Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pindah silang (crossing over) adalah peristiwa penukaran segmen dari kromatid-
kromatid bukan saudara dari sepasang kromosom homolog. Peristiwa pindah silang
sangat umum terjadi pada saat pembentukan gamet pada kebanyakan makhluk.
Pindah silang terjadi pada akhir profase I atau awal metafase I yang terjadi pada saat
kromosom telah mengganda menjadi dua kromatid. Pindah silang umumnya terjadi
pada kromatid-kromatid tengah yaitu kromatid nomor dua dan tiga dari tetrad
kromatid. Tetapi tidak menutup kemungkinan adanya pindah silang pada kromatid-
kromatid yang lain.

Peristiwa pindah silang ini memungkinkan untuk terjadinya semakin banyak


variasi antar individu. Dengan adanya pindah silang maka terbentuk genotip tipe
parental dan tipe rekombinan dan didapatkan nilai pindah silang. Untuk mengetahui
terjadinya pindah silang dan persentasenya maka dilakukan imitasi yang
menggambarkan peristiwa pindah silang.

1.2 Permasalahan

Permasalahan dalam praktikum ini adalah bagaimana menirukan secara imitasi


terjadinya pindah silang dan bagaimana mengetahui persentase rekombinasi yang
terbentuk akibat peristiwa pindah silang.

1.3 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menirukan secara imitasi terjadinya
pindah silang dan bagaimana mengetahui persentase rekombinasi yang terbentuk
akibat peristiwa pindah silang.
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Pindah Silang

Berangkai (linkage) adalah suatu peristiwa terdapatnya dua atau lebih gen dalam
ebuah kromosom. Berangkai ada 2 macam yaitu berangkai sempurna dan berangkai tidak
sempurna. Berangkai sempurna terjadi apabila tidak ada pindah silang antara gen-gen
pada satu kromosom, sedangkan berangkai tidak sempurna terjadi bila ada pindah silang
(crossing over) antara gen-gen dalam satu kromosom ( Suryo, 2008).
Gen-gen yang terangkai pada satu kromosom biasanya letaknya tidak berdekatan
satu dengan lainnya, sehingga gen-gen itu dapat mengalami perubahan letak yang
disebabkan karena adanya penukaran segmen dari kromatid-kromatid pada sepasang
kromosom homolog. Peristiwa ini sering disebut dengan pindah silang (crossing over)
( Suryo, 2008).

A B Meiosis I A B
Sister chromatids

a b Non Sister chromatids

a b

Sepasang kromosom homolog dalam zigot Terbentuk 4 kromatid

A B AB (tipe parental)
A b
Ab (tipe rekombinasi)
Kiasma
a B aB (tipe rekombinasi)
a b
ab (tipe parental)
Terjadi pindah silang Terbentuk 4 macam gamet

Peristiwa pindah silang umum terjadi pada setiap gametogenesis pada kebanyakan
makhluk, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Pindah silang terjadi ketika
meiosis I (akhir profase I atau awal metaphase I), yaitu pada saat kromosom telah
mengganda menjadi dua kromatid ( Suryo, 2008).
Pada waktu kromosom-kromosom hendak memisah (yaitu pada anaphase I),
kromatid-kromatid yang bersilang itu melekat dan putus di bagian kiasma, kemudian
tiap potongan itu melekat pada kromatid sebelahnya secara timbale balik. Berhubung
dengan itu gen-gen yang terletak di bagian yang pindah itu akan berpindah pula
tempatnya ke kromatid sebelah ( Suryo, 2008).

2.1.1 Pindah Silang Tunggal

Merupakan pindah silang yang terjadi pada satu tempat. Dengan terjadinya pindah
silang itu akan terbentuk 4 macam gamet. Dua macam gamet memiliki gen-gen yang
sama dengan gen induk (parental), maka dinamakan gamet-gamet tipe parental. Dua
gamet lainnya merupakan gamet-gamet baru yang terjadi sebagai akibat adanya
pindah silang. Gamet-gamet ini dinamakan gamet tipe rekombinasi. Gamet-gamet
tipe parental dibentuk jauh lebih banyak daripada tipe rekombinasi ( Suryo, 2008).

