Anda di halaman 1dari 16

RISKA MARDIANA

1. Jelaskan perbedaan antara adsorpsi kimia (kemisorpsi) dengan adsorpsi fisika


(fisisorpsi)!
2. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan kimia pada
reaksi heterogen!
Jawab :

adsorpsi fisika (Physisorption)

interaksi yang terjadi antara dasorben dan adsorbat adalah gaya Van der Walls dimana ketika
gaya tarik molekul antara larutan dan permukaan media lebih besar daripada gaya tarik
substansi terlarut dan larutan, maka substansi terlarut akan diadsorpsi oleh permukaan
media. Adsorbsi fisika ini memiliki gaya tarik Van der Walls yang kekuatannya relatif kecil.
Molekul terikat sangat lemah dan energi yang dilepaskan pada adsorpsi fisika relatif rendah
sekitar 20 kJ/mol.
Contoh :
Adsorpsi oleh karbon aktif. Karbon aktif merupakan senyawa karbon yang diaktifkan dengan
cara membuat pori pada struktur karbon tersebut. Aktivasi karbon aktif pada temperatur yang
tinggi akan menghasilkan struktur berpori dan luas permukaan adsorpsi yang besar. Semakin
besar luas permukaan, maka semakin banyak substansi terlarut yang melekat pada permukaan
media adsorpsi.

adsorpsi kimia (Chemisorption)

Chemisorption terjadi ketika terbentuknya ikatan kimia (bukan ikatan van Dar
Wallis) antarasenyawa terlarut dalam larutan dengan molekul dalam media. Chemisorpsi
terjadi diawali dengan adsorpsi fisik, yaitu partikel adsorbat tertarik ke permukaan adsorben
melalui gaya Van der Walls atau bisa melalui ikatan hidrogen.
Dalam Chemisorbption partikel melekat pada permukaan dengan membentuk ikatan kimia
(biasanya ikatan kovalen), dan cenderung mencari tempat yang memaksimumkan bilangan
koordinasi dengan substrat.
Contoh : Ion exchange.
Perbedaan adsorpsi fisika dan kimia dapat dilihat pada tabel 1.
Adsorpsi fisika

Adsorpsi kimia

Molekul terikat pada adsorben oleh gaya Van


der Walls

Molekul terikat pada adsorben oleh ikatan


kimia

Mempunyai entalpi reaksi -4 sampai


kJ/mol

Mempunyai entalpi reaksi -40 sampai


800kJ/mol

Dapat membentuk lapisan multilayer

-40

Membentuk lapisan Monolayer

Adsorpsi hanya terjadi pada suhu dibawah


titik didih adsorbat

Adsorpsi dapat terjadi pada suhu tinggi

Jumlah adsorpsi pada permukaan merupakan


fungsi adsorbat

Jumlah adsorpsi pada permukaan merupakan


karakteristik adsorben dan adsorbat

Tidak melibatkan energi aktivasi tertentu

Melibatan energi aktivasi tertentu

Bersifat tidak spesifik

Bersifat sangat spesifik

Faktor-Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Kesetimbangan Kimia Pada Reaksi


Heterogen :

1. Perubahan konsentrasi
Jika ke dalam kesetimbangan,konsentrasi pereaksi ditambah atau diperbesar,maka
kesetimbangan akan bergeser ke kanan (zat hasil) sehingga konsentrasi zat hasil bertambah
sebaliknya, jika konsentrasi pereaksi di kurangi atau diperkecil,maka kesetimbangan bergeser
ke kiri(pereaksi)sehingga konsentrasi pereaksi bertambah. Pada sistem kesetimbangan
heterogen di dalam larutan,konsentrasi zat cair adalah tetap. Dengan demikian,perubahan
konsentrasi zat padat dan zat cair dalam sistem kesetimbangan tidak berpengaruh terhadap
pergeseran kesetimbangan.
Contoh:
AB (s)

A+(aq) + B-(aq)

Kesetimbangan hanya di pengaruhi oleh perubahan konsentrasi zat A+ dan B-,pada sistem
kesetimbangan heterogen yang menyangkut fase gas, sistem kesetimbangan hanya di
pengaruhi oleh perubahan konsentrasi komponen yang berwujud gas.Komponen yang
berwujud padat dan cair, konsentrasinya adalah tetap.
Contoh:
AB(s)

A(s) + B(g)

Kesetimbangan reaksi di atas hanya di pengaruhi oleh perubahan konsentrasi zat B.

2.Perubahan tekanan / volume


Hukum Boyle : Jika dalam sistem kesetimbangan volume ruang di perbesar (atau tekanan
diperkecil) maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi yang jumlah koefisiennya
lebih besar,sebaliknya dalam jika sistem kesetimbangan volume ruang di perkecil (atau
tekanan di perbesar), maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak reaksi yang jumlah
koefisiennya lebih kecil.Pada sistem kesetimbangan heterogen pengaruh perubahan volume
dan tekanan pada pergeseran kesetimbangan tidak di pengaruhi oleh zat padat dan zat
cair,tetapi hanya di pengaruhi oleh komponen yang berwujud gas.

3.Perubahan temperatur
Vant Hoff : Jika dalam sistem kesetimbangan suhu ruang di naikkan kesetimbangan
bergeser ke arah reaksi yang membutuhka kalor(endoterm).Sebaliknya jika dalam sistem
kesetimbangan suhu ruang di turunkan, kesetimbangan bergeser ke arah reaksi yang
mengeluarkan kalor (eksoterm).Pada sistem kesetimbangan heterogen, pengaruh suhu sama
dengan pada sistem kesetimbangan homogen.Wujud zat tidak berpengaruh terhadap
perubahan suhu. Contoh:
A(g) + B(g)

C(g) + D(g) H= -X Kj

Reaksi 1 adalah eksoterm, yaitu zat A dan B membebaskan kalor untuk membuat zat C dan
D, reaksi 2 adalah endoterm yaitu zat C dan D menyerap kalor untuk membuat zat A dan B.

RIANITA SALI
3. Apa yang menyebabkan fasa katalis heterogen tidak sama dengan reaktan dan
produk?
Jawab :
Fasa katalis berbeda dengan fasa reaktan dan produk, karena reaksi berlangsung melalui
mekanisme yang sangat kompleks. Laju reaksi di kendalikan oleh laju dan energy Adsorpsi,
absorpsi, dan desorpsi, struktur permukaan aktif, dan sifat sifat terbentuknya produk antara.
Katalis heterogen yg umumnya padatan di gunakan untuk industry karena mudah di buat
dengan konstruksi yang sederhana dan mudah ditempatkan dalam reactor.

AMELIA PRADITA
4. Bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi? Jelaskan berdasarkan teori
tumbukan?
Jawab :
pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi (teori tumbukan) :
Berdasarkan gambar dbawah dapat dilihat bahwa konsentrasi pereaksi berkaitan dengan
jumlah partikel zat yang terlibat dalam tumbukan. Bila pereaksi bertambah, maka jumlah
partikel-partikel yang bertumbukan akan semakin banyak/meningkat. Dengan demikian jarak
antara partikel.zat tersebut menjadi lebih dekat dan jumlah tumbukkan efektif juga akan
meningkat. Hal ini berarti terjadi peningkatan laju suatu reaksi. Dan sebaliknya, jika
konsentrasi berkurang, maka tumbukan akan sedikit dan laju reaksi juga akan berkurang.
Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, luas permukaan, temperatur, dan katalis.
Berdasarkan teori tumbukan, laju reaksi akan lebih cepat jika tumbukan antar partikel zat
yang bereaksi lebih banyak. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi dapat dijelaskan
sebagai berikut: supaya suatu reaksi dapat berlangsung , partikel partikel tersebut pertama
tama haruslah bertubrukan. Hal ini berlaku ketika dua partikel itu larutan atau salah satu
larutan satunya lagi benda padat. Jika konsentrasi tinggi maka kemungkinan untuk

bertubrukan pun besar. Jika reaksi hanya melibatkan satu partikel tersebut keberbagai arah,
maka tubrukan tubrukan tidak saling berhubungan.

5. Sebutkan contoh katalis dalam kehidupan sehari-hari?


Jawab:
Contoh Peranan Katalis dalam Kehidupan Sehari-Hari
Katalis merupakan zat yang mempercepat laju reaksi. Namun tidak ikut bereaksi. Pada
kesempatan kali ini, kelompok kami melakukan percobaan pada sepeda motor dengan
menambahkan katalis untuk premium sebagai bahan bakar minyak. Berdasarkan bagan
disamping, katalis dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
1. katalis organik contohnya V2O5,Pt,Fe,Rh
2. katalis anorganik, contohnya renim,enzim dari ragi dan tripsin

Katalis bahan bakar di atas berfungsi untuk memecah molekul-molekul premium. Dengan
memecah molekul-molekul pada premium, laju reaksi semakin cepat karena luas permukaan
zat pereaksi bertambah. Pembakaran bahan bakar menjadi lebih sempurna. Nilai oktan dari
premium yang relatif rendah dapat ditingkatkan sehingga meminimalisir gejala knocking
pada mesin. Pembakaran yang sempurna dan tanpa terjadi knocking terbukti bisa
meningkatkan performa pada kendaraan. Umumnya akselerasi menjadi lebih sempurna.

SUKMA HUDHORI
6. Jelaskan perbedaan Katalis Asam Heterogen dan Katalis Basa Heterogen !
Jawab:

Katalis asam heterogen :

Proses produksi biodiesel dengan katalis heterogen merupakan teknologi yang


ramah lingkungan (green technology) karena katalis tersebut dapat didaur ulang
(recycle), limbah yang dihasilkan sedikit, pemisahan biodiesel dari gliserolnya
jauh lebih mudah, dan mengurangi masalah korosi (Suarez et al., 2007).
Baru-baru ini, beberapa peneliti menilai kelayakan ekonomi produksi biodiesel
dari limbah minyak nabati. Zhang et al. (2003) mempelajari biaya produksi
biodiesel yang dibuat dari limbah minyak nabati. Mereka melaporkan bahwa
dengan penggunaan katalis asam heterogen biaya produksi menjadi lebih
ekonomis. Penggunaan katalis heterogen akan mengurangi pengolahan hilir.
Crude Palm Oil (CPO) parit dan minyak non-edible lainnya yang memiliki
kandungan asam lemak yang tinggi akan menyebabkan pembentukan sabun dan
menurunkan yield biodiesel serta masalah sulitnya pemisahan katalis tersebut
dengan produk jika menggunakan katalis homogen (Van Gerpen, 2005).
Penggunaan enzim untuk mengkatalisis produksi biodiesel juga telah menarik
banyak peneliti beberapa tahun belakangan ini karena enzim dapat mentolerir
kandungan asam lemak bebas dan air serta kemudahan dalam pemurnian
biodiesel dan gliserol, tetapi transesterifikasi enzimatik masih belum dapat
dikomersialkan untuk produksi biodiesel dikarenakan waktu tinggal yang lama
dan biaya produksi yang tinggi (Dizge et al., 2009). Katalis heterogen akan
mengkonversi trigliserida menjadi biodiesel secara perlahan-lahan, tetapi
merupakan cara yang ekonomis karena katalisnya dapat didaur ulang untuk
kedua proses, baik batch atau kontinu (West et al., 2008).
Katalis asam padat yang ideal untuk reaksi esterifikasi minyak nabati harus
memiliki karakteristik seperti sistem interkoneksi dengan pori yang besar,
konsentrasi situs asam kuat yang moderat hingga tinggi dan permukaan
hidrofobik (Kulkarni dan Dalai, 2006). Beberapa katalis asam padat yang terus
dikembangkan antara lain zeolit (Lotero et al., 2005), resin penukar ion sulfonat
(Ozbay et al., 2008), silika mesostructure modifikasi sulfonat (Mbraka and
Shanks,

2006),

katalis

berbasis

karbon

tersulfonasi

(Hara,

2009),

heteropolyacids (HPA) (Narasimharao et al., 2007), titanium oksida (TiO2) (Chen


et al., 2007), dan zirkonium oksida (ZrO2) (Miao and Gao, 1997).

7. Aplikasi katalis heterogen dalam dunia industry !


Jawab :

Umumnya katalis heterogen berupa zat padat yang terdiri dari logam atau oksida logam.
Contoh-contoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO, MgO, dan resin penukar ion.
Proses katalitik menggunakan katalis heterogen dalam industri pertama kali pada tahun 1857,
menggunakan Pt untuk mengoksidasi SO2 menjadi SO3 dalam larutan asam.

Tabel 3.1. Beberapa contoh katalis heterogen dalam dunia industri


Reaksi

Katalis

C4H10 Butena dan C4H6 (butadiena)CH4 Cr2O3 Al2O3Ni support


atau hidrokarbon lain + H2O CO + H2
Pd dalam Al2O3 atau padatan pendukung Ni-Sulfida.
C2H2 + 2H2 C2H6
Logam (seperti Pd) pada zeolit
Hidrocraking
Promotor ZnO dengan Cr2O3 atau promoter Cu1
CO + 2H2 CH3OH
ZnO dengan Cr2O3 atau Al2O3.
Katalisis heterogen sejauh ini adalah jenis katalisis yang paling penting dalam kimia industry,
terutama dalam sintesis berbagai bahan kimia penting. Di sini dijelaskan dua contoh katalisis
heterogen yang spesifik.
Pembuatan Asam Nitrat
Asam nitarat ialah salah satu asam anorganik yang paling penting. Asam ini digunakan dalam
produksi pupuk, zat warna,obat-obatan dan bahan peledak. Metode industri yang utama
dalam memproduksi asam nitrat ialah proses Ostwalk. Bahan awalnya yaitu ammonia dan
molekul oksigen, dipanaskan dengan tambahan adanya katalis platina-rodiumsampai sekitar
8000 C :
4NH3(g) +5O2(g) 4NO(g) +6H2O(g)
Nitrat oksida yang terbentuk mudah teroksidasi (tanpa katalis) menjadi nitrogen dioksida:
2NO(g) + O2 2NO2(g)
Ketika dilarutkan di dalam air, NO2 membentuk asam nitrit dan asam nitrat:
2NO2(g) + H2O(l) HNO2(aq) + HNO3(aq)
Jika dipanaskan, asam nitrit berubah menjadi asam nitrat sebagai berikut:
3HNO2(aq) HNO3(aq) + H2O(l) + 2NO(g)
NO yang dihasilkan dapat didaur ulang untuk menghasilkan NO2 pada tahap kedua.
Konverter Katalitik

Pada suhu tinggi di dalam mesin mobil yang sedang berjalan gas nitrogen dan oksigen
bereaksi membentuk nitrat oksida:
N2(g) + O2(g) 2NO(g)
Ketika lepas ke atmosfer, NO segera bergabung dengan O2 membentuk NO2. Nitrogen
dioksida dan gas lain yang diemisikan oleh mobil, seperti karbon monoksida (CO) dan
berbagai hidrokarbon yang terbakar, menjadikan mobil sebagai sumber pencemar udara yang
utama. Sebagian besar mobil baru dilengkapi dengan converter katalitik. Konverter katalitik
yang efisien memiliki dua tujuan : mengoksidasi CO dan H2O, dan mereduksi NO dan NO2
menjadi N2 dan O2. Gas buang panas yang telah diinjeksi dengan udara dilewatkan ke bilik
pertama dari salah satu converter untuk mempercepat pembakaran hidrokarbon yang
sempurna dan untuk menurunkan emisi CO. Namun karena suhu tinggi meningkat produksi
NO, diperlukan satu lagi bilik kedua yang berisi katalis berbeda (logam transisi atau oksida
logam transisi) dan bekerja pada suhu yang lebih rendah untuk menguraikan NO menjadi N2
dan O2 sebelum gas dibuang lewat knalpot.
Mekanisme dari katalis padat dengan reaktan fasa gas, dimana terjadi pembentukan kompleks
reaktan dengan katalis setelah pembentukan produk adalah sebagai berikut :
Reaktan terbawa oleh aliran gas pembawa sampai kepermukaan luar partikel katalis.
Difusi reaktan dari permukaan luar masuk melalui pori dalam partikel katalis.
Reaktan diadsorpsi pada sisi aktif katalis sehingga menimbulkan energi adsorpsi
Reaksi pembentukan produk antara permukaan sampai terjadinya produk.
Produk didesorpsi dari katalis keluar melalui pori bagian partikel katalis

SRI MULYANI RAHAYU


8. Jelaskan struktur katalis heterogen dan uraikan juga fungsi dari setiap bagian/struktur
katalis heterogen?
Jawab :
Suatu katalis heterogen mempunyai dua komponen utama, yaitu fasa
aktif dan penyangga. Fasa aktif berfungsi untuk mempercepat dan
mengarahkan reaksi. Fasa aktif dari katalis bisa menjadi tidak aktif
(terdeaktivasi) karena beberapa sebab seperti kehadiran CO, CO 2, dan
senyawa-senyawa sulfur, serta suhu reaksi yang terlalu tinggi. Sedangkan
penyangga atau support berfungsi untuk memberikan luas permukaan yang
lebih besar bagi fasa aktif, memperbaiki kekuatan mekanik, serta
meningkatkan stabilitas termal dan efektivitas katalis.

9. Jelaskan dengan mekanisme reaksi atau skema saat katalis heterogen meningkatkan
kemurnian hasil/produk?
Jawab :
Pada proses katalisis heterogen terjadi tahapan reaksi (siklus katalitik)
[9]

tertentu . Siklus katalitik tersebut didahului dengan terjadinya transfer


reaktan menuju permukaan katalis. Reaktan kemudian berinteraksi dengan
katalis sehingga terjadi proses adsorpsi pada permukaan katalis. Spesies
yang teradsorpsi akan bereaksi untuk menghasilkan produk. Pada tahap ini
terjadi penurunan energi aktivasi reaksi. Setelah reaksi selesai, produk yang
terbentuk akan terdesorpsi dari permukaan katalis, lalu menjauhi katalis.
Transfer reaktan menuju katalis maupun produk menjauhi katalis hanya
merupakan suatu transport fisik. Sedangkan proses adsorpsi dan desorpsi
telah melibatkan perubahan kimia, dimana terjadinya interaksi antara reaktan
dan katalis.

EGA RAHMAWATI
10. Apa yang menyebabkan katalis dapat meningkatkan laju reaksi kimia? Jelaskan!
jawab :
Katalis dapat mempengaruhi terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh
kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu

reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena
zat- zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.
Katalis adalah zat yang mempercepat laju reaksi, tetapi tidak mengalami perubahan kimia
secara permanen, sehingga pada akhir reaksi zat tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis
mempercepat reaksi dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Sedangkan zat yang
dapat memperlambat laju reaksi disebut inhibitor.Meskipun katalis menurunkan energi
aktivasi reaksi, tetapi ia tidak mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi.
Dengan kata lain, penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi reaksi.
Pengaruh katalis dalam mempengaruhi laju reaksi terkait dengan energi pengaktifan reaksi
(Ea). Katalis yang digunakan untuk mempercepat reaksi memberikan suatu mekanisme reaksi
alternatif dengan nilai Ea yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai Ea reaksi tanpa
katalis. Semakin rendah nilai Ea maka lebih banyak partikel yang memiliki energi kinetik
yang cukup untuk mengatasi halangan Ea yang rendah ini.

Gambar 4. grafik pengaruh katalis terhadap energi pengaktifan (Ea) Dengan memperhatikan
gambar.4 diatas dapat dilihat bahwa tanpa katalis, energi pengaktifan (Ea) suatu reaksi lebih
banyak, sedangkan dengan menggunakan katalis, Ea menjadi lebih sedikit, sehingga laju
reaksi menjadi lebih cepat. Ini berarti bahwa katalis dapat meningkatkan energi pengaktifan
suatu reaksi, sehingga laju reaksi menjadi semakin besar.
Pengaruh katalis dalam mempengaruhi laju reaksi terkait dengan energi pengaktifan reaksi
(Ea). Katalis yang digunakan untuk mempercepat reaksi memberikan suatu mekanisme reaksi
alternatif dengan nilai Ea yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai Ea reaksi tanpa
katalis. Semakin rendah nilai Ea maka lebih banyak partikel yang memiliki energi kinetik
yang cukup untuk mengatasi halangan Ea yang rendah ini. Hal ini menyebabkan jumlah
tumbukan efektif akan bertambah, sehingga laju reaksi juga akan meningkat.
Katalis yang mempercepat laju reaksi disebut katalis.(+) atau katalis saja.
Sedangkan katalis yang memperlambat laju reaksi disebut katalis.(-) atau lebih
umum disebut Inhibitor.
11. Apa pengaruh katalis terhadap reaksi reversibel?
Jawaban :
Ketika kita membakar bensin, pada pembakaran yang sempurna akan terjadi reaksi kimia
yang menghasilkan karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Reaksi ini akan berlangsung
terus sampai jumlah bensin yang ada habis, sementara gas CO2 dan uap air makin bertambah.

Reaksi tersebut dikatakan reaksi berkesudahan, sebab meskipun produk CO2 dan H2O
ditampung dalam satu wadah tidak akan bereaksi membentuk bensin dan oksigen kembali.
Reaksi seperti itu juga disebut sebagai reaksi searah atau reaksi tidak dapat balik
(irreversible).
Kita juga dapat melihat peristiwa serupa yang menunjukan reaksi berkesudahan dalam
kehidupan sehari-hari. Semua pembakaran bahan bakar fuel (minyak bumi) merupakan reaksi
berkesudahan. Reaksi korosi pada logam juga termasuk contoh yang nyata. Mungkin akan
mempermudah bagi kita untuk mencirikan reaksi berkesudahan. Diantaranya adalah zat-zat
hasil reaksinya tidak dapat bereaksi kembali membentuk zat pereaksi, dengan demikian
reaksi pasti akan berhenti jika salah satu atau semua reaktan habis.
Apakah ada reaksi yang dapat balik? dalam kehidupan sehari-hari sulit menemukan reaksi
yang dapat balik. Proses-proses alami umumnya berlangsung searah, tidak dapat balik.
Namun, di laboratorium maupun dalam proses industri, banyak reaksi yang dapat balik.
Reaksi yang dapat balik kita sebut reaksi reversible. Diantaranya kita sebutkan dan
jelaskan pada contoh di bawah ini :
Jika campuran gas nitrogen dan hidrogen dipanaskan akan menghasilkan gas amonia, dengan
reaksi:
N2(g) + 3H2(g)

2NH3(g)

Sebaliknya, jika amonia (NH3) dipanaskan akan terurai membentuk nitrogen dan hidrogen,
dengan reaksi:
2NH3(g)

N2(g) + 3H2(g)

Apabila diperhatikan ternyata reaksi pertama merupakan kebalikan dari reaksi kedua. Kedua
reaksi itu dapat digabung sebagai berikut :
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g)
Tanda ( ) dimaksudkan untuk menyatakan reaksi dapat balik (reversible). Reaksi ke kanan
disebut reaksi maju, reaksi ke kiri disebut reaksi balik. Pada reaksi dapat balik ini zat-zat
hasil reaksi dapat bereaksi kembali membentuk zat pereaksi, begitulah sebaliknya sehingga
komponen zat tidak pernah habis, hal inilah yang menjadi jawaban mengapa reaksi dapat
balik tidak pernah habis.
Banyak peristiwa di alam ini yang berlangsung reversible seperti pada reaksi fotosintesa dan
reaksi respirasi sebagai kebalikannya. Adanya kedua reaksi tersebut menguntungkan bagi
kehidupan di bumi, Sebab keberadaan oksigen dan karbondioksida dapat saling terimbangi
oleh reaksi yang dapat balik. Apa yang terjadi jika Reaksi fotosintesa yang melepas oksigen
tidak diimbangi dengan reaksi respirasi yang melepas karbondioksida?
B. Kesetimbangan Kimia
Pada umumnya reaksi-reaksi kimia di laboratorium berlangsung dalam arah bolak-balik
(reversible), dan hanya sebagian kecil saja yang berlangsung satu arah. Sebagai contoh

aadalah reaksi pembentukan gas ammonia NH3 dari gas H2 dan N2. Pada awal proses bolakbalik, reaksi berlangsung ke arah pembentukan produk (reaksi 1),
N2(g) + 3H2(g)

2NH3(g).1)

segera setelah terbentuk molekul produk (NH3) maka terjadi reaksi sebaliknya (reaksi 2),
yaitu pembentukan molekul reaktan (gas N2 dan H2) dari molekul produk (gas NH3).
2NH3(g)

N2(g) + 3H2(g)2)

Reaksi 1 bermula dengan sangat cepat, tetapi makin lama kecepatannya terus-menerus
menurun, karena hydrogen dan nitrogen makin berkurang jumlahnya. Di sisi lain reaksi 2
yang bermula sangat lambat, terus-menerus naik kecepatannya karena banyaknya ammonia
bertambah. Akhirnya kecepatan kedua reaksi yang berlawanan menjadi sama. Sekali laju
reaks telah sama, selama temperature dan tekanan tidak berubah dan tidak ada zat yang
ditambahkan atau diambil, maka banyaknya hydrogen, nitrogen dan ammonia tidak berubah.
Jumlah masing-masing komponen tidak berubah terhadap waktu oleh karena itu tidak ada
perubahan yang dapat diamati terhadap waktu. Oleh karena itu tidak ada perubahan yang
dapat diamati atau diukur (sifat makroskopis tidak berubah), reaksi seolah-olah telah
berhenti. Keadaan seperti itu disebut keadaan setimbang (kesetimbangan). Akan tetapi,
percobaan menunjukkan bahwa dalam keadaan setimbang reaksi tetap berlangsung pada
tingkat molekul (tingkat mikroskopis). Oleh karena itu, keseimbangan kimia disebut
Kesetimbangan dinamis. (lihat grafik di bawah).
MUCTI EKO W.
12. Apakah ada kerugian dari penggunaan katalis heterogen dan adakah jangka waktu
dalam penggunaannya ?
Jawab : tidak ada kerugian, katalis ini dapat digunakan berulangkali dalam jangka waktu
yang lama.

13. Salah satu keuntungan dari katalis heterogen adalah dapat digunakan berkali-kali,
Apakah volume/jumlah katalis itu berkurang selama reaksi ?, Atau memang
volume/jumlah sebelum reaksi dan sesudahnya adalah sama ?
Jawab :
Berkurang karena bisa jadi selama reaksi katalis heterogen bergabung dengan reaktan
atau produk tapi dapat dan mudah dipisahkan setelah proses reaksi selesai.
LIANA P.
14. Jelaskan apa yang dimaksud dengan inhibitor? Apakah mekanisme kerja katalis sama
dengan inhibitor? Jika berbeda bagaimana mekanisme kerja inhibitor?
Jawab:
Secara umum suatu inhibitor dalah suatu zat kimia yang dapat menghambat
atau memperlambat suatu reaksi kimia. Sedangkan inhibitor korosi adalah
suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam suatu lingkungan, dapat
menurunkan laju penyerangan korosi lingkungan itu terhadap suatu logam.

Mekanisme penghambatannya terkadang lebih dari satu jenis. Sejumlah


inhibitor menghambat korosi melalui cara adsorpsi untuk membentuk suatu
lapisan tipis yang tidak nampak dengan ketebalan beberapa molekul saja,
ada pula yang karena pengaruh lingkungan membentuk endapan yang
nampak dan melindungi logam dari serangan yang mengkorosi logamnya dan
menghasilkan produk yang membentuk lapisan pasif, dan ada pula yang
menghilangkan konstituen yang agresif.

. Prinsip Kerja Katalis


Teknologi katalis telah digunakan dalam industri kimia lebih dari 100 tahun lamanya dan
penelitian serta pengembangan teknologi katalis telah menjadi semacam bidang
kekhususan kimia.
Suatu reaksi eksoterm AB(g) + C(g) AC(g) + B(g). Reaksi ini berlangsung
lambat, karena energi aktivasinya (Ea) lebih besar dibanding energi molekulnya. Hanya
sebagian kecil molekul yang mencapai Ea.

Oleh karena itu untuk mempercepat reaksi ini, ditambahkan suatu katalis. Apa fungsi
katalis? Mengapa katalis dapat mempercepat reaksi? Bagaimana cara katalis
mempercepat reaksi itu? Berdasarkan diagram di atas, Ea' dengan katalis lebih rendah.
Mengapa?
Katalis itu berupa zat yang dicampurkan dengan reaktan. Jika reaksi di atas tanpa katalis,
AB dan C bertumbukan sampai mencapai Ea yang relatif tinggi. Karena umumnya energi
molekulnya rendah, jadi tumbukan yang terjadi tidak efektif. Ea sangat sulit dicapai.
Untuk itu maka ditambahkan zat yang bertindak sebagai katalis.
Ternyata pada saat katalis dicampurkan reaksi makin cepat. Jelas bahwa katalis itu dapat
mempengaruhi salah satu reaktan. Misalnya dalam reaksi ini katalis cocok sifatnya
dengan AB. Maka seperti robot, AB tertarik ke katalis membentuk KAB. KAB tergolong
kompleks teraktivasi yang merupakan tahap reaksi hipotesis; KAB kemudian terurai
menjadi KA dan B. Setelah itu terjadi tahap reaksi berikutnya, yaitu C ditarik oleh KA
menjadi KAC yang kemudian langsung K lepas dan terbentuklah AC. Mekanisme reaksi
di atas adalah :
K + AB --> KAB --> KA + B (lambat)
KA + C --> KAC --> K + AC (cepat)
K + AB + C --> K + AC + B
Jadi katalis ikut ambil bagian dalam reaksi, memberi jalan baru melalui mekanisme reaksi
baru yang energi aktivasinya lebih rendah, kemudian terbentuk kembali dalam keadaan
yang sama.

cara kerja enzim dengan cara bersaing dengan substrat untuk mendapatkan
enzim. Sementara inhibitor non-kompetitif adalah penghambat enzim yang
bekerja dengan melekatkan dirinya di luar sisi aktif dengan demikian ia akan
membuat enzim berbah dan hasil akhirnya enzim akan kehilangan sisi aktifnya
sehingga tak lagi berfungsi seperti semestinya.

Berdasarkan cara mempengaruhi reaksi

Kurva LineweaverBurk berbagai efek dari inhibitor enzim reversible.


Inhibitor reversible dibedakan menjadi inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.[4] Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat yang bersaing
dengan substrat untuk mendapatkan sisi aktif enzim.[1] Namun setelah inhibitor
menempati sisi aktif, enzim bebas dan produk tidak segera terbentuk, sehingga
jumlah enzim atau kompleks enzim substrat berkurang.[1] Penghambatan aktivitas
enzim oleh inhibitor dicirikan dengan mengikat tetapan Michaelis Menten
(konsentrasi substrat yang dibutuhkan untuk mencapai setengah kecepatan
maksimum).[1] Peningkatan konsentrasi substrat dapat mengatasi inhibitor
kompetitif.[1] Jika konsentrasi substrat tinggi, tempat pengikatan substrat ditempati
oleh subtrat sehingga tidak ada molekul inhibitor yang dapat terikat.[1] Oleh karena
itu, inhibitor ini dapat meningkatkan Km enzim akan tetapi tidak pada Vmax.[1]
Inhibitor non-kompetitif adalah penghambat yang dapat berikatan dengan enzim
maupun dengan kompleks enzim-substrat.[1] Jika inhibitor menempel pada enzim,
maka struktur sisi aktif enzim akan berubah namun substrat masih bisa menempel
pada sisi aktif, tetapi kerja enzim tidak dapat terlaksana.[1] Pada inhibitor nonkompetitif, harga Vmax akan meningkat sementara harga Km tetap.[1] Inhibitor unkompetitif adalah inhibitor yang hanya dapat berikatan dengan komplesk enzim
substrat tidak dengan enzim bebas.[1] Hal ini membuat kompleks inhibitor-enzim
substrat yang terbentuk kemudian menjadi tidak aktif.[1] Kompleks inhibitorenzim substrat disebut juga kompleks buntu yang hanya punya satu tujuan, yaitu
untuk kembali ke kompleks enzim-substrat.[1] Pada inhibitor un-kompetitif, Vmax
akan menurun dan Km akan menurun juga.[1]

YULIA ELVI P.
15. Apa yang menyebabkan katalis tidak mempengaruhi letak kesetimbangan ?
Jawab : Katalisator hanya berperan mempercepat reaksi yang berlangsung,
mempercepat terjadinya keadaan setimbang, pada akhir reaksi
katalisator akan terbentuk kembali. Katalis tidak dapat menggeser
kesetimbangan kimia.

TAMBAHAN MATERI AJA BUAT JAGA-JAGA


Katalis Heterogen
Katalis heterogen terdiri atas dua jenis yaitu katalis heterogen yang bersifat asam dan katalis
heterogen yang bersifat basa. Beberapa katalis heterogen telah disintesis baik yang bersifat
asam maupun basa. Katalis basa heterogen yang paling umum digunakan adalah senyawa
oksida logam seperti logam alkali, alkali tanah sebagai katalis transesterifikasi minyak nabati.
Oksida logam alkali tanah (MgO, CaO, SrO, dan BaO) dikenal sebagai oksida logam tunggal
(single metal oxides) (Endalew, A., 2011). Veljkovic (2009) telah menggunakan CaO pada
reaksi transesterifikasi minyak bunga matahari dengan yield 98%. Katalis basa heterogen juga
dapat berupa pencampuran atau pendopingan oksida logam untuk meningkatkan kebasaannya
seperti logam Na, Li, dan K yang didoping pada CaO, MgO dan BaO pada reaksi
tranesterifikasi minyak lobak dengan yield 96,7% (DCruz, 2007) dan oksida campuran
antara Na, Li, dan La2O3 untuk transesterifikasi minyak kacang tanah menghasilkan metil
ester asam lemak dengan yield> 99% (Singh dan Fernando 2009).
Selain katalis basa heterogen, katalis asam heterogen juga telah banyak digunakan
untuk mengkatalisis reaksi transesterifikasi. Drelinkiewicz, A (2014) telah mensintesis asam
polianilin sulfonat sebagai katalis transesterifikasi dan esterifikasi menghasilkan biodiesel
yang menunjukkan kereaktifan dan kestabilan katalis yang tinggi (Drelinkiewicz, A.,
2014).Garcia, C (2008) telah berhasil menggunakan zirkonium sulfat sebagai katalis
transesterifikasi miyak kacang kedelai dengan metanol dan etanol dengan yield98,6%
(metanolisis) dan 92% (etanolisis). Katalis senyawa karbon dengan basis sulfonat menjadi
katalis yang paling diminati saat ini karena memiliki gugus SO 3H dengan kerangka karbon
yang stabil sehingga mudah dipisahkan dari sistem reaksi (Kang, S., 2013). Katalis heterogen
memiliki keuntungan dibandingkan dengan katalis homogen yaitu: mudah dipisahkan dari
produk reaksi, lebih tahan terhadap asam lemak bebas yang terkandung di dalam bahan baku

tanpa melalui reaksi saponifikasi sehingga memungkinkan untuk melakukan reaksi


transesterifikasi dan esterifikasi sekaligus dengan bahan baku yang mengandung kadar asam
lemak bebas yang tinggi, baik bahan baku yang berasal dari hewan maupun yang berasal dari
tumbuhan.