Anda di halaman 1dari 142

RENCANA

PENGEMBANGAN

T V & R ADIO
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
TELEVISI DAN RADIO NASIONAL
2015-2019

Edwina Triwibowo
Wawan Dhewanto

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
TELEVISI DAN RADIO NASIONAL
2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Harry Waluyo, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Poppy Safitri, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
M. Iqbal Alamsjah, Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media
Sagit Suwidhi, Kepala Seksi Karya Kreatif Audio
Tim Studi
Edwina Triwibowo
Wawan Dhewanto
ISBN
978-602-72387-5-6
Tim Desain
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Rendi Iken Satriyana Dharma
Sari Kusmaranti Subagiyo
Yosifinah Rachman
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima Kasih Kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD)
Abie Besman
Agnes Widyanti
Arie Ardianto (DJ Arie)
Bowo Usodo
Dadang Rahmat Hidayat
Danang Sanggabuwana
Dini Aryanti Putri
Erina HC Tobing
Gantama F Gandjar
Gebyar Ahadiakbar G
Gita Andriani
Harsya Subandrio
Hasudungan Silalahi
Helmy Yahya
Iqbal Ramadhan
Irman Meilandi
Kalamullah Ramli
Marcellus Ardiwinata
Prasetyo Wibowo
Prita Prawirohardjo
Ronni Suyanto
Syaharuddin
Theodora Rosa
Woro Widyastuti
Yogi Hartarto

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang
penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Ekonomi kreatif
adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di
Indonesia, dimana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya
alam terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Ketiganya
menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kita, secara
bersama-sama telah meletakkan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan membawa
bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kesinambungan upaya pengembangan
ekonomi kreatif diperlukan untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai sumber daya saing baru
bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek nonekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita
dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan
dan mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi
kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup,
pemerataan kesejahteraan dan peningkatan toleransi sosial.
Televisi dan radio sebagai salah satu dari 15 subsektor di dalam industri kreatif, dapat didefinisikan
secara terpisah, yaitu televisi yang merupakan kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan
gagasan dan informasi secara berkualitas kepada penikmatnya dalam format suara dan gambar
yang disiarkan kepada publik dalam bentuk virtual secara teratur dan berkesinambungan, serta
radio yang merupakan kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan gagasan dan informasi
secara berkualitas kepada penikmatnya dalam format suara yang disiarkan kepada publik dalam
bentuk virtual secara teratur dan berkesinambungan. Saat ini masih ada masalah-masalah yang
menghambat pertumbuhan industri kuliner di Indonesia, termasuk didalamnya jumlah dan
kualitas orang kreatif yang masih belum optimal, ketersediaan sumber daya alam yang belum
teridentifikasi dengan baik, keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan sumber daya budaya,
minimnya ketersediaan pembiayaan bagi orang-orang kreatif yang masih kurang memadai,
pemanfaatan pasar yang belum optimal, ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang sesuai
dan kompetitif serta kelembagaan dan iklim usaha yang belum sempurna.
Dalam upaya melakukan pengembangan konten televisi dan radio di Indonesia, diperlukan
pemetaan terhadap ekosistem televisi dan radio yang terdiri dari rantai nilai kreatif, pasar,
nurturance environment, dan pengarsipan. Aktor yang harus terlibat dalam ekosistem ini tidak
terbatas pada model triple helix yaitu intelektual, pemerintah dan bisnis, tetapi harus lebih luas
dan melibatkan komunitas kreatif dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita memerlukan
quad helix model kolaborasi dan jaringan yang mengaitkan intelektual, pemerintah, bisnis
dan komunitas. Keberhasilan ekonomi kreatif di lokasi lain ternyata sangat tergantung kepada
pendekatan pengembangan yang menyeluruh dan berkolaborasi dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan.

vii

Buku ini merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
2025 yang diterbitkan pada tahun 2009, di mana televisi dan radio merupakan salah satu bagian
dalam industri kreatif. Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan data, informasi,
telah dilakukan sejumlah Focus Discussion Group (FGD) dengan semua pemangku kepentingan
baik pemerintah, pemerintah daerah, intelektual, media, bisnis, orang kreatif, dan komunitas
industri televisi dan radio secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan secara rinci
pemahaman mengenai konten televisi dan radio dan strategi-strategi yang perlu diambil dalam
percepatan pengembangan konten televisi dan radio lima tahun mendatang. Dengan demikian,
masalah-masalah yang masih menghambat pengembangan konten televisi dan radio selama ini
dapat diatasi sehingga dalam kurun waktu lima tahun mendatang, menciptakan konten televisi
dan radio yang berkualitas serta berdaya saing secara berkelanjutan sebagai landasan yang kuat
untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.

Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar

vii

Daftar Isi

xi

Daftar Gambar

xiii

Daftar Tabel

xv

Ringkasan Eksekutif

xvi

BAB 1 PERKEMBANGAN TELEVISI DAN RADIO DI INDONESIA

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Televisi dan Radio 

1.1.1 Definisi Televisi dan Radio

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Televisi dan Radio

1.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio Dunia
1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio Indonesia

8
8
14

BAB 2 EKOSISTEM & RUANG LINGKUP INDUSTRI TELEVISI DAN RADIO INDONESIA25
2.1 Ekosistem Televisi dan Radio

26

2.1.1 Definisi Ekosistem Televisi dan Radio

26

2.1.2 Peta Ekosistem Televisi dan Radio

29

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio

44

2.2.1 Peta IndustriTelevisi dan Radio

44

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio

50

2.2.3 Model Bisnis di Industri Televisi dan Radio

52

BAB 3 KONDISI UMUM TELEVISI DAN RADIO DI INDONESIA

57

3.1 Kontribusi Ekonomi Televisi dan Radio

58

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)

60

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan

61

ix

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan

62

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

63

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor

64

3.2 Kebijakan Pengembangan Televisi dan Radio

66

3.3 Struktur Pasar Televisi dan Radio

68

3.3.1Televisi 

68

3.3.2Radio

74

3.4 Daya Saing Televisi dan Radio

77

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan T


elevisi dan Radio

77

BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN TELEVISI DAN RADIO INDONESIA

81

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019

82

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Televisi dan Radio

83

4.2.1 Visi Pengembangan Televisi dan Radio

84

4.2.2 Misi Pengembangan Televisi dan Radio

84

4.2.3 Tujuan Pengembangan Televisi dan Radio

85

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Televisi dan Radio

85

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Televisi dan Radio

87

4.4.1 Arah Kebijakan sumber daya manusia kreatif di industri Televisi dan Radio yang
mampu menghasilkan konten yang berkualitas dan berdaya saing

88

4.4.2 Arah Kebijakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya


budaya bagi industri Televisi dan Radio Indonesia secara berkelanjutan

88

4.4.3 Arah Kebijakan industri Televisidan Radio yang berkualitas dan berdaya saing
secara berkelanjutan

88

4.4.4 Arah Kebijakan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

88

4.4.5 Arah Kebijakan perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan
berkelanjutan

88

4.4.6 Arah Kebijakan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan
kompetitif

88

4.4.7 Arah Kebijakan kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas


dalam pengembangan industri Televisi dan Radio Indonesia
4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Televisi dan Radio

89
89

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

4.5.1 Mendorong dan memfasilitasi peningkatan jumlah lembaga pendidikan ilmu


komunikasi di setiap provinsi di Indonesia

89

4.5.2 Mendorong peningkatan standar mutu lembaga pendidikan ilmu komunikasi yang
sudah ada di Indonesia

89

4.5.3 Mendorong peningkatan jumlah sebaran lembaga sertifikasi media yang diakui
secara nasional/dan internasional di setiap provinsi di Indonesia

89

4.5.4 Menegaskan kewajiban penetapan kode etik profesi di tingkat nasional dan global
dalam dunia usaha

89

4.5.5 Memberikan jaminan perlindungan kerja terhadap para pelaku kreatif di industri
televisi dan radio

90

4.5.6 Memfasilitasi penelitian untuk mengidentifikasi dan mengembangkan sumber daya


budaya lokal yang merupakan inspirasi dalam pengembangan konten kreatif televisi dan
radio

90

4.5.7 Mengembangkan sistem pengarsipan (fisik dan nonfisik) terkait penelitian dan
informasi sumber daya budaya Indonesia sebagai bahan sumber inspirasi konten lokal
televisi dan radio

90

4.5.8 Mendorong pengembangan tingkat profesionalisme wirausaha kreatif di bidang


Televisidan Radio

90

4.5.9 Mengembangkan ragam serta meningkatkan kualitas standar usaha kreatif nasional
di bidang Televisidan Radio

90

4.5.10 Mendorong pengembangan konten karya kreatif yang berkualitas dengan


menghadirkan unsur-unsur lokal Indonesia melalui ajang penghargaan bergengsi dan
festival

90

4.5.11 Memfasilitasi program pembiayaan untuk industri televisi dan radio pemula di
tingkat lokal

90

4.5.12 Mendukung pembentukan bank data konten kreatif televisi dan radio di Indonesia
yang dapat diakses secara global sebagai salah satu fungsi wadah pengarsipan

91

4.5.13 Memfasilitasi program Bimbingan Peningkatan Standar Mutu untuk skala Pasar
global

91

4.5.14 Memfasilitasi penyebaran konten kratif lokal melalui bursa konten acara
internasional

91

4.5.15 Mendorong usaha peningkatan jangkauan siaran televisi serta kualitas jaringan
penyiaran televisi dan radio di Indonesia

91

xi

4.5.16 Mendukung adanya kebijakan subsidi kebutuhan fasilitas pengadaan penyiaran


dan pemrograman

91

4.5.17 Mendorong terjalinnya kerjasama antara industri Televisi dan radio dengan
pengembang perangkat lunak pemrograman dan penyiaran

91

4.5.18 Mendorong terciptanya penyempurnaan kebijakan terkait penyiaran yang bisa


mendukung iklim lingkungan bisnis televisi dan radio menjadi lebih kondusif

91

4.5.19 Memfasilitasi pembentukan lembaga milik pemerintah yang secara aktif


mendukung penciptaan konten Televisi dan radio yang berkualitas dan berdaya saing

91

4.5.20 Mengaktifkan kembali dan memfasilitasi asosiasi keprofesian media untuk


berjejaring di tingkat lokal, nasional, maupun global

92

4.5.21 Memfasilitasi keikutsertaan konten kreatif Televisi dan Radio dengan memberikan
subsidi atau sponsorship bagi konten kreatif yang mampu ikut serta dalam festival dan
even internasional

92

4.5.22 Memberikan penghargaan bagi konten kreatif lokal maupun usaha kreatif secara
berkala

92

4.5.23 Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konten kreatif karya Indonesia 92


4.5.24 Memfasilitasi pengarsipan di bidang Televisi dan Radio yang dapat memperkaya
proses pengembangan konten acara kreatif

92

BAB 5 PENUTUP

95

5.1Kesimpulan

96

5.2Saran

97

LAMPIRAN

xii

101

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Daftar Gambar
Gambar 1-1 Ruang Lingkup Konten Televisi dan Rating Penonton

Gambar 1-2 Ruang Lingkup Substansi Radiodan Rating Penonton

Gambar 1-3 Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

22

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Televisi dan Radio

28

Gambar 2-2 Ruang Lingkup Televisi

29

Gambar 2-3 Ruang Lingkup Radio 

29

Gambar 2-4 Rantai Nilai Kreasi Subsektor Televisi dan Radio

30

Gambar 2-5 Rantai Nilai Produksi Subsektor Televisi dan Radio

32

Gambar 2-6 Rantai Nilai Distribusi Subsektor Televisi dan Radio

36

Gambar 2-7 Rantai Nilai Penyiaran Subsektor Televisi dan Radio

37

Gambar 2-8 Peta Pasar

38

Gambar 2-9 Peta Apresiasi Subsektor Konten Televisi dan Radio

39

Gambar 2-10 Peta Studi Subsektor Konten Televisi dan Radio

41

Gambar 2-11 Peta Pengarsipan Subsektor Konten Televisi dan Radio

43

Gambar 2-12 Peta Industri Subsektor Televisi

45

Gambar 2-13 Peta Industri Subsektor Radio

46

Gambar 3-1 Kontribusi terhadap Total Produk Domestik Bruto Industri Kreatif
(BPS, 2013)

60

Gambar 3-2 Kontribusi Terhadap Total Tenaga Kerja Industri Kreatif (BPS, 2013)

61

Gambar 3-3 Kontribusi Terhadap Total Unit Usaha Bruto Industri Kreatif (BPS, 2013)

62

Gambar 3-4 Kontribusi Terhadap Total Konsumsi Rumah Tangga (BPS, 2013)

63

Gambar 3-5 Total Ekspor Subsektor Televisi dan Radio (BPS, 2013)

64

Gambar 3-6 Perbandingan Ekspor dan Impor Tahun 2010-2013 (dalam Ribu Rupiah) (BPS,
2010-2013)

65

xiii

Gambar 3-7 Perkembangan Stasiun Televisi Nasional (Wikipedia, 2011)

68

Gambar 3-8 Radio Market Competitiveness dan Concentration (Nastiti, 2011)

75

Gambar 3-9 Proporsi Penikmat Media Elektronik dan Cetak (Menkominfo, 2011)

76

Gambar 3-10 Diagram Daya Saing Televisi dan Radio

77

Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Televisi dan Radio 2015-2019

83

xiv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Daftar Tabel
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Televisi dan Radio 2010-2013

58

Tabel 3-2 Tabel Kebijakan Subsektor Televisi dan Radio

66

Tabel 3-3 Daftar Stasiun Televisi Jaringan

69

Tabel 3-4 Daftar Stasiun Televisi Berlangganan

70

Tabel 3-5 Market Share Stasiun Televisi Jaringan

71

Tabel 3-6 Daftar 5 Acara dengan Rating Tertinggi

72

Tabel 3-7 Daftar Hak Siar Ekslusif Siaran Olahraga

73

Tabel 3-8 Market Share Industri Radio di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar

74

Tabel 3-9 Potensi Permasalahan dalam Pengembangan Televisi dan Radio

77

xv

Ringkasan Eksekutif
Pergeseran makna dari televisi dan radio dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah
perkembangan teknologi, sosial dan budaya, bahkan kebutuhan politik. Hal ini menambah
keragaman fungsi televisi dan radio itu sendiri dari masa ke masa yang tentunya akan mempengaruhi
bagaimana kita akan mengembangkan televisi dan radio sebagai bagian dari ekonomi kreatif di
Indonesia. Pemahaman mengenai definisi dan ruang lingkup televisi dan radio dalam konteks
ekonomi kreatif akan menjadi penentu dalam perencanaan pengembangan televisi dan radio di
Indonesia pada periode 5 tahun mendatang. Dalam merumuskan definisi dan ruang lingkupsebagai
salah satu kegiatan ekonomi kreatif, perlu dirumuskan secara holistik dengan mempertimbangkan
segala aspek yang memaknai subsektor televisi dan radio yang memiliki fungsi media secara luas.
Secara umum, cakupan definisi dan ruang lingkup televisi dan radio dalam konteks ekonomi
kreatif lebih difokuskan ke dalam kegiatan yang memiliki unsur kreatif, yaitu yang berkaitan
dengan konten acara televisi dan radio.
Untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendalam mengenai industri kreatif,
maka perlu dilakukan pemetaan ekosistem dari subsektor televisi dan radio terhadap kondisi
ideal, yaitu suatu kondisi yang diharapkan terjadi dan merupakan best practices dari industri
kreatif televisi dan radio yang berjalan di negara-negara yang sudah maju dan berdaya saing, dan
kondisi aktual dari industri kreatif televisi dan radio di Indonesia untuk memahami dinamika
yang terjadi di Indonesia. Pemahaman antara kondisi ideal subsektor televisi dan radio dengan
kondisi aktual dari subsektor televisi dan radio dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan
dari industri kreatif subsektor televisi dan radio sehingga dapat berkembang dengan baik, dengan
mempertimbangkan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan (tantangan, kelemahan,
ancaman, dan hambatan) yang dihadapi dalam mengembangkan industri kreatif subsektor televisi
dan radio di Indonesia.
Ekosistem televisi dan radiomerupakan sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling
ketergantungan (interdependent relationship) antara setiap peran di dalam proses penciptaan nilai
kreatif dan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai tersebut. Peranan ekonomi
kreatif bagi Indonesia sudah semestinya diukur secara kuantitatif sebagai indikator yang bersifat
nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran riil mengenai keberadaan ekonomi kreatif
yang mampu memberikan manfaat dan mempunyai potensi untuk ikut serta dalam memajukan
Indonesia. Bentuk nyata dari kontribusi ini dapat diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan oleh
seluruh subsektor pada ekonomi kreatif termasuk televisi dan radio.
Perhitungan kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB),
ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan
perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk perhitungan kontribusi
ekonomi televisi dan radio, nilai yang ada pada data BPS tersebut dihitung berdasarkan data
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif 2009. Visi, misi, tujuan dan, sasaran
strategis merupakan kerangka strategis pengembangan jangka menengahtelevisi dan radio pada
periode 2015-2019. Poin-poin tersebut menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku
kepentingan dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi atau lembaga
terkait secara terarah dan terukur yang dijabarkan pada Bab 4 Rencana Pengembangan Televisi
dan Radio Indonesia.
xvi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

If you fail to plan, you are planning to fail.

Benjamin Franklin

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

SENI RUPA 2015-2019

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

16

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

15

18

MUSIK 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

xvii

BAB 1
Perkembangan Televisi
dan Radio di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Televisi dan Radio


Untuk mengetahui lebih dalam mengenai kegiatan kreatif televisi dan radio, maka perlu dipelajari
definisi televisi dan radio menurut beberapa ahli di dunia serta bagaimana perkembangan dari
definisi-definisi tersebut untuk melihat adanya perubahan makna baik menyempit maupun
meluas. Pergeseran makna dari definisi televisi dan radio dipengaruhi oleh berbagai faktor,
diantaranya adalah perkembangan teknologi, sosial dan budaya, bahkan kebutuhan politik. Hal
ini menambah keragaman fungsi televisi dan radio itu sendiri dari masa ke masa yang tentunya
akan mempengaruhi bagaimana kita akan mengembangkan televisi dan radio sebagai bagian
dari ekonomi kreatif di Indonesia.
Pemahaman mengenai definisi dan ruang lingkup televisi dan radio dalam konteks ekonomi
kreatif akan menjadi penentu dalam perencanaan pengembangan televisi dan radio di Indonesia
pada periode 5 tahun mendatang. Dalam merumuskan definisi dan ruang lingkupsebagai salah
satu kegiatan ekonomi kreatif, perlu dirumuskan secara holistik dengan mempertimbangkan
segala aspek yang memaknai subsektor televisi dan radio yang memiliki fungsi media secara luas.
Secara umum, cakupan definisi dan ruang lingkup televisi dan radio dalam konteks ekonomi
kreatif lebih difokuskan ke dalam kegiatan yang memiliki unsur kreatif, yaitu yang berkaitan
dengan konten acara televisi dan radio.

1.1.1 Definisi Televisi dan Radio


Televisi dan radio pada dasarnya merupakan kegiatan penyebaran informasi dan gagasan kepada
publik yang dilakukan secara serentak. Akan tetapi, pada awal masa penemuannya, televisi dan
radio memiliki tujuan yang berbeda. Radio dibuat sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk
memfasilitasi kebutuhan pemerintah dalam menyebarkan informasi secara serentak. Pada saat
itu, fungsi utama radio adalah sebagai alat penyebar informasi semata.
Berbeda dengan radio yang pertama kali dibuat sebagai media penyebar informasi untuk publik,
pada awal masa penemuannya, televisi dikenal sebagai media yang digunakan untuk menampilkan
gambar bergerak yang disertai suara secara serentak kepada publik. Hal ini menjadikan fungsi
utama televisi adalah sebagai salah satu sumber hiburan bagi publik.
Seiring dengan adanya perkembangan industri jurnalistik, pada awal tahun 1950an, televisi mulai
marak digunakan sebagai media penyampaian aspirasi rakyat secara luas. Definisi televisi pun
mulai bergeser menjadi suatu media yang memfasilitasi kultur demokratis pertama bagi publik
agar dapat menyuarakan pendapatnya tanpa terikat oleh peraturan pemerintah.1 Hal ini juga
dipicu oleh semakin maraknya stasiun-stasiun televisi dan radio milik swasta yang menyiarkan
beragam program acara yang tidak terkait dengan kepentingan pemerintah. Untuk mengontrol
hal tersebut, pemerintah di berbagai negara mulai memberlakukan undang-undang yang terkait
dengan peraturan penyiaran konten acara pada media elektronik.
Di Indonesia, definisi televisi dan radio secara umum selalu mengacu ke undang-undang yang
diberlakukan pada masanya. Saat ini, undang-undang yang berlaku terkait dengan penyiaran
adalah Undang-Undang Penyiaran nomor 32 tahun 2002. Dalam UU Penyiaran tersebut terdapat

(1) Harper Collins, 2012

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

beberapa istilah yang terkait dengan televisi dan radio, di antaranya adalah kata-kata siaran
dan penyiaran.
Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau
yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima
melalui perangkat penerima siaran. Sedangkan penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran
melalui sarana pemancaran dan atau sarana transmisi di darat, di laut, atau di antariksa dengan
menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan atau media lainnya, untuk
dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.
Selain istilah siaran dan penyiaran yang terkait dengan industri televisi dan radio, dalam UU
Penyiaran No. 32 Tahun 2002 juga didefinisikan lebih jauh terkait dengan kegiatan penyiaran
televisi dan radio, sebagai berikut ini:

Penyiaran radio adalah media komunikasi


massa dengar, yang menyalurkan gagasan dan
informasi dalam bentuk suara secara umum
dan terbuka, berupa program yang teratur dan
berkesinambungan.
Penyiaran televisi adalah media komunikasi massa
dengar pandang, yang menyalurkan gagasan dan
informasi dalam bentuk suara dan gambar secara
umum, baik terbuka maupun tertutup, berupa
program yang teratur dan berkesinambungan.
Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat dilihat bahwa siaran dan penyiaran merupakan kegiatan
atau proses penyebarluasan dari konten televisi dan radio kepada publik secara serentak. Dalam hal
ini, unsur kretivitas itu sendiri tidak terlalu banyak dilibatkan secara langsung, sehingga kegiatan
penyiaran dan siaran dalam subsektor televisi dan radio di ekonomi kreatif tidak akan terlalu
difokuskan. Oleh karena itu, definisi televisi dan radio secara umum berdasarkan undang-undang
perlu dilakukan penyesuaian lebih lanjut sehingga relevan dengan kontekstual pengembangan
ekonomi kreatif di Indonesia.
Dengan mempertimbangkan empat fungsi utama media kepada publik, yaitu sebagai sumber
informasi, fasilitas hiburan, memberikan pendidikan, serta memberikan unsur persuasi, maka
definisi televisi dan radio dalam konteks ekonomi kreatif sebaiknya mampu mencakup keempat
fungsi tersebut, serta mampu menciptakan atau meningkatkan nilai tambah baik secara ekonomi
maupun secara sosial kepada publik. Oleh karena itu, pengembangan televisi dan radio sangatlah
terkait dengan pengembangan konten televisi dan radio yang terkait dengan pengelolaan gagasan
dan informasi yang dikemas sehingga dapat menghasilkan konten yang menghibur, menginspirasi
dan mendidik bagi para penikmatnya.

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

Berdasarkan pemikiran di atas, maka televisi dalam industri kreatif dapat didefinisikan sebagai
berikut:

Kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan


gagasan dan informasi secara berkualitas kepada
penikmatnya dalam format suara dan gambar yang
disiarkan kepada publik dalam bentuk virtual secara
teratur dan berkesinambungan
Sumber: Focus Group Discussion Subsektor Televisi dan Radio, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
MeiJuni 2014

Sedangkan definisi radio terkait dengan industri kreatif untuk adalah:

Kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan


gagasan dan informasi secara berkualitas
kepadapenikmatnya dalam format suara yang
disiarkan kepada publik dalam bentuk virtual
secara teratur dan berkesinambungan.
Sumber: Sumber: Focus Group Discussion Subsektor Televisi dan Radio, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, MeiJuni 2014

Dalam definisi televisi dan radio di atas, terdapat beberapa kata kunci yang merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dalam menjelaskan definisi televisi dan radio secara lebih mendalam, yaitu:
1. Proses pengemasan yang dimaksud adalah kegiatan pemrograman informasi atau
gagasan yang diajukan sebagai ide agar menjadikonten acara televisi dan radio. Pada
proses pengemasan, unsur kreativitas dinilai memiliki pengaruh dan keterlibatan yang
tinggi dalam upaya menghasilkan konten acara yang berdaya saing;
2. Gagasan yang dimaksud adalah rancangan yang tersusun di pikiran para pencetus ide kreasi
konten acara yang kemudian dapat dituangkan dalam bentuk konsep akhir atau naskah;
3. Informasi yang dimaksud merupakan penerangan, pemberitahuan, kabar atau berita
terkait suatu kejadian yang nantinya akan dikemas menjadi suatu konten acara yang
sifatnya informatif;
4. Berkualitas dalam hal ini merupakan konten acara yang memiliki standar estetika dan
teknis yang baik dengan konten yang sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, baik sebagai
sumber informasi, hiburan, pendidikan, serta unsur persuasi, sehingga dapat memberikan
hiburan, pengetahuan, ataupun dampak sosial dan budaya yang positif bagi masyarakat.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Televisi dan Radio


Menurut Fred Wibowo, dalam bukunya yang berjudul Teknik Produksi Program Televisi (2007),
ruang lingkup substansi dari konten televisi mencakup empat kategori besar, yaitu berita lunak,
program hiburan, permainan, serta musik dan pertunjukan. Keempat kategori besar tersebut
4

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

terbagi lagi menjadi beberapa jenis subkategori sebagai berikut:


1. Kategori Berita Lunak,yaitu jenis konten acara yang dapat dikelompokkan menjadi
beberapa subkategori, meliputi:
a. Current Affair, merupakan konten acara berita yang membahas persoalan kekinian
yang terjadi dalam skala lokal, nasional, maupun internasional;
b. Magazine, merupakan konten acara yang menyajikan berita dengan topik atau tema
yang serupa dengan konten yang seringkali juga ditemukan dalam media cetak majalah;
c. Dokumenter, meliputi acara-acara yang menyuguhkan tayangan yang bersifat
nonfiksi, bertujuan untuk memberikan informasi yang dapat mengedukasi ataupun
menghibur, menyediakan analisis yang cukup dalam dan tajam terhadap suatu subjek;
d. Talkshow, meliputi program acara yang menampilkan satu atau lebih orang untuk
membahas topik tertentu yang dipandu oleh seorang pembawa acara.
2. Kategori Hiburan, yaitu jenis konten acara yang dapat dikelompokkan menjadi beberapa
subkategori, meliputi:
a. Drama dan Komedi, merupakan konten acara yang meliputi cerita fiksi, termasuk
dramatisasi dari peristiwa yang sesungguhnya. Jenis tayangan drama dan komedi
ini dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu drama berseri, sitcom berseri, seri
spesial (mini seri atau drama yang dibuat khusus untuk televisi tertentu), film yang
ditayangkan di televisi, animasi, stand-up comedy, komedi improvisasi, komedi lepas,
dan sketsa komedi;
b. Variety Show, merupakan program acara yang sebagian besar kontennya adalah
pertunjukan (tidak selalu musik atau komedi), yang terdiri dari beberapa kegiatan seni
peran individu seperti menyanyi, menari, atraksi akrobat, sketsa komedi, pertunjukan
monolog, atau sulap;
c. General Entertainment dan Human Interest, merupakan program acara yang
membahas seputar dunia hiburan serta orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Contoh paling populer dari program jenis ini adalah acara gosip selebriti dalam dan
luar negeri, festival, acara penghargaan, atau peragaan busana.
3. Kategori Permainan, yaitu jenis konten acara yang dapat dikelompokkan menjadi
beberapa subkategori, meliputi:
a. Game Show, merupakan program acara yang memfasilitasi kemampuan unjuk bakat
atau perlombaan;
b. Reality Show, merupakanprogram acara yang dibuat tanpa menggunakan skrip
drama atau situasi komedi. Program seperti ini menampilkan sepenuhnya kejadian
yang sesungguhnya, dan biasanya melibatkan publik atau individu yang bukan
berprofesi di industri televisi/radio/film.
4. Kategori Musik dan Pertunjukan, yaitu jenis konten acara yang dapat dikelompokkan
menjadi beberapa subkategori, meliputi:
a. Pertunjukan, merupakan jenis program acara yang menampilkan kemampuan
seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik di studio ataupun di luar studio,
di dalam ruangan ataupun di luar ruangan;
b. Klip Musik, adalah kategori konten acara yang menyiarkan beberapa kumpulan
klip musik;
c. Program Klip Musik, merupakan program acara yang tidak hanya menyiarkan klip
musik, tetapi juga memiliki segmen interaktif atau pemrograman.
BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

Fred Wibowo: Tokoh Media, Seni, dan


Kebudayaan
Fred Wibowo adalah seorang praktisi media
yang juga berprofesi sebagai penulis berbagai
macam buku yang cukup berperan dalam
dunia penyiaran, seni, dan kebudayaan.
Salah satu bukunya yang paling terkenal di
Indonesia adalah Teknik Produksi Program
Televisi yang diterbitkan pada tahun 2007
oleh PINUS Publisher. Buku ini kemudian
dijadikan salah satu pedoman bagi para
produser dan program creator televisi
tentang bagaimana menciptakan program
televisi yang baik, dengan seluruh latar
belakang persiapannya. Fred saat ini aktif
berpartisipasi dalam Rumah Produksi dan
Pusat Pelatihan Audio Visual SAV Puskat di
Yogyakarta. Selain itu, beliau juga sempat
berperan dalam industri perfilman sebagai
sutradara dan produser.
Gambar Sampul Buku Teknik Produksi Program Televisi
Sumber: siper.mmtc.ac.id

Adapun untuk konten radio, ruang lingkup dari materi yang disiarkannya sendiri dibedakan
berdasarkan beberapa jenis kategori sebagai berikut ini:
1. Berita, yaitu konten-konten acara yang menyiarkan suatu kejadian atau situasi tertentu
baik yang terjadi di wilayah lokal, nasional, maupun internasional;
2. Siaran lepas, yaitu konten acara yang dibawakan secara bebas oleh penyiar dengan satu
tema tertentu yang telah ditentukan;
3. Siaran dengan naskah, yaitu konten acara yang sepenuhnya mengacu pada naskah yang
telah disusun sebelumnya tanpa adanya improvisasi dialog oleh penyiar;
4. Musik, yaitu konten radio yang hanya terdiri dari beberapa kumpulan lagu tanpa adanya
konten tambahan dari penyiar.
Sedangkan di Indonesia sendiri, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam keputusan KPI yang
berlaku, yakni Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) KPI, yakni
Pasal 21 P3 dan Pasal 33 39 SPS, menyatakan bahwa konten penyiaran dapat diklasifikasikan
berdasarkan penonton yang kemudian disebut sebagai rating penonton, sebagai berikut:
1. Kategori P (Pra-sekolah), untuk anak umur 2 hingga 6 tahun;
2. Kategori A (anak-anak), untuk usia 7 hingga 12 tahun;
3. Kategori R (remaja), untuk usia 13 hingga 17 tahun;
4. Kategori D (dewasa), untuk usia di atas 18 tahun;
5. Kategori SU (semua umur), untuk seluruh kelompok usia di atas 2 tahun.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Berdasarkan kategori-kategori pengelompokan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka ruang


lingkup konten televisi dapat digambarkan seperti pada Gambar 1-1.
Gambar 1-1 Ruang Lingkup Konten Televisi dan Rating Penonton

Sedangkan, kategori pengelompokan ruang lingkup konten radio sendiri dapat digambarkan
seperti pada Gambar 1-2.
Gambar 1-2 Ruang Lingkup Substansi Radio dan Rating Penonton

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

Berdasarkan ruang lingkup konten pada Gambar 1-1 dan Gambar 1-2, maka dapat dilihat bahwa
untuk setiap jenis program akan memiliki sasaran segmen penikmat konten televisi dan radio
yang dibedakan berdasarkan rentang umur, yang merupakan target pengembangan konten yang
menjadi fokus pengembangan konten televisi dan radio dalam konteks pengembangan industri
kreatif di Indonesia.

