Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KIMIA SINTESIS (KIO-233) SEMESTER GENAP 2010/2011

Sintesis p-Nitroasetanilida

Disusun oleh : Kelompok VIII / A Anietta Indri N. R. {050911043} Rany Windysari {050911047}

BAGIAN KIMIA FARMASI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, yang dengan rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Sintesis p-Nitroasetanilida sebagai tugas akhir praktikum kimia sintesis.

Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mempermudah kelompok-kelompok lain untuk memahami mengenai reaksi dan cara kerja untuk mensintesis senyawa pNitroasetanilida. Selama penyusunan tugas makalah kami ini, tidak lepas dari bimbingan, saran-saran, serta dorongan dari berbagai pihak. Sehingga, pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Ibu Dra. Suzana, MSi., selaku koordinator praktikum. 2. Bapak Dr. Hadi Poerwono, MSc., selaku dosen pembimbing kami. 3. Bapak dan Ibu dosen pengajar Kimia Sintesis semester IV yang telah membantu kami dalam menyelesaikan praktikum ini. 4. Seluruh staff Ruang Praktikum Kimia Sintesis Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. 5. Pihak-pihak lain yang telah membantu dalam menyelesaikan praktikum ini. Akhirnya, kami berharap penyusunan makalah ini dapat bermanfaat dan dipahami oleh kelompok-kelompok lain pada khususnya dan para pembaca pada umumnya. Baik sebagai bahan kajian maupun sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak lain yang membutuhkan, khususnya dalam bidang kefarmasian. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan makalah ini.

Surabaya, 10 Juni 2011 Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman judul Kata pengantar Daftar isi . Daftar gambar dan tabel . BAB I. Pendahuluan 1.1 Latar belakang 1.2 Rumusan masalah ................... 1.3 Tujuan ..................................... BAB II. Sintesis Preparat ......... 2.1 Prosedur Asli ... 2.2 Reaksi dan hasil samping .... 2.3 Mekanisme reaksi.... 2.4 Bahan dan Alat ..................... .. Bahan .................................................................................................. Alat ...................................................................................................... 2.5 Cara Kerja (1/2 prosedur asli) 2.6 Bagan Alir ............................................................................................ 2.7 Skema Kerja ......................................................................................... i ii iii iv 1 1 2 2 3 3 5 4 5 5 8 8 10 11

2.8 Hasil Reaksi .................... . 12 BAB III. Uji kemurnian . 13 BAB IV. Identifikasi struktur 14 1. Metode IR ........................................ 14 2. Metode Spektrometri 1H-NMR ........ 15 3. Metode Spektrometri 13C-NMR ...... 16 4. Metode Spektrofotometri UV-Vis .......................................................... 5. Metode Spektroskopi Massa ................................................................... 17 18

BAB V. Pembahasan . 19 BAB VI. Kesimpulan dan saran . 22 BAB VII. Daftar Pustaka . 24

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL Tabel Sifat fisika dan kimia bahan ....................................................... 5 Tabel alat-alat yang digunakan ............................................................. 8
Skema kerja sintesis p-nitroasetanilida ..................................................... Spektra IR p-nitroasetanilida ..................................................... 11 14

Spektra 1H-NMR .............. 15 Spektra 13C-NMR .............. ..... Spektra UV-Vis ....................................................................................... Spektra Massa ............................................................................................. 16 17 18

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Senyawa p-nitroasetanilida merupakan senyawa turunan asam karboksilat yang termasuk dalam golongan amida sekunder (RCONHR). Beberapa nama lain dari p-nitroasetanilida antara lain N-(4-nitrofenil) asetamida, p-asetamidonitrobenzen, N-Acetyl-4-nitroaniline. Senyawa ini berbentuk kristal prisma yang berwarna kuning pucat. Dalam industri, pnitroasetanilida, digunakan sebagai bahan baku untuk mensistesis pnitroanilina, yang umum digunakan sebagai zat pewarna. Jika diamati struktur molekulnya, maka akan terlihat bahwa gugus yang terikat pada atom N (R) mengandung inti benzena.