2.1.2 Pindah Silang Ganda

Merupakan pindah silang yang terjadi pada dua tempat. Jiak pindah silang ganda (
double crossing over ) berlangsung di antara dua buah gen yang terangkai, maka
pindah silang ganda itu tidak akan Nampak pada fenotip, sebab gamet-gamet yang
dibentuk hanya dari tepi parental dan tipe rekombinasi akibat pindah silang tunggal
( Suryo, 2008 ).

AB
AB semua gamet
ab tipe parental
ab

AB 2 gamet tipe parental


Ab
aB 2 gamet tipe rekombinasi
ab

AB 2 gamet tipe parental


Ab
ab 2 gamet tipe rekombinasi
aB

Ab
Ab semua gamet
aB tipe rekombinasi
aB
Akan tetapi jika di antara gen A dan gen B masih ada gen ketiga misalnya gen C,
maka terjadinya pindah silang ganda antara gen A dan gen B akan Nampak (Suryo,
2008)

Kromosom homolog 4 kromatid


A C B
A C B
Meiosis I

a c b

a c b

A C B A C B
(tipe parental)
A c B A c B (tipe rekombinasi)
a C b
(tipe rekombinasi)
a C b
a c b (tipe parental)
a c b

Pindah silang ganda Terbentuk gamet-gamet

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pindah Silang

Kemungkinan terjadinya pindah silang ternyata dipengaruhi oleh beberapa faktor,


seperti :

1. Temperatur yang melebihi atau kurang dari temperatur biasa dapat memperbesar
kemungkinan terjadinya pindah silang.
2. Umur, semakin tua individu semakin kurang merngalami pindah silang.
3. Zat kimia tertentu dapat memperbesar kemungkinan pindah silang.
4. Penyinaran dengan sinar X dapat memperbesar kemungkianan pindah silang.
5. Jarak antar gen-gen yang terangkai, semakin jauh letak satu gen dengan gen
lainnya, semakin besar kemungkinan terjadinya pindah silang.
6. Jenis kelamin, pada umumnya pindah silang dijumpai pada individu betina
maupun jantan. Namun ada perkecualian, yaitu pada ulat sutra yang betina tidak
pernah terjadi pindah silang, demikian pula pada lalat Drosophila yang jantan
( Suryo, 2008).

2.1.4 Nilai Persentase Pindah Silang

Dari pengertian pindah silang tersebut kita dapat menyederhanakan batasan tentang
gamet tipe parental dan gamet tipe rekombinasi. Di atas telah dikatakan bahwa gamet tipe
parental adalah gamet dengan susunan gen yang sama dengan susunan gen pada individu,
sedang gamet tipe rekombinasi adalah gamet yang susunan gennya merupakan
rekombinasi susunan gen pada individu. Sekarang dengan lebih mudah dapat kita katakan
bahwa gamet tipe parental adalah gamet bukan hasil pindah silang, sedang gamet tipe
rekombinasi adalah gamet hasil pindah silang.
Peristiwa pindah silang, bersama-sama dengan pemilihan bebas (hukum Mendel II),
merupakan mekanisme pembentukan keanekaragaman genetik karena kedua akan
menghasilkan kombinasi baru di antara gen-gen yang terdapat pada individu sebelumnya.
Selanjutnya, seleksi alam akan bekerja untuk mempertahankan genotipe-genotipe dengan
kombinasi gen yang adaptif saja. Oleh karena itulah, banyak ilmuwan yang menganggap
bahwa pindah silang dan pemilihan bebas sangat penting bagi berlangsungnya proses
evolusi.
Nilai pindah silang (prosentase rekombinasi) adalah angka yang menunjukkan
besarnya prosentase kombinasi baru yang dihasilkan oleh pindah silang. Rumusnya
adalah sebagai berikut:

Jumlah tipe rekombinasi


NPS= X 100% ( Suryo, 2008).
Jumlah tipeparental

2.2 Peta Kromosom

Yang dimaksud peta kromosom ialah gambar skema sebuah kromosom yang
dinyatakan sebagai sebuah garis lurus di mana diperlihatka lokus setiap gen yang
terletak pada kromosom itu. Sentromer dari kromosom biasanya dianggap sebagai
pangkal, maka diberi tanda 0. Pada lokus gen dibubuhkan angka yang merupakan
jarak antar gen itu dengan sentromer atau jarak antara satu gen dengan yang lain.
Jarak itu diberi ukuran unit dan 1dan dan 1dan 1 unit = 1% pindah silang ( Suryo,
2008 )
dan 1 unit = 1% pindah silang ( Suryo, 2008 ).

