Anda di halaman 1dari 5

FISIOLOGI ESOFAGUS

a. Menelan
Menelan ketika suatu bolus, atau gumpalan makanan yang telah di kunyah atau encer,
secara sengaja di dorong oleh lidah ke belakang mulut menuju laring, tekanan bolus
merangsang resptor reseptor tekanan faring yang merangsang impuls aferen ke pusat
menelan yang terletak di medulla batang otak pusat menelan kemudian secara refleks
mengaktifkan dalam urutan yang sesuai otot otot yang terlibat dalm proses menelan,
terjadi pengaktifan berbagai respons yang sangat terkoordinasi dalam suatu pola
tuntas atau gagal spesifik dalam suatu periode waktu. Menelan di mulai secara
volunter, tetapi sekali dimulai gerakan ini tidak bisa di hentikan karena ada gerakan
peristaltik
(Sherwood l, 2014)
Menelan dibagi menjadi tahap ororfaring dan tahap esofagus. Tahap orofaring
berlangsung sekitar 1 detik dan terdiridari pemindahan bolus dari mulut melalui faring
untuk masuk ke esofagus. Ketika masuk ke faring, bolus makanan harus di arah kan
ke dalam esofagus dan di cegah untuk masuk ke lubang lubang lain yang
berhubungan dengan faring. Makanan harus di jaga agar tidak masuk kembali ke
mulut, masuk ke saluran hidung, atau masuk ke trakea. Semua ini di atur oleh
aktivitas aktivitas terkoordinasi berikut :
1. Posisi lidah yang menekan langit langit keras menjaga agar makanan tidak masuk
lagi ke mulut sewaktu menelan
2. Uvula terangkat dan menekan bagian belakang tenggorakan, menutup salutan
hidung dari faring sehingga makanan tidak masuk ke hidung
3. Makanan di cegah masuk ke trakea terutama oleh elevasi laring dan penutupan
erat oleh pita suara di pintu masuk laring atau glotis. Bagian pertama trakea adalah
laring, atau voice box, yang di lintangi oleh pita suara. Sewaktu menelan pita
suara melakukan tugas yang tidak berkaitan dengan berbicara. Kontraksi otot otot
laring mendekatkan kedua pita suara satu sama lain sehingga pintu masuk glotis
tertutup. Bolus juga mendorong suatu lipatan kecil jaringan tulang rawan,
epiglotis, ke belakang menutupi glotis sebagai proteksi tambahan agar makanan
tidak masuk ke saluran napas.
4. Yang bersangkutan tidak melakukan upaya respirasi ketika saluran napas secara
temporer tertutup sewaktu menelan, karena pusat menelan secara menghambat
5.

pusat pernafasan dekatnya


Dengan laring dan trakea tertutup, otot otot faring berkontraksi untuk mendorong
bolus ke dalam esofagus

( sherwood L,2014)
NEUROFISIOLOGI MENELAN
Proses menelan dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase oral, fase faringeal dan fase
esophageal.
FASE ORAL
Pada fase oral ini akan terjadi proses pembentukan bolus makanan yang
dilaksanakan oleh gigi geligi, lidah, palatum mole, otot-otot pipi dan saliva untuk
menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi dan ukuran yang siap untuk
ditelan. Proses ini berlangsung secara di sadari.
(sherwood, L 2014)
FASE FARINGEAL
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior
(arkus palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul.
Bolus dengan viskositas yang tinggi akan memperlambat fase faringeal,
meningkatkan waktu gelombang peristaltik dan memperpanjang waktu pembukaan
sfingter esofagus bagian atas. Bertambahnya volume bolus menyebabkan lebih
cepatnya waktu pergerakan pangkal lidah, pergerakan palatum mole dan
pergerakan

laring

serta

pembukaan

sfingter

esofagus

bagian

atas.

Waktu Pharyngeal transit juga bertambah sesuai dengan umur.


(sherwood, L, 2014)
FASE ESOFAGEAL
Pada fase esofageal proses menelan berlangsung tanpa disadari. Bolus
makanan turun lebih lambat dari fase faringeal yaitu 3-4 cm/ detik.
Fase ini terdiri dari beberapa tahapan :
1.

Dimulai dengan terjadinya relaksasi m.kriko faring. Gelombang peristaltik


primer terjadi akibat kontraksi otot longitudinal dan otot sirkuler dinding esofagus
bagian proksimal. Gelombang peristaltik pertama ini akan diikuti oleh gelombang
peristaltik kedua yang merupakan respons akibat regangan dinding esofagus.
(sherwood, L, 2014)

2.

Gerakan peristaltik tengah esofagus dipengaruhi oleh serabut saraf pleksus


mienterikus yang terletak diantara otot longitudinal dan otot sirkuler dinding

esofagus dan gelombang ini bergerak seterusnya secara teratur menuju ke distal
esofagus.
(sherwood, L, 2014)
Dinding esofagus terdiri dari 4 lapisan, yaitu :
1. Mukosa
Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut ke faring bagian
atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung
yang sangat asam
( sherwood, L, 2014)
2. Sub Mukosa
Mengandung