Sehingga senyawa ini dapat juga dikategorikan kedalam senyawa benzena terdisubstitusi. Kedua substituent pada senyawa ini adalah gugus NO2 (gugus nitro) dan gugus NHCOCH3 (gugus asetilamina). Senyawa pnitroasetanilida ini memiliki 2 buah isomer posisi, yaitu : o-nitroasetanilida dan m-nitroasetanilida. Dalam keadaan padat, suatu isomer para (p) lebih simetris dan dapat membentuk kisi kristal yang lebih teratur jika dibandingkan dengan kedua isomer lainnya. Selain itu, kedua isomer tersebut lebih sulit terbentuk. Hal ini menyebabkan isomer para lebih stabil dalam perolehannya.

Secara umum, p-nitroasetanilida dibuat dengan jalan mereaksikan asetanilida bersama asam sulfat pekat, asam nitrat pekat, dan asam asetat glasial. Di sini, asam sulfat pekat berfungsi sebagai pembentuk ion nitronium (NO2+) yang dapat menyerang molekul asetanilida untuk menghasilkan molekul p-nitroasetanilida. Mekanisme penyerangan oleh ion nitronium inilah yang dikenal dengan proses reaksi nitrasi. Senyawa p-nitroasetanilida berbentuk Kristal (padat), sehingga proses pemurniannya dilakukan dengan cara kristalisasi dan rekristalisasi. 1.2. Rumusan masalah : 1. Bagaimana cara mensintesis senyawa p-nitroasetanilida melalui reaksi nitrasi? 2. Bagaimana cara memurnikan kristal p-nitroasetanilida yang terbentuk? 3. Bagaimana cara untuk mengetahui kemurnian kristal p-nitroasetanilida yang dihasilkan? 1.3. Tujuan Tujuan utama sintesis p-nitroasetanilida dalam praktikum ini adalah: 1. Melakukan reaksi nitrasi 2. Melakukan pemurnian secara kristalisasi atau rekristalisasi

BAB II SINTESIS PREPARAT

2.1. Prosedur Asli Prepation p-Nitroacetanilide, Chemicals required, (i) Acetanilide 8 gm, (ii) Glacial Acetic Acid 8 ml. (iii) Conc. HN03 (Specivic gravity 1.4) 4 ml, (iv) H2S04 20 ml. Procedure. Place 8 gm acetanilide in a 250 ml round bottom flask and add to it 8 ml glacial acetic acid and 16 ml cone. HNO3 and cone. H2SO4 in a test-tube and cool the mixture. Add this nitrating mixture to the solution of acetanilide in acid drop by drop, with stirring and keeping the temperature below 100 C. After the addition of entire mixture of acids remove the flask from ice-bath and allow to stay for 1 hour. Then pour the reaction mixture on to 200 ml water containing pieces of crushed-ice when crude pNitroacetanilide separates out. Allow it to stay for 15 minutes, filter in a buchner funnel with suction , wash with cold water and dry in an oven at 100. The yield of crude p-Nitroacetanilide is about 7 g. (o-Nitroacetanilide is also formed together with p-isomer but being more soluble in water remains in the filtrate). Recrystalise a portion of the crude product from rectified spirit when pale yellow cristal of pure p-Nitroacetanilide m.p.214 are obtained.

2.2. Reaksi Kimia dan Hasil Samping

2.3 Mekanisme Reaksi - Pembentukan ion nitronium

- Penyerangan ion nitronium terhadap asetanilida

2.4. Bahan dan Alat Bahan : Nama Senyawa Asetanilida (C8H9NO) Sifat Fisika dan Kimia Kristal tidak berwarna,tidak berbau,tidak berkilau,dalam air mudah terhidrolisa menjadi asam asetat dan anilin. -1 gram larut dalam 185 ml air dingin, 20 ml air panas, 3,4 ml alkohol, 3 ml metanol, 0,6 ml alkohol panas, 3,7 ml kloroform. -BJ : 1,219 g/ml -TL : 1130C-1150C -TD : 3040C-3050C 2 Asam asetat glasial 60,05 Cairan jernih,tidak berwarna,bau khas,tajam,jika diencerkan dengan air rasanya asam. -dapat dicampur dengan air,etanol (95%)p,dengan gliserol p. 4 Guna : Pembuatan berbagai senyawa asetat, mengasamkan cucian, mewarnai sutra,mengawe tkan makanan. Guna dan Bahaya Guna : manufaktur kesehatan,pew arna larutan H2O2, sebagai penambah pada metilselulosa,v arnish. Dalam reaksi berguna sebagai reaktan. Bahaya : rasa terbakar ringan

No 1.

