Anda di halaman 1dari 175

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air
dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling
beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27.000 di seluruh dunia. Secara
taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya
masih diperdebatkan. Biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas
Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas
Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan
bertulang keras (kelas Osteichthyes). Ikan dalam berbagai bahasa daerah disebut
iwak jukut (Santoso,1996).
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14
meter (45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4
inci).Ada beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai ikan, seperti ikan
paus, ikan cumi dan ikan duyung, yang sebenarnya tidak tergolong sebagai ikan.
Ikan dapat ditemukan di hampir semua air tawar, air payau maupun air asin pada
kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah
permukaan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan untuk dipelihara dan
dipamerkan dalam akuarium. Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan
air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika
digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan
dalam jumlah kecil atau olah raga sering disebut sebagai memancing. Hasil
penangkapan ikan dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100 juta ton
(Villie,1999).

Ikan nila Oreochromis niloticus, dengan nama internasional nile tilapia berasal
dari sungai Nil di Afrika. Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan budi daya
yang cukup dikenal baik secara nasional maupun internasional. Ikan nila menjadi
terkenal karena memiliki banyak keunggulan. Keunggulan-keunggulan yang
dimiliki oleh ikan nila yaitu mudah berkembangbiak, cepat pertumbuhannya,
anaknya banyak, ukuran badan relative besar, tahan penyakit, sangat mudah
beradaptasi, relative murah harganya dan dagingnya pun enak (Yatim,1974).
Ikan nila seluruh tubuhnya diselubungi sisik, di samping itu ikan nila juga
memiliki gurat sisi. Ikan nila sebagai pemakan plankton sifatnya cenderung
omnivorous, artinya tidak memerlukan pakan yang khusus. Selain itu, ikan nila
juga memiliki suatu kelebihan, yaitu ikan nila berkemampuan untuk dapat hidup
pada rentang salinitas yang lebar shingga ikan nila dapat dibudidayakan di air
tawar, payau, maupun di laut (Radiopoetro,1996).
Morfologi dari Oreochromis niloticus dapat dilihat secara jelas dan dapat
dibedakan bagian-bagian tubuhnya anatra lain bentuk tubuh, bentuk mulut, linnea
lateralis, sirip, sungut, sisik, dan ciri-ciri lainnya. Sedangkan bagian tubuh
lainnya, dapat dibagi tiga bagian yaitu kepala (caput), badan (truncus), dan ekor
(caudal). Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut terdepan hingga hingga
ujung operkulum (tutup insang) paling belakang. Bagian badan yakni dari ujung
operkulum (tutup insang) paling belakang sampai pangkal awal sirip belang atau
sering dikenal dengan istilah sirip dubur. Bagian ekor, yakni bagian yang berada
diantara pangkal awal sirip belakang/dubur sampai dengan ujung terbelakang sirip
ekor. Adapun yang ada pada bagian ini antara lain adalah anus, sirip dubur, sirip
ekor dan pada ikan-ikan tertentu terdapat scute dan finlet (Suasono,1960).

Ikan nila dijadikan sebagai objek praktikum di karenakan tubuhnya yang lumayan
besar sehingga dapat memudahkan pengamatan anatomi,serta harganya yang
relatif murah (Santoso,1962).

1.2Tujuan
Praktikum anatomi pisces ini bertujuan untuk mengetahui mengamati serta
memahami bagian anatomi dari tubuh pisces.

II.TINJAUAN PUSTAKA

Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup diair. Suhu
tubuhnya berubah-ubah tergantung dengan suhu lingkungannya (poikiloterm).
Bergerak dan mempertahankan keseimbangan tubuhnya dengan menggunakan
sirip dan bernafas dengan insang, namun selain menggunakan insang ada juga
ikan yang memiliki alat pernafasan tambahan yang fungsinya sama dengan paruparu. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan
jumlah spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Ikan dibagi menjadi ikan tanpa
rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang
rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya
tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Villee,1999).
Selama akhir masa Silur dan awal masa Devon, vertebrata dengan
rahang,anggota super kelas Gnathostomata (mulut berahang) menggantikan
sebagian besar hewan Agnatha. KelasChondrichtyes danOsteichtyespertama kali
munculpada masa ini, bersama-sama dengan suatu kelompok yang diberinama
Plakoderma (Placoderm) atau berkulit lempeng yang saat ini sudah
punah.Vertebrata berahang memiliki dua pasang anggota badan yang berpasangan,
sementara hewan agnatha tidak memiliki anggota badan atau hanyamemiliki
sepasang (Meitanisyah,2010).
Ikan mempunyai sirip yang penting untuk pergerakannya dan sisik yang
berfungsi sebagai penutup tubuhnya. Berdasarkan bentuknya sirip ekor dibedakan
atas tipe rounded, truncate, emerginate, lunate dan forked. Berdasarkan bentuk
sisik dibedakan atas sisik placoid, ganoid, ctenoid dan cycloid. Tipe mulut
berdasarkan letaknya yaitu tipe inferior, superior, terminal dan sub terminal.
Bentuk umum tubuh ikan juga bervariasi seperti fusiform, compresiform,
depressiform, anguiliform, sagititiform dan globiform (Bawa,1998).

Berdasarkan habitat hidupnya, ikan dibedakan dua macam yaitu ikan air
tawar dan ikan air asin (laut). Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan
sebagian atau seluruh hidupnya di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan
salinitas kurang dari 0,05%. Dalam banyak hal lingkungan ini berbeda dengan
lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat
salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis
yang bertujuan menjaga keseimbangan konsentrasi ion dalam tubuh. 41% dari
seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang
cepat yang menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali
(Dwisang,2008).
Bagian tubuh ikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kepala (caput),
badan (truncus), dan ekor (caudal). Bagian kepala yakni bagian dari ujung mulut
terdepan hingga hingga ujung operkulum (tutup insang) paling belakang. Adapun
organ yang terdapat pada bagian kepala ini antara lain adalah mulut, rahang, gigi,
sungut, cekung hidung, mata, insang, operkulum, otak, jantung, dan pada
beberapa ikan terdapat alat pernapasan tambahan (Pratama,2009).
Bagian badan yakni dari ujung operkulum (tutup insang) paling belakang
sampai pangkal awal sirip belang atau sering dikenal dengan istilah sirip dubur.
Organ yang terdapat pada bagian ini antara lain adalah sirip punggung, sirip dada,
sirip perut, hati, limpa, empedu, lambung, usus, ginjal, gonad, gelembung
renang.Bagian ekor, yakni bagian yang berada diantara pangkal awal sirip
belakang atau dubur sampai dengan ujung terbelakang sirip ekor. Adapun yang
ada pada bagian ini antara lain adalah anus, sirip dubur, sirip ekor, dan pada ikanikan tertentu terdapat scute dan finlet.Pencernaaan pada ikan berlangsug secara
fisik dan kimiawi. pencernaan secara fisik dimulai dari bagian rongga mulut yaitu
dengan berpaaranya gigi dalam proses pemotongan dan penggerusan makanan.
pencarnaan mekanik ini juga berlangsung disegemen tambung dan usus yaitu

melalui gerak gerak ( kontaraksi ) otot pada segmen tersebut. pencernaan


mekanik pada segmen lambung dan usus terjadi secara lebih efektif oleh karena
adanaya peran cairan digestif (Andri,2001).
Ikan memiliki sistem ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pegeluaran
yang disebut lubang urogenital ialah lubang tempat bermuaranya saluran ginjal
dan yang berada tepat dibelakang anus. Ginjal pada ikan yang hidup di air laut
memiliki sedikit glomelurus sehingga perisa hasil metabolisme berjalan lambat
dibandingkan ikan air tawar (Radiopoetro,1996).
System reproduksi ialah sisem untuk mempertahankan spesies dengan
menghasilkan keturunan yang fertile. Embriologi ialah urutan proses
perkembangan dari zigot sampai pada anak ikan. organ reproduksi diantarannya
organ kelamin (gonad) menghasilka sel kelamin (gamet) yaitu spermatozoa
(gonad jantan), biasanya sepanjang kiri dan kanan lalu mengahasilkan pula telur
(gonad betina) yaitu ovarium (Rustidja,1996).
Klasifikasi lengkap ikan nila adalah sebagi berikut:
Fillum

: Chordate

Sub Fillum

: Vertebrata

Kelas

: Detoichtyas

Sub Kelas

: Achanthoptarigi

Ordo

: Parcomorphi

Sub Ordo

: Parchokka

Family

: Cichlidan

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus (Santoso, 1962)


III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat

Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin 3 Maret 2014, pada pukul 14.00, di
Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi,Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2. Alat Dan Bahan


Alat yang di gunakan pada praktikum anatomi pisces ini yaitupisau bedah,
gunting bedah, pinset runcing, bak bedah dan jarum suntik. Sedangkan bahan
yang di gunakan untuk praktikum anatomi piscesini adalah sepasang ikan nila
(Oreochromis niloticus)jantan dan betina.

3.3. Cara Kerja


Alat dan bahan yang digunakan disiapkan. Kemudian ikan di bius menggunakan
kloroform. Setelah itu,ikan di letakan di atas bak bedah. Sebelum melakukan
pembedahan,di lakukan pengamatan morfologi dari ikan. Setelah di lakukan
pengamatan secara morfologi,pengamatan selanjutnya di lakukan untuk
mengamati bagian dalam tubuh ikan. Daerah caudal dan bagian mulut di beri
jarum pentul yang ditusukan pada bak bedah untuk menahan tubuh ikan saat di
lakukan pembedahan. Setelah itu di lakukan pembedahan secara hati-hati dengan
menggunakan gunting atau pisau bedah. Pembedahan dimulai dari daerah sirip
pektoral kearah posterior hingga kloaka. Dari kloaka di lakukan pengirisan kearah
dorsal hingga ke daerah sirip dorsal. Dinding tubuh kemudian di buang dengan
melakukan irisan kearah caudal hingga bertemu irisan dari daerah kloaka. Setelah
dinding tubuh di lepas,diamati organ-organ dalam yang terdapat pada tubuh ikan.
Organ dilepaskan satu persatu sesuai dengan topografinya dan di letakan pada

kertas,kemudian organ tersebut diberi keterangan. Pengamatan yang telah di


lakukan di gambarkan pada buku kerja.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Anatomi Sistem Sirkulasi Pisces

a
Gambar.4 Anatomi sistem sirkulasi pisces, (a) Cor
Berdasarkan pengamatan yang telah di lakukan dapat diketahui bahwa pisces
memiliki jantung yang terletak di dekat organ hati pada ikan. Pisces memiliki
jantung dua ruang yakni satu serambi dan satu bilik. Pices memiliki tipe peredaran
darah tertutup tunggal. Berdasarkan hasil pengamatan, warna atrium
terlihat lebih gelap, sedangkan ventrikel terlihat terang dan
berdinding tebal.
Hal tersebut sesuai denagan yang terdapat pada
literatur,bahwawarna atrium akan terlihat lebih gelap dari pada
ventrikel. Sistem Peredaran darah pada ikan adalah sistem
peredaran darah tunggal tertutup,dengan rincian sebagai
berikut. Pertama darah mengalir dari sinus venosum ke atrium
dan dari atrium ke ventrikel otot. Kontaksi ventrikel otot
memaksa darah masuk ke dalam conus arteriosus yang kecil dan
keluar melaui ventral aorta pendek dan menuju ke insang melalui
empat pasang brachial arteries yang berbeda. Serambi
(atrium)pada jantung berfungsi sebagai penerima darah dari
seluruh tubuh dan satu bilik (ventrikel) yang berfungsi
menyalurkan darah ke insang.Arteri aferent branchialis berfungsi
mengalirkan darah ke insang membawa darah yang

10

mengandung karbondioksida, sedangkan arteri efferent


branchialis mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan
membawa oksigen ke organ tubuh (Suasono,1960).
4.2.Anatomi Sitem Respirasi Pisces

d
Gambar.2. Anatomi respirasi pisces, (a) gill raker,(b) arcus branchiolis,
(c) filamen,(d) lamela,(e) swimming bleder.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan,didapatkan hasil seperti gambar
tersebut. Organ yang dapat diamati yaitu insang dan gelembung renang. Bagian
bagian dari insang yaitu,gill raker,arcus branchialis,filamen dan lamela.
Gelembung renang terdapat di dekat punggung. Gelembung renang berfungsi
untuk mengetahui perubahan tekanan di dalam air saat ikan berenang.
Hal tersebut sesuai dengan yang ada di dalam literatur.
Pada literatur tertulis bahwa ikan nilla bernapas dengan insang
yang terdapat pada sisi kiri dan kanan kepala. Masing-masing

11

mempunyai empat buah insang yang ditutup oleh tutup insang


(operkulum). Proses pernapasan pada ikan adalah dengan cara
membuka dan menutup mulut secara bergantian dengan
membuka dan menutup tutup insang. Pada waktu mulut
membuka, air masuk ke dalam rongga mulut sedangkan tutup
insang menutup. Oksigen yang terlarut dalam air masuk berdifusi
ke dalam pembuluh kapiler darah yang terdapat dalam insang.
Dan pada waktu menutup, tutup insang membuka dan air dari
rongga mulut keluar melalui insang. Bersamaan dengan
keluarnya air melalui insang, karbondioksida dikeluarkan.
Pertukaran oksigen dan karbondioksida terjadi pada lembaran
insang. Tiap lembaran insang terdiri dari sepasang filamen, dan
tiap filamen mengandung banyak lapisan tipis (lamela). Pada
filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak kapiler
sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi
keluar. Insang pada ikan bertulang sejati ditutupi oleh tutup
insang yang disebut operkulum, sedangkan insang pada ikan
bertulang rawan tidak ditutupi oleh operkulum.Ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat
punggung(Wardoyo,1997).

4.3. Anatomi Sistem Pencernaan Pisces

12

cd e

Gambar.3. Anatomi sistem pencernaan pisces, (a) intestinum tanue,


(b) intestinum crasum,(c) ventriculus,(d) pangkreas,
(e) vesica velea,(f) hepar.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan,didapatkan hasil seperti gambar
tersebut. Organ yang dapat diamati yaitu intestinum tanue,intestinum
crasum,ventriculus,pangkreas,vesica velea dan hepar. Sistem pencernaan terbagi
atas dua,yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Intestinum
tanue,intestinum crasum serta ventriculus merupakan bagian dari saluran
pencernaan. Sedangkan hepar dan vesica velea merupakan bagian dari kelenjar
pencernaan.
Di dalam literatur disebutkan bahwa sitem pencernaan
pada ikan merupakan serangkaian jalur yang melalui berbagai
organ yaitu dimulai dari mulut, pharink, esophagus, lambung,
usus (intestin)dan anus. Pada pengamatan ketika praktikum,
hanya terlihat bagian intestine atau usus yang terletak dibawah
gonad dan berwarna coklat kehijauan. Bentuknya memanjang
yang terlihat sebagai rangkaian saluran bulat yang panjang dan
terjalin. Selain itu, dapat diamati bagian dari kelenjar pencernaan
yaitu hepar (hati) ikan yang berbentuk kecil berwarna merah tua
dan terletak dekat dengan jantung dan kantung empedu yang

13

berwarna kehijauan dan berbentuk bulatan kecil. Fungsi kelenjar


pencernaan ini adalah untuk membantu sistem-sistem
pencernaan dalam mencerna makanan (Andri,2001).

4.5.SITEM UREGENETALIA

Gambar.5 Anatomi Sistem Urogenitalia, (a) Testis,(b) Ren,


(c) ovarium.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan,didapatkan hasil seperti gambar di
atas. Organ yang dapat diamati yaitu testis,ginjal dan ovari. Testis dan ovarium
merupakan saluran gonad yang terlihat secara jelas pada praktikum. Testis akan
menghasilkan sperma,dan ovarium akan menghasilkan ovum. Selain saluran
gonad,sistem urogenitalia disusun juga oleh ginjal dengan tipe pronephros,yakni

14

tipe ginjal yang masih sangat primitif dengan warna merah tua,berbentuk
memanjang dan terletak pada vertebrae dari ikan.
Hal tersebut sesuai dengan yang di sebutkan di dalam literatur,yakni
Sistem urogentalia terbagi atas dua bagian besar yakni sistem ekskresi dan sistem
reproduksi. Mekanisme ekskresi pada ikan yang hidup di air tawar adalah : ikan
tidak banyak minum, aktif menyerap ion organic, melalui insang dan
mengeluarkan urin yang encer dalam jumlah yang besar(Dwisang, 2008).
Sistem Ekskresi melibatkan organ insang, kulit, Ginjal berfungsi
mengekskresikan zat-zat sisa metabolism yang mengandung Nitrogen
(Pratama,2009).
Insang sebagai organ pernafasan ikan. Kulit sebagai organ ekskresi karena
mengandung kelenjar keringat yang mengeluarkan 5%, 10%dari seluruh
metaydisme (Pratama, 2009).
Sistem reproduksi pada jantan mempunyai tistis. Pada ikan betina
mempunyai indung telur, keduanya terletak pada rongga perut. Sebelah kandung
kemih dan kanan cili mentari keadaan Gonad Ikan sangat menentukan
kedewasaan ikan, meningkat dengan makin meningkatnya fungsi Gonad. Ikan nila
umumnya memiliki gonad, terletak pada bagian posterior rongga perut disebelah
bawah ginjal(Pratama, 2009).

V. PENUTUP

15

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang di dapatkan, dapat di simpulkan bahwa:
1. Sistem respirasi dari ikan terdiri atas insang dan gelembung renang.
2. Sistem digestori ikan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan.
Saluran pencernaan dimulai dari mulut, pharink, esophagus,
lambung, usus (intestin)dan anus. Dan kelenjar pencernaan
berupa vesica velea dan pangkreas.
3. Sistem sirkulasi terdiri atas jantung dengan dua ruang,dan
aliran darah tertutup tunggal.
4. Sistem urogenitalia teridiri atas gonad jantan berupa testis
dan gonad betina berupa ovum. Selain itu terdapat pula 2
pasang ginjal dengan tipe pronephros.
5.2 Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lebih baik,maka di sarankan agar praktikan
terlebih dahulu mengetahui materi yang akan di praktikumkan.Berhati- hati saat
melakukan pembedahan agar organ pada objek tidak ada yang terpotong.
Kemudian menjalankan praktikum dengan sungguh-sungguh. Selain itu praktikan
juga disarankan agar menggambar objek dengan benar di dalam buku kerja serta
memberikan keterangan pada objek yang di gambarkan dengan sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

16

Andri. 2001. Sistem Pencernaan Hewan. Putra Media: Bandung


Bawa,Wayan. 1998. LKM Zoologi Vertebrata. Singaraja: Program Semi-Que.
Dhewi. 2008. Kualitas Ikan Nila. Jakarta: Graha Ilmu.
Dwisang. 2008. Struktur Tubuh Ikan Nila. Yogyakarta: UGM
Meitanisyah. 2010. Anatomy of Fish. Jakarta:Erlangga.
Pratama. 2009. Morfologi Ikan Nila. Jakarta: Airlangga.
Putra, adriansyah. 2010. Macam-Macam Sisik Ikan Nila. Jakarta: Graha Ilmu.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlanggga.
Rustidja. 1996. Sistem Reproduksi Pisces. Jakarta: Pustaka Utama
Santoso, Budi. 1996. Budidaya Ikan Nila. Yogyakarta: Kasinius.
Santoso,Budi. 1996. Sistem Reproduksi. Yogyakarta: Kasinius.
Suasono. 1960. Sistem Sirkulasi Vertebrata. Yogyakarta: Balai Pustaka .
Villee,Walker Barnes. 1990. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga.
Wardoyo. 1997. Sistem Respirasi. Bandung: Pustaka Jaya.
Yatim,Wildan. 1974. Biologi. Bandung: Tarsito.

17

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Katak sawah (Fejevarya cancrivora) dipilih untuk mewakili kelas amphibia


karena mudah didapatkan. Fejevarya cancrivora dapat menunjukan persamaan
dalam bentuk dan fungsi dengan vertebrata tinggi. Susunan tubuh mudah
dipelajari dan cara hidupnya sederhana (Susanto, 1994).
Amphibia berasal dari kata amphi artinya rangkap dan bios artinya
hidup. Jadi amphibia berarti hewan yang hidup dalam dua fase kehidupan, yaitu
dari kehidupan air ke kehidupan darat. Fase strukturnya menunjukkan bahwa
amphibia merupakan kelompok chordata yang keluar dari kehidupan air. Hewan
yang dapat hidup di dua habitat yang berbeda, pasti akan menjumpai dua
kelompok musuh (Radiopoetro, 1996).
Cara hidup katak sangat berbeda dengan ikan, hewan ini tidak hidup di
perairan dalam, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya di darat.
Samahalnya dengan jenis ikan, katak tidak memiliki leher. Kulitnya lunak dan
agak berlendir, tidak mempunyai ekor karna dapat menghalangi gerak meloncat.
Fungsi kulit pada katak yaitu untuk melindungi tubuh dari lingkungan luar dan
sebagai alat pernapasan. Proses terjadinya pernapasan melalui kulit yang
dilengkapi dengan kelenjar - kelenjar yang menghasilkan lendir agar permukaan
kulit selalu basah. Bentuk kelenjar kulit pada katak seperti piala, terdapat tepat di
bawah epidermis dan salurannya melalui epidermis yang bermuara di permukaan
kulit. Mekanisme pernapasannya melalui dua fase, yaitu inspirasi dan
ekspirasi.Katak sawah (Fejervarya cancrivora) memiliki ciri-ciri khusus

18

diantaranya memiliki kulit yang selalu basah dan berkelenjar, tidak bersisik
luar.Katak tidak memiliki leher dan ekor yang jelas. Memiliki dua pasang kaki
untuk berjalan dan berenang, berjari 4 pada kaki bagian depan dan berjari 5 pada
kaki bagian belakang. Jari katak berbentuk silindris dan pipih serta terkadang
memiliki lipatan kulit lateral yang lebar. Sisi tubuh katak memiliki lipatan kulit
lateral lebar dan kelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal paha
yang disebut lipatan dorsal lateral. Terdapat juga lipatan serupa yang disebut
lipatan suprasimponik dimulai dari belakang mata memanjang di atas membran
tymphani dan berakhir dekat pangkal lengan. Tidak memiliki sirip dan
pernapasannya dengan menggunakan insang ketika masih berbentuk berudu dan
menggunakan kulit dan paru-paru ketika telah dewasa. Cor terbagi atas 3 ruangan,
yakni dua ruangan auricula dan satu ventriculum. Terdapat 2 buah nares, mata
berkelopak yang dapat digerakan, mulut bergigi dan berlidah (Storer, 1975).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum anatomi hewan ini adalah untuk melihat dam
mengamati anatomi katak sawah (Fejevarya cancrivora). Serta untuk mengetahui
beberapa sistem tubuh katak, seperti sistem reproduksi (beda jantan dan betina),
sistem peredaran darah dan sistem pernapasan atau respirasi.

19

II. TINJAUAN PUSTAKA

Amphibia berasal dari kata amphi yang artinya rangkap, dan bios yang artinya
kehidupan. Dan amphibia adalah hewan yang hidup dengan dua bentuk
kehidupan,mula-mula dalam air tawar kemudian dilanjutkan di darat. Fase
kehidupan di dalam air berlangsung sebelum alat reproduksinya masak, keadaan
ini merupakan fase larva atau biasa disebut berudu (Radiopoetro, 1977).
Amphibia mempunyai ciri-ciri, seperti tubuhnya diselubungi kulit yang
berlendir, merupakan hewan berdarah dingin atau poikiloterm, amphibia
mempunyai jantung yang terdiri dari tiga ruangan, yaitu dua serambi dan satu
bilik,mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap kakinya terdapat selaput renang
yangterdapat di antara jari-jari kakinya dan kakinya berfungsi untuk melompat
dan berenang diair, matanya mempunyai selaput tambahan yang disebut
membrana niktitans yangsangat berfungsi saat menyelam di dalam air,pernafasan
pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernafasannya
berupa paru-paru dan kulit,hidungnya mempunyai katup yang berfungsi untuk
mencegah air masuk ke dalamrongga mulut ketika menyelam,berkembang biak
dengan cara melepaskan telurnya dan dibuahi oleh jantan di luar tubuh induknya
yang disebut dengan pembuahan eksternal, otak amphibia memiliki 10 pasang
syaraf kranialis, dan mengalami metamorfosis sempurna dalam hidupnya
(Sumanto, 1994)
Amphibia dikelompokan kedalam empat ordo yaitu Gymnophiona
(Caecilians), Trachystomata (Sirens), Caudata dan Anura (Frogs and Toads).
Sementara ahli lain membagi amphibi kedalam tiga ordo meliputi Gymnophiona
(Caecilians), Caudata (Salamanders) dan Anura (Frogs and Toads) (Jasin, 1989)
Anura merupakan ordo yang memiliki jumlah spesies terbesar
dibandingkan Ordo lainnya. Anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti
namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala
bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik.
Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung

20

pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat selaput


diantara jari-jarinya. Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan
ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat
digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik. Fertilisasi secara
eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang tenang dan dangkal
(Brotowidjoyo, 1994).
Katak sawah (Fejervarya cancrivora) termasuk ordo Anura. Kepala dan
tubuhnya bersatu, tidak mempunyai leher dan juga tidak mempunyai ekor. Katak
tidak mempunyai ekor, karena menghalang-halangi gerak meloncat. Anggota
gerak depan lebih pendek dan kecil dibandingkan yang belakang. Jari-jarinya
hanya ada empat buah. Jari-jari anggota belakang ada lima buah. Anggota gerak
bagian belakang ini jauh lebih besar dan panjang. Otot pahanya besar dan kuat
untuk meloncat. Selaput renang yang terdapat antara jari-jari belakang digunakan
untuk memudahkan berenang. Fertilisasinya eksternal. Larva (berudu) dengan
ekor dan sirip-sirip median. Metamorfosis nyata dan mencolok
(Mahardono,1980).
Pada katak terbagi atas caput, truncus, ekstremitas anterior dan ekstremitas
posterior. Pada caput terdapat rima oris yang lebar untuk memasuknya makanan,
nares externs mempunyai peranan dalam pernapasan, sepasang organon visus
(mata) yang bulat dan di belakang mata terdapat membran tymphani untuk
menerima getaran suara. Ekstremitas anterior berupa kaki depan yang berukuran
pendek yang terdiri atas brachium, antebrachium, carpus (pergelangan tangan),
manus, digiti, dan palm (pada jantan). Ekstremitas posterior terdiri atas femur,
cruss, pedes, tarsus, dan digiti (Pujaningsih, 2007).
Sistem pencernaan pada katak terdiri atas rongga mulut (cavum oris),
faring, oesophagus, gastrum, duodenum, intestine, colon dan cloaca. Cavum oris
ialah lebar. Bangunan-bangunan yang berbeda di dalam cavum oris ialah dentes
dan lingua. Cavum oris bagian dasar, sebelah anterior berpangkal lingua dengan
ujung yang bebas di sebelah posterior. Ujungnya berlekuk sehingga nampak
bercabang dan oleh karena itu disebut difida. Lingua dapat dijulurkan keluar

21

dengan cepat yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan mangsanya ke


dalam mulut (Radiopoetro, 1977)
Sistem ekskresi pada katak terdiri dari ren, ureter, vesica urinaria, dan
papilla urogenitalis. Sepasang ren yang memanjang, melekat pada dinding dorsal
abdomen, kanan dan kiri linea mediana. Ureter ialah saluran yang keluar dari ren,
ia berjalan ke caudal berakhir pada papilla urogenitalis yang bermuara pada
cloaca. Sebuah tonjolan keluar berupa kantung dua lobi berdinding tipis terdapat
pada dinding cloaca yang meluas ke dalam cavum abdominalis. Kantung ini
berguna untuk menyimpan urine dan ia disebut vesica urinaria (Storer, 1975).
Reproduksi pada amphibia ada dua macam yaitu secara eksternal pada
anura pada umumnya dan internal pada Ordo Apoda. Proses perkawinan secara
eksternal dilakukan di dalam perairan yang tenang dan dangkal. Di musim kawin,
pada anura ditemukan fenomena unik yang disebut dengan amplexus, yaitu katak
jantan yang berukuran lebih kecil menempel di punggung betina dan mendekap
erat tubuh betina yang lebih besar. Perilaku tersebut bermaksud untuk menekan
tubuh betina agar mengeluarkan sel telurnya sehingga bisa dibuahi jantannya.
Amplexus bisa terjadi antara satu betina dengan 2 sampai 4 pejantan di bagian
dorsalnya dan sering terjadi persaingan antar pejantan pada musim kawin. Siapa
yang paling lama bertahan dengan amplexusnya, dia yang mendapatkan
betinanya. Amphibia berkembang biak secara ovipar, yaitu dengan bertelur,
namun ada juga beberapa famili amphibia yang vivipar, yaitu beberapa anggota
ordo apoda (Yatim, 1990).
Pada pembuahan eksternal biasanya dibentuk ovum dalam jumlah besar,
karena kemungkinan terjadinya fertilisasi lebih kecil dari pada pembuahan secara
internal. Pada katak betina menghasilkan ovum yang banyak, kalau kita
membedah katak betina yang sedang bertelur, kita akan menjumpai bentukan
berwarna hitam yang hampir memenuhi rongga perutnya, itu merupakan ovarium
yang penuh berisi sel telur, jumlahnya mencapai ribuan. Pada katak betina juga
ditemukan semacam lekukan pada bagian leher, yang berfungsi sebagai tempat
pegangan bagi katak jantan ketika mengadakan fertilisasi. Hal ini diimbangi
oleh katak jantan dengan adanya struktur khusus pada kaki depannya, yaitu

22

berupa telapak yang lebih kasar. Fungsinya untuk memegang erat katak betina
ketika terjadi fertilisasi (Halliday, 1994).
Saluran reproduksi betina pada katak, tiap oviduct merupakan suatu
saluran sederhana berkelompok yang menjulur dari bagian anterior rongga tubuh
ke cloaca. Oviduct mempunyai sel kelenjar yang mensekresi lapisan jeli disekitar
telur, dan bagian bawah melebar untuk penampungan telur sementara, tetapi selain
itu oviduk tidak mengalami spesifikasi. (Susanto, 1994).
Fejervarya cancrivora mempunyai dua pasang extrimitas, yaitu extrimitas
anterior dan extrimitas posterior. Susunan musculusnya berhubungan dengan
kompleks dari extrimitas posterior. Katak jantan dapat dikenali pada masa
berkembang biak melalui extrimitas posterior, yaitu pada medio ventral jari
pertama terdapat penebalan kulit dengan hyperpigmentasi. Penebalan berguna
untuk memegang hewan betina pada waktu meletakkan telur-telurnya dalam
fertilisasi (Yatim, 1990).

