Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN 1


PISCES








OLEH :


Nama : Dea Sintia
NIM : 08121004065
Kelompok : II
Asisten : Meilisa Dwinda A


LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
ABSTRAK

Praktikum mengenai struktur dan perkembangan hewan yang membahas tentang
Pisces. Praktikum ini bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi serta
mempelajari beberapa system tubuh dari beberapa anggota kelas pisces. Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 02 April 2013, Pukul 08.00-10.00 WIB.
Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Indralaya. Alat yang digunakan adalah
alat tulis, baki bedah, buku kerja, dan gunting bedah. Sedangkan bahan yang digunakan
adalah Anabas testidineus, Cyprinus carpio, Claria batrachus, Colosoma macropoma,
Heleostoma teminchiki, Ophiocepallus Striatus, Oreocormis niloticus, Pangasius
pangasius, dan Trichogaster pectoralis. Adapun hasil yang di dapat yaitu gambar dari
morfologi pisces. Kesimpulan yang di dapat dari praktikum ini adalah Umumnya tubuh
ikan terdiri bagian kepala, badan dan ekor. Bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris,
lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama bentuk dengan lembar bagian
ventral. Sisik ikan dapat berbentuk sikloid, stenoid, ganoid, dan placoid.


















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Vertebrata pertama yang ditemukan sebagai fosil adalah ikan tak berahang,
ostrakodermi. Beberapa terdapat dalam batu-batuan ordovisium, meskipun pada zaman
silur mereka terdapat dalam jumlah yang lebih banyak. Hewan ini adalah ikan pipih
(15 sampai 30 cm) yang relative kecil, yang mungkin hidup dengan menghisap zat-zat
organik dari dasar sungai tempat mereka hidup. Pertukaran gas terjadi pada pasangan-
pasangan insang interna, dengan tiapa insang ditunjang oleh satu lengkung tulang. Air
masuk melalui mulut, melalaui insang dan keluar melalui serangkaian kantung insang
yang bermuara dipermukaan. Tidak terdapat sirip, ikan tersebut berenang dengan
gerakan undulasi (Pratiwi 2007: 156).
Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air
dan bernapas dengan insang, dan berenang menggunakan sirip serta memiliki sisik.
Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah
spesies lebih dari 27,000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok
paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan biasanya ikan dibagi
menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag),
ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), (kelas
Osteichthyes) dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (Prawirohartono 1994: 163).
Kelas Agnatha tubuh diselaputi oleh harnas dari tulang. Inilah yang mungkin
melindunginya terhadap euriptida besar, yang menghuni habitat yang sama. Juga
mengurangi pemasukan air didalam lingkungan hipotonik. Akan tetapi insang harus
berhubungan dengan air, karena itu pemasukan air secara terus menerus tidak dapat
dihindarkan. Pemecahan masalah ini menggunakan tekanan yang ditimbulkan oleh
kontraksi jantung untuk memompa air keluar dari tubuh. Satu-satunya ikan tak
berahang yang masih hidup adalah lamprey dan ikan hag. Hewan-hewan ini masih
merupakan vertebrata yang paling primititf. Disamping tidak mempunyai rahang
hewan ini tidak mempunyai sirip (Surtati 2002: 56).
Ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes) kembali ke lautan adalah suatu cara
melarikan diri yang ditempuh oleh ikaan bertulang rawan yang pertama. Ikan-ikan ini
(yang paling awal adalah hiu yang tidak jauh berbeda dengan hiu masa kini)
memeperoleh namanya dari fakta bahwa kerangkanya terdiri atas tulang rawan dan
bukan tulang keras. Seperti halnya plakodermi, ikan hiu mempunyai rahang. tulang
rahang berkembang dari kedua pasang pertama lengkung insang. Patut dicatat bahwa
dalam hal ini, sepasang celah insang tidak diperlukan lagi. Akan tetapi lubang ini
masih terdapat pada beberapa ikan masa kini dan disebut spirakel. Disamping itu hiu,
ikan pari, dan belut listrik merupakan anggota kelas ini (Prawirohartono 1999: 157).
Ikan memiliki bermacam ukuran, mulai dari paus hiu yang berukuran 14 meter
(45 ft) hingga stout infantfish yang hanya berukuran 7 mm (kira-kira 1/4 inci). Ada
beberapa hewan air yang sering dianggap sebagai ikan, seperti ikan paus, ikan cumi
dan ikan dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik air
tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan
hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan (Pratiwi 2007: 154).
Ikan dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik
air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan
hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Namun, danau yang terlalu asin
seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Kebanyakan ikan berbiak dengan
cara mengeluarkan telur dan sperma dalam air, kemudian meninggalkannya hingga
tumbuh menjadi ikan. Ada pula ikan misalnya kerapu punggung duri dan ikan sirip
lengkung yang menjaga telur serta anaknya setelah menetas
(Prawirohartono 1999: 165).

