Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL KEWIRAUSAHAAN BERTERNAK BURUNG PUYUH

Oleh : IKE FERIS ANDRIANA : 2080610004 AJI NOOR ROKHIM FAHMI BAHARUDIN : 2090610004 : 2100610013

JURUSAN BIOLOGI LINGKUNGAN FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beternak puyuh sudah semakin memasyarakat, terutama sejak krisis moneter melanda karena banyaknya tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan atau di PHK. Orang pun banyak yang kemudian memutuskan untuk berwirausaha. Salah satunya menjadi peternak puyuh. Sebagai salah satu ternak unggas, puyuh cocok bila diusahakan, baik sebagai usaha sampingan maupun sebagai usaha komersial (pokok). Telur dan daging puyuh telah populer dan dibutuhkan sebagai salah satu sumber protein hewani yang cukup penting. Telur puyuh akan semakin mudah didapatkan baik di warung, toko maupun supermarket. Namun, produk puyuh dalam bentuk daging masih belum semudah mendapatkan telurnya. Hal tersebut kemudian mendorong kami untuk mengembangkan ternak puyuh. Banyak peternak besar dan kecil bermunculan, tetapi banyak juga yang berguguran karena seleksi alam. Faktor penyebab kegagalan diantaranya modal tidak dapat berputar seperti yang diharapkan akibat dari tingginya harga pakan, serta kurangnya pengetahuan peternak tentang cara beternak puyuh. Pengelolaan ternak puyuh masih banyak menggunakan teknik coba-coba (trial and error). Karena metode beternak puyuh belum semapan beternak unggas lainnya seperti ayam atau itik, metode beternak ayam pun digunakan untuk beternak puyuh. Latar belakang itulah yang mendasari kami menyusun proposal ini, dengan harapan akan mampu memberikan sumbangsih positif sehingga kami kemudian akan mampu berwirausaha puyuh dengan metode yang lebih baik dari metode yang sudah ada. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dalam berternak burung puyuh adalah untuk membangun system perekonomian rakyat (petani peternak) terutama golongan ke bawah, menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, serta mendukung terbukanya jaringan pasar ternak sehingga membantu menghidupkan roda perekonomian masyarakat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut Quail, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia. Puyuh adalah spesies dari genus Coturnix yang tersebar di seluruh daratan, kecuali Amerika. Pada tahun 1870 puyuh jepang yang disebut japanese quail (Coturnik coturnik japonica) mulai masuk ke amerika. Namun sebutan untuk puyuh ini kemudian menjadi beragam seperti common quail, stubble quail, japanes king quail dan masih banyak lagi. Baru beberapa jenis puyuh yang dikenal serta dipelihara untuk diambil telur dan dagingnya, sebenarnya banyak jenis puyuh yang tersebar diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Namun tidak semua puyuh tersebut dapat dimanfaatkan sebagai penghasil pangan. Beberapa puyuh menpunyai jenis bulu yang indah sehingga banyak dipelihara sebagai hewan hias. Jenis-jenis Puyuh Berikut adalah jenis-jenis puyuh yang ada di dunia: A. Puyuh Japonica Puyuh ini termasuk dalam famili Phasianidaendan ordo Galiformes. Dibandingkan dengan puyuh lainnya, Coturnix coturnix japonica mampu menghasilkan telur sebanyak 250-300 butir telur per ekor selam setahun. Puyuh betina mulai bertelur pada usia 35 hari.
B. Blue Blested Quail (Coturnix chinensis)

Di Indonesia puyuh ini disebut puyuh pepekoh. Termasuk dalam suku Phasianidae dan bertubuh sangat mungil. Musim kawin puyuh pepekoh di pulau jawa adalah bulan Februari-September dan puncaknya pada April-Juni. Telur yang dihasilkan puyuh pepekoh betina 5-6 butir.

C. Chesnut Bellied Partridge (Arbhorophila javanica)

Di Indonesia puyuh ini disebut puyuh gonggong jawa. Puyuh ini berukuran sedang dengan panjang badan mencapai 25 cm. Musim kawin pada bulan Januari, Maret, April, Agustus dan September. Jumlah telur yang dihasilkan betina sekitar 2-4 butir dan berwarna putih.
D. Grey Bellied Partridge (Arborophila javanica)

Di Indonesia disebut puyuh gonggong biasa. Daerah penyebarannya meliputi daerah Cina Barat Daya, Asia Tenggara, Kalimantan, Sumatra dan Jawa Timur (dataran tinggi ijen). Makanan puyuh gonggong biasa berupa biji-bijian, buah-buahan dan serangga. Jumlah telur puyuh betina sekitar 2-4 butir.
E. Bar Backed Partridge (Arborophila bruneopectus)

Nama lain puyuh ini adalah Brown Breasted Partridge. Puyuh ini memilki ciri-ciri, yaitu pada bagian leher sampai dada bagian depan bergaris-garis hitam, sedang dadanya tidak terdapat warna hitam. F. Red Billed Partridge Di Indonesia dikenal dengan sebutan puyuh sumatra. Puyuh ini bersifat endemik dan menyebar di daerah Bukit Barisan dengan ketinggian 900-2500 m dpl. Warna badannya didominasi warna coklat, kepalanya belang coklat berbintik dan mempunyai mahkota berwarna hitam. G. Red Breasted Partidge Disebut puyuh gonggong kalimantan. Puyuh ini tumbuh endemik di perbukitan Kalimantan bagian utara. Puyuh gonggong kalimantan dicirikan dengan warna coklat dan corak hitam-putih pada sisi lambung, tengkuk dan mahkota kehitaman bergaris coklat, dada kuning (jantan) dan coklat berbintik putih (betina) dan ekor berwarna putih.
H. Turnix (Turnix sylvatica)

