Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Mineral dapat kita definisikan sebagai bahan padat anorganik yang terdapat secara
alamiah, yang terdiri dari unsur-unsur kimiawi dalam perbandingan tertentu, dimana atomatom didalamnya tersusun mengikuti suatu pola yang sistimatis. Mineral dapat kita jumpai
dimana-mana disekitar kita, dapat berwujud sebagai batuan, tanah, atau pasir yang
diendapkan pada dasar sungai. Beberapa daripada mineral tersebut dapat mempunyai nilai
ekonomis karena didapatkan dalam jumlah yang besar, sehingga memungkinkan untuk
ditambang seperti emas dan perak.
Mineral merupakan sumberdaya alam yang proses pembentukannya memerlukan waktu
jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan. Mineral dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku dalam industri/produksi. Dalam hal demikian mineral lebih dikenal sebagai bahan
galian. Betapa pentingnya kedudukan bahan galian di Indonesia maka melalui Peraturan
Pernerintah No. 27 tahun 1980. Pemerintah Republik Indonesia membagi bahan galian
menjadi 3 golongan yaitu: Golongan A,Golongan B dan Golongan C.
Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini identik dengan musim kemarau
panjang dan curah hujan rendah ternyata memiliki potensi sumber daya alam sangat
melimpah . Salah satu dari sumber daya alam tersebut adalah cadangan mineral. Sumber daya
mineral ini termasuk dalam golongan bahan galian B dan C yang meliputi: pasir besi, logam
mangan, chrome, nikel, tembaga, emas dan marmer dll.
Dari sekian banyak sumber daya mineral, logam mangan yang paling sering ditemukan
diberbagai wilayah di NTT dan telah dilakukan kegiatan penambangan terhadapa mineral ini.
Meskipun sering mendatangan protes dari masyarakat karena dampak negatif yang sering
ditimbulkan, namun mangan yang ada di wilayah NTT merupakan salah satu yang terbaik
dan memiliki kualitas yang tinggi. Keberadaan mineral ini disebabkan oleh susunan batuan,
dimana 40% wilayah dari Propinsi NTT terdiri atas Kompleks Bobonaro, yang dikenal
memiliki kandungan mangan tinggi.
Namun kegiatan pemanfaatan sumber daya khususnya mineral masih kurang kondusif
dilakukan di wilayah NTT. Hal ini disebabkan oleh minimnya regulasi yang diciptakan oleh
Pemerintah Daerah, selain itu pola pikir masyrakat di NTT masih sangat minim, anggapan
mereka hanyalah tambang membawa petaka bukan berkat. Padahal sektor pertambangan

dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi pemerintah setempat dan mampu
mendatangkan keuntungan yang besar jika dikelolah dengan baik dan adanya dukungan dari
pemerintah dan masyrakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasakan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan masalah yang
dapat dikaji antara lain :
1. Apa saja mineral yang berkaitan dengan batuan beku, sedimen dan metamorft?
2. Bagaimana jenis dan distribusi mineral di NTT( mineral yang telah ditambang, sedang
ditambang maupun potensi mineral yang belum ditambang)
3. Apa kontribusi pemnfaatan sumber daya mineral terhadap pembangunan di NTT?
4. Apa dampak linkungan pada kegiatan pertambangan di NTT?
5. Bagaiman pandangan saudara tentang protes masyarakat terhadap industri
pertambangan di NTT?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan ini antara lain
1. Untuk mengetahui mineral yang berkaitan dengan batuan beku, sedimen dan
metamorft.
2. Untuk mengetahui jenis dan distribusi mineral di NTT( mineral yang telah
3.

ditambang, sedang ditambang maupun potensi mineral yang belum ditambang).


Untuk mengetahui kontribusi pemnfaatan sumber daya mineral terhadap

pembangunan di NTT
4. Untuk mengetahui dampak linkungan pada kegiatan pertambangan di NTT.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan ini antara lain :
1. Sebagai salah satu syarat mencapai kelulusan dari mata kuliah Geologi Lingkungan.
2. Sebagai sumber wawasan bagi mahasiswa mengenai sumber daya mineral yang
berada di wilayah NTT.

BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Mineral

Mineral merupakan benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara
anorganik dan mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu serta mempunyai atomatom yang tersusun secara teratur.
Sedangkan cabang ilmu geologi yang mempelajari mengenai mineral, baik dalam
bentuk individu maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari tentang sifat-sifat
kimia, struktur kristal, dan sifat-sifat fisika (termasuk optik) dari mineral disebut mineralogi.
Studi ini juga mencakup proses pembentukan dan perubahan mineral, keterdapatannya serta
kegunaannya.
Benda padat homogen, artinya bahwa mineral itu hanya terdiri dari satu fase padat,
hanya satu macam material, yang tidak dapat diuraikan menjadi senyawa- senyawa yang
lebih sederhana oleh suatu proses fisika. Dengan adanya suatu persyaratan mineral-mineral
yaitu benda padat, maka cairan dan gas-gas tidak termasuk. Es adalah mineral tetapi air
bukan mineral.
Terbentuk secara anorganik, artinya benda-benda padat homogen yang dihasilkan
oleh binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak termasuk, maka dari itu, kulit tiram (dan mutiara
didalamnya), meskipun terdiri dari calsium carbonat yang tidak dapat dibedakan secara kimia
maupun fisika dari mineral aragonit, tidak dianggap sebagai mineral.
Mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu, artinya bahwa mineral itu
merupakan senyawa kimia

dan senyawa kimia mempunyai komposisi pada batas-batas

tertentu yang dinyatakan dengan suatu rumus. Rumus kimia mineral dapat sederhana maupun
kompleks, tergantung dari banyaknya unsur-unsur yang ada dan proporsi kombinasinya.
Atom-atom yang tersusun secara teratur merupakan ukuran dari keadaan
kristalisasinya, berdasarkan cara terbentuknya. susunan atom yang teratur ini dapat tergambar
pada bentuk luar kristalnya, dari kenyataan bahwa adanya susunan atom-atom yang teratur
didalam kristalin yang padat telah disimpulkan dari teraturnya bentuk luar, lama sebelum
sinar X ditemukan dan membuktikan dalam hal ini. Bagaimanapun ada pengecualian dalam
batasan ini.
Selain dari defenisi diatas, adapula defenisi mineral menurut beberapa ahli, seperti:
Menurut L. G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam dan terbentuk
secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai
atom-atom yang tersusun secara teratur.
Menurut D. G. A. Whitten dan J. R. V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai
komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam anorganik.
Menurut W. R. Potter dan H. Robinson, 1977

Mineral adalah suatu zat atau bahan yang homogen mempunyai komposisi kimia
tertentu atau dalam batas-batas tertentu dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk di alam dan
bukan hasil suatu kehidupan.
Mineral merupakan sumberdaya alam yang proses pembentukannya memerlukan
waktu jutaan tahun dan sifat utamanya tidak terbarukan. Mineral dapat dimanfaatkan sebagai
bahan baku dalam industri/produksi. Dalam hal demikian mineral lebih dikenal sebagai bahan
galian. Betapa pentingnya kedudukan bahan galian di Indonesia maka melalui Peraturan
Pernerintah No. 27 tahun 1980. Pemerintah Republik Indonesia membagi bahan galian
menjadi 3 golongan yaitu:

Bahan galian strategis disebut pula sebagai bahan galian golongan A terdiri dari : minyak
bumi, bitumen cair, lilin bek-u, gas alam, bitumen padat, aspal, antrasit, batubara,
batubara muda, uranium radium, thoriurn bahan galian radioaktif lainnya, nikel, kobalt,

timah.
Bahan galian vital disebut pula sebagai bahan galian golongan B. terdiri dari: besi,
mangaan, molibden, khrom, wolfram, vanidium, titan, bauksit, tembaga, timbal, seng,
emas, platina, perak, air raksa, arsen, antimon, bismut, ytriunt, rhutenium, cerium, dan
logam-logam langka lainnya, berillium, korundum, zirkon, kristal kuarsa, kriotit,

fluorspar, barit, yodium, brom, khlor, belerang.


Bahan galian non strategis dan non vital, disebut pula sebagai bagan galian golongan C.
Terdiri. dari: nitrat, nitrit, fbsfat, garam batu (halit), asbes, talk. mika. grafit. magnesit,
yarosit. leusit, tawas (alum), oker, batu pemata, batu setengah permata, pasir kuarsa,
kaolin, feldspar, gipsum, bentonit. tanah diatomea. tanah serap (fuLler 2 earth'), batu
apung, trass, obsidian, marmer, batutulis, batu kapur, doiomit, kalsit, granit, andesit,
basalt, trakhit, tanah liat, pasir, sepanjang tidak mengandung unsur-unsur mineral
golongan A maupun golongan B dalam skala yang berarti dari segi ekonomi

pertambangan.
Bahan galian industri sebagian besar termasuk bahan galian golongan C, walaupun
beberapa jenis t;rmasuk dalam bahan galian golongan yang lain. Secara geologi bahan
galian industri terdapat dalam ketiga jenis batuan yang ada dialam yaitu terdapat dalam
batuan beku, batuan sedimen ataupun batuan metamorf, mulai dari yang berumur
PraTersier sampai Kuarter. Bahan bangunan alam tidak lain adalah bahan galian industri
yang belum diientuh rekayasa teknik. Oleh sebab itu dengan semakin majunya rekayasa
teknik tidak tertutup kemungkinan jenis bahan galian industri akan bertambah jenisnya.
Bahan galian industri sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari,

bahkan dapat dikatakan bahwa manusia hidup tidak terlepas dari bahan galian industri.
Hampir semua peralatan rumah tangga, bangunan fisik, obat, kosmetik, alat tulis, barang
pecah belah sampai kreasi seni dibuat langsung atau dari hasil pengolahan bahan galian
2.2

industri melalui rekayasa teknik.


Gennesa mineral
Secara umum, proses pembentukan mineral, baik jenis logam maupun non-logam

dapat terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktivitas magma, dan
mineral ekonomis selain karena aktivitas magma, juga dapat dihasilkan dari proses alterasi,
yaitu mineral hasil ubahan dari mineral yang telah ada karena suatu faktor. Pada proses
pembentukan mineral baik secara mineralisasi dan alterasi tidak terlepas dari faktor-faktor
tertentu yang selanjutnya akan dibahas lebih detail untuksetiapjenispembentukanmineral.
Adapun menurut M. Bateman, maka proses pembentukan mineral dapat dibagi atas
beberapa proses yang menghasilkan jenis mineral tertentu, baik yang bernilai ekonomis
maupun mineral yang hanya bersifat sebagai gangue mineral.
1. Proses Magmatis
Proses ini sebagian besar berasal dari magma primer yang bersifat ultra basa, lalu
mengalami

pendinginan

dan

pembekuan

membentuk

mineral-mineral

silikat dan bijih. Pada temperatur tinggi (>600C) stadium liquido magmatis
mulai membentuk mineral-mineral, baik logam maupun non-logam. Asosiasi mineral yang
terbentuk sesuai dengan temperatur pendinginan saat itu. Proses magmatis ini dapat dibagi
menjadi dua jenis, yaitu :
1.1. Early magmatis, yang terbagi atas:
a. Disseminated, contohnya Intan
b. Segregasi, contohnya Crhomite
c. Injeksi, Contohnya Kiruna
1.2 Late magmatis, yang terbagi atas
a. Residual liquid segregation, contohnya magmatis Taberg
b. Residual liquid injection, contohnya magmatis Adirondack
c. Immiscible liquid segregation, contohnya sulfide Insizwa
d. Immiscible liquid injection, contohnya Vlackfontein.
2. Proses Pegmatisme
Setelah proses pembentukan magmatis, larutan sisa magma (larutan pegmatisme)
yang terdiri dari cairan dan gas. Stadium endapan ini berkisar antara 600C sampai 450C
berupa larutan magma sisa. Asosiasi batuan umumnya Granit.
3. Proses Pneumatolisis
Setelah temperatur mulai turun, antara 550-450C, akumulasi gas mulai membentuk
jebakan pneumatolisis dan tinggal larutan sisa magma makin encer. Unsur volatile akan
bergerak menerobos batuan beku yang telah ada dan batuan samping disekitarnya,
kemudian akan membentuk mineral baik karena proses sublimasi maupun karena reaksi

unsur volatile tersebut dengan batuan-batuan yang diterobosnya sehingga terbentuk endapan
mineral yang disebut mineral neumatolitis.
4.
Proses Hydrotermal
Merupakan proses pembentuk

mineral

yang

terjadi

oleh

pengaruh

temperatur dan tekanan yang sangat rendah, dan larutan magma yang terbentuk
sebelumnya. Secara garis besar, endapan mineral hydrothermal dapat dibagi atas:
4.1 Endapan hipotermal, ciri-cirinya adalah :
a. Tekanan dan temperatur pembekuan relatif tinggi
b. Endapan berupa urat-urat dan korok yang berasosiasi dengan intrusi dengan
kedalaman yang besar.
c. Asosiasi mineral berupa sulfides, misalnya Pyrite, Calcopyrite, Galena dan Spalerite
serta oksida besi
d. Pada intrusi Granit sering berupa endapan logam Au, Pb, Sn, W,Z
4.2. Endapan mesotermal, yang ciri-cirinya :
a. Tekanan dan temperatur yang berpengaruh lebih rendah daripada

endapan

hipotermal.
b.

