Anda di halaman 1dari 21

CLASSIS AMPHIBIA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok

: Anastasia Sintanora Elizabeth


: B1J013144
:I
:2

LAPORAN PRAKTIKUM HERPETOLOGI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Amfibia atau amfibi (Amphibia), umumnya didefinisikan sebagai hewan
bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di dua alam, yakni di air dan di daratan.
Amfibia bertelur di air, atau menyimpan telurnya di tempat yang lembab dan basah.
Ketika menetas, larvanya yang dinamai berudu hidup di air atau tempat basah
tersebut dan bernapas dengan insang. Setelah beberapa lama, berudu kemudian
berubah bentuk (bermetamorfosa) menjadi hewan dewasa, yang umumnya hidup di
daratan atau di tempat-tempat yang lebih kering dan bernapas dengan paru-paru
(Iskandar, 1998).
Amfibia merupakan hewan yang kerap disebut berdarah dingin. Istilah ini
kurang tepat karena suhu bagian dalam ampfibi terkadang dapat lebih panas daripada
burung dan mamalia (hewan berdarah panas), hal ini disebabkan karena perilaku
aktif dari classis ini. Baik amfibi maupun reptil bersifat ectothermic dan
poikilotherm

yang berarti mereka menggunakan sumber panas dari lingkungan

untuk memperoleh energi. Perbedaan utama antara berdarah dingin dan berdarah
panas adalah yang pertama suhu tubuhnya lebih berfluktuasi dengan adanya
masukan dari lingkungan. Sementara hewan berdarah panas (mamalia, misalnya)
adalah homeothermic dimana suhu tubuh dikelola dengan metabolism tubuh (Sidik,
1998).
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk
luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat
dalam mempelajari organisme. Bentuk tubuh pada mahluk hidup, termasuk pada
hewan air juga erat kaitannya dengan anatomi, sehingga ada baiknya sebelum
melihat anatominya; terlebih dahulu kita melihat bentuk tubuh atau penampilan
(morfologi) hewan tersebut. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme
ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar
(Iskandar, 1998).
Di dunia, Anura terdiri dari 25 familia dengan 333 genera dan 3843 spesies.
Di Indonesia terdapat 10 famili Anura yaitu Bufonidae, Bombinatoridae,
Myobatrachidae, Megophrydae, Ranidae, Rhacophoridae, Pelodrydidae, Hylidae,
dan Limnodynastidae dengan lebih kurang 489 spesies (Nazri & Novarino, 2009).

Family Bufonidae yang ditemukan di Indonesia terdiri dari enam genus yaitu
Ansonia, Leptophryne, Pedostibes, Pelophryne, Pseudobufo dan Bufo. Bufo
merupakan genus yang paling umum dan tersebar diantara semua bufonidae. Bufo
memiliki ciri-ciri tubuh gemuk, tekstur kulitnya sangat kasar, tertutup oleh bintil
besar dan kecil, terdapat sepasang kelenjar paratoid di belakang mata yang
menghasilkan kelenjar racun untuk melindungi diri dari predator (Inger & Stuebing,
1997). Anggota Familia Bufonidae memiliki kelenjar parotoid yang terletak di postorbital yang mampu menghasilkan sekret kental berwarna putih kekuningan (milky)
yang beracun (Noble, 1931 dalam Oktavina & Pratiwi, 2015). Sekret tersebut
berperan sebagai mekanisme pertahanan diri utama bagi kodok dari predator dan
infeksi mikrobia (Sciani et al., 2013). Sekret tersebut mengandung berbagai macam
senyawa kimia seperti protein, peptida, steroid dan alkaloid (Sciani et al., 2013).
Sekret tersebut dapat menimbulkan beberapa efek yang menyebabkan munculnya
rasa tidak nyaman. Sedangkan kunci determinasi itu adalah suatu cara
pengelompokan spesies ikan berdasarkan karakter morfologinya. Gunanya kunci
determinasinya ini adalah untuk mempermudah dalam pengenalan spesies-spesies
ikan, biasanya diukur oleh dua karakter (Sidik, 1998).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Classis Amphibia, antara lain :
1.
2.
3.
4.

Mengenal beberapa jenis berudu anggota Ordo Anura.


