Anda di halaman 1dari 16

Bangunan

pelengkap
pintu Romijn
Bangunan Pelengkap:

Mengingat air yang tersedia di alam sering tidak sesuai dengan kebutuhan
baik lokasi maupun waktunya, maka diperlukan saluran (saluran irigasi dan
saluran drainase) dan bangunan pelengkap (misal : bendungan, bendung,
pompa air, siphon, gorong-gorong / culvert, talang air dan sebagainya) untuk
membawa air dari sumbernya ke lokasi yang akan dialiri dan sekaligus untuk
mengatur besar kecilnya air yang diambil maupun yang diperlukan.

Salah satu bangunan pelengkap untuk pengatur sekaligus pengatur debit


aliran air yang melalui saluran irigasi adalah Pintu Romijin.
Penggunaan pintu Romijn Banyak dipakai di Indonesia, biasanya dipasang
pada bangunan bagi, bangunan sadap, maupun bangunan bagi dan sadap.
Pintu Romijn adalah alat ukur ambang lebar yang bisa digerakkan untuk
mengatur dan mengukur debit di dalam jaringan saluran irigasi. Agar dapat
bergerak, mercunya dibuat dari pelat baja dan dipasang di atas pintu sorong.
Pintu ini dihubungkan dengan alat pengangkat.

Kegunaan dari pintu Romijn adalah untuk membagi air saluran induk ke
saluran sekunder atau membagi air dari saluran sekunder ke saluran tersier.
Pintu Romijn berguna untuk mengukur serta mengatur debit air. Kedalaman
air maksimum diatas ambang adalah h = 0,35 m dan alat ukur ini dapat
mengukur dengan baik bila kedalaman air diatas ambang minimum 0,05 m.
Pintu Romijn memiliki 2 buah daun pintu: pintu atas dan pintu bawah. Ada 3
bentuk mercu dari pintu Romijn, yaitu:
1. Bentuk mercu datar dan lingkaran gabungan untuk peralihan
penyempitan hulu (Gambar a).
2. Bentuk mercu miring ke atas 1:25 dan lingkaran tunggal sebagai peralihan
penyempitan (Gambar b).
3. Bentuk mercu datar dan lingkaran tunggal sebagai peralihan penyempitan
(Gambar c)
Bentuk Hidrolis Pintu Romijn:

Bangunan ukur tipe ini merupakan bendung bermercu lebar yang mempunyai sifat bahwa
pada pengaliran sempurna terjadi keadaan aliran kritis di atas mercu yang mengalir mendatar
dengan ketinggian 2/3 h di atas mercu, dimana h adalah tinggi muka air di huku ambang. Alat
ukur ini dipasang tegak lurus aliran.

Alat ukur ini terdiri atas:


1. Dua plat baja (atas & bawah) ditempatkan dalam sponning. Kedua plat ini sebagai
batasan gerakan ke atas & ke bawah.
2. Plat ambang yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah dan dihubungkan dengan
stang pengangkat.
3. Plat bawah sebagai disebutkan pada (1) diikatkan ke dasar dalam kedudukan di mana sisi
atasnya merupakan batas paling rendah dari gerakan ambang.
4. Plat bawah sebagai disebutkan pada (1) dihubungkan dengan plat bawah di dalam
sponning dan bertindak sebagai batas atas dari gerakan ambang.
5. Dimensi tergantung pada perhitungan hidrolis dan tebal tembok sayap minimum 0,30 m.
Stabilitas pintu diperhitungkan terhadap tekanan hidrostatis dan tekanan lumpur.
Dimensi Pintu Ukur Romijn dengan pintu Sketsa isometris bentuk pintu Romijn:
bawah:
Rumus Pengaliran Pintu Romijn: Harga koefisien kecepatan datang
(Cd)dapat dicari dengan gambar Cv

Ukuran Pintu Romijn Standar:


Perhitungan hidrolis Pintu Romijn:
pintu Romijn dengan mercu horisontal dan peralihan penyempitan lingkaran
tunggal adalah serupa dengan alat ukur ambang lebar yang telah disebutkan
diatas. Untuk kedua bangunan tersebut, persamaan antara tinggi dan
debitnya adalah:
Perhitungan hidrolis Pintu Romijn:
pintu Romijn dengan mercu horisontal dan peralihan penyempitan lingkaran
tunggal adalah serupa dengan alat ukur ambang lebar yang telah disebutkan
diatas. Untuk kedua bangunan tersebut, persamaan antara tinggi dan
debitnya adalah:

Sketsa ambang lebar pintu Romijn


Dimensi dan Tabel Debit Standar:

Lebar standar untuk pintu Romijn adalah 0,50, 0,75, 1,00, 1,25 dan
1,50 m untuk harga harga lebar standar ini semua tipe pintu, kecuali satu tipe,
mempunyai panjang standar mercu 0,50 m untuk mercu horisontal dan jari
jari 0,10 m untuk meja berunjung bulat. Satu pintu lagi ditambahkan agar
sesuai dengan bangunan sadap tersier yang debitnya kurang dari 160 l/dt.
Lebar pintu ini 0,50 m, tetapi mercu horisontalnya 0,33 m dari jari jari 0,07 m
untuk ujung meja.
Nilai nilai besaran debit yang dianjurkan untuk standar pintu Romijn:

Papan Duga:

Untuk pengukuran debit secara sederhana, ada tiga papan duga yang harus
dipasang, yaitu:
a. Skala papan duga muka air disaluran
b. Skala sentimeter yang dipasang pada kerangka bangunan
c. Skala liter yang ikut bergerak dengan meja pintu Romijn
Penggunaan Pintu Romijn pada saluran irigasi
Pintu Romijn adalah bangunan pengukur dan pengatur serba bisa yang dipakai di Indonesia
sebagai bangunan sadap tersier.
Untuk ini tipe standar paling kecil (lebar 0,50 m) adalah yang paling cocok. Tetapi, pintu
Romijndapat juga dipakai sebagai bangunan sadap sekunder dan bangunan intake pada
saluran primer.

Letak pintu
Romijn di
saluran primer
CONTOH PERHITUNGAN PINTU ROMIJN pada saluran primer:

Pada saluran primer dipasang pintu Romijn.


Untuk perencanaan, syarat teknisnya dibatasi
Jika diambil 2 pintu:
sebagai berikut:
Q = 1,23488/2=0,61744 m3/det
Untuk 1 pintu biasa digunakan:
Trial n error nilai tinggi mukai air (h)
Lebar pintu (b) = 1,5 m
dimisalkan 0,5 m untuk hitung lebar pintu
Qmaks didapat = 1,23488
Q =1,71*b*h3/2
Hmaks
0,61744 = 1,71*b*(0,5)3/2
(tinggi muka air di atas ambang) = 0,5 m
b = 1,02 m ..... Diambil b = 1,1 m
Maka:
B = 1,1 m < b maks =1,5 m
Jika diambil 1 pintu:
Artinya terpenuhi
Q =1,71*b*h3/2
1,23488 = 1,71*1,5*h3/2
h =0,614m > h maks = 0,5 m
(tidak memenuhi syarat)
Cek kembali:

Tinggi h:
Q = 1,71*b*h3/2 masukkan nilai b =1,1 m
Jadi dimensi pintu air untuk saluran primer
0,61744 = 1,71*1,1*h3/2
adalah:
h = 0,476 < h maks =0,5
Dua buah pintu romijn dengan ketentuan
Debit Q:
masing-masing pintu:
Q = 1,71*(1,1)*(0.5)3/2
Q= 0.665034 m3/dtk > 0,61744 m3/dtk ......OK
Lebar pintu (b) = 1,1 m
Qmaks = 1,23488 m3/dtk
Untuk 2 pintu, maka:
Tinggi muka air diatas ambang (h maks) =
Q =2 x 0,665034
0,5 m
= 1,330068 > 1,23488 m3/dtk ......OK
CONTOH PERHITUNGAN PINTU ROMIJN pada saluran Sekunder:
Pada saluran sekunder dipasang pintu Romijn.
Untuk perencanaan, syarat teknisnya dibatasi
Di cek kembali:
sebagai berikut:
Debit Q :
Untuk 1 pintu biasa digunakan:
Q =1,71*(0,5)*(0,32)3/2
Lebar pintu (b) = 0,5 m
Q = 0,1621 m3/dtk > 0,14882 m3/dtk
Qmaks didapat = 0,14882 m3/dtk
Hmaks
Jadi, dimensi pintu air untuk saluran saluran
(tinggi muka air di atas ambang) = 0,33 m
sekunder 1 adalah :
Maka:
Satu buah pintu romijn dengan ketentuan :
Jika diambil 1 pintu:
Lebar pintu (b) = 0,5 m
Q =1,71*b*h3/2
Qmak = 0,16208 m3/dtk
0,14882 = 1,71*0,5*h3/2
Tinggi muka air diatas ambang
h =0,312m
(h maks) = 0,32
diambil 0,32 < h maks = 0,33 m
(memenuhi syarat)
perhitungan bangunan pintu Romijn:

Hitunglah perencanaan dimensi bangunan pelengkap pintu air irigasi (Pintu Romijn)
dengan Q saluran yang sudah dihitung ditugas sebelumnya.

Q H Cek Debit
Nama
saluran B (m) Hitung Rencana Qpasang Ket
Saluran
(m)
Primer 1 Ok ( 2 pintu)
Primer 2
dst