Anda di halaman 1dari 15

Penentuan Tipe Mercu Bendung

Pemilihan tipe mercu bendung yang akan direncanakan diaplikasikan dalam suatu
bendung tidak dapat ditentukan sembarangan tanpa pertimbangan teknis dan harus
memenuhi kriteria dan hasil penilaian dari beberapa aspek teknis.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya, yaitu : Pertimbangan
Pemilihan Lokasi Bendung dalam Perencanaan Bendung, yang akan menjelaskan
mengenai kriteria dan penilaian pemilihan tipe mercu bendung berdasarkan aspek
teknik yang dapat dijadikan referensi para engineer dalam perencanaan bendung.
1. Kriteria dan Penilaian Pemilihan Tipe Mercu Bendung

a.
b.
c.
d.
e.

Kriteria dalam memilih tipe mercu bendung yang paling sesuai diterapkan pada suatu
lokasi proyek antara lain didasarkan pada :
Koefisien limpasan
Kemudahan pelaksanaan
Kemampuan melewatkan material
Biaya pelaksanaan dan Operasi dan Pemeliharaan
Tekanan sub-atmosfir pada permukaan mercu
Kelima kriteria pemilihan tipe mercu bendung tersebut di atas harus menjadi
pertimbangan utama sebelum tahapan analisis hidrolika bendung selanjutnya, dengan
cara pembobotan atau penilaian, dimana nilai tertinggi dari suatu tipe mercu
bendunglah yang akan dipilih.
Nilai (bobot) dari masing-masing kriteria tersebut di atas didasarkan pengaruh terhadap
tingkat keberhasilan pembangunan bendung sampai saat ini belum ada standar
penilaian yang baku sehingga diperlukan justifikasi teknis (engineering justification)
dalam menentukan bobot dari masing-masing kriteria tersebut. Secara teknis
pembobotan masing-masing kriteria di atas adalah sebagai berikut :
a. Koefisien limpasan, bobot/nilai maksimal = 40
Koefisien limpasan mempunyai pengaruh kuat terhadap kemampuan mereduksi tinggi
muka air banjir di atas mercu, sehingga semakin tinggi koefisien limpasan maka
akan semakin rendah elevasi muka air banjir rancangan yang mempengaruhi
dimensi struktur, baik dimensi bendung, abutment dan tanggul pengaman, dan
mempengaruhi perlakuan agar kestabilitasan struktur dapat terjamin, yang pada
akhirnya semuanya itu mempengaruhi tingkat kemudahan pelaksanaan dan biaya
pelaksanaan, serta kebutuhan akuisisi lahan untuk bidang konstruksi dan genangan.
Dari dampak-dampak yang dapat dipengaruhi oleh koefisien limpasan seperti tersebut
diatas maka bobot dari kriteria koefisien limpasan adalah paling tinggi yaitu nilai
maksimal 40 dari skala 100.
b. Kemudahan pelaksanaan, bobot/nilai maksimal = 20
Kemudahan dalam pelaksanaan atau penerapan hasil perencanaan dimensi dan
bentuk hidrolis mercu bendung diatas kertas ke bentuk konstruksi dilapangan