23

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum anatomi amphibia dilakukan pada pukul 13.00 WIB, tanggal 17 Maret
2014 bertempat di Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dn Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Anddalas, Padang.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum anatomi amphibia adalah pisau cuter,
gunting bedah, pinset, killing bottle,bak lilin,sterofoam, tisu gulung, sabun cuci,
masker dan sarung tangan. Sedangkan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum
anatomi amphibia ini adalah Fejervarya cancrivorajantan dan betina.

3.3 Cara Kerja


Alat dan bahan yang digunakan disiapkan. Kemudian katak di bius menggunakan
kloroform. Setelah itu, katak di letakan di atas bak bedah. Sebelum melakukan
pembedahan,di lakukan pengamatan morfologi dari katak. Setelah di lakukan
pengamatan secara morfologi,pengamatan selanjutnya di lakukan untuk
mengamati bagian dalam tubuh katak. Daerah caudal dan bagian mulut di beri
jarum pentul yang ditusukan pada bak bedah untuk menahan tubuh katak saat di
lakukan pembedahan. Setelah itu di lakukan pembedahan secara hati-hati dengan
menggunakan gunting atau pisau bedah. Setelah dilakukan pembedahan,diamati
organ-organ dalam yang terdapat pada tubuh ikan. Organ dilepaskan satu persatu
sesuai dengan topografinya dan di letakan pada kertas,kemudian organ tersebut

24

diberi keterangan. Pengamatan yang telah di lakukan di gambarkan pada buku


kerja dan didokumentasikan.

25

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Morfologi Amphibia


Pada praktikum mengenai anatomi amphibia, amphibia yang digunakan adalah
Fejeverya cancrivora (katak sawah). Sebelum mengamati anataomi dari katak
tersebut kita harus mengetahui morfologi dari katak tersebut dan beda morfologi
katak jantan dengan katak betina. Dari pengamatan yang kami lakukan kami
mengamati bahwa ukuran tubuh katak betina lebih kecil dibandingkan ukuran
tubuh katak jantan. Di dalam berbagai literatur kami dapatkan bahwa ukuran
tubuh katak betina lebih besar daripada tubuh katak jantan. Ukuran tubuh katak
betina yang kami amati lebih kecil dibandingkan dengan ukuran tubuh katak
jantan karena usia dari katak betina jauh lebih muda dibandingkan katak jantan
(Raymond, 1999).
KlasifikasiFejervaryacancrivora adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Sub filum

: Vertebrata

Kelas

: Amphibia

Ordo

: Anura

Famili

: Ranidae

Genus

: Fejervarya

Spesies

: Fejervarya cancrivora

Gambar4.1 morfologi (Jasin, 1989).

Secara umum, morfologi anggota extremitas pada katak terbagi dua yaitu,
extremitas anterior dan extremitas posterior. Organ anggota extremitas anterior
pada katak terdiri dari antebrachium, brachium, digiti, manus. Sedangkan untuk
anggota extremitas posterior tediri atas femur, cruss, pedes, digiti.

26

Pada ujung digiti katak jantan ditemukan adanya palm, yang merupakan
alat untuk menempel pada tubuh katak betina ketika kawin. Pada pengamatan
secara morfologi katak betina kami melihat bahwa anggota extremitas anteriornya
hilang sebelah. Hal ini terjadi disebabkan putusnya anggota extremitas anterior
tersebut ketika pengambilan katak tersebut (Jasin, 1989).
4.2 Anatomi Amphibia

a
b
c

Gambar 4.2 (a) cor, (b) intestinum tenue (c) ventriculus

Pada gambar tersebut yang terlihat adalah bagian cor, intestinum tenue dan
ventriculusnya. Pada pengamatan anatomi katak, katak jantan dan betina dapat
dibedakan dari organ reproduksinya. Pada katak jantan kita dapat mengamati
adanya sepasang testis dan saluran ductus spermaticus. Sedangkan untuk katak
betina kita dapat mengamati adanya sepasang ovarium.
Pada pengamatan sistem pencernaan pada katak terdapat saluran
pencernaan dan kelenjar pencernaan. Organ saluran pencernaan pada katak yang
dapat kami amati adalah ventrikulus, intestinum tenue, intestinum crassum, dan
cloaca. Pada literatur yang didapatkan disebutkan adanya esophagus yang

27

menghubungkan cavum oris dengan ventrikulus. Pada pengamatan kelenjar


pencernaan katak kami dapat mengamati adanya hati ( hepar), pankreas dan
kantong empedu ( vesica vellea) (Raymond, 1999).
Di dalam literatur dinyatakan bahwa oksigen dapat masuk ke dalam tubuh
katak melalui dua cara yaitu, melalui hidung dan difusi melalui kulitnya yang
lembab. Kami mengamati paru-paru pada katak memiliki dua lobus yang tidak
jauh berbeada dengan paru-paru mamalia.Untuk pengamatan sistem urogenetalia
pada katak, kami menemukan adanya ginjal (ren). Bentuk ginjal katak sudah lebih
maju dibandingkan ginjal pada pisces. Di dalam literatur dinyatakan ginjal pada
katak memiliki tipe mesonephros. Pada katak jantan, saluran urin dan saliran
sperma meruapakan satu saluran yang disebut ductus spermaticus. Untuk
pengamatan sistem reproduksi katak jantan, kami megamati adanya sepasang
testis yang berbentuk oaval dansedikit memanjang. Di dalam literatur dinyatakan
testis pada katak jantan diikat oleh alat penggantungnya yang disebut
mesorchium. Pada pengamatan organ reproduksi katak betina kami mengamati
adanya sepasang ovarium, sepasang oviduk, dan ovisak. Ovarium, yang kami
dapatkan masih dalam keadaan yang masih sedikit dan kecil, karena katak betina
yang kami amati memiliki usia yang masih muda. Ovarium pada katak betina
diikat oleh penggantungnya yang disebut mesovarium. Dibelakang ovarium
ditemukan adanya corpus adiposa yang merupakan llemak yang berfungsi sebagai
cadangan energi ketika akan terjadi pegeluaran ovum (Sudjono, 2009).
Sistem perdaran darah katak merupakan perdaran tertutup ganda. Jantung
pada katak terdiri atas tiga ruang, yaitu atrium mkiri, atrium kanan, dan ventrikel.
Darah yang kotor akan dibersihkan di dalam paru-paru (pulmo). Pada amphibi
saluran pengeluarannya disebut dengan kloaka. Kloaka meruipakan saluran

28

pemngeluaran akhir, baik pengeluaran sisa pencernaan ataupun dari pengeluaran


sistem urogenetalia (Sumato, 1994).

V. PENUTUP

29

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan,dapat disimpulkan bahwa:
1. Tubuh katak terdiri dari caput, truncus, extremitas anterior dan extremitas
posterior.
2. Sistem pencernaan katak terdiri dari rongga mulut, esophagus, ventrikulus,
intestinum tenue, intestinum crasum, dan kloaka.
3. Sistem eksresi pada katak terdiri dari ginjal, ureter, vesica urinaria, dan papilla
urogenitalis.
4. Sistem genitalia pada katak terdiri atas ovarium dan oviduk (pada betina) dan
testis (pada jantan).

5.2 Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lebih baik,maka di sarankan agar praktikan
terlebih dahulu mengetahui materi yang akan di praktikumkan.Berhati- hati saat
melakukan pembedahan agar organ pada objek tidak ada yang terpotong.
Kemudian menjalankan praktikum dengan sungguh-sungguh. Selain itu praktikan
juga disarankan agar menggambar objek dengan benar di dalam buku kerja serta
memberikan keterangan pada objek yang di gambarkan dengan sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

30

Brotowidjoyo, M.D. 1994. Zologi Dasar. Jakarta: Erlangga.


Halliday, et al. 1994. The Encyclopedia of Reptiles and Amphibian. Inggris:
Andromeda Oxford.
Jasin, M. 1989. Sistematik Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Surabaya: Sinar
Wijaya.
Mahardono, A. 1980. Anatomi Katak. Jakarta: Penerbit PT Intermasa.
Pujaningsih, R.I. 2007. Kodok Lembu.Yogyakarta: Kasinus.
Radiopoetro. 1977. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Storer, Usinger. 1975. General Zoologi. New Delhi: Mc Graw-Hill.
Sumanto. 1994. Fisiologi Hewan (Bio-4209). Surakarta: Fakultas Biologi UNS.
Susanto, Heru. 1994. Budidaya Kodok Unggul. Jakarta: Penerbit Swadaya.
Yatim, W. 1990. Biologi Modern Histologi. Bandung: Tarsito.

31

I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hewan pertama yang benar-benar merupakan hewan daratan adalah reptilian.
Mereka berkembang dari amphibian dalam zaman karbon. Dengan datangnya
zaman permulaan, mereka lebih mampu mengatasi keadaan baru daripada
amphibian. Kelebihan utama reptilia yang paling awal terhadap amphibian adalah
perkembangan telur yang bercangkang dan berisi kuning telur (Kimball, 1999).
Kelas reptilia suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis
keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian
besar kadal, ular, penyu atau kura-kura dan buaya ini adalah pengelompokan
tradisional dan didasarkan pada kemiripan semua tetrapoda tersebut. Reptilian
memiliki beberapa adaptasi untuk kehidupan didarat yang umunya tidak
ditemukan pada amphibian. Sisik yang mengandung protein keratin membuat
kulit reptilia kedap air, sehingga membantu mencegah dehidrasi di udara kering.
Dan masih banyak lagi cirri-ciri khusus dari kelas reptilia (Campbell, 1999).
Reptilia adalah kelompok hewan vertebrata yang hidupnya merayap atau
melata di dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah
dingin, yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Walaupun
berdarah dingin reptil melakukan pembiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh
sisik-sisik atau plot-plot dari bahan tanduk (horny scales or plates) yang kering
atau tanpa kelenjer. Umumnya reptil mempunyai dua pasang kaki, masing-masing
mempunyai lima jari yang bercakar, tetapi pada jenis-jenis tertentu kakinya
mereduksi atau sama sekali tidak ada. Rangka dari bahan tulang, oksipital, kondil
hanya satu. Tipe gigi pada reptil adalah labyrinthodont (pada reptil fosil),

32

acrodont, pleurodont, dan thecodont. Jantungnya mempunyai empat ruangan, dua


atrium dan dua ventrikel, tetapi pada sekat dari ventrikel kanan dan kiri belum
sempurna benar. Habitat hidup di darat, air tawar atau air laut, di daerah tropis dan
daerah temperate (Carr,1977).
Reptil terdiri dari empat ordo yaitu Testudinata, Rhynchochephalia atau
Tuatara, Squamata dan Crocodilia. Sub kelas dari Testudinata adalah pleurodira,
cryptodira, paracrytodira. Sub ordo dari Crocodilia adalah gavial, alligator, dan
crocodilidae. Sub ordo dari Squamata adalah sauria (kadal) dan serpentes (ular).
(Pope, 1956)
Denrelaphis pictus merupakan anggota dari subordo Serpentes. Subordo
serpentes dikenal dengan keunikannya yaitu merupakan Reptilia yang seluruh
anggotanya tidak berkaki (kaki mereduksi) dari ciri-ciri ini dapat diketahui bahwa
semua jenis ular termasuk dalam subordo ini. Ciri lain dari subordo ini adalah
seluruh anggotanya tidak memiliki kelopak mata. Sedangkan fungsi pelindung
mata digantikan oleh sisik yang transparan yang menutupinya. Berbeda dengan
anggota Ordo Squamata yang lain, pertemuan tulang rahang bawahnya
dihubungkan dengan ligament elastic (Brotowidjoyo, 1989).
Sistem organ yang membangun tubuh Denderelaphis pictus yakni, Sistema
digestorium, Sistema respiratorium, Sistema urogenitalia, dan Sistema
cardiovascular. Berdasarkan penjelasan tersebut, perlu di lakukan pemahaman
tentang struktur anatomi reptil,hal tersebut dilakukan karena masih kurangnya
pengethuan dan pembelajaran anatomi reptil di kalangan prektikan (Jafnir,1985).

1.2. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui, dan mempelajari tentang anatomi
reptil.

33

II. TINJAUAN PUSTAKA

Ular tambang (Dendrelaphis pictus) adalah sejenis ular kecil dari suku
colubridae.Secara umum, ular ini juga disebut dengan nama ular tali, ular tampar
atauular tampar.Didaerah Toraja ular ini dinamai duwata atau ulelewora.
Dalam bahasaInggris dikenal sebagai Gmelins Bronzeback atau Painted
Bronzeback. Ular tambang menyebar luas mulai dari India sampai ke Asia
Tenggara, termasuk Kepulauan Nusantara ke timur hingga sejauh Maluku
(Goin,1971).
Dendrelaphis pictus memiliki bentuk tubuh yanng kurus ramping, panjang
hingga sekitar 1,5 mmeskipun pada umumnya kurang dari itu. Ekornya panjang,
mencapai sepertiga dari panjang tubuh keseluruhan. Warnanya
coklat zaitun seperti logam perunggu di bagian punggung. Pada masing-masing
sisi tubuh bagian bawah terdapat pita tipis kuning terang keputihan, dipisahkan
dari sisik ventral (perut) yang sewarna oleh sebuah garis hitam tipis memanjang
hingga ke ekor. Kepala kecoklatan perunggu di sebelah atas, dan kuning terang di
bibir dan dagu, dibatasi oleh coretan hitam mulai dari pipi yang melintasi mata
dan melebar di pelipis belakang, kemudian terpecah menjadi noktah-noktah besar
dan mengabur di leher bagian belakang. Terdapat warna-warna peralihan berupa
bintik-bintik hijau terang kebiruan di bagian leher hingga tubuh bagian muka,
yang biasanya tersembunyi di bawah sisik-sisik hitam atau perunggu dan baru
nampak jelas apabila si ular merasa terancam. Sisik-sisik ventral putih kekuningan
atau kehijauan (Poppe,1956).
Ular jenis ini memiliki sisik-sisik dorsal dalam 15 deret di bagian tengah
tubuh, sisik-sisik vertebral membesar, namun tak lebih besar dari deret sisik dorsal
yang pertama (terbawah). Perisai labial 9 buah (jarang 8 atau 10), yang no 5 dan 6

34

(kadang-kadang juga yang no 4) menyentuh mata. Sisik-sisik ventral 167200


buah, sisik anal sepasang, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 127164 buah. Mata
besar, diameternya sama panjang dengan jaraknya ke lubang hidung. Anak mata
bulat hitam; perisai preokular sebuah dan postokular dua buah. Perisai rostral
lebar, terlihat dari sebelah atas; perisai internasal sama panjang atau sedikit lebih
pendek dari perisai prefrontal, perisai frontal sama panjang dengan jaraknya ke
ujung moncong, namun lebih pendek dari perisai parietal; perisai loreal,serta
memiliki lidahnya berwarna merah (Carr,1977).
Ular ini hidup di pohon, namun sering pula turun ke tanah untuk
memangsa katak ataukadal yang menjadi menu utamanya. Tidak jarang terlihat
bergelung di semak-semak atau menjalar di antara rumput-rumput yang
tinggi.Ular tambang menghuni hutan-hutan di dataran rendah dan pegunungan
hingga ketinggian lebih dari 1350 m. Teristimewa ular ini menyukai daerahdaerah terbuka, tepianhutan, kebun, belukar dan tepi sawah. Sering pula
ditemukan merambat di pagar tanaman di pekarangan, dan dengan gesit dan
tangkas bergerak di sela-sela daun dan ranting untuk menghindari manusia
(Bennet,1999).
Sistem yang menyusun anatomi dari ular tambang antara lain sistema
Pencernaan, Sistema Respiratorium, Sistema Urogenital, dan sistema
cardiovascular (Jafnir,1985). Pada sistem pencernaan Dendrelaphis
pictusdibedakan menjadi dua yaitu tractus digestivus (saluran pencernaan) dan
glandula digestoria (saluran pencernaan). Tractus Digesntivum terdiri dari cavum
oris, pharynk, esophagus (kerongkongan), vetriculus, intestinum tenue, cecum,
intestinum crassum dan kloaka. Didalam cavum oris terdapat dentes yang
berbentuk canus. Dentes ini berbentuk pleurodont, artinya menempel pada sisi
samping gingiva, sedikit melengkung ke arah medial cavum oris. Selain itu dalam

35

cavum oris terdapat lingua yang berpangkal pada Os hyldeum di sebelah caudal
cavum oris, ujungnya bersifat befida. Ventriculus berdinding musular yang tebal
dari bentuk silindris. Intestinum crassum berfungsi sebagai rectum. Cecum
merupakan batas antara instestinum tenue dan intestinum crassum. Glandula
digestaria, terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar
ditampung kantong yang disebut vesica fellea. Hepar terdiri atas dua bagian, yaitu
sinister dan dekster dan berwarna coklat kemerahan. Vesica fellea terletak pada
tepi caudal lobus dexter hepatis. Pankreas terletak dalam suatu lengkung antara
ventriculus dan duodenum. Ductus cysticus dari vesica fellea menuju jaringan
pankreas bergabung dengan ductulli pancreatici, kemudian keluar menjadi satu
ductus yang besar disebut hepato-pancreaticus atau ductus choledochus yang
bermuara pada duodenum. Ventriculus terikat pada dinding tubuh dengan
perantaraan suatu alat penggantung yang disebut mesogastrium. Kemudian alat
penggantung instestinum tenue disebut mesenterium, alat penggantung intestinum
crassum (rectum) disebut mesorectum (Radiopoetro, 1996).
Sistem respiratorium, pada reptil umumnya mempunyai trachea yang
panjang dimana dindingnya disokong oleh sejumlah cincin cartilago. Larink
terletak di ujung anterior trachea. Dinding larink ini disokong oleh cartilago
cricoida dan cartilago anytenoidea. Kearah posterior trachea membentuk
percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan bronchus kiri, yang masingmasing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri. Pulmo lacertilia dan ophidia
relatif sederhana. Pada beberapa bentuk, bagian internal pulma terbagi tidak
sempurna menjadi 2 bagian, yaitu bagian anterior berdinding saccuter sedangkan
pada bagian posterior berdinding licin, tidak vasculer dan berfungsi terutama
untuk reservoir (Jassin,1992).

36

Reptil memiliki sistem respirasi yang lebih kompleks bila dibandingkan


dengan respirasi amphibi, pada amphibi tidak mempunyai trachea sedangkan pada
reptil sudah mempunyai trachea. Tractus respiratorius pada Denrelphis
pictusmulai dari cranial terdiri dari Larynk, rima glottidae, trachea, bronchus, dan
pulmo (Djuhanda,1983).
Sistem urogenital pada reptilia dibedakan menjadi dua bagian yaitu organa
uropoetica (ekskresi) dan organa genitalia (reproduksi). Organ uropoetica terdiri
dari ren (ginjal), ureter, dan vesica urinaria (kandung kencing). Organ genitalia
pada hewan jantan terdiri atas alat kelamin khusus (hemipenis), sepasang testes,
vas deferens, dan epididimis. Organ genitalia pada hewan betina terdiri dari
sepasang ovarium, oviduk (saluran telur), dan kloaka. Kelompok reptile seperti
ular merupakan hewan yang yang fertilisasinya terjadi di dalam tubuh (fertilisasi
internal). Umumnya reptila bersifat ovipar, namun ada juga reptil yang bersifat
ovovivipar, seperti ular garter dan kadal. Reptil betina menghasilkan ovum di
dalam ovarium. Ovum kemudian bergerak di sepanjang oviduk menuju kloaka.
Reptil jantan menghasilkan sperma di dalam testis. Sperma bergerak di sepanjang
saluran yang langsung berhubungan dengan testis, yaitu epididimis. Dari
epididimis sperma bergerak menuju vas deferens dan berakhir di hemipenis.
Hemipenis merupakan dua penis yang dihubungkan oleh satu testis yang dapat
dibolak-balik seperti jari-jari pada sarung tangan karet. Pada saat kelompok
hewan reptil mengadakan kopulasi, hanya satu hemipenis saja yang dimasukkan
ke dalam saluran kelamin betina (Jassin,1982).
Ovum reptil betina yang telah dibuahi sperma akan melalui oviduk dan
pada saat melalui oviduk, ovum yang telah dibuahi akan dikelilingi oleh cangkang
yang tahan air. Hal ini akan mengatasi persoalan setelah telur diletakkan dalam
lingkungan basah. Pada kebanyakan jenis reptil, telur ditanam dalam tempat yang

37

hangat dan ditinggalkan oleh induknya. Dalam telur terdapat persediaan kuning
telur yang berlimpah (Yatim,1985)
Cor terletak di medial, di bagian cranioventral rongga thorax. Terdiri dari 2
atria, yaitu atrium dextrum dan sinistrum, 2 ventriculus yaitu ventriculus dexter
serta ventriculus sinister, dan sinus venosus. Atrium dextrum dipisah dengan
atrium sinistrum oleh septum atriarum. Antara atrium dan ventriculus ada sekat
yang disebut apertura atriovenricularis dengan katup valvula
atrioventricularis.Ventriculus dexter dipisah dari ventriculus sinister oleh septum
ventriculorum ialah tidak sempurna sehingga darah di ventriculus dexter dan
sinister untuk sebagian masih tercampur. Dari ventriculus dexter keluar areus
aortae sinister yang membelok ke kiri, dan arteria pulmanalis yang bercabang dua
masing-masing ke pulmo. Dari ventruculus sinister keluar arcus aortae dexter
yang membelok ke kanan dan mempercabangkan sebuah arteria yang berjalan ke
arah cranial yaitu arteria carotis communis. Arteria carotis communis ini akan
bercabang dua menjadi arteria carotis communis dexter dan sinister yang masingmasing baik dexter maupun sinister akan bercabang lagi menjadi arteria carotis
externa dan interna (Kardong,2002).
Arteria carotis communis interna kiri akan membuat suatu hubungan
dengan arcus aortae sinister. Arcus aortae dexter dan sinister, masing-masing
menuju ke caudal dan keduanya bertemu di medial untuk menjadi satu pembuluh
besar yang disebut aorta dorsalis. Sebelum kedua arcus aorta ini bertemu, arcus
aorta dexter terlebih dulu mempercabangkan arteria esophagus yang menuju ke
esophagus, kemudian juga mempercabangkan arteria subelavia dexta dan sinistra
yang menuju ke extremitas anterior (Tim dossen, 2011).
Sinus venosus menerima darah dari vanae besar, ialah vena cova superior
dexta dan sinistra, dan vena cava inferior yang datang dari bagian caudal tubuh

38

setelah menerima vena hepatica terlebih dulu. Darah mengalir dari sinus venosus
kemudian menuju ke atrium dextrum. Darah yang masuk ke atrium sinistrum ialah
vanae pulmonalis yang berisi darah arterial dari pulmo (Radiopoetro, 1996).
Integument pada Reptilia umumnya tidak mengandung kelenjar keringat.
Integument adalah jaringan penutup permukaan, seperti kulit dan mukosa.
Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf
dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas.
Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang
apabila hewan berganti kulit (Dakrory, 2009).
Berikut adalah klasifikasi dari Dendrelaphis pictus
Kingdom

:Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Reptilia

Ordo

: Squamata

Subordo

: Serpentes

Famili

: Colubridae

Genus

: Dendrelaphis

Spesies

: Dendrelaphis pictus

(Gmelin, 1789)

39

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat


Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 24 Maret 2014 pukul 13.00 WIB, di
Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.
3.2. Alat Dan Bahan
Alat yang di gunakan pada praktikum histologi respirasi dan sirkulasi, yaitu
gunting bedah, pisau bedah, bak bedah, pinset runcing, jarum suntik, cutter dan
buku gambar. Adapun bahan yang di gunakan adalah sepasang Dendrelaphis
pictus
3.3. Cara Kerja
Objek di bius hingga tak sadarkan diri. Kemudian diletakan pada bak bedah.
Pengguntingan kulit dimulai dari kloaka hingga ke bagian atas objek. Kulit yang
sudah tergunting di tempelkan ke bak bedah menggunakan paku. Susunan anatomi
di amati. Organ-oragan di pisahkan sesuai dengan sistem yang disusunnya. Di
gambarkan kedalam buku gambar dan di beri keterangan.

40

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Anatomi Sistem Pencernaan

b
c

Gambar 1. Anatomi Sistem Pencernaan


(a) Vesica Felea, (b) Ventriculus, (c) Hepar,
(d) Intestinum Tanue
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil pengamatan
anatomi sistem pencernaan seperti gambar tersebut. Sistem pencernaan pada reptil
disusun oleh vesica felea, ventriculus, hepar dan Intestinum.
Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa sistem
pencernaan Dendrelaphis pictusdibedakan menjadi dua yaitu tractus digestivus
(saluran pencernaan) dan glandula digestoria (saluran pencernaan). Tractus
Digesntivum terdiri dari cavum oris, pharynk, esophagus (kerongkongan),
vetriculus, intestinum tenue, cecum, intestinum crassum dan kloaka.Glandula
digestaria, terdiri dari hepar dan pancreas, empedu yang dihasilkan oleh hepar
ditampung kantong yang disebut vesica fellea (Radiopoetro, 1996).

