Anda di halaman 1dari 8

Novi Ayu Lestari N (109341417222) Ita Lestari (109341417210)

PEWARISAN SITOPLASMIK Pada umumnya, penurunan sifat dikontrol oleh gen-gen yang terdapat pada kromosom inti. Namun selain itu ada yang tegantung pada DNA yang terdapat pada organel dan sitoplasma sel. Penurunan sifat dari sitoplasma berada di luar kebakan mendel dan biasanya meliputi replikasi DNA organel sitoplasma antara lain mitokondria dan plastida. Selain itu

Kriteria Pewarisan Sitoplasmik Di bawah ini merupakan 5 kriteria yang dapat digunakan untuk membedakan pewarisan sifat kromosomal dan pewarisan sifat sitoplasmik : 1. Pada penurunan sifat sitoplasmik terdapat perbedaan dalam sifat keturunan hasil perkawinan resiprok. Dimana ketika dalam persilangan tersebut tidak terjadi pautan silang maka sifat yang lebih diunggulkan atau berpengaruh besar terhadap sifat keturunannya yaitu hanya dari salah satu induknya yang biasanya adalah sifat dari induk betinanya. 2. Reproduksi sel betina pada umumnya akan membawa lebih banyak citoplasma dan organel sel dibandingkan dengan sel jantan. 3. Gen pada kromosomal akan menempati lokus tertentu pada tempat-tempat khusus yang jarak satu sama satu sama lain. Namun pada materi genetic pada sitoplasma tidak dapat dipetakan dalam kelompok berangkai. 4. Karakteristik kebakaan mendelian dan kegagalan segregasi mendel yang tergantung pada ekspresi gen tidak terjadi pada penurunan sifat yang dikontrol oleh kromosom di luar inti. 5. Penurunan sifat yang dikontrol oleh kromosom di luar inti tidak terkait dengan ekspresi gen yang dikontrol oleh kromosom inti.

Simbion Dan Organel Sitoplasma Penurunan sifat yang dikontrol oleh kromosom di luar inti sel berhubungan dengan organel sel yang mewakili sebagian kecil materi genetic.

Seperti telah diketahui bahwa organel sel sangat berperan penting dalam kelangsungan hidup organism atau sel itu sendiri, misalnya enzim dan energy respirasi yang diproduksi oleh mitokondria serta kloroplas yang diprosuksi oleh plastid. Dalam hal ini terdapat ekspresi materi genetic pada mitokondria dan plastid dilakukan secara sub seluler sendiri. kloroplas pada awalnya masingmasing merupakan bakteri dan alga yang hidup bebas. Dalam kurun waktu yang sangat panjang mereka kemudian membangun simbiosis turun-temurun dengan sel inang eukariotnya dan akhirnya berkembang menjadi organel yang menetap di dalam sel. Pada penelitian sebelumnya telah dikemukakan bahwa ada ekspresi materi genetic simbion yang dilakukan dalam tubuh inangnya. Simbion tersebut membawa materi genetic dan mengalami ekspresi pada tubuh inang dengan control gen inti dari tubuh simbion. Pada simbion antara alga dan tumbuhan hijau, ekspresi materi genetic tumbuhan dalam produksi klorofil juga berpengaruh terhadap kelangsungan hidup alga.

DNA Mitokondria Mitokondria pada hewan dan tumbuhan tingkat tinggi bertanggung jawab terhadap prosuksi energy sel. Mitokondria terdiri dari protein- synthesizing apparatus dengan ribosom, tRNA, aminoacyl- tRNA. Sintesis protein dalam mitokondria sangat berbeda dengan sintesis protein yang terjadi dalam sitoplasma. Misalnya saja sintesis protein ribosom oleh mitokondria dan sintesis protein ribosom dalam sitolasma. Dalam sel ragi, 10%-20% DNA seluler terdapat dalam mitokondria. DNA mitokondria terlihat berbeda dnegan DNA inti dalam hal kepadatan dan struktur pasangan basa prutin dan pirimidinnya.