menentukan keamanan struktur akibat daya rusak air terutama pada permukaan
struktur oleh antara lain tekanan negatif/kavitasi, turbulensi, serta kestabilitasan struktur
secara keseluruhan dan dapat berpengaruh terhadap biaya pelaksanaan.
Oleh karena itu kemudahan pelaksanaan akan menentukan keberhasilan penerapan
perencanaan diatas kertas menjadi bentuk fisik dilapangan secara tepat, sehingga
semakin mudah pelaksanaan/penerapan hasil perencanaan menjadi bentuk fisik
dilapangan akan semakin tinggi tingkat keberhasilan perencanaan, maka bobot
dari kemudahan pelaksanaan adalah cukup tinggi, yaitu nilai maksimal 20 dari skala
100.
c. Kemampuan melewatkan material, bobot/nilai maksimal = 15
Sungai, terutama pada saat banjir akan membawa/menghanyutkan berbagai jenis dan
ukuran material, dimana semakin besar debit banjir yang terjadi akan semakin
besar/berat material yang dapat dihanyutkan, sehingga jika suatu sungai dihalangi oleh
bendung maka akan menimbulkan penumpukan material dihulu mercu dan dimuka
pintu pembilas dan pintu intake, maka sampai kondisi tertentukan akan dapat
menimbulkan ketidak-stabilitasan struktur, kerusakan struktur dan gangguan dalam
pengoperasian.
Semakin mudah material hanyut melewati mercu bendung yang diakibatkan oleh
bentuk hidrolis mercu tersebut maka akan tinggi tingkat keberhasilan
pembangunan bendung, sehingga bobot dari kemampuan melewatkan material
adalah relatif cukup tinggi, yaitu nilai maksimal 15 dari skala 100.
d. Biaya pelaksanaan dan Operasi dan Pemeliharaan, bobot/nilai maksimal
= 15
Biaya pelaksanaan dan biaya Operasi dan Pemeliharaan menentukan tingkat
kelayakan ekonomis suatu konstruksi sistem irigasi, sehingga semakin rendah biaya
pelaksanaan dan biaya Operasi dan Pemeliharaan yang diperlukan, maka akan
semakin tinggi tingkat keberhasilan pembangunan bendung, sehingga bobot dari biaya
pelaksanaan dan biaya Operasi dan Pemeliharaan bendung adalah relatif cukup tinggi,
yaitu nilai maksimal 15 dari skala 100.
e. Tekanan sub atmosfir pada permukaan mercu = 10
Tekanan sub atmosfir atau tekanan negatif yang ditimbulkan limpasan air di bawah tirai
air terhadap permukaan mercu bendung dapat menyebabkan kerusakan konstruksi
mercu bendung jika melebihi dari batasan yang diijinkan yang disesuaikan dengan jenis
konstruksi dari permukaan mercu bendung, sehingga semakin rendah tekanan
negatif yang dapat timbul akibat bentuk hidrolis mercu bendung akan semakin
aman struktur permukaan bendung dari kerusakan.
Dampak terhadap keamanan permukaan mercu bendung relatif kecil jika dalam
merencanakan dimensi hidrolis mercu bendung dapat diantisipasi besaran tekanan
negatif serendah mungkin atau dengan mengganti jenis konstruksi pasangan batu
dengan melapisi beton akan diperoleh batas ijin maksimal tekanan negatif yang lebih
tinggi dengan tetap meminimalkan biaya pelaksanaan, sehingga bobot dari kriteria

tekanan sub atmosfir terhadap permukaan bendung relatif kecil, yaitu nilai maksimal
10 dari skala 100.
2.

Pembobotan Tipe Mercu Bendung

Tipe mercu bendung pelimpah tetap yang biasa diaplikasi di Indonesia adalah tipe Bulat
dan tipe Ogge.
Pembobotan masing-masing tipe mercu bendung adalah sebagai berikut :

Keywords: bendung, tipe mercu, kriteria, penilaian, koefisien limpasan, kemudahan


pelaksanaan, material hanyut, biaya pelaksanaan, biaya operasi dan pemeliharaan, tekanan
sub atmosfir.
Keywords: bendung, tipe mercu, kriteria, penilaian, koefisien limpasan, kemudahan pelaksanaan, material
hanyut, biaya pelaksanaan, biaya operasi dan pemeliharaan, tekanan sub atmosfir.

You might also like:


Perencanaan Hidrolika Mercu Bendung - Bagian Pertama
Perencanaan Hidrolika Mercu Bendung Bagian Kedua
Partisipasi Petani/P3A Dalam Kegiatan O&P Jaringan Irigasi ...
LinkWithin

Pertimbangan Pemilihan Lokasi Bendung dalam Perencanaan Bendung


Bendung berfungsi untuk menaikkan elevasi muka air pada sungai agar dapat dialirkan
ke jaringan pemanfaatan air seperti untuk pemanfaatan irigasi, air baku dan lain-lain,
secara grafitasi sehingga dimensi dan pengaturan tata letak bendung sangat
dipengaruhi oleh elevasi muka air dari target layanan yang direncanakan (untuk irigasi
harus mempertimbangkan elevasi di sawah tertinggi dan atau terjauh yang
direncanakan).

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

1.

a.
b.
c.