1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi serta mempelajari
beberapa system tubuh dari beberapa anggota kelas pisces.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan termasuk golongan hewan yang bersifat ovipar. Ikan tidak mempunyai alat
kawin. Sebagai cara berkembang biak, beberapaikan meletakkan telur dan spermanya
didalam sarang atau celah. Tetapi, beberapa jenis lainnya, ikan jantan dan ikan betina
berenang berpasangan, ikan betina di depan dan ikan jantan mengikutinya. Proses
pembuahan ikan dalam jenis ini terjadi setelah ikan betina mengeluarkan telur
telurnya dan di ikuti ikan jantan yang mengeluarkan sperma. Terjadilah pembuahan di
dalam air. Telur- telur yang dihasilkan oleh ikan betina tidak di lindungi oleh cangkang
setelah dibuahi, ada jenis ikan yang menjaga telur = telurnya di dalam sarang, ada yang
menjaga telurnya di dalam mulut, dan ada oula yang membiarkan telur telurnya
terapung di air. (Prawirohartono 1999: 162).
Ikan bernafas dengan insang yang terdapat disisi kanan dab kiri kepala (kecuali
ikan Dipnoi yang bernafas dengan paru - paru). Selain berfungsi sebagai alat
pernapasan, insang juga berfungsi sebagai alat ekskresi dan transportasi garam
garam. Oksigen dalam air akan berdifusi kedalam sel sel insang. Darah di dalam
pembuluh darah pada insang mengikat oksigen dan membawanya ke seluruh jaringan
tubuh. Dalam jaringan tubuh darah akan melepaskan dan mengikat karbon dioksida
serta membawanya ke insang. Dari insang karbon dioksida keluar dari tubuh ke air
secara difusi. Insang ikan tersusun atas bagian bagian yaitu tutup insang, membran
brankiostega, lengkung insang, lembaran insang dan saringan insang
(Pratiwi 2007: 156).
Lapisan sisik yang licin dan berlendir melindungi ikan dari parasit dan
membantunya melejit cepat di air sehingga mudah berenang. Sirip ekor berfungsi
sebagai pendorong maju dan sirip-sirip lain sebagai kemudi. Diantara ribuan jenis ikan,
ada beberapa jenis yang luar biasa. Ikan penempel tidak berahang, ikan peloncat
lumpur dapat meloncat diatas permukaan lumpur, dan ikan lele bisa merayap di darat,
dan tidak bersisik sama sekali. Umumnya tubuh ikan terdiri dari bagian kepala, badan,
ekor. Tidak ada batas nyata antaranya, tetapi biasanya tepi ekor, penututp insang
dipandang sebagai batas antara kepala dan badan, anus dipandang sebagai batas antara
badan dan ekor. Pada kepala terdapat celah mulut, sepasang cekung hidung didepan
mata, mata dibagian samping tanpa kelopak, penutup insang yang berfungsi sebagai
pelindung kepala dan insang sebagai pengatur mekanisme aliran air
(Surtati 2002: 55).
Karakteristik ikan diantaranya ialah kulit yang mengandung banyak glandulae
mucosae (kelenjar lendir) dan biasanya tertutup squama (sisik), mulutnya terdapat pada
ujung muka yang berupa celah mulut (rima oris), hidungnya masih berupa fovea
nasalis (cekung hidung) terdapat sepasang didorsal hidung atau mulut dan belum
mempunyai hubungan dengan rongga mulut, matanya relatif besar dan tidak
mempunyai kelopak mata (palpebrae), pernapasannya dilakukan dengan branchia
(insang), jantungnya terdiri dari dua ruang yaitu satu atrium dengan sinus venosus dan
satu ventrikal dengan bulbus arteriosus, bersifat poikilothermal (berdarah dingin)
artinya suhu tubuh ikan itu bervariasi dangan lingkungannya, pada umumnya bersifat
ovivar (Prawirohartono 1999: 153).
Organ reproduksi jantan dan betina pada waktu masih muda memiliki struktur
yang sama dan disebut ganoda. Setelah dewasa organ reproduksi jantan pada ikan,
dapat di bedakan organ genitalia masculine tampak berwarna putih susu dengan
permukaan licin berisi spermatozoa. Testis berjumlah sepasang menggantung pada
dinding tengah rongga abdomen oleh mesorsium. Berbentuk oval dengan permukaan
yang kasar. Sepasang testis pada jantan tersebut akan mulai membesar pada saat
musim memijah dan saat terjadi perkawinan, dan sperma jantan bergerak melalui vas
deferens menuju celah atau lubang urogenital (Surtati 2002: 60).
Caput atau kepala teridiri dari rima oris (celah mulut), fovea nasalis (cekung
hidung), organon visus (alat penglihatan), dan apparatus opercularis (tutup insang),
bagian truncus atau badan terdiri dari squama (sisik), linea lateralis, anus porus
urogenitalis, pinnae pictorales (sirip dada), pinnae dorsalis (sirip punggung), pinnae
abdominales (sirip perut) dan pinnae analis (sirip belakang) sedangkan cauda terdiri
dari pinnae cuadalis atau sirip ekor (Pratiwi 2007: 160).
Sistem cardiovascilare pada ikan terdiri atas jantung, arterie dan arteriolae,
kapiler-kapiler, venulae dan venae dan darah. Jantung atau cor terdapat didalam cavum
pericardi. Ia terdirir dari sinus venosus, atrium, ventriculus dan bulbus arteriosus
merupakan pangkal dari aorta ventralis. Aorta ventralis pergi ke cranial dan memberi
cabang-cabang ialah 4 pasang aafferentiae branchiales, masing-masing berjalan pada
arcus branchialis. Satu afferentia branchialis memberi cabang-cabang yang masing-
masing berjalan didalam lamelle (Prawirohartono 1999 : 161).
Ikan kecil sering hidup dalam kelompok besar yang disebut koloni atau
kawanan. Mereka berkerumun dan bergerak bersamaan saat mencari makan. Pemangsa
bingung karena jumlahnya begitu banyak dan gerakannya begitu cepat, sehingga tidak
bisa memilih seekor ikan pun. Bilah-bilah sisik tertanam di kulit. Sisik melindungi
tubuh ikan. Sisik bersusun saling tindih secara longgar sehingga ikan bisa bergerak
bebas. Ada empat jenis sisik, namun kebanyakan ikan bersisik sikloid atau stenoid.
Ikan bernapas dengan menyerap oksigen dan air melalui insang (Surtati 2002: 53).
Sistem pernapasan pada ikan umumnya alat berupa insang (branchia). Ditinjau
dari tiap-tiap insang, bagian-bagiannya ialah arcus branchialis (lengkung insang),
tampak memutih, terdiri dari jaringan tulang atau tulang rawan. Hemibranchia
(lembaran insang), tampak berwarna merah, berupa bangunan seperti sisir.
Holobernchiae yang pada tiap-tiap arcus branchialis melekat dua buah hemibranchis
yang disebut sebagai holobranchiae (Pratiwi 2002: 159).
Insang tidak saja berfungsi sebagai alat pernapasan tetapi dapat pula berfungsi
sebagai alat ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan
osmoregulator. Beberapa jenis ikan mempunyai labirin yang merupakan perluasan ke
atas dari insang dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga
tidak teratur. Labirin ini berfungsi menyimpan cadangan 0
2
sehingga ikan tahan pada
kondisi yang kekurangan 0
2
. Contoh ikan yang mempunyai labirin adalah ikan gabus
dan ikan lele. Untuk menyimpan cadangan 0
2
, selain dengan labirin, ikan mempunyai
gelembung renang yang terletak di dekat punggung (Prawirohartono 1999 : 173).


BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa tanggal 26 Maret 2013 pukul
08.00-10.00 WIB bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan, Jurusan Biologi,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pegetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Indralaya.

3.2. Alat dan Bahan
Adapun alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu alat tulis, baki bedah,
buku kerja, dan gunting bedah. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Anabas
testidineus, Cyprinus carpio, Claria batrachus, Colosoma macropoma, Heleostoma
teminchiki, Ophiocepallus Striatus, Oreocormis niloticus, Pangasius pangasius, dan
Trichogaster pectoralis.

3.3. Cara Kerja
Langkah pertama yang dapat kita lakukan pada praktikum kali ini ialah dengan
menyiapkan ikan yang akan digunakan lalu letakkan diatas baki. Kemudian amatilah
morfologi ikan tersebut dan lihat yang menjadi ciri khas dari masing masing ikan
seperti jenis sisik, jumlah sirip, dan jenis sirip lalu ikan dibedah untuk diamati anatomi
serta system ttubuhnya. Dan langkah terakhir yaitu gambarkannya dalam buku kerja
dan agar hasil yang didapat mudah dimengerti sertakan penjelasan dan keterangan pada
gambar tersebut.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Anabas testudineus

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Perciformes
Family : Anabantidae
Genus : Anabas
Spesies : Anabas testudineus
Nama Umum : Ikan betok
Keterangan Gambar :
1. Rimaoris
2. Operculum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinna caudalis
7. Linea literalis


Cyprinus carpio

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostaviophysi
Family : Osprochimidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
Nama Umum : Ikan mas
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Fovea nasalis
3. Operkulum
4. Organo vircus
5. Pinnae dorsalis
6. Pinnae ventralis
7. Pinnae caudalis
8. Linea literalis


Claria batrachus

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Perciformes
Family : Anabantidae
Genus : Anabas
Spesies : Anabas testudineus
Nama Umum : Ikan lele
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Colossoma macropomum

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Cypriniformes
Family : Characidae
Genus : Colossoma
Spesies : Colossoma macropomum
Nama Umum : Ikan bawal
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Heleostoma teminchiki

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Labyrinthici
Family : Anabantidae
Genus : Heleostoma
Spesies : Heleostoma teminchiki
Nama Umum : Ikan tambakan
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Ophiocepallus striatus

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Perciformes
Family : Channidae
Genus : Ophioceppalus
Spesies : Ophioceppalus striatus
Nama Umum : Ikan gabus
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Oreocormis niloticus

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Perciformes
Family : Anabantidae
Genus : Oreocormis
Spesies : Oreocormis niloticus
Nama Umum : Ikan nila
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Pangasius pangasius

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichthyes
Ordo : Ostariophysi
Family : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius pangasius
Nama Umum : Ikan patin
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


Trichogaster pectoralis

Klasifikasi :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygli
Ordo : Perciformes
Family : Osphronemidae
Genus : Trichogaster
Spesies : Trichogaster pectoralis
Nama Umum : Ikan sepat
Keterangan Gambar :
1. Remouris
2. Operkulum
3. Organo vircus
4. Pinnae dorsalis
5. Pinnae ventralis
6. Pinnae caudalis
7. Linea literalis


4.2. Pembahasan
Morfologi ikan yang terlihat dengan jelas dari luar seperti bentuk badan, mulut,
cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat sisi (linea lateralis), sirip dada, sirip
perut, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor, bentuk dari sirip-sirip tersebut
serta warna badan dan atau bagian-bagian badan tersebut. Menurut Surtati (2002: 53)
menyatakan bahwa, morfologi ikan dilihat dari bentuk luar ikan yang merupakan ciri-
ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari jenis-jenis ikan. Morfologi ikan
sangat berhubungan dengan habitat ikan tersebut di perairan. Sebelum mengenal
bentuk-bentuk tubuh ikan yang bisa menunjukkan dimana habitat ikan tersebut, ada
baiknya mengenal terlebih dahulu bagian-bagian tubuh ikan secara keseluruhan beserta
ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi.
Ikan pati atau Pangasius pangasius memiliki ciri khusus dari ikan lainnya, pada
ikan patin ini mempunyai sirip yang lunak dibagian punggungnya yang dinamakan
sirip adipose. Menurut Anonim
a
(2013: 1) menyatakan bahwa, ikan patin memiliki
sirip lunak (adipose fin) merupakan sirip tambahan berupa lapisan lemak yang ada di
belakang sirip punggung atau sirip belakang, sirip lunak (adipose fin) ini berfungsi
sebagai alat untuk keseimbangan tubuhnya. Ikan patin juga tidak memiliki sisik pada
tubuhnya, hanya ada lendir yang melapisi kulit pada tubuhnya.
Ikan nila memiliki sirip ikan yang berbentuk simetris, dengan sirip keras dan
juga lembut, pada semua bagian pina dorsalisnya. Ikan nila juga memiliki sisik yang
keras, warna bagian punggungnya hitam. Menurut Dorling (2002: 143) menyatakan
bahwa, bentuk-bentuk sirip ekor yang simetris. Bentuk sirip bersegi atau tegak, apabila
pinggiran sirip ekor membentuk garis tegak dari bagian dorsal hingga ventral, contoh
ikan nila (Oreochromis niloticus). Bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris, apabila
lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan sama bentuk dengan lembar bagian
ventral, ada pula bentuk sirip ekor yang asimetris yaitu apabila lembar sirip ekor
bagian dorsal tidak sama besar dan tidak sama bentuk dengan lembar bagian
ventralnya.
Ikan gurami memiliki ciri-ciri bentuk tubuh pipih lebar, dimana tinggi badan
lebih setengah kali dari panjang tubuhnya, sirip ekor yang bentuknya membundar, sirip
punggung panjangnya terdiri dari 12-13 jari-jari, keras dan tajam 11-13 jari-jari lemah,
sirip dubur 9-11 jari-jari keras, dan 9-21 jari-jari lemah. Menurut Anonim
b
(2013: 1)
menyatakan bahwa, ikan gurame memiliki sirip ekor berbentuk membundar dan gurat
sisi sempurna mulai kepala hingga ekor yang terdiri dari 30-33 keping sisik. Sirip
terdiri atas jari keras dan lemah yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan golongan
omnivora ini sumber makanannya berasal dari bahan-bahan nabati dan hewani, namun
lebih menyesuaikan diri dengan jenis makanan yang tersedia misalnya (ikan mujair)
Tilapia mossambica, (ikan mas) Ciprinus carpio, (ikan gurami) Osphronemus gorame.
Sisik ikan mempunyai bentuk dan ukuran yang beraneka macam, sisik ganoid
merupakan sisik besar dan kasar, sisik sikloid dan stenoid merupakan sisik yang kecil,
tipis atau ringan hingga sisik placoid merupakan sisik yang lembut. Menurut Surtati
(2002: 54) menyatakan bahwa, umumnya tipe ikan perenang cepat atau secara terus
menerus bergerak pada perairan berarus deras mempunyai tipe sisik yang lembut,
sedangkan ikan-ikan yang hidup di perairan yang tenang dan tidak berenang secara
terus menerus pada kecepatan tinggi umumnya mempunyai tipe sisik yang kasar. Sisik
sikloid berbentuk bulat, pinggiran sisik halus dan rata sementara sisik stenoid
mempunyai bentuk seperti sikloid tetapi mempunyai pinggiran yang kasar.
Ikan lele merupakan ikan rawa, hidup bebas sebagai binatang malam. Ikan ini
senang hidup di dalam air yang tenang, kedalamannya cukup sekalipun kondisi air
yang habitatnya jelek, kotor, keruh, dan kekurangan kadar oksigen. Menurut Anonim
b

(2011: 1) menyatakan bahwa, ikan lele memiliki alat bantu pernapasan tambahan selain
insangnya, alat tersebut adalah lipatan kuliut tipis yang menyerupai spons yang
terdapat dalam rongga insang yang melekat pada ikan ini. Ikan golongan karnivora ini
sumber makanan utamanya berasal dari bahan-bahan hewani misalnya ikan belut
(Monopterus albus), ikan lele (Clarias batrachus), ikan kakap (Lates calcarifer).
Beberapa ikan ada yang memiliki satu atau dua sirip punggung. Bentuk, ukuran
dan jumlah sisik ikan dapat memberikan gambaran bagaimana kehidupan ikan tersebut.
Menurut Radiopuetro (1996: 437) menyatakan bahwa, pada ikan bersisirp punggung
tunggal, umumnya jari-jari bagian depan (1-40) tidak bersekat dan mengeras,
sedangkan jari-jari dibelakangnya lunak atau bersekat dan umumnya bercabang.
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dari praktikum ini, maka diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
1. Umumnya tubuh ikan terdiri bagian kepala, badan dan ekor.
2. Pangasius pangasius memiliki sirip lunak (adipose fin) berupa lapisan lemak, berfungsi
sebagai alat untuk keseimbangan tubuhnya.
3. Bentuk sirip ekor ikan ada yang simetris, lembar sirip ekor bagian dorsal sama besar dan
sama bentuk dengan lembar bagian ventral.
4. Sisik ikan dapat berbentuk sikloid, stenoid, ganoid, dan placoid.
5. Ikan lele dan ikan gabus memiliki labirin pada insangnya shingga dapat bertahan hidup
di daerah yang kekurangan oksigen.













LAMPIRAN





















DAFTAR PUSTAKA
Anonim
a
. 2013. Pisces. http//:blogspotikanikansungai.com. Diakses pada tanggal 27
Februari 2013.
Anonim
b
. 2013. Pisces. http//www.ikan ikaneertyuikan.com. Diakses pada tanggal 27
Februari 2013.
Dorling. 2002. Enslikopedia populer. PT. Icchtiar Baru . Jakarta : vii + 124 hlm.
Pratiwi, D.A. 2007. Biologi. Erlangga : Jakarta.
Prawirohartono, Slamet. 1999. Sains Biologi. Bumi Aksara : Jakarta.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Erlangga : Jakarta. V + 254 hlm.
Surtati. 2002. Pisces. PT. Gramedia : Jakarta. VI + 326 hlm.