Organisasi Genom Mitokondria DNA mitokondria berupa DNA sirkular yang berukuran sekitar 16 kb. Biasanya setiap sel terdiri dari 10 mtDNA ganda setiap mitokondria yang berarti terdiri dari 8000 genom mitokondria per sel. Struktur mtDNA pada hewan tingkat tinggi adalah sama, pada tumbuhan sangat beraneka ragam dan pada beberapa

hewan siliata lebih banyak ditemukan struktur yang linear dari pada struktur sirkulernya. Setiap rangakaian mtDNA terdiri dari 2 rRNA, 22 tRNA dan 13 protein structural. Seluruh genom mitokondria ditranskripsikan dalam satu unit oleh satu promoter site dan hasil transkripsi tersebut akan dipotong oleh endonuklease membentuk tRNA, rRNA dan mRNA. Sirkular mtDNA pada yeast berukuran 5 kali lebih besar dibandingkan dengan mtDNA pada mamalia. Dua mtDNA yeas mengkode cytokrom b dan sub unit citokrom oksidasi. Gen tersebut terdiri dari 16 tRNA ditambah 10 tRNA dengan sequens intron yang sangat panjang. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan Saccharomyces

cerevisae ditemukan sejumlah koloni yang tumbuh pada medium padat. Koloni ini dinamakan dengan mutan petit. Mutan ini mengalami pertumbuhan lambat karena metabolisme karbon tidak dilakukan dengan respirasi melainkan melalui fermentasi glukosa secara anaerob.

DNA Pada Plastida Kloroplas terbentuk dari partikel cytoplasma yang disebut dengan proplasting yng mengandung DNA yang mampu menggandakan dirinya secara mandiri. Dalam DNA kloroplas terdapat 30-60 copy genom yang terdiri dari 126 protein dan 12 % DNA plastid yang mengkode komponen plastida. Pada tumbuhan tingkat tinggi cpDNA berukuran 120-160 kb. Ukuran ini berbeda dengan cpDNA dari alga yang mencapai 85-292 kb yang berbentuk sirkuler. Sepeti halnya dengan mtDNA, kloroplas juga terdiri dari banyak kopian cpDNA. Gen pada cpDNA dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompoak, yaitu komponen pengkode biosintesis protein dan komponen yang berperan dalam fotosintesis yang terdiri dari fotosistem I dan II. Pada penelitian Carl Correns ditemukan adanya perbedaan hasil persilangan resiprok pada pewarisan warna bunga pukul empat. Dalam hal ini warna tersebut ditentukan oleh tetua betina dan berkaitan dengan adanya kloroplas dalam sitoplasma. Tanaman mirabilis jalapa memiliki bagian vegetatif yang

berbeda-beda warnanya, yaitu hijau, putih, dan belang-belang hjau-putih (variegated). Sel-sel pada bagian yang berwarna hijau mempunyai kloroplas yang mengandung klorofil, sedang sel-sel pada bagian yang berwarna putih tidak mempunyai kloroplas tetapi berisi plastida yang tidak berwarna. Dari hasil persilangan yang dihasilkan selalu sama dengan fenotip tetua betina. Dalam hal ini terjadi pewarisan maternal.