41

4.2 Anatomi Sistem Urogenitalia

a
b

Gambar2. Anatomi sistem urogenitalia


(a) Ovum, (b) Ren
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil pengamatan
anatomi sistem Urogenitalia seperti gambar tersebut. Sistem Urogenitilia pada
reptil disusun oleh ren, ovum dan testis.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa System
urogenital pada reptilia dibedakan menjadi dua bagian yaitu organa uropoetica
(ekskresi) dan organa genitalia (reproduksi). Organ uropoetica terdiri dari ren
(ginjal), ureter, dan vesica urinaria (kandung kencing). Organ genitalia pada
hewan jantan terdiri atas alat kelamin khusus (hemipenis), sepasang testes, vas
deferens, dan epididimis. Organ genitalia pada hewan betina terdiri dari sepasang
ovarium, oviduk (saluran telur), dan kloaka (Jassin, 1982).

4.3 Anatomi Sistem Sirkulasi

Gambar 3. Anatomi Sistem Sirkulasi


(a) Cor

42

Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan di dapatkan hasil pengamatan


anatomi sistem Sirkulasi seperti gambar di atas. Sistem Sirkulasi pada reptil
disusun oleh Cor. Tipe peredaran darahnnya adalah peredaran darah ganda
tertutup. Jantung pada reptil memiliki empat ruang, namun sekatnya belum
sempurna.
Hal tersebut juga ada pada literatur yang menyebutkan bahwa jantung
pada reptil terletak di bagian anterior ventral dari rongga thorax, terdiri dari sinus
venosus yang kecil yang berfungsi menerima darah dari vena, dua buah auricular
dan dua ventrucula.antara ventricular terdapat septum yang umumnya tidak
sempurna karena masih terdapat foramen panizzae. Darah dari vena akan masuk
ke dalam jantung melalui sinus venosus, auriculum dextra, ventruculum dextra,
arteri pulmonalus dari paru-paru darah kembali masuk ke auriculum sinestra dan
akan terus ke ventriculum sinestra,setelah itu darah akan melalui sepasang arcus
aorticus yang selanjutnya ke arah dorsal mengelilingi oesophagus, dari dasar
archus aorticus dexter muncul dua arteri ke leher dan kepala. Dua archus aorticus
menghubungkan diri menjadi satu di sebelah dorsal menjadi aorta dorsalis yang
akan memberikan darah kepada alatalat di dalam rongga tubuh, ke ektremitas
posterior dan ekor. Darah vena dikumpulkan oleh vena cava anterior yang
menampung darah dari kepala dan kedua ekstremitas anterior, sebuah vena cava
posterior menampung darah dari organum reprodactivum dan ren, vena porta
hepatica menampung darah dari tractus digestive yang memecah menjadi kapilerkapiler di dalam hepar dan dikumpulkan oleh vena hepatica yang pendek. Vena
epigastris pada masing-masing sisi pada rongga abdominalis menampung darah
dari ekstremitas posterior, ekor, dan tubuh, dari kedua vena cava tersebut akan
masuk melalui sinus venosus (Kardong,2002).

43

4.4 Anatomi Sistem Respirasi


b

Gambar.4. Anatomi Sistem Respirasi


(a) Trakea, (b) Pulmo
Berdasarkan praktikum yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil pengamatan
anatomi sistem reapirasi seperti gambar tersebut. Sistem respirasi pada reptil
disusun oleh trakea dan pulmo.
Hal tersebut juga terdapat pada literatur yang menyebutkan bahwa reptilia
mempunyai trachea yang panjang dimana dindingnya disokong oleh sejumlah
cincin cartilago. Larink terletak di ujung anterior trachea. Dinding larink ini
disokong oleh cartilago cricoida dan cartilago anytenoidea. Kearah posterior
trachea membentuk percabangan (bifurcatio) menjadi bronchus kanan dan
bronchus kiri, yang masing-masing menuju ke pulmo kanan dan pulmo kiri.
Pulmo lacertilia dan ophidia relatif sederhana. Pada beberapa bentuk, bagian
internal pulma terbagi tidak sempurna menjadi 2 bagian, yaitu bagian anterior
berdinding saccuter sedangkan pada bagian posterior berdinding licin, tidak
vasculer dan berfungsi terutama untuk reservoir (Djuhanda,1983).

44

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang di dapatkan,dapat di simpulkan bahwa:
1. Anatomi repti terdiri dari, anatomi sistem pencernaan, sistem pernapasan,
sistem sirkulasi dan sistem urogenitalia
2. Pada sistem pencernaan terdapat vesica felea yang merupakan kelenjar
pencernaan berwarna hitam.
3. Ginjal pada reptil terletak tidak sejajar satu sama lain
4. Jantung reptil terdiri atas empat ruang dengan sekat yang belum sempurna
5.2. Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lebih baik, maka di sarankan agar praktikan
terlebih dahulu mengetahui materi yang akan di praktikumkan.Berhati- hati saat
melakukan pembedahan agar organ pada objek tidak ada yang terpotong.
Kemudian menjalankan praktikum dengan sungguh-sungguh. Selain itu praktikan
juga disarankan agar menggabar objek dengan benar di dalam buku kerja serta
memberikan keterangan pada objek yang di gambarkan dengan sesuai.

45

DAFTAR PUSTAKA

Bennet, D. 1999. Expedition Fieled Tachniques of Reptiland Amphibian. London :


Royal Geografhycal
Brotowidjoyo. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Campbell, Reece, Mitchell. 1999. Biologi Edisi kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Carr, A. 1977. The Reptil he life. Alexandria:Time Books inc
Dakrory, A. I. 2009. Comparative Anatomical Study on The Ciliarly Ganglion of
Lizard (Reptilia-Squamata-Lacertilia). Australian Journal of Basic and
Applied Sciences. 3(3) : 2064-2077
Djuhanda, T. 1983. Anatomi dari Empat Spesies Hewan Vertebrata. Bandung:
Amico
Goin, C. J and O. B. Goin. 1971. Intoduction to HerpetologySecond edition. San
fransisco: WH. Freeman and Company
Jafnir. 1985. Pengantar Anatomi Hewan Vertebrata. Padang: Universitas Andalas
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar Jaya
Kardong, K.V.2002. Vertebrates Comparative Anatomy, Function,
Evolution.North America: McGraw-Hill. Companies, Inc.
Kimball, J,W. 1999.Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Pope, CH. 1956. The Reptile World.London: Routledge and Kegal Paul Ltd
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga
Tim Dosen. 2011. Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. Makassar :
Universitas Islam Negeri.
Yatim, W. 1985. Biologi jilid II. Bandung : Tarsito

46

I.PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata Aves berasal dari kata Latin yang dipakai sebagai nama kelas, sedang Ornis
dari bahasa Yunani, dipakai dalam Ornithology berarti ilmu yang mempelajari
burung-burung. Aves adalah hewan yang paling banyak dikenal orang karena
dapat dilihat dimana-mana, aktif pada siang hari dan unik dalam memiliki bulu
sebagai penutup tubuh. Aves juga mampu diternakkan sehingga meningkatkan
pelua usaha (Jasin, 1987).
Aves merupakan satu-satunya kelas dalam kelompok chordata yang cukup
unik dengan memiliki bulu dan berbagai macam tipe kaki. Bulu adalah modifikasi
dari sisik yang berkembang secara evolusioner dari reptilia. Jantung burung terdiri
dari empat ruang dan tergolong hewan berdarah panas. Semua burung
menggunakan paruh dan tidak memiliki gigi. Bulu adalah ciri khas kelas aves
yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh
bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile
serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang
selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada
tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit.
Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk
bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk
bulu.Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan
mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses
pengeringan pada perkembangan selanjutnya struktur modifikasi untuk terbang

47

meliputi tulang lengkung, rangka apendikular depan berubah menjadi sayap,


kantung udara, mata yang lebar, dan cerebellum yang berkembang dengan sangat
baik (Suwardi, 1996 ).
Aves adalah salah satu anggota dari vertebrata yang mempuyai kemampuan
untuk terbang. Habitat dari hewan ini adalah diudara dan di daratan.Metode yang
dilakukan dalam praktikum kali ini yaitu metode inspectio dan metode sectio.
Metode inspectio merupakan untuk mengamati anatomi eksternal dari yang terdiri
atas empat bagian yaitu bagian caput (kepala), cervix (leher), truncus (badan), dan
extrimitas.Anatomi diantaranya cor (jantung), hepar (hati), ventriculus, intestinum
(usus), vesica urinaria,coecum, vesica feliea, dan lien. Anatomi tubuhaves secara
eksternal terdiri atas empat bagian, yaitu caput, cerviks, truncus, dan caudal. Jalur
pernapasan pada burung berawal di lubang hidung. Pada tempat ini, udara masuk
kemudian diteruskan pada celah tekak yang terdapat pada dasar faring yang
menghubungkan trakea. Trakeanya panjang berupa pipa bertulang rawan yang
berbentuk cincin, dan bagian akhir trakea bercabang menjadi dua bagian, yaitu
bronkus kanan dan bronkus kiri. Dalam bronkus pada pangkal trakea terdapat
sirink yang pada bagian dalamnya terdapat lipatan-lipatan berupa selaput yang
dapat bergetar (Suwardi, 1996 ).
Jika dibandingkan dengan kelas lain, aves memiliki keistimewaan tubuhnya
yang ditutupi bulu, dan bulu berasal dari evolusi kelas reptilia. Kelas reptilia
memiliki sisik sedangkan aves memiliki bulu,dan jika dibandingkan dengan kelas
yang lain, aves sudah memiliki tipe ginjal yang sama dengan mamalia yaitu tipe
metanephros. Aves memiliki tembolok dan gizzard yang hanya dimiliki oleh kelas
aves.Oleh karena itu dipelajari struktur anatomi aves untuk melihat struktur dalam
dari aves tersebut (Jasin,1987 ).

48

1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan praktikum ini adalah untuk mempelajari struktur anatomi
kelas Aves.

II.TINJAUAN PUSTAKA

49

Anatomi aves adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dalam dari tubuh
aves.Secara umum,tubuh aves dibedakan atas caput, cerviks, truncus, dan cauda.
Sepasang ekstrimitas anterior merupakan ala atau sayap yang terlipat seperti huruf
Z, pada saat tubuh tidak terbang. Ekstrimitas posterior berupa kaki, otot daging
paha kuat, sedang bagian bawahnya bersisik dan bercakar. Mulut mempunyai
rostrum atau paruh yang terbentuk oleh maksila pada ruang atas dan mandibula
pada ruang bawah. Bagian dalam rostrum dilapisi oleh lapisan yang disebut cera,
sedang sebelah luar dilapisi oleh pembungkus selaput zat tanduk sepasang
ekstrimitas anterior merupakan ala atau sayap yang terlipat , pada saat tubuh tidak
terbang. Ekstrimitas posterior berupa kaki, otot daging paha kuat, sedang bagian
bawahnya bersisik dan bercakar (Raina, 2005).
Caput pada Aves terdiri atas rostrum (paruh) yang dibentuk oleh maxilla
dan mandibula, nares yang terletak pada bagian lateral rostrum bagian atas; cera,
yang merupakan suatu tonjolan kulit yang lunak pada basis rostrum bagian atas,
organon visus, dan porus acusticus-externus. Skeleton pada aves dibedakan atas
endoskeleton dan eksoskeleton. Bagian luar pada aves tertutup oleh bulu yang
berfungsi dalam rangka membantu proses terbang serta melindungi diri dari
perubahan cuaca atau lingkungan (Retno, 2001).
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain.
Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari
epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu
aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis.
Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk
bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.
Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung
pembuluh darah (Jasin,1987).

50

Saluran pencernaan terdiri atas trachea, esophagus, jantung, hati,


ventriculus, pancreas, duodenal loop, pulmo dexter, pulmo sinister, duodenum,
ureter, uretra, ginjal, dan ovarium. Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak
dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu,yang
secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan
sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya
mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya
sehingga terbentuk folikulus. Berdasarkan susunan anatomis, bulu-bulu pada aves
dibagi menjadi filoplumae, bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh.
ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan
tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.
Plumulae, berbentuk berbentuk hampir sama dengan filoplumae dengan
perbedaan detail. Plumae, bulu yang sempurna. Barbulae, Ujung dan sisi bawah
tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu
menahan barbula yang saling bersambungan. Susunan plumae terdiri dari shaft
(tangkai), yaitu poros utama bulu. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu. Rachis,
yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di
dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan. Vexillum yaitu
bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari
rachis. Menurut letaknya, bulu aves dibedakan menjadi tectrices, bulu yang
menutupi badan.rectrices, bulu yang berada pada pangkal ekor, vexilumnya
simetris dan berfungsi sebagai kemudi. Remiges, bulu pada sayap yang dibagi lagi
menjadi remiges primarie yang melekatnya secara digital pada digiti dan secara
metacarpal pada metacarpalia. Remiges secundarien yang melekatnya secara
cubital pada radial ulna. Remiges tertier yang terletak paling dalam nampak

51

sebagai kelanjutan sekunder daerah siku. Parapterum, bulu yang menutupi daerah
leher (Suratman, 2000).
Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan
dalam saluran pencernaan untuk dapat diserap dan digunakan oleh jaringanjaringan tubuh. Pada pencernaan tersangkut suatu seri proses mekanis dan
kimiawi dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Pada mulut terdapat paruh yang
sangat kuat dan berfungsi untuk
mengambil makanan. Makanan yang diambil oleh paruh kemudian masuk
kedalam rongga mulut lalu menuju kerongkongan. Bagian bawah kerongkongan
membesar berupa kantong yang disebut tembolok. Kemudian masuk ke lambung
kelenjar disebut lambung kelenjar karena dindingnya mengandung kelenjar yang
menghasilkan getah lambung yang berfungsi untuk mencerna makan secara
kimiawi. Kemudian makan masuk menuju lambung pengunyah disebut lambung
pengunyah karena dindingnya mengandung otot-otot kuat yang berguna untuk
menghancurkan makanan (Susanto, 1994).
Organ pencernaan esophagus, ventriculus, pancreas, duodenal loop,
duodenum dan berakhir pada kloaka. Pada sistema digestivum, tractus digestivirus
terdiri dari cavum oris. Didalamnya terdapat lingua kecil runcing yang dibungkus
oleh lapisan zat tanduk sebagai lanjutannya adalah faring yang pendek. Kemudia
oesophagus yang panjang dan pada beberapa burung terjadi perluasan (Sudjono,
2009).
Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok burung
tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini
dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka. Pada burung betina hanya ada
satu ovarium yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap
kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum

52

yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang
bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit
dengan ureter dan bermuara di kloaka. Fertilisasi akan berlangsung di daerah
ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi
akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk,
ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat
kapur (Jasin, 1987)

.
III.PELAKSANAAN PRAKTIKUM

53

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum histologi dilakukan pada hari Senen,24 Maret 2014 pukul
13.00 WIB di Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam praktikum aves adalah gunting bedah digunakan
untuk membedah,pisau cuter untuk menyayat, pinset untuk melihat organ, suntik
untuk membius,bak bedah untuk tempat bahan yang telah dibedah,Styrofoam, dan
tisu gulung.Sedangkan bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah
Streptopelia sinensisjantan dan betina yang dewasa.

3.3 Cara Kerja


Alat dan bahan disiapkan, kemudian aves disuntik untuk dibius. Kemudian
bulunyan dicabut, di bedah dari kloaka sampai esophagus, kemudian diamati
organ dalamnya, setelah itu dikeluarkan setiap organ dari tubuh aves, untuk
dokumentasi bisa difoto. Terakhir digambar dan diberi keterangan.

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

54

4.1 Morfologi Aves

(a)
(b)

(c)
(d)

Gambar 1 : aves secara morfologi(a) rostrum,(b) cervix,(c) caudal,(d) digiti


Hasil pengamatan menunjukkan bahwa anatomi tubuh burung merpati secara
eksternal terdiri atas empat bagian, yaitu caput, cerviks, truncus, dan cauda. Caput
pada burung merpati terdiri atas organon visus yang tersusun atas palpebra
superior, palpebra inferior, dan bulbus oculi, nares anteriores, cera, rostrum yang
terdiri atas maxilla dan mandibula, dan telinga.
Bagian truncus terdiri atas bagian tubuh dan sayap. Sayap pada Aves
disusun oleh bulu-bulu dan beberapa tulang seperti humerus. Cauda pada burung
merpati terdiri atas uropygium, dan glandula uropygialis dan kaki serta digiti yang
berfalkula. Tubuh Aves dibedakan atas caput, cerviks, truncus, dan cauda.
Sepasang ekstrimitas anterior merupakan ala atau sayap yang terlipat seperti huruf
Z, pada saat tubuh tidak terbang. Ekstrimitas posterior berupa kaki, otot daging
paha kuat, sedang bagian bawahnya bersisik dan bercakar. Mulut mempunyai
rostrum atau paruh yang terbentuk oleh maksila pada ruang atas dan mandibula
(Jasin, 1987).
Klasifikasi :

55

Kingdom: Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Aves

Ordo

: Colombiformes

Famili

: Columbidae

Genus

: Streptopelia

Spesies

: Streptopelia sinensis(Zahra,2003).
Bulu adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain.

Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari
epidermal tubuh, yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu
aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis.
Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk dan membentuk
bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu.
Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung
pembuluh darah (Jasin, 1987).

4.2 Anatomi Aves

56

(a)
(b)
(c)
(d)
(e)

Gambar 2 anatomi aves :(a) tembolok,(b) cor,(c) hepar, (d) gizard,


(e) intestinum tenue

(a)
(b)

(c)
(d)
(e)

Gambar 3 anatomi aves : (a)tembolok,(b)gizard,(c)intestinum tenue,


(d)intestinum crassum,(e)kloaka

Sistem reproduksi pada avesterdiri atas ovarium, oviduk dan uterus karena
merpati yang diamati merupakan merpati betina,pada sistem reproduksinya,
hewan jantan memiliki sepasang testis yang bulat, berwarna putih, melekat
disebelah anterior dari ren. Testis sebelah kanan lebih kecil daripada yang
kiri,gelembung kecil bersifat kelenjar sebagai tempat menampung sementara
sperma sebelum dituangkan melalui papil yang terletak pada kloaka. Di dalam
kloaka pada beberapa species memiliki pennis sebagai alat untuk menuangkan

57

sperma ke kloaka hewan betina, ovari menjulur oviduct panjang. Lubang oviduct
itu disebut ostium opdominalis. Dinding oviduct selanjutnya tersusun atas
muskulus dan epithelium yang bersifat glandulair, yang memberi sekresi yang
kelak membungkus telur, membran tipis disebelah luar albumen dan cangkok
yang berbahan zat kapur yang dibuat oleh kelenjar di sebelah caudal (Shinta,
2002).

V.PENUTUP

5.1 Kesimpulan

58

Berdasarkan hasil praktikum yang didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Secara umum tubuh aves terdiri dari caput, cervix, truncus, extremitas anterior
dan extremitas posterior.
2. Secara anatomi aves memiliki keistimewaan dalam sistem pencernaan yaitu
memiliki tembolok dan gizard.
3. Sistem genitalia pada aves yaitu ovipar, pada betina ada ovarium dan pada
jantan ada testis.
5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum anatomi aves ini yaitu praktikan agar lebih
berhati-hati dan teliti dalam bekerja agar kesalahan dalam praktikum dapat
diminimalisir dan agar praktikan dapat menjaga etika saat praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Betty, P. 1999. Zoologi. Jakakrta : Erlangga.

59

Jasin, M. 1987. Zoologi Vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya


Raina. 2005. Anatomi Vertebrata. Bandung : Pustaka Prima.
Retno. 2001. Anatomi Hewan Vertebrata. Semarang:Adipustaka.
Shinta.Z. 2002. Anatomi dan Morfologi Vertebrata. Jakarta : Erlangga.
Sudjono. 2009. Vertebrata. Jakarta : Jakarta Press.
Suratman. 2000. Zoology. Bandung : Pusara.
Susanto,H. 1994. Peternakan Unggas. Jakarta : Swadaya.
Suwardi,P. 1996. Aves dan Mamalia. Lombok : Saito.
Zahra.A. 2003. Struktur Anatomi Hewan. Malang : Juandris Jaya.

I.

1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN

60

Mamalia adalah vertebrata yang tubuhnya tertutup rambut, yang betina


mempunyai kelenjar mammae (air susu) yang tumbuh baik. Anggota gerak depan
pada mamalia dapat bermodifikasi untuk berlari, menggali lubang, berenang, dan
terbang. Pada jari-jarinya terdapat kuku, cakar, atau tracak. Pada kulit terdapat
kelenjar minyak dan kelenjar keringat. Gigi umumnya terbagi menjadi emapat
tipe, yakni gigi seri, taring, premolar, dan molar. Di banding dengan kondisi
vertebrata lainnya, jumlah tulang tengkorak mamalia banyak tereduksi. Ada 2
kondil oksipital. Vertebreae servikal biasannya ada tujuh buah. Dalam sabuk
pektoral tidak terdapat tulang korakoid, dan klavikula vestigial atau tidak ada
sama sekali ekor, jika ada panjang dan dapat di gerakkan. Ada tiga buah osikel
auditori, yaitu malleus, inkus, dan stapes. Membran vestigial mata mungkin
vestigial. Secara proporsional, serebrum jauh lebih besar di bandingkan vertebrata
lain. Serebellum juga besar. Terdapat 12 pasang saraf kranial. Respirasi melalui
paru-paru. Tiap paru-paru berada di dalam ruang pleural. Ada dua fragma
muskular pada laring terdapat pita suara (Brotowidjoyo, 1994).
Jantung merupakan organ muskular berongga, bentuknya menyerupai
piramid atau jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi ke seluruh tubuh,
terletak pada rongga toraks pada bagian mediastinum. Jantung terdiri atas empat
ruang yaitu, atrium dekstra, atrium sinistra, ventrikel dekstra dan ventrikel sinistra
(Evelyn, 1999).
Ginjal pada mamalia merupakan ginjal dengan tipe metanefros. Semua
tubulus tengah yang tidak berhubungan dengan testis telah lenyap dan terdapat
konsentrasi dan pelipatgandaan yang lebih besar dari tubulus bagian posterior.
Dalam perkembangannya mesoderm nefrogenik timbul disebelah dorsal di
sepanjang embrio, tetapi hanya bagian belakang yang berkembang menjadi
metanefros dewasa (Vilee, 1999).

61

Mamamlia terdiri atas tiga sub-kelas, yakni Prothotheria, Allotheria, dan


Theria. Ciri dari sub kelas Prothotheria merupakan mamalia bertelur yang
penyebarannya terdapat di daerah australia. Contohnya adalah Platipus dari ordo
monotermata. Sub kelas allotheria merupakan sub kelas yang telah punah, dan sub
kelas theria terdiri atas beberapa ordo. Diantaranya adalah ordo Rodentia, Mus
musculus yang merupakan bahan praktikum dari objek minggu ini merupakan
spesies yang berada dari ordo ini. Ciri khas dari ordo ini adalah berupa hewan
pengerat yang memiliki lima jari bercakar serta tak memiliki taring. Selain ordo
rodentia, sub kelas ini masih memiliki 14 ordo, antara lain ordo insectivora,
dermoptera, chiroptera, primata, edentata, logomorpha, carnivora, cetacea,
tubulidentata, probosoidea, hyracoidea, sirenia, perissodactyla, dan artiodactyla,
(Brotowidjoyo, 1994)
Berdasarkan penjelasan tersebut, perlu di lakukan pemahaman tentang
struktur anatomi mamalia, hal tersebut dilakukan karena masih kurangnya
pengethuan dan pembelajaran anatomi mamalia di kalangan praktikan

I.2. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui, dan mempelajari tentang anatomi
mamalia

II. TINJAUAN PUSTAKA

Mamalia merupakan vertebrata yang mempunyai glanndula mammae yang


menghasilkan susu untuk di berikan kepada anak mereka sebagai minuman

62

pertama setelah lahir. Vertebrata paling sempurna adalah dari kelas mamalia
dimana tingkat sel,jaringan maupun organ-organnya lebih komplek di banding kan
dengan kelas pisces, ampibia, reptile maupun aves, terkadang juga ada yang
megatakan bahwa asal mula mamalia adalah golongan reptile, hanya saja pada
mamalia sudah mengalami perkembangan yang sangat jauh.Seperti telah
dikatakan sebelumnya bahwa mamalia merupakan tingkatan tertinggi pada
kerajaan hewan. Hal ini mengakibatkan segala proses yang dilakuakan oleh
mamalia lebih tinggi daripada jenis animalia lainnya. Mulai dari sistem
pencernaan , pernafasan , peredaran darah , urogenital , hingga sistem sarafnya.
Pada umumnya , semua jenis mamalia memiliki rambut yang menutupi tubuhnya.
Jumlah rambut tersebut berbeda-beda antara spesies yang satu dengan yang lain.
Ada spesies yang seluruh tubuhnya ditutupi oleh rambut dan ada pula spesies
yang hanya memiliki rambut di tempat-tempat tertentu pada bagian tubuhnya.
Mamalia merupakan hewan yang bersifat homoioterm atau sering disebut hewan
berdarah panas. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan sekitar. Sebutan mamalia sendiri berasal dari keberadaan
glandula (kelenjar) mamae pada tubuh mereka yang berfungsi sebagai penyuplai
susu. Seperti yang kita ketahui bahwa mamalia betina menyusui anaknya dengan
memanfaatkan keberadaan kelenjar tersebut. Walupun mamalia jantan tidak
menyusui anaknya, bukan berarti mereka tidak memiliki kelenjar mamae. Semua
mamalia memiliki kelenjar mamae , tetapi pada mamalia jantan kelenjar ini
tidaklah berfungsi sebagaimana pada mamalia betina (Radiopoetro, 1996).
Panjang mencit berkisar 65-95 mm dari ujung hidung mereka ke ujung tubuh
mereka. Bulu mereka berkisar dalam warna dari coklat muda sampai hitam dan
pada umunya memiliki warna putih. Mencit memiliki ekor panjang yang memiliki
sedikit bulu dan memiliki deretan lingkaran sisik. Cenderung memiliki panjang

63

bulu ekor lebih gelap ketika hidup erat dengan manusia, mereka berkisar 12-30
gram berat badanya. Banyak bentuk-bentuk domestic mencit telah dikembangkan
yang bervariasi dalam warna dari putih menjadi hitam dan dangan bintik-bintik.
(Syariffauzi, 2009 ).
Mencit (Mus musculus) merupakan anggota dari ordo rodentia yang
memiliki ciri sebagai berikut, pentadactyl terdiri atas jari-jari yang bercakar, tidak
memiliki dentes canini, jumlah dentes premolars dan dentes molars ialah variable.
Satu dens incivisus pada tiap belahan rahang berbentuk pahat, dan dapat tumbuh
terus menerus.memiliki lima pasang kelenjar susu. Distribusi jaringan mammae
menyebar, membentangdari garis tengah ventral atas panggul, dada, dan bagian
leher. Klasifikasi tikus yaitu
Kerajaan

: Animalia

Fillum

: Chordata

Kelas

: Mamalia

Ordo

: Rodentia

Super family : Muroidae


Familnya

: Muridae

Sub suku

: Murinae

Genus

: Mus

Species

: Mus musculus (Linneaus, 1758)

Sistem pencernaan pada mencit sama seperti system pencernaan pada


mammalian umumnya. Pada setiap rahang terdapat gigi seri (insisivus), gigi taring
(canninus), gigi premolar, dan gigi molar. Lidah memiliki papilla perasa. Terdapat
kanutung empedu dengan saluran empedu, dan saluran getah pangkreas yang
bermuara kedalam duodenum. Caekum berdinding tipis, dan mempunyai
appendiks vermiformis (umbai cacing) yang bentuknya seperti jari. Rektum

64

adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon
sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang
lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja
masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum
akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan
defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke
usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak
terjadi untuk periode yang lama, maka konstipasi dan pengerasan feses akan
terjadi. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan
limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit)
dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
sphinkter . Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar),
yang merupakan fungsi utama anus (Brotowidjoyo, 1994).
Organ yang utama pada system respirasi mamamlia adalah paru-paru.
Pernapasan dimulai melalui hidung. Alur-alur hidung mengandung tulang- tulang
turbinal yang berkelok-kelok yang memperluas permukaan olfaktori. Laring
beratap sebuah epiglottis yang mengandung pita-pita suara. Dua paru-paru
masing-masing dibungkus didalam ruang pleura yang terpisah (Salmah, 1982).
Ren ada sepasang dan menempel pada dinding dorsal ronggaperut di
daerah pinggang. Berupa ginjal metanephros. Dari ren berjalan ureter yang
bermuara ke dalam vesica urinaria. Vesica urinaria terdapat di dalam cavum
pelvis. Dari vesica urinaria berjalan satu urethra yang bermuara keluar
(Radiopoetro, 1996)

65

Ginjal berbentuk seperti biji kacang. Ruang median ginjal disebut pelvis
renalis berhubungan dengan kantung kemih melalui ureter. Dari kandung kemih
keluar uretra yang bersatu dengan sinus genitalis pada betina atau vas deferens
pada jantan. Pada mencit juga terdapat kloaka (Brotowidjoyo, 1994).
Jantung atau cor dibagi atas dua septum atriorum, dan septum
venticulorum. Tiap bagian terdiri atas satu atrium dan satu ventriculus. Antara
atrium dan ventriculus terdapat valvulaatrioventricularis yang menghindari
mengalirnya kembali darah dari ventriculus ke atrium. Jantung terdapat satu
kandungan, yang dindingnya dibentuk oleh pericardium (Radiopoetro, 1996).
Fertilisasi terjadi secara internal. Pada jantan terdapat organ intomitten
(penis). Testis terkandung pada saku scrotal. Perkembangan embrio terjadi dalam
uterus. Terbentuk dari persatuan antara korion dan alltois. Sepasang ovary terdapat
di dalam cavum pelvis. Saluran genitalia pada betina terdiri atas sepasang tuba
falopi, satu uterus, dan satu vagina. Vagina ialah satu pipa yang biasanya pipih kea
rah ventrodorsal dan berjalan miring dari craniodorsal ke ventrocaudal. Vagina
bermuara ke dalam vestibulum vaginae melalui ostium vaginae. Sepasang testis di
bungkus oleh sebuah kantung yang dinamakan skortum (Brotowidjoyo,1994).

