Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Sumber Daya manusia merupakan aspek yang sangat vital dalam

perkembangan sebuah bangsa, oleh karena itu perlu adanya sebuah upaya untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang salah satunya dapat ditempuh dengan jalan pendidikan. Jalur pendidikan Menengah Atas yang dapat ditempuh untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang aktif, kreatif dan mandiri khusunya pada dunia kerja adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dewasa ini kebutuhan untuk memperoleh informasi sangat meningkat, dan semua ini dikarenakan oleh persaingan manusia atau kelompok/instansi yang sangat ketat demi kemajuan usahanya, sehingga hal ini berdampak terhadap beban setiap siswa karena mereka dituntut untuk mampu menggali informasi dari berbagai sumber. Banyak sumber informasi yang dapat kita ketahui di era globalisasi ini, seperti: Internet, Media Cetak dan Elektronik, namun dari sekian banyak sumber informasi, yang paling penting untuk kita ikuti perkembangannya adalah informasi dari layanan jasa melalui Internet. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang berorientasi langsung pada dunia kerja dan mendidik siswanya untuk siap bekerja serta profesional di bidangnya. Hal tersebut melatarbelakangi terselenggaranya sistem Praktek Kerja Industri (Prakerin), merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi para siswa, yang memadukan antara pendidikan di sekolah dengan pendidikan di dunia industri yang diperoleh dengan melakukan praktek kerja secara langsung dan terarah untuk menambah keahlian tertentu, serta dengan Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini siswa dapat mengenal langsung dunia kerja sesuai dengan tujuan utama pendidikan kejuruan, yaitu mempersiapkan lulusan untuk dapat bekerja secara mandiri.

Selain itu penyusunan laporan Prakerin ini merupakan bagian dari tugas akhir Prakerin untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi akan keberhasilan program Praktek Kerja Industri (Prakerin) ini.

1.2

Tujuan Prakerin Praktek Kerja Industri (Prakerin) dilaksanakan penulis dengan maksud dan

tujuan sebagai berikut: a. Memperoleh pendidikan untuk menjadi tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional. b. Mengetahui perbedaan antara lingkungan Dunia Usaha/ Dunia Industri dengan lingkungan Sekolah c. Memberikan gambaran bagi penulis mengenai bagaimana cara bekerja yang baik dan benar. d. Menghasilkan siswa yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, dan etos kerja sesuai dengan tuntutan lapangan kerja. e. f. Sebagai salah satu syarat mengikuti UAN (Ujian Akhir Nasional) Memberi pengalaman, penghargaan dan pengakuan sebagai bagian dari proses pendidikan. g. Membangun serta menguji mental siswa/siswi di dunia kerja.

1.3

Pelaksanaan Prakerin 1.3.1 Tempat Praktek Kerja Industri Prakerin bertempat di CV. Bagus Teknik Jl. Riau Ujung Pekanbaru 1.3.2 Waktu Prakerin Prakerin dilaksanakan mulai tanggal 6 Juli sampai 15 Oktober 2011 1.3.3 Metode Prakerin Metode yang dilaksanakan pada prakerin adalah dengan melakukan teori yang langsung dipraktekkan dilapangan

1.4

Deskripsi Perusahaan 1.4.1 Sejarah Perusahaan Berdiri pada tahun 1992 yang dipimpin oleh bapak Akai/Hendrik, dengan jumlah karyawan sebanyak 5 karyawan pada tahap awal. Dengan jumlah 2 mesin bubut, 1 mesin las, dll. Yang bertempat di Jl. Arengka 2. Kemudian pada tahun 1997, jumlah karyawan bertambah yaitu menjadi 15 karyawan, dengan tambahan mesin bubut 4 buah dan 5 mesin las, 1 mesin skrap dan 1 mesin genset Mitsubishi Fuso sebagai pembangkit listrik utama. Kemudian pada tahun 2003, bengkel menambah karyawan lagi hingga mencapai 25 karyawan. Kemudian pada tahun ini juga bengkel berpindah alamat ke Jl. Riau (Kuras). Lalu pada tahun 2006 bengkel berpindah alamat lagi yaitu di Jl. Riau Ujung sampai sekarang.

1.4.2

Struktur Organisasi

Pimpinan AKAI/HENDRIK

Sekretaris AHENG

Bendahara HELEN

Mandor I AWANG

Mandor II ANTO

Mandor III NONO

1.4.3

Karyawan Karyawan pada CV. Bagus Teknik berjumlah 25 orang yang terbagi dalam beberapa bagian yaitu, Las, Bubut, Lemer, Pembakaran dan Tanki

1.4.4

Fasilitas Yang dimiliki Fasilitas yang ada di perusahaan adalah sejumlah mesin yang mendukung proses kerja, yaitu : 1. Mesin bubut berjumlah 6 unit 2. Mesin skrap berjumlah 1 unit 3. Mesin press berjumlah 2 unit 4. Mesin Rool berjumlah 2 unit 5. Kran/Katrol berjumlah 2 unit 6. Mesin bor berjumlah 3 unit 7. Mesin las berjumlah 8 unit 8. Mesin potong berjumlah 2 unit 9. Mesin potong stanlis berjumlah 1 unit 10. Bender berjumlah 2 unit 11. Mesin grinda berjumlah 18 unit 12. Mesin lemer berjumlah 2 unit

1.4.5

Denah Perusahaan

Jl. Riau

Jl. Arengka II

CV. Bagus Teknik Jl. Soekarno-Hatta Jl. Dirgantara SMK YDS

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Mesin Bubut 2.1.1. Penggolongan Mesin Bubut A. Pembubut Kecepatan 1. Pengerjaan Kayu 2. Pemusingan Logam 3. Pemolesan

B. Pembubut Mesin 1. Penggerak puli kerucut bertingkat 2. Penggerak roda gigi tangan 3. Penggerak kecepatan

C. Pembubut Bangku D. Pembubut Ruang Perkakas E. Pembuat kegunaan Khusus F. Pembubut Turet 1. Horisontal a. Jenis ram b. Jenis sadel 2. Vertikal a. Stasiun tunggal b. Stasiun banyak 3. Otomatis G. Pembubut Otomatis H. Mesin Ulir Otomatis 1. Spindel Tunggal 2. Spindel Banyak I. Fris Pengebor Vertikal

2.1.2. Konstruksi Mesin Bubut

Gambar 2.1. Pembubut mesin tugas berat.