Misalnya pada lokus gen P tertuilis angka 6,2. Ini berarti bahwa jarak antara
sentromer ke gen ialah 6,2 unit. Pada lokus gen q tertulis angka 10, berarti bahwa
jarak antara sentromer dengan gen q ialah 10 unit. Dengan sendirnya dapat diketahui
jarak antara gen P dan gen q ialah 10 - 6,2 = 3,8 unit. Jarak antara gen P dan gen q
disebut jarak peta. Peta kromosom tanpa menunjukkan letak sentromer dinamakan
peta relatif ( Suryo, 2008 ).

0 P q

6,2 10

2.3 Koinsidens dan Interferensi

Terjadinya pindah silang antara segmen-segmen dari kromosom tertentu


kebayakan merupakan fenomena yang kebetulan saja, tetapi distribusinya tidak acak-
acakan. Berdasarkan hukum kemungkinan, maka terjadinya pindah silang secara
simultan sama dengan hasil perkalian dari besarnya kemungkianan untuk tiap pindah
silang yang berlangsung secara terpisah di dua tempat itu. H. J. Muller membuktikan
bahwa pindah silang ganda yang sebenarnya adalah kurang frekuensinya
dibandingkan dengan yang diharapkan berdasarkan perhitungan distribusi acak-
acakan. Muller menegaskan bahwa suatu pindah silang yang terjadi pada suatu
tempat tentu menghambat terjadinya pindah silang lain yang berdekatan. Inilah yang
dinamakan interferensi. Untuk mencari besarnya interferensi harus dicari besarnya
koefisien koinsidens( KK ) dahulu, yaitu perbandingan antara banyaknya pindah
silang ganda yang sesungguhnya dengan banyaknya pindah silang ganda yang
diharapkan. Singkatnya

Jumlah pindah silang ganda yang sesungguhnya


KK=
Jumlah pindah silang ganda yang diharapkan

2.4 DNA dan Kromosom

Karunia hereditas keseluruhan berisi DNA yang dimilki oleh suatu sel disebut
genom dari sel tersebut. Walaupun genom prokariotik sering berupa molekul DNA
yang panjang dan tunggal, genom eukariotik umumnya terdiri atas beberapa molekul
seperti itu. Panjang keseluruhan DNA dalam sel eukariotik sangat panjang. Sel
manusia, misalnya, memiliki DNA yang panjnagnya sekitar 3 meter, kira-kira 300000
kali lebih besar darpada diameter sel tersebut. Namun sebelum sel dapat membelah,
semua DNA ini harus disalin dan kemudian dibagi rata sehinga tiap sel anak memiliki
genom lengkap.

Gambar. 1 DNA, Gen dan Kromosom

Replikasi dan distribusi DNA dalam jumlah banyak itu terkelola dengan baik
karena molekul-molekul DNA dikemas menjadi kromosom. Setiap spesies eukarotik
memiliki jumlah kromosom yang khas dalam setiap nukleus. Misalnya, sel somatik
manusia ( semua sel tubuh kecuali sel reproduktif ) mengandung 46 kromosom. Sel
reproduktif atau gamet memiliki setengah dari jumlah kromosom sel somatik, atau 23
kromosom pada manusia ( Campbell, 2000 ).

Didalam setiap kromosom eukarotik terdapat satu molekul DNA linear yang
sangat panjang, yang mewakili ribuan gen, unit yang menentukan sifat yang diwarisi
oleh suatu organisme. DNA ini berkaitan dengan berbagai protein yang
mempertahankan struktur kromosom dan membantu mengontrol aktivitas gen.
Kompleks protein-DNA, yang disebut kromatin diorganisasi menjadi serat yang tipis
dan panjang. Setelah sel menduplikasi genomnya dalam persiapan pembelahan,
kromatin ini memadat danterbentuk kromosom yang tebal yang dapat kita amati
dengan mikroskop cahaya ( Campbell, 2000 ).
Setiap kromosom terduplikasi terdiri dari dua kromatid saudara. Kedua kromatid
yang mengandung salinan molekul DNA kromosom yang identik, mula-mula saling
berdekatan satu sama lain. Dalam bentuk padat dan punya sentromer. Pada proses
pembelahan sel selanjutnya, kromatid saudara dan semua kromosom ditarik saling
menjauh dan dikemas kembali sebagai kumpulan kromosom lengkap dalam dua
nukleus baru, masing-masing satu pada setiap ujung sel ( Campbell, 2000 )
BAB III

METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan

Pada praktikum pindah silang ini alat dan abahan yang diperlukan antara lain lillin
lembek ( malam ) dengan 4 macam warna yang berbeda, pensil, dan kertas.