III.

3.1 Waktu Dan Tempat

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

66

Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 31 Maret 2014, pukul 13.00, di
Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2. Alat Dan Bahan


Alat yang di gunakan pada praktikum histologi respirasi dan sirkulasi, yaitu
gunting bedah, pisau bedah, bak bedah pinset runcing, jarum suntik, eter dan buku
gambar. Adapun bahan yang di gunakan adalah sepasang Mus musculus.

3.3. Cara Kerja


Objek di bius hingga tak sadarkan diri. Kemudian diletakan pada bak bedah.
Pengguntingan kulit dimulai dari kloaka hingga ke bagian atas objek. Kulit yang
sudah tergunting di tempelkan ke bak bedah menggunakan paku. Susunan anatomi
di amati. Organ-oragan di pisahkan sesuai dengan sistem yang disusunnya. Di
gambarkan kedalam buku gambar dan di beri keterangan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

67

4.1. Morfologi Mus musculus


e
a

b
c

Gambar.1 Morfologi Mus musculus,(a)Organon visus, (b) Pinnae,


(c) Ekstremitas, (d) caudal, (e) Cavum Oris, (f) Ekstremitas Atas,
(g) Ektremitas Bawah, (h) Anus
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil
pengamatan morfologi seperti gambar tersebut. Morfologi yang dapat teramati
pada objek anatara lain, oganon visus, pinnae, eksteremitas anterior dan posterior,
cavum oris, caudal dan anus.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa morfologi
dari Mus musculus terdiri atas caput, truncus, dan caudal. Truncus terdiri atas
ekstremitas anterior dan ekstremitas posterior. Pada caput terdapat cavum oris,
organon visus dan pinnae (Brotowidjoyo, 1999)

IV.2. Anatomi Sistem Pencernaan

68

b
c

Gambar
2. Anatomi Sistem Pencernaan, (a)Intestinum tanue, (b) Intestinum
d
e

crasum, (c) Apendiks, (d) anus, (e) Hepar, (f) Pankreas

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi sistem pencernaan seperti gambar tersebut. Sistem
pencernaan pada mamalia disusun oleh intestinum tanue, intestenum crasum,
apendiks, hepar, pankreas, dan anus.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa Sistem
pencernaan terbagi atas saluuran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran
pencernaan dimulai dari cavum oris, pharink, oesophagus, lambung, usus halus
dan usus besar. Dan kelenjar pencernaan berupa pancreas, hepar dan kamtung
empedu (Jafnir, 1983).

IV.3. Anatomi Sistem Urogenitalia

69

b
a
c
d

Gambar 3. Anatomi Sistem Urogenitalia, (a) Ren, (b) Ovarium,


(c) Cervix, (d) Uterus
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil
pengamatan anatomi sistem Urogenitalia seperti gambar tersebut. Sistem
urogenitalia pada mamalia disusun oleh Ren, Ovarium, dan Testis. Tipe ginjal
pada mamalia adalah metanehros. Pada praktikum ini, testis pada mamalia tidak
dapat di amati, dikarenakan tidak lengkapnnya bahan praktikum
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa System
urogenital pada mamalia dibangunk oleh dua sistem, yaitu sistem urinaria dan
genitalia. Organ utama yang terdapat pada kedua sistem ini ialah ginjal pada
sistem urinaria dan gonad pada sistem genitalia. Kedua organ ini memang
mempunyai fungsi yang berbdeda, akan tetapi saluran-saluran pada tingkat
pertumbuhan berkaitan. Pada vertebrata rendah hubungan yang erat dapat dilihat
pada hewan jantan, yaitu saluran ekskresi yang di pakai untuk tempat keluarnnya
sperma. Pada vertebrata kelas mammlia jenis ginjalnya adalah metanephros,
yakni ginjal dari amniota dewasa yang tumbuh pada bagian caudal dari ductus
mesonephros (Jafnir, 1983).

IV.4. Anatomi Sistem Pernapasan

70

Gambar 4. Anatomi Sistem Pernapasan, (a) Pulmo


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil
pengamatan anatomi sistem pernapasan seperti gambar tersebut. Sistem
pernapasam pada mamalia disusun oleh pulmo, yang terdiri atas pulmo kanan, dan
pulmo kiri dengan dua lobus di bagian kanan dan tiga lobus di bagian kiri.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa organ utama
untuk pernapasan didalam medium udara adalah paru-paru. Bronchus principalis
dexter bercabang menjadi tiga bronchi lobares, bronchus principalis sinister
bercabang menjadi dua bronchi lobares (Radiopoetro, 1996).

71

V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang di dapatkan,dapat di simpulkan bahwa:
1. Ginjal pada mammalian merupakan ginjal dengan tipe metanephros
2. Vertilisasi pada mammalian merupakan vertilisasi internal
3. Pulmo terbagi atas pulmo kanan dan pulmo kiri. Pulmo kanan memiliki tiga
lobus,dan pulmo kiri terdiri atas dua lobus
4. Terdapat umbai cacing pada saluran pencernaan

5.2. Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lebih baik, maka di sarankan agar praktikan
terlebih dahulu mengetahui materi yang akan di praktikumkan.Berhati- hati saat
melakukan pembedahan agar organ pada objek tidak ada yang terpotong.
Kemudian menjalankan praktikum dengan sungguh-sungguh. Selain itu praktikan
juga disarankan agar menggabar objek dengan benar di dalam buku kerja serta
memberikan keterangan pada objek yang di gambarkan dengan sesuai.

DAFTAR PUSTAKA

72

Brotowidjoyo, M D. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga


Jafnir. 1983. Anatomi Hewan Vertebrata. Padang: Universitas Andalas
Pearce C, Evelyn. 1999. Anatomi dan Histologi untuk Paramedis. Jakarta : EGC
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta : Erlangga
Salmah, siti DKK. 1982. Zoologi. Padang : Universitas Andalas
Syariffuzi, 2009. Mus musculus tikus rumah) [online]. Tersedia.
http://animaldiversity.ummz.umich.edi/site/information/Mus_musculus.h
tmlA./6mei2009/19:42/
Villee, 1999. Zoologi Umum. Jakarta: Erlangga

I.PENDAHULUAN

73

1.1 Latar Belakang


Otak ( encephalon ) adalah pusat sistem saraf (central nervous system, CNS) pada
vertebrata dan banyak invertebrata lainnya. Otak manusia adalah struktur pusat
pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350cc dan terdiri atas 100 juta selsaraf
atau neuron. Otak mengatur dan mengkordinir sebagian besar, gerakan, perilaku
dan fungsi tubuh homeostasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan
cairan tubuh dan suhu tubuh. Otak manusia bertanggung jawab terhadap
pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan
erat antara otak dan pemikiran. Otak dan sel saraf didalamnya dipercayai dapat
memengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak memengaruhi
perkembangan psikologi kognitif. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti
pengenalan, emosi. ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk
pembelajaran lainnya (Lestari, 2011).
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang
(Medula spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi
yang sangat penting maka perlu perlindungan. Otak dan medulla spinalis ,selain
dilindungi oleh tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, juga dilindungi oleh 2
lapisan selaput meninges. Dua lapisan meningesi dari luar ke dalam adalah
duramatar (yang berupa jaringan ikat) dan pia-arakniod yang vascular. Di antara
dua lapisan tersebut terdapat spatium subdurale (Radiopoetro, 1996).
Otak terletak dalam batok kepala dan melanjutkan diri menjadi saraf
tulang belakang (medulla spinalis). Berat otak kurang lebih 2% dari berat badan
yang terdiri lebih dari 100 milyard sel saraf dan satu trilyun sel penyokong sel
saraf neuroglia. Dari 1700 ml volume tengkorak 1.400 ml otak (80%), 150 ml
darah (10%) 150 ml cerebrospinal fluid (10%).Pada setiap vertebrata terjadi

74

pertumbuhan otak tingkat yang menampakkan adanya tiga daerah


pembengkakkan utama. Daerah pembengkakkan disebelah depan disebut otak
depan (prosenchepalon), yang ditengah disebut otak tengah (mesenchepalon) dan
yang terakhir dibagian belakang desebut otak belakang (rhombenchepalon).
Prosenchepalon seterusnya akan terbagi menjadi telenchepalon dan dienchepalon.
Mesenchepalon tetap tidak terbagi lagi. Rhombencepalon terbagi menjadi
metenchepalon dan myelencephalon. Kelima bagian tersebut mengalami
differensiasi lebih lanjut yaitu terjadinya penebalan dinding-dinding pada
beberapa tempat, terjadinya evaginasi dan invaginasi sehingga dicapai bentuk
yang definitir dari otak (Jafnir, 1983).
Otak besar (cerebrum) adalah bagian depan yang paling menonjol dari
otak depan. Otak besar terdiri dari dua belahan, yaitu belahan kiri dan kanan.
Setiap belahan mengatur dan melayani tubuh yang berlawanan, belahan kiri
mengatur tubuh bagian kanan dan sebaliknya. Jika otak belahan kiri mengalami
gangguan maka tubuh bagian kanan akan mengalami gangguan, bahkan
kelumpuhan. Tiap belahan otak depan terbagi menjadi empat lobus yaitu frontal,
pariental, okspital, dan temporal. Antara lobus frontal dan lobus pariental
dipisahkan oleh sulkus sentralis atau celah roland (Lestari, 2011).
Otak kecil (cerrebellum) merupakan bagian yang paling menonjol dari
otak belakang, yang terbentuk dari evaginasi dari metenchepalon sebelah dorsal.
Fungsi dari cerebellum ialah sebagai control refleks otot-otot rangka. Disamping
itu juga fungsinya adalah menerima masukan dari membrane labyrinth dan dari
reseptor-reseptor propioseptif pada otot,sendi dan tendon. Pada hewan-hewan
yang memerlukan banyak pengendalian terhadap postur postur dan keseimbangan
tubuh terutama bagi ynag berenang, cerebellumnya tumbuh lebih besar, contohnya

75

pada ikan sehingga meliputi bagian medulla oblongata dan diencephalon. Pada
amphibi cerebellum tidak terlalu menonjol (Jafnir, 1983).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan memahami serta
membedakan anatomi otak dari pisces, amphibi, aves, reptile dan mammalia.

II.TINJAUAN PUSTAKA

76

Anatomi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dalam tubuh makhluk
hidup. Anatomi otak adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur dari otak
tersebut. Sistem koordinasi merupakan system pengaturan tubuh berupa
penghantaran impul saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan
perintah untuk memberi tanggapan rangsangan atau sistem yang mengatur kerja
semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem ini meliputi sistem
saraf pusat dan sistem saraf tepi (Kimball, 1994).
Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang.Otak
(encephalon) mempunyai lima bagian utama,otak besar (cerebrum). Otak
besar(cerebrum) merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau
sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada
bagian korteks cerebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima
rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang
berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat
area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik (Kimball, 1994 ).
Otak tengah (mesencephalon) terletak di depan otak kecil dan jembatan
varol.Di depan mesencephalon terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang
mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah
merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil
mata, dan juga merupakan pusat pendengaran (Kimball, 1994 ).
Otak kecil atau cerebellum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi
gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada
rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal
tidak mungkin dilaksanakan.Jembatan varol (pons varoli) berisi serabut saraf yang
menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak
besar dan sumsum tulang belakang (Brotowidjoyo, 1989).

77

Sumsum sambung (medulla oblongata) berfungsi menghantar impuls yang


datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga
mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah,
volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar
pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain.
Sumsum tulang belakang (medulla spinalis) pada penampang melintang ada
bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap
bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke
sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari
sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk
dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (Brotowidjoyo, 1989).
Sistem syaraf tepiterdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar
(sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya
diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat
diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi
keringat.Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu sarafsaraf yang keluar dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang, yaitu saraf-saraf
yang keluar dari sumsum tulang belakang. Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri
dari tiga pasang saraf sensori, lima pasang saraf motor, empat pasang saraf
gabungan sensori dan motor. Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan
leher (Brotowidjoyo, 1989).
Piscesmempunyai otak yang pendek. Lobus olfaktorius, hemisfer serebral,
dan diensefalon kecil, sedang lobus optikus dan cerebellum besar. Ada 10 pasang
saraf kranial. Korda saraf tertutup dengan lengkung-lengkung neural sehingga
mengakibatkan saraf spinal berpasangan pada tiap segmen tubuh. Terdapat pada
ikan bertulang menulang yaitu lobus olfaktoris pada moncong dengan sel-sel yang

78

sensitif terhadap substansi yang larut dalam air, kuncup perasa di sekitar mulut.
Mata lebar mungkin hanya jelas untuk melihat dekat, tetapi dapat digunakan
untuk mendeteksi benda-benda yang bergerak diatas permukaan air atau di darat
didekatnya. Telinga dalam dengan 3 saluran semisirkular, dan sebuah otolit untuk
keseimbangan. Ikan tidak mempunyai telinga tengah jadi tidak ada gendang
telinga (Syamsuri, 2004).
Amphibi otaknya terbagi atas lima bagian dan cerebellum merupakan
bagian yang terkecil. Ada 10 saraf cranial. Tiga saraf pertama membentuk pleksus
brakeal. Mata dengan kelopak mata atas dan kelopak mata bawah, dan ada lagi
kelopak mata yang ketiga yang transparan (membran niktitans) mata digerakkan
oleh 6 otot, yaitu otot-otot superior, inferior, rektus internal, rektus eksternal,
oblikus interior dan oblikus superior (Syamsuri,2004).
Reptil otaknya dengan dua lobus olfaktorius yang panjang, hemisfer
serebral, 2 lobus optikus, cerebellum, medulla oblongata yang melanjut ke korda
saraf. Di bawah hemisfer cerebral terdapat traktus optikus dan syaraf optikus,
infundibulum, dan hipofisis. Terdapat 12 pasang syaraf cranial (Kimball, 1994 ).
Aves bentuk otak dan bagian-bagiannya tipikal pada burung.Lobus
olfaktorius kecil, serebrum besar sekali. Pada ventro-kaudal serebrum terletak
serebellum dan ventral lobus optikus. Lubang telinga nampak dari luar, dengan
meatus auditoris eksternal terus kemembran tympani (gendang telinga). Telinga
tengah dengan saluran-saluran semi sirkulat terus ke koklea. Pendengaran burung
dara sangat baik. Dari telinga tengah ada saluran eustachius menuju ke faring dan
bermuara pada langit-langit bagian belakang (Kimball, 1994).
Mamalia memiliki cerebrum besar jika dibandingkan dengan keseluruhan otak.
Serebelum juga besar dan berlobus lateral 2 buah. Lobus optikus ada 4 buah.
Setiap bagian lateralnya dibagi oleh alur transversal menjadi lobus anterior dan

79

posterior.Mempunyai telinga luar. Gelombang suara disalurkan melalui meatus


auditori eksternal ke membran tympani. Telinga tengah mengandung 3 buah
osikel auditori. Koklea agak berkelok. Mata tidak mengandung pekten (seperti
yang terdapat pada burung). Di banding dengan vertebrata yang lebih rendah,
maka pada kelinci membran olfaktori lebih luas, organ pembau lebih efektif,
karena membran olfaktori itu lebih luas. Hal itu disebabkan karena papan-papan
tulang dalam rongga hidung. Mamalia merupakan kelas yang paling sempurna
bentuk otaknya,memiliki cerebrum yang paling besar dan memiliki lekukanlekukan yang cukup rumit (Kimball, 1994).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

80

3.1 Waktu Dan Tempat


Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 19 Mei 2014, pukul 13.00, di
Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2. Alat Dan Bahan


Alat yang di gunakan pada praktikum histologi respirasi dan sirkulasi, yaitu
gunting bedah, pisau bedah, bak bedah pinset runcing, jarum suntik, eter dan buku
gambar. Adapun bahan yang di gunakan adalah 5 potong kepala hewan dari lima
kelas vertebrata berbeda

3.3. Cara Kerja


Objek di bius hingga tak sadarkan diri. Kemudian diletakan pada bak bedah.
Pengguntingan dimulai dari leher masing-masing hewan. Bedah bagian tengkorak
hewan secara hati-hati. Keluarkan bagian otak dari kepala hewan. Susunan
anatomi di amati.. Di gambarkan kedalam buku gambar dan di beri keterangan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Anatomi Otak Pisces

81

b
c
d

Gambar.1. Anatomi Otak (a) Cerebrum, (b) Optic lobe, (c) Cerebelum,
(d) spinal cord, (e) lobus olfaktori (ukuran tulisan)

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi otak oisces seperti gambar tersebut. Anatomi otak pisces
disusun oleh cerebrum, optic lobe, dan cerebelum,dari ketiga bagian ini cerebelum
lah yang terlihat memiliki volume paling besar
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa anatomi
otak pada pisces. Otak merupakan salah satu organ yang sangat penting fungsinya
bagi ikan. Otak terdapat pada susunan saraf pusat. Otak ikan dapat dibagi menjadi
lima bagian yaitu telecephalon, diencephalon, mesencephalon, metencephalon,
dan myelencephalon (Khairuman, 2002).
Ikan memiliki otak yang pendek yang terdiri dari obus olfaktorius,
hemisfer serebral, dan diensephalon berukuran kecil, sedangkan lobus optikus dan
cerebellum berukuran besar. Korda saraf tertutup dengan lengkung neural
sehingga mengakibatkan saraf-saraf spnal berpasangan pada setiap segmen tubuh
(Brotowidjoyo, 1994).
4.2. Anatomi Otak Amphibi

82

a
b
c

Gambar 2. Anatomi Otak Amphibi, (a) Lobus olfaktori, (b) cerebrum,


(c) Lobus optic, (d) spinal cord, (e) cerebelum

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi otak amphibi seperti gambar tersebut. Anatomi otak amphibi
disusun oleh lobus olfaktori, cerebrum, optic lobe, cerebelum dan spinal cord.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa anatomi
otak pada Amphibi terdiri atas bulbus olfaktorius, hemespherium cerebri, lobus
opticus, cerebellum, medula oblongata, chiasma opticus, infundibulum, hypopisis,
dan nrvi craniales (Radiopoetro, 1996).

83

4.3. Anatomi Otak Reptil


a
b
c
d
e

Gambar.3 Anatomi Otak Reptil(a) Lobus olfaktori, (b) Cerebrum,


(c) Lobus optic, (d) Cerebellum, (e) Spinal

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi otak reptil seperti gambar tersebut. Anatomi otak reptil
disusun oleh lobus olfaktori, cerebrum, optic lobe, cerebelum dan spinal cord.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa anatomi
otak pada reptile, pada facies dorsalis mencephalon dapat kita lihat sepasang
hemispherium cerebri yang relative besar. Bagian cranial dari hemispherium
cerebri ini menyempit membentuk lobus olfactorius yang kearah frontal
melanjutkan diri sebagai tractus olfactorius dan berakhir sebagai bulbus
olfactorius yang membesar. Lobus opticus bagian cranial tertutup oleh
hemispherium cerebr bagian caudal. Lobus opticus ini terbagi dua oleh sulcus
media menjadi corpora higemina. Cerebellum relative kecil, terletak dibagian
caudal dari mecencephalon (Radiopoetro, 1996).

84

4.4. Anatomi Otak Aves


a
b
c
d
e

Gambar.4 Anatomi Otak Aves, (a)Lobus olfaktori, (b) cerebrum,


(c) Lobus optic, (d) Cerebellum, (e) Spinal

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi otak aves seperti gambar tersebut. Anatomi otak aves
disusun oleh lobus olfaktori, cerebrum, optic lobe, cerebelum dan spinal cord.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa anatomi
otak pada aves, encephalon mengisi seluru cavum crani dan terdiri atas tiga again
yaitu procenphalon, mesenephalon dan rhombencephalon. Pada procenphalon,
hemispherium cerebri meluas kebelkang sampai cerebellum. Bulbus olfactorius
terletak pada ujung muka, sepasang dan kecil. Pada cerebellum jika dibandingkan
dengan besar otak, cerebellum relative besar, termasuk rhombencephalon (Sukiya,
2001).

85

4.5. Anatomi Otak Mamalia

Gambar. 5 Anatomi Otak Mamalia, (a)Lobus olfaktori, (b) Cerebrum,


(c) Cerebellum, (d) Spinal

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah di lakukan. Di dapatkan hasil


pengamatan anatomi otak mamalia seperti gambar tersebut. Anatomi mamalia
disusun oleh lobus olfaktori, cerebrum, cerebelum dan spinal cord.
Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa anatomi
otak pada mammalia, ecenphalon pada mamalia memunyai bagian-bagian seperti
cerebrum atau otak besar. Pada permukaannya terdapat lekukan-lekukan yang
disebut sulci dan bagian yang berupa celah disebut gyri. Telencephalon dibagi
dalam dua bagian yaitu lobus frotalis dan lobus parietalis. Bagian lateral dari
telencephalon dipisahkan oleh fissure longitudinal (Sukiya, 2001).

86

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Otak pada piscesterdiri dari spinal cord, optic lobe, cerebrum dan bulbus
olfactorius.
2. Otak pada amphibi terdiri dari lobus olfactory, cerebrum, medulla oblongata,
spina cord, cerebellum dan optic lobe.
3. Otak pada reptile terdiri dari cerebrum, optic lobe, bulbus olfactorius.
4. Otak pada aes terdiri dari mesencephalon, cerebrum dan optic lobe.
5. Otak pada mamalia terdiri dari mesencephalon, optic lobe, cerebellum dan
cerebrum.

5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum anatomi otak ini yaitu praktikan lebih berhati-hati
dan teliti dalam bekerja sehingga kesalahan dalam praktikum dapat diminimalisir.

87

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.


Jafnir. 1983. Anatomi Hewan Vertebrata. Padang : Universitas Andalas.
Khairuman. 2002. Budidaya ikan Mujair. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka.
Kimball, John W. 1983. Biologi Jilid 2.Jakarta : Erlangga.
Kimball,John W. 1994. Biologi Edisi Ke IV. Jakarta: Erlangga.
Lestari. 2011. Anatomi Vertebrata. Jakarta : Alfabeta
Radiopoetra. 1996. Zoology. Jakarta: Erlangga.
Syamsuri. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.
Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. Yogyakarta: UGM.

88

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Histologi adalah ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan secara detail
menggunakan mikroskop pada sediaan jaringan yang dipotong tipis, salah satu
dari cabangbiologi.Histologi dapat juga disebut sebagai ilmu anatomi
mikroskopis.Histologi amat berguna dalam mempelajari fungsi fisiologisel-sel
dalam tubuh, baik manusia, hewan, serta tumbuhan, dan dalam bentuk
histopatologi ia berguna dalam penegakan diagnosis penyakit yang melibatkan
perubahan fungsi fisiologi dan deformasi organ.Sistem pencernaan adalah sistem
organ dalam hewan multisel yang menerima makanan, mencernanya menjadi
energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut. Sistem pencernaan
antara satu hewan dengan yang lainnya bisa sangat jauh berbeda (Syarif,2009).
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia terjadi di
sepanjang saluranpencernaan dan dibagi menjadi 3 bagian, yaitu proses
penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung.Selanjutnya
adalah proses penyerapan sari sari makanan yang terjadi di dalam usus.
Kemudian proses pengeluaran sisa sisa makanan melalui anus. Organ adalah
kumpulan dari beberapa jaringan untuk melakukan fungsi tertentu di dalam tubuh
sedangkan sistem tubuh adalah gabungan dari organ-organ tubuh yang
menjalankan fungsi tertentu (Anto,2004).
Saluran pencernaan umumnya mempunyai sifat struktural tertentu
yangterdiri atas 4 lapisan utama yaitu: lapisan mukosa, submukosa, lapisan otot,

89

danlapisan serosa.Lapisan mukosa terdiri atas epitel pembatas, lamina propria yang
terdiridari jaringan penyambung jarang yang kaya akan pembuluh darah kapiler
danlimfe dan sel-sel otot polos, kadang-kadang mengandung juga kelenjar-kelenjar
dan jaringan limfoid dan muskularis mukosae.Submukosa terdiri atas jaringan
penyambung jarang dengan banyak pembuluhdarah dan limfe, pleksus saraf
submukosa, dankelenjar-kelenjar dan/atau jaringan limfoid.Lapisan otot tersusun
atas, sel-sel otot polos, berdasarkan susunannyadibedakan menjadi 2 sublapisan
menurut arah utama sel-sel otot yaitu sebelahdalam (dekat lumen), umumnya
tersusun melingkar (sirkuler) pada sublapisanluar, kebanyakan memanjang
(longitudinal). Kumpulan saraf yang disebutpleksus mienterik (atau Auerbach),
yang terletak antara 2 sublapisan otot,pembuluh darah dan limfe.Serosa merupakan
lapisan tipis yang terdiri atas, jaringan penyambungjarang, kaya akan pembuluh
darah dan jaringan adiposa dan epitel gepengselapis (mesotel).Fungsi utama epitel
mukosa saluran pencernaan adalah, menyelenggarakan sawar (pembatas), bersifat
permeabel selektif antara isisaluran dan jaringan tubuh (Syarif,2009).
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah untuk mengetahui struktur
histologi sistem pencernaan pada beberapa organ pencernaan.