Pada gambar 2.1. diperlihatkan nama-nama bagian atau komponen yang umum dari mesin bubut. Jenis ini mempunyai kepala tetap berisi roda gigi dan mendapatkan daya dari motor yang disambungkan dengan sabuk V. Pengendali pada kepala tetap bisa mengatur kecepatan sampai 27 variasi kecepatan. Ekor tetap bisa distel sepanjang bangku untuk menampung panjang stok yang berbeda-beda. Pergerakannya diatur dengan penyetel roda dan dilengkapi dengan ulir pengencang pada dasarnya untuk menyetel kelurusan dan untuk pembubutan tirus. Sekrup pengarah adalah poros panjang berulir yang terletak agak dibawah dan sejajar dengan bangku, memanjang dari kepala tetap sampai ekor tetap. Dihubungkan dengan roda gigi pada kepala tetap dan putarannya bisa dibalik. Dipasang ke kereta luncur dan bisa dipasang atau dilepas dari kereta luncur selama operasi. Ulir pengarah hanya untuk membuat ulir saja dan bisa dilepas kalau tidak dipakai. Batang hantaran terletak dibawah ulir pengarah yang berfungsi untuk menyalurkan daya dari kotak pengubah cepat (quick change box) untuk menggerakkan mekanisme apron dalam arah melintang atau memanjang. Kereta luncur terdiri dari perletakan majemuk, sadel pahat dan apron. Konstruksinya kaku karena harus menyangga dan memandu pahat pemotong.

Dilengkapi dengan dua hantaran tangan untuk memandu pahat dalam arah menyilang. Roda tangan yang atas mengendalikangerakan perletakan majemuk dan roda tangan dibawah untuk menggerakkan kereta luncur sepanjang landasan. Apron yang terletak pada kereta luncur berisi kendali, roda gigi dan mekanisme lain untuk menghantar kereta luncur baik dengan tangan atau dengan daya. Ukuran Mesin bubut dinyatakan dalam diameter benda kerja yang dapat diputar, sehingga sebuah mesin bubut 400 mm mempunyai arti mesin bisa mengerjakan benda kerja sampai diameter 400 mm. Ukuran kedua yang diperlukan dari sebuah mesin bubut adalah panjang benda kerja. Beberapa pabrik menyatakan dalam panjang maksimum benda kerja diantara kedua pusat mesin bubut, sedangkan sebagaian pabrik lain menyatakan dalam panjang bangku. Ada beberapa variasi dalam jenis mesin bubut dan variasi dalam desainnya tersebut tergantung pada jenis produksi atau jenis benda kerja. Pembubut Kecepatan (speed lathe) adalah mesin bubut yang mempunyai konstruksi sederhana dan terdiri dari bangku, kepala tetap, ekor tetap dan peluncur yang dapat distel untuk mendukung pahat. Digunakan untuk pemahatan tangan dan kerja ringan maka bubut dioperasikan pada kecepatan tinggi. Mesin jenis ini bisaanya dipakai untuk membubut kayu, atau untuk membuat pusat pada silinder logam sebelum dikerjakan lebih lanjut oleh mesin bubut mesin. Pembubut mesin. Mendapatkan namanya dari mesin bubut pertama /lama yang digerakkan oleh mesin setelah sebelumnya digerakkan dengan sabuk atas (overhead belt). Yang membedakannya dari bubut kecepatan adalah tambahan untuk pengendalian kecepatan spindle dan untuk penyanggaan dan pengendalian hantaran pahat tetap. Kepala tetap dilengkapi dengan puli kerucut empat tingkat yang menyediakan empat kisaran kecepatan spindel jika dihubungkan ke poros motor. Sebagai tambahan mesin ini dilengkapi dengan roda gigi belakang yang bila dihubungkan dengan puli kerucut akan memberikan tambahan empat variasi kecepatan. Pembubut bangku adalah mesin bubut kecil yang terpasang pada bangku kerja. Disainnya mempunyai kesamaan dengan mesin bubut kecepatan atau mesin hanya berbeda dalam ukuran dan pemasangannya. Dibuat untuk benda kecil dan

mempunyai kapasitas ayunan maksimum sebesar 250 mm pada pelat muka. Pembubut Ruang Perkakas adalah mesin bubut untuk pembuatan perkakas kecil, alat ukur, die dan komponen presisi lainnya. Mesin ini dilengkapi dengan segala perlengkapan yang diperlukan untuk membuat pekerjaan perkakas yang teliti.

2.1.2.1 Mesin Bubut Turet Mesin bubut Turet memiliki ciri khusus yang terutama disesuaikan untuk kebutuhan mesin produksi. Keahlian pekerja disesuaikan pada mesin ini sehingga operator yang kurang pengalaman menghasilkan komponen yang sejenis. Karakteristik utama kelompok mesin ini adalah bahwa pahat/perkakas untuk operasi berurutan. ias distel

Walaupun tenaga skill/terlatih diperlukan untuk

menyetel perkakas dengan benar, namun setelah itu untuk mengoperasikannya biasa dilakukan oleh tenaga tidak terlatih.

2.1.2.2 Mesin Bubut Turet Horisontal Mesin ini dibuat dalam dua desain umum yaitu ram dan sadel. Mesin bubut jenis ram ((gambar 19.8) disebut demikian sesuai dengan cara turet dipasang. Turet ditempatkan pada peluncur atau ram yang bergerak kebelakang dan kemuka pada sebuah sadel yang diapitkan kepada bangku mesin bubut. Pengaturan ini menghasilkan gerakan cepat dari turet dan dianjurkan untuk untuk kerja batang atau pencekaman tugas ringan. Sadelnya tidak bergerak selama operasi. Pada jenis sadel (gambar 9.), yang digunakan untuk pekerjaan pencekaman, mempunyai turet yang dipasang langsung pada sadel. Sadelnya bergerak bolak balik bersama turet.

