Anda di halaman 1dari 6

KEDUDUKAN HARTA DALAM ISLAM

By. Idris Parakkasi


Konsultan Ekonomi Syariah

Adalah fitrah manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik secara lahiriyah
maupun batiniah. Hal ini mendorong manusia untuk senantiasa berupaya memperoleh segala
sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan lahiriyah identik dengan
terpenuhinya kebutuhan dasar (basic needs) berupa sandang, pangan dan papan. Tapi manusia
tidak berhenti sampai disitu, bahkan cenderung terus berkembang kebutuhan-kebutuhan lain
yang

ingin dipenuhi. Segala kebutuhan itu seolah-olah bisa terselesaikan dengan

dikumpulkannya Harta sebanyak-banyaknya. Maka apa sebenarnya hakekat harta dan


bagaimana pandangannya dalam Islam?
A. PENGERTIAN HARTA
Istilah harta, atau al-mal dalam al-Quran maupun Sunnah tidak dibatasi dalam ruang
lingkup makna tertentu, sehingga pengertian al-Maal sangat luas dan selalu berkembang.
Kriteria harta menurut para ahli fiqh terdiri atas : pertama,memiliki unsur nilai
ekonomis.Kedua, unsur manfaat atau jasa yang diperoleh dari suatu barang.
Nilai ekonomis dan manfaat yang menjadi kriteria harta ditentukan berdasarkan urf (kebiasaan/
adat) yang berlaku di tengah masyarakat.As-Suyuti berpendapat bahwa istilah Mal hanya
barang yang memiliki nilai ekonomis, dapat diperjualbelikan, dan dikenakan ganti rugi bagi
yang merusak atau melenyapkannya.
Dengan demikian tempat bergantungnya status al-mal terletak pada nilai ekonomis (al-qimah)
suatu barang berdasarkan urf. Besar kecilnya al-qimah dalam harta tergantung pada besar
kecilnya manfaat suatu barang. Faktor manfaat menjadi patokan dalam menetapkan nilai
ekonomis suatu barang. Maka manfaat suatu barang menjadi tujuan dari semua jenis harta.

B. PANDANGAN ISLAM MENGENAI HARTA


Pandangan Islam mengenai harta dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, Pemiliki Mutlak terhadap segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah ALLAH
SWT. Kepemilikan oleh manusia bersifat relatif, sebatas untuk melaksanakan amanah mengelola
dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuanNya (QS al_Hadiid: 7). Dalam sebuah Hadits
riwayat Abu Daud, Rasulullah bersabda:
Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal: usianya untuk apa
dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya darimana didapatkan dan untuk apa
dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dipergunakan.
Kedua, status harta yang dimiliki manusia adlah sebagai berikut :
1. Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena
memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada.

2. Harta sebagai perhiasan hidup yang memungkinkan m anusia bisa menikmatinya dengan baik
dan tidak berlebih-lebihan ( Ali Imran: 14). Sebagai perhiasan hidup harta sering menyebabkan
keangkuhan, kesombongan serta kebanggaan diri.(Al-Alaq: 6-7).
3. Harta sebgai ujian keimanan. Hal ini menyangkut soal cara mendapatkan dan
memanfaatkannya, apakah sesuai dengan ajaran Islam atau tidak (al-Anfal: 28)
4. harta sebagai bekal ibadah, yakni untuk melaksankan perintahNya dan melaksanakan
muamalah si antara sesama manusia, melalui zakat, infak, dan sedekah.(at-Taubah :41,60; Ali
Imran:133-134).
Ketiga, Pemilikan harta dapat dilakukan melalui usaha (amal) ataua mata pencaharian
(Maisyah) yang halal dan sesuai dengan aturanNya. (al-Baqarah:267)
Sesungguhnya Allah mencintai hambaNya yang bekerja. Barangsiapa yang bekerja keras
mencari nafkah yang halal untk keluarganya maka sama dengan mujahid di jalan Allah (HR
Ahmad).
Mencari rezki yang halal adalah wajib setelah kewajiban yang lain(HR Thabrani)
jika telah melakukan sholat subuh janganlah kalian tidur, maka kalian tidak akan sempat
mencari rezki (HR Thabrani).
Keempat, dilarang mencari harta , berusaha atau bekerja yang melupakan mati (at-Takatsur:12), melupakan Zikrullah/mengingat ALLAH (al-Munafiqun:9), melupakan sholat dan zakat (anNuur: 37), dan memusatkan kekayaan hanya pada sekelompok orang kay a saja (al-Hasyr: 7)
Kelima: dilarang menempuh usaha yang haram, seperti melalui kegiatan riba (al-Baqarah: 273281), perjudian, jual beli barang yang haram (al-maidah :90-91), mencuri merampok (alMaidah :38), curang dalam takaran dan timbangan (al-Muthaffifin: 1-6), melalui cara -cara yang
batil dan merugikan (al-Baqarah:188), dan melalui suap menyuap (HR Imam Ahmad).
C. KEPEMILIKAN HARTA
Di atas telah disinggung bahwa Pemilik Mutlak adalah Allah SWT. Penisbatan kepemilikan
kepada Allah mengandung tujuan sebagai jaminan emosional agar harta diarahkan untuk
kepentingan manusia yang selaras dengan tujuan penciptaan harta itu sendiri.
Namun demikian, Islam mengakui kepemilikan individu, dengan satu konsep khusus, yakni
konsep khilafah. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang diberi kekuasaan dalam
mengelola dan memanfaatkan segala isi bumi dengan syarat sesuai dengan segala aturan dari
Pencipta harta itu sendiri.
Harta dinyatakan sebagai milik manusia, sebagai hasil usahanya. Al-Quran menggunakan
istilah al-milku dan al-kasbu (QS 111:2) untuk menunjukkan kepemilikan individu ini. Dengan
pengakuan hak milik perseorangan ini, Islam juga menjamin keselamatan harta dan
perlindungan harta secara hukum.
Islam juga mengakui kepemilikan bersama (syrkah) dan kepemilikan negara. Kepemilikan
bersama diakui pada bentuk-bentuk kerjasama antar manusia yang bermanfaat bagi kedua belah
pihak dan atas kerelaan bersama. Kepemilikan Negara diakui pada asset-asset penting (terutama
Sumber Daya Alam) yang pengelolaannya atau pemanfaatannya dapat mempengaruhi kehidupan
bangsa secara keseluruhan.

D. METODE MEMPEROLEH DAN MEMBELANJAKAN HARTA


Untuk memperoleh harta dapat ditempuh dengan beberapa cara dengan prinsip sukarela,
menarik manfaat dan menghindarkan mudarat bagi kehidupan manusia, memelihara nilai-nilai
keadilan dan tolong menolong serta dalam batas-batas yang diizinkan syara(hukum ALLAH)
Di antara cara memperoleh harta dapat disebutkan yang terpenting:
a. Menguasai benda-benda mubah yang belum menjadi milik seorang pun.
b. Perjanjian-perjanjian hak milik seperti jual-beli, hibah (pemberian/.hadiah), dan wasiat
c. Warisan sesuai dengan aturan Islam
d. Syufah, hak membeli dengan paksa atas harta persekutuan yang dijual kepada orang lain
tanpa izin para anggota persekutuan yang lain.
e. Iqtha, pemberian dari pemerintah
f. Hak-hak keagamaan seperti bagian zakat, bagi amil, nafkah istri, anak, dan orang tua.
Cara memperoleh harta yang dilarang ialah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut di
atas, yaitu memperoleh harta dengan cara-cara yang mengandung unsur paksaan dan tipuan yang
bertentanga dengan prinsip sukarela, seperti merampas harta orang lain, menjual barang palsu,
mengurangi ukuran dan timbangan, dan sebagainya. Kemudian memperoleh hartanya dengan
cara yang justru mendatangkan mudharat/keburukan dalam kehidupan masyarakat, seperti jual
beli ganja, perjudian, minuman keras, prostitusi,dan lain sebagainya. Atau memperoleh harta
dengan jalan yang bertentangan dengan nilai keadilan dan tolong menolong, seperti riba,
meminta balas jasa tidak seimbang dengan jasa yang diberikan. Juga menjual barang dengan
harga jauh lebih tinggi dari harga yang sebenarnya, atau bisa dikatakan mengambil kesempatan
dalam kesempitan.
Mengenai pembelanjaan harta, Islam mengajarkan agar membelanjakn hartanya mula-mula
untuk mencukupkan kebutuhan dirinya sendiri, lalu untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang
menjadi tanggungannya, barulah memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pemenuhan
kebutuhan ini, Islam mengharamkan bermegah-megah dan berlebih-lebihan (Israf dan mubazir).
Karena sifat ini cenderung kepada penumpukan harta yang membekukan fungsi ekonomis dari
harta tersebut.
Untuk itulah pada satu takaran tertentu harta dikenai wajib zakat. Zakat merupakan
implementasi pemenuhan hak masyarakat dan upaya memberdayakan harta pada fungsi
ekonomisnya.
Ringkasnya, aturan dalam memperoleh harta dan membelanjakan harta, didasarkan pada prinsipprinsip sebagai berikut:
1. Prinsip Sirkulasi dan perputaran. Artinya harta memiliki fungsi ekonomis yang harus
senantiasa diberdayakan agar aktifitas ekonomi berjalan sehat. Maka harta harus berputar dan
bergerak di kalangan masyarakat baik dalam bentuk konsumsi atau investasi.sarana yang
diterapkan oleh syariat untuk merealisasikan prinsip ini adalah dengan larangan menumpuk
harta, monopoli terutama pada kebutuhan pokok, larangan riba, berjudi, menipu.

2. Prinsip jauhi konflik. Artinya harta jangan sampai menjadi konflik antar sesama manusia.
Untuk itu diperintahkan aturan dokumentasi, pencatatan/akuntansi, al-isyhad/saksi, jaminan
(rahn/gadai).
3. Prinsip Keadilan. Prinsip keadilan dimaksudkan untuk meminimalisasi kesenjangan sosial
yang ada akibat perbedaan kepemilikan harta secara individu. Terdapat dua metode untuk
merealisasikan keadilan dalam harta yaitu perintah untuk zakat infak shadaqah, dan larangan
terhadap penghamburan (Israf/mubazir).
METODE MERAIH HARTA DALAM ISLAM
Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa Allah adalah pemilik segala yang ada. Tidaklah
harta kekayaan yang ada di tangan manusia melainkan hanya titipan Allah.swt. Dialah pemilik
kerajaan langit dan bumi. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran :

Artinya: Engkau memberi kerajaan kepada siapa yang engkau kehendaki dan mencabut kerajaan
dari siapa yang engkau kehendaki.
Mencermati makna ayat diatas maka jelaslah bahwa walau manusia memiliki harta yang
melimpah,dan berbagai macam perhiasan dari emas dan perak,tidaklah semuanya melainkan
hanya milik Allah.swt yang dianugerahkan kepada hambanya. Banyak ayat lain yang
menjelaskan tentang hal ini.

Artinya: Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah dianugerahkan
kepada

kalian.

Di ayat lain allah berfirman:



Artinya: Makanlah diantara rizki yang baik yang telah kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaanku menimpamu,sesungguhnya barang
siapa ditimpa oleh kemurkaanku maka binasalah ia.
Islam telah menggambarkan jalan yang suci dan lurus bagi umatnya guna memperoleh harta
yang halal dan baik. Dibawah ini disebutkan beberapa cara meraih harta dalam islam:
1 . Meraih harta secara langsung dari hasil keringatnya sendiri
Inilah yang sering di puji oleh Islam. Yaitu meraih harta dari jerih payah keringatnya sendiri
selama hal itu berada pada koridor yang telah ditentukan oleh Allah.swt. ini adalah cara meraih
harta yang paling mulia dalam Islam. Sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah.saw ketika ditanya
oleh seseorang tentang kedudukan harta yang paling mulia:
, : .

Artinya: harta apakah yang paling mulia? Rasul berkata; harta seseorang yang dihasilkan dari
jerih payah kedua tangannya,dan segala jual beli yang barokah.
Islam adalah satu-satunya agama samawi yang memuliakan pekerjaan bahkan memposisikan
pekerjaan sebagai ibadah disisi-Nya. menjadikannya asas dari kebaikan didunia dan akhirat.
Banyak ayat dalam al-quran dan hadist yang menjelaskan tentang kemuliaan pekerjaan:
Pada surat Al-Mulk ayat:15 Allah memerintahkan kita untuk berjalan di muka bumi guna meraih
kehidupan:
,
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi itu mudah buat kamu, maka berjalanlah di segala
penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Mu. Dan hanya kepadaNya kamu kembali
(setelah) dibangkitkan.
Dalam surat Al-Muzammil ayat:20 Allah menjelaskan bahwa mencari kehidupan dengan cara
bekerja setara kedudukannya dengan berjihad di jalan Allah:
,
Artinya: Dan orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang
yang lain lagi berperang di jalan Allah.
Begitu juga dalam hadist Rasulullah bersabda:
,
Artinya: tidaklah ada yang lebih baik dari apa yang di makan oleh seseorang dari hasil jerih
payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud.AS makan dari hasil kedua tangannya.
2. Harta warisan
Dalam islam harta warisan adalah salah satu jalan yang diperbolehkan guna meraih harta
kekayaan. Ini disebut meraih harta secara tidak langsung. Dalam artian si-penerima
harta,tidaklah bersusah payah mendapatkannya. Karena itu adalah peninggalan si-mayyit.(ayah
atau keluarga dekatnya).
Merupakan suatu metode yang sangat luar biasa, bahwa dalam islam, apa yang ditinggalkan oleh
si-mayyit dari harta dan benda adalah menjadi hak milik anak-anak dan keluarga dekatnya.
Dibagikan secara adil kepada mereka sesuai dengan apa yang diajarkan oleh islam.
Pada kesempatan kali ini kita tidak akan membahas masalah hukum waris secara mendalam.
Tetapi ada baiknya sedikit digambarkan tentang hikmah adanya hukum waris dan asas
pembagian harta waris secara adil dalam islam.
Antara manusia dan harta yang ia miliki mempunyai hubungan,yang dengannya si-pemilik harta
bisa bertindak sesuai dengan kehendaknya selama tidak melanggar hak orang lain. Inilah yang
disebut dengan kepemilikan. Yaitu memiliki wewenangan untuk bertindak dari apa yang ia
miliki. Tetapi ketika hubungan yang mengikat antara si-pemilik harta dengan harta yang ia
miliki terputus disebabkan wafatnya si-pemilik,maka harus ada pemilik baru yang menggantikan

wewenang kepemilikan harta yang ia miliki. Dan islam menjadikan orang yang paling dekat
hubungannya dengan si-mayyit yang menerima wewenang dalam kepemilikan harta si-mayyit.
Ini sesuai dengan fitrah manusia. Dalam hal ini yang paling dekat adalah anak dan keluarga
terdekat.