Anda di halaman 1dari 8

C.

DIAGRAM ALIR
1. Tes Lucas

0,5 mL
sampel

Dimasukkan ke dalam 4 tabung reaksi berbeda dan diberi label sesuai nama sempel uji
3 mL reagen
lucas

Ditutup mulut tabung

Dikocok dengan kuat selama beberapa detik


Didinginkan
Diamati terbentuknya selama 15 menit
Jika larutan tidak berkabut selama 15 menit, maka dihangatkan/dipanaskan dengan suhu
60C-80C selama 10 menit dengan menggunakan water bath

Hasil

2. Tes Ferri Klorida


1 mL aquades

Dimasukkan pada tabung reaksi


5 tetes sampel
2 tetes FeCl3 5%

Dikocok
Diamati perubahan warna dari tiap larutan.

Hasil

C.HASL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN


a. Tes Lucas
Sampel+Reagen Lucas
Sampel
Sebelum Pemanasan
Setelah Pemanasan
Metanol
Bening
Bening
Fenol
Bening
Bening
2-Propanol
Bening
Putih keruh
Ethanol
Bening
Bening
b. Tes Ferri Klorida
Sampel
Metanol
Fenol
2-Propanol
Ethanol

Sampel+Reagen Ferri Klorida


Kuning jernih
Ungu
Kuning jernih
Kuning jernih

Hasil Uji (+)/(-)


+
Hasil Uji (+)/(-)
+
-

D. PEMBAHASAN
1) Uji Lucas
Pengujian lucas pada percobaan bertujuan membedakan alkohol primer, sekunder dan
tersier. Selain itu, tujuan lain pada uji ini untuk mengetahui sifrat fisik alkohol dan fenol. Uji
Lucas berguna untuk mengidentifikasi jenis alkohol yang terdapat pada sampel dengan
penambahan reagen ZnCl2 sebagai katalis asam lewis (donor hidrogen) dan HCl yang
merupakan asam kuat yang melarutkan alkohol serta menyumbangkan Cl-.
1.1. Prinsip Uji Lucas
Prinsip pengujian ini adalah dengan mengidentifikasi jenis alkohol dengan penambahan
reagen lucas, dimana akan terjadi reaksi substitutsi gugus OH pada alkohol dengan Cl dari
reagen HCl. Senyawa ZnCl2 bertindak sebagai katalisator dalam reaksi, sehingga terbentuk
alkil klorida yang tidak larut dalam larutan. sehingga pada sampel yang positif nampak
terbentuk dua lapisan dengan lapisan yang di bawah terbentuk kabut. Hal yang terjadi pada
alkohol primer ketika ditambahkan reagen tidak akan terjadi reaksi, alkohol sekunder akan
bereaksi namun membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga diperlukan katalisasi dengan
pemanasan pada suhu 60oC, alkohol tersier akan langsung bereaksi.
1.2. Analisa Prosedur
Analisa prosedur pada Uji Lucas, langkah pertama yang dilakukan adalah disiapkan 4
tabung reaksi yang telah dilabeli sesuai dengan sampel yang akan diuji. Langkah berikutnya
dengan dipipet sampel berupa metanol, etanol, 2-propanol, dan larutan fenol ke dalam
masing-masing tabung reaksi sebanyak 0.5 mL menggunakan pipet mohr berukuran 1 mL.
Proses tersebut harus dilakukan dengan cepat dan dengan segera ditutup dengan sumbat. Hal
ini harus dilakukan karena sasmpel-sampel alkohol merupakan sampel yang bersifat mudah
menguap.