3.2 Cara Kerja

Pada praktikum pindah silang ini pertama dibuat epat strand kromosom dari lilin
lembek. Masing-masing dibuat dua strand dari satu warna lilin lembek. Keadaan ini
diumpamakan menyerup[ai keadaan tekrad kromatid pada kromosom homolog. Lilin
yang telah dibuat kromosom diberi tanda sengan lilin lembek yang dibentuk bulatan
lokasi sentromer dan gen-gen. Dibuat konfigurasi terjadinya pindah silang dengan
ketentuan sebagai berikut :

a. Pindah silang tunggal ( 2 – 3 )

b. Pindah silang tunggal ( 1 – 4 )

c. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 2 – 3 )

d. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 2 – 4 )

e. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 1 – 4 )

f. Pindah silang ganda ( 1 – 3 ; 2 – 4 ; 2 – 3 )

Kemudian dihitung persen tipe terkombinan yang terjadi akibat pindah silang
yang telah dilakukan secara imitasi.
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Perlakuan dan Pengamatan

Perlakuan Pengamatan
1. Dibuat 4 strand kromatid dari Terbentuk 4 strand kromatid dengan 4 titik lokus
lilin dan diberi bulatan tempat gen tiap kromatid
lokus gen
1
2
3
4

2. Pindah silang tunggal ( 2 – 3 ) 1 ABCD (tipe parental)


2 ABcd (tipe rekombinan)
3 abCD (tipe rekombinan)
4 abcd (tipe parental)

NPS = 2/4 x 100% = 50%

1
3. Pindah silang tunggal ( 1 – 4 ) 2
3
4

NPS = 2/4 x 100% = 50%

4. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 2 – 1


3) 2
3
4
NPS = 2/4 x 100% = 50%

1 ABCD (tipe parental)


2 Abcd (tipe rekombinan)
3 aBCd (tipe rekombinan)
4 abcD (tipe rekombinan)
5. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 2 –
4)

NPS = 3/4 x 100% = 75%

6. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 2 – 1


4) 2
3
4

NPS = 2/4 x 100% = 50%

1
7. Pindah silang ganda ( 2 – 3 ; 1 –
2
4) 3
4

NPS = 4/4 x 100% = 100%

8. Pindah silang ganda ( 1 – 3 ; 2 – 1


4;2–3) 2
3
4

NPS = 4/4 x 100% = 100%

4.2 Pembahasan

4.2.1 Fungsi Perlakuan

4.2.2 Pidah Silang

Pindah silang merupakan konsekuensi dari pemilahan kromosom secara


independen selama metosis, kita masing-masing menghasilkan gamet-gamet yang
kombinasi mromosomnya berbeda sekali dengan kromosom yang kita warisi dari
kedua orag tua kita. Kromosom tersebut terdiri dari DNA yang berasal dari ibu atau
bapak kita, tetapi bukan dari keduanya. Dalam kenyataannya, hal ini bukan suatu
masalah. Suatu proses yang dinamakan pindah silang ( crossing over ) menghasilkan
kromosom individual yang menggabungkan gen-gen yang diwarisi dari kedua orang
tua kita.

Pindah silang terjadi selama profase meiosis I. Ketika kromosom homolog


pertama kali muncul bersama sebagai pasangan selama profase I, suatu perlengkapan
protein yang dinamakan kompleks sinaptonemal menggabungkan kromosom
sehingga terikat kuat satu dengan yang lain. Pasangan berlangsung secara cermat,
penataan yang homolog satu sama lain gen demi gen. Pindah silang terjadi ketika
porsi homolog duakromatid bukan saudara tempat. Lokasi pertukaran genetik ini
tampak pada mikroskop cahaya sebagai kiasmata. Pindah silang dengan
mengkombinasikan DNA yang diwarisi dari kedua orang tua menjadi sebuah
kromosom tunggal, merupakan sumber genetik yang penting dalam siklus hidup
seksual.

