Anda di halaman 1dari 8

Jamur Metarhizium anisopliae

Metarhizium anisopliae
Klasifikasi Metarhizium anisopliae
Taksonomi dan morfologi
Kingdom
: Fungi
Divisi
: Eumycota
Kelas
: Deuteromycetes
Ordo
: Moniliales
Famili
: Moniliaceae
Genus
: Metarhizium
Spesies
: Metarhizium anisopliae (Ainsworth, 1973)

Gambar 1. Morfologi konidia Metarhizium


Morfologi dari Metarhizium yang telah banyak diketahui yaitu konidiofor tumbuh tegak, spora berbentuk silinder
atau lonjong dengan panjang 6-16 mm, warna hialin, bersel satu, massa spora berwarna hijau
zaitun. Metarhizium sp. tumbuh pada pH 3,3-8,5 dan memerlukan kelembaban tinggi. Radiasi sinar matahari
dapat menyebabkan kerusakan pada spora. Suhu optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan spora
berkisar pada 25-30oC. Metarhiziummempunyai miselia yang bersepta, dengan konidia yang berbentuk
lonjong. Metarhizium anisopliae bersifat saprofit pada media buatan, awal mula pertumbuahannya adalah
tumbuhnya konidium yang membengkak dan mengeluarkan tabung-tabung kecambah (Anonymous,1999).

Gambar 2. Koloni Metarhizium anisopliae


Tabung kecambah tersebut memanjang dan memanjang selama 30 jam. Beberapa cabang tersebut membesar
kearah atas membentuk konidiofor yang pendek, bercabang, berdekatan dan saling melilit. Konidia terbentuk
setelah satu minggu pertumbuhan, mula-mula berwarna putih kemudian berangsur menjadi hijau apabila telah
masak. Pembentukan konidia terdiri dari kuncup dan tunas yang memanjang pada kedua sisi konidiofor
tersebut. Umumnya sebuah rantai konidia bersatu membentuk sebuah kerak dalam media (Gabriel dan Riyatno,
1989).

Gambar 3. Konidia Metarhizium anisopliae


Spesias pertama genus Metarhizium (Subdivision Deteromycotina; Class Hyphomycetes; Order
Moniliales). Metarhizium anisopliae, diisolasi dari serangga Coleoptera spesies Anisopliae austriacaI oleh
Metchnikoff pada tahun 1878. Metarhizium spp. biasanya ada dimana-mana di seluruh dunia dalam fase yang
berbeda-beda, yaitu diantara fase saprofit tanah dan fase patogen pada serangga. Metarhizium spp.
(termasuk M. anisopliae, M. flavoviride, M. albumdan M. brunneum) secara umum mempunyai sasaran inang
yang luas.
Dibawah kondisi alami, Metarhizium spp menghasilkan dua jenis spora. Aerial conidia yang dihasilkan pada
phialid-phialid selama fase saprofitik atau pada inang yang telah mati, dan didefinisikan sebagai spora-spora
aseksual yang dihasilkan pada sporogenous dan hifa khusus yang dikenal sebagai phialid. Tipe spora yang
kedua adalah spora yang dihasilkan di hemolymph serangga yang biasanya disebut
blastospora(Taborsky,1992).
Mekanisme Kerja Metarhizium anisopliae
Ellyda (1982) memberikan contoh dengan menaburkan Metarhizium anisopliaesecara merata pada sarang O.
rhinoceros dengan kedalaman 25-30 cm sebanyak 15-20 gr/m2 ternyata dapat mematikan larva O.
rhinoceros sebanyak 52%.
Dalam hal ini kontak langsung antara konidia dengan tubuh memegang peranan dalam penularan, karena
menghasilkan patogenisitas terbanyak adalah dengan kontak langsung (Zelazny, 1988). Bila larva memakan
ransum yang dicampur dengan M. anisopliae maka tinja yang dikeluarkan akan mengandung konidia. Hal ini
dapat membantu penyebaran M. anisopliae (Sungkowo, 1985),Metarhizium anisopliae terbukti cukup aman
terhadap hewan yaitu, tikus sehingga aman utuk digunakan dalam pengendalian hama secara mikrobiologi
(Gabriel dan Riyatno, 1989)