Tahapan selanjutnya adalah dengan memipet ke dalam masing masing tabung reaksi
yang telah berisi sampel dimasukkan reagen lucas sebanyak 3 mL dan langsung ditutup
menggunakan sumbat gabus. Reagen Lucas merupakan perpaduan antara senyawa HCl
dengan ZnCl2. Fungsi dari HCl adalah sebagai penyumbang Cl - dalam pembentukan alkil
klorida (R-Cl) dimana alkil klorida merupakan substituen pelarut alkohol. Tabung reaksi
berisi sampel dan reagen tersebut dikocok beberapa detik dan didinginkan. Proses
pengocokan dilakukan untuk mempercepat terbentuknya reaksi. Setelah tabung reaksi dalam
keadaan stabil, ditunggu 15 menit dan diamati perubahannya apakah terbentuknya kabut atau
tidak. Jika larutan tidak terbentuk kabut maka dipanaskan pada suhu 600C selama 10 menit
menggunakan water bath. Proses pemanasan pada uji ini dilakukan karena pada Uji Lucas
dengan sampel metanol, etanol, 2-propanol, dan larutan fenol yang kemungkinan akan
menghasilkan uji positif adalah alkohol sekunder berupa sampel 2-propanol. Hasil akhir
didapat apabila pemanasan tersebut telah selesai, dan diamati perubahan pada sampel yang
terjadi.
1.3. Analisa Hasil
Berdasarkan data hasil praktikum pada Uji Lucas, dari keempat sampel yang
menghasilkan uji positif hanya pada sampel 2-propanol dengan perubahan dari bening
menjadi putih keruh yang ditandai terdapat kabut asap. Sampel metanol, ethanol, dan juga
fenol menunjukkan hasil negatif karena tidak terjadi perubahan sampel, warna tetap bening
dan tidak terbentuk kabut asap pada permukaannya. Menurut literatur yang ada, sampel
alkohol primer ketika ditambahkan reagen Lucastdak terjadi perubahan karena tidak terjadi
reaksi kimia. Sampel yang termasuk alkohol sekunder ketika ditambahkan reagen Lucas
terjadi reaksi kimia, namun sangat lambat. Hal yang perlu dilakukan untuk mempercepat
reaksi adalah dengan pemanasan, setelah pemanasan sekitar 10 menit akan terbentuk 2 lapisan
(McMurry, 2012).
Alkohol tersier sangat reaktif dengan Uji Lucas karena ketika ditambahkan reagen ini
dengan cepat membentuk alkil klorida yang tak larut dalam larutan. Metanol dan ethanol
termasuk dalam golongan alkohol primer karena gugus OH mengikat diatom C yang
berikatan satu atom C lainnya, sehingga saat direaksikan dengan reagen Lucas tidak
menunjukkan perubahan. Senyawa fenol memiliki perbedaan dengan sampel alkohol yang
lainnya.Hal ini karena fenol termasuk dalam alkohol yang memiliki gugus aromatik dengan
rantai cabang tertutup, berbeda dengan alkohol dimana gugus nya merupakan gugus alifatik
yang merupakan rantai lurus yang terbuka. Hal ini yang menyebabkan fenol saat direaksikan
juga tidak menunjukan adanya perubahan karena fenol bukan termasuk alkohol primer,
sekunder, maupun tersier (Anslyn, 2006).
1.4. Mekanisme Reaksi (gambarknra reaksi yang terjadi tiap sampel, ada 4 reaksi)

Mekanisme reaksi yang terjadi pada Uji Lucas adalah reagen Lucas akan melarutkan
alkohol, gugus OH dan bereaksi dengan H+ dari HCl membentuk H2O.

Terjadi reaksi

substitusi akibal alkohol yang kehilangan OH akan digantikan dengan Cl - dari reagen
sehingga membentuk alkil klorida. Reaksi antara reagen Lucas dengan alkohol sekunder atau
tersier merupakan reaksi subtitusi nukleosiklik SN1. Berikut adalah reaksi yang terjadi dari
beberapa sampel yang ditambahkan reagen lucas:
1. Metanol
H
H C OH + HCl

