Anda di halaman 1dari 22

PEMILIKAN HARTA DALAM ISLAM

Adalah fitrah manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya baik secara


lahiriah maupun batiniah. Hal ini mendorong manusia untuk senantiasa berupaya
memperoleh segala sesuatu yang menjadi keperluannya. Pemenuhan keperluan
lahiriah ialah apabila terpenuhinya keperluan dasar (basic needs) Tapi manusia tidak
berhenti sampai disitu, bahkan cenderung terus berkembang keperluan-keperluan
lain yang ingin dipenuhi. Segala keperluan itu seolah-olah boleh diselesaikan
dengan dikumpulkannya Harta sebanyak-banyaknya. Maka apa sebenarnya hakikat
harta dan bagaimana pandangannya dalam Islam?

A. PENGERTIAN HARTA

Istilah HARTA, atau al-mal dalam al-Qur’an maupun Sunnah tidak dibatasi dalam
ruang lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Mal sangat luas dan selalu
berkembang.

Kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : pertama,memiliki unsur nilai
ekonomis.Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.

Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan urf
(kebiasaan/ adat) yang berlaku di tengah masyarakat.As-Suyuti berpendapat bahwa
istilah Mal hanya untuk barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan,
dan dikenakan ganti rugi bagi yang merusak atau melenyapkannya.

Dengan demikian tempat bergantungna status al-mal terletak pada nilai ekonomis
(al-qimah) suatu barang berdasarkan urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta
tergantung pada besar ekcilnya anfaat suatu barng. Faktor manfaat menjadi patokan
dalam menetapkan nilai ekonomis suatu barang. Maka manfaat suatu barang
menjadi tujuan dari semua jenis harta.

Pengertian Harta Milik:


Menurut para ulama pengertian harta milik ialah suatu yang dapat dikuasai atau
dimiliki dan dapat dimanfaatkan sesuai syari’ah dalam kondisi normal

Dalam hal konsep harta dalam pandangan syari’at harus memiliki tiga unsur;

1. Dapat dimiliki atau di kuasai. Batasan yang diberikan Islam sangat jelas
tentang kepemilikan dan penguasaan terhadap harta. Islam telah
mengajarkan agar manusia dalam berusaha dan bekerja mencari harta harus
sesuai dengan syari’at atau dengan cara yang halal, karena harta yang
diperoleh dari cara yang haram sesungguhnya harta tersebut adalah bukan
miliknya dan tidak bisa dimilikinya. Islam juga telah mengajarkan agar
manusia itu berusaha atau .
2. Dapat dimanfaatkan. Bahwa harta yang dimiliki itu dapat dimanfaatkan,
terkadang manusia cenderung membeli suatu benda yang itu sedikit pun tidak
bermanfaat dan menjadi mubadzir. Sifat mubadzir ini sangat dibenci oleh
ajaran Islam, artinya harta itu akan terdefinisi (hak kepemilikan) dalam
pandangan Islam apabila harta atau kekayaan tersebut tidak berubah fungsi
menjadi mubadzir.
3. Dalam memanfaatkannya harus sesuai dengan syari’at. Syari’at Islam tidak
saja menetapkan di saat mencari harta harus menghindarkan dari hal yang
melanggar syari’at tetapi dalam hal memanfaatkannya pun harus sesuai
dengan ketentuan syari’at. Berarti syarat harta itu menjadi milik seseorang
adalah apabila digunakan untuk hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at, dan
apabila dimanfaatkan untuk kepentingan yang bertentangan syari’at maka
harta tersebut menyebabkan siksa di akhirat.

Disimpulkan kepemilikan terhadap harta dalam pandangan Islam adalah mulai


dari cara mencari harta, jenis harta yang dimiliki (harus dapat dimanfaatkan) dan
pemanfaatannya harus sesuai dengan koridor syari’at Islam dan apabila
bertentangan dengan syarat tersebut sesungguhnya harta itu tidak dapat
didefinisikan sebagai miliknya.

Harta Milik dan Hak Asasi


Usahakan sendiri atau yang diwarisi atau diterima dari orang lain, tidak
menghilangkan kenyataan bahwa bumi ini pada awalnya diberikan kepada seluruh
umat manusia. Bahwa harta benda ditentukan untuk semua manusia, tetap tinggal
prioritas pertama, juga apabila kesejahteraan umum menuntut untuk menghormati
hak atas milik pribadi dan penggunaannya.

Pemilik-pemilik barang-barang pakai dan konsumsi harus mempergunakannya,


dengan tahu batas, dan menyisihkan bagian terbaik untuk para tamu, penderita
sakit, dan kaum miskin.

Pemerintah mempunyai hak dan kewajiban mengatur penggunaan hak milik secara
halal demi kesejahteraan umum.

Harta Milik Orang lain

Pencurian yang bererti mengambil harta milik orang lain dengan melawan kehendak
pemiliknya. Bukanlah pencurian, kalau orang dapat mengandaikan persetujuan
pemilik, atau kalau penolakannya bertentangan dengan akal budi atau dengan
peruntukan barang-barang untuk semua orang. Jadi seorang haruslah bersikap baik
dan sopan dimana pun dia berada, karena seorang muslim harus menjadi contoh
dan suri teladan bagi semua umat.

B. PANDANGAN ISLAM MENGENAI HARTA

Pandangan Islam mengenai harta dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, Pemiliki Mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah
ALLAH SWT. Kepemilikan oleh manusia bersifat relatif, sebatas untuk
melaksanakan amanah mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuanNya
(QS al_Hadiid: 7). Dalam sebuah Hadits riwayat Abu Daud, Rasulullah bersabda:

‘Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya
untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana
didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan’’.
Kedua, status harta yang dimiliki manusia adalah sebagai berikut :

1. Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang
amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada.

2. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan manusia bisa menikmatinya


dengan baik dan tidak berlebih-lebihan ( Ali Imran: 14). Sebagai perhiasan hidup
harta sering menyebabkan keangkuhan, kesombongan serta kebanggaan diri.(Al-
Alaq: 6-7).