Gambar 2.2. Mesin bubut turet jenis ram nomor 3

Gambar 2.3. Mesin bubut turet pencekaman jenis sadel.

Karena perkakas

pencekaman

menggantung

(overhang) dan

tidak

mendukung benda kerja, maka perkakas pencekam harus sekaku mungkin. Mesin bubut turet dikonstruksi dengan cara yang sama dengan mesin bubut bisaa. Perbedaan Antara Mesin Bubut Turet Dengan Mesin Bubut Bisaa Perbedaan utamanya adalah bahwa mesin bubut turet disesuaikan untuk pekerjaan produksi yang banyak sedangkan mesin bubut bisaa terutama digunakan untuk berbagai pekerjaan, untuk pembubut ruang perkakas atau kerja tunggal. Ciri ciri mesin bubut turet yang membuatnya dipakai untuk produksi banyak adalah : 1. Perkakas bisa distel pada turet untuk pekerjaan berurutan. 2. Setiap stasiun dilengkapi dengan penghenti atau penggerak hantaran sehingga masing-masing pemotongan oleh pahat adalah sama dengan pemotongan sebelumnya. 3. Pemotongan majemuk dapat diambil dari stasiun yang sama pada saat yang sama, misalnya pembubutan atau pemboran lubang sebanyak dua buah atau lebih. 4. Pemotongan kombinasi dapat dibuat yaitu pahat pada peluncur menyilang (cross slide) dapat digunakan bersamaan dengan pahat pada turet yang lagi memotong. 5. Kekakuan pada pemegang benda kerja atau pahat harus dibuat pada mesin untuk pekerjaan majemuk atau pemotongan kombinasi. 6. Mesin bubut turet mungkin dilengkapi dengan berbagai perlengkapan seperti pembuatan tirus, pembuatan ulir dan pekerjaan duplikasi dan bisa dikontrol dengan pita/kaset.

10

2.1.2.3 Mesin Bubut Turet Horisontal Otomatis Gambar 13. adalah mesin bubut turet otomatis yang penampilannya mirip dengan jenis sadel standar namun operasinya otomatis. Turet segienam dioperasikan dengan tenaga hidrolik dan dilengkapi dengan penggeseran melintang cepat dan penukaran otomatis kepala hantaran yang sesuai pada setiap titik. Gerakan dari peluncur menyilang dikendalikan oleh nok yang digerakkan oleh gerakan ke depan dari turet.

Gambar 2.4. Mesin bubut turet horisontal otomatis.

2.1.2.4 Mesin Bubut Turet Vertikal Mesin bubut turet vertikal mirip dengan fris pengebor vertikal, tetapi memiliki karakteristik pengaturan turet untuk memasang pahat. Mesin ini terdiri dari pencekam atau meja berputar dalam kedudukan horisontal, dengan turet dipasangkan diatas rel menyilang. Mesin ini dikembangkan untuk memudahkan pemuatan, pemegangan dan pemesinan dari suku cadang berat dan diameter besar. Pada gambar 15. memperlihatkan sebuah mesin bubut turet vertical yang dilengkapi dengan tiga kepala pemotong: kepala turet utama yang berputar, kepala ram yang ditunjukkan di sebelah kiri dan kepala samping. Untuk mengadakan pemotongan bersudut, baik ram maupun turret dapat diputar 30 derjat kekiri atau kanan dari pusat. Ram menyediakan stasiun perkakas lain pada mesin yang bisa dioperasikan terpisah atau bersama-sama dengan yang lainnya.

11

Mesin bisa dilengkapi dengan pengendali yang akan menghasilkan operasi otomatik pada setiap kepala, laju dan arah hantaran dan perubahan kecepatan spindel.

Gambar 2.5. Mesin bubut turet vertikal.

2.1.2.5 Mesin Bubut Stasiun Jamak Vertikal Otomatis Mesin ini didesain untuk produksi tinggi dan bisaanya dilengkapi dengan lima atau sembilan stasiun kerja dan posisi/dudukan pemuatan. Dalam beberapa mesin disediakan dua spindel untuk setiap stasiun. Bisaanya semua jenis operasi bisa dilakukan seperti menfris, menggurdi, mengulir, mengetap, meluaskan lobang dan mengebor. Keuntungan mesin ini adalah bahwa operasi bisa dilakukan secara serentak dan dengan urutan yang sesuai.

2.1.2.5 Mesin Bubut Otomatis Mesin bubut yang perkakasnya secara otomatis dihantarkan kepada benda kerja dan mundur setelah daurnya diselesaikan, dikenal sebagai mesin bubut otomatis. Mesin bubut yang otomatis sepenuhnya dilengkapi dengan magasin hantaran sehingga sejumlah suku cadang dapat dimesin secara berurutan dengan hanya sedikit pengawasan dari operator. Gambar 2.9. memperlihatkan mesin bubut otomatis jenis vertikal.

12

Gambar 2.6. Mesin bubut pencekam vertikal stasiun jamak

.Gambar 2.7. Mesin bubut otomatis vertikal.

13

2.1.2.6 Mesin Bubut Duplikat Mesin bubut duplikat memproduksi kembali sejumlah suku cadang dari bentuk induk ataupun contoh dari benda kerja. Hampir setiap mesin bubut standar dapat dimodifikasi untuk pekerjaan penduplikasian. Reproduksinya dari sebuah pola, baik bulat atau datar yang bisaanya dipasangkan dibelakang mesin bubut. Pola dihubungkan dengan sebuah jarum yang digerakkan oleh udara, hidrolik atau listrik.

Gambar 2.8. Mesin bubut duplikat otomatis.