4.2.3 Pindah Silang Tunggal

Peristiwa pindah silang tunggal terjadi dengan adanya pertukaran segmen 2 strand
kromatid yang bukan saudara, membentuk 1 kiasma. Pindah silang tunggal ini
menghasilkan 2 genotip tipe parental dan 2 genotip tipe rekombinan sehingga nilai
pindah silang yang didapatkan adalah 50%. Pindah silang tunggal misalnya terjadi
antara 2 strand kromatid yaitu strand 2 - , strabd 1 – 4, strand 1 – 3, atau strand 2 – 4.

Misalnya pindah silang yangterjadi antara strand 2 – 3. Pindah silang ini akan
membentuk 4 genotip, yaitu ABCD, Abcd, abcD, dan abcd. Genotipe ABCD dan
abcd merupakan genotip tipe parental sedangkan genotip abcD dan Abcd merupakan
genotip tipe rekombinan. Dengan demikian nilai pindah silangnya sebesar 50%.

Contoh lain yaitu pindah silang yangterjadi antara stand 1 - 4. Pindah silang ini
akan membentuk 4 genotip yaitu ABcd pada strand 1, ABCD pada strand 2, abcd
pada strand 3, dan abCD pada strand 4. Genotip ABCD pada strand 2 dan abcd pada
strand 3 merupakan genotip tipe parental, sedangkan genotip Abcd pada strand 1 dan
abCD pada strand 4 merupakan genotip rekombinan. Dengan demikian nilai pinda
silangnya sebesar 50%.

4.2.4 Pindah Silang Ganda

Peristiwa pindah silang ganda terjadi dengan adanya pertukaran segmen antara 2
kromatid atau lebih dan membentuk lebih dari 1 kiasma. Pindah silang ganda ini
menghasilkan 2 genotip tipe rekombinan, 3 genotip tipe rekombinan, atau 4 genotip
tipe rekombinan sehingga nilai pindah silang yang didapatkan bisa sebesar 50%, 75%
atau 100%.
Contoh pertama pindah silang ganda yaitu pertukaran segmen antara strand
kromatid 2 dengan 3 dan strand 2 dengan 3 untuk kedua kalinya. Pindah silang ini
akan membentuk genotip ABCD pada strand 1, AbcD pada strand 2, aBCd pada
strand 3 dan abcd pada strand 4. Genotip ABCD pada strand 1 dan abcd pada strand 4
merupakan tipe parental sedangkan genotip AbcD pada strand 2 dan aBCd pada
strand 3 merupakan genotip tipe rekombinan. Dengan demikian nilai pindah
silangnya sebesar 50%.

Contoh kedua yaitu pindah silang antara kromatid strand 2 dengan 3, dan
kromatid standr 2 dengan 4. Pindah silang ini membentuk genotip ABCD pada strand
1 yangmerupakan genotip tipe parental, Abcd pada strand 2, aBCd pada strand 3 dan
abcD pada strand 4 yanngketiganya merupakan genotip tipe rekombinan. Dengan
demikian nilai pindah silangnya sebesar 75%. Pindah silang tpe ini juga beisa
menghasilkan nilai pindah silang sebesar 50%. Genotip yang terbentuk yaitu ABCD
pada strand 1 yang merupakan tipe parental, Abcd pada strand 2, aBCd pada strand 3,
keduamya merupakan tipe rekombinan, dan abcd pada strand 4 yang merupakan tipe
parental. Pada pindah silang ganda tipe ini kiasma yang terbentuk sebanyak 2.

Contoh ketiga yaitu pindah silang antara kromatid strand 2 dengan 3 dan strand 1
dengan 4. Pada pindah silang ini terbentuk 2 kiasma. Genotip yang terbentuk yaitu
Abcd pada strand 1, Abcd pada strand 2, aBCD pada strand 3, dan abCD pada strand
4. Semua genotip yang terbentuk merupakan tipe rekombinan. Dengan demikian nilai
pindah silannya sebesar 100%.