Puyuh ini masuk dalam famili Turnicidae dan ordo Gruifornes. Makanan turnix berupa rumput-rumputan dan biji-bijian. Jumlah telur betinanya sekitar 4 butir. Uniknya telur puyuh ini dierami oleh puyuh jantan. Setelah 18-19 hari dierami telur-telurpun menetas.

I. Puyuh Mahkota (Rollulus roulroul)

Puyuh ini termasuk dalam famili Phasianidae dan ordo Galliformes. Dibanding puyuh lain puyuh mahkota mempunyai warna bulu paling indah ditambah dengan ornamen bentuk berbentuk mahkota pada kepala puyuh jantan.
J. Scaled Quail (Callipepla squamata)

Ukuran tubuhnya sekitar 25-30 cm. Termasuk dalam famili Phasianidae dan ordo Galliformes. Selama musim bertelur puyuh ini hidup menyendiri, sedangkan pada saat musim gugur dan musim dingin berkumpul dalam kelompok besar. Betinanya mampu menghasilkan telur sebanyak 9-16 butir. Telurnya menetas setelah dierami betinanya selama 21 hari. Setelah menetas anaknya dapat mencari makanan sendiri. K. Gambels Quail Tubuhnya gemuk dan berkaki pendek serta kuat. Panjang tubuhnya antara 25-28 cm. Termasuk ke dalam ordo Galliformes dan famili Phasianidae serta hidup di daerah tandus bersemak-semak. Puyuh ini hanya terdapat di Amerika Utara. Betina mampu bertelur 9-14 butir dan telurnya dieram selama 21-24 hari.
L. Barred Button Quail (Turnix succiator)

Sering disebut puyuh tegalan loreng. Puyuh jantan memiliki mahkota berbercak coklat, sedangkan muka dan dagu berbintik putih serta bergaris hitam pada dada. Ukuran betina lebih besar. Dagu dan lehernya berwarna hitam, sedangkan mahkotanya juga berwarna kehitaman dan kepalanya abu-abu. Jumlah telur yang dihasilkan sebanyak 3-4 butir. Cangkangnya berwarna keputih-putihan atau kuning pucat berbintik coklat atau hitam. M.Puyuh Albino Puyuh ini memiliki ciri khas yaitu berbulu putih dan berwarna merah. Puyuh ini diduga dari keturunan puyuh yang biasa dipelihara (Coturnix coturnix japonica), tetapi berasal dari gen resesif. Puyuh ini mampu menghasilkan telur yang tidak jauh berbeda dari puyuh biasa, bahkan terkadang jumlahnya lebih tinggi. N. Bob White Termasuk puyuh ukuran sedang, panjang tubuh sekitar 25 cm. Termasuk dalam ordo Galliformes dan famili Phasianidae. Puyuh ini banyak hidup di Amerika utara. Biasa

dipanen pada umur 6-16 minggu. Puyuh betina bertelur antara 12-20 butir, dan dierami selama 23-24 hari. Jenis burung puyuh yang biasa diternakkan adalah berasal dari jenis Coturnix-coturnix japonica. Produksi telur burung puyuh ini mencapai 250 300 butir per tahun dengan berat rata-rata 10 gram per butir. Disamping produksi telurnya, burung puyuh juga dimanfaatkan daging dan kotorannya. Keunggulan lain dari burung puyuh adalah cara pemeliharaannya mudah, mempunyai daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan dapat diternakkan bersama dengan hewan lain (Hartono, 2004). Anak burung puyuh yang baru menetas dari telur disebut Day Old Quail (DOQ). DOQ ini besarnya seukuran jari dengan berat 8-10 gram dan berbulu jarum halus. DOQ yang sehat berbulu kuning mengembang, gerakan lincah, besarnya seragam dan aktif mencari makan atau minum. dalam dunia peternakan, periode pembesaran DOQ disebut dengan masa Starter Grower atau Stargro hingga anak burung puyuh berumur 5 minggu (Sugiharto, 2005). Ciri-ciri burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) adalah bentuk badannya relatif lebih besar dari jenis burung- burung puyuh lainya. Panjang badannya 19 cm, badannya bulat, ekor pendek, dan kuat, jari kaki empat buah, warna bulu coklat kehitaman, alis betina agak putih sedang panggul dan dada bergaris (Nugroho dan Mayun, 1986). Kandungan protein dan lemak telur puyuh cukup baik bila dibandingkan dengan telur unggas lainnya. Kandungan proteinnya tinggi, tetapi kadar lemaknya rendah sehingga sangat baik untuk kesehatan. Tabel Perbedaan susunan protein dan lemak dari berbagai telur unggas. Jenis Unggas Ayam ras Itik Angsa Merpati Kalkun Puyuh 12.7 13.3 13.9 13.8 13.1 13.1 11.3 10.3 14.5 13.3 12.0 11.8 11.1 Ayam buras 13.4 Protein (%) Lemak (%) Karbohidrat (%) 0.9 0.9 0.7 1.5 0.8 1.7 1.6 1.0 1.0 1.1 1.1 0.9 0.8 1.1 Abu (%)

Sumber : Murtidjo (1996). Selain itu, mineral yang banyak terdapat dalam cangkang telur adalah Calsium. Defisiensi Calsium dapat menyebabkan kerabang telur tipis dan produksi telur akan menurun (Anggorodi,1985).