2.1.2.8 Mesin Ulir Otomatis Ditemukan oleh Christopher N. Spencer. Ciri utama dari mesin tersebut adalah adanya pengontrolan gerakan turet sehingga perkakas bisa diumpan ke benda kerja pada kecepatan yang diinginkan, ditarik dan diarahkan ke kedudukan berikutnya. Ini semuanya dilakukan dengan mekanisme nok berbentuk silinder atau drum yang terletak dibawah turet. Ciri khas lainnya yang dikendalikan oleh nok adalah mekanisme pemegangan benda kerja pada leher, dan melepaskannya pada akhir siklus. Mesin pertama jenis ini hanya beroperasi untuk membuat sekrup dan baut. Karena mesin ini hanya memproduksi komponen satu persatu dengan sedikit perhatian dari operator maka sebab itu disebut otomatik. Mesin ulir otomatis bisa diklasifikasikan berdasarkan turet atau jumlah spindel, tapi mesin multi spindel tidak diklasifikasikan sebagai mesin ulir tetapi

14

sebagai mesin spindel-banyak otomatis. Pada gambar 20 memperlihatkan mesin ulir yang didesain untuk benda kerja batang diameter kecil. Mesin ini mempunyai peluncur melintang yang bias membawa perkakas didepan dan dibelakang, dan turret yang terpasang pada posisi vertikal pada peluncur gerakan

longitudinal.Perkakas dipasang disekeliling turet pada bidang vertikal segaris dengan spindel.

Gambar 2.9. Mesin ulir otomatis nomor 2.

2.1.2.9 Mesin Ulir Jenis Swis Pada gambar 21 adalah tampak ujung mesin ulir jenis swiss yang dikembangkan untuk pembubutan teliti dari komponen kecil. Pahat mata tunggal digunakan pada mesin ini dan ditempatkan secara radial disekeliling bushing karbida dimana stok dimajukan selama proses pemesinan. Pembubutan dilakukan oleh dua mata perkakas horisontal sedangkan tiga lainnya digunakan untuk membuat alur, memotong putus dan membuat alur.

Gambar 2.10. Tampak ujung dari mesin ulir jenis Swis.

15

2.1.2.10 Spindel Banyak Otomatis Mesin spindel banyak otomatis adalah jenis yang paling cepat dari mesin produksi untuk pekerjaan batang. Mesin ini otomatis sepenuhnya dan dibuat dalam berbagai model dengan dua, empat, lima, enam atau delapan spindel. Dalam mesin ini langkah operasi dibagi menjadi beberapa bagian sehingga satu stasiun mengerjakan satu bagian operasi dan semua stasiun beroperasi secara serentak sehingga memperpendek waktu pengerjaan. Konstruksi umum dari mesin ini bisa dilihat pada gambar 22. Spindel yang membawa stok batang seluruhnya dipegang dan diputar dalam rel stok. Didepan spindel terdapat sebuah peluncur pahat ujung untuk tempat meletakkan pahat segaris dengan dengan masing-masing spindel mesin. Peluncur pahat tidak mengarah atau berputar bersama pembawa spindel melainkan bergerak majumundur untuk membawa ujung pahat ke dan dari persinggungan dengan batang atau stok yang berputar.

Gambar 2.11. Mesin batang spindel banyak otomatis.

2.1.2.11 Fris Pengebor Vertikal Pada mesin ini benda kerja berputar pada meja horisontal. Pahat pemotong stasioner, kecuali untuk gerakan hantaran dan terpasang pada rel menyilang yang tingginya dapat distel. Pekerjaan yang bias dilakukan adalah pekerjaan tepi horisontal, pembubutan vertikal dan pengeboran. Mesin ini diberi tingkatan berdasarkan diameter mejanya yang ukurannya bervariasi dari 1 sampai 12 m.

16

Gambar 2.12. Fris pengebor dan pembubut vertikal.

Gambar 24 adalah contoh mesin fris pengebor vertikal. Kelebihan dari mesin ini adalah bisa memegang suku cadang yang besar dan berat, karena benda kerja dapat diletakkan di meja dengan crane.

2.1.3. Operasi Bubut Operasi pada mesin bubut ada beraneka ragam : 2) Pembubutan 3) Pengeboran 4) Pengerjaan tepi 5) Penguliran 6) Pembubutan tirus 7) Penggurdian 8) Meluaskan lubang

17

2.1.3.1 Pembubutan Silindris

Gambar 2.13 Operasi pembubut

2.1.3.2 Pengerjaan Tepi (Facing) Pengerjaan tepi adalah apabila permukaan harus dipotong pada pembubut. Benda kerja bisaanya dipegang pada plat muka atau dalam pencekam. Tetapi bisa juga pengerjaan tepi dilakukan dengan benda kerja diantara kedua pusatnya. Karena pemotongan tegak lurus terhadap sumbu putaran maka kereta luncur harus dikunci pada bangku pembubut untuk mencegah gerakan aksial.

2.1.3.3 Pembubutan Tirus Terdapat beberapa standar ketirusan dalam praktek komersial.

Penggolongan berikut yang umum digunakan : 1) Tirus Morse Banyak digunakan untuk tangkai gurdi, leher, dan pusat pembubut. Ketirusannya adalah 0,0502 mm/mm (5,02%). 2) Tirus Brown dan Sharp. Terutama digunakan dalam memfris spindel mesin : 0,0417 mm/mm (4,166%). 3) Tirus Jarno dan Reed. Digunakan oleh beberapa pabrik pembubut dan perlengkapan penggurdi kecil. Semua system mempunyai ketirusan 0,0500 mm/mm (5,000%), tetapi diameternya berbeda.