BM 135,16

gr 4

mol 0,0296

mL -

- BJ : 1,049 g/ml - TL : 15,6 C - TD : 1180 C


0

-dalam reaksi berguna untuk menjaga agar asetanilida tidak terhidrolisis. Bahaya: korosif pada mulut,oesofag us,menyebabk an muntah,diare,a nemia,hingga kematian.

Asam nitrat pekat (HNO3 p)

63,02

Mengandung 70%71% HNO3 Cairan tidak berwarna,merupakan oksidator,bereaksi keras dengan alkohol. - BJ : 1,512 g/ml - TL : 41,590 C - TD : 83 C
0

Guna : pembuatan substrat organik dan anorganik, kandungan nitro untuk pupuk dan bahan peledak. Bahaya : menyebabkan kebakaran,kor osif pada mulut,oesofag us,perut.

Asam Sulfat pekat (H2SO4 p )

93,08

Cairan kental seperti minyak,sangat korosif,tidak

8 2

Bahaya : korosif untuk seluruh organ

10

berwarna,tidak berbau,mampu menarik air dari udara maupun dari zat organik. -larut dalam air dan alkohol dengan melepaskan panas dan kontraksi volume. - BJ : 1,389 g/ml - TL : 10,490 C - TD : 340 C 5 Etanol (C2H5OH) 46,07 Cairan tidak berwarna,jernih,mud ah menguap,bau khas,rasa panas,dan mudah terbakar,mengabsorp si air dari udara. -larut dalam air,CHCl3p dan eter p. -BJ : 0,810 g/ml -TL : -114,10C -TD : 78,5 0C 6 Air es (H2O) 18 BJ : 1 g/mL TD : 1000 C TL : 0 C
0 0

tubuh, uapnya menyebabkan kerusakan paru, bila kontak dengan mata menyebabkan kebutaan. Guna : dalam reaksi berguna sebagai pembentuk ion nitronium. qs Bahaya : mudah terbakar dengan api bebas,menyeba bkan pusing, muntah, panas, mengantuk. Guna : sebagai pelarut senyawa organik

qs

Guna : dalam reaksi untuk memisahkan senyawa onitroasetanilida dengan p-

11

nitroasetanilida , untuk menghilangkan asam.

Alat : No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Nama Alat Labu Erlenmeyer 250 mL dan 100 mL Gelas ukur 10 mL dan 100 mL Termometer Corong tetes Beaker Glass Corong Buchner dan labu hisap Cawan Petri Batang Pengaduk Neraca / Timbangan Kertas saring Baskom (wadah air es) Oven Hot Plate Corong panas Jumlah 1,1 1 1 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1

2.5. Cara Kerja (1/2 prosedur asli) : 1. 4 g asetanilida dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 250 ml. 2. Ditambahkan 4 ml asam asesat glasial dan 8 ml H2SO4 P., kemudian labu erlenmeyer didinginkan dalam air es (suhu dijaga <10oC). 3. 2 ml asam nitrat pekat dan 2 ml asam sulfat pekat di campur di dalam labu erlenmeyer 100 ml, dan selanjutnya labu erlenmeyer didinginkan dalam air es (suhu dijaga nitrasi. <10oC). Campuran ini disebut sebagai campuran

12

4. Dengan corong tetes, campuran nitrasi ini diteteskan kedalam erlenmeyer yang berisi asetanilida sambil diaduk dan temperatur dijaga agar tidak lebih dari 10oC. 5. Apabila penetesan telah selesai, labu dikeluarkan dari air es dan dibiarkan selama 1 jam di suhu kamar. 6. Kemudian dituangkan (dipindahkan) ke dalam beker glass 250 ml yang berisi 100 ml air dan beberapa potong es. 7. Diaduk perlahan-lahan hingga Kristal p-nitroasetanilida memisah, lalu didiamkan selama 15 menit. 8. Kristal disaring dengan corong Buchner, dan dicuci beberapa kali dengan air es hingga tidak asam. 9. Dilakukan rekristalisasi dengan etanol: a. Etanol (q.s.) dipanaskan di atas hot plate. b. Kristal dalam beaker glass ditambah etanol panas ad tepat larut (bila perlu dipanaskan). c. Disaring dalam keadaan panas dengan corong panas. Filtrat ditampung. d. Filtrat didinginkan di suhu kamar hingga kristal terbentuk lagi. e. Kristal disaring dengan corong Buchner. f. Kristal ditempatkan di cawan petri. 10. Kristal dikeringkan di oven pada temperature 100oC. 11. Setelah kering, kristal tersebut lalu ditimbang dan ditentukan jarak leburnya dengan alat elektrothermal.