Bakteri Simbion Pada Sitoplasma Paramaecium Protozoa merupakan organism uniseluler yang bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi secara aseksial dilakukan dengan pembelahan sel untuk membentuk koloni. Secara seksual, paramecium berkonjugasi dan terjadi transver materi genetic dari sel satu ke sel yang lainnya. Paramaecium memiliki 2 jenis nucleus, yaitu makronukleus dan mikronukleus. Mikronukleus merupakan inti vegetative dan makronukleus bertugas dalam pembelahan meiosis dan memproduksi gamet haploid. Dalam reproduksi paramaecium dapat dilakukan autogamy untuk menghasilkan keturunan yang heterozygote dengan cara mentransver DNA dari pendonor ke resipien. Dengan cara autogami ini akan menghasilkan keturunan yang homozygote diploid meskipun telah mengalami pembelahan meiosis. Inilah perbedaan antara ekstrachromosomal inheritance dengan nuclear inheritance. Dalam penelitian oleh G.H Beale menemukan resistensi erytromisin pada paramaecium yang menunjukkan sifat non mendelian. Dalam penelitian ini dilakukan transver sitoplasma dan isolasi mitokondria stain pada paramaecium ditemukan bahwa sifat mitokondria mempengaruhi mitokondrianya sendiri dan mandiri dibandingkan dengan protoplama lainnya. Dalam penelitian mengenai efek presisten ekstranuklear pada tubuh paramaecium, ada beberapa strain yang mampu menghasilkan substansi racun yang disebut dengan killers. Racun tersbut akan bekerja pada suhu rendah dan dapat mengalami kelemahan efek setelah sel membelah. Substansi racun tersebut dihasilkan oleh sekitar 400 partikel yang ada dalam sitoplasma. Partikel tersebut bersifat mikroskopis dan dikenal dengan partikel kappa. Partikel kappa tersebut terlihat sebagai bakteri symbion yang bernama Caedobacter taeniispiralis.

Plasmid DNA Plasmid merupakan molekul DNA ekstrakromosom yang mampu berplikasi sendiri dan mempertahankan dirinya sendiri dalam sitoplasma sel inang. Ada beberapa plasmid yang mampu mengontrol reaksi antibiotic sel inang. Plasmid mampu bereplikasi secara independen, bergabung dengan DNA lain dan mampu membawa DNA menuju sentral aktivitas sintesis.

Efek Maternal Efek maternal merupakan pengaruh gen ibu terhadap sifat dari keturunan yang dihasilkan. Embrio dan telur dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh lingkungan maternal. Sebelum keluar dari tubuh induk maka embrio dan telur akan mendaptkan suplai sitoplasma dan nutrisi dari tubuh induk. Dalam hal ini maka akan mengakibatkan berpengaruhnya gen ibu terhadap keturunannya. Namun efek maternal ini masih belum sepenuhnya dibenarkan. Jika efek maternal itu terjadi, maka hasil dari persilangan resiprokal akan selalu berbeda satu sama lain dengan sifat yang diekspresikan oleh ibu. Contoh klasik dari pewarisan maternal adalah terjadi pada siput atau bekicot Limnea peregra yang merupakan pewarisan sifat dalam bentuk putaran cangkang yaitu sinistrall atau putaran kanan dan dekstral atau putaran kiri. Arah ulir cangkang akan berganrtung pada orientasi pembelahan sel pertama dari perkembangan embrio sitoplasma. Efek maternal berpengaruh pada individu turunannya dan berlaku hanya satu generasi saja.

PERTANYAAN DAN JAWAB 1. Mengapa pada persilangan antara Paramecium aurelia akan menghasilkan kemungkinan 2 tipe anakan yang berbeda, yaitu pembunuh dan bukan pembunuh? Jawab : Apabila strain pembunuh melakukan konjugasi dengan strain bukan pembunuh (pada suatu kondisi yang memungkinkan strain bukan pembunuh untuk bertahan hidup), maka ada dua kemungkinan yang dapat terjadi. Pertama, kedua sel tidak bertukar materi sitoplasmik tetapi hanya bertukar mikronuklei sehingga diperoleh dua kelompok sel, yakni sel pembunuh dan sel bukan pembunuh yang kedua-duanya bergenotipe Kk. 2. Bagaimanakah susunan genom itokondria pada ragi dan apakah