18

4) Pena tirus. Digunakan sebagai pengunci. Ketirusannya 0,0208 mm/mm (2,083%). Ketirusan luar yang teliti dapat dipotong pada sebuah pembubut dalam beberapa cara : 1. Mesin kendali numeris yang dapat memotong kerucut sebagai hal yang bisaa. 2. Dengan perlengkapan membubut tirus. Perlengkapan yang diperlihatkan pada gambar 4. dibautkan pada punggung mesin bubut dan mempunyai batang pemandu yang dapat dikunci pada sudut atau ketirusan yang diinginkan. Ketika kereta luncur bergerak sebuah peluncur diatas batang pahat bergerak masuk dan keluar, sesuai dengan penguncian dari batang. 3. Perletakan majemuk pada kereta luncur bubut seperti diperlihatkan pada gambar 5. mempunyai dasar bulat dan dapat diputar ke sembarang sudut yang diinginkan dari benda kerja. Pahat kemudian dihantarkan kedalam benda kerja dengan tangan. Metode ini untuk ketirusan pendek.

Gambar 2.14. Pembubutan tirus dengan menggunakan perlengkapan tirus.

19

Gambar 2.15 Latel tool dan aplikasi

4. Penguncian pusat ekor tetap yang digeser. Gambar 4. memperlihatkan metode ini. Kalau ekor tetap digeser secara horisontal dari sumbu sebesar 6,4 mm untuk batang silinder sepanjang 305 mm, akan diperoleh ketirusan 0,0416 mm/mm (4,16%). Jadi ketirusan juga ditentukan oleh panjang silinder yang dibubut.

Gambar 2.16. Membubut tirus dengan menggunakan perletakan majemuk.

20

Gambar 2.17. Membubut tirus dengan meng-offset-kan pusat ekor tetap.

Bisaanya pembuatan ulir dengan mesin bubut dilakukan apabila hanya sedikit ulir yang harus dibuat atau dibuat bentuk khusus. Bentuk ulir didapatkan dengan menggerinda pahat menjadi bentuk yang sesuai dengan menggunakan gage atau plat pola. Gambar 6. memperlihatkan sebuah pahat untuk memotong ulir -V 60 derjat dan gage yang digunakan untuk memeriksa sudut pahat. Gage ini disebut gage senter sebab juga bisa digunakan sebagai gage penyenter mesin bubut. Pemotong berbentuk khusus bisa juga digunakan untuk memotong ulir.

Gambar 2.18 Metode penguncian pahat untuk memotong ulir pada mesin bubut

21

Dalam mengunci pahat untuk ulir-V, terdapat dua metode hantaran pahat. Pahat dapat dihantarkan lurus kedalam benda kerja, ulir terbentuk karena serangkaian potongan ringan seperti pada gambar 7A. Metode pemotongan ini baik digunakan untuk pemotongan besi cor atau kuningan. Metode kedua adalah dengan menghantar pahat pada suatu sudut seperti gambar 7B dan 7D. Metode ini digunakan untuk membuat ulir pada bahan baja. Pahat diputar sebesar 29 dan pahat dihantar ke benda kerja sehingga seluruh pemotongan dilakukan pada sisi kiri dari pahat.

2.1.3.4 Prinsip Pahat Dan Perpahatan Dalam produksi adalah penting bahwa pekerjaan dilakukan sesingkat mungkin. Waktu yang dihabiskan dalam produksi adalah : waktu penyetelan, penanganan benda kerja, penanganan mesin, dan waktu pemotongan. Waktu penyetelan dapat dikurangi dengan menyiapkan semua pahat yang diperlukan dalam kondisinya dan siap dipakai. Waktu penanganan benda kerja yaitu waktu yang dipakai dalam memasang atau melepaskan benda kerja. Hal ini sangat tergantung kepada piranti pemegang benda kerja. Untuk pekerjaan batang maka waktu ini dikurangi dengan menggunakan leher stok batang. Waktu penanganan mesin adalah waktu yang diperlukan dalam memasang masing-masing perkakas pada tempatnya. Bisa dikurangi dengan menempatkan perkakas pada posisi dan urutan yang benar sehingga memudahkan

penggunaannya atau dengan melakukan pemotongan kombinasi atau jamak, jika memungkinkan. Waktu potong untuk suatu operasi dikendalikan oleh penggunaan yang benar atas perkakas potong, kecepatan dan hantaran. Pemotongan kombinasi bisa menghemat waktu potong (gambar 10A.). Pemotongan kombinasi menunjukkan penggunaan serentak dari pahat peluncur dan turet.

22

Gambar 2.19 Mengkombinasikan pemotongan pada pekerjaan batang.

Gambar 2.20. penyetelan turet segienam

Penyetel turet segi enam menggambarkan urutan operasi untuk menangani pemotongan dalam yang diperlukan pada adaptor yang ditunjukkan dalam gambar desain.

Gambar 2.21. Penyetelan untuk mesin operasi

23

Gambar 12. menunjukakan detail pemotongan dalam yang diperlukan untuk memesin adaptor. Jenis-jenis operasinya adalah : 1. Stok batang dimajukan terhadap penghenti stok kombinasi dan gurdi awal.dan diapitkan ke leher. Gurdi awal dimajukan dan ujung benda kerja di gurdi/senter. 2. Dibuat lobang pada stok dengan menggurdi sesuai dengan panjang yang diperlukan. 3. Lubang dibor sesuai dengan diameter ulir. 4. Lubang yang digurdi diperbesar dengan peluas lubang (reamer) 5. Alur untuk celah ulir dibuat. Untuk operasi ini digunakan perkakas luncur gerak cepat. 6. Ulirnya dibuat dengan sebuah tap yang dipegang oleh kopling tap dan pemegang die.

2.2

Instalasi System Kontrol Mesin bubut, merupakan suatu alat atau mesin yang memerlukan catu daya

yang dipergunakan untuk mendeformasikan dan memotong material ke dalam bentuk, ukuran produk atau benda kerja sesuai dengan yang dikehendaki. Ketika mesin perkakas sedang dioperasikan untuk pembuatan suatu benda kerja, program instruksi dapat diberikan pada mesin tersebut untuk memproses pembuatan benda kerja tersebut. Subbidang Elektromekanik pada Bidang Operasi Fasilitas-PTRKN mengelola berbagai mesin perkakas seperti mesin frais, bubut, tekuk, gerinda, crane, las, dan sebagainya. Peralatanperalatan tersebut dibuat pada tahun 1986-an, seluruh mesin yang ada di Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir masih menggunakan sistem manual atau konvensional[1]. Seiring dengan perkembangan zaman, mesin tersebut dituntut untuk menghasilkan benda kerja dengan ketelitian tinggi. Untuk memecahkan masalah tersebut, kegiatan retrofit mesin-mesin tesebut harus dilakukan dengan cara memodifikasi unjuk kerja manual atau konvensional menjadi Numerical Control (NC) atau Computer Numerical Control (CNC). Selain ketelitian yang tinggi sistem NC atau CNC juga memberikan keuntungan lain berupa penghematan waktu.