Gambar 4. Stadia awal dari ulat yang terinfeksi Metarhizium , dimana hifa membentuk apressorium, yang
mempunyai enzim untuk menghancurkan kutikula.
Roberts (1981) menyatakan bahwa perkembangan penyakit akibat serangan M. anisopliae pada serangga dapat
dibagi dalam sembilan tahap:
1. Penempelan bagian infektif yaitu konidia pada kutikula serangga.
2. Perkecambahan konidia pada kutikula.
3. Penetrasi tabung kecambah atau apresorium ke dalam kutikula.
4. Perbanyakan hifa pada haemocoel.
5. Produksi toksin yang dapat merusak struktur membran sel.
6. Kematian inang.
7. Pertumbuhan dalam fase miselium dengan penyebaran miselium ke seluruh organ tubuh serangga.
8. Penetrasi hifa dari kutikula keluar tubuh serangga
9. Produksi bagian infektif (konidia) di luar tubuh serangga.
Dinyatakan bahwa jamur Metarhizium anisopliae memiliki aktivitas larvisidal karena menghasilkan cyclopeptida,
destruxin A, B, C, D, E dandesmethyldestruxin B.9 Destruxin telah dipertimbangkan sebagai bahan insektisida
generasi baru. Mittler (1994) dalam Widiyanti dan Muyadihardja menyatakan bahwa efek destruxin berpengaruh
pada organella sel target (mitokondria, retikulum endoplasma dan membran nukleus), menyebabkan paralisa sel
dan kelainan fungsi lambung tengah, tubulus malphigi, hemocyt dan jaringan.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan
Suhu Dan Kelembaban
Pertumbuhan dan perkembangan Metarhizium anisopliae sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan antara
lain suhu, sinar matahari, pH dan kelembaban (Soenardi, 1978).
Suhu dan kelembaban sangat mempengaruhi pertumbuhan jamur Metarhiziumterutama untuk pertumbuhan dan
perkecambahan konidia serta patogenesitasnya. Batasan suhu untuk pertumbuhan jamur antara 5-35oC,
pertumbuhan optimal terjadi pada suhu 23-25oC. Konidia akan tumbuh dengan baik dan maksimum pada
kelembaban 80-92 persen (Burges dan Hussey, 1971).
Sinar Matahari
Perkembangan konidia jamur M. anisopliae dapat terhambat apabila terkena sinar matahari secara langsung.
Konidia tidak akan mampu berkecambah apabila terkena sinar matahari langsung selama satu minggu,
sedangkan konidia yang terlindung dari sinar matahari mempunyai viabilitas yang tinggi meskipun disimpan lebih
dari tiga minggu (Storey dan Garner, 1988). Pada suhu 8oC konidia yang disimpan pada kondisi gelap selama 35 hari masih mampu berkecambah 90%, sedangkan pada keadaan terang hanya 50% (Clerk dan
Madelin dalam Wiryadiputra, 1985).

Gambar 3. Perkecambahan Metarhizium anisopliae


Derajat Keasaman (pH)
Dalam beberapa penelitian pH media berpengaruh tehadap pertumbuhan jamurMetarhizium. Tingkat pH yang
sesuai berkisar antara 3,3-8,5, sedangkan pertumbuhan optimal terjadi pada pH 6,5 (Burges, 1981).
Kebutuhan Nutrisi Jamur Metarhizium anisopliae
Ferron (1981) berpendapat bahwa sumber nutrisi dapat berpengaruh pada pertumbuhan jamur entomopatogen.
Inglod (1962) menyebutkan bahwa media jamur harus mengandung subtansi organik sebagai sumber C, sumber
N, ion anorganik dalam jumlah yang cukup sebagai pemasok pertumbuhan dan sumber vitamin. Metarhizium
anisopliae juga memerlukan karbohidrat sebagai sumber karbon dalam pertumbuhannya. Sejumlah penelitian
menurut (Bilgrami dan Verma (1981) menunjukkan bahwa penggunaan karbohidrat tinggi mendorong
pertumbuhan vegetatif jamur.
Pembentukan konidia jamur dipengaruhi oleh kandungan protein dalam media. Protein diperlukan untuk
pembentukan organel yang berperan dalam pembentukan apikal hifa dan sintesis enzim yang diperlukan selama
proses tersebut dan enzim juga berperan dalam aktivitas perkecambahan dan protein yang diserap dalam bentuk
asam amino (Garraway dan Evans, 1984).
Jamur entomopatogen membutuhkan oksigen, air dan sumber organik karbon dan energi. Sumber nitrogen baik
organik maupun anorganik dan bahan tambahan lain berupa mineral maupun pemacu tumbuh juga diperlukan.
Sumber karbon yang biasa digunakan sebagai media adalah dekstrose namun dapat diganti dengan polisakarida