13

2.6. Bagan Alir :

Asetanilida + As. asetat glasial + H2SO4p Labu didinginkan didalam air es

HNO3p + H2SO4p Labu didinginkan didalam air es


Camp. Nitrasi

Campuran nitrasi diteteskan ke dalam labu yang berisi Asetanilida. Temperatur dijaga <100C p-nitroasetanilida dan o-nitroasetanilida Didiamkan di suhu kamar selama 1 jam dituang kedalam air es sambil di aduk perlahan Dibiarkan selama 15 menit disaring dengan Buchner. o-nitroasetanilida + H2O + HAc + As.Sulfat (filtrat dibuang) p-nitroasetanilida + HAc + As.Sulfat (padatan) Dicuci air es ad. Asam hilang

HAc + As.Sulfat (filtrat dibuang)

p-nitroasetanilida (padatan) Rekristalisasi dengan etanol saring panas

Pengotor (padatan dibuang)

p-nitroasetanilida murni (filtrat) Didiamkan ad. suhu kamar disaring dengan corong Buchner Kristal p-nitroasetanilida murni (padatam) Dikeringkan didalma oven ditimbang berat akhirnya dan ditentukan jarak leburnya
14

Etanol, pengotor (filtrat dibuang )

2.7. Skema Kerja :

15

2.8. Hasil Reaksi a. Hasil teoritis : Asetanilida M: R: 0,0296 0,0296 p-nitroasetanilida + o-nitroasetanilida 0,0296 0,0296

S:

0,0296

0,0296

BM p-nitroasetanilida Berat p-nitroasetanilida

= 180,16 = 0,296 X 180,16 = 5,3318 gram

b. Hasil praktikum : - Berat p-nitroasetanilida yang diperoleh : 1,1 gram - % Hasil :


1,1 5,3318

x 100% = 20,63%

- Jarak lebur kristal p-nitroasetanilida : I = 2110C 2130C II = 2100C 2120C Rata-rata = 210,50C 212,50C

16

BAB III UJI KEMURNIAN Uji Kemurnian atau penentuan pemurnian senyawa dapat dilakukan berdasarkan sifat-sifat fisika meliputi : Penentuan titik lebur/titik leleh, untuk senyawa berbentuk padat, Titik didih dan indeks bias, untuk senyawa berbentuk cairan, Berat jenis. setelah didapat data-data yang dibutuhkan sesuai dengan wujud dari senyawa yang diuji kemurniannya, data tersebut dibandingkan dengan literatur yang sesuai. Kristal p-nitroasetanilida termasuk zat padat, maka uji kemurniannya dilakukan dengan menetukan titik leburnya. Pada uji kemurnian yang telah dilakukan, penentuan titik lebur kristal p-nitroasetanilida menggunakan alat penentu titik lebur listrik (Melting Point Fisher John) yang memakai pipa kapiler yang tertutup pada salah satu ujungnya. Langkah-langkah penentuan jarak lebur dengan alat Fisher-John adalah sebagai berikut : Sampel yang akan diperiksa dimasukan pada pipa kapiler yang salah satu ujungnya telah dibuntu dengan menggunakan pembakar spiritus. Sampel ditotolkan pada ujung pipa kapiler yang terbuka kedalam sampel, hingga setinggi kira-kira 3 mm. Pipa kapiler dibalik dan sampel didorong dengan cara diketuk-ketuk sampai mencapai dasar pipa kapiler. Pipa kapiler dimasukkan pada alat Fisher-John, alat dinyalakan dan diatur suhunya, kemudian diamati melalui kaca pembesar di dalam alat tersebut dari kristal mulai meleleh hingga meleleh semua. Jarak lebur yang didapat dicatat. Pada percobaan uji kemurnian yang telah dilakukan, data jarak lebur kristal p-nitroasetanilida yang diperoleh adalah 210,50C-212,50C. Sedangkan menurut literatur, titik lebur p-nitroasetanilida adalah 2140C- 2160C. Sehingga dapat disimpulakan kristal p-nitroasetanillida yang diperoleh masih mengandung sejumlah pengotor.