Endapannya berasosiasi dengan batuan beku asam-basa dan dekat dengan


permukaan

bumi

c. Tekstur akibat cavity filling jelas terlihat, sekalipun sering mengalami


penggantian antara lain berupa crustification dan banding.
mineralnya berupa sulfide, misalnyAu, Cu, Ag, Sb dan

proses

Asosiasi

Oksida Sn.

4.3 Endapan epitermal, ciri-cirinya sebagai berikut :


a. Tekanan dan temperatur yang berpengaruh paling rendah.
b. Tekstur penggantian tidak luas (jarang terjadi).
c. Endapan bisa dekat atau pada permukaan bumi.
d. Kebanyakan teksturnya berlapis atau berupa (fissure-vein).
e. Struktur khas yang sering terjadi adalah cockade structure.
f. Asosiasi mineral logamnya berupa Au dan Ag dengan mineral gangue- nya berupa
Kalsite dan Zeolit disamping Kuarsa.
Adapun bentuk-bentuk endapan mineral dapat dijumpai sebagai proses endapan
hidrotermal adalah sebagai Cavity filling. Cavity filling adalah proses mineralisasi berupa
pengisian ruang-ruang bukaan (rongga) dalam batuan yang terdiri atas mineral-mineral yang
diendapkan dari larutan pada bukaan-bukaan batuan, yang berupa Fissure-vein, Shear-zone
deposits, Stockworks, Ladder-vein, Saddle-reefs, Tension crack filling, Brecia filling

(vulkanik, tektonik dan collapse), Solution cavity filling (caves dan Channels), Gash-vein,
Pore-space filling, Vessiculer fillings.
5. Proses Replacement (Metasomatic replacement)
Adalah
epigenetic

prsoses
yang

dalam

didominasi

oleh

pembentukan
pembentukan

endapan-endapan
endapan-endapan

mineral
hipotermal,

mesotermal dan sangat penting dalam grup epitermal. Mineral-mineral bijih


pada endapan metasomatic kontak telah dibentuk oleh proses ini, dimana
proses ini dikontrol oleh pengayaan unsur-unsur sulfide dan dominasi pada formasi unsurunsur endapan mineral lainnya. Replacement diartikan sebagai proses dari larutan yang
sangat penting berupa pelarutan kapiler dan pengendapan yang terjadi secara serentak
dimana terjadi penggantian suatu mineral atau lebih menjadi mineral-mineral baru yang
lain. Atau dapat juga diartikan bahwa penggantian mineral membutuhkan ion yang tidak
mempunyai ion secara umum dengan zat kimia yang

digantikan.

mineral yang dibawa dalam larutan dan zat kimia yang

Penggantian

dibawa

larutan dan merupakan kontak terbuka yang terbagi atas : Massive,

keluar

Lode

fissure,dan

Disseminated.
6. Proses Sedimenter
Terbagi atas endapan besi, mangan, phosphate, nikel dan lain sebagainya
7. Proses Evaporasi
Terdiri dari evaporasi laut, danau dan air tanah.
8.Konsentrasi Residu dan Mekanik
terdiri atas :
a. Konsentrasi Residu berupa endapan residu mangan, besi, bauxite dan lain-lain.
b. Konsentrasi Mekanik (endapan placer), berupa sungai, pantai, alluvial dan eolian.
9. Supergen enrichment.
10. Metamorfisme
Terbagi atas endapan endapan termetamorfiskan dan endapan metamorfisme.

oleh

BAB III
PEMBAHASAN
3.1

Mineral yang berkaitan dengan batuan beku, sedimen dan metamorf


A. Mineral yang berkaitan dengan batuan beku
1. Alkali feldspar
Mineral ini terbentuk dari proses kristalisasi pada fase pembekuan magma
yang bersifat asam dengan kadar SiO2 tinggi unsur alkalinya (K dan Na) sehingga
merupakan mineral utama pembentuk batuan dengan komposisi kimia K
Al2SiO8 - Na Alz SiO3 yangberwarna terang dengan kekerasan 6. Dijumpainya
mineral jenis ini berkaitan erat dengan daerah pembentukan granit pegmatit.
Umumnya mineral ini didapatkan dalam bentuk urat/vein atau tersebar sebagai
komponen utama dalam tubuh batuan granit pegmatit.
2. Bauksit
Mempunyai warna putih atap kekuningan dalarn keadaan murni, merah
atau coklat apabila terkontaminasi oleh besi oksida atau bitumen. Bauksit relatif
sangat lunak (kekerasan l-3), relatif ringan dengan berat jenis 2,3-2,1; mudah

patah tidak larut dalam air dan tidak terbakar. Bahan galian ini terjadi dari proses
pelapukan (laterisasi) batuan induk erat kaitannya de ngan persebaran granit.
Boehmit didapatkan juga dalam rekahan pada batuan nepelin syenit pegmatit.
sebagai hasil proses alterasi hidrothermal dari nepelin atau feldspar.
Bauksit dapat terbentuk dari batuan yang mempunyai kadar aluminium
relatif tinggi, kadar Fe rendah dan sedikit kadar kuarsa (SiO2) bebas. Batuan
yang memenuhi persyaratan itu antara lain nepelin syenit dan sejenisnya yang
berasal dari batuan beku, batuan lempung/serpih. Batuan diatas akan mengalami
proses laterisasi yaitu proses yang terjadi karena pertukaran suhu secara terus
menerus sehingga batuan mangalami pelapukan. Pada musim hujan air memasuki
rekahan-rekahan dan menghanyutkan unsur yang mudah larut, sementara unsur
yang sukar larut/tidak larut tertinggal dalam batuan induk. Setelah unsur-unsur
yang mudah larut seperti Na dan K, Mg dan Ca, dihanyutkan oleh air, residu
yang tertinggal (disebut laterit) menjadi kaya akan hidroksida alumina Al(OH)3
yang kemudian oleh proses dehidrasi akan mengeras menjadi bauksit.
3. Mika
Kelompok mika (muskovit, plogopit dan biotit) terbentuk pada tahap
akhir dari proses pembekuan magma yang kekentalannya rendah dan bersifat
asam. Kristal mika berukuran lebar dan berlapis, relatif lunak (kekerasan 2-2,5)
transparan dengan warna bervariasi. Muscovit berwarna putih, kuning kadangkadang coklat, bersifat fleksible dan elastis didapatkan pada batuan beku yang
kaya silika dan alumina (pegmatit dan granit) juga dalam batuan metamorf
tingkat rendah-menengah-tinggi antara lain greenschist dan ampibolit-facies.
Plogopit transparan, fleksible dan elastis, berwarna coklat muda atau
kekuningan terdapat pada batuan metamorf tingkat menengah - tinggi yang kaya
l-56 magnesium (antara lain kristalin dolontit, peridotit yang lapuk dan
serpentinit) dan pegmatit.
berwarna hitam hingga hijau gelap. fleksible. elastis dijumpai pada
batuan pegmatit, lamprophyre, kadang-kadang pada lava atau batuan metamorf.
4. Asbes
Asbes adalah nama perdagangan dari mineral tertentu yang dapat
dipisahkan menjadi serabut-serabut dan tidak dapat dibakar. Mineral ini
demikian panjang dan halus sehingga dapat dipintal. Asbes teriadi karena proses

metamorfose (proses serpentinisasr) batuan yang bersifat basa atau ultra basa.
Berdasarkan komposisi dan sifatnya, asbes dibagi rneniadi 2 kelompok yuitu:

Asbes serpentin
Jenis ini dapat dipintal, yang termasuk golongan ini antara lain mineral
krisotil serabutnya halus seperti sutera. wanra putih, panjang serabut antara
4-5 inch, sangat kuat, satu ton bahan ini dapat dipintal sampai 10.000 meter,
bila dipanaskan dapat bertahan hingga 2160oC.

Asbes amfibol
Jenis ini sukar dipintal, yang terrnasuk golongan ini antara lain mineral
antofilit - (Fe, Mg) SiOj, terdapat sebagai gumpalan serabut pendek dan
gelas, panjang serabut 4-.5 inch. bila dipanaskan dapat beftahan hingga
2160' C. Antofilit selain didapat dialam, dapat pula dibuat dengan
mentanaskan ntagnesium metasilikat yang jauh lebih tinggi dari pada titik
lelehnya dan kemudian dengan cepat didinginkan.

B. Mineral yang berkaitan dengan batuan sedimen


Sub Golongan A
a. Dolomit
Umumnya Terdapat Bersama-Sama Batugamping, terjadi
karena proses pelindian (leaching) atau peresapan unsur magnesium dari air laut
ke dalam batugamping. Prosesnya disebut dolomitisasi yaitu proses pergantian Ca
oleh Mg.tidak larut dalam HCl, dolomit juga bisa diterbentuk dari proses
evaporasi. Berwarna abu-abu putih, kebiru-biruan, kuning, masif, butiran haluskasar, bentuk kristal hexagonal kadang dijumpai bersama halit dan gypsum.
Berdasarkan jumlah unsur
CaCO3 = 100% : Batugamping
CaCO3 + MgCO3 > 10% : Batugamping dolomitan
CaCO3 + MgCO3 > 45% : Dolomit

Gambar 3.1 Perbandingan unsur Mg dan Ca

Dalam lingkungan laut normal (seperti deep sea deposits) dolomit


kemungkinan terbentuk Mg/Ca di atas 3 :1. Pada beberapa lokasi air tawar dan lowsalinity subsurface waters, dolomit akan terbentuk pada rasio Mg/Ca 1:1 karena
kekurangan ion yang bereaksi dan umumnya kecepatan kristalisasi rendah.
Ion Mg dapat bersumber dari : air laut, Mg-calcite dalam sedimen, Mg-rich clay, Mgrich brine concentrated dari air laut melalui presipitasi akibat evaporasi, atau
subsurface brine termasuk yang dihasilkan dari aktivitas batuan beku dan metamorf.
Dolomit hasil replacement dalam air tawar kristalnya euhedral dan jernih, karena
kristalisasi terjadi perlahan-lahan. Kristal-kristal dolomit dari lingkungan hypersaline
berukuran kecil karena perkembangannya yang kurang baik.
b. kalsit
Endapan kalsit merupakan hasil restrukturisasi batugamping yang mengkristal
setelah mengalami proses pelarutan. Umumnya terjadi pada batugamping atau marmer
dalam masa kristalin yang berlapis dan berupa stalaktit dan stalakmit. Kalsit dengan
komposisi kimia CaCO3 dapat ditemukan dalam keadaan murni dan tidak, bergantung
kepada kandungan mineral pengotornya. Mineral pengotor ini terbentuk karena
adanya subtitusi unsur Ca oleh unsur logam, seperti Mg, Fe, Mn.

Dalam prosentase

berat tertentu, mineral pengotor kalsit tersebut akan membentuk mineral kapur yang
lain, seperti dolomit, ankerit, dan kutnakorit. Kalsit mempunyai bentuk prismatic,
tabular, rhombohedral, massive, berbutir sangat halus hingga kasar. Berat jenis kalsit
murni adalah 2,71 dan akan meningkat sesuai dengan tingkat subtitusi unsur logam.
Kalsit murni tidak berwarna dan transparan, warnanya akan berubah sesuai
dengan subtitusi yang terjadi, seperti kuning, coklat, pink, biru, lavender, Kehijauhijauan, abu-abu, hitam dan mungkin kehijau-hijauan seperti klorit. Sifat kalsit yang
lain adalah tingkat kekerasannya adalah 3 (skala Mohs), belahan rhombohedral
dengan sudut 75 105o.
Kalsit termasuk mineral pembentuk batuan sedimen ataupun metamorf, dan
merupakan material semen pada suatu batuan, banyak ditemukan dan terdistribusi
pada lapisan bumi. Kalsit juga ditemukan dalam batuan beku basa sebagai hasil dari
alterasi kalsium silica, atau hasil proses hidrotermal pada urat-urat bijih. Pada keadaan
tersebut kalsit merupakan asosiasi dari bijih sulfida, fosfat, kuarsa, barit, flourit,
dolomit dan siderit.
Pengolahan Kalsit
Pengolahan kalsit hanya bertujuan untuk memperoleh ukuran butir dan tingkat
kadar CaCO3 sesuai dengan spesifikasi pasar. Pengolahan dapat dilakukan secara
sederhana, yaitu dengan menghilangkan kotoran yang melekat, kemudian dilakukan
penghancuran dan diayak sesuai dengan ukuran yang diinginkan.merupakan mineral
kalsium karbonat yang murni, terjadi karena penghabluran kembali larutan
batugamping akibat pengaruh air tanah/hujan. ditemukan berupa pengisian rongga,
tekanan dan kekar sehingga jumlahnya tidak banyak karena sifatnya setempatsetempat dijumpai lebih banyak di area batugamping non klastik
kalsit juga dihasilkan dari proses metamorfosa kontak/regional pada batugamping
yang diterobos oleh batuan beku, kalsit juga bisa terbentuk akibat proses hidrotermal
temperatur rendah yang berasosiasi dengan senyawa sulfide
c. Fosfat (P2O5 )
Endapan fosfat memiliki siklus pengendapan yang khas: Batuan yang kaya
unsur P, akan mengalami pelapukan dan unsur P ini terpisah dari batuan induknya,
menjadi tanah pelapukan (soil). Unsur P yang ada di tanah oleh tumbuh-tumbuhan
akan diserap, dan tumbuh-tumbuhan tersebut dimakan oleh binatang atau ternak Pada
binatang unsur P akan merupakan bagian dari unsur pembentuk tulang, dan apabila
hewan ini mati, tumpukan tulang akan menjadi endapan fosfat. Endapan fosfat dapat
berupa endapan residu yang tidak mengalami transportasi, ataupun sebagai endapan
yang tertransport, dan diendapkan sebagai batuan sedimen.

