Anda di halaman 1dari 75

Sumber:

hizbut-tahrir.or.id
mediaumat.com
Tafsir Ibnu Katsir
(Terjemahan
Lubaabut Tafsiir Min
Ibni Katsiir)

Kewajiban Syariah Islam


Imam Syaukani di dalam Kitab Fath al-Qadiir menyatakan:

:

.
. :
:
.
:


.

Pada asalnya, kata al-syirah dan al-syariiah bermakna jalan terang yang bisa
mencapai air. Selanjutnya kata ini digunakan dengan makna, agama (diin) yang
disyariatkan Allah Swt. kepada hamba-Nya. Sedangkan kata al-minhaaj: jalan
terang dan jelas. Abu al-Abbas Mohammad bin Yazid al-Mubarrad: Kata al- 1
syariiah bermakna ibtidaa al-thariiq (permulaan jalan), sedangkan alminhaaj bermakna jalan yang berulang-ulang (al-thariiq almustamirah). Makna ayat ini [QS. al-Maidah: 48] adalah: Sesungguhnya Allah
Swt. menjadikan Taurat untuk pemeluknya, Injil untuk pemiliknya, dan alQuran untuk pemeluknya. Ini terjadi sebelum penghapusan syariat-syariat
terdahulu oleh al-Quran. Adapun setelah turunnya al-Quran, maka tidak ada
syirah dan minhaaj, kecuali yang dibawa oleh Nabi Mohammad Saw. (Imam
Syaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 2, hal. 319)

Kata syariiah selalu berkonotasi hukum Allah yang ditetapkan untuk


mengatur seluruh interaksi manusia di kehidupan dunia. Makna semacam ini
secara eksplisit disebutkan di dalam al-Quran. Allah Swt. berfirman:

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang
terang (QS. Al Maidah (5): 48)

Di dalam hadits shahih juga dituturkan bahwasanya Rasulullah Saw.


menggunakan kata syariiah dengan makna hukum. Rasulullah Saw. bersabda:

Umat akan selalu berada di atas syariiah, selama di tengah-tengah mereka


belum tampak tiga perkara. Selama ilmu belum dicabut dari mereka, dan
selama di tengah-tengah mereka belum banyak anak banci, serta belum tampak
di tengah-tengah mereka al-shaqqaaruun. Para shahabat bertanya, Ya
Rasulullah, apa al-shaqqaaruun atau al-shaqqlaawuun itu? Rasulullah Saw.
menjawab, Manusia yang ada di akhir zaman, yang mana, ucapan selamat di
antara mereka adalah saling melaknat. (HR. Imam Ahmad)
Prof. Mahmud Syaltut, di dalam Kitab al-Islaam: Aqiidah wa Syariiah
menyatakan:


,
,
, ,

Syariiah adalah aturan-aturan (sistem) yang Allah telah mensyariatkannya,


atau mensyariatkan pokok dari aturan-aturan tersebut, agar manusia

mengadopsi aturan-aturan tersebut untuk mengatur hubungan dirinya dengan


Tuhannya, dan hubungan dirinya dengan saudaranya yang Muslim dan saudara
kemanusiaannya (non Muslim), dan hubungan dirinya dengan alam semesta
dan kehidupan. [Syaikh Mahmud Syaltut, al-Islaam, Aqiidah wa Syariiah,
hal. 12]

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka
mereka itu adalah orang-orang zalim. (QS. al-Maidah [5]: 45)

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka
mereka itu adalah orang-orang fasik. (QS. al-Maidah [5]: 47)

Siapa saja yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka
mereka itu adalah orang-orang kafir. (QS. al-Maidah [5]: 44)
Ketiga ayat tersebut bersifat umum, meliputi semua orang yang tidak
berhukum dengan hukum Allah Swt. Ketiga ayat tersebut turun berkenaan
dengan kaum Yahudi dan Nasrani, akan tetapi tidak bisa dibatasi hanya untuk
mereka. Sebab ungkapannya bersifat umum. Kata man yang berkedudukan
sebagai syarat memberi makna umum, sehingga tidak dikhususkan kepada
kelompok tertentu. (al-Razi, al-Tafsr al-Kabr, vol. 12, 6; alSyaukani, Fath al-Qadr, vol. 2, 53; al-Qinuji, Fath al-Bayn, vol. 3, 428)
Dalam kaidah yang rajih disebutkan:

Berlakunya hukum dilihat dari umumnya lafadz, bukan khususnya sebab.

Tidak semua orang yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah
secara langsung dapat digolongkan sebagai kafir. Diperlukan pengkajian secara
cermat dan mendalam agar tidak jatuh dalam tindakan takfir (pengkafiran)

yang tidak pada tempatnya. Perbuatan memutuskan perkara dengan hukum


Allah termasuk dalam wilayah Syariah. Secara Syari, perbuatan tersebut
termasuk dalam hukum wajib.
Sebagai persoalan yang termasuk dalam wilayah Syariah, meninggalkan
kewajiban ini dikatagorikan sebagai perbuatan dosa. Namun pelanggaran
tersebut tidak sampai mengeluarkan seseorang dari status keimanannya atau
keIslamannya.
Status kafir atau murtad baru dapat diberikan apabila seseorang mengingkari
hukum-hukum-Nya. Apabila seseorang mengingkari wajibnya berhukum
dengan Syariah, maka pengingkaran itu dapat menyebabkannya keluar dari
Islam alias kafir. Status kafir atau murtad itu bukan disebabkan karena
tindakannya yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah namun
karena pengingkarannya terhadap suatu perkara yang telah dipastikan oleh alQuran dan al-Sunnah. Dalam hal pengingkaran, masalahnya bukan sekadar
pelanggaran terhadap ketetapan hukum Syara, namun sudah masuk dalam
wilayah Aqidah. Sementara Aqidah inilah yang menjadi pembeda antara orang
mukmin dengan orang kafir.
Allah SWT telah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan


menyombongkan diri terhadapnya sekali-kali tidak akan dibukakan bagi
mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga hingga unta
masuk ke lubang jarum. (QS. al-Araf [7]: 40)
Ibnu Abbas mengatakan:

Barangsiapa yang mengingkari apa yang diturunkan Allah, sungguh dia telah
kafir. Dan barangsiapa mengakuinya namun tidak berhukum dengannya, maka
dia adalah dzalim-fasik. (al-Thabari, Jmi al-Bayn, vol. 10; al-Wahidi, alWasth f Tafsr al-Qurn al-Majd, vol. 2, 191; Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn

alAzhm, vol. 2 , 80; al-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 2, 56; alSamarqandi, Bahr al-Ulm, vol. 1, 439)
Syekh Taqiyuddin al-Nabhani dan Abdul Qadim Zallum dalam Nidzm alHukm f al-Islm menuturkan:


,
,
,

Dan sungguh Allah telah memerintahkan sulthon dan penguasa untuk
berhukum dengan apa yang Allah Swt. turunkan kepada Rasul-Nya; dan
menjadikan orang yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan
sebagai orang kafir jika dia meyakininya, atau meyakini tidak layaknya apa
yang Allah turunkan; dan menjadikannya sebagai orang yang maksiat, fasik,
dan dzalim, jika berhukum dengan (selain apa yang Allah turunkan) dan tidak
meyakininya. (Taqiyuddin al-Nabhani dan Abdul Qadim al-Zallum, Nidzm
al-Hukm f al-Islm (Beirut: Dar al-Ummah, 2002), 20)
Pandangan demikian, menurut Wahbah al-Zuhaili merupakan pandangan
jumhur Ahlussunnah. (al-Zuhayli, Tafsr al-Munr, vol. 5, 206)
Penguasa yang meyakini Islam tetapi tidak memerintah dengan Islam adalah
penguasa yang zalim dan FASIK.
Berkaitan dengan sosok yang sah memangku kepemimpinan negara maka
harus memenuhi tujuh syarat: Islam, laki-laki, balig, berakal, merdeka (bukan
budak), adil (BUKAN FASIK) serta mampu memikul tugas-tugas dan
tanggung jawab kepala negara. Jika seseorang tidak memiliki salah satu syarat
ini, dalam pandangan hukum Syariah, ia tak boleh menjadi kepala negara.
Adapun tidak berhukum dengan hukum Islam karena MENGINGKARI Islam
dan menganggap Islam itu TIDAK LAYAK untuk memutuskan perkara, maka
itu merupakan kekufuran. Kita berlindung hanya kepada Allah dari hal itu.

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang


sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (QS. al-Anam [6]:
57)

Keputusan hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan


agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf [12]: 40)
Dalam tafsir al Baghawi dijelaskan al hukmu itu berupa peradilan, syariat ,
hukum (al qodhou), perintah (al amru) dan larangan (an nahyu).

Hendaklah kamu menghukumi mereka menurut wahyu yang telah Allah


turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Berhati-hatilah
kamu terhadap mereka yang hendak memalingkan kamu dari sebagian wahyu
yang telah diturunkan Allah kepadamu. (QS. al-Maidah [5]: 49)

&




}

Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah
Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong

terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi
sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu
hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. (QS. al-Isra [17]: 73-74)

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas;


dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. (QS.
al-Baqarah [2]: 99)
Mengenai hukum apa yang wajib diterapkan oleh negara? Pendapat Ahlus
Sunnah jelas, yaitu hukum Syariah. Alasannya, karena Ahlus Sunnah
berpendapat bahwa baik dan buruk harus dikembalikan pada Syariah, bukan
akal. Qadhi al-Baqillani (w. 403) mengatakan:

Baik adalah apa yang dinyatakan baik oleh Syariah, sedangkan buruk adalah
apa yang dinyatakan buruk oleh Syariah. (Al-Baqillani, Al-Anshaf fima Yajibu
Itiqaduhu wa la Yajuzu al-Jahlu bihi, hlm. 50)
Alasannya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Adhuddin al-Iji (w. 757 H)
jelas, bahwa dalam perkara yang terkait dengan pujian dan celaan, serta pahala
dan dosa, hanya Syariah yang bisa menentukan, bukan akal. (Al-Iji, AlMawaqif fi Ilm al-Kalam, hlm. 323-324). Ini berbeda dengan Muktazilah,
yang menyatakan bahwa akal bisa saja memutuskan baik dan buruk.
Karena itu ketika negara menghasilkan dan menerapkan hukum dengan
bersumber pada akal, maka praktik seperti ini bukan merupakan praktik Ahlus
Sunnah meski mereka yang melakukan itu mengklaim sebagai pengikut Ahlus
Sunnah.

Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan
seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya [313]
datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. (4) An Nisaa': 64)
[313]
Dipahami dari ayat-ayat sebelumnya bahwa menganiaya dirinya ialah:
berhakim kepada selain Nabi Muhammad Saw.
Allah SWT menyatakan bahwa konsekuensi iman adalah taat Syariah:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga


mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim/pemutus terhadap
perkara yang mereka perselisihkan. (sehingga) kemudian tidak ada rasa
keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa [4]: 65)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah, pada saat menafsirkan QS. An Nisaa': 65,
menyatakan, Allah SWT bersumpah dengan mengatasnamakan diri-Nya sendiri
Yang Maha Mulia dan Maha Suci, sesungguhnya seseorang belumlah beriman
secara sempurna hingga ia berhakim kepada Rasulullah SAW. dalam seluruh
urusan.
Semua yang Rasulullah putuskan merupakan kebenaran yang wajib diikuti baik
lahir maupun batin. Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: tsumma laa
8
yajiduu fii anfusihim harajan mimmaa qadlaita wa yusallimuu tasliimaa:
yakni, jika mereka telah berhakim kepadamu (Muhammad SAW), mereka
wajib mentaatimu (mentaati keputusan yang diambil Nabi SAW) di dalam
batin-batin mereka; dan mereka tidak mendapati perasaan ragu di dalam diri
mereka atas apa yang telah kamu putuskan; dan lalu mengikutinya (keputusan
Nabi SAW tersebut) baik dzahir maupun bathin. Kemudian, mereka berserah
diri kepada itu (keputusan Nabi SAW), dengan penyerahan diri yang bersifat
utuh, tanpa ada ganjalan sedikitpun, tanpa ada penolakan sedikitpun, dan tanpa
ada penyelisihan sedikitpun; sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih,
Nabi SAW bersabda Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya,

sesungguhnya seseorang di antara kalian belumlah beriman hingga hawa


nafsunya tunduk dengan apa yang aku bawa. (Imam Ibnu Katsir, Tafsiir AlQuran Al-Adziim, Juz 2/349)

"Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada


Allah." (QS. [42] Asy-Syuura: 10)
Ibnu Katsir: Yaitu, Dia-lah Hakim yang memutuskannya, melalui Kitab-Nya
dan Sunnah Nabi-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir: Terjemahan Lubaabut Tafsiir Min
Ibni Katsiir, juz 25, hal. 235)

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul(Nya), dan
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(Sunnahnya), jika kamu benar-benar mengimani Allah dan Hari Kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (QS.
An-nisa [4]: 59)
Menurut Ibnu Katsir ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang tidak
berhukum merujuk kepada Al Quran dan as-Sunnah dan merujuk pada selain
keduanya dalam perkara yang diperselisihkan maka ia tidak beriman kepada
Allah dan Hari Akhir. (Tafsir Ibnu Katsir, vol. 2 hal, 346)
Dinyatakan oleh al-Khazin bahwa ayat ini menjadi dalil orang-orang yang
tidak meyakini wajibnya taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengikuti sunnah
dan hukum yang berasal dari Nabi Saw. bukanlah orang yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir. (Tafsir al-Khazin vol.2 hal.120)
Ali Ash-Shabuni menyatakan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk
mentaati penguasa mukmin (khalifah) yang selalu berpegang teguh kepada
Syariat Allah Swt. Sebab, tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk

bermaksiyat kepada Allah Swt. (Ali Ash-Shabuniy, Shafwaat al-Tafaasir, juz


I/285)
Kaum Muslim diwajibkan untuk menaati Ulil Amri dalam perkara yang sesuai
dengan Syariah, dalam perkara yang tidak menyimpang dari Syariah. Jika
menyimpang dari Syariah maka tidak boleh ditaati. Rasulullah Saw. bersabda:

Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah
Azza wa Jalla. (HR. Ahmad dari Ali ra.)
Rasul Saw. membatasi ketaatan itu hanya dalam kemakrufan. Rasul Saw.
bersabda:

Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang makruf. (HR. Ahmad,
al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan an-Nasai)
Di dalam Tafsir al-Thabariy disebutkan, Abu Jafar menyatakan,
melakukan amar maruf nahi anil mungkar; yakni memerintahkan manusia
untuk mengikuti Nabi Muhammad Saw., dan agamanya yang berasal dari sisi
Allah Swt.; dan mencegah kemungkaran; yakni mereka mencegah dari ingkar
kepada Allah, serta (mencegah) mendustakan Nabi Muhammad Saw. dan
ajaran yang dibawanya dari sisi Allah. (Imam al-Thabariy, Tafsir alThabariy, surat Ali Imron (3): 104)

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. berpidato di hadapan kaum Muslim yang
datang untuk berbaiat:

10




Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku durhaka
kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kalian tidak wajib taat kepadaku. (AthThabari, Trkh ath-Thabari, II/238)
Imam Syaukaniy ketika menafsirkan firman Allah Swt., surat An Nisa ayat 59
menjelaskan:

:


Ulil amriy adalah para imam, sulthan, qadliy, dan setiap orang yang memiliki
kekuasaan Syariyyah bukan kekuasaan thaghutiyyah. (Imam alSyaukaniy, Fath al-Qadiir, juz 2, hal. 166)

10

Diriwayatkan dari jalur Ummu al-Hushain al-Ahmasiyah, Rasul Saw. bersabda


saat berkhutbah di Haji Wada:

Seandainya diangkat sebagai pemimpin atas kalian seorang (yang asalnya)


hamba sahaya yang memimpin kalian dengan Kitabullah maka dengar dan
taatilah dia. (HR. Muslim [Kitab: al-Imarah, Bab: Wujub thaatil umara, no:
1838], Ibn Majah, an-Nasai, Ahmad)
Dalam lafal lain, kata wa law ustumila alaykum diganti dengan wa in
ummira alaykum abdun habasyiyun (Jika diangkat amir atas kalian seorang
(yang asalnya) hamba sahaya Habasyi)
Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafal yang sedikit berbeda. Rasul Saw.
bersabda:




11










Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah. Jika diangkat amir atas kalian
seorang (yang asalnya) hamba sahaya Habasyi yang hitam legam maka dengar
dan taatilah dia selama dia menegakkan di tengah kalian Kitabullah. (HR. atTirmidzi)
Handzalah bin ar-Rabi ra.sahabat sekaligus jurutulis Rasulullah Saw.
menyebutkan bahwa tanpa Khilafah umat Islam bisa hina dan sesat
sebagaimana umat Yahudi dan Nasrani. (Ath-Thabari, Trkh at-Thabari, hal.
776)

:


11


: .

.
Dari Ibnu Abbas ra. berkata, Umar bin Khoththob ra. pernah berkata: Sungguh
aku sangat khawatir akan berlangsung masa yang begitu lama di tengah-tengah
umat Islam, hingga (suatu saat nanti) akan ada yang berkata: Kami tidak
menemukan had rajam dalam Kitabullah (Al-Quran). Maka (dengan
demikian) mereka menjadi sesat karena telah meninggalkan kewajiban yang
telah Alloh turunkan. Ketahuilah bahwa hukum rajam itu adalah benar adanya
bagi siapa-siapa yang berzina sedang ia telah muhshon (telah menikah dan
telah menggauli pasangannya), jika telah ada bayyinah (alat bukti berupa 4
orang saksi laki-laki atau yang setara dengannya), atau kehamilan (di pihak
wanita), atau pengakuan (si pelaku). (Shahh al-Bukhri, hadits no. 6829)
Berkata Sufyan (perowi): Begini yang aku hafal (dari perkataan Umar bin
Khaththab): Ketahuilah bahwa Rosululloh Saw. benar-benar menerapkan
12
hukum rajam, dan kami juga menerapkannya sepeninggal Beliau. (HR. AlBukhori)
Baiat umat kepada Khalifah mengharuskan umat mendengar dan taat kepada
Khalifah yang mereka baiat. Tentu, ini berlaku selama Khalifah itu masih
takwa kepada Allah SWT, menjalankan hukum-hukum-Nya atas rakyatnya,
serta menjalankan semua tanggung jawab dan kewajibannya sesuai Syariah.
Umat wajib menaati dan menolong Khalifah selama kondisinya belum
berubah, meski ia menjadi penguasa (Khalifah) sepanjang hidupnya.
(Samarah, An-Nizhm as-Siysiy fi al-Islm Nizhm al-Khilfah ar-Rsyidah,
hlm. 67)

in kuntum tuminna bi Allh wa al-yawmi al-khir (jika kamu benar-benar


mengimani Allah dan Hari Akhirat) mengomentari kalimat ini, as-Sadi
berkata, Hal itu menunjukkan bahwa orang yang tidak mengembalikan
masalah yang diperselisihkan kepada keduanya (al-Quran dan as-Sunnah) pada
hakikatnya bukanlah seorang Mukmin, namun beriman kepada thght,
sebagaimana disampaikan dalam ayat selanjutnya. (As-Sadi, Taysr al-Karm
ar-Rahmn, vol. 1, 214)

12

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah


beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut (undangundang dan pembuat hukum kufur), padahal mereka telah diperintah
mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka
(dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisaa': 60)
Dijelaskan oleh Ibnu Katsir dan az-Zuhaili, ini merupakan pengingkaran dari
Allah Swt. terhadap orang-orang yang mengaku mengimani apa yang telah
diturunkan kepada Rasul-Nya dan kepada para nabi terdahulu, namun mereka
justru berhukum pada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul. (Ibnu Katsir, Tafsr
al-Qurn al-Azhm, 1/634, Dar Alam al-Kutub, Riyadh. 1997; azZuhaili, At-Tafsr al-Munr, 5/132)
Secara bahasa, kata thght berasal dari thagh (melampaui batas). Makna ini
terdapat dalam QS. al-Haqqah [69]: 11. Menurut al-Asfahani, kata tersebut
digunakan untuk menunjukkan tajwaz al-hadd f al-ishyn (tindakan
melampaui batas dalam kedurhakaan). (Al-Ashfahani. Mujam Mufradt
Alfzh al-Qurn, hlm. 314, Dar al-Fikr, Beirut. t.t.)
Makna ini terdapat dalam banyak ayat al-Quran, seperti dalam firman Allah
Swt.:

13

Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya dia telah melampaui batas (QS.


Thaha [20]: 24)
Kata tersebut terdapat juga dalam QS Thaha [20]: 43, al-Naziat [79]: 17,
al-Alaq [96]: 6, dan al-Kahfi [18]: 80. Kata thagh yang digunakan dalam
semua ayat itu mengandung pengertian tindakan melampaui batas dalam
kedurhakaan.
Kata thght juga diartikan sebagai al-katsr al-thughyn (yang banyak
melampaui batas dalam kedurhakaan). (Az-Zuhaili, At-Tafsr al-Munr, 5/130)
Al-Asfahani memaknai al-thght sebagai kullu mutad[in] wa kullu
mabd[in] min dni Allh (setiap yang melampaui batas dan setiap yang
disembah selain Allah Swt.). (Al-Ashfahani, Mujam Mufradt Alfzh alQurn, hlm. 314)
Firman Allah Swt.:

13

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk


menyerukan), Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu. (QS. al-Nahl
[16]: 36)
Secara bahasa, kata al-ibdah berarti al-thah (ketaatan). Demikian diartikan
oleh Abu Bakar al-Razi dalam Mukhtr al-Shihhah. Sehingga, sebagaimana
diterangkan oleh Dr. Ahmad Mukhar dalam Mujam al-Lughah al-Arabiyyah
al-Mushirah bahwa kalimat abadal-h berarti wahhadahu wa athahu
(mengesakan dan menaati-Nya), tunduk dan merendahkan diri kepada-Nya,
terikat dengan Syariah-Nya, dan menunaikan fardhu-fardhu-Nya. AlSamarqandi memaknai ayat ini: Esakanlah Allah dan taatlah kepada-Nya.
Dalam ayat ini, perintah mengesakan dan menaati Allah Swt. dilawankan
dengan perintah menjauhi thght. Thght berarti segala yang ditaati yang
menyelisihi wahyu Allah Swt.
Dalam ayat ini (QS. An-Nisaa': 60), kata thaght sering dikaitkan dengan
Kaab bin al-Asyraf. Banyak mufassir menyatakan, dialah yang dimaksud
dengan thaght itu. (Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyf, 1/514, Dar al-Kutub
al-Ilmiyyah, Beirut. 1995; an-Nasafi, Madrik at-Tanzl wa Haqiq atTawl, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 2001; al-Baghawi, Malim atTanzl, 1/355, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993; al-Khazin, Lubb at-

14

14

Tawl, 1/393, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995; al-Baidhawi, Anwr atTanzl wa Asrr at-Tawl, 1/221, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1998;
Nizhamuddin an-Naisaburi, Tafsr Gharib al-Qurn, 2/436; al-Wahidi anNaisaburi, Al-Wasth f Tafsr al-Qurn al-Majd, 2/73; as-Samarqandi, Bahr
al-Ulm,1/364; al-Jazairi, Aysar at-Tafsr, 1/499, Nahr al-Khair, Madinah.
1993)
Az-Zamakshyari dan al-Nasafi menuturkan, hal itu disebabkan karena
kezaliman dan permusuhannya terhadap Rasulullah Saw. yang melampaui
batas; bisa juga karena dia menyerupai setan; atau karena dia dipilih untuk
dijadikan sebagai hakim selain Rasulullah Saw. dan berhakim kepada setan.
(Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyf, 1/514 dan an-Nasafi, Madrik at-Tanzl wa
Haqiq at-Tawl)
Jika dihubungkan dengan sabab nuzul ayat ini, penafsiran itu memang relevan.
Sebab, pemuka Yahudi itulah yang dijadikan sebagai hakim untuk memutuskan
perselisihan. Pengertian thght ini tidak terbatas untuk Kaab bin al-Asyraf.
Semua orang yang menduduki posisi dan peran yang sama dengannya tercakup
dalam lingkup makna thght.
Ibnu Katsir dan al-Zuhaili menegaskan, makna thght lebih umum dari Kaab
bin al-Asraf yaitu orang-orang yang menyimpang dari al-Kitab dan as-Sunnah
serta berhukum kepada selain keduanya berupa kebatilan adalah thght yang
dimaksud ayat ini. (Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn al-Azhm, 1/634; azZuhaili, At-Tafsr al-Munr, 5/132)
Abdurrahman al-Sadi juga memaknai thght dalam ayat ini adalah setiap
orang yang berhukum dengan selain syariah Allah (kullu man hakama bi
ghayri syarillh). (As-Sadi, Taysr al-Karm ar-Rahmn, 1/215, Jamiyyah
Ihya al-Turats al-Islami, tt. 2000)
Thght dalam ayat ini adalah semua hakim yang memutuskan perkara dengan
hukum selain al-Quran dan as-Sunnah. Keinginan mereka berhakim
kepada thght itu menunjukkan adanya kontradiksi pada sikap mereka.
Mereka mengaku mengimani al-Quran dan as-Sunnah yang diturunkan oleh
Allah, tetapi dalam praktiknya justru berhukum kepada yang lain.

15

Abdurrahman al-Sadi menyatakan, siapa saja yang mengaku sebagai Mukmin


dan memilih untuk berhakim kepada thght, dia adalah pendusta dalam
perkara ini. (As-Sadi, Taysr al-Karm ar-Rahmn, 1/215)

15
Maka patutkah aku mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah
menurunkan kitab (Al-Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang
telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa AlQuran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu
sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu. (TQS al-Anam [6]: 114)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.


Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak
mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An-nisa [4]: 80)

"Siapa saja yang melakukan suatu perbuatan yang tak ada perintah kami
atasnya, maka perbuatan itu tertolak" (HR. Bukhari no. 2550; Muslim no.
1718)

Imam Ibnu Katsir menyatakan, Perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan


itu ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah SAW. Apa yang
sejalan dengan itu (Sunnah Rasul Saw.) diterima, sedangkan apa yang
menyelisihinya maka tertolaklah atas orang yang berkata dan yang berbuat,
apapun itu. Sebagaimana ditetapkan dalam Shahihain dan yang lain, dari
Rasulullah SAW. bahwasanya beliau bersabda, Siapa saja yang mengerjakan
suatu perbuatan, yang tidak kami perintahkan, maka perbuatan itu
tertolak.Yakni; hendaklah berhati-hati dan takut siapa saja yang menyalahi

16

16

Syariat Rasulullah SAW. bathin maupun dzahir [an tushiibahum fitnah]: yakni
(dia akan tertimpa) fitnah di hati mereka; mulai terkena kekufuran,
kemunafikan, atau bidah. [Au yushiibahum adzaabun alim]: yakni terkena
hukuman di dunia; mulai dari terkena had, penjara, atau dibunuh. (Imam Ibnu
Katsir, Tafsir al-Quran al-Adziim, QS. An Nuur (24):63)

Siapa saja yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama)
kami ini, yang bukan bagian darinya, maka tertolak. (HR. Ahmad, Bukhari,
Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah)
Menurut Imam asy-Syafii, al-muhdatsah (perkara baru yang diada-adakan)
yang menyalahi al-Kitab atau as-Sunnah atau ijmak merupakan bidah
dhalalah. (Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Mughni al-Muhtj 4/436)
Hadits ini juga diriwayatkan dengan lafal:

Siapa saja yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan
ketentuan kami maka tertolak. (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud,
Ibn Majah, dll.)

Imam an-Nawawi memasukkannya di dalam Hadits Arbain, hadits ke-5.


Hadits ini mengandung kaidah induk dalam Islam. Ibn Rajab al-Hanbali di
dalam Jmi al-Ulm wa al-Hikam menyatakan, Hadits ini adalah salah satu
pokok agung dari Islam. Ia merupakan neraca amal pada lahiriahnya;
sebagaimana hadits perbuatan itu bergantung pada niat adalah neraca amal
pada batinnya. Setiap amal yang tidak ditujukan meraih ridha Allah maka
pelakunya tidak mendapat pahala sedikitpun. Demikian juga setiap amal yang
tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya adalah tertolak.

Mereka berkata: Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan)
dalam urusan ini? Katakanlah: Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di
tangan Allah. (QS. Ali Imran [3]: 154)

17

17

Akidah Islam tidak membenarkan umatnya menghalalkan dan mengharamkan


sesuatu menurut manusia.

Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhantuhan selain Allah serta mempertuhankan al-Masih putra Maryam. Padahal
mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan
(yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka
persekutukan. (QS. [9] at-Taubah: 31)

Dikemukakan oleh Hudzaifah bin al-Yamani, Ibnu Abbas, dan lain-lain bahwa
kaum Yahudi dan Nasrani itu mengikuti pendeta dan rahib mereka dalam
perkara yang mereka halalkan dan mereka haramkan. (al-Suyuthi, al-Durr alMantsr, vol. 3, 354-355; Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn al-Azhm, vol. 2
(Riyadh: Dar Alam al-Kutub, 1997), 432)
Asy-Syaukani menyatakan,Sesungguhnya mereka menaati pendeta-pendeta
mereka, dalam perintah dan larangannya. Pendeta-pendeta itu menempati
kedudukan sebagai tuhan-tuhan karena mereka ditaati sebagaimana layaknya
tuhan-tuhan. (al-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 2, 452)
Pengertian itu didasarkan pada penjelasan Rasulullah Saw. terhadap ayat ini.
Diriwayatkan dari Adi bin Hatim:
Saya mendatangi Rasulullah dengan mengenakan kalung salib dari perak di
18
leherku. Rasulullah Saw. bersabda, Wahai Adi, lemparkanlah patung itu dari
lehermu. Kemudian saya melemparkannya. Usai saya lakukan, Beliau
membaca ayat ini: Ittakhadz ahbrahum wa ruhbnahum min dni Allh,
hingga selesai [QS. (9) at-Taubah: 31]. Saya berkata, Sesungguhnya kami
tidak menyembah mereka. Beliau bertanya, Bukankah para pendeta dan rahib
itu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya;
menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya. Aku
menjawab, Memang begitulah. Beliau bersabda, Itulah ibadah
(penyembahan) mereka kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. (HR.
ath-Thabrani dari Adi Bin Hatim; Bisa juga dilihat dalam al-Thabari, Jmi al-

18

Bayn f Tawl al-Quran, vol. 6, 354; al-Suyuthi, al-Durr al-Mantsr, vol. 3


(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1990), 354; al-Wahidi al-Naisaburi, alWasth f Tafsr al-Qurn al-Majd, vol. 2 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
1999), 489. Hadits serupa dengan sedikit perbedaan redaksional bahasa dapat
dijumpat dalam banyak kitab tafsir, seperti: al-Qurthubi, al-Jmi li Ahkm alQurn, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 77; alZamakhsyari, al-Kasysyf,vol. 2, 256; Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn
al-Azhm, vol. 2, 432; al-Qasimi,Mahsin al-Tawl, vol. 5 (Beirut: Dar alKutub al-Ilmiyyah, 1997), 394)
Subhnahu amm yusyrikna (Mahasuci Allah dari apa yang mereka
persekutukan) oleh al-Khazin frasa ini dijelaskan, Mahasuci Allah Swt. dari
sekutu bagi-Nya dalam ibadah, dan hukum, dan sekutu dalam ketuhanan yang
berhak dan diagungkan. (al-Khazin, Lubb al-Tawll, vol. 2, 353)
Orang-orang musyrik Arab, kendati mengakui bahwa Allah Swt. sebagai
Pencipta, Pengatur, dan Pemilik alam raya, mereka tidak dapat dikategorikan
sebagai Mukmin. Pasalnya, mereka tidak mengakui Allah Swt. sebagai satusatunya ilh yang patut ditaati (Taufik Mustofa, L Ilha IllLlh: L
Mabda IllLlh, al-Way, 96 (Dzu al-Hijjah, 1415), 4. Kesimpulan tersebut
didasarkan pada QS. al-Mukminun [23]: 84-90; al-Ankabut [29]: 61-63). Ini
pula yang ditegaskan dalam ayat di atas. Kaum Yahudi dan Nasrani
mendudukkan pendeta dan rahib mereka sebagai memiliki otoritas/kewenangan
membuat hukum.
Sekalipun Allah Swt. jelas-jelas mewajibkan penerapan Syariah dalam
kehidupan, perintah itu tidak boleh dijalankan sebelum mendapat persetujuan 19
dari lembaga legislatif terlebih dahulu. Jika lembaga itu menyetujuinya, baru
boleh diterapkan. Sebaliknya, jika lembaga itu menolaknya maka Syariah tidak
boleh dijalankan. Jika demikian, apa bedanya para pembuat hukum itu dengan
para pendeta dan rahib yang dalam ayat ini disebut sebagai tuhan-tuhan selain
Allah Swt.? Mereka disebut demikian lantaran didudukkan sebagai pembuat
hukum yang wajib ditaati. Dengan demikian, siapapun yang ditahbiskan
memiliki otoritas yang sama, merekapun layak disebut sebagai arbb min dni
Allh, tuhan-tuhan selain Allah Swt.

19

Yunus bin Bukair ra. menuturkan bahwa Rasulullah Saw. pernah menulis surat
kepada penduduk Najran, di antara isinya:

Amma badu. Aku menyeru kalian ke penghambaan kepada Allah dari


penghambaan kepada hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian ke kekuasaan
(wilyah) Allah dari kekuasaan hamba (manusia) (Ibn Katsir, Al-Bidyah
wa an-Nihyah, v/553, Maktabah al-Maarif, Beirut)
Misi mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga
terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum dengan Mughirah bin Syubah
yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash. Pernyataan misi itu diulang
lagi dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Rabiy bin Amir (utusan
Panglima Saad bin Abi Waqash) yang diutus setelah Mughirah bin Syubah
pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia. Jenderal Rustum bertanya
kepada Rabiy bin Amir, Apa yang kalian bawa? Rabiy bin Amir
menjawab:












20


Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar
kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada hamba
(manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia
menuju kelapangannya dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju
keadilan Islam. (Ibnu Jarir ath-Thabari, Trkh al-Umam wa al-Muluk,
ii/401, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut)
Orang-orang yang berpaling dari Syariat Allah dan hanya mengikuti akal dan
hawa nafsunya juga ditutup hati, pendengaran dan penglihatannya dari

20

petunjuk. Dengan demikian mereka hidup dalam kesesatan. Allah Swt.


berfirman:







Apakah engkau tidak melihat bagaimana orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhan dan Allah menyesatkan mereka atas dasar ilmu,
menutup pendengaran mereka dan menjadikan penutup pada penglihatan
mereka. Maka siapakah yang memberikan petunjuk kepada mereka selain
Allah?. Maka tidakkah engkau mengambil pelajaran? (QS. Al-Jatsiyah [45]:
23)

Mengikuti hawa nafsu dan mendahulukannya ketimbang mengikuti hukum


Allah Swt. juga akan membuat seseorang menjadi tersesat dan jauh dari jalan
kebenaran. Allah Swt. berfirman:

Wahai Daud sesungguhnya kami menjadikan engkau sebagai khalifah di bumi


maka hukumilah manusia dengan kebenaran dan janganlah engkau mengikuti
21
hawa nafsu sehingga ia menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya
orang-orang yang sesat dari jalan Allah maka bagi mereka adalah azab yang
pedih karena mereka telah melupakan Hari Perhitungan. (QS. Shad [38]: 26)
Menurut Ibn Taimiyah, siapa saja yang tidak mengikuti perintah Allah SWT
dan Rasul-Nya pada
dasarnya dia telah mengikuti hawa nafsunya tanpa mendapatkan petunjuk dari
Allah SWT.
Nafsu harus tunduk pada wahyu.

21

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai hawa nafsunya


mengikuti apa yang aku bawa. (HR. al-Hakim, al-Khathib, Ibn Abi Ashim
dan al-Hasan bin Sufyan; disebutkan An-Nawawi dalam Al-Arbaun anNawawiyah, Hadits ke-41)
Di dalam At-Tarift, al-Jurjani menjelaskan bahwa al-haw adalah
kecenderungan jiwa (mayl an-nafsi) pada syahwat yang menyenangkannya
tanpa alasan Syariah. Muhammad Rawas Qalah Ji di dalam Mujam Lughah
al-Fuqaha juga menjelaskan, al-haw adalah kecenderungan jiwa pada apa
yang disukai tanpa memperhatikan hukum Syariah dalam hal itu.
Secara bahasa al-haw adalah kecenderungan, keinginan atau kecintaan secara
mutlak. Dalam penggunaannya, kata al-haw itu jika disebutkan secara mutlak
maka yang dimaksudkan adalah kecenderungan pada apa yang menyalahi
kebenaran.
Hawa nafsu adalah segala ucapan atau tindakan yang bertentangan dengan
wahyu. Hawa nafsu adalah lawan dari wahyu. Firman Allah SWT:

Tidaklah yang diucapkan Rasul itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapan Rasul
itu tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepada dirinya. (QS. anNajm [53]: 3-4).
Segala ucapan dan tindakan Rasulullah Saw. pasti bersumber dari wahyu,
bukan dari hawa nafsu. (Abu Bakar al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, III/526)
Segala perbuatan Rasul Saw. pasti tidak menyalahi wahyu.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jmi al-Ulm wa al-Hikam mengatakan:


Jadi yang wajib bagi setiap Mukmin adalah mencintai apa yang dicintai Allah 22
SWT dengan kecintaan yang mengantarkan dirinya melakukan apa yang
diwajibkan. Jika kecintaan itu bertambah sehingga ia melakukan apa yang
disunnahkan maka itu adalah keutamaan. Setiap Muslim juga hendaknya tidak
menyukai apa yang tidak disukai oleh Allah SWT dengan ketidaksukaan yang
mengantarkan dirinya menahan diri dari apa yang Allah haramkan atas dirinya.
Jika ketidaksukaan itu bertambah sehingga mengantarkan dirinya menahan diri
dari apa yang dimakruhkan Allah, maka itu merupakan keutamaan.

22

Hadits ini juga bermakna bahwa seseorang haruslah menjadikan keinginan


Nabi Saw. lebih dia kedepankan daripada keinginannya, dan Syariah yang
dibawa Nabi saw. lebih dia kedepankan daripada haw-nya; daripada
kecenderungan atau kecintaannya. Jika keinginannya bertabrakan dengan apa
yang Nabi Saw. bawa maka ia mengalahkan keinginannya dan memenangkan
apa yang Nabi Saw. bawa. Sebab, al-haw menjadi tbi (yang mengikuti),
sementara apa yang Rasul Saw. bawa, yaitu Islam dan Syariahnya, adalah yang
diikuti (al-matb). Semua kemaksiatan itu muncul karena hawa nafsu lebih
didahulukan daripada kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul Saw.
Allah SWT menyifati orang-orang musyrik dalam banyak ayat, bahwa mereka
mengikuti hawa nafsu (Lihat, misalnya: QS. al-Qashshash [28]: 50). Karena itu
Allah SWT melarang kita untuk mengikuti hawa nafsu (QS. an-Nisa [4]: 135).
Untuk itu, Islam dan Syariahnya harus kita jadikan standar dan pedoman.
Semua keinginan, kecenderungan dan kesukaan dan tidaknya harus kita
tundukkan pada ketentuan Islam dan Syariahnya. Untuk mewujudkan itu kita
mengerahkan daya upaya menundukkan hawa nafsu. Allah SWT menyediakan
pahala yang besar dan Surga bagi siapa saja yang bisa merealisasikan ini (QS.
an-Naziat [79]: 40-41).
Sungguh, pangkal keterpurukan bersumber pada satu hal yakni penyimpangan
terhadap Petunjuk dan Aturan dari Allah Swt. Ini karena kaum Muslim
berpaling dari Al-Quran. Keadaan itu telah diterangkan oleh Allah Swt. dalam
QS. (20) Thaha: 124:



(*

23

Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada
Hari Kiamat dalam keadaan buta. (QS. Thaha: 123-124)
Menurut Imam Ibnu Katsir makna berpaling dari peringatan-Ku adalah:
menyalahi Perintah-Ku dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku,

23

melupakannya dan mengambil petunjuk dari selainnya (Tafsir al-Quran


al-Azhim, V/323). Maka baginya kehidupan yang sempit yakni di dunia,
tidak ada ketentraman baginya dan tidak ada kelapangan untuk dadanya
(Tafsir al-Quran al-Azhim)
Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, al-Jmi li Ahkm al-Qur`n, yang
dimaksud dengan dzikr, peringatan-Ku, di sini adalah dn, wa tilwat Kitb,
wa al-amal bim fhi. Yakni agama-Ku, membaca Kitab-Ku, dan
mengamalkan apa yang ada di dalamnya. Ayat ini menegaskan bahwa siapapun
yang berpaling dari agama-Nya, menolak menerapkan Syariah-Nya, dan justru
menerapkan sistem lainnya, maka akibatnya sudah dapat dipastikan. Mereka
akan sengsara dan menderita di dunia.

Dan berkatalah Rasul, Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan alQuran ini sebagai sesuatu yang diabaikan. (QS. al-Furqan [25]: 30)
Imam Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya, Tafsr al-Qurn
al-Azhm, mencontohkan sikap hajr al-Qurn (meninggalkan atau
mengabaikan al-Quran). Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan
membenarkan al-Quran; tidak mau menyimak dan mendengarkannya, bahkan
membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar al-Quran
saat dibacakan; tidak mentadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan
mematuhi perintah dan larangannya, dan berpaling darinya lalu berpaling
kepada selainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan,
atau thariqah yang diambil dari selain al-Quran.
Allah SWT mensifati kaum yang melakukan hal itu dengan sifat yang sangat
jelek. Hal itu seperti ketika Allah SWT mensifati kaum Yahudi di dalam
firman-Nya:

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian


mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang

24

24

membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang


mendustakan ayat-ayat Allah itu. (QS. al-Jumuah [62]: 5)
Allah mensifati kaum yang memikul wahyu tanpa melaksanakannya seperti
keledai yang membawa kitab-kitab tebal. Apa yang ada dalam perasaan kita
ketika kita tidak melaksanakan al-Quran, lalu Allah SWT mengumpamakan
kita seperti keledai? Orang yang beriman, bertakwa dan rindu akan ridla Allah
Swt. niscaya akan meneteskan air mata jika disebut seperti itu oleh Dzat yang
dia harapkan ampunan-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Seseorang dikatakan menyia-nyiakan
al-Quran jika ia tidak mau membacanya. Seseorang yang sudah terbiasa
membacanya masih dikatakan menyia-nyiakannya jika ia tidak mau memahami
kandungannya. Dan seseorang yang sudah terbiasa membacanya dan telah
memahami kandungannya juga masih dikatakan menyia-nyiakannya jika ia
belum mengamalkannya.
Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Muhammad Saw. dengan membawa
petunjuk dan agama yang haq sebagai rahmat untuk seluruh alam. Manusia
akan terus mengalami kesengsaraan, penderitaan hidup, kehinaan dan
kezaliman selama Islam ditinggalkan.