Komponen Utama Bendung


Komponen utama dari bendung yang harus direncanakan :
Bangunan pengelak (tubuh bendung)
Bangunan pengambilan
Bangunan pembilas
Kantung lumpur
Tanggul pengaman
Pekerjaan pengaturan sungai
Bangunan pelengkap
Pemilihan Lokasi Bendung
Pemilihan lokasi bendung harus mempertimbangkan dan didasarkan pada beberapa
aspek, antara lain :
Aspek Topografis
Pemilihan lokasi bendung dari aspek topografis ditinjau dari dua komponen
pertimbangan, yaitu pertimbangan elevasi dan pertimbangan bentuk regime sungai
(bagian lurus, tidak curam dan lain-lain).
Pertimbangan elevasi dalam hal ini adalah tinjauan terhadap :
elevasi target daerah/lahan pertanian yang akan dilayani, yang akan mempengaruhi
tinggi bendung/mercu
elevasi dasar sungai, dipilih lokasi yang memerlukan tinggi bendung paling rendah
namun masih sesuai dengan kebutuhan elevasi mercu minimal
elevasi topografis dikanan dan kiri bagian hulu bendung, untuk menentukan
ketersediaan tanggul penutup alamiah (misal terdapat bukit dikanan kiri bagian hulu
bendung) untuk keperluan tanggul pengaman banjir rancangan sehingga biaya
pembangunan dapat efisien.
Pertimbangan bentuk palung/lebar sungai, dilakukan dengan memilih lokasi yang
mempunyai bentuk palung sungai berbentuk huruf V, dimaksudkan untuk memperoleh
lebar bentang bendung seminimal mungkin tetapi masih dapat menampung debit banjir

2.

3.

4.

a.

b.
c.
d.
e.

rancangan (kala ulang minimal 100 tahunan). Hal ini merupakan justifikasi teknis untuk
mendapatkan desain bangunan yang layak teknis ekonomis.
Aspek Hidrologis
Pemilihan lokasi bendung dari aspek hidrologis ditinjau dari dua komponen
pertimbangan, yaitu pertimbangan potensi inflow dan debit banjir.
Pertimbangan potensi inflow dilakukan dengan bantuan peta topografi daerah
tangkapan hujan untuk memilih lokasi bendung yang mempunyai daerah tangkapan
hujan seluas mungkin sehingga potensi inflow yang didapat akan semakin besar. Dan
juga jika memungkinkan maka dipilih lokasi dihilir pertemuan anak sungai, hal ini
dilakukan
untuk meningkatkan
potensi
inflow. Tentunya
dengan
tetap
mempertimbangkan aspek topografis.
Pertimbangan potensi banjir dilakukan untuk mengestimasikan dampak dan pengaruh
banjir rancangan yang akan terjadi serta perlakuan dan langkah antisipasi yang dapat
ditempuh.
Aspek geologis - mekanika tanah
Aspek geologis yang dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi bendung adalah indikator
keberadaan patahan/sesar/kekar geologi, kedalaman lapisan keras, kelulusan/
permeabilitas tanah dan bahaya gempa bumi, juga parameter bahan timbunan dan
material alam untuk bangunan.
Aspek lingkungan
Pertimbangan pemilihan lokasi bendung dari aspek lingkungan adalah dengan
mempelajari dampak pembangunan bendung terhadap lingkungan disekitarnya,
seperti :
Dampak peninggian elevasi muka air akan memberikan akibat penggenangan di hulu
sungai yang memberi dampak terhadap lingkungan dan ekologi di kawasan itu, juga
dampak terhadap public property dan government property.
Dampak alih fungsi lahan, akibat perubahan lahan eksisting menjadi lahan untuk
pembangunan bendung beserta dan instalasi pendukung dan pelengkapnya.
Dampak terhadap terputusnya mobilitas flora dan fauna akibat terbendungnya aliran air
dari hulu ke hilir dan sebaliknya.
Dampak terhadap suplai air ke daerah hilir.
Dampak terhadap keberadaan dan keamanan hutan, terutama jika harus berada di
kawasan hutan lindung dan kawasan hutan yang memperoleh atensi tinggi. Dengan
keberadaan bendung dimana pada saat pembangunan dan kurun operasi &
pemeliharaan membutuhkan dan dilengkapi dengan jalan inspeksi, sehingga
memungkinkan dimanfaatkan untuk tujuan negatif oleh oknum yang tidak
bertanggungjawab sebagai akses perusakan hutan (illegal logging, perburuan satwa
dan tanaman langka).