Contoh keempat yaitu pindah silang antara kromatid strand 1 dengan 3, strand 2
dengan 4, dan strand 2 dengan 3. Pada pndah silang ini terbentuk 3 kiasma. Genotip
yang terbentuk yaitu AbcD pada strand 1, Abcd pada strand 2, aBCD pada strand 3,
dan abCd pada strand 4. Semua genotip yang terbentuk merupakan tipe rekombinan.
Dengan demikian nilai pindah silangnya sebesar 100%.

4.2.5 Peta Kromosom

Peta kromosom ialah gambar skema sebuah kromosom yang dinyatakan sebagai
sebuah garis lurus di mana diperlihatka lokus setiap gen yang terletak pada kromosom
itu. Peta kromosom dapat dibuat dengan mengetahui jumlah inidividu pada tiap
genotip yang terbentuk. Misalnya, pada tanaman jagung ( Zea mays ) dikenal gen-gen
terangkai, misalnya :

+ ( atau BM ) : gen yang menyebabkan tulang daun berwarna hijau ( normal )


bm: gen yang menyebabkan tulang daun berwarna coklat ( terdapat antosianin )
+ ( atau Pr ) : gen yang menyebabkan biji berwarna kuning ( normal )
pr : gen yang menyebabkan biji berwarna merah
+ ( atau V ) : gen yang menyebabkan daun berwarna hijau ( normal )
v : gen yang menyebabkan daun berwarna hijau pucat
uji silang dari tanaman trihibrid menghasilkan keturunan sebagai berkut :
+ pr v : 57 tanaman bm + v : 2 tanaman
bm pr v : 434 tanaman ++v : 1 tanaman
bm + + : 60 tanaman + pr + : 3 tanaman
+++ : 441 tanaman bm pr + : 2 tanaman
Untuk menggambarkan peta kromosomnya, dientukan tipe parental dan tipe
rekombinanny lebih dahulu. Karena parentalnya tidak diketahui, maka dua individu
yang jumlahnya paling banyak merupakan tipeparental yaitu ( bm pr v ) dan ( + + + ).
Tipe rekombinasi hasil adanya pindah silang ganda adalah individu yang jumlahnya
paling sedikit, yaitu ( + + v ) dan ( bm pr + ). Jadi singkatnya :
Tipe parental : ( bm pr v ) dan ( + + + )
Tipe rekombinasi : ( + + v ) dan ( bm pr + )
Apabila tipe rekombinasi dibandingkan dengan tipe parental, maka nampak
bahwa ada perbedaan mengenai letak satu gen v. Berhubung dengan itu, gen v
seharusnya terletak di tengah, sehingga urutan letak gen yang benar ialah ( bm v pr )
atau ( pr v bm ). Jadi tipe parental dengan memperhatikan urutan letak gen yang benar
ialah ( bm v pr ) atau ( pr v bm ) dan ( + + + ).
Jika kita menggunakan sususnan tipe parental yang pertama maka :
- Jarak antara gen bm-v = ( bm + + ) + ( + v pr ) + ( bm + pr ) + ( + v + )
Jumlah keturunan uji silang
= 60 + 57 + 2 + 1 = 0,12 = 12%
1000
- Jarak antara gen v- pr = ( bm v + ) + ( + + pr ) + ( bm + pr ) + ( + v + )
Jumlah keturunan uji silang
= 2 + 3 + 2 + 1 = 0,008 = 0,8%
1000
Jadi jarak gen bm-v = 12 unit dan jarak gen v-pr = 0,8 unit
Gambar peta kromosom relatif adalah sebagai berikut :
Bm 12 v 0,8 pr

Genotip tanaman trihibridnya adalah + + +/bm v pr. Karena itu genotip tanaman
parental ialah + + +/+ + + dan bm v pr/bm v pr.
Pindah silang ganda yang sesungguhnya = 2+1 = 0,003
1000
Pindah silang ganda yang diharapkan = 0,12 x 0,008 = 0,00096
Koefisien koinsidens = 0,003 =3,125
0,00096
Koefisien interferensi = 1 – 3,125 = -2,125
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa pindah


silang dapat terjadi selama pembentukan gamet yang bertujuan untuk variaso genetik
antar individu. Pada pindah silang tunggal, nilai pindah silang yang didapatkan
sebesar 50% karena terbentuk 2 genotip tipe parental dan 2 genotip tipe rekombinan.
Pada pindah silang ganda, nilai pindah silang yang didapatkan sebesar 50% sampai
100%. Nilai pindah silang 50% saat terbentuk 2 genotip tipe parental dan 2 genotip
tipe rekombinan. Nilai pindah silang yang didapatkan sebesar 75% saat terbentuk 1
genotip tipe parental dan 3 genotip tipe rekombinan. Nilai pindah silang yang
didapatkan sebesar 100% saat terbentuk 4 genotip tipe rekombinan.
DAFTAR PUSTAKA