Proses lain terjadinya fosfat: Batuan induk yang kaya unsur P, mengalami
pelapukan kimiawi, sehingga unsur P akan berada dalam larutan dan tertransport
sampai ke laut. Unsur P yang ada dalam air laut tersebut akan diserap oleh ikan-ikan
dan tumbuh-tumbuhan laut. Ikan-ikan dan tumbuh-tumbuhan tersebut, akhirnya
dimakan burung-burung laut,yang bersarang di gua-gua di dekat pantai. Kotoran yang
dikeluarkan oleh burung-burung tersebut akan terkonsentrasi ndi pantai atau gua-gua
dan disebut fosfat guano.
Fosfat dapat pula terjadi dari pengendpan zat organisme yang mati, dan berupa
larutan Calcium Phosphate atau coloid asam fosfat. Fosfat merupakan unsur utama
dalam pembuatan pupuk dan sebagai bahan mentah untuk industri kimia. Fosfat
sebagai pupuk alam harus memenuhi persyaratan SNI No. 02 - 3776, Tahun 1995
Proses terbentuknya endapan fosfat ada tiga:
1. Fosfat primer terbentuk dari pembekuan magma alkali yang bersusunan nefelin,
syenit dan takhit, mengandung mineral fosfat apatit, terutama fluor apatit {Ca5
(PO4)3 F} dalam keadaan murni mengandung 42 % P2 O5 dan 3,8 % F2.
2. Fosfat sedimenter (marin), merupakan endapan fosfat sedimen yang
terendapkan di laut dalam, pada lingkungan alkali dan suasana tenang, mineral
fosfat yang terbentuk terutama frankolit.
3. Fosfat guano, merupakan hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan
kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batugamping karena pengaruh air
hujan dan air tanah. Berdasarkan tempatnya endapan fosfat guano terdiri dari
endapan permukaan, bawah permukaan dan gua.
Di luar kegunaannya sebagai bahan pupuk, fosfat dalam bentuk senyawa lain
digunakan dalam berbagai industri. Asam fosfat direaksikan dengan soda abu atau
batu kapur, akan diperoleh senyawa fosfat tertentu. Asam fosfat dengan batugamping
akan membentuk dikalsium fosfat yang merupakan bahan dasar pasta gigi dan
makanan ternak. Reaksi sederhananya sebagai berikut:
Ca3 (PO4)2 + CaCO3 =====> Ca HPO4 (dikalsium fosfat)
Asam fosfat direaksikan dengan soda abu menghasilkan 3 produk dengan fungsi
berbeda. Reaksi sederhananya sebagai berikut :
H3 PO4 + Soda abu ======> 1,2,3.
1. Sodium tripoly phosphate, sebagai bahan detergent
2. Sodium triotho phosphate, pelembut air
3. Tetra sodium pyro phosphate, industri keramik.
d. Rijang (SiO2)
Rijang atau batu api (Bahasa Inggris: flint atau flintstone) adalah batuan
endapan silikat kriptokristalin dengan permukaan licin (glassy). Termasuk batuan
sedimen non-klastik yang terbentuk dari proses kimiawi. Rijang termasuk batuan

sedimen silika, diendapkan di lingkungan pengandapan laut dalam, di bawah


carbonate compensation depth (di bawah 3.500 m).
.

Gambar 3.2 rijang


Material yang diendapkan adalah material-material yang mengandung unsur
silika karena batas toleransi karbonat telah terlampaui. Rijang, merupakan batuan
yang sangat keras dan tahan terhadap proses lelehan, masif atau berlapis, terdiri dari
mineral kuarsa mikrokristalin, berwarna cerah hingga gelap. Rijang dapat terbentuk
dari hasil proses biologi (kelompok organisme bersilika, atau dapat juga dari proses
diagenesis batuan karbonat).
Rijang disebut "batu api" karena jika diadu dengan baja atau batu lain akan
memercikkan bunga api yang dapat membakar bahan kering. Rijang biasanya berwarna
kelabu tua, biru, hitam, atau coklat tua. Rijang terutama ditemukan dalam bentuk nodul pada
batuan endapan seperti kapur atau gamping. Sejak Zaman Batu, rijang banyak dipergunakan
untuk membuat senjata dan peralatan seperti pedang, mata anak panah, pisau, kapak, dll.
Proses pembentukan rijang belum jelas atau disepakati, tapi secara umum dianggap
bahwa batuan ini terbentuk sebagai hasil perubahan kimiawi pada pembentukan batuan
endapan terkompresi, pada proses diagenesis. Ada teori yang menyebutkan bahwa bahan
serupa gelatin yang mengisi rongga pada sedimen, misalnya lubang yang digali oleh
mollusca, yang kemudian akan berubah menjadi silikat. Teori ini dapat menjelaskan bentuk
kompleks yang ditemukan pada rijang

Gambar 3.3 Singkapan Rijang Berlapis di Ajaobaki

Gambar 3.4 Singkapan Rijang Berlapis Di Sanam-TTS

Gambar 3.5 Singkapan rijang berlapis di Nuuf Niabean, Desa Oenbit, berwarna segar putih
kekuning-kuningan, warna lapuk kuning, coklat keabu-abuan, jurus dan kemiringan N
145oE/47o. Tebal lapisan 3 10 cm.

Gambar 3.6 Singkapan Rijang berlapis di daerah Birunatun TTU

Kegunaan rijang didasarkan pada prosentasi kandungan SiO2 pada rijang tersebut.
Rijang dengan kadar SiO2 antara 55 % - 99% dapat digunakan dalam industri:
Industri Gelas dan Kaca
Sebagian besar formula kaca yang diproduksi untuk komersil terdiri dari
kuarsa/silica, soda dan garam dapur. Sebagai bahan baku, rijang merupakan
oksida pembentuk gelas. Spesifikasi rijang yang digunakan bergantung kepada
jenis produknya. Ada empat jenis produk gelas kaca yang beredar di pasaran,

yaitu :
Kaca lembaran : biasa digunakan dalam industri bangunan
Gelas kemasan : digunakan untuk pengemasan produk industri makanan dan

industri farmasi
Gelas keperluan alat rumah tangga berupa : piring, mangkok, dan cangkir

termasuk gelas perhiasan, gelas kristal dan gelas lainnya.


Gelas Ilmu Pengetahuan dan keteknikan seperti: kaca laminasi, kaca

diperkeras, kaca berkawat listrik, kaca pengaman lengkung dan lainnya.


Industri Semen
Di industri semen, pasir kuarsa digunakan sebagai bahan pelengkap untuk
pembuatan cement Portland, yaitu sebagai pengontrol kandungan silica dalam

semen yang dihasilkan.


Jumlah pasir kuarsa yang dicampur dengan bahan baku semen lainya
bervariasi, bergantung kepada kandungan silica bahan baku semen lainnya.
Akan tetapi secara umum dapat ditentukan dengan komposisi atau

perbandingan 66,5 Kg rijang atau pasir kuarsa untuk 1 ton produk semen.
Industri Pengecoran dan Bata Tahan Api

Rijang yang dipakai di industri pengecoran berfungsi sebagai pasir cetak


(casting sand) dan foundry. Sementara itu, di industri bata tahan api rijang

atau pasir kuarsa merupakan bahan baku utama


Industri Keramik
Di industri keramik rijang atau pasir kuarsa digunakan sebagai bahan mentah
untuk pembuatan badan keramik bersama-sama dengan kaolin, ball clay,

feldspar dan lainnya.


Rijang atau pasir kuarsa digunakan karena mempunyai sifat yang baik untuk
bahan pengurus sehingga mempermudah proses pengeringan, mengontrol

penyusutan, dan memberi kerangka pada badan keramik.


Pembuatan Batako
Salah satu sifat yang dimiliki oleh rijang dengan kandungan SiO 2 yang tinggi
adalah karena adanya silicate yang larut dan dapat bersenyawa dengan CaO
menjadi Ca-silicate dalam keadaan basah. Perbandingan campurannya adalah
SiO2 : CaO : H2O = 2 : 1 : 1. baik dengan atau tanpa aditif.
e. Gypsum
Termasuk kelompok mineral sulfide. Gips terjadi secara alami berupa lapisan
dan sering berupa kristal yang kembar, transparan, terdapat belahan yang disebut
selenite. Kadang, seperti sutera, berserabut sehingga terkadang disebut satin spar.
Merupakan hasil evaporasi, lingkungan pengendapan: danau, laut, mataair panas,
larutan sulfat dalam urat, Berasosiasi dengan halite, anhidrit, batuan sedimen
lainnya. Gypsum jarang ditemukan berukuran pasir hal ini disebabkan karena
gypsum mudah larut dalam air. Gypsum juga dapat dihasilkan dari proses
hidrothermal yang berdekatan dengan batuan karbonat. Contoh gypsum di daerah
Ponorogo. Secara teoritis komposisi gypsum adalah:
CaO=32,6%; SO3=46%; H2O=20,9%
Dipasaran dikenal: Gelas maria: selenit: lembaran gips dengan ukuran cukup
besar dan transparan. Gips serat, atau dikenal pula dengan istilah gips sutera,
Alabaster, gips yang berukuran halus. Di daerah beriklim arid, gypsum ditemukan
berbentuk seperti rose, panjang 11 meter.

Gambar 3.7 Singkapan gipsum di daerah Naipeas, Desa Ponu TTU


Kegunaan gypsum antara lain adalah sebagai berikut : Bahan tambahan semen
Portland, Bahan pelster, Bahan pembuat cetakan, Kedokteran, Alat optik dalam
mikroskop polarisasi, Industri kimia: bahan utama asam sulfat, Industri makanan.
Sub Golongan B
Bahan Galian Industri yang berkaitan dengan batuan sedimen lainnya. Yang termasuk
dalam jenis ini adalah:
1. Bentonit
Bentonit adalah jenis lempung yang 807o lebih terdiri dari mineral monmorilonite
bersifat lunak (kekerasan I pada skala Mohs, berat jenis antara l,7 -2,7, mudah pecah,
terasa berlernak. mempunyai sifat mengembang apabila kena air. Menurut Knight, 1896
nama lain dari bentonit adalah Soap Clay, Taylorit, Bleaching clay, Fullers earth.
Konfolensit, Saponit, Smegmatit. Sifat bentonit antara lain:

Berkilap lilin umumnya lunak, plastis dan sarang


Berwarna pucat dengan kenampakan putih, hijau tuda, kelabu, merah muda
dalam keadaan segar dan menjadi krem bila lapuk yang kemudian berubah

menjadi kuning, merah coklat serta hitam.


Bila diraba terasa licin seperti sabun dan kadang-kadang pada permukaannya

dijumpai cermin sesar.


Bila dimasukan kedalam air akan menghisap air sedikit atau banyak.
Bila kena hujan singkapan bentonit berubah menjadi bubur dan bila kering
akan menimbulkan rekahan yang nyata.

Terbentuknya bentonit disebabkan oleh:

a. Proses pelapukan
Faktor utama yang menyebabkan terbentuknya mineral lempung adalah
komposisi batuan, komposisi kimia air dan daya lalu air tersebut pada batuan. Yang
tersebut terakhir ini dipengaruhi oleh iklim inacam batuan dan relief serta tumbuhan
yang berada di atas batuan tersebut. Pembentukan lempung karena pelapukan sebagai
akibat reaksi ion-ion H* yang terdapat dalarn air tanah dengan mineral-mineral silikat.
H+ umumnya berasal dari asam karbon yang terbentuk sebagai akibat pembusukan
oleh bakteri terhadap zat-zat organik yang terdapat dalam tanzfi.
b. Proses hidrothermal
Pada alterasi hidrothermal yang sangat lemah. rnineral-mineral yang kaya
akan magnesium seperti hornblende dan biotit cenderung membentuk klorit. Pada
alterasi lemah, kehadiran unsur-unsur logam alkali dan alkali tanah, kecuali kalium,
mineral mika, fero magnesium dan feldspar plagioklas umumnya akan membentuk
monmorilonit. Terjadinya monmorilonit terutama disebabkan oleh adanya magnesium.
2. Ball clay dan Bond clay
Ball clay adalah jenis lempung yang tersusun dari mineral kaolinit =
Al2Si2Os(OH)4 bentuk kristalnya tidak sempurna (40- 60%), ilit (18-33%), kuarsa (722%) dan mineral lain yang mengandung karbon (l-4 %). Apabila sifat-sifat fisik ball
clay tersebut lebih rendah dari standart maka lempung tersebut disebut bond clay. Ball
clay dan bond clay umumnya bersifat sangat plastis karena terdiri dari partikel sangat
halus, mempunyai daya ikat dan daya alir yang sangat baik. Ball clay dan bond clay
terbentuk sebagai akibat sedimentasi dalam lingkungan lakustrin atau delta,
berasosiasi dengan endapan pasir, lanau dan lignit/batubara. Oleh sebab itu
didapatkan setempat-setempat baik dalam bentuk lensa atau nodul dan berwarna
gelap.
Pengujian terhadap bahan galian di lapangan dapat dilakukanyaitu dengan
menambahkan air sedikit, kemudian di'plintirl dengan tangan sehingga bentuknya
seperti silinder. Bentukan tersebut kemudian dibengkokan perlahan-lahan sehingga
terbentuk melengkung. Apabila pada bagian lengkungan terjadi retakan-retakan
terbuka lebar maka menunjukkan mutu bahan galian tersebut relatif kurang plastis
sehingga dikatakan jelek. Apabila dengan perlakuan yang sama tidak terjadi retakanretakan maka bahan galian tersebut mempunyai sifat plastisitas tinggi sehingga
katakan baik.
3.