Elaborasi keempat aspek tersebut diatas menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi
bendung.
Demikian, artikel tentang aspek-aspek pertimbangan yang diperlukan dalam
pemilihan lokasi rencana pembangunan bendung, yang mungkin berguna bagi
rekan perencana (design structure engineer) dalam memulai perencanaan bendung,
sehingga output perencanaan dapat berhasil dengan baik, tepat waktu, tepat mutu,
handal, bermanfaat, awet dan ramah lingkungan.
Terimakasih.
Keywords: pertimbangan pemilihan, pemilihan lokasi, lokasi bendung, bendung, aspek,
dampak,
topografis,
hidrologi,
geologi,
lingkungan.
Keywords: pertimbangan pemilihan, pemilihan lokasi, lokasi bendung, bendung, aspek,
dampak, topografis, hidrologi, geologi, lingkungan.

Perencanaan Hidrolika Mercu Bendung - Bagian Pertama


Perencanaan hidrolika mercu bendung dilakukan dengan beberapa tahapan
perencanaan, mulai dari penentuan elevasi target layanan, penentuan elevasi mercu,
penentuan lebar mercu, penentuan tipe mercu, penentuan tinggi energi dan debit
pelimpah, profil muka air di hulu mercu dan profil hidrolis mercu, lengkun debit, serta
muka air banjir dan elevasi tanggul penutup.
Pemilihan lokasi bendung dari aspek hidrologis ditinjau dari dua komponen
pertimbangan, yaitu pertimbangan potensi inflow dan debit banjir.
1.

PENENTUAN ELEVASI MERCU


Elevasi mercu bendung ditentukan oleh muka air rencana akibat kebutuhan irigasi
(kebutuhan tinggi genangan di sawah, kehilangan energi ditingkat tersier-sekunderprimer, kehilangan energi diintake, kehilangan energi dibangunan air dan bangunan
ukur, dll), kehilangan energi pada kantong lumpur akibat pembilasan sedimen,
kehilangan energi pada pintu pembilas akibat pembilasan sedimen.
Beberapa faktor yang mempengaruhi penentuan elevasi mercu bendung adalah :

a. Elevasi sawah tertinggi


b. Tinggi genangan air disawah
c. Kehilangan tinggi tekan selama perjalanan :
Dari saluran tersier ke sawah
Dari saluran sekunder ke tersier
Dari saluran primer ke sekunder
Dari sungai ke saluran primer/intake
Pada bangunan ukur
Akibat kemiringan saluran
d. Persediaan tinggi tekan
Untuk eksploitasi
Bangunan lain
2.

PENENTUAN LEBAR BENDUNG

Perencanaan lebar mercu bendung diusahakan mendekati lebar rata-rata palung


sungai pada bagian yang stabil, yang dimaksudkan untuk menghindari berubahan aliran
akibat pelebaran atau penyempitan, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
gerusan (turbulensi aliran) dibagian hulu bangunan.
Lebar efektif mercu bendung dihitung berdasarkan persamaan berikut ini :
Be

B1 0.8 . B2 - 2 (n . Kp + Ka) . H1

Be

lebar efektif mercu bendung

B1

lebar bendung sebenarnya

B2

lebar bagian penguras = Bs ns . ts

Bs

lebar total bagian penguras

dimana :

ns

jumlah pilar penguras

ts

tebal masing-masing pilar penguras

jumlah pilar di atas mercu

Kp

koefisien konstraksi pada pilar

Ka

koefisien konstraksi pada dinding samping/abutments

H1

tinggi energi total di atas mercu pelimpah

Penentuan Lebar Efektif Bendung


Koefisien Konstruksi Pilar

Contoh Perhitungan :
Dicontohkan, lebar rata-rata palung sungai (B p) pada rencana as Bendung adalah 27 m,
maka :
-

lebar bagian penguras (B 2 ) = (1/6 ~ 1/10 B palung) = 4,50 ~ 2,70 m; diambil 3,00 m
dan untuk memudahkan operasional dibagi menjadi 2 buah pintu masing-masing
dengan lebar 1,50 m.

Bendung direncanakan mempunyai 2 pintu pengambilan, yaitu kanan dan kiri sungai,
sehingga memerlukan dua buah pilar pengarah dengan masing-masing mempunyai
tebal 1,00 m

Lebar total bagian penguras, B s = (2 pintu ) + (2 pilar x 1,00 m) = (2 x 1,50) + 2 = 5,00


m.

