FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN

HULU TAHUN 2008

TESIS

Oleh

JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Junita Tatarini Purba : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri Pus Di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008, 2009 USU Repository © 2008

2

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh
JUNITA TATARINI PURBA 067023009/AKK

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

3

Judul Tesis

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi Konsentrasi

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 : Junita Tatarini Purba : 067023009 : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan : Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Dr. Ir. Erna Mutiara, M.Kes) Ketua

(drh. Rasmaliah, M.Kes) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Dr.Drs.Surya Utama, MS)

(Prof. Dr.Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc)

Tanggal lulus : 09 Juni 2009

SKM. Drs. M. Rasmaliah.Kes . M. Fikarwin Zuska. Siti Khadijah. M. Ir.Kes 2. Erna Mutiara.Kes : 1. drh.Si 3.4 Telah diuji pada Tanggal : 09 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS Ketua Anggota : Dr. Dr. M.

5 PERNYATAAN FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2008 TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperolah gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka. Juni 2009 Junita Tatarini Purba . Medan.

Sejak otonomi daerah program KB banyak mengalami kendala yang mengakibatkan turunnya tingkat pemakaian alat kontrasepsi.112). Variabel yang dominan pengaruhnya adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. jumlah anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah jumlah anak (Sig=0.333 orang dengan besar sampel 100 orang yang diambil secara proportional sampling. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak. pengetahuan dan sikap).014) dan sikap (Sig=0. Pemakaian Alat Kontrasepsi i .005). Jenis penelitian adalah survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. Populasi adalah seluruh istri PUS sebanyak 2. pendidikan.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi.041) sedangkan faktor pendukung dan pendorong yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. Kata kunci : Perilaku.6 ABSTRAK Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui program KB. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik ganda pada taraf kepercayaan 95%. Cakupan akseptor KB aktif di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu masih 42% dibandingkan dengan target nasional yaitu 75%.008). Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan lainnya dalam pengalokasian dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin. pengetahun (Sig=0.

The coverage of current user in Rambah Samo sub-district.333 wives of fertile age couple and 100 of them were selected for the samples of this study through proportional sampling technique. It is necessary to provide an extension to the society to enable them to understand and accept the norm of family planning that. It needs to improve the capability of the health providers that they are able to provide information about contraceptive and can understand and realize that the acceptors have their right for health reproduction and the right of consumer as the user of contraception device. It is suggested that the Health Office and the Civil Registration and Population Affairs of Rokan Hulu District need to cooperate and approach the stakeholder in allocating the budget for free contraceptive to the society of Rokan Hulu District especially to the poor families. Key words: Behavior. The purpose of this survey study with explanatory research type is to analyze the influence of predisposing factors (age. The data were analyzed through multiple logistic regression test with the level of confidence of 95%. education.112). they can form a happy and prosperous family by regulating and limiting childbirth. and attitude). district of Rokan Hulu reported is still 42% and this is still lower if compared to the national target of 75%.008). enabling factors (availability of contraception device and accessibility of contraception device service) and reinforcing factors (support from health providers and decision makers) on the use of contraception device. knowledge (Sig=0.014). while enabling and reinforcing factors are variable of availability of contraception device (Sig=0. The population for this study are 2. Use of Contraception Device ii .001) and support from health providers (Sig=0. knowledge. Family Planning Program has faced many constraints that resulted in the decrease of the rate of contraception use. Since the district autonomy had been started.005). The result of analysis shows that predisposing factors which have influence on the use of contraception device are number of child (Sig=0.041). The most dominantly influencing variable is the use of contraception device (Coefficient β = 3. number of child. in the end. and attitute (Sig=0.7 ABSTRACT One of the efforts done by the government to reduce the rate of population growth is through Family Planning Program (KB).