seperti tajin atau lipid. Nitrogen dapat disediakan dalam bentuk nitrat, amonia atau bahan organik seperti asam
amino atau protein. Makronutrisi penting yang lain adalah phospor (dalam bentuk phospat), potassium,
magnesium dan sulfur ( yang disediakan dalam bentuk sulfat maupun dalam bentuk organik, cystein atau
methionine). Mikronutrisi penting yang dibutuhkan oleh kebanyakan jamur entomopatogen adalah kalsium, besi,
tembaga, mangan, molybdenum, zinc dan vitamin B komplek, khususnya biothine dan thiamine. Semua
mikronutrisi ini biasanya terdapat dalam bahan mentah, akan tetapi dapat dipenuhi dalam bentuk protein hidrolisat
atau ekstrak yeast (Taborsky, 1992).
Produksi Metarhizium Skala Kecil
Isolat Metarhiziun anisopliae harus diambil dari inang kemudian ditanam pada media sabouraud cair. Inkubasi
media cair dilakukan sampai delapan hari, kepadatan spora dapat mencapai 3,19 x 1010.
Kondisi cahaya terang maupun gelap tidak berpengaruh pada produksi massal konidia dan temperatur adalah
faktor penting untuk menghasilkan konidia. Setelah 6 hari temperatur yang baik untuk
pertumbuhan Metarhizium adalah 24-25oC dan selanjutnya dapat diturunkan sampai pada temperatur 22-20oC
(Taborsky, 1992).
Fase Pertumbuhan Jamur
Gandjar dan Sjamsuridzal (2006) menyatakan bahwa setiap organisme, termasuk jamur mempunyai kurva
pertumbuhan, begitu pula fungi. Kurva tersebut diperoleh dari menghitung massa sel dalam waktu tertentu.
Kurva pertumbuhan mempunyai beberapa fase antara lain :
1. Fase lag, yaitu fase penyesuaian sel-sel dengan lingkungan dan pembentukan enzim-enzim untuk
mengurai substrat.
2. Fase akselerasi, yaitu fase mulainya sel-sel membelah dan fase lag menjadi fase aktif.
3. Fase eksponensial, merupakan fase perbanyakan jumlah sel yang sangat banyak, aktifitas sel sangat
meningkat, dan fase ini merupakan fase yang penting dalam kehidupan fungi.
4. Fase deselerasi (Moore-landecker, 1996), yaitu fase dimana sel-sel kurang aktif membelah.
5. Fase stasioner, yaitu fase dimana jumlah sel yang bertambah dan jumlah sel yang mati relatif seimbang.
Kurva pada fase ini merupakan garis lurus yang horizontal.
6. Fase kematian dipercepat, jumlah sel-sel yang mati atau tidak aktif lebih banyak daripada sel-sel yang
masih hidup.