Suryo. 2008. Genetika Strata 1. UGM Press. Yogyakarta


Campbell, Neil A. Et al. 2000. Biologi. Erlangga. Jakarta
Lampiran

Soal 10-13

Pada tanaman tomat solanum lycopersicum gen-gen berikut ini terdapat pada kromosm no.2

+ = tanaman tinggi d = tanaman pendek

+ = daun hijau rata m = daun hijau bernoda

+ = buah licin p = buah berbulu halus

uji silang pada tanaman trihibrid menghasilkan keturunan misalnya sebagai berikut:

1. tanaman tinggi, daun hijau bernoda, buah berbulu ... 470


2. tanaman tinggi, daun hijau rata, buah berbulu... 14
3. tanaman pendek, daun hijau rata, buah berbulu... 0
4. tanaman pendek, daun hijau bernoda, buah licin.. 19
5. tanaman tinggi, daun hijau bernoda, buah licin... 1
6. tanaman tinggi, daun hijau rata, buah licin... 25
7. tanaman pendek, daun hujau rata, buah licin ...441
8. tanaman pendek, daun hijau bernoda, buah berbulu... 30

Pertanyaan

a) bagaimanakah urutan letak gen yang sebenarnya


b) buatlah gambar beserta peta kromosom relatip di mana terdapat gen-gen tersebut
c) adakah interferensi
d) tulislah gentipe dari tanaman prental ynag menghasilkan tanaman trihibrid tersebut

jawaban

oleh karena parental tidak diketahui maka dua individu yang jumlahnya paling banyak,
merupakan tipe parental, yaitu( +mp) ... 470 dan (d++) ...441, tipe-tipe rekombinansi
hasil dan adanya pindah silang ganda atau disingkat PSG adalah individu yang
jumlahnya paling sedikit, yaitu

d+p... 0 +m+... 1

Adalah salah jika yang diambil (++p)... 14 sebab gen + menempati tempat yang sama
dengan gen + dari (+m+)

Jadi singkatnya:
Tipe parental

( +mp) ... 470

(d++) ...441,

Tipe rekombinan

d+p... 0

+m+... 1

dan berikut adalah genotip dari data yang diketahui

1. +mp ... 470


2. ++p... 14
3. d+p... 0
4. dm+.. 19
5. +m+... 1
6. +++... 25
7. d++ ...441
8. dmp... 30

a. Urutan letak gen yan g sebenarnya adalah d p m


apabila tipe-tipe rekombinansi dibandingkan dengan tipe-tipe parental, maka nampak bahwa
ada perbedaan mengenai susunan masing-masing gen, akan tetapi terdapat persamaan dalam
susunan letak gennya

Tipe parental

( +mp) ... 470

(d++) ...441,

Tipe rekombinan

(d+p )... 0

(+m+)... 1
Maka perhitungan PS,

PS antara d-p = (+++)... 25 + (dmp)... 30 + (+m+)... 1 + (d+p)... 0

= 56/1000

= 0,056

= 0,056 x 100 %

= 5,6 %

PS antara p-m = (dm+).. 19+ (++p)... 14+ (+m+)... 1 + (d+p)... 0

= 34/1000

= 0,034

= 0,034 x 100 %

= 3,4 %

Peta kromosom:

5,6 3,4
d p m

PSG Yang Sesungguhnya = 0 + 1 /1000

= 0,001

PSG Yang diharapkan = 0,056 x 0,034

= 19,04

KK = 0,001/19,04

= 0,00052521
KI =1 - 0,00052521

= 0,99947479

Terdapat interferensi karena KK≠1

d. Genotip tanaman parental:

+pm & d++

+pm d++