Anda di halaman 1dari 4

Pada zaman sekarang kuliah sudah tidak lagi sesulit zaman tahun 90an kebelakang.

Sekarang
siapa pun dapat kuliah dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah maupun institusi tertentu
yang memberikan beasiswa, sehingga dapatlah kita menjadi seorang mahasiswa. Namun,
sayangnya hal tersebut berbanding terbalik dengan tugas yang diemban mahasiswa untuk negara
ini. Pada zaman sekarang tugas mahasiswa untuk negara ini bertambah berat, karena moral
bangasa sudah tercampur dengan bangsa asing, membuat keadaan dinegara ini semakin carutmarut, kejahatan dimana-mana, korupsi, permainan politik, suap menyuap hukum, dan masih
banyak lagi.
Perguruan tinggi memiliki tugas penting yang menjadi tanggung jawab semua pihak didalamnya,
termasuk salah satunya adalah mahasiswa. Tugas tersebut adalah Tri Dharma Perguruan Tinggi,
yang salah satunya menyebutkan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu sangat penting
pengaplikasian atas ilmu yang telah kita dapat dibangku perkuliahan, untuk diterapkan kepada
dunia masyarakat, agar ilmu yang didapatkan bermanfaat bagi Indonesia untuk menjadi lebih
baik.
Banyak sekali persoalan di Indonesia, namun kali ini saya akan membahas tentang peran
mahasiswa untuk masyarakat dalam upaya penegakkan hukum di Indonesia. Karena dalam
persoalan hukum sangat erat kaitannya dengan masa depan suatu bangsa, dimana peran para dan
mahasiswa dalam kepedulian terhadap penegakkan hukum maupun keadilan, sangatlah
diperlukan. Jika hukum hanya cenderung menjadi alat pihak tertentu untuk menghantam
kelompok lawan, atau demi kepentingan sepihak, hukum tegak berdiri walau dengan berbagai
alat bukti yang jelas, namun hukum menjadi lemah ketika dihadapkan pada orang-orang tak
berpunya, maka dimanakah peran generasi muda sebagai tumpuan cemerlang bagi terwujudnya
keadilan dalam bernegara.
Apabila hukum hanya selalu tajam ke bawah namun tumpul ke atas, sehingga menyebabkan
rakyat semakin muak dengan sepak terjang oknum aparat yang mempermainkan hukum, bukan
tidak mungkin masa depan negara suatu saat bukan tak lagi diambang jurang kehancuran, namun
telah masuk dalam jurang kehancuran Kompleksitas persoalan bangsa hari ini dalam semua
aspek kehidupan berbangsa dan bernegara telah membidani lahirnya berbagai macam kondisi
yang sangat jauh dari rasionalitas manusia. Betapa tidak nilai-nilai kemanusiaan yang ada dalam
diri manusia itu sendiri telah dinistakan dan dilacurkan dalam kubangan penuh noda dan dosa.
Dalam hal penegakan hukum misalnya, carut-marut penegakan hukum masih saja menghiasi
setiap jengkal tanah dan episode kehididupan dimanapun direpublik ini. Undang-Undang Dasar
yang diletakan pada posisi terhormat sebagai hukum tertinggi dan akumulasi dari semua
kepentingan yang pluralis untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, hanya dijadikan slogan yang tersimpan dalam kitab-kitab hukum.
Banyak fakta hukum kasus-kasus besar di Indonesia yang tak kunjung usai seperti halnya
menuntaskan kasus dana talangan Bank Century, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI),
kasus Hambalang yang melibatkan banyak pihak dan yang terbaru tejeratnya Ketua Mahkamah
Konstitusi Akil Mochtar dalam Sengketa Pilkada membuat keruh dan berkabungnya hukum di
indobnesia, kasus tersebut merugikan negara hingga miliaran serta triliunan rupiah, sehingga