90

II.TINJAUAN PUTAKA

Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar yang


berhubungan. Fungsi sistem pencernaan adalah memperoleh metabolit-metabolit
yang diperlukan untuk pertumbuhan dan energi yang diperlukan bagi tubuh dari
makanan yang dimakan. Sebelum disimpan atau digunakan sebagai energi,
makanan dicernakan dan diubah menjadi molekul-molekul kecil yang dapat
dengan mudah diabsorpsi melalui dinding saluran pencernaan (Bevelander, 1988).
Pada keadaan hidup biasanya terlihat merah muda kecuali pada daerah
cardia dan pylorus agak pucat. Tampak pada permukaan lipatan-lipatan yang
disebut rugae karena longgarnya tunica submucosa di bawahnya. Terdapat
gambaran yang lebih menetap yaitu tonjolan-tonjolan yang membentuk bulat
dipisahkan oleh alur-alur disekitarnya yang dinamakan areola gastrica. Sebagian
besar tunica mucosa terisi oleh kelenjar lambung yaitu glandula cardiaca, glandula
fundica, dan glandula pyloric (Syarif,2009).
Jaringan pengikat pada lamina propria sangat sedikit karena terdesak oleh
kelenjar-kelenjar yang begitu rapat, yaitu jaringan ikat kolagen dan retikuler.
Infiltrasi limfosit tersebar secara difusi dan kadang-kadang ditemukan
lymphanodulus solitarius. Ventriculi terdapat 3 macam kelenjar, glandula cardiac,
kelenjar ini terdapat disekitar muara oesophagus di dalam gaster. Glandula
cardiaca merupakan kelenjar tubuler kompleks yang bermuara pada dasar foveola
gastrica. Pada kelenjar ini hanya ditemukan satu jenis sel yaitu sel mukosa yang
mirip dengan sel mukosa pada glandula pylorica atau sel mukosa leher dari
glandula fundica (Iriawati,2012).
Glandula fundica atau glandula gastrica propria, merupakan kelenjar utama pada
dinding ventriculus yang menghasilkan getah lambung. Bentuk masing-masing

91

kelenjar ialah tubuler simplex bercabang, bermuara pada dasar foveola. Ujungujungnya sedikit membesar dan bercabang menjadi 2-3 buah. Ujung-ujung
kelenjar mencapai lamina muscularis mucosa. Dalam sebuah lambung terdapat
sekitar 15 juta kelenjar. Glandula pyloric, kelenjar ini terdapat di dalam lamina
propria daerah pylorus. Glandula pylorica berbentuk tubuler bercabang simpleks,
ujungnya bercilia hingga pada sediaan tampak terpotong melintang (Zamal,2001).
Tunika submucosa, merupakan jaringan ikat padat yang mengandung selsel lemak, mast cells, sel limfoid. Tunika muscularis, terdiri dari 3 lapisan
berturut-turut dari dalam keluar yaitu, stratum oblique, terutama pada facies
ventralis dan dorsalis di daerah fundus dan corpus ventriculi. Stratum circulare,
merupakan lapisan yang paling merata di seluruh bagian ventriculus, di pylorus
membentuk muskulus sphincter pylori. Stratum longitudinal, banyak pada daerah
curvatura minor dan curvatura major. Tunika serosa, merupakan jaringan pengikat
biasa yang sebelah luar dilapisi oleh mesotil sebagai lanjutan dari peritoneum
viscerale yang meneruskan sebagai omentum majus. Pada perlekatan sepanjang
curvatura minor dan major tidak dilapisi oleh mesotil (Nurdin,2010).
Intestinum tenue merupakan bagian tractus digestivus di antara ventriculus
dan intestinum crassum, seluruhnya ada sekitar 6 meter panjangnyaUntuk
memenuhi fungsi utama yaitu absorbsi makanan, maka perlu perluasan dari
permukaan tunika mucosa. Perluasan tersebut dilaksanakan dalam beberapa
tingkat (Sudjono,1997).
Saluran usus ini mempunyai panjang sekitar 1,5 m, diameternya dua kali
lipat intestinum tenue. Tidak ada plica circularis dan juga vili intestinalis,
sehingga permukaan dalamnya tampak lebih halus. Glandula intestinal lebih
panjang dan rapat. Epitel yang melapisi tunika mucosanya pada umumnya sejenis.
Di antara colon, yang terletak intraperitoneal ialah caecum dengan appendia,

92

colon transversum dan colon sigmoideum. Sedang yang terletak retro peritoneal
ialah conon ascendens dan colon descendens (Iriawati,2012).
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh manusia. Pada
vertebra rendah gambaran strukturnya memang benar-benar sebagai kelenjar. Pada
manusia dan juga pada vertebra tinggi sudah berubah strukturnya sebagai susunan
sel-sel dalam lempeng-lempeng (Saeri,2007).
Faring berupa rongga dimana tujuh saluran bermuara kedalamnya. Secara
histologik dibedakan atas nasofaring dan orofaring. Nasofaring, selaput lendirnya
adalah selaput lendir berkelenjar, dengan epitel silindris banyak baris bersilia, dan
diantaranya terdapat sel mangkok. Pada propria mukosa terebar kelenjar
seromukous dan jaringan limfoid. Ujung kelenjar seromukous lebih banyak
memiliki sel yang bersifat sereus. Orofaring, selaput lendirnya adalah selaput
lendir kutan dengan banyak papil mikroskopik. Pada tunika propria terdapat
kelenjar mukous dan jaringan limfoid yang membentuk tonsil. Fascia bagian
dalam merupakan batas dengan selaput lendir yang terdiri dari serabut elastis.
Dibawahnya terdapat lapis otot kerangka yang tersusun secara memanjang dan
melintang. Fascia bagian luar terdiri dari serabut kolagen dengan sedikit serabut
elastis, dan langsung berbatasan dengan adventisia yang banyak mengandung
pembuluh darah, limfe, saraf, dan folikel getah bening (Syarif,2009).

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

93

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum histologi dilakukan pada hari Senin, 10 Maret 2014 pukul
15.00 WIB di Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi,Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada kegiatan praktikum ini adalah,mikroskop cahaya untuk
melihat preparat permanen,pensil untuk menggambar, penggaris untuk menggaris
buku gambar, penghapus pensil untuk menghapus, buku panduan/ Literatur, Buku
tulis untuk panduan, buku gambar untuk menggambar preparat.Sedangkan bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah, preparat esophagus, hepar, duodenum,
caecum, colon, rectum dan pankreas.
3.3 Cara Kerja
Microskop cahaya dan peralatan kerja seperti, pensil, kertas/buku, penggaris,
penghapus pensil, beberapa preparat yang berhubungan dengan sistem pencernaan
disiapkan. Selanjutnya preparat diletakkan ke meja benda, pemutar lensa objektif
diatur untuk memutar lensa objektif sehingga mengubah perbesaran lensa objektif
untuk memperbesar objek. Selanjutnya amati objek, lalu digambar dan diberi
keterangan serta didokumentasikan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

94

4.1 Histologi Lingua

b
a

Gambar.1 preparat lingua, (a) papillae filifomis (b) papillae fungiformis

Gambar preparat lingua tersebut menunjukan lingua tersusun dari otot-otot lurik,
berbentuk seperti tonjolan-tonjolan (papillae) dan terdiri dari jaringan-jaringan
epitel. Pada lingua juga terdapat membrane mukosa yang mengsekresikan mukus.
Lingua atau lidah merupakan suatu massa otot lurik yang diliputi oleh
membran mukosa. Serabut-serabut otot satu sama lain saling bersilangan dalam 3
bidang, berkelompok dalam berkas-berkas, biasanya dipisahkan oleh jaringan
penyambung. Pada permukaan bawah lidah, membran mukosanya halus,
sedangkan permukaan dorsalnya ireguler, diliputi oleh banyak tonjolan-tonjolan
kecil yang dinamakan papillae (Gunarso, 1979).
Papilae lingua merupakan tonjolan-tonjolan epitel mulut dan lamina
propria yang bentuk dan fungsinya berbeda. Terdapat 4 jenis papilae yaitu, papilae
filiformis, yang memepunyai bentuk penonjolan langsing dan konis, sangat
banyak, dan terdapat di seluruh permukaan lidah. Epitelnya tidak mengandung
puting kecap (reseptor). Papilae fungiformis, menyerupai bentuk jamur karena
mereka mempunyai tangkai sempit dan permukaan atasnya melebar. Papilae ini,

95

mengandung puting pengecap yang tersebar pada permukaan atas, secara tidak
teratur terdapat di sela-sela antara papilae filoformis yang banyak jumlahnya,
papilae foliatae tersusun sebagai tonjolan-tonjolan yang sangat padat sepanjang
pinggir lateral belakang lidah, papila ini mengandung banyak puting kecap. Dan
papilae circumfalatae yang merupakan papilae yang sangat besar yang
permukaannya pipih meluas di atas papilae lain. Papilae circumvalate tersebar
pada daerah V pada bagian posterior lingua. Banyak kelenjar mukosa dan
serosa (von Ebner) mengalirkan isinya ke dalam alur dalam yang mengelilingi
pinggir masing-masing papila. Susunan yang menyerupai parit ini memungkinkan
aliran cairan yang kontinyu di atas banyak puting kecap yang terdapat sepanjang
sisi papila ini (Gunarso, 1979).

4.2 Histologi Esophagus


a
b
c
d

Gambar.2 preparat esophagus, (a) epitel berlapis gepeng, (b) mukosa, (c) lumen,
(d) muskularis mukosa
Bagian saluran pencernaan ini merupakan tabung otot yang berfungsi
menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Esophagus diselaputi oleh epitel
berlapis gepeng tanpa tanduk. Pada lapisan submukosa terdapat kelompokan
kelenjar-kelenjar esophagea yang mensekresikan mukus. Lapisan otot hanya
terdiri sel-sel otot polos dan otot lurik.

96

Esophagus berupa saluran yang cukup panjang yang menghubungkan


faring dengan lambung. Terbagi atas tiga daerah antara lain : pars cervicis, pars
thoracis, dan pars abdominis ( Bevelander, 1988).
Esophagus memiliki lapis umum saluran pencernaan secara lengkap yaitu,
tunika mukosa yang berupa selaput lendir kutan membentuk lipatan-lipatan
memanjang. Epithel pipih banyak lapis pada herbivora bertanduk tapi pada
karnivora tidak. Tunika propria tidak tampak kelenjar dan terdiri dari jaringan ikat
yang banyak mengandung sel. Muskularis mukosa, terdiri dari otot polos tersusun
memanjang. Selanjutnya sub mukosa yang terdiri dari jaringan ikat longgar yang
mengandung sel lemak, pembuluh darah, jaringan limfoid dan kelenjar (glandula
esophageae). Dan tunika muskularis yang terdiri dari otot kernagka dan otot polos
tergantung pada daerahnya. Sebagian besar terdiri dari otot kerangka, kecuali
daerah sepertiga bagian belakang terdiri dari otot polos. Tunika muskularis
membentuk lapis melingkar (dalam), dan memanjang (luar) dan dipisah oleh
jaringan ikat. Kemudian tunika adventisis, di daerah leher esophagus dibalut oleh
adventisia tetapi di daerah dada dan perut dibalut oleh serosa (Bevelander, 1988).
4.3 Histologi Hepar

d
a
b
c
Gambar.3 preparat hepar, (a) satu lobus hati, (b) vena centralis,
(c) ductus billaris,(d) vena porta.

97

Gambar tersebut merupakan gambar preparat hepar. Pada preparat hepar diatas
terdapat beberapa lobus hepar, dalam gambar ditunjukan satu lobus hati. Dalam
satu lobus hati terdapat bagian-bagian yaitu, vena centralis, ductus billaris dan
vena porta.
Hepar merupakan organ sekresi yang menghasilkan getah empedu, terletak
di rongga badan sebelah kanan atas dibawah diafragma. Hepar berfungsi dalam
proses metabolisme dan detoksifikasi. hepar dibagi menjadi unit-unit berbentuk
prisma polygonal yang disebut lobulus, terdiri atas parenchyma hepar dengan
diameter 0,72 mm. Pada potongan terlihat bahwa lobulus berbentuk sebagai
segi enam dengan pembuluh darah yang terdapat di tengah,yang disebut vena
sentralis. Batas-batas lobulus pada hepar manusia tidak jelas dipisahkan oleh
jaringan pengikat. Pada sudut pertemuan antara lobuli yang berdekatan terdapat
bangunan jaringan pengikat berbentuk segi tiga berisi saluran-saluran yang
disebut Canalis Portalis yang terdiri dari pembuluh darah, pembuluh limfe,
saluran empedu dan serabut saraf. Bangunan segitiga ini disebut Trigonum
Kiernanni (Syariffudin, 2006)
4.4 Histologi Intestinum tenue
a
b
c
Gambar.4 preparat duodenum, (a) lamina propia, (b) mukosa, (c) muskularis
mukosa
Gambar preparat tersebut merupakan gambar salah satu gambar bagian dari
intestinum tenue yaitu preparat duodenum. Pada preparat duodenum terdapat
bagian-bagian seperti lumen atau rongga bagian dalam. Mukosa merupakan

98

bagian dalam dari duodenum yang terdiri dari epitel-epitel, lamina propia dan
muskuaris mukosa. Bagian terluar dari preparat duodenum ini adalah serosa.
Intestinum tenue relatif panjang kira-kira 6 m dan ini memungkinkan
kontakyang lama antara makanan dan enzim-enzim pencernaan serta antara hasilhasilpencernaan dan sel-sel absorptif epitel pembatas. Usus halus terdiri atas 3
segmen yaitu duodenum, jejunum, dan ileum (Campbell, 2002).
Membran mukosa usus halus menunjukkan sederetan lipatan permanen
yang disebut plika sirkularis atau valvula Kerkringi. Pada membran mukosa
terdapat lubang kecil yang merupakan muara kelenjar tubulosa simpleks yang
dinamakan kelenjar intestinal (kriptus atau kelenjar Lieberkuhn). Kelenjarkelenjar intestinal mempunyai epitel pembatas usus halus dan sel-sel goblet
(bagian atas).Mukosa usus halus dibatasi oleh beberapa jenis sel, yang paling
banyakadalah sel epitel toraks (absorptif), sel paneth, dan sel-sel yang
mengsekresi polipeptida endokrin (Junquera, 1980)
Proses pencernaan akan diselesaikan dan hasil-hasilnya diabrsorpsi di
dalam usus halus. Pencernaan lipid terutama terjadi sebagai akibat kerja lipase
pankreas dan empedu. Pada manusia, sebagian besar absorpsi lipid terjadi dalam
duodenum dan jejenum bagian atas. Asam-asam amino dan monosakarida yang
berasal dari pencernaan protein dan karbohidrat diabsorpsi olah sel-sel epitel oleh
transportaktif tanpa korelasi morfologis yang dapat dilihat (Junquera, 1980)

4.5 Histologi Intestinum Crrassum


4.5.1 Histologi Colon

a
b

99

Gambar.5.1 preparat colon, (a) serosa, (b) lamina propia, (c) mukosa

Gambar preparat tersebut merupakan gambar salah satu bagian dari intestinum
crassum yaitu, preparat colon. Struktur pada gambar preparat colon hampir serupa
dengan intestinum tenue, perbedaannnya adalah pada colon memiliki vili-vili
untuk memudahkan penyerapan air. Struktur dari preparat colon diatas yaitu, pada
bagian terluar merupakan serosa, kemudian lamina propia, muskularis mukosa,
sub mukosa, epitel berlapis, mukosa dan lumen.
Colon terdiri dari membran mukosa tanpa lipatandan tidak terdapat vili
usus. Epitel belapis dan mempunyai daerah kutikula tipis. Fungsi utama usus
besar adalah, untuk absorpsi air dan pembentukan massa feses, serta pemberian
mukus dan pelumasan permukaan mukosa, dengan demikian banyak sel
goblet.Pada colon, tunika mukosanya tebal karena penambahan dari glandula
intestinalis dibandingkan dengan usus halus. Tidak terdapat villi permukaan
mukosa halus. Ditandai dengan penambahan sel goblet. Pada sub mukosa
ditemukan jaringan limfoid sampai dengan ke lapisan muskularis mukosa. Pada
babi dan kuda lapisan longitudinal Tunika muskularis sangat luas yang diselingi
oleh serabut elastis. Bahkan pada caecm dan colon lebih banyak dijumpai serabut
elastis dibandingkan dengan sel-sel otot polos (Bevelander, 1988).
4.5.2 Histologi Caecum
A

a
b

100

Gambar.5.2 preparat cecum, (a) serosa, (b) mukosa,


(c) muskularis mukosa,(d) intestinum tenue

Gambar preparat tersebut merupakan gambar preparat caecum. Caecum berbeda


dengan colon karena tidak memiliki vili sama seperti preparat intestine tenue.
Struktur pada preparat caecum serupa dengan intestinum tenue hanya saja
ukurannya lebih besar dari pada intestinum tenue dan kecil dari colon. Struktur
pda preparat caecum yaitu lumen pada bagian paaling dalam, mukosa, submukosa,
muskularis mukosa, lamina propia dan serosa.
Caecum merupakan sekat pembatas antara intestinum tenue dengan
intestinum crassum. Struktur dari caecum mirip dengan struktur pada intestinum
tenue yang tidak memiliki villi seperti pada colon. Caecum memiliki variasi
dalam ukuran diantara spesies yang berbeda. Pada herbivora dengan lambung
tunggal misalnya kuda, caecum relatif besar dan penting dalam proses fermentasi
bakteri. Tetapi pada karnivora kecil. Pada hewan piara nodulus limfatikus terdapat
sepanjang caecum, sedangkan pada anjing, babi dan ruminansia jaringan limfoid
terbatas hanya pada ileo caecal. Pada caecum tidak ditemukan villi, struktur yang
lain sama dengan usus halus (Gunarso, 1979).
4.5.3 Histologi Rectum
A

101

b
c
d

Gambar 5.3 preparat rectum, (a) mukosa, (b) muskularis mukosa,


(c) lamina proria (d) lumen

Gambar tersebut merupakan gambar preparat rectum, preparat rectum diatas


memiliki struktur yang sama seperti pada preparat colon, namun bedanya pada
rectum vilinya lebih halus dibandingkan pada colon. Struktur preparat diatas yaitu
serosa, lamina propia, muskuaris mukosa, mukosa dan lumen.
Rectum merupakan bagian terakhir dari kolon, menghubungkan kolon
sigmoid (di atas) dan anus (di bawah). Rektum menyimpan feses sampai
dikeluarkan dari tubuh.Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses. Struktur rectum hampir sama dengan colon, yang memiliki
mukosa, submukosa, lamina propia, dan serosa. Rectum seeperti juga colon dan
caecum permukaan mukosa rectum halus dan cenderung terjadi penambahan sel
goblet. Pada dasarnya masing-masing species hewan memiliki struktur histologi
sama. Serabut elastis sangat banyak pada kuda dan sapi dan pada kambing domba
dan biri-bir sedikit berkurang. Permukaan luar dan dalam mengandung serabut
elastis. Semua hewan piara memiliki flexus venosus pada lamina propria. Pada
anjing kira-kira seratur nodulus limfatikus tersebar secara soliter (Syariffudin,
2006)
4.6 Histologi Pankreas

102

a
b

Gambar.6 preparat pancreas, (a) Lumen, (b) membrane basal

Gambar preparat tersebut merupakan gambar preparat pancreas. Struktur preparat


pancreas berbeda dengan preparat system digestoria lainnya. Pada preparat
pancreas ini terdapat lumen-lumen atau rongga yang tidak terlalu jelas. Membrane
yang membatasinya bukan mukosa seerti preparat colon tetapi membrane basal.
Pankreas adalah organ aksesoris pada sistem pencernaan yang memiliki
dua fungsi utama: menghasilkan enzimpencernaan atau fungsi eksokrin serta
menghasilkan beberapa hormon atau fungsi endokrin. Pankreas terletak pada kiri
atas abdomen atau perut dan bagian kaput/kepalanya menempel pada organ
duodenum. Produk enzim akan disalurkan dari pankreas ke duodenum melalui
saluran pankreas utama. Fungsi dari pankreas mengatur kadar gula dalam darah
dan pengurangan kadar gula dalam darah dengan mengeluarkan insulin.Mirip
kelenjar ludah bawah lidah, sehingga disebut juga kelenjar lidah perut. Salurannya
bermuara ke duodenum, dekat muara saluran empedu dari kandung empedu.
Terdiri atas dua jeis kelenjar: endokrin dan eksokrin. Sebagai endokrin
menghasilkan insulin dan glukagon, keduanya hormon yang berfungsi untuk
metabolisme karohidrat. Hormon itu dihasilkan dalam pulau Langerhans, yang
terdapat bersebar di antara kelenjar eksokrin (Gunarso, 1979).

103

Sebagai kelenjar eksokrin alat ini dibian atas banyak lobuli. Tiap lobulus
mengandung acini majemuk. Di bawah mikroskop tampak pada sediaan alat ini,
bahwa pada beberapa tempat di antara acini ada kelompok sel yang tak teratur,
itulah pulau Lengerhans. Antara lobuli ditemukan tumpukan jaringan lemak dan
serat (jaringan ikat yang menyalut alat ini. Sel acini menggetahkan cairan yang
mengandung enzim protease, nuklease, amilase dan lipase (Gunarso, 1979).

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:

104

1. Lingua atau lidah terdiri atas suatu massa otot lurik yang diliputi oleh
membran mukosa. Serabut-serabut otot satu sama lain saling bersilangan
dalam 3 bidang.
2. Esophagus berupa saluran yang cukup panjang yang menghubungkan faring
dengan lambung. Terbagi atas empat struktur yaitu, tunika mukosa, tunika
submukosa, tunika muskularis dan tunika adventitia.
3. Hepar berfungsi dalam proses metabolisme dan detoksifikasi. Struktur bagian
hepar yaitu dalam satu lobus terdapat vena centralis, vena porta dan ductus
billaris.
4. Intestinum tenue dipakai preparat duodenum, struktur bagian duodenum yaitu,
lumen, mukosa, submukosa, muskularis mukosa, lamina propia dan serosa.
5. Intestinum crassum terdiri dari caecum, colon dan rectum. Pada ketiga
preparat tersebut yang membedakannya vili pada colon dan rectum.
6. Pada preparat pancreas, strukturnya terdiri atas lumen dan membranebasal.

5.2 Saran
Adapun saran untukpraktikum histology pencernaan ini yaitu praktikan agar lebih
berhati-hati dan teliti dalam bekerja agar kesalahan dalam praktikum dapat
diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Anto, S. 2004. Pencernaan Manusia. Bandung : Lib press


Bevelander, G. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga

105

Gunarso, W. 1979. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga


Iriawati. 2012. Histologi Pencernaan. Surabaya: Adiyaksa
Junqeira, L.C. 1980. Basic Histology.California: LMP
Nurdin. 2010. Histologi. Jakarta: Erlangga
Saeri, M. 2007. Histologi Mamalia. Bandung: Pustaka Prima
Sudjono. 1997. Fisiologi Dan Histologi. Jakarta: Erlangga
Syarif. 2009. Histologi. Jakarta: Erlangga
Syariffudin. 2006. Anatomi Fisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran
Zamal, P. 2001. Sistem Pencernaan. Jakarta: Bulana Press

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

106

Histologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang membahas masalah jaringan
tubuh manusia untuk mengetahui struktur dan sifat jaringan secara detail sehingga
dapat membantu dalam mendiagnosis penyakit dan mengantisipasi perubahan
jaringan akibat penambahan usia. Karena sifatnya yang demikian, maka histologi
erat hubungannya dengan sistem lain yaitu sistem respirasi, rardiovaskuler,
digesti, reproduksi, ekskresi, dan organ indera (Bajpai, 1988).
Jaringan adalah sekumpulan sel yang tersimpan dalam suatu kerangka
judu dengan struktur kesatuan organisasi yang mempertahankan keutuhan dan
penyesuaian terhadap lingkungan diluar batas dirinya . Jaringan dalam biologi
adalah sekumpulan sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama (Erwin ,
2009)
Sistem respirasi berperan untuk penyediaan oksigen untuk darah dan
membuang CO2 . Sistem respirasi dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu bagian
konduksi dan respirasi . Bagian konduksi meliputi rongga hidung , nasopharynx ,
larynx , trakea , broncus , dan bronciolus. Bagian ini berperan untuk menyediakan
saluran dimana udara dapat mengalir dari paru paru ke paru paru . Respirasi
terdapat tulang tulang rawan , serabut elastic dan otot polos. Pada pharynx
terdiri atas nasopharynx dan oropharynx. Larinx tersusun dari kartilago hyaline
dan elastic yang membentuk tabung panjang kurang teratur , dilapisi dengan
jaringan ikat. Pada trachea susunannya terdiri atas mukosa bersilia dengan
membrane basalis , lamina propia , lapisan serabut elastic longitudinal , sub
mukosa dengan glandula , membrane fibroelastis dengan cincin kartilago dan
tunika adventitia (Pujianto , 2008).
Struktur pulmo mirip dengan glandula alveolar komplek. Pulmo terdiri
dari rangka penyokong berupa kapsula dan jaringan ikat. Pleura adalah
membrane serosa pembungkus pulmo. Terdiri atas 2 bagian yang menempel pada
pulmo seraut pleura viscerali (Leeson , 1996).

107

Pada pemeliharaan udara, pembersihan dilakukan oleh epitel bersilia yang


berfungsi membuang partikel-partikel debu dan zat-zat lain. Untuk membasahi
saluran respirasi diperlukan peranan dari kelenjar-kelenjar mukus (sel-selnya
terdiri sel mukosa dengan granul sekresi yang besar dan jernih) dan seromukus
(gabungan sel serosa dan mukosa, dimana sel serosa mempunyai granul sekresi
yang mudah diwarnai). Untuk menghangatkan diperlukan peranan dari pembuluh
darah (Cambell, 2002).
Sistem sirkulasi terdiri dari atas sistem kardiovaskuler dan limfe.
Sistemkaridovakuler terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut: Jantung, yang
berfungsi untuk memompa darah. Pembuluh darah yang berfungsi untuk
mengalirkan darah menuju ke jaringan dan sebaliknya. Dan, cairan darah yang
berfungsi mengangkut O2 dan CO2, zat-zat makanan dan sebagainnya kejaringan
dan sebaliknya (Erwin, 2009).
Pada organ jantung terdiri dari 3 lapisan yaitu endokardium , miokardium ,
dan epikardium. Pada umumnya jaringan yang terdapat pada system sirkulasi
terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika adventitia , tunika mukosa , tunika intima
(Rudyatmi , 2011).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pratikum ini adalah untuk mengetahui struktur dari jaringan
sistem sirkulasi dan jaringan sistem respirasi dari pengamatan pada
preparat.Untuk mengetahui lapisan-lapisan penyusun jaringan pernafasan dan
sirkulasi.

108

II.TINJAUAN PUSTAKA

Sistem respirasi berguna untuk pengambilan oxygen dan pembuangan CO2 yang
dibawah ke dan dari jaringan dengan melalui system sirkulasi.Sistem respirasi
dapat dibagi menjadi 2 bagian pokok yaitu : bagian konduksidan bagian respirasi.
Bagian konduksi merupakan tabung yang menghubungkan dunialuar dan paruparu. Terdiri atas hidung, pharynx, larynx, trachea dan bronchi sertabronchioli.

109

Bagian ini ada yang terletak dalam paru-paru ada yang diluar. Cavum nasiterbagi
menjadi 3 bagian yakni, regio vertibularis, regio respiratorius danregio olfaktorius
(Erwin , 2009).
Pharynx terdiri atas nasopharynx danoropharynk. Nasopharynk dilapisi
dengan epithelium pseudocomplex bersilia,oropharynx. Lamina propria
oropharynx terdiri atas jaringanfibroelastis dan banyak mengandung glandula
mukosa serta mempunyai banyakjaringan lymphatik. Pada nasopharynx pada
umumnya bersifat mukoserosainterna terdiri dari serabut longitudinal dan sirkuler
tebal.Fascia pharyngea externa terdiri atas membran fibrosa padat dengan jalajalaserabut elastis. Tunica adventitia berupa jaringan ikat longgar (Riandary ,
2007).
Larynx tersusun dari kartilago hyalin dan elastis yang membentuk
tabungpanjang yang kurang teratur, dilapisi dengan jaringan ikat. Larynx tersusun
atas beberapa kartilago thyroidea, cricoidea danepiglotis bersifat tunggal,
sedangkankan cartilago arytenoidea, cornikulata dancuneiformis sepasang.
Lamina propria dibentuk oleh jaringan ikat dengan banyak serabut elastis (Leeson,
1996 ).
Padatrachea susunannya terdiri atas mukosabersilia denganmembrana
basalis, lamina propria, lapisan serabut elastis longitudinal, sub mukosadengan
glandula, membrana fibroelastis dengan cincin kartilago, otot (hanyaterdapat di
bagian dorsal) dan tunika adventitia. Epithelium banyak mempunyai sel piala dan
diantara epithelium banyakterdapat leukosit. Gerak silia kearah hidung dan
berguna untuk mengusir partikeldebu. Lamina propria terdiri dari serabut halus
dengan banyak limphosit dibatasi dari sub mukosa oleh membran fibroelastis
yang mengambiltempat seperti membranmuskularis mukosa, sub mukosa kaya
akan serabut elastit dan lemak dan melekat pada perikhondium cincin kartilago.