Perbanyakan Metarhizium
Para ilmuan menyediakan studi bentuk baru dari jamur untuk pestisida-pestisida biologi yang lebih baik.
Metarhizium anisopliae adalah yang mungkin tidak terpikirkan berada disekitar. Sebagai pengganti tumbuh pada
roti atau tirai-tirai kamar mandi, lebih menyukai badan-badan kutu dan hama-hama serangga, seperti rayap,
belalang, lalat tsetse, dan lainnya.
Memang, sebuah strain metarhizium yang diberi nama "F52" adalah bahan aktif utama dalam empat yang
didaftarkan secara federal sebagai produk mycoinsektisida untuk mengendalikan tubuh halus dari kutu-kutu dan
kumbang-kumbang dan kumbang-kumbang penggerek.
Saat ini, mycoinsektisida-mycoinsektisida menjadi lebih baik untuk serangga-serangga hama yang mendiami
tanah-dapat menjadi tersedia, terima kasih pada penemuan ilmuan-ilmuan ARS yang mana Metarhizium dapat
menghasilkan gumpalan-gumpalan khusus dari sel-sel jamur yang disebut "microscerotia".
Pelayanan Penelitian Pertanian mikrobiologi Mark A. Jackson dan ahli entomologi Stefan Jaronski menghasilkan
penemuan pada tahun 2004 dan sejak itu berkembang metode yang jelas yang dinantikan dari pengadukan
bermilyar-milyar microsclerotia didalam tong-tong yang disebut fermentor.
Membuat Jamur Lebih Banyak dan Kuat
Sebelum dua penemuan, hanya penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur seperti Sclerotinia
sclerotiorum dilaporkan untuk menghasilkan microsclerotia-tidak pada pernafasan serangga yang terinfeksi.
kita menemukan dengan Metarhizium yang dapat menghasilkan tubuh-tubuh sclerotial pada biakan cair dibawah
kondis-kondisi yang sesuai, Jackson mengatakan, dengan Pusat Nasional milik ARS untuk Penelitian
Pemanfaatan Pertanian di Peoria,Illionis. Penggunaan dari ini adalah bahwa kita sekarang dapat membuat
sebuah bentuk dari jamur ini yang dapat bertahan kering dan pada penyimpanan untuk pemakaian yang mudah
oleh para petani pada tanah untuk membunuh serangga.

Secara tradisional, bentuk terpilih untuk membuat mycoinsektisida dari konidia, atau spora, dimana tabungtabung tipis mempenetrasi inang serangga diluar kulit, atau kutikula. Jamur hanya menginfeksi inang serangga
yang cocok, bagaimanapun, dan tidak pernah menginfeksi manuasia, binatang peliharaan, atau peternakan.
Konidia Metarhizium adalah seperti bom waktu kecil. Jaronski menjelaskan, dengan laboratorium penelitian
Pertanian Daratan Utara milik ARS di Sidney, Montana. mereka tidak berkecambah sampai mereka kontak
dengan kutikula serangga. Kemudian, mereka menggunakan sebuah kombinasi tekanan mekanik dan enzimenzim minuman keras untuk pemutusan kutikula dan menyerang sistem circulatory serangga. Serangga yang
terinfeksi selalu mati dalam beberapa hari.
Dalam sebuah pendekatan produksi standard, Metarhizium ditumbuhkan pada pakan-pakan nutrisi yang disebut
subsrat padat. Jamur ini menghasilkan konidia yang berlimpah, yang mana kemudian dikumpulkan, dikeringkan,
dan diselimuti pada atas butiran dibuat dari bubur jagung atau pembawa butiran lainnya atau dicampurkan secara
langsung kedalam tanah. Tetapi pendekatan substrat padat adalah membutuhkan waktu dan tenaga yang intensif
untuk tujuan ini, catatan Jackson.
Microsklerotia-ikatan-ikatan rapat serabut-serabut yang berpigmen yang menyerupai lapisan atas cabai adalah
bentuk kuat dari jamur. Selain itu, mereka menyediakan tempat tinggal yang aman yang mana
konidia Metarhizium dapat dengan mudah menghasilkan untuk menginfeksi serangga yang begitu dekat yang
merayap di dalam tanah.
Jaronski mengatakan peneliti-peneliti lainnya menghasilkan butiran-butiran dari pengering udara, miselium regular
(badan utama dari jamur) atau miselium encapsulated di dalam sebuah polimer. Tetapi bentuk-bentuk ini sulit
bertahan dari rak kehidupan yang miskin atau biaya yang terlalu banyak untuk kebanyakan petani.