menimbulkan hilangnya kepercayaan masyarakat menjadi apatis, mencemooh dan dalam


keadaan tertentu kerap melakukan proses pengadilan jalanan (steet justice).
Tak bisa dipungkiri bahwa kondisi ini adalah hasil dari perselingkuhan hukum yang dilakukan
oleh aparat penegak hukum itu sendiri, mulai dari lembaga-lembaga tinggi negara, lembaga
kepolisian, lembaga kejaksaan, lembaga kehakiman dan lembaga pemasyarakatan sehingga
melahirkan virus-virus sebagai predator keadilan. Bagaimana hukum itu akan melahirkan
keadilan, kepastian dan kemanfaatan serta untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat
sementara perselingkuhan hukum masih saja mengisi setiap ruang penyelenggara peradilan.
Hanya karena nila setitik rusak air sebelanga, tetapi lebih dari itu justru mata airnya yang telah
teracuni oleh sang predator, sangat disayangkan mereka yang melakukan kerja-kerja
kemunafikan ini selalu bedalih atas nama keadilan, keadilan yang penuh kecacatan.
Asaz hukum yang menyatakan bahwa hukum itu keras karena memang demikian adanya ( lex
dura, sed tamen scripta) menjadi terbantahkan, karena hukum tidak berfugsi sebagaimana yang
diharapkan, atau yang lebih populis lagi terhadap istilah hukum yang sering kita dengar
menyatakan bahwa walaupun esok langit akan runtuh hukum harus ditegakan, ironis sekali
ketika ungkapan ini hanya sebatas basa-basi tanpa arti. Apakah ini sebuah kemunduran sehingga
pernyataan Myrdal, 970 : 211 dengan kalimat bahwa semua negara berkembang sekalipun
dengan kadar yang berlainan dalah negara-negara yang lembek menjadi tidak terbantahkan.
Padahal filosofis penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai
yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejewantah dalam sikap tindak
sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara dan
mempertahankan kedamaian dalam pergaulan hidup (Sukanto, 1979).
Sebuah ancaman serius terhadap kelangsungan penegakan hukum ketika kemunafikan berbaur
dalam ranah penegakan hukum itu sendiri, pada siapa akan berharap. Setidaknya ada beberapa
hal yang mempengaruhi dalam hal penegakan hukum tersebut. Pertama, undang-undang itu
sendiri atau faktor perundangan. Kedua,faktor penegak hukum yakni pihak-pihak yang
membentuk maupun yang menerapakan hukum. Ketiga, faktor sarana atau fasilitas yang
mendukung penegakan hukum. Keempat, faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum
tersebut berlaku atau diterapkan. Kelima, faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan
rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Keseluruhan dari faktor tersebut sangat menentukan dalam penegakan hukum betapa tidak
keseluruhannya merupakan sistem yang saling mempengaruhi satu sama lainya karena berkaitan
dengan unsur substansi hukum, unsur structural dan unsur cultural hukum itu sendiri. Jika salah
satunya cacad maka akan mempengaruhi sistem yang lainya.
Adalah sebuah kepastian yang harus disegerakan dalam menyelesaiakan persoalan yang
berkaitan dengan penegakan hukum karna ini sangat mendesak untuk dilakukan mengingat
dalam konstitusi diamanatkan bahwa negara kita adalah negara hukum artinya hukum diletakan
pada posisi yang terhormat sebagai panglima tertinggi dalam setiap gerak langkah warga negara.
Ketika penegakan hukum ternoda oleh kepentingan-kepentingan diluar kontek yang seharusnya
ketika di komperasikan antara yang seharusnya (das sain) dengan yang sebenarnya atau faktanya

dilapangan (das solen), maka akan menimbulkan preskripsi-preskripsi yang negatif dalam
penegakan hukum.
Dimanakah Peran Mahasiswa?
Mahasiswa adalah yang akan menjadi generasi penerus bangsa untuk mengganti atau
memperkuat generasi yang sudah tua. Jadi mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang
yang memimpin di pemerintahan nantinya, dan untuk itu di butuhkan mahasiswa yang bermental
kuat sekuat besi serta militan. Mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang
memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikangenerasi-generasi
sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa
depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu
ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu
kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan
momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki
kesempatan.

Dalam aplikasinya, mahasiswa harus memiliki langkah strategis untuk menciptakan perubahan
tersebut. Berdasarkan kondisi kampus sudah dipersiapkan dalam bidang kajian yang berbedabeda dapat diklasifikasikan meliputi: keteknologian, sosial budaya, hukum dan politik, serta
perekonomian. Semua bidang kajian itu ternyata dapat disatu padukan untuk menganalisis
permasalahan bangsa dilihat dalam berbagai sudut pandang. Mulai dari pendidikan, ekonomi,
keteknologian, serta pemerintahan. Di buduhkan juga para cendikia muda hukum Indonesia,
Itulah yag merupakan tonggak yang dapat dilakukan sebagai langkah strategis dalam revitalisasi
sebagai solusi permasalahan bangsa Indonesia.
Mencermati akar masalah dalam konteks penegakan hukum maka yang penting di dipahami
adalah meletakan diri pada posisi yang sadar akan tanggung jawab dan peranan yang dimainkan
dalam hal ini mengutip pendapat Soekanto 1983 : 20 setidaknya ada empat peranan yang dapat
menakar sejauh apa peran yang bisa dimainkan dalam penegakan hukum dari peranan yang ideal
(ideal role), peranan yang seharusnya (expected role) peranan yang dianggab oleh diri sendiri
(perceived role) dan peranan yang sebenarnya dilakukan (actual role).
Persoalan partisipasi, terutama bagaimana peran para terhadap proses maupun hasil dari suatu
penegakkan hukum dan keadilan, ini sangatlah perlu dan memang sangat dibutuhkan, terlebih
lagi dari segi pengawasan secara umum. Professor Ernst C. Stiefel mengartikan partisipasi
sosial sebagai upaya terorganisasi untuk meningkatkan pengawasan terhadap sumber daya dan
lembaga pengatur dalam keadaan sosial tertentu oleh kelompok dan gerakan yang sampai
sekarang dikesampingkan dalam fungsi pengawasan. Menyadari seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak kejahatan konvensional dilakukan dengan modus
operandi yang canggih, sehingga dalam proses beracara diperlukan teknik atau prosedur khusus
untuk mengungkap suatu kejahatan, maka partisipasi para guna mewujudkan ketercapaian dalam
menegakkan keadilan, dari kesungguhan kerja-kerja yang memerlukan kejeniusan teramat

dibutuhkan, sehingga negeri ini akan lebih cemerlang dengan keadilan sosial, terasa, dan
bukanlah bayang-bayang semata
dan mahasiswa adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tugas kita semua mempersiapkan diri
dengan sebaik-baiknya untuk mengambil peran dalam proses pembangunan untuk kemajuan
bangsa kita di masa depan. Estafet kepemimpinan di semua lapisan, baik di lingkungan supra
struktur negara maupun di lingkup infra struktur masyarakat, terbuka luas untuk kaum muda
Indonesia masa kini. Namun, dengan tertatannya sistem aturan yang kita bangun, proses
regenerasi itu tentu akan berlangsung mulus dan lancar dalam rangka pencapaian tujuan
bernegara. Oleh karena itu, orientasi pembenahan sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem
sosial budaya yang tercermin dalam sistem hukum yang berlaku saat ini sangatlah penting untuk
dilakukan agar kita dapat menyediakan ruang pengabdian yang sebaik-baiknya bagi generasi
bangsa kita di masa depan guna mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945, serta guna mencapai empat tujuan nasional kita, yaitu melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Saat ini, kita mengharapkan mahasiswa
kembali menjadi Juru Selamat ditengah krisis moral para pemimpin bangsanya serta
berkontribusi nyata dalam penegakan hukum Indonesia, agar masyarakat Indonesi lebih
sejahtera.