sel-sel

sekretoris

yang

menghasilkan

mukus

yang

dapat

mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari


cedera akibat zat kimia. ( sherwood, L, 2014)
3. Muskularis
otot bagian esofagus, merupakan otot rangka. Sedangkan otot pada separuh bagian
bawah merupakan otot polos, bagian yang diantaranya terdiri dari campuran antara
otot rangka dan otot polos. (sherwood,L, 2014)
4. lapisan bagian luar (Serosa)
Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esofagus dengan strukturstruktur yang berdekatan, tidak adanya serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel
tumor lebih cepat (bila ada kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah
operasi lebih besar. Persarafan utama esofagus dilakukan oleh serabut-serabut
simpatis dan parasimpatis dari sistem saraf otonom. Serabut-serabut parasimpatis
dibawa oleh nervus vagus yang dianggap merupakan saraf motorik. Selain
persarafan ekstrinsik tersebut, terdapat juga jala-jala longitudinal (Pleksus
Allerbach) dan berperan untuk mengatur peristaltik esofagus normal.Distribusi
darah esofagus mengikuti pola segmental, bagian atas disuplai oleh cabang-cabang

arteria tiroide inferior dan subklavia. Bagian tengah disuplai oleh cabang-cabang
segmental aorta dan artetia bronkiales, sedangkan bagian sub diafragmatika
disuplai oleh arteria gastrika sinistra dan frenika inferior.Peranan esofagus adalah
menghantarkan makanan dan minuman dari faring ke lambung. Pada keadaan
istirahat antara 2 proses menelan, esofagus tertutup kedua ujungnya oleh sfingter
esofagus atas dan bawah. Sfingter esofagus atas berguna mencegah aliran balik
cairan lambung ke esofagus (Refluks).
( sherwood, L, 2014)
Susunan otot faring dan sepertiga bagian atas esofagus adalah otot lurik.
Karena itu, gelombang peristaltik di daerah ini hanya diatur oleh impuls saraf
rangka dalam saraf glosofaringeal dan saraf vagus. Pada duapertiga bagian bawah
esofagus, ototnya merupakan otot polos, namun bagian esofagus ini juga secara
kuat diatur oleh saraf vagus yang bekerja melalui hubungannya dengan sistem saraf
mienterikus. Sewaktu saraf vagus yang menuju esofagus terpotong, setelah
beberapa hari pleksus saraf mienterikus esofagus menjadi cukup terangsang untuk
menimbulkan gelombang peristaltik sekunder yang kuat bahkan tanpa bantuan dari
refleks vagal. Karena itu, sesudah paralisis refleks penelanan, makanan yang
didorong dengan cara lain ke dalam esofagus bagian bawah tetap siap untuk masuk
ke dalam lambung. (sherwood, L, 2014)
Relaksasi reseptif dari lambung. Sewaktu gelombang peristaltik esofagus
berjalan ke arah lambung, timbul suatu gelombang relaksasi, yang dihantarkan
melalui neuron penghambat mienterikus, mendahului peristaltik. Selanjutnya,
seluruh lambung dan sedikit lebih luas bahkan duodenum menjadi terelaksasi
swaktu gelombang ini mencapai bagian akhir esofagus dan dengan demikian
mempersiapkan lebih awal untuk menerima makanan yang didorong ke bawah
esofagus selama proses menelan. ( sherwood, L, 2014)
Fungsi sfingter esofagus bagian bawah ( sfingter gastroesofageal)
Pada ujung bawah esofagus,meluas dari sekitar dua sampai lima sentimeter diatas
perbatasan dengan lambung, otot sirkular esofagus berfungsi sebagai sfingter
esofagus bagian bawah atau sfingter gastroesofageal. Secara anatomis,sfingter ini
tidak berbeda dengan bagian esofagus yang lain. Secara fisiologis normalnya
sfingter tetap berkonstriksi secara tonik (dengan tekanan intraluminal pada titik ini

di esofagus sekitar 30 mmHg), berbeda dengan bagian tengah esofagus antara


sfingter bagian atas dan bagian bawah, yang normalnya tetap berelaksasi. Sewaktu
gelombang peristaltik penelanan melewati esofagus, relaksasi reseptif akan
merelaksasi sfingter esofagus bagian bawah medahului gelombang peristaltik dan
mempermudah dorongan makanan yang ditelan ke dalam lambung. Sangat jarang,
sfingter tidak berelaksasi dengan baik, mengakibatkan keadaan yang disebut
akalasia. ( sherwood, L, 2014)
Isi lambung bersifat sangat asam dan mengandung banyak enzim proteolitik.
Mukosa esofagus, kecuali pada seperdelapan bagian bawah esofagus, tidak mampu
menahan kerja pencernaan yang lama dari sekresi getah lambung. Konstriksi tonik
dari sfingter esofageal bagian bawah akan membantu untuk mencegah refluks yang
bermakna dari isi lambung ke dalam esofagus kecuali pada keadaan abnormal.
( sherwood, L, 2014)
Pencegahan tambahan terhadap refluks dengan penutupan seperti katup di
ujung distal esofagus. Faktor lain yang mencegah refluks adalah mekanisme seperti
katup pada bagian esofagus yang pendek yang terletak tepat di bawah diafragma
sebelum mencapai lambung. Peningkatan tekanan intraabdominal akan mendesak
esofagus pada titik ini ke dalam pada saat yang bersamaan ketika tekanan ini
meningkatkan tekanan intragastrik. Jadi, penutupan seperti katup ini, pada esofagus
bagian bawah akan mencegah tekanan abdominal yang tinggi yang berasal dari
desakan isi lambung ke dalam esofagus. Kalau tidak, setiap kali kita berjalan, batuk
atau bernafas kuat, kita mungkin mengeluarkan asam ke dalam esofagus.
( sherwood, L, 2014)