1.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio Dunia
Sebelum televisi dan radio ditemukan, proses pertukaran informasi dilakukan hanya sebatas dua
arah melalui telegram yang ditemukan pada tahun 1837. Telegram merupakan satu-satunya bentuk
komunikasi dua arah yang digunakan pada saat itu, dan cukup populer untuk menyampaikan
berbagai informasi dan pesan baik yang bersifat kenegaraan maupun pribadi. Lama-kelamaan,
berangkat dari adanya kebutuhan pemerintah untuk menyampaikan informasi secara serentak
kepada publik dalam waktu yang singkat, telegram dinilai sudah tidak mampu lagi memfasilitasi
hal tersebut, sehingga perlu untuk mencari solusi dari kendala yang dihadapi.
Kemudian pada tahun 1876, Alexander Graham Bell berhasil menemukan alat komunikasi media
secara elektronik melalui telepon, yang pada saat itu merupakan terobosan baru media komunikasi,
di mana jalur informasi bisa diberikan secara real time dalam dua arah. Telepon yang ditemukan
oleh Bell, kemudian mengundang minat David Sarnoff, seorang manajer di perusahaan telegram,
American Marconi, untuk mengadopsi teknologi nirkabel yang digunakan telepon pada telegram,
sehingga informasi yang disebarkan dengan telegram dapat disiarkan secara cepat.
Jika dirunut berdasarkan waktu, maka perkembangan televisi dan radio ini dapat dilihat pada
beberapa periodisasi, yaitu pada Era Pra Perang Dunia I; Era Perang Dunia I (19141918); Pasca
Perang Dunia I; Era Perang Dunia II (19391945); Era Pasca Perang Dunia II;danEra Modern.
Era Pra Perang Dunia I. Sebelum Perang Dunia I terjadi, Reginald Fessenden dengan bantuan
perusahaan General Electric Corporation Amerika, berhasil menciptakan pembangkit gelombang
radio kecepatan tinggi yang dapat mengirim suara manusia dan juga musik. Sementara itu,
tabung hampa udara yang ketika itu bernama audion berhasil pula diciptakan. Penemuan audion
menjadikan penerimaan gelombang radio menjadi lebih mudah. Akan tetapi, pemerintah dan
publik masih belum menilai radio sebagai suatu media yang cukup teruji dalam menyampaikan
informasi dengan cepat dan akurat.
Kepopuleran dan pentingnya peran radio dalam menyampaikan pesan secara serentak kepada
publik mulai diakui pada tahun 1909 ketika informasi yang dikirimkan melalui radio berhasil
menyelamatkan seluruh penumpang kapal laut yang mengalami kecelakaan dan tenggelam.
Berdasarkan peristiwa tersebut, radio dinilai sebagai medium yang teruji dalam menyampaikan
informasi yang cepat dan akurat, sehingga pemerintah pun mulai melirik radio.
Era Perang Dunia I (19141918). Pada masa Perang Dunia I, Sarnoff menerbitkan sebuah
memoyang menyatakan bahwa radio music box mulai bisa dijual dan dimiliki secara pribadi oleh
publik.Secara resmi, badan militer angkatan laut memiliki hak penuh untuk mengelola penyiaran

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

nirkabel. Pada masa tersebut, radio lebih banyak digunakan oleh militer dan pemerintah untuk
kebutuhan penyampaian informasi dan berita internal saat Perang Dunia I berlangsung.

Foto Stasiun Radio pada Perang Dunia I


Sumber: Wikipedia

Ketika Amerika mulai terlibat ke dalam Perang Dunia I, stasiun radio milik swasta terpaksa
dihentikan hak siarnya dan sebagian diambil alih kepemilikannya oleh pemerintah. Bahkan,
pemerintah pun menetapkan bahwa selama perang dunia berlangsung, masyarakat dilarang memiliki
stasiun radio pribadi ataupun receiver radio. Sehingga, pada saat Perang Dunia I berlangsung,
radio lebih banyak dimanfaatkan para penguasauntuk tujuan yang berkaitan dengan ideologi
dan politik secara umum di internal pemerintahan. Hingga setelah Perang Dunia I hampir usai,
masyarakat mulai menuntut keterbukaan informasi terkait kondisi dan perkembangan Perang
Dunia I dari pemerintah dan militer. Pada tahun 1919, pemerintah Amerika mulai mengumumkan
status konflik Perang Dunia I yang telah berakhir, dan Marconi pun berhasil membuat negosiasi
peraturan akan kebebasan publik untuk terlibat di dunia penyiaran, di bawah pengawasan
pemerintah sebagai syarat utamanya.
Pasca Perang Dunia I. Stasiun radio yang pertama kali muncul di Amerika dan bahkan di
dunia, adalah KDKA pada tahun 1920.2 Stasiun radio KDKA menjadi ikon pelopor stasiun radio
swasta di dunia, hingga akhirnya stasiun radio milik pribadi lainnya mulai bermunculan. Hingga
pada tahun 1926, sebuah perusahaan manufaktur radio berhasil mengembangkan teknologi
yang membuat sistem instalasi radio menjadi lebih sederhana, sehingga dapat digunakan secara
pribadi di rumah penduduk. Penemuan tersebut memiliki dampak signifikan pada kepopuleran
radio sebagai alat media masa di era pasca Perang Dunia I. Hal ini ditunjukan dengan jumlah

(2) Suseno, Agi, Sejarah Penyiaran Dunia,[http://asiaaudiovisualrb09agisuseno.wordpress.com/sejarah-penyiarandunia/], April 2009

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

penjualan pesawat radio yang mencapai 17 juta unit pada periode 1925 hingga 1930.Saat itu
pendengar radio mayoritas merupakan ibu rumah tangga yang memanfaatkan radio sebagai
media hiburan yang menyiarkan berbagai macam lagu populer ataupun berita penting. Walaupun
masih memiliki keterbatasan jangkauan penyiaran, akan tetapi radio mulai dinilai sebagai pesaing
utama media cetak pada saat itu.
Adapun stasiun radio yang cukup popular di Inggris, yang hingga kini masih menguasai dunia
penyiaran, mulai didirikan, yaitu British Broadcasting Company (BBC) oleh General Post Office
(GPO) pada tahun 1922. Pembentukan BBC ini merupakan gabungan dari enam perusahaan
telekomunikasi, di antaranya adalah Marconi (perusahaan komunikasi radio), Metropolitan
Vickers (MetroVick), General Electric, Western Electric, dan British Thomson-Houston. pada saat
itu, konten drama radio sangat populer, hingga di tahun 1929, BBC memperoleh 6000 naskah
drama radio yang dikirimkan untuk disiarkan.3

Logo KDKA Radio


www.davey.com

KDKA Sebagai Pelopor Stasiun Radio di Dunia


KDKA Sebagai Pelopor Stasiun Radio di Dunia KDKA merupakan stasiun radio tertua di
Amerika dan di dunia. Banyak orang mempertanyakan apakah KDKA merupakan sebuah
singkatan dan memiliki makna tertentu, tapi ternyata KDKA sendiri diambil dari sebuah
daftar kode untuk kapal angkatan laut.Stasiun radio KDKA didirikan oleh seorang ahli teknik
ternama, bernama Frank Conrad pada tahun 1920 di Pittsbrugh AS, yang secara tidak sengaja
bereksperimen membangun sebuah pemancar radio di garasi rumahnya.4 Pada saat itu, Conrad
menyiarkan lagu-lagu, hasil pertandingan olahraga, serta menyiarkan instrumen musik yang
dimainkan oleh putranya sendiri. Kalimat yang pertama kali disiarkan adalah This is KDKA,
of the Westinghouse Electric and Manufacturing Company, in East Pittsburgh, Pennsylvania.
We shall now broadcast the election returns. Kalimat pembuka yang sangat ikonik tersebut
disiarkan pertama kali oleh Leo Rosenburg pada 2 November 1920.5 Dalam waktu singkat,
pendengar stasiun radio yang dibuat oleh Conrad pun meningkat dengan pesat, seiring dengan
meningkatnya penjualan pesawat radio pada masa tersebut. Hingga saat ini KDKA masih aktif
mengudara di jaringan 1020kHz dan menjadi stasiun radio pelopor yang kini dioperasikan di
bawah manajemen CBS Radio.

(3) http://en.wikipedia.org/wiki/BBC, diakses pada 23 Juli 2014


(4) Suseno, Agi, Sejarah Penyiaran Dunia,[http://asiaaudiovisualrb09agisuseno.wordpress.com/sejarah-penyiarandunia/], April 2009
(5) Wikipedia, KDKA (AM), [http://en.wikipedia.org/wiki/KDKA_(AM)]

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Di era pasca Perang Dunia I, prinsip televisi yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan, Paul
Nipkow dari Jerman pada tahun 1884,akhirnya berhasil direalisasikan pada tahun 1928 oleh
Vladimir Zworkyn di Amerika Serikat.Zworkyn menemukan tabung kamera atau iconoscopeyang
mampu mengubah gambar dari bentuk gambar optis kedalam sinyal elektronis untuk selanjutnya
diperkuat dan dipancarkan kedalam gelombang radio. Dengan bantuan rekannya, Philo Farnsworth,
Zworkyn berhasil menciptakan pesawat televisi pertama yang dipertunjukkan kepada umum
pada pertemuan Worlds Fair di tahun 1939. Tujuan dibuatnya televisi pada saat itu adalah
sebagai alat penyedia hiburan berupa gambar bergerak kepada publik. Akan tetapi, respon publik
terhadap penemuan televisi ini, sayangnya tidak terlalu tinggi. Hal ini disebabkan oleh harga
pesawat televisi yang dinilai relatif masih sangat mahal bagi sebagian besar masyarakat. Hal ini
membuat orang-orang yang bekerja di industri televisi tidak yakin bahwa televisi akan mampu
berkembang pesat di dunia media.
Era Perang Dunia II (19391945). Memasuki era Perang Dunia II, perkembangan sistem
frekuensi radio sempat terhenti seiring dengan terhambatnya perkembangan teknologi. Sistem
radio yang populer digunakan pada saat itu adalah frekuensi Amplitudo Modulasi (AM), di
mana kualitas suara yang dimiliki masih terbatas jika dibandingkan dengan kualitas frekuensi
radio FM saat ini. Baru pada pertengahan 1930an, Edwin H. Amstrong berhasil menemukan
radio yang menggunakan frekuensi FM. Akan tetapi, meletusnya Perang Dunia II menghambat
pengembangan frekuensi radio FM untuk dipopulerkan kepada masyarakat. Faktor lain yang
menghambat perkembangan radio FM pada saat itu adalah ketertarikan industri yang mulai
berkurang terhadap radio yang disebabkan oleh mulai meningkatnya kepopuleran televisi.6 Industriindustri besar lebih tertarik untuk berpartisipasi dalam pengembangan televisi di ranah publik.
Meskipun terhambat dan cenderung berlangsung sangat lambat, akan tetapi penyempurnaan
teknologi baru pemrograman televisi dapat diselesaikan ketika Perang Dunia II telah berakhir.
Hal ini tentunya berhasil mendorong kemajuan industri televisi dalam melakukan proses produksi
konten acaranya. Kamera televisi yang baru dikembangkan tidak lagi membutuhkan banyak cahaya
untuk dapat menangkap kualitas gambar yang baik, sehingga para pengisi acara di studio tidak
lagi terganggu dengan alat pencahayaan yang berlebihan. Pengembangan lain yang ditemukan
adalah ukuran layar televisi yang lebih besar, serta terdapat lebih banyak program yang tersedia
dan sejumlah stasiun televisi lokal pun mulai membentuk jaringan.
Adapun stasiun televisi jaringan yang pertama kali dibuat adalah WRGB, sebuah stasiun televisi
yang berlokasi di Albany, New York, USA. WRGB memulai percobaan penyiaran pertamanya
dengan dukungan penuh oleh perusahaan General Electric pada awal tahun 1928.7 Hingga
di akhir tahun 1928, program televisi harian pertama pun mulai disiarkan secara reguler oleh
WRGB hingga sebelum Perang Dunia II berakhir. Kini, WRGB masih mengudara di bawah
merek dagang CBS 6 dan mendominasi siaran berita televisi di Amerika dengan stasiun CBS 6
News andalannya. Sedangkan di Inggris, BBC sendiri memulai siaran percobaan untuk televisi
pada tahun 1932, hingga akhirnya mulai menyiarkan programnya secara reguler pada tahun
1934. Namun sayangnya, pada 1939 hingga 1946, siaran televisi dihentikan karena adanya
Perang Dunia II.

(6) http://asiaaudiovisualrb09agisuseno.wordpress.com/sejarah-penyiaran-dunia/
(7) http://en.wikipedia.org/wiki/WRGB, July 2014

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

11

Logo Stasiun TV Jaringan Pertama di Dunia


Sumber: Logopedia

Era Pasca Perang Dunia II. Mulai akhir tahun 1945, setelah Perang Dunia II berakhir dan
kesejahteraan masyarakat mulai mengalami peningkatan, harga pesawat televisi pun mulai dirasa
tidak terlalu tinggi. Masyarakat pun mulai beralih ke televisi sebagai media penyaji hiburan
sehari-hari. Hal ini tentunya membuat jumlah stasiun televisi mengalami peningkatan yang
cukup pesat, dan jumlah rumah tangga yang memiliki pesawat televisi pribadi pun mencapai
lebih dari 50% dari total jumlah rumah tangga.
Perkembangan industri televisi juga dipicu oleh industri televisi di AS yang mulai mengikuti model
industri radio untuk membentuk jaringan. Stasiun televisi lokal selain menayangkan program
lokal juga bekerjasama dengan tiga televisi jaringan yaitu CBS, NBC, dan ABC. Sebagaimana
radio, ketiga televisi jaringan itu juga menjadi sumber program utama bagi stasiun afiliasinya.

Logo Stasiun Televisi Terpopuler di Amerika


Sumber: teamdoctorsblog.com

Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah stasiun radio dan televisi di dunia, maka kebutuhan
bisnis dan komersil di industri televisi dan radio pun semakin tinggi. Hal ini kembali membuat
makna kata televisi dan radio mengalami perluasan menjadi tidak hanya sebatas media penyebaran
berita dan hiburan, tetapi juga informasi terkait kebutuhan komersil atau iklan.

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Era Modern. Seiring dengan perkembangan teknologi dan penemuan internet pada akhir tahun
1980an, cakupan industri sektor televisi dan radio semakin meluas.Penyiaran informasi dan
hiburan mulai dilakukan tidak hanya melalui jaringan radio/satelit/kabel, tetapi juga melalui
internet.Internet Protocol Television (IPTV) ditemukan pertama kalinya pada 1995 oleh Judith
Estrin dan Bill Carrico. Terdapat tiga jenis klasifikasi IPTV yang ada hingga saat ini, yaitu Live
Streaming, Time-Shifted TV, dan Video on Demand (VOD). Kemudian, perusahaan radio
internet AudioNet untuk pertama kalinya menyiarkan secara langsung konten webcast dari
WFAA-TV dan KCTU-LP pada tahun 1998.

Logo Web Streaming Media


Sumber: www.fxsound.com

Disamping perkembangan era multimedia yang semakin pesat, pada September 1997, National
Geographic Channels mulai secara resmi diluncurkan di Inggris, Eropa, dan Amerika. Pada
awal kemunculannya, National Geographic Channels dinilai berhasil mengangkat konten
pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai tren yang berbeda di dunia penyiaran.8 Hingga dua

(8) http://en.wikipedia.org/wiki/National_Geographic_Channel, diakses pada 23 Juli 2014

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

13

tahun kemudian, pada 1999, BBC juga ikut meluncurkan program bertema pendidikan miliknya,
BBC Learning yang kemudian kini dikenal sebagai BBC Knowledge. Dengan membidik pasar
usia anak-anak hingga dewasa, BBC Knowledge mencoba membuat proses belajar menjadi lebih
menyenangkan dan tidak membosankan. Akan tetapi, sayangnya hal tersebut tidak berhasil. Hal
ini ditandai dengan semakin rendahnya rating yang diperoleh BBC Knowledge. Hingga pada
tahun 2001, BBC mencoba meluncurkan kembali BBC Knowledge dengan pengemasan yang
berbeda. Namun, hal tersebut tetap tidak dapat mendongkrak rating yang rendah.9 Puncaknya
pada 2002, BBC Knowledge terpaksa dihentikan.
Semakin pesatnya perkembangan teknologi media digital, hal ini tentunya membuat definisi televisi
dan radio menjadi jauh lebih luas lagi. Titlaw (2012), seorang pakar media internasional,kemudian
memaknai penyiaran televisi dan radio sebagai suatu kegiatan yang menyuguhkan informasi dan
hiburan secara audio dan audio-visual kepada seluruh publik, terlepas dari jaringan distributor
yang digunakannya. Salah satu contoh kesuksesan televisi berbasis web baru-baru ini adalah
keberhasilan yang dicapai oleh Netflix pada tahun 2013,dengan menoreh sejarah sebagai stasiun
televisi berbasis web pertama yang mampu meraih nominasi Primetime Emmy Award untuk
drama seri House of Cards, Arrested Development, dan Hemlock Grove pada Primetime Emmy
Awards ke-65.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Televisi dan Radio Indonesia


Perkembangan industri televisi dan radio di Indonesia dimulai ketika Angkatan Laut Kerajaan
Belanda pertama kali mengoperasikan fasilitas radio komunikasi di Sabang pada tahun 1911.
Pada saat itu, fasilitas radio digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengatur lalu lintas kapal
laut yang melintas Selat Malaka, jalur perdagangan yang sangat padat pada masanya. Setelah
Perang Dunia I usai, tepatnya pada tahun 1925, Batavia Radio Society atau Radio Batavia
Vereniging (BRV) mulai didirikan di Jakarta. BRV merupakan sekelompok broadcaster yang
mulai mengudarakan siaran tetap berupa pemutaran musik dari luar negeri. Lahirnya BRV inilah
yang mulai mengawali keberadaan radio siaran di Hindia Belanda (Indonesia). Salah satu stasiun
radio milik swasta yang paling popular di Hindia Belanda adalah Solosche Radio Vereniging
(SRV) yang didirikan oleh Bumi Putera di Solo pada tahun 1933.10
Pada 8 Maret 1942, saat Belanda menyerahkan diri kepada Jepang, radio siaran yang ada
dihentikan sepenuhnya. Kemudian Jepang mendirikan lembaga penyiaran baru yang dinamakan
Hoso Kanri Kyoko dengan cabang-cabangnya di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang,
Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, dan Malang. Kedelapan stasiun daerah inilah yang kemudian
menjadi embrio pendirian Radio Republik Indonesia (RRI). Setelah masa ini, kemudian televisi
dan radio di Indonesia berkembang dalam beberapa era, yaitu: Era Kemerdekaan Indonesia (Orde
Lama, 19451965); Orde Baru (19661998); Era Reformasi.
Era Kemerdekaan Indonesia (Orde Lama, 19451965). Di awal masa kemerdekaan, RRI mulai
didirikan oleh pemerintah Indonesia sebagai stasiun radio resmi pertama milik pemerintah pada
11 September 1945. Pada masa itu, RRI mempunyai peran penting dalam mengampanyekan
proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 kepada dunia. Berkat siaran

(9) http://en.wikipedia.org/wiki/BBC_Knowledge, diakses pada 23 Juli 2014


(10) http://id.wikipedia.org/wiki/Nederlandsch-Indische_Radio_Omroep_Maatschappij, Februari 2014

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

radio inilah, dunia mengetahui informasi terkait proklamasi kemerdekaan Indonesia, sehingga
dukungan dan rasa simpati pun serta merta mengalir dari negara-negara tetangga. Sejarah
momen kemerdekaan ini diukir oleh para penyiar radio senior, Ronodipoero, beserta pemimpin
redaksinya, Bachtiar Lubis, yang mengudarakan naskah proklamasi dan mempropagandakan
kemerdekaan bangsa Indonesia secara terus menerus dari waktu ke waktu, mulai dari pukul
19.00 WIB tanggal 17 Agustus 1945.

Logo Radio Republik Indonesia (RRI)


Sumber: trisaktimarketingclub.com

Moehamad Joesoef Ronodipoero

Illustrasi
Moehamad Joesoef Ronodipoero
Sumber: LP3ES, 2012

Moehamad Joesoef Ronodipoero atau Yusuf Ronodipuro,


adalah seorang duta besar Indonesia yang awalnya dikenal
sebagai seorang penyiar kemerdekaan Republik Indonesia
berkat perannya dalam menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia ke seluruh dunia melalui Radio Hoso K yoku. Saat
itu, Ronodipoero tidak mengetahui akan serangan yang dilakukan oleh tentara Amerika kepada Jepang. Tiba-tiba saja
siaran Radio Hoso K yoku dihentikan tanpa alasan yang jelas.
Baru setelah Mochtar Loebis, seorang sastrawan dan wartawan
yang dipercaya untuk menangani pemberitaan mancanegara,
memberikan kabar tersebut pada Ronodipoero, Ronodipoero
pun berangkat ke markas Menteng 31 untuk mendiskusikan
strategi perebutan Radio Hoso K yoku. Setelah sistem penyiaran
dapat diambil alih sepenuhnya, Ronodipoero yang pada saat
itu masih berusia 26 tahun pun mulai menyiarkan berita
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam bahasa Inggris ke
seluruh dunia. Berkat jasa Ronodipoero ini, seluruh dunia
pun mengetahui peristiwa bersejarah kemerdekaan Indonesia
pada 17 Agustus 1945. Tidak lama setelah peristiwa bersejarah
tersebut, bersama dengan pimpinan-pimpinan radio daerah,
Ronodipoero pun turut berperan sebagai salah seorang pendiri
Radio Republik Indonesia pascamerdeka, hingga akhirnya
merintis karir sebagai duta besar Indonesia untuk beberapa
negara di Eropa.

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

15

Sejarah sistem penyiaran televisi di Indonesia dimulai pada 17 Agustus 1962. Pada saat itu,
Televisi Republik Indonesia (TVRI) lahir dan untuk pertama kalinya mulai beroperasi. Siaran
pertama dilakukan untuk menyiarkan peringatan hari ulang tahun ke-17 proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia dari halaman Istana Merdeka Jakarta. Pada awalnya TVRI adalah proyek
khusus untuk menyukseskan penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta. Siaran TVRI pada saat
itu hanya terkait seputar Asian Games yang dikoordinir oleh Organizing Committee Asian Games
IV, di bawah naungan Biro Radio dan Televisi Departemen Penerangan. Mulai 12 November
1962,TVRI mengudara secara reguler setiap hari dengan variasi konten yang berbeda. Pada 1
Maret 1963 TVRI mulai menayangkan iklan seiring dengan ditetapkannya TVRI sebagai televisi
berbadan hukum yayasan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 215 Tahun 1963.
Orde Baru (19661998). Pergeseran kekuasaan politik ekonomi di Indonesia turut memengaruhi
industri televisi dan radio di Indonesia. Pada masa pemerintahan orde baru, RRI sebagai satusatunya radio siaran milik pemerintah, sempat mengalami konflik ketika RRI diperebutkan oleh
Partai Komunis Indonesia(PKI) dan militer untuk menyiarkan propagandanya. Hingga akhirnya,
RRI menjadi media utama yang digunakan untuk menyebarkan kepentingan-kepentingan politik
pemerintah pusat dan daerah.
Mengacu pada UU No. 5 Tahun 1964, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor
55 Tahun 1970, tentang Radio Siaran Non Pemerintah. Dalam peraturan tersebut, konten siaran
radio non pemerintah diwajibkan memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai alat pendidik, penerangan,
hiburan, bukan alat untuk kegiatan politik.11 Akan tetapi, akomodasi yang diberikan oleh
pemerintah ini sifatnya menjadi sangat terbatas, karena peran politis radio dan televisi swasta
menjadi ditiadakan sama sekali. Siaran-siaran yang sifatnya politis hanya diberikan kepada RRI
dan TVRI, yang selanjutnya di-relay oleh televisi dan radio swasta. Selain itu, sistem kepemilikan
media hanya terkonsentrasi pada sejumlah golongan yang berpengaruh di masa pemerintahan
Orde Baru. Hal ini ditunjukkan ketika anak pertama Presiden Soeharto, Siti Hardianti Rukmana
yang ditunjuk sebagai ketua umum Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI)
yang bertugas mengelola penyiaran radio swasta di Indonesia.
Memasuki tahun 1988, industri televisi dan radio di Indonesia mulai mengalami perkembangan
yang pesat ketika stasiun televisi dan radio milik swasta mulai berdiri. Pada saat itu, pemerintah
mulai mengijinkan televisi swasta beroperasi di Indonesia. Stasiun televisi milik swasta yang
pertama kali didirikan di Indonesia adalah RCTI.Tidak lama setelah RCTI didirikan, stasiun
televisi swasta lainnya pun mulai bermunculan dalam waktu yang singkat, di antaranya adalah
SCTV (1989), TPI (1990), ANTV (1993), INDOSIAR (1995),dan sebagainya.Untuk dapat
mengimbangi persaingan dengan televisi swasta, TVRI pun mulai mencoba berinovasi dengan
menghadirkan konten yang unik dan berbeda. Salah satu konten yang cukup ikonik pada saat
itu adalah program Berpacu Dalam Melodi (BDM) yang diciptakan pada tahun 1988 oleh Ani
Sumadi. Program BDM juga lah yang membawa nama Koes Hendratmo mulai populer di Indonesia.
Adapun konten-konten unggulan yang sarat nilai pendidikan dan inspirasi pada saat itu adalah
Aneka Ria Safari di tahun 1980an, serta Titian Muhibah yang sarat nilai budaya di tahun 1990.

(11) Suranto dan Haryanto, 2007:14

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Disamping tren perkembangan munculnya stasiun televisi swasta, televisi berlangganan pun sudah
mulai disiarkan oleh PT Media Nusantara Citra (MNC) dengan mendirikan anak perusahaan
Skyvision pada Agustus 1988. Akan tetapi, karena tarif berlangganan yang cukup tinggi, pelanggan
Skyvision sendiri masih sangat minim, dan hanya digunakan oleh golongan menengah ke atas.12
Kemudian operator televisi berlangganan pertama kali, Indovision pun secara resmi diluncurkan
oleh Skyvision di Indonesia pada tahun 1994, setelah melalui proses perijinan yang panjang.
Lalu menyusul didirikannya televisi kabel yaitu Kabelvision di tahun 1994, persaingan di dunia
televisi pun semakin ketat.

Foto Para Pemain Drama Seri Si Doel Anak Sekolahan


Sumber: soulovart.blogspot.com

(12) http://id.wikipedia.org/wiki/Televisi_berlangganan, diakses pada 23 Juli 2014

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

17

Masing-masing stasiun televisi swasta kemudian berlomba-lomba untuk menyuguhkan acara


yang menarik dan kreatif. Akan tetapi, RCTI tetap menjadi stasiun televisi pelopor yang merajai
dunia pertelevisian swasta di Indonesia dengan program-program unggulannya yang kreatif
dan menarik. Seputar Indonesia, Kuis Kotak Katik, tayangan-tayangan serial drama populer
mancanegara, Si Doel Anak Sekolahan, dan Keluarga Cemara, merupakan beberapa program
unggulan milik RCTI. Kesuksesan RCTI ini yang kemudian dicoba diikuti jejaknya oleh stasiun
televisi swasta lainnya, dengan menghadirkan konten-konten yang relatif serupa untuk menyaingi
konten-konten unggulan RCTI.
Hal ini tentunya membuat TVRI menjadi semakin tertekan dalam persaingan industri pertelevisian,
ditambah lagi, pada tahun 1981, dengan berbagai alasan politis TVRI tidak diijinkan lagi
menayangkan iklan. Seiring dengan perkembangan jumlah stasiun televisi swasta di Indonesia,
pada tahun 1997 DPR-RI akhirnya menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Penyiaran
yang kemudian disahkan oleh Presiden menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1997 Tentang
Penyiaran, pada tanggal 29 September 1997.
Ketatnya persaingan industri televisi swasta di Indonesia memicu para pelaku usaha untuk
semakin kreatif menciptakan konten-konten yang menarik dan kompetitif. Pada masa inilah,
penayangan hak siar konten acara luar negeri mulai gencar dilakukan dan meraih respon yang
positif dari para pemirsa-nya. Saat itu, konten serial drama seperti telenovela yang dipopulerkan
oleh SCTV, hingga serial drama produksi dalam negeri (sinetron) pun marak ditayangkan hampir
di seluruh stasiun televisi pada jam tayang yang hampir bersamaan. Jenis penonton yang dibidik
untuk segmen tayangan serial drama ini mayoritas adalah ibu rumah tangga yang tidak bekerja
dan menghabiskan banyak waktunya di rumah. Tak heran apabila iklan-iklan yang disuguhkan
di sela-sela program acara tidak luput dari produk-produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Era Reformasi. Masa reformasi yang diawali dengan demo dan kerusuhan besar-besaran di
tahun 1998, merupakan salah satu titik di mana media juga ikut mulai menuntut kebebasan
dalam berkarya. Berkembangnya ruang gerak media penyiaran pada masa reformasi tentunya
memberikan pengaruh besar kepada peningkatan jumlah pemodal yang berinvestasi di industri
tersebut. Pergerakan reformasi juga memicu pergeseran kepemilikan bisnis radio dan televisi
di Indonesia yang ditunjukan dengan mulai maraknya para pengusaha yang terjun ke bidang
media penyiaran.