ZnCl2

H
2. Etanol
H H
H C C OH + HCl

ZnCl2

H H
3. 2 Propanol
H OH H

H Cl H

H C C C H + HCl
H H

ZnCl2

H C C C H + H2O
H H H

4. Fenol
OH
+ HCl

ZnCl2

Alkil halida dalam hal ini adalah alkil klorida dapat diperoleh dari alkohol melalui
reaksi substitusi alifatik nukleofilik. Reaksi dapat terjadi melalui mekanisme SN1 atau SN2
yang bergantung pada struktur alkil halida dan kondisi reaksi. Reaksi yang terjadi pada Uji
Lucas termasuk reaksi nukleofilik SN1. Mekanisme reaksi SN1 melibatkan protonasi alkohol
pada tahap 1 yang diikuti pembentukan karbokation pada tahap 2 melalui ion oksonium.
Tahap ke-2 adalah tahap penentu laju reaksi. Serangan ion halida pada karbokation planar
terjadi pada tahap ke-3. Mekanisme ini umumnya terjadi apabila gugus alkil berupa alkil
tersier, alkil sekunder atau gugus alkil dengan karbokation terstabilkan resonansi seperti
kation alil atau benzil dapat mengikuti mekanisme yang sama (semakin stabil karbokation,
semakin mungkin mengikuti mekanisme SN1) (Ersam dkk, 2014).

Berikut ini merupakan reaksi nukleofilik SN1yang terjadi pada Uji Lucas pada sampel
alkohol sekunder, yaitu 2-propanol:

(Ersam dkk,
2) Uji Ferri
Uji Ferri

2014).
Klorida
Klorida

merupakan salah satu uji pada alkohol untukcmendeteksi keberadaan senyawa fenol pada
suatu senyawa senyawa atau larutan dengan penambahan larutan FeCl 3. Hasil uji yang positif
akan menghasilkan warna ungu, merah, hijau, dan biru tergantung pada substituen yang
melekat pada gugus fenol. Penambahan reagen FeCl 3 ini berfungsi untuk mensubtitusi
hidrogen pada fenol sehingga membentuk senyawa komplek warna (Ersam dkk, 2014).
2.1. Prinsip Uji Ferri Klorida
Prinsip dari Uji Ferri Klorida adalah mendeteksi keberadaan fenol pada sampel dengan
penambahan larutan feri klorida yang uji positifnya akan menghasilkan warna ungu, merah,
hijau atau biru sebagai akibat dari adanya reaksi gugus OH pada fenol bereaksi dengan larutan
feri klorida. Warna yang diperoleh bergantung pada subtituen yang terikat pada fenol (Zenta
dan Kumanireng, 2006).
2.2. Analisa Prosedur
Langkah pertama yang pada Uji Ferri Klorida adalah menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan dalam praktikum, kemudian dipipet sebanyak 1 ml aquades dan dimasukkan
ke masing-masing tabung reaksi. Tahapan berikutnya dengan menambahkan masing-masing
sampel ke dalam tabung reaksi yang sudah diberi nama sampel uji dan dilarutkan 5 tetes
sampel uji (methanol, etanol, 2-propanol dan fenol) menggunakan pipet tetes lalu
ditambahkan juga 2 tetes larutan ferri klorida 5% dan digojok dengan kencang. Reagen FeCl 3
berfungsi sebagai pereaksi yang bereaksi dengan fenol membentuk FeO pada cincin benzena,
setelah itu dia akan memberikam warna pada sampel fenol. Fungsi tahapan pemipetan
aquades terlebih dahulu baru pemberian sampel adalah untuk mencegah penguapan pada
sampel yang berlebihan. Pengujian Ferri Klorida memiliki tahapan perlakuan yang berbeda
dengan Uji Lucas, yaitu tidak dilakukan pemanasan. Tidak dilakukannya pemanasan ini
karena reagen ferri klorida dapat bereaksi dengan cepat pada keempat sampel.
2.3. Analisa Hasil
Sampel yang pada praktikum ini adalah metanol, etanol, 2-propanol, dan fenol.
Berdasarkan data hasil praktikum pada uji Ferri Klorida, sampel fenol menghasilkan uji yang
positif, karena setelah penambahan reagen terjadi perubahan warna menjadi warna ungu.

