Anda di halaman 1dari 40

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

Analisis Laporan Keuangan PT XL AXIATA


Diajukan Oleh:
Kelompok 3
1. Gema Azhdi Kumara
2. Hariz Muftie Hidayat
3. Ichsan Atmaja
4. Inesia Nur Ifada
5. Lasria Kartika Handayani S
6. Latifa Rahmi
7. M Zarsih Akbar Maulana
8. Madita Pakaryugi Klesra
9. Muhammad Aulia Rahman C
10. Muhammad Fudhail

(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)
(27)
(28)
(29)
(30)

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan


Spesialisasi Akuntansi PKN STAN Bintaro
Untuk Memenuhi Tugas Aktivitas Semester 5 Mata Kuliah Analisis Laporan
Keuangan

Politeknik Keuangan Negara STAN


2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Laporan Keuangan bertujuan untuk memberikan gambaran informasi mengenai posisi
keuangan dan kinerja perusahaan yang dapat dijadikan pedoman dalam mengambil
keputusan bisnis. Setiap akhir periode biasanya akuntan menyiapakan dan menyusun
Laporan Keuangan yang terdiri dari Laporan Neraca, Rugi Laba, Arus Kas, Perubahan Modal,
dan Laporan tersebut diserahkan ke pimpinan perusahaan. Hal umum yang biasa terjadi
adalah mereka hanya fokus terhadap Laporan Laba Rugi, namun ada hal yang lebih penting
yang perlu disajikan dalam penyampaian laporan ini yaitu mengenai Analisis Laporan
Keuangan.

Analisis Data Laporan Keuangan dilakukan dengan menganalisa masing - masing pos
yang terdapat di dalam laporan keuangan dalam bentuk rasio posisi keuangan dengan tujuan
agar dapat memaksimalkan kinerja perusahaan untuk masa yang akan datang. Tujuan utama
analisis laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai alat barometer untuk melakukan forecasting atau memproyeksikan posisi
keuangan dimasa yang akan datang.
2. Mereview kondisi perusahaan saat ini, permasalahan dalam manajemen,
operasional maupun, keuangan.
3. Alat ukur untuk melakukan efisiensi di semua departemen perusahaan.

Analisis laporan keuangan diperlukan dalam beberapa hal lain sebagi berikut:
1. Bagi pihak manajemen: untuk mengevaluasi kinerja, kompensasi, risiko perusahaan
2. Bagi pemegang saham: untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan,
keamanan investasi.
3. Bagi kreditor: mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang serta bunganya.
4. Bagi pemerintah: pajak, persetujuan untuk go public.
5. Bagi karyawan: Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja
6. Bagi supplier dan pemberi hutang jangka pendek lainnya: mengetahui kemampuan
perusahaan membayar hutang jangka pendeknya

Analisis Laporan Keuangan | 2

7. Pelanggan: memerlukan informasi yang berhubungan dengan kelangsungan


perusahaan, terutama pelanggan yang melakukan kerjasama jangka panjang.
Laporan keuangan adalah sumber informasi yang dijadikan landasan pengambilan
keputusan oleh karena itu biasanya mereka mengadakan analisis atau interpretasi terhadap
data data keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan. Dalam paper ini kami akan
membahas tentang analisis laporan keuangan PT XL AXIATA
B. Profil Perusahaan
PT XL Axiata Tbk atau lebih dikenal dengan nama XL adalah salah satu operator
telekomunikasi seluler yang ada di Indonesia. XL dulunya didirikan pada tanggal 8 Oktober
1996 dengan nama PT Excelcomindo Pratama Tbk sebelum akhirnya mengganti namanya
pada 23 Desember 2009 lalu. Saat perusahaan ini pertama berdiri, kepemilikannya masih
berada dalam kekuasaan PT Grahametropolitan Lestari yang merupakan perusahaan
dagang dan pelayanan umum. XL adalah perusahaan swasta pertama di Indonesia yang
memberikan layanan telepon seluler. Visi PT XL Axiata Menjadi Juara Seluler IndonesiaMemuaskan Pelanggan, Pemegang Saham dan Karyawan
Awalnya XL menyediakan layanan telekomunikasi handphone seluler dengan
menggunakan teknologi GSM 900 kemudian merintis jaringan GSM 1800. Beberapa tahun
kemudian, perusahaan ini dianugerahi lisensi untuk mengimplementasikan jaringan DCS
1800 dan mengoperasikan layanan ISP dan VoIP. Pada tahun 2006, XL mengantongi ijin
untuk memberikan layanan 3G yang kemudian diluncurkan pada bulan September 2006.
Pada akhir tahun 2010, jumlah pelanggan XL telah mencapai angka 40 juta dengan lebih dari
22.000 menara pemancar yang tersebar di seluruh Indonesia.
Pada 26 September 2013, XL mencapai kesepakatan untuk mengakuisi PT Axis
Telekom Indonesia (Axis). Perusahaan ini mengambil alih 95 persen saham Saudi Telecom di
Axis.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi perusahaan dilihat dari analisis likuiditas?
2. Bagaimana kondisi perusahaan dilihat dari analisis finansial?
3. Bagaimana kondisi perusahaan dilihat dari analisis investasi

Analisis Laporan Keuangan | 3

BAB II
ANALISIS LIKUIDITAS

Likuiditas adalah

masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi

kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi. Masalah likuiditas dapat dihitung
dengan dua cara, yaitu dengan cara perhitungan menggunakan rasio (quick ratio, current
ratio, dan cash ratio dan dengan menghitung periode penagihan rata- rata (average
collection period).

A. Current Ratio
Current ratio adalah ratio yang membandingkan antara aktiva lancar yang dimiliki
perusahaan dengan hutang jangka pendek

Current Ratio =

Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam
likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karena
menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi
kemampuan laba perusahaan.

Nama Perusahaan

2012

2013

2014

PT XL AXIATA

3658985
8739996
0.42
27973
24107
1.16
8308810
11015751
0.75

5844114
7931046
0.74
33075
28437
1.16
7169017
13494437
0.53

13309762
15398292
0.86
33762
31786
1.06
8591684
21147849
0.41

PT TELKOM

PT INDOSAT

Analisis Perubahan Ratio Lancar PT XL Axiata


Padatahun 2012, perusahaanmemilikinilai ratio lancar 0,42.
Artinya, perusahaan hanya punya Rp 0,42 untuk membayar setiap Rp 1 utang
lancarnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek.
Padatahun 2013, perusahaanmemilikinilai ratio lancar 0,74.
Analisis Laporan Keuangan | 4

Artinya, perusahaan hanya punya Rp 0,74 untuk membayar setiap Rp1 utang
lancarnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek.
Pada tahun 2014, perusahaan memiliki nilai ratio lancar 0,86.
Artinya, perusahaan hanya punya Rp0,86 untuk membayar setiap Rp1 utang
lancarnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek.
GrafikPerubahan Current Ratio

1.4
1.2
1
0.8

PT XL

0.6

PT Telkom

0.4

PT Indosat

0.2
0
2012

2013

2014

Nilai ratio lancar perusahaan PT XL Axiata mengalami peningkatan 76,19% dari tahun 2012
ketahun 2013 dan peningkatan 16,21% dari tahun 2013 ketahun 2014. Dari tahun 2012
hingga 2014, nilai ratio lancar perusahaan PT XL Axiata mengalami peningkatan. Walaupun
ratio perusahaan XL Axiata berada di bawah 1, PT XL Axiata mengalami peningkatan ratio
lancar setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki peningkatan
kemampuan untuk memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek.
Pada tahun 2014, nilai ratio dari PT XL Axiata hamper mendekati satu.
B. Cash Ratio
Aktiva perusahaan yang paling likuid adalah kas dan surat berharga. Cash ratio
menunjukan perusahaan untuk membayar utang jangka pendek dengan kas dan surat
berharga yang dapat segera diuangkan. Tidak terdapat standar likuiditas untuk cash ratio
sehingga penilaiannya tergantung pada kebijakan manajemen.