110

Cincin-cincin kartilago dibungkus oleh membran fibrosa, cincin ini menjagaagar


trachea jangan kolaps, terutama saat osofagus dilalui bolus makanan. Tunika
muskularisnya adalah transversus trachea berupa otot polosdengan arah melintang
pada bagian dorsal . Tunika adventitia terdiri atas serabut elastisdan kolagen yang
longgar dengan banyak jaringan lemak (Pujianto, 2008).
Pleura adalah membran serosa pembungkus pulmo. Terdiri atas dua
bagianyang menempel pada pulmo disebut pleura viscerali, yang menempel pada
cavumthoracis disebut pleura parietalis. Pleura terdiri atas lapisan tipis, jaringan
kolagenyang kaya fibroblast dan makrofag. Disamping itu ditemukan pula berkasberkasserabut elastis yang berjalan simpang siur kearah permukaan. Seperti
peritoneum permukaannya tertutup oleh mesothelium (Rudyatmi, 2011).
Sistem sirkulasi adalah penghubung antara lingkungan eksternal dan
lingkungan cairan internal tubuh. Sistem ini membawa nutrient dan gas ke semua
sel, jaringan, organ, dan system organ serta membawa product akhir metabolic
keluar dariny. Komponen penyusun dari system sirkulasi tersusun atas berbagai
komponen utama yaitu jantung , pembuluh dan cairan tubuh yang beredar
(bersikulasi). Jantung berfungsi sebagai pompa penggerak catatan,
sedangkanpembuluh berfungsi sebagai jaringan cairan yang akan di lewati /
dilalui oleh cairan yang beredar ke seluruh tubuh. Cairan yang dimaksud dapat
berupa darah, cairan limfe atau hemolimfe (Pujianto, 2008).
Sistem peredaran darah terdiri dari kedua darah pembuluh darah. Sistem
limfatik darah terdiri dari struktur berikut : jantung organ yang fungsinya untuk
mempa darah. Arteri serangkaian efferent kapal yang menjadi lebih kecil seperti
cabang berfungsi untuk membawa darah, dengan nutrisi dan oksigen untuk
jaringan. Kapiler pembuluh darah terkecil merupakan sebuah jaringan yang
kompleks (Leeson, 1996).

111

Sistem sirkulasi berguna untuk mendistribusikan oksigen, nutrisi, hormon


ke jaringan serta tempat mengumpulkan CO2 beserta hasil metabolisme dan
membawanya ke organsekretorik. Pada vertebrata sistem sirkulasi terdiri atas
pompa berotot, jantung dan sistem pembuluh darah (Leeson, 1991).
Pada umumnya jaringan yang terdapat pada system sirkulasi terdiri dari 3
lapisan, yaitu tunika adventitia, tunika mukosa, dan tunika intima. Contohnya saja
pada arteri yang terdiri dari 3 lapisan tersebut, tunika adventitia yang terdiri dari
banyak otot polos dan tunika intima yang berupa tabung endotel dengan sel sel
gepeng (Rudyatmi, 2011).
Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan yaitu endokardium, miokardium dan
epikardium. Endokardium, merupakan bagian dalam dari atrium dan ventrikel.
Endokarium homolog dengan tunika intima pada pembuluh darah. Endokardium
terdiri dari endotelium dan lapisansubendokardial. Endotelium pada endokardium
merupakan epitel selapis pipih dan lapisan subendokardial terdiri dari jaringan
ikat longgar.Miokardium, terdiri dari otot polos.Miokardium pada ventrikel kiri
lebih tebal dibandingkan pada ventrikel kanan. Sel otot yang khusus pada atrium
dapat menghasilkan atriopeptin. Miokardium terdiri dari 2 jenis serat otot yaitu
serat kondukdi dan serat kontraksi.Serat konduksi pada jantung merupakan
modifikasi dari serat otot jantung dan menghasilkan impuls . Epikardium terdiri
dari 3 lapisan yaitu perikardium viseral, lapisan subepikardial dan perikardium
parietal. Perikardium viseral terdiri dari mesothelium (epitel selapis pipih).
Lapisan subepikardial terdiri dari jaringan ikat longgar dengan pembuluh darah
koroner, saraf serta ganglia (Lesson, 1991).

112

III. PELAKSANAAN PRATIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pratikum dilaksanakan pada hari Senin, 21 April 2014, pukul 13.00 WIB, di
Laboratorium Teaching II,Jurusan Biologi,Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang.

113

3.2 Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan pada pratikum ini yaitu mikroskop. Bahan-bahan yang
digunakan dalam pratikum ini yaitu preparat seperti BEP (Bronkiolus Ekstra
Pulmonalis), paru-paru, jantung, trakea, laring, arteri, alveolus.

3.3 Cara Kerja


Mikroskop disiapkan beserta preparat-preparat tersebut, Preparat diletakkan diatas
meja mikroskop, Bentuk preparat-preparat tersebut diamati dan digambarkan hasil
pengamatan pada buku gambar, gambar dilengkapi dengan keterangan yang jelas,
kemudian dibuat pembahasan hasil pengamatan beserta kesimpulannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Histologi BEP

114

c d

Gambar. 1. Preparat BEP, (a) serosa (b) otot polosmelingkar


(c) lamina propia (d) columnar stratisfied

Berdasarkan pengamatan yang telah di lakukan,di dapatkan hasil seperti gambar


di atas. Terdapat 4 lapisan pada preparat BEP yaitu serosa, otot polos melingkar,
lamina propia, dan columnar stratisfied.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan bahwa
Lobulus paru-paru berbentuk piramid dengan apeks yang mengarah ke arah
permukaan paru-paru. Tiap lobulus dibatasi oleh septum jaringan penyambung
tipis yang terlihat pada fetus. Bronkiolus tidak mempunyai kelenjar pada
mukosanya tetapi hanya ditunjukkan oleh adanya sel-sel goblet yang tersebar
dalam epitel permulaan bagian luar. Bronkiolus respiratorius dibatasi oleh epitel
kubis bersilia, tetapi pada tepi lubang alveolaris, epitel bronkiolus menuju epitel
pembatas alveolus. Epitel bronkiolus terdiri atas epitel kubis bersilia tetapi pada
bagian yang lebih distal, silia mungkin tidak ada (Bajpai, 1988).

4.2 Histologi Laring

115

a b c d e f
Gambar.2. Preparat Laring (a)serosa (b) cartilago (c) penchondrium
(d) lamina propia (e) epitel (f) lumen

Dari hasil pengamatan yang telah di lakukan,di dapatkan hasil seperti gambar di
atas. Terdapat 6 lapisan pada preparat laringyaitu serosa, penchondrium, cartilago,
lamina propia, epitel, dan lumen.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan
bahwa Seluruh permukaan yang menghadap ke lidah dan bagian permukaan
apikal yang menghadap ke laring diliputi oleh epitel berlapis gepeng. Ke arah
basis epiglotis pada permukaan yang menghadap laring, epitel mengalami
perubahan menjadi epitel bertingkat toraks bersilia. Kelenjar campur mukosa dan
serosa terutama terdapat di bawah epitel toraks, bebas menyebar ke dalam, yang
menimbulkan bercak pada rawan elastin yang berdekatan. Di bawah epiglottis,
mukosa membentuk dua pasang lipatan yang meluas ke dalam lumen larynx.
Pasangan yang di atas merupakan pita suara palsu (atau lipatan vestibular), dan
mereka mempunyai epitel respirasi yang di bawahnya terletak sejumlah kelenjar
seromukosa dalam lamina proprianya. Pasangan yang bawah merupakan lipatan
yang merupakan pita suara asli. Di dalam pita suara, yang diliputi oleh epitel
berlapis gepeng, terdapat berkas-berkas besar sejajar dari selaput elastin yang
merupakan ligamentum vocale. Sejajar dengan ligamentum terdpat berkas-berkas

116

otot lurik, yang mengatur regangan pita dan ligamentum dan akibatnya, waktu
udara didorong melalui pita-pita menimbulkan suatu suara dengan tonus yang
tidak sama (Campbell, 2002).

4.3 Histologi Trakea

a bcde
Gambar. 2. Preparat Trakea, (a) tunika adventia (b) cartilago
(c) perichondrium (d) lamina propia (e) epitel
Gambar tersebut merupakan hasil pengamatan preparat trakea. Terdapat 5 lapisan
pada preparat trakea yang teramati yaitu tunika adventitia, cartilago,
perichondrium, lamina propia, dan epitel.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan
bahwaTrakea merupakan tabung berdinding tipis yang terletak dari basis larynx
(rawan krikoid)ke tempat di mana trakea bercabang menjadi 2 bronkus primer.
Trakea dibatasi oleh mukosa respirasi. Di dalam lamina propria terdapat 16-20
rawan hialin berbentuk seperti huruf C yang berperanan mempertahankan lumen
trake agar tetap terbuka. Ligamentum mencegah peregangan lumen yang
berlebihan, sementara itu otot memungkinkan rawan saling berdekatan (Campbell,
2002).

4.4 Histologi Paru-paru

117

Gambar 4. Preparat paru-paru, (a) pembuluh kapiler (b) alveolus


(c) bronkiolus terminalis
Gambar tersebut merupakan hasil pengamatat preparat paru-paru. Terdapat 3
lapisan pada preparat cparu-paru yang teramati yaitu lapisan alveolus, pembuluh
kapiler, dan bronkiolus terminalis.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan
bahwa paru-paru ada sepasang yaitu kiri-kanan, terdiri dari lima lobi. Tiap lobus
dibatasi oleh septa yang terdiri dari jaringan ikat yang terbagi-bagi atas banyak
lobulli. Masing-masing lobulus dimasuki oleh satu bronkhiolus. Di dalamnya
bronkhiolus bercabang-cabang kecil berbentuk bronkhiolus ujung, dan berakhir
pada bronkhiolus pernapasan. Dalam lobulli terkandung pula pembuluh darah,
pembuluh limfa, urat saraf, dan jaringan ikat. Pada banyak tempat sepanjang
cabang dan ranting bronkhus terdapat nodus limfa yang menempel pada
dinding.Sebelah luar arah ke rongga pleura paru-paru diselaputi oleh penerusan
selaput dalam pluera (Bajpai, 1988).

4.5 Histologi Jantung

118

Gambar 5. Preparat Jantung, (a) serabut pixkinjee,


(b) serabut otot jantung (c) perikardium
Gambar tersebut merupakan hasil pengamatan preparat jantung. Terdapat 3
lapisan pada preparat jantung yaitu serabut pixkinjee, perikardium, serabut oto
jantung.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan
bahwajantung terdiri dari 3 tunika yaitu 1 Endokardium yang bersifat homolog
dengan intima pembuluh darah, terdiri dari selapis sel endotel gepeng yang berada
diatas selapis tipis subendotel jaringan ikat longgar yang mengandung serat
elastin dan kolagen. 2 Miokardium terdiri dari tunika yang paling tebal dari
jantung terdiri atas sel-sel otot jantung, sejumlah besar sel-sel ini berinsersi ke
dalam skeleton fibrosa jantung. 3 Epikardium yang bagian luar jantung yang
dilapisi epitel selapis gepeng mesotel yang ditopang oleh selapis tipis jaringan
ikat, dapat disetarakan dengan lapisan perikardium, yaitu membran serosa tempat
jantung berada, diantara lapisan siseral dan lapisan parietal terdapat air dan yg
memudahkan pergerakan jantung (Bajpai, 1988).

4.6 Histologi Arteri

119

a b c

Gambar.6. Preparat Arteri, (a) tunika media (b) endothellium (c) elastik membran
(d) tunika adventitia
Gambar tersebut merupakan hasil pengamatan preparat arteri. Terdapat 4 lapisan
pada preparat arteri yaitu tunika media, endothellium, elastik membran, tunika
adventitia.
Hal tersebut di buktikan dengan adanya literature yang menyebutkan
bahwa arteri memiliki lapisan yaitu arteriol yang terbagi menjadi tunika intima
dengan selapis endotel, jaringan sub-endotel tipis, kadang tidak ada, sabut elastis
belum berupa membrana elastika.Tunika media memiliki 2-5 lapis otot polos.
Lapisan pada arteri kecil yaitu tunika intima dengan selapis endotel, jaringan subendotel tidak jelas. Tunika media dengan 6-40 lapis otot polos.Tunika adventitia
membran elastika eksternal belum tampak. Terdiri atas jaringan ikat kendor yang
mengandung sabut-sabut elastis yang teranyam kendor.Arteri sedang yaitu tunika
intima dengan selapis endotel dan membran elastika internal yang jelas.Tunika
media dengan lapisan otot polos sangat tebal yaitu arteri muscular.Tunika
adventitia memiliki jaringan ikat kendor. Arteri besar memiliki lapisan tunika
intima dengan endotel yangterdiri atas epitel selapis pipih, subendotel yang terdiri
atas jaringan fibro elastis, anyaman sabut elastis bila lapisannya tebal (Pujianto,
2008).

120

V. PENUTUP

121

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pratikum yang telah dilakukan, didapat kesimpulan :
1. Sistem respirasi terdiri dari hidung, pharynx, larynx, tracea dan bronci serta
broncioli.
2. Pharynx terdiri atas nasopharynx dan oropharynx . Kecuali pada palantum
molle, dilapisi pseudocomplex bersilia, dan jaringan fibroelastis.
3. Pulmo terdiri dari rangka penyokong berupa kapsula dan jaringa ikat.
4. Jaringan system sirkulasi terdiri dari 3 lapisan yaitu tunika adventitia, tunika
mukosa, tunika intima.
5. Jantung terdiri dari 3 lapisan yaituendokardium, miokardium, dan epikardium.

5.2 Saran
Adapun saran praktikum histologi ini diharapkan praktikan harus dapat
membedakan antara sistem respirasi dan sistem sirkulasi. Praktikan harus
memperhatikan bagian-bagian dari setiap preparat. Praktikan diharapkan berhatihati dalam menggunakan peralatan yang ada di dalam labor, baik itu preparat,
mikroskop dan lain sebagainya.

122

DAFTAR PUSTAKA

Bajpai, R. N. 1988. Histologi Dasar. Jakarta: Binarupa Aksara.


Campbell, Reece, dan Mitchell. 2002. Biologi. Jakarta : Erlangga.
Erwin, R. 2009. Fisiologi manusia. Makassar : UNM.
Leeson,C.R. 1996. BukuAjar Histologi. Jakarta : EGC.
Lesson dan Tambayon, J. 1991. Buku ajar Histologi. Jakarta :EGC.
Pearce C, E. 1999. Anatomi dan Histologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia.
Pujianto, S. 2008. Menjelajah Dunia Biologi 2. Solo : Tiga Serangkai.
Riandary, H. 2007. Sains biologi 2. Solo : Tiga Serangkai.
Rudyatmi, E. 2011. Histologi. Semarang: UNNES
Yatim. Wildan. 1990. Histologi. Bandung : Tarsito.

123

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem urogenital terdiri dari sistem urinaria dan sistem reproduksi. Sistem
urinaria terdiri atas sepasang ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Sistem
reproduksi pria terdiri dari sepasang tetstis, saluran reproduksi berupa vas
deferens, epididimis, vas everen dan uretra tunggal. Pada pria dilengkapi penis
sebagai organ kopulatoris dan kelenjar asesoris. Sedangkan sisem reproduksi
wanita terdiri dari sepasang ovarium, saluran reproduksi berupa sepasang tuba
falopii serta uterus dan vagina tunggal. Pada wanita juga terdapat organ genitalia
eksternae dan kelenjar mammae (Susilowati, 2003).
Pada uretra terdapat dua buah sfingter yaitu sfingter uretra eksternal dan
internal di mana sfingter uretra interna bekerja di bawah sadar sedangkan sfingter
uretra eksterna tidak. Maka ketika proses miksi, sfingter uretra interna inilah yang
berfungsi untuk menahan keluarnya urin. Uretra terdiri atas uretra posterior dan
uretra anterior. Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yang
dilingkupi oleh kelenjar prostat dan uretra pars membranasea. Pada uretra anterior
dibungkus oleh korpus spongiosum penis, terdiri atas pars bulbosa, pars
pendularis, fossa navikularis dan meatus uretra eksternal (Purnomo, 2008).
Pada bagian inferior di depan rectum dan membungkus uretra posterior
terdapat suatu kelenjar yang dinamakan kelenjar prostat. Di bagian skrotum pada
pria terdapat sebuah organ genitalia terdapat testis yang dibungkus oleh jaringan
tunika albugenia. Epididimis pada organ genitalia pria terdiri atas caput, corpus
dan cauda epididimis. Sedangkan deferens berbentuk tabung kecil bermula dari

124

kauda epidimis dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra posterior. Di dasar
buli-buli dan di sebelah cranial kelenjar prostat terdapat vesikula seminalis. Penis
terdiri atas tiga buah corpora berbentuk silindris yaitu 2 buah corpora cavernosa
dan sebuah corpus spongiosum dan di bagian proksimal terpisah menjadi dua
sebagai crus penis. Setiap crus penis dibungkus oleh ishio-kavernosus yang
kemudian menempel pada rami osis ischii. (Tenser, 1998).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah untuk mengetahui


strukturhistologi dari ginjal, penis, testis, ovarium, uterus, vesica urinaria, dan
vagina.

125

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sistem urogenitalia terdiri dari organ urinaria yang terdiri atas ginjal beserta
salurannya, ureter dan uretra. Sedangkan organ reproduksi pada pria terdiri atas
testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, prostat dan penis. Kecuali
testis, epididimis, vas deferens dan uretra, histologi urogenitalia terletak di rongga
retroperitoneal dan terlindung oleh organ lain yang melindunginya (Purnomo,
2008).
Sistem urinaria terdiri atas ginjal dan beberapa saruran seperti ureter,
uretra dan kandung kemih. Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh dan
berfungsi untuk membuang sampah dan racun tubuh dalam bentuk urin atau air
seni, yang kemudian dikeluarkan dari tubuh. Ginjal, bagian dari sistem urinasi
berfungsi membersihkan sisa kotoran dari air, garam dan sisa makanan dari tubuh.
Darah yang mengalir bersikulasi melalui ginjal, telah melalui miliaran proses
filterasi melalui organ ini. Hasilnya adalah keringat dan urin. Di dalam ginjal
terdapat dua sistem penting yang berfungsi mengatur tekanan darah, yaitu system
dan angiotensin. Ginjal memiliki karkteristik berbentuk seperti kacang merah dan
memiliki dua extremitas, dua batas dan dua permukaan. Extremitas cranial dan
caudal dihubungkan dengan batas lateral yang cembung dan batas medial yang
lupus. Batas medial dapat diidentiikasi dengan bentukan oval, hillus renalis, yang

126

terbuka ke sinus renalis. Pada hillus renalis terdapat ureter, arteri dan vena renalis,
pembuluh limfe, dan syaraf. Pada struktur ini arteri renalis berada paling dorsal,
dan vena renalis paling ventral (Tenser, 1998).
Kedua ginjal terletak di belakang selaput perut berada di daerah
sublumbar, satu di samping dari aorta dan vena cava caudalis. Permukaan dorsal
kedua ginjal tidak terlalu cembung dari pada permukaan ventral. Ujung setiap
ginjal dibungkus oleh peritoneum pada bagian dorsal dan ventralnya. Sebuah
ginjal dengan potongan memanjang mempunyai dua daerah yang cukup jelas.
Daerah perifer yang beraspek gelap disebut korteks dan yang agak cerah disebut
medulla, berbentuk pyramid terbalik. Bagian yang paling lebar atau dasar tersusun
tepat dengan tepi dalam korteks dan apeks atau papik mengarah ke pelvis. Tiap
bagian medulla yang berbentuk pyramid dengan jaringan korteks yang
membentuk tudung pada dasar serta menutup sisinya membentuk lobus yang
merupakan unit anatomi ginjal (Solichatun, 2006).
Perjalanan urin yang keluar dari ginjal akan menuju kantong kemih
melalui saluran yang disebut ureter . Jika sudah terkumpul cukup penuh maka ada
mekanisme reflek untuk mengeluarkan urin. Mekanisme itu disebut miksi, atau
perasaan ingin kencing, dan keluar melalui uretra. Uretra pria dan wanita berbeda,
pada pria uretra lebih panjang, dan saluran itu juga merupakan saluran keluarnya
sperma. Sedangkan uretra wanita lebih pendek, dan hanya untuk saluran urine
saja. Oleh karena itu, perbedaan ini juga menimbulkan penyakit infeksi saluran
kencing pada wanita lebih sering terjadi, tetapi kasus batu ginjal lebih banyak
pada pria, karena saluran yang panjang dan sempit.Ureter merupakan saluran
muscular yang mengalirkan urine dari pelvis ginjal menuju ke vesica urinaria.
Masing-masing ureter bergerak kearah kaudal dan menumpahkan isinya ke vesica

127

urinaria, di dekat bagian leher yang disebut trigone dan terbentuklah suatu katup
untuk mencegah arus balik urine ke ginjal (Purnomo, 2008).
Ureter merupakan pipa fibromuscular, yang ramping dan datar yang
membawa urine dari ginjal ke vesica urinaria. Ureter dimulai di pelvis renalis,
yang menerima urine dari renalis. Ureter terletak di dorsal dari pembuluh
spermatic interna pada jantan dan arteri-vena utero-ovarian pada betina. Ureter
adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju vesika
urinaria (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan memanjang dengan
epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri
atas jaringan ikat, dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal
dari pelvis renalis, terdiri dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar
sirkuler, sebagian lapis luar ada yang longitudinal khususnya bagian yang paling
luar. Dekat permukaan pada vesika urinaria hanya lapis longitudinal yang jelas
(Bevelander, 1988).
Dinding ureter terdiri atas beberapa lapis, yakni tunika mukosa, lapisan
dari dalam ke luar sebagai berikut, epithelium transisional pada kaliks dua sampai
empat lapis, pada ureter empat sampai lima lapis, pada vesica urinaria 6-8
lapis.Tunika submukosa tidak jelas. Lamina propria beberapa lapisan. Selanjutnya
tunika muskularis yang terdiri dari otot polos sangat longgar dan saling
dipisahkan oleh jaringan ikat longgar dan anyaman serabut. Otot membentuk tiga
lapisan, stratum internum, stratum sirkulare dan stratum eksternum. Dan terakhir
tunika adventisia yaitu jaringan ikat longgar. Setelah dari ureter urine ditampung
dalam kantong yang disebut vesica urinaria,yang merupakan kantong penampung
urine dari kedua ginjal urine ditampung kemudian dibuang secara menyeluruh
(Solichatun, 2006).

128

Organ-organ reproduksi pada manusia berbeda antara laki laki dan wanita.
Alat reproduksi perempuan yang terlihat dari luar cuma bibir kemaluan dan liang
senggama yang ditutupi bulu kelamin. Alat reproduksi perempuan masuk hingga
bagian dalam tubuh perempuan. Alat reproduksi perempuan terdiri dari beberapa
bagian utama, yaitu uterus, tempat janin tumbuh dan berkembang. Setiap bulan,
rahim menyiapkan diri dengan melapisi dindingnya dengan lapisan khusus untuk
menerima bayi. Kalau tidak jadi hamil, maka lapisan khusus itu runtuh berupa
darah haid. Kalau perempuan hamil, lapisan khusus tidak diruntuhkan lagi, tetapi
dipakai untuk menghidupi janin sehingga perempuan tidak haid saat hamil.
Serviks atau mulut rahim, serviks memisahkan rahim dengan liang senggama.
Bermanfaat menjaga agar kotoran dan kuman tidak mudah masuk kedalam
rahim(Junquiera, 2007).
Alat reproduksi laki-laki yang dapat dilihat dari luar adalah penis dan
scrotum. Alat reproduksi laki-laki terdiri dari beberapa bagian utama diantaranya
penis, penis adalah bagian penting dari alat reproduksi laki-laki, terdiri dari dua
bagaian utama yaitu kepala penis dan batang penis. Kepala penis sama pekanya
dengan kelentit pada perempuan. Batang penis terdiri dari kelenjar spons yang
dapat terisi darah sehingga penis menjadi keras. Scrotum, scrotum adalah tempat
testis. Di dalam testis inilah sperma dibuat. Testis, laki-laki memiliki dua buah
testis. Besarnya seperti bola bekel. Testis dapatmemproduksi sperma bila suhu
testis berada di bawah tubuh. Karena itu kantong pelir berada diluar tubuh, agar
suhu testis menjadi lebih dingin dibandingkan tubuh. Pada testis pria akan
dijumpai tubulus seminiferus yang terpendam dalam dasar jaringan ikat longgar
yang banyak mengandung pembuluh darah dan limfe, saraf dan sel interstisial
(Leydig). Tubulus seminiferus ini akan menghasilkan sel kelamin pria yaitu

129

spermatozoa, sedangkan sel Leydig mengekskresikan androgen testis (Gunarso,


1979).
Testis yang dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak
encloses profil dari seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis
dan meiosis. Antara seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel leydig (yang
memproduksi testosterone) dan kapal darah. Wilayah yang berkerut dengan
dibulatkan spermatogonia yang mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes
(rintik nuclei), dan kemudian menjadi spermatocytes sekunder oleh proses
pertama meiotic divisi. Sekunder spermatocytes membagi lagi (kedua meiotic
divisi) untuk menjadi spermatids (dengan lebih kecil, gelap nuclei), yang
mentransformasikan menjadi spermatozoa matang. Semua ini terjadi tahap-tahap,
spermatozoa dewasa memiliki tongkat tipis seperti nuclei yang bebas dalam
lumen. Saluran Sperma (vas deferens), bila sperma sudah matang, maka melalui
saluran sperma, sperma akan naik dan disimpan di kantung mani (vesika
seminalis). Saluran kencing (urethra), urethra adalah saluran di dalam penis,
saluran tempat keluarnya air kencing dan air mani. Keluarnya air seni atau air
mani diatur oleh sebuah katup sehingga tidak tidak keluar secara bersamaan.
Kelenjar prostat, kelenjar prostat berada didalam tubuh, dibawah kandung
kencing. Fungsinya adalah membuat cairan air mani yang akan dikeluarkan
bersamaan dengan sperma. Warna cairan yang dibuatnya putih keruh dan agak
kental. Kantung mani (vesika seminalis), kantung mani menyimpan sperma yang
sudah matang. Sperma inilah yang membuahi sel telur pada perempuan. Sperma
dikeluarkan bersamaan dengan cairan kelenjar prostat ketika berhubungan seks
(Solichatun, 2006).

130

131

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum histologi dilakukan pada hari Senin, 28 April 2014 pukul
13.00 WIB di Laboratorium Teaching II, Jurusan Biologi,Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada kegiatan praktikum ini adalah,mikroskop cahaya untuk
melihat preparat permanen,pensil untuk menggambar, penggaris untuk menggaris
buku gambar, penghapus pensil untuk menghapus, buku panduan/ Literatur, Buku
tulis untuk panduan, buku gambar untuk menggambar preparat.Sedangkan bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah, preparat permanen ginjal, penis, tesis,
ovarium, uterus, vesica urinaria dan vagina.

3.3 Cara kerja


Bahan preparat yang akan diamati yaitu ginjal, penis, tesis, ovarium, uterus,
vesica urinaria dan vagina disiapkan. Kemudian preparat yang akan diamati
diletakkan dimeja benda pada mikroskop, revolving nosepiece (pemutar lensa
objektif) diatur untuk memutar lensa objektif dan mengubah perbesaran pada
lensa objektif sehingga objek terlihat jelas. Selanjutnya objek digambar pada buku
gambar, diberi keterangan dan didokumentasikan.