Fire clay

Merupakan bahan galian yang terdiri dari mineral kaolinit yang bentuk kristalnya
tidak sempurna (melorit = disordered kaolinit), ilite, kuarsa dan mineral lempung lainnya,
bersifat plastis, dilapangan tidak menunjukan perlapisan. Jenis lempung ini tahan terhadap
suhu tinggi (lebih dari 1600o C) tanpa terjadi pembentukan masa gelas. Secara megaskopis
sulit membedakan antara fire clay dan ball clay. Hal ini dapat diketahui dengan metoda AAS
dimana kaolinit merupakan komposisi utama. Berbeda dengan ball clay dan bond clay, fire
clay terbentuk akibat proses sortasi dan sedimentasi yang telah lanjut sehingga didalamnya
tidak memperlihatkan adanya perlapisan, diendapkan pada lingkungan lakustrin ataupun delta
yang umurrrnya mengandung batubara.
4.

Zeolit
Zeolit merupakan senyawa alumino silikat hidrat terhidrasi dari logam alkali dan

alkali tanah (terutama Ca dan Na), dengan rumus umur Lm Alx Sig O2nH2O (L = logam).
Sifat umum dari zeolit adalah merupakan kristal yang agak lunak, berat jenis 2-2,4, warna
putih coklat atau kebiru-biruan. Kristalnya berwujud dalam struktur tiga dimensi yang tak
terbatas dan mempunyai rongga-rongga yang berhubungan dengan yang lain membentuk
saluran kesegala arah dengan ukuran saluran tergantung dari garis tengah logam alkali atau
alkali tanah yang terdapat pada strukturnya. Dialam saluran tersebut akan terisi oleh air yang
disebut sebagai air kristal. Air kristal ini mudah dilepas dengan melakukan pemanasan,
mudah melakukan pertukaran ion-ion dari logam alkali atau alkali tanah dengan ion-ion
elemen lain. Cara dan lingkungan terbentuknya zeolit sangat bervariasi. William (1992)
didalam bukunya Natural Zeolities, zeolit dikelompokkan menjadi 3 yaitu:

Zeolit yang terbentuk pada temperatur yang tinggi, dimana pada masing-masing
temperatur tertentu akan terbentuk jenis zeolit tertentu pula. Yang termasuk dalam
group ini adalah akibat dari proses magmatik primer, proses metamorfose kontak,
proses metamorfose hidrothermal, proses penurunan dan pengangkatan lingkungan

pembentukannya dengan disertai metamorfose regional.


Zeolit yang berbentuk didekat permukaan lingkungan sedimentasinya dengan
perubahan proses kimia merupakan faktor utama. Yang termasuk group ini adalah
sebagai akibat pengaruh pergerakan air tanah, pelapukan ataupun karena sifat alkalin

pada saline lake deposits.


Zeolit yang terbentuk pada suhu rendah pada lingkungan pengendapan laut.
zeolit yang terbentuk sebagai akibat dari terbentuknya craters dilingkungan dasar laut
yang menghasilkan fast hidrothermal zeolitization dari gelas vulkanik.
Proses-proses tersebut di atas akan berakibat bervariasinya luas penyebaran
zeolit yang terbentuk disamping bervariasinya ion-ion elemen alkali dan alkali tanah

yang diikat dan mengakibatkan terbentuknya spesies zeolit. Oleh Breck (vide Riyanto,
l99l) dilaporkan telah ditemukan puluhan spesies zeolit.
Pembentukan zeolit secara alamiah sangat menarik sehingga memunculkan
pemikiran tentang pembuatan zeolit dengan proses yang sama. Pada kenyataannya
sedimentasi zeolit berlangsung secara berkesinambungan terutama yang terbentuk pada dasar
lautan. Dari penelitian oceanografi diketahui bahwa zeolit spesies phillipsit merupakan
mineral yang paling banyak didapatkan dialam.
Perihal zeolit buatan, peneliti mencoba meniru proses hidrothermal pada mineral
zeolit yang terjadi dialam zeolit buatan direkayasa dari gel alumino silikat jenis gel tersebut
dibuat dari larutan-rarutan natrium aluminat, natrium silikat dan natrium hidroksida. Struktur
gel terbentuk karena polimerisasi anion-anion aluminat dan silikat. Kelihatannya komposisi
dan struktur gel hidrat ini ditentukan oleh ukuran dan struktur dari hasil proses polimerisasi.
Perbedaan dan komposisi kimia dan distribusi berat morekul dari larutan silikat asal akan
menyebabkan perbedaan struktur zeorit yang terjadi. Selama kristalisasi gel ion natrium,
senyawa aluminat dan silikat mengalami penyusunan ulang sehingga terjadi struktur kristal.
Sampai saat ini kurang lebih 30 macam zeolit telah berhasil dibuat dalam keadaan murni,
dengan mengubah variabel seperti temperatur kristalisasi dan komposisi awal dari gel.
C. Mineral yang berhubungan dengan Batuan Metamorft.
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah kalsit, marmer, kuarsit, grafit, mika
dan wolastonit.
1.

Kuarsit
Komposisi utama adalah mineral kuarsa yang mengalami metamorfose regional.
Batuan ini akan mengalami kristalisasi pada temperatur minimum 800' C atau
pada tekanan 5,5 kilobar. Kuarsit terbentuk dari batuan sedimen yang banyak
mengandung mineral
kuarsa yaitu jenis arkose atau graywacke, orthoquarzite, jasper, flint, batuan
silika lainnya. Kuarsa yang ada dapat pula merupakan hasil rombakan batuan
beku asam antara lain aplit dan pegmatit. Kuarsit yang murni berwarna putih,
tekstur granoblastik, mosaik kadangkadang sakaroidal, struktur masii foliasi atau
sekistose tergantung banyaknya mineral pipih. Kehadiran mineral lain sebagai
kontaminan menyebabkan perubahan warna misalnya adanya mineral biotit,
grafit atau magnetik mengakibatkan warna gelap. Sifa-sifat fisik dari kuarsit tidak
jauh berbeda dengan kuarsa.
2. Grafit

Grafit merupakan native elements dengan komposisi C (carbon). Sistem kristal


dari grafit adalah hexagonal, merupakan massa berfoliasi atau lembaran-lembaran
tipis yang terlepas, struktur opaque pada umumnya berwarna hitam. Grafit
merupakan dimorphisme dari intan, tetapi mempunyai tingkat kekerasan rendah
(1-2), berat jenis 2,23, belahan baik/jelas apabila diraba terasa berminyak. Grafit
tidak terbakar dan tidak mudah larut dalam air. Grafit terbentuk pada metamorfose
tingkat tinggi dari batuan yang mengandung zat organik, dapat terjadi pula karena
proses magmatisme antara lain pada pegmatit dan juga terdapat pada hidroterrnal
vein.

Grafit sangat

umum didapatkan dalam

granit, sekis, genis,

mika sekis

ataupun batu gamping kristalin.


3. Wolastonit
Wolastonit dengan mmus kimia CaSiO: (apabila murni mempunyai
komposisi CaO = 48,3% dan SiO2 = 51,% mempunyai bentuk kristal triklin,
jarang berbentuk pipih, pada umumnya berserat, seperti jarum atau merupakan
masa yang mempunyai pola radier, warna abuabu ataupun tidak berwarna,
tingkat kekerasan 4,5-5, berat jenis 2,8-3,09, belahan jelas yang memberikan
warna mutiara, seperti sutera dalam bentuk serat, larut dalam asam kuat, mudah
terbakar. Jenis mineral ini terdapat pada batu gamping yang mengalami
metamorfose kontak ataupun yang mengenai batuan napal. Disamping itu
dijumpai pula pada batuan tersebut yang terkena metamorfose regional dengan
tekanan rendah.
3.2 Jenis Dan Distribusi Mineral Di NTT
Wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur mempunyai potensi bahan galian golongan C
yang cukup besar. Selain bahan galian golongan C, juga terdapat bahan galian golongan B,
bahkan

tidak

menutup

kemungkinan

juga

terdapat

bahan

galian

golongan

A.

Namun pada kenyataanya data dan informasi tesebut masih sangat minim sehingga perlu
adanya kerja sama dengan pihak swasta. Dan, diharapkan agar nantinya dapat menarik
investor untuk mau menanamkan modalnya pada sektor pertambangan di provinsi NTT.
Dalam usaha menarik investor inilah upaya pendataan secara bertahap melalui penelitian
potensi bahan galian di Kabupaten Kupang perlu dilakukan. Dari hasil penelitian tersebut,
untuk mengetahui lokasi keterdapatan, jumlah cadangan, maupun kualitas dari bahan galian
yang ditemukan.

Diharapkan dari sektor pertambangan akan dapat membawa dampak positif pada
masyarakat yaitu berupa peningkatan sosial ekonomi dan peningkatan pendapat dengan
adanya lapangan kerja baru. Bahan galian golongan C di NTT dijumpai variasinya terbatas,
namun mempunyai potensi yang cukup besar.
Data dan informasi untuk bahan galian golongan C, Golongan B, bahkan golongan A
meliputi lokasi keterdapatan, jumlah cadangan, dapat dilihat pada peta dan tabel dibawah ini

Gambar
3.8 Peta Potensi Sumber Mineral Logam Serta Batuan Pembawa Logam Di Provinsi Ntt

Komoditi : Emas, Tembaga, Besi Primer, Mangan, Pasir Besi, Titan Plaser
Kelompok : Logam Mulia,

Logam Dasar, Logam Besi dan Panduan Besi

a.

Emas
Masyarakat mengenal emas sebagai salah satu jenis logam yang dicirikan secara

fisik berwarna khas kuning, berat, bersifat lembek, serta mengkilap. Logam ini banyak
terdapat pada serbuk bebatuan dan deposit alluvial. Berwarna cokelat kemerahan jika
dalam bentuk bubuk. Kekerasannya berkisar 2,5-3 (skala mohs) dan memiliki berat jenis
yang selalu bergantung pada kandungan mineral yang berpadu pada saat pembentukan
(Diantoro, 2010).
Emas memiliki jenis cukup beragam menurut proses pembentukannya, salah
satunya adalah jenis emas epithermal. Endapan emas epitermal merupakan endapan
mineral permukaan yang berada di lapisan paling atas atau disebut Low Sulfidation.
Proses transportasi dari dapur magma yang menerobos melalui Lapisan Porphyri, High
Sulfidation sampai lapisan Low Sulfidation merupakan proses yang terpenting dimana
emas dibawa oleh mineral-mineral dalam zona alterasi. Endapan tersebut berupa
epitermal sulfida rendah dalam bentuk mineral-mineral dan urat pada kuarsa yang
umumnya terdapat dalam batuan gunung api (volcano-magmatic arc) yang berumur
Pratersier sampai Tersier. Keberadaan emas epitermal dalam permukaan berasosiasi
dengan adanya bentukan struktur geologi baik sesar maupun patahan yang menunjukkan
adanya potensi endapan emas epitermal dan mineral pembawa (Widodo, 2004).

Gambar 3.9 Proses Terbentuknya Emas

Wilayah penyebaran mineral Emas di NTT antara lain:


1. Terdapat di Desa Bijeli, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah
Selatan.
2. Terdapat di Noel Toko, Kecamatan Miamafo Barat, Kabupaten Timor Tengah
Utara.
3. Terdapat di Kecamatan Buyasuri, Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Lebatukan,
Kabupaten Lembata (Luas 358.203 Ha).
4. Terdapat di daerah Papang, P. Lainjawa, Wolo Besi, Wai Dewas, Lodo, Wae
Teo, semenanjung Ontok dan Hunut, Menganumba, Poselik, Kuli Boko dan
Mbay, Kabupaten Ngada.
5. Terdapat Di Tanah Darru, Kecamatan Umbu Ratunggai dan Lamboya, Kecamatan
Walakaka, Kabupaten Sumba Barat.
6. Terdapat di Pegunungan Masu, Kecamatan Nggongi, Kabupaten Sumba Timur.
7. Terdapat di desa Tanini, kecamatan Takari, Kabupaten Kupang
8. Terdapat di desa nunsaen, kecamatan Fatuleu tengah, Kabupaten Kupang
9. Terdapat di desa fatusuki, kecamatan amfoang selatan, Kabupaten Kupang
b. Mangan
Mangan di Indonesia ditemukan pertama kali pada tahun 1854 didaerah
karangnunggal, tasikmalaya, jawa barat, akan tetap pengusahaannya baru dilakukan
menjelang akhir abad yang lalu. Meskipun tempat penemuan pertama di karangnunggal
tetapi endapan yang diusahakan terlebih dahulu adalah yang terdapat di Kliripan, Kulon
Progo, Yogyakarta.
Genesa :
Mangan termasuk batuan beku. Bijih mangan utama berasal dari pirolusit (MnO2)
dan psilomelan (Ba,H2O)2Mn5O10, yang mempunyai komposisi oksida dan terbentuk
dalam cebakan sedimenter dan residu.