Mempelajari karakter penting dalam identifikasi berudu.
Mengenal beberapa anggota Ordo Anura.
Mempelajari karakter penting dalam identifikasi anggota Ordo Anura.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Amphibia merupakan kelas dalam vertebrata berkaki empat, fosil pertamanya
adalah Istiostegid pada zaman Devon dan leluhurnya mungkin adalah ikan
Krosopterigi ripidistia. Bentuk-bentuk awal memiliki kulit bersisik, hampir
seluruhnya hilang dalam satu anak kelas modern (Lissamphibia) dengan tiga bangsa
yaitu bangsa Apoda, caecilia tak berkaki; bangsa Urodela, salamander dan kadal; dan
bangsa Anura, katak dan kodok. Dibanding dengan leluhurnya yang terutama bersifat
akuatik, amfibi yang lebih sesuai dengan daratan mempunyai tulang punggung
dengan sambungan lengkung saraf yang lebih banyak dan intersentra yang lebih
besar. Gelang dada lebih bebas dari tengkorak, memungkinkan beberapa gerakan
kepala ke arah samping (Abercrombie et al., 1993).
Ciri-ciri dari amfibi menurut Jasin (1984) adalah kulit selalu basah dan
berkelenjar, tidak bersisik luar, Memiliki dua pasang kaki untuk berjalan atau
berenang, berjari 4 5 atau lebih sedikit, tidak bersirip, terdapat dua buah nares
(lubang hidung sebelah luar) yang menghubungkan dengan cavum oris. Padanya
terdapat klep untuk menolak air. Mata berkelopak yang dapat digerakan, lembar
gendang pendengar terletak disebelah luar. Mulut bergigi dan berlidah yang dapat
dijulurkan diluar, skeleton sebagian besar berupa tulang keras, tempurung kepalanya
memiliki condyl, bila memiliki costae tidak menempel pada sternum, Cor terbagi
atas tiga ruangan, yakni dua ruangan auricular dan satu ruangan ventriculum,
mempunyai satu atau tiga pasang archus aorticus, erythrocyte berbentuk oval dan
bernucleus. Pernapasannya dengan insang, paru paru, kulit atau garis mulut. Otak
memiliki 10 pasang nervi cranialis. Suhu tubuh tergantung dengan lingkungannya
(poikilothermis). Fertilisasi terjadi diluar atau didalam tubuh, kebanyakan ovivar.
Telur berkuning telur dan terbungkus oleh zat gelatin membelah secara holoblastis
tidak sama tidak memiliki embryonie.
Amphibia adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air
tawar dan di darat. Sebagian besar mengalami metamofosis dari berudu (aquatis dan
bernapas dengan insang) ke dewasa (amphibius dan bernapas dengan paru-paru),
namun beberapa jenis amphibius tetap memilki insang selama hidupnya. Jenis-jenis
Amphibia yang sekarang tidak memiliki sisik luar, kulit biasanya tipis dan basah
(Djarubito, 1989). Tubuh Amphibia khususnya katak terdiri dari kepala, badan, dan
leher yang belum tampak jelas. Sebagian kulit, kecuali pada tempat-tempat tertentu

terlepas dari otot yang ada di dalamnya, sehingga bagian dalam tubuhnya berupa
rongga-rongga yang berisi cairan limpa subkutan (Djuhanda, 1982).
Amphibia dikelompokan kedalam empat Ordo yaitu Gymnophiona
(Caecilians), Trachystomata (Sirens), Caudata dan Anura (frogs dan toads).
Sementara ahli lain membagi amphibi kedalam tiga ordo meliputi Gymnophiona
(Caecilians), Caudata (Salamander) dan Anura (frogs dan toads) (Iskandar, 2000).
Anura merupakan ordo yang memiliki jumlah spesies terbesar dibandingkan Ordo
lainnya. Anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo
ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak
mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar
daripada tungkai depan. Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat.
Pada beberapa famili terdapat selaput diantara jari-jarinya. Membrana timpanum
terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang cukup besar dan terletak di belakang
mata. Kelopak mata dapat digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang
dengan baik. Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang
tenang dan dangkal (Muetya, 2011). Pewarnaan dikenal sangat bervariasi dalam
kelompok Anura terutama pada kelompok yang sangat polimorfik seperti bangkong
kolong yang jarang berguna dalam taksonom. Jadi para peneliti menganggap bahwa
perbedaan warna seperti yang dilaporkan dalam D. wokhaensis adalah adanya bukti
keragaman antar spesies (Das et al., 2013)
Kodok dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan
induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis
kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di
pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung
kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga
menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil (Duellman, 2003). Telur-telur akan
diletakkan di dalam jelly yang bentuknya seperi benang panjang. Musim bertelur
dimulai oleh amphibian seperti Rhacophorus burmanus, Rhacophorus maximus, dan
Hyla annectes pada daerah tertentu. Selama musim kawin, spesies Duttaphrynus
chandai akan sangat melimpah dan sangat mudah diamati karena berhabitat di dalam
hutan yan tidak jauh dari aliran sumber air (Das et al., 2013). Telur-telur kodok dan
katak menetas menjadi berudu atau kecebong (tadpole), yang bertubuh mirip ikan
gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahanlahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki

depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah


masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil
(Duellman, 2003).
Tahapan identifikasi dan klasifikasi secara umum menurut Jasin (2002) yaitu:
1. Identifikasi, yaitu tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu
yang beraneka ragam dan memasukkannya dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi

berdasarkan

pemikiran

yang

bersifat

deduktif.