menunjukkan susunan yang berbeda dengan mamalia? Jawab : Genom mitokondria dari ragi Saccharomycetes cerevisiae berukuran lima kali lebih besar (sekitar 84 kb) ketimbang mtDNA milik mamalia. Tetapi, genom mitokondria ragi menunjukkan susunan yang serupa dengan mtDNA milik mamalia. Dua gen mtDNA ragi, menyandikan sitokrom b dan sub unit 1 dari sitokrom oksidase, berukuran sangat besar serupa dengan seluruh mtDNA pada mamalia. Kedua gen ini mengandung beberapa urutan intron yang sangat panjang. 3. Bagaimanakah terbentuknya mutan petit pada koloni khamir Saccharomyces cerevisae? Jawab : Mutan petit merupakan koloni yang berukuran sangat kecil yang terkdang terlihat ketika sel ditumbuhkan dalam medium padat. Dalam pengamatannya mutan petit menunjukkan bahwa sel-sel tersebut mengalami petumbuhan yang sangat lambat karena adanya kelainan dalam metabolisme senyawa karbon. Mutan petit melakukan metabolisme karbon bukan dengan respirasi menggunakan oksigen, melainkan melalui fermentasi glukosa secara anaerob yang jelas jauh kurang efisien bila dibandingkan dengan respirasi aerob. 4. Apakah yang dimaksud dengan petit netral? Jawab : petit netral adalah mutan petit yang keempat askosporanya normal dan merupakan hasil pembelahan meiosis zigot diploid.

5.

Bagaimanakah peristiwa efek maternal pada Clamydomonas? Jawab : Analisis biokimia membuktikan bahwa sifat ketahanan terhadap antibiotik berhubungan dengan kloroplas. Seperti telah kita ketahui bahwa sel haploid Chlamydomonas hanya mempunyai sebuah kloroplas. Jika kloroplas ini berasal dari penggabungan kloroplas kedua sel tipe kawin yang digunakan sebagai tetua dengan nisbah yang sama, maka tidak mungkin terjadi pewarisan uniparental. Dengan demikian, kloroplas dapat dipastikan berasal dari salah satu tipe kawin saja. Hal ini didukung oleh penelitian menggunakan penanda fisik untuk membedakan kloroplas dari kedua tipe kawin yang telah menunjukkan bahwa setelah terjadi penggabungan, kloroplas dari mt akan hilang oleh suatu sebab yang hingga kini belum diketahui. Jadi, kloroplas yang diwariskan hanya berasal dari tetua mt +. Oleh karena pewarisan sifat ketahanan terhadap antibiotik selalu ditentukan oleh tetua mt +, yang berarti sejalan dengan pola pewarisan kloroplas, maka sifat ini jelas dibawa oleh kloroplas. Dengan perkataan lain, pewarisan sifat ketahanan terhadap antibiotik pada Chlamydomonas merupakan pewarisan ekstrakromosomal atau pewarisan sitoplasmik.

Minisatelit Berguna dalam Pemetaan Genetik Untaian yang menyerupai satelit terdiri dari pengulangan tandem unit kecil yang secara keseluruhan merupakan pengulangan yang sangat pendek. Untaian seperti ini biasanya pada genom mamalia. Keanekaragamannya dapat terlihat ketika populasi genetic terdiri dari fragmen dengan banyak ukuran yang akan terlihat pada daerah genom. Untaian ini disebut dengan minisatelit atau VNTR. Penyebutan ini dikarenakan variasi alel individual yang berbeda setiap ulangan unitnya. Pada satelit DNA pengulangan ini terjadi karena rekombinasi genetic diantara pengulangan unit. Terkadang kehadiran minisatelit ini dihubungkan dengan tingginya tingkat pertukaran genetic disekitarnya. Hal ini dikarenakan beberapa kasus rekombinasi genetic terjadi diantara sister kromatid. Namun perubahan lengan dari minisatelit tersebut tidak berpengaruh terhadap kode lengan, karena adanya kesamaan diantara rekombinasi molekul DNA.