17

BAB IV IDENTIFIKASI STRUKTUR Identifikasi struktur kristal p-nitroasetanilida yang diperoleh dengan menggunakan IR (cakram KBr), 1H-NMR [400 MHz,(CD3)2SO], 13C-NMR [22,5 MHz,(CD3)2SO], Spektrofotometer UV-Vis dan spektroskopi massa. 1. IR (Cakram KBr) :

Analsis spektra : - Pada bilangan gelombang 1665 cm-1 memberikan serapan kuat yang menunjukkan adanya gugus C=O (karbonil). - Pada bilangan gelombang 1346 cm-1 memberikan serapan yang disebabkan oleh gugus N-H - Pada bilangan gelombang 840 cm-1 terdapat serapan kuat yang menunjukkan adanya benzena tersubstitusi - Pada bilangan gelombang 1506 cm-1 ada serapan kuat yang menunjukkan adanya inti aromatis. - Pada bilangan gelombang pada daerah 3305 2556 cm-1 ada serapan yang cukup lebar yang menunjukkan adanya asam.

18

2. 1H-NMR [400 MHz,(CD3)2SO] :

Analisis spektra : - Pada daerah 2,147 ppm, menunjukkan adanya gugus CH3 - Pada daerah 7,834 ppm, menunjukkan adanya gugus aromatik. - Pada daerah 8,211 ppm, menunjukkan adanya gugus aromatik. - Pada daerah 10,57 ppm, menunjukkan adanya gugus NH2 (amina).

19

3.

13

C-NMR [22,5 MHz,(CD3)2SO]

Analisis spektra : - Pada daerah 24,16 ppm terdapat serapan yang menunjukkan adanya gugus Calkil. - Pada daerah 119,55-145,44 ppm terdapat serapan yang menunjukkan adanya gugus C-alkena dan C-aromatis. - Pada daerah 167,27 ppm terdapat serapan yang menunjukkan adanya gugus C yang mengikat amida.

20

4. Spektrofotometer UV-Vis

- Pelarut : Etanol Analisis spektra : - Berdasarkan hasil kromatogram, senyawa yang dianalisis memberikan serapan yang absorbannya sebesar 0,46153 dan 0,56538 pada panjang gelombang maksimum 224 nm dan 314 nm. Hal ini kharakterisitik tapi tidak spesifik untuk senyawa p-nitroasetanilida.

21

5.

Spektroskopi Massa.

Spektrum massa ialah alur kelimpahan versus nisbah massa/muatan(m/e atau m/z) dari fragmen-fragmen itu. Suatu spektrum massa dipaparkan sebagai grafik batangan. Setiap peak dalam spektrum menunjukkan suatu fragmen molekul, fragmen-fragmen disusun sedemikian rupa sehingga peakpeak ditata menurut kenaikan m/e dari kiri ke kanan dalam spektrum. Suatu molekul atau ion pecah menjadi fragmen-fragmen bergantung pada kerangka karton dan gugus fungsional yang ada.Oleh karena itu,struktur dan massa fragmen memberikan petunjuk mengenai struktur molekul induknya.