Lebar total mercu sebenarnya, Bw = Bp Bs = 27,00 5,00 = 22,00 m

Diperlukan 1 buah pilar penopang jembatan operasional dengan tebal 1,00 m, sehingga
lebar mercu sebenarnya, B1 = Bw nj . tj = 22,00 (1 x 1,0) = 21,0 m
sehingga lebar efektif mercu Bendung adalah :
Be

=
=

B1 0.8 . B2 - 2 (n . Kp + Ka) . H1
21 0,80 x 3,00 (2 (3 x 0.01 + 0,1) x H

= 18,60 0,26 x H1
(H1 dicari dengan coba-coba pada persamaan debit pelimpah diatas bendung)
3.

PENENTUAN TIPE MERCU BENDUNG


Kriteria dan penilian dalam memilih tipe mercu bendung yang paling sesuai
diterapkan pada suatu lokasi proyek, telah dipaparkan pada artikel sebelumnya :
Penentuan Tipe Mercu Bendung.

Dari hasil penilaian bobot dari kedua tipe mercu bendung tersebut, diperoleh bobot
tertinggi tipe bendung untuk diterapkan pada rencana pembangunan suatu Bendung,
yang sesuai dengan kondisi hidrolika, sedimen atau material hanyut, kemudahan
pelaksanaan dan Operasi dan Pemeliharaan, serta biaya-biaya yang diperlukan.
Pada contoh berikut ini diandaikan tipe mercu bendung terpilih adalah tipe bulat,
sehingga untuk analisis lebih lanjut akan mengacu pada karakteristik mercu bendung
tipe bulat, yang memberikan keuntungan kemudahan dalam pelaksanaan serta
memberikan keuntungan karena dapat mengurangi tinggi muka air di hulu bendung
selama banjir.
Untuk menghindari tekanan negatif jari-jari mercu bendung berkisar 0,30 ~ 0,70 H 1
untuk mercu pasangan batu dan 0,10 ~ 0,70 H 1 untuk mercu beton, serta tekanan
minimum pada mercu bendung dibatasi sampai -1 m tekanan air untuk mercu pasangan
batu dan sampai -4 m untuk mercu beton.

Jari-jari mercu bendung tipe bulat

Tekanan pada mercu bendung tipe bulat


Keywods : perencanaan hidrolika, hidrolika mercu, penentuan elevasi, lebar bendung, tipe mercu, tinggi energi, debit
pelimpah, koefisien debit, profil muka air

Perencanaan Hidrolika Mercu Bendung Bagian Kedua


Sebagai kelanjutan dari artikel sebelumnya mengenai Perencanaan Hidrolika Mercu
Bendung Bagian Pertama maka pada Bagian Kedua ini akan menguraikan komponen
dan parameter yang perlu diperhatikan dalam perencanaan hidrolika mercu bendung.
1.

TINGGI ENERGI DAN DEBIT PELIMPAH


Tinggi energi diatas mercu bendung merupakan estimasi kenaikkan muka air pada saat
kejadian banjir rancangan di atas mercu bendung dengan adanya halangan air oleh
bendung, sehingga dapat direncanakan tinggi abutmet bendung dan tanggul pengaman
di hulu mercu setelah ditambah tinggi jagaan.
Debit yang melalui pelimpah adalah debit banjir rancangan dengan kala ulang 100
tahun, dengan ambang tetap tipe pendek dihitung berdasarkan rumus :
Q
dimana

= Cd ( g)0,5 b H11,5

:
Q

= debit yang melewati pelimpah (m3/detik)

Cd = koef. derbit ( = CoC1C2)


Co= merupakan fungsi dari H1/r (lihat gambar dibawah)
C1= merupakan fungsi dari p/H1 (lihat gambar dibawah)
C2= merupakan fungsi dari p/H1 dan kemiringan muka me (lihat gambar dibawah)
g

= percepatan grafitasi (m/detik2)

= lebar efektif mercu (m)