BAB III METODOLOGI 3.1 Bentuk Usaha dan Program Pemeliharaan Seperti halnya berternak hewan lain secara intensif, berternak puyuhpun memerlukan program pemeliharaan dan tata laksana yang baik. Untuk mendapatkan hasil optimal dan menguntungkan, program pemeliharaan dan tata laksana harus dilakukan dengan benar dan teratur sejak penetasan telur, pemeliharaan anakan puyuh. Program pemeliharaan yang dimaksud merupakan garis besar pelaksanaan yang harus dilaksanakan secara berurutan dan teratur pada waktu tertentu. Program yang akan kita lakukan adalah pada skala usaha menengah, yaitu dengan pilihan melakukan seluruh kegiatan pemeliharaan dari penetasan sampai pemeliharaan puyuh dari starter atau grower sampai dewasa. Dan usaha yang akan dilakukan yaitu menghasilkan puyuh petelur, sehingga kami juga akan menyediakan kandang untuk puyuh petelur. 3.2 Perkandangan Puyuh tidak tahan dengan perubahan lingkungan yang sangat berbeda dari waktu ke waktu dan juga kebisingan yang terjadi secara tiba-tiba. Hal ini menyebabkan puyuh stress dan berdampak pada penurunan produksi telur, dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Oleh sebab itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kandang. A. Penentuan Lokasi Kandang Langkah pertama yang akan kami lakukan yaitu menentukan lokasi kandangnya, lokasi kandang akan kami letakkan di tempat yang jauh dari kebisingan dan berupa bangunan tersendiri. Karena jika diletakkan di daerah yang dekat dengan kebisingan akan berdampak negative bagi kehidupan dan produksi telurnya. Kandang puyuh akan kami buat seperti rumah sederhana yang terbuat dari bambu dengan dinding yang tertutup rapat sehingga membentuk ruangan, dinding setengah terbuat dari anyaman bambu, dan setengahnya di tutupi oleh plastik. Dan juga dengan lantai yang tidak langsung menyatu dengan tanah, yaitu sekitar 40 cm di atas tanah. hal ini bertujuan untuk melindungi puyuh dari gangguan luar, seperti percikan air hujan dan terpaan angin kencang. Selain itu untuk menjaga ruangan agar terhindar dari kelembaban dan sumber penyakit.

Kemudian kandang akan di buat membujur timur barat, supaya ketika pagi hari sinar matahari dapat langsung masuk kedalam ruangan. Karena puyuh juga membutuhkan sinar matahari untuk kehidupannya (untuk penerangan, untuk penghangat, pembunuh bibit penyakit dan sumber vitamin D). B. System Kandang Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Untuk system perkandangan akan digunakan system sangkar/baterei, yaitu dinding dan lantai terbuat dari kawat kasa/ram sehingga perlu disediakan alas di bawah lantai untuk menampung kotoran (dropping board). Dengan adanya tempat penampung kotoran tersebut, pemeliharaan kebersihan ruangan tempat kandang berada lebih mudah dilakukan, dan kotoran tidak menimpa puyuh dalam kandang dibawahnya. Kandang dengan system ini juga mempunyai sirkulasi udara yang sangat bagus dan dapat memecah beberapa penyakit yang disebabkan oleh parasit.
3.3 Pakan Puyuh

Pakan dianggap sebagai faktor terpenting karena 80% biaya yang dikeluarkan peternak puyuh digunakan untuk pembelian pakan. Jadi, bila terjadi kesalahan dalam pemberian pakan, sudah pasti peternak tidak merasakan manfaat atau keuntungan. A. Zat pakan dan pakan puyuh Protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air harus tersedia dalam jumlah cukup. Kekurangan salah satu komponennya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan menurunkan produktivitas. 1. Protein Terkandung dalam bahan makan nabati dan hewani antara lain bungkil kedelai, bungkil kacang tanah, tepung ikan, tepung hati, tepung cacing dan berbagai macam butiran. Fungsi protein antara lain sebagai materi penyusun dasar semua jaringan tubuh yang dibentuk. Jaringan tersebut berupa otot, sel darah, kuku dan tulang.