22

BAB V PEMBAHASAN Dalam penggolongannya, asetanilida termasuk senyawa golongan amida sekunder yang merupakan salah satu turunan asam karboksilat dengan rumus struktur CH3CONHC6H5. Sebagai salah satu turunan asam karboksilat, amida sekunder ini mudah terhidrolisis menjadi senyawa induknya, yaitu asam karboksilat tergantung susunan reaksinya apakah itu dalam suasana asam atau basa. Karena asetanilida termasuk golongan amida, maka asetanilida pun mudah terhidrolisis dalam larutan asam dan basa. Sehingga dalam reaksi pembentukan p-nitroasetanilida, asetanilida dilarutkan dulu dalam asam asetat glasial, dimana senyawa ini tidak mengandung air. Sehingga fungsi asam asetat glasial dalam reaksi ini adalah untuk mencegah hidrolisis dari asetanilida. Selain termasuk golongan amida, asetanilida dapat pula digolongkan ke dalam senyawa benzena tersubtitusi, dengan substituenya berupa gugus asetil (-NHCOCH3). Suatu benzena tersubstitusi dapat mengalami substitusi gugus kedua pada cincin aromatiknya. Substitusi ini merupakan suatu substitusi aromatik elektrofilik, karena pada keadaan ini suatu elektrofil (dan bukan nukleofil) akan mensubstitusi cicin aromatik. Benzena tersubstitusi tidak bereaksi dengan nukleofil, karena adisi nukleofil akan merusak kestabilan cicin aromatisnya. Dalam percobaan ini, yang berperan sebagai elektrofil adalah ion nitronium (NO2+) yang dapat menyerang cincin benzena dari asetanilida. Mekanisme penyerangan oleh ion nitronium inilah yang dikenal sebagai reaksi nitrasi. Hasilnya berupa senyawa antara ion benzonium dan pada akhir reaksi akan dihasilkan p-nitroasetanilida dan asam (H3O+). Selama reaksi berlangsung antara campuran nitrasi dengan asetanilida, suhu harus benar-benar dijaga tidak lebih dari 100 C. Hal ini dilakukan agar kemungkinan terbentuknya salah satu isomer dari p-nitroasetanilida yaitu onitroasetanilida lebih kecil. Karena, reaksi berjalan secara eksotermis sehingga

23

bila ada sedikit energi yang berupa panas, maka o-nitroasetanilida kemungkinan terbentuknya o-nitroasetanilida lebih besar. Selain menjaga suhu, penambahan larutan nitrasi ke dalam campuran yang berisi asetanilida juga harus dilakukan secara perlahan. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya reaksi dinitrasi dan terbentuknya p-nitroanilina. Reaksi ini dapat berlangsung akibat terlalu banyaknya ion H+ yang dapat mengkatalisis reaksi hidrolisis nitroasetanilida. Kemudian, pencucian untuk mendapatkan kristal p-nitroasetanilida harus benar-benar bebas dari asam. Pada percobaan yang telah dilakukan, setelah labu erlenmeyer yang terisi asetanilida + asam asetat glasial dan + H2SO4 p kemudian ditetesi campuran nitrasi (H2SO4 p dan HNO3 p) dan didiamkan selama 30 menit hingga suhunya sama dengan suhu kamar. Pendiaman selama 30 menit ini dilakukan agar reaksi berlangsung sempurna. Setelah itu cairan dalam labu Erlenmeyer tersebut dituang ke dalam air es sambil diaduk- aduk dan didiamkan selama 15 menit. Hal ini dilakukan karena isomer orto dapat larut dalam air dingin, sedangkan isomer para tidak dapat larut dalam air dingin (membentuk endapan berupa kristal). Untuk mendapatkan kristal p-nitroasetanilida dapat dilakukan dengan penyaringan menggunakan corong Buchner, kristal atau endapan merupakan senyawa pnitroasetanilida sedangkan filtrat merupakan senyawa o-nitroasetanilida. Kristal atau endapan p-nitroasetanilida dicuci dengan air es beberapa kali hingga asam hilang. Hal ini dimaksudkan untuk melarutkan isomer orto yang mungkin masih terdapat pada kristal atau endapan. Selanjutnya, kristal yang telah dicuci dengan air es, dilakukan rekristalisasi untuk pemurnian. Pelarut yang digunakan adalah etanol. Etanol panas diteteskan ke dalam erlenmeyer yang berisi kristal ad tepat larut, dan bila perlu erlenmeyer tersebut dipanaskan. Kemudian larutan tersebut disaring dalam keadaan panas dengan corong panas. Selanjutnya filtrat ini didinginkan pada suhu kamar sampai terbentuk kristal. Pemilihan etanol sebagai pelarut dalm proses rekristalisasi ini didasarkan pada perbedaan sifat melarutkan dari etanol. Pada keadaan panas etanol dapat melarutkan kristal p-nitroasetanilida, sedangkan pada