24

Kegiatan retrofit mesin bubut merupakan kegiatan besar yang meliputi kegiatan mekanik, elektrik/instrumentasi dan pemrograman. Hingga saat ini, kegiatan retrofit telah berhasil diselesaikan dengan mengubah sistem kerja mesin bubut dari konvensional menjadi NC. Sehingga untuk mengoperasikan mesin bubut Alpine-350 dalam pembuatan benda kerja gerakan eretan arah radial dan arah aksial pada mesin bubut dilakukan oleh motor servo. Sistem operasi motor servo pada kedua eretan tersebut dikendalikan oleh PLC dengan pemrograman menggunakan software APM yang telah diinstall pada perangkat komputer. Instalasi system kontrol, dimana instalasi tersebut terdiri beberapa komponen yang dirangkai menjadi satu kesatuan untuk mengotrol gerakan motor servo dan ditempat dalam satu panel. Otak kontrol ini menggunakan PLC, karena pada retrofit mesin bubut masih mengubah sistem operasi konvensional menjadi NC jadi belum menggunakan komputer secara keseluruhan.

Gambar 2.22. Mesin Bubut pada CV. Bagus Teknik

25

2.3

Metodologi Bahan dan Alat 1. Panel ukuran 50cm x 70cm x 30cm. 2. PLC lengkap dengan asesorisnya. 3. Bor magnetik. 4. Mur baut pengikat. 5. Solder. 6. Multimeter. 7. Kabel, tombol NC NO, timah, key lock, label.

2.4

Prosedur Dalam kegiatan rancang bangun instalasi sistem kontrol pada otomasi mesin

bubut tipe Alpine-350, langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan gambar untuk merencanakan penempatan komponen-komponen yang akan dipasang pada panel kontrol seperti terlihat pada Gambar 2. Kemudian dilanjutkan pengeboran lubang baut pada lembaran panel sesuai dengan posisi lubang baut pada komponen sehingga komponen dapat dipasangkan tanpa menemui kendala. Pemasangan komponen harus dikerjakan dengan hati-hati sebab PLC merupakan komponen yang mudah rusak. Urutan kegiatan yang dilakukan saat pemasangan komponen pada panel control dalam penginstalasian seperti (a) pemasangan servo drive untuk motor X (arah radial) dan motor Y (arah aksial), (b) pemasangan kontaktor catu daya utama dan kontaktor servo drive, (c) pemasangan terminal kabel power , terminal data dan sekring, (d) pemasangan trafo step down, (e) pemasangan perangkat PLC. Setelah komponen-komponen tersebut terpasang dengan benar, dilanjutkan dengan kegiatan pengkabelan atau penginstalasian sehingga seluruh komponen tersebut terhubung sesuai dengan yang direncanakan.

26

Gambar 2.23. Penempatan komponen pada panel

Gambar disain rangkaian sistem catu daya merupakan acuan dalam kegiatan penginstalasian, dengan mengacu gambar disain tersebut dapat menghindari terjadinya kesalahan penginstalasian terutama untuk instalasi data dan instalasi catu daya, karena instalasi data menggunakan tegangan rendah dan mudah terpengaruh induksi listrik. Sedangkan instalasi catu daya menggunakan tegangan AC 220 volt dan 24 volt, serta tegangan DC 24 volt. Catu daya atau sumber-sumber tegangan tersebut akan digunakan oleh komponenkomponen pada panel kontrol dan motor servo, prinsip kerja disain sistem catu daya otomasi mesin bubut ditunjukan dalam Gambar 3. Untuk keamanan, maka digunakan sekering pada tiap jalur. Jalur ini dilengkapi dengan kunci pengaman (key lock) melalui sebuah kontaktor. Key lock inilah yang harus dihidupkan pertama kali ketika operator akan mengoperasikan mesin bubut. Dengan adanya key lock ini mesin bubut dapat dikunci sehingga tidak sembarang orang dapat mengoperasikannya tanpa sepengetahuan

penanggung jawab mesin bubut tersebut.

27

Gambar 2.24. Rangkaian sistem catu daya

Disain rangkaian kontrol seperti terlihat pada Gambar 2.24, merupakan prinsip kerja kontrol pada otomasi mesin bubut tipe Alpine-350. Unjuk kerja sistem kontrol otomasi mesin bubut ini adalah sebagai berikut : 1. Apabila tombol ON ditekan, maka pada koil start akan mendapatkan arus yang mengakibatkan koil start terjadi medan magnet kemudian akan menarik tuas pada start M1 dan start M2 bersamaan, dan arus listrik mengalir pada kontaktor servo X dan servo Y. Ry1, Ry2 dan MCX,MCY menutup sehingga jika tombol ON dilepas servo X dan servo Y masih tetap dialiri arus. 2. Apabila tombol OFF ditekan, maka arus yang melalui servo X dan servo Y terputus seketika itu juga MCX dan MCY terbuka. Akibatnya servo X dan Y tetap tidak berfungsi walaupun tombol OFF dilepas. 3. Apabila salah satu dari kedua motor servo mengalmi gangguan (terjadi error) maka servo akan membuka saklar Ry1 pada motor servo X atau saklar Ry2 pada motor servo Y tergantung motor mana yang mengalami gangguan yang mengakibatkan motor yang mengalami gangguan berhenti.