2. Karbohidrat Karbohidrat dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan energinya. Energy digunakan untuk kebutuhan hidup pokok, gerak otot, sintesa jaringan-jaringan baru, aktivitas kerja, serta memelihara temperatur tubuh. Bila hewan mudah diberikan energy melebihi dari kebutuhan untuk hidup pokoknya, energy tersebut akan digunakan untuk membentuk protein. Sementara kelebihan karbohidrat pada hewan dewasa diubah menjadi lemak. Biasanya karbohidrat terdapat dalam bahan pakan yang berasal dari tumbuhtumbuhan seperti jagung, dedak padi, minyak kelapa, minyak jagung, dan minyak wijen. Diantara bahan pakan tersebut, jagung kuning paling sering digunakan karena selain sebagai sumber karbohidrat, karoten yang terkandung di dalamnya berfungsi untuk mewarnai kuning telur dan bagian kuning lainnya pada organ tubuh puyuh. 3. Lemak Lemak merupakan sumber karbohidrat, yang berarti pula sebagai sumber energy. Fungsi lemak membantu penyerapan vitamin (A, D, E, K), menambah palatabilitas (rasa), menyediakan asam-asam lemak essensial, mempengaruhi penyerapan vitamin A dan karoten dalam saluran pencernaan, berpengaruh penting dalam penyerapan Ca (kalsium), serta menambah efisiensi penggunaan energy. Sumber lemak terdapat dalam bahan pakan seperti minyak kelapa, minyak kacang kedelai, minyak jagung, dan minyak biji kapas. 4. Vitamin Vitamin merupakan senyawa organik yang harus selalu tersedia, walaupun dalam jumlah sangat kecil, untuk metabolisme jaringan normal. Kemajuan industry pakan ternak yang pesat telah menghasilkan susunan ransum sesuai kebutuhan ternak. Oleh sebab itu gejala defisiensi jarang terjadi. Namun, peternak harus tetap waspada terhadap kemungkinan defisiensi vitamin terhadap ternak, hal ini dapat timbul akibat kesalahan dalam tata laksana, misal pengobatan terus menerus dengan parifin cair, akibat sters berat, dll. Sumber makan ternak yang mengandung vitamin bermacam-macam, diantaranya daun-daunan, biji-bijian, kuning telur, atau jagung kuning.

5. Mineral Semua jenis ternak, termasuk burung puyuh, sangat memerlukan mineral dalam ransumnya, baik berupa mineral makro (Ca, P, Na, K, dan Cl) atau mineral mikro (Fe, Cu, l, Co, Zn, Mn, Se, dan Mo). Pada prinsipnya, peternak harus menyediakan mineral dalam jumlah cukup. Kelebihan mineral akan berpengaruh buruk pada kesehatan. Sementara kekurangan mineralpun dapat menurunkan kesehatan. Bahan pakan yang mengandung mineral antara lain tepung tulang, kulit kerang, biji-bijian, dan garam dapur. 6. Air Bagian terbesar dan terbanyak dari jaringan tubuh hewan (40-70%) adalah air. Fungsi air sangat vital, yaitu mengangkut zat-zat pakan dari satu bagian ke bagian tubuh lainnya. Fungsi air lainnya yaitu mempertahankan bentuk sel, mengatur dan mempertahankan suhu tubuh, meminyaki persendian, dll. B. Kebutuhan Pakan Berdasarkan Fase Pemeliharaan Ayam mempunyai tiga fase pemeliharaan dalam hidupnya, yaitu fase starter (awal), grower (pertumbuhan), dan layer (bertelur). Sementara burung puyuh hanya mempunyai dua fase pemeliharaan, yaitu fase pertumbuhan dan fase produksi (bertelur). Fase pertumbuhan puyuh terbagi lagi menjadi dua, yaitu fase starter (umur 0-3minggu) dan grower (umur3-4 minggu). Perbedaan ini beresiko pada pemberian pakan berdasarkan perbedaan kebutuhannya. Anak puyuh berumur 0-3 minggu membutuhkan protein 25% dan energy metabolis sebesar 2.900 Kkal/kg. pada umur 3-5 minggu, kadar pakannya dikurangi menjadi 20% protein dan 2.600 Kkal/kg energy metabolis. Namun untuk pertumbuhan optimal, pemberian protein yang dianjurkan sebanyak 25%. Kebutuhan protein dan energy puyuh dewasa berumur lebih dari 5 minggu sama dengan puyuh berumur 3-5 minggu. Sementara kebutuhan protein puyuh untuk pembibitan (sedang bertelur atau dewasa kelamin) sebesar 18-20%. Tingginya kadar protein dan energy metabolis puyuh berumur 0-3 minggu disebabkan karena pada umur tersebut puyuh belum dapat mengkonsumsi ransum dalam jumlah besar. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan proteinnya diperlukan kadar

protein yang lebih tinggi dibanding puyuh berumur 3-5 minggu. Berdasarkan penelitian, tinggkat kandungan protein sangat mempengaruhi bobot badan puyuh. Kadar protein dalam pakan puyuh petelur direkomendasikan 20%, sedangkan kandungan protein 25% membuat puyuh cepat mengalami dewasa kelamin. Menurut seorang peternak burung puyuh yang berhasil, puyuh jantan membutuhkan ransum buatan pabrik sebanyak 50 gr, sedangkan puyuh betina 20-30 gr setiap hari. Sementara menurut seorang peneliti, seekor puyuh yang sedang bertelur hanya membutuhkan 17,8 g/ekor/hari. Pendapat lain menyebutkan bahwa kebutuhan ransum puyuh selama dua bulan pertama adalah 0,8 kg. pada dua bulan berikutnya, dibutuhkan 1,36 kg. untuk mencegah pemborosan dalam pemberian ransum, ada baiknya seorang peternak memberikan ransum berdasarkan umur puyuhnya. Selain ransum utama yang berupa konsentrat tepung komplit, puyuh memerlukan pakan tambahan barupa dedaunan segar. Dedaunan tersebut antara lain daun ubi, singkong, sawi, selada air, bayam, kangkung, atau tauge. Sebelum diberikan, dedaunan tersebut hendaknya dicuci bersih agar puyuh terhindar dari keracunan pestisida yang mungkin masih tersisa. Kemudian dedaunan di cincang halus untuk mempermudah puyuh menelannya. Selain sumber vitamin, dedaunan juga memberikan puyuh kesibukan untuk tidak saling mematuk. Dari hasil penelitian, penambahan tepung daun kacang-kacangan, terutama tepung daun lamtoro, sebanyak 5% dalam ransum dapat menambah rataan berat telur perbutir menjadi 10,44 gr dan meningkatkan skor warna kuning telur. C. Cara Pemberian Pakan Cara pemberian pakan harus diperhatikan. Bila tidak, akan mengganggu pertumbuhan, kesehatan, dan produksi puyuh. Pada saat tertentu, misalnya cuaca yang sangat panas, ransum dapat sedikit dibasahi dengan air. Dengan cara ini puyuh akan bernafsu untuk makan. Ransum yang tidak habis dimakan harus segera dibuang. Ransum basah mudah terserang jamur. Tempat bekas makanpun harus segera dicuci dan dikeringkan. Ransum dapat diberikan 2 kali sehari, yaitu pagi dan siang hari. Dan pemberian ransum puyuh dewasa/remaja hanya satu kali, yaitu di pagi hari. Sementara untuk puyuh anakan dua kali, yaitu pagi dan sore.

Berdasarkan penelitian S.M. Hassan, et al., pemberian pakan pada siang hari atau sore hari pukul 14.00-22.00 ternyata meningkatkan kesuburan dan produksi telur puyuh, di banding puyuh yang diberi makan pada pukul 06.00-14.00. Namun, bobot telur yang dihasilkannya tidak berbeda. Untuk puyuh petelur, pengaturan jadwal makan ini dapat dipraktekkan agar puyuh lebih banyak bertelur. 3.4 Tata Laksana Perawatan Keberhasilan dalam berternak sangat tergantung dari kemampuan peternak dalam melaksanakan program pemeliharaan burung puyuh yang diternakannya. Terdapat beberapa hal yang harus dipahami dan dilakukan oleh seorang perternak puyuh dalam tata laksana perawatannya, yaitu : A. Penetasan Telur Siklus hidup puyuh relative pendek. Produksi telurnya 250-300 butir pertahun dengan bobot rata-rata 10-15 gr perbutir. Telur yang dihasilkan berbentuk khas, karena sifat yang diwariskan (hereditas). Selain faktor keturunan, bentuk telur juga dipengaruhi oleh jumlah albumin (putih telur) yang disekresikan dalam oviduct, ukuran lumen dari isthmus, aktivitas serta kekuatan dinding isthmus dan bagian lain yang dilaluinya, serta kemungkinan terjadinya beberapa perubahan dalam uterus. Selain itu, bentuk telur juga dipengaruhi ukuran bukaan kloaka. Telur yang dihasilkan pertama kali dari suatu siklus bertelur mempunyai bentuk yang lebih panjang atau sempit daripada telur yang berikutnya pada siklus yang sama. Bobot telur merupakan sifat kuantitatif yang dapat diturunkan. Jadi, jenis pakan, jumlah pakan, lingkungan kandang, serta besar tubuh induk sangat mempengaruhi bobot telur. Oleh sebab itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan agar penetasan berhasil. 1. Pemilihan telur Telur baik untuk bibit adalah yang fertil (berisi benih). Namun, sampai saat ini belum ada cara efektif untuk membedakan telur fertil dan yang steril sebelum di tetaskan. Cara yang masih digunakan yaitu dengan meneropong telur-telur tersebut beberapa hari sebelum penetasan. Peneropongan dilakukan untuk mengetahui adanya pembuluh darah dalam telur. Bila terdapat pembuluh darah berarti telur fertil. Bila tidak terdapat embuluh darah berarti telurnya steril/infertil dan tidak dapat ditetaskan.

Ciri fisik yang dapat digunakan patokan dalam memilih telur yang baik untuk bibit diantaranya bukan berasal dari perkawinan saudara. Telur sebaiknya di ambil dari induk betina berumur 4-10 bulan dan yang dipelihara bersama pejantan dengan perbandingan 2-3 : 1. Telur tersebut tidak boleh berumur lebih dari 5 hari, karena daya tetasnya akan menurun sebesar 3% perhari. Telur yang di pilih untuk ditetaskan harus berbentuk sempurna, yaitu bulat/lonjong dan simetris, serta berukuran seragam (sekitar 10-11 gr). Selain itu kerabang telur harus mulus, tidak terdapat bintil-bintil, tidak retak atau pecah, serta bercak berwarna hitam-kelabunya tersebar merata. Telur berkerabang kuning, coklat, atau putih polos sebaiknya tidak di pilih karena kulitnya tebal, tetapi sangat rapuh. 2. Mesin tetas Puyuh tidak dapat mengerami telurnya sendiri sehingga penetasan harus dibantu dengan mesin tetas. Mesin tetas ini dapat dibeli atau di buat sendiri. Prinsi kerjanya sangat sederhana. Mesin tetas ini terdiri dari kotak tahan panas, di dalam kotak tersebut harus ada alat pelembab udara berupa piring, Waskom, atau talam yang beris air serta alat pengukur suhu (thermometer). Selain itu, ventilasi juga perlu di sediakan untuk keluar masuknya udara segar. Untuk menghemat biaya pengeluaran, mesin tetas disini akan kami buat sendiri secara sederhana dengan bahan dari papan atau triplek (kerangkanya dari kayu dan dinding dari triplek), dan dari dus bekas. Mesin tetas di buat dengan ukuran tinggi 40 cm, lebar 80 cm, panjangnya 160 cm. kotak sebesar ini dapat menetaskan sekitar 1.000 butir telur puyuh. Mesin dibuat berpintu depan dengan diberi sedikit kaca agar keadaan telur dapat diawasi dengan mudah. 3. Cara penetasan Sebelum digunakan, mesin tetas harus dibersihkan dahulu dari kotoran dan kuman pembawa penyakit dengan menyemprotkan antiseptik ke dalamnya. Kemudian mesin tetas diangn-anginkan agar kering. Selanjutnya memasukkan nampan berisi air ke dalamnya dan menyalakan mesin tetas hingga suhunya mencapai 39,50 C. Sambil menunggu mesin tetas stabil, telur di semprot dengan cairan antiseptik atau campuran air dengan alkohol 40%. Hali ini dilakukan untuk menghindari

masuknya virus, bakteri, maupun jamur melalui pori-pori kulit telur. Setelah di semprot, telur di angina-anginkan. Telur yang telah kering diberi tanda pada bagian yang sama pada bagian tumpul dan runcingnya dengan spidol berwarna kontras. Selanjutnya telur di atur dalam Loyang. Bila suhu mesin tetas telah stabil, temperature menunjukkan skala 39,50 C, Loyang berisi telur dimasukkan ke dalamnya. Pintu dan lubang mesin tetas ditutup selama 2-3 hari. Pada hari ke 3-14 telur di balik dan loyangnya pi putar 1800 sebanyak 2 kali sehari. Pembalikan tersebut berfungsi untuk meratakan temperature telur dan menghindarkan lembaga atau benih agar tidak menempel atau lengket pada salah satu sisi kulit karena pengaruh gravitasi bumi. Tidak dilakukannya pembalikan akan mengakibatkan kematian benih atau anak puyuh lahir dengan pengkor. Tanda spidol pada telur dapat digunakan sebagai kontrol dalam pembalikan, yaitu sudah di balik atau belum. Oleh sebab itu, tanda spidol diharuskan terletak pada bagian yang sama. Dengan melakukan pembalikan secara rutin, bagian telur yang diberi tanda pada posisi seperti pertama kali masuk ke dalam mesin tetas pada hari ke-14. Penetasan biasanya terjadi pada hari ke 17-19. Proses penetasan terjadi selama 3 jam. Telur yang tidak menetas setelah 3 jam akan di singkirkan. 4. Perawatan bibit Setelah menetas, puyuh masih membutuhkan udara hangat yang stabil. Oleh sebab itu, puyuh anakan tidak langsung dikeluarkan. Melainkan dibiarkan dalam mesin tetas selama 10 jam. Setelah itu, baru di pindahkan ke dalam kandang indukan. Selama masa tersebut puyuh tidak diberi makan karena masih mempunyai persediaan pakan dalam kuning telurnya.

B. Seleksi Puyuh Bagi seorang peternak, bibit merupakan modal utama bagi produktivitas dan kesehatan puyuh yang akan diternakkan. Bibit yang tidak memenuhi syarat hanya akan menimbulkan kesulitan dan kerugian pada masa datang. Oleh karena itu harus dilakukannya seleksi dalam pembelian bibit. Seleksi sebaiknya tidak hanya dilakukan pada masa starter (anakan), tetapi juga pada masa grower (remaja), dan menginjak dewasa.

C. Vaksinasi Seperti halnya ayam, puyuh dapat terserang penyakit tetelo. Penyakit ini biasanya timbul pada masa pancaroba. Tetelo dapat menimbulkan kematian dan harus di cegah sedini mungkin. Oleh sebab itu puyuh sebaiknya di vaksinasi pada umur 4-7 hari dengan dosis separuh dari dosis yang diberikan untuk ayam. Vaksinasi dapat dilakukan melalui tetes mata (intraokuler) atau air minum (per-oral). Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara (1) Spraying, yaitu menyemprotkan vaksin ke dalam kandang tertutup agar ungags dapat menghirupnya. (2) intrakloaka yaitu pengolesan vaksin pada kloaka. (3) intranasal yaitu penetesan vaksin pada lubang hidung. (4) intramuskuler, yaitu penyuntikan vaksin pada urat daging, terutama pada bagian dada dan paha. (5) subkutan, yaitu penyuntikan vaksin di bawah kulit. D. Pemotongan Paruh Puyuh termasuk unggas yang mempunyai sifat kanibal. Sifat ini akan timbul bila peternak kurang memahami tata laksana pemeliharaan yang benar, misalnya kepadatan populasi puyuh dalam satu kandang berlebihan, kekurangan pakan dan zat-zat pakan, gangguan yang tidak biasa dialami puyuh, serta penanganan yang salah. Hal ini menjadikan puyuh stress dan muncul sifat kanibalnya. Untuk mencegah adanya puyuh yang terluka akibat kanibalisme, peternak sebaiknya melakukan pemotongan paruh. Pemotongan paruh dapat dilakukan pada saat puyuh berumur satu hari. Berdasarkan hasil penelitian Wilson, et al (1975), pembakaran paruh seperempat bagian memberikan hasil yang baik bagi pertumbuhan dan efisiensi makanan, penampilan ternak, dan mengurangi kanibalisme. E. Sexing Sexing dapat dilakukan saat puyuh berumur 1 hari, starter, atau pada masa grower, dengan melihat warna bulu di atas matanya. Bulu di atas mata puyuh jantan membentuk garis lengkung berwarna gelap. Selain itu, sexing juga dapat dilakukan dengan melihat lubang kloaka. F. Perawatan Umum

Menjelang minggu ketiga atau ke empat merupakan masa pemeliharaan anak puyuh, pemeliharaan anak puyuh mulai dibedakan berdasarkan tujuannya. Disini yang akan dilakukan yaitu perawatan puyuh petelur. Puyuh yang di pilih berumur 4 bulan, badan berukuran sedang (1,5-1,6 ons), sehat, bergairah, tidak kanibal, mata bening, dan badannya tegap. Bulu puyuh harus mengkilap, tumbuh teratur, dan tidak rontok. Selain itu, puyuh berasal dari keturunan induk yang kemampuan bertelurnya baik. 3.5 Penyakit Puyuh Puyuh termasuk salah satu unggas yang peka terhadap penyakit tertentu. Selain menimbulkan kematian, penyakit yang menyerang unggas mungil ini dapat meningkatkan morbilitas (tingkat kesulitan hidup pada individu atau kelompok ternak). Akibatnya, biaya pengobatan meningkat. Selain itu, ternak unggas yang telah sehat sering bertindak sebagai carrier (pembawa bibit penyakit). Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang ternak puyuh :
A. Radang usus (Quail Enteritis)

Radang usus di tandai dengan puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, serta kotoran berair dan mengandung asam urat. Hal ini disebabkan oleh bakteri anaerob yang membentuk spora dan menyerang usus sehingga timbul peradangan pada usus dan juga dapat mengakibatkan kerusakan hati. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara memperbaiki tata laksana pemeliharaan serta pemisahan burung puyuh sehat dengan puyuh yang telah terinfeksi penyakit. Pemberian streptomycin melalui air minum dengan dosis 1 g/5 liter air minum atau injeksi kanamycin dengan dosis 2-3 mg/ekor dapat mengobati puyuh yang sudah terlanjur sakit. B. Tetelo (Newcastle Disease) Gejala tetelo terlihat dari puyuh tampak lesu, nafsu makan menurun, kehausan, sesak nafas, ngorok, bersin, bulu kusam, mencret berwarna putih hijau, dan produksi telur menurun. Hal ini disebabkan oleh virus yang biasanya menyerang unggas seperti ayam, dll. Dan merupakan penyakit menular dan tidak jarang menimbulkan kematian. Pencegahannya dapat dilakukan dengan cara membersihkan dan mengapur kandang dengan NaOH 2% di tambah formalin 1-2%. Selain itu dengan menambahkan vaksin ND melalui air minum, tetes mata, tetes hidung, penyuntikan maupun penyemprotan.

C. Pullorum Penyakit ini sering disebut juga dengan berak putih atau berak kapur, dengan gejala kotoran puyuh berwarna putih, sedangkan gejala umum lainnya nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut, dan sayap menggantung lemah. Untuk pencegahannya sama dengan penyakit tetelo, semua burung puyuh yang mati akibat penyakit ini harus di bakar atau di kubur dalam-dalam. Sementara pengobatannya cukup dengan diberi Furazolidone. D. Coccidiosis Gejala ini ditandai dengan puyuh tampak lesu dan pucat, nafsu makan menurun, tetapi nafsu minum meningkat. Bulu kusut, dan bulu disekitar anus kotor oleh tinja yang bercampur darah. Penyakit ini sering disebut dengan berak darah. Pencegahannya dapat dilakukan dengan sanitasi kandang. Selain itu kandang yang tercemar oleh oocyt dapat diberi larutan amoniak 20%, dengan penyiraman deterjen panas atau air soda. Dan pengobatannya dapat dilakukan dengan baiko sebanyak 2 cc/liter air untuk 2 hari.
E. Cacar Unggas (Fowl Pox)

Gejalanya dapat dilihat dari timbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu seperti pada pial, kaki, mulut, dan faring yang bila dilepas akan mengeluarkan darah. Penyakit ini dapat di cegah dengan melakukan vaksinasi menggunakan vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfeksi. Pemberian antibiotika, vitamin, dan elektrolit dapat mencegah infeksi skunder dan memperbaiki kondisi penderita. Pemberian iodium tincture dan suntikan vitamin A juga dapat mengobati penyakit ini. Dan masih ada lagi beberapa penyakit lain seperti Bronkhitis (Quail Bronchitis), Aspergillosis, Cacingan, Snot (Coryza). Flu Burung (Avian Influenza / Al) yang harus diperhatikan pengobatan dan pencegahannya. Hal ini tergantung pada virus/bakteri penyebab penyakit tersebut. 3.6 Pengawetan Telur

Untuk memperpanjang daya simpan serta menjaga kesegaran dan mutu isi telur konsumsi, diperlukan teknik penanganan yang tepat. Salah satu tekniknya adalah pengawetan, baik konvensional maupun modern, secara prinsip, proses pengawetan adalah menutup pori-pori kulit telur agar tidak dimasuki mikroba dan mencegah air serta gas keluar dari dalam telur. Cara pengawetan konvensional diantaranya adalah menggunakan panas, suhu rendah, dan menggunakan bahan pengawet seperti melapisi kulit telur dengan pembungkus kering (dry packing) dan perendaman (immersion in liquid). Sementara pengawetan modern dengan pengeringan dan dibuat bubuk (dengan memisahkan putih telur dan kuning telur sesuai kebutuhan). Tetapi cara pengawetan yang akan kita lakukan adalah dengan cara pengawetan dalam kantong plastik, pengawetan dengan cara ini merupakan pengawetan untuk menghambat penguapan air dan telur. Cara yang dilakukan hanya dengan cara memasukkan telur secukupnya ke dalam kantong plastik. Ujung kantong plastik yang terbuka di ikat dengan karet atau tali hingga hampa udara. Kemudian telur diletakkan dalam tempat penyimpanan. Dengan cara tersebut, telur dapat bertahan meski disimpan hingga 14 hari. Alasan kita menggunakan cara ini yaitu karena selain hemat biaya, waktu yang digunakan juga tidak terlalu lama. Karena hanya tinggal melakukan pengepakan dan pengikatan. 3.7 Analisis Usaha Analisis pemeliharan puyuh petelur dapat dilakukan dalam satu siklus atau setahun. Dalam analisis berikut, diasumsikan pengadaan puyuh dilakukan dengan memasukkan puyuh yang telah berumur dua bulan, lahan milik sendiri, dan perhitungan dilakukan selama satu siklus atau setahun. 1. Pengadaan Puyuh Pengadaan puyuh betina sebanyak 2000 ekor @ Rp 5.000,00 = Rp 10.000.000,00
2. Biaya Tetap (fixed cost)

1)

Empat sangkar untuk starter sampai bertelur dengan ukuran Rp 60 cm x 180 cm setinggi 5 tingkat (tahan hingga 6 tahun), 8 sangkar x Rp 450.000,00 x 1/6

600.000,00

2)

Tempat minum plastik sebanyak 40 buah (tahan hingga 3 Rp tahun), 40 x Rp 1.750,00 x 1/3

23.335,00

3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Sprayer sebanyak 2 buah @ Rp 7.500,00 20.000,00 x 1/2 Lampu TL sebanyak 2 buah, 2 x Rp 32.500,00 12.500,00 x 1/4 Sapu lidi sebanyak 12 buah, 12 x Rp 12.500,00 Cetok 2 buah, 2 x Rp 5.000,00 tahun seharga Rp 100.000,00/m2 7 m x 18 m Rp 100.000,00 Jumlah total

Rp

15.000,00 30.000,00 65.000,00 37.500,00 150.000,00 10.000,00

Ember plastik sebanyak 3 buah (tahan untuk 2 tahun) 3 x Rp Rp Rp

12 lampu kapal untuk pemanas (tahan 4 tahun), 12 x Rp Rp Rp

Pembuatan bangunan dan pagar berukuran 7 m x 18 m per 5 Rp 12.600.000,00 Rp 13.530.835,00

3. Biaya Relatif (variable cost)

1) 2) 3) 4) 5)

Pakan puyuh, 72 karung x Rp 125.000,00 Vitamin dan vaksinasi bulan Desinfektan @ 100 ml, 12 bulan x Rp 7.500,00 Tenaga kerja bulanan Jumlah total

Rp 9.000.000,00 Rp 240.000,00 300.000,00 90.000,00

Penerangan listrik 2 lampu TL C 40 watt, Rp 40.000,00 x 12 Rp Rp

Rp 4.800.000,00 Rp 14.430.000,00

4. Rekapitulasi pengeluaran Biaya pengadaan puyuh Biaya tetap (fixed cost) Biaya relative (variable cost) Jumlah total 5. Hasil rata-rata per-periode (satu tahun) Dengan tingkat produksi 80% maka akan didapatkan telur sebanyak, 80% x1.800,00 ekor x 365 hari = 525.600 butir. Hasil penjualan telur = 525.600 x Rp 120,00 Jumlah total Rp 63.072.000,00 Rp 63.072.000,00 Rp 10.000.000,00 Rp 13.530.835,00 Rp 14.430.000,00 + Rp 37.960.835,00

6. Hasil bersih per periode (satu tahun) Hasil bersih / periode = jumlah total 4 Biaya total (1 + 2 + 3)

= Rp 63.072.000,00 (Rp 10.000.000,00 + Rp 13.530.835,00 + Rp 14.430.000,00) = Rp 25.111.165,00