Kami telah menurunkan kepada kamu al-Kitab (al-Quran) sebagai penjelasan


atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi kaum
25
Muslim. (QS. an-Nahl [16]: 89)
Imam Abu Bakar al-Jazairi menjelaskan kedudukan al-Quran sebagai hud[an],
yakni petunjuk dari segala kesesatan; juga rahmat[an], yakni rahmat
khususnya bagi mereka yang mengamalkan dan menerapkan al-Quran bagi diri
sendiri dan di dalam kehidupan sehingga rahmat tersebut bersifat umum di
antara mereka. (Jabir bin Musa Abu Bakr Al-Jazairi, Aysar at-Tafsr,
Madinah: Maktabah al-Ulm, Cet. V, 1424 H, (III/138-139))

25

Imam al-Baghawi di dalam tafsir Malim at-Tanzl menjelaskan, Al-Quran


merupakan penjelasan atas segala sesuatu yang diperlukan berupa perintah dan
larangan, halal dan haram serta hudud dan hukum-hukum.
Dengan mengutip Ibn Masud ra., Imam Ibnu Katsir di dalam Tafsr al-Qurn
al-Azhim juga menjelaskan, Sesungguhnya al-Quran meliputi segala
pengetahuan yang bermanfaat berupa berita tentang apa saja yang telah lalu;
pengetahuan tentang apa saja yang akan datang; juga hukum tentang semua
yang halal dan yang haram serta apa yang diperlukan oleh manusia dalam
perkara dunia, agama, kehidupan dan akhirat mereka.
Diterangkan pula oleh al-Syaukani, penjelasan Al Quran yang menyeluruh
tentang hukum dilengkapi oleh al-Sunnah yang menjelaskan hukum-hukum
yang tersisa. Di dalamnya juga terdapat perintah untuk mengikuti dan menaati
Rasulullah SAW dalam hukum-hukum yang dibawa beliau sebagaimana
disebutkan dalam ayat-ayat Al Quran. Rasulullah Saw. juga
bersabda: Sesungguhnya aku diberi Al-Quran dan bersamanya yang
semisalnya (al-Sunnah). (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
Dijelaskan oleh al-Samarqandi, kendati menjelaskan segala sesuatu, sebagian
isinya ada yang terperinci dan sebagian lainnya bersifat global sehingga
membutuhkan al-istikhrj (dikeluarkan) dan al-istinbth (penggalian).
Nash-nash Syara memang datang berupa khutth ardhah (garis-garis besar).
Yang darinya bisa digali berbagai hukum, baik untuk perkara yang sudah,
sedang, dan akan terjadi. Tidak ada satu pun perkara yang tidak dijelaskan
hukum oleh Islam.
Menurut al-Baidhawi, hud[n]dan rahmah berlaku umum untuk seluruh
manusia. Sedangkan busyr bersifat khusus yaitu hanya berlaku bagi kaum
Muslimin.
Al-Quran tidak serta-merta secara riil berperan menjadi petunjuk kecuali jika
memang diperhatikan dan dijadikan sebagai panduan, pedoman dan petunjuk.
Itulah saat peringatan-peringatannya diindahkan, pelajaran-pelajarannya
diperhatikan, perintah-perintahnya dijalankan, larangan-larangannya dijauhi
dan ditinggalkan, ketentuan-ketentuannya diikuti, hukum-hukumnya serta halal
dan haramnya diterapkan dan dijadikan hukum untuk mengatur kehidupan.

26

26

Sesungguhnya Allah meninggikan dengan al-Quran ini banyak kaum dan


merendahkan banyak kaum lainnya. (HR. Muslim)
Allah SWT berfirman:

Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat


bagi alam semesta. (QS. al-Anbiya [21]: 107)
Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menyatakan:

Tidaklah Kami mengutus engkau, wahai sebaik-baiknya makhluk, dengan


membawa Syariah-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta, yakni agar
menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya; dalam agama dan dunia.
(Muhammad bin Umar Nawawi, Marh Labd li Kasyf Man al-Qurn alMajd, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, (II/62))
Dalam tafsir Marah Labid Juz II/ 47: Allah SWT mengutus Nabi Muhammad
Saw. untuk menjelaskan kepada manusia jalan menuju pahala, menampilkan
dan memenangkan hukum-hukum Syariat Islam, membedakan yang halal dari
yang haram. Setiap nabi sebelum Beliau, manakala didustakan oleh kaumnya, 27
Allah membinasakan mereka dengan berbagai siksa. Namun, jika kaum Nabi
Muhammad mendustakannya, Allah SWT mengakhirkan azab-Nya hingga
datangnya maut dan Dia mencabut ketetapan-Nya untuk membinasakan kaum
pendusta Rasul. Inilah umumnya tafsiran para mufasirin.
Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) menyatakan, rahmat tersebut mencakup
kehidupan agama dan dunia. Mencakup agama karena beliau turun menyeru
manusia ke jalan kebenaran dan pahala, mensyariatkan hukum-hukum dan
membedakan antara halal dan haram. Yang mengambil manfaat (hakiki) dari
rahmat ini adalah siapa saja yang kepentingannya mencari kebenaran semata,

27

tidak bergantung pada taqlid buta, angkuh dan takabur, berdasarkan indikasi
dalil:

Katakanlah, Al-Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang


beriman, sementara orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada
sumbatan. (QS. Fushshilat [41]: 44).
Mencakup kehidupan dunia karena manusia terhindar dari banyak kehinaan
dan ditolong dengan keberkahan din-Nya ini. (Muhammad bin Umar alRazi, Mafth al-Ghayb, Beirut: Dr Ihy al-Turts, Cet.III, 1420 H,
(XXII/193))

Menurut Imam asy-Syathibi dalam Al-Muwfaqt, pada dasarnya Syariah


ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan hamba (mashlih al-ibd), baik
di dunia maupun di akhirat.
Penetapan sesuatu sebagai maslahat atau bukan, hanya diserahkan pada
syariah. Syariahlah yang mendatangkan maslahat. Syariah pula yang
menentukan mana yang maslahat bagi manusia.
Allah Swt. mengingatkan bahwa manusia memang tidak mengetahui hakikat
maslahat dan mafsadat itu; hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Allah
Swt. berfirman:





28



Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Boleh
jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah
mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 216)
Karena itu, penentuan maslahat itu harus dikembalikan pada Syariah, bukan
pada akal.

Imam ath-Thabari menegaskan ketika menjelaskan makna al-khayr dalam


QS. al-Baqarah [2]: 110, al-khayr adalah perbuatan yang diridhai Allah. (athThabari, Tafsr ath-Thabari). Pada hakikatnya yang baik untuk manusia itu

28

adalah apa saja yang disukai Allah, atau diridhai Allah. Pada hakikatnya yang
buruk bagi manusia itu adalah apa saja yang tidak disukai atau dibenci oleh
Allah.
Abu Bakar al-Baqilani di dalam al-inshf menyatakan, Semua kaedah-kaedah
Syara menunjukkan bahwa al-hasan (yang terpuji) adalah apa yang dipuji oleh
Syara dan dibolehkannya; sedangkan al-qabh (yang tercela) adalah apa yang
dicela oleh Syara, diharamkan dan dilarangnya.
Penilaian suatu perbuatan sebagai terpuji atau tercela juga harus mengikuti
Syara.
Allah SWT tegaskan bahwa al-Quran dengan segala isinya adalah datang dari
Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Diturunkan Kitab ini dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana. (QS. az-Zumar [39]: 1; al-Jatsiyah [45]: 2; al-Ahqaf [46]: 2)
Al-Hakm (Maha Bijaksana) yakni dalam firman-firman, perbuatan, qadar
dan syariah-Nya. (Tafsr Ibn Katsr)
Imam Izzuddin bin Abdus Salam di dalam Qawid al-Ahkm f Mashlih alAnm halaman 13 menyatakan, Adapun maslahat dan mafsadat dunia dan
akhirat maka tidak bisa diketahui kecuali dengan Syariah.
Maslahat adalah apa yang dituntut atau dibolehkan oleh Syariah; mafsadat
adalah apa saja yang dilarang dan tidak dibolehkan oleh Syariah. Dalam hal ini,
para Sahabat telah memberikan contoh yang bisa kita teladani. Rafi bin Khadij 29
berkata, pamannya berkataketika Rasul Saw. melarang mereka
dari muzraah/mukhbarah, yaitu menyewakan lahan pertanian:

Rasulullah Saw. telah melarang kami dari satu perkara yang bermanfaat bagi
kami, tetapi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya lebih bermanfaat bagi
kami. (HR. Muslim, Abu Dawud, an-Nasai dan Ahmad).

29

Rahmat[an] lil alamin itu menjadi sifat dari Islam secara keseluruhan: akidah,
syariah/ hukum-hukumnya termasuk khilafah, jihad, hudud, dll. Rahmat[an] lil
alamin secara sempurna hanya akan terwujud ketika Islam secara keseluruhan
diterapkan secara nyata di tengah-tengah kehidupan.
Imam Jafar ash-Shadiq, sebagaimana dikutip dalam kitab Fath ar-Rabbani wa
Faydh arh-Rahmani karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pernah berkata,
Hakikat ubudiah (penghambaan) seseorang terhadap tuannya adalah: ia
menyadari bahwa apa yang ada pada dirinya hakikatnya bukanlah miliknya,
tetapi milik tuannya; ia tunduk dan patuh tanpa membantah terhadap setiap
perintah tuannya; ia tidak membuat aturan apapun selain menerima aturan yang
dibuat tuannya untuk dirinya. (Imam Jafar ash-Shadiq)
Kaidah ushul fiqih:




[








]

Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum Syara . (Lihat AnNabhani, Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah, juz 3 hlm. 20) di mana kelak dia
akan dihisab oleh Alloh Swt. berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkanNya.

[93 92 :]
Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua (92), tentang
apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (93) (QS. Al-Hijr: 92-93)
30
Hadits Nabi menjelaskan:

Aku telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan
sesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu
Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. (HR. at-Turmudz, Ab Dwud, Ahmad)

30

Rasul Saw. memerintahkan agar hukum Islam ditegakkan terhadap siapa saja,
termasuk terhadap orang-orang dekat dan orang-orang yang kuat secara politik
ataupun ekonomi. Rasul Saw. bersabda:

Tegakkanlah oleh kalian hudd Allah atas orang dekat atau jauh dan janganlah
celaan para pencela menghalangi kalian. (HR. Ibnu Majah, al-Hakim, alBaihaqi)
Hadits ini juga diriwayatkan dengan redaksi yang lain oleh Abu Dawud di
dalam Al-Marsl dan dikutip oleh al-Baihaqi di dalam Marifah as-Sunan wa
al-Atsar dari Makhul dari Ubadah bin ash-Shamit. Dinyatakan bahwa Nabi
Saw. pernah bersabda:

Tegakkanlah hudd Allah baik di perjalanan atau sedang mukim, atas orang
yang dekat maupun jauh, dan jangan pedulikan di jalan Allah celaan orang
yang suka mencela. (HR. Abu Dawud)
Hadits ini jelas memerintahkan untuk menegakkan hudd Allah tanpa
deskriminasi. Kata hudd Allah ini bukan berarti bahwa yang diperintahkan
hanya sanksi jenis had (hudd) saja, sementara sanksi
jenis jinyah, tazr dan mukhlaft tidak diperintahkan. Perintah untuk
menegakkan hukum-hukum Syariah dalam semua jenisnya tetap wajib.

Frasa f as-safari wa al-hadhari dalam riwayat Abu Dawud maknanya bukan


berarti terbatas pada kondisi safar dan hadhar. Namun, itu
merupakan uslub bahasa yang memberi makna dalam semua kondisi. Artinya,
hukum Syariah itu diperintahkan agar ditegakkan dalam semua kondisi di
wilayah kekuasaan Daulah.
Makna frasa f al-qarb wa al-bad bisa berarti yang dekat dan jauh dari sisi
nasab dan kekerabatan, juga bisa yang kuat dan yang lemah atau
bangsawan/pejabat/tokoh dan rakyat biasa.

31

31

Hal itu ditegaskan dalam hadits dari Aisyah ra. bahwa kaum Quraisy pernah
terguncang dengan perkara seorang perempuan Bani Makhzum yang mencuri.
Seseorang berkata, Siapa yang bisa berbicara kepada Rasulullah Saw.?
Mereka berkata, Tidak ada orang yang berani melakukan itu kecuali Usamah
bin Zaid, yang dikasihi Rasulullah Saw. Lalu Usamah berbicara kepada beliau.
Beliau lalu bersabda, Apakah engkau memintakan pengampunan dalam salah
satu had di antara hudd (hukuman-hukuman) Allah? Kemudian beliau berdiri
dan berpidato:

Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum


kalian karena mereka itu, jika orang mulia di antara mereka mencuri, mereka
biarkan; jika orang lemah di antara mereka mencuri, mereka tegakkan had.
Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan
potong tangannya. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, atTirmidzi, Ibn Majah dan an-Nasai)
Pertimbangan rasa kasihan tidak boleh mempengaruhi penegakkan hukum
Islam.

32

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, deralah masing-masing


dari keduanya seratus kali deraan, dan janganlah rasa belas kasihan kepada
keduanya mencegah kalian untuk (menjalankan) agama Allah jika kalian
mengimani Allah dan Hari Akhir. Hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. an-Nur [24]: 2)

32

Rasa tidak suka tidak boleh berpengaruh dalam penegakkan hukum Allah
SWT.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada
takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Maidah [5]: 8)

Ada berbagai riwayat pada masa Khulafa ar-Rasyidin hukum Allah ditegakkan
atas para pelaku dosa, mereka dibawa ke hadapan khalifah atau wakilnya untuk
ditegakkan hukum Islam terhadapnya.
Abu Dawud ath-Thayalisi telah mengeluarkan di dalam Musnad-nya dari
Hudhayn Abiy Sasan ar-Raqasyi, ia berkata:


33

Aku mendatangi Utsman bin Affan dan kepadanya didatangkan al-Walid bin
Uqbah dia telah minum khamar dan disaksikan oleh Humran bin Aban dan
seorang laki-laki lain, maka Utsman berkata kepada Ali: Tegakkan
terhadapnya hadd

33

Khalifah Abu Bakar membunuh orang-orang yang murtad karena mengingkari


suatu kewajiban Syariah yaitu kewajiban zakat. Ibn Hibban telah mengeluarkan
di dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah, ia berkata: Ketika Rasulullah Saw.
wafat dan Abu Bakar diangkat menggantikan beliau (sebagai Khalifah) dan

orang dari kalangan Arab menjadi kafir, Abu Bakar memerangi mereka. Abu
Bakar berkata:

Demi Allah aku perangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat.
Zakat adalah hak harta. Demi Allah seandainya sekelompok orang
menghalangi dariku apa yang dahulu mereka tunaikan kepada Rasulullah Saw.
pasti aku perangi mereka atas keengganan mereka itu.
Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan
hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa
yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi
kalian untuk menaatinya. (HR. Ibnu Abi Syaibah)
Syariah umat para rasul sebelum Rasulullah Saw. bukanlah syariah bagi kita.
Syariah sebelum kita telah dihapus dengan Islam. Allah SWT berfirman:

34



34




Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran,


membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka
putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah

kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang


telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang. (QS. Al-Maaidah: 48)
Makna muhayminan alayhi adalah menghapus. Jadi, Islam telah menghapus
syariah kitab-kitab terdahulu. Karena itu syariah orang sebelum kita bukanlah
syariah bagi kita.