28

Gambar 2.25. Rangkaian sistem control

2.5

Teori Numerical control atau biasa disingkat NC mempunyai arti kontrol numerik

merupakan system otomatisasi mesin perkakas melalui pemrograman dan dapat disimpan dimedia penyimpan elektronik berupa flash disk, CD, memory card atau hardisk eksternal. Hal ini berbeda dengan system pengoperasian mesin perkakas konvensional dimana untuk megoperasikan mesin tersebut dikontrol dengan putaran tangan atau otomatisasi sederhana menggunakan cam. Mesin NC pertama diciptakan pertama kali sekitar tahun 1940 dan 1950, dengan memodifikasi mesin perkakas biasa. Modifikasi tersebut dilakukan dengan menambahkan motor yang akan menggerakan pengontrol mengikuti titik-titik yang dimasukan kedalam sistem oleh perekam kertas. Mesin perpaduan antara servo motor dan mekanis ini segera menggantikan sistem konvensional dan kemudian berkembang lagi dengan menggunakan komputer digital sebagai sarana pengoperasiannya sehingga terwujudlah mesin perkakas modern yang disebut mesin Computer Numerical Control (CNC) yang dikemudian dapat merevolusi proses pembuatan benda kerja berdasarkan desain[2]. Mesin CNC tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan program CAD, hal ini dikarenakan bahasa pemrograman mesin CNC yaitu GCode dapat diperoleh dengan mengkonversi model tiga dimensi menjadi G-Code.

29

Mesin-mesin CNC dibangun untuk dapat menjawab tantangan di dunia manufaktur modern, dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin hingga 0,01 mm dan pengerjaan produk masal dengan hasil yang sama serta waktu pengerjaan cepat dapat dilakukan. Kegiatan peningkatan kinerja mesin bubut dalam bentuk retrofit mesin dari manual menjadi NC meliputi kegiatan di bidang mekanik, elektrik / instrumentasi dan pemrograman. Kegiatan mekanik meliputi perubahan sistem penggerak yang semula digerakkan secara manual oleh operator diganti dengan motor servo. Dengan adanya motor servo sebagai penggerak sehingga dibutuhkan dudukan motor servo, kopling, dan panel kontrol yang berisikan perangkat instrumentasi sebagai system operasi motor servo. Kegiatan elektrik / instrumentasi meliputi penentuan trafo step down dari 380 / 220 volt menjadi 220 / 110 volt tiga fase, koneksi sistem arus kuat, pengkabelan dari motor servo ke driver dan lain-lain. Bagian akhir dari rangkaian kegiatan retrofit adalah pemrograman, setting dan kalibrasi sistem mekanik dan numerik. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan saling mendukung satu sama lain sehingga menghasilkan satu mesin bubut dengan sistem kontrol yang baru dan berbasis pada Progrmable Logic Controller (PLC) dengan menggunakan software APM untuk pengoperasiannya. Secara umum penambahan sistem kontrol NC ditunjukkan pada Gambar 5 di bawah ini[3].

Gambar 2.26. Prinsip kerja sistem kendali NC untuk mesin bubut

30

Modifikasi yang dilakukan pada mesin bubut tipe Alpine-350 yaitu dengan menggantikan gerakan manual operator pada engkol eretan arah radial dan aksial dengan motor servo yang dikontrol oleh sistem kendali NC melalui driver motor. Gerakan motor dapat diprogram dengan software APM sesuai dengan yang dikehendaki oleh operator melalui perangkat komputer. PLC merupakan sistem yang dapat memanipulasi, mengeksekusi, dan atau memonitor keadaan proses pada laju yang amat cepat dengan dasar data yang bisa diprogram dalam sistem berbasis mikroprosesor integral[4] . PLC menerima masukan dan menghasilkan keluaran sinyal-sinyal listrik untuk mengendalikan suatu sistem. Dengan demikian besaran-besaran fisika dan kimia yang dikendalikan sebelum diolah oleh PLC, akan diubah menjadi sinyal listrik baik analog maupun digital, yang merupakan data dasarnya. Karakter proses yang dikendalikan oleh PLC sendiri merupakan proses yang sifatnya bertahap, yakni proses itu berjalan urut untuk mencapai kondisi akhir yang diharapkan. Bentuk fisik PLC seperti terlihat pada Gambar 6 dibawah ini.

Gambar 2.27. Rangkaian PLC

Kontaktor, seperti pada Gambar 7, yang digunakan pada retrofit mesin bubut berfungsi sebagai saklar elektronik untuk menggerakan motor yang

31

mempunyai daya besar dan tegangan 220 volt, koil untuk mengendalikan kontaktor bertegangan 24 volt AC, tegangan koil ini cukup aman dari bahaya sengatan listrik apabila terjadi kecelakaan kerja pada operator. Unjuk kerja kontaktor magnetis sama dengan relay elektromekanis (EMR) yaitu kontaktor bekerja apabila kumparan diberi catu daya listrik. Untuk kontaktor magnetis tiga phasa hanya digunakan untuk harus bolak-balik (AC) dapat mensuplai daya cukup besar dan arus kuat sedangkan relay elektromekanis umumnya digunakan pada rangkaian elektronika dengan daya relatif kecil arus lemah tegangan searah (DC). Keduanya mempunyai keistimewaan penting yang umum yaitu kontaktor bekerja apabila kumparan diberi energy[5]. National Electrical Manufacture Assosiation (NEMA) mendefinisikan kontaktor magnetis sebagai alat yang digerakkan secara magnetis untuk menyambung atau memutuskan secara berulang-ulang rangkaian daya listrik dengan tanpa merusak pada beban yang dapat berupa lampu, pemanas, transformator, motor listrik dan lain-lain.

Gambar 2.28. Kontaktor tiga fasa dan relay

2.6

Hasil Kegiatan retrofit mesin bubut berupa mengkonversi mesin bubut

konvensional menjadi mesin bubut berbasis NC dapat meningkatkan kinerja mesin baik dalam hal efisiensi pengoperasian maupun tingkat ketelitian. Penggunaan motor servo sebagai penggerak eretan radial dan eretan aksial merupakan pilihan yang tepat karena pengoperasian motor servo mudah dilakukan dengan menggunakan PLC dan pemrograman menggunakan software APM.

32

Pengoperasian PLC sangat tergantung dari instalasi atau pengkabelan yang menghubungkan komponen-komponen termasuk PLC dalam suatu panel kontrol, dengan demikian rancang bangun instalasi sistem kontrol perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan retrofit mesin bubut tersebut. Rancang bangun instalasi sistem control pada otomasi mesin bubut terdiri dari instalasi catu daya yang berfungsi memberikan catu daya listrik pada komponen-komponen dan instalasi control yang berfungsi mengatur

beroperasinya komponenkomponen, dimana instalasi sistem kontrol tersebut ditempatkan dalam suatu panel kontrol. Pengujian mesin bubut NC hasil modifikasi dilakukan dengan cara mengoperasikan mesin untuk melakukan pembubutan arah radial dan aksial pada benda kerja berupa besi silinder pejal dan didapatkan hasil pembubutan yang cukup memuaskan. Dengan demikian kegiatan retrofit mesin bubut yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja mesin bubut telah berhasil diselesaikan dengan baik dan benar, dan untuk rencana selanjutnya akan dilakukan peningkatan sistem pengoperasian mesin bubut dari NC menjadi CNC.

Gambar 2.29. Rancang bangun instalasi sistem kontrol

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Rancang bangun instalasi sistem control pada mesin bubut tipe Alpine-350

perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan kinerja mesin bubut. Peningkatan kinerja berupa otomasi mesin bubut berbasis Numerical Controller dapat mengurangi ketergantungan terhadap ketrampilan seseorang operator tertentu dalam mengoperasikan mesin bubut. Kegiatan pengembangan mesin bubut selanjutnya menjadi mesin berbasis Computer Numerical Controller siap untuk dilakukan. 1. Manfaat Praktik Industri Setelah melakukan Praktik Industri, penulis merasa mendapat manfaat yang diperoleh sebagai berikut : a Penulis telah mengenal dan mengerti tentang sistem kerja yang digunakan dalam perusahaan. b Penulis merasa mendapat tambahan pengalaman dalam menghadapi setiap masalah kerja yang Penulis hadapi, terutama setelah mendapatkan tugas. c Penulis telah mendapatkan pengalaman mengenai Datek wireline dan speedy, minimal dalam hal pemasangan kabel jumper wireline dan speedy d Penulis telah mendapat tambahan pengetahuan mengenai Instalasi Kabel Rumah (IKR). e Penulis telah mengetahui sistem kerja yang diterapkan di PT. TELKOM Catel Sindanglaya khususnya di Bagian Supervisor Site Operation Acces f Penulis telah mendapatkan kesempatan untuk menerapkan dan

mengembangkan ilmu yang telah Praktikan dapatkan dari sekolah.

2. Informasi Yang Diperoleh Dari Praktik Industri Dari pelaksanaan Praktik Industri beberapa informasi yang dapat penulis peroleh adalah sebagai berikut :

33

34

Pentingnya penerapan ilmu yang didapatkan di sekolah dengan pelaksanaan praktik di dunia kerja yang sesungguhnya.

Sistematik kerja CV Bagus Teknik merupakan Perusahaan penyedia jasa yang melayanai jasa pembubutan. CV. Bagus Teknik senantiasa melayani segala permintaan pelanggan

dengan sebaik baiknya dan memeberikan layanan terbaiknya kepada seluruh pengguna jasa. CV. Bagus Teknik telah menetapkan semua sistem operasional kerja secara secara baik sehingga dapat mempermudah dan mempercepat pelaksanaan setiap pekerjaan.

3.2

Saran

1. Saran untuk Sekolah Setelah melakukan Praktik Industri, beberapa saran yang perlu penulis sampaikan untuk sekolah adalah sebagai berikut : 1) Apabila memungkinkan, pihak sekolah bisa selalu mengawasi Praktikan maupun siswa yang melakukan Praktik Industri di tempat industri lain. 2) Disarankan untuk menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan pihak industri sehingga siswa lebih terpromosikan kepada Pihak Industri. 3) Untuk mempermudah mencari tempat praktik industri, disarankan untuk dibuatkan buku/daftar nama dan alamat industri bagi siswa sesuai bidang keahliannya. Alternatif lainnya, diharapkan pihak sekolah dapat

menempatkan siswa calon siswa prakerin 4) Pembimbing yang ditunjuk sekolah diharapkan dapat lebih mengoptimalkan profesionalismenya demi kelancaran kegiatan prakerin

2. Saran untuk Industri Setelah menjalankan Praktik Industri di CV. Bagus Teknik, Penulis merasa perlu untuk menyampaikan saran, antara lain sebagai berikut: 1) Dengan adanya pengaruh yang berarti dari pelayanan terhadap kepuasan pelanggannya, maka pihak perusahaan harus terus berupaya meningkatkan

35

kualitas pelayanannya untuk terciptanya keputusan pelanggan yang maksimum baik secara kualitas maupun kuantitas. 2) Dari ketiga unsur pelayanan yang diteliti oleh penulis diperoleh bahwa pelayanan perusahaan harus lebih memperhatikan mengenai kualitas pelayanan ini. Dan dicari solusinya untuk meningkatkan seoptimal mungkin kepuasan pelanggan. 3) Perusahaan yang bergerak dalam jasa pembubutan harus terus meningkatkan mutu pelayanan maupun produk yang ditawarkan. Karenan kepuasan konsumen merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup sebuah perusahaan.

36

DAFTAR PUSTAKA SATMOKO, A., Optimalisasi Laboratorium dan Fasilitas Dukung Teknologi dan Keselamatan, Usulan Kegiatan PTRKN, 2009. HAFID, A., Otomasi Mesin Bubut dengan Kontrol Numerik Tahap 2 dan Optimalisasi Peralatan Bengkel, Usulan Sub kegiatan PTRKN, Agustus 2009. TJAHJONO, A., Programmable Logic Controller, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 1998.