Aspek Emosi

Aspek Relasi Sosial

S kurang sistematis dlm


menceritakan
riwayat
hidupnya. Karena ia lebih
banyak
menceritakan
keluhannya. S tergolong
individu yang biasa-biasa
saja disekolahnya, dan ia
lebih menyukai pelajaran

S
kurang
memiliki
dorongan
yang
cukup
besar
untuk mencapai
prestasinya disekolah. Ia
lebih banyak menerima
apa
adanya
atas
keinginannya itu dan bila
tidak terpenuhi maka iapun

S kurang mampu mengekspresikan perasaannya terhadap orang


lain. Jika ia merasa senang,
kecewa atau marah, ia hanya
menampilkan
dalam
bentuk
perilaku yang sewajarnya yang
menurutnya dapat diterima oleh
lingkungan. Ia memilih untuk

S mampu menjalin dan


membina hubungan baik
dengan orang lain dalam
lingkungan
sosial.
Walaupun pada awalnya ia
terkesan menjaga jarak,
namun
jika
sudah
mengenal
dengan
baik

Tes
Anamn
esa

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 57

RAHASIA

olahraga
volley.

WB

Rorsch
ach

terutama

bola

S
memiliki
kecerdasan
yang berfungsi saat ini
pada taraf rata-rata (IQ:
101)
dimana
potensi
kecerdasannya
berada
pada taraf (OIQ: 97). Hal ini
mengindikasikan
S
memiliki
potensi
kecerdasan yang sudah
dioptimalkan
secara
keseluruhan.
Karena
S
memiliki
kemampuan
berpikir
abstrak
yang
sangat
baik
(sim:+),
dimana
S
mampu
memahami
instruksi
dengan baik.
S
memliki
kapasitas
intelektual yang berada
pada taraf diatas rata-rata
(intelectual capacity: high
average). Namun S kurang
memiliki kreativitas dalam
berpikir
(sucession:rigid;
P:5), sehingga ia kurang

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

akan diam saja.

memendam perasaan sedih atau


kecewa
yang
dialaminya
dibanding ia harus mengungkapkannya.

S
kurang
memiliki
konsentrasi yang cukup
baik untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya
(arithmetic: 0ki)

S memiliki dorongan yg
kurang teregulasi dgn baik
(M:FM = 2:3) terlalu
mempertimbangkan nilainilai yang berlaku di
masyarakat jika ingin
menampilkan dorongan
tersebut.

Kurang peka dan kurang


mampu
bereaksi
secara
emosional dilingkungannya
(FC : (CF+C) = 1 : 0, Sum C =
0.5, Respons kartu VII+IX+X =
20%, dan Perbedaan rata-rata
RT achromatic : chromatic =
43,8 dtk : 26,4 dtk).

memiliki kecemasan yang


dicapainya
melalui
fantasi
dengan cara menarik diri
ketika
ia
tidak
mampu
berinteraksi
dengan
lingkungan. Digit span (0ka) >
arithmetic (-)

Page 58

orang tersebut, ia akan


berusaha untuk menjaga
hubungan baik tersebut.
Namun
penempatan
dirinya dilingkungan sosial
ia kurang baik.
S mampu berelasi dan
mengenal
situasi
lingkungan sosial dengan
baik (pic.arrangement:0ka,
compre:0ka). Akan tetapi,
ia kurang mampu untuk
menangkap situasi dengan
cepat
dan tepat (object
assembly:0ki), sehingga S
cenderung kaku berelasi
dalam lingkungan sosial.

Dalam lingkungan sosial,


S mampu berinteraksi
dengan
orang lain dan
cukup
ramah
di
lingkungan, dan dapat
mengontrol
prilakunya
dilingkungan
namun
kurang
dekat
secara
personal dengan orang

RAHASIA

lain (F% = 30% = F% =

memiliki berbagai alternatif


penyelesaian masalah.
SSCT

S
memiliki
potensi
kecerdasan yang cukup
bak,
yang
dapat
dimanfaatkannya
untuk
menyelesaikan
permasalahan
yang
dihadapinya.

WZT

S
mampu
mengenali
stimulus yang dihadapinya,
namun
diselesaikan
dengan cara yang sangat
sederhana
(R:6).
Kreativitas
berpikir
S
kurang berkembang secara
optimal. (gambar kosong),
sehingga ia hanya terpaku
pada
satu
pola
penyelesaian masalah saja
(R:4)
S ingin tampil menonjol
dengan
potensi
yang
dimilikinya,
namun
ia
kurang
mampu
mengarahkan potensinya

DAP

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

20%-50% , FK + F + Fc
< 75% = 30%)
S memiliki keinginan untuk
bisa
memiliki
keluarga
yang
bahagia
dan
harmonis.
Dalam
mengatasi
masalah
ia
memiliki keinginan untuk
bisa mengatasinya dengan
baik dan mengharapkan
masa depan yang cerah
bagi
dirinya
dan
keluarganya.
S kurang memiliki motivasi
atau
keinginan
untuk
mendapatkan
sesuatu
(R3:inadekuat), dan juga
kurang
mampu
menyalurkan energi yang
dimilikinya
sehingga
keinginannya
kurang
mampu
ia
dapatkan
dengan
maksimal
(R5:inadekuat)

Dalam
bereaksi
secara
emosional,
S
selalu
mempertimbangkan banyak hal.
Karena ia selalu menghargai dan
menghormati orang lain.