Analisis Laporan Keuangan | 5

Cash Ratio juga merupakan perbandingan daripada kas dan saldo giro/tabungan bank yang
dimiliki oleh perusahaan dengan hutang lancar yang ada, semakin tinggi nilai ini tentunya
akan semakin baik.
Cash Ratio = Total Kas dan Bank
Total Hutang Lancar
Perhitungan Ratio PT. XL Axiata
o

Cash Ratio 2012 =

= 0,09

Cash Ratio 2013 =

= 0,17

Cash Ratio 2014 =

= 0,45

Perbandingan dengan perusahaan sejenis


2012

2013

2014

PT XL
PT Telkom

0.09
0.54

0.17
0.52

0.45
0.56

PT Indosat

0.36

0.17

0.16

Padatahun 2012 ke 2013, cash ratio naiksebesar 88,9%


Padatahun 2013 ke 2014, cash ratio naiksebesar 164,7%
Grafik Cash Ratio PT. XL Axiata
0.6
0.5
0.4
PT XL

0.3

PT Telkom
0.2

PT Indosat

0.1
0
2012

2013

2014

Analisis Laporan Keuangan | 6

C. Acid Test Ratio / Quick Ratio


Quick Ratio atau Acid Test Ratio adalah rasio antara aktiva lancar sesudah dikurangi
persediaan dengan hutang lancar. Aktiva lancar dalam acid test ratio berupa kas, setara kas,
surat berharga, piutang, dll. Persediaan dikeluarkan dalam menghitung Acid Test Ratio
karena persediaan dianggap masih terlalu sulit untuk dirubah kedalam bentuk kas
Perhitungan Acid test ratio dapat dilihat dari rumus dibawah ini:

Acid Test Ratio =

Acid Test Ratio PT XL Axiata dan perusahaan sejenis :

PT XL
PT Telkom
PT Indosat

2012

2013

2014

0.41
1.14
0.75

0.73
1.15
0.53

0.86
1.05
0.4

Padatahun 2012, perusahaan memiliki nilai quick ratio 0,41.


Padatahun 2013, perusahaan memiliki nilai quick ratio 0,73.
Padatahun 2014, perusahaan memiliki nilai quick ratio 0,86.
Grafik
1.4
1.2
1
0.8

PT XL

0.6

PT Telkom

0.4

PT Indosat

0.2
0
2012

2013

2014

Quick ratio pada suatu perusahaan dikatakan baik apabila berada dalam posisi 0,8
sampai 1. Apabila kurang dari 0,8 dapat dikatakan suatu perusahaan mengalami masalah
dalam keuangannya. Melihat data Quick Ratio PT XL Axiata diatas menunjukan perubahaan

Analisis Laporan Keuangan | 7

yang positif karena selama 3 tahun terakhir mengalami peningkatan sebesar hampir 90%
kemudian 20%.
Berdasarkan kurva Rasio Lancar dapat kita ketahui bahwa RasioLancar PT XL Axiata
tidak mencapai 100% yang berarti jumlah hutang lebih besar daripada jumlah aktiva. Jika
dibandingkan dengan Industri yang sama PT XL Axiata jauh lebih baik karena dari tahun
ketahun terjadi kenaikan walaupun belum mencapai 100% seperti PT Telkom.
D. Cash Collection period
Merupakan lama waktu yang diambil perusahaan untuk menerima pembayaran
selama jangka waktu pembayaran piutang dari customer. Rasio ini biasa digunakan sebagai
tolak ukur untuk menilai tingkat likuiditas aktiva lancar yang berbentuk piutang jangka
pendek.

Perhitungan Cash Collection PT XL AXIATA

PT XL
PT Telkom
PT Indosat

2012

2013

2014

9.06
25.24
33.1

15.74
25.86
32.74

19.34
26.79
32.78

Dalam tabel di atas tampak bahwa periode perubahan piutang menjadi kas selalu
mengalami kenaikan, dengan kata lain semakin lama. Ada dua pandangan dalam hal ini.
Pertama, kemampuan perusahaan dalam memperoleh kas jangka pendek semakin
berkurang. Kedua, kita tidak hanya melihat dari sisi persentase atau angka saja, peningkatan
persentase ini juga disebabkan karena bertambahnya jumlah piutang perusahaan karena
pada tahun 2013 melakukan akuisisi terhadap perusahaan AXIS. Oleh karena itu,
peningkatan angka ini tidak berarti selalu menunjukkan bahwa perusahaan mengalami
kesulitan dalam hal menagih piutangnya

Analisis Laporan Keuangan | 8

Grafik Perbandingan
35
30
25
20

PT XL

15

PT Telkom

10

PT Indosat

5
0
2012

2013

2014

Cash Collection Bagian Terpisah


Sama seperti pengertian cash collection sebelumnya, namun perhitungan piutang
usaha danp iutang lain-lain disini dilakukan secara terpisah. Perhitungan ini dilakukan untuk
mengetahui manakah yang lebih efektif antara piutang usaha dan piutang lain-lain. Berikut
adalah perhitungan Cash Collection (terpisah) dari 3 perusahaan :
PT XL Axiata
2012

2013

2014

Piutang Usaha

8.6814

15.405

18.756

Piutang Lain-lain

0.3766

0.3401

0.5802

2012

2013

2014

Piutang Usaha

8.6814

15.405

18.756

Piutang Lain-lain

0.3766

0.3401

0.5802

2012

2013

2014

Piutang Usaha

8.6814

15.405

18.756

Piutang Lain-lain

0.3766

0.3401

0.5802

PT Telkom

PT Indosat

ANALISIS UNTUK PT XL AXIATA


1. Pada tahun 2012, cash collection untuk piutang usaha adalah 8,68 hari dan untuk
piutang lain-lain adalah 0,37 hari
Analisis Laporan Keuangan | 9

2. Pada tahun 2013, cash collection untuk piutang usaha adalah 15,4 hari dan untuk
piutang lain-lain adalah 0,34 hari
3. Pada tahun 2014, cash collection untuk piutang usaha adalah 18,75 hari dan untuk
piutang lain-lain adalah 0,58 hari
Jika dilihat dari data, PT XL Axiata menunjukkan hasil yang bagus karena periode
penagihan piutang relatif lebih cepat dibandingkan perusahaan lain. Namun juga
disayangkan karena semakin tahun, semakin lama penagihan piutangnya.

Analisis Laporan Keuangan | 10

BAB III
ANALISIS SOLVABILITAS

Rasio solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya aktiva sebuah perusahaan
yang didanai dengan utang. Artinya, seberapa besar beban utang yang ditanggung oleh
perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Rasio ini merupakan ukuran yang menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Baik kewajiban jangka
pendek maupu jangka panjang jika perusahaan dibubarkan, atau dilikuidasi. Perusahaan
yang memiliki rasio solvabilitas yang tinggi memiliki resiko kerugian yang lebih besar
daripada perusahaan dengan rasio solvabilitas yang rendah.
A. Total debt to equity ratio
Adalah perbandingan antara hutang hutang dan ekuitas dalam pendanaan
perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan untuk memenuhi
seluruh kewajibannya.
Total Debt to Equity Ratio:
Debt to Equity Ratio PT XL dan perusahaan dalam industri sejenis
2012
PT XL AXIATA
PT INDOSAT
PT TELKOM

1,3
1,84
0,66

2013
1,63
2,3
0,65

2014
3,65
2,75
0,63

Pada tahun 2013, perusahaan yang memiliki DER dari yang terkecil sampai yang terbesar
adalah Telkom, XL, Indosat. DER dengan angka di bawah 1,00 mengindikasikan bahwa
perusahaan memiliki hutang yang lebih kecil dari ekuitas yang dimilikinya.
Di tahun 2014, XL mengalami kenaikkan DER yang tinggi dan Indosat juga mengalami
kenaikkan sedikit dibandingkan XL, sedangkan Telkomsel mengalami penurunan DER. DER
yang tinggi mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan karena tingkat
hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan bertambah besar yang berarti juga
bisa mengurangi keuntungan.

Analisis Laporan Keuangan | 11

Grafik perbandingan
4
3.5
3
2.5

PT XL AXIATA

2
1.5

PT INDOSAT

PT TELKOM

0.5
0
2012

2013

2014

B. Long Term Debt to Equity Ratio


Adalah perbandingan antara hutang hutang dan ekuitas dalam pendanaan
perusahaan khususnya hutang jangka panjang yang dimiliki perusahaan

Rumus Long Term Debt to Equity =

Long Term Debt to Equity Ratio


3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
2012

2013
XL

INDOSAT

2014
TELKOM

Dapat dilihat bahwa, bahwa PT. XL dari tahun 2012 ke tahun 2014, LTD to Equity
bertambah sebesar 1,7203 yang menunjukkan kinerja perusahaan memburuk karena
perusahaan menanggung resiko finansial yang semakin besar seiring bertambahnya
hutang/kewajiban. Sedangkan PT. INDOSAT mengalami fluktuasi dalam rasio ini, yaitu
meningkat ditahun 2013, namun kembali bergerak menurun ke posisi 1,26 pada akhir tahun
2014, yang mengisyaratkan adanya perbaikan kinerja dari PT. INDOSAT ditahun tersebut.
Analisis Laporan Keuangan | 12

Untuk PT. TELKOM, LTDE Ratio mengalami penurunan yang pelan namun pasti dari
tahun 2012 ke 2014 dan berhenti diangka 0,266. Dari gambaran besar ini dapat disimpulkan
bahwa PT. TELKOM lah yang paling sedikit menanggung resiko finansial dalam hal Hutang
jangka panjang yang ditanggung perusahan.
PT. XL memiliki rasio yang bertambah dikarenakan adanya kenaikan pinjaman jangka
panjang dari tahun 2013 ke 2014 sebesar hampir 102% (101,49%), sedangkan PT TELKOM
pinjaman jangka panjangnya naik hanya sebesar 4% (4,1886%) dan PT INDOSAT turun
sebesar 27% (26,92%). Pinjaman jangka panjang ini melonjak secara signifikan dikarenakan
juga adanya akuisi PT Axis.
C. Times Interest Earned
Time interest earned merupakan perbandingan antara laba bersih sebelum bunga dan
pajak dengan beban bunga dan merupakan rasio yang mencerminkan besarnya jaminan
keuangan untuk membayar bunga utang jangka panjang.
Rasio ini juga disebut dengan rasio penutupan (coverage ratio), yang mengukur
kemampuan pemenuhan kewajiban bunga tahunan dengan laba operasi (EBIT) dan
mengukur sejauh mana laba operasi boleh turun tanpa menyebabkan kegagalan dari
pemenuhan kewajiban membayar bunga pinjaman.

Times Interest Earned =

Perhitungan Times Interest Earned


Tahun

Nama
Perusahaan

LabaSebelumPajak

BebanBunga

Times Interest
Earned

2012

PT XL AXIATA
PT INDOSAT
PT TELKOM
PT XL AXIATA
PT INDOSAT
PT TELKOM
PT XL AXIATA
PT INDOSAT
PT TELKOM

3751421
461618
24228
1389667
-3333837
27149
1069786
-1935901
28784

690283
5455925
1111
859765
3366200
1476
1390029
2166164
1911

5,43
0,085
21,81
2.62
-0,99
19.39
1.77
-0,89
16.06

2013

2014

Analisis Laporan Keuangan | 13

Grafik Time Interest Earned

25

20
15

PT XL

10

Indosat

Telkom

0
-5

2012

2013

2014

Analisis Perubahan Times Interest Earned Ratio


Times Interest Earned Ratio tahun 2012 adalah 5,43 (6 kali)
Artinya,biaya bunga dapat ditutup 6 kali dari laba sebelum bunga dan pajak.
Times Interest Earned Ratio tahun 2013 adalah 2.62 (3 kali)
Artinya,biaya bunga dapat ditutup 3 kali dari laba sebelum bunga dan pajak.
Times Interest Earned Ratio tahun 2014 adalah1.77 (2 kali)
Artinya,biayabunga dapat ditutup 2 kali dari laba sebelum bunga dan pajak.
Times Interest Earned Ratio Perusahaan PT XL Axiata mengalami penurunan dari
tahun 2012 hingga tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan kemungkinan
mendapat bunga pinjaman lebih kecil tambahan pinjaman dari kreditor.

Analisis Laporan Keuangan | 14

BAB IV
ANALISIS FINANSIAL

A. Manfaat pascapensiun
Terdapat dua manfaat pascapensiun:
1. Manfaat pensiun; pemberi kerja menjajikan manfaat moneter kepada pekerja
pascapensiun.
2. Manfaat lain pascapensiun pekerja; pemberi kerja menjanjikan manfaat
nonmoneter berupa asuransi jiwa dan pemeliharaan kesehatan.
Terdapat lima langkah untuk analisis manfaat pascapensiun:
1. Menentukan dan merekonsiliasi biaya dan kewajiban manfaat ekonomis dan yang
dilaporkan.
2. Membuat penyesuaian yang diperlukan atas laporan keuangan.
Biaya manfaat yang dilaporkan berbeda dengan biaya ekonomis karena dampak
sementara, seperti keuntungan dan kerugian aktuaria, biaya jasa lalu, dan
pengembalian aset abnormal; ditangguhkan dan diamortisasi melalui proses perataan.
3. Mengevaluasi asumsi aktuaria dan dampaknya pada laporan keuangan.
Tugas penting dalam menganalisis manfaat pascapensiun adalah mengevaluasi asumsi
aktuarial yang digunakan pemberi kerja. Hal ini termasuk memeriksa sekuritas
perubahan asumsi pada angka ekonomi maupun angka yang dilaporkan.
4. Memeriksa paparan risiko pensiun.
Risiko yang timbul dalam hal aset program mempunyai profil risiko yang berbeda
dengan kewajiban pensiun . nilai kewajiban pensiun sensitif terhadap tingkat diskonto
yang merefleksikan hasil obligasi perusahaan. Sehingga perubahan nilai kewajiban
pensiun berkorelasi dengan harga pasar obligasi.
5. Mempertibangkan implikasi arus kas program manfaat pascapensiun.
Arus kas keluar sama dengan kontribusi yang disiapkan perusahaan untuk program
pensiun. Perusahaan dengan program membutuhkan dana banyak sering kali tidak
membuat kontribusi apapun.
PT XL Axiata menggunakan metode nilai pasti (Defined Benefit) untuk para
karyawannya yang pensiun, cacat atau meninggal dunia yang diselenggarakan oleh PT.
Asuransi Jiwa Manulife Indonesia sejak april 2002. Program ini disediakan untuk seluruh
Analisis Laporan Keuangan | 15

pegawai tetap berusia di bawah 50 tahun pada saat dimulainya program ini pada april 2002.
besaran nilai yang diberikan kepada pegawai adalah 10% dari gaji pokok bersih, terdiri dari
7% berasal dari perseroan dan 3% dari karyawan. Sesuai dengan UU 13/2003, perseroan
berkewajiban menutupi kekurangan pembayaran pensiun bila program yang sekarang
belum cukup untuk menutupi kewajiban sesuai UU 13/2003 .
Dapat

dilihat

pada

akun

kerugian/keuntungan actuarial yang


diakui pada laba rugi komprehensif
lainnya.

Terdapat

kerugian

yang

disebabkan oleh kesalahan prediksi atau


penilaian

yang

dilakukan

aktuaris,

sehingga menyebabkan adanya beban


tambahan

yang

mengharuskan

perusahaan membayar iuran imbalan


pasca kerja tambahan sebesar 35,003
untuk menutupi kerugian tersebut.
Pada gambar ini juga terdapat iuran imbalan pasca kerja yang sudah dibayar oleh
perusahaan selama periode berjalan pada akun pembayaran selama periode berjalan
sebesar 17,182
Pada gambar ini di jelaskan bahwa
aktuaris

memperhitungkan

dan

memperkirakan bahwa iuran pasti untuk


periode selanjutnya tidak berbeda secara
material

dibandingkan

dengan

pembayaran sebelumnya, yaitu sebesar


17,182.

Analisis Laporan Keuangan | 16

B. Kewajiban Kontijensi
Kewajiban Kontijensi merupakan klaim potensial atas sumber daya perusahaan.
Kewajiban kontijensi timbul dari perkara hukum, ancaman pengambil alihan, penagihan
piutang, klaim atau garansi produk, atau kerusakan produk, garansi kinerja, penghitungan
pajak, risiko yang diasuransikan sendiri, dan kerugian property akibat bencana.
Kerugian Kontijensi harus memenuhi dua kondisi agar dapat dicatat sebagai kerugian,
keriteria tersebut yaitu :
1. Probable, besar kemungkinan bahwa asset akan turun nilainya atau kewajiban
akan timbul
2. Jumlah kerugian harus dapat diestimasikan dengan memadai reasonably
Jika perusahaan tidak menugkapkan kontijensi karena satu atau dua kondisi tidak
terpenuhi, perusahaan harus mengungkapkan kontijensi dalam catatan atas laporan
keuangan jika kerugian mungkin terjadi possible
PT XL Axiata sendiri memiliki kewajiban kontijensi yang dilaporkan dalam laporan
keuangannya. Perusahaan mendapat tuntutan hukum dari Komisi Pengawasan Persaingan
Usaha (KPPU) karena tuduhan melakukan kartel, kesepakatan penetapan tarif SMS yang
melanggar Pasal 5 Undang Undang Anti Monopoli. Pada tanggal 18 Juli 2008, KPPUdalam
salah satu putusannya memutuskan menghukum perseroan untuk membayar denda sebesa
Rp 25.000.000.000. Atas putusan KPPU tersebut, pada 9 Juli 2008 perseroan mengajukan
keberatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang kemudian dilanjutkan ke Mahkamah
Agung. Namun, sampai dengan tanggal penyelesaia lapran keuangan, perseroan belum
menerima putusan dari kedua institusi tersebut. Dengan ini menunjukkan PT XL memiliki
kewajiban atas tuntutan hukum dimasa depan dan berilai cukup signifikan mempengaruhi
kondisi perusahaan
C. Modal Saham
Ekuitas mengacu pada pendanaan oleh pemilik (pemegang saham) perusahaan.
Ekuitas dipandang klaim pemilik atas asset bersih perusahaan. Pemegang saham
dihadapkan pada risiko tertinggi perusahaan. Pada saat yang sama, pemegang saham

Analisis Laporan Keuangan | 17

memiliki kemungkinan pengembalian maksimum karena mereka memiliki kemungkinan


atas seluruh pengembalian setelah hak kreditor terpenuhi.
Pelaporan modal saham meliputi penjelasan tentang perubahan jumlah saham baik
peningkatan maupun penurunan jumlah saham. Klasifikasi modal saham yaitu saham
preferen dan saham biasa.

Analisis:
Jumlah saham perusahaan di tahun 2013 dan 2014 tetap, tidak terjadi perubahan.
Dimungkinkan perusahaan menggunakan cara lain dalam upaya mencari pendanaan
perusahaan.

D. Pinjaman Jangka Panjang/ Long Term Loans


Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang jatuh temponya lebih dari satu
siklus atau periode mana yang lebih panjang. Kewajiban tidak lancar beragam bentuknya,
dan penilaian serta pengukurannya memerlukan pengukuran atas seluruh batasan dan
ketentuan.

Analisis Laporan Keuangan | 18

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa PT XL menggunakan pinjaman


jangka panjang sebagai alternatif pendanaan. Tambahan pinjaman jangka panjang yang
diperoleh sepanjang tahun 2014 sebesar Rp 4.789.952. Terlihat pula perusahaan mencoba
menarik pinjaman luar negeri. Meningkatnya pendanaan dikarenakan kebutuhan
perusahaan untuk terus mengembangkan usahanya.
Meningkatnya pinjaman jangka panjang ini akan menimbulkan efek antara lain:
1. Meningkatkan arus kas masuk dalam laporan arus kas
2. Menurunkan laba pada laporan laba rugi karena bagian lancar pembayaran hutang
ataupun beban bunga
3. Menurunkan rasio liquiditas masa depan
Fleksibilitas
Grup memiliki fasilitas bank garansi dengan berbagai institusi keuangan sejumlah ekuivalen
Rp 287.080. Fasilitas ini tersedia dalam beberapa periode sampai dengan 2 Agustus 2015.
Pada tanggal 31 Desember 2014, porsi yang belum digunakana dalah Rp 128.788
Pola Pembayaran
Pola pembayaran seperti perjanjian pinjaman pada umumnya, yaitu dengan
melakukan pembayaran saat utang tersebut telah jatuh tempo. Kemampuan perusahaan
membayar utang baik jangka pendek maupun jangka panjang sangat dipengaruhi oleh
sumber likuiditas perusahaan.
Per 31 Desember 2014

Hutang Usaha dan Hutang


Lain-lain
Beban yang masih harus
dibayar
Arus kas masuk
Arus kas keluar
Liabilitas sewa
Pinjaman ke Pemegang
Saham
Pinjaman Jangka Panjang
Jumlah

Pinjaman Jatuh
Tempo Kurang dari
1 Tahun
4,444,464

Pinjaman Jatuh
Tempo antara 1
dan 2 Tahun
-

Pinjaman Jatuh
Tempo lebih dari
2 Tahun
-

817,207

879,197
(796,165)
357,696
149,902

1,075,320
(1,132,926)
357,696
149,902

4,283,884
(4,378,742)
2,495,218
6,257,476

5,064,724
10,917,025

4,904,670
5,354,662

16,235,572
24,893,408

Analisis Laporan Keuangan | 19

Transaksi dengan pihak yang berelasi

2013
Hutang Usaha

2014

Jumlah

% thdp
jumlah
liquiditas

Jumlah

% terhadap
jumlah
likuiditas

3.410
319
3.729

0,0430 %
0,0040 %
0,0470 %

9.205
22
9.227

0,0598 %
0,0001 %
0,0599 %

Entitas sepengendali
M1 Limited
Lain-lain
Jumlah

Keterbatasan Setelah Utang


Perseroan diharuskan untuk mematuhi beberapa persyaratan, seperti;

aktivitas lindung nilai,

pembatasan atas penjualan atau pengalihan aset,

mempertahankan Axiata Group Berhad baik langsung maupun tidak


langsung sebagai pemegang saham mayoritas dan

Mempertahankan rasio hutang terhadap EBITDA tidak melebihi 4,5.

Fasilitas kredit di atas ditujukan untuk pembiayaan kembali pinjaman, modal kerja,
pembelian aset tetap dan akuisisi AXIS.Pada setiap tanggal pelaporan, Perseroan memenuhi
seluruh persyaratan pinjaman jangka panjang.

E. Sewa/ Leasing
Sewa

dimana

seluruh

risiko

dan

manfaat yang terkait dengan kepemilikan


aset secara signifikan berada pada lessor
diklasifikasikan

sebagai

sewa

operasi.

Pembayaran sewa dalam sewa operasi


dibebankan

pada

laporan

laba

rugi

komprehensif konsolidasian secara garis


lurus selama masa sewa.
Sewa

dimana

Perseroan

memiliki

secara substansial seluruh risiko dan manfaat


terkait dengan pemilikan aset diklasifikasikan
sebagai

sewa

pembiayaan.

Sewa

Analisis Laporan Keuangan | 20

pembiayaan dikapitalisasi pada awal masa sewa sebesar nilai yang lebih rendah antara nilai
wajar aset sewaan dan nilai kini dari pembayaran sewa minimum.
Aset sewa berupa peralatan dan jaringan senilai Rp. 2.442.471 diperoleh sebagian
besar dengan Capital Lease / Sewa Pembiayaan yaitu senilai Rp. 2.076.121 dan sisanya
diperoleh dengan menggunakan Sewa Operasi biasa.

Analisis Laporan Keuangan | 21

BAB V
ANALISI INVESTASI

A. Kas Dan Setara Kas


Kas dan setara kas menurut PSAK No.2 (IAI:2009 :22) Kas terdiri dari saldo kas (cash
on hand) dan rekening giro. Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya
sangat liquid, berjangka pendek dan dengan cepat dapat dijadikan sebagai kas dalam jumlah
tertentu tanpa menghadapai risiko perubahan nilai yang signifikan.

Kas merupakan komponen aktiva (asset) lancar yang paling likuid di dalam neraca,
karena kas sering mengalami mutasi atau perpindahan dan hampir semua transaksi yang
terjadi dalam perusahaan akan mempengaruhi posisi kas. Dalam Standar Akuntansi
Keuangan (IAI) 2009 : 1.7), Aset lancar dijelaskan bahwa suatu aset diklasifikasikan sebagai
aset lancar jika aset tersebut :

1. Diperkirakan akan direalisasikan atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka
waktu siklus operasi normal perusahaaan
2. Dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan kan
direalisasikan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca
3. Berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi

Dari definisi kas dan setara di atas dapat disimpulkan bahwa:


1. Kas dan setara kas bukan hanya yang ada di perusahaan, tetapi juga saldo rekening giro
di bank yang penggunaannya tidak dibatasi dan surat-surat berharga yang dapat ditarik
dengan segera menjadi kas sehingga risikonya kecil akibat pengaruh terjadinya
perubahan nilai dari perubahan tingkat suku bunga.
2. Umumnya kas dan setara digunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan,
sehingga kas dan setara kas secara langsung atau tidak langsung hampir mempengaruhi
semua transaksi bisnis perusahaan.
3. Perkiraan kas dan setara kas di Neraca disajikan pada urutan pertama golongan aktiva
lancar karena merupakan aktiva yang paling likuid

Analisis Laporan Keuangan | 22

Analisis: Sumber diambil dari contoh laporan arus kas PT.XL AXIATA Tbk Tahun 2014
1.Total arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp8.540.116 (dalam jutaan
rupiah)
2.Total arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi sebesar (Rp16.677.612)
3.Total arus kas yang diperoleh dari aktivitas pendanaan sebesar Rp13.769.335

Diketahui:
Kas dan setara kas awal tahun = Rp1.317.996
Dampak perubahan selisih kurs terhadap kas dan setara kas = 1.481
Sehingga
kas dan setara kas akhir tahun =
Rp8.540.116 + (Rp16.677.612) + Rp13.769.335 + RP1.481 = Rp6.951.316

Aktivitas operasi:
Perusahaan ini dapat menghasilkan arus kas yang mampu untuk melunasi pinjaman,
memelihara kemampuan operasi perusahaan dan tidak termasuk setara kas.
Aktivitas Investasi:
Dalam aktivitas ini perusahaan lebih banyak mengeluarkan biaya daripada penerimaannya.
Aktivitas Pendanaan:
Aktivitas pendanaan PT.XL AXIATA menunjukkan lebih banyak komposisi modalnya
dibandingkan dengan pendanaannya.
B. Piutang
Piutang merupakan nilai jatuh tempo yang berasal dari penjualan barang atau jasa,
atau dari pinjaman uang. Terdapat 2 Jenis Piutang yaitu Piutang Usaha dan Wesel Tagih.
Contoh perbandingan piutang PT XL dan PT INDOSAT :

Analisis Laporan Keuangan | 23

Mengapa harus ada analisis Piutang? Piutang merupakan aset lancar, yang liquidasinya
berada selevel dibawah kas dan setara kas. Apa Dampaknya? Piutang akan berpengaruh
pada penilaian kualitas laba, yang akhirnya di tampilkan dalam Laporan Keuangan
Perusahaan.

Persentase Penyisihan
Dari pengamatan dan analisis kami, kami
menemukan bahwa persentase penyisihan
piutang tak tertagih adalah sebagai berikut.
1. Untuk umur piutang dibawah 30 hari,
penyisihan dilakukan sebesar 1%
2. Untuk umur piutang diantara 31 sampai
60 hari, penyisihan dilakukan sebesar
8%
3. Untuk umur piutang diatas 60 hari,
penyisihan adalah sebesar 40%.

<30 Hari 1%

>60 hari 40%

31-60
hari 8%

Analisis Laporan Keuangan | 24

Rata rata umur piutang, Cash Collection


Rasio ini mengukur efisiensi pengolahan piutang perusahaan, serta menunjukkan berapa
lamawaktu yang diperlukan untuk melunasi piutang atau merubah piutang menjadi kas.
Rata-rataumur piutang ini dihitung dengan membandingkan jumlah piutang dengan
penjualan perhari.Dimana penjualan perhari yaitu penjualan dibagi 360 atau 365 hari.Ratarata piutang ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Days Sales Outstanding =
Nama Perusahaan
PT XL Axiata

PT Telkom

PT Indosat

Tahun
2012
2013
2014
2012
2013
2014
2012
2013
2014

Piutang
527,621
1,332,444
1,187,665
5,409
6,510
6,842
2,061,130
2,277,354
2,108,406

Penjualan
20,969,806
21,265,060
23,460,015
77,143
82,967
89,696
22,418,812
23,855,272
24,085,101

Day's Sales Outstanding


9.06
11.28
9.11
25.24
25.86
26.79
33.10
32.74
32.78

Kami berpendapat, bahwa dalam Collection Receivables, tidak ada yang bisa
mengalahkan PT XL dalam mengumpulkan kembali piutang, dalam hal penjualan khususnya.
Maka

apabila

hanya

ditinjau

dari

Collection

period,

kami

dengan

bangga

merekomendasikan para investor untuk berinvestasi di PT XL.


35
30
25
20

PT XL

15

PT Telkom

10

Indosat

5
0
2012

2013

2014

Analisis Laporan Keuangan | 25

Perputaran Piutang
Piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan mempunyai hubungn yang erat dengan
volume penjualan kredit. Posisi piutang dan taksiran waktu pengumpulannya dapat dinilai d
engan menghitung tingkat perputaran piutang tersebut yaitu.
Perputaran Piutang =

Makin tinggi rasio (turnover) menunjukkan modal kerja yang ditanamkan dalam
piutangrendah, sebaliknya kalau rasio semakin rendah berarti ada over investment dalam
piutang sehingga memerlukan analisa lebih lanjut, mungkin karena bagian kredit dan
penagihan bekerja tidak efektif atau mungkin ada perubahan dalam kebijak sanaan
pemberian kredit.

Nama Perusahaan
PT XL Axiata

PT Telkom

PT Indosat

Tahun
2012
2013
2014
2012
2013
2014
2012
2013
2014

Penjualan
Kredit
20,969,806
21,265,060
23,460,015
77,143
82,967
89,696
22,418,812
23,855,272
24,085,101

Piutang Ratarata
527,621
930,033
1,260,055
5,409
5,960
6,676
2,061,130
2,169,242
2,192,880

Perputaran Piutang
39.74
22.86
18.62
14.26
13.92
13.44
10.88
11.00
10.98

Grafik Perbandingan
45
40
35
30
25

PT XL

20

PT Telkom

15

Indosat

10
5
0
2012

2013

2014

Analisis Laporan Keuangan | 26

C. Prepaid Expense
Prepaid expenses merupakan pembayaran di muka atas jasa atau barang yang belum
diterima. Prepaid expenses biasanya dikelompokkan dalam asset lancar karena
mencerminkan jasa yang diberikan yang jika tidak ada akan membutuhkan penggunaan
asset lancar lain. Contoh :Sewa, utilitas, pajak bangunan, dana suransi.
Prepaid Expense PT XL AXIATA

Prepaid Expense

2014

2013

2012

BagianLancar

3.473.573

2.120.364

1.905.088

BagianTidakLancar

1.309.654

1.357.346

1.279.063

Jumlah

4.783.197

3.477.710

3.184.151

Prepaid

Expense

Prepaid expense PT XL AXIATA tiap tahun mengalami kenaikan yang signifikan yang berarti
baik karena asset lancar XL AXIATA semakinbesar.
D. Inventory
Inventory adalah sejumlah barang yang dimiliki oleh perusahaan sebagai operasi bisnis dari
perusahaan.
Inventory Method atau metode perhitunga inventory

FIFO : First in First out, pertama kali dibeli maka pertama kali dijual

LIFO: Last in First out, terakhir kali dibeli maka pertama kali dijual

AVERAGE : rata-rata dari seluruh barang

Inventory PT XL Axiata
PT XL Axiata bergerak di bidang jasa, namun sebagai perusahaan telekomunikasi,
mereka juga memiliki inventory yang dapat dijual dalam bentuk voucher dan kartu perdana.
PT XL Axiata menggunakan sistem Average Method untuk mengukur COGS dari inventory
tersebut.

Analisis Laporan Keuangan | 27

Inventory Costing Effect on Profitability

Perhatikan

akun

Paket

Perdana dan Voucher pada poin ini


karena menggunakan metode Average
maka efek yang ditimbulkan tidak
terlalu terlalu signifikan karena metode
Average berasal dari rata-rata seluruh
persediaan.

Bagaimana

kalau

menggunakan metode FIFO atau LIFO ?


Jika menggunakan FIFO maka yang terjadi adalah Profit yang didapat oleh PT XL akan
menjadi lebih besar, disebabkan oleh COGS yang kecil. Sedangkan dengan LIFO maka
sebaliknya
Inventory Costing Effect on The Balance Sheet

Perhatikan akun Persediaan pada gambar di atas. Average metode menunjukkan


nilai Current Asset yang akurat karena berasal dari rata-rata seluruh persediaan. Bagaimana
jika menggunakan FIFO atau LIFO ?

Analisis Laporan Keuangan | 28

FIFO menunjukkan nilai Current Asset yang paling akurat dikarenakan CoGS yang
digunakan adalah nilai barang yang pertama kali dibeli, sehingga barang yang diakui dijual
adalah barang yang harganya masih murah dibandingkan dengan harga sekarang.
Sedangkan LIFO justru kebalikannya, sama sekali tidak akurat dalam menunjukkan
nilai Current Asset yang sebenarnya, karena nilai CoGS yang digunakannya berasal dari
harga barang sekarang yang cenderung semakin mahal, sehingga CoGS yang ditampilkan
terlalu besar.
Inventory Costing Effect on CashFlow
Perhatikan akun pembayaran PPh
badan dan PPh Final. Average metode
menyebabkan pajak yang harus dibayarkan
oleh perusahaan cenderung stabil dan normal
karena profitnya tidak terlalu tinggi dan tidak
terlalu

kecil.

Apa

yang

terjadi

jika

menggunakan metode FIFO atau LIFO ?


FIFO menyebabkan Profit yang besar
sehingga Pajak yang harus dibayarkan juga
semakin besar. Hal itu bisa menyebabkan
masalah pada perusahaan dalam hal likuiditas.
LIFO menyebabkan Profit yang kecil sehingga pajak yang harus dibayar juga kecil. Metode
ini sering digunakan oleh perusahaan untuk menekan beban pajak mereka.
Rasio Perputaran Inventory/ Inventory Turnover Ratio
Inventory turnover menunjukkan kemampuan dana yang tertanam dalam inventory
berputar dalam suatu periode tertentu, atau likuiditas dari inventory dan tendensi untuk
adanya overstock (Riyanto, 2008). Rasio perputaran persediaan mengukur efisiensi
pengelolaan persediaan barang dagang.Rasio ini merupakan indikasi yang cukup popular
untuk menilai efisiensi operasional, yang memperlihatkan seberapa baiknya manajemen
mengontrol modal yang ada pada persediaan.

Analisis Laporan Keuangan | 29

Inventory Turnover =
Ada dua masalah yang timbul dalam perhitungan dan analisis rasio perputaran
persediaan. Pertama, penjualan dinilai menurut harga pasar (market price), persediaan
dinilai menurutharga pokok penjualan (at Cost), maka sebenarnya rasio perputaran
persediaan (at cost ) digunakan untuk mengukur perputaran fisik persediaan. Sedangkan
rasio yang dihitung dengan membagi penjualan dengan persediaan mengukur perputaran
persediaan dalam kas (Sawir, 2003).
Namun banyak lembaga penelitian rasio keuangan yang menggunakan rasio perputar
an persediaan (at market) sehingga bila ingin dibandingkan dengan rasio industri
rasio perputaran persediaan (at market) sebaiknya di gunakan. Kedua, penjualan terjadi
sepanjang tahun sedangkan angka persediaan adalah gambaran keadaan sesaat. Oleh
karena itu, lebih baik menggunakan rata- rata persediaan yaitu persediaan awal ditambah
persediaan akhir dibagi dua.
E. Aset Jangka Panjang
Aset jangka panjang merupakan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan
penghasilan operasi (atau mengurangi biaya operasi) untuk lebih dari satu periode.

A. Aset tak berwujud


Sehubungan dengan penggabungan usaha dengan AXIS yang efektif pada tanggal 8
April 2014. Perseroan mendapat Goodwill dari penggabungannya dengan AXIS
sehingga terdapat kenaikan yang signifikanterhadap Aset tak berwujud.

Analisis Laporan Keuangan | 30

B. Investasi pada pengendalian bersama entitas


Pada tanggal 16 Mei 2013 PT XL (sekarang XL Axiata) dan SK Planet Co. Ltd telah
menandatangani Joint Venture Agreement(JVA) untuk pembentukan dan pendirian
perusahaan patungan. Kedua belah pihak akan menyetorkan modal awal sebesar
USD18,300,000,- (delapan belas juta tiga ratus Dollar Amerika Serikat) dan
mendapatkan porsi kepemilikan saham sebesar 50% (lima puluhpersen).

C. Beban dibayar dimuka


Terdiri dari transaksi sewa, asuransi, pemeliharaan, dan beban frekuensi tahunan.
Beban frekuensi tahunan mencakup beban pemakaian spectrum 2G dan 3G.

Total Aset Jangka Panjang


12000000
10000000
80000000
60000000
40000000
20000000
0
2013
XL Axiata

2014
Indosat

Telkom

Analisis :
Berdasarkan grafik dan data laporan keuangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
total asset jangka panjang PT XL Axiata tidak lebih besardari PT Telkom namun asset jangka
Analisis Laporan Keuangan | 31

panjang perusahaan mengalami kenaikan sedangkan disisi lain PT Indosat mengalami


penurunan.
Dengan adanya kenaikan asset jangka panjang ini perusahaan dapat memaksimalkan
pendapatan dengan naiknya pendapatan pada tahun 2014 namun laba usaha menurun
karena beban yang dihasilkan meningkat seperti, beban amortisasi yang kenaikannya lebih
besar dari yang lain. Hal ini disebabkan perusahaan diwajibkan membayar3G upfront fee
yang jumlahnya cukup besar sehingga besaran yang diamortisasi juga besar.
F. Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
Aset tetap yang dimiliki oleh PT XL terdiri dari tiga jenis:
1. Aset Kepemilikan Langsung ; diperoleh dengan cara pembelian, aukuisisi ataupun
pembangunan bertahap
2. Aset Sewa ; didapatkan dapi proses sewa operasi maupun capital lease
3. Aset dalam Penyelesaian ; mengklasifikasikan asset yang masih dalam proses
pembangunan
Kebijakan Perusahaan
Aset tetap dinyatakan berdasarkan nilai perolehan beserta biaya biaya saat
perolehannya
Penyusutan dimulai sejak aset mulai atau siap digunakan, dengan menggunakan
metode garis lurus berdasarkan estimasi masa manfaat ekonomis
Tanah dinyatakan pada harga perolehan dan tidak disusutkan.
Estimasi penyusustan masa manfaat asset tetap

Analisis Laporan Keuangan | 32

Bagian Aset Tetap Tahun 2013

Bagian Aset Tetap Tahun 2014

Analisis Laporan Keuangan | 33

Analisis
Aset tepat kepemilikan langsung yang dimiliki PT XL Axiata meningkat secara
signifikan karena mendapat tambahan dari adanya akuisisi PT Axis. Selain itu PT XL juga
melakukan penambahan asset tetap pada 2014 sebesar 3.981.660. PT XL juga mulai
menggunakan asset sewa, asset sewa ini diperoleh melalui operating lease maupun
financial lease
Aset dalam penyelesaian PT XL AXIATA
Akumulasi biaya perolehan peralatan jaringan mula-mula dikapitalisasi sebagai Aset
Dalam Penyelesaian. Biaya perolehan ini akan direklasifikasi ke akun aset tetap pada saat
aset tersebut siap digunakan. Biaya biaya setelah perolehan awal dimasukkan dalam nilai
tercatat aset dan diakui secara terpisah, hanya jika terdapat kemungkinan besar biaya yang
dikapitalisasi tersebut memiliki manfaat ekonomis bagi perseroan dan dapat diukur dengan
andal.
Perputaran Aktiva Tetap
Rasio

ini

merupakan

perbandingan

antara

penjualan

dengan

aktiva

tetap.Fixed assets turnover mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada
harta tetap seperti pabrikdan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa
rupiah penjualan bersihyang dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan pada aktiva
tetap (Sawir, 2003).
Rasio ini berguna untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan menggunakan
aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan. Kalau perputarannya lambat
(rendah), kemungkinan terdapat kapasitas terlalu besar atau banyak aktiva tetap namun
kurang bermanfaat, atau mungkin disebabkan hal lain seperti investasi pada aktiva tetap ya
ng berlebihan dibandingkan dengan output yang akan diperoleh. Jadi semakin tinggi rasioini
berarti semakin efektif penggunaan aktiva tetap tersebut.

Analisis Laporan Keuangan | 34

Nama Perusahaan

Tahun

Penjualan

Aktiva Tetap

PT XL Axiata

2012

20,969,806

29,643,274

Perputaran Aktiva
Tetap
0.71

2013

21,265,060

30,928,452

0.69

2014

23,460,015

35,859,030

0.65

2012

77,143

77,047

1.00

2013

82,967

86,761

0.96

2014

89,696

47,910

1.87

2012

22,418,812

42,190,111

0.53

2013

23,855,272

40,775,907

0.59

2014

24,085,101

42,190,111

0.57

PT Telkom

PT Indosat

Grafik Perbandingan
2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0

PT XL
PT Telkom
PT Indosat

2012

2013

2014

Analisis Aset dengan Produktifitas


Secara rasio jika terjadi penurunan memberikan sinyal buruk pada kemampuan
perusahaan menggunakan aktivanya secara efektif untuk meningkatkan pendapatan.
Tampak penurunan ratio yang semakin menurun yang terjadi pada PT XL yang mencapai
titik 0.65 di tahun 2014 padahal di tahun 2012 masih berada pada titik 0.71. Hal ini
menandakan kemungkinan kapasitas terlalu besar atau ada banyak aktiva tetap namun
kurang bermanfaat dalam produktivitas.

Analisis Laporan Keuangan | 35

Namun perlu dilihat kembali bahwa pada 2013 PT XL mulai mengakuisisi PT Axis dan
meningkatkan asset secara signifikan. Tetapi peningkatan nilai asset ini tidak sebanding
dengan output yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan rasio terlihat menurun.
Tantangan Analisis Penyusutan
Tantangan lain bagi analis berasal dari perbedaan metode alokasi yang digunakan untuk
pelaporan keuangan dan tujuan pajak.
Penggunaan garis lurus baik dalam pelaporan keuangan maupun tujuan pajak.
Metode garis lurus memperkirakan penyusutan masa depan.
Penggunaan garis lurus untuk pelaporan keuangan dan metode dipercepat untuk
tujuan pajak.
Penggunaan metode dipercepat baik dalam pelaporan keuangan maupun tujuan
pajak. Metode dipercepat membuat perkiraan yang lebih tidak andal,kecuali ada
informasi tambahan yang sering tidak diungkapkan.
G. Aset Tak Berwujud
Intangible asset merupakan hak, keistimewaan, dan manfaat kepemilikan atau
pengendalian. Dua karakteristik umum aset tak berwujud adalah tingginya ketidakpastian
masa manfaat dan tidak adanya wujud fisik.
Aset ini dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau
jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Aset tetap tidak
berwujud diakui jika dan hanya jika:
Kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depa dari
aktiva tersebut, dan
Biaya perolehan aset tersebut dapat dikur secara andal.
Karakteristik Aset Tak Berwujud
Kurang/tidak memiliki eksistensi fisik
Aset tidak berwujud memperoleh nilai dari hak dan keistimewaan atau privilege
yang diberikan kepada perusahaan yang menggunakannya.
Bukan merupakan instrumen keuangan

Analisis Laporan Keuangan | 36

Aset tidak berwujud merupakan instrumen keuangan dan menghasilkan nilainya dari
hak (klaim) untuk menerima kas atau ekuivalen kas di masa depan.
Bersifat jangka panjang dan menjadi subjek amortisasi
Aset tidak berwujud menyediakan jasa selama periode bertahun-tahun. Investasi
dalam aset ini biasanya dibebankan pada periode masa mendatang melalui beban
amortisasi periodik.
Akuntansi Aset Tak Berwujud
Aset tak berwujud yang dapat diidentifikasi (identifiable intangible) merupakan aset
tak berwujud yang dapat diidentifikasi terpisah dan dikaitkan dengan hak tertentu atau
keistimewaan selama periode manfaat yang terbatas.
Aset tak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi (unidentifiable intangible)
merupakan aset yang dapat dikembangkan secara internal atau dibeli namun tidak dapat
diidentifikasi dan sering kali memiliki masa manfaat yang tak terhingga.
Amortisasi Aset Tak Berwujud
Saat kapitalisasi biaya aset tak berwujud yang dapat atau tidak dapat diidentifikasi,
biaya ini selanjutnya harus diamortisasi sepanjang periode manfaat aset ini. Jangka waktu
masa manfaat tergantung dari jenis aset tak berwujud; kondisi permintaan; situasi
kompetitif; dan hukum, kontrak, aturan atau batasan ekonomis lainnya.
Menganalisis Aset Tak Berwujud
Analisis goodwill memperlihatkan beberapa kasus yang menarik. Oleh karena goodwill
dicatat hanya pada saat akuisisi, sebagian besar goodwill mungkin terdapat pada neraca.
Aset Tak Berwujud dan Kontinjensi yang Tak Tercatat
Pembahasan aset tidak lengkap tanpa membahas aset tak berwujud dan kontinjensi
yang tak tercatat pada neraca. Aset dalam kategori ini adalah goodwill yang diciptakan
secara internal. Salah satu kategori aset tak tercatat terkait dengan elemen jasa atau ide.

Analisis Laporan Keuangan | 37

Penyajian Neraca Aset Tak Berwujud PT XL Axiata

Grafik Nilai Aset Tak Berwujud PT XL Axiata Tahun 2013-2014

Nilai Aset Tak Berwujud


8000000
6000000
4000000
2000000
0
2013
2014

Analisis Laporan Keuangan | 38

Nilai Goodwill
8000000
6000000
4000000
2000000
0
2013
2014

Pengaruh Nilai Aset Tidak Berwujud terhadap Nilai Pasar Perusahaan


Pengaruh Nilai Aset Tidak Berwujud terhadap Nilai Pasar Perusahaan Aset tidak
berwujud memiliki peran penting dalam mencapai tujuan dan strategi perusahaan serta
dalam menentukan nilai pasar perusahaan. Semakin tinggi nilai aset tidak berwujud, maka
semakin tinggi pula nilai pasar perusahaan.
Nilai aset tak berwujud PT XL Axiata mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari nilai
aset tak berwujud tahun 2013 adalah 774.626 dan tahun 2014 adalah 6.159.394.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa nilai pasar perusahaan semakin tinggi.

Analisis Laporan Keuangan | 39

BAB VI
PENUTUP

Kesimpulan
Likuiditas PT XL Axiata memang bukan yang paling baik dari semua perusahaan yang
bergerak di jasa telekomunikasi. Namun PT XL Axiata punya potensi untuk itu, bisa dilihat
dari beberapa grafik-grafik yang berhubungan dengan likuiditas di atas, membuktikan kalau
PT XL Axiata masih terus berbenah dan memberikan inovasi-inovasi baru untuk memberikan
pelayanan yang terbaik untuk seluruh customer.
Solvabilitas PT XL juga mengalami trend yang kurang baik tapi harus dipahami bahwa
trend tersebut bukan hanya berasal dari factor perusahaan saja tapi karena PT XL baru
mengakuisisi PT Axis yang berakibat pada meningkatnya liabilitas perusahaan karena
perusahaan banyak mencari pendanaan dengan hutang. Namun kedepannya dapat
diprediksi bahwa perusahaan akan tetap bertumbuh.
Tujuan Grup dalam mengelola permodalan adalah untuk melindungi kemampuan
Grup dalam mempertahankan kelangsungan usaha, sehingga entitas dapat tetap
memberikan imbal hasil bagi pemegang saham dan manfaat bagi pemangku kepentingan
lainnya dan untuk mengelola struktur modal yang optimal untuk meminimalisasi biaya
modal yang efektif. Dalam rangka mengelola struktur modal, Grup mungkin menyesuaikan
jumlah dividen, menerbitkan saham baru atau menambah/ mengurangi jumlah hutang.
Dalam hal investasi perusahaan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. PT XL
sendiri adalah perusahaan jasa sehingga asset tetap sangat berpengaruh dalam
produktivitas perusahaan. Hal ini sangat erat pula kaitannya dengan adanya akuisisi PT Axis
karena perusahaan juga harus menerima asset yang dimiliki PT Axis sebelumnya.
Secara keseluruhan PT XL AXIATA memang belum menjadi jawara dalam industri
telekomunikasi di Indonesia. Tapi melihat perbandingan dan analisis yang dilakukan
perusahaan memiliki peluang untuk terus berkembang dan maju.

Analisis Laporan Keuangan | 40