Identifikasi

berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit (idealnya satu ciri),
yang akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi.
2. Determinasi, yaitu membandingkan suatu hewan dengan hewan lain yang sudah
dikenal sebelumnya (dicocokkan atau disamakan). Dalam dunia ini, tidak ada dua
benda yang identik atau sama persis, maka istilah determinasi dianggap lebih tepat
daripada istilah identifikasi.
3. Klasifikasi, yaitu penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang didasarkan
atas kesamaan dan hubungan mereka. Prosedur klasifikasi bersifat induktif,
berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri (idealnya
seluruh ciri-ciri yang dimiliki).
4. Verifikasi, yaitu untuk memperjelas hasil temuan yang diteliti.

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Classis Amphibia yaitu bak
preparat, jangka sorong, loop, botol flakon, cawan petri, mikroksop stereo, kertas
millimeter, akuarium,

buku

panduan

identifikasi

(Iskandar,

1988),

kotak

pemeliharaan, kamera, dan alat tulis.


Bahan yang digunakan yaitu beberapa spesimen anggota ordo Anura dewasa,
beberapa berudu di sekitar Fakultas Biologi, dan Alkohol 70%.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum Echinodermata antara lain:
A. Pembuatan Spesimen Berudu
1. Morfologi berudu dideskripsikan (warna, sirip ekor, cara berenang, dll)
Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi. Tahap tersebut dibantu
dengan cara mengambil gambar berudu dengan kamera digital.
2. Botol flakom yang sesuai dengan ukuran berudu diambil dan diisi dengan
alkohol 70% hingga 2/3 tinggi botol.
3. Berudu yang akan diawetkan dan diamati dimasukkan ke dalam botol flakon
berisik alkohol 70% hingga berudu berhenti bergerak (mati).
4. Botol flakon ditutup rapat dan diberi label.
B. Pengamatan Spesimen Berudu
1. Mikroskop stereo dan cawan petri disiapkan.
2. Berudu dikeluarkan dari botol dengan pinset secara hati-hati, kemudian
diletakkan pada cawan petri.
3. Berudu diamati dengan mikroskop stereo. Data yang diamati (dan bila perlu
diambil foto) antara lain:
a. Postur tubuh (dorsal, ventral, lateral).
b. Corak warna (tubuh, otot ekor, sirip).
c. Sirip ekor (lebar atau sempit).
d. Letak spirakel (kiri, tengah, atau ganda).
e. Morfologi oral disc dan rumus geligi.
4. Seluruh informasi dicatat pada buku catatan, dan dicocokkan dengan kunci
identifikasi yang ada.

5. Berudu kemudian diletakkan pada kertas millimeter, diambil foto tampak


dorsal, ventral, dan lateral. Berudu kemudian diukur morfometrinya.
6. Selesai pengamatan, berudu dikembalikkan ke dalam botol flakon.
C. Pengamatan Spesimen Ordo Anura
1. Spesimen katak diletakkan pada kertas millimeter, kemudian diambil
beberapa foto (dorsal, ventral).
2. Spesimen diukur SVL dan diamati beberapa karakter, antara lain: postur
tubuh, corak warna (spesimen hidup), karakter kepala, tungkai jari. Karakter
spesifik seperti kelenjar paratoid dan nuptial pad dicatat pada buku catatan.
D. Pengukuran Morfometri Berudu (Grosjean, 2005)
1. Spesimen berudu dipilih salah satu dari dua akuarium yang berbeda.
2. Berudu diukur morfomteri tubuhnya menggunakan kertas millimeter.
3. Bagian-bagian yang diukur diantaranya:
a. BH (Maximum body height)
b. BW (Maximum body weight)
c. ED (Maximum eye diameter)
d. HT (Maximum tail height)
e. LF (Maximum height of lower tail fin)
f. UF (Maximum height of upper tail fin)
g. TL (Total length)
h. SVL (Snout-vent length)
i. SS (distance from tip of snout-opening of spiracle)
j. SU (distance from tip of snout-insertion of upper tail fin)
k. NN (Internarial distance)
l. ODW (Oral disk distance)
m. PP (Interpupillar distance)
n. RN (Rostro-narial distance)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 4.1. Hasil pengamatan Classis Amphibia.
Klasifikasi:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Bufonidae

Genus

: Bufo

Spesies

: Bufo asper

Deskripsi:
Tubuh besar dan kuat, alur supaorbital dihubungkan dengan kelenjar paratoid oleh
alur supratimpanik. Kelenjar paratoid berbentuk lonjong. Tangan dan kaki dapat
berputar. Jari kaki berselaput renang sampai ke ujung. Tekstur kulit sangat kasar
atau berbenjol, diliputi bintil-bintil berduri atau benjolan. Warna coklat tua yang
kusam, keabu-abuan atau kehitam-hitaman, di bagian bawah terdapat titik hitam.
Habitat biasanya terdapat di sepanjang alur tepi sungai.

Klasifikasi:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Bufonidae

Genus

: Bufo

Spesies

: Bufo melanostictus

Deskripsi:
Tubuh sedang, alur-alur supraorbital dan supratimpanik menyambung, tidak ada
alur parietal. Jari-jari berselaput renang separuhnya. Tekstur kulit relatif berkerut,
dengan bintil-bintil atau bonteng yang jelas. Kodok muda umumnya berwarna
kemerahan. Kodok dewasa kecoklatan kusam, kehitaman atau kemerahan, bintil
atau bonteng hitam coklat. Habitat selalu berada di dekat hunian manusia atau
wilayah yang terganggu. Tidak pernah terdapat di hutan tropis.

Klasifikasi:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Rhacophoridae

Genus

: Rhacophorus

Spesies

: Rhacophorus

reindwardtii
Deskripsi:
Katak tersebut berukuran kecil sampai sedang, berwarna hijau atau oranye. Jari
tangan dan jari kaki berselaput sepenuhnya sampai ke piringan, berwarna hitam.
Sebuah lipatan kulit terdapat di atas tumit dan anus, dan lipatan serupa sepanjang
lengan. Tekstur kulit halus pada bagian atas, perut, dan samping tubuh, bagian
bawah kaki berbintil-bintil kecil kasar. Habitat katak ini di hutan primer atau
sekunder, dan lebih umum pada ketinggian antara 250-1200 m di atas permukaan
laut.
Klasifikasi:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Rhacophoridae

Genus

: Polypedates

Spesies

: Polypedates leucomystax

Deskripsi:
Katak pohon berukuran sedang, berwarna coklat kekuningan, satu warna atau
dengan bintik hitam. Jari tangan dan jari kaki melebar dengan ujung rata. Memiliki
piringan (discs) pada ujung jarinya untuk membantu dalam memanjat. Kulit kepala
menyatu dengan tengkorak. Jari tangan setengahnya berselaput, jari kaki hampir
sepenuhnya berselaput. Tekstur kulit seluruhnya halus tanpa indikasi adanya bintilbintil lipatan. Habitatnya sering ditemukan di antara tetumbuhan atau di sekitar
rawa dan bekas tebangan hutan sekunder.
Klasifikasi:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Ranidae

Genus

: Rana

Spesies

: Rana chalconota

Deskripsi:
Katak berukuran kecil dan sedang, dengan tympanum coklat tua. Kaki panjang dan
ramping, berselaput sepenuhnya sampai ke ujung jari. Jari-jari kaki dan tangan
dengan ujung yang melebar dan jelas. Kulit ventral halus licin, sedangkan kulit
dorsal berbintil-bintil halus. Katak jantan selalu ditutupi oleh bintil-bintil kecil.
Warna tubuh berubah-ubah, sisi dorsal (fase terang) sering berwarna krem
kekuningan, atau kehijauan. Sisi tubuh (lateral) keputihan, kekuningan atau hijau
kekuningan terang. Pada fase gelap, kebanyakan berwarna coklat atau coklat gelap
berbintik-bintik hitam bulat. Habitat katak ini sering didapati di sekitar kolam,
selokan, saluran air atau sungai kecil.

Tabel 4.2. Perbedaan antara berudu Polypedates leucomystax dan Bufo


melanostictus.
Berudu Polypedates
Berudu Bufo
leucomystax
Ekor pipih dan berselaput
Berenang dengan gesit
Pigmentasi kulit kecoklatan

melanostictus
Ekor bentuk gilik dan pendek
Berenang kurang gesit
Pigmentasi kulit kehitaman

Mulut ke arah depan

Mulut ke arah bawah


Klasifikasi:

Sumber: thefrog.org

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Amphibia

Order

: Anura

Family

: Rhacophoridae

Genus

: Polypedates

Spesies
: Polypedates leucomystax
Deskripsi:
Berudu P. leucomystax memiliki tipe mata lateral atau kedua mata terletak di kanan
dan kiri. Berudu P. leucomystax memiliki tipe ekor saddled. Sedangkan tipe vent
(anus) berudu termasuk ke dalam dextral vent karena terletak dominan pada bagian
kanan. Berudu memiliki tipe dual spiracle dimana spirakel berfungsi saat
pernafasan, O2 yang masuk melalui insang berudu akan dikeluarkan dalam bentuk
CO2 melalui spirakel. Pigmentasi warna pada berudu ini adalah kecoklatan.
Ukuran berudu P. leucomystax lebih besar dibandingkan dengan berudu Bufo
melanostictus. Keratinisasi paruh berudu ini adalah lebar dan memiliki tipe paruh
yang serrate, pelebaran paruh berukuran medium dan bentuk mulut adalah
marginan. Rumus yang diperoleh untuk geligi berudu P. leucomystax adalah I/II.
Tabel 4.3. Hasil pengukuran morfometri berudu di Rombongan I.
Kelompok 1 (Bufo melanostictus)
BH (Maximum body height)
3 mm
BW (Maximum body weight)
3,5 mm
DPG (Length in transversal plan of dorsal papillae)
ED (Maximum eye diameter)
1 mm
HT (Maximum tail height)
3 mm
LF (Maximum height of lower tail fin)
1 mm
UF (Maximum height of upper tail fin)
1,5 mm
TL (Total length)
12 mm
SVL (Snout-vent length)
5,5 mm
VT (distance from opening of vent-tip of tail)
SS (distance from tip of snout-opening of spiracle)
4 mm
SU (distance from tip of snout-insertion of upper tail
6 mm
fin)
NN (Internarial distance )
NP (naro-pupillar distance)
ODW (Oral disk distance)
PP (Interpupillar distance)

1 mm
1 mm
2 mm
2 mm

RN (Rostro-narial distance)

0,5 mm

Kelompok 2 (Berudu Polypedates leucomystax)


BH (Maximum body height)
BW (Maximum body weight)
DPG (Length in transversal plan of dorsal papillae)
ED (Maximum eye diameter)
HT (Maximum tail height)
LF (Maximum height of lower tail fin)
UF (Maximum height of upper tail fin)
TL (Total length)
SVL (Snout-vent length)
VT (distance from opening of vent-tip of tail)
SS (distance from tip of snout-opening of spiracle)
SU (distance from tip of snout-insertion of upper tail

6 mm
7 mm
3 mm
7 mm
4 mm
1 mm
43 mm
15 mm
3 mm
13 mm

fin)
NN (Internarial distance )
NP (naro-pupillar distance)
ODW (Oral disk distance)
PP (Interpupillar distance)
RN (Rostro-narial distance)
Kelompok 3 (Polypedates leucomystax)
BH (Maximum body height)
BW (Maximum body weight)
DPG (Length in transversal plan of dorsal papillae)
ED (Maximum eye diameter)
HT (Maximum tail height)
LF (Maximum height of lower tail fin)
UF (Maximum height of upper tail fin)
TL (Total length)
SVL (Snout-vent length)
VT (distance from opening of vent-tip of tail)
SS (distance from tip of snout-opening of spiracle)
SU (distance from tip of snout-insertion of upper tail
fin)
NN (Internarial distance )
NP (naro-pupillar distance)
ODW (Oral disk distance)
PP (Interpupillar distance)
RN (Rostro-narial distance)

3 mm
3 mm
7 mm
1 mm
41 mm
7 mm
6 mm
5 mm
1 mm
2 mm
7 mm
14 mm
13 mm
15 mm
2 mm
3 mm
7 mm
1 mm

Kunci Identifikasi Berudu Polypedates leucomysta.


1b. Spirakel di sebelah kiri tubuh, mata di permukaan atas tubuh............................5
5a. Bibit membulat ke arah depan atau bawah....................................................... 6
6b. Bagian ventral sedikit banyak tanpa bentuk, mulut kea rah depan...................7
7a. Berudu umumnya tidak terlalu kecil.................................................................11

11b.
12b.
13b.
15b.
16a.
17a.

Mulut normal bentuk dan ukurannya dengan beberapa baris geligi.................12


Tonjolan terbatas sampai bibir bawah dan bagian-bagian samping................. 13
Berudu tidak hitam, bibir bawah dengan tiga deretan geligi............................ 15
Bibir dengan paling banyak tiga deret geligi.................................................... 16
Berudu relatif besar, panjang total lebih dari 15 mm..................................... 17
Ekor kurang dari dua kali lipat panjang kepala dan tubuh, tubuh relatif gemuk,
sirip ekor setinggi tubuh, formula geligi I+3-3/III atau I+3-3/1-1+III, ekor
meruncing

mulai

dari

dua

pertiga

panjangnya......................................

Polypedates leucomystax

B. Pembahasan

Praktikum kali ini membahas pengenalan karakter dari beberapa anggota


Classis Amphibia untuk tujuan identifikasi dan klasifikasi. Preparat yang digunakan
pada praktikum ini adalah beberapa anggota dari ordo Anura, seperti Bufo
melanostictus (bangkong kolong), Bufo asper (bangkong sungai). Polypedates
leucomystax (katak pohon), Rana chalconota (katak kolam), dan Rhacophorus
reinwardtii (katak pohon hijau). Karakter penting yang digunakan sebagai parameter
untuk pembuatan kunci identifikasi spesies, meliputi: postur tubuh, corak warna
(specimen hidup), karakter kepala, tungkai jari. Karakter spesifik seperti kelenjar
paratoid dan nuptial pad.
Amphibia merupakan hewan tetrapoda yang telah mampu hidup dan
beradaptasi di lingkungan terestrial. Kemampuan adaptasi ini membuat mereka dapat
terus hidup di berbagai kondisi lingkungan. Suatu bentuk adaptasi umumnya diikuti

dengan perubahan morfologi, anatomi, fisiologi dan kebiasaan hidup. Perubahanperubahan yang terjadi secara tidak langsung akan meningkatkan variasi di antara
mereka. Variasi ini dapat terlihat pada setiap tahapan siklus hidupnya. Hal tersebut
dapat terlihat dari bentuk morfologi dua ekor berudu dari dua spesies berbeda.
Perbedaan yang paling jelas terlihat adalah dari warna tubuh, postur tubuh, corak
warna, sirip ekor, letak spirakel, bentuk alat mulut atau oral disc rumus geligi.
Secara umum amphibi memiliki tiga ordo yang masih eksis yaitu ordo
Caudata memiliki sepasang ekstrimitas tanpa telinga tengah dan memiliki ekor
panjang, contohnya salamander. Ordo Gymnophiona atau Apoda (tidak memiliki
kaki) memiliki karakter tubuhnya memanjang, alur melingkar yang tampak seperti
segmen, ekor pendek dan meruncing terspesialisasi untuk meliang dan paru-paru kiri
yang rudimenter, contohnya sesilian. Ordo Anura tidak memiliki ekor, tungkai
belakang lebih panjang daripada tungkai depan, yang terspesialisasi untuk berenang
dan melompat. Meliputi spesies katak dan kodok.
Perbedaan antara katak dan kodok diantaranya adalah :
No

Katak

Kodok

.
1.

Memiliki ekstrimitas tungkai

Memiliki ekstrimitas tungkai belakang

2.
3.

belakang yang lebih panjang


Permukaan kulit mulus
Habitat di perairan dan di

yang lebih pendek


Permukaan kulit berbintil
Habitat lebih dominan di daratan

4.

daratan
Bagian kepala tidak

(terrestrial)
Bagian kepala terdapat motif V

5.

terdapat motif V
Gelang bahu tidak

Gelang bahu tumpang tindih

6.

tumpang tindih
Terdapat tulang omosternum dan

Terdapat tulang omosternum dan

episternum

xiphisternum

Bufo melanosticus atau biasa disebut kodok kolong atau bangkong kolong
termasuk ke dalam Ordo Anura dan termasuk familia Bufonidae, familia ini disebut
kodok sejati. Kodok tersebut termasuk ke dalam familia Bufonidae karena berbintilbintil kasar. Memiliki sepasang kelenjar paratoid (kelenjar racun) yang besar panjang
terdapat di atas tengkuk. Kodok ini mempunyai garis supraorbital berwarna hitam,
membrana tymphanicus kodok berukuran lebih besar dari katak. Bagian punggung
bervariasi warnanya antara coklat abu-abu gelap, kekuningan, kemerahan, sampai

kehitaman. Kodok muda umumnya berwarna kemerahan. Kodok dewasa kecoklatan


kusam, kehitaman atau kemerahan, bintil atau bonteng hitam coklat. Terdapat bintilbintil kasar di punggung dengan ujung kehitaman. Sisi bawah tubuh putih keabuabuan, berbintil-bintil agak kasar. Kodok tidak memiliki ekor, tungkai lebih pendek
dibandingkan dengan katak. Tubuh sedang, supratimpanik menyambung, tidak ada
alur parietal. Jari-jari berselaput renang separuhnya. Tekstur kulit relatif berkerut,
dengan bintil-bintil atau bonteng yang jelas. Habitat selalu berada di dekat hunian
manusia atau wilayah yang terganggu. Tidak pernah terdapat di hutan tropis.
Bufo asper (bangkong sungai) termasuk ke dalam anggota ordo Anura dan
familia Bufonidae seperti Bufo melanostictus. Seperti halnya anggota familia
Bufonidae yang lain, kodok ini memiliki tekstur kulit sangat kasar atau berbenjol,
diliputi bintil-bintil berduri atau benjolan. Warna coklat tua yang kusam, keabuabuan atau kehitam-hitaman, di bagian bawah terdapat titik hitam. Tubuhnya lebih
besar dibandingkan dengan Bufo melanostictus dan kuat, alur supaorbital
dihubungkan dengan kelenjar paratoid oleh alur supratimpanik. Kelenjar paratoid
berbentuk lonjong. Tangan dan kaki dapat berputar. Jari kaki berselaput renang
sampai ke ujung. Habitat biasanya terdapat di sepanjang alur tepi sungai.
Polypedates leucomystax (katak pohon) termasuk ke dalam anggota ordo
Anura dan familia Rhacophoridae yang memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping
dan berukuran kecil, kulit mulus tanpa bintil, tubuh memiliki lipatan dorsoventral
pada sisi lateral pada bagian dorsal katak. Jari tangan setengahnya berselaput,
sedangkan jari kaki hampir sepenuhnya berselaput. Warna tubuh coklat kekuningan
satu warna atau dengan bintik hitam atau dengan empat atau enam garis yang jelas
memanjang dari kepala sampai ventral, bagian bawah kuning dengan bintik-bintik
coklat, dagu coklat tua. Jari tangan dan jari kaki melebar dengan ujung rata.
Memiliki piringan (discs) pada ujung jarinya untuk membantu dalam memanjat.
Kulit kepala menyatu dengan tengkorak. Habitatnya sering ditemukan di antara
tetumbuhan atau di sekitar rawa dan bekas tebangan hutan sekunder.
Rana chalconota (katak kolam) termasuk ke dalam anggota ordo Anura dan
familia Ranidae, familia ini sering disebut katak sejati. Bentuk tubuhnya relatif
ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat selaput untuk
membantu berenang dan terdapat disc pada ujung jarinya. Kulitnya halus, licin dan
ada beberapa yang berbintil. Katak berukuran kecil dan sedang, dengan tympanum
coklat tua. Jari-jari kaki dan tangan dengan ujung yang melebar dan jelas. Katak

jantan selalu ditutupi oleh bintil-bintil kecil. Warna tubuh berubah-ubah, sisi dorsal
(fase terang) sering berwarna krem kekuningan, atau kehijauan. Sisi tubuh (lateral)
keputihan, kekuningan atau hijau kekuningan terang. Pada fase gelap, kebanyakan
berwarna coklat atau coklat gelap berbintik-bintik hitam bulat. Habitat katak ini
sering didapati di sekitar kolam, selokan, saluran air atau sungai kecil.
Rhacophorus reinwardtii (katak pohon hijau) termasuk ke dalam anggota
ordo Anura dan familia Rhacophoridae, familia ini memiliki karakteristik memiliki
piringan (discs) pada ujung jarinya untuk membantu dalam memanjat. Katak akuatik
atau semi-akuatik seperti famili Ranidae memiliki selaput diantara jari-jarinya untuk
membantu dalam berenang. Katak tersebut berukuran kecil sampai sedang, berwarna
hijau atau oranye. Jari tangan dan jari kaki berselaput sepenuhnya sampai ke
piringan, berwarna hitam. Sebuah lipatan kulit terdapat di atas tumit dan anus, dan
lipatan serupa sepanjang lengan. Tekstur kulit halus pada bagian atas, perut, dan
samping tubuh, bagian bawah kaki berbintil-bintil kecil kasar. Habitat katak ini di
hutan primer atau sekunder, dan lebih umum pada ketinggian antara 250-1200 m di
atas permukaan laut.
Metamorfosis katak dan kodok terdiri dari tiga tahap yaitu telur katak, berudu
bereko, berudu dengan membra depan atau belakang, katak berekor, dan katak
dewasa. Katak dan kodok dikatakan melakukan metamorfosis sempurna karena
dalam pertumbuhannya melalui beberapa tahapan, dalam hal ini melalui empat
tahapan. Katak tidak satu-satunya hewan yang melakukan metamorfosis, sebagian
besar dari amphibi juga mengalami perubahan yang luar biasa sepanjang
metamorfosis mereka. seperti halnya dengan banyak spesies invertebrata lainnya.
Berdasarkan hasil identifikasi berudu dengan menggunakan metode
morfometri data yang didapatkan antara lain Maximum Body Height (BH) sebesar 6
mm, Maximum body weight (BW) sebesar 7 mm, Maximum eye diameter (ED)
sebesar 3 mm, Maximum tail height (HT) sebesar 7 mm, Maximum height of lower
tail fin (LF) sebesar 4 mm, Maximum height of upper tail fin (UF) sebesar 1 mm,
Total length (TL) sebesar 43 mm, Snout-vent length (SVL) sebesar 15 mm, Distance
from tip of snout-opening of spiracle (SS) sebesar 3 mm, Distance from tip of snoutinsertion of upper tail fin (SU) sebesar 13 mm, Internarial distance (NN) sebesar 3
mm, Interpupillar distance (PP) sebesar 7 mm, Rostro-narial distance (RN) sebesar
1 mm. Deskripsi berikut ini merupakan hasil identifikasi berudu antara lain mata
berudu terdapat di pemukaan atas tubuh jika dilihat dari ventral, bibir membulat ke