132

IV.HASIL DAN PEMBAHAN

Sistem urogenital adalah gabungan dari dua sistem yaitu sistem urinaria dan
sistem reproduksi.
4.1 Histologi Ginjal

a
b

Gambar 1 preparat ginjal (a) tubulus distal (b) medulla

Pada preparat ginjal tersebut terdapat bagian bulat-bulat yang disebut


tubulus distal, tubulus distal terdapat pada bagian medulla oblongata.
Sesuai structural dan fungsional ginjal terdiri dari kumpulan nefron. Tiaptiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler
terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler
yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta
tubulus-tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal,
tubulus pengumpul dan lengkung henle. Kapsula Bowman terdiri atas lapisan
parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis visceral. Kapsula bowman bersama
glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel
renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok-

133

belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi
tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam
berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus
kontortus distal. Korteks yang bertugas melaksanakan penyaringan darah yang
disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung kapilerkapiler darah yang tersusun bergumpal-gumpal disebut glomerolus. Tiap
glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus
dengan simpai bownman disebut badan malphigi, penyaringan darah terjadi pada
badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat zat yang
terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman (Ramon,1997).
Medula terdiri dari beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut
piramid renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks
atau papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan
korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah
tampak bergaris-garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus
koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut dengan
kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang
merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini
terangkut urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi,
setelah mengalami berbagai proses (Zuana,2001).
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus dan
dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi
pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan
pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik (Ramon,1997).

134

4.2 Histologi Vesica Urinaria

a
b
c
d

Gambar 2 preparat vesica urinaria (a) muskularis mukosa, (b) serosa,


(c) mukosa, (d) lumen
Pada preparat vesica urinaria ditunjukkan bagian seperti serabut-serabut otot
polos yang disebut muskularis mukosa. Kemudian bagian mukosa yang berbentuk
seperti vili-vili dan bagian terladalam dari vesica urinaria tersebut terdapat rongga
yang disebut lumen.
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon
karet,terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul.Bentuk kandung
kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat,berhubungan
ligamentum vesika umbikalis medius.Fundus, yaitu bagian yang mengahadap
kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium
rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan
prostate.Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus. Verteks, bagian yang
maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika
umbilikalis.Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu,
peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan
lapisan mukosa (Sarah, 2009).

135

Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang
berfungsi menyalurkan air kemih keluar.Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok
kelok melalui tengah tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang
menembus tulang. Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan
miring sedikit kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita
terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan
pleksus dari vena vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara
uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (Zuana, 2005).

4.3 Histologi testis


a
b
c

Gambar 3 preparat testis (a) sel leydig, (b) sel sertoli


(c) tubulus seminiferus
Pada gambar tersebut ditunjukan bagian sel leydig yang terdapat diluar tubulus
seminiferus, sedang sel sertoli terdapat pada bagian didalam tubulus seminiferus.
Secara histologi pada testis pria akan dijumpai tubulus seminiferus yang
terpendam dalam dasar jaringan ikat longgar yang banyak mengandung pembuluh
darah dan limfe, saraf dan sel interstisial (Leydig). Tubulus seminiferus ini akan
menghasilkan sel kelamin pria yaitu spermatozoa, sedangkan sel Leydig
mengekskresikan androgen testis.

136

Testis yang dikelilingi oleh selaput berserat albuginea, yang banyak encloses
profil dari seminiferous tubules dalam sperma yang dibuat oleh mitosis dan
meiosis. Antara seminiferous tubules adalah interstisial sel-sel Leydig (yang
memproduksi testosterone) dan kapal darah. wilayah yang berkerut dengan
dibulatkan spermatogonia yang mengalami mitosis menjadi dasar spermatocytes
(rintik nuclei), dan kemudian menjadi spermatocytes sekunder oleh proses
pertama meiotic divisi. Sekunder spermatocytes membagi lagi (kedua meiotic
divisi) untuk menjadi spermatids (dengan lebih kecil, gelap nuclei), yang
mentransformasikan menjadi spermatozoa matang. Semua ini terjadi tahap-tahap
ke arah lumen. Spermatozoa dewasa memiliki tongkat tipis seperti nuclei yang
bebas dalam lumen. Sertoli dinding tabung kecil, dan memelihara sel-sel yang
berkembang di antara banyak hal lainnya (Bevelnder, 1988).

4.4 Histologi Vagina


a
b
c

Gambar 4 preparat vagina (a) lumen, (b) muskularis mukosa, (c) serosa
Pada gambar preparat vagina dapat dilihat serosa pada bagian terluar, muskularis
mukosa merupaan bagian otot dan bagian rongga pada gambar merupakan lumen.
Histologi dari smear vagina menampakkan suatu fenomena kehadiran selsel yang bergeser dari sel-sel parabasal ke sel-sel superfisial, selain itu sel darah
merah dan neutrofil juga dapat diamati. Vagina bentuknya memanjang seperti

137

tabung. Saat berhubungan seks, penis masuk ke dalam liang vagina. Darah haid
juga keluar melalui vagina. Bayi juga keluar lewat vagina pada saat perempuan
melahirkan. Dalam vagina terdapat jamur dan kuman-kuman yang tidak
mengganggu tubuh kalau keseimbangan hidupnya tidak terganggu (Gunarso,
1979).
4.5 Histologi uterus
A

a
b
c

Gambar 5 preparat uterus (a) perimetrium, (b) miometrium, (c) endometrium


Pada gambar preparat uterus tersebut bagian-bagian yang tampak adalah
peimetirum yaitu bagian terluar dari uterus, kemudian miometrium bagian tengah
atau disebut juga bagian muskularis mukosa, dan bagian yang paling dalam yaitu
endometrium (mukosa).
Rahim atau uterus merupakan tempat janin tumbuh dan berkembang.
Setiap bulan, rahim menyiapkan diri dengan melapisi dindingnya dengan lapisan
khusus untuk menerima bayi. Jika tidak terjadi kehamilan, maka lapisan khusus
itu runtuh berupa darah haid. Jika perempuan kehamilan, lapisan khusus tidak
diruntuhkan lagi, tetapi dipakai untuk menghidupi janin sehingga perempuan
tidak haid saat hamil (Beveander, 1988).

138

4.6 Histologi Ovarium


a
b
c

Gambar 6 preparat ovarium (a) folikel primer,


(b) folikel de gruff, (c) medulla
Pada preparat ovarium diatas menunjukkan bagian-bagian seperti bulatan-bulatan
yang disebut folikel primer. Folikel de gruff yaitu bagian bulatan yang berisikan
korpus lateum. Kemudian ada bagian yang melengkung disebut bagian medulla.
Proses pembentukan ovum (oogenesis) terjadi di dalam ovarium. Di dalam
ovarium terdapat banyak sel induk telur (oogonium) yang bersifat diploid (2n).
Oogonium akan tumbuh menjadi oosit primer (oosit I) melalui pembelahan
mitosis. Oosit primer akan membelah secara meiosis menghasilkan satu oosit
sekunder (oosit II) dan satu badan kutub I (badan kutub primer). Oosit sekunder
akan membelah menghasilkan sebuah ootid dan sebuah badan kutub II. Ootid
akan berkembang menjadi sel telur (ovum), sedangkan badan kutub II akan luruh
atau berdegenerasi. Sementara itu, badan kutub I juga akan membelah dan
menghasilkan dua buah badan kutub II yang juga akan mengalami degenerasi.
Seperti pada pembentukan sperma, pembentukan sel telur juga dikendalikan oleh
FSH. Hormon yang juga mempengaruhi pertumbuhan sel folikel ini menghasilkan
hormon estrogen dan LH. FSH sendiri dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. FSH dan

139

LH berfungsi mempengaruhi sel folikel untuk melepaskan sel telur. Proses


pelepasan sel telur dinamakan ovulasi. Sel folikel yang telah kosong akan menjadi
korpus luteum yang akan menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.
Sementara itu, sel telur yang telah dilepaskan akan bergerak menuju saluran Tuba
Falopii. Di sepertiga permulaan saluran ini, jika ada sperma yang masuk, sel telur
akan dibuahi oleh sperma. Sel telur akan terus bergerak menuju rahim baik
dibuahi maupun tidak dibuahi (Solichatun, 2006).

4.7 Histologi penis


a
b

Gambar 7 preparat penis (a) uretra, (b) muskularis mukosa


Pada gambar preparat penis tersebut, terlihat bagian yang berbentuk bulat dan
memiliki rongga yang disebut dengan uretra. Adapun lapisannya teridiri dari otot
polos yang disebut muskularis mukosa.
Penis adalah bagian penting dari alat reproduksi laki-laki, terdiri dari dua
bagaian utama yaitu kepala penis dan batang penis. Kepala penis sama pekanya
dengan kelentit pada perempuan. Batang penis terdiri dari kelenjar spons yang
dapat terisi darah sehingga penis menjadi keras.Menurut literature jaringan
erektil penis merupakan rongga vaskular iregular yang sangat banyak dengan
sistem menyerupai spons yang mendapatkan pasokan darah dari arteriole eferen

140

dan kemduai dialirkan ke venule eferen. Masing-masing corpus cavernosum di


bungkus oleh tunica albuginea suatu membrana fibrosa yang tebal. Vena yang
mengalirkan darah dari corpus cavernosum berada sedikit dibawah tunica
albuginea. Bagian dalam corpus cavernosum mengandung banyak trabekulae.
Trabekula tersusun atas serat elastis dan otot polos yang terbenam dalam
gelondong kolagen yang tebal dan terbungus oleh sel-sel endotel (Ramon, 1997).

141

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah didapatkan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Histologi ginjal terdapat bagian bulat-bulat yang disebut tubulus distal,
tubulus distal terdapat pada bagian medulla oblongata.
2. Vesica urinaria tersusun dari lapisan muskularis mukosa. Bagian mukosa yang
berbentuk seperti vili-vili dan bagian terladalam dari vesica urinaria tersebut
terdapat rongga yang disebut lumen.
3. Testis terdiri dari sel leydig yang terdapat diluar tubulus seminiferus, sedang
sel sertoli terdapat pada bagian didalam tubulus seminiferus.
4. Vagina teridiri dari serosa pada bagian terluar, muskularis mukosa merupaan
bagian otot dan bagian rongga pada gambar merupakan lumen.
5. Uterus terdiri dari lapisan perimetirum yaitu bagian terluar dari uterus,
kemudian miometrium bagian tengah atau disebut juga bagian muskularis
mukosa, dan bagian yang paling dalam yaitu endometrium (mukosa).
6. Ovarium terdiri dari folikel primer yang berbentuk bulatan. Folikel de gruff
yaitu bagian bulatan yang berisikan korpus lateum. Kemudian ada bagian
yang melengkung disebut bagian medulla.
7. Penis terdiri dari bagian bulat dan memiliki rongga yang disebut dengan
uretra. Kemudian bagian-bagian otot polos yang disebut muskularis mukosa

142

5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum histology urogenital ini yaitu praktikan lebih
berhati-hati dan teliti dalam bekerja sehingga kesalahan dalam praktikum dapat
diminimalisir.

143

DAFTAR PUSTAKA

Bevelander, G. 1988. Dasar-dasar Histologi. Jakarta: Erlangga


Gunarso, W. 1979. Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga
Junqeira, L.C. 1980. Basic Histology. California: LMP
Purnomo, Y. 2008. Biologi umum. Surakarta: Tiga Serangkai.
Ramon. 1997. Dasar-dasar Histologi. Surabaya: UNS
Sarah, W. 2009. Sistem Urogenital. Bandung: Pustaka Setia
Susilowati. 2003. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Malang: UM
Solichatun. 2006. Biologi umum. Surakarta: UNS
Tenser, A. 1998. Struktur Hewan Bagian II. Malang : IKIP Malang.
Zuana, S. 2001. Sistem Reproduksi. Bandung: ITB

144

I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Jaringan yang paling rumit dari tubuh kita adalah jaringan saraf. Kerumitan ini
berasal dari kemampuan selsel saraf (neuron) untuk berkomunikasi satu sama
lain dan dengan jenis selsel lain (selsel otot, selsel kelenjar). Semua sel yang
membentuk sau kesatuan kelompok itu berada dalam komunikasi satu sama lain
melalui sinyal elektris dan pesan kimiawi yang membantu memelihara kesatuan
kelompok sel itu sebagai keseluruhan. Sinyalsinyal ini mengendalikan
pertumbuhan, reparasi dan posisi relative selsel. Akan tetapi jaringan saraf
mempunyai fungsi utama sebagai pembuat pesan kimiawi (penghantar saraf dan
hormonhormon) dan perkembangan saluran komunikasi untuk koordinaasi
fungsifungsi tubuh (Bevelander,1988).
Jaringan saraf yang merupakan jenis ke-4 dari jaringan dasar terdapat
hampir di seluruh jaringan tubuh sebagai jaringan komunikasi. Dalam
melaksanakan fungsinya, jaringan saraf mampu menerima rangsang dari
lingkungannya, mengubah rangsang tersebut menjadi impuls, meneruskan impuls
tersebut menuju pusat dan akhirnya pusat akan memberikan jawaban atas
rangsang tersbut. Jaringan saraf tersebut kemudian bersama-sama membentuk
suatu sistem yang dinamakan dengan sistem saraf. Sistem saraf pada manusia
memiliki sifat mengatur yang sangat kompleks dan khusus. Sistem saraf
menerima berjuta-juta rangsangan dari berbagai organ. Semua rangsangan
tersebut akan bersatu untuk dapat menentukan respon apa yang akan di berikan
oleh tubuh (Bajpai, 1988).

145

Sistem saraf berdasarkan letak dan kedudukannya dapat dibedakan


menjadi CNS (central nervous system) atau SSP (Sistem Saraf Pusat) dan PNS
(peripheral nervous system) atau SST (Sistem Saraf Tepi).Sistem saraf pusat
adalah sistem saraf yang mengandung pusat pengelola rangsang saraf, rangsang
ini setelah ditafsirkan dapat disimpan atau diteruskan ke sistem saraf tepi untuk
menimbulkan tanggapan. Sistem saraf bersama-sama dengan sistem hormon
berfungsi untuk memelihara fungsi tubuh. Sistem hormon ini dihasilkan oleh
berbagai kelenjar yang terdapat di dalam tubuh (Tim Dosen, 2011).
Berdasarkan pemanfaatan hasil kelenjarnya secara garis besar dibedakan
menjadi kelenjareksokrin dan kelenjar endokrin.Krinberasal dari kata krinos yang
berarti memisahkan atau menghasilkan.Kelenjar eksokrin dimaksudkan sebagai
kelenjar-kelenjar yang biasanya mempunyai saluran keluar untuk mengangkut
hasil kelenjarnya yang selanjutnya bermuara pada permukaan dalam dan luar
tubuh. Apabila hasilnya diangkut oleh pembuluh darah atau pembuluh limfa,
maka kelenjar demikian dimasukkan kedalam kelenjar endokrin atau kelenjar
hormon. Karena kelenjar hormon tidak memiliki saluran keluar kadang-kadang
dinamakan juga sebagai kelenjar buntu dan hasilnya dinamakan hormon. Namun
bagi beberapa kelenjar endokrin yang tidak mempunyai saluran keluar tidak dapat
dimasukkan sebagai kelenjar hormon (Fawcett, 2002).
Kelenjar endokrin utama adalah hipofisis, tiroid, paratiroid, pancreas,
adrenal, pineal, testis, ovarium dan plasenta. Kelenjar ini mempunyai susunan
jaringan yang sangat berbeda sehingga tidak dapat digolongkan dalam suusnan
histologisnya. Meskipun tidak memiliki ciri cirri sitologi yang sama, kelenjar
kelenjar endokrin ini dapat digolongkan berdasarkan sifat kimiawi hormonnya,
seperti asam amino yang dimodifikasi, peptide, protein, glikoprotein, dan steroid
(Junqueira, 1980).

146

Kelenjar endokrin telah diteliti dan digambarkan sebagai bagian yang


terpisah, tetapi pada dasarnya fungsi kelenjar ini saling berhubungan erat.
Awalnya fungsi hormone disimpulkan dengan mengobservasi efek penyakit,
destruksi, atau pertumbuhan kelenjar berlebih (Lesson, 1996).

I.2. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui, dan mempelajari tentang histologi
sistem saraf dan kelenjar endokrin.

147

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Sistem saraf pada manusia terdiri atas sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.
Sistem saraf pusat, terdiri atas otak dan medula spinalis. Keduanya tersusun atas
substansi putih (substansia alba) dan substansi abu-abu (substansia grisea).
Perbedaan ini terjadi akibat komposisi penyusun substansia alba yakni akson
bermielin; dan substansia grisea yakni perikarion (soma, badan) sel saraf, dendrit,
serta akson tak bermielin (Hefner, 2003).
Secara keseluruhan otak terbagi atas otak besar, atau cerebrum dan otak
kecil atau cerebelum Otak besar tersusun atas dua belahan (cerebral hemisphere)
kiri dan kanan. Di bagian tepi luar (korteks) terdapat substansia grisea, lalu
semakin ke dalam dibatasi dengan substansia alba, dan di bagian paling dalam
terdapat nukelus yang merupakan substansia grisea. Lapisan yang menyusun otak
besar berlekuk-lekuk, membentuk struktur sulkus dan girus (Fried, 2000).
Lapisan ini jika ditinjau secara mikroskopik akan terlihat bahwa tersusun
atas enam lapisan. Yakni, lapisan molekular, merupakan lapisan terluar dan
terletak tepat di bawah lapisan pia. Terdapat sel horizontal yang pipih dengan
denrit dan akson yang berkontak dengan sel-sel di lapisan bawahnya (sel piramid,
sel stelatte). Lapisan granular luar, sebagian besar terdiri atas sel saraf kecil
segitiga(piramid) yang dendritnya mengarah ke lapisan molekular dan aksonnya
ke lapisan di bawahnya; sel granula (stelatte) dan sel-sel neuroglia. Lapisan
piramid luar, terdapat sel piramid yang berukuran besar (semakin besar dari luar
ke dalam). Dendrit mengarah ke lapisan molekular; akson mengarah ke substansia
alba. Lapisan granular dalam, merupakan lapisan tipis yang banyak mengandung
sel-sel granul (stellate), piramidal, dan neuroglia. Lapisan ini merupakan lapisan
yang paling padat. Lapisan piramidal dalam, suatu lapisan yang paling jarang,

148

banyak mengandung sel-sel piramid besar dan sedang, selain sel stelatte dan
Martinotti. Sel Martinotti adalah sel saraf multipolar yang kecil, dendritnya
mengarah ke lapisan atas dan aksonnya ke lateral. Lapisan sel multiform, adalah
lapis terdalam dan berbatasan dengan substansia alba, dengan varian sel yang
banyak (termasuk terdapat sel Martinotti) dan sel fusiform (Davey, 2005).
Otak besar merupakan pusat belajar, ingatan, analissi informasi, inisiasi
gerakan motorik, dan merupakan pusat integrasi informasi yang diterima. Nukelus
(nucleus; nuclei: jamak) merupakan kumpulan dari perikarion neuron yang
terdapat di dalam SSP, misal basal nuclei. Di substansia alba cerebrum terdapat
banyak serat-serat yang menghubungkan berbagai daerah korteks dalam hemisfer
yang sama (asosiasi), menghubungkan antarhemisfer (komisura);dan
menghubungkan ke nukleus di bawahnya (proyeksi).Otak kecil, atau cerebellum
juga tersusun atas substansia grisea yang terletak di tepi (dinamakan korteks
serebeli). Korteks serebeli tersusun atas tiga lapisan yaitu Lapisan molekular,
lapisan terluar dan langsung terletak di bawah lapisan pia dan sedikit mengandung
sel saraf kecil, serat saraf tak bermielin, sel stelata, dan dendrit sel Purkinje dari
lapisan di bawahnya. Lapisan Purkinje, disebut lapisan ganglioner, banyak sel-sel.
Purkinje yang besar dan berbentuk seperti botol dan khas untuk serebelum.
Dendritnya bercabang dan memasuki lapisan molekular, sementara akson
termielinasi menembus substansia alba. Lapisan granular, lapisan terdalam dan
tersusun atas sel-sel kecil dengan 3-6 dendrit naik ke lapisan molekular dan
terbagi atas 2 cabang lateral (Fawcatt, 2000).
Medula spinalis di bagian luar merupakan substansia alba, sementara
bagian dalamnya merupakan substansia grisea, dengan bentuk menyerupai huruf
H atau kupu-kupu. Di bagian tengah substansia grisea terdapat kanal yang
dinamakan kanalis sentralis. Substansia alba berisi akson-akson yang merupakan

149

jaras-jaras baik sensorik maupun motorik yang meneruskan impuls saraf dari/atau
otak dan organ-organ perifer. Fasikulus-fasikulus jaras sensorik dan motorik
terkelompokkan menjadifunik ulus. Di medula spinalis dapat ditemukan funikulus
dorsal, ventral, dan lateral. Substansia grisea mengandung perikarion dan banyak
ditemukan sinaps neuron. Wilayah ini dapat dikelompokkan menjadi tiga. Kornu
anterior (ventral) adalah bagian sayap yang gemuk dan banyak mengandung selsel motorik multipolar yang berbentuk poligonal.Kornu posterior (dorsal) adalah
bagian sayap yang lebih kecil dan banyak ditemui sinaps dari saraf aferen, serta
interneuron. Kanalis sentralis merupakan saluran yang berhubungan dengan
ventrikel keempat otak, yang dilapisi oleh sel-sel ependimal (Janqueerra, 1980).
Sistem saraf tepi, selanjutnya disebut SST, tersusun atas akson- akson
yang keluar menuju organ efektor dan diorganisasikan menjadi saraf. Akson SST
pada ummnya termielinasi, sehingga terlihat berwarna putih. Organisasi aksonakson saraf tepi menjadi berkas saraf melalui jaringan pengikat. Saraf-saraf tepi
terdiri atas serabut-serabut saraf (akson) yang saling berkumpul bersama, dan
disatukan melalui jaringan penyambung, sehingga menghasilkan kumpulan
serabut saraf, disebut dengan fasikulus. Dalam satu fasikel pada umumnya
mengandung persarafan baik sensorik maupun motorik. Beberapa fasikulus
membentuk bundel berkas serat saraf. Bundel berkas serat saraf ini diikat oleh
Epineurium, yakni suatu jaringan ikat yang padat, tidak beraturan, tersusun
mayoritas oleh kolagen dan sel-sel fibroblas. Epineurium menyelimuti beberapa
fasikulus yang bersatu membentuk saraf. Di epineurium pula bisa ditemukan
pembuluh darah. Ketebalan epineurium bervariasi, paling tebal di daerah dura
yang dekat dengan SSP, makin tipis hingga percabangan saraf-saraf ke arah distal
(Lesson, 1996).

150

Perineurium adalah selaput pembungkus satu fasikulus yang tersusun atas


jaringan ikat padat kolagen yang tersusun secara kosentris, serta sel-sel fibroblas.
Di bagian dalam perineurium terdapat pula lapisan sel-sel epiteloid yang
direkatkan melalui zonula okludens; serta dikelilingi oleh lamina basal yang
menjadikan suatuba rier (sawar) materi bagi fasikulus (Tim dosen,2006).
Endoneurium adalah lapisan terdalam yang mengelilingi satu akson.
Lapisan ini tersusun ats jaringan ikat longgar (berupa serat retikuler yang
dihasilkan oleh sel Schwann yang bertanggung jawab untuk akson tersebut),
sedikit fibroblas, dan serat kolagen. Di daerah distal akson, endoneurium hampir
tidak ada lagi, hanya menyisakan sedikit serat retikuler yang menyertai basal
lamina sel Schwann (Goerge, 2000)
Kelenjar endokrin adalah organ-organ yang menghasilkan sekresi yang
disebut hormone yang dialirkan secara langsung ke dalam aliran darah dan sel sel
glandular. Karena alasan ini kelenjar endokrin dikenal sebagai kelenjar tanpa
duktus. Kelenjar endokrin utama adalah hipofisis, tiroid, paratiroid, pancreas,
adrenal, pineal, testis, ovarium dan plasenta (Cambell, 2006).
Kelenjar hipofisis memiliki tiga lobus. Lobus anterior (adeno hipofisis)
secara embriologis berasal dari ectoderm sepanjang faring dorsal dan membentuk
kantung yang dikenal sebagai kantung rathke. Lobus posterior (neurohipofisis)
berukuran lebih kecil dan secara embriologis berasal dari neuroektoderm. Pars
intermedia, yang merupakan suatu struktur kecil dibagian tengan antara libus
anterior dan posterior, sebenarnya merupakan bagiand ari lobus anterior. Secara
embriologis kelenjar hipofisis berasal dari sel sel Krista neural (Davey,2005).
Tiroid berarti organ berbentuk perisai segi empat. Kelenjar tiroid merupakan
organ yang bentuknya seperti kupu-kupu dan terletak pada leher bagian bawah di
sebelah anterior trakea. Kelenjar ini merupakan kelenjar endokrin yang paling

151

banyak vaskularisasinya, dibungkus oleh kapsula yang berasal dari lamina


pretracheal fascia profunda. Kapsula ini melekatkan tiroid ke laring dan trakea.
Kelenjar ini terdiri atas dua buah lobus lateral yang dihubungkan oleh suatu
jembatan jaringan isthmus tiroid yang tipis dibawah kartilago krikoidea di leher,
dan kadang-kadang terdapat lobus piramidalis yang muncul dari isthmus di depan
laring (Tim dosen, 2011)
Kelenjar paratioid merupakan bangunan yang terbungkus jaringan ikat dan
memiliki dua jenis populasi sel : Principal cell dan sel sel oksifil. sel utama, yang
mensekresi hormone paratiroid (PTH), dan sel oksifilik, yang merupakan tahap
perkembangan sel chief. Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar
mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya
Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel
ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagian besar binatang dan manusia muda,
sel oksifil ini tidak ditemukan.Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini
mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi
sejumlah hormone (Heffner, 2003).
Kelenjar adrenal terdiri atas korteks dan medulla. Korteks adrenal terdiri
atas zona glomerulosa, zona fasikulata, dan zona retikularis. Prekursor hormon
korteks adrenal adalah kolesterol karena jenis hormon yang disekresi dari korteks
adrenal adalah steroid. Zona glomerulosa korteks adrenal membentuk 13%
volume kelenjar, selnya tersusun berkelompok. Zona ini menghasilhan hormon
mineralokortikoid (Aldosteron & deoksikortikosteron) untuk homeostasis cairan
dan elektrolit. Hormon mineralokortikoid, terudama aldosterone, terlibat dalam
sistem renin-angiotensin-aldosteron. Sekresi aldosteron distimulasi oleh
angiotensin II dan ACTH. Zona fasikulata korteks adrenal membentuk 80%
volume kelenjar. Sel tersusun radier mengandung lemak dan vakula (spongiosit).

152

Sona ini mensekresi hormon glukokortikoid untuk metabolisme karbohidrat,


lemak, dan protein. Sekresi glukokortikoid (kortisol dan kortikosteron) distimulasi
oleh ACTH. Zona retikularis korteks adrenal membentuk 7% volume kelenjar.
Selnya merupakan sel asidofil yang saling beranastomosis dan mengandung
pigmen lipofuschin. Zona ini mensekresi hormon androgen
(dehidroepiandrosteron & androstendion) dan glukokortikoid. Sekresi distimulasi
oleh ACTH (Davey, 2005).
Medula adrenal tersusun dari sel kormafin dan sel ganglion simpatetik. Sel
kromafin merupakan modifikasi neuron postganglion yang berfungsi sekretori.
Granula dan garam kromafin menghasilkan warna coklat tua. Sel ini
memproduksi katekolamin (epinefrin dan norepinefrin) dan enkefalin
(Bevelander,1988).
Kelenjar Pankreas (Pulau Langerhans) sel-selnya tersusun berkelompok:
menjadi pulau langerhans. Sel-sel ini tidak terhubung ke duktus pankreas. Sel
penyusun terdiri atas sel alfa (20%) terletak di perifer, memproduksi glukagon, sel
beta (70%) terletak di tengah, memproduksi insulin, sel delta (5%) memproduksi
somatostatin, sel PP / sel F (1%) memproduksi polipeptida pankreas, sel G (1%)
memproduksi gastrin (Davey, 2005).

153

III.