Logo Stasiun Televisi Swasta Indonesia


Sumber: infoindonesiakita.com

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Perubahan lain yang cukup terlihat adalah dengan direvisinya UU Penyiaran yang baru, UU
Penyiaran No. 32 Tahun 2002. Namun, hal tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan
terhadap industri televisi di Indonesia. Pemilik stasiun televisi swasta masih didominasi oleh
segelintir elit yang memiliki pengaruh cukup tinggi di pemerintahan. Akan tetapi, apabila
dibandingkan dengan UU Penyiaran sebelumnya, revisi UU Penyiaran yang dilakukan dirasa
jauh lebih demokratis. Hal ini terlihat dari diakuinya empat macam lembaga penyiaran, yaitu
lembaga penyiaran publik, komunitas, swasta, dan berlangganan, serta didirikannya juga lembaga
independen perwakilan publik yang bertindak sebagai regulator sistem penyiaran yang berlaku.
Tren konten acara yang disuguhkan oleh televisi swasta yang baru bermunculan pun mulai bergerak
ke arah talk show dan variety show komedi. Acara variety show yang diadaptasi dari konten luar
negeri pun mulai menjadi tren baru yang mendominasi sebagian besar stasiun televisi, seperti
salah satu contoh program yang sangat populer pada saat itu adalah Ekstravaganza milik Trans
TV. Bukan hanya variety show yang sifatnya lucu, tetapi beberapa rumah produksi mulai berani
bereksperimen dengan memberikan tayangan reality show yang cukup kontroversial, seperti Dunia
Lain, Akademi Fantasi Indosiar, dan Termehek-Mehek. Acara-acara yang dinilai kontroversial
dan berani ini ternyata berhasil menjadi acara yang banyak diminati penonton pada saat itu.
Hal yang sama juga terjadi pada industri radio. Konten acara seperti dongeng cerita hantu serta
reality show yang dinilai usil dengan mengerjai pendengarnya, secara spontan pun menjadi favorit
sebagian stasiun radio. Di Bandung, cerita ber-genre horor, Nightmare Side, sempat menjadi acara
primadona yang mampu meraup jumlah pendengar yang cukup tinggi. Hingga akhirnya beragam
kritikan pedas muncul terkait acara-acara yang dinilai memberikan dampak buruk psikologis
pada para pendengarnya serta penyalahgunaan informasi pribadi milik para pendengar, maka
acara seperti ini mulai dikurangi.
Adapun pada era peralihan sinyal analog menjadi sinyal digital sudah mulai merambah dunia
media Indonesia, Kabelvision pun mengeluarkan merek dagang baru dengan nama Digital1,
yang menggunakan sinyal digital sebagai jaringan penyiarannya. Kemudian pada tahun 2007,
Kabelvision bergabung dengan Digital1 di bawah nama First Media.

Logo First Media


Sumber: www.rizafirli.com

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

19

Perkembangan teknologi internet yang sangat pesat menjadi suatu peluang sekaligus ancaman
bagi industri televisi dan radio bila tidak dimanfaatkan secara optimal. Dengan pemanfaatan
teknologi internet yang baik oleh industri media, maka proses penetrasi pasar media televisi dan
radio untuk menembus pasar internasional pun akan menjadi lebih mudah.
Mulai bergesernya kanal televisi dan radio di Indonesia menjadi media multi-platform ditandai
dengan meningkatnya pengguna layanan streaming seperti Youtube, Vimeo, Netflix, serta
webstreaming lainnya yang menyiarkan konten-konten acara televisi dan radio di Indonesia.
Bahkan kini, sebagian besar situs resmi stasiun televisi dan radio telah menyediakan layanan
streaming konten-konten acaranya. Adapun stasiun televisi swasta di Indonesia yang memanfaatkan
media digital sebagai strategi utamanya dalam melakukan penetrasi dan perluasan pasar, adalah
NET TV. Sebelum NET TV mulai mengudara sebagai salah satu stasiun televisi berjaringan,
NET TV telah terlebih dahulu menjaring pasar global dengan memanfaatkan streaming platform
melalui Youtube.

Logo dan Acara Unggulan NET TELEVISI


Sumber: televisiguide.co.id

Era media digital ini, tentunya akan jauh lebih terbuka, sehingga membuat peningkatan
keragaman pasar semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Selain itu, digitalisasi media
juga menimbulkan dinamika industri televisi dan radio menjadi lebih kompleks, membuat
perkembangan tren konten acara yang diminati pun menjadi sangat cepat berubah.

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Kini, konten acara yang diproduksi secara amatir oleh masyarakat sendiri pun dapat langsung
disiarkan secara luas kepada publik melalui internet tanpa adanya proses pendistribusian atau
pengemasan konten acara yang sistematis seperti pada stasiun televisi dan radio, ataupun rumah
produksi profesional. Sayangnya, tidak semua konten yang dibuat memiliki dampak positif bagi
sosial. Seperti salah satunya adalah acara musik yang populer sejak pertama kali tayang 2008,
Dahsyat, menimbulkan pro dan kontra terkait kontennya yang dinilai oleh sebagain orang sebagai
konten yang kreatif dan menghibur, akan tetapi sebagian orang lainnya berpendapat justru
tayangan tersebut merupakan bentuk kreativitas yang bersifat destruktif. Hal serupa terkait pro
dan kontra juga turut dialami oleh konten-konten acara hiburan populer lainnya, seperti acara
Yuk Keep Smile (YKS), Pesbukers (ANTV), Film Televisi (FTV), serta acara-acara infotainment
yang semakin menjamur.
Tidak hanya acara hiburan, konten berita di Indonesia pun apabila tidak dikelola dengan baik,secara
tidak disadari justru dapat memprovokasi ataupun menimbulkan keresahan masyarakat. Hal
ini terlihat dari konten berita-berita aktual yang menampilkan peristiwa kejahatan, kerusuhan,
serta maraknya kasus korupsi. Konten-konten seperti itu apabila ditayangkan secara bebas,
dinilai dapat menimbulkan efek negatif yang memengaruhi optimisme dan kepercayaan rakyat,
terutama kaum muda. Selain itu, konten berita yang kini disuguhkan kepada masyarakat memiliki
unsur independensi yang sangat rendah di dalamnya. Kepentingan politis yang kental di dunia
media membuat laporan berita tidak lagi menjadi objektif dan independen, sehingga terjadi
kesimpangsiuran fakta yang terjadi sesungguhnya. Konten-konten seperti inilah yang sangat
sulit untuk dikendalikan oleh pemerintah secara teliti dan terus menerus. Hal ini dapat menjadi
tantangan tersendiri bagi pemerintah dan lembaga pengawasan penyiaran yang bertugas untuk
mengawasi konten kualitas penyiaran baik yang dihasilkan dari dalam negeri maupun konten
dari luar negeri yang disiarkan di Indonesia.

BAB 1: Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

21

Gambar 1-3 Perkembangan Televisi dan Radio di Indonesia

1976

Sistem Komunikasi
Satelit omestik (SKS )
melalui satelit Palapa
(satelit pertama milik
Indonesia) diluncurkan.

1979

Siaran televisi
ber arna
diperkenalkan.

Orde baru

Kemerdekaan

1933

1937

Stasiun radio pertama


di Indonesia, Bataviase
Radio Vereniging (BRV),
berdiri.
Stasiun radio
pertama, Solosche
Radio Vereniging (SRV),
didirikan oleh
BumiPutra.

19

Presiden Soeharto
mengeluarkan
instruksi untuk
menghilangkan
iklan dari TVRI.

19

Indovision sebagai TV
berlangganan
pertama di Indonesia
dengan menggunakan
satelit palapa 2.

(1965 199 )

1963

Iklan diperkenalkan di
TVRI bersamaan
dengan peningkatan
am siaran.
TVRI (Televisi Republik
Indonesia) memulai
siarannya dengan
menayangkan
peringatan hari ulang
tahun Republik
Indonesia XVII.

Perikatan
Perkumpulan Radio
Ketimuran (PPRK)
berdiri.

cara Kuis Berpacu


alam elodi
pertama kali
ditayangkan di TVRI.

et TV didirikan sebagai
stasiun TV yang memba a
revolusi media di era
modern.

cara The endees yang


diba ak an oleh dua penyiar
senior, Imam arto dan
imas anang mulai
disiarkan di Prambors .

2 1

Sebelum

1925

2 13

cara TV ahsyat mulai


ditayangkan dan
men adi salah satu
acara TV terpopuler
hingga kini.

Orde Lama

1945

RRI (Radio Republik


Indonesia) didirikan.

1962

TVRI melakukan siaran


langsung upacara
pembukaan sian
ames IV dari elora
Bung Karno.

2
1994

Sinetron Si oel nak


Sekolahan mulai
ditayangkan di R TI.
TV Kabel Kabelvision
mulai beroperasi
sebagai
televisi kabel pertama.

22

cara ightmare Side


pertama kali
disiarkan di rdan

R TI (Ra a ali itra


Televisi Indonesia)
pertama kali
mengudara dan berdiri
sebagai stasiun
televisi s a sta
pertama.

(1945 1965)

iterbitkan
ndang ndang
Republik Indonesia
omor 32 2 2
tentang Penyiaran.

epartemen
Penerangan
dibubarkan.

Orde re ormasi
(199 sekarang)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem & Ruang Lingkup
Industri Televisi dan Radio
Indonesia

2.1 Ekosistem Televisi dan Radio


2.1.1 Definisi Ekosistem Televisi dan Radio
Untuk memberikan pemahaman secara menyeluruh dan mendalam mengenai industri kreatif,
maka perlu dilakukan pemetaan ekosistem dari subsektor televisi dan radio terhadap kondisi
ideal, yaitu suatu kondisi yang diharapkan terjadi dan merupakan best practices dari industri
kreatif televisi dan radio yang berjalan di negara-negara yang sudah maju dan berdaya saing, dan
kondisi aktual dari industri kreatif televisi dan radio di Indonesia untuk memahami dinamika
yang terjadi di negeri ini.
Pemahaman antara kondisi ideal subsektor televisi dan radio dengan kondisi aktualnya dapat
memberikan gambaran mengenai kebutuhan dari sebsektor ini sehingga dapat berkembang
dengan baik dengan mempertimbangkan potensi (kekuatan dan peluang) dan permasalahan
(tantangan, kelemahan, ancaman, dan hambatan) yang dihadapi.
Ekosistem subsektor televisi dan radio adalah sebuah sistem yang menggambarkan hubungan
saling ketergantungan (interdependent relationship) antara setiap peran di dalam proses penciptaan
nilai kreatif dengan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai kreatif.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan tersebut, dibuatlah sebuah peta ekosistem
yang terdiri atas empat komponen utama, yaitu:
1. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain) adalah rangkaian proses penciptaan nilai
kreatifdimana transaksi sosial, budaya, dan ekonomi terjadi didalamnya. Pada setiap
proses, terdapat aktivitas utama, aktivitas pendukung, dan peran utama yang terkait
dengan setiap proses yang terjadi. Pada subsektor televisi dan radio, proses yang terlibat
dalam rantai nilai kreatif yang terjadi adalah kreasiproduksidistribusikomersialisasi.
Terdapat dua jenis industri yang terlibat pada rantai nilai kreatif (Creative value chain),yaitu
industri utama yang merupakan penggerak dalam subsektor televisi dan radio, serta
industri pendukung (backward-forward linkage industry) yang berfungsi untuk mendukung
pengembangan industri kreatif utama.
2. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment) adalah lingkungan yang
dapat menggerakkan dan meningkatkan kualitas proses penciptaan nilai kreatif dari
konten acara yang dihasilkan, meliputipendidikan dan apresiasi.
a. Pendidikan adalah proses pembelajaran yang meliputi peningkatan pengetahuan,
keterampilan, sikap, dan perilaku yang sangat berpengaruh pada penciptaan orang
kreatif. Kegiatan pendidikan ini meliputi: (1) pendidikan formal, yaitu pendidikan di
sekolah yang di peroleh secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti
syarat-syarat yang jelas; (2) nonformal, yaitu pendidikan di luar pendidikan formal
yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; dan (3) informal, yaitu
pendidikan yang diperoleh dari keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan
belajar secara mandiri.
b. Apresiasi merupakan tanggapan terhadap karya, orang kreatif, serta proses penciptaan
nilai kreatif yang menstimulasi peningkatan kualitas karya, orang, dan proses kreatif
tersebut. Apresiasidapatdilihatdariduasudutpandang, yaitu apresiasi oleh pasar

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

(konsumen, khalayak,dan customer) dan apresiasiterhadaporang, karya, dan proses


kreatif. Kegiatan apresiasi oleh pasar dapat ditunjukkan dari konsumsi serta tanggapan
pasar terhadap karya, orang, dan proses kreatif,sedangkan kegiatan apresiasi untuk
orang dan karya kreatif dapat berupa penghargaan, pemberian insentif, dan juga
apresiasi terhadap HKI (Hak Kekayaan Intelektual).
Kegiatan apresiasi oleh pasar dapat ditingkatkan melalui proses peningkatan literasi
masyarakat terhadap kreativitas, sedangkan kegiatan apresiasi untuk orang dan karya
kreatif dapat ditingkatkan dengan mengomunikasikan orang serta karya kreatif
tersebut kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan apresiasi yang baik, maka
orang-orang kreatif akan terdorong untuk terus berkreasi.
3. Pasar (Market) - Konsumen, Khalayak, dan Customer adalah pihak yang mengapresiasi
karya kreatif dari subsektor televisi dan radio. Ketiga jenis pasar tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Berikut penjelasannya.
a. Konsumen adalah orang yang membeli karya kreatif berupa konten acara dari
industri subsektor televisi dan radio.
b. Khalayak adalah orang yang menonton karya kreatif dari subsektor televisi dan radio,
yang dapat dibedakan menjadi dua: khalayak umum yang menikmati konten acara
hanya dengan kepekaan indrawi, dan khalayak ahli yang menikmati konten acara
dengan pengetahuan yang khusus. Khalayak ahli memiliki peran yang vital dalam
pengembangan industri televisi dan radio karena mereka menciptakan wacana, kritik,
dan kurasi yang dapat meningkatkan kualitas dari konten acara serta meningkatkan
kualitas pemahaman dari pasar terhadap kreativitas.
c. Customer adalah pihak yang membeli menggunakan jasa dari subsektor televisi dan
radio untuk meningkatkan kesejahteraan bisnisnya.
4. Pengarsipan (Archiving) adalah proses preservasi terhadap karya kreatif dan dokumentasi
karya kreatif tersebut yang dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh pemangku
kepentingan (orang kreatif, pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku bisnis, komunitas,
dan intelektual) yang terlibat di dalam ekosistem televisi dan radio sebagai media
pembelajaran dan literasi.
Proses pengarsipan pada umumnya dilakukan melalui tahapan pengumpulan-restorasipenyimpanan-preservasi. Proses restorasi hanya dilakukan apabila dokumen atau hal yang
perlu diarsipkan tersebut sudah mengalami kerusakan atau ketidaksesuaian sehingga perlu
dilakukan proses perbaikan tanpa mengubah nilai atau makna aslinya sebelum dilakukan
proses penyimpanan dan preservasi.
Keempat komponen ini dalam subsektor televisi dan radio mempunyai peran yang berbeda dan
saling berinteraksi sehingga membentuk sebuah siklus dalam sebuah ekosistem subsektor televisi
dan radio yang dapat menghasilkan rantai nilai kreatif secara berkelanjutan. Melalui ekosistem
ini diharapkan proses penciptaan nilai kreatif, aktivitas,dan output dari setiap proses dan peran
yang terlibat didalamnya dapat terpetakan dengan baik sehingga rencana pengembangan yang
dibuat akan lebih sistematis dan tepat sasaran.

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

27

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Televisi dan Radio

NIAHC EULAV EVITAERC


asrub nemejanaM
legneP
malad ek kusamret gnay isaisosA ,nnaaksraaiwsiadggnneapy,naararacaiynneeptnloaknankasnaataalbom
,VT araca netnok
ep nad
aisenodnI akitameleT takaraysaM
araca margorp isomorp
araca netnok emsitaigalp nasawagnep

kosamep nemejanam ,itreporp & isakol nemejanaM


gnukudnep kisum nataubmep ,narais sinket takgnarep
nalki nataubmep ,araca
hamuR
iskudorP

netnoK asruB
aracA

rotarepO lennahC

OIDAR

ISIVELET

oidaR nuisatS

DOV & VT nuisatS

ISMUSNOK

gnusgnaL aracA netnoK


oidaR & VT lanaK

,VTPI ,VTi
,gnimaerts beW
aerts bew
tsacdop ,ppa elibom tsagcndim
op ppa elibom

rotaerC tnetnoC

OIDAR
ISIVELET
,regnits ,repmub nataubmeP iskurtsnok ,draobyrots nataubmeP
sesorp,mutsok ,itreporp ,isakol & tes
nwodnur ,elgnij
sinket nemejanam ,gnitegdub ,gnitsac
narais araca
araca gnituyS
araca netnok nakraiyneM

iskudorP arP

narais lanretni gnirotinoM margogrnpulsagnnreatlnniagrnaiirsotinoM

riA oT eerF

,ragnednep/notnonep halmuj nad gnitar nagnutihreP


araca netnok nagnabmegnep nad tesir

nautneneP
nemges narasas
ecneidua

isavresbO

iskudorP

gnimrotsniarB

acsaP
iskudorP

isasilaniF
pesnok
araca

isatlusnoK

diaP

netnok nagnaleleP
VT namaker araca

lanaK
desaB-PI

rais kaH
araca netnok

,gnusgnal narais araca netnoK


namaker narais araca netnok ypoc retsaM

tpircs retniop nad haksaN

ISUBIRTSID

ISKUDORP

ISAERK

NARAIYNEP

netnoK ypoC retsaM


namakeR aracA

,araca netnok nasamegneP ,araca netnok gnitidE


araca netnok isaulavE

kilbuP seskA
TEKRAM

GNIVIHCRA

notnoneP
mumU
notnoneP
ilhA

isarotseR

kilbuP seskA

naaraggneleynep nakajibeK
netnok nakajibeK naraiynep
IKH nakajibeK naraiynep

nalupmugneP
nanapmiyneP

:nagnareteK
fitaerK ialiN iatnaR
sineJ/amatU sativitkA
gnukudneP sativitkA
amatU ukaleP
isaisosA
tuptuO
tnemnorivnE ecnarutruN

NAANIBMEP

isavreserP

naahasureP
nalkigneP

mulukiruK nakajibeK
aideM nakididneP

satinumoK ,hatniremeP ,oidaR/VT nuisatS

& ECNEIDUA
TEKRAM

kilbuP seskA

ISAISERPA
isaiserpa nataigeK
VT araca netnok
:oidaR &

:mumu isaretiL

naagrahgnep nairebmeP
atsaws aidem helo

iggnit takgnit nakididneP

naagrahgnep nairebmeP
hatniremep helo
gnitar nairebmeP
oidar/VT araca margorp

tujnal takgnit nakididneP


hagnenem takgnit nakididneP

araca netnok IKH

inid aisu kana nakididneP

naagrahgneP
gnitaR nad

malad isargetnireT
mulukiruK
lanoisaN nakididneP

rasad takgnit nakididneP

NAKIDIDNEP

:kfiiseps isaretiL

naraiyneP nakididneP
namargormeP &

aganeT
kididnep

:lamrof noN
:lamroF
naraiyneP pohskroW umlI iggniT halokeS
emsilanruJ &
isakinumok

aut gnarO

ISAISERPA
metsiS
isakfiiralK
notnoneP

hatniremeP nad nakididneP isutitsnI ,yevruS agabmeL ,kitsilanruJ isaisosA

nakididneP
nareP ineS

isinkeT nakididneP
naraiyneP

:lamrof noN

:lamroF

iggniT halokeS
isamrofnI igolonkeT

negA
iracnep
takab

halokeS
umlI iggniT
isakinumok

namlfireP halokeS
kitsilanruj halokeS
isakfiitresreb

isitepmoK
iracnep
takab

halokeS
amard iggnit
narep ines &

iseforP ilhA aganeT

iseforP ilhA aganeT

:lamrof noN
susruK
gniniarT
pohskroW

:lamroF
amolpiD
anajraS
anajraS acsaP
rotkoD
isakfiitreS

igolonkeT nad nauhategneP


naraiyneP uraB

aideM irtsudnI
latigiD nad kateC

nasalu nairebmeP
araca netnok

kitirk nairebmeP
araca netnok

kitirk nad nasalU

ilhA notnoneP ,nednepednI iskudorP hamuR ,hatniremeP & atsawS oidaR/VT nuisatS ,kitsilanruJ & aideM satinumoK ,iregeN & atsawS nakididneP isutitsnI
TNEMNORIVNE ECNARUTRUN

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

2.1.2 Peta Ekosistem Televisi dan Radio


Peta ekosistem televisi dan radio dibentuk berdasarkan definisi dan ruang lingkup yang telah
diidentifikasi secara spesifik berdasarkan fokus kebutuhan konteks ekonomi kreatif Indonesia.
Dalam hal ini, cakupan ruang lingkup dari subsektor televisi dan radio yang akan dijadikan
fokus untuk kebutuhan pengembangan ekonomi kreatif Indonesia berbeda satu sama lain.
Untuk subsektor televisi, kategori ruang lingkup yang akan dijadikan fokus pengembangan
adalah kategori berita lunak, hiburan, dan permainan. Sedangkan untuk subsektor radio, ruang
lingkup yang akan dijadikan fokus dalam pemetaan ekosistem adalah kategori berita, siaran
lepas, dan siaran naskah.
Gambar 2-2 Ruang Lingkup Televisi

Gambar 2-3 Ruang Lingkup Radio

Untuk setiap kategori fokus industri kreatif akan disegmentasi lagi sesuai dengan rating yang
telah ditetapkan oleh KPU. Pada akhirnya akan diperoleh segmentasi konten sesuai dengan genre
dan rating acaranya.

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

29

A. Rantai Nilai Kreatif


A.1 Proses Kreasi
Proses kreasi pada subsektor televisi meliputi tahapan bagaimana proses pengemasan suatu ide
konten acara yang dicetuskan agar menjadi bahan mentah atau konsep awal yang dapat diproduksi
dalam pemrograman secara sistematis.
Gambar 2-2 Rantai Nilai Kreasi Subsektor Televisi dan Radio
Gambar 2-4 Rantai Nilai Kreasi Subsektor Televisi dan Radio

Pada tahap kreasi, aktivitas utama yang dilakukan dapat terbagi menjadi tiga kegiatan yang bisa
dilakukan baik secara paralel ataupun sekuensial. Ketiga kegiatan tersebut adalah konsultasi,
penentuan sasaran segmen audience, dan observasi.
1. Konsultasi dilakukan oleh stasiun televisi ataupun radio yang menyerahkan studi atau
riset terkait ide konten acaranya pada pihak ketiga sepenuhnya. Dalam hal ini pihak
ketiga, yang biasanya merupakan konsultan program media, menjadi aktor utama dalam
pencetusan ide konten acara yang akan dibuat. Mereka mencetuskan konsepnya murni
berdasarkan pada hasil riset mengenai preferensi konten acara yang dimiliki oleh penonton
atau pendengar di suatu segmen yang ditentukan.
2. Penentuan Sasaran Segmen Audience juga merupakan aktivitas awal yang lazim
dilakukan untuk menentukan ide konten acara yang akan diproduksi. Dari setiap segmen
audience,tentunya akan memiliki karakteristik yang berbeda sehingga akan menghasilkan
kebutuhan konten acara yang berbeda pula. Adapun segmen penonton atau pendengar

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

tersebut dikelompokan berdasarkan kategori rating yang telah ditetapkan oleh Komisi
Penyiaran Indonesia (KPI).
3. Observasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan pada keadaan lingkungan baik
secara lokal maupun global. Keadaan lingkungan merupakan salah satu sumber inspirasi
utama dari ide konten acara bagi sebagian besar content creator di berbagai stasiun televisi
maupun radio. Peristiwa penting yang terjadi ataupun tren gaya hidup masyarakat saat
ini bisa menjadi bahan konten acara yang akan digagas.
Selanjutnya, dari ketiga aktivitas tersebut, dilakukan brainstorming untuk mematangkan ide
konten acara yang telah digagas oleh tim content creator untuk mendapat persetujuan dari program
director ataupun pimpinan lain yang terlibat dalam penggagasan ide konten acara. Selanjutnya
ide-ide yang diajukan akan dilakukan penyesuaian lebih lanjut untuk menghasilkan kesepakatan
konsep acara. Konsep acara yang telah disetujui ini kemudian akandiselesaikan dengan cara
menuangkannya dalam bentuk naskah sementara ataupun pointer script yang umumnya digunakan
oleh penyiar radio.
Pelaku utama yang berperan dalam rantai nilai kreasi disebut sebagai tim content creator. Tim
content creator dalam industri televisi terdiri dari sutradara, produser, program supervisor, dan
program director. Sedangkan pada industri radio, ide konten acara dicetuskan sepenuhnya oleh
produser yang didukung oleh masukan dari para penyiar, scriptwriter, program supervisor, program
director, dan music director.
Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, idealisme dari fungsi media tersebut di Indonesia
sudah tidak dapat berjalan beriringan secara seimbang. Kepentingan bisnis serta politis dari para
pejabat yang umumnya bertolak belakang dengan idealisme fungsi media menjadikan konten
acara televisi dan radio di Indonesia menurun kualitasnya. Hal ini utamanya terjadi pada industri
televisi.Rating acara dan jumlah penonton menjadi kejaran utama para pelaku bisnis industri
televisi demi menarik parapengiklan.Adapun perhitungan rating tersebut termasuk dalam aktivitas
pendukung utama yang dijadikan sebagai masukan ide konten yang akan diproduksi.
Selain aktivitas utama, terdapat juga beberapa aktivitas pendukung yang berfungsi sebagai sumber
untuk ide-ide konten acara yang akan dibuat. Sumber utama yang menginspirasi sekaligus menjadi
pertimbangan utama dalam mencari ide konten acara adalah observasi tren di lingkungan yang
selanjutnya didukung oleh hasil riset dan pengembangan yang telah dilakukan sebelumnya oleh
pihak luar terkait dengan preferensi masyarakat akan konten media televisi dan radio. Riset dan
pengembangan yang dilakukan dapat berupa kajian empiris terkait konten-konten kreatif dunia
yang dinilai memiliki nilai tambah dan daya saing tinggi. Adapun perhitungan rating dan jumlah
penonton atau pendengar untuk suatu konten acara tertentu dilakukan oleh pihak ketiga sebagai
aktivitas pendukung yang memiliki pengaruh sangat tinggi di proses kreasi.
Aktor pendukung dalam rantai nilai kreasi yang perannya tidak terlibat langsung dalam mencetuskan
ide ataupun tidak selalu memberikan ide konten acara adalah lembaga survei, konsultan media
serta pemerintah yang menjalin kerjasama dengan KPI.
1. Lembaga survei yang melakukan riset dan pengembangan dalam bidang televisi dan
radio. Saat ini di Indonesia sendiri hanya terdapat satu lembaga survei yang melakukan
perhitungan rating konten acara, yaitu Nielsen. Minimnya lembaga survei yang beroperasi

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

31

di Indonesia menjadikan para perusahaan pengiklan tidak memiliki pembanding lain dalam
menilai tingkat ketertarikan masyarakat akan konten acara sehingga menurunkan tingkat
objektivitas penilaian. Hal ini berimbas kepada ide yang digagas dalam pembuatan konten
acara televisi dan radio itu sendiri. Keseragaman jenis acara antar stasiun televisi dan radio
adalah salah satu dampak dari penitikberatan rating sebagai target pencapaian utama.
2. Lembaga yang dinilai sebagai pakar di bidang konten penyiaran yang dipercaya sebagai
penasihat terkati tren konten penyiaran di masa mendatang. Akan tetapi, stasiun televisi
dan radio yang menggunakan konsultan tidak lantas sepenuhnya memercayakan ide
konten acara kepada pihak ketiga. Perlu dilakukan brainstorming serta persetujuan lebih
lanjut dari program director serta pimpinan terkait untuk dapat menentukan konten apa
yang akan diproduksi.
3. Pemerintah menjalin kerjasama dengan KPI. Peran pemerintah mulai terlibat ketika
acara televisi atau radio yang akan dibuat bertujuan untuk digunakan sebagai salah satu
media yang memfasilitasi isu yang diangkat oleh pemerintahan. Selain itu, pemerintah
juga berperan dalam mengawasi konten acara televisi dan radio yang dinilai pantas untuk
diproduksi oleh para tim produser. Hal tersebut dicerminkan dalam bentuk undangundang dan peraturan resmi pemerintah lainnya terkait dengan kegiatan penyiaran dan
pemrograman.

A.2 Proses Produksi


Proses produksi dari subsektor televisi dan radio merupakan proses di mana naskah sementara
yang telah disetujui akan diterjemahkan dalam bentuk konten audio visual ataupun audio.
Gambar 2-5 Rantai Nilai Produksi Subsektor Televisi dan Radio

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Tahapan produksi suatu acara televisi dan radio terbagi menjadi tiga sub proses besar, yaitu pra
produksi, produksi, dan pasca produksi.

Praproduksi
Proses praproduksi meliputi persiapan yang dilakukan sebelum proses produksi dilakukan.
Pada industri televisi, praproduksi merupakan kegiatan yang meliputi pembuatan storyboard
suatu konten acara apabila terdapat beberapa adegan yang sulit dijelaskan dalam naskah
(contohnya konten animasi). Penyesuaian naskah, konstruksi set dan lokasi, properti, kostum,
proses casting, budgeting serta manajemen teknis juga termasuk dalam proses praproduksi
konten televisi.

Foto Radio Mixing Board


Sumber: http://cfcr.ca/join_us/become_a_host

Sedangkan pada industri radio, pra produksi itu sendiri meliputi pembuatan naskah atau
panduan konten untuk penyiar, pemilihan penyiar, serta pembuatan bumper13 , jingle14 ,
stinger15 , dan playlist.

Produksi
Proses produksi dilakukan sebagai tahapan pembuatan konten acara televisi atau radio
itu sendiri. Kegiatan utama yang dilakukan pada ini adalah syuting acara televisi ataupun
melakukan siaran radio. Ada dua jenis keluaran pada proses produksi ini, diantaranya
acara siaran langsung serta siaran rekaman. Untuk siaran langsung, selanjutnya tidak akan
melalui tahapan rantai nilai distribusi, melainkan langsung memasuki tahapan rantai nilai
presentasi kepada penonton ataupun pendengar. Sedangkan untuk konten acara rekaman
dapat didistribusikan dalam bursa konten acara ataupun langsung disiarkan di stasiun televisi
setelah melalui proses pasca produksi.