Lebih Murah dan Lebih Cepat, Juga


Dalam studi-studi di Sidney menggunakan strain Metarhizium F52, konidia hanya butiran-butiran yang
berkecambah 7-10 hari setelah diaplikasikan pada tanah. Formulasi-formulasi berdasar mikrosklerotia
berkecambah dalam 4 hari dan menghasilkan sejumlah besar spora.
Penghargaan Jackson sebagian mikrosklerotianya meningkatkan tingkat perkecambahan pada kemampuan
jamur untuk mentoleransi uap lembab tanah yang lebih rendah. Faktor lainnya mungkin jumlah mikrosklerotia tipis
yang dihasilkan dan diaplikasikan pada tanah menggunakan tehnik biakan cair dimana dia dan Jaronski
mengembangkan.
Tingkat produksi mikrosklerotia para peneliti saat ini adalah 30 gram biomasa jamur basah (bahan fermentasi
yang berisi sel-sel jamur) per liter dalam sekitar 4 hari. Sistem-sistem substrat padat, sebagai perbandingan,
menggunakan waktu 2 minggu untuk menghasilkan dalam jumlah banyak konidia yang komersial, dan
selanjutnya dibutuhkan untuk mempersiapkan butiran-butiran. Jackson mengatakan sistem substrat padat
tempatnya di dalam produksi beberapa jamur, tetapi lebih mahal.
Mikrosklerotia dapat juga diformulasikan kedalam butiran-butiran dan mengukurnya lebih mudah daripada
formulasi-formulasi yang berdasar pada konidia. Ini membuat mikrosklerotia lebih sesuai dengan para petani,
pengusaha bibit dan para aplikator pestisida butiran. Para pembuat biopestisida juga berpendirian pada
keuntungan: Jaronski mengatakan menggunakan mikrosklerotia akan menyediakan perusahaan-perusahaan
yang membuat mycoinsektisida untuk dapat masuk ke dalam pasar dimana, nyata, ukuran dan bentuk produknya
dijaga oleh mereka. Dia menambahakan butiran mikrosklerotia harus juga dengan mudah memenuhi syarat
untuk pasar hasil organik, oleh karena bahan-bahan pengikat menggunakan dengan pembawa-pembawa butiran
konvensional tidak memmenuhi syarat butiran-butiran tersebut.

Sebuah Jamur Tandingan untuk Belatung


Sejak 2004, Jaronski mempunyai tim dengan para peneliti Universitas Kota Dakota Utara di Fargo untuk uji
butiran-butiran bubur jagung yang diselimuti konidia F52 terhadap spesies lalatTetanops myopaeformis, yang
mana tahapan belatung adalah tahap hama tertinggi pada gula bit nasional.