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat


Pratikum ini dilaksanakan pada hari Senin, 05 Mei 2014 pukul 13.00, di
Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

3.2. Alat Dan Bahan


Alat yang di gunakan pada praktikum histologi sistem saraf dan endokrin, yaitu
mikroskop,kamera,dan buku gambar. Adapun bahan yang di gunakan adalah
preparat permanen dari organ sistem saraf yaitu cerebum. Serta preparat permanen
dari organ sirkulasi yaitu: kelenjar adrenal, kelenjar pankreas, dan kelenjar
paratiroid

3.3. Cara Kerja


Preparat yang sudah di sediakan di amati menggunakan mikroskop. Lapisanlapisan pada preparat yang terlihat di amati. Hasil pengamatan di gambarkan pada
buku gambar.

154

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

III.1.
4 X 10

Histologi Cerebrum
10X10
40X10

C
Gambar 1. Histologi
Cerebrum, (A) Pia matter, (B) Grey matter,

(C) White matter


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan,di dapatkan gambar preparat
dari histologi cerebrum seperti gambar tersebut. Terdapat 3 lapisan yang dapat
teramati pada preparat tersebut antara lain pia matter, grey matter, dan white
matter.
Hal tersebut dibuktikan di dalam literatur yang menyebutkan bahwa
cerebrum di susun oleh 3 lapisan. Lapisan terluar berupa pia mater, dan lapisan
paling bawah disebut dengan white mater, sedangkan lapisan yang berada di
tengah disebut dengan gray mater. Gray mater memiliki luas paling dominan di
antara dua lapisan lain (Tim dosen,2011).

155

III.2.
4X10

Histologi Kelenjar Pankreas


10X10
40X10

Gambar 2. Histologi Kelenjar Pankreas (a)Pulau Langerhans, (b) Arteri,


(c) sel Achini
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan,di dapatkan gambar preparat
dari histologi kelenjar pankreas seperti gambar tersebut. Terdapat beberapa bagian
yang dapat teramati pada preparat tersebut antara lain pulau langerhans, arteri dan
achini sel.
Hal tersebut dibuktikan di dalam literatur yang menyebutkan bahwa kelenjar
pancreas terdiri atas dua jaringan yaituasini, yang mensekresikan getah
pencernaan ke duodenum, danpulau langerhans, yang yang mensekresi insulin
danglukagon langsung ke darah (Bajpai,1988).

156

III.3.

Histologi Kelenjar Adrenal

Gambar 3. Histologi Kelenjar Adrenal (A) Zona glomerolus,


(B) Zona Fasiculata, (C) Zona reticularis
Berdasarkan hasi pengamatan yang telah dilakukan,di dapatkan gambar preparat
dari histologi cerebrum seperti gambar tersebut. Terdapat zona yang dapat
teramati pada preparat tersebut yaitu zona glomerolus, zona fasiculata, dan zona
reticularis.
Hal tersebut dibuktikan di dalam literatur yang menyebutkan bahwa
Kelenjar suprarenalis ini terbagi atas 2 bagian, yaitu Medula Adrenal dan Korteks
Adrenal. Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari system saraf otonom.
Stimulasi serabut saraf simpatik pra ganglion yang berjalan langsung ke dalam
sel-sel pada medulla adrenal aka menyebabkan pelepasan hormon katekolamin
yaitu epinephrine dan norepinephrine (Campbell, 2006).
Korteks adrenal tersusun dari 3 zona yaitu zona glomerulosa, zona
fasiculata, dan zona reticularis. Zona Glomerulosa terdapat tepat di bawah simpai,
terdiri atas sel polihedral kecil berkelompok membentuk bulatan, berinti gelap
dengan sitoplasma basofilik. Zona glomerulosa pada manusia tidak begitu
berkembang. Dan merupakan penghasil hormon mineralokortikoid (George,2000).

157

Zona fasikulata merupakan sel yang lebih tebal, terdiri atas sel polihedral
besar dengan sitoplasma basofilik. Selnya tersusun berderet lurus setebal 2 sel,
dengan sinusoid venosa bertingkap yang jalannya berjajar dan diantara deretan
itu. Sel-sel mengandung banyak tetes lipid, fosfolipid, asam lemak, lemak dan
kolesterol. Sel ini juga banyak mengandung vitamin C dan mensekresikan
kortikosteroid. Dan merupakan penghasil hormon glukokortikoid (Lesson, 2000).
Zona Retikularisterdiri atas deretan sel bulat bercabang cabang
berkesinambungan. Sel ini juga mengandung vitamin C. Sel-selnya penghasil
hormon kelamin (Bevelander, 1988).

III.4.

Histologi Kelenjar Paratiroid


4 X 10

10 X 10

40 X 10

A B

Gambar 4. Histologi Paratyroid, (A) Principal cell,


(B) Arteri (C) Oxyphill cell
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan,di dapatkan gambar preparat
dari histologi kelenjar paratyroid seperti gambar tersebut. Terdapat tiga bagian
yang dapat teramati preparat tersebut antara lain principal cell,oxyphil cell dan
pembuluh arteri.

158

Hal tersebut dibuktikan di dalam literatur yang menyebutkan bahwa


Kelenjar Parathyroid dibungkus oleh kapsul jaringan ikat kendor yang kaya
dengan pembuluh darah, dan kapsul ini memebentuk septa yang masuk ke dalam
kelenjar.Kelenjar ini tersusun dari 2 macam sel Chieff cell (principal cel) Sel ini
sudah ada sejak lahir dan akan terus bertahan, dan merupakan sel yang terbanyak
dalam kelenjar ini.Ukuran sel ini kecil dengan inti di tengah, dan sitoplasma
bersifat sedikit asidofilik, sehingga dengan pewarnaan H.E tampak berwarna
merah muda. Tetapi kadang-kadang ada beberapa sel yang sitoplasmanya lebih
pucat karena mengandung banyak glikogen, tetapi sebaian lain mempunyai
sitoplasma lebih gelap karena glikogennya hanya sedikit. Sel ini mengandung
granula yang diduga menghasilkan parathyroid hormon (Leeson, 1996).
Oxyphil cell timbul mulai umur sekitar 7 tahun atau pada saat
pubertas.Terdiri dari sel yang ukurannya lebih besar dari chief sel, tersebar
diantara chief cell tersebut dan sitoplasmanya merah muda pucat.Fungsi sel ini
belum diketahui.Pada anak-anak, kelenjar ini penuh dengan sel, tetapi pada
keadaan dewasa akan timbul jaringan lemak di dalam jaringan ikat dan tersebar di
antara sel-sel tersebut (Bajpai,1988).

159

V.PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang di dapatkan,dapat di simpulkan bahwa:
1. Cerebrum tersusun atas 3 lapisan yaitu piamatter,graymatter dan whitematter
2. Organ penyusun sistem saraf pada pankreas terdiri dari pulau langerhans ,
acchini cell dan pembuluh arteri.
3. Adrenal korteks disusun atas tiga zona yaitu zona glomerulosa, zona fasiculata
dan zona reticularis.
4. Kelenjar paratyroid disusun oleh oxyphill cell dan principal cell.
5. Perbedaan antara oxyphil cell dan principal cell yaitu, pada oxyphil cell
terdapat granula, berwarna lebih gelap dan berjumlah lebih sedikit di
bandingkan principal cell.

5.2. Saran
Agar praktikum selanjutnya berjalan lebih baik,maka di sarankan agar praktikan
terlebih dahulu mengetahui materi yang akan di praktikumkan.Berhati- hati saat
melakukan pengamatan agar preparat tidak rusak. Kemudaian menjalankan
praktikum dengan sungguh-sungguh. Selain itu praktikan juga disarankan agar
menggabar objek dengan benar di dalam buku kerja serta memberikan keterangan
pada objek yang di gambarkan dengan sesuai.

160

DAFTAR PUSTAKA

Bajpai, R. N. 1988. Histologi Dasar. Jakarta: BinarupaAksara.


Bevelander, G. 1988. DasarDasar Histologi Edisi Kedelapan. Jakarta:
Erlangga
Bloom, dan Fawcett. 2002. Buku Ajar Histologi Ed-12. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Campbel, Reece, dan Mitchell. 2006. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta:
Erlangga
Davey, P. 2005. At Glance Medicine. Jakarta : Erlangga
George, D. 2000. Biologi Edisi Kedua.nJakarta: Erlangga
Heffner, J. At a Glance Sistem Reproduksi Ed 2. Jakarta : EMS Erlangga.
Junqueira, L.C dan Carneiro, J. 1980. Histologi Dasar. Edisi 3. Jakarta: Buku
Kedokteran
Leeson, C.1996. Buku Ajar Histologi. Jakarta : EGC.
Tim Dosen. 2011. Penuntun Praktikum Struktur Hewan. Makassar: UIN
Makassar.

161

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rangka atau skeleton merupakan alat gerak pada vertebrata. Sistem rangka itu
tersusun dari tulang-tulang yang bersatu membentuk suatu fungsi yaitu alat gerak.
Pada vertebrata sistem rangka terdiri dari dua bagian yaitu rangka sumbu (axial)
dan rangka apendikuler. Rangka axial terdiri dari tulang tengkorak (cranium),
tulang belakang (columna vertebratalis), tulang dada (sternum), dan tulang rusuk
(costae). Rangka apendikuler terdiri dari tulang gelang bahu (pectoral) dan tulang
gelang panggul (pelvic). Pada tulang gelang bahu terdapat tulang-tulang
ekstremitas depan dan pada tulang gelang panggul terdapat tulang-tulag
ekstremitas belakang. Sistem rangka terdiri dari tulang-tulang dan jaringan otot.
(Yatim, 1992).
Tulang (jaringan oseosa) adalah sejenis jaringan ikat kaku yang
menyususn sebagian besar kerangka dewasa. Matriksnya mengandung unsure
anorganik, terutama kalsium fosfat, yang merupakan lebih kurang sua pertiga
berat tulang. Secara makroskopik, tulang itu berbentuk spongiosa (kanselosa) atau
kompak (padat). Perbedaan keduannya tergantung pada jumlah relative zat padat
dan ukuran serta jumlah celah-celah padanya. Keduanya mengandung unsure
histologis sama (Leeson, 1996).
Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya menggerakkan
organ-organ tubuh. Kemampuan tersebut disebabkan karena jaringan otot mampu
berkontraksi. Kontraksi otot dapat berlangsung karena molekul-molekul protein
yang membangun sel otot dapat memanjang dan memendek (Ganong, 2003).

162

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah untuk mengetahui struktur
histologi dari duodenum, trakea, jantung, otot lurik, BEP dan larink.

163

II. TINJAUAN PUSTAKA

Sistem rangka (musculoskeletal) merupakan suatu sistem yang dibangun oleh


struktur struktur keras dari tubuh (tulang) yang sifatnya menyokong dan
melindungi. Sistem rangka terdiri dari tulang rawan (cartilago) dan tulang keras
atau kombinasi keduanya. Berdasarkan perbandingan jumlah matriks dan jumlah
rongga (spaces), tulang dibedakan menjadi tulang spongiosa dan tulang kompakta.
Tulang spongiosa terdiri dari trabekula, yaitu bentukan tulang yang langsing,
tidak teratur, bercabang, dan saling berhungan membentuk anyaman. Celah-celah
diantara anyaman ini ditempati oleh sumsum tulang.Tulang kompakta jumlah dan
ukuran rongga lebil kecil dari tulang spongiosa, serta jumlah bahan padat lebih
banyak (Meylin, 2008).
Tiap tulang kecuali bagian sendinya dibungkus jaringan ikat khusus yang
disebut periosteum. Pada bagian dalam terdapat endosteum yang membatasi
rongga dan celah sumsum. Matriks tulang, bersifat asidofilik, tersusun berlapislapis, tebalnya 5-7 mikron.Matriks tulang terdiri dari 35% komponen organik
yaitu kolagen dan proteoglikan, serta 65% material inorganik (mineral). Kolagen
pada tulang merupakan kolagen jaringan ikat yang mirip kolagen tipe I jaringan
ikat longgar berfungsi dalam fleksibilitas tulang (Junqueira, 2007).
Sel- sel tulang terdiri dari sel osteoprogenitor, berbentuk gelendong, inti
pucat, memanjang, dan sitoplasma jarang. Sel ini merupakan stem sel. Sel
osteoprogenitor terdapat di dalam periosteum, endosteum, dan saluran vaskular
tulang kompakta. Ada 2 jenis sel osteoprogenitor yaitu preosteoblas dengan
jumlah retikulum sarkoplasma sedikit dan preosteoklas dengan jumlah

164

mitokondria dan ribosom banyak. Osteoblas, bentuk sel dari koboid hingga
piramidal atau seringkali berupa lembaran utuh menyerupai epitel, inti besar
memiliki satu nucleus, Osteoblas ditemukan pada permukaan tulang.Osteoblas
mempunyai tonjolan-tonjolan sitoplasma mirip jari yang menjulur ke dalam
matriks yang sedang dibentukdan berhubungan dengan tonjolan-tonjolan
sitoplasma osteoblas yang berdekatan.Osteosit, merupakan osteoblas yang
terpendam dalam matriks; sitoplasmanya basofil ringan, intinya terpulas gelap;
terdapat gap junction atau maculae communicantes yaitu tempat bertemunya
tonjolan sitoplasma dalam kanalikuli. Tonjolan ini pada orang dewasa sebagian
besar telah ditarik kembali, tetapi kanalikuli tetap ada untuk aliran metabolit dari
darah dan osteosit. Kanalikuli tidak mengandung serat. Osteosit ini relative tidak
aktif. Tempat (suatu ruang) dimana osteosit berada disebut lacuna.Osteoklas,
berfungsi untuk resorpsi. sel raksasa, inti banyak, sitoplasmanya mengandung
vakuol-vakuol, terdapat dekat permukaan tulang, seringkali dalam lekukan
dangkal yang dikenal sebagai lacuna howship . osteoklas berasal dari sel-sel
mononuklir (monosit) sumsum tulang hemapoietik (Syaifuddin, 2011).
Tulang merupakan jaringan ikat keras yang membentuk rangka sebagian
besar Vertebrata, termasuk manusia. Beberapa fungsi penting yang dimiliki oleh
tulang adalah sebagai penipang dan pemberi bentuk tubuh, sebagai alat gerak
pasif, sebagai pelindung organ-organ vital, sebagai tempat pembentukan sel-sel
darah, dan sebagai cadangan mineral. Jaringan penyusun dan sifat-sifat fisik
tulang dibedakan menjadi. Tulang rawan (Kartilago). Tulang rawan adalah tulang
yang tidak mengandung pembuluh darah dan saraf kecuali lapisan luarnya
(perikondrium). Tulang rawan memiliki sifat lentur karena tulang rawan tersusun
atas zat interseluler yang berbentuk jelly yaitu condroithin sulfat yang didalamnya
terdapat serabut kolagen dan elastin. Maka dari itu tulang rawan bersifat lentur

165

dan lebih kuat dibandingkan dengan jaringan ikat biasa. Pada zat interseluler
tersebut juga terdapat rongga-rongga yang disebut lacuna yang berisi sel tulang
rawan (Pujianto, 2008).
Tulang rawan merupakan jaringan pengikat padat khusus yang terdiri atas
sel kondrosit, dan matriks. Matrriks tulang rawan terdiri atas sabut-sabut protein
yang terbenam di dalam bahan dasar amorf. Berdasarkan atas komposisi
matriksnya ada 3 macam tulang rawan, yaitu , tulang rawan hialin, yang terdapat
terutama pada dinding saluran pernafasan dan ujung-ujung persendian. Tulang
rawan elastis misalnya pada epiglotis, aurikulam dan tuba auditiv, dan tulang
rawan fibrosa yang terdapat pada anulus fibrosus, diskus intervertebralis, simfisis
pubis dan insersio tendo-tulang (Leeson, 1996).
Tulang rawan dewasa adalah jaringan non vaskuler dan digologkan
berdasarkan perbedaan jenis dan jumlah serat yang terdapat didalam matriks,
antara lain, tulang rawan hialin, adalah jenis utama dan paling banyak dijumpai.
Matriksnya mengandung serat-serat kolagen yang tidak tampak pada sijian
biasa.Tulang rawan elastin pada dasarnya serupa dengan tulang rawan hialin,
memiliki lebih banyak serat elastin yang seringkali mengumpul pada dinding
lacuna yang mengelilingi kondrosit.Fibrokartilago, yang tidak pernah sendiri
tetapi secara berangsur menyatu dengan tulang rawan hialin atau jaringan ikat
padat fibrosa yang berdekatan, mengandung seerat-serat kolagen kasar didalam
matriksnya. Serat-serat berjalan parallel dengan arah tarikan utama [pada struktur
dimana fibrokartilago merupakan bagian darinya, dan kondrosit secara khas
berderet diantara berkas kolagen, dengan sedikit matriks di sekitar sel (Fawcet,
2002).
Otot Skeletal tiap otot terbungkus selapis jaringan ikat agak padat yang
disebut epimisium.Di dalamnya terdapat serat-serat otot yang tersusun di dalam

166

berkas atau fasikulus.Masing-masing berkas diselubungi jaringan ikat tipis, yaitu


perimisium. Panjang serat otot + 1 40 mm, dan berdiameter + 10-100
mikron.Dalam suatu serat terdapat banyak inti, sekitar 35 inti tiap mm panjang
serat otot.Terdapat Sarkolema yang merupakan membran tipis tanpa struktur yang
membungkus serat.Sarkolema berisi filamen silindris yaitu Miofibril.Otot
Jantung, otot jantung bersifat involunter, berkontraksi secara ritmis dan
automatis.Hanya terdapat pada lapisan miokard dan dinding pembuluh darah
besar yang secara langsung berhubungan dengan jantung.Terdapat suatu satuan
linear yang terdiri atas sejumlah sel otot jantung yang terikat end-to-end yaitu
Diskus Interkalaris.Di antara serat-serat otot terdapat jaringa ikat halus yaitu
Endomisisum.Terbungskus suatu sarkolem tipis, serupa pada otot
skeletal.Miofilamen mengandung aktin dan miosin yang sama dengan yang
terdapat pada otot skeletal dan memeperlihatkan struktur yang sama, namun
pengelompokan miofilamin menjadi miofibril tidak sesempurna otot skeletal.
Tubul T, merupakan invaginasi dari sarkolema, dan merupakan perpanjangan dari
ruang ekstraseluler. Diskus interkalaris, merupakan batas suatu kelompok sel yang
khusus. Melintasi serat-serat otot dalam bentuk tangga yang mempunyai bagian
transversal dan longitudinal. Otot Polos, merupakan jenis otot involunter.Terutama
tedapat pada bagian visceral, membentuk bagian kontraktil.Otot-otot ini terdapat
pada sistem pernapasan, sistem urinaria, dan sistem reproduksi.Struktur Halusnya
yaitu pada sarkoplasma sekitar inti, terdapat mitokondria, sejumlah elemen dar
retikulum granular dan ribosom-ribosom bebas, suatu aparat golgi kecil, glikogen
dan sedikit titik-titik lipid (Samuel, 2009).

167

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Pelaksanaan praktikum histologi sistem rangka dilakukan pada hari Senin, 12 Mei
2014 pukul 13.00 WIB di Laboratorium Teaching II Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas, Padang.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada kegiatan praktikum ini adalah, mikroskop cahaya untuk
melihat preparat permanen, pensil untuk menggambar, penggaris untuk menggaris
buku gambar, penghapus pensil untuk menghapus, buku panduan/ literatur, Buku
tulis untuk panduan, buku gambar untuk menggambar preparat. Sedangkan bahan
yang digunakan pada praktikum ini adalah, preparat permanen duodenum, trakea,
jantung, BEP, otot lurik, dan larink.

3.3 Cara kerja


Bahan preparat yang akan diamati yaitu duodenum, trakea, jantung, BEP, otot
lurik, dan larink disiapkan. Kemudian preparat yang akan diamati diletakkan
dimeja benda pada mikroskop, revolving nosepiece (pemutar lensa objektif) diatur
untuk memutar lensa objektif dan mengubah perbesaran pada lensa objektif
sehingga objek terlihat jelas. Selanjutnya objek digambar pada buku gambar,
diberi keterangan dan didokumentasikan.

168

IV.HASIL DAN PEMBAHAN

Sistem rangka (musculoskeletal) merupakan suatu sistem yang dibangun oleh


struktur-struktur keras dari tubuh (tulang) yang sifatnya menyokong dan
melindungi.
4.1 Histologi Duodenum

Perbesaran 4x10

perbesaran 10x10

perbesaran 40x10

Gambar 1. Preparat duodenum (a) otot polos


Gambar tersebut merupakan preparat duodenum, secara histologi duodenum
terdiri dari otot-otot polos. Pada perbesaran 4x10 penampang otot polos tidak
terlihat atau kurang jelas terlihat, pada perbesaran 40x10 sangat terlihat serat-serat
otot polos beserta intinya.
Otot polos terdiri dari kumpulan sel yang berbentuk fusiform spindle
dengan inti terletak ditengah. Sel-sel otot polos tersebut bersama-sama
membentuk serabut yang tebal tetapi ada juga yang tersebar diantara jaringan
pengikat sebagai kesatuan otot polos. Diameter otot polo situ bermacam-macam

169

tergantung dari organ yang mengandung otot polos tersebut. Misalnya panjang
dan pipih terdapat dalam dinding usus (duodenum) (Hormawi, 1978).

4.2 Histologi Trakea


a
b
c
d

perbesaran 4x10

perbesaran 10x10

perbesaran 40x10

Gambar 2. Preparat trakea, (a) otot lurik, (b) hyalin, (c) otot polos, (d) fibrosa
Gambar tersebut merupakan preparat trakea, pada gambar tersebut terlihat
susunan tulang rawan yaitu rawan hyalin dan fibrosa. Rawan hyalin pada gambar
preparat trakea terliht bewarna kebiruan, sedangkan rawan fibrosa bewarna merah
muda. Pada trakea yang paling terlihat adalah rawan hyalin. Rawan hyaline
terdapat pada cincin trakea.
Rawan hyalin dalam keadaan segar bewarna putih kebiruan dan bersifat
seperti kaca yakni transparan. Hyalin terlihat hampir disemua cartilago (tulang
rawan) ditubuh seperti cincin trakea, hidung, dan larink. Hyalin terdiri dari sel
cartilago yang disebut condrosit. Condrosit terletak didalam lakuna (Hormawi,
1978).

170

4.3 Histologi Jantung

a
Perbesaran 4x10

Perbesaran 10x10

Perbesaran 40x10

Gambar 3. Preparat jantung, (a) otot jntung


Pada gambar preparat tersebut terlihat serabut-serabut otot jantung yang
berbentuk seperti seperti jala daan bercabang-cabang. Pda perbesaran 4x10 belum
terlihat serabut-serabut otot tersebut. Pada perbesaran 10x10 belum jelas serabut
otot jantung itu seperti jala. Pada perbesaran terbesar yaitu 40x10 terlihat jelas
serabut-serabut otot jantung bercabang dan berbentuk seperti jala memiliki inti
satu ditengah.
Otot jantung berbeda dengan otot polos atau otot rangka sebab serabutserabutnya tidak terpisah-pisah, tetapi berkumpul dalam kesatuan yang
membentuk seperti jala (syncytium). Diantara serabut-serabut yang saling
berhubugan terdapat celah-celah yang berisi jaringan ikat longgar dan kapilerkapiler (Hormawi, 1978).

171

4.4 Histologi Lurik


a

Perbesaran 4x10

Perbesaran 10x10

Perbesaran 40x10

Gambar 4. Preparat Otot Lurik, (a) otot lurik (rangka)


Gambar tersebut merupakan penampang otot lurik, pada perbesaran 4x10
serabutt-serabutt otot lurik tidak terlalu kelihatan. Serabut otot lurik yang palig
jelas terlihat pada perbesaran 40x10. Serabut otot lurik berbentuk silinder dan
memiliki banyak inti.
Otot rangka atau otot lurik memiliki satuan terkecil yang disebut serabutserabut otot. Inti serabut-serabut otot lurik banyak. Serabut-serabut otot lurik
bersatu dalam sekumpulan serabut otot yang disebut fassicularis. Serabut-serabut
otot lurik berbentuk silinder atau prismatic yang berdiameter diantara 10-100 .
Serabut otot lurik pada bagian luarnya ditutupi oleh selaput (membrane) yang
elastic, transparan dan homogeny yang disebut sarcolemma (Hormawi, 1978).

172

4.5 Histologi BEP

a
b

Perbesaran 4x10

Perbesaran 10x10

Perbesaran 40x10

Gambar 5. Preparat BEP, (a) fibrosa, (b) otot polos


Gambar tersebut merupakan preparat BEP. Pada gambar yang terlihat pada
perbesaran 4x10 dan 10x10 hanya lumen atau rongga dan serabut-serabut otot
polos. Saat diperbesar dengan perbesaran 40x10 terlihat susunan tulang rawan
fibrosa yang bewarna merah muda.
Tulang rawan fibrosa (fibrokartilago) sangat mirip dengan jaringan ikat
padat teratur dan keduanya sering menyatu tanpa batas tegas diantaranya.
Fibrokartilago ditemukan pada tempat insersi ligament dan tendo pada tulang.
Sel-selnya terdapat dalam lacuna dengan simpai sangat tipis yang mungkin
basofilik namun jaringan keseluruhannya biasanya asidofilik karena banyak
kolagen (Fawcet, 2002).

4.6 Histologi Larink


a

173

Perbesaran 4x10
Perbesaran 10x10
Perbesaran 40x10
Gambar 6. Preparat larink, (a) hyalin cartilago
Gambar tersebut merupakan preparat larink. Pada gambar tersebut terlihat warna
kebiruan yang merupakan tulang rawan hyalin. Pada semua perbesaran komponen
yang menunjukkan tulang rawan hyalin sudah terlihat jelas.
Tulang rawan hyalin terdapat hampir disemua tulang rawan tubuh seperti
pada larink. Jaringan tulang rawan biasanya tersusun dalam masa gepeng dimana
ditutupi oleh membrane fibrosa yang disebut perichondrium. Tiap lempengan
tulang rawan hyalin membentuk masa yang solid yang terdiri dari sel-sel dan
matrix interseluler yang homogen (Hermawi, 1978).

174

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Otot polos terdiri dari kumpulan sel yang berbentuk fusiform spindle dengan
inti terletak ditengah.
2. Pada trakea yang paling terlihat adalah rawan hyalin. Rawan hyalin dalam
keadaan segar bewarna putih kebiruan dan bersifat seperti kaca yakni
transparan.
3. Otot jantung berbeda dengan otot polos atau otot rangka sebab serabutserabutnya tidak terpisah-pisah, tetapi berkumpul dalam kesatuan yang
membentuk seperti jala (syncytium).
4. Otot rangka atau otot lurik memiliki satuan terkecil yang disebut serabutserabut otot. Inti serabut-serabut otot lurik banyak.
5. Tulang rawan fibrosa (fibrokartilago) sangat mirip dengan jaringan ikat padat
teratur dan keduanya sering menyatu tanpa batas tegas diantaranya.
Fibrokartilago ditemukan pada tempat insersi ligament dan tendo pada tulang.
6. Tulang rawan hyalin terdapat hampir disemua tulang rawan tubuh seperti
pada larink. Jaringan tulang rawan biasanya tersusun dalam masa gepeng
dimana ditutupi oleh membrane fibrosa yang disebut perichondrium.

175

5.2 Saran
Adapun saran untuk praktikum histologi sistem rangka ini yaitu agar praktikan
lebih berhati-hati dan teliti dalam bekerja sehingga kesalahan dalam praktikum
dapat diminimalisir.
DAFTAR PUSTAKA

Fawcett, D.C. 2002. Buku Ajar Histologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.ed.12
Ganong, W.F. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Hermawi. 1978. Diktat Histologi. Padang: Unand
Junquiera, Luiz. 2007 Histologi Dasar Teks dan Atlas. Jakarta: EGC
Leeson, C.R. 1996. Buku Ajar Histologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.ed.5
Meylin. 2008. Sains Biologi. Bandung: Ganeca Exact.
Pujianto, S. 2008. Menjelajah Dunia Biologi 2. Solo: Tiga Serangkai
Sinaga, S. 2009. Histologi . Jakarta: Erlangga
Syaifuddin. 2011. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Yatim. 1992. Histologi Modern. Bandung: Larsita.