Hasil uji pada sampel fenol terdapat perubahan warna menjadi ungu yang membukikan bahwa
terdapat senyawa fenol di dalam larutan tersebut, sedangkan sampel lainnya tetap berwarna
kekuningan. Perubahan ini disebabkan akibat dari adanya reaksi gugus OH pada fenol yang
bereaksi dengan larutan FeCl3 dan warna yang diperoleh tergantung substituen yang terikat
pada fenol, sedangkan pada metanol, etanol dan 2- Propanol tidak terdapat gugus fenol
(Petrucci, 2008)
2.4. Mekanisme Reaksi
Mekanisme yang terjadi saat terbentuknya warna ungu padaUji Ferri Klorida adalah
reaksi substitusi antara sampel dengan reagen FeCl 3 dimana H+ dalam fenol digantikan
dengan Fe3+ yang berasal dari reagen FeCl3. Lalu fenol akan melepasH+ yang berikatan dengan
Cl- dan membentuk HCl, sedangkan fenol yang kehilangan H+ akan diganti dengan Fe3+
sehingga membentuk FeO pada cincin benzene yang menyebabkan perubahan warna dari
kuning transparan menjadi keunguan (McMurry, 2012).
Berikut ini merupakan reaksi yang terjadi pada masing-masing sampel:
1. Metanol
H
H C OH + FeCl3

(tidak terjadi reaksi)

H
2.

Etanol
H H
H C C OH + FeCl3

(tidak terjadi reaksi)

H H
3.

2 Propanol
H OH H
H C C C H + FeCl3
H H

(tidak terjadi reaksi)

4. Fenol
OH

OFeCl2
+ FeCl3

+ HCl

E. KESIMPULAN
Percobaan yang dilakukan pada identifikasi gugus fungsi alkohol bertujuan untuk
mengetahui sifat fisik alkohol dan fenol serta membedakan senyawa alkohol primer, skunder,
tersier, dan fenol melalui tesLucas dan tes Ferri Klorida. Pengujian yang dilakukan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi alkohol tersebut adalah Uji Lucas dan Uji Ferri Klorida.

Uji Lucas berguna untuk mengidentifikasi jenis alkohol yang terdapat pada sampel dan
membedakan senyawa alkohol primer, sekunder, dan tertier dengan penambahan reagen
ZnCl2 dan HCl, dimana ketika ditambahkan reagen pada alkkohol primer tidak akan bereaksi.
Alkohol sekunder akan bereaksi namun membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga
diperlukan katalisasi dengan pemanasan pada suhu 60oC. Alkohol tersier akan langsung
bereaksi. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya kabut dan terbentuk dua lapisan pada
sampel.

Sampel

yang

menghasilkan

hasil

uji

positif

adalah

2-propanol,

dimana setelah dipanaskan terbentuk dua lapisan yang tak larut dengan lapisan bawah seperti
kabut. Hal ini menunjukkan bahwa 2-propanol merupakan alkohol sekunder.
Uji Feri klorida berguna untuk mendeteksi adanya gugus fenol pada sampel
dengan penambahan reagen FeCl3. Prinsip dari uji feri klorida adalah mendeteksi keberadaan
fenol pada sampel dengan penambahan larutan feri klorida yang uji positifnya akan
menghasilkan warna ungu, merah, hijau atau biru sebagai akibat dari adanya reaksi gugus OH
pada fenol bereaksi dengan larutan ferri klorida. Warna yang diperoleh bergantung pada
subtituen yang terikat pada fenol. Berdasarkan hasil praktikum yang elah dilakukan, dapat
disimpulkan bahwa yang bereaksi dan hasil uji positif terhadap uji ferri klorida adalah sampel
fenol, sedangkan sampel yang lain hasil ujinya negatif. Hal ini karena ferri klorida hanya
bereaksi pada fenol, tidak pada alkohol. Hal ini ditunjukkan dari perubahan warna yang
terjadi ketika sampel fenol diberi reagen dan dikocok, warna yang terbentuk adalah ungu,
sedangkan ketiga sampel lainya tidak bereaksi.

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN


Anslyn, Eric V. 2006. Modern Physical Organic Chemistry. Orlando: University Science
Books.
Petrucci, Ralph H. 2008. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 3.
Jakarta: Erlangga
McMurry, John. 2012. Organic Chemistry, Eight Edition, International Edition. Brooks/Cole:
Cengage Learning
Zenta, Firdaus dan H.A.S Kumanireng. 2006. Teknik Laboratorium Kimia Organik. Makassar:
Universitas Hasanuddin
Ersam, Taslim dkk,. 2014. Petunjuk Praktikum Kimia Organik I. Surabaya: Institut Teknologi
Sepuluh Nopember Surabaya