Hasil uji-ujinya yang mendorong, terutama ketika Metarhizium dikombinasikan dengan tanaman-tanaman penutup
oat atau gandum hitam sebagai bagian dari sebuah pendekatan pengelolaan hama terpadu. (lihat Beeting Back
The Enemy, Agriculture Research, Sept. 2006, pp. 16-17.).
Jaronski melaporkan dibawah tekanan serangga yang rendah, jamur ini bekerja sebaik insektisida terbufos,.
Untuk tekanan serangga yang tinggi, kami melihat pada keterpaduan jamur ini dengan sebuah kehidupan
tanaman penutup. Sejauh ini, dua diberikan oleh kami perlindungan yang nyata dengan tidak ada hasil yang
hilang.
Pada tahun 2006, Jaronski mulai membandingkan hanya butiran-butiran bubur jagung dengan yang berdasar
pada mikrosklerotia didapat dari metode biakan cair untuk yang mana ARS mencatat secara jelas pada
September 2007.
Di dalam pengujian laboratorium, sekitar 25 persen belatung akar gula bit dibuka pada spora-spora yang
dihasilkan pada butiran-butiran bubur jagung pada tanah-tanah liat yang telah mati selama 3 minggu. Pada tanah
yang diperlakukan dengan mikrosklerotia, 100 persen telah mati pada minggu pertama. Observasi ini
menggambarkan lebih cepat dan lebih besarnya produksi konidia oleh mikrosklerotia di dalam tanah. Selam
percobaan-percobaan lahan tahun 2007, gula bit-gula bit dalam plot-plot yang diperlakukan mikrosklerotia juga
mendapat bekas yang lebih kecil dari pemberian makan belatung.
Cukup mengherankan, para peneliti tidak sukses dalam penggunaan tehnik biakan cairnya untuk menghasilkan
mikrosklerotia dari jamur yang membunuh serangga lainnya digunakan sebagai agen-agen pengendali biologikhususnya Beauveria bassiana dan Paecilomyces fumosoroseus. Tetapi mereka dapat menghasilkan
mikrosklerotia dengan beberapa strain-strain berbeda dari jamur Metarhizium.
Jaronski mengatakan bahwa satu dari hal-hal aneh tentang mikrosklerotia ini. Jaronski mengatakan proses
untuk menghasilkannya hanya bekerja dengan Metarhizium. Bahwa tidak dihalangi sebuah pembuat biopestisida
utama dari pengambilan peringatan, terlebih dahulu. tehnik dapat diaplikasikan tidak hanya untuk belatung akar
gula bit, tetapi untuk beberapa hama yang tinggal di tanah diserang oleh jamur ini.
Sumber: Agriculture Research/September 2008

Analisis Artikel
Jamur Metarhizium anisopliae merupakan salah satu jamur entomopatogen yang potensial untuk dikembangkan
sebagai pengendali serangga. jamur ini bersifat parasit pada beberapa jenis serangga dan bersifat parasit di
dalam tanah.
Mekanisme infeksi M. anisopliae menurut Ferron (1985 dalam Kumbara, 2008) dapat digolongkan
menjadi empat tahapan etologi penyakit serangga yang disebabkan oleh cendawan. Tahap pertama adalah
inokulasi, yaitu kontak antara propagul cendawan dengan tubuh serangga. Propagul cendawan M.
anisopliae berupa konidia karena merupakan cendawan yang berkembang baik secara tidak sempurna. Dalam
proses ini, senyawa mukopolisakarida memegang peranan penting. Tahap kedua adalah proses penempelan dan
perkecambahan propagul cendawan pada integumen serangga. Kelembapan udara yang tinggi dan bahkan
kadang-kadang air diperlukan untuk perkecambahan propagul cendawan. Cendawan pada tahap ini dapat
memanfaatkan senyawa-senyawa yang terdapat pada integumen.
Tahap ketiga yaitu penetrasi dan invasi. Cendawan dalam melakukan penetrasi menembus integumen
dapat membentuk tabung kecambah (appresorium) (Bidochka et al., 2000 dalam Kumbara, 2008). Titik penetrasi
sangat dipengaruhi oleh konfigurasi morfologi integumen. Penembusan dilakukan secara mekanis atau kimiawi
dengan mengeluarkan enzim dan toksin. Tahap keempat yaitu destruksi pada titik penetrasi dan terbentuknya
blastospora yang kemudian beredar ke dalam hemolimfa dan membentuk hifa sekunder untuk menyerang
jaringan lainnya (Strack, 2003 dalam kumbara, 2008). Pada umumnya serangga sudah mati sebelum proliferasi
blastospora. Enam senyawa enzim dikeluarkan oleh M. anisopliae yaitu lipase, khitinase, amilase, proteinase,
pospatase, dan esterase (Freimoser et al., 2003 dalam kumbara, 2008).

Gambar 1. Serangga yang terserang jamur Metarhizium


anisopliae (Deptan, 2008).