3. Harta sebgai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan
memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak (al-Anfal: 28)

4. harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksankan perintahNyadan


melaksanakan muamalah si antara sesama manusia, melalui zakat, infak, dan
sedekah.(at-Taubah :41,60; Ali Imran:133-134).

Ketiga, Pemilikan harta dapat dilakukan melalui usaha (‘amal) atau mata
pencaharian (Ma’isyah) yang halal dan sesuai dengan aturanNya. (al-Baqarah:267)

‘’Sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang bekerja. Barangsiapa yang bekerja


keras mencari nafkah yang halal untk keluarganya maka sama dengan mujahid di
jalan Allah’’ (HR Ahmad).

‘’Mencari rezeki yang halal adalah wajib setelah kewajiban yang lain’’(HR Thabrani)

‘’jika telah melakukan sholat subuh janganlah kalian tidur, maka kalian tidak akan
sempat mencari rezki’’ (HR Thabrani).

Keempat, dilarang mencari harta , berusaha atau bekerja yang melupakan mati (at-
Takatsur:1-2), melupakan Zikrullah/mengingat ALLAH (al-Munafiqun:9), melupakan
sholat dan zakat (an-Nuur: 37), dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok
orang kaya saja (al-Hasyr: 7)

Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba (al-
Baqarah: 273-281), perjudian, jual beli barang yang haram (al-maidah :90-91),
mencuri merampok (al-Maidah :38), curang dalam takaran dan timbangan (al-
Muthaffifin: 1-6), melalui cara-cara yang batil dan merugikan (al-Baqarah:188), dan
melalui suap menyuap (HR Imam Ahmad).

C. KEPEMILIKAN HARTA

Di atas telah disinggung bahwa Pemilik Mutlak adalah Allah SWT. Penisbatan
kepemilikan kepada Allah mengandung tujuan sebagai jaminan emosional agar
harta diarahkan untuk kepentingan manusia yang selaras dengan tujuan penciptaan
harta itu sendiri.

Namun demikian, Islam mengakui kepemilikan individu, dengan satu konsep khusus,
yakni konsep khilafah. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang diberi
kekuasaan dalam mengelola dan memanfaatkan segala isi bumi dengan syarat
sesuai dengan segala aturan dari Pencipta harta itu sendiri.

Harta dinyatakan sebagai milik manusia, sebagai hasil usahanya. Al-Qur’an


menggunakan istilah al-milku dan al-kasbu (QS 111:2) untuk menunjukkan
kepemilikan individu ini. Dengan pengakuan hak milik perseorangan ini, Islam juga
menjamin keselamatan harta dan perlindungan harta secara hukum.

Islam juga mengakui kepemilikan bersama (syrkah) dan kepemilikan negara.


Kepemilikan bersama diakui pada bentuk-bentuk kerjasama antar manusia yang
bermanfaat bagi kedua belah pihak dan atas kerelaan bersama. Kepemilikan Negara
diakui pada asset-asset penting (terutama Sumber Daya Alam) yang
pengelolaannya atau pemanfaatannya dapat mempengaruhi kehidupan bangsa
secara keseluruhan.

D. KEPEMILIKAN DALAM ISLAM


1. Pengertian Kepemilikan dalam Islam
"Kepemilikan" sebenarnya berasal dari bahasa Arab dari akar kata "malaka"
yang artinya memiliki. Dalam bahasa Arab "milk" berarti kepenguasaan orang
terhadap sesuatu (barang atau harta) dan barang tersebut dalam genggamannya
baik secara riil maupun secara hukum. Dimensi kepenguasaan ini direfleksikan
dalam bentuk bahwa orang yang memiliki sesuatu barang berarti mempunyai
kekuasaan terhadap barang tersebut sehingga ia dapat mempergunakannya
menurut kehendaknya dan tidak ada orang lain, baik itu secara individual maupun
kelembagaan, yang dapat menghalang-halanginya dari memanfaatkan barang yang
dimilikinya itu. Contohnya Ahmad memiliki sepeda motor. Ini berarti bahwa sepeda
motor itu dalam kekuasaan dan genggaman Ahmad. Dia bebas untuk
memanfaatkannya dan orang lain tidak boleh menghalanginya dan merintanginya
dalam menikmati sepeda motornya.
Para fukoha memberikan batasan-batasan syar'i "kepemilikan" dengan berbagai
ungkapan yang memiliki inti pengertian yang sama. Di antara yang paling terkenal
adalah definisi kepemilikan yang mengatakan bahwa "milik" adalah hubungan
khusus seseorang dengan sesuatu (barang) di mana orang lain terhalang untuk
memasuki hubungan ini dan si empunya berkuasa untuk memanfaatkannya selama
tidak ada hambatan legal yang menghalanginya.
Batasan teknis ini dapat digambarkan sebagai berikut. Ketika ada orang yang
mendapatkan suatu barang atau harta melalui caara-cara yang dibenarkan oleh
syara', maka terjadilah suatu hubungan khusus antara barang tersebut dengan
orang yang memperolehnya. Hubungan khusus yang dimiliki oleh orang yang
memperoleh barang (harta) ini memungkinkannya untuk menikmati manfaatnya dan
mempergunakannya sesuai dengan keinginannya selama ia tidak terhalang
hambatan-hambatan syar'i seperti gila, sakit ingatan, hilang akal, atau masih terlalu
kecil sehingga belum paham memanfaatkan barang.
Dimensi lain dari hubungan khusus ini adalah bahwa orang lain, selain si
empunya, tidak berhak untuk memanfaatkan atau mempergunakannya untuk tujuan
apapun kecuali si empunya telah memberikan ijin, surat kuasa atau apa saja yang
serupa dengan itu kepadanya. Dalam hukum Islam, si empunya atau si pemilik boleh
saja seorang yang masih kecil, belum balig atau orang yang kurang waras atau gila
tetapi dalam hal memanfaatkan dan menggunakan barang-barang "miliknya" mereka
terhalang oleh hambatan syara' yang timbul karena sifat-sifat kedewasaan tidak
dimiliki. Meskipun demikian hal ini dapat diwakilkan kepada orang lain seperti wali,
washi (yang diberi wasiat) dan wakil (yang diberi kuasa untuk mewakili).
2. Jenis-jenis Kepemilikan
Sebelumnya perlu diterangkan di sini bahwa konsep Islam tentang kepemilikan
memiliki karakteristik unik yang tidak ada pada sistem ekonomi yang lain.
Kepemilikan dalam Islam bersifat nisbi atau terikat dan bukan mutlak atau absolut.
Pengertian nisbi di sini mengacu kepada kenyataan bahwa apa yang dimiliki
manusia pada hakekatnya bukanlah kepemilikan yang sebenarnya (genuine, real)
sebab, dalam konsep Islam, yang memiliki segala sesuatu di dunia ini hanyalah
Allah SWT, Dialah Pemilik Tunggal jagat raya dengan segala isinya yang
sebenarnya. Apa yang kini dimiliki oleh manusia pada hakekatnya adalah milik Allah
yang untuk sementara waktu "diberikan" atau "dititipkan" kepada mereka,
sedangkan pemilik riil tetap Allah SWT. Karena itu dalam konsep Islam, harta dan
kekayaan yang dimiliki oleh setiap Muslim mengandung konotasi amanah. Dalam
konteks ini hubungan khusus yang terjalin antara barang dan pemiliknya tetap
melahirkan dimensi kepenguasaan, kontrol dan kebebasan untuk memanfaatkan
dan mempergunakannya sesuai dengan kehendaknya namun pemanfaatan dan
penggunaan itu tunduk kepada aturan main yang ditentukan oleh Pemilik riil. Kesan
ini dapat kita tangkap umpamanya dalam kewajiban mengeluarkan zakat (yang
bersifat wajib) dan imbauan untuk berinfak, sedekah dan menyantuni orang-orang
yang membutuhkan.
Para fukoha membagi jenis-jenis kepemilikan menjadi dua yaitu kepemilikan
sempurna (tamm) dan kepemilikan kurang (naaqis). Dua jenis kepemilikan ini
mengacu kepada kenyataan bahwa manusia dalam kapasitasnya sebagai pemilik
suatu barang dapat mempergunakan dan memanfaatkan susbstansinya saja, atau
nilai gunanya saja atau kedua-duanya. Kepemilikan sempurna adalah kepemilikan
seseorang terhadap barang dan juga manfaatnya sekaligus. Sedangkan kepemilikan
kurang adalah yang hanya memiliki substansinya saja atau manfaatnya saja. Kedua-
dua jenis kepemilikan ini akan memiliki konsekuensi syara' yang berbeda-beda
ketika memasuki kontrak muamalah seperti jual beli, sewa, pinjam-meminjam dan
lain-lain.

3. Sebab-sebab Timbulnya Kepemilikan Sempurna.


Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kepemilikan dalam syariah ada
empat macam yaitu:
(1) kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan,
(2) akad,
(3) penggantian dan
(4) turunan dari sesuatu yang dimiliki.
Penjelasan (1) Kepenguasaan terhadap barang-barang yang diperbolehkan.
Yang dimaksud dengan barang-barang yang diperbolehkan di sini adalah barang
(dapat juga berupa harta atau kekayaan) yang belum dimiliki oleh seseorang dan
tidak ada larangan syara' untuk dimiliki seperti air di sumbernya, rumput di
padangnya, kayu dan pohon-pohon di belantara atau ikan di sungai dan di laut.
Kepemilikan jenis ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
a) Kepenguasaan ini merupakan sebab yang menimbulkan kepemilikan terhadap
suatu barang yang sebelumnya tidak ada yang memilikinya.
b) Proses kepemilikan ini adalah karena aksi praktis dan bukan karena ucapan
seperti dalam akad.
Karena kepemilikan ini terjadi oleh sebab aksi praktis, maka dua persyaratan di
bawah ini mesti dipenuhi terlebih dahulu agar kepemilikan tersebut sah secara syar'i
yaitu
(i) belum ada orang lain yang mendahului ke tempat barang tersebut untuk
memperolehnya. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, " Siapa yang lebih
dahulu mendapatkan (suatu barang mubah) sebelum saudara Muslim lainnya, maka
barang itu miliknya."
(ii) Orang yang lebih dahulu mendapatkan barang tersebut harus berniat untuk
memilikinya, kalau tidak, maka barang itu tidak menjadi miliknya. Hal ini mengacu
kepada sabda Rasulullah SAW bahwa segala perkara itu tergantung pada niat yang
dikandungnya.
Bentuk-bentuk kepenguasaan terhadap barang yang diperbolehkan ini ada
empat macam yaitu : a) kepemilikan karena menghidupkan tanah mati.
b) kepemilikan karena berburu atau memancing
c) rumput atau kayu yang diambil dari padang penggembalaan atau hutan belantara
yang tidak ada pemiliknya.
d) kepenguasaan atas barang tambang.
Khusus bentuk yang keempat ini banyak perbedaan di kalangan para fukoha
terutama antara madzhab Hanafi dan madzhab Maliki. Bagi Hanafiyah, hak
kepemilikan barang tambang ada pada pemilik tanah sedangkan bagi Malikiyah
kepemilikan barang tambang ada pada negara karena semua tambang, menurut
madzhab ini, tidak dapat dimiliki oleh seseorang dengan cara kepenguasaannya
atas tanah atau tidak dapat dimiliki secara derivatif dari kepemilikan atas tanah.

Sumber: Tazkiaonline. Oleh : Ikhwan Abidin Basri, MA

http://www.ekonomisyariah.org/

Fungsi Harta Milik

Tiap-tiap masyarakat mempunyai sistem ekonominya sendiri, yang tergambar di


dalamnya falsafah, aqidah, sistem nilai dan pandangannya terhadap individu dan
masyarakat, terhadap harta dan fungsinya, persepsinya tentang agama dan dunia,
kekayaan dan kemiskinan. Sehingga semua itu mempengaruhi produktivitas,
kekayaan dan berkaitan dengan cara untuk memperoleh, pendistribusian dan
penyimpanannya.

Untuk mengambil suatu pemikiran tentang kaidah-kaidah utama. Di antara sebagai


berikut:

1. Harta dinilai sebagai suatu kebaikan dan kenikmatan jika berada ditangan
orang-orang shalih.
2. Harta adalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah dipinjami dengan
harta itu.
3. Dakwah untuk menumbuhkan etos kerja yang baik adalah merupakan ibadah
dan jihad.
4. Haramnya cara kerja yang kotor.
5. Diakuinya hak milik pribadi dan perlindungan terhadapnya.
6. Dilarang bagi seseorang untuk menguasai benda-benda yang sangat
diperlukan oleh masyarakat.
7. Dilarangnya pemilikan harta yang membahayakan orang lain.
8. Pengembangan harta tidak boleh membahayakan akhlaq dan mengorbankan
kepentingan umum.
9. Mewujudkan kemandirian (eksistensi) ummat.
10. 10.  Adil dalam berinfaq.
11. 11.  Wajibnya takaful (saling menanggung) di antara anggota masyarakat.
12. 12.  Memperdekat jarak perbedaan antar strata (tingkat) sosial di tengah
masyarakat.

Sikap terhadap Harta Milik

Kita sering lupa bahwa apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Tuhan. Di balik itu
sebenarnya ada tanggung jawab, ada amanah, bahkan ada sebagian darinya milik
orang lain yang harus kita salurkan kembali. Oleh karenanya, ada beberapa hal
yang mesti diperhatikan dalam menyikapi harta benda. Harta adalah anugerah dari
Tuhan yang harus disyukuri. Tidak semua orang mendapatkan kepercayaan dari
Tuhan untuk memikul tanggung jawab amanah harta benda. Karenanya, ia harus
disyukuri sebab jika mampu memikulnya, pahala yang amat besar menanti. Harta
adalah amanah dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan.

Kehendak Tuhan terhadap Harta Milik

Harta benda yang dititipkan kepada kita juga demikian. Harta adalah ujian. Yang jadi
ujian bukan hanya kemiskinan, tetapi kekayaan juga merupakan ujian. Bagi yang
berharta, ada kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan terhadap harta itu.
Keluarga, anak, dan harta benda adalah hiasan hidup. Dengannya, hidup menjadi
indah. Namun, patut disadari bahwa pesona keindahan hidup itu sering menyilaukan
hingga membutakan mata hati dan membuat manusia lupa kepada-Nya, serta lupa
kepada tujuan awal penciptaan hiasan itu. Semua itu sebenarnya merupakan titipan
dan ujian.

Konsep
Kepemilikan
        Islam memiliki pandangan yang khas mengenai masalah harta dimana semua
bentuk kekayaan pada hakekatnya adalah milik Allah SWT. Demikian juga harta
atau kekayaan di alam semesta ini yang telah dianugerahkan untuk semua manusia
sesungguhnya merupakan pemberian dari Allah kepada manusia untuk dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan seluruh umat manusia sesuai
dengan kehendak Allah SWT.
        Pandangan ini bertolak belakang secara diametral dengan pandangan
kapitalisme maupun sosialisme yang keduanya berakar pada pandangan yang sama
yaitu materialisme. Menurut pandangan kapitalisme bahwa kekayaan yang dimiliki
seseorang adalah merupakan hak milik mutlak baginya yang kemudian melahirkan
pandangan kebebasan kepemilikan sebagai bagian dari pandangan hak asasi
manusia (HAM). Dimana manusia bebas menentukan cara memperoleh dan
memanfaatkannya. Dari pandangan inilah yang mendorong manusia berusaha
menciptakan suatu metode atau teknologi produksi yang modern untuk dapat
memperoleh keuntungan dan pendapatan yang sebesar-besarnya.
        Pada sisi lain Islam juga tidak selaras dengan pandangan sosialisme yang tidak
menempatkan harkat dan martabat manusia pada proporsinya yang tidak mengakui
adanya hak milik individu. Semua kekayaan adalah milik negara dan negara akan
memenuhi semua kebutuhan rakyatnya. Individu akan diberikan sebatas yang
diperlukan dan dia akan bekerja sebatas kemampuannya. Alat-alat produksi dikuasai
negara dan elit politik menguasai fasilitas-fasilitas publik sehingga dari sini kemudian
mendorong munculnya praktek korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang
menimbulkan kerugian bagi negara dan rakyat.
        Islam memiliki suatu pandangan yang khas mengenai masalah kepemilikan
yang berbeda dengan pandangan kapitalisme dan sosialisme. Islam tidak mengenal
adanya kebebasan kepemilikan karena pada dasarnya setiap perilaku manusia
harus dalam kerangka syariah termasuk masalah ekonomi. Islam mengatur cara
perolehan dan pemanfaatan kepemilikan. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
ada tiga macam kepemilikan yaitu :
    1. Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiah)
    2. Kepemilikan Umum (Milkiyah ‘Ammah)
    3. Kepemilikan Negara (Milkiyah Daulah)
    Penjelasan masing-masing jenis kepemilikan adalah sebagai berikut :
a.    Kepemilikan Individu (Milkiyah Fardhiah)
    adalah idzin syariat pada individu untuk memanfaatkan suatu barang melalui lima
sebab kepemilikan (asbab al-tamalluk) individu yaitu 1) Bekerja (al-’amal), 2)
Warisan (al-irts), 3) Keperluan harta untuk mempertahankan hidup, 4) Pemberian
negara (i’thau al-daulah) dari hartanya untuk kesejahteraan rakyat berupa tanah
pertanian, barang dan uang modal, 5) Harta yang diperoleh individu tanpa berusaha
seperti hibah, hadiah, wasiat, diat, mahar, barang temuan, santunan untuk khalifah
atau pemegang kekuasaan pemerintah. Kekayaan yang diperoleh melalui bekerja
(al-’amal) meliputi upaya menghidupkan tanah yang mati (ihya’u al-mawat), mencari
bahan tambang, berburu, pialang (makelar), kerjasama mudharabah, musyaqoh,
pegawai negeri atau swasta.
b.    Kepemilikan Umum (Milkiyah ‘Ammah)
    adalah idzin syariat kepada masyarakat secara bersama-sama memanfaatkan
suatu kekayaan yang berupa barang-barang yang mutlak diperlukan manusia dalam
kehidupa sehari-hari seperti air, sumber energi (listrik, gas, batu bara, nuklir dsb),
hasil hutan, barang tidak mungkin dimiliki individu seperti sungai, pelabuhan, danau,
lautan, jalan raya, jembatan, bandara, masjid dsb, dan barang yang menguasai hajat
hidup orang banyak seperti emas, perak, minyak dsb.
c.    Kepemilikan Negara (Milkiyah Daulah)
    adalah idzin syariat atas setiap harta yang hak pemanfaatannya berada di tangan
khalifah sebagai kepala negara. Termasuk dalam kategori ini adalah harta ghanimah
(pampasan perang), fa’i, kharaj, jizyah, 1/5 harta rikaz (harta temuan), ‘ushr, harta
orang murtad, harta yang tidak memiliki ahlli waris dan tanah hak milik negara.

Islam dan Hak Pemilikan Harta

December 11th, 2008 • Noor Amin Ahmad • Kolum, Lita'arafu • 962 views
• § 7 Comments

Saya masih ingat nasihat saya kepada rakan-rakan di kampus yang giat
menjalankan perniagaan Multi-Level-Marketing (MLM). Mereka sering menggunakan
mafhum hadis “sembilan per sepuluh rezeki itu ada dalam perniagaan”. Mereka
menguatkan lagi hujah kepentingan menjadi kaya dengan mafhum hadis “kefakiran
menghampiri kekufuran”. Jujurnya, saya tidak tahu status hadis tersebut sama ada
sahih atau sebaliknya. Nasihat saya pada mereka mudah iaitu “Saya harap jika
kalian bersandar dengan mafhum hadis berkenaan, kita juga sedar bahawa Nabi
s.a.w. tidak berpesan tentang itu sahaja”.

Saya tidak ada masalah dengan perniagaan kerana sedar bahawa Rasulullah s.a.w
dan isterinya Siti Khadijah juga berniaga. Ini termasuk para sahabat Baginda s.a.w.
yang lain terutama Abdul Rahman bin ‘Auf. Sudah tentu sebagai umat Islam kita
akan berpandukan persoalan halal dan haram serta berniaga mengikut
pertimbangan hukum. Prinsipnya, Islam tidak menolak perniagaan dan pemilikan
harta.

Ulama’ terkemuka As-Syeikh Yusof al-Qardhawi pernah menulis dalam Ciri-Ciri


Unggul Masyarakat Islam Yang Kita Idamkan sebagaimana yang diterjemah oleh
Ustaz Mohammad Zaini Yahya dalam Ciri Kesembilan iaitu Bab Ekonomi dan Harta
bahawa Islam sebagai agama fitrah mengiktiraf hak pemilikan harta. Menurut
kupasan beliau hak pemilikan harta menjamin kebebasan dan kemanusiaan.
Ujarnya hamba tidak boleh memiliki apa-apa tetapi orang merdeka boleh dan haiwan
tidak memiliki sebaliknya manusia boleh memiliki dan ini sesuai dengan fitrah dan
Islam tidak menentang fitrah.

Saya tersentuh apabila beliau menguatkan lagi pandangan ini dengan kenyataan
“Keadilan bukanlah dengan menghalang manusia memiliki hasil, kerja dan usahanya
untuk diberikan kepada orang lain yang malas dan tidak melakukan sebarang kerja.
Sebaliknya keadilan ialah dengan memberi peluang kepada semua orang untuk
bekerja dan memiliki. Apabila seseorang itu mempunyai keistimewaan lantaran
kepintaran, kesungguhan, ketekunan dan kesabarannya, ia berhak mendapat
balasan yang setimpal dengan usahanya”.

Oleh kerana Abdul Rahman bin ‘Auf r.a. adalah sahabat paling kaya, saya fikir sikap
beliau wajar dicontohi. Beliau berhijrah ke Mekah bersama Muhajirin yang lain tanpa
harta dan kediaman dan antara perkara terawal dilakukannya ialah dengan
bertanyakan pasar kepada Sa’ad Ibnu al-Rabi’ saudaranya dari kaum Ansar yang
dipilih Rasulullah s.a.w.. Dengan modal yang diperolehi dari sedekah Sa’ad, Abdul
Rahman menjadi hartawan terkaya di kalangan umat Islam pada waktu itu.
Kekayaan Abdul Rahman bin ‘Auf r.a. dikongsi kepada fakir miskin dan mereka yang
memerlukan. Ini adalah contoh terpuji yang patut diamalkan peniaga. Dengan dasar
pemilikan harta yang tidak dihalang dengan cukai yang besar oleh pemerintahan
Baginda s.a.w., mereka berpeluang menjadi kaya dan mengambil alih
tanggungjawab membantu mereka yang memerlukan terutama dari kalangan fakir
miskin untuk meneruskan kehidupan selaras dengan perintah agama Islam.

Islam mendorong individu memiliki harta dan melindunginya serta mewariskannya.


Dr. Yusof Qardhawi dalam perenggan lain menjelaskan bahawa pemilikan individu
mendatangkan kebaikan yang banyak kepada manusia dan ekonomi dengan
bertambahnya produktiviti. Beliau menunjukkan perbezaan dengan sistem pemilikan
bersama seperti yayasan dan sebagainya yang dinamakan sektor awam yang
menunjukkan produktiviti rendah lantaran tidak wujudnya dorongan dan kekuatan
pengawasan yang timbul dari pemilikan khusus.

Sebagai muslim, Dr. Yusof Qardhawi menasihatkan umat Islam berpegang kepada
dua syarat penting pemilikan individu iaitu: (1), Ia mesti diperolehi melalui jalan yang
halal dan diakui syarak, dan (2) Mestilah tidak bertentang dengan kepentingan
umum. Jika tidak ia mesti dirampas secara rela atau tanpa rela dan digantikan
dengan sesuatu yang adil.

Dalam tajuk yang lain beliau menjelaskan tentang penolakan Islam terhadap ihtikar
iaitu monopoli harta yang diperlukan oleh umum. Ini bersandar daripada hadis sahih
yang diriwayatkan Muslim dan lain-lain iaitu “Tidak ada yang berihtikar melainkan
orang yang berdosa”. Dalam erti kata yang lain kita tidak boleh membina kekayaan
sambil meruntuhkan orang lain.

Saya sering menekankan kepada sahabat-sahabat muslim yang lain bahawa prinsip
asas Libertarian adalah lebih cocok dengan Islam berbanding idea ekonomi
Sosialisme. Hanya saja dalam kupasan yang lebih dalam, kita sebagai muslim harus
jelas aspek hukum dan perkara ini sangat terbuka untuk didebatkan dalam kelompok
libertarian. Di Malaysia, merujuk kepada hujah dokongan terhadap Pasaran Bebas
oleh Dato’ Seri Anwar Ibrahim dalam satu ucapannya semasa dialog dengan aktivis
Muslim di Minaret Institute idea Sosialisme lebih mendapat tempat bersandarkan
rujukan sejarah bahawa ia wacana popular yang dekat dengan detik sebelum dan
selepas Kemerdekaan.

Saya suka untuk mengajak umat Islam di Malaysia meninjau jauh ke zaman
Kesultanan Melayu Melaka di mana Pasaran Bebas telah menjadikan rantau ini
tersohor dan 0

Beberapa Hak yang Sama antara Wanita dan Lelaki

1.     Hak Kepemilikan Harta

Islam menetapkan bahwa wanita mempunyai hak pemilikan harta sebagaimana


lelaki.  Allah Ta'ala berfirman dalam QS An Nisaa' ayat 32 yang artinya:

"Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun)
ada bagian dari apa yang mereka usahakan".

"Bagi laki-laki ada bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi
perempuan ada bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapanya dan kerabatnya,
baik sedkit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan" (An Nisaa':7).

Dari dua ayat di atas dapat difahami bahwa wanita mempunyai hak pemilikan
terhadap harta, baik yang didapatkan dari hasil usahanya sendiri mahupun
diperolehnya dalam waris.  Dalam perolehan waris ini tidak ada perbedaan apakah
dia masih anak-anak atau sudah dewasa.  Mereka berhak mendapatkan harta
peninggalan kedua ibu-bapa serta kerabatnya.  Hanya saja bagi anak-anak,
diserahkan kepada walinya (paman/saudara lainnya) untuk dikelola dan kemudian
diserahkan kepadanya ketika ia sudah dewasa.  Firman Allah SWT dalam An Nisaa'
ayat 2:

"Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka,
janganlah kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan janganlah kamu makan
harta mereka bersama hartamu.  Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan
memakan) itu adalah dosa besar".
"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih
bermanfaat, hingga ia dewasa…" (Al An'aam:152).

Disamping itu Islam juga mewajibkan zakat bagi lelaki dan wanita yang mempunyai
harta.  Dan ini berlaku bagi seluruh jenis zakat, tidak ada pengecualian, bahkan
perhiasan wanita pun harus dikeluarkan zakatnya.

Firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 110:

"Dan dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat".

"Ambillah zakat dari sebagaian harta mereka, dengan zakat itu kamu menghasilkan
dan mensucikan mereka…" (QS. At Taubah:103).

Sabda Nabi SAW:

"Aku telah diperintahkan memerangi manusia, sampai mereka mempersaksikan


bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah utusan-Nya. 
Mengerjakan shalat dan mengeluarkan zakat.  Maka apabila mereka telah
melakukannya, terpeliaharalah dariku darah dan hartanya kecuali dengan hak Islam,
dan hisabannya diserahkan pada Allah SWT". (HR. Imam Bukhori dan Muslim).

"Seseorang wanita datang kepada Rasulullah saw bersama putrinya.  Pada tangan
putrinya terdapat gelang emas yang tebal.  Rasulullah saw bertanya
kepadanya:'Apakah telah engkau keluarkan zakatnya? Wanita itu menjawab:'Belum'.
Rasulullah saw bersabda:'Apakah engkau akan berbahagia bila Allah SWT kelak
pada hari kiamat memberimu dua buah gelang yang terbuat dari api neraka?
Kemudian wanita itu membuka gelangnya dan memberikannya kepada Rasulullah
saw sambil berkata:'Keduanya untuk Allah dan Rasul-Nya'(HR Abu Daud).

"Bersedekahlah wahai wanita-wanita, walaupun dari perhiasan kalian".

Ketika mendengar nasihat Rasulullah saw diatas, Zainab, istri Abdullah bin Mas'ud
berkeinginan untuk mengeluarkan zakat perhiasannya kepada suaminya karena
suaminya miskin.  Kemudian Zainab menanyakan kepada Rasulullah saw apakah
sah kalau isteri mengeluarkan zakat kepada suaminya.  Rasulullah saw menjawab
bahwa zakat wanita kepada suaminya sah.  Bahkan wanita tersebut mendapatkan
dua pahala.  Pertama pahala karena kekeluargaan, kedua pahala karena
bersedekah(diringkas dari Riwayat Bukhori Muslim).

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari ayat-ayat dan beberapa hadis diatas adalah
bahwa wanita dalam Islam diberi kebebasan mempunyai hak milik terhadap
kekayaan, baik harta itu diperoleh dari warisan kedua orang tuanya, pemberian
suaminya, hadiah dari saudara-saudaranya ataupun dari usahanya sendiri.  Karena
itulah para wanita juga wajib zakat apabila harta bendanya telah sampai nishab
(ukuran) dan haulnya (masa), sebagaimana laki-laki, sekalipun kekayaan wanita
tersebut hanya perhiasan.

Hanya saja dalam Islam hak pemilikan harta ini diatur oleh syara', mana harta yang
boleh dimiliki individu dan mana yang tidak boleh, serta bagaimana cara pemilikan
harta yang dibolehkan sebagai pemilikan yang sah menjadi milik seseorang dan
mana yang tidak.  Di dalam Islam, pada hakekatnya semua harta kekayaan di bumi
ini adalah milik Allah SWT.  Oleh karena itu apabila seseorang ingin memiliki harta
tertentu harus mendapat izin dari Allah SWT.  Karena hanya Dia-lah yang berhak
memberi wewenang pemilikan.

Syekh Taqiyuddin An Nabhani dalam Kitab Nizhomul Iqtishody fil Islam menjelaskan
bahwa syariat Islam telah menetapkan tiga jenis pemilikan: yaitu pemilikan individu,
umum dan daulah (negara).

1.1.         Pemilikan Individu

Setiap individu baik pria maupun wanita boleh memiliki harta melalui sebab-
sebab pemilikan yang telah dibolehkan oleh syara'. Sebab yang sudah merupakan
fitrah manusia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. 
Oleh karena itu syara' membolehkan manusia untuk memiliki harta demi pemenuhan
kebutuhannya.  Hanya saja syara' mengatur cara-cara pemilikan harta oleh individu,
agar setiap individu dapat memanfaatkan rizki yang telah disiapkan Allah SWT di
bumi ini secara adil, tidak menimbulkan kerusakan dan kedzoliman pada pihak-pihak
tertentu seperti orang-orang lemah. Kalau manusia dibiarkan, maka akan berlaku
hukum rimba "siapa yang kuat ia yang akan mendapatkan'.
Oleh karena itu kepemilikan individu ditetapkan oleh syara' kepada individu
untuk memiliki (mempunyai hak kuasa untuk memiliki zat, manfaat dan
mengembangkannya) harta melalui jalur tertentu yang telah ditetapkan oleh syara'.

Berdasarkan kajian terhadap hukum-hukum syara' yang menetapkan


kepemilikan individu terhadap harta, ada lima sebab kepemilikan individu yaitu :

1.     Bekerja

2.     Waris

3.     Hak hidup (hak individu yang tidak mampu mendapatkan harta untuk
memenuhi kebutuhan pokoknya)

4.     Pemberian daulah kepada rakyat

5.     Harta yang didapat secara cuma-cuma seperti


:hibah,hadiah,wasiat,diyat.mahar(bagi wanita) dan harta temuan

1.2.         Pemilikan Umum

Jenis pemilikan umum yang kedua adalah pemilikan umum,yang telah


ditetapkan oleh Allah SWT menjadi milik bersama kaum muslimin. Setiap
individu boleh memanfaatkannya,tetapi dilarang memilikinya. Ada tiga macam
sumberdaya alam yang termasuk katagori ini, yaitu :

a.      fasilitas umum yang merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat


sehari-hari, dan akan menimbulkan kesulitan jika tidak ada, misalnya air.

Sabda rasulullah SAW tentang pemilikan bersama :

" Masyarakat bersyarikat dalam tiga macam sumber daya alam yaitu
air,padang penggembalaan dan api (bahan bakar seperti kayu,minyak dan
lain-lain."(HR. Abu Ubaid)

Bentuk kepemilikan ini tidak terbatas pada tiga macam sumberdaya tersebut,
melainkan mencakup segala sesuatu yang diperlukan masyarakat. Juga
setiap alat yang menhasilkan ketiga macam sumberdaya tadi, misalnya
pompa air, PLTA,tiang-tiang beserta kabelnya dan lain-lain.

b.     Sumberdaya alam yang tabiatnya menghalang pemilikan individusecara


perorangan seperti laut, sungai, jalan raya, lapangan masjid,kereta api
dan lain-lain.

c.      Bahan tambang yang tak terbatas baik diperut bumi atau permukaanya,
seperti emas,besi,perak,garam,platina dan lain-lain.

Tidak ada hak istimewa bagi individu atau  suatu perusahaan untuk
mengekploitasi, mengolah serta memonopoli pendistribusian hasil-hasilnya.
Barang tambang ini harus tetap menjadi milikbersama kaum muslimin.
Aktivitas eksplorasi dan eksploitasi dikelola sendiri oleh negara atau
dikontrakkan kepada kontraktor. Produknya dijual atas nama kaum muslimin
dan pendapatannya disimpan di baitul mal.

1.3.         Pemilikan Negara

Pemilikan negara adalah setiap tanah atau bangunan yang disana terdapat hak
yang menjadi milik bersama seluruh kaum muslimin akan tetapi tidak termasuk
dalam katagori pemilikan umum. Oleh karena itu pemilikan negara adalah
benda/area yang biasanya dapat dimiliki oleh individu , namun karena dalam
benda/area tersebut terdapat hak bersama seluruh kaum muslimin, maka
pengelolaan,pemeliharaan serta pengaturannya diserahkan kepada daulah atau
khalifah. Khalifahlah yang berhak mengatur dan mengelola setiap sesuatu yang
berkaitan dengan hak kaum muslimin secara keseluruhan, seperti padang
pasir,gunung,pantai,tanah mati yang belum digarap dantidak dimiliki
seseorang,departemen,kantor,sekolah dan lain-lain.

          Negara berhak memberikan sebagian dari apa yang dimilikinya , yang pada
umumnya boleh dimiliki oleh individu, baik berupa tanah atau bangunan. Khalifah
boleh memberikan hak penggarapan saja tanpa hak milik atau sekaligus
memilikinya. Dalam hal ini khalifah sebagai kepala negara bebas memutuskan apa
saja yang dianggap penting untuk kaum muslimin.
          Dari penjelasan diatas jelaslah nahwa islam memberikan hak kepada wanita
untuk memiliki harta . dan waris hanyalah salah satu dari sekian sebab pemilikan
harta yang bisa diakses pria maupun wanita. Oleh karena itu sekalipun ada
perbedaan pembagian waris antara wanita dan pria pada posisi tertentu, tidaklah
akan menyebabkan wanita menderita dan kekurangan harta untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sebab pemenuhan kebutuhan hidupnya selalu dijamin melalui
sumber nafkah dari suami,ayah atau saudara laki-laki dan ahli waris lainnya (baca:
kemiskinan masalah siapa). Bahkan harta wanita yang ia peroleh dari mahar, waris
atau yang  lain, tetap menjadi miliknya sendiri dan ia boleh membelanjakan menurut
kehendaknya (sebatas yang dibolehkan syara'). Sebab wanita tidak wajib menafkahi
siapapun termasuk dirinya.

Dengan demikian darimana alasan orang-orang yang membenci islam ,untuk


mengatakan bahwa perbedaan pembagian waris dalam islam menjadi penunjang
berat beban kemiskinan wanita muslimah. Sehingga  mereka merasa perlu membuat
penafsiran ulang hukum waris dan menyetarakan pembagiannya antar pria dan
wanita. Hukum syara'lkah yang harus disesuaikan dengan keinginan manusia atau
manusia yang harus menyesuaikan keinginannya dengan hukum syara? Kalau
begitu, apa fungsi risalah (Alquran dan sunnah) diturunkan untuk manusia?
Bukankah risalah itu menjadi petunjuk bagi manusia?

Firman Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 2:

"Kitab (Al Qur'an) ini, tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa."

2.           Hak Mendapatkan Pendidikan

Pendidikan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat. Sebagaimana hadits


yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abi Musa ra, beliau berkata bahwa Nabi saw
bersabda:

"Perumpamaan petunjuk dan ilmu, yang Allah mengutusku untuk


menyampaikannya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi.  Bumi itu ada yang subur,
menghisap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumputan yang
banyak.  Ada pula yang keras, tidak menghisap air sehingga tergenang.  Maka Allah
memberi manfaat dengan dia kepada manusia.  Mereka dapat minum dan memberi
minum (binatang ternak), dan untuk bercocok tanam (bertani).  Dan ada pula hujan
yang jatuh ke bagian lain, yaitu di atas tanah yang menggenangkan air dan tidak
pula menumbuhkan rumput.  Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama
(Diin).  Yang mau memanfaatkan apa yang aku disuruh Allah untuk
menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya.  Dan begitu pula perumpamaan
orang-orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk
Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya."

Dalam hadits tersebtu Rasulullah menyerupakan penerimaan dan penolakan


manusia terhadap petunjuk dan ilmu.  Seperti penerimaan tanah terhadap air hujan,
ada yang memberi manfaat pada tanah dengan menumbuhkan tanaman dan ada
yang tidak.  Air (hujan) merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, demikian pula
petunjuk dan ilmu. Kesimpulan ini juga dikuatkan oleh sabda Nabi saw yang lain:

"Di anatara tanda-tanda kiamat ialah: Berkurangnya ilmu dan meratanya


kebodohan". (HR Bukhari)

Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa hilangnya ilmu merupakan tanda berakhirnya


kehidupan dunia.  Ini menunjukkan bahwa ilmu merupakan hal yang sangat penting. 
Ilmu agama (tsaqofah Islam) penting untuk mengetahui dan memahami dinul  Islam. 
Sedangkan ilmu-ilmu yang lain disesuaikan dengan urgensinya bagi manusia,
seperti ilmu kedokteran, berhitung dan lain-lain.

Semua ilmu yang berperan penting bagi kehidupan manusia wajib dimiliki oleh
manusia, baik laki-laki maupun wanita.  Sebab wanita dan pria diciptakan untuk
terjun ke dalam kancah kehidupan ini secara bersama-sama menjalani kehidupan
berdasarkan pola hidup ideal yang telah ditetapkan Allah SWT.  Tidak ada
perbedaan bagi keduanya untuk terikat dengan pola hidup ideal yang sudah
digariskan oleh Allah SWT.  Oleh karena itu tidak ada pula perbedaan bagi
keduanya dalam hal pentingnya menguasai ilmu yang dibutuhkan untuk mencapai
pola hidup ideal demi meraih ridlo-Nya.  Keduanya kelak akan bertanggung jawab di
hadapan Allah SWT atas apa yang dilakukannya di masa hidupnya.  Firman Allah
SWT:
"…Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya".(QS. Ath Thur:21)

"…Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka
kerjakan dahulu". (QS. Al Hijr:92-93).

Karena keberadaan ilmu bagi setiap individu muslim merupakan kebutuhan pokok,
maka daulah (negara) wajib mencukupi segala sarana untuk pemenuhan kebutuhan
ini secara langsung agar seluruh rakyat mendapatkan sarana pendidikan yang
layak.  Sabda Nabi saw:

"Imam itu adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang
dipimpinnya".

Tanggung jawab pemimpin termasuk mencukupi keperluan pokok rakyat. Dan juga
merupakan Ijma' Shahabat untuk upah guru dengan jumlah tertentu yang diambil
dari baitul maal, sedangkan harta yang ada di Baitul Maal adalah milik daulah.  Lebih
dari itu Rasulullah saw telah menjadikan  tebusan bagi tawanan perang Badar
berupa pengajaran bagi anak-anak kaum muslimin.  Hal ini menunjukkan bahwa
yang bertanggung jawab menyediakan tenaga guru adalah negara.

Demikian pula dengan sarana lain seperti gedung sekolah, perpustakaan,


laboratorium, alat-alat praktik dan lain-lain yang diperlukan umat dalam proses
pendidikan agar terlaksana dengan baik.  Ini berdasarkan kaedah syara':

"Segala sesuatu yang menyebabkan tidak sempurnanya suatu kewajiban kecuali


dengannya maka sesuatu itu menjadi wajib".