arah depan atau bawah, tipe ekornya Saddled, tipe vent yakni Dextral vent, ekornya
berbentuk pipih berselaput, tipe spirakelnya yakni dual spiracle (di sebelah kanan
dan kiri tubuh), warna tubuhnya yakni kecoklatan, memiliki rumus geligi I/II, rumus
tersebut tidak sesuai dengan kunci identifikasi yang seharusnya rumum geligi P.
leucomystax adalah I+3-3/III atau I+3-3/1-1+III hal ini dikarenakan kurang teliti
dalam mengamati geligi berudu menggunakan mikroskop stereo, keratinisasi paruh
lebar, tipe paruhnya serrate, pelebaran paruh medium, dan bentuk mulutnya
marginal, tonjolan terbatas sampai bibir bawah dan bagian-bagian samping, berudu
tidak hitam, dan berudu relatif besar, panjang total lebih dari 15 mm. Ekor kurang
dari dua kali lipat panjang kepala dan tubuh, tubuh relatif gemuk, sirip ekor setinggi
tubuh, ekor meruncing mulai dari dua pertiga panjangnya. Berdasarkan penjelasan di
atas dapat disimpulkan bahwa berudu merupakan spesies Polypedates leucomystax.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Berudu dari ordo Anura yang telah diidentifikasi diantaranya Polypedates
leucomystax dan Bufo melanostictus.
2. Beberapa karakter penting untuk identifikasi berudu adalah postur tubuh (dorsal,
ventral, lateral), corak warna (tubuh, otot ekor, sirip), sirip ekor (lebar atau
sempit), letak spirakel (kiri, tengah, atau ganda), dan morfologi oral disc dan
rumus geligi.
3. Anggota ordo Anura yang telah diindentifikasi diantaranya adalah Bufo
melanotictus, Bufo asper dari familia Bufonidae, Rhacophorus reindwardtii dari
familia Rhacophoridae, Polypedates leucomystax dan Rana chalconata dari
familia Ranidae.
4. Beberapa karakter penting untuk identifikasi anggota ordo Anura adalah
permukaan tubuh, ada tidaknya lipatan dorsoventral, habitat, ekstrimitas, ada

tidaknya web, postur tubuh, corak warna (spesimen hidup), karakter kepala,
tungkai jari, selain itu karakter spesifik seperti kelenjar paratoid dan nuptial pad.
B. Saran

Saran untuk praktikum kali ini yakni sebaiknya dalam mengidentifikasi


Classis Amphibia spesimen dipegang supaya dalam mengidentifikasi lebih teliti.

DAFTAR REFERENSI
Abercombie, M, M. Hickman, M. L. Johnson, & M. Thain. 1993. Kamus Lengkap
Biologi Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga.
Das, Abhijit, Mitali C., Sushil Kumar D., & Saibal S. 2013. A new species of
Duttaphrynus (Anura : Bufonidae) from Northeast India. Zootaxa, 3646(4)
pp. 336-348.
Djarubito, Mukayat. 1989. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga
Djuhanda, T. 1982. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata I. Bandung: Armico.
Duellman, William E., Schlager, dan Neil. 2003. Animal Life Encyclopedia: Volume
6 Amphibians. Thomson-Gale.

Inger, R. F., & Stuebing, R. B. 1997. A Field Guide to the Frogs of Borneo.
Kota Kinabalu: Natural History Publications (Borneo) Limited.
Iskandar, DT. 1998. Amphibia Jawa dan Bali. Bogor: Puslitbang Biologi.
Iskandar, DT. 2000. Buaya dan Kura-Kura Indonesia. Bogor: Puslitbang BiologiLIPI.
Jasin, M. 1984. Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Jasin, M. 2002. Sistematika Hewan Invertebrata dan Vertebrata. Surabaya: Sinar
Wijaya.
Muetya. 2011. Pengantar Praktikum Amphibia. Bandung: Armico.
Nazri, M. & Novarino W. 2009. Penuntun Praktikum Taksonomi Hewan Vertebrata.
Padang: Universitas Andalas.
Oktavina, M.A. & Rarastoeti P. 2015. Pola Protein Sekret Kelenjar Parotoid Tiga
Spesies Kodok dan Sekret Kelenjar Kulit Katak Kongkang Racun
(Odorrana hosii Boulenger,1891) Melalui SDS-PAGE. Surakarta: Seminar
Nasional Konservasi dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam, FKIP UNS.
Sciani, J.M., Claudia, B.A., Marta, M. A., Carlos, J. & Daniel, C. P. 2013.
Differences and Similarities among Parotoid Marogland Secretions in South
American Toads: A Preliminary Biochemical Delineation. The Scientific
World Journal, 1 pp. 1-2.
Sidik. 1998. Seri Keanekaragaman Flora dan Fauna I, Reptile dan Amphibian di
Pulau Supid. Catatan singkat keanekaragaman Jenis dan habitatnya.
Zug, George R. 1993. Herpetology : an Introductory Biology of Ampibians and
Reptiles. London: Academic Press.