Anda di halaman 1dari 7

PENENTUAN NORMALITAS LARUTAN KMnO4 0,1 N DAN

PENETAPAN KADAR H2O2 DALAM PERHIDROL


A. TUJUAN
 Menentukan normalitas larutan KMnO4 0,1 N.
 Menentukan kadar H2O2 dalam Perhidrol.
 Mengetahui dan memahami prosedur yang benar dalam menentukan normalitas
larutan KMnO4 0,1 N dan kadar H2O2 dalam Perhidrol.

B. ALAT DAN BAHAN

Alat-alat yang digunakan adalah sebagai berikut :


1. Erlenmeyer 250 ml
2. Buret + statif
3. Gelas beker
4. Gelas arloji
5. Corong
6. Sudip
7. Labu ukur 250 ml
8. Labu ukur 500 ml
9. Pipet tetes
10. Pipet gondok
11. Timbangan analisis
12. Botol semprot
13. Lap kain

Bahan-bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :


1. Larutan H2SO4 pekat
2. Asam Oksalat padat
3. Larutan KmnO4
4. Aquades
5. Larutan H2O2
C. DASAR TEORI
Dasar Teori
Oksidasi untuk untuk menyatakan setiap perubahan kimia yang memberikan arti
adanya kenaikan dalam bilangan oksodasi. Sedangkan reduksi adalah untuk menyatakan
setiap penurunan dalam bilangan oksidasi.
Dalam oksidasi dan reduksi yaitu kenaikan dan penurunan bilangan-bilangan
oksidasi dihasilakan dari perpindahan elektron-elektron. Dalam proses ini bilangan
oksidasi dari atom yang pertama naik, dan bilangan oksidasi dari atom kedua turun.
Proses oksidasi dan reduksi selalu terjadi bersama-sama dan harus diimbangi satu
terhadap lain. Sebagai contoh pada proses oksidasi, bila hidrogen (H2) bereaksi dengan
oksigen untuk membentuk air maka atom-atom hidrogen bilangan oksidasinya berubah
dari 0 menjadi +1, sedangkan contoh proses reduksi bila oksigen bereaksi untuk
membentuk H2O maka atom-atom oksigen berubah bilngan oksiddasinya dari 0 menjadi
-2
Proses titrasi permangonometri merupakan suatu proses redoks, dimana KmnO4
digunakan sebagai larutan standar. Larutan standar KmnO4 dibuat dengan cara
melarutakan garam tersebut dalam air panas, kemudian larutan dididihkan beberapa saat,
setelah larutan agak dingin disaring melalui glass-rool ddan selanjutnaya ditempatkan
dalam botol berwarna gelap.
Pembuatan larutan standar dari zat yang berbentuk cair sering disebut cara
pengenceran, yaitu dari zat cair yang lebih pekat menjadi lebih cair. Cara ini dapat
dilakukan pada cairan yang telah diketahui normalitasnya. Apabila suatu larutan standar
dibuat dari zat cair yang telah diketahui normalitasnya, maka untuk menentukan
banyaknya volume yang akan diencerkan digunakan rumus : V1 . N1 = V2 . N2
Tetapi bila larutan tersebut dibuat dari suatu zat cair yang tidak / belum diketahui
normalitasnya, maka untuk menentukan banyaknya volume yang akan diencerkan
digunakan rumus:
NxVxBM
Vx =
10 xnxKxL
keterangan : Vx = volume
N = valensi
K = Kadar
L = density
N = normalitas larutan yang akan dibuat
BM = berat molekul zat cair tersebut
V = volume zat cair yang akan dibuat
Penetapan kadar H2O2 dalam perhidrol, dalam keadaan asam H2O2 dan KMnO4
akan saling mengoksidasi sehingga dikeluarkan O2. H2O2 dapat berperan sebagai reduktor
dan oksidator, sehingga dalam laju reaksi,KMnO4 tidak akan dirubah menjadi Mn2+,
tetapi menjadi MnO4-, sedangkan H2O2 terurai membentuk air dan oksigen. Akhir titrasi
ditunjukkan dengan adanya perubahan warna menjadi ungu muda

D. PROSEDUR KERJA

A. Penentuan normalitas larutan KMnO4 0,2 N

1. Menimbang dengan teliti kurang lebih 630 mg Asam Oksalat


2. Mengencerkan menjadi 100 ml dengan aquades dalam labu takar 100 ml.
3. Membuat larutan H2SO4 dengan cara mengisi labu takar 250 ml dengan
aquades terlebih dahulu kemudian pipet larutan H2SO4 4 N sebanyak 27,8 ml,
masukkan ke dalam labu takar. Encerkan samapi tanda garis pada labu dan campur
(gojok) hingga larutan homogen. Tunggu sampai larutan dingin (sesuai dengan suhu
kamar).
4. Memipet larutan Larutan Asam Oksalat yang telah dibuat sebanyak 10 ml dan
masukkan dalam erlenmeyer 100 ml, selanjutnya ditambah 10 ml larutan H2SO4 4 N
yang telah diencerkan.
5. Titrasi dengan larutan KMnO4 sampai berwarna merah jambu.
6. Penetapan dilakukan 3 kali.
7. Menghitung normalitas dengan persamaan sebagai berikut :
mg asam oksalat
N KMnO4 = FpxVxBst

Keterangan: Fp = faktor pengenceran


Vp = volume KMnO4 untuk titrasi
Bst = berat setara Asam Okasalat = 63

B. Penentuan Kadar H2O2 dalam Perhidrol


1. Memipet 10 ml H2O2 pekat menggunakan pipet gondok..
2. Memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml dan mengencerkannya
dengan aquades sampai tand garis.
3. Memipet kembali larutan sebanyak 10 m ldan diencerkan dalam
labu ukur 100 ml hingga volume 100 ml.
4. Pipet 25 ml larutan larutan H2SO4 4 N dan masukkan dalam
erlenmeyer 250 ml, tambahkan dengan 50 ml aquades. Setelah itu pipet 10 ml larutan
H2O2 (yang telah diencerkan 2 kali) dan campurkan. Gojok sampai campuran larutan
menjadi homogen.
5. Panaskan hingga suhu 700C.
6. Titrasi dengan larutan KMnO4 0,1 N sampai berwarna ungu muda
dan catat volume KMnO4 yang digunakan.
7. Menghitung kadar dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
Fp x Vp x Np x Bst
Kadar H2O2 = x 100 %
volume contoh
Keterangan :
► Fp = faktor pengenceran
► Vp = volume KMnO4
► Np = normlitas KMnO4
► Bst = berat setara H2O2 = 17
► Volume contoh = volume H2O2 yang diambil setelah diencerkan
2 kali

Kesimpulan
 Kalium permanganat bereaksi optimum pada suhu sekitar 60-70oC. artinya
permanganat bereaksi lambat pada suhu kamar, sebaliknya bereaksi cepat pada
suhu kira-kira 60-70oC.
 Dalam pentitrasian, kalium permanganat tidak perlu lagi di berikan indikator,
karena KMnO4 sendiri bersifat autoindikator yaitu KMnO4 bisa sebagai indikator
dibuktikan dengan hanya 1 tetes larutannya bisa memberikan warna merah muda.
 Kalium permanganat juga bersifat autokatalis.
 Dikatakan titrasi permanganometri karena digunakan KMnO4 sebagai
larutan standar
 lambat pada suhu kamar, sebaliknya bereaksi cepat pada suhu kira-kira 60-70oC.
 Permanganat mengoksidasi lebih kuat dalam suasana basa daripada dalam
larutan-larutan asam.
 Permanganat larut dalam regensia asam sulfat. Jika pencampuran larutan tersebut
dengan asam sulfat yang sangat pekat, larutan ini bisa meledak dengan spontan
pada suhu biasa, dan ledakan lebih besar mungkin terjadi pad pemanasan. Jadi
dalam melakukan percobaan ini agar menggunakan asam sulfat yang tidak terlalu
pekat atau setidaknya sebelumnya di encerkan terlebih dahulu dengan aquades.
 Penambahan regensia Hidrogen Peroksida pda proses penentuan kadar H2O2
kepada KMnO4 yang telah diasamkan dengan asam sulfat mengakibatkan warna
menjadi hilang dan dilepaskan oksigen yang murni tetapi basah ( mengandung
air).
2MnO4- + 5H2O2 + 6 H+ 5CO2 + 2Mn2+ + 8H2O
 Dalam penentuan normalitas kalium permanganat 0,1 N diperlukan Asam oksalat
sebagai titran. H2C2O4, dengan adanya asam sulfat, menghasilkan gas karbon
dioksida:
2MnO4- + 5(COO)2-2 + 16H+ 10CO2 + 2Mn2+ + 8H2O
Daftar Pustaka
Hermiyati, Indri. 2008. Petunjuk Praktikum Kimia Analisa. Akademi Teknologi
Kulit:Yogyakarta

Yogyakarta, 28 April 2008 Mengetahui,


Praktikan, Asisten Pembimbing

(Rusdita Eka Perdana) ( Eko Nuraini, ST )

No. Mh : 07.TPL.TBKKP.14