H1 = tinggi energi air di atas mercu


Koefisien Co untuk Tipe Mercu Bulat fungsi dari H1/r

Koefisien C1 fungsi dari p/H1

Koefisien C2 fungsi dari p/H1 dan kemiringan muka hulu mercu

Kemiringan muka bagian hulu mercu direncanakan adalah 1 : 0,33 hal ini mengingat
tinggi mercu bendung hanya 3,30 m, sehingga diestimasikan kestabilan tubuh bendung
akan memenuhi batas minimal angka keamanan. Kemiringan ini dapat diubah-ubah
disesuaikan dengan hasil analisis stabilitas bendung terhadap guling dan geser serta
gempa.
Hasil perhitungan tinggi energi untuk masing-masing bendung adalah sebagai berikut :

Q100

= Cd ( g)0,5 b H11,5

132,52 m3/det

3,30 m

1,00 m

H1

2,00 m

H1/r

2,00

Co = 1,31

p/ H1

1,65

C1 = 1,01

kemiringan muka : 1 : 0,67


Cd

= CoC1C2

= 1,33

C2 = 1,00

Check energi negatif :


H1/r

= 2,00

(p/g)/H1 = -0.34

jadi p/g = -0,34 x 2,0 = -0,64 > -1, aman dengan pasangan batu

= 22,00 m (lebar sebenarnya bendung)

Be

= 20,56 m (lebar efektif bendung)

Qhitung = 1,33 . ( . 9,81)0,5 . 2,001,5 = 132,52 m3/detik Q100

2.

PROFIL MUKA AIR SUNGAI DI SEKITAR HILIR BENDUNG


Profil muka air sungai dibagian hilir bendung merupakan cerminan kondisi elevasi muka
air di sungai dibagian hilir yang menjadi salah satu acuan dalam perencanaan tipe dan
dimensi kolam olak, dimana kondisi kedalaman air di bagian hilir bendung (y 2) terhadap
kedalaman air konjugasi dari kolam olak (y d) sangat berpengaruh pada karakteristik
aliran pada kolam olak dan sesudah kolam olak.
Sedangkan profil muka air di bagian hulu bendung merupakan masukan untuk
menafsirkan dan memperkirakan kecepatan aliran datang dan kemampuan/daya angkut
material dasar (bed load) yang berguna dalam pemilihan tipe kolam olak.
Jika data mengenai regime sungai pada lokasi rencana bendung belum ada, maka
untuk memperoleh gambaran mengenai profil muka air di sekitar bendung
dipergunakan metode empiris dengan menggunakan metode tahapan standar
(standard step method). Data pendukung dalam metode ini adalah data profil palung
sungai yang diambil dari data pengukuran topografi potongan memanjang dan
potongan melintang.
Metode tahapan standar digunakan karena pada metode ini telah mempertimbangkan
bahwa luas penampang sungai tidaklah konstan sepanjang alur non prismatik yang
ditandai dengan bentuk penampang yang tidak beraturan. Didalamnya terdapat
kehilangan-kehilangan tinggi tekan (energi) akibat dari gesekan, belokan dan
perubahan-perubahan bentuk. Perhitungan dalam metode ini berjalan dari hilir ke arah
hulu, dimana diasumsikan bahwa pada titik awal pengaruh turbulensi ataupun loncatan
air akibat adanya bendung sudah tidak ada. Yang perlu diperhatikan bahwa pada
metode ini bahwa aliran yang terjadi adalah aliran subkritis.
Prinsip dalam metode tahapan standar adalah sebagai berikut :

h1 + EL1 + V12/2g = h2 + EL2 + V22/2g = hf he


dimana,
h1

kedalaman air di titik 1

h2

kedalaman air di titik 2

EL1

elevasi dasar sungai di titik 1

EL2

elevasi dasar sungai di titik 2

V1

kecepatan air di titik 1

V2

kecepatan air di titik 2

percepatan grafitasi

hf

kehilangan akibat gesekan = Sf* . x

Sf*

kemiringan gesekan

jarak antar titik

he

k [(V12 V22)/2g]

faktor perubahan bentuk penampang


0.10 ~ 0.30 : untuk penyempitan aliran
0.20 ~ 0.50 : untuk penyebaran aliran

Sf* dihitung dengan persamaan :


Sf*

(Sf1 + Sf2)/2

Sf1

(V12 n) / R14/3

Sf2

(V22 n) / R24/3

koefisien kekasaran Manning

jari-jari hidrolis

Contoh perhitungan: