Anda di halaman 1dari 23

1

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

TERAPI HERBAL DENGAN MINYAK ATSIRI RIMPANG


TEMU HITAM (Curcuma
( aeruginosa) SEBAGAI ALTERNATIF
PENGOBATAN INFEKSI KULIT YANG DISEBABKAN BAKTERI
Staphylococcus aureus

BIDANG KEGIATAN :
PKM-GT

Diusulkan oleh :
1. Setia Dwi Wardhani NIM. G1F008022 / Angkatan 2008
2. Irma Dwi Anggraeni NIM. G1F009051 / Angkatan 2009
3. Tita Pristi Dwi C. NIM. G1F009069 / Angkatan 2009

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


PURWOKERTO
2011

PKM-GT 2011
2

HALAMAN PENGESAHAN
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
1 Judul Kegiatan : Terapi Herbal dengan Minyak Atsiri Rimpang Temu
Hitam (Curcuma aeruginosa) Sebagai Alternatif
Pengobatan Infeksi Kulit yang Disebabkan Bakteri
Staphylococcus aureus
2 Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI ( √ ) PKM-GT

3.Bidang Ilmu : (√) Kesehatan ( ) Pertanian


() MIPA ( ) Teknologi dan Rekayasa
() Sosial Ekonomi ( ) Humaniora
() Pendidikan
4. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Setia Dwi Wardhani
b. NIM : G1F008022
c. Jurusan : Farmasi
d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Jenderal Soedirman
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Bugenvil 25 Pasekaran Indah
Batang Jawa Tengah
085640741407
f. Alamat email : setiadwi_wardhani@yahoo.com
5. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 (dua) orang
6. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Harwoko, S. Farm, Apt.
b. NIP : 19840705 200812 1 001
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP :

Purwokerto, 2 Maret 2011


Menyetujui
Pembantu Dekan III Ketua Pelaksana

Drs. Bambang Hariyadi, M.Kes Setia Dwi Wardhani


NIP. 19600411 198603 1 001 NIM G1F008022

Pembantu Rektor III Dosen Pendamping

Prof. Dr. Imam Santosa, M.Si Harwoko, S. Farm, Apt.


NIP. 19611001 198803 1 0001 NIP. 19840705 200812 1 001

PKM-GT 2011
3

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan berkah, rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan PKM-GT yang berjudul
“Terapi Herbal dengan Minyak Atsiri Rimpang Temu Hitam (Curcuma
aeruginosa) Sebagai Alternatif Pengobatan Infeksi Kulit yang Disebabkan Bakteri
Staphylococcus aureus” ini tanpa suatu halangan yang berarti.
Oleh karena itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dra. Hj. Trisnowati, M.Si., Apt. selaku Ketua Jurusan Farmasi FKIK
UNSOED yang telah memberikan ijin, fasilitas dan kemudahan dalam
penyusunan PKM-GT ini.
2. Harwoko, S.Farm., Apt. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
pengarahan dan bimbingan.
3. Teman-teman Farmasi UNSOED angkatan 2008 dan 2009 yang telah
memberikan saran dan semangat selama penulisan PKM-GT ini.
4. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya PKM-GT ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan PKM-GT ini banyak kekurangan,
maka segala kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan
demi kesempurnaan PKM-GT ini di masa yang akan datang. Namun diantara
keterbatasan yang ada, kami berharap tulisan kami ini dapat bermanfaat bagi
bidang kesehatan pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Purwokerto, 2 Maret 2011

Penulis

PKM-GT 2011
4

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................ iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
RINGKASAN.............................................................................................. v
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ........................................................................... 1
Tujuan ......................................................................................... 3
Manfaat ....................................................................................... 3
BAB II GAGASAN
Telaah Pustaka ............................................................................ 4
Temu Hitam ................................................................................ 4
Minyak Atsiri .............................................................................. 5
Bakteri Staphylococcus aureus ................................................... 7
Salep ............................................................................................ 8
Metode Penulisan ........................................................................ 9
Prosedur Pengumpulan Data ....................................................... 9
Pengolahan Data ......................................................................... 10
Analisis Sintesis ......................................................................... 10
Solusi .......................................................................................... 10
Langkah Strategis ....................................................................... 12
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ................................................................................. 13
Saran ........................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA................................................................. 14
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PKM-GT 2011
5

RINGKASAN

Indonesia merupakan suatu negara yang mempunyai tanah yang subur


sehingga banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman, misal tanaman obat.
Ketersediaan tanaman obat / herbal yang melimpah akan mendatangkan manfaat
bagi warga masyarakat. Keuntungan penggunaan obat tradisional ialah karena
mudah diperoleh, bahan bakunya dapat ditanam di pekarangan sendiri dan murah.
Salah satu yang sering dimanfaatkan oleh masyarakat ialah rimpang temu hitam.
Di dalam rimpang temu hitam terkandung minyak atsiri yang berkhasiat sebagai
anti mikroba, terutama pada bakteri Staphylococcus aureus penyebab penyakit
kulit. Penggunaan tanaman obat / herbal sebagai anti infeksi kulit dapat dipilih
guna meminimalisir efek samping.
Tanaman obat keluarga (TOGA) merupakan salah satu alternatif untuk
mengembangkan potensi obat herbal di Indonesia. Setiap keluarga dapat
membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga
akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga. Contoh tanaman
obat keluarga adalah temu hitam (Curcuma aeruginosa). Kandungan kimia yang
terkandung dalam rimpang temu hitam (Curcuma aeruginosa) antara lain
mengandung saponin, minyak atsiri, flavonoid, kurkumoid, zat pahit, damar,
lemak, dan mineral. Minyak atsiri mempunyai sifat mudah menguap (volatil)
sehingga jangan diletakkan di ruangan terbuka dengan suhu tinggi. Minyak atsiri
rimpang temu hitam dapat diisolasi dengan cara destilasi. Hasil dari destilasi
tersebut dikumpulkan di suatu koperasi untuk selanjutnya diproses di
laboratorium universitas.
Melihat kondisi tersebut, maka perlu diambil langkah strategis untuk
mengubah bahan baku minyak atsiri tersebut menjadi suatu sediian farmasi seperti
salep. Sebelum memasarkan produk dilakukan serangkaian pengujian untuk
mendapatkan sediaan yang stabil, aman, dan khasiatnya dapat terjamin.
Pemasaran diserahkan kembali kepada masyarakat melalui koperasi dengan
perjanjian bagi hasil sesuai kesepakatan antara pihak universitas dan koperasi.
promosi juga bisa dilakukan melalui pamflet, leaflet, spanduk, iklan pada sosial
media misal facebook, twitter, E. commerce, dan radio untuk pengembangan
target pasar, maupun people to people promotion (getok tular).
Terapi herbal menggunakan rimpang temu hitam tidak hanya dapat
mengurangi resiko resistensi terhadap antibiotik sintesis tetapi juga bisa dijadikan
sebagai lahan bisnis yang mendatangkan profit yang besar. Selain itu, bisa juga
sebagai pemberi informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pengobatan
herbal dan cara destilasi minyak atsiri rimpang temu hitam sebagai bentuk
transfer of knowledge (penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi) dalam rangka
pengabdian kepada masyarakat.

Kata kunci : terapi herbal, minyak atsiri, Curcuma aeruginosa,


Staphylococcus aureus

PKM-GT 2011
6

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam dan obat tradisional yang
telah digunakan oleh sebagian besar rakyat Indonesia secara turun temurun.
Keuntungan penggunaan obat tradisional ialah karena mudah diperoleh, bahan
bakunya dapat ditanam di pekarangan sendiri dan murah. Tanaman temu-temuan
dari suku Zingiberaceae dikenal selain untuk bumbu masak juga digunakan
sebagai obat. Pada umumnya minyak atsiri yang terdapat dalam rimpang adalah
yang berkhasiat sebagai anti mikroba.12
Salah satu temu-temuan yang telah lama digunakan oleh masyarakat
Indonesia sebagai bahan obat-obatan adalah temu hitam. Temu hitam
dimanfaatkan sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit termasuk
penyakit kulit yang disebabkan karena adanya bakteri dan jamur. Dalam
pengobatan herbal, sudah banyak jenis penyakit yang dapat disembuhkan dengan
rimpang temu hitam, seperti menyuburkan kandungan, ambeien, nyeri haid,
membersihkan darah setelah melahirkan, batuk, meningkatkan stamina,
menambah nafsu makan, menetralkan racun dalam tubuh, penyakit kulit misalnya
koreng, kudis, borok, asma, sariawan, dan kecacingan.23 Penelitian Dwi Puspa
(2002) membuktikan bahwa rimpang temu hitam mempunyai aktivitas sebagai
antibakteri maupun antijamur.
Penyebab masalah kekebalan antibiotik atau resistensi adalah
penggunaan antibiotik yang berlebihan dan pada beberapa kasus yang tidak tepat
guna.5 Masalah terjadinya resistensi terhadap antibiotik yang muncul
menyebabkan beberapa bakteri mampu bertahan hidup karena adanya perubahan
genetik. Bakteri yang bertahan hidup ini memperbanyak diri dan meneruskan
resistensi mereka, sebagai contoh, Staphylococcus aureus yang tergolong bakteri
gram positif. Antibiotik yang pertama digunakan untuk melawan bakteri ini
adalah penisilin. Namun setelah beberapa waktu, resistensi antibiotik ini mulai
terlihat sehingga dikembangkan antibiotik methisilin. Kasus resistensi ini terus

PKM-GT 2011
7

berlanjut hingga methisilin sudah tidak dapat digunakan lagi, maka vancomisin
mulai digunakan dan sekarang resistensi terhadap obat inipun mulai terlihat.1
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat juga meningkatkan biaya
pengobatan dan efek samping. Efek samping yang disebabkan oleh penggunaan
antibiotik biasanya berupa rash, vertigo, anafilaksis, dan lain-lain. Kasus efek
samping ini dapat mengalami peningkatan pada pasien lanjut usia, bayi dan anak-
anak, pasien yang menerima polifarmasi dan pasien dengan berbagai macam
penyakit termasuk gangguan liver atau ginjal. Contoh beberapa antibiotik dengan
efek sampingnya adalah siprofloksasin menyebabkan kejang, INH dapat
menyebabkan hepatitis, monolaktam yang menyebabkan perdarahan klinis,
betalaktam dapat menimbulkan reaksi anafilaktik.5
Dengan semakin banyaknya penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi
bakteri, akan menjadi masalah bila antibiotik yang digunakan tidak lagi efektif
dalam malawan bakteri-bakteri penyebab infeksi (masalah resistensi), demikian
juga dengan masalah efek samping dari antibiotik itu sendiri. Oleh karena itu,
perlu dicari alternatif lain, misalnya dengan memanfaatkan tanaman-tanaman obat
yang diduga efektif menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri penyebab
infeksi, dan mudah didapat.5
Rimpang temu hitam mengandung saponin, minyak atsiri, flavonoid,
kurkuminoid, zat pahit, damar, lemak, mineral dan minyak dan saponin.22
Kandungan minyak atsiri terbesar terdapat pada irisan temu hitam, dan kadar
minyak atsiri maksimal terdapat pada waktu rimpang belum bertunas dan
mengeluarkan batang atau daun yang tumbuh.22
Penelitian tentang khasiat tanaman rimpang telah banyak dilakukan.
Yurhamen (2002) meneliti tentang tanaman lengkuas yang masih satu familia
dengan temu hitam dan membuktikan bahwa pada konsentrasi 6% - 8% dalam
etanol, minyak atsiri lengkuas dapat menghambat pertumbuhan Bacillus subtilis
dan Staphylococcus aureus serta jamur Neurospora sp. dan Penicillium sp. Selain
itu, Khoridah (2007) melaporkan bahwa ekstrak etanolik rimpang temu hitam
pada konsentrasi 2,5% ; 5,0%; 7,5%; 10,0%; dan 12,5% mempunyai aktivitas
antibakteri terhadap Staphylococcus aureus.

PKM-GT 2011
8

B. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dalam penulisan
karya tulis ini adalah untuk meningkatkan pemanfaatan rimpang temu hitam
dalam pengobatan alternatif pada infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri S.
aureus, dan menginformasikan kepada masyarakat luas bahwa penggunaan obat
herbal sebagai anti infeksi dapat meminimalisir efek samping dibandingkan
dengan antibiotik sintesis yang dapat mengakibatkan resistensi bakteri.

C. Manfaat
Beberapa manfaat yang dapat diambil dalam penulisan karya tulis ini
adalah sebagai berikut:
1. Memberikan bukti ilmiah dan sumber informasi penting bagi masyarakat
dalam penggunaan bahan alami untuk pengobatan, sehingga efek terapi
(khasiat), mutu, dan keamanan dari rimpang temu hitam untuk kesehatan kulit
eksternal lebih terjamin dan tidak hanya berdasarkan praduga atau pengalaman
empiris saja, namun sudah terbukti secara ilmiah.
2. Memberikan alternatif pengobatan herbal untuk infeksi kulit yang disebabkan
bakteri S. aureus.
3. Dengan adanya pengetahuan tentang kefarmasian, yaitu destilasi minyak atsiri
dari bahan rimpang temu hitam tersebut, maka bisa membuka peluang usaha
bagi masyarakat untuk bekerjasama dengan pihak universitas.

PKM-GT 2011
9

BAB II
GAGASAN

A. Telaah Pustaka
1. Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.)

Hitam ( Curcuma aeruginosa Rhizoma ) 2


Gambar 1. Rimpang Temu H
Temu hitam terdapat di Burma, Kamboja, Indocina, dan menyebar
sampai ke pulau Jawa. Selain ditanam di pekarangan dan perkebunan, temu hitam
juga banyak ditemukan tumbuh liar di hutan jati, padang rumput, serta di ladang
pada ketinggian 400-750
750 m diatas permukaan laut (dpl). Tanaman tahunan ini
mempunyai tinggi 1-22 m, berbatang semu yang tersusun atas kumpulan pelepah
daun berwarna hijau atau cokelat gelap.2
a. Klasifikasi temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb)
Nama umum/dagang : Temu hitam / temu hitam
Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)
Divisi (division) : Spermathophyta
Anak divisi (sud
(sud-divisio) : Angiospermae
Bangsa (ordo) : Zingiberales
Suku (family) : Zingiberanceae
Marga (genus) : Curcuma
Jenis (species) : Curcuma aeruginosa Roxb
Nama daerah : Sumatera; temu erang, temu itam
(Melayu), temu hitam (Minang). Jawa: koneng hideung (Sunda), temu
hitam (Jawa), temu ereng (Madura). Sulawesi: temu leteng (Makasar),
temu lotong (bugis). NTT: temu hitam (Bali).6

PKM-GT 2011
10

b. Deskripsi
Temu hitam merupakan tanaman berbatang semu dengan ketinggian
mencapai 1,5 m. Tanaman ini mempunyai rimpang berwarna gelap memiliki
aroma khas. Daun tunggalnya berbentuk bulat telur dengan helaian daun berwarna
hijau, bertulang daun menyirip, dan permukaan bagian atas terlihat garis-garis
cokelat membujur. Pelepahnya melekat satu dengan yang lain hingga membentuk
batang. Sementara bunga majemuk berwarna ungu merah dengan tangkai yang
panjang mencapai 35 cm.15
c. Sifat dan khasiat
Rimpang rasanya pahit, tajam, dingin. Rimpang berkhasiat untuk
membangkitkan nafsu makan, melancarkan keluarnya darah kotor setelah
melahirkan, penyakit kulit seperti kudis, ruam, dan borok, perut mules (kolik),
sariawan, batuk, sesak nafas, dan cacingan, encok, kegemukan badan.19
d. Kandungan kimia
Rimpang temu hitam mengandung saponin, minyak atsiri, flavonoid,
kurkuminoid, zat pahit, damar, lemak, mineral dan minyak dan saponin.22
Kandungan minyak atsiri terbesar terdapat pada irisan temu hitam, dan kadar
minyak atsiri maksimal terdapat pada waktu rimpang belum bertunas dan
mengeluarkan batang atau daun yang tumbuh.22
2. Minyak Atsiri
Minyak atsiri adalah bagian komponen tanaman yang mempunyai
banyak manfaatnya. Salah satunya manfaat dalam bidang kesehatan yaitu sebagai
antibakteri. Minyak atsiri berupa cairan kental kuning emas mengandung :
monoterpen dan sesquiterpen. Monoterpen Curcuma aeruginosa terdiri dari
monoterpen hidrokarbon (alfa pinen, D-kamfen), monoterpen alkohol (D-
borneol), monoterpen keton (D-kamfer), monoterpen oksida (sineol). Seskuiterpen
dalam C. aeruginosa terdiri dari berbagai golongan seperti bisabolen, elema,
germakran, eudesman, guaian dan golongan spironolakton. Kandungan lain
meliputi : etil-p-metoksisinamat, 3,7-dimetillindan-5-asam karboksilat.10 Hasil
penelitian Rahayu (1992), bahwa minyak atsiri rimpang C. aeruginosa memiliki

PKM-GT 2011
11

aktivitas antimikroba terhadap Staphylococcus aureus, Vibrio comma dan


Escherichia coli.
Minyak atsiri bersifat mudah menguap sehingga tidak bisa digunakan
secara langsung. Minyak atsiri ini juga akan lebih bermanfaat bila diformulasikan
dalam sebuah bentuk sediaan. Sediaan yang cocok untuk pengobatan topikal
adalah salep.4 Penggunaan salep dapat memungkinkan kontak dengan tempat
aplikasi lebih lama sehingga pelepasan zat aktif minyak atsiri akan lebih
maksimal. Pelepasan zat aktif dalam sediaan salep tidak lepas dari pemilihan basis
yang cocok karena basis salep juga turut berperan pada keberhasilan terapi
pemakaian salep.14
Destilasi uap air adalah metode yang sangat cocok untuk mengekstraksi
senyawa kandungan yang mudah meguap seperti minyak atsiri dari bahan segar
atau simplisia. Pada destilasi uap air bahan tidak benar-benar tercelup ke dalam air
yang mendidih, namun dilewati uap air sehingga minyak atsiri ikut terdestilasi.
Destilasi uap umumnya digunakan untuk memurnikan senyawa organik yang
terdestilasi uap (volatile), tidak tercamourkan dengan air, mempunyai tekanan uap
yang tinggi pada 100oC dan mengandung pengotor yang tidak atsiri (nonvolatile).2
Cara pemurnian dengan destilasi uap :
1. Cairan penyari dimasukkan ke dalam bejana melalui corong.
2. Serbuk rimpang temu hitam dimasukkan dalam kantong kain dimasukkan
kedalam ekstraktor. Pada bejana ini di bagian dalam dimasukkan bejana
yang berlubang-lubang dan dibuat dari baja bahan karat.
3. Bejana dipanaskan. Pemanas dapat dilakukan dengan pemanasan api besar
langsung pada labu.
4. Keran atas dibuka, dan keran yang lainnya tertutup.
5. Uap cairan akan mengalir melalui pipa, kemudian diembunkan oleh
pendingin. Cairan akan mengalir ke ekstraktor dan akam merendam
simplisia temu hitam tersebut.
6. Setelah cairan itu setinggi gelas penduga, keran (bawah) dibuka, sehingga
hasil penyarian mengalir kebejana. Bila hasil penyarian telah mengalir,
semua keran ditutup kembali.

PKM-GT 2011
12

7. Cairan rimpang temu hitam akan menguap sedangkan zat aktifnya


tertinggal dalam bejana.
8. Pekerjaan ini diulang sampai simplisia temu hitam tersari dengan
sempurna.2
3. Bakteri Staphylococcus aureus
Staphylococcus aureus merupakan gram positif, tidak bergerak, tidak
berspora dan mampu membentuk kapsul berbentuk kapsul berbentuk kokus dan
tersusun seperti buah anggur. S. aureus adalah bakteri aerob dan anaerob, yang
mampu menfermentasikan monitol dan menghasilkan enzim koagulase, fosfotase,
protease dan lipase. S. aureus mengandung lysostaphin yang dapat menyebabkan
lisisnya sel darah merah. Toksin yang dibentuk oleh S. aureus adalah haemolysin
alfa, beta, gamma, delta dan apsilon.17 S. aureus yang patogen sering
menghemolisis darah, mengkoagulasi plasma dan menghasilkan berbagai enzim
ekstraseluler dan toksik.13
Klasifikasi bakteri Staphylococcus aureus adalah :
Kingdom : Monera
Divisio : Firmicutes
Class : Bacilli
Order : Bacillales
Family : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus aureus 17
Infeksi-infeksi Staphylococcus dari kulit dapat berlanjut ke impetigo
(pengerasan dari kulit) atau cellulitis (peradangan dari jaringan penghubung di
bawah kulit, menjurus pada pembengkakan dan kemerahan dari area itu). Pada
kasus-kasus yang jarang, komplikasi yang serius yang dikenal sebagai scalded
skin syndrome. Pada wanita yang menyusui, Staphylococcus dapat berakibat pada
mastitis (peradangan payudara) atau bisul bernanah dari payudara. Bisul-bisul
bernanah Staphylococcal dapat melepaskan bakteri-bakteri dalam air susu ibu.17

PKM-GT 2011
13

4. Salep
Salep adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan mudah
digunakan sebagai obat luar, bahan obat harus larut atau terdistribusi homogen
dalam dasar salep yang cocok.6
a. Syarat-syarat Salep
Salep harus memenuhi kualitas dasar antara lain :
1). Stabil
Salep harus stabil selama masih digunakan untuk mengobati. Oleh karena
itu bebas inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada
dalam panas.
2). Lunak
Salep banyak digunakan untuk kulit teriritasi, inflamasi dan ekskoriasi
dan dibuat sedemikian sehingga semua zat keadaan yang halus dan seluruh produk
harus lunak dan homogen.
3). Mudah Digunakan
Kebanyakan keadaan salep adalah mudah digunakan, kecuali sediaan
salep dalam keadaan sangat kaku (keras) atau sangat encer. Salep tipe emulsi
umumnya paling mudah digunakan dan mudah dihilangkan dari kulit.
4). Dasar salep yang cocok
Dasar salep harus dapat campur secara fisika dan fisika kimia dengan
obat yang dikandungnya. Dasar salep tidak boleh merusak atau menghambat aksi
terapi dari obat dan dipilih sedemikian rupa untuk mampu melepas obat pada
daerah yang diobati.
5). Terdistribusi merata
Pengobatan dengan salep yang padat atau cair harus terdistribusi merata
melalui dasar salep. Pengobatan harus disesuaikan dengan fase yang cocok bila
dengan produk teremulsi.4
b. Penggolongan dasar salep
1). Dasar salep hidrokarbon
Dasar salep hidrokarbon (bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair
mungkin dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak

PKM-GT 2011
14

sukar bercampur. Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar
salep tersebut bertahan pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak
memungkinkan larinya lembab ke udara dan sukar dicuci. Kerjanya sebagai bahan
penutup saja Contoh : Vaseline, paraffin, minyak mineral.4
2). Dasar salep absorbsi
Dasar salep ini berguna sebagai emolien walaupun tidak menyediakan
derajat penutupan seperti yang dihasilkan dasar salep berlemak. Dasar salep ini
juga bermanfaat untuk percampuran larutan berair ke dalam larutan berlemak.
Contoh : Petrolatum hidrofilik, lanolin anhidrida, lanolin, cold cream.4
3). Dasar salep tercuci atau yang dapat dibersihkan dengan air
Dasar salep yang dapat dibersihkan dengan air merupakan emulsi minyak
dalam air yang dapat dicuci dari kulit dan pakaian dengan air. Dari sudut pandang
terapi mempunyai kemampuan untuk mengabsorbsi cairan aerosol yang keluar
dari cairan dermatologi. Contoh: Salep hidrokarbon.4
4). Dasar salep larut dalam air
Basis yang larut dalam air biasanya disebut sebagai greseless karena
tidak mengandung bahan berlemak. Karena dasar salep ini sangat mudah melunak
dengan penambahan air, larutan air tidak efektif dicampurkan ke dalam bahan
dasar ini. Dasar salep ini lebih baik digunakan untuk dicampurkan dengan bahan
tidak berair atau bahan padat. Contoh : Polietilenglikol.4

B. Metode Penulisan
1. Prosedur Pengumpulan Data
Metode penulisan program kreativitas mahasiswa ini menggunakan
metode deskriptif yang dilakukan melalui penelusuran, pengumpulan dan telaah
pustaka yang relevan, aktual dan faktual dengan masalah yang dikaji. Bahan
kajian tersebut berupa data-data sekunder, data-data primer, dan informasi yang
relevan dengan permasalahan. Data dan informasi diperoleh dari berbagai sumber
referensi seperti laporan, jurnal, skripsi, dan buku serta media elektronik
(internet).

PKM-GT 2011
15

2. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul, dilakukan pengolahan data dengan menyusun
secara sistematis dan logis.
3. Analisis-Sintesis
Teknik analisis data yang dipilih adalah analisis deskriptif argumentatif,
dengan tulisan yang bersifat deskriptif, mendeskripsikan tentang aktivitas minyak
atsiri rimpang temu hitam sebagai antibakteri. Setelah proses analisis, dilakukan
proses sintesis dengan menghimpun dan menghubungkan perumusan masalah,
tujuan penulisan serta pembahasan dilakukan untuk mendapatkan solusi dan
kesimpulan. Selanjutnya ditarik simpulan yang bersifat umum kemudian
direkomendasikan beberapa hal sebagai upaya transfer gagasan.

C. Solusi
Infeksi merupakan penyebab utama sakit di dunia terutama daerah tropis
seperti Indonesia karena keadaan udara yang berdebu, temperatur yang hangat dan
lembab sehingga mikroba dapat tumbuh subur. Hal tersebut mendorong
pentingnya penggalian sumber obat-obatan antimikroba dari bahan alam.
Tanaman obat diketahui potensial dikembangkan lebih lanjut untuk penyakit
infeksi namun masih banyak yang belum dibuktikan aktivitasnya secara ilmiah.11
Tanaman obat keluarga (disingkat TOGA) adalah tanaman hasil budidaya
rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya
adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang
digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam
rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau
bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat
yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga
(TOGA) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal
sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan
tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud
prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga. Contoh tanaman obat keluarga
adalah temu hitam (Curcuma aeruginosa). Temu Hitam, yang oleh orang Jawa

PKM-GT 2011
16

lebih dikenal sebagai temu ireng, merupakan salah satu tanaman obat yang sangat
layak untuk dibudidayakan karena khasiat dan nilai bisnisnya.3
Sekarang ini pemanfaatan obat tradisional yang berasal dari tumbuhan
berkembang dengan pesat dan banyak dijadikan alternatif oleh sebagian
masyarakat. Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil, harga yang dapat
dijangkau masyarakat, efek farmakologi yang dapat dipercepat dan diperkuat
dengan cara purifikasi ekstrak serta adanya data ilmiah yang lengkap, hal ini
merupakan keunggulan obat tradisional. Fenomena ini mendorong adanya
pengenalan, penelitian, pengujian dan pengembagan khasiat serta keamanan suatu
tumbuhan supaya peranan dan kualitasnya dapat lebih ditingkatkan.16
Edukasi kepada masyarakat melalui perkumpulan PKK, Posyandu, dan
lain sebagainya dilakukan agar masyarakat dapat menanam temu hitam di
pekarangan rumah masing-masing. Tanaman tersebut bisa dijadikan tanaman obat
keluarga (TOGA). Apabila program itu dapat dicanangkan, maka produksi
rimpang temu hitam yang berlimpah bisa dimanfaatkan menjadi suatu hasil yang
lebih komersial. Rimpang temu hitam tersebut dikumpulkan dalam suatu badan,
misal koperasi unit desa. Selanjutnya di koperasi, rimpang temu hitam tersebut
dilakukan destilasi secara sederhana untuk bisa mengambil kandungan minyak
atsirinya. Minyak atsiri yang sudah murni dibawa ke universitas, khususnya pada
jurusan Farmasi. Di laboratorium minyak atsiri diolah menjadi suatu bentuk
sediaan farmasi seperti salep yang berkhasiat, terjamin mutu dan keamanan serta
dapat diterima oleh konsumen (acceptable). Setelah serangkaian uji dinyatakan
memenuhi syarat, maka laboratorium tersebut mengeluarkan produk berupa salep
dengan zat aktif minyak atsiri dari rimpang temu hitam. Untuk pemasaran produk
dilakukan dengan memberdayakan masyarakat desa melalui koperasi atau
penjualan door to door. Dari hasil penjualan produk tersebut, akan dilakukan bagi
hasil antara pihak universitas dan masyarakat, sehingga bisa saling
menguntungkan.

PKM-GT 2011
17

D. Langkah Strategis
Dari uraian di atas, diperlukan suatu kerjasama antara masyarakat selaku
penghasil / pemasok rimpang temu hitam dan pihak universitas selaku pengolah
minyak atsiri dari rimpang temu hitam menjadi sediaan farmasi yang lebih
modern yaitu salep. Di laboratorium dilakukan uji mengenai sediaan salep
tersebut dan uji antibakteri salep minyak atsiri dari rimpang temu hitam untuk
membuktikan khasiat dalam mengobati infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri
Staphylococcus aureus. Setelah uji pada sediaan salep dan uji anti bakteri selesai
dilakukan, maka dilakukan uji pre klinik pada hewan, misal kelinci. Pengujian
tersebut dilakukan untuk mendapatkan sediaan yang stabil, aman, dan khasiatnya
dapat terjamin. Setelah semua uji dinyatakan lolos, maka dilakukan
pengembangan produksi yang lebih besar. Pemasaran diserahkan kembali kepada
masyarakat melalui koperasi dengan perjanjian bagi hasil sesuai kesepakatan
antara pihak universitas dan koperasi. Di koperasi, produk salep dari laboratorium
di display sehingga bisa dilihat oleh konsumen supaya berminat untuk
membelinya. Selain itu, promosi juga bisa dilakukan melalui pamflet, leaflet,
spanduk, iklan pada sosial media misal facebook, twitter, E. commerce, dan radio
untuk pengembangan target pasar, maupun people to people promotion (getok
tular). Pembagian hasil penjualan produk dilakukan sesuai dengan perjanjian
antara masyarakat sebagai pemasok bahan baku dengan pihak universitas sebagai
pengolah bahan baku menjadi produk yang layak jual.

PKM-GT 2011
18

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam gagasan penelitian ini dapat memberi informasi
kepada masyarakat mengenai data terbaru pemanfaatan rimpang temu hitam
sebagai alternatif obat herbal pada infeksi kulit yang disebabkan bakteri
Staphylococcus aureus. Kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut :
1. Pemanfaatan tanaman rimpang temu hitam sebagai pengganti antibiotik sintetis
untuk mengobati penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus
aureus.
2. Kerjasama antara masyarakat dan universitas bisa menghasilkan suatu produk
salep yang akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak.
3. Memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pengobatan
herbal dan cara destilasi minyak atsiri rimpang temu hitam sebagai bentuk
transfer of knowledge (penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi) dalam
rangka pengabdian kepada masyarakat.

B. Saran
Berdasarkan hasil analisis, sintesis, dan kesimpulan yang diperoleh, maka
direkomendasikan hal-hal sebagai berikut :
1. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi senyawa aktif dalam rimpang
temu hitam yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri dan optimasi
formula salep rimpang temu hitam.
2. Menggalakkan penggunaan tanaman obat asli Indonesia dalam terapi herbal
untuk berbagai penyakit.

PKM-GT 2011
19

DAFTAR PUSTAKA

1. Angryani, C., 2006, Karakterisasi Bakteri ”X” dan Pengaruh Pemanasan


Terhadap Supernatan Kultur Bakteri ”X” Dalam Kemampuannya
Mengendalikan Produksi Pigmen Jingga, Skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Surabaya, Surabaya.
2. Anonim, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
3. Anonim, 2011, Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga) untuk
Kesehatan Keluarga, http://www.library.usu.ac.id, Diakses pada 20 Februari
2011.
4. Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh
Farida Ibrahim, Edisi 1V, 502-510, UI-Press, Jakarta.
5. Aslam, M., 2003, Farmasi Klinis Menuju Pengobatan Rasional dan
Penghargaan Pilihan Pasien, Elex Media Komputindo, Jakarta.
6. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979, Farmakope Indonesia
Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonasia, Jakarta.
7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1995, Farmakope Indonesia
Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonasia, Jakarta.
8. Dwidjoseputro, D., 2003, Dasar-Dasar Mikrobiologi, 41-43, Djambakan,
Jakarta.
9. Dwi Puspa, N. 2002. Aktivitas Antimikroba Minyak Atsiri Beberapa Rimpang
Famili Zingiberaceae. http://www.kimialipi.com, diakses 20 Februari 2011.
10. Harbone, J.B., 1987, Metoda Fitokimia, diterjemahkan oleh K. Padmawinata.
Penerbit ITB, Bandung.
11. Hertiani T., Palupi, I.S., Sanliferianti, dan Nurwindasari, H.D., 2003, Uji
Potensi Antimikroba terhadap S. aureus, E. coli, Shigella dysentriae, dan
Candida albicans dari Beberapa Tanaman Obat Tradisional untuk Penyakit
Infeksi, Pharmacon, vol. 4 no.2, UMS. Surakarta.
12. Hyene, J.B. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III, diterjemahkan oleh
Badan Litbang Kehutanan Jakarta, Penerbit Yayasan Sarana Warajaya,
Jakarta.
13. Jawetz, Melniek, dan Adelberg's, 2001, Mikrobiologi Kedokteran,
Penerjemah dan editor bagian mikrobiologi fakultas kedokteran, Universitas
Airlangga, Surabaya.
14. Khoridah, S., 2007, Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Ekstrak Etanolik
Rimpang Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.) dalam Sediaan Salep
Terhadap Sifat Fisik dan Daya Antibakteri, Skripsi, Fakultas Farmasi
Universitas Wahid Hasyim, Semarang.

PKM-GT 2011
20

15. Mursito, B., 2003, Ramuan Tradisional untuk Pelangsing Tubuh 6-8, PT.
Penebar Swadaya Anggota IKAPI, Jakarta.
16. Pramono, S., 1999, Buku Risalah Temu Ilmiah, Fakultas Farmasi UGM,
Yogyakarta.
17. Rachdie, 2005, Pengaruh Ekstrak Serbuk Kayu Siwak (Salvadora persica)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus mutans dan Staphylococcus
aureus dengan Metode Difusi Agar. http://skripsi.blogsome.com. diakses 20
Februari 2011.
18. Rahayu, Rita D., 1992, Uji pendahuluan toksisitas ekstrak Curcuma
xanthorrhiza Roxb, Curcuma aeruginosa Roxb, dan Kaempferia pandurata,
Laporan penelitian. Pusat Penelitian dan Pengem bangan Biologi-LIPI.
19. Setiawan, 2005, Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar, Cetakan V, Puspa
Swara Anggota IKAPI, Jakarta.
20. Tjay, T.H., dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting Khasiat Penggunaan
dan Efek Samping, Edisi VI, PT Elex Media Computindo, Jakarta
21. Volk., W, dan Wheeler., M., 1990, Mikrobiologi Dasar, Edisi V, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
22. Widyawati, M., Darsono, F.I., dan Senny, Y.E., 2003, Penentuan Kadar
Kurkuminoid dari ekstrak Temu Hitam secara Densitometri.
http://www.perpus.wima.ac.id, diakses 18 Februari 2011
23. Wijayakusuma, H., 2006, Sehat dengan Temu Hitam,
http://www.yourcompany.com, diakses 18 Februari 2011.
24. Yurhamen, 2002, Uji Aktivitas Anti Mikroba Minyak Atsiri dan Ekstrak
Metanol Lengkuas (Alpinia galanga), Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA,
Universitas Riau, Riau.

PKM-GT 2011
21

CURRICULUM VITAE
Ketua
Nama : Setia Dwi Wardhani
NIM : G1F008022
Alamat : Jln. Bugenvil No.25 Pasekaran Indah Batang, Kab.
Batang, Jawa Tengah
Telepon : 085640741407
E-Mail : setiadwi_wardhani@yahoo.com

Tempat Tanggal Lahir : Batang, 4 Maret 1990

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Perkawinan : Belum Kawin


Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Pengalaman organisasi:

- Staf Bidang Riset Unit Kegiatan Mahasiswa Pelayanan Informasi Obat


(UKM PIO) Universitas Jenderal Soedirman 2009-2010
- Koordinator Bidang Eksternal Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh
Indonesia (ISMAFARSI) Universitas Jenderal Soedirman 2009-2010
- Koordinator Bidang Keilmuan Ikatan Mahasiswa Pekalongan-Batang
(IMAKABA) 2009-2010
Pengalaman Penelitian:

- 2010. Formulasi Sediaan Salep Ekstrak Etanolik Buah Belimbing Wuluh


(Averrhoa bilimbi Linn.) dalam Variasi Basis Salep dan Uji Antibakteri
pada Propionibacterium acnes Penyabab Jerawat.

Demikian Curriculum Vitae ini saya buat dalam keadaan yang sebenar-benarnya.

Purwokerto, 2 Maret 2011


Setia Dwi Wardhani

PKM-GT 2011
22

Anggota 1
Nama : Irma Dwi Anggraeni
NIM : G1F009051
Alamat : Desa Banjaranyar RT 21/06 Randudongkal, Pemalang
Telepon : 085642555505
E-Mail : anggraeniirma@rocketmail.com

Tempat Tanggal Lahir : Brebes, 8 Maret 1992

Jenis Kelamin : Perempuan

Status Perkawinan : Belum Kawin


Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Pengalaman organisasi:

- Staf Bidang Riset Unit Kegiatan Mahasiswa Pelayanan Informasi Obat


(UKM PIO) Universitas Jenderal Soedirman 2010-2011

Demikian Curriculum Vitae ini saya buat dalam keadaan yang sebenar-benarnya.

Purwokerto, 2 Maret 2011

Irma Dwi Anggraeni

PKM-GT 2011
23

Anggota 2
Nama : Tita Pristi Dwi C.
NIM : G1F009069
Alamat : Jl. Raya Gumelar, Cihonje RT 01/06 Kec. Gumelar,
Banyumas
Telepon : 085647948965
E-Mail : thamon_ta@yahoo.com

Tempat Tanggal Lahir :

Jenis Kelamin : Perempuan

Status Perkawinan : Belum Kawin


Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Pengalaman organisasi:

- Staf Bidang Riset Unit Kegiatan Mahasiswa Pelayanan Informasi Obat


(UKM PIO) Universitas Jenderal Soedirman 2010-2011

Demikian Curriculum Vitae ini saya buat dalam keadaan yang sebenar-benarnya.

Purwokerto, 2 Maret 2011

Tita Pristi Dwi C.

PKM-GT 2011