Serangga juga mengembangkan sistem pertahanan diri dengan cara fagositosis atau enkapsulasi
dengan membentuk granuloma. Pada waktu serangga mati, fase perkembangan saprofit cendawan dimulai
dengan penyerangan jaringan dan berakhir dengan pembentukan organ reproduksi. Pada umumnya semua
jaringan dan cairan tubuh seranggga habis digunakan oleh cendawan, sehingga serangga mati dengan tubuh
yang mengeras seperti mumi. Pertumbuhan cendawan diikuti dengan pengeluaran pigmen atau toxin yang dapat
melindungi serangga dari serangan mikroorganisme lain terutama bakteri. Tidak selalu cendawan tumbuh ke luar
menembus integumen serangga. Apabila keadaan kurang mendukung, perkembangan saprofit hanya
berlangsung di dalam jasad serangga tanpa ke luar menembus integumen. Dalam hal ini cendawan membentuk
struktur khusus untuk dapat bertahan, yaitu arthrospora (Ferron, 1985 dalam Kumbara, 2008).

BAHAN DAN CARA PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK


Dalam tulisan sebelumnya telah kami bahas mengenai cara kerja,kelemahan dan keunggulan pestisida organik.
nah dalam artikel kali ini kami ingin membagi tentang bahan pestisida organik dan cara pembuatannya, dibawah
ini beberapa bahan pestisida organik dan cara pembuatannya:
Tembakau Nicotium tabacum)
Tembakau diambil batang atau daunnya untuk digunakan sebagai bahan pestisida alami. Caranya rendam batang
atau daun tembakau selama 3 4 hari, atau bias juga dengan direbus selama 15 menit. Kemudian biarkan dingin
lalu saring. Air hasil saringan ini bisa digunakan untuk mengusir berbagai jenis hama tanaman.
Tuba, Jenu (Derriseleptica)
Bahan yang digunakan bisa dari akar dan kulit kayu. Caranya dengan menumbuk bahan tersebut sampai betulbetul hancur. Kemudian campur dengan air untuk dibuat ekstrak. Campur setiap 6 (enam) sendok makan ekstrak
tersebut dengan 3 liter air. Campuran ini bisa digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman.
Temu-temuan (Temu Hitam, Kencur, Kunyit)
Bahan diambil dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk halus dengan dicampur urine (air kencing) sapi.
Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 2 6 liter. Gunakan untuk mengendalikan berbagai
jenis serangga penyerang tanaman.
Kucai (Allium schonaoresum)
Kalau menggunakan kucai, cara meramunya adalah dengan menyeduhnya, yang kemudian didinginkan.
Kemudian saring. Air saringannya ini mampu untuk memberantas hama yang biasanya menyerang tanaman
mentimun
Bunga Camomil (Chamaemelum spp)
Bunga yang sudah kering diseduh, kemudian dinginkan dan saring. Gunakan air saringan tersebut untuk
mencegah damping off atau penyakit rebah.
Bawang Putih (Allium sativum)
Bawang putih secara alami akan menolak banyak serangga. Tanamlah di sekitar pohon buah dan lahan sayuran
untuk membantu mengurangi masalah-masalah serangga. Bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai
dan cabai, digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan
deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup. Simpan di tempat yang dingin selama 7 10 hari. Bila ingin
menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air. Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai hama
tanaman, khususnya hortikultura.
Abu
Kayu
Abu sisa bakaran kayu ditaburkan di sekeliling perakaran tanaman bawang bombay, kol atau lobak dengan tujuan
untuk mengendalikan root maggot. Abu kayu ini bisa juga untuk mengendalikan serangan siput dan ulat grayak.
Caranya, taburkan di sekeliling parit tanaman.
Mint (Menta spp)
Daun mint dicampur dengan cabai, bawang daun dan tembakau. Kemudian giling sampai halus untuk diambil
ekstraknya. Ekstrak ini dicampur dengan air secukupnya. Dari ekstrak tersebut bisa digunakan untuk
memberantas berbagai hama yang menyerang tanaman.
Kembang Kenikir (Tagetes spp)
Ambil daunnya 2 genggam, kemudian campur dengan 3 siung bawang putih, 2 cabai kecil dan 3 bawang bombay.
Dari ketiga bahan tersebut dimasak dengan air lalu didinginkan. Kemudian tambahkan 4 5 bagian air, aduk
kemudian saring. Air saringan tersebut dapat digunakan untuk membasmi berbagai hama tanaman.
Cabai Merah (Capsium annum)
Cara pembuatannya dengan mengeringkan cabai yang basah dulu. Kemudian giling sampai menjadi tepung.
Tepung cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat digunakan untuk membasmi hama tanaman.
Sedudu
Sedudu (sejenis tanaman patah tulang) diambil getahnya. Getah ini bias dimanfaatkan untuk mengendalikan
berbagai hama tanaman.
Kemangi (Ocimum sanetu)
Cara pembuatannya: kumpulkan daun kemangi segar, kemudian keringkan. Setelah kering, baru direbus sampai
mendidih, lalu didinginkan dan disaring. Hasil saringan ini bisa digunakan sebagai pestisida alami.
Dringgo (Acarus calamus)
Akar dringgo dihancurkan sampai halus (menjadi tepung), kemudian dicampur dengan air secukupnya. Campuran
antara tepung dan air tersebut dapat digunakan sebagai bahan pembasmi serangga.