Gambar 3.10 pirolusit

Gambar 3.11 psilomelan

Menurut park (1956), cebakan mangan dibagi dalam 5 tipe yaitu :


-. Cebakan hidrothermal.
-. Cebakan sedimenter, baik bersama-sama maupun tanpa affiliasi atau hubungan vulkanik
-. Cebakan yang berasosiasi dengan aliran lava bawah laut
-. Cebakan metamorfosa (proses malihan)
-. Cebakan laterit dan akumulasi residual
Mangan juga terdapat sebagai nodul, yaitu endapan mirip batuan dengn akomposisi
kira-kira 15-30 % Mn yang dalam bentuk oksidanya bersama-sama dengan oksida-oksida
Fe, Co, Cu, dan Ni. Nodul ini berupa butiran-butiran bola dengan diameter beberapa
millimeter sampai dengan 15 cm, dan terakumulasi dalam dasar lautan.
Mangan yang berkomposisi dengan oksida lainnya namun berperan bukan sebagai
mineral utama dalam cebakan bijih adalah bauxit, manganit, hausmannite, dan
lithiophilite, sedangkan yang berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit, serta rhodonit
yang berkomposisi silika.
Penambangan :

Penambangan dilakukan dengan tambang terbuka dan tambang bawah tanah pada
bermacam-macam variasi tergantung keadaan cebakan. Penambangan mangan ditentukan
oleh letak deposit yang bersangkutan. Apabila depositnya terletak didekat permukaan,
teknik penambangan dengan sistem tambang permukaan/terbuka lebih sesuai diterapkan.
Apabila depositnya terdapat jauh dipermukaan maka pembuatan sumuran yang dilanjutkan
dengan sistem gophering lebih sesuai.
Pengolahan :
Cara konsentrasi tergantung keadaan bijih.Pada bijih yang berbentuk bongkahan
yang berkadar tinggi di dalam tanah liat(clay) yang mudah hancur pengolahan terdiri dari
pengujian dalam log washer atau wash trammel.Bila bijih bercampur dalam batuan keras
harus di hancurkan(crushing) dulu kemudian di kerjakan dengan meja goyang(shaking
table) adalah pemisahan material dengan cara mengalirkan air yang tipis pada suatu meja
bergoyang.

Gambar 3.12 proses pengolahan Mangan

Wilayah penyebaran mineral Mangan di NTT antara lain:


1. Sungai Taemaman dekat Kampong Fatukoko, Fatu tuminu, Kecamatan Molo
Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
2. Oe Ekam, Oe Bake, Kolbano dan Baboin, Kecamatan Amanuban, Kabupaten
Timor Tengah Selatan.
3. Terdapat di Bonleo dan Noemuti, Kecamatan Miamafo Barat, Kabupaten Timor

Tengah Utara.
4. Kabupaten Manggarai, Flores,dll
c. Pasir Besi
Pasir berwarna hitam, karena mengandung mineral dengan dominasi unsur besi. Cara
mengujinya? Sangat simpel, tinggal dekatkan magnet ke pasir tersebut, pasti banyak
mineral yang mengandung unsur besi yang tertarik oleh magnet. Sifat kemagnetan
tersebut, kita sebut sebagaiferromagnetik, yang artinya ditarik sangat kuat oleh
magnet. Berbeda ketika kita mendekatkan magnet ke pasir pantai yang berwarna
putih.

Tidak

ada

butiran

yang

akan

tertarik

oleh

magnet,

kita

sebut

sebagai diamagnetik, atau sedikit tertarik oleh magnet. Sekarang, kita masuk lebih
jauh, mineral apa sih yang terkandung di dalam pasir yang berwarna hitam itu, dan
apa yang ada di pasir berwarna putih itu? Pada pasir yang berwarna hitam, mineral
yang

mendominasi

adalah

magnetit

(Fe3O4),

hematit

(Fe2O3),

Limonit

(Fe2O3.nH2O), Siderit (FeCO3). Semakin gelap warna dari pasir, menunjukkan


konsentrasi unsur Fe yang makin tinggi (ilustrasi pasir besi yang tertarik magnet).
Pada pasir yang berwarna putih, mineral yang mendominasi adalah silika
(SiO2), zirkon (ZrSiO4), felspar (KAlSi3O8 NaAlSi3O8 CaAl2Si2O8) yang
berwarna pink, dan sesekali kita jumpai bekas-bekas makhluk hidup (koral) atau
gamping (CaCO3), mungkin juga mengandung mineral seperti rutil (TiO2), kasiterit
(SnO2), bahkan bisa mengandung mineral tanah jarang (REE) seperti xenotime
(YPO4), monasit [(Ce,La,Nd,Th(PO4, SiO4)].

Gambar 3.13 Proses pembentukan pasir Besi

Pasir besi termasuk ke dalam endapan sedimenter, karena mengalami proses:


1. perombakan

2. transportasi
3. pemilahan
4. pengkayaan.
Dari gambar di atas, tampak pasir besi yang berasal dari gunung berapi,
mengalir melewati sungai, berkumpul di sepanjang sungai (terutama pada lekukan
sungai), dan mengendap di sungai, muara, hingga menuju laut. Ombak yang menyapu
di sepanjang pantai membuat pasir besi terpilahkan dan menjadi butiran bebas, yang
terkayakan, dimana mineral dengan nilai specific gravity tinggi akan mengendap,
sedangkan mineral yang mempunyai nilai specific gravity rendah akan tercuci dan
terbuang. Proses ini terjadi berulang-ulang, sehingga bisa terbentuk menjadi endapan
pasir besi yang ditemukan di sungai maupun di pantai.

DAMPAK PENAMBANGAN PASIR BESI

1. Menurunnya kualitas udara


Pada tahap prakonstruksi tambang akibat kegiatan mobilisasi alat berat
diperkirakan perusahaan akan mengoperasikan 44 unit alat berat. Pada tahap ini
aktifitas yang dilakukan meliputi pembersihan lahan, pembuatan jalan tambang ,
pembangunan sarana tambang, pembangunan pengelolaan instalasi pasir besi,
dipastikan akan meningkatkan kadar debu di lingkungan sekitar. Intensitas ini
dipastikan akan bertambah pada tahap operasi tambang akibat pengupasan tanah
pucuk . selama tambang masih aktif beroperasi) tingkat polusi debu akan semakin
tinggi pada saat siang hari dimana angin bertiup dari laut ke arah daratan (pemukiman
warga, Desa Sukamenanti dan Way Hawang) Hal ini tentu saja akan menurunkan
tingkat kesehatan masyarakat, mereka terancam penyakit ISPA (Infeksi saluran
Pernafasan Akut) TBC, dan lain-lain.
2. Kebisingan
Kegiatan tambang pasir besi pada tahap prakonstruksi berupa mobilisasi alatalat berat berjumlah 44 unit. Dipastikan ini akan meningkatkan kebisingan di areal
tambang dan pemukiman masyarakat di jalan Way Hawang Sukamenanti. Tingkat
kebisingan akan semakin bertambah ketika operasional pertambangan mulai berjalan
normal
3. Menurunnya Kualitas Air
Kegiatan pertambangan dipastikan akan mengurangi kualitas air tanah (sumur)
dan kualitas air permukaan Danau Kembar dan Air Way Hawang pengolaan pasir besi
membutuhkan banyak air untuk diolah di Magnetic Separator, yang menghasilkan
pasir besi dan limbah dengan kapasitas air 225 m3/ jam. Limbah dari pengolaan ini
tentu akan mempengaruhi kadar air yang ada di sekitar pemukiman warga. Sumber
negatif lainnya adalah pengoperasian bengkel. Perawatan alat berat tambang pasir
besi dipastikan akan menghasilkan pelumas bekas sebanyak 58,49 liter per hari. Sisa
oli bekas ini jika tidak dikelola dengan baik akan dapat mencemari danau kembar dan
sumur warga, serta air laut di lingkungan tambang. Hal ini terbukti dibanyak
pertambangan yang dengan ceroboh membuang begitu saja pelumas bekas mereka ke
sungai atau berceceran di tanah.
4. Kerusakan Jalan

Jalur angkut perusahaan meliputi jalan Raya Desa Sukamenanti Desa Way
Hawang hingga Pelabuhan Linau. Jalan ini merupakan jalan negara dengan spesifikasi
III A atau dapat dilalui kendaraan dengan muatan maksimal 8 ton. Pada tahap
pengoperasian tambang setiap hari direncanakan 1500 – 2000 ton pasir besi
diangkut menggunakan truck penganggkut dengan kapasitas 20 ton per unit. Kondisi
ini akan dapat merusak jalan di sepanjang route pengangkutan sebab, maksimal berat
jalan route tersebut adalah 10 ton.
5. Aspek biologi
Kegiatan penambangan dipastikan merubah tipe vegetasi seluas 46,03 hektar
(total) dari vegetasi daratan seluas 16,02 hektar dan perairan Danau Kembar seluas
30,01 hektar kehilangan vegetasi penutup dipastikan akan menimbulkan abrasi.
Disamping itu pendapatan masyarakat dari berkebun, seperti kelapa, kelapa sawit,
tanaman padi juga ikut hilang.
6. Biota Air
Dampak terhadap biota air merupakan dampak tak langsung akibat kegiatan
tambang pasir besi. Sumber dampak berasal dari perubahan kulitas air akibat limbah
pengolahan pasir. Sumber lainnya adalah karena tirisan penumpukan pasir besi, air
limbah bekas pelumas dari kegiatan bengkel. Indeks keanekaragaman Danau Kembar
akan menurun dari kondisi awal 0,8 s/d 2, 48 untuk plankton dan 1,90 s/d 2,98 untuk
biota benthos. Kondisi ini akan menurunkan jumlah ikan, udang, kepiting, yang
merupakan mata pencaharian tambahan bagi masyarakat selain bertani. Lama dampak
berlangsung selama 15 s/d 18 tahun.
7. Pendapatan Masyarakat
Perusahaan mengklaim aktifitas pertambangan mereka dapat merekrut tenaga
kerja dari warga lokal, selanjutnya masyarakat sekitar tambang dapat membuka
warung dan sebagainya. Namun, perlu diingat sedikit sekali, jika tidak mau dikatakan
tidak ada, warga setempat yang memiliki keahlian di bidang pertambangan artinya,
mereka akan dijadikan buruh kasar saja, yang sewaktu-waktu dapat mereka PHK
dengan beragam alasan. Selain itu, proses ini akan membuat masyarakat
meninggalkan profesi asal mereka yang mungkin awalnya petani, nelayan, menjadi
pekerja buruh di perusahaan yang biasanya mereka tidak memiliki posisi tawar tinggi.

Wilayah penyebaran mineral Pasir Besi di NTT antara lain:


1. Terdapat di Desa Beur dan Gunung Kedang, Kecamatan Buyasuri,
Kabupaten

Lembata.

2. Terdapat di Pantai Utara dengan areal Kecamatan Talibura


Kecamatan Paga (Kandungan Fe : 5- - 94%), Kabupaten Sikka.
3.

Terdapat di Sebelah Teluk Bamu Wilayah Desa Riung, Kecamatan

Riung

dan Wolo Besi, Wolo Mbopo dan Wolo Rinding, Kecamatan Riung, Kabupaten
Ngada.
4. Terdapat di Pantai Utara Mamboro, Desa Wendewa dan Manuwalu, Kecamatan
Mamboro, Kabupaten Sumba Barat.
5. Terdapat di Pantai Selatan Pantai Nangakeo, Desa Bheramari, Kecamatan
Nangapanda, Kabupaten Ende.

d. Tembaga
Genesa Endapan Bijih Tembaga dibedakan atas 2 yaitu:
Genesa Primer
Logam tembaga, proses genesanya berada dalam lingkungan magmatik, yaitu
suatu proses yang berhubungan langsung dengan intrusi magma. Bila magma
mengkristal maka terbentuklah batuan beku atau produk-produk lain. Produk lain itu
dapat berupa mineral-mineral yang merupakan hasil suatu konsentrasi dari sejumlah
elemen-elemen minor yang terdapat dalam cairan sisa.
Pada keadaan tertentu magma dapat naik ke permukaan bumi melalui rekahanrekahan (bagian lemah dari batuan) membentuk terowongan (intrusi). Ketika mendekati
permukaan bumii, tekanan magma berkurang yang menyebabkan bahan volatile terlepas
dan temperatur yang turun menyebabkan bahan non volatile akan terinjeksi ke
permukaan lemah dari batuan samping (country rock) sehingga akan terbentuk pegmatite
dan hidrotermal.
Endapan pegmatite sering dijumpai berhubungan dengan batuan plutonik tapi
umumnya granit yang kaya akan unsur alkali, aluminium, kuarsa dan beberapa muskovit
dan biotit.

Endapan hidrotermal merupakan endapan yang terbentuk dari proses pembentukan


endapan pegmatite lebih lanjut, dimana larutan bertambah dingin dan encer. Cirri khas
endapan hidrotermal adalah urat yang mengandung sulfida yang terbentuk karena adanya
pengisian rekahan (fracture) atau celah pada batuan semula.
Endapan bijih tembaga porfiri merupakan suatu endapan bijih tembaga yang
mempunyai kadar rendah, tersebar relatif merata dengan jumlah cadangan yang besar.
Endapan bahan galian ini erat hubungannya dengan intrusi batuan Complex Subvolcanic
Calcaline yang bertekstur porfitik. Pada umumnya berkomposisi granodioritik, sebagian
terdeferensiasi ke batuan granitik dan monzonit. Bijih tersebar dalam bentuk urat-urat
sangat halus yang membentuk meshed network sehingga derajat mineralisasinya
merupakan fungsi dari derajat retakan yang terdapat pada batuan induknya (hosted rock).
Mineralisasi bijih sulfidanya menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan pola
ubahan hidrotermal.
Zona pengayaan pada endapan tembaga porfiri
- zona pelindian.
- Zona oksidasi.
- Zona pengayaan sekunder.
- Zona primer.
Sifat susunan mineral bijih endapan tembaga porfiri adalah:
- Mineral utama terdiri : pirit, kalkopirit dan bornit.
- Mineral ikutan terdiri : magnetit, hematite, ilmenit, rutil, enrgit, kubanit,
kasiterit, kuebnit dan emas.
- Mineral sekunder terdiri : hematite, kovelit, kalkosit, digenit dan tembaga
natif.
Akibat dari pembentukannya yang bersal dari intrusi hidrotermal maka
mineralisasi bijih tembaga porfiri berasosiasi dengan batuan metamorf kontak seperti
kuarsit, marmer dan skarn.
Genesa Sekunder
Dalam pembahasan mineral yang mengalami proses sekunder terutama akan
ditinjau proses ubahan (alteration) yang terjadi pada mineral-mineral urat (vein). Mineral
sulfida yang terdapat di alam mudah sekali mengalami perubahan. Mineral yang
mengalami oksidasi dan berubah menjadi mineral sulfida kebanyakan mempunyai sifat

larut dalam air. Akhirnya didapatkan suatu massa yang berongga terdiri dari kuarsa
berkarat yang disebut Gossan (penudung besi). Sedangkan material logam yang terlarut
akan mengendap kembali pada kedalaman yang lebih besar dan menimbulkan zona
pengayaan sekunder.
Pada zona diantara permukaan tanah dan muka air tanah berlangsung sirkulasi
udara dan air yang aktif, akibatnya sulfida-sulfida akan teroksidasi menjadi sulfat-sulfat
dan logam-logam dibawa serta dalam bentuk larutan, kecuali unsur besi. Larutan
mengandung logam tidak berpindah jauh sebelum proses pengendapan berlangsung.
Karbon dioksit akan mengendapkan unsur Cu sebagai malakit dan azurit. Disamping itu
akan terbentuk mineral lain seperti kuprit, gunative, hemimorfit dan angelesit. Sehingga
terkonsentrasi kandungan logam dan kandungan kaya bijih.
Apabila larutan mengandung logam terus bergerak ke bawah sampai zona air
tanah maka akan terjadi suatu proses perubahan dari proses oksidasi menjadi proses
reduksi, karena bahan air tanah pada umumnya kekurangan oksigen. Dengan demikian
terbentuklah suatu zona pengayaan sekunder yang dikontrol oleh afinitas bermacam
logam sulfida.
Logam tembaga mempunyai afinitas yang kuat terhadap belerang, dimana larutan
mengandung tembaga (Cu) akan membentuk seperti pirit dan kalkopirit yang kemudian
menghasilkan sulfida-sulfida sekunder yang sangat kaya dengan kandungan mineral
kovelit dan kalkosit. Dengan cara seperti ini terbentuk zona pengayaan sekunder yang
mengandung konsentrasi tembaga berkadar tinggi bila dibanding bijih primer.
Pembentukan bijih secara umum di alam melalui proses-proses sebagai berikut:
- Pembekuan. Larutan pembawa bijih akan mengalami pembekuan akibat
perubahan temperatur tekanan.
- Pelapukan. Akibat kontaknya dengan organisme dan atmosfer, maka
batuan akan mengalami pelapukan.
- Sedimentasi. Akibat pelapukan yang terus-menrus maka massa batuan
yang besar akan hancur dan tererosi kemudian tertransportasi ke daerah
lebih landai kemudian akan terjadi proses sedimentasi.
- Metamorfosa. Perubahan temperatur dan tekanan yang akan
mengakibatkan mineral yang terkandung dalam suatu batuan akan
membentuk mineral baru akibat proses alterasi.
Faktor-faktor yang mempengaruhipembentukan bijih :
- Perubahan temperatur.
- Perubahan tekanan.
-

Kondisi media transportasi.

Penambahan larutan sekunder.

yang

terorientasi

Kondisi kimia batuan induk.

- Aktifitas tektonik.
Wilayah penyebaran mineral Tembag di NTT antara lain:
1. Terdapat Fatukole, Fatu Noelsusu, Sebot, Kecamatan Molo Utara,
Kabupaten Timor Tengah Selatan
2. Terdapat Fatukas, Kecamatan Molo Selatan, Kabupaten Timor Tengah
Selatan.
3. Terdapat Sungai Noel Baun Daerah Nipol, Kecamatan Amanuban
Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
4. Terdapat Noel Uapnas dan Noel Bam (Teas), Kecamatan Amanatun
Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
5. Terdapat Pantai Utara antara Desa Hadaweka dan Laramatang P.
Lomblen, Kecamatan Labatukan, Kabupaten Lembata.
6. Terdapat Waipue Point dan Longohoni, Kecamatan Buyasuri, Kabupaten
Lembata.
7. Terdapat di Wolowaru, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende.
8. Pantai Utara Dualek, Baikatan, Busumuit, Baburlapan, Kecamatan
Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.
9. Pantai Utara Bineboma, Waisunak, Kecamatan Tasifeto Barat,
Kabupaten Belu.
10. Pantai Utara Turanin, Raimea, Waekuli, Kecamatan Lamaknen,
Kabupaten Belu.
11. Abbor, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Belu.
12. Terdapat di Sungai Bomara, Sungai Brakbuku (Wakapair), Kecamatan
Alor Barat Daya, Kabupaten Alor.

e. Timbal
Wilayah penyebaran mineral Tembag di NTT antara lain:
1. Terdapat di Hulu sungai W. Rango, Kecamatan Labatukan

Pulau

Lomblen, Kabupaten Lembata.


2. Terdapat 2 Km ke arah Tenggara Balauring, Kecamatan Omesuri

Pulau

Lomblen, Kabupaten Lembata.


3. Terdapat di Lailunggi, Ujung Selatan Bagaian Barat Pulau Sumba,
Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur.
4. Terdapat di Atnatang Buku, Desa Ombay, Kecamatan Pantai Timur,
Kabupaten Alor.

Gambar 3.14 Peta Potensi Sumber Mineral Non Logam Di Provinsi NTT
Komoditi :Barit, Basal, Batu Hias, Batu Apung
Kelompok :Mineral Industri, Bahan Bangunan, Batu Mulia, Bahan Bangunan

POTENSI NON LOGAM


Komoditi Batu Gamping
Kelompok Mineral Industri

POTENSI NON LOGAM


Komoditi (Kelompok)
Batusabak (Bahan Bangunan), Bentonit (Mineral Industri), Dasit (Bahan Bangunan),
Diorit (Bahan Bangunan), Dolomit (Mineral Industri), Felspar (Bahan Keramik),
Gipsum (Mineral Industri)

Komoditi (Kelompok)
Granit (Bahan Bangunan), Kalsedon (Batu Mulia),
Kaolin (Bahan Keramik), Kuarsit (Mineral Industri), Lempung (Bahan
Keramik)

Komoditi (Kelompok)
Marmer (Bahan Bangunan), Napal (Bahan Keramik), Obsidian (Bahan Keramik),
Oker (Mineral Indsutri)

Komoditi (Kelompok)
Pasir dan Sirtu (Bahan Bangunan)

Komoditi (Kelompok)
Pasir Kuarsa (Bahan Bangunan),
Toseki (Bahan Keramik), Trakhit (Bahan Keramik), Tras (Bahan Bangunan), Ultrabasa
(Bahan Bangunan),Zeolit (Mineral Industri)

1) Barit
terjadi karena berasosiasi dengan batu lempung. Digunakan untuk lumpur
pengeboran, industri cat, kertas dan plastic. Lokasi di Kabupaten Lembata dengan
cadangan diperkirakan sebesar 62.500m3.
2) Aragonit
Terjadi karena bersaosiasi dengan batu gamping. Berwarna coklat bening, bersifat
transparan, kristalisasi, kondisi stabil dan berubah menjadi kalsit. Digunakan untuk bahan
industri

kosmetik.

Lokasinya

di

Kabupaten

Kupang

dengan

cadangan

7.360.562m 3
Kabuaten Kupang dengan Cadangan : 7.360.562m2
Kabupaten Sumba Timur Cadangan : Tidak terdeteksi
3) Batu Gamping
Merupakan batuan pospat yang sebagian besar tersusun oleh mineral kalsium
karbonat (CaCo3). Digunakan untuk bahan baku terutama pembuatan semen Portland,
industri keramik, obat-obatan, dall. Lokasi terbanyak di Kabupaten Manggarai dengan
cadangan
5.558.771.299m3
Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Batu Gamping
No

Kabupate
n

Cadanga
n
Kupang
3.575.260.000 m2
TTS
41.233.125 m2
TTU
186.928.000 m2
Belu
2.279.400.000 m2
Alor
319.605.000 m2
Lembata
262.380.000 m2
Flores Timur
7.470.000 m2
Sikka
54.690.000 m2
Ende
7.698.000 m2
Ngada
37.000.000 m2
Manggarai
5.558.771.299 m2
Sumba Barat
4.708.606.782 m2
Sumba Timur
3.704.907.916 m2
Data : Dinas Pertambangan Provinsi NTT

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

.4) Batu hias/warna


Merupakan batuan sediment Zeolin yang berwarna hijau pucat hingga coklat
pucat dengan bentuk butir membulat tanggung yang diendapkan di daerah pantai
sebagai proses abrasi dan transportasi. Digunakan untuk ornament dan taman.
Lokasinya di Kabupaten Alor terbanyak dengan cadangan 26.000.000 m3

No
1.

Kabupaten

Cadangan

Kupang

10.359.750 m2

Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Batu Warna


2.

TTS

5.967.360 m2

3.

Alor

26.000.000 m2

4.

Ende

270.000 m2

5.

Sumba Timur

12.500 m2

Data : Dinas Pertambangan Provinsi NTT


5) Batu Sabak
Berasal dari serpih atau lempung, berbutir halus dan kecil, umumnya berwarna abuabu, hitam, ungu dan merah. Digunakan untuk papan tulis, bahan atap dan trotoar.
Lokasinya di Kabupaten Sumba Timur, cadangan sebesar 616.605.800 m3
6) Batu setengah permata
Merupakan mineral yang terbentuk secara alamiah, jarang ditemukan atau langka,
keras indah dan tahan terhadap reaksi kimia. Keindahannya berkaitan erat dengan
sifat-sifat optis dari batuan itu sendiri seperti daya dispersi (permainan warna).
Lokasinya terdapat di Kabupaten TTU dengan cadangan sebesar 148...750 m3
7). Bentonit
Merupakan bahan galian yang terdiri dari lempung monmorilonit, mempunyai sifat
mengembang apabila terkena air atau basah. Digunakan sebagai bahan pemutih/pemucat
minyak kelapa, sebagai lumpur penahan lubang bor agar tidak runtuh, lokasi bahan galian
di Kabupaten Ngada dengan cadangan sebesar 10.000 m3
8). Dolomit
Disebut juga kapur magnesium (magnesium limestone), terjadi apabila beberapa
unsure kalsit (Ca) dalam batu gamping di ganti oleh magnesium (mg), dengan
susunan kima CaMg (Co 3)2 Dolomit merupakan bahan pembuat

semen, bahan

refraktori dalam tungku pemanas/tungku pencair, bahan pupuk (unsure Mg) dan pengatur
Ph tanah, pengembangan dan pengisi cat, plastik dan kertas. Lokasinya terdapat di
Kabupaten TTS dengan cadangan 14.976.000 dan Manggarai dengan cadangan
350.000.000 m3
9). Feldspar
Merupakan pembentuk batuan seperti granit dan diorite, berwarna putih keabuabuan, hijau muda, dan kuning kotor. Digunakan untuk bahan porselin dan bedak
penggosok, sebagai fluk dalam industri keramik, gelas dan kaca, sebagai bahan pembuat

semen, bahan refraktori dalam tungku pemanas/tungku pencair, bahan pupuk (unsure
(Mg) dan pengatur Ph tanah, pengembangan dan pengisi cat, plastik dan kertas.
Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Feldspar
No

Kabupaten

Cadangan

1.

Ende

2.000 m2

2.

Sumba Timur

5.340.000 m2

3.

Manggarai

456.462.499 m2

Data : Dinas Pertambangan & Energi Provinsi NTT


10. Gipsum
Terbentuk sebagai akibat evaporasi (penguapan) air laut, berwarna putih bening
dengan sedikit pengotoran, kuning, abu-abu, merah dan jingga. Digunakan sebagai bahan
campuran semen Portland, bahan pengisi dan penetral keasaman tanah. Cadangan bahan
galian Gipsum paling banyak terdapat di Kabupaten Kupang, Alor, Flores Timur (daratan
Flors pada Umumnya) dan Kabupaten TTU.
Lokasi dan Cadangan Bahan Galian Gipsum.
No

Kabupate
n

1.

Kupang

2.

TTU

3.
Alor
4.
Flores Timur
Data : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTT

Cadanga
n
11.214.800 m2
6.000 m2

1.179.125 m2
182.850 m2

11). Kalsit
Merupakan mineral dengan senyawa CaCo3, terdapat dalam bentuk kristal, banyak
ditemukan di daerahsebaran batu gamping, dapat juga ditemukan dalam urat (Vein mineral)
dalam gua kapur (Stalakit dan Stalagmit), mata air panas (sebagai travertine) dalam
cangkang binatang koral, siput dan tiram (moluska), berwarna putih dan kuning, karet dan
alat-alat optik. Cadangan bahan galian kalsit banyak terdapat di Kabupaten Kupang sebesar
8.656.875 m3
12) kaolin
Merupakan massa batuan yang tersusun oleh mineral berukuran lempung dengan
kualitas tinggi dan dengan kandungan besi yang rendah, dan berwarna putih. Digunakan
dalam industrik keramik, cat, kosmetika, pasta gigi, detergen, farmasi, pestisida dll.
Cadangan bahan galian kaolin banyak terdapat di kabupaten alor sebesar 2.550.000 m3

13) lempung
Terjadi sebagai hasil pelapukan dari batuan asalnya (residual clay) ataupun karena
proses transportasi dan diendapkan (sedimentary clay). Digunakan sebagai bahan baku
dalam pembuatan semen portland dan dalam industri keramik, batu tahan api dll.
Cadangan bahan galian ini banyak terdapat di kabupaten sumba timur sebesar
4.238.608.698 m3
14) Oker
Merupakan endapan mineral yang berasosiasi dengan air panas dan banyak
mengandung besi sehingga berwarna merah. digunakan sebagai zat perwarna dalam
pembuatan cat dan tinta, industri kater dan kertas,.Permadani, tegel, bahan plastik serta
sebagai bahan untuk logam dan gelas. Cadangan bahan galian oker banyak terdapat di
Kabupaten Sumba Timur sebesar 2.534.614.750 m3.
15) Pasir Kuarsa
Merupakan mineral sebagai bahan pembentuk batuan bersifat asam seperti
granit berwarna putih bening, putih susu dan ungu (amethyst). Digunakan sebagai bahan
dalam industri gelas/kaca, optic, keramik dan abrasit. Lokasi galian ini terdapat di
Kabupaten Alor, dengan cadangan sebesar 1.250.000 m3.
16) Perlit
Merupakan batuan yang terbentuk karena magma kental mencapai permukaan dingin
dan membeku secara cepat dan berhubungan dengan suasana cair. Digunakan sebagai
bahan bangunan ringan (agregat konstruksi, campuran plester atau bangunan beton),
bahan isolator, bahan saringan, bahan pengisi, bahan pembawa dan sebagai bahan
peredam bunyi. Lokasi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Lembata, dengan
cadangan sebesar
17.370.000 m3.
17) Silika
Merupakan mineral yang mengisi urat-urat pada batu gamping dengan warna abuabusampai coklat kotor dan merupakan pecahan konkoidal. Digunakan dalam industri
metalurgi (refraktor), silikon, keramik, bahan abrasive dan permurnian logam. Lokasi
cadangan bahan galian silica banyak terdapat di Kabupaten Manggarai sebesar
518.150.000 m3.
18) Toseki
Merupakan hasil ubahan hidrotermal dan batuan tufa, berwarna putih agak kompak.
Digunakan sebagai bahan baku dan campuran keramik, refraktor, isolator, dll. Cadangan

bahan galian toseki ini banyak terdapat di Kabupaten Manggarai sebesar 13.365.000
m3.
19) Tras
Terbentuk sebagai hasil pelapukan bahan muntahan gunung api seperti abu, tuf, dan
pasir siliko. Digunakan sebagai bahan pembuatan batako dan bahan urugan, Cadangan
bahan galian
387.023.000

ini

banyak

terdapat

di

Kabupaten

Manggarai

sebesar

m3.

20) Zeolit
Merupakan nama sekelompok mineral almino silisic acid yang mengandung unsur
logam alkali seperti Al, Si, O, Na, K, Ca, dan Mg. Digunakan sebagai bahan
bangunan dan ornament, pembuatan semen puzolland dan semen portland, bahan agregat
ringan, bahan pengembang dan pengisi dalam industri kertas, karet dan

plastik,

sebagai pupuk dan makanan ternak, untuk mencegah pencemaran lingkungan dll. Potensi
terbesar ada di Kabupaten Ende dengan cadangan sebesar 29.705.000 m3.
21) Andesit
Merupakan batuan intermediate yang dihasilkan oleh pendinginan magma pada
permukaan bumi ataupun yang dihasilkan oleh aktifitas gunung api seperti lava atau
sebagai fragmen-fragmen pada batuan vulkanik, anglomerat dan lain-lain. Digunakan
untuk pembuatan jalan/jembatan, untuk pondasi bangunan ataupun sebagai material
konstruksi lainnya. Potensi bahan galian andesit di NTT terbesar terdapat di Kabupaten
Lembata dengan cadangan diperkirakan sebesar 73.735.000 m3.
22) Basalt
Terjadi kare4na pembekuan di permukaan bumi yang merupakan aliran lava
atau bongkah, berwarna hitam digunakan sebagai bahan agregat dan pondasi
bangunan.
Potensi ini banyak terdapat di Kabupaten Sumba Timur sebesar 307.020.000
m3.
23) Batu Apung
Merupakan bahan yang dihasilkan oleh letusan gunung api afusir yang kaya akan
silica atau buih kaca alam (rock froth), berwarna abu-abu terang hingga putih. Digunakan
untuk bahan baku pembuatan ampelas untuk logam, montar dan beton, bata ringan, bahan
tahan api, filter bahan cat, pasta gigi dan lain-lain. Bahan galian ini banyak
terdapat di Kabupaten Lembata sebesar 22.425.000 m3.

24) Batu Pasir


Marupakan batuan endapan klasik yang disemen dengan tuf, berwarna putih
kekuningan, dan berbutir halus. Digunakan sebagai bahan penggosok (abrasive). Lokasi
bahan galian ini
9.308.250

terdapat

di

Kabupaten

Kupang

dengan

cadangan

sebesar

m3.

25) Dasit
Merupakan batuan beku yang mengalami proses pendinginan/pembekuan magma
relative dekat dengan permukaan bumi (merupakan batuan intrusi dengan tubuh magma
yang besar), berbutir halus dan tekstur holokristalin. Digunakan sebagai bahan
bangunan. Bahan galian ini banyak terdapat di Kabupaten Flores Timur sebesar
41.091.900 m3.
26) Diorit
Merupakan batuan beku dalam yang mana mengalami proses pembekuan
magma di bawah permukaan sebagai akibat terobosan magma, berwarna abuabu,

tektur holokristalin dan berbutir halus. Digunakan untuk bahan bangunan

ubin/lantai, dinding dan ornament. Lokasi galian ini banyak terdapat di Kabupaten Sumba
Timur dengan cadangan sebesar 2.639.319.165 m3.
27) Fuller Earth
Merupakan jenis bahan galian yang digunakan untuk campuran semen,
yang diagenesanya merupakan hasil dari pelapukan batu gamping yang mengalami proses
pemadatan, tidak kompak dan bersifat lepas-lepas. Digunakan untuk campuran sewmen.
Lokasi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Manggarai dengan cadangan
sebesar
132.300.500 m3.
28) Granodiorit
Merupakan

batuan beku dalam

yang

mengalami

pembekuan

magma

di

bawah permukaan bumi (intrusi magma), berwarna putih keabuan, holokristalin, tersusun
atas mineral kwarsa feldspar. Potensi bahan galian ini terdapat di Kabupaten Sumba Timur
dengan perkiraan cadangan sebesar 317.500.000 m3.
29) Granit
Merupakan batuan terobosan yang bersifat asam, berbutir kasar hingga sedang,
berwarna terang (keabuan, kecoklatan dan kemerahan) terjadi sebagai hasil pembekuan

magma di bawah permukaan bumi dengan temperature yang stabil. Digunakan untuk
bahan baku pembuatan tegel, batu hias dll. Potensi bahan galian granit terdapat di
Kabupaten Sumba Timur dengan perkiraan cadangan sebesar 343.227.666 m3.
30) Marmer
Terbentuk sebagai proses malihan dari batuan gamping atau dolomite, dengan sifat
fisik keras, padat, kristalin, berwarna putih, merah (teroksidasi oleh fe), berwarna hijau
(mengandung serpentin) dan berwarna hitam (mengandung karbon). Digunakan untuk
dinding bangunan, lantai dan ornament lainnya. Potensi ini terdapat di Kabupaten
Manggarai, TTS dan TTU dengan cadangan sebesar 1.896.393.126 m3.
31) Sirtu
Merupakan

campuran

material

lepas

yang

berukuran

pasir,

kerikil

dan

kerakal. Digunakan untuk bahan bangunan pada campuran beton, material pondasi
bangunan, pengeras jalan dll. Potensi dan cadangan galian ini banyak terdapat di
Kabupaten Sumba Timur dengan cadangan sebesar 20.789.852 m3.
32) Tufa
Merupakan batuan piroklasik (hasil gunung api) yang terdiri dari pasir dan abu yang
mengalami pemadatan, terdiri atas fragmen gelas dan berbutir halus. Digunakan untuk
kerajinan jambangan, vas bunga, pembersih minyak bumi kasar. Potensi galian ini banyak
terdapat di Kabupaten Kupang dengan cadangan sebesar 149.400 m3.
3.3 Pemanfaatan Sumber Daya Mineral dalam pembangunan di NTT
Pemanfaatan sumber daya mineral sangat perlu untuk dilakukan, karena dapat
memberikan banyak keuntungan dalam berbagai sektor kehidupan. Namun di Propinsi NTT
pemanfaatan mengenai sumber daya khususnya sumber daya mineral masih sangat minim
dilakukan, hal ini disebabkan karena sumber daya manusia yamg masih rendah dan tidak
adanya industri industri besar yang berada diwilayah NTT untuk proses pengolahan lebih
lanjut mengenai mineral. Sumber daya mineral yang berada di NTT kebanyakan hanya
diekspor sebagai bahan baku industri hanya sebagian kecil mineral yang dapat diolah dan
dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pembangunan secara langsung di NTT.
Beberapa contoh pemanfaatan sumber daya mineral dalam pembangunan di NTT baik
secara langsung maupun tidak langsung :

1. Mangan
Pada umunya mineral mangan di NTT hanya dimanfaatkan sebagai salah satu sumber
pendapatan bagi pemerintah setempat, Mineral mangan diekspor keluar daerah berupa
bijih logam mangan ( bahan baku mentah). Proses pengolahan dari mineral ini dilakukan
di pulau Jawa menjadi berbagai bahan baku dalam pembuatan industri antara lain :
a. Campuran Alumunium
Aluminium dengan kadar mangan sekitar 1.5% mempunyai tingkat perlawanan yang
lebih tinggi melawan karatan dan kerusakan disebabkan oleh pembentukan urat yang
menyerap kotoran.
b. Untuk Industri Baterai Kering
Salah satu peran atau manfaat mno 2 (sebagai pirolusit) dalam baterai-sel kering
yaitu sebagai oksidator dan juga digunakan sebagai pendepolarisasi pada sel kering
baterai.
c. Pada industri pembuatan cat
Dioksidanya berguna untuk pembuatan oksigen dan klorin, dan dalam pengeringan
cat itam.
d. Industri las
Mangan sebagai bahan pembuat batang las.
e. Industri baja
Ferro Mangan dan Silico Mangan merupakan dua bentuk mangan yang banyak
digunakan industri baja.
2. Marmer
Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua
penampilan yaitu:
a. Tipe ordinario biasanya digunakan untuk pembuatan tempat mandi, meja-meja
toilet, lanati, dinding dan sebagainya.

b.

Tipe staturio sering dipakai untuk seni pahat dan patung.

4.Gypsum
Dalam Konstruksi meliputi :
a.

Untuk Pembuatan Dinding/Partisi

b.

Untuk Pembuatan interior bangunan

c.

Untukn Pembuat portland semen


Dalam Bidang Industri meliputi :
a.

b.

Bahan baku kapur tulis

Untuk Pembuatan Semen

5. Fosfat
Pada umumnya fosfat digunakan dalam industrI pembuatan pupuk, untuk pembuatan
superfosfat (pupuk) dan untuk pembuatan asam fosfat sebagai bahan pembuat minuman
bersoda. Batuan fosfat yang dilebur dengan kokas dan silica akan menghasilkan :
a.

Asam fosforik murni untuk imbuh makanan dan industri pasta gigi.

b.

Sodium tripolyfosfat (STPP) untuk detergen dan imbuh makanan.

c.

Asam fosfor untuk water treatment.

d.

Fosfor triklorid pestisida, penghambat api, plastizer untuk plastic.

6. Bentonit
Bidang Industri meliputi :
a. Digunakan sebagai Lumpur Bor
b. Pengecoran Logam
c. Bahan pencuci atau pemutih
d. Perdagangan Katalis dan Pemurnian Minyak

Bidang Konstruks meliputi :


a.

Untuk menunjang kekuatan dinding diafragma dan tembok/fondasi yang masuk ke

dalam tanah .
b. Penahan atau pengisi lubang, celah dan pori-pori batuan atau formasi di sekitar
dinding atau tembok/fondasi.
7. Tanah Diatomai
Kegunaan diatom adalah sebagai indikator untuk menemukan minyak bumi,
digunakan sebagai bahan peledak, campuran semen, bahan penggosok, bahan
isolasi dan pembuatan saringan.
8. Bauksit
1. Dalam bidang industri meliputi :
a. Bahan dasar pembuatan almunium.
b. Kandungan alumina yang terdapat di dalam mineral bauksit dapat dimanfaatkan
sebagai penyangga (buffer) katalis yang digunakan dalam proses Hydrotreating
yang bertujuan untuk menghilangkan pengotor-pengotor yang masih terdapat
pada minyak bumi seperti senyawa sulfur, nitrogen dan logam.
c. Bahan industry : keramik, logam, dan abrasive
2.Dalam bidang kontruksi : bauksit dapat dimanfaatkan untuk pembuatan perabotan
rumah tangga seperti wajan, panci dan lain-lain
3.4

Apa Dampak Linkungan Pada Kegiatan Pertambangan Di Ntt


Manusia akan mempertahankan hidupnya dengan cara mengelola dan memanfaatkan

alam sebagai sumber kebutuhannya. Segala aktifitas manusia dalam mengelola alaam
memiliki dampak positif langsung terhadap ketersediaan dan pemenuhan kebutuhan serta
kesejahteraan hidup manusia yang diperoleh dari alam. Namun ada hal lain yang muncul,
yaitu dampak negatif terhadap pemanfaatan alam yaitu terjadinya pengrusakan lingkungan
atau pengrusakan alam. Salah satu contoh kebutuhan hidup manusia yang juga begitu
penting tetapi sarat akan kerusakan lingkungan atau alam adalah pertambangan.
Kegiatan pertambangan dapat menimbulkan dampak positif maupun dampak
negatif. Termasuk sebagai dampak posostif adalah sumber devisa negara, sumber
pendapatan asli daerah, menciptakan lahan pekerjaan dan sebagainya. Sedangkan dampak
negatif dapat berupa bahaya kesehatan bagi masyarakat sekitar areal pertambangan,
kerusakan lingkungan hidup dan sebagainya.
Salah satu dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan adalah kerusakan
lahan atau lingkungan. Kerusakan lahan akibat pertambangan dapat terjadi selama kegiatan

penambangan,

maupun

pasca

tambang.

Perubahan

lingkungan

akibat

kegiatan

pertambangan dapat bersifat permanen atau tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula
(Dyahwanti, 2007).
Di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di kabupaten Timor Tengah
Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu merupakan kabupaten yang kaya akan
Sumber Daya Alam (SDA), salah satunya adalah Mangan. Mangan yang dihasilkan oleh
lingkungan tersebut merupakan bahan tambang yang sangat menggiurkan banyak orang.
Penduduk yang sebagian besar adalah petani menyewakan atau menjual tanah pertaniannya
untuk dijadikan lokasi penambangan mangan. Peluang pertambangan mangan ini mulai
mengggeser usaha pertanian tradisional ke upaya pertambangan tradisional. Dalam
pengembangannya , penambangan mangan memberikan dampak negatif akan kerusakan
sumber daya alam dan lingkungan karena kegiatan penambangan nyang dimulai dari tahap
pra penambangan, proses penambangan sampai pasca penambangan masih dilakukan secara
sederhana dan dalam kegiatan penambangannya masih mengunakan tenaga masyarakat
lokal sebagai pekerja utama sehingga pertambangan mangan umumnya memberikan
peluang penurunan kualitas lingkungan hidup dan dapat mempengaruhi kesehatan
masyarakat lokal.
Data studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) mengatakan bahwa,
komponen lingkungan yang diduga terkena dampak penting akibat dari kegiatan
penambangan mangan di kabupaten TTS, TTU, dan Belu sebagai berikut : Pada lingkungan
fisik dan kimiawi
a. Terjadinya peningkatan debu yang menyebabkan kualitas udara menurun,
sebagai akibat dari mobilisasi kendaraan proyek serta akibat tiupan angin jika
di lokasi tambang tersebut tidak ada vegetasi yang cukup.
b. Terjadinya peningkatan kebisingan karena akibat aktivitas penggunaan alatalat berat maupun lalulintas kendaraan proyek. Padahal sebelum ada
penambangan mangan, suasana di lokasi tersebut jauh dari kebisingan dan
mereka masih dapat menhirup udara segar karena selain arus lalu lintas yang
masih sedikit, juga masalah pohon yang bisa menahan karbondioksoda.
c. Terjadinya penurunan kualitas air dan kuantitas air (Debit air) sebagai akibat
dari pencucian mangan maupun karena vegetasi (pepohonan) yang dapat
menampung air telah ikut di tebang dalam tahap awal dari kegiatan
penambangan tersebut.

d. Terjadinya perubahan topografi atau morfologi (bentang lahan) yang


disebabkan oleh kegiatan penambangan maka daerah yang berbukit dapat
menjadi rata atau terjadi cekungan-cekungan pada daerah yang datar.

Gambar 2.1 perubahan topografi/morfologi akibat penambangan mangan di


kabupaten Belu
e. Peningkatan erosi tanah dan longsor sebagai akibat dari kegiatan penggalian
dan penebangan vegetasi sehingga lapisan tanah bagian atas atau top soil
menjadi saling lepas dan jika turun hujan maka akan semakin banyak
permukaan lahan yang terkikis oleh aliran air permukaan (run- off) ke daerah
yang lebih rendah dan jika terbawa masuk ke aliran sungai maka akan
menimbulkan pendangkalan sungai.

Gambar 2.2 Longsoran Mangan Di Dusun Manehat dan DusunTakarabat,


Lahurus
sss
f. Terjadinya perubahan pola tata guna lahan dimana sebelumnya digunakan
sebagai lahan usaha tani, telah beralih menjadi lahan penambangan, maupun
pembangunan sarana dan prasarana proyek penambangan itu sendiri.
g. Terjdinya penurunan kesuburan tanah akibat erosi maupun longsor dari
aktivitas penambangan.
h. Terjadinya perubahan nilai estetika lingkungan sebagai akibat dari kegiatan
penambangan dengan adanya lubang-lubang bekas tambang serta limbah

limbah padat yang berserakan menyebabkan pemandangan lingkungan yang


kurang menarik.
3.5 Pandangan Saudara

Tentang

Protes

Masyrakat

Terhadap

Industri

Pertambangan Di NTT
MASALAH tambang tak pernah lekang dari bumi NTT. Seperti.

Sebenarnya

masalah itu tidak terjadi jika saja masing-masing pihak bisa menahan diri. Tentunya tak ada
sebab, tak ada akibat. Tak ada asap kalau tak ada api. Semua pihak, baik masyarakat,
perusahaan, aparat pemerintah, termasuk TNI/Polri dan juga rohaniawan hendaknya benarbenar memahami dan menjalankan perannya masing-masing dengan baik dan benar.
Sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Kita tahu bahwa selalu saja masalah tambang itu terjadi lantaran status tanah yang
tidak jelas. Karena itu, pemerintah daerah sudah seharusnya mendata kembali lahan-lahan
yang merupakan milik pemerintah, lalu segera mengambil tindakan tegas, jika ada
masyarakat yang menguasai lahan milik pemerintah itu.
Jangan dibiarkan berlarut-larut hingga akhirnya masyarakat menguasai lahan
pemerintah, lalu membuat kebun, sawah, hingga permukiman selama bertahun-tahun.
Sehingga mereka merasa bahwa lahan itu adalah hak miliknya, bahkan ada yang sudah
mengantongi sertifikat hak milik. Karenanya ketika lahan itu hendak dipakai untuk kegiatan
pertambangan, maka masyarakat akan berteriak dan protes.
Sebaliknya, pemerintah juga jangan asal mengklaim bahwa seluruh tanah yang ada di
suatu wilayah itu sebagai hak miliknya sehingga lahan masyarakat adat pun demi
kepentingan tertentu lalu diklaim sebagai lahan negara dan akhirnya masyarakat diusir begitu
saja dari lahan adatnya. Sudah saatnya pemerintah mendata kembali status tanah yang ada di
wilayah masing-masing.
Sang investor pun diharapkan

menjalankan dan mengikuti seluruh prosedur

penambangan dengan baik dan benar sebelum, selama, hingga selesai penambangan dalam
satu wilayah agar tidak meninggalkan masalah. Pun membantu masyarakat seperti membuka
akses jalan, memperbaiki permukiman serta menyerap tenaga kerja lokal untuk kegiatan
pertambangan. Keterbukaan dan sosialisasi penting dilakukan agar tidak ada dusta di antara
kita

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas penulis menarik beberapa kesimpulan yaitu:
a. Mineral merupakan benda padat homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara
anorganik dan

mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu serta

mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.


b. Secara umum, proses pembentukan mineral, baik jenis logam maupun non-logam
dapat terbentuk karena proses mineralisasi yang diakibatkan oleh aktivitas magma, dan
mineral ekonomis selain karena aktivitas magma, juga dapat dihasilkan dari proses
alterasi, yaitu mineral hasil ubahan dari mineral yang telah ada karena suatu faktor.
c. Mineral yang berkaitan dengan batuan beku meliputi : alkali feldspar, bauksit, mika,
asbes. Mineral yang berkaitan dengan batuan sedimenSub Golongan A meliputi :
dolomit, kalsit, fosfat, rijang,gypsum. Sub Golongan B meliputi: Bentonit, Ball clay
dan Bond clay,Fire Clay dan Zeolit. Mineral yang berkaitan dengan batuan metamorft
meliputi: Kalsit, mika, kuarsit, grafit dan Wolastonit.
d. Sumber daya mineral yang berada di NTT kebanyakan hanya diekspor sebagai bahan
baku industri hanya sebagian kecil mineral yang dapat diolah dan dimanfaatkan
sebagai salah satu sumber pembangunan secara langsung di NTT. Contohnya : Mangan
: campuran almunium, indutri baterai kering, industri las,dan industri baja. Gypsum :
pembuatan dinding, interior bangunan, semen portland, bahan baku kapur tulis.
Fosfat : industri pembuatan pupuk . Bentonit : lumpur bor, pengencoran logam, bahan
pencuci . Tanah Diaotomai: indikator untuk menemukan minyak bumi, bahan peledak,
campuran semen. Bauksit: pembuatan almunium, industry keramik, logam dan
abrasive.
e. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan adalah kerusakan
lahan atau lingkungan. Kerusakan lahan akibat pertambangan dapat terjadi selama
kegiatan penambangan, maupun pasca tambang. Perubahan lingkungan akibat kegiatan
pertambangan dapat bersifat permanen atau tidak dapat dikembalikan pada keadaan
semula. Di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di kabupaten Timor
Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU) dan Belu merupakan kabupaten
yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), salah satunya adalah Mangan. Peluang
pertambangan mangan ini mulai mengggeser usaha pertanian tradisional ke upaya
pertambangan tradisional. Dalam pengembangannya , penambangan mangan
memberikan dampak negatif akan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan seperti
: Terjadinya peningkatan debu, terjadinya peningkatan kebisingan karena akibat
aktivitas penggunaan alat-alat berat maupun lalulintas kendaraan proyek, terjadinya

penurunan kualitas air dan kuantitas air (Debit air), Terjadinya perubahan topografi
atau morfologi (bentang lahan)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1987. Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C beserta Petunjuk


Pelaksanaannya, Propinsi Dati I Jawa Tengah, Semarang.
Anonim, 1987. Feasibility Study Industri Kaolin di Yogyakarta, Dinas Perindustrian dan
Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.
Anonim, 1987. Bahan Galian Industri Granit dan Andesir-PPTM Bandung.
Basari, S, 1967. Bahan-Bahan Galian di Indonesia Sebagai Bahan Baku Bangunan. Dirjen
Cipta Karya-B andung.
Bisri, K., l98l'. Bahan Galian Industri Feldspar, PPTN-Bandung.
http://denyrebel.blogspot.com/2011/04/dampak-kerusakan-lingkungan-akibatpenambangan.html
http://www.academia .edu/2576516/mangan
http://naifherry.blogspot.com/2013/02/pertambangan-mangan-menjawab-atau.html
Sukandarrumidi, 1998; Bahan Galian Industri Fakultas Teknik Universitas Gajah MadaYogyakarta
Harsoyo, D., Dohar, S. dan Darmoko, S., 1992. Pertambangan Bauksit (dalam Pengantar
Pertambangan) Indonesia Asos. Pertamb. Indonesia. Jakarta, hal. 416-440.