Erna Mutiara.Si dan Ibu Siti Khadijah. sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Ibu Prof. Ibu Prof. Medan. M.Ir. atas rahmat dan karuniaNya. Terimakasih tiada terkira juga kami sampaikan dengan tulus kepada Bapak Dr. 2.Ir. selaku Ketua Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.Kes dan Ibu drh.Kes.. M.Kes selaku pembimbing yang memberi perhatian. Fikarwin Zuska.Dra. semoga sukses dan bahagia selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa kepada Ibu Dr. bantuan dan kemudahan yang diberikan oleh berbagai pihak. Surya Utama. M. Penulis menyadari begitu banyak dukungan.Si. Bapak Dr. Drs.Drs. Penyusunan tesis ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan menyelesaikan Pendidikan S2 pada Sekolah Pascasarjana USU.8 KATA PENGANTAR Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. M. dukungan dan pengarahan hingga tesis ini selesai. Rasmaliah.Dr.Dr. 3.Sc. MS. SKM. penulis menyampaikan ucapan terimakasih. Chairun Nisa B. selaku Sekretaris Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. iii . T. Dengan penuh ketulusan hati. Ida Yustina. M. bimbingan. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga kepada: 1. penulisan tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. selaku tim penguji yang telah memberi masukan sehingga dapat menyempurnakan tesis ini. M.

ayahanda mertua B. ST buat semua doa. Akhirnya penulis berharap tesis ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia. khususnya Kabupaten Rokan Hulu. sumber inspirasi dan penghiburan. 6. ananda tersayang Davita Ephania dan Kezia Morasari. Semoga TYME membalas semua kebaikan yang telah diberikan dan melimpahkan berkat dan anugerahNya. Juni 2009 Penulis iv . Wildan Asfan Hasibuan. Purba. Manik dan seluruh sanak saudara yang telah memberikan dukungan dan bantuan selama penulis mengikuti pendidikan. yang telah banyak berkorban selama pendidikan. Medan. Suami tercinta Danni Suparman Rumahorbo. 5. Mursal Amir.9 4. ibunda mertua T. Ayahanda S. Rekan-rekan dan sahabat di Program Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Kesehatan Komunitas/Epidemiologi angkatan tahun 2006. Sitompul. harapan. Bapak dr. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu yang memberi izin dan dukungan selama pendidikan. ibunda M. Bapak dr. dan pengorbanan juga dukungan dan motivasi yang tiada pernah berhenti.Kes. 7. Rumahorbo. 8. M. selaku Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Riau dan seluruh staf yang telah memberikan bantuan dana pendidikan. H.

Diponegoro Komp. 12 Juni 1977 : Protestan : Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Jl.10 RIWAYAT HIDUP Nama Tempat/Tanggal Lahir Agama Alamat : Junita Tatarini Purba : Sarulla. RIWAYAT PEKERJAAN 2000 – Sekarang : Staf Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau v . Pemda Rokan Hulu Pasirpengaraian-Propinsi Riau Telp/HP : 081264734544 RIWAYAT PENDIDIKAN Tahun 1983 – 1989 Tahun 1989 – 1992 Tahun 1992 – 1995 Tahun 1995 – 1999 Tahun 2006 – 2009 : SDN 176377 Aeknatolu : SMPN Simamora : SMA N 3 Balige : FKM USU Medan : Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Program Kesehatan Studi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Konsentrasi Administrasi Komunitas/ Epidemiologi.

................................................................... Jenis Penelitian... 1.................................................................. 2........................................... Landasan Teori...............3....................................... ABSTRACT ... Pengertian Keluarga Berencana ........3...................................................... 2...........................................................2.......................... 2................................................2............... Program Keluarga Berencana Nasional ................................ 2.............................................................................................3................................2.......2...........................................1.......................................... Kontrasepsi ....... 3......................3................ 3...1.. 2....................................1............................................ 2.............................................2...... Kerangka Konsep ... Variabel dan Definisi Operasional.................................................... 3............................................. DAFTAR ISI................. DAFTAR GAMBAR ............................ BAB 1 PENDAHULUAN ................ vi ......................................................................... DAFTAR TABEL ......3........................ 3.............. 2. Permasalahan ......3....5............................1........... 3................. Jenis Metode Kontrasepsi .................2.......................... 2..................................................5.................................................. Konsep Perilaku Kesehatan ......................... 2..................... Populasi dan Sampel ......................................................................... Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................. Latar Belakang ............. 1......... DAFTAR LAMPIRAN .............4.......................................................................................... i ii iii v vi viii x xi 1 1 8 8 8 9 10 10 17 17 18 20 20 20 22 35 39 40 40 40 40 42 44 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..11 DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK ............3................................ Metode Pengumpulan Data.......................... Tujuan Penelitian ..... Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi ............................. 1................1..... KATA PENGANTAR ..............4.................................................................................. RIWAYAT HIDUP .........................................4........................................................................................ Hipotesis ............................... Pengertian Kontrasepsi .. 1................. 1................................ BAB 3 METODE PENELITIAN .... Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia......................................................2.... 2............................................5............ Manfaat Penelitian .................

............1...............................2........ Faktor Predisposisi .......................................................................................................... Faktor Predisposisi............................................................2......... Metode Analisis Data ................................................... Sikap ...........................................4............................. 5.............. 4........2............................6.................................... 4...... 6... Dukungan Petugas Kesehatan...... 4.......... DAFTAR PUSTAKA ........... 3.... Metode Pengukuran ......................... Karakteristik Responden ...... Deskripsi Lokasi Penelitian............ 46 50 52 52 52 52 53 54 54 56 59 60 61 62 64 65 66 67 68 68 70 72 73 76 76 84 92 97 99 99 99 101 vii ............2.............................. Kependudukan ..............5........................... 4.....................................2..........................2....1........................................................................ 4........... Sarana dan Prasarana Kesehatan......................................3......... 4......... 4. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi.............. Faktor Pendukung . 4....................... 4.........1....................3...............7....................2.......3.................. Keadaan Geografis..12 3. BAB 4 HASIL PENELITIAN ........................2.... 4......................................... Kesimpulan ........................2......................... Analisis Multivariat ...................................9...1....2.. Faktor Pendorong . 4...1. BAB 6.................. 5......................... Saran ........................................... KESIMPULAN DAN SARAN ..... Faktor Pendorong..................... Pengambil Keputusan Dalam Keluarga ....................................... Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi.......2....2..................... 4................................ 4.4....... 4....................8...............2...... 5................................................ 5.... 4........................................ Analisis Univariat...............1..................................3................... 4.........3.......... Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi..1........................................................1.............................. Pengetahuan ..................... 4......3...................................... 6.........2.......................... Analisis Bivariat ........................................4. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi ................................................................2...... 4.3....... PEMBAHASAN .2......................................3................... BAB 5. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi.......10............. 4....7........1................. 4......................... Faktor Pendukung...............................................6..................................................... Ketersediaan Alat Kontrasepsi..................

........ 60 4......... Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ................ 55 4..................................13 DAFTAR TABEL Nomor 2. 60 4............. 62 viii ........................................... 62 4. 43 4. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008.............. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktorfaktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......6...... Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ........1.......................................8.................................................9.....................1....... Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ............... 61 4..... Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...................... 53 4......... 58 4................................................2.......... Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..4.3............. 42 3...........1................. Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008........................ Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..............5....................................................2.................... 3.........7......... 61 4............................................................. Judul Halaman 27 Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional.............. Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .............

.....................14.......14 4........... 4................................................. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .............. Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008.......11................................. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ...........................15................ 4............ 4...........20.......13..................... 4. 74 ix ..... 4... 4.........................................17.... Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .................. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan 66 67 68 70 72 73 Rambah Samo Tahun 2008 ................. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan Dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008................16................... Rambah Samo Tahun 2008 ..... 4........ Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ... Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ......................12............... Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 .......... 4.................................10.. 4.18......... Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan 63 64 64 64 4................. Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 ..................................19.........

.................... 2...... 38 39 2......... Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu.............. Judul Halaman 24 30 31 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi....3...... x .... Kerangka Konsep Penelitian ................ 2..... Kelompok dan Komunitas ...........2...............1.....15 DAFTAR GAMBAR Nomor 2......... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi.5....................................4... Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesertaan dalam Program KB .. 2.............................

................................. 117 Analisis Bivariat .......................................... 140 Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ........................................................................ 141 2...... 4...................... 135 Surat Izin Penelitian .. Judul Halaman Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 ........... 112 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov............ 127 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) ....... 7....... 115 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi)............. xi .............................. 106 Uji Validitas dan Reliabilitas Data .............................................................................. 8........................... 6................................ 3.........................................16 DAFTAR LAMPIRAN Nomor 1...... 5.......................

dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. struktur . mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Negara yang kuat didukung oleh masyarakat yang sehat dan sejahtera. perdamaian abadi dan keadilan sosial. kemauan.1. penyebaran penduduk yang tidak merata. Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi bangsa Indonesia. baik masyarakat.17 BAB 1 PENDAHULUAN 1. 2004). Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak luput dari masalah kependudukan. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran. Pembangunan bidang kesehatan ini menjadi tujuan pemerintah untuk menuju tercapainya Tujuan Nasional Bangsa Indonesia sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. swasta maupun pemerintah (Depkes RI. dan kesejahteraan akan sulit dicapai tanpa kesehatan rakyat serta tingkat pemerataan penduduk. Secara garis besar masalah pokok di bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi.

18

umur muda, dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan (Wiknjosastro, 1999). Selama kurun waktu 2000-2005 jumlah penduduk Indonesia cenderung berfluktuasi, tahun 2000 sebanyak 205,1 juta jiwa, tahun 2005 meningkat menjadi 218,9 juta jiwa dan tahun 2006 meningkat lagi menjadi 222,2 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 117,6 jiwa per km2 (BPS, 2007). Penyebaran penduduk sampai tahun 2005 tidak merata baik antar pulau maupun antar propinsi, dan data menunjukkan 58,7% penduduk berada di Pulau Jawa (Depkes RI, 2007). Salah satu upaya untuk menurunkan tingkat pertumbuhan penduduk adalah melalui upaya pengendalian fertilitas yang instrumen utamanya adalah Program Keluarga Berencana (KB) (Hatmadji, 2004). Sejak pertama kali dicanangkan tahun 1970, program KB telah menunjukkan hasil dengan terjadinya penurunan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) dan Total Fertility Rate (TFR), sedangkan tingkat pemakaian kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) mengalami peningkatan. Pada periode tahun 1980-1990 LPP adalah 1,97%, tahun 1990-2000 turun menjadi 1,45% dan tahun 2000-2006 turun lagi menjadi 1,34% (BPS, 2007a). TFR tahun 1971 adalah 5,6 per wanita pasangan usia subur (PUS), tahun 1980-1990 turun menjadi 2,34 dan pada tahun 2000-2005 turun lagi menjadi 2,28 (BPS, 2007b). Angka ini menunjukkan penurunan TFR dari waktu ke waktu tetapi belum mencapai target nasional yaitu 2,1 (BKKBN, 2005). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan

19

Indonesia (SDKI) menunjukkan peningkatan CPR dari 54,7% (tahun 1994) menjadi 57,4% (tahun 1997) dan 60,3% (tahun 2002-2003) (BPS, 2005). Peran pihak swasta dalam melayani kebutuhan masyarakat dalam ber-KB khususnya dalam pendistribusian alat kontrasepsi modern mengalami peningkatan dari 42% (tahun 1997) menjadi 63% (tahun 2003), sedangkan peran pemerintah menurun dari 43% (tahun 1997) menjadi 28% (tahun 2003). Tempat pelayanan untuk akseptor KB baru di klinik KB pemerintah pada tahun 2005 sebanyak 59,66% sedangkan swasta sebanyak 5,47% (Depkes RI, 2007). Kurangnya mengakibatkan peran pemerintah dalam menggalakkan yang akan program KB

tingginya pertambahan

penduduk

menyebabkan

meningkatnya kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan, dan pelayanan lainnya. Ketidakmampuan menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup, berdampak pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan (Herlianto, 2008). Berdasarkan laporan BPS tahun 2007 jumlah penduduk miskin sebesar 16,58% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 37,17 juta jiwa (BKKBN, 2009). Hal ini mengakibatkan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Menurut United Nations Development Program/UNDP (2008), IPM Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,728 menduduki peringkat 107 dari 177 negara. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Indonesia belum mampu untuk memanfaatkan jumlah populasinya yang besar menjadi kekuatan ekonomi dan harus segera mengatur laju pertumbuhan penduduknya (Herlianto, 2008).

20

Sejak tahun 1997 program KB tidak lagi popular dan mengalami stagnasi, hal ini terlihat dari jumlah peserta KB aktif yang belum mencapai target yang ditetapkan oleh BKKBN yaitu 75%. Menurut SDKI 1997 angka kesertaan KB sebanyak 57,4% dan SDKI 2002-2003 sebanyak 60,3% (BKKBN, 2005). Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2003 persentase KB aktif terhadap PUS adalah 54,5% meningkat menjadi 57,9% pada tahun 2006 (Kasmiyati, 2008). Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan program KB tersebut di antaranya adalah pengadaan alat kontrasepsi yang masih kurang, jumlah petugas KB lapangan (PLKB) yang minim, serta kebijakan pemerintah di tiap daerah tidak sama (BKKBN, 2004). Memasuki era desentralisasi/otonomi daerah, setiap pemerintah daerah tingkat II (kabupaten/kota) memiliki otoritas penuh untuk memilih dan memilah program yang paling penting bagi daerahnya. Hampir 70% kantor BKKBN di daerah menjadi satu dengan dinas-dinas pemerintah lainnya, hanya sedikit lembaga BKKBN yang berdiri sendiri. Umumnya urusan KB digabungkan dengan bidang kesejahteraan sosial atau catatan sipil dan kependudukan. Selain itu, daerah menunjukkan komitmen yang rendah untuk menjamin kelembagaan KB dalam peraturan daerah (BKKBN, 2004). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia juga diperkirakan ikut menjadi salah satu penyebab, karena berpengaruh terhadap daya beli masyarakat termasuk kontrasepsi. Sementara itu belum semua rakyat miskin mendapatkan akses pelayanan

158 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 328.09%).26%. Sedangkan Kecamatan Rambah Samo sebagai salah satu kecamatan di Kabupaten Rokan Hulu merupakan daerah baru yang dibuka pada tahun 1979/1980 khusus untuk tujuan transmigrasi.503 jiwa diantaranya adalah masyarakat miskin dengan mata pencaharian sebagian besar penduduk pada sektor pertanian. dan lain-lain 0. Keadaan demografi pada tahun 2007 terdiri dari 79.26%.86%. Suntik 37. Fakta lainnya adalah bahwa hingga saat ini ketersediaan alat kontrasepsi. Pil 48.594 orang dengan akseptor KB aktif 926 (58. hal ini mengakibatkan minimnya CPR di kalangan PUS (Herlianto. Kabupaten Rokan Hulu sebagai kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Kampar pada tahun 1998 juga mengalami hal yang sama.92%.26%. masih sulit direalisasikan (Beni. perkebunan dan perdagangan. khususnya dengan harga terjangkau bagi PUS keluarga miskin baik di perkotaan maupun di daerah pedesaan. 2008). Sedangkan tahun 2007 jumlah PUS sebanyak 2. Jumlah PUS di Kecamatan Rambah Samo pada tahun 2004 sebanyak 1.43%. Implant 6. Kabupaten yang terdiri dari 14 kecamatan ini menghadapi berbagai permasalahan yang harus segera diatasi sebagai kabupaten baru. Kondom 0.333 orang dengan akseptor . dengan pemakaian kontrasepsi IUD 6. 71.21 KB khususnya alat kontrasepsi gratis. Salah satunya adalah permasalahan bidang KB dan kependudukan yang masih banyak mengalami