Tembelekan (Lantara camara)


Daun dan cabang tembelekan dikeringkan lalu dibakar. Abunya dicampur air dan dipercikkan ke tanaman yang
terserang hama, baik yang berupa kumbang maupun pengerek daun.
Rumput Mala (Artimista vulgaris).
Caranya bakar tangkai yang kering dari rumput tersebut. Kemudian manfaatkan asap ini untuk mengendalikan
hama yang menyerang suatu tanaman.
Tomat (Lycopersicum eskulentum)
Daun tomat bagus sebagai insektisida dan fungisida alami. Dapat digunakan untuk membasmi kutu daun, ulat
bulu, telur serangga, belalang, ngengat, lalat putih, jamur, dan bakteri pembusuk. Gunakan batang dan daun
tomat, dan dididihkan. Kemudian biarkan dingin lalu saring. Air dari saringan ini bisa digunakan untuk
mengendalikan berbagai hama tanaman.
Gamal (Gliricidia sepium)
Daun dan batang gamal ditumbuk, beri sedikit air lalu ambil ekstraknya. Ekstrak daun segar ini dan batang gamal
ini dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman, khususnya jenis serangga.
Bunga Mentega (Nerium indicum)
Gunakan daun dan kulit kayu mentega dan rendamlah dalam air biasa selama kurang lebih 1 jam, kemudian
disaring. Dari hasil saringan tadi dapat digunakan untuk mengusir semut.
Daun Pepaya
Ambil daun papaya sebanyak kurang lebih 1 (satu) kilogram, atau kira-kira sekitar 1 (satu) kantong plastik kresek
besar. Lalu dilumatkan (bisa diblender) dan dicampurkan dalam 1 (satu) liter air, kemudian dibiarkan selama
kurang lebih 1 (satu) jam. Langkah berikutnya disaring, lalu ke dalam cairan daun papaya hasil saringan
ditambahkan lagi 4 (empat) liter air dan 1 (satu) sendok besar sabun. Ampas lumatan daun papaya bisa
dimasukkan ke dalam komposter untuk tambahan bahan kompos. Cairan air papaya dan sabun sudah dapat
digunakan sebagai pestisida alami. Semprotkan cairan ini pada hama-hama yang mengganggu tanaman kita.
Semprotan pestisida air papaya dan sabun ini dapat membasmi aphid (kutu daun), rayap, hama-hama ukuran
kecil lainnya, termasuk ulat bulu.
Minyak Cengkeh
Cengkeh merupakan tanaman perkebunan yang banyak dibudidayakan di tingkat petani. Tanaman ini banyak
mengandung minyak atsiri yang mempunyai nilai jual tinggi. Minyak atsiri diperoleh melalui proses ekstraksi
maupun penyulingan bagian daun atau bunga cengkeh. Minyak tersebut diketahui mengandung sampai dengan
80% eugenol dan berdasarkan uji laboratorium dan rumah kaca diketahui sangat efektif membunuh nematode
puru akar, M. incognita.
Selamat mencoba dan semoga sukses.
Anda butuh pestisida organik dari daun sirih? harga 10rb/ liter minimal order 300 liter.. silahkan call
08812645148 pin bb bisa sms 08812645148 atau add pin 7E972CBD