(13)Berdasarkan Wikipedia, bumper merupakan sebuah pengumuman singkat yang umumnya berdurasi tidak lebih
dari 15 detik yang ditempatkan di antara jeda program dan iklan pada siaran radio
(14)Berdasarkan Wikipedia, jingle merupakan musik pendek yang digunakan untuk membuat iklan ataupun tujuan
komersil lainnya dalam industri radio
(15) Berdasarkan artikel The Medialink Broadcasting Glossary, stinger merupakan musik singkat yang digunakan untuk
memberikan jeda antara dua program yang berbeda dalam siaran radio

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

33

Pascaproduksi
Kegiatan pascaproduksi merupakan kegiatan tambahan yang dilakukan setelah produksi khusus
untuk acara siaran rekaman.Acara-acara yang sifatnya rekaman, sebelum dipresentasikan
kepada publik, harus melalui proses editing dan penyuntingan akhir terlebih dahulu. Untuk
acara rekaman yang diproduksi oleh rumah produksi independen, beberapa akan melalui
proses distribusi berupa bursa konten acara. Sedangkan untuk acara siaran rekaman yang
tidak ditayangkan secara langsung, hasil akhir yang berupa master copy acara rekaman akan
disimpan untuk selanjutnya direstorasi kembali oleh operator saat jam tayang atau jam siaran
acara tiba.
Pada rantai nilai produksi, terdapat perbedaan pada aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.
Aktor-aktor yang terlibat pada rantai nilai produksi di industri televisi itu sendiri meliputi tim
produksi (sutradara, produser, scriptwriter, dan lain-lain), tim artistik, tim teknis, serta tim editor.
Sedangkan pada industri radio, aktor-aktor yang terlibat dalam rantai nilai produksi adalah:

Sound designer.

Produser.

Program director.

Program supervisor.

Operator.

Idealnya, untuk seluruh draft naskah serta ide acara yang digagas pada tahapan kreasi merupakan
ide-ide yang telah disetujui untuk masuk ke tahapan selanjutnya, yaitu produksi.Akan tetapi
adanya konflik kepentingan dari pemilikdari segi bisnis dan politis yang bertentangan dengan
ide kreatif, membuat hasil keluaran dari produksi tidak sesuai dengan konsep awal yang telah
ditentukan. Hal ini diakibatkan oleh adanya penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan pada saat
proses produksi dilakukan.
Kesulitan lain yang dihadapi sebagian besar pelaku industri televisi dan radio adalah peralatan
penyiaran dan pemrograman yang memiliki harga cukup tinggi dan ketersediaannya yang sulit.
Akibatnya pengadaan alat-alat keperluaran siaran harus dilakukan melalui distributor luar negeri.
Hal ini berimbas pada pajak barang impor yang melambung tinggi karena alat-alat tersebut
dikategorikan sebagai barang mewah. Bagi para pelaku industri lokal yang memiliki modal
terbatas, tentunya hal ini menjadi persoalan yang serius.Solusi alternatif yang dapat dilakukan
oleh beberapa stasiun televisi lokal adalah dengan membeli hak siar konten acara dari rumah
produksi independen.
Rumah produksi independen pada rantai nilai produksi tentunya juga berperan sebagai aktor
utama, selain daripada seluruh tim yang ada dalam stasiun televisi dan radio itu sendiri. Adapun
beberapa contoh rumah produksi independen yang terdapat di Indonesia adalah sebagai berikut:





34

REVO Films (PT. Hadi Cinema Putra).


MD Entertainment.
NET Films.
Sinemart dan Lenza Film.
Rapi Films.
AVICOM.

Bola Dunia.
Dwingkara Citra Suara (Elang Perkasa
Film).
Indika Era Mandiri.
Intercine Film.
Karnos Film.
Miles Production.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Millenium Visitama Film.


Multivision Plus.
Pearson TELEVISI.
Persari Film.
Prima Entertainment.
Soraya Intercine Film.

PT GMM Films Indonesia.


PT Visi Lintas Film.
PT Triwarsana.
PT Genta Buana Paramita.
PT Shandika Widya Cinema.

Lembaga pemerintahan yang berperan utama dalam rantai nilai produksi konten acara televisi dan
radio ini bertugas mengawasi dan mengevaluasi jalannya proses produksi acara agar tetap sejalan
dengan Undang-undang Penyiaran yang berlaku di Indonesia. Berikut ini jenis-jenis lembaga
pemerintahan yang terlibat dalam rantai produksi subsektor televisi dan radio di Indonesia:

Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Lembaga Sensor Film Indonesia.

Setiap stasiun televisi dan radio biasanya memiliki nilai proporsi tertentu akan jumlah acara inhouse production dan acara-acara yang sudah dibeli hak siarnya. Hal ini disebabkan oleh jumlah
dana yang dibutuhkan untuk produksi siaran in-house lebih tinggi jika dibandingkan dengan film
atau serial dari rumah produksi lain. Sumber dana utama untuk proses produksi dan manajemen
stasiun televisi dan radio itu sendiri adalah melalui iklan. Semakin tinggi jumlah penonton suatu
acara, maka akan semakin banyak pula perusahaan yang tertarik untuk mengiklankan produknya
di sela-sela acara tersebut. Untuk itu pada proses produksi, penentuan proporsi jumlah iklan serta
urutannya juga ditentukan.
Adapun beberapa kegiatan pendukung pada proses produksi yang membantu kelancaran produksi
acara hingga tahapan distribusi. Kegiatan-kegiatan pada aktivitas pendukung tersebut adalah
manajemen lokasi danproperti, manajemen pemasok perangkat teknis siaran, pembuatan musik
pendukung acara, serta pembuatan iklan.
1. Manajemen lokasi dan properti merupakan aktivitas pendukung yang meliputi pengelolaan
lokasi yang akan digunakan untuk proses produksi, serta pengelolaan properti yang akan
digunakan sebagai pendukung jalannya proses produksi.
2. Manajemen pemasok perangkat teknis siaran adalah aktivitas pendukung yang sangat
penting dalam tahapan persiapan proses produksi. Perangkat teknis siaran yang digunakan
diatur dalam Undang-undang Penyiaran No. 32 Tahun 2002 sehingga standar alat
penyiaran yang digunakan oleh industri televisi maupun radio menjadi baik.
3. Pembuatan musik pendukung merupakan aktivitas yang meliputi proses rekaman
musik dan pengemasannya yang digunakan sebagai pendukung pada satu adegan tertentu
dalam sebuah program acara. Pembuatan musik pendukung ini tentunya erat kaitannya
dengan industri musik.
4. Pembuatan iklan adalah proses pengemasan suatu bentuk komersil dari produk ataupun
jasa tertentu hingga menjadi sebuah konten singkat yang bersifat persuasif bagi penonton
ataupun pendengarnya. Iklan biasanya disisipkan di antara segmen atau adegan suatu
program acara televisi maupun radio.

A.3 Proses Distribusi


Tahapan distribusi khusus dilakukan pada konten televisi baik yang sifatnya rekaman ataupun
siaran langsung yang direkam. Tahapan ini dilakukan dengan tujuan untuk memasarkan konten

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

35

acara yang dinilai memiliki daya saing yang cukup tinggi kepada pasar nasional maupun manca
negara untuk ditayangkan di stasiun televisi di negara lain.
Gambar 2-6 Rantai Nilai Distribusi Subsektor Televisi dan Radio

Terdapat tiga jenis bentuk sindikasi program televisi dan radio16 , diantaranya adalah:
1. First-run syndication merupakan jenis sindikasi yang dilakukan untuk konten-konten yang
belum pernah disiarkan sebelumnya dan hanya diproduksi khusus untuk didistribusikan
pada bursa konten acara.
2. Off-network syndication merupakan bentuk bursa konten acara yang ditujukan khusus
untuk konten-konten acara yang sebelumnya pernah disiarkan sehingga bursa konten
ditujukan sebagai bentuk penyiaran ulang dari konten acara tersebut.
3. Public broadcasting syndication merupakan bentuk bursa konten yang dilakukan
untuk suatu segmen konten acara untuk dapat disiarkan di sebuah konten acara stasiun
televisi atau radio lain.
Salah satu contoh lembaga yang sukses dalam memfasilitasi bentuk sindikasi konten acara televisi
di Amerika adalah The Program Exchange yang dibentuk pertama kali dengan nama Program
Syndication Services Inc. di tahun 1973.
Di Indonesia sendiri, kegiatan bursa konten acara televisi dan radio dinilai belum begitu marak
perkembangannya. Rumah-rumah produksi independen yang menghasilkan konten acara lebih
banyak menjual hak siarnya secara langsung kepada stasiun-stasiun televisi yang dirasa akan tertarik
untuk menayangkan konten yang ditawarkannya. Hal ini tentunya membuat para rumah produksi
independen berskala kecil menjadi kesulitan dalam menjalin koneksi untuk dapat memasarkan
kontennya ke para pemain besar media di Indonesia. Akibatnya, konten yang dihasilkan hanya
mampu menembus jaringan pasar lokal saja.

(16) http://en.wikipedia.org/wiki/Broadcast_syndication, diakses pada 21 Juli 2014


36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

A.4 Proses Penyiaran


Tahapan akhir dalam rantai nilai utama sektor televisi dan radio adalah tahap penyiaran. Pada
tahapan ini, seluruh program acara yang telah dibuat pada proses produksi disiarkan kepada
publik melalui presenter. Pelaku utama yang berperan sebagai presenter adalah media penyiaran
konten televisi dan radio.
Gambar 2-7 Rantai Nilai Penyiaran Subsektor Televisi dan Radio

Presenter pada proses penyiaran terbagi menjadi berbagai macam jenis sesuai dengan format
distribusi ataupun format acara itu sendiri. Untuk acara siaran langsung yang telah selesai
diproduksi, selanjutnyaakan dipresentasikan melalui stasiun televisi atau radio, serta IP based
platform secara serentak. Sedangkan untuk acara rekaman akandisimpan terlebih dahulu pada

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

37

tempat pengarsipan acara rekaman untuk selanjutnya dipresentasikan oleh operator dengan
merestorasi kembali konten acara.
Rantai nilai penyiaran merupakan bentuk penyajian stasiun televisi dan radio akan acara-acaranya
sebagai salah satu usaha pembentukan citra produknya di mata masyarakat. Pada rantai nilai
presentasi, aktor utama yang terlibat meliputi perusahaan televisi kabel, stasiun televisi dan radio,
serta jaringan internet. Berikut ini daftar nama perusahaan televisi kabel yang menyiarkan acara
dari stasiun-stasiun televisi lokal di Indonesia:
PT. MNC Sky Vision (Indovision dan Top TV, Oke Vision), kabel dan satelit.

PT. Indosat Mega Media (IM2/IndosatM2 (IM2 PayTV)), kabel.

PT. Link Net (First Media), kabel dan satelit.

PT. Mentari Multimedia (M2V Mobile TV), terrestrial.

PT. Indonesia Media Televisi (BigTV), kabel dan satelit

PT. Indonusa Telemedia (TelkomVision), kabel dan satelit

PT. Indonusa Telemedia (Yes TV), satelit.

PT. Nusantara Vision (OkeVision), satelit.

PT. Karyamegah Adijaya (Aora), satelit.

PT. Cipta Skynindo (Skynindo), satelit.

PT. Telekomunikasi Indonesia (Groovia TV), IPTV.

Pada rantai nilai penyiaran, aktor dari bidang pemerintahan yang paling berperan dalam kegiatan
penyiaran serta pengawasan acara-acara televisi dan radio tentunya adalah Komisi Penyiaran
Indonesia. Untuk televisi, siaran acara dari beberapa stasiun televisi swasta dan milik pemerintah
dapat dinikmati secara gratis dan serentak se-Indonesia. Sedangkan untuk acara radio, karena
keterbatasan frekuensi siaran, masing-masing wilayah akan memiliki jenis siaran radio yang
berbeda-beda.

B. Pasar
Gambar 2-8 Peta Pasar

Konten acara yang dihasilkan oleh televisi dan radio kemudian disiarkan secara serentak kepada
publik sebagai pemirsa dan pendengar konten acara di berbagai macam jangkauan. Para penikmat
konten acara televisi dan radio dapat dikelompokkan menjadi penonton umum, penonton ahli,
serta perusahaan pengiklan.
38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Penonton Umum terdiri dari masyarakat yang menikmati konten acara televisi dan radio
semata-mata untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan informasi. Jumlah penonton umum yang
menikmati konten acara yang disuguhkan oleh stasiun televisi dan radio tertentu merupakan salah
satu tolak ukur yang digunakan oleh perusahaan pengiklan untuk mengiklankan produknya di
konten acara tersebut.
Penonton Ahli merupakan pihak-pihak yang memiliki keahlian yang diakui untuk memberikan
penilaian kualitas dari konten sehingga mereka menikmati konten acara televisi atau radio sebagai
bagian dari profesionalisme kerja. Contoh dari penonton ahli diantaranya adalah kritikus, penulis
atau jurnalis, serta pakar media.
Perusahaan pengiklan merupakan salah satu target utama para pemilik media yang sekaligus
mendasari ide pembuatan konten tersebut. Hal ini disebabkan oleh iklan yang menjadi satusatunya sumber pendapatan stasiun televisi dan radio di Indonesia.

C. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment)


C.1 Apresiasi
Proses apresiasi karya seni dari televisi dan radio adalah salah satu rantai nilai pendukung dalam
sektor tersebut. Tahapan apresiasi ini terbagi menjadi beberapa jenis seperti ditunjukkan pada
Gambar 2-9.
Gambar 2-9 Peta Apresiasi Subsektor Konten Televisi dan Radio

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

39

Acara-acara yang disiarkan selanjutnya akan diapresiasi dalam bentuk pemberian beragam
penghargaan dan nominasi, kritik oleh para pakar film atau acara radio serta penonton.Bentuk
apresiasi yang diberikan oleh asosiasi jurnalistik berupa penghargaan, sedangkan untuk apresiasi
dari penonton dan kritikus adalah rating yang diberikan secara spesifik untuk satu acara tertentu.
Adapun bentuk apresiasi berupa literasi, yakni bentuk pengajaran akan konten-konten acara televisi
dan radio yang direkomendasikan untuk dinikmati sesuai dengan segmen umur penikmatnya.
Bentuk apresiasi dalam bentuk literasi ini diberikan oleh tenaga pendidik secara formal dan oleh
orang tua secara nonformal.
Di Indonesia sendiri sudah terdapat banyak jenis penghargaan yang diberikan pada subsektor
penyiaran televisi dan radio. Berikut ini jenis-jenis bentuk penghargaan yang terdapat di Indonesia
beserta aktor yang terlibat di dalamnya untuk subsektor penyiaran acara televisi:

Panasonic Gobel Awards.

Musium Rekor Indonesia (MURI).

SCTV Awards.

Infotainment Awards.

Penghargaan Peabody.

KONI Awards.

Anugerah Jurnalistik Pertamina.

Muctar Lubis Award.

KPI Awards.

Citra Pariwara Awards.

Sayangnya, beberapa penghargaan besar yang diharapkan mampu menjadi pemicu untuk
mengembangkan kreativitas dalam pemrograman konten, ternyata justru kurang mampu
mendongkrak kualitas konten acara. Selain itu, stasiun-stasiun televisi lokal yang cenderung
tidak memiliki ambisi untuk mengompetisikan kontennya dalam beberapa ajang penghargaan
bergengsi secara nasional, membuat hasil kreativitas lokal yang berkualitas tidak dapat tertangkap
dan mendapat apresiasi dari masyarakat. Hal ini tentunya membuat konten-konten acara lokal
menjadi kurang menarik bagi para perusahaan pengiklan untuk berinvestasi di dalamnya.
Sedangkan jenis-jenis penghargaan yang diberikan pada subsektor radio juga tidak kalah jumlahnya
dengan industri televisi. Berikut ini beberapa penghargaan yang dianugerahkan untuk konten radio:

Indonesian Radio Awards.

Penghargaan Peabody.

Apresiasi Jurnalistik Jakarta.

Anugerah Adinegoro.

MH Thamrin Award (PWI Award).

Jusuf Ronodipuro Award.

C.2 Pendidikan
Dokumen acara dan apresiasi yang telah didapatkan selanjutnya dapat menjadi input pada
tahapan studi. Tahapan ini merupakan proses jalannya kegiatan pembelajaran ilmu penyiaran
televisi dan radio dilakukan.
40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Gambar 2-10 Peta Studi Subsektor Konten Televisi dan Radio

Proses pembelajaran ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara formal dan nonformal.
Proses pembelajaran secara formal dilakukan oleh sekolah jurusan penyiaran dengan ijazah atau
sertifikasi resmi yang diakui. Sedangkan pendidikan nonformal bisa diperoleh melalui komunitaskomunitas yang memberikan kuliah umum secara singkat terkait dalam bidang penyiaran televisi
dan radio. Berbeda dengan pendidikan formal, pendidikan nonformal tidak disertai dengan
ijazah, tetapi memiliki sertifikasi kompetensi. Proses dari kedua jenis pendidikan ini nantinya
diharapkan akan menghasilkan tenaga ahli yang kemudian dapat berperan dalam memberikan
ide-ide kreatif mengenai konsep awal penyiaran televisi dan radio.
Sekolah pendidikan ilmu penyiaran secara formal, baik televisi maupun radio, di Indonesia sudah
mulai memiliki jumlah yang cukup banyak walaupun sebagian besar hanya terdapat di kota-kota
besar. Akan tetapi, pendidikan ilmu penyiaran tidak hanya dapat diperoleh melalui pendidikan
formal, tetapi juga pendidikan nonformal yang bersertifikasi ataupun tidak. Di Indonesia sendiri,
fasilitas seperti ini biasanya disediakan oleh komunitas penyiaran televisi ataupun radio dalam
bentuk seminar, workshop, dan festival.
Aktor-aktor di bidang akademisi yang berperan dalam rantai nilai studi adalah sekolah-sekolah
yang menawarkan pendidikan formal terkait dengan ilmu penyiaran di Indonesia. Adapun
sekolah-sekolah yang memiliki program pendidikan ilmu penyiaran dan jurnalistik tersebut
adalah sebagai berikut:

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bina Nusantara Medan.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan Medan.

Akademi Ilmu Komunikasi Padang.

Akademi Komunikasi Bina Ekatama.

Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi.

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

41

Akademi Teknologi Komunikasi dan Informasi Indosiar.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang.

Akademi Komunikasi Indonesia Yayasan Pendidikan Komunikasi.

Akademi Komunikasi Yogyakarta.

Akademi Telekomunikasi Indonesia Yogyakarta.

UPN Veteran Yogyakarta.

Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Mahkamah Samarinda.

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Fajar.

Multi Media Training Center MMTC Yogyakarta.

Adapun di bidang bisnis, aktor yang menyelenggarakan ilmu pendidikan terkait dengan industry
penyiarantelevisi dan radio adalah lembaga-lembaga kursus penyiaran. Biasanya lembaga-lembaga
kursus ini sebagian besar didirikan oleh stasiun radio ataupun televisi itu sendiri. Beberapa
contoh stasiun televisi dan radio yang membuka kursus bidang jurnalistik dan penyiaran adalah
sebagai berikut:

MitraFM Bekasi.

99ers Radio School.

DJ Arie Broadcasting School.

Shinta Broadcasting School.

Journalist Development Program (JDP) TVOne.

Broadcast Development Program (BDP) RCTI.

Production Development Program (PDP), Cameraman Development Program (CAMDP),


dan Technic Development Program (TDP) oleh Metro TV.

Dari lapisan yang berperan sebagai penyelenggara ilmu pendidikan di penyiaran adalah komunitaskomunitas film, jurnalistik, atau radio. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa lembaga komunitas
terkait dengan bidang penyiaran seperti berikut ini:

Komunitas Penyiar dan Pendengar Siaran Radio.

Jaringan Radio Komunitas.

Komunitas Televisi Indonesia (KOMTEVE).

Komunitas Presenter Indonesia.

C.3 Pengarsipan
Proses pengarsipan pada industritelevisi dan radio terdiri dari beberapa aktivitas, yaitu pengumpulanrestorasi-penyimpanan-preservasi.

42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Gambar 2-11 Peta Pengarsipan Subsektor Konten Televisi dan Radio

Pada televisi dan radio, bentuk pengarsipan dapat dilakukan oleh beberapa pihak berikut ini:
1. Stasiun Televisi dan Radio
Dokumentasi yang dilakukan oleh stasiun televisi dan radio biasanya meliputi pengarsipan
konten-konten yang disiarkan oleh stasiun-stasiun tersebut. Konten yang direkam oleh
stasiun televisi dan radio itu sendiri disimpan sebagai arsip yang akan digunakan baik untuk
bahan evaluasi ataupun sebagai bahan masukan dalam riset dan pengembangan konten
acara. Adapun untuk acara-acara yang bersifat rekaman secara in-house akan disimpan
dalam ruang pengarsipan internal setelah proses produksinya selesai dan diputar pada saat
jadwal tayang acara tersebut tiba. Sedangkan untuk acara siaran langsung akan disimpan
sebagai database untuk keperluan studi lembaga-lembaga pendidikan, apresiasi, ataupun
keperluan lainnya. Hal yang sama dilakukan untuk dokumentasi jumlah penonton dan
pendengar setiap acara.
2. Pemerintah
Peran pemerintah dalam proses pengarsipan diantaranya adalah melalui Badan Pusat
Statistik (BPS) ataupun preservasi dalam bantuk museum yang dapat diakses oleh publik
secara bebas, mudah, dan cepat. Di Indonesia sendiri, museum yang menyimpan arsip
dokumentasi seputar kejadian-kejadian bersejarah di industri penyiaran di Indonesia
adalah Museum Penerangan. Museum ini tidak hanya menyimpan dokumentasi peristiwaperistiwa bersejarah terkait penyiaran, tetapi juga replika studio penyiaran yang dapat
merefleksikan suasana saat proses penyiaran sedang berlangsung.
3. Komunitas
Peran komunitas dalam proses pengarsipan cukup signifikan. Bahkan, beberapa dokumen
daftar konten acara yang diarsipkan oleh komunitas terkadang memiliki kelengkapan serta
aktualisasi yang lebih baik jika dibandingkan dengan dokumen pemerintah. Terlebih lagi,
untuk kemudahan akses publik, dokumen komunitas terkadang tidak memiliki birokrasi
yang rumit sehingga mempercepat proses akses secara langsung.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya rantai nilai pengarsipan, meliputi proses pendokumentasian acara
televisi dan radio yang telah disiarkan secara langsung sebagai database yang nantinya akan digunakan
baik untuk proses studi, apresiasi, maupun pencarian ide dan inovasi. Proses pengarsipan yang
bentuknya berupa bahan mentah dari acara televisi dan radio disimpan oleh stasiun-stasiun itu sendiri.
Sedangkan untuk dokumen-dokumen yang terkait dengan database, seperti rating, jumlah penonton
diarsipkan oleh lembaga-lembaga yang bergerak dibidang statistik seperti badan penelitian statistik

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

43

atau lembaga survei seperti Nielsen. Sayangnya, di Indonesia sendiri, lembaga survei yang melakukan
penelitian mengenai preferensi penonton televisi dan pendengar radio di Indonesia hingga saat ini
hanyalah Nielsen. Sehingga tidak terdapat perbandinganyang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio


2.2.1 Peta Industri Televisi dan Radio
Peta industri adalah peta yang menggambarkan hubungan antar pelaku dan entitas usaha yang
membentuk industri utama, mulai dari proses kreasi hingga eksibisi atau presentasi; serta pelaku
dan entitas pendukung yang memberikan suplai pada pelaku dan entitas usaha di industri utama
(backward linkage) dan entitas pendukung yang memberikan permintaan (demand) kepada pelaku
dan entitas usaha industri utama (forward linkage).
Peta industri dibuat sebagai gambaran ruang lingkup aktor-aktor yang terlibat secara langsung
serta seberapa banyak industri pendukung yang terlibat secara tidak langsung dalam menjalani
proses bisnis industri yang terkait. Pada industri kreatif subsektor televisi dan radio, peta industri
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu peta industri subsektor televisi dan subsektor radio.Hal ini
disebabkan kedua industri memiliki perbedaan aktor dan industri pendukung yang cukup
signifikan, sehingga tidak memungkinkan untuk digambarkan dalam satu bagan.
Pada industri kreatif subsektor televisi, tahapan kreasi dilakukan oleh tim content creator. Industri
pendukung yang dapat dilibatkan setelah konsep awal dilahirkan adalah industri film dan percetakan.
Hal ini disebabkan oleh hasil konsep yang digagas oleh sutradara dan produser dapat dibuat
dalam versi film atau kemudian ditulis oleh penulis buku untuk selanjutnya diterbitkan dalam
bentuk novel atau literatur. Selanjutnya tahapan produksi dilakukan oleh rumah produksi yang
terlibat, baik dalam studio yang dimiliki oleh stasiun televisi tersebut, ataupun rumah produksi
independen. Industri pendukung yang terlibat dalam proses produksi ini meliputi teknis serta
artistik selama proses rekaman ataupun penyiaran berlangsung.
Berbeda dengan industri televisi, industri radio lebih banyak melibatkan industri musik yang
mendukung dalam setiap tahapan rantai nilainya.Perbedaan juga teletak pada jenis-jenis aktor
yang terlibat di dalamnya. Terlihat bahwa music director dan sound designer memegang peranan
utama yang penting dalam tahapan kreasi dan produksi. Sedangkan indutri pendukung pada
tahapan produksi tentunya adalah industri musik serta manajemen artis yang terkadang diperlukan
dalam beberapa acara spesial.
Sebagaimana terlihat pada Gambar-11 dan Gambar-12, aktor utama yang terlibat dalam peta
industri subsektor televisi dan radio ada tiga, yaitu industri televisi, industri radio, serta rumah
produksi independen. Dari gambaran tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa ruang lingkup
industri yang relevan pada subsektor televisi dan radio merupakan industri-industri yang bergerak
di ketiga bidang tersebut.

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Gambar 2-12 Peta Industri Subsektor Televisi

Bab 2: Ekosistem dan Ruang Lingkkup Industri Televisi dan Radio Indonesia 2015-2019

45

Gambar 2-13 Peta Industri Subsektor Radio

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

A. Pelaku Industri dalam Proses Kreasi


Pada proses kreasi untuk industri televisi, terdapat beberapa pelaku utama yang berperan penting
dalam pembuatan suatu ide konten acara, diantaranya adalah sutradara, produser, program
supervisor, serta program director.
1. Sutradara dalam industri televisi memiliki beberapa peran gabungan, yakni memberikan
pengarahan para pemain dan pengisi acara, bertanggung jawab dalam merumuskan ide
serta menerjemahkan naskah konten acara ke dalam pesan audio visual, dan yang terakhir
adalah memberikan pengarahan kepada tim operasional dan teknis terkait kebutuhan
produksi. Pada proses kreasi, peran utama seorang sutradara konten televisi adalah
memberikan masukan bagaimana sebaiknya mengemas ide-ide yang digagas oleh para
anggota creative talent agar menjadi suatu konsep yang menarik dan kreatif.
2. Produser dalam proses kreasi berperan sebagai pencetus ide ataupun pengembang ide
yang dicetuskan. Selain itu, seorang produser juga berperan penting dalam membantu
penulis dalam menerjemahkan ide konten ke dalam bentuk naskah.
3. Program supervisor pada proses kreasi bertugas sebagai untuk mengawasi dan menyetujui
proses perumusan ide konten acara yang diajukan. Akan tetapi seringkali program supervisor
juga ikut mengajukan ide konten acara.
4. Program director pada proses kreasi bertanggung jawab untuk mengarahkan tim content
creator agar ide-ide yang diajukan sesuai dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai.
Adapun industri-industri yang mendukung proses kreasi pada konten televisi diantaranya
adalah konsultan media, lembaga survei, asosiasi, serta pemerintah. Lembaga-lembaga tersebut
mendukung proses kreasi konten televisi dalam hal memberikan masukan atau sebagai sumber
inspirasi dari ide konten yang akan dibuat.
Keluaran dari proses kreasi konten televisi umumnya berupa naskah konten acara yang sudah
disetujui dan siap untuk diproduksi. Naskah konten acara televisi tersebut, selain dikemas dalam
proses produksi, dapat pula digunakan sebagai masukan untuk industri hiburan lainnya seperti
industri perfilman, ataupun industri penerbitan buku.
Sedangkan pada industri radio, ide konten acara dicetuskan sepenuhnya oleh produser yang
didukung oleh masukan dari para penyiar, scriptwriter, program supervisor, program director, dan
music director.
1. Produser pada proses kreasi berperan aktif dalam perumusan ide konten acara siaran
yang akan dibuat. Pada industri radio, peran produser menjadi sangat penting karena
keterlibatannya di setiap proses dalam rantai nilai kreasi sangat besar.
2. Penyiar pada proses kreasi bertugas untuk memberikan masukan serta penyesuaian
terhadap beberapa ide konten siaran yang akan difinalisasi.
3. Program supervisor pada proses kreasi kurang lebih memiliki peran yang hampir serupa
dengan penyiar radio. Perbedaannya adalah, program supervisor memiliki tanggung jawab
lebih dalam mengawasi kesesuaian proses perumusan ide dengan ketentuan-ketentuan
yang diberlakukan.
4. Program director bertugas selain sebagai penanggung jawab, juga memiliki wewenang
untuk menyetujui atau tidaknya suatu ide konten acara yang diajukan.

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

47

5. Music director bertugas untuk merancang daftar panduan yang berisi judul musik yang
akan diputar pada saat siaran acara berlangsung. Daftar musik yang ditentukan dapat
dibuat berdasarkan tema siaran acara, tren lagu terpopuler di dunia, ataupun ciri khas
dari radio itu sendiri. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa lagu yang diputar
dapat diubah sewaktu-waktu oleh penyiar.
Adapun industri-industri yang mendukung proses kreasi pada konten radio diantaranya adalah
penulis buku, TELEVISI talent, media cetak, media elektronik, media digital, serta konsultan
media. Lembaga-lembaga tersebut mendukung proses kreasi konten radio dalam hal memberikan
masukan atau sebagai sumber inspirasi dari ide konten yang akan dibuat.
Keluaran dari proses kreasi konten radio umumnya berupa naskah konten acara yang sudah
disetujui dan siap untuk diproduksi. Naskah ataupun pointer script konten acara radio tersebut,
selain dikemas dalam proses produksi, dapat pula digunakan sebagai masukan untuk industri
perfilman, industri radio, industri penerbitan buku, ataupun industri musik.

B. Pelaku Industri dalam Proses Produksi


Pada rantai nilai produksi, terdapat perbedaan pada aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Aktoraktor yang terlibat pada rantai nilai produksi di industri televisi itu sendiri meliputi tim produksi
(sutradara, produser, scriptwriter, dll), tim artistik, tim teknis, serta tim editor.

Tim produksi merupakan orang-orang yang secara langsung terlibat secara substansial
pada saat proses pengemasan suatu konten acara berlangsung. Dalam hal ini, aktor-aktor
utama yang termasuk ke dalam tim produksi diantaranya adalah sutradara, produser,
scriptwriter.

Tim artistik merupakan orang-orang yang terlibat dalam penataan artistik yang mendukung
nilai estetika dari suatu konten acara itu sendiri. Contoh tim artistik diantaranya adalah
tim penataan properti panggung, tim penata rias, serta tim kostum.

Tim teknis merupakan orang-orang yang terlibat dalam persiapan teknis untuk keperluan
pengemasan konten acara. Proses pengelolaan alat-alat elektronik oleh para teknisi dan
operator adalah kegiatan utama yang dilakukan oleh tim teknis.

Tim editor adalah orang-orang yang bekerja khusus untuk konten acara yang sifatnya
rekaman atau siaran tidak langsung. Konten yang direkam perlu dilakukan penyuntingan
lebih lanjut untuk meningkatkan kualitas konten tersebut. Di sini lah tim editor berperan
dalam memberikan penyuntingan akhir dari konten-konten acara rekaman.

Pada proses produksi industri televisi, terdapat industri pendukung yang memegang peranan
penting, diantaranya adalah industriyang meliputi teknis serta artistik selama proses produksi
rekaman ataupun penyiaran berlangsung.
Sedangkan pada industri radio, aktor-aktor yang terlibat dalam rantai nilai produksi adalah
sebagai berikut ini:

48

Sound designer dalam proses produksi bertugas untuk membuat musik pendukung konten
acara ketika penyiaran berlangsung. Pembuatan jingle, bumper, dan stinger merupakan
beberapa contoh produk yang dihasilan oleh seorang sound designer dalam mendukung
proses pengemasan konten siaran agar lebih atraktif dan menarik minat pendengarnya.

Produser dalam proses produksi bertugas untuk mengawasi jalannya proses pengemasan
konten siaran, ataupun jalannya proses penyiaran agar tetap berada dalam jalur yang telah
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

disepakati sebelumnya. Produser juga bisa melakukan beberapa penyesuaian lebih lanjut
saat proses produksi berlangsung apabila dibutuhkan.

Program director dan program supervisor dalam proses produksi bertugas untuk
memonitor jalannya proses penyiaran acara siaran langsung agar tetap berada pada batasan
norma serta aturan yang berlaku.

Penyiar merupakan aktor terpenting dalam proses produksi konten acara radio. Sebagian
besar konten siaran radio tidak dibawakan menggunakan naskah tertulis, melainkan
sepenuhnya datang dari imajinasi dan kreativitas sang penyiar itu sendiri. Oleh sebab
itu, citra sebuah stasiun radio akan sangat erat kaitannya dengan gaya siaran dari para
penyiarnya itu sendiri.

Operator bertugas untuk memastikan bahwa seluruh kebutuhan teknis penyiaran konten
acara yang dibutuhkan telah terpenuhi dan dapat dijalankan dengan baik.

Tim Editor dalam proses produksi konten radio bertugas untuk mengemas konten siaran
yang sifatnya adalah rekaman. Biasanya, tim editor dalam industri radio juga banyak
melibatkan produser, penyiar, dan sound designer di dalam proses penyuntingan akhir
konten siaran rekaman.

Pada proses produksi konten radio, terdapat industri pendukung yang memegang peranan penting,
diantaranya adalah industriyang meliputi manajemen artis yang bertugas mengelola bintang
tamu yang didatangkan pada acara siaran, penyedia alat elektronik penyiaran, industri musik,
serta rumah produksi pembuat iklan radio.

C. Pelaku Industri dalam Proses Distribusi


Proses distribusi hanya dilalui oleh konten acara rekaman televisi baik yang diproduksi oleh
stasiun televsimaupun rumah produksi independen. Proses distribusi ini dilakukan agar konten
acara yang diproduksi dapat disiarkan di stasiun televisilain sehingga mampu memperluas pasar
dan jangkauan siarnya. Pelaku industri yang telibat dalam proses distribusi tentunya adalah
organisasi burssa yang bertindak sebagai pihak ketiga dalam memasarkan konten acara televisi.
Umumnya, konten acara televisi yang diikutsertakan dalam bursa konten acara adalah drama
berseri serta kuis atau permainan.

D. Pelaku Industri dalam Proses Penyiaran


Pada proses penyiaran konten televisi, pelaku industri utama yang terlibat adalah stasiun televisi
dan provider layanan kanal siaran lainnya, baik yang berbasis kabel, satelit, maupun internet.
Tentunya, proses penyiaran memiliki keterkaitan yang erat dengan industri telekomunikasi
penyedia jaringan kanal siaran, serta industri penyedia jasa listrik. Oleh sebab itu, hasil produksi
dari kedua jenis industri tersebut merupakan input yang paling penting untuk digunakan oleh
channel operator penyiaran konten televisi dan radio.
Adapun konten acara televisi dan radio yang disiarkan kepada publik akan digunakan sebagai
bahan input bagi komisi penyiaran untuk memonitor konten siaran. tugas komisi penyiaran
sendiri adalah memastikan bahwa konten yang disiarkan di televisi dan radio tetap sesuai
dengan kebijakan dan norma yang berlaku, serta tidak menimbulkan dampak negatif bagipara
penikmatnya. Apabila terdapat konten acara yang melanggar ketentuan-ketentuan tersebut,
maka komisi penyiaran berhak memberikan peringatan atau bahkan menghentikan sementara
penyiaran konten acara tersebut kepada publik.

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

49

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio


Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009, ruang lingkup dari
industry kreatif televisi dan radio dijabarkan sebagai kegiatan kreatif yang mencakup kegiatankegiatan berikut ini:

KODE 60 PENYIARAN DAN PEMROGRAMAN


Golongan pokok ini mencakup pembuatan muatan atau isi siaran atau perolehan hak untuk
menyalurkannya dan kemudian menyiarkannya, seperti radio, televisi, dan program hiburan,
berita, perbincangan dan sejenisnya. Juga termasuk penyiaran data, khususnya yang terintegrasi
dengan penyiaran radioatau televisi. Penyiaran dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi
yangberbeda, melalui udara, satelit, jaringan kabel atau melalui internet. Termasuk produksi dari
program yang khususnya memberikan informasi dasar padakalangan tertentu dengan format
yang terbatas, seperti program berita, olahraga, pendidikan dan program yang ditujukan untuk
anak muda atas dasarberlangganan atau biaya, pada pihak ke tiga, untuk penyiaran berikutnya
kemasyarakat. Tidak termasuk program berlangganan dengan atau tanpa kabel lainnya (Golongan
Pokok 61).

KODE 601 PENYIARAN RADIO


Golongan ini mencakup penyiaran sinyal suara melalui studio penyiaran radio dan fasilitas
untuk transmisi program yang berhubungan dengan masyarakat, termasuk mengumpulkan
dan menyalurkan program melalui kabel atau satelit,internet (stasiun radio internet), termasuk
penyiaran data yang terintegrasi dengan penyiaran radio.

KODE 6010 PENYIARAN RADIO


Subgolongan ini mencakup:

Penyiaran sinyal suara melalui studio penyiaran radio dan fasilitas untuk transmisi
pemograman sinyal suara kepada masyarakat, untuk para pendengar.

Kegiatan jaringan radio, yaitu mengumpulkan dan mengirimkan program sinyal suara
untuk para pendengar lewat udara, kabel atau satelit.

Kegiatan penyiaran radio lewat internet (stasiun radio internet).

Penyiaran data yang terintegrasi dengan penyiaran radio.

Subgolongan ini tidak mencakup:


Produksi program siaran radio yang direkam, lihat 5920.

Kode 60101 Penyiaran Radio oleh Pemerintah


Kelompok ini mencakup kegiatan pemerintah dalam usaha penyelenggaraan siaran radio,
seperti penyiaran sinyal suara melalui studio penyiaran radio dan fasilitas untuk transmisi
pemrograman sinyal suara kepada masyarakat atau pendengar; kegiatan jaringan radio,
yaitu mengumpulkan dan mengirimkan program sinyal suara untuk para pendengar lewat
udara, kabel atau satelit; kegiatan penyiaran radio lewat internet (stasiun radio internet);
dan penyiaran data yang terintegrasi dengan penyiaran radio. Termasuk juga station relai
(pemancar kembali) siaran radio.

50

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Kode 60102 Penyiaran Radio oleh Swasta


Kelompok ini mencakup kegiatan dalam usaha penyelenggaraan siaran radio yang dikelola
oleh swasta, seperti penyiaran sinyal suara melalui studio dan fasilitas untuk transmisi
pemograman sinyal suara kepada masyarakat atau pendengar; kegiatan jaringan radio,
yaitu mengumpulkan dan mengirimkan program sinyal suara untuk para pendengar lewat
udara, kabel, atau satelit; kegiatan penyiaran radio lewat internet (stasiun radio internet);
dan penyiaran data yang terintegrasi dengan penyiaran radio. Termasuk juga station relai
(pemancar kembali) siaran radio.

KODE 602 PENYIARAN DAN PEMROGRAMAN TELEVISI


Golongan ini mencakup kegiatan pembuatan program saluran televisi lengkap, dari komponen
program yang dibeli (misalnya film, dokumentasi dan lain-lain), komponen program yang
dihasilkan sendiri (misalnya berita lokal, laporan langsung) atau kombinasi dari hal tersebut.
Program televisi lengkap ini dapat disiarkan baik melalui unit yang menghasilkan atau dihasilkan
untuk transmisi melalui distributor pihak ketiga, seperti Cable Companies atau penyedia televisi
satelit. Termasuk penyiaran data terintegrasi dengan penyiaran televisi.

KODE 6020 PENYIARAN DAN PEMROGRAMAN TELEVISI


Subgolongan ini mencakup:

Pembuatan program saluran televisi lengkap dari komponen program yang dibeli (seperti,
film, dokumenter dan lain-lain), komponen program yang dihasilkan sendiri (seperti
berita lokal, laporan langsung) atau kombinasi keduanya.

Program televisi lengkap dapat disiarkan sendiri atau melalui distribusi pihak ketiga, seperti
perusahaan kabel atau provider televisi satelit. Pemograman dapat bersifat umum atau khusus
(misalnya format terbatas seperti program berita, olahraga, pendidikan atau program yang
ditujukan untuk anak muda), dapat dibuat dengan bebas tersedia untuk pemakai atau dapat
hanya tersedia atas dasar langganan.

Pemograman dari saluran video atas dasar permintaan.

Penyiaran data yang diintegrasikan dengan siaran televisi.

Subgolongan ini tidak mencakup:

Produksi komponen program televisi (misalnya film, film dokumentasi,iklan), lihat 5911.

Penggabungan paket saluran dan distribusi dari paket tersebut melalui kabel atau satelit
ke penonton, lihat Golongan Pokok 61.

Kode 60201 Penyiaran dan Pemrograman Televisi oleh Pemerintah


Kelompok ini mencakup kegiatan pemerintah dalam usaha penyelenggaraan siaran televisi,
termasuk juga station relay (pemancar kembali) siaran televisi, seperti pembuatan program
saluran televisi lengkap dari komponen program yang dibeli (seperti film, documenter,
dan lain-lain), komponen program yang dihasilkan sendiri (seperti berita lokal, laporan
langsung) atau kombinasi keduanya; pemrograman dari saluran video atas dasar permintaan;
dan penyiaran data yang diintegrasikan dengan siaran televisi. Program televisi lengkap
dapat disiarkan sendiri atau melalui distribusi pihak ketiga, seperti perusahaan kabel
atau provider televisi satelit.Pemrograman dapat bersifat umum atau khusus (misalnya
format terbatas seperti program berita, olahraga, pendidikan atau program yang ditujukan

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

51

untuk anak muda), dapat dibuat dengan bebas tersedia untuk pemakai atau dapat hanya
tersedia atas dasar langganan.

Kode 60202 Penyiaran dan Pemrograman Televisi oleh Swasta


Kelompok ini mencakup kegiatan dalam usaha penyelenggaraan siaran televisi yang
dikelola oleh swasta, termasuk juga station relay (pemancar kembali) siaran televisi,
seperti pembuatan program saluran televisi lengkap dari komponen program yang dibeli
(seperti film, dokumenter, dan lain-lain), komponen program yang dihasilkan sendiri
(seperti berita lokal, laporan langsung) atau kombinasi keduanya; pemrograman dari
saluran video atas dasar permintaan; dan penyiaran data yang diintegrasikan dengan
siaran televisi. Program televisi lengkap dapat disiarkan sendiri atau melalui distribusi
pihak ketiga, seperti perusahaan kabel atau provider televisi satelit. Pemrograman dapat
bersifat umum atau khusus (misalnya format terbatas seperti program berita, olahraga,
pendidikan atau program yang ditujukan untuk anak muda), dapat dibuat dengan bebas
tersedia untuk pemakai atau dapat hanya tersedia atas dasar langganan.
Berdasarkan KBLI 2009, maka terlihat bahwa ruang lingkup industri televisi dan radio mencakup
penyelenggaraan penyiaran dan pemrograman yang dilakukan oleh stasiun televisi dan radio
milik pemerintah dan swasta. Adapun sebaiknya ruang lingkup ini diperluas lagi dengan ikut
melibatkan rumah produksi independen yang terbatas untuk menyiarkan produknya di stasiun
televisi dan radio sebagai konten acara. Hal ini disebabkan oleh ruang lingkup industri kreatif
subsektor televisi dan radio itu sendiri lebih menitikberatkan pada proses pemrograman, dimana
unsur kreativitas di dalamnya sangatlah tinggi. Di sisi lain, proses pemrograman hiburan konten
televisi itu sendiri sebagian besar dilakukan oleh rumah produksi independen yang kemudian
dibeli hak siarnya oleh stasiun televisi pemerintah dan swasta.

2.2.3 Model Bisnis di Industri Televisi dan Radio


Industri televisi dan radio merupakan dua jenis industri media penyiaran elektronik yang memiliki
proses bisnis yang hampir serupa. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk menyebarkan
informasi dan hiburan kepada publik secara serentak. Tentunya tidak mengherankan apabila
kedua industri ini memiliki model bisnis yang juga mirip.
Ada beberapa jenis model bisnis yang dikenal secara umum yang diadaptasi oleh beragam pemain
utama pada industritelevisi dan radio. Untuk setiap pemeran utama, tentunya akan memiliki
model bisnis yang juga berbeda-beda, terganting dari proses bisnisnya. Berikut ini beberapa
penjelasan model bisnis yang diadaptasi oleh masing-masing pemain utama pada industri televisi
dan radio yang diklasifikasikan berdasarkan jenis pemain utamanya.

Jaringan Televisi Nasional dan Lokal (Free to Air)


Stasiun penyiaran berjaringan nasional maupun lokal merupakan stasiun televisi ataupun radio
yang disiarkan secara gratis pada publik melalui jaringan frekuensi satelit ataupun pemancar.
Bentuk jaringan penyiaran seperti ini dapat diakses public secara gratis apabila jangkauan pemancar
atau penerima satelit yang digunakan memadai di areanya. Ada beberapa stasiun televisi dan
radio yang memiliki jenis jaringan penyiaran seperti ini di Indonesia. Akan tetapi, untuk radio,
jangkauan penyiarannya tidak menggunakan satelit, sehingga terbatas dalam satu area yang jauh
lebih kecil dari luas jangkauan jaringan televisi.

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Sumber pendapatan utama yang diperoleh dari layanan jaringan penyiaran gratis ini adalah
melalui iklan. Model bisnis dengan cara mendapatkan pendapatan melalui berbagai perusahaan
lain dengan menyediakan satu jenis fasilitas yang mereka butuhkan, tetapi memberikan produknya
secara gratis pada konsumen seperti ini disebut juga dengan model bisnis fee in, free out.
Setiap stasiun televisi dan radio seperti ini memiliki standar proporsi iklan yang berbeda-beda
pada setiap programnya. Biasanya, semakin banyak peminat program acara, maka akan semakin
banyak pula iklan yang ditayangkan oleh stasiun televisi atau radio tersebut. Jenis-jenis iklan
yang ditayangkan biasanya juga memiliki target pasar yang disesuaikan dengan jenis program
acara yang ditayangkan atau disiarkan. Kerjasama antara perusahaan yang ingin mengiklankan
produknya dengan stasiun televisi atau radio biasanya terjadi dalam dua arah, baik klien yang
mendatangi stasiun televisi atau radio, maupun stasiun televisi atau radio yang menawarkan
fasilitas promosi pada program acara yang dimilikinya.
Agar tetap dapat mempertahankan bisnisnya, tentunya stasiun televisi mematok harga yang
tidak sedikit bagi para kliennya untuk dapat memasang iklan pada jeda programnya. Beberapa
stasiun televisi berjaringan nasional di Indonesia mengemukakan bahwa terkadang tarif untuk
pemasangan iklan selama 30 detik pada program acara prime time bisa mencapai kisaran 350
juta rupiah hingga 750 juta rupiah dalam satu rentang waktu kontraknya. Apabila program
acara yang ditayangkan pada saat peak time umumnya memiliki slot waktu sekitar 10 hingga 15
menit dalam satu kali jeda iklan, tentunya jumlah pendapatan yang diperoleh dari iklan menjadi
sangat besar. Hal ini mengapa stasiun televisi berjaringan nasional masih tetap dapat bertahan
kuat tanpa perlu menetapkan tariff berlangganan pada para penontonnya.

Perusahaan Jaringan Siaran Berbayar


Selain jaringan penyedia siaran penyiaran secara gratis, adapun beberapa stasiun televisi yang
berbayar. Di Indonesia sendiri, untuk siaran radio berbayar belum tersedia, sehingga siaran
program berbayar hanya sebatas stasiun televisi saja. Biasanya stasiun-stasiun televisi berbayar ini
merupakan stasiun televisi dari luar negeri yang menjalin kerjasama dengan perusahaan televisi kabel
agar dapat disiarkan di Indonesia. Program-program acara yang ditayangkannya pun jauh lebih
beragam dan memiliki porsi iklan yang lebih sedikit dibandingkan dengan stasiun televisi lokal.
Pendapatan utama pada perusahaan televisi kabel ini tentunya adalah dari jumlah pelanggan
mereka di seluruh Indonesia. Setiap pelanggan yang memutuskan untuk berlangganan dapat
memilih jenis-jenis paket yang disediakan dengan harga yang beragam. Terkadang, paket yang
ditawarkan tidak hanya meliputi akses stasiun televisi luar negeri saja, tetapi juga paket penyedia
jasa internet. Model bisnis seperti ini disebut sebagai model bisnis berlangganan (subscription
business model).
Model bisnis berlangganan merupakan model bisnis yang mewajibkan para pelanggannya untuk
membayar sejumlah harga berlangganan yang telah ditetapkan untuk dapat memiliki akses pada
suatu produk atau jasa dalam periode waktu tertentu. Model ini pertama kali diprakarsai oleh
industri media cetak, yaitu majalah dan koran.

Rumah Produksi Independen


Rumah produksi independen merupakan industri yang menyediakan jasa berupa pembuatan
konten program acara yang tidak dapat dibuat oleh studio televisi atau radio. Di indonesia,

BAB 2: Ekosistem & Ruang Lingkup Industri Televisi dan Radio Indonesia

53

rumah produksi independen lazim dijalankan untuk menghasilkan program acara serial televisi
dibandingkan dengan acara siaran radio. Sumber pemasukan utama dari rumah produksi
independen ini diperoleh dari biaya hak siar yang ditetapkan oleh rumah produksi independen
untuk masing-masing program acaranya. Umumnya, proses jalinan kerjasama ini terjadi dengan
cara menawarkan program acara yang dimiliki kepada beberapa stasiun televisi yang berminat.
Model bisnis seperti ini dikenal juga dengan model bisnis penjualan langsung (direct selling
business model).
Pada model bisnis penjualan langsung, rumah produksi independen bertugas sebagai pabrik
pembuat program acara yang tidak dapat dilakukan oleh rumah produksi stasiun televisi. Pembuatan
program acara serial di luar studio dapat memakan biaya dan sumber daya yang sangat tinggi,
sehingga tidak dimungkinkan bagi stasiun televisi untuk melakukan produksi tersebut dalam
jangka waktu yang panjang. Kelebihan yang dimiliki oleh rumah produksi independen yang
sudah besar adalah lokasi tetap serta fasilitas kelengkapan alat produksi yang telah disediakan
secara tetap di beberapa lokasi tersebut, sehingga mobilisasi dan set up time bisa dieliminasi.
Hal ini memudahkan rumah produksi independen untuk dapat memproduksi beragam jumlah
program dalam waktu yang sangat singkat.

Internet Protocol Based Provider


Sistem penyiaran program acara televisi ataupun siaran radio melalui jaringan internet kurang
lebih memiliki prinsip yang sama seperti halnya dengan stasiun televisi dan radio lokal. Sistem
ini menawarkan fasilitas web streaming gratis bagi para penonton dan pendengarnya, akan tetapi
menyediakan fasilitas layanan iklan berbayar pada platform-nya. Untuk itu, bisa dikatakan bahwa
model bisnis yang diadaptasi oleh siaran acara internet protocol (IP) based provider adalah fee in,
free out.
Akan tetapi, beberapa siaran IP Based menyediakan pula layanan berlangganan berbayar untuk
dapat mengakses siaran acaranya. Untuk jenis model bisnis seperti ini, IP based provider mengadaptasi
model bisnis berlangganan, seperti yang dilakukan oleh perusahaan televisi kabel berbayar.

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

BAB 3
Kondisi Umum Televisi
dan Radio di Indonesia

3.1 Kontribusi Ekonomi Televisi dan Radio


Peranan ekonomi kreatif bagi Indonesia sudah semestinya diukur secara kuantitatif sebagai indikator
yang nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran riil mengenai keberadaan ekonomi
kreatif yang mampu memberikan manfaat dan mempunyai potensi untuk ikut serta memajukan
Indonesia. Bentuk nyata kontribusi ini dapat diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan oleh
seluruh subsektor pada ekonomi kreatif, termasuk televisi dan radio.
Perhitungan kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB),
ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan
perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk perhitungan kontribusi
ekonomi televisi dan radio, nilai yang ada pada data BPS itu dihitung berdasarkan data Klasifikasi
Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif 2009. Secara umum kontribusi ekonomi subsektor
televisi dan radio dapat dilihat pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Televisi dan Radio 2010-2013

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

13,288.48

15,664.90

17,518.58

20,340.49

16,703.11

BERBASIS PRODUK DOMESTIK BRUTO

Nilai Tambah
Subsektor
(ADHB)*

Miliar Rupiah

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap
Ekonomi Kreatif
(ADHB)*

Persen

2.81

2.97

3.03

3.17

2.99

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap Total
PDB (ADHB)*

Persen

0.21

0.21

0.21

0.22

0.21

Pertumbuhan
Nilai Tambah
Subsektor
(ADHK)**

Persen

7.44

6.44

6.82

6.90

BERBASIS KETENAGAKERJAAN

Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Orang

123,051

125,392

127,189

128,061

125,923

Tingkat
Partisipasi Tenaga
Kerja terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

1.07

1.08

1.08

1.08

1.08

Tingkat
Partisipasi Tenaga
Kerja terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.11

0.11

0.11

0.12

0.11

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Persen

1.90

1.43

0.69

1.34

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu Rupiah/
Pekerja
Pertahun

107,992

124,927

137,737

158,834

94,513.59

BERBASIS AKTIVITAS PERUSAHAAN

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

11,508

12,004

12,418

12,481

12,103

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Jumlah
Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

0.22

0.23

0.23

0.23

0.23

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

0.02

0.02

0.02

0.02

0.02

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

4.31

3.45

0.51

2.76

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta Rupiah

1,335,320.00

1,378,471.63

1,447,760.19

1,509,450.11

1,417,750.49

Kontribusi Ekspor
Subsektor
Terhadap Ekspor
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

1.38

1.31

1.31

1.27

1.32

Kontribusi
Ekspor Subsektor
Terhadap Total
Ekspor

Persen

0.08

0.07

0.07

0.07

0.07

Pertumbuhan
Ekspor Subsektor

Persen

3.23

5.03

4.26

4.17

BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta Rupiah

1,833,789.00

2,087,838.92

2,461,253.45

2,840,633.73

2,305,878.77

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga Subsektor
terhadap
Konsumsi Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

0.29

0.30

0.31

0.33

0.31

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga terhadap
Total Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

0.05

0.05

0.05

0.06

0.05

Pertumbuhan
Konsumsi Rumah
Tangga

Persen

13.85

17.89

15.41

15.72

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku **ADHK = Atas Dasar Harga Konstan
Sumber Data: Badan Pusat Statistik

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

59

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Dalam kontribusi berbasis produk domestik bruto, subsektor televisi dan radio telah memberikan
peran penting pada industri kreatif di Indonesia. Hal itu ditunjukan pada bagan kontribusi Produk
Domestik Bruto (PDB) Subsektor Televisi dan Radio berikut ini.
Gambar 3-1 Kontribusi terhadap Total Produk Domestik Bruto Industri Kreatif

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 31, dapat dilihat bahwa subsektor televisi dan radio menduduki peringkat
ke-6 terbesar dalam kontribusi terhadap total PDB industri kreatif Indonesia. Persisnya, subsektor
televisi dan radio memberikan kontribusi sebesar 3,17% dari total produk domestik bruto industri
kreatif. Rata-rata pertumbuhan NTB (Nilai Tambah Bruto) industri kreatif dan Indonesia secara
keseluruhan adalah 5,2% dan 6,1%. NTB subsektor televisi dan radio pada 2013 sendiri sejumlah
Rp20,340 triliun dengan rata-rata pertumbuhan NTB sebesar 6,9% untuk periode 2010-2013.
60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Dalam kontribusi berbasis ketenagakerjaan, subsektor televisi dan radio telah memberikan peran
cukup penting pada industri kreatif di Indonesia. Hal tersebut ditunjukan pada bagan kontribusi
Ketenagakerjaan Subsektor Televisi dan Radio berikut ini.
Berdasarkan Gambar 32, dapat dilihat bahwa subsektor televisi dan radio menduduki peringkat
ke-6 terbesar dalam kontribusi terhadap total tenaga kerja industri kreatif Indonesia. Kontribusi
yang diberikan oleh subsektor televisi dan radio adalah 1,08% terhadap total tenaga kerja industri
kreatif. Rata-rata pertumbuhan tenaga kerja industri kreatif dan Indonesia secara keseluruhan
adalah 1,09% dan 0,79%. Nilai tersebut didapatkan dari 128.061 tenaga kerja pada 2013 dengan
rata-rata pertumbuhan tenaga kerja sebesar 1,34% untuk periode 20102013.
Gambar 3-2 Kontribusi Terhadap Total Tenaga Kerja Industri Kreatif

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

61

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Dalam kontribusi berdasarkan aktivitas perusahaan, kontribusi yang diberikan oleh subsektor
televisi dan radio belum begitu signifikan dalam industri kreatif di Indonesia. Hal itu ditunjukkan
pada bagan perbandingan kontribusi Total Unit Usaha Subsektor Televisi dan Radio berikut ini.
Gambar 3-3 Kontribusi Terhadap Total Unit Usaha Bruto Industri Kreatif

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Berdasarkan Gambar 33, dapat dilihat bahwa subsektor televisi dan radio memberikan kontribusi
0,23% terhadap total unit usaha industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan unit usaha industri
kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 0,98% dan 1,05%. Nilai itu didapatkan dari
12.481 unit usaha pada 2013 dengan rata-rata pertumbuhan tenaga kerja sebesar 2,76% untuk
periode 20102013. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah unit usaha subsektor televisi dan radio di
Indonesia masih sangat minim, akibatnya informasi penting yang terkandung dalam konten acara
televisi dan radio masih belum dapat tersampaikan dengan baik ke seluruh daerah di Indonesia.

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Dalam kontribusi berbasis konsumsi rumah tangga, kontribusi yang diberikan oleh subsektor
televisi dan radio masih rendah jika dibandingkan dengan subsektor lain dalam industri kreatif
di Indonesia. Hal tersebut ditunjukan pada bagan Total Konsumsi Rumah Tangga Subsektor
Televisi dan Radio berikut ini.
Gambar 3-4 Kontribusi Terhadap Total Konsumsi Rumah Tangga

Sumber Data: Badan PusatStatsitik

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

63

Berdasarkan Gambar 34, dapat dilihat bahwa subsektor televisi dan radio memberikan kontribusi
0,23% terhadap total konsumsi rumah tangga industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan konsumsi
rumah tangga industri kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 10,5% dan 11,15%.
Nilai konsumsi rumah tangga pada 2013 sendiri bernilai Rp2.840,6 miliar dengan rata-rata
pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 15,72% untuk periode 2010-2013.v

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Dalam kontribusi berbasis konsumsi rumah tangga, kontribusi yang diberikan oleh subsektor
televisi dan radio masih rendah jika dibandingkan dengan subsektor lain dalam industri kreatif di
Indonesia. Kontribusi total nilai ekspor masih didominasi oleh subsektor mode. Hal itu tampak
pada bagan Total Ekspor Subsektor Televisi dan Radio berikut ini.
Gambar 3-5 Total Ekspor Subsektor Televisi dan Radio

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Dari data ekspor dan impor dalam industri televisi dan radio di Indonesia, terlihat bahwa jumlah
ekspor untuk industri televisi dan radio terus mengalami peningkatan. Rata-rata laju peningkatan
ekspor subsektor televisi dan radio pada periode 20102013 mencapai 4,17%. Akan tetapi, laju
peningkatan jumlah impor industri ini memiliki perbandingan yang jauh lebih tinggi dibandingkan
laju peningkatan ekspornya. Rata-rata laju peningkatan impor untuk subsektor televisi dan radio
pada periode 20102013 mencapai angka 18,47%.
Upaya peningkatan ekspor subsektor televisi dan radio bisa dilakukan dengan cara meningkatkan
kualitas dan daya saing konten yang diproduksi oleh televisi dan radio di Indonesia. Penetrasi
pasar melalui media konten digital merupakan salah satu strategi efektif yang bisa dilakukan.
Hal ini sebaiknya mendapat dukungan aktif dari pemerintah agar peningkatan daya saing konten
produksi lokal dapat menembus pasar internasional lebih luas lagi.
Gambar 3-6 Perbandingan Ekspor dan Impor Tahun 2010-2013 (dalam Ribu Rupiah) (BPS, 2010-2013)

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

65

3.2 Kebijakan Pengembangan Televisi dan Radio


Konten acara yang disiarkan oleh televisi ataupun radio tentunya telah dianggap lolos dan layak
untuk ditayangkan sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.
Adapun peraturan-peraturan yang berkaitan dengan konten siaran serta kegiatan penyiaran
adalah sebagai berikut ini:
Tabel 3-2 Tabel Kebijakan Subsektor Televisi dan Radio

KELOMPOK
PERATURAN
Undang-undang
terkait penyiaran
(KPI, 2013)

PERATURAN

KETERANGAN

Undang-undang Dasar 1945 (Amandemen


Keempat)

Undang-undang yang telah


dibuat terkait dengan proses
pelaksanaan kegiatan
penyiaran dan pemrograman
oleh beberapa pelaku
bisnis dinilai telah ideal dan
komprehensif. Akan tetapi
pada pelaksanaannya perlu
ketegasan dan batasan yang
jelas dari pihak pemerintah
sendiri. Resistensi terhadap
regulasi yang berlaku
menimbulkan dinamika yang
bersifat destruktif terhadap
ekosistem penyiaran itu
sendiri.

Undang-undang No. 8 Tahun 1992 tentang


Perfilman
Undang-undang No. 5 Tahun 1999 tentang
Praktik Monopoli dan Persaingan Tidak
Sehat
Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
Undang-undang No. 36 Tahun 1999
tentang Telekomunikasi
Undang-undang No. 39 Tahun 1999
tentang Hak Asasi Manusia
Undang-undang No. 40 Tahun 1999
tentang Pers
Undang-undang No. 19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta
Undang-undang No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak
Undang-undang No. 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran
Undang-undang No. 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan
Undang-undang No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

KELOMPOK
PERATURAN
Peraturan KPI (KPI,
2013)

PERATURAN
Keputusan KPI No. 45 Tahun 2014

Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar


Program Siaran (P3 dan SPS)

KETERANGAN
Peraturan KPI menjabarkan
terkait ketentuan-ketentuan
program acara yang layak
untuk disiarkan, serta
wewenang KPI terhadap
konten acara yang disiarkan.

Pedoman Rekrutmen Komisi Penyiaran


Indonesia
MoU (KPI, 2013)

Surat Keputusan Bersama BAWASLU,


KPU, KPI dan KIP - 28 Februari 2014
Keputusan Bersama KPU, KPI, dan
Bawaslu - 18 Oktober 2013
Nota Kesepahaman KPI dan Bawaslu

MoU yang berlaku


merupakan bentuk usaha
dukungan KPI sebagai
lembaga penyiaran untuk
menghimbau keterlibatan
masyarakat dalam isu-isu
sosial yang sedang diusung
oleh beberapa lembaga
pemerintahan.

Nota Kesepahaman KPI dan KPU


Nota Kesepahaman KPI dan Persatuan
Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia
Nota Kesepahaman KPI dan BkkbN
Nota Kesepahaman KPI dan Kepolisian
Negara Republik Indonesia
Nota Kesepahaman KPI dan LSF
Nota Kesepahaman KPI dan Lembaga
Penyiaran Publlik Radio Republik
Indonesia

Ditinjau dari dinamika yang terjadi pada setiap rantai nilai ekosistem subsektor televisi dan
radio, maka perlu dilakukan beberapa penambahan usulan kebijakan yang diharapkan dapat
membangun kondisi ekosistem agar lebih sehat secara berkesinambungan. Beberapa usulan
kebijakan yang perlu ditindaklanjuti di antaranya adalah sebagai berikut:

Kebijakan terkait subsidi pajak alat-alat penyiaran dan pemrograman konten televisi
dan radio.

Kebijakan yang mengatur proporsi kewajiban tayangan konten untuk setiap ketegori
usia penonton televisi.

Kebijakan terkait ketetapan upah para talent atau pekerja seni sementara (tidak tetap) di
bidang industri penyiaran.

Kebijakan terkait standar kompetensi pekerja industri penyiaran.

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

67

3.3 Struktur Pasar Televisi dan Radio


3.3.1 Televisi
Pada saat tekonologi penyiaran televisi mulai masuk Indonesia, TVRI milik negara adalah satusatunya stasiun televisi yang memiliki hak siar di Indonesia. Persaingan dalam industri televisi
di Indonesia dimulai ketika badan stasiun televisi swasta didirikan. Stasiun televisi swasta yang
pertama kali didirikan adalah RCTI. Tidak lama setelah RCTI didirikan, stasiun televisi swasta
lainnya pun mulai bermunculan dalam waktu yang singkat. Masing-masing stasiun televisi itu
berlomba-lomba untuk menyuguhkan acara yang menarik, kreatif, sampai yang kontroversial. Hal
ini tentunya membuat TVRI menjadi semakin tertekan dalam persaingan industri pertelevisian.
Gambar 3-7 Perkembangan Stasiun Televisi Nasional

Sumber: Wikipedia, 2011

68

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Berikut ini adalah daftar stasiun televisi yang ada di Indonesia yang dipisahkan berdasarkan
jenis penyiarannya.
Tabel 3-3 Daftar Stasiun Televisi Jaringan

STASIUN TELEVISI
TERESTRIAL

NO.

STASIUN TELEVISI
BERJARINGAN

STASIUN TELEVISI DENGAN


PARABOLA

Antv

B-Channel

Arjuna TV

Global TV

Bali TV

ASWAJA TV

Indosiar

City TV Network

Bloomberg TV Indonesia

MetroTV

Indonesia Network

DAAI TV

MNCTV

JPMC

DMC TV

RCTI

Kompas TV

Gogomall Homeshopping

SCTV

SINDO TV

HCBN Indonesia

Trans TV

TempoTV

Lejel Home Shopping

Trans7

Top TV Network

LBS TV MIX

10

tvOne

LBS TV K-Drama

11

TVRI

LBS TV C-Drama

12

NET

LBS TV In-Drama

13

LBS TV A-Movie

14

LBS TV Music

15

LBS TV On Life

16

Matrix TV

17

More 1

18

More 2

19

More Mall

20

Quran Takziah

21

Rodja TV

22

Shine Initiatives

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

69

STASIUN TELEVISI
TERESTRIAL

NO.

STASIUN TELEVISI
BERJARINGAN

STASIUN TELEVISI DENGAN


PARABOLA

23

Spacetoon

24

TV Edukasi

25

TVMu

26

U-Channel

27

Ummat TV

Sumber: Dikutip dari berbagai sumber

Tabel 3-4 Daftar Stasiun Televisi Berlangganan (dikutip dari berbagai sumber)

STASIUN TELEVISI
BERLANGGANAN

SALURAN TELEVISI LOKAL BERLANGGANAN

Aora TV

Alif TV

MNC Drama

Astro Nusantara (tidak beroperasi)

Allegro

MNC Entertainment

Big TV

Ananda

MNC Infotainment

Centrin TV (tidak beroperasi)

Aora 9

MNC International

First Media

Arena Channel

MNC Fashion

Groovia TV

BeritaSatu TV

MNC Food dan Travel

IM2 PayTV

Bioskop TelkomVision

MNC Kids

Indovision

Dangdut Channel

MNC Lifestyle

K-Vision

Dangdutz

MNC Movies

M2V Mobile TV

Festival Channel

MNC Music

Max3

Haari TV

MNC Muslim

Nexmedia

Haari Kids

MNC News

OkeVision

Haari Drama

MNC Shop

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

STASIUN TELEVISI
BERLANGGANAN

SALURAN TELEVISI LOKAL BERLANGGANAN

OrangeTV

Haari Movie

MNC Sports 1

Skynindo

Haari Music

MNC Sports 2

TelkomVision

Jowo Channel

Reformed 21

Topas TV

Kompas TV

SFI

Top TV

MIX

SMI

USeeTV

Mi! TV

SINDO TV

Vivasky (segera beroperasi)

MNC Business

Top Hits

YesTv

MNC Comedy

Vision 2 Drama

Daftar stasiun televisi di atas tidak mencakup stasiun televisi lokal yang beroperasi secara lokal
di setiap daerah. Banyaknya jumlah stasiun televisi di Indonesia membuat peluang untuk
bersaing di pasar industri televisi semakin sulit. Preferensi masyarakat sendiri hingga saat ini
masih cenderung dominan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu peminat siaran televisi
berjaringan serta peminat siaran televisi berbayar. Bentuk struktur pasar dari industri televisi
dapat diidentifikasi secara kasar dari data pangsa pasar (market share) yang dihasilkan oleh
lembaga survei. Data perhitungan jumlah pangsa pasar pada beberapa stasiun televisi nasional
berjaringan dapat dilihat pada Tabel 3-5.
Tabel 3-5 Market Share Stasiun Televisi Jaringan

RANK

STATION

JAN 13

FEB 13

MAR 13

APR 13

MAY 13

JUN 13

RCTI

23.4

24.3

22.4

23.1

23.4

22.9

MNC TV

12.2

11.0

13.0

13.1

12.7

14.0

SCTV

16.6

14.2

13.0

11.6

11.6

13.5

Trans 7

12.1

12.6

13.8

13.7

13.5

12.3

IVM

7.4

7.3

7.7

9.0

9.2

10.1

Trans TV

10.7

11.0

9.8

10.1

9.2

8.1

Antv

5.9

6.7

6.6

6.0

6.6

6.4

GTV

4.6

6.1

6.4

6.5

6.3

5.8

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

71

RANK

STATION

JAN 13

FEB 13

MAR 13

APR 13

MAY 13

JUN 13

tvOne

3.8

3.7

4.1

4.0

4.3

3.7

10

MetroTV

2.1

1.9

1.9

1.8

1.9

2.0

Tabel 3-6 Daftar 5 Acara dengan Rating Tertinggi

NO

PROGRAM NAME

CHANNEL

TELEVISIR

SHARE

Tukang Bubur Naik Haji

RCTI

6.3

25.5

Berkah

RCTI

4.0

18.4

Raden Kian Santang

MNC TV

3.7

15.2

Yang Muda Yang Bercinta

RCTI

3.6

21.8

Cinta 7 Susun

RCTI

3.6

17.0

Sumber: Nielsen,2014

Dari hasil perhitungan pangsa pasar tersebut, maka struktur pasar untuk industri televisi dapat
dilihat dari beberapa sudut pandang, yaitu berdasarkan jumlah stasiun televisi, berdasarkan
kepemilikan stasiun televisi, serta berdasarkan konten yang disiarkan. Ketiga sudut pandang
tersebut menghasilkan tiga jenis analisis struktur pasar yang berbeda-beda.

Persaingan Sempurna
Ditinjau dari jumlah stasiun televisi nasional berjaringan di Indonesia yang tidak sedikit, proporsi
pangsa pasar tiap stasiun televisi cenderung seimbang. Terlihat dari Tabel 3-5 bahwa tidak terdapat
perbedaan angka pangsa pasar yang dominan secara signifikan antara satu stasiun televisi dan
stasiun televisi lainnya. Maka, bentuk struktur pasar industri televisi menjadi persaingan sempurna.
Secara teori, bentuk persaingan seperti ini memberi potensi besar kepada para pemain baru untuk
bersaing dalam industri televisi, walaupun akan sangat sulit bagi mereka untuk dapat menyaingi
pemain-pemain besar yang menjadi perintis stasiun televisi swasta.

Persaingan Oligopoli
Apabila dilihat dari segi kepemilikan stasiun televisi di Indonesia, jumlah pangsa pasar yang ada
pada Tabel 3-5 menjadi tidak relevan lagi. Terjadi dominasi jumlah pangsa pasar yang cukup
signifikan oleh beberapa perusahaan pemilik stasiun televisi atas pemain lainnya yang hanya
memiliki stasiun televisi tunggal. Hasilnya adalah struktur pasar kepemilikan stasiun televisi yang
berbentuk oligopoli. Kondisi ini tentunya mempersulit para pemain baru yang mulai terjun merintis
bisnisnya di dunia televisi Indonesia. Alternatifnya adalah dengan membidik pasar baru yang
memiliki bentuk persaingan sempurna yang lebih mudah dipenetrasi, yaitu pasar media digital.

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Persaingan Monopoli
Selain bentuk persaingan sempurna dan oligopoli yang terjadi pada ruang lingkup industri televisi,
ada pula bentuk persaingan monopoli yang terjadi akibat penayangan konten acara secara eksklusif.
Biasanya, bentuk persaingan monopoli ini berlaku untuk jenis acara siaran olahraga, seperti sepak
bola, balap motor, balap mobil, hingga tenis dan badminton. Pada Tabel 3-7 dijabarkan beberapa
contoh hak siar eksklusif acara olahraga yang ada di Indonesia.
Tabel 3-7 Daftar Hak Siar Ekslusif Siaran Olahraga (diambil dari berbagai sumber)

NAMA ACARA

STASIUN TELEVISI

SCTV (2 laga/pekan)
INDOSIAR (2 laga/pekan)
ORANGE TV (Full Match, 10 laga/pekan)
Barclays Premier League (BPL)
FIRSTTV (Full match, 10 laga/pekan)
NEXMEDIA (Full match, 10 laga/pekan)
BIG TV (Full Match, 10 laga/pekan)

Trans TV (4 laga/pekan)
La Liga (Liga BBVA)
Trans 7 (2 laga/pekan)
Serie A

TVRI (4-6 laga/pekan)

Bundesliga

INDOSIAR (4 laga/pekan)

UEFA Champions League dan UEFA Europe


League

SCTV (Full Match)

FA Cup

Trans TV (Full Match)

Copa Del Rey

RCTI (Full Match)

League 1

Matrix Garuda

MotoGP

Trans 7

Formula 1

Kompas TV

Sumber: Diambil dari berbagai sumber

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

73

Adanya bentuk persaingan monopoli konten ini tentunya bisa memiliki pengaruh yang signifikan
pada jumlah pangsa pasar yang dimiliki oleh stasiun televisi tertentu. Pada beberapa musim
penayangan siaran ekslusif, tentunya monopoli hak siar dapat menjadi kekuatan utama stasiun
televisi tersebut dalam meraup audiens. Tentunya akan sangat sulit bagi para pemain baru untuk
menyaingi konten acara pada saat musim penayangan siaran ekslusif tersebut berlangsung.

3.3.2 Radio
Sama halnya dengan industri kreatif stasiun televisi, perkembangan industri kreatif subsektor radio
mulai mengalami perkembangan pesat semenjak didirikannya stasiun radio swasta di Indonesia.
Bentuk persaingan yang terjadi saat ini untuk stasiun-stasiun radio di Indonesia masih dibatasi
oleh jarak tangkap siaran, sehingga persaingan tiap kota akan berbeda-beda.
Tabel 3-8 Market Share Industri Radio di Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar (Nielsen 2005-2009,
dikutip dari Nastiti, 2011)
Pangsa Pendengar Radio di Jakarta (%)
RADIO

Pangsa Pendengar Radio di Makassar (%)

2005

2006

2007

2008

2009

13.0

12.8

Gamasi

Bens

18.3

20.9

16.7

13.7

11.6

Dangdut TPI

N/A

N/A

13.8

14.5

9.9

Megaswara

6.6

11.6

10.6

7.8

Erlangga

9.7

6.8

6.3

5.9

Elshinta

7.9

7.1

9.3

7.8

GEN FM

RADIO

2005

2006

2007

2008

2009

42.9

43.6

39.7

28.7

35.2

Venus

26.0

33.4

29.8

20.5

30.6

Telstar

30.8

21.8

27.4

18.3

21.0

8.7

Madama

14.5

17.9

16.6

13.5

19.9

7.0

Sonata

20.1

19.1

14.6

9.9

15.3

8.0

Prambors

17.4

14.6

13.4

9.9

14.2

I-Radio

9.7

9.5

6.2

7.6

4.9

Gama

4.8

13.5

10.6

10.4

11.6

POP FM

N/A

12.7

10.0

7.6

4.9

Makassar FM

N/A

N/A

N/A

8.1

11.6

RKM

8.0

10.7

8.4

9.1

3.7

Fajar

0.0

7.2

5.7

6.0

9.4

Lesmana

0.9

1.7

4.0

5.4

3.2

SP FM

14.4

7.2

10.3

3.3

6.6

CR4

45.7

55.9

51.1

50.3

43

CR4

76.4

70.8

78.8

56.8

60.4

Pangsa Pendengar Radio di Surabaya (%)


RADIO

2005

2006

Pangsa Pendengar Radio di Medan (%)

2007

2008

2009

RADIO

2005

2006

2007

2008

2009

Suara Giri

43.0

37.0

27.8

22.3

21.9

MOST FM

16.0

21.6

24.7

14.2

18.4

Wijaya FM

34.4

30.8

26.3

22.4

15.1

Simponi

22.0

18.9

19.9

14.0

14.7

Elvictor

7.0

7.0

9.5

9.2

9.4

Sikamoni

19.0

16.4

16.1

11.9

14.2

EBS FM

6.5

8.7

13.7

10.4

8.5

Dangdut TPI

8.9

13.9

11.8

8.9

13.1

Suzana

15.6

15.8

13.1

7.4

8.4

Merdeka

13.9

16.4

13.9

11.2

8.1

Suara
Medan

12.1

12.8

16.5

13.0

11.7

MTB FM

7.9

9.2

5.9

11.0

7.8

Kardopa

8.8

12.7

12.7

14.6

11.4

M Radio

N/A

N/A

N/A

8.8

7.3

KISS

19.4

11.6

14.9

10.2

10.4

Suara SBY

11.0

9.6

8.4

8.2

6.6

RRI PRO 2

8.6

12.0

16.7

14.0

8.9

Suara SBY

11.0

9.6

8.4

8.2

6.6

Citra

13.4

13.0

17.5

9.4

8.2

CR4

106.9

100

81.7

66.9

54.9

CR4

76.4

70.8

78.8

56.8

60.4

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Dilihat dari data pangsa pasar yang diperoleh dari Nielsen pada 2009, terlihat bentuk persaingan
industri radio yang berbeda-beda di setiap kota. Di Jakarta, apabila dilihat sekilas, proporsi
pangsa pasar yang dimiliki oleh beberapa stasiun radio terpopuler tidak memiliki perbedaan
signifikan. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa industri radio di kota Jakarta memiliki
bentuk persaingan pasar yang sempurna. Hal ini diperkuat dengan hasil perhitungan indeks
Herfindahl yang ditunjukkan oleh Gambar 3-8.
Hasil perhitungan yang dilakukan pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat
kompetisi industri radio cenderung stabil dengan nilai HI (Herfindahl Index) yang rendah. hal
ini menunjukkan bahwa bentuk persaingan industri radio di Jakarta adalah persaingan sempurna.
Akan tetapi, lain halnya dengan Medan, Surabaya, dan Makassar yang memiliki nilai HI di
antara 0.2 < HI < 0.7. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk persaingan pasar di kota-kota itu
adalah persaingan oligopoli.
Gambar 3-8 Radio Market Competitiveness dan Concentration

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

75

Persaingan Televisi dan Radio di Industri Media Indonesia


Dengan populasi sebesar 237 juta, persaingan merupakan peluang yang perlu dimaksimalkan
untuk kepentingan bisnis media. Media televisi memimpin dengan 97% pasar media, sedangkan
radio saat ini berada pada urutan keempat setelah televisi, internet, dan surat kabar. Terjadi
persaingan media yang sangat tinggi untuk memperebutkan pasar atau segmentasi khalayak.
Gambar 3-9 Proporsi Penikmat Media Elektronik dan Cetak

Sumber: Menkominfo, 2011

Pada Gambar 3-9 terlihat bahwa subsektor televisi tidak memiliki pesaing yang perlu diwaspadai
karena posisinya sudah cukup aman dan sangat dominan jika dibandingkan dengan subsektor
media lainnya. Berbeda halnya dengan subsektor radio yang menghadapi persaingan ketat dengan
subsektor internet dan surat kabar. Hal ini terjadi karena televisi pada awal ditemukannya sudah
dibentuk sebagai media yang menyajikan hiburan bagi masyarakat, sehingga mampu menarik
perhatian lebih sejak awal kemunculannya. Konten acara dengan gambar yang interaktif dan
menarik pun dinilai sukses mengikat masyarakat dari segala jenis lapisan ekonomi, umur, dan
budaya. Sementara itu, radio masih kalah populer dengan surat kabar yang, walaupun memiliki
keterbatasan audio, tetap mampu menampilkan visual yang menarik. Selain itu, keterbatasan
jaringan yang dimiliki oleh radio menjadi salah satu penyebab utama mengapa radio masih kurang
bersaing dengan media lainnya yang memiliki jangkauan siaran yang lebih luas.
Sumber: Nastiti, 2011

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

3.4 Daya Saing Televisi dan Radio


Dimensi infrastruktur dan teknologi
merupakan aspek yang paling baik
prestasinya (6,0 dari 10) dari 7 dimensi
yang digunakan untuk mengukur
daya saing industri televisi dan radio.
Teknologi telah memudahkan akses
data dan informasi. Perkembangan ini
memungkinkan aspek konten berubah
dengan landasan multiplatform lewat
digitalisasi, sehingga dapat menekan
biaya pemrograman. Kondisi ini juga
didukung oleh infrastruktur pendukung,
misalnya: telematika-jaringan internet,
logistik, dan energi yang sudah cukup
memadai, terutama di kota-kota besar.
Namun, hal ini tidak terjadi di kotakota kecil, sehingga persebaran siaran
media televisi dan radio terhambat.

Gambar 3-10 Diagram Daya Saing Televisi dan Radio

Banyaknya SDM kreatif dalam bidang televisi dan radio harus berhadapan dengan kondisi eksploitasi
karena merasa terlalu dikuasai oleh medianya. Sumber daya kreatif memiliki skor sebesar 4,0.
Rendahnya skor itu adalah akibat banyaknya pelaku industri SDM kreatif dalam bidang televisi dan
radio tidak diimbangi dengan perbaikan terhadap kondisi yang eksploitatif itu. Kemudian, kurikulum
yang tidak sesuai antara lembaga pendidikan dan industri kreatif televisi dan radio membuat
lulusan lembaga itu dinilai belum dapat memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan, sehingga
memerlukan masa pelatihan terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Selain itu, jumlah lembaga
pendidikan yang ada di subsektor ini belum tersebar secara merata, hanya terdapat di kota-kota besar
dan belum mempunyai standar yang jelas. Dengan menggunakan tujuh aspek dalam penghitungan
daya saing, maka diperoleh skor daya saing untuk subsektor televisi adalah rata-rata sebesar 4,5.

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan T


elevisi dan
Radio
Tabel 3-9 Potensi Permasalahan dalam Pengembangan Televisi dan Radio

NO

PERMASALAHAN
(TANTANGAN, HAMBATAN, KELEMAHAN,
ANCAMAN)

POTENSI
(PELUANG DAN KEKUATAN)

SUMBER DAYA KREATIF

Jumlah institusi pendidikan yang memadai


di kota-kota besar

Institusi pendidikan media yang tidak merata

Adanya beberapa institusi pendidikan


terakreditasi tinggi di kota-kota besar

Institusi pendidikan yang tidak


terstandardisasi

Banyaknya sumber daya manusia yang


kreatif

Keahlian yang dimiliki oleh tenaga kerja baru


tidak dapat memenuhi standar kompetensi
yang dibutuhkan (diperlukan masa training
terlebih dahulu sebelum bekerja)

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

77

NO

78

PERMASALAHAN
(TANTANGAN, HAMBATAN, KELEMAHAN,
ANCAMAN)

POTENSI
(PELUANG DAN KEKUATAN)

Kreatifitas radio yang cukup tinggi dan tidak


terlalu terganggu

Sumber daya manusia yang terlalu


dieksploitasi dan terlalu dikuasai oleh media

SUMBER DAYA PENDUKUNG

Sumber daya budaya yang sangat kaya


dapat diberdayakan menjadi ide konten
kreatif

Banyaknya konten acara yang melibatkan


unsur budaya asing

INDUSTRI

Penyebaran dan jumlah stasiun radio di


berbagai kota yang cukup tinggi

Kepemilikan media tv terlalu terpusat pada


grup-grup besar

Terciptanya sindikasi stasiun-stasiun radio


antar kota untuk menyebarkan konten
acara yang kreatif

Rumah produksi yang dikontrol kontennya


oleh stasiun TV

Banyaknya konten acara yang berkualitas


untuk layak mendapatkan apresiasi

Popularitas konten kreatif yang berkualitas


masih rendah

Konten kreatif yang mengedukasi dan


menginspirasi penikmatnya

Rumah produksi dan pengiklan hanya


berkiblat pada rating

PEMBIAYAAN

Ketersediaan perusahaan pengiklan yang


cukup melimpah

Tidak adanya lembaga pembiayaan produk


kreatifitas dari komunitas

PEMASARAN

Pasar yang luas dan selalu tersedia

Pasar produk penyiaran radio yang terbatas


oleh jangkauan siaran

Kesulitan untuk menembus pasar


internasional

Pembangunan infrastruktur yang tidak


merata di kota-kota kecil membuat
pesebaran media terhambat

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI

Infrastruktur telematika-jaringan internet;


dan infrastruktur logistik dan energi di
kota-kota besar sudah cukup memadai

Perkembangan teknologi yang


memudahkan akses data dan informasi
sebagai input kreasi

Perkembangan teknologi yang


memungkinkan konten menjadi multiplatform (digitalisasi)

Kemajuan teknologi yang memungkinkan


pemrograman dengan biaya rendah

KELEMBAGAAN

Sudah ditetapkannya undang-undang yang


dapat mendukung penciptaan iklim usaha
yang kondusif untuk berkembang

Standard kurikulum yang masih belum


seragam

Adanya apresiasi konten acara kreatif dari


masyarakat

Resistensi media terhadap regulator

Tidak ada lembaga yang memfasilitasi


pembiayaan indutri kreatif TV & Radio secara
khusus

Pajak pengadaan peralatan penyiaran yang


terlalu tinggi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

NO

PERMASALAHAN
(TANTANGAN, HAMBATAN, KELEMAHAN,
ANCAMAN)

POTENSI
(PELUANG DAN KEKUATAN)

BAB 3: Kondisi Umum Televisi dan Radio di Indonesia

HKI belum bisa melindungi konten karya


kreatif

Konten kreatif yang cenderung tidak


mendapatkan apresiasi tinggi menyebabkan
tidak adanya pengarusutamaan kreatifitas

Parameter apresiasi yang dipertanyakan


validitasnya

Kurangnya edukasi market terkait konten


yang dinilai kreatif dan mendidik

Apresiasi yang diberikan pada konten acara


kreatif masih kurang

10

Market yang mengarahkan konten acara


yang tidak mengedukasi

11

Konten penyiaran luar negeri yang


mengancam market media lokal serta kultur
bangsa

79

BAB 4
Rencana Pengembangan
Televisi dan Radio
Indonesia

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasional tahap ketiga (2015-2019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang terus meningkat.
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015- 2019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur dan ketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan
nasional, yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam,
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan,
dan Keamanan; (4) Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6)
Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta
kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan kreativitas serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan
solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal
untuk menciptakan industri kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Televisi dan Radio


Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan televisi
dan radio pada periode 2015-2019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku
kepentingan dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait
secara terarah dan terukur. Secara umum, kerangka strategis pengembangan televisi dan radio
pada periode 2015-2019 dapat dilihat pada Gambar 41 berikut ini.

SASARAN STRATEGIS

TUJUAN

MISI

VISI

Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Televisi dan Radio 2015-2019

Terciptanya penyelenggaraan program tv & radio yang berkualitas serta berdaya saing secara
berkelanjutan sebagai landasan yang kuat untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia
Mengembangkan dan
mengoptimalkan pemanfaatan
sumber daya untuk
menciptakan industri TV
& radio yang berkualitas
dan berdaya saing secara
berkelanjutan

Mengembangkan
proses
penyelenggaraan
konten TV & Radio
Indonesia yang
berkualitas dan
berdaya saing secara
berkelanjutan

Mengembangkan lingkungan yang


kondusif yang mengarusutamakan
kreativitas dalam menghasilkan konten
TV & Radio Indonesia yang berkualitas
dan berdaya saing dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan

1. Penciptaan sumber daya


manusia kreatif di industri
televisi dan radio yang mampu
menghasilkan konten yang
berkualitas dan berdaya saing

3. Penciptaan
industri televisi
dan radio yang
berkualitas dan
berdaya saing secara
berkelanjutan

4. Pengadaan pembiayaan yang sesuai,


mudah diakses, dan kompetitif

2. Perwujudan perlindungan,
pengembangan, dan
pemanfaatan sumber daya
budaya bagi
industri televisi dan
radio Indonesia secara
berkelanjutan
1.1. Meningkatnya kualitas
pendidikan yang mendukung
penciptaan orang kreatif di
bidang TV & Radio secara
berkelanjutan

5. Perluasan pasar di dalam dan


luar negeri yang berkualitas dan
berkelanjutan
6. Penyediaan infrastruktur dan
teknologi yang tepat guna, mudah
diakses, dan kompetitif
7. Penciptaan kelembagaan yang
kondusif dan mengarusutamakan
kreativitas dalam pengembangan
industri televisi dan radio Indonesia

3.1. Meningkatnya
wirausaha kreatif
lokal di bidang
TV & Radio yang
menghasilkan konten
yang berkualitas dan
berdaya saing

BAB 4: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Indonesia

4.1. Meningkatnya ketersediaan


pembiayaan bagi industri TV & Radio
lokal yang sesuai,mudah diakses, dan
kompetitif
5.1. Meningkatnya diversifikasi dan
penetrasi pasar konten TV & Radio di
dalam negeri dan luar negeri
6.1. Meningkatnya ketersediaan
infrastruktur yang memadai dan
kompetitif

83

SASARAN STRATEGIS

1.2. Meningkatnya kualitas


tenaga kerja kreatif (orang
kreatif) di bidang TV & Radio

3.2. Meningkatnya
usaha kreatif lokal
di bidang TV & Radio
yang berdaya saing

6.2. Meningkatnya ketersediaan


teknologi tepat guna yang mudah
diakses dan kompetitif
7.1. Terciptanya regulasi yang
mendukung penciptaan iklim yang
kondusif bagi pengembangan industri
TV & Radio
7.2. Meningkatnya partisipasi aktif
pemangku kepentingan dalam
pengembangan industri TV & Radio
secara berkualitas dan berkelanjutan

2.1. Terciptanya pusat


pengetahuan sumber daya
budaya lokal yang akurat
dan terpercaya serta dapat
diakses secara mudah dan
cepat

3.3. Meningkatnya
keragaman dan
kualitas karya kreatif
lokal di konten TV &
Radio

7.3. Meningkatnya apresiasi kepada


orang/karya/wirausaha/usaha kreatif
lokal di bidang TV & Radio baik itu di
dalam dan luar negeri
7.4. Meningkatnya tingkat apresiasi
masyarakat terhadap konten lokal yang
mengusung kebudayaan dan SDA lokal

4.2.1 Visi Pengembangan Televisi dan Radio


Berdasarkan kondisi seni pertunjukan di Indonesia saat ini, tantangan yang mungkin dihadapi,
serta dengan memperhitungkan daya saing serta potensi yang dimiliki dan juga arahan strategis
pembangunan nasional dan juga pengembangan ekonomi kreatif periode 2015-2019, maka visi
pengembangan seni pertunjukan selama periode 20152019 adalah:

Terciptanya penyelenggaraan program televisi dan


radio Indonesia yang berkualitas serta berdaya saing
secara berkelanjutan sebagai landasan yang kuat
untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia
Program televisi dan radio Indonesia yang berkualitas serta berdaya saing yang dimaksud
adalah industri televisi dan radio yang mampu menghasilkan konten acara yang tidak hanya
menghibur, tetapi juga memiliki nilai tambah berupa unsur informasi, mengandung ajakan
yang sifatnya positif, serta bersifat mendidik. Konten yang dihasilkan juga diharapkan memiliki
daya saing yang tinggi yang berarti dalam pengemasannya, konten televisi dan radio mampu
menonjolkan unsur kreativitas tanpa memberikan efek negative pada penikmatnya.

4.2.2 Misi Pengembangan Televisi dan Radio


Visi pengembangan televisi dan radio akan diwujudkan melalui 3 misi utama yang dijabarkan
menjadi 7 tujuan utama dan 14 sasaran strategis. Tiga misi utama pengembangan televisi dan
radio diantaranya, yaitu:
1. Mengembangkan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya untuk menciptakan
industri televisi dan radio yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan.
2. Mengembangkan proses penyelenggaraan konten televisi dan radio Indonesia yang
berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan.

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

3. Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam


menghasilkan konten televisi dan radio Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing
dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

4.2.3 Tujuan Pengembangan Televisi dan Radio


Dalam pengembangan televisi dan radio terdapat tujuh tujuan yang ingin dicapai berdasarkan
tiga misi utama yang diemban untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di industri televisi dan radio yang mampu
menghasilkan konten yang berkualitas dan berdaya saing.
2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya budaya bagi
industri televisi dan radio Indonesia secara berkelanjutan.
3. Penciptaan industri televisi dan radio yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan.
4. Pengadaan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif.
5. Perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan.
6. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif.
7. Penciptaan kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam
pengembangan industri televisi dan radio Indonesia.

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Televisi dan Radio


Untuk mencapai tujuan pengembangan televisi dan radio maka terdapat 14 sasaran strategis
yang dapat diindikasikan oleh 40 indikasi strategis. Sasaran dan indikasi strategis pengembangan
televisi dan radio meliputi:
1. Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang kreatif di bidang
televisi dan radio secara berkelanjutan.
a. Adanya metodologi pendidikan ilmu komunikasi yang mengutamakan kreativitas
dengan tetap menekankan pentingnya etika keprofesian.
b. Adanya nomenklatur pendidikan ilmu komunikasi yang terbaru dan sesuai.
c. Adanya institusi pendidikan tingkat tinggi di bidang ilmu komunikasi yang terakreditasi
dan bersertifikasi di setiap provinsi.
d. Jumlah institusi ilmu komunikasi dengan ketersediaan fasilitas yang memenuhi
standar meningkat.
e. Adanya lembaga sertifikasi yang diakui secara nasional dan atau internasional di
setiap provinsi di Indonesia.
f. Pembangunan institusi pendidikan ilmu komunikasi baru di setiap provinsi di
Indonesia yang belum memilikinya.
2. Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif) di bidang televisi dan radio.
a. Adanya buku laporan hasil pemetaan tenaga kerja televisi dan radio yang dapat
diakses oleh publik.
b. Jumlah tenaga ahli dengan sertifikasi kompetensi di industri televisi dan radio
meningkat.

BAB 4: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Indonesia

85

c. Adanya kebijakan bagi tenaga kerja asing media yang bekerja di Indonesia.
d. Adanya kebijakan kewajiban penerapan kode etik profesi.
e. Adanya kebijakan perlindungan kerja terhadap para pelaku kreatif di industri televisi
dan radio.
3. Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya budaya lokal yang akurat dan terpercaya
serta dapat diakses secara mudah dan cepat.
a. Adanya laporan hasil pemetaan sumber daya alam dan budaya di setiap provinsi di
Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya konten lokal televisi dan radio.
b. Jumlah jurnal penelitian dan pengembangan sumber daya alam dan budaya Indonesia
yang dapat digunakan untuk memperkaya konten lokal televisi dan radio.
c. Jumlah jurnal tingkat nasional maupun internasional terkait riset dan pengembangan
sumber daya alam dan budaya untuk meningkatkan ragam dan kualitas konten
penyiaran.
d. Adanya bank data pengetahuan sumber daya alam dan budaya yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber inspirasi konten lokal televisi dan radio.
4. Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang televisi dan radio yang menghasilkan
konten yang berkualitas dan berdaya saing.
a. Adanya laporan hasil pemetaan unit usaha televisi dan radio di Indonesia.
b. Adanya program bimbingan bagi unit usaha televisi dan radio di Indonesia.
5. Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang televisi dan radio yang berdaya saing
a. Adanya laporan hasil analisis KBLI untuk industri televisi dan radio secara berkelanjutan
6. Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif lokal di konten televisi dan radio.
a. Adanya festival konten lokal kreatif skala nasional setiap tahun.
b. Adanya kebijakan yang mengatur proporsi kewajiban jumlah konten lokal televisi
untuk setiap segmen usia.
7. Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi industri televisi dan radio lokal yang
sesuai,mudah diakses, dan kompetitif.
a. Penyusunan skema pembiayaan untuk modal awal industri televisi dan radio.
8. Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar konten televisi dan radio di dalam negeri
dan luar negeri.
a. Adanya alokasi dana sebagai dukungan bagi konten kreatif televisi dan radio untuk
mengikuti ajang penghargaan di dalam maupun luar negeri.
b. Adanya workshop bagi unit usaha televisi dan radio untuk meningkatkan kualitas
produk agar sesuai dengan standar pasar internasional.
c. Jumlah konten televisidan radio yang disiarkan di luar negeri.
9. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai dan kompetitif.
a. Proporsi wilayah yang mendapat akses dan peningkatan kecepatan internet di
Indonesia meningkat.
b. Proporsi wilayah kota yang memiliki daya tangkap siaran televisi dan radio yang
memadai di Indonesia meningkat.
c. Jumlah gangguan infrastruktur pemancar siaran televisidan radio menurun.

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

10. Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses dan kompetitif.
a. Adanya program kerja sama dengan pengembang perangkat lunak pemrograman.
b. Adanya perangkat lunak lokal yang dikembangkan khusus untuk memenuhi kebutuhan
standar perangkat lunak pemrograman.
11. Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan
industri televisi dan radio.
a. Adanya kebijakan subsidi pajak fasilitas alat-alat penyiaran dan pemrograman.
b. Adanya kebijakan transfer pengetahuan bagi industri televisi dan radio asing yang
melakukan proses pemrograman di Indonesia.
12. Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan industri
televisi dan radio secara berkualitas dan berkelanjutan.
a. Adanya lembaga survey konten penyiaran milik pemerintah yang independen.
b. Meningkatnya jumlah asosiasi keprofesian media yang aktif dan berjalan dengan baik.
c. Adanya kebijakan standar birokrasi yang memfasilitasi penyelenggaraan penyiaran
konten televisi dan radio agar lebih mudah dan cepat.
d. Jumlah pertemuan rutin antara pihak pemerintah dengan pihak industri televisi dan
radio yang diadakan dalam satu tahun.
13. Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di bidang
televisi dan radio baik itu di dalam dan luar negeri.
a. Jumlah pelaku/karya/usaha kreatif televisi dan radio yang ikut serta dalam festival
dan event internasional.
b. Adanya ajang penghargaan nasional di bidang media yang secara resmi diselenggarakan
oleh pemerintah.
14. Meningkatnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap konten lokal yang mengusung
kebudayaan dan SDA lokal.
a. Jumlah konten lokal maupun orang kreatif dalam televisi dan radio yang menerima
penghargaan berskala nasional.
b. Jumlah penonton dan rating konten kreatif yang berkualitas mengalami peningkatan .
c. Jumlah tulisan terkait konten televisi dan radio di media massa yang sukses
dipublikasikan meningkat.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Televisi dan Radio


Arah pengembangan ekonomi kreatif dijabarkan berdasarkan tujuan pengembangan ekonomi
kreatif, meliputi 7 tujuan utama, yaitu: (1) terciptanya sumber daya manusia kreatif di industri
televisi dan radio yang mampu menghasilkan konten yang berkualitas dan berdaya saing; (2)
terwujudnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya budaya bagi industri
televisi dan radio Indonesia secara berkelanjutan; (3) terciptanya industri televisi dan radio yang
berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan;(4) terciptanya pembiayaan yang sesuai, mudah
diakses, dan kompetitif; (5) terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas
dan berkelanjutan; (6) tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses,
dan kompetitif; dan (7) terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas
dalam pengembangan industri televisi dan radio Indonesia.

BAB 4: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Indonesia

87

4.4.1 Arah Kebijakan Sumber Daya Manusia Kreatif di Industri Televisi dan
Radio yang Mampu Menghasilkan Konten yang Berkualitas dan Berdaya Saing
1. Mengembangkan dan memfasilitasi penciptaan lembaga pendidikan (formal dan nonformal) oleh pemerintah dan swasta di daerah yang memiliki potensi ekonomi kreatif di
bidang televisi dan radio.
2. Menyelaraskan antara tahapan pendidikan serta meningkatkan partisipasi dunia usaha
dalam pendidikan.
3. Menciptakan orang kreatif yang dinamis dan profesional yang menjunjung tinggi kode
etik profesi di tingkat nasional dan global.
4. Perlindungan kerja terhadap tenaga kerja kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri.

4.4.2 Arah Kebijakan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber


daya budaya bagi industri Televisi dan Radio Indonesia secara berkelanjutan
Mengembangkan pusat pengetahuan budaya Indonesia yang akurat dan terpercaya yang dapat
diakses dengan mudah dan cepat serta memiliki program distribusi pengetahuan budaya.

4.4.3 Arah Kebijakan Industri Televisi dan Radio yang Berkualitas dan
Berdaya Saing Secara Berkelanjutan
1. Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan profesionalisme (skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif lokal di bidang televisi dan radio.
2. Mengembangkan standar usaha kreatif nasional yang diakui secara global serta memfasilitasi
usaha kreatif lokal untuk memenuhi standar industri kreatif nasional dan global.
3. Mengembangkan ide pengemasan konten karya kreatif baru di televisi dan radio yang
memanfaatkan sumberdaya budaya lokal secara berkelanjutan.

4.4.4 Arah Kebijakan Pembiayaan yang Sesuai, Mudah Diakses, dan Kompetitif
Menciptakan dan mengembangkan lembaga pembiayaan yang mempercepat perkembangan
industri kreatif.

4.4.5 Arah Kebijakan Perluasan Pasar di dalam dan Luar Negeri yang
Berkualitas dan Berkelanjutan
1. Mengembangkan sistem informasi pasar karya kreatif di dalam negeri yang dapat diakses
dengan mudah dan informasi didistribusikan dengan baik.
2. Meningkatkan kualitas branding, promosi, pameran, festival, misi dagang, BtoB networking
di dalam dan luar negeri.
3. Memperluas jangkauan distribusi produk kreatif di dalam dan luar negeri.

4.4.6 Arah Kebijakan Infrastruktur dan Teknologi yang Tepat Guna, Mudah
Diakses, dan Kompetitif
1. Menjamin ketersediaan, kesesuaian, jangkauan harga/biaya, sebaran/penetrasi, dan
performansi, infrastruktur telematika-jaringan internet; dan infrastruktur logistik dan energi.
2. Memfasilitasi akses terhadap teknologi secara mudah dan kompetitif.
3. Mendorong pengembangan basis-basis pengembangan teknologi lokal yang mendukung
pengembangan industri kreatif.
88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

4.4.7 Arah Kebijakan Kelembagaan yang Kondusif dan Mengarusutamakan


Kreativitas dalam Pengembangan Industri Televisi dan Radio Indonesia
1. Memperbaiki dan membuat berbagai regulasi terkait penyiaran.
2. Membentuk lembaga yang dapat mendukung pengembangan televisidan radio yang
sekaligus dapat menjadi penghubung antara pemangku kepentingan dalam industri
televisidan radio.
3. Mengembangkan, memfasilitasi pembentukan dan peningkatan kualitas organisasi atau
wadah yang dapat mempercepat pengembangan ekonomi kreatif.
4. Memfasilitasi dan memberikan penghargaan yang prestisius bagi orang/karya/wirausaha/
usaha kreatif lokal di tingkat nasional dan internasional.
5. Meningkatkan komunikasi keberadaan orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal dan
konsumsi karya kreatif lokal.
6. Meningkatkan apresiasi terhadap HKI.
7. Meningkatkan akses dan distribusi terhadap informasi/pengetahuan terhadap sumber
daya alam dan sumber daya budaya lokal.

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Televisi dan Radio


4.5.1 Mendorong dan Memfasilitasi Peningkatan Jumlah Lembaga Pendidikan
Ilmu Komunikasi di Setiap Provinsi di Indonesia
1. Peningkatan jumlah institusi pendidikan tingkat tinggi di bidang ilmu komunikasi yang
terakreditasi.
2. Pembangunan institusi pendidikan ilmu komunikasi baru di Indonesia di luar Pulau Jawa.

4.5.2 Mendorong Peningkatan Standar Mutu Lembaga Pendidikan Ilmu


Komunikasi yang Sudah Ada di Indonesia
1. Perbaikan kurikulum pendidikan tingkat tinggi yang mengedepankan kreativitas yang
beretika dalam ilmu komunikasi.
2. Perbaikan nomenklatur pendidikan ilmu komunikasi.
3. Pembaruan dan penambahan fasilitas pendidikan ilmu komunikasi di pendidikan tinggi.

4.5.3 Mendorong Peningkatan Jumlah Sebaran Lembaga Sertifikasi Media


yang Diakui Secara Nasional dan Internasional di Setiap Provinsi di Indonesia
Pembangunan lembaga sertifikasi ilmu komunikasi yang diakui oleh negara di setiap provinsi
di Indonesia.

4.5.4 Menegaskan Kewajiban Penetapan Kode Etik Profesi di Tingkat Nasional


dan Global Dalam Dunia Usaha
1. Penetapan standar sertifikasi kompetensi di bidang televisi dan radio.
2. Penetapan kebijakan kewajiban penerapan kode etik profesi.

BAB 4: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Indonesia

89

4.5.5 Memberikan Jaminan Perlindungan Kerja Terhadap Para Pelaku


Kreatif di Industri Televisi dan Radio
1. Pemetaan dan publikasi hasil pemetaan tenaga kerja televisi dan radio.
2. Penyusunan kebijakan bagi tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia.
3. Penyusunan kebijakan perlindungan kerja terhadap para pelaku kreatif di industri televisi
dan radio.

4.5.6 Memfasilitasi Penelitian Untuk Mengidentifikasi dan Mengembangkan


Sumber Daya Budaya Lokal yang Merupakan Inspirasi dalam Pengembangan
Konten Kreatif Televisi dan Radio
1. Penyediaan fasilitas dan dana untuk penelitian dan pengembangan sumber daya alam
dan budaya Indonesia untuk memperkaya konten lokal televisi dan radio.
2. Pembuatan jurnal tingkat nasional terkait riset dan pengembangan sumber daya alam
dan budaya untuk meningkatkan ragam dan kualitas konten penyiaran.

4.5.7 Mengembangkan Sistem Pengarsipan (Fisik dan Nonfisik) Terkait


Penelitian dan Informasi Sumber Daya Budaya Indonesia Sebagai Bahan
Sumber Inspirasi Konten Lokal Televisi dan Radio
1. Pemetaan sumber daya alam dan budaya Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk
memperkaya konten lokal televisi dan radio.
2. Pemberian fasilitas untuk pengembangan pusat data pengetahuan yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber inspirasi konten lokal televisi dan radio.

4.5.8 Mendorong Pengembangan Tingkat Profesionalisme Wirausaha Kreatif


di Bidang Televisi dan Radio
1. Pemetaan unit usaha televisi dan radio di Indonesia.
2. Pemberian bimbingan bagi unit usaha televisi dan radio di Indonesia.

4.5.9 Mengembangkan Ragam Serta Meningkatkan Kualitas Standar Usaha


Kreatif Nasional di Bidang Televisi dan Radio
Perbaikan KBLI untuk industri televisi dan radio secara berkelanjutan.

4.5.10 Mendorong Pengembangan Konten Karya Kreatif yang Berkualitas


Dengan Menghadirkan Unsur-Unsur Lokal Indonesia Melalui Ajang Penghargaan
Bergengsi dan Festival
1. Penyelenggaraan festival konten lokal kreatif skala nasional.
2. Penetapan kewajiban proporsi jumlah konten lokal untuk setiap segmen usia.

4.5.11 Memfasilitasi Program Pembiayaan Untuk Industri Televisi dan Radio


Pemula di Tingkat Lokal
Penyusunan skema pembiayaan untuk modal awal industri televisi dan radio.

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

4.5.12 Mendukung Pembentukan Bank Data Konten Kreatif Televisi dan


Radio di Indonesia yang Dapat Diakses Secara Global Sebagai Salah Satu
Fungsi Wadah Pengarsipan
Pemberian fasilitas pengarsipan konten kreatif karya industri televisidan radio sebagai bentuk
publikasi global untuk membantu pemasaran karya.

4.5.13 Memfasilitasi Program Bimbingan Peningkatan Standar Mutu Untuk


Skala Pasar Global
Pemberian bimbingan bagi unit usaha televisi dan radio untuk meningkatkan kualitas produk
agar sesuai dengan standar pasar internasional.

4.5.14 Memfasilitasi Penyebaran Konten Kreatif Lokal Melalui Bursa Konten


Acara Internasional
Pemberian fasilitas dan dana bagi konten kreatif televisi dan radio untuk mengikuti bursa konten
acara serta ajang penghargaan di dalam maupun luar negeri.

4.5.15 Mendorong Usaha Peningkatan Jangkauan Siaran Televisi Serta


Kualitas Jaringan Penyiaran Televisi dan Radio di Indonesia
1. Peningkatan persebaran akses dan kecepatan internet di Indonesia secara bertahap.
2. Peningkatan daya tangkap siaran televisi dan radio di seluruh kota di Indonesia.
3. Peningkatan kualitas infrastruktur pemancar siaran televisidan radio.

4.5.16 Mendukung Adanya Kebijakan Subsidi Kebutuhan Fasilitas Pengadaan


Penyiaran dan Pemrograman
Penetapan subsidi pajak fasilitas alat-alat penyiaran dan pemrograman.

4.5.17 Mendorong Terjalinnya Kerjasama Antara Industri Televisi dan Radio


Dengan Pengembang Perangkat Lunak Pemrograman dan Penyiaran
1. Pemberian fasilitas untuk melakukan kerja sama dengan pengembang perangkat lunak
pemrograman untuk memberikan harga khusus bagi perangkat lunak asli.
2. Pemberian fasilitas untuk pengembang perangkat lunak lokal untuk mengembangkan
perangkat lunak pemrograman.

4.5.18 Mendorong Terciptanya Penyempurnaan Kebijakan Terkait Penyiaran


yang Bisa Mendukung Iklim Lingkungan Bisnis Televisi dan Radio Menjadi
Lebih Kondusif
Penyusunan kebijakan transfer pengetahuan bagi industri televisi dan radio asing yang melakukan
proses pemrograman di Indonesia.

4.5.19 Memfasilitasi Pembentukan Lembaga Milik Pemerintah yang Secara


Aktif Mendukung Penciptaan Konten Televisi dan Radio yang Berkualitas
dan Berdaya Saing
1. Pembentukan lembaga survey konten penyiaran milik pemerintah yang independent.
2. Penyusunan kebijakan birokrasi yang memfasilitasi penyelenggaraan penyiaran konten
Televisi dan Radio agar lebih mudah dan cepat.
BAB 4: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Indonesia

91

4.5.20 Mengaktifkan Kembali dan Memfasilitasi Asosiasi Keprofesian Media


Untuk Berjejaring di Tingkat Lokal, Nasional, Maupun Global
1. Pemberian fasilitas yang dibutuhkan asosiasi keprofesian media agar dapat aktif dan
berjalan dengan baik.
2. Pembentukan pertemuan rutin antara pihak pemerintah dengan pihak industri televisi
dan radio.

4.5.21 Memfasilitasi Keikutsertaan Konten Kreatif Televisi dan Radio dengan


Memberikan Subsidi atau Sponsorship bagi Konten Kreatif yang Mampu Ikut
Serta Dalam Festival dan Event Internasional
Pemberian fasilitas pembiayaan untuk subsidi pelaku/karya/usaha kreatif televisi dan radio yang
mampu ikut serta dalam festival dan event internasional.

4.5.22 Memberikan Penghargaan Bagi Konten Kreatif Lokal Maupun Usaha


Kreatif Secara Berkala
1. Penyelenggaraan ajang penghargaan nasional di bidang media yang secara resmi
diselenggarakan oleh pemerintah.
2. Pemberian penghargaan bagi karya maupun usaha kreatif dalam bidang media yang
berskala nasional.

4.5.23 Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konten kreatif karya


Indonesia
Pemberian fasilitas pada komunitas media untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap konten kreatif yang berkualitas.

4.5.24 Memfasilitasi Pengarsipan di Bidang Televisi dan Radio yang Dapat


Memperkaya Proses Pengembangan Konten Acara Kreatif
Pemberian fasilitas untuk publikasi tulisan terkait konten televisi dan radio di media massa.

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

5.1 Kesimpulan
Dalam penyusunan Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019, televisi
didefinisikan sebagai Kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan gagasan dan informasi
secaraberkualitas kepada penikmatnya dalam format suara dan gambar yang disiarkan kepada
publik dalam bentuk virtual secara teratur dan berkesinambungan, sedangkan radio di definisikan
sebagai Kegiatan kreatif yang meliputi proses pengemasan gagasan dan informasi secara berkualitas
kepada penikmatnya dalam format suara yang disiarkan kepada publik dalam bentuk virtual secara
teratur dan berkesinambungan. Definisi tersebut merupakan hasil elaborasi dari proses analisis
yang meliputi kajian pustaka, wawancara mendalam, dan focus group discussion yang melibatkan
para narasumber yang mewakili pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, pelaku industri,
komunitas/asosiasi, dan kalangan intelektual.
Secara umum, ruang lingkup pengembangan televisi meliputi kategori berita lunak, kategori
hiburan, kategori permainan, serta kategori musik dan pertunjukan. Kategori berita lunak
dikelompokkan menjadi current affair, magazine, dokumenter, dan talkshow. Kategori hiburan
dikelompokkan menjadi drama dan komedi, variety show, general entertainment dan human
interest. Kategori permainan dikelompokkan menjadi game show dan reality show, sedangkan
kategori musik dan pertunjukan dikelompokkan menjadi pertunjukan, klip musik, dan program
klip musik. Radio memiliki ruang lingkup pengembangan yang berbeda, yang dikelompokkan
menjadi berita, siaran lepas, siaran dengan naskah, dan musik.
Perkembangan televisi dan radio di Indonesia dimulai pada era sebelum kemerdekaan dengan
berdirinya stasiun radio pertama di Indonesia, Bataviase Radio Vereniging (BRV) pada tahun
1925. TVRI (Televisi Republik Indonesia) memulai siarannya dengan menayangkan peringatan
hari ulang tahun Republik Indonesia XVII pada tahun 1962, menandai dimulainya industri
pertelevisian nasional. Maraknya perkembangan televisi dan radio di Indonesia dimulai pada
tahun 1988 pada saat Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), stasiun televisi swasta, mulai
mengudara. Diterbitkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang
Penyiaran membuka lembaran baru dunia pertelevisian dan radio di Indonesia.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan antara setiap peran di dalam proses
penciptaan nilai kreatif dengan lingkungan sekitar, dikembangkan peta ekosistem televisi dan radio
yang terdiri atas empat komponen utama, yaitu rantai nilai kreatif, lingkungan pengembangan,
pasar, dan pengarsipan. Rantai nilai kreatif televisi dan radio terdiri dari proses kreasi, produksi,
distribusi, dan penyiaran. Lingkungan pengembangan televisi dan radio meliputi kegiatan apresiasi
dan pendidikan, sedangkan pasar di dalam subsektor televisi dan radio dikelompokkan menjadi
penonton umum, penonton ahli, serta perusahaan pengiklan. Pengarsipan dalam subsektor
televisi dan radio dilakukan dengan melalui proses pengumpulan, restorasi, penyimpanan, dan
preservasi yang dilakukan baik oleh stasiun televisi dan radio, pemerintah, maupun komunitas.
Dampak ekonomi dari pengembangan subsektor televisi dan radio dapat dilihat dari peta industri
yang menggambarkan keterkaitan dari suatu proses rantai nilai kreatif ke arah hulu (backward
linkage) dan ke arah hilir (forward linkage). Backward linkage di dalam subsektor televisi dan radio
diantaranya adalah konsultan konten media, jasa penyewaan lokasi, pembuat properti studio,
manajemen artis, jasa tata rias dan rambut, jasa penyewaan kostum, industri musik, pemasok
alat-alat penyuntingan, rumah produksi pembuatan iklan, dan lain-lain. Forward linkage di
dalam subsektor televisi dan radio diantaranya adalah industri hiburan, industri penerbitan,

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

komisi penyiaran, dan lain-lain. Selain digunakan dalam melihat dampak ekonomi dari subsektor
televisi dan radio, rantai nilai kreatif juga digunakan dalam mengidentifikasi model bisnis yang
umumnya terjadi di subsektor televisi dan radio, yaitu berupa Jaringan Televisi dan Radio Nasional
dan Lokal (Free to Air), Perusahaan Jaringan Siaran Berbayar, Rumah Produksi Independen,
dan Internet Protocol Based Provider.
Kontribusi ekonomi subsektor televisi dan radio dapat dilihat dari nilai tambah bruto, ketenagakerjaan,
aktivitas perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan nilai ekspor. Sebagai contoh dapat dilihat
di tahun 2013, subsektor televisi dan radio memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar
3,17% terhadap total nilai tambah bruto industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan
2010-2013 sebesar 6,9%. Dari sisi ketenagakerjaan, subsektor televisi dan radio memberikan
kontribusi sebesar 1,08% terhadap total jumlah tenaga kerja industri kreatif Indonesia, dengan
rata-rata pertumbuhan 2010-2013 sebesar 1,34%.
Berdasarkan kondisi televisi dan radio di Indonesia saat ini, tantangan yang mungkin dihadapi,
serta dengan memperhitungkan daya saing serta potensi yang dimiliki dan juga arahan strategis
pembangunan nasional serta pengembangan ekonomi kreatif periode 2015-2019, maka visi
pengembangan televisi dan radio selama periode 20152019 adalah Terciptanya penyelenggaraan
program televisi dan radio Indonesia yang berkualitas serta berdaya saing secara berkelanjutan
sebagai landasan yang kuat untuk pengembangan ekonomi kreatif Indonesia.
Program televisi dan radio Indonesia yang berkualitas serta berdaya saing yang dimaksud adalah
industri televisi dan radio yang mampu menghasilkan konten acara yang tidak hanya menghibur,
tetapi juga memiliki nilai tambah berupa unsur informasi, mengandung ajakan yang sifatnya
positif, serta bersifat mendidik. Konten yang dihasilkan juga diharapkan memiliki daya saing
yang tinggi yang berarti dalam pengemasannya, konten televisi dan radio mampu menonjolkan
unsur kreativitas tanpa memberikan efek negatif pada penikmatnya.

5.2 Saran
Pengembangan subsektor televisi dan radio dalam satu tahun kedepan akan difokuskan pada:

Mulai melakukan pembaruan dan penambahan fasilitas pendidikan ilmu komunikasi


di pendidikan tinggi.

Mulai melakukan pembangunan institusi pendidikan ilmu komunikasi baru di Indonesia


di luar Pulau Jawa.

Mulai melakukan pemetaan dan publikasi hasil pemetaan tenaga kerja televisi dan radio.

Melakukan pemetaan sumber daya alam dan budaya Indonesia yang dapat dimanfaatkan
untuk memperkaya konten lokal televisi dan radio.

Mulai menyediakan fasilitas dan dana untuk penelitian dan pengembangan sumber daya
alam dan budaya Indonesia untuk memperkaya konten lokal televisi dan radio.

Membuat jurnal tingkat nasional terkait riset dan pengembangan sumber daya alam dan
budaya untuk meningkatkan ragam dan kualitas konten penyiaran.

Memetakan unit usaha televisi dan radio di Indonesia.

Mulai menyelenggarakan festival konten lokal kreatif skala nasional.

Menetapkan kewajiban proporsi jumlah konten lokal untuk setiap segmen usia.

Mulai melakukan penyusunan skema pembiayaan untuk modal awal industri televisi
dan radio.

BAB 5: Penutup

97

Mulai memberikan bimbingan bagi unit usaha televisi dan radio untuk meningkatkan
kualitas produk agar sesuai dengan standar pasar internasional.

Mulai memberikan fasilitas pengarsipan konten kreatif karya industri televisi dan radio
sebagai bentuk publikasi global untuk membantu pemasaran karya.

Mulai meningkatkan persebaran akses dan kecepatan internet di Indonesia secara bertahap.

Mulai meningkatan daya tangkap siaran televisi dan radio di seluruh kota di Indonesia.

Mulai meningkatkan kualitas infrastruktur pemancar siaran televisi dan radio.

Pembentukan lembaga survey konten penyiaran milik pemerintah yang independen.

Mulai memberikan fasilitas yang dibutuhkan asosiasi keprofesian media agar dapat aktif
dan berjalan dengan baik.

Mulai membentuk pertemuan rutin antara pihak pemerintah dengan pihak industri
televisi dan radio.

Mulai memberikan fasilitas pada komunitas media untuk membantu meningkatkan


kesadaran masyarakat terhadap konten kreatif yang berkualitas.

Mulai memberikan fasilitas untuk publikasi tulisan terkait konten televisi dan radio di media masa.

Untuk penyempurnaan studi dan penulisan buku rencana aksi periode selanjutnya, perlu
dilakukan beberapa hal seperti: meningkatkan intensitas kolaborasi antar pemangku kepentingan
di subsektor televisi dan radio, meningkatkan intensitas komunikasi lintas kementerian/lembaga,
dan memutakhirkan data kontribusi ekonomi dengan perbaikan pada Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif.