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka
dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan
pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang
selalu mereka perolok-olokkan itu. (QS. [40] al-Mumin: 83)

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan


tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian
dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
(QS. ar-Rum [30]: 41)

Dijelaskan oleh para mufassir bahwa ulah perbuatan yang dimaksud adalah
perbuatan dosa dan maksiat.
Al-Baghawi menafsirkannya sebagai: bi syu dzunbihim (karena keburukan
35
dosa-dosa mereka). (Al-Baghawi, Malim at-Tanzl, vol. 3, 417)
Ibnu Katsir memaknainya: bi sabab al-mash (karena kemaksiatankemaksiatan). (Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn al-Azhm, vol. 3 (Beirut: Dar alFikr, 2000), 1438)
Al-Zamakhsyari dan Abu Hayyan menuturkan: bi sabab mashhim wa
dzunbihim (karena perbuatan maksiat dan dosa mereka). (Az-Zamaksyari, AlKasysyf, vol. 3, 467; Abu Hayyan al-Andalusi, Tafsr al-Bahr al-Muhth,vol. 4
(Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994), 360)

35

Dengan ungkapan yang agak berbeda, pendapat yang sama juga dikemukakan
oleh Syihabuddin al-Alusi, al-Baidhawi, al-Samarqandi, al-Nasafi, al-Khazin,
dan al-Shabuni. (Al-Alusi, Rh al-Man, vol. 11, 48; as-Samarqandi, Bahr
al-Ulm, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1993), 14; anNasafi, Madrik at-Tanzl wa Haqiq at-Tawl, vol. 2, 31; al-Khazin, Lubb
at-Tawl fi Mani at-Tanzl, vol. 3, 393; ash-Shabuni, Shafwat at-Tafsr, vol.
2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), 442)
Kesimpulan tersebut sejalan dengan firman Allah Swt.:

Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah akibat perbuatan tangan kalian
sendiri. (QS. asy-Syura [42]: 30)
Ayat ini memastikan bahwa pangkal penyebab terjadinya seluruh kerusakan di
muka bumi adalah pelanggaran dan penyimpangan manusia terhadap ketentuan
Syariah-Nya.

Ada beberapa kemaksiatan yang disebutkan secara spesifik dapat menyebabkan


kehancuran masyarakat. Rasulullah Saw. bersabda:

Jika zina dan riba telah tampak menyebar di suatu kampung maka
sesungguhnya mereka telah menghalalkan diri mereka dari azab Allah. (HR.
ath-Thabrani, al-Baihaqi dan al-Hakim)

36

Pemaparan Abu al-Aliyah dikutip oleh Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini:
Siapa saja yang bermaksiat di muka bumi, sungguh dia telah berbuat
kerusakan, sebab kebaikan bumi dan langit adalah dengan ketaatan. Karena itu
dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dinyatakan:

Sungguh satu hukuman had yang ditegakkan di muka bumi lebih disukai
penduduknya daripada mereka diguyur hujan 40 hari.

36

Hudud yang ditegakkan itu menghalangi manusiaatau kebanyakan mereka


dari melakukan keharaman. Jika kemaksiatan dilakukan maka hal demikian
menjadi sebab terpupusnya berkah dari langit dan bumi. (Ibn Katsir, Tafsr alQurn al-Azhm).
Ibn Manzhur dalam Lisn al-Arab menjelaskan, huddulLah adalah sesuatu
yang Allah jelaskan pengharaman dan penghalalannya; Allah perintahkan
untuk tidak dilanggar sedikitpun dan dilampaui, selain dari apa yang telah
diperintahkan atau dilarang, yang Allah larang untuk dilanggar.
Ibn al-Atsir dalam An-Nihyah f Gharb al-Hadts wa al-Atsr berkata,
Penyebutan al-hadd dan al-hudd di banyak tempat maknanya adalah
keharaman-keharaman Allah dan sanksi-sanksi-Nya yang dikaitkan dengan
dosa-dosa. Asal dari al-hadd adalah halangan dan pemisah di antara dua
perkara. Karena itu hudd asy-syari memisahkan antara halal dan haram. Di
antaranya apa yang tidak boleh didekati seperti perbuatan-perbuatan keji yang
diharamkan (al-fawhisy al-muharramah).
Allah SWT berfirman:

Itulah larangan Allah. Karena itu janganlah kalian mendekati larangan


itu. (QS. al-Baqarah [2]: 187)

Itulah hukum-hukum Allah. Karena itu janganlah kalian melanggar hukumhukum itu. (QS. al-Baqarah [2]: 229)

Al-Azhari di dalam Tahdzb al-Lughah mengatakan, Hudd Allah ada dua


37
bentuk. Pertama: hudud yang Allah tetapkan untuk manusia dalam masalah
makanan, minuman, pernikahan dan lainnya; di antara apa yang dihalalkan dan
diharamkan, yang diperintahkan untuk dijauhi dan dilarang untuk
dilanggar. Kedua: uqbt (sanksi) yang ditetapkan terhadap orang yang
melakukan apa yang dilarang seperti hadd pencuri, yaitu potong tangan dalam
pencurian seperempat dinar atau lebih; hadd orang berzina yang belum
menikah yaitu cambukan seratus kali dan diasingkan setahun; hadd orang yang
sudah menikah jika berzina yaitu dirajam; hadd orang yang menuduh orang
lain berzina yaitu cambukan 80 kali. Disebut hudd karena menghalangi
perbuatan yang di situ ada sanksi jika dilakukan. Yang pertama disebut hudd
karena merupakan akhir yang Allah larang untuk dilanggar (dilampaui).

37

Perumpamaan orang yang menegakkan hudud Allah dan para pelanggarnya


adalah ibarat satu kaum yang sama-sama naik perahu. Sebagian di bagian atas
dan sebagian di bagian bawah. Mereka yang di bawah, jika ingin mengambil
air, melewati orang yang di atas. Lalu mereka berkata, Andai saja kita
melubangi tempat kita dan kita tidak menyusahkan orang di atas kita. Jika
para penumpang perahu itu membiarkan mereka dan apa yang mereka inginkan
itu, niscaya mereka binasa seluruhnya. Namun, jika para penumpang perahu itu
menindak mereka, niscaya mereka selamat dan selamat pula seluruhnya. (HR.
al-Bukhari)

38

Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan
bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah, yaitu:
Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang
saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa [4]: 69)
Kaum Mukmin mengerjakan amal shalih, yang berarti seluruh tindakannya
berpatokan dengan Syara, orang-orang kafir justru sebaliknya. Mereka sama
sekali tidak mengindahkan itu, tidak mempedulikan batasan halal atau haram
yang semestinya mengikat perbuatan mereka.

38

"Terangkanlah kepada-Ku tentang orang-orang yang menjadikan hawa


nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara
atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar
atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (QS. [25] AlFurqaan: 43-44)
Bagi kaum kafir asalkan memenuhi kepentingan mereka, semuanya boleh.
Perilaku mengabaikan peringatan dari Allah ini lebih sesat daripada binatang
ternak.

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan


ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS. An-Nuur: 63)

Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa maksud frasa an amrihi adalah


jalan, manhaj, thariqah, sunnah dan syariah Nabi Saw. Seluruh perkataan dan
perbuatan ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah Saw. Yang
sejalan diterima, sedangkan yang menyelisihi ditolak. (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu
Katsir)

39

Imam Ibnu Katsir rahimahuLlah mengetengahkan sebuah hadits yang


diriwayatkan Imam Ahmad dari shahabat Ibnu Umar ra., bahwa Rasulullah
Saw. pernah bersabda:

Siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari kaum


tersebut. (HR. Ahmad)
Hadits ini mengandung larangan yang sangat keras serta ancaman bagi siapa
saja yang meniru-niru atau menyerupai orang-orang kafir, baik dalam hal
perkataan, perbuatan, pakaian, hari raya, peribadahan, serta semua perkara

39

yang tidak disyariatkan bagi kaum Muslim. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu
Katsir, 1/149-150)
Menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bil kuffar) mencakup perkara aqidah,
ibadah, hari raya, pakaian khas kekafiran mereka, adat istiadat, atau gaya hidup
yang memang merupakan bagian dari ciri-ciri khas kekafiran mereka (fi
khasha`ishihim). (Imam Shanani, Subulus Salam, 4/175; Ali Ibrahim Masud
Ajiin, Mukhalafah Al Kuffar fi As Sunnah An Nabawiyyah, hlm. 14)
Dalam semua hal yang menyalahi Akidah dan Syariah, seorang Muslim
dilarang berbuat atas idenya sendiri maupun menirunya dari kaum kafir.
Seorang muslim diharamkan berpartisipasi dalam kekufuran maupun
kemaksiatan. Allah SWT berfirman:

Dan [ciri-ciri hamba Allah adalah] tidak menghadiri /mempersaksikan


kedustaan/kepalsuan. (QS. Al Furqaan [25]: 72)
Imam Ibnul Qayyim meriwayatkan penafsiran Ibnu Abbas, Adh Dhahhak, dan
lain-lain, bahwa kata az zuur (kebohongan/kepalsuan) dalam ayat tersebut
artinya adalah hari raya orang-orang musyrik (iedul musyrikiin). Berdalil
dengan ayat ini, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa haram hukumnya
muslim turut merayakan (mumaala`ah), menghadiri (hudhuur), atau memberi
bantuan (musa`adah) pada hari-hari raya kaum kafir. (Ibnul Qayyim, Ahkam
Ahlidz Dzimmah, 2/156)

40

"Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang 40
lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (QS. AlMaaidah: 50)
Sayyid Quttub dalam Tafsir Fi Zhilalil Quran menjelaskan: Makna jahiliyah
telah ditentukan batasannya oleh nash ini. Jahiliyah sebagaimana diterangkan
Allah dan didefinisikan oleh Quran-Nya adalah hukum buatan manusia.
Karena, ini berarti ubudiyah (pengabdian) manusia terhadap manusia, keluar
dari ubudiyah kepada Allah, dan menolak uluhiyyah Allah. Kebalikan (yaitu
sisi lain) dari penolakan ini adalah mengakui uluhiyyah sebagian manusia dan
hak ubudiyah bagi mereka selain Allah.

Dalam kitab At-Tafsir al-Munir Syaikh Wahbah az-Zuhaili menerangkan


bahwa ayat ini berarti tak ada seorangpun yang lebih adil daripada Allah dan
tak ada satu hukumpun yang lebih baik daripada hukum-Nya. (Wahbah AzZuhaili, At-Tafsir al-Munir, VI/224)
Keadilan merupakan sifat yang melekat pada Islam itu sendiri dan tak
terpisahkan dari Islam. Allah SWT berfirman:

Telah sempurnalah Kalimat Tuhanmu (al-Quran) sebagai kalimat yang benar


dan adil. (QS. al-Anam [6]: 115)
Ibnu Katsir: Artinya, benar dalam beritanya dan adil dalam perintah serta
larangannya. (Tafsir Ibnu Katsir: Terjemahan Lubaabut Tafsiir Min Ibni
Katsiir, juz 27, hal. 65)
Islam sendiri memerintahkan manusia untuk cermat dan teguh dalam
menerapkan keadilan Islam, sebagaimana firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang


berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa: 58)

41

Menurut Imam Ibnu Taimiyah, keadilan adalah apa saja yang ditunjukkan oleh
al-Kitab dan as-Sunnah (Kullu ma dalla alayhi al-kitab wa as-sunnah), baik
dalam hukum-hukum hudud maupun hukum-hukum yang lainnya. (Ibnu
Taimiyah, As-Siyasah as-Syariyah, hlm. 15)
Menurut Imam al-Qurthubi, keadilan adalah setiap apa saja yang diwajibkan
baik berupa akidah Islam maupun hukum-hukum Islam (Kullu syayyin
mafrudhin min aqaid wa ahkam). (Al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkam AlQuran, X/165)

41

Keadilan dapat didefinisikan secara ringkas, yaitu berpegang teguh dengan


Islam (al-iltizam bil-Islam). (M. Ahmad Abdul Ghani, Mafhum al-Adalah alIjtimaiyah fi Dhaw` al-Fikr al-Islami Al-Muashir, I/75)
Penjelasan asy-Syaukani mengenai maksud adil dalam ayat ini: Adil adalah
memutuskan perkara berdasarkan ketentuan dalam Kitabullah dan SunnahNya, tidak dengan pendapat pikiran semata, karena itu sama sekali tidak
terkategori sebagai kebenaran; kecuali jika tidak ditemukan dalilnya dalam
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka bisa dengan hasil ijtihad pikiran dari
seorang hakim yang mengetahui hukum Allah Swt.; dan mengetahui yang
paling dekat dengan kebenaran ketika tidak ada nash. Adapun hakim yang tidak
memahami hukum Allah dan Rasul-Nya, juga tidak memahami yang paling
dekat dengan keduanya, maka dia tidak memahami keadilan. Sebab, dia tidak
memahami hujjah yang datang kepadanya, apalagi memutuskan antara hamba
Allah dengan hujjah itu. (Asy-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 2, 607)
Keadilan hukum-hukum Allah Swt. tersebut akan benar-benar bisa dirasakan
adil jika diberlakukan secara menyeluruh. Islam sebagai sebuah satu kesatuan
sistem tidak bisa dilepaskan unsur-unsurnya satu sama lain. Bagian organ
tubuh, seperti mata atau tangan, akan kehilangan hakikat dan fungsinya apabila
dilepaskan dari tubuhnya. (Ust. Rokhmat S. Labib, MEI)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa


kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah
Allah wahyukan kepadamu. (QS. an-Nisa [4]: 105)

42

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa


bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS. [57] AlHadid: 25)

42

Dari Ubadah Bin Shamit berkata:

Kami telah membaiat Rasulullah Saw. untuk setia mendengarkan dan


mentaati perintahnya, baik dalam keadaan yang kami senangi maupun tidak
kami senangi; dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari seorang pemimpin;
juga agar kami menegakkan atau mengatakan yang haq di manapun kami
berada dan kami tidak takut karena Allah terhadap celaan orang-orang yang
mencela. (HR. Bukhari)
Abdullah bin Dinar telah menyampaikan, ia berkata: Aku menyaksikan Ibn
Umar di mana orang-orang telah bersepakat untuk membaiat Abdul Malik bin
Marwan, ia berkata bahwa dia menulis: Aku berikrar untuk mendengarkan
dan mentaati Abdullah Abdul Malik bin Marwan sebagai Amirul Mukminin
atas dasar Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dalam hal yang aku mampu.
Kemuliaan Para Sahabat ra. tidak lain dikarenakan keimanan kepada Alloh
Swt. dan Rosul-Nya, dan ketaatan mereka terhadap Syariat.










43

43

Dari Anas bin Malik ra., beliau berkata: Suatu ketika aku menjamu Abu
Thalhah Al-Anshari, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan Ubay bin Kaab dari
fadhij, yaitu perasan kurma. Kemudian ada seseorang datang kepada mereka

lalu berkata: Sesungguhnya khamr telah diharamkan. Maka berkata Abu


Thalhah: Wahai Anas, berdiri dan pecahkanlah kendi itu!, Anas berkata:
Maka aku berdiri mengambil tempat penumbuk biji-bijian (al mihras) milik
kami, lalu memukul kendi itu pada bagian bawahnya (al mihras) hingga kendi
tersebut pecah. (HR. Al-Bukhori)
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. yang berkata:

Telah sampai berita kepada kami bahwasannya Umar bin Al Khathab telah
menceraikan dua istrinya, ketika Allah Swt. menurunkan firman-Nya (yaitu
QS. Al Mumtahanah: 10, pent.), yang memerintahkan agar kaum Muslim
mengembalikan kepada kaum musyrik istri yang telah mereka berikan kepada
suami-suaminya yang telah hijrah dan Allah telah menentukan hukum kepada
kaum Muslim agar mereka tidak menahan tali perkawinan dengan wanitawanita kafir.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah ra. berkata:

44
44

Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah
menurunkan firman-Nya:

]


[



Dan hendaklah mereka mengenakan kain kerudung mereka diulurkan hingga


(menutupi) dada mereka. (QS. An Nur [24]: 31)
Maka kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan
kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya.

"Dan siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan mereka
berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia
ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS.
An Nisaa': 115)
Jalan orang-orang yang beriman adalah jalan yang merupakan konsekuensi dari
keimanan, yaitu ideologi (aqidah dan syariah) Islam sebagaimana jalannya
Rasul Saw.
Umar bin Abdul Aziz dalam khuthbahnya berkata:
Wahai manusia. Sesungguhnya Allah tidak mengutus seorang nabi lagi setelah
nabi kalian, dan tidak menurunkan al-Kitab lagi setelah al-Kitab yang
diturunkan kepada (Muhammad) ini. Apa yang dihalalkan Allah melalui lisan
Nabi-Nya, maka ia tetap halal hingga Hari Kiamat. Apa yang diharamkan Allah
melalui lisan Nabi-Nya, ia tetap haram hingga Hari Kiamat. Ketahuilah bahwa
saya bukan pembuat keputusan, melainkan pelaksana; saya bukanlah pembuat
bidah, melainkan pengikut (Syariah); dan saya bukanlah yang terbaik di antara
kalian, namun saya memikul tanggung jawab lebih berat daripada kalian.
Ketahuilah tidak ada seorangpun di antara makhluk Allah yang berhak ditaati
dalam hal maksiat kepada Allah. Ketahuilah dan jadilah saksi, bahwa saya telah 45
menyampaikan hal ini. (Ad-Darimi, Sunan ad-Darimi, 1/115).

45

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan


kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu
melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS. (11) Hud: 112)



}
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang
menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada
mempunyai seorang penolongpun selain Allah, kemudian kamu tidak akan
diberi pertolongan. [QS. (11) Hud: 113]
Menurut Abu al-Aliyah, makna kata al-rukn adalah ridha. Artinya ridha
terhadap perbuatan orang-orang zhalim. Ibnu Abbas memaknainya almayl (cenderung). Demikian keterangan al-Thabari dalam Jmi al-Bayn f
Tawl al-Qurn. Sedangkan al-Zamakhsyari dalam tafsirnya al-Kasysyf,
menegaskan bahwa al-rukn tak sekadar al-mayl, namun al-mayl alyasr (kecenderungan ringan).
Menurut Ibnu Abbas, sebagaimana dikutip al-Thabari dalam Jmi al-Bayn f
Tawl al-Qurn, perbuatan zhalim yang tidak boleh diridhai itu adalah syirik.
Al-Syaukani dalam Fath al-Qadr menegaskan bahwa perbuatan itu tidak
hanya berlaku untuk kaum Musyrik, namun berlaku umum.
Ini berarti setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan
hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak
diperbolehkan.
Berkaitan dengan makna al-rukn il al-ladzna mn, al-Zamakhsyari
memaparkan beberapa perbuatan yang dapat dikatagorikan di dalamnya. Di
antaranya adalah tunduk kepada hawa nafsu mereka, bersahabat dengan
mereka, bermajelis dengan mereka, mengunjungi mereka, bermuka manis
46
dengan mereka, ridha terhadap perbuatan mereka, menyerupai mereka, dan
menyebut keagungan mereka.

46

Orang zalim dihukum karena kezalimannya. Sedangkan orang umum mendapat


siksa karena sikap membiarkan kezaliman. Abu Bakar ash-Shiddiq ra. berkata:
Aku mendengar Rasul Saw. bersabda:

"Sesungguhnya jika orang-orang melihat seorang berbuat kedzaliman lalu ia


tidak menindak dengan kedua tangannya, maka hampir-hampir Allah
meratakan azab dari sisinya." (HR. Ahmad)
Kata al-zhulm digunakan untuk menunjukkan setiap perbuatan yang
menyimpang dari ketetapan dnuLlh.
Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada Kaab bin Ujrah:

Aku meminta perlindungan kepada Allah untuk kamu dari kepemimpinan


(pemimpin) yang bodoh (sufaha). Kaab bertanya, Apa kepemimpinan yang
bodoh itu? Beliau bersabda, Para pemimpin yang ada setelah aku. Mereka
tidak mengikuti petunjukku dan tidak mencontoh sunnahku. Siapa yang
membenarkan kebohongan mereka dan menolong mereka atas kezaliman
mereka, maka mereka bukan golonganku dan aku bukan golongan mereka, dan
47
mereka tidak ikut aku di Telaga (di Surga). Sebaliknya, siapa yang tidak
membenarkan kebohongan mereka dan tidak menolong mereka atas kezaliman
mereka maka mereka termasuk golonganku dan aku bagian dari golongan
mereka dan mereka akan ikut aku di Telaga. (HR. Ahmad, Ibn Hibban dan alHakim)

47

Anas bin Malik menuturkan, bahwa Muadz pernah berkata, Ya Rasulullah


bagaimana pendapat Anda jika atas kami memerintah para pemimpin yang
tidak berjalan di atas sunnahmu dan tidak mengambil perintah-perintahmu, apa
yang engkau perintahkan di dalam perkara mereka? Rasulullah Saw. bersabda:

Tidak ada ketaatan terhadap orang yang tidak menaati Allah Azza wa
Jalla. (HR. Ahmad dan Abu Yala)
Muadz bin Jabal menuturkan, Rasul Saw. pernah bersabda:

Ingatlah, sesungguhnya al-Kitab (al-Quran) dan kekuasaan (as sulthan) akan


berpisah, maka janganlah kalian memisahkan diri dari al-Kitab. (HR.
Thabrani dan Abu Nuaim. Lihat Ath Thabrani, Al Mujam Al Shaghir no. 794;
dalam Al Mujam Al Kabir, juz 20 hlm. 76 no. 172; Ibnu Hajar Al
Haitsami, Majmauz Zawa`id, Juz 5 hlm. 225-226)
Sabda Rasulullah SAW ini juga menegaskan konsep kekuasaan sebagai bagian
ajaran Islam:

Sungguh akan terurai simpul-simpul Islam satu demi satu, maka setiap satu
simpul terurai, orang-orang akan bergelantungan pada simpul yang berikutnya
(yang tersisa). Simpul yang pertama kali terurai adalah kekuasaan
(pemerintahan) sedang yang paling akhir terurai adalah shalat. (Lihat Musnad
Ahmad, 1/251; Shahih Ibnu Majah no 257; Al Hakim dalam Al
48
Mustadrak, 4/92)

48

Disebutkan dalam kitab Al Mausuah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyyah Juz 6 hlm.


164:

Umat Islam telah sepakat mengenai wajibnya akad Imamah [Khilafah], juga
telah sepakat bahwa umat wajib mentaati seorang Imam [Khalifah] yang adil
yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah mereka, yang mengatur
urusan mereka dengan hukum-hukum Syariah Islam yang dibawa oleh
Rasulullah SAW. Tidak ada yang keluar dari kesepakatan ini, orang yang
teranggap perkataannya saat berbeda pendapat. (Al Mausuah Al Fiqhiyah Al
Kuwaitiyyah, Bab Al Imamah Al Kubra, Juz 6 hal. 164)

Jika dikatakan kepada mereka, Marilah kalian (tunduk) pada hukum yang
telah Allah turunkan dan pada hukum Rasul, niscaya kamu lihat orang-orang
munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati)
kamu. Lalu bagaimanakah jika mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu
musibah akibat perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang
49
kepadamu sambil bersumpah, Demi Allah, kami sekali-kali tidak
menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati
mereka. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, berilah mereka pelajaran,
dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa
mereka. (QS. an-Nisa [4]: 61-63)

49

Frasa m anzalal-Lh berarti hukum-hukum yang ada dalam al-Quran (AlAlusi, Rh al-Man, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994),

66), sedangkan ar-Rasl menunjuk pada hukum beliau (Al-Qasimi, Mahsin


at-Tawl, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992), 193).
Ibnu Katsir memaknai yashuddna dan shudd[an] dalam ayat ini
sebagai: Yuridhna anka irdh[an] ka al-mustakbirna an dzlika (Mereka
benar-benar berpaling dari kamu seperti orang yang sombong terhadap hal itu).
Masih menurut Ibnu Katsir, sikap tersebut sama dengan kaum musyrik ketika
diajak pada apa yang telah Allah turunkan. Mereka menolak ajakan tersebut
hanya karena alasan telah mengikuti ajaran nenek moyang mereka (lihat QS.
Luqman [31]: 21). Sikap tersebut tentu kontradiksi dengan sikap Mukmin
yang samin wa athan terhadap hukum Allah Swt. (lihat QS. an-Nur [24]:
51). (Ibnu Katsir, Tafsr al-Qurn al-Azhm, vol. 1, 470)
Dalam menafsirkan kata mushbah, Ibnu Jarir ath-Thabari memaknainya
dengan niqmah minal-Lh (balasan berupa siksaan dari Allah). (AthThabari, Jmi al-Bayn, vol. 4, 159)
Penolakan mereka terhadap Syariah, kemunafikan mereka, dan tindakan
mereka yang berhukum kepada thght merupakan sebab datangnya hukuman
itu.
Sikap mengimani sebagian Syariah dan mengingkari sebagian lainnya hanya
akan mengantarkan kepada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di Akhirat.
Sebagai pelajaran, Allah Swt. memperingatkan kaum Bani Israil dalam surat Al
Baqarah ayat 85:



50


Apakah kamu beriman kepada sebahagian (isi) Al Kitab dan ingkar terhadap
sebahagian (isinya) yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat
demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada
hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak
lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah: 85)

50

Perintah untuk bertakwa berlaku selamanya. Rasulullah Saw. bersabda:

Bertakwalah kamu kepada Allah di mana dan kapan saja kamu berada,
ikutilah keburukan dengan kebaikan niscaya kebaikan itu menghapus
keburukan itu, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik. (HR. atTirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi, al-Bazar dan Abu Nuaim
dari Abu Dzar al-Ghiffari)
Dalam kitabnya, As-Siysah Asy-Syariyyah (1/174), Imam Ibnu Taimiyah
menyatakan, Syariah Islam telah datang untuk mengelola kekuasaan [sharf
as-sulthn] dan harta benda di jalan Allah. Apabila kekuasaan dan harta benda
dimaksudkan untuk taqarrub il Allh dan infak fi sabilillah, maka itu akan
menimbulkan kebaikan agama dan dunia. Namun, jika kekuasaan terpisah dari
agama, atau agama terpisah dari kekuasaan, maka kondisi masyarakat akan
rusak.

Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka


berkata: Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula)
kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka 51
menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (QS. (33) al-Ahzab: 66-67)

51

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orangorang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri:
"Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu

menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?" (QS. [40] Al-Mu'min:
47)

Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan


janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara
mereka. (QS. [76] Al-Insan: 24)
Perintah tersebut tidak hanya berlaku bagi Rasulullah Saw., tetapi juga berlaku
bagi seluruh umatnya jika tidak ada dalil yang membatasi
bahwa khithb/seruan tersebut berlaku khusus hanya untuk Nabi Saw.
Sesuai dengan kaidah:

Seruan untuk Rasul Saw. merupakan seruan yang juga berlaku bagi umatnya.
(Lihat: al-Allamah Syaikh Taqiyuddn an-Nabhn, Asy-Syakhshiyyah alIslmiyyah, Dr al-Ummah, Beirut, III/247)
Allah SWT berfirman:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang
telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka
akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. Al-Baqarah: 170)

52

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari
urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. [45] Al-Jatsiyah: 18)
Ibnu Katsir: Maksudnya, ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu oleh

52

Rabb-mu, yang tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia. (Tafsir Ibnu
Katsir: Terjemahan Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir, juz 25, hal. 341)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya. (QS. [59] Al Hasyr: 7)
Abu Nu'aim al-Ashbahaniy menyatakan: "Di antara keistimewaan Rasulullah
SAW adalah perintah Allah SWT kepada seluruh umat manusia untuk menaati
beliau, dengan ketaatan yang mutlak tanpa syarat." (Lihat: Jalaludin as-Suyutii,
al-Khashoish al-Kubro, 2/298)
Sabda Rasulullah Saw.:

Jika aku memerintah kalian dengan suatu perintah, jalankanlah semampu


kalian. Jika aku melarang kalian dengan suatu larangan, jauhilah. (HR. alBukhari).

Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat
yang berisi nasihat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, Amma badu.
Sesungguhnya orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh
orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: sabar dalam menanggung derita,
ridha terhadap qadha, mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di
hadapan hukum-hukum Al-Quran. (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170;
53
Abu Nuaim al-Asbahani, Hilyah Awliya, I/177)

53











[36 :]

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi
perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan

suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan
mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguhlah
dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. [33] Al-Ahzab: 36)
Al-Syaukani menjelaskan, kata m kna, m yanbagh, dan semacamnya
bermakna al-man'u wa al-hazhr min al-syay' (larangan terhadap sesuatu).
Ibnu Katsir menegaskan, ayat ini berlaku untuk seluruh perkara. Apabila Allah
SWT dan Rasul-Nya SAW telah memutuskan tentang sesuatu, maka tidak ada
seorangpun yang boleh menyalahinya.

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al
Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah
yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. [43] Az-Zukhruf: 36)









[208 :]
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya
syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah: 208)
Dalam menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir mengatakan:


54

:

.

Alloh Swt. berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman


terhadap-Nya dan yang membenarkan Rosul-Nya, untuk mengambil seluruh
simpul-simpul Islam dan Syariat-Syariatnya, melaksanakan seluruh perintah-

54

perintah-Nya, dan meninggalkan seluruh larangan-larangan-Nya sebisa


mungkin. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-Azhiim, juz 1 hlm. 565)
Imam Thabariy menyatakan: Ayat di atas (Al-Baqarah: 208) merupakan
perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam;
perintah untuk menjalankan Syariat Islam secara menyeluruh; dan larangan
mengingkari satupun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam. (Imam
Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)
As-Sadi menjelaskan, Ini adalah perintah dari Allah SWT untuk kaum
Mukmin agar mereka masuk Islam secara kaffah, yakni ke dalam
seluruh syariah agama tanpa meninggalkan sedikitpun Syariahnya; juga agar
mereka tidak menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhan, yakni jika perkara
yang disyariatkan (Syariah) itu sesuai hawa nafsunya maka diamalkan dan jika
menyalahi hawa nafsunya maka ditinggalkan.
Imam Ali ash-Shabuni menegaskan, bahwa ayat tersebut memerintahkan
kaum muslim untuk melaksanakan seluruh hukum Islam; tidak boleh
melaksanakan hanya sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain.
Setan (syaythan), menurut sebagian ulama, berasal dari kata syathana;
maknanya adalah bauda, yakni jauh. Maksudnya, setan adalah sosok yang
jauh dari segala kebajikan (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, I/115; AzZamakhsyari, Al-Kasysyaf, I/39). Setan juga berarti sosok yang jauh dan
berpaling dari kebenaran. Karena itu siapa saja yang berpaling dan menentang
(kebenaran), baik dari golongan jin ataupun manusia, adalah setan (AlQurthubi, Al-Jami li Ahkam al-Quran, I/90; Al-Alusi, Ruh al-Maani fi Tafsir
al-Quran al-Azhim wa Sabi al-Matsani, I/166).
55




55








Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar


ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Api Neraka
sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. [4]
An Nisa': 14)
Ibnu Katsir: Artinya, karena keadaannya tidak menggunakan hukum Allah
dan menentang Allah dalam hukum-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir: Terjemahan
Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir, juz 4, hal. 251)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan


(yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu
mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada
pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. [13] Ar Ra'd:
37)

Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi


daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit
demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut
kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah
Yang Maha cepat hisab-Nya. (QS. [13] Ar Ra'd: 41)
Ibnu Katsir: Ibnu Abbas berkata, Apakah mereka tidak melihat, bahwa Kami
membukakan bagi Muhammad Saw. daerah demi daerah. Ibnu Katsir:
yaitu dengan kemenangan Islam atas kemusyrikan, daerah demi daerah ,
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. (Tafsir Ibnu Katsir: Terjemahan
Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir, juz 13, hal. 515)

56

56

Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia


seluruhnya. (QS. Saba [34]: 28)
Terkait dengan firman Allah ini, Ar-Razi berkata, Kaffa[tan], artinya bahwa
risalah itu untuk semua, yakni umum untuk semua manusia, sehingga mereka
dilarang keluar dari ketundukan terhadap risalah itu. (Ar-Razi, Mafth alGhaib, XXV/207)
Rasulullah Saw. juga bersabda:

Aku diutus untuk semuanya, yang berkulit merah maupun hitam. (HR.
Muslim)

Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami


akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. (QS. [7] Al-Araf: 96)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa penafsiran yang lebih tepat adalah
sebagaimana pendapat Ibn Abbas, yaitu bahwa jin dan manusia diciptakan
Allah tiada lain untuk beribadah kepada Allah dan tunduk pada perintah-Nya.

57

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh


lidahmu secara dusta ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan
kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.(QS. An-Nahl: 116)
57
Menurut al-Syaukani, ayat ini berarti: Janganlah kalian mengharamkan atau
menghalalkan sesuatu melalui ucapan lisan-lisan kalian tanpa hujjah. AlZamakhsyari menafsirkannya dengan pernyataan: Janganlah kamu
mengharamkan dan menghalalkan hanya dengan perkataan yang ucapkan lisanlisan dan mulut-mulut kalianbukan karena ada hujjah dan alasan yang jelas
akan tetapi hanya sekadar ucapan dan klaim yang kosong.
Menurut Ibnu Katsir, termasuk dalam tindakan yang dilarang ayat ini adalah
semua bidah yang diada-adakan yang tidak memiliki sandaran Syari,
menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, atau mengharamkan sesuatu
yang dihalalkan hanya berdasarkan pendapat dan selera mereka semata.

Hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian, telah
mencukupkan nikmat-Ku untuk kalian, dan telah meridhai Islam sebagai
agama kalian. (QS. al-Midah [5]: 3)
Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada junjungan kita,
Muhammad Saw., untuk mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya,
dirinya sendiri, dan sesamanya (An-Nabhni, Nizhm al-Islm, Mansyrt
Hizb at-Tahrr, Beirut, cet. VI, 2001, hlm. 69). Hubungan manusia dengan
Penciptanya meliputi masalah akidah dan ibadah; hubungan manusia dengan
dirinya sendiri meliputi akhlak, makanan, dan pakaian; hubungan manusia
dengan sesamanya meliputi muamalat dan persanksian. (An-Nabhni, Nizhm
al-Islm, Mansyrt Hizb at-Tahrr, Beirut, cet. VI, 2001, hlm. 69)

Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya


aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar. (QS. [10]
Yunus: 15)

58

[










]

Katakanlah: Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku 58
mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (QS. Yusuf [12]:
108)
Imam al-Qurthubi menjelaskan: Katakanlah, wahai Muhammad, Inilah
jalanku, sunnahku dan manhajku. Ibn Zaid menyatakan, ar-Rabi
berkata, Dakwahku. Muqatil berkata, Agamaku. Semua ini, menurut alQurthubi, maknanya satu, yaitu apa yang menjadi jalan hidupku dan aku
serukan untuk menggapai Surga. Adapun makna ala bashirah adalah dengan
keyakinan dan dalam kebenaran. (Al-allamah al-Qurthubi, Al-Jami li Ahkami
al-Quran, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, t.t., IX/272)

Imam as-Syaukani menyatakan bahwa makna, ala bashirah adalah dengan


hujjah yang jelas (hujjah wadhihah). Kata bashirah mempunyai konotasi
pengetahuan yang bisa membedakan antara yang haq dan batil. (Al-allamah
Muhammad bin Ali as-Syaukani, Tafsir Al-Quran, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
Beirut, 1997, III/57)

Sesungguhnya jawaban orang-orang mumin, bila mereka dipanggil kepada


Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka
ialah ucapan, Kami mendengar dan kami patuh. Mereka itulah orang-orang
yang beruntung. Siapa saja yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut
kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang
mendapat kemenangan. (QS. an-Nur [24]: 51-52)

Dinyatakan ath-Thabari, frasa idz du il Allh wa Raslih ditafsirkan


dengan idz du il hukm Allh wa il hukm Raslih (jika mereka dipanggil
pada hukum Allah dan pada hukum Rasul-Nya). (Ath-Thabari, Jmi al-Bayn
f Tawl al-Qurn, vol. 9 [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992], 341)

59

an yaql samin wa athan (Mereka mengucapkan, Kami mendengar dan


kami patuh) menurut Muqatil dan Ibnu Abbas, frasa tersebut bermakna,
59
Kami mendengar ucapan Nabi Saw. dan mentaati perintahnya,meskipun
dalam perkara yang tidak mereka sukai dan membahayakan mereka. (AlWahidi, an-Naisaburi, Al-Wasth f Tafsr al-Qurn al-Majd, vol. 3 [Beirut:
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1994], 325; asy-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 4, 46)
Tidak ada yang mendapatkan keberuntungan (al-falh) kecuali orang yang
berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya, menaati Allah dan Rasul-Nya. (AsSadi, Taysr al-Karm ar-Rahmn, vol. 3, 382)
Waman yuthiillh wa Raslahu (Siapa saja yang taat kepada Allah dan RasulNya). Artinya, mereka taat pada perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya,

menerima hukum-hukum-Nya, baik menguntungkan maupun merugikan


mereka. (Ath-Thabari, Jmi al-Bayn, vol. 9, 341)
Al-Jazairi menjelaskan bahwa takut kepada Allah Swt. adalah takut yang
disertai pengetahuan, lalu meninggalkan larangan dan menahan diri dari apa
yang disenangi. (Al- Jazairi, Aysar at-Tafsr, vol. 3, 382)



( 48)








( 49)












(50)


Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul
menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka
menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka,
mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka
itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu
ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan Rasul-Nya berlaku dzalim kepada
mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang dzalim. (QS. an-Nur
[24]: 48-50).

60

Ibnu katsir: Jika keputusan hukum tidak menguntungkan mereka, maka


merekapun berpaling darinya dan mengajak untuk berhukum kepada yang tidak
haq serta menghendaki agar berhukum kepada selain Rasulullah Saw. demi
mendukung kebathilan mereka. Kemudian Allah berfirman (artinya) Apakah 60
(ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit Yakni
tidak ada alternatif lain selain hati mereka telah dijangkiti penyakit yang selalu
menyertai, atau keraguan tentang agama ini telah merasuk ke dalam hati
mereka, atau mereka khawatir Allah dan Rasul-Nya berlaku zhalim dalam
menetapkan hukum. (Tafsir Ibnu Katsir: Terjemahan Lubaabut Tafsiir Min
Ibni Katsiir, juz 18, hal. 74)

Rasulullah SAW pernah bersabda, Setiap orang dari umatku akan masuk
Surga, kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya heran, Siapa yang enggan
masuk Surga, wahai Rasulullah? Kata beliau, Mereka yang menaati aku akan
masuk Surga, sedangkan yang menentang aku berarti mereka enggan masuk
Surga. (HR. al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasai)

Rasulullah Saw. pernah bersabda, Al-Quran itu merupakan pemberi syafaat


dan benar isinya. Siapa saja yang menjadikan al-Quran sebagai imamnya
niscaya ia akan memandunya menuju Surga. Sebaliknya, siapa saja menjadikan
al-Quran di belakang punggungnya (tidak diterapkan) maka ia akan
menjebloskannya ke dalam Neraka. (HR. Ibnu Hibban)
Imam Ibnu Katsir berkata:

61

61




:

:

.










:



.
Alloh mengingkari siapa-siapa yang tidak menerapkan hukum Alloh Swt.
yang jelas, komprehensif meliputi setiap kebaikan dan mencegah dari setiap
keburukan, serta berpaling kepada selainnya yang berupa pendapat, hawa
nafsu, dan istilah-istilah yang dibuat oleh manusia tanpa bersandar kepada
Syariat Alloh Swt., maka tidak boleh berhukum dengan selain hukum Alloh
Swt., baik sedikit maupun banyak. Alloh Swt. berfirman (yang artinya):
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, atau: yang mereka
kehendaki dan mereka mau, sedangkan dari hukum Alloh Swt. mereka
berpaling. dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi
orang-orang yang yakin? atau: siapakah yang lebih adil syariatnya daripada
hukum Alloh Swt. bagi siapa-siapa yang berfikir tentang Alloh Swt.,
mengimani-Nya, dan yakin serta tahu bahwa Alloh Swt. adalah seadil-adilnya
hakim. (Al-Marja As-Sabiq, juz 3, hlm. 131)
Nabi Saw. bersabda:

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan sejumlah kewajiban maka janganlah


kalian menelantarkannya; telah memberikan sejumlah batasan maka janganlah 62
melanggarnya; dan telah melarang sejumlah perkara maka janganlah
melakukannya. (HR. ad-Druquthniy)

62

Allah Swt. melarang kaum Muslim berkompromi dalam masalah aqidah dan
hukum. Allah Swt. berfirman:

)


( 8)

(9

Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).


Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap
lunak (pula kepadamu). (QS. al-Qalam [68]: 8-9)
At-Tirmidzi meriwayatkan dalam Musnadnya dari Ali karramallahu wajhah,
yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Kelak akan ada fitnah. Ali
berkata: Apa yang bisa menyelamatkan dari fitnah itu, wahai Rasulallah?
Rasulullah SAW bersabda: Kitabullah (Al-Quran). Di dalamnya terdapat
berita tentang orang-orang sebelum dan sesudah kalian. Ia pemberi keputusan
atas apa yang kalian perselisihkan. Al-Quran merupakan pemisah antara hak
dan bathil, dan ia bukanlah senda gurau. Siapa saja yang meninggalkannya
dengan sombong, maka ia menjadi musuh Allah. Siapa saja yang mencari
petunjuk pada selain Al-Quran, maka Allah akan menyesatkannya. Al-Quran
adalah tali Allah yang kokoh, cahaya-Nya yang terang, peringatan yang bijak,
jalan yang lurus, obat yang ampuh, menjaga siapa saja yang berpegang teguh
dengannya, keselamatan bagi siapa saja yang mengikutinya; apa saja yang
bengkok, al-Quran meluruskannya; apa saja yang menyimpang, al-Quran
akan mengembalikannya. Al-Quran tidak akan disesatkan oleh hawa nafsu,
tidak akan tercampuri oleh bahasa-bahasa lain, tidak akan diwarnai oleh
berbagai pendapat, tidak membuat kenyang para ulama, tidak membuat bosan
orang-orang yang takwa, tidak usang meski banyak yang menolak, dan
kehebatannya tidak pernah habis. Al-Quran membuat jin berhenti seketika
ketika jin mendengarnya. Sehingga jin berkata: Sesungguhnya kami
mendengar bacaan (Al-Quran) yang begitu mengagumkan. Siapa saja yang
mengetahuinya, maka ia mengetahui hal-hal sebelumnya; siapa saja yang
berkata dengannya, maka ia benar(jujur); siapa saja yang berhukum dengannya,
maka dia pasti adil; siapa saja yang mengamalkannya, maka ia mendapatkan
63
pahala; dan siapa saja yang menyeru kepadanya, maka ia menyeru kepada jalan
yang lurus.



63





Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya


Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. Ali Imron (3): 31)
Frasa fattabin (ikutilah aku) bermakna umum, karena tidak ada indikasi
adanya pengkhususan (takhshsh), pembatasan (taqyd), atau penekanan
(tahsyr) hanya pada aspek-aspek tertentu yang dipraktikkan Nabi Saw.

Imam Ibnu Katsir menyatakan,Ayat yang mulia ini (QS. Ali Imron (3): 31)
adalah pemutus bagi siapa saja yang mengaku mencintai Allah SWT, namun ia
tidak berjalan di atas jalan Nabi Muhammad SAW; maka ia telah berdusta
dalam pengakuannya itu, hingga ia mengikuti Syariat Nabi Muhammad SAW
dan agama Nabi SAW di seluruh perkataan dan perbuatannya. Seperti yang
ditetapkan dalam hadits shahih dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau SAW
bersabda, Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami
perintahkan, maka perbuatan itu tertolak. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran
al-Adziim, QS. Ali Imron (3): 31)

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa masih hidup
ia tidak merasa lapang kecuali mengikutiku. (HR. Ibn Abiy Syaibah dalam
Mushannaf)

Nabi Saw. bersabda, Seandainya Nabi Musa as. hidup di tengah-tengah kalian,
maka tidak halal bagi dirinya, kecuali mengikuti aku. (HR. Imam Ahmad)












64























64












Sungguh telah aku tinggalkan kalian di atas sesuatu yang putih bersih di mana
malamnya laksana siangnya, tidak akan tergelincir darinya setelahku kecuali
orang yang binasa, dan siapa saja dari kalian yang hidup sesudahku, ia akan
melihat perbedaan yang banyak. Maka kalian wajib berpegang teguh dengan
apa yang kalian ketahui dari Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidun yang
mendapat petunjuk. Kalian wajib taat (kepada pemimpin yang Syari sah
dibaiat) meski ia (asalnya) seorang hamba sahaya Habsyi, gigitlah dengan gigi
geraham kalian, sesungguhnya mukmin itu laksana onta ke mana dipandu ia
akan terpandu. (HR. Ahmad)

Maka kalian wajib berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur


Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah
itu erat-erat dengan gigi geraham. (HR. Abu Dawud, Ibn Majah, dan
Tirmidzi )
Sabda Rasulullah Saw.:







65






Siapa yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang baik lalu dilakukan
sesudahnya maka dituliskan untuknya semisal pahala orang yang
melakukannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun, sebaliknya siapa
saja yang mencontohkan di dalam Islam contoh yang buruk lalu dilakukan
sesudahnya, maka dituliskan atasnya semisal dosa orang yang melakukannya
tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HR. Muslim, Ahmad, Ibn Majah)

65

Abu Hurairah menuturkan bahwa Nabi Saw. juga pernah bersabda:

Siapa saja yang mengajak pada petunjuk maka untuknya pahala semisal orang
yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Siapa
saja yang mengajak pada kesesatan maka atasnya dosa semisal dosa orang yang
mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka
sedikitpun. (HR. Muslim, Ahmad, ad-Darimi, Abu Dawud, Ibn Majah, atTirmidzi, Abu Yala dan Ibn Hibban)






,
,


Jika langit terbelah, jika bintang-bintang jatuh berserakan, jika lautan


dijadikan meluap dan jika kuburan-kuburan dibongkar maka setiap jiwa akan
mengetahui apa saja yang telah dia kerjakan dan yang telah dia tinggalkan.
(QS. al-Infithar [82]: 1-5)
Menurut Asy-Syaukani, m akhkharat adalah sunnah hasanah aw
sayyah (kebiasaan yang baik maupun yang buruk). Sebab, orang tersebut
memperoleh pahala dari kebiasaan baik yang dia kerjakan dan pahala orang
66
yang ikut mengerjakannya; juga mendapatkan dosa kebiasaan buruk yang dia
lakukan dan dosa orang-orang yang ikut mengerjakannya. (Asy-Syaukani, Fath al-Qadr, vol. 5, 479)

66

Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan


hati mereka mengingat Allah dan (tunduk) kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka). Dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya yang
telah diturunkan Al Kitab, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah
orang-orang yang fasik. (QS. [57] al-Hadid: 16)
al-Zuhaili dalam tafsirnya mengartikan kata dzikril-Lh berarti wazhihi wa
irsydihi (nasihat dan petunjuk-Nya). Sedangkan wa m nazala min alhaqq (dan kepada kebenaran yang telah turun [kepada mereka]). Yang
dimaksud dengan kebenaran yang diturunkan itu adalah Al Quran. Demikian
penjelasan para mufassir seperti al-Thabari, al-Syaukani, al-Baghawi, al-Alusi,
al-Qinuji, al-Jazairi, dan lain-lain. Dan menurut al-Zamakhsyari dan alnasafi, dzikril-Lh dan wa m nazala min al-haqq menunjuk kepada satu
obyek, yakni Al Quran. Sebab, Al Quran mencakup untuk dua perkara: aldzikr wa al-mawizhah (peringatan dan nasihat).
faqasat qulbuhum, Ibnu Abbas memaknai hati mereka menjadi keras
sebagai cenderung kepada dunia dan berpaling dari nasihat Allah SWT. Ibnu
Hayyan al-Andalusi juga mengartikannya sebagai shalabat (keras) hati mereka
lantaran tidak terpengaruh untuk melakukan kebaikan dan ketaatan.
Nabi SAW telah bersabda:

67
Setiap syarat yang tidak sesuai dengan Kitabullah, maka ia adalah batil,
meskipun ada seratus syarat. (HR. Bukhari no. 2375; Muslim no. 2762; Ibnu
Majah no. 2512; Ahmad no. 24603; Ibnu Hibban no. 4347)
Dikatakan oleh Imam al-Qurthubi, hadits ini menerangkan bahwa syarat atau
akad yang wajib dipenuhi adalah yang sesuai dengan kitabullah atau agama
Allah. Apabila di dalamnya jelas bertentangan dengannya, maka tertolak,
sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya: Barangsiapa yang
mengerjakan suatu amalan yang tidak ada dalam perintah kami, maka
tertolak (HR. Muslim dari Aisyah).
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari berkata:

67

Sesungguhnya syarat-syarat yang tidak sesuai Syara adalah bathil, meski


banyak jumlahnya. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, 8/34)

Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakiNya. (QS. [5] al-Maidah: 1)
Ayat ini menegaskan bahwa keputusan hukum merupakan otoritas Allah SWT.
Dikatakan oleh Ibnu Katsir, Dialah Yang Maha Bijaksana dalam semua perkara
yang diperintahkan maupun dilarang-Nya.

Katakanlah: Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah


kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.
Katakanlah: Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau
kamu mengada-adakan saja terhadap Allah? (QS. Yunus [10]: 59)

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. (QS. Al-Araaf [7]: 3)
Kalimat maa unzila ilaykum min rabbikum (apa yang diturunkan kepadamu 68
dari Tuhanmu), artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi,
Beirut: Dar Shaadir, Juz III/2)

68

Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka


setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk
golongan orang-orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah [2]: 145)
Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada
Nabi SAW, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut
adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orangorang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka].
Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah
dan Rasul-Nya. (Lihat Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba wa An-Nahyu An
Al-Ibtida` (terj.), hal. 92)

Peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang
zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
(QS. al-Anfal [8]: 25)
Suatu ketika Zainab binti Jahsy bertanya kepada Nabi, Wahai Nabi, apakah
kami akan dihancurkan (oleh Allah), padahal di tengah-tengah kami ada orangorang shalih? Nabi menjawab, Iya, jika keburukan (khabats) telah
merajalela. (HR. Bukhari-Muslim)
Rasulullah Saw. pernah bersabda:




69

69

Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia secara umum karena perbuatan


khusus (yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang) hingga mereka
melihat kemungkaran di tengah-tengah mereka, mereka mampu
mengingkarinya, namun mereka tidak mengingkarinya. Jika itu yang mereka
lakukan, Allah mengazab yang umum maupun yang khusus. (HR. Ahmad)

Ada lima perkara (yang harus kalian waspadai)aku berlindung kepada


Allah, jangan sampai hal itu menimpa kalian: 1. Tidaklah kekejian (perzinaan)
muncul pada suatu kaum dan mereka melakukannya secara terang-terangan,
kecuali akan muncul berbagai wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah
terjadi pada orang-orang sebelum mereka. 2. Tidaklah suatu kaum berbuat
curang dalam hal timbangan dan takaran (jual-beli), melainkan mereka akan
diazab dengan paceklik, kesusahan hidup dan kezaliman penguasa. 3. Tidaklah 70
suatu kaum enggan membayar zakat, melainkan mereka akan dicegah dari
turunnya hujan dari langit; jika bukan karena binatang ternak, niscaya hujan itu
tidak akan diturunkan. 4. Tidaklah para pemimpin mereka melanggar perjanjian
Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan menjadikan musuh menguasai
mereka, lalu merampas sebagian yang ada dari apa yang ada di tangan mereka.
5. Tidaklah mereka meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, melainkan
Allah menjadikan perselisihan di antara mereka. (HR. Ibnu Majah)

70

Sesungguhnya otoritas (kekuasaan) itu merupakan naungan Allah di muka


bumi, di mana setiap orang yang terzalimi di antara para hamba-Nya pergi
berlindung kepadanya. (HR. Imam Baihaqi)

Amirul Mukminin Utsman bin Affan ra. berkata, Sesungguhnya Allah SWT
memberikan wewenang kepada penguasa untuk menghilangkan sesuatu yang
tidak bisa dihilangkan oleh al-Quran. (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa anNihayah, Dar Ihya At Turats, 2/12)
Imam al-Mawardi, ulama mazhab Syafii, dalam bukunya Al-Ahkm asSulthniyah wa al-Wilayt ad-Dniyah (hlm. 3) mengatakan:

Amm badu. Sungguh Allah Yang Maha Tinggi kekuasaan-Nya menyuruh


umat mengangkat pemimpin untuk menggantikan (masa) kenabian, (yaitu)
melindungi agama dan mewakilkan kepada dirinya pemeliharaan urusan umat.
Hal itu bertujuan agar pengaturan itu keluar dari agama yang disyariatkan dan 71
agar kalimat menyatu di atas pendapat yang diikuti. Karena itu Imamah
(Khilafah) adalah pokok yang menjadi pondasi kokohnya pilar-pilar agama dan
teraturnya kemaslahatan-kemaslahatan umat.
Imam Taqiyuddin an-Nabhani radhiyallahu anhu berkata :

71

Maka Nabi SAW dahulu memegang kedudukan kenabian dan kerasulan, dan
pada waktu yang sama Nabi SAW memegang kedudukan kepemimpinan kaum
muslimin dalam menegakkan hukum-hukum Islam. (Taqiyuddin anNabhani, Nizhamul Hukm fil Islam, hal. 116-117)
Syaikh Ali al-Ghazi dalam Syarah Aqidah at-Thahawi berkata: Penguasa
durjana menentang Syariah dengan politik yang durjana. Mereka mengalahkan
Syariah. Ahbar su adalah ulama yang meninggalkan Syariah dengan
mengikuti pandangan dan analogi mereka yang rusak. Menghalalkan yang
haram dan mengharamkan yang halal. Rahib adalah orang bodoh yang menjadi
sufi dengan mengikuti perasaan dan imajinasi mereka. (Ibn al-Qayyim,
Ighatsah al-Lahfan, Juz I, hal. 346)
Ibnu Ishak meriwayatkan dari Anas bin Malik ra. yang berkata:
Setelah Abu Bakar dibaiat di Saqifah, besoknya Abu Bakar duduk di atas
mimbar. Lalu Umar berdiri dan berbicara sebelum Abu Bakar berbicara. Umar
memuji dan menyanjung Allah SWT, sebab hanya Allah semata yang berhak
untuk dipuji dan disanjung. Kemudian Umar berkata, Sesungguhnya Allah
telah menjaga Kitab-Nya di tengah kalian, yang dengan itu Rasulullah
membimbing kalian. Karena itu, jika kalian berpegang teguh dengan KitabNya, maka Allah pasti memberi petunjuk kepada kalian. Sesungguhnya Allah
telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik di antara kalian.
Dia adalah sahabat setia Rasulullah dan orang kedua ketika keduanya tengah
berada di gua. Dengan demikian dia merupakan orang yang paling layak untuk
mengurusi urusan kalian. Untuk itu, bangkitlah, lalu berbaiatlah. Lalu orangorangpun membaiat Abu Bakar sebagai baiat umum (taat) setelah baiat yang
berlangsung di Saqifah (Mahmud, Baiah fi al-Islam Trkhuh wa Aqsmuh 72
bayna an-Nadzariyah wa at-Tathbq, hlm. 177)
Rasulullah Saw. melalui sabdanya:

Dahulu Bani Israel, (urusan) mereka dipelihara dan diurusi oleh para nabi,
setiap kali seorang nabi meninggal digantikan oleh nabi yang lain.
Sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahku. Sementara yang akan ada adalah
para khalifah, yang jumlah mereka banyak. Mereka (para sahabat) berkata:
Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami? Rasulullah Saw. bersabda:
Penuhilah baiat yang pertama lalu yang pertama. (HR. Bukhari dari Abu
Hurairah ra.)

72

Buklet ini disusun oleh: Annas I. Wibowo


27/10/2015
Daftar bacaan:
hizbut-tahrir.or.id
mediaumat.com
Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan Lubaabut Tafsiir Min Ibni Katsiir)

73

GAMBAR SAMPUL DI ATAS BISA DIPERBESAR UNTUK DICETAK

73

74