24

keadaan dingin etanol tidak dapat melarutka kristal p-nitroasetanilida. Sehingga pada keadaan dingin kristal akan terbentuk kembali ( rekristalisasi ). Pendinginan filtrat corong panas untuk memperoleh kembali kristal, sebaiknya dilakukan pada suhu kamar. Karena jika pendinginan dilakukan secara paksa ( misalnya dengan didinginkan di dalam refrigerator ), maka akan terbentuk kristal amorf. Suatu kristal amorf memiliki luas permukaan yang besar, sehingga sangat berpotensi mengabsorbsi pengotor. Akibatnya kristal yang diperoleh menjadi tidak murni. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, senyawa hasil rekristalisasi berwarna kuning tua dengan titik leleh 210,50C-212,50C. Berdasarkan literatur, senyawa p-nitroasetanilida berwarna kuning pucat dengan titik leleh 2140C-2160C. Berdasarkan literatur yang kami baca, perbedaan ini dapat disebabkan akibat adanya kontaminasi dari kristal p-nitroanilina. Senyawa p-nitroanilina ini berwarna kuning intensif dan terbentuk akibat adanya atau terlalu banyaknya jumlah ion H+ yang menyebabkan terjadinya hidrolisis dari nitroasetanilida. Dan, senyawa p-nitroanilina ini tidak dapat dipisahkan dari pnitroasetanilida dengan rekristalisasi.

25

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan data-data di atas, kami melihat bahwa pada percobaan sintesis senyawa p-nitroasetanilida terjadi pemanfaatan prinsip reaksi pada cincin aromatis yaitu substitusi elektrofilik. Substitusi atom H dengan gugus nitro pada cincin aromatis. Hal ini dapat dilihat dari penyerangan ion nitronium ( +NO2 ) sebagai elektrofil terhadap cincin benzene pada asetanilida, yang menghasilkan produk berupa campuran dari senyawa p-nitroasetanilida dan onitroasetanilida. Karena produk yang diinginkan hanya berupa senyawa pnitroasetanilida, maka keduanya dipisahkan dengan memanfaatkan perbedaan sifat kelarutan dari kedua isomer tersebut. Seperti telah diketahui, bahwa pada suhu rendah, o-nitroasetanilida larut dalam air. Sedangkan senyawa pnitroasetanilida tidak larut dalam air pada suhu rendah dan dapat membentuk kristal. Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh Kristal p-

nitroasetanilida : 1) Berat Kristal p-nitroasetanilida yang diperoleh sebesar 1,10 gram Prosentase perolehan hasil = 20,63% 2) TL Kristal p-nitroasetanilida = 210,5oC 212,5oC

B. SARAN : 1. Bahan baku, yaitu asetanilida sebaiknya digerus halus dahulu untuk memperkecil ukuran partikel, sehingga cepat bereaksi dengan molekulmolekul lain. 2. Pada saat penyaringan kristal dengan corong buchner jangan mencuci kristal dengan filtratnya agar o-nitroasetanilida dan pengotor-pengotor lain yang sudah larut tidak mengotori kristal lagi.

26

3. Asetanilida dilarutkan dahulu dalam H2SO4 p dan asam asetat glasial, bila tidak, pada akhir pendinginan di erlenmeyer selama satu jam akan terbentuk gumpalan putih yang sukar larut dalam filtrat pada saat dikocok kuat. 4. Dalam Erlenmeyer yang berisi asetanilida, asam sulfat pekat dan asam asetat glasial harus dijaga 10o C, untuk mencegah pembentukan onitroasetanilida pada T > 10o C. 5. Etanol panas yang digunakan untuk melarutkan tidak perlu terlalu banyak karena setelahnya akan sulit dihilangkan dan mempersulit pembentukan kristal. 6. Untuk menghilangkan asam dari kristal p-nitroasetanilida, dicuci dengan air es hingga berkali-kali hingga asam hilang dan dibuktikan dengan kertas lakmus. Selain itu, bila perlu di cuci dengan larutan NaH2PO4 untuk benarbenar menghilangkan asam tersebut. 7. Setelah larutan zat tepat larut dengan penambahan etanol panas, harus segera disaring panas, bila tidak endapan tersebut akan berubah menjadi kristal lembek, sehingga saat akan menyaring panas, dibutuhkan etanol panas lagi ( etanol akhirnya jumlahnya berlebih ), yang akan mempersulit pembentukan kristal.

27

DAFTAR PUSTAKA The Merck Index 10th edition . 1983 . USA : Merck & Co. Inc.

http://www.philadelphia.edu.jo Vishnoi, A. I., Advenced Practical Organic Chemistry, 1st edition, sahibabas : Vikas Pubhlishing House, Pvt.,LTD.,1979

28