98

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya kualitas tenaga kerja


kreatif (orang kreatif) di bidang TV &
Radio

Meningkatnya kualitas pendidikan yang


mendukung penciptaan orang kreatif di
bidang TV & Radio secara berkelanjutan

Menciptakan orang kreatif yang dinamis


dan profesional yang menjunjung tinggi
kode etik profesi di tingkat nasional dan
global
Perlindungan kerja terhadap tenaga kerja
kreatif Indonesia di dalam dan luar negeri

Menyelaraskan antara tahapan


pendidikan serta meningkatkan
partisipasi dunia usaha dalam pendidikan

Mengembangkan dan memfasilitasi


penciptaan lembaga pendidikan (formal
dan non-formal) oleh pemerintah dan
swasta di daerah yang memiliki potensi
ekonomi kreatif di bidang TV & Radio

Memberikan jaminan perlindungan kerja terhadap para


pelaku kreatif di industri televisi dan radio

Menegaskan kewajiban penetapan kode etik profesi di


tingkat nasional dan global dalam dunia usaha

Mendorong peningkatan jumlah sebaran lembaga sertifikasi


media yang diakui secara nasional/dan internasional di
setiap provinsi di Indonesia

Mendorong peningkatan standar mutu lembaga pendidikan


ilmu komunikasi yang sudah ada di Indonesia

Mendorong dan memfasilitasi peningkatan jumlah lembaga


pendidikan ilmu komunikasi di setiap provinsi di Indonesia

2.1

Terciptanya pusat pengetahuan sumber


daya alam dan budaya lokal yang akurat
dan terpercaya serta dapat diakses
secara mudah dan cepat

Mengembangkan pusat pengetahuan


budaya Indonesia yang akurat dan
terpercaya yang dapat diakses dengan
mudah dan cepat serta memiliki program
distribusi pengetahuan budaya

Memfasilitasi penelitian untuk mengidentifikasi dan


mengembangkan sumber daya budaya lokal yang
merupakan inspirasi dalam pengembangan konten kreatif
televisi dan radio
Mengembangkan sistem pengarsipan (fisik dan nonfisik)
terkait penelitian dan informasi sumber daya budaya
Indonesia sebagai bahan sumber inspirasi konten lokal
televisi dan radio

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi industri TV & Radio Indonesia secara
berkelanjutan

1.2

1.1

1. Terciptanya sumber daya manusia kreatif di industri TV & Radio yang mampu menghasilkan konten yang berkualitas dan berdaya saing

MISI 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang berdaya saing, dinamis, dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN TV DAN RADIO 2015-2019

Lampiran

103

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya usaha kreatif lokal di


bidang TV & Radio yang berdaya saing

Meningkatnya keragaman dan kualitas


karya kreatif lokal di konten TV & Radio

3.2

3.3

Mengembangkan ide pengemasan konten


karya kreatif baru di TV & Radio yang
memanfaatkan sumberdaya budaya lokal
secara berkelanjutan

Mengembangkan standar usaha kreatif


nasional yang diakui secara global serta
memfasilitasi usaha kreatif lokal untuk
memenuhi standar industri kreatif
nasional dan global

Memfasilitasi penciptaan dan


peningkatan profesionalisme (skillknowledge-attitude) wirausaha kreatif
lokal di bidang TV & Radio

Mendorong pengembangan konten karya kreatif yang


berkualitas dengan menghadirkan unsur-unsur lokal
Indonesia melalui ajang penghargaan bergengsi dan festival

Mengembangkan ragam serta meningkatkan kualitas


standar usaha kreatif nasional di bidang TV & Radio

Mendorong pengembangan tingkat profesionalisme


wirausaha kreatif di bidang TV & Radio

Meningkatnya ketersediaan pembiayaan


bagi industri TV & Radio lokal yang
sesuai,mudah diakses, dan kompetitif

Menciptakan dan mengembangkan


lembaga pembiayaan yang mempercepat
perkembangan industri kreatif

5.1

Meningkatnya diversifikasi dan


penetrasi pasar karya TV & Radio di
dalam negeri dan luar negeri

Mengembangkan sistem informasi pasar


karya kreatif di dalam negeri yang dapat
diakses dengan mudah dan informasi
didistribusikan dengan baik

5. Terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan

4.1

4. Terciptanya pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

Mendukung pembentukan bank data konten kreatif televisi


dan radio di Indonesia yang dapat diakses secara global
sebagai salah satu fungsi wadah pengarsipan

Memfasilitasi program pembiayaan untuk industri televisi


dan radio pemula di tingkat lokal

MISI 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam menghasilkan konten TV & Radio Indonesia yang berkualitas dan
berdaya saing dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di


bidang TV & Radio yang menghasilkan
konten yang berkualitas dan berdaya
saing

3.1

3. Terciptanya industri TV & Radio yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI 2: Mengembangkan proses penyelenggaraan konten TV & Radio Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Meningkatkan kualitas branding, promosi,


pameran, festival, MISI dagang, BtoB
networking di dalam dan luar negeri
Memperluas jangkauan distribusi produk
kreatif di dalam dan luar negeri

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatnya ketersediaan teknologi


tepat guna yang mudah diakses dan
kompetitif

6.2

Memfasilitasi akses terhadap teknologi


secara mudah dan kompetitif
Mendorong pengembangan basis-basis
pengembangan teknologi lokal yang
mendukung pengembangan industri
kreatif

Menjamin ketersediaan, kesesuaian,


jangkauan harga/biaya, sebaran/
penetrasi, dan performansi, infrastruktur
telematika-jaringan internet; dan
infrastruktur logistik dan energi

Mendorong terjalinnya kerjasama antara industri TV & radio


dengan pengembang perangkat lunak pemrograman dan
penyiaran

Mendukung adanya kebijakan subsidi kebutuhan fasilitas


pengadaan penyiaran dan pemrograman

Mendorong usaha peningkatan jangkauan siaran televisi


serta kualitas jaringan penyiaran televisi dan radio di
Indonesia

Memfasilitasi penyebaran konten kratif lokal melalui bursa


konten acara internasional

Memfasilitasi program bimbingan peningkatan standar


mutu untuk skala global

STRATEGI

Terciptanya regulasi yang mendukung


penciptaan iklim yang kondusif bagi
pengembangan industri TV & Radio

Meningkatnya partisipasi aktif


pemangku kepentingan dalam
pengembangan industri TV & Radio
secara berkualitas dan berkelanjutan

7.1

7.2

Membentuk lembaga yang dapat


mendukung pengembangan TV &
radio yang sekaligus dapat menjadi
penghubung antara pemangku
kepentingan dalam industri TV & radio

Memperbaiki dan membuat berbagai


regulasi terkait penyiaran

Memfasilitasi pembentukan lembaga milik pemerintah yang


secara aktif mendukung penciptaan konten TV & radio yang
berkualitas dan berdaya saing

Mendorong terciptanya penyempurnaan kebijakan terkait


penyiaran yang bisa mendukung iklim lingkungan bisnis
televisi dan radio menjadi lebih kondusif

7. Terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan industri TV & Radio Indonesia

Meningkatnya ketersediaan
infrastruktur yang memadai dan
kompetitif

6.1

6. Tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

105

Meningkatnya apresiasi kepada orang/


karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di
bidang TV & Radio baik itu di dalam dan
luar negeri

Meningkatnya tingkat apresiasi


masyarakat terhadap konten lokal yang
mengusung kebudayaan dan SDA lokal

7.3

14

MISI/TUJUAN/SASARAN

Meningkatkan apresiasi terhadap HKI

c
Meningkatkan akses dan distribusi
terhadap informasi/pengetahuan
terhadap sumber daya alam dan sumber
daya budaya lokal

Meningkatkan komunikasi keberadaan


orang/karya/wirausaha/usaha kreatif
lokal dan konsumsi karya kreatif lokal

Memfasilitasi dan memberikan


penghargaan yang prestisius bagi orang/
karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di
tingkat nasional dan internasional

Mengembangkan, memfasilitasi
pembentukan dan peningkatan kualitas
organisasi atau wadah yang dapat
mempercepat pengembangan ekonomi
kreatif

ARAH KEBIJAKAN

Memfasilitasi pengarsipan di bidang TV & radio yang dapat


memperkaya proses pengembangan konten acara kreatif

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konten


kreatif karya Indonesia

Memberikan penghargaan bagi konten kreatif lokal maupun


usaha kreatif secara berkala

Memfasilitasi keikutsertaan konten kreatif TV &radio


dengan memberikan subsidi atau sponsorshipbagi konten
kreatif yang mampu ikut serta dalam festival dan even
internasional

Mengaktifkan kembali dan memfasilitasi asosiasi


keprofesian media untuk berjejaring di tingkat lokal,
nasional, maupun global

STRATEGI

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung


penciptaan orang kreatif di bidang TV & Radio secara
berkelanjutan
Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung
penciptaan orang kreatif di bidang TV & Radio secara
berkelanjutan

Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif) di


bidang TV & Radio

1.1

1.2

Jumlah tenaga ahli dengan sertifikasi kompetensi di industri TV & Radio meningkat
Adanya kebijakan bagi tenaga kerja asing media yang bekerja di Indonesia
Adanya kebijakan kewajiban penerapan kode etik profesi
Adanya kebijakan perlindungan kerja terhadap para pelaku kreatif di industri televisi dan
radio

c
d
e

Pembangunan institusi pendidikan ilmu komunikasi baru di setiap provinsi di Indonesia


yang belum memilikinya

Adanya lembaga sertifikasi yang diakui secara nasional/dan atau internasional di setiap
provinsi di Indonesia

Adanya buku laporan hasil pemetaan tenaga kerja TV & Radio yang dapat diakses oleh
publik

Jumlah institusi ilmu komunikasi dengan ketersediaan fasilitas yang memenuhi standar
meningkat

Adanya institusi pendidikan tingkat tinggi di bidang ilmu komunikasi yang terakreditasi
dan bersertifikasi di setiap provinsi

Adanya nomenklatur pendidikan ilmu komunikasi yang terbaru dan sesuai

b
c

Adanya metodologi pendidikan ilmu komunikasi yang mengutamakan kreativitas dengan


tetap menekankan pentingnya etika keprofesian

1. Terciptanya sumber daya manusia kreatif di industri TV & Radio yang mampu menghasilkan konten yang mengedukasi dan menginspirasi

MISI 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang berdaya saing, dinamis, dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN TELEVISI DAN RADIO 2015-2019

Lampiran

107

INDIKASI STRATEGIS

Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan


budaya lokal yang akurat dan terpercaya serta dapat diakses
secara mudah dan cepat

Adanya laporan hasil pemetaan sumber daya alam dan budaya di setiap provinsi di
Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk memperkaya konten lokal TV & Radio
Jumlah jurnal penelitian dan pengembangan sumber daya alam dan budaya Indonesia
yang dapat digunakan untuk memperkaya konten lokal TV & Radio
Jumlah jurnal tingkat nasional maupun internasional terkait riset dan pengembangan
sumber daya alam dan budaya untuk meningkatkan ragam dan kualitas konten penyiaran
Adanya bank data pengetahuan sumber daya alam dan budaya yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber inspirasi konten lokal TV & Radio

a
b
c
d

Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang TV & Radio yang


berdaya saing

Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif lokal di


konten TV & Radio

3.2

3.3

Adanya festival konten lokal kreatif skala nasional setiap tahun


Adanya kebijakan yang mengatur proporsi kewajiban jumlah konten lokal TV untuk setiap
segmen usia

d
e

adanya laporan hasil analisis KBLI untuk industri TV & Radio secara berkelanjutan

Adanya program bimbingan bagi unit usaha TV & Radio di Indonesia

b
c

Adanya laporan hasil pemetaan unit usaha TV & Radio di Indonesia

4.1

Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi industri TV &


Radio lokal yang sesuai,mudah diakses, dan kompetitif

4. Terciptanya pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif


a

Penyusunan skema pembiayaan untuk modal awal industri TV & Radio

MISI 3. Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas dalam menghasilkan konten TV & Radio Indonesia yang mengedukasi dan
menginspirasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang TV &


Radio yang menghasilkan konten yang mengedukasi dan
menginspirasi

3.1

3. Terciptanya industri TV & Radio yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan

MISI 2. Mengembangkan proses penyelenggaraan konten TV & Radio Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing secara berkelanjutan

2.1

2. Terwujudnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi industri TV & Radio Indonesia secara
berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar karya TV &


Radio di dalam negeri dan luar negeri

Adanya alokasi dana sebagai dukungan bagi konten kreatif TV & Radio untuk mengikuti
ajang penghargaan di dalam maupun luar negeri
Adanya workshop bagi unit usaha TV & Radio untuk meningkatkan kualitas produk agar
sesuai dengan standar pasar internasional
Jumlah konten TV & radio yang disiarkan di luar negeri

b
c

Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah


diakses dan kompetitif

6.2

Adanya perangkat lunak lokal yang dikembangkan khusus untuk memenuhi kebutuhan
standar perangkat lunak pemrograman

Jumlah gangguan infrastruktur pemancar siaran TV & radio menurun

Adanya program kerja sama dengan pengembang perangkat lunak pemrograman

Proporsi wilayah kota yang memiliki daya tangkap siaran TV & Radio yang memadai di
Indonesia meningkat

Proporsi wilayah yang mendapat akses dan peningkatan kecepatan internet di Indonesia
meningkat

Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang


kondusif bagi pengembangan industri TV & Radio

Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam


pengembangan industri TV & Radio secara berkualitas dan
berkelanjutan

7.1

7.2

Adanya lembaga survey konten penyiaran milik pemerintah yang independen


Meningkatnya jumlah asosiasi keprofesian media yang aktif dan berjalan dengan baik
Adanya kebijakan standar birokrasi yang memfasilitasi penyelenggaraan penyiaran
konten TV & Radio agar lebih mudah dan cepat

b
c

Adanya kebijakan transfer pengetahuan bagi industri TV & Radio asing yang melakukan
proses pemrograman di Indonesia

b
a

Adanya kebijakan subsidi pajak fasilitas alat-alat penyiaran dan pemrograman

7. Terciptanya kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan industri TV & Radio Indonesia

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai dan


kompetitif

6.1

INDIKASI STRATEGIS

6. Tersedianya infrastruktur dan teknologi yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

5.1

5. Terciptanya perluasan pasar di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

109

Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/


usaha kreatif lokal di bidang TV & Radio baik itu di dalam dan
luar negeri

Meningkatnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap konten


lokal yang mengusung kebudayaan dan SDA lokal

7.3

7.4

MISI/TUJUAN/SASARAN

Jumlah konten lokal maupun orang kreatif dalam TV & Radio yang menerima
penghargaan berskala nasional
Jumlah penonton dan rating konten kreatif yang berkualitas mengalami peningkatan
Jumlah tulisan terkait konten TV dan Radio di media massa yang sukses dipublikasikan
meningkat

b
c

Adanya ajang penghargaan nasional di bidang media yang secara resmi diselenggarakan
oleh pemerintah

b
a

Jumlah pelaku/karya/usaha kreatif TV & Radio yang ikut serta dalam festival dan event
internasional

Jumlah pertemuan rutin antara pihak pemerintah dengan pihak industri TV & Radio yang
diadakan dalam satu tahun

INDIKASI STRATEGIS

110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNG
JAWAB
2015

Perbaikan nomenklatur pendidikan ilmu


komunikasi

Peningkatan jumlah institusi pendidikan


tingkat tinggi di bidang ilmu komunikasi
yang terakreditasi

Pembaruan dan penambahan fasilitas


pendidikan ilmu komunikasi di pendidikan
tinggi

Pembangunan lembaga sertifikasi ilmu


komunikasi yang diakui oleh negara di
setiap provinsi di Indonesia

Perbaikan kurikulum pendidikan tingkat


tinggi yang mengedepankan kreativitas
yang beretika dalam ilmu komunikasi

Analisis kebutuhan lembaga sertifikasi ilmu


komunikasi (formal maupun non-formal);
Penyusunan prioritas pembangunan lembaga
sertifikasi ilmu komunikasi; Pembangunan
lembaga sertifikasi ilmu komunikasi;

Pendataan fasilitas pendidikan ilmu


komunikasi yang diperlukan di pendidikan
tinggi; Pembaruan dan penambahan fasilitas
pendidikan ilmu komunikasi di pendidikan
tinggi

Studi dan pengembangan kurikulum


pendidikan ilmu komunikasi yang sudah ada di
Indonesia

Peninjauan dan perancangan ulang rumpun


keilmuan ilmu komunikasi di lembaga
pendidikan

Memasukkan nilai-nilai etika ilmu komunikasi


dalam soft skill dan hard skill di dalam
rancangan kurikulum pendidikan tingkat lanjut

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Asosiasi keprofesian

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Institusi pendidikan
tinggi

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Institusi pendidikan
tinggi

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Asosiasi keprofesian

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Asosiasi keprofesian;
Institusi pendidikan
tinggi

SASARAN 1: Meningkatnya kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang kreatif di bidang TV & Radio secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN TELEVISI DAN RADIO 2015-2019

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

111

Pembangunan institusi pendidikan ilmu


komunikasi baru di Indonesia di luar Pulau
Jawa

Analisis kebutuhan institusi pendidikan ilmu


komunikasi (formal maupun non-formal);
Penyusunan prioritas pembangunan institusi
pendidikan ilmu komunikasi; Pembangunan
institusi pendidikan ilmu komunikasi;

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Pemetaan dan publikasi hasil pemetaan


tenaga kerja TV & Radio

Penetapan standar sertifikasi kompetensi


di bidang TV & Radio

Penyusunan kebijakan bagi tenaga kerja


asing yang bekerja di Indonesia

Studi dan penyusunan kebijakan bagi tenaga


kerja asing yang bekerja di Indonesia;
Sosialisasi kebijakan bagi tenaga kerja asing
yang bekerja di Indonesia

Studi standar kompetensi umum dan khusus


yang sesuai bagi tenaga kerja di Industri
TV & Radio; Penyusunan standar kurikulum
pelatihan ilmu komunikasi

Pemetaan tenaga kerja TV & Radio di seluruh


provinsi di Indonesia, mulai dari skala UKM
hingga perusahaan internasional

SASARAN 2: Meningkatnya kualitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif) di bidang TV & Radio

SASARAN/RENCANA AKSI

Menteri Tenaga
Kerja dan
Transmigrasi; Menteri
Perdagangan; Menteri
Perindustrian;
Menteri Hukum
dan HAM; Pimpinan
daerah

Menteri Tenaga Kerja


dan Transmigrasi;
Menteri Komunikasi
dan Informatika

Menteri Tenaga Kerja


dan Transmigrasi;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perindustrian;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Badan Pusat Statistik;
Bappenas; Pimpinan
daerah

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Kepala daerah

PENANGGUNG
JAWAB

2015

2016
X

2017

TAHUN

2018

2019

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

Penyusunan kebijakan perlindungan kerja


terhadap para pelaku kreatif di industri
televisi dan radio

Studi dan penyusunan kebijakan perlindungan


kerja di industri TV & Radio

Studi dan penyusunan kebijakan kode etik


profesi di bidang TV & Radio; Memasukkan
kode etik profesi dalam setiap kurikulum
pelatihan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri Tenaga Kerja


dan Transmigrasi;
Menteri Hukum dan
HAM

Menteri Tenaga Kerja


dan Transmigrasi;
Menteri Komunikasi
dan Informatika;
Menteri Hukum dan
HAM

PENANGGUNG
JAWAB

2015

2016

2017

TAHUN
2018

Pemetaan sumber daya alam dan budaya


Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk
memperkaya konten lokal TV & Radio

Penyediaan fasilitas dan dana untuk


penelitian dan pengembangan sumber
daya alam dan budaya Indonesia untuk
memperkaya konten lokal TV & Radio

Pembuatan jurnal tingkat nasional terkait


riset dan pengembangan sumber daya
alam dan budaya untuk meningkatkan
ragam dan kualitas konten penyiaran

Mendorong institusi pendidikan yang memiliki


fakultas/program studi/jurusan ilmu
komunikasi untuk membuat jurnal terakreditasi
di institusi masing-masing

Adanya insentif bagi para peneliti di bidang


ilmu komunikasi dengan tujuan menambah
ragam konten berbudaya Indonesia dengan
pemanfaatan sumber daya alam dan budaya

Perencanaan pemetaan sumber daya alam


dan budaya Indonesia; Pemetaan sumber
daya alam dan budaya Indonesia; Publikasi
hasil pemetaan sumber daya alam dan budaya
Indonesia yang dapat dimanfaatkan industri
TV & Radio melalui saluran yang dapat diakses
oleh banyak pihak

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Institusi pendidikan

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Riset dan
Teknologi;

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Kepala Daerah

SASARAN 3: Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat dan terpercaya serta dapat diakses secara mudah dan cepat

Penetapan kebijakan kewajiban penerapan


kode etik profesi

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

Lampiran

113

Pemberian fasilitas untuk pengembangan


pusat data pengetahuan yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi
konten lokal TV & Radio

Memfasilitasi pengembangan pusat data


pengetahuan ilmu komunikasi seperti
mengenai studi, hasil pemetaan, dan
jurnal dengan cara: mengumpulkan hasil
studi; membangun sistem pengetahuan;
mensosialisasikan pusat pengetahuan ilmu
komunikasi; dan memonitor dan evaluasi
tingkat penggunaan pusat pengetahuan ilmu
komunikasi

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Komunikasi
dan Informatika

PENANGGUNG
JAWAB
2015
X

2016
X

2017

TAHUN

2018

2019

Pemetaan unit usaha TV & Radio di


Indonesia

Pemberian bimbingan bagi unit usaha TV


& Radio di Indonesia

Pemberian fasilitas dan dana untuk mendorong


peningkatan jumlah dan persebaran unit usaha
TV & Radio di Indonesia; Pemberian fasilitas
inkubator bagi unit usaha TV & Radio yang
memerlukan.

Perencanaan pemetaan unit usaha TV & Radio


di Indonesia; Pemetaan unit usaha TV & Radio
di Indonesia; Publikasi hasil pemetaan unit
usaha TV & Radio di Indonesia.

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perdagangan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi;
Pimpinan daerah

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perdagangan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Bappenas; Badan
Pusat Statistik

SASARAN 4: Meningkatnya wirausaha kreatif lokal di bidang penyelenggaraan program TV & Radio yang menghasilkan konten yang berkualitas dan berdaya saing

SASARAN/RENCANA AKSI

114

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Perbaikan KBLI untuk industri TV & Radio


secara berkelanjutan

Analisis hasil produk TV & Radio untuk


perbaikan KBLI; Perbaikan dan publikasi KBLI
terbaru

Penetapan kewajiban proporsi jumlah


konten lokal untuk setiap segmen usia

Studi perencanaan proporsi konten lokal TV


untuk setiap segmen usia; sosialisasi kebijakan
proporsi konten lokal

Perencanaan dan penyelenggaraan festival


konten lokal kreatif skala nasional yang
mengedepankan kreativitas serta kekayaan
alam dan budaya Indonesia

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia

Menteri
Perindustrian;
Menteri Perdagangan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;

Menteri
Perindustrian;
Menteri Perdagangan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi;
Bappenas; Badan
Pusat Statistik

PENANGGUNG
JAWAB

2015

Penyusunan skema pembiayaan untuk


modal awal industri TV & Radio

Studi skema pembiayaan untuk modal awal


wirausahawan desain; Penyusunan skema
pembiayaan modal awal wirausahawan desain

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif;
Menteri Keuangan;
Bank Indonesia

SASARAN 7: Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi industri TV & Radio lokal yang sesuai,mudah diakses, dan kompetitif

Penyelenggaraan festival konten lokal


kreatif skala nasional

SASARAN 6: Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif lokal di konten TV & Radio

SASARAN 5: Meningkatnya usaha kreatif lokal di bidang TV & Radio yang berdaya saing

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

115

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNG
JAWAB

Pemberian fasilitas dan dana bagi konten


kreatif TV & Radio untuk mengikuti bursa
konten acara serta ajang penghargaan di
dalam maupun luar negeri

Pemberian bimbingan bagi unit usaha


TV & Radio untuk meningkatkan kualitas
produk agar sesuai dengan standar pasar
internasional

Pemberian fasilitas pengarsipan konten


kreatif karya industri TV & radio sebagai
bentuk publikasi global untuk membantu
pemasaran karya

Pemberian fasilitas pembentukan sistem


pengarsipan konten kreatif industri TV &
Radio yang dapat diakses secara global untuk
membantu memasarkan konten kreatifnya di
dalam dan luar negeri

Pendaftaran unit usaha, seleksi, pemberian


bimbingan, launching produk, evaluasi, dan
sebagainya

Pemberian fasilitas dan dana untuk mendorong


keikutsertaan konten kreatif TV & Radio
Indonesia yang berkualitas untuk mengikuti
ajang penghargaan di dalam maupun luar
negeri

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perdagangan;
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Luar Negeri;

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perdagangan; Menteri
Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi
Kreatif; Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Perdagangan;
Komunitas desain;
Asosiasi keprofesian;

SASARAN 8: Meningkatnya diversifikasi dan penetrasi pasar karya TV & Radio di dalam negeri dan luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

116

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Peningkatan kualitas infrastruktur


pemancar siaran TV & radio

Studi dan evaluasi terhadap jumlah gangguan


pada pemancar siaran tv & radio; Perbaikan
infrastruktur pemancar siaran tv & radio

Studi kelayakan peningkatan persebaran daya


tangkap siaran di setiap kota di Indonesia;
Peningkatan persebaran daya tangkap siaran
TV dan radio secara bertahap

Studi kelayakan peningkatan persebaran dan


kecepatan internet di Indonesia; Peningkatan
persebaran dan kecepatan internet di
Indonesia secara bertahap

Pemberian fasilitas untuk melakukan


kerja sama dengan pengembang
perangkat lunak pemrograman untuk
memberikan harga khusus bagi perangkat
lunak asli

Kerja sama dengan pengembang perangkat


lunak pemrograman untuk memberikan
harga khusus atau memberikan subsidi
dari pemerintah terutama untuk institusi
pendidikan; Pemberian akses pada universitas
untuk mendapatkan harga khusus tersebut

SASARAN 10: Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses dan kompetitif

Peningkatan daya tangkap siaran TV &


Radio di seluruh kota di Indonesia

Peningkatan persebaran akses dan


kecepatan internet di Indonesia secara
bertahap

SASARAN 9: Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai dan kompetitif

SASARAN/RENCANA AKSI

Menteri
Perindustrian;
Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Menteri Riset dan
Teknologi; Menteri
Koperasi dan UKM;
Menteri Perdagangan;

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
Menteri Riset dan
Teknologi; Menteri
Hukum dan HAM;

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
Menteri Riset dan
Teknologi; Menteri
Hukum dan HAM;

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
Menteri Riset
dan Teknologi;
Menteri Pekerjaan
Umum; Menteri
Pembangunan
Daerah Tertinggal;

PENANGGUNG
JAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

117

Penetapan subsidi pajak fasilitas alat-alat


penyiaran dan pemrograman

Perencanaan anggaran subsidi pajak alat-alat


penyiaran TV & Radio

Pemberian fasilitas untuk bekerja sama


dengan para pengembang perangkat lunak
lokal untuk mengembangkan perangkat lunak
pemrograman; Publikasi perangkat lunak
pemrograman

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri
Perindustrian;
Menteri Koperasi
dan UKM; Menteri
Pariwisata dan
Ekonomi Kreatif;
Menteri Keuangan;
Bank Indonesia

Menteri
Perindustrian;
Menteri Riset dan
Teknologi; Menteri
Koperasi dan UKM;
Menteri Perdagangan;

PENANGGUNG
JAWAB
2015

Pengembangan kebijakan kemitraan


dengan perusahaan asing dalam produksi
sehingga terjadi transfer pengetahuan
dan teknologi

Penyusunan kebijakan transfer pengetahuan


bagi industri TV & Radio asing yang melakukan
proses pemrograman di Indonesia; Sosialisasi
kebijakan transfer pengetahuan bagi industri
TV & Radio asing yang melakukan proses
pemrograman di Indonesia

Menteri Perdagangan;
Menteri
Perindustrian;
Menteri Tenaga Kerja
dan Transmigrasi;
Menteri Hukum dan
HAM;

SASARAN 11: Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan industri TV & Radio

Pemberian fasilitas untuk pengembang


perangkat lunak lokal untuk
mengembangkan perangkat lunak
pemrograman

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

118

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Televisi dan Radio Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNG
JAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

Pemberian fasilitas yang dibutuhkan


asosiasi keprofesian media agar dapat
aktif dan berjalan dengan baik

Penyusunan kebijakan birokrasi yang


memfasilitasi penyelenggaraan penyiaran
konten TV & Radio agar lebih mudah dan
cepat

Pembentukan pertemuan rutin antara


pihak pemerintah dengan pihak industri
TV & Radio

Pembentukan lembaga survey konten


penyiaran milik pemerintah yang
independen

Penyusunan agenda pertemuan, evaluasi hasil


pertemuan, tindak lanjut hasil pertemuan,
serta publikasi hasil pertemuan

Penyusunan kebijakan birokrasi


penyelenggaraan penyiaran konten TV
& Radio; Sosialisasi kebijakan birokrasi
penyelenggaraan penyiaran konten TV & Radio

Pendaftaran asosiasi keprofesian; Studi


kebutuhan fasilitas bagi asosiasi keprofesian;
Pemberian fasilitas yang dibutuhkan

Kajian akademik lembaga survey penyiaran


nasional, perencanaan, dan penganggaran; Soft
launching lembaga survey penyiaran nasional;
Grand launching lembaga survey penyiaran
nasional; Pengembangan, networking dengan
lembaga survey penyiaran internasional

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia

Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi
Kreatif; Menteri
Perindustrian;
Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia; Menteri
Pendidikan dan
Kebudayaan;
Institusi pendidikan;
Asosiasi keprofesian;
Komunitas media

SASARAN 12: Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan industri TV & Radio secara berkualitas dan berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

Lampiran

119

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNG
JAWAB
2015

2016

2017

TAHUN

Penyelenggaraan ajang penghargaan


nasional di bidang media yang secara
resmi diselenggarakan oleh pemerintah

Perencanaan dan penyelenggaraan ajang


penghargaan konten lokal kreatif skala
nasional yang mengedepankan kreativitas yang
berkualitas

Studi skema pembiayaan untuk subsidi


pelaku/karya/usaha kreatif TV & Radio yang
mampu ikut serta dalam festival dan even
internasional; Penyusunan skema pembiayaan
subsidi pelaku/karya/usaha kreatif TV & Radio
yang mampu ikut serta dalam festival dan
event internasional
Menteri Pariwisata
dan Ekonomi
Kreatif; Menteri
Perindustrian;
Menteri Komunikasi
dan Informatika;
KoMISI Penyiaran
Indonesia; Asosiasi
keprofesian

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi
Kreatif; Menteri
Perindustrian;
Menteri Perdagangan;

Pemberian penghargaan bagi karya


maupun usaha kreatif dalam bidang media
yang berskala nasional

Pemberian fasilitas pada komunitas media


untuk membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat terhadap konten kreatif yang
berkualitas

Pemberian fasilitas untuk publikasi tulisan


terkait konten TV dan Radio di media
massa

Dengan makin banyaknya tulisan mengenai


konten kreatif TV & Radio Indonesia di media
massa nasional dan internasional, diharapkan
masyarakat semakin sadar akan konten acara
TV dan Radio yang dinilai memiliki kreativitas
yang berkualitas

Fasilitas yang dapat diberikan antara lain


adalah ruang publik, sosialisasi konten kreatif
yang berkualitas, dan sebagainya

Pendaftaran dan sosialisasi penghargaan;


Penjurian karya kreatif; Publikasi dan kegiatan
lanjutan dari penghargaan seperti networking;

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif;
Pimpinan daerah;

Menteri Pariwisata
dan Ekonomi
Kreatif; Menteri
Perindustrian;
Menteri Perdagangan;

SASARAN 14: Meningkatnya tingkat apresiasi masyarakat terhadap konten lokal yang mengusung kebudayaan dan SDA lokal

Pemberian fasilitas pembiayaan untuk


subsidi pelaku/karya/usaha kreatif TV
& Radio yang mampu ikut serta dalam
festival dan event internasional

SASARAN 13: Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal di bidang TV & Radio baik itu di dalam dan luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

348
120

Kreatif: Rencana
AksiRadio
Jangka
Menengah
2015-2019
Ekonomi Kreatif: RencanaEkonomi
Pengembangan
Televisi dan
Nasional
2015-2019