S berusaha untuk menjaga


hubungan
baik
dengan
orang
lain,
karena
S
beranggapan
bahwa
temannya pun harus bisa
mengerti orang lain

Kemampuan
S
untuk
mengekspresikan
emosional
sangat terbatas (R:1,2,7,8). S
hanya mampu bereaksi secara
formal, dan kurang mampu
melibatkan
emosi
secara
mendalam.

S memiliki dorongan yang


cukup
besar
untuk
menampilkan
dirinya,
namun ia merasa tidak
cukup kompeten (gambar

S adalah sosok yang tertutup


secara
emosional
(mata
tertutup). Dalam bersikap, S
selalu
mempertimbangkan
banyak hal, terutama kehidupan

Pada dasarnya S mengenali


tuntutan lingkungan sosial
disekitarnya,
namun
ia
kurang
mampu
menempatkan diri sesuai
dengan kepribadian yang
dimilikinya
(R:1,8).
S
cenderung
kaku
dalam
berinteraksi dan kurang
mampu
menjalin
relasi
lebih dalam dengan orang
lain.
S kurang mampu berelasi
secara mendalam dengan
orang lain(mata tertutup),
dan kurang percaya diri
(garis berulang-ulang).

Page 59

RAHASIA

BAUM

kearah yang tepat.

tidak
kecil)

S memiliki konsep nalar


yang cukup baik, namun ia
kurang
mampu
mengorganisirnya
dalam
kehidupan sehari-hari .

S memiliki dorongan yang


cukup
besar,
namun
kurang dibarengi dengan
usaha dan arah yang jelas
untuk pencapaian tujuan
yang diinginkan (batang
besar).
S
mengalami
kecemasan
jika
ingin
berusaha untuk meraih apa
yang diinginkannya.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

proporsional,

kaki

masa lalunya (garis berulang). S


kurang hangat dengan orang lain
dan kurang bisa memberikan
perhatian (badan kaku)
S
kurang
mampu
mengekspresikan diri dengan
melibatkan emosi (gambar pohon
sederhana).

Page 60

S
cenderung
kurang
percaya diri jika berelasi
dalam lingkungan sosial
(daun tertutup dan garis
berulang-ulang).
Ia
berusaha
untuk
tampil
sempurna dihadapan orang
lain (jumlah daun sama
kiri-kanan).

RAHASIA

LEMBAR JAWABAN RORSCHACH

CARD
I

NO

POSITIO

RES
1

N
V > <V

PERFORMANCE
PROPER
Kalelawar, udah

RT=8
TT=21
II

INQUIRY
Dari bentuknya hampir serupa dengan

SCORING
LOC

DET

CON

FLR

1,0

FM

1,5

FC

1,5

1,5

kelelawar, ini ada sayapnya. Udah, itu


1

V>

Kelinci

aja.
Karena bentuknya menyerupai kelinci

RT=6

yang sedang loncat (loncat) iya..disini

TT=57

ada dua kelinci yang sedang loncat


saling menepuk kedua tangannya ini

III

RT=35

V <V>

Serangga

loh..
Disini aja, ada tangan, mulut, mata dan
ini ada badannya. Dari matanya mirip

TT=78

banget dengan serangga (mata) iya ini


2

><

Manusia

matanya hitam.
Ada dua orang yang sedang tarik
menarik dan posisi badan mereka
membungkuk (tarik menarik) eh bukan
tapi seperti sedang mengangkat sesuatu.
Dan orangnya ini seperti ada kepala,
badan dan kakinya

IV
TT=

V>
V<

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

(saya tidak bisa melihat


apa-apa disini)
Page 61

RAHASIA

60
V

kupu-kupu.

RT=24
TT=61
VI

>V <

Kepala ular

1,0

>V > <

Mulut serangga

<> V

Bentuknya seperti kepala ular (kepala

D3

FM

Ad

D4

Ad

1,5

D1

FM

1,5

FC

1,5

ular) dari atas tuh terlihat ada mulut,

VII

ekor dan ini sayapnya

RT=101
TT=199

Semuanya ini kepala, ada antena, ini

mulutnya sedang terbuka


Bentuknya runcing kayak antena dan ini
kayak mulutnya panjang

Orang sedang terbang

Iya ini dan juga kayak loncat-loncat, ini

RT=86

tangannya sedang terentang dan

TT=108

kesannya rambut orangnya terangkat.

VIII

V V>

RT=59

Hewan ...sedang

Ini ada kakinya empat buah dan ini

melangkah

mukanya seperti sedang mencari

TT=104

sesuatu makanan

IX

V>

TT=69
X

VV>
V

(Tidak ada apa apa)


Bunga ya..

Ini semua bunga...yang bawah ada

RT=32

seperti mangkok, bunganya berwarna

TT=76

warni ada kelopaknya dan warnanya


macam-macam ada warna biru, kuning,
hijau, merah, orange.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 62

RAHASIA

ANALISIS KUALITATIF RORSCHACH


KARTU I: Penyesuaian pada situasi baru
RT : 8
TT : 21
Respon:
1. V><V W F
P
A
1,0
S adalah individu yang cukup mampu dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan, dan mampu berpikir seperti umumnya orang lain jika
dihadapkan pada situasi tertentu. Respon yang dikeluarkan sama dengan
respon yang biasa diungkapkan oleh orang lain pada umumnya (P).
KARTU II: Vital Agression
RT : 6
TT : 57
Respon:
1. V>
D
FM
P
A
1,5
Kartu ini adalah kartu yang menawarkan agresi. S mampu menampilan
reaksi agresi dalam lingkungannya, namun hal itu kurang disalurkan dan
dirasionalisasikan, sehingga S cenderung untuk menutupi perasaan agresi
atau dendam terhadap orang lain (dari konten kalimat pada PP).
KARTU III: Human Card
RT : 112
TT : 336
Respon:
1. @ >
D
FC
A
1,5
Dari kartu III, dapat dilihat bagaimana relasi antara S dengan orang lain.
Berdasarkan respon yang ditampilkan, S cukup lama untuk melakukan
penyesuaian dengan orang baru (RT lama). Munculnya respon FC dengan
conten A, menunjukkan bahwa S kurang mampu melakukan penyesuaian
diri dalam relasi sosial yang melibatkan kehidupan afeksi dan emosi
terhadap orang lain.
2. @
D M
P
H, Obj
1,5
Respon kedua kemudian muncul figur manusia yang melakukan
aktivitas, diartikan bahwa S cukup sulit untuk berelasi secara mendalam
dengan orang lain, karena tuntutan untuk menampilkan figur manusia
muncul pada respon kedua. Saat berelasi dengan orang lain, S mengartikan
sebagai hubungan saling menolong satu sama lain.

KARTU IV: Figure otority, Father Card


Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 63

RAHASIA

RT : 60 (S tidak bisa melihat apapun dikartu ini)


Respon yang dikeluarkan pada kartu ini akan menunjukkan bagaimana S
memandang figur otoritas dalam kehidupannya. Kartu ini disebut juga
father card. Figur otoritas dalam kehidupan S kurang berperan penting,
terlihat disini ada problem dengan figur otoritasnya yaitu ayahnya.
KARTU V: Reality testing
RT : 24
TT : 61
Respon:
1.
W
Respon yang dikeluarkan pada
dikeluarkan oleh orang-orang pada
testing S masih tergolong baik. S
dengan lingkungan yang ada.

F
P
A
1,0
kartu ini adalah reaksi yang lazim
umumnya. Dengan kata lain, reality
dapat memaknakan realitas sesuai

KARTU VI: Sex Card


RT : 101
TT : 199
Respon:
1. >V < V
D
FM
Ad
1,0
S memiliki hambatan untuk menyalurkan dorongan seksualnya (shading
tidak muncul, RT lama), namun pada dasarnya S memiliki kebutuhan
seksual yang normal.
2. >V > < V
D
F
Memiliki kebutuhan seksual yang normal .

Ad

1,0

KARTU VII: Figure affective, Mother card


RT : 86
TT : 108
Respon:
1. <> V W
M
H
1,5
S melihat figur otoritas ibu sebagai sosok yang kurang mampu
memenuhi kebutuhan afeksi (tidak ada shading). Berkaitan dengan lawan
jenis, S membutuhkan wanita yang mampu memenuhi kebutuhan afeksinya
serta mampu diajak kerja sama dalam menjalani kehidupannya.

KARTU VIII: Pure Colour

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 64

RAHASIA

RT : 20
TT : 416
Respon:
1. VV>V D
FM
P
A
1,5
S cukup baik dalam menjalin relasi dengan orang lain (FM), namun
kurang melibatkan afeksi dan mengontrol diri untuk bereaksi secara
emosional. S kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan orang lain yang
berkaitan dengan pemenuhan afeksi dan reaksi emosional.
KARTU IX: Intelligence card & Social Adjustment
RT : 69 (tidak ada apa-apa)
S memiliki hambatan untuk melihat secara gestalt hal-hal yang
terdiferensiasi dan memiliki kesulitan untuk menjalin hubungan yang lebih
dalam dengan orang lain. Selain itu, manifestasi kehidupan afeksi dan
emosi kurang dimilikinya, sehingga ia bereaksi secara datar tanpa
melibatkan afeksi dan emosi. (ada gangguan secara emosional)
KARTU X: Social adjustment
RT : 32
TT : 76
Respon:
1. V
W
FC
Fl
1,5
S cenderung pasif jika terlibat dalam relasi sosial dengan orang lain,
walaupun ada keinginan untuk menampilkan reaksi emosional yang positif
(bunga warna-warni). Kurangnya respon pada kartu ini, menunjukkan
bahwa S kurang spontan dan cenderung kaku dalam lingkungan sosial.

PICTURE ARRANGEMENT
Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 65

RAHASIA

1. PAT

10 Membuat pondasi atap rumah setelah selesai baru


mengecat rumahnya

2. ABCD

16 Ada orang merampok tertangkap polisi kemudian ia


disidangkan dan dihukum penjara

3. LMNO

66 Lift naik lalu pintunya terbuka dan keluarlah tiga


orang

dari

dalam

lift

(hehehe.gambarnya

membingungkan)
4. JANET

65 Sebuah kendaraan sedang berjalan melihat seorang


perempuan dipinggir jalan, lalu seseorang didalam
mobil memberhentikan mobilnya karena melihat
wanita itu kemudian mobilnya berhenti dan orang itu
keluar yang menghampiri gadis itu.

5. EFGHIJ 79 Seseorang

sedang

memancing

menunggu

ikan

ternyata kemudian ia mendapatkan satu ekor ikan,


sesudah itu ia memancing lagi dan mendapatkan
ikan yang kedua lebih besar dari yang sebelumnya
setelah

selesai

memancing

ia

berteriak

dan

memberitahukan bahwa ia sudah selesai memancing


dan keluarlah seseorang dari dalam laut.
6. ALMEUS142 Seseorang laki-laki memberhentikan kendaraan,
dengan membawa patung perempuan ia masuk
kedalam

kendaraan

itu,

didalam

kendaraan

ia

terlihat berbicara dengan patung perempuan itu


seolaholah patung itu hidup. Terlihat dia memeluk
patung

itu

sambil

menoleh

kearah

belakang

kendaraan setelah itu dia menangis dan dia berjalan


lagi membawa patung perempuan itu.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 66

RAHASIA

EVALUASI SSCT
Nama

: RM

Tgl. Lahir

: 27 Maret 1979 (31 thn)

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tgl. Pemeriksaan : 17 Februari 2010


I. SIKAP TERHADAP KELUARGA
A. Sikap Terhadap Ayah

Skor : 2

1. Saya

S memiliki pandangan yang

rasa

bahwa

ayahku

Score

jarang

merhatikan aku.

negatif tentang ayahnya,

16. sekiranya ayahku hanya seorang yang dimana


memberikan nafkah untuk istrinya.
31. Saya

ingin

ayahku

bahwa

ia

menganggap

ayahnya

seorang

melindungi, yang kurang memberikan

membela saya

perhatian padanya namun

46. Saya rasa, bahwa ayahku orang yang hanya


sangat bijaksana

lebih

keibunya.

merhatikan

Tapi

baginya

ayah adalah seorang yang


B. Sikap Terhadap Ibu

bijaksana
Skor : 2

14. Ibuku tidak bijaksana.

29. Ibuku dan saya tidak dekat.

hubungan

kurang

44. Saya kira, kebanyakan ibu bijaksana antara


penuh kasih sayang.

ia

menyenangi
yang

terjalin

dan

ibunya.

Menurut S ibunya seorang

59. Saya suka kepada ibuku, tetapi

saya yang

kurang

bijaksana

tidak menyukai karena beliau tidak

sehingga ia kurang dekat

bijaksana.

dengannya,

padahal

membayangkan

ia

seorang

ibu adalah bijaksana dan


penuh kasih sayang
Skor : 2

C. Sikap Terhadap Keluarga


12. Dibandingkan
keluarga,

dengan

kebanyakan

keluargaku

mementingkan
orang lain.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

kepuasannya

S memiliki pandangan yang

selalu negatif
dan keluarganya,
mengalami

tentang
karena
masa

ia
kecil

Page 67

RAHASIA

27. Keluargaku

memperlakukan

saya

dimana keluarganya tidak

sebagai orang yang selalu melakukan

peduli

kesalahan.

menganggap

42. Kebanyakan keluarga yang saya kenal


selalu pusing dengan urusan orang

padanya

orang

ia

dan
sebagai

yang

banyak

melakukan kesalahan.

lain.
57. Waktu

saya

masih

seorang

anak,

keluargaku tidak ada untuk saya.


II. PENYESUAIAN DALAM BIDANG SEX
A. Sikap Terhadap Wanita

Skor: 0

10. Seorang wanita yang sempurna saya

gambarkan sebagai ibu saya

Score
memiliki

nilai tentang wanita yang

25. Saya kira kebanyakan gadis ingin selalu cukup


dimanja dan dilindungi.
40. Saya

percaya

pemahaman
positif.

Ia

menganggap bahwa wanita

kebanyakan

wanita

lembut.
55. Tentang soal wanita saya sama sekali
tidak menyukai wanita yang angkuh.

sebaiknya

memiliki

kelembutan

dan

seorang

ibu

sempurna.

yang

Ia

mempunyai
untuk

seperti
juga

keinginan

selalu

dilindungi

dimanja,

dan

tidak

menyukai seorang wanita


B. Sikap Terhadap hubungan heterosex

yang angkuh.
Skor : 2

11. Bila saya melihat seorang perempuan

bersama seorang laki-laki biasa saja.


26. Mengenai

kehidupan

perkawinan

menganggap

hubungan
jenis

bahwa

antara

biasa

lawan

saja

dan

perasaan saya adalah merasa tidak kehidupan seksualnya tidak


dianggap sebagai seorang istri.

ada masalah namun saat

41. Umpamakan saya mempunyai hubungan


seksuil,

seperti

cerita

seorang

kebanyakan
laki

laki

orang

ini

ia

merasa

tidak

dianggap sebagai istri.

yang

perkasa.
56. Kehidupan

seksuil

saya,

untuk

sekarang normal saja.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 68

RAHASIA

III. PENYESUAIAN DALAM HUMAN


RELATIONSHIP
A. Sikap Terhadap Teman

Score
Skor : 0

8. Seorang teman sejati, saya rasa selalu S


saling ngerti.

mampu

hubungan

23. Saya tidak senang terhadap orang yang


sombong.

menjalin

baik

orang

dengan

lain.

Ia

menginginkan teman yang

38. Orang-orang yang sangat saya sukai


teman teman.

bisa

saling

mengerti

diantara mereka dan tidak

53. Bila saya tidak ada, teman-teman saya


merasa kesepian.

sombong, namun apabila


tidak berada dengan nya
maka

teman-temannya

B. Sikap Terhadap Atasan

akan merasa kesepian.


Skor : 0

6. Atasan saya baik.

21. Di sekolah, guru-guru saya baik baik

atasan adalah orang yang

36. Bila

baik.

saya

melihat

pimpinan

(atasan

berpendapat

bahwa

langsung) saya datang tidak ada.


51. Mereka

yang

saya

anggap

sebagai

atasan saya tidak ada.


C. Sikap Terhadap Bawahan
4.

Andaikata

saya

Skor : 0

ditugaskan

untuk

mengerjakannya dengan baik.

S mengungkapkan

bahwa

ia mampu untuk bekerja

19. Bila ada orang bekerja untuk saya akan dengan baik. Selain itu, bila
saya kasih upah.

ia meminta bantuan orang

34. Orang-orang yang bekerja untuk saya


tidak ada.

lain

maka

halus

dan

orang lain saya melihat sikapnya dan perasaan


selalu menjaga perasaan orang lain,

tidak

gimana cara menyampaikannya.


D. Sikap Terhadap Sejawat

upah.
Skor : 1

13. Di tempat kerja,

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

akan

meminta dengan cara yang

48. Pada waktu memberi perintah kepada

dengan teman.

dia

saya

paling cocok

oranglain

lupa

merasa

dengan

menjaga
serta

memberinya

cocok

bekerja

temannya

yang

Page 69

RAHASIA

28. Teman sekerja saya adalah sasa.

bernama sasa karena ia

43. Saya senang bekerja dengan orang yang

mengerti keadaannya.

mengerti dengan keadaan kita.


58. Orang-orang yang bekerja dengan

saya biasanya tidak ada.


IV. PENYESUAIAN DALAM BIDANG

Score

KONSEP DIRI
A. Sikap Terhadap Ketakutan

Skor : 2

7.

Saya insyaf, bahwa hal tersebut adalah

janggal

ketakutan-ketakutan dalam

tetapi

saya

takut

akan

kesalahan.

banyak

hidupnya

22. Kebanyakan

teman-teman

mengetahui

bahwa

saya

takut

ingin

yang

tidak

kemungkinan

akan

untuk

orang tua saya.


37. Saya

memiliki

besar

sulit

dihadapinya.

Jika

ketakutan tersebut muncul,

sekali

menghilangkan

kemungkinan besar ia akan

ketakutan saya akan kata kata dari lari dari situasi tersebut.
orang

lain,

keluarga

yang

selalu

Apalagi

dengan

keadaan

menyalahkan yang ada didalam diri

dimana keluarga terutama

saya.

orang

52. Rasa

ketakutan

saya

kadang-kadang

tua

yang

selalu

menyalahkannya

memaksa saya untuk lari dari rasa


ketakutan itu.
B. Sikap Terhadap Rasa Salah

Skor : 2

15. Saya bersedia menjalankan apapun saja

Sikap

terhadap

rasa

yang

telah

untuk melupakan waktu dimana saya

bersalah

merasa

dilakukannya

tersakiti

dan

selalu

disalahkan.

membuat

30. Kesalahan saya yang terbesar adalah


semua

kesalahan

saya

selalu

dibesar besarkan.
45. Pada

waktu

saya

cukup
ia

merasa

kecewa. Dan rasa bersalah


itu

semakin

besar

jika

dikaitkan dengan masalah


lebih

muda

saya

kenakalannya

dengan

merasa berdosa mengenai kenakalan

teman-temannya

seperti

saya sama teman teman.

berbohong.

Apalagi

60. Hal yang terburuk yang pernah saya


lakukan

berbohong

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

dalam

hal

kesalahan-kesalahan
tersebut

suka

dibesar-

Page 70

RAHASIA

bermain dengan teman teman.


C. Sikap Terhadap Kemampuan Diri

besarkan.
Skor : 1

2.

Bila keadaan tdk memungkinkan saya

S berpendapat bahwa ia

tidak jadi.

berupaya

untuk

bisa

mengatasi

masalah

yang

17. Saya yakin, bahwa saya mempunyai


kemampuan

untuk

sukses

dalam dialaminya seperti mudah

hidup ini.

terpengaruh

32. Kelemahan saya yang terbesar adalah


mudah

diajak

gak

bener

sama

temen.

temannya
bisa

dengan
dan

nantinya

sukses

dalam

hidupnya.

47. Bila saya mengalami nasib malang saya


akan menerimanya dengan ikhlas,
karena setiap manusia akan selalu
mendapat cobaan dari Allah dan
saya percaya suatu saat nanti tidak
akan selamanya bernasib malang.
D. Sikap Terhadap Masa Lampau

Skor : 2

9.

Waktu

saya

masih

anak-anak

membosankan.
24. Dahulu

saya

kurang

kehidupan
tidak

menyenangi
nya

di

masa

mempunyai lampau, dimana ia selalu

kebahagiaan dari orang tua saya.


39. Andaikata saya muda kembali

tidak

bahagia

dan

tidak membosankan.

ada
54. Kenangan yang paling jelas mengenai
masa
E.
5.

kanak-kanak

saya

tidak

mempunyai kebahagiaan.
Sikap Terhadap Masa yang

Akan Skor : 0

Datang

Bagi saya hari depan akan lebih baik.

masa yang akan datang

20. Saya menantikan dengan penuh harapan

Berpendapat

adalah hari yang sangat

kebahagiaan itu akan datang untuk

diharapkannya

saya.

melakukan

35. Pada suatu hari saya akan

menjadi

bahwa

untuk

hal-hal

menyenangkan

yang
dan

istri yang berbhakti menuruti semua

berbahagia

keinginan suami, asal suami saya

keluarga yang dicintainya.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

bersama

Page 71

RAHASIA

bisa

membahagiakan

dan

melindungi perasaan saya.


50. Bila usiaku lebih tua

akan aku bina

rumah tangga yang baik, akan aku


sayangi

anak

anakku,

akan

aku

lindungi anak anakku


F. Sikap Terhadap Tujuan Hidup

Skor : 0

3.

Saya selalu mempunyai keinginan untuk

S menginginkan untuk bisa

bahagia.

memiliki kehidupan yang

18. Saya akan sangat senang kalau suami


saya

membahagiakan

saya

dan

melindungi saya.
yang terpendam adalah
dimana

seorang

istrinya

dimana

dan

harmonis

ia

bisa

memperoleh perhatian dan

33. Dalam hidup ini hasrat keinginan saya


mempunyai

bahagia

keinginan
suami

kasih

sayang

dari

suaminya.

yang

mendapatkan

masalah dia membelanya.


49. Yang sangat

saya inginkan dari hidup

indah.

Interpretasi Alat Tes


1. WB (Ogdon)
V IQ < P IQ : kemungkinan psikopat, sosiopath dan gangguan narsistis.
Information (-): defense repress; menarik diri; kecemasan atau
histrionik; deliquen atau acting out.
Comprehension (0ka): penilaian terhadap lingkungan sosial masih
baik;
Digit span : mengukur memory; atensi; kecemasan; distracbility
Arithmetic (-): konsentrasi yang lemah disertai dengan kecemasan;
histrionik dan narsistis; suicide potential

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 72

RAHASIA

Arithemtic : Digit span = Digit span (0ka) > arithmetic (-)= adanya
kecemasan yang dicapainya melalui fantasi dengan cara menarik diri
ketika ia tidak mampu berinteraksi dengan lingkungan.
Similiarities: konsep dan pemahaman secara verbal; berpikir logis yg
berkaitan dengan memory.
Similiarities (+) : intelectualizing defenses; ada tendensi obsesifkompulsif
Vocabulary: berdasarkan hasil pembelajaran; dan pengaruh lingkungan
pendidikan yg baik
Vocabulary (0ki) : histrionik
Picture arrangement: kemampuan

melakukan

perencanaan

yg

berkaitan dgn keterampilan sosial. PA sejalan dgn comprehension;


berkaitan dgn penilaian dan atensi
PA (0ka): mampu beradaptasi
Picture completion: kemampuan utk menentukan mana yg esensial
dan yg tidak; diperlukan konsentrasi dan memory utk melakukan
judgement tsb.
PCom (0ki) : kemampuan

konsep

dan

persepsi

yang

rendah;

kecemasan.
Object assembly: koordinasi visual-motorik; kemampuan persepsi scr
non-verbal thd situasi; kemampuan mengorganisir, sintesis.
Object assmebly (0ki) : kemungkinan adanya kecemasan atau
tegangan sehingga menganggap segala sesuatunya tidak pasti;
tendensi depresif
Block design: kemampuan menganalisis pola yg sudah ada; berpikir
sintesis;

kemampuan

memahami

konsep

secara

visualisasi

yg

dituangkan dgn adanya koordinasi pada motorik.


Block design (0ki) : kecemasan; tension stress; represi yang berlebihan
Digit symbol: proses pembelajaran; kecepatan dan ketepatan dalam
mempelajari hal baru.
2. Rorschach (Klopfer)
Proportion relating to Inner resources and impulse life
M : FM = 2 : 3 = artinya masih berada dalam taraf normal tetapi
mengindikasikan pemuasan intinktual (instinctual gratification) lebih
penting bagi individu daripada nilai-nilai dalam dirinya
M : (FM + m) = 2: 3 = M < (FM+m), artinya kurang mampu untuk
mengintegrasikan antara nilai dgn dorongan yg dimilikinya shg kurang
stabil dan hanya mampu memendam dorongannya.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 73

RAHASIA

The organizational of affectional need


(FK+Fc) : F = 0 : 3 = (FK+Fc) > F, artinya adanya pengalaman
rejected di masa kecil secara afeksi, atau kurang diterima secara
afeksi shg mempengaruhi perilaku.
Differentiated shading undifferentiated shading = (FK+Fc+Fk)
(K+KF+k+kF+c+cF) =1:1, artinya kurangnya pemenuhan kebutuhan
secara afeksi, shg kurang mampu utk menampilkan perilaku yg
melibatkan afeksi. S cukup mampu bereaksi terhadap stimulus
emosional, dibandingkan dengan stimulus afeksi.
Constrictive control
F% = 30% = F% = 20%-50% artinya tingkat kontrol individu cukup
baik sehingga penyesuaiannya semakin baik, dapat mengontrol prilaku
tanpa terganggu hubungan dengan realitas
FK + F + Fc < 75% = 30%, artinya kesulitan untuk dekat secara
personal thd orang lain, dan kurang hangat. (normal 50% - 75%)
Emotional Reactivity to the enviroment
FC : (CF+C) = 1 : 0 = artinya, mungkin tidak mampu atau tidak mau
terlibat dengan reaksi emosional meskipun situasi menuntut respon
emosi yang lebih mendalam.
Sum C = 0.5, artinya kurang peka secara emosional terhadap stimulus
emosional.
Respons kartu VII+IX+X = 20%, artinya mengalami hambatan untuk
bereaksi secara emosional thd lingkungan.
Perbedaan rata-rata RT achromatic : chromatic = 43,8 dtk : 26,4 dtk,
artinya mengalami hambatan untuk bereaksi secara emosional thd
lingkungan.
Proportions Relating to intellectual aspects
Jumlah respon : 10, artinya kurang produktif, kurang spontanitas.
Rata-rata respon time : 141,5 dtk, artinya ada kemungkinan depresi.
(H+A) : (Hd+Ad) = 7 : 1, artinya kritis atau tanggap dlm menghadapi
suatu masalah.
Number of W = 40%, artinya diatas rata-rata, yaitu well-organized
secara konseptual; adanya kecemasan.
Number of D = 60%, artinya diatas rata-rata, yaitu butuh untuk
mengikat diri dengan pandangan sehari2 dan praktis .
A % = 60%, artinya kesulitan dalam penyesuaian diri.
Suksesi = rigid.
W : M = 4 : 2, artinya aspirasi terlalu tinggi dan melebihi potensi
kreatif.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 74

RAHASIA

M : sum C = 2 : 0.5, artinya lebih banyak dipengaruhi dorongan dlm


diri dibanding stimulus dari luar.
(FM+m) : (Fc+c+C) = 3 : 1, artinya dalam berperilaku lebih
dikarenakan adanya dorongan dlm diri, bukan stimulus dr luar,; ada
kemungkinan depresi atau withdrawal.
M = 2 (dibawah normal) artinya indikasi gangguan afek
3. WZT
Secara keseluruhan = kosong, kurang pandai dalam mengolah
stimulus yg didapatkan, walaupun ia mampu meresponnya dgn baik.
R 1,2,7,8 = inadekuat, kurang mampu berinteraksi secara emosional
dan kurang hangat. Kurang memiliki pengalaman yang melibatkan
emosi dalam berperilaku.
R 3 = inadekuat, memiliki motivasi berprestasi yang kurang baik, dan
juga kurang mampu menyalurkan energi yang dimilikinya sehingga
keinginannya kurang mampu ia dapatkan dengan maksimal (R5.
Inadekuat)
R 4, 6 = kurang terampil dalam problem solving yang sifatnya
kompleks, begitu pula dengan masalah yang sederhana.
R5= daya juangnya lemah.

4. DAP
Gambar kecil dikiri : regresif insecure namun tidak disertai dengan
kepercayaan diri yang cukup sehingga mengalami kecemasan (garis
berulang-ulang)
Mata tertutup : kurang mampu berelasi secara mendalam dgn orang
lain.
Tidak ada leher: kurangnya regulasi antara dorongan dan perasaan.
Badan kaku= kurang hangat dengan orang lain, kurang bisa
memberikan perhatian.
5. BAUM
Pohon sedang : regresif dan insecure namun dibarengi dengan
kecemasan (garis berulang-ulang)
Batang besar : dorongan besar, namun kurang disertai dengan usaha
dan arah yang jelas untuk pencapaian tujuan yg diinginkan
Daun tertutup : kurang percaya diri, cenderung tertutup terhadap
lingkungan luar.
Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 75

RAHASIA

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 76

RAHASIA

PARADIGMA PSIKOPATOLOGI
Childhood
Membutuhkan
berperan

ayah

kuat

yg

Ayah kurang berperan


dlm keluarga
Ayah dan ibu
tdk
memberikan afek dan
perhatian

dlm

keluarga

Later Life

Kebutuhan

afeksi

&

perhatian dari ortu


Diabaikan secara afeksi & emosional
oleh ayah
Keluarga kurang harmonis
Hubungan dengan saudara kandung yg
lain (kakak2nya) tidak harmonis
Ibu kurang memberikan kasih sayang &
Pada
saat sakit typus dan dirawat di RS
perhatian
Precipitating event
keluarga tidak ada yang peduli padanya

Traumatic event

Setelah dua tahun perkawinan, suami


mulai kurang memberikan perhatian dan
kasihAlien
sayang
Ego

Ego

The Complex
Hostile kepada ibu

Kebutuhan diterima o/ibu

Merasa tidak berdaya

Mendapat pengakuan
dari lingkungan sekitar

Kurang mampu berelasi


secara emosional &
kurang hangat
Kurang
mampu
berelasi
secara
emosional
&
kurang hangat

Mampu berelasi secara


Anxiety

Merasa tidak
Kepala
berdaya

hangat dan ekspresif


secara emosional

Sakit
Merasa tidak
yang DAFTAR PUSTAKA
berdaya
Kurang mampu
berkepanjanga
n
berelasi secara

Sulit
mengambil
keputusan

emosional &

American Psychiatric Association. 2004. Diagnostic and Statistical Manual of


kurang hangat
Mental Disorders IV Text Revision.
Washington DC: APA.
Davidson, C.G., Neale J.M, Kring A.M, 2006, Psikologi Abnormal, (terjemahan :
Nurmalasari Fajar) Edisi kesembilan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
Durand, V. M., & Barlow, D. H. 2007. Intisari Psikologi Abnormal. Edisi keempat
Jilid 1. Alih Bahasa: Helly Prajitno Soetjipto & Sri Mulyantini Soetjipto.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fausiah F, Widury J. 2008. Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta :
Universitas Indonesia.

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 77

RAHASIA

Maslim, R. 2002. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.
Millon, T., Grossman, S., Millon, C., Meagher, S., & Ramnath, R. 2004.
Personality Disorders in Modern Life Second Edition. New Jersey: John Wiley
& Sons, Inc.
Nevid, S. J., Rathus, S. A., & Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal. Edisi 5 Jilid 2.
Alih bahasa: Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: Erlangga
Wiramihardja S. A., 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung : PT. Refika
Aditama

Kasus II
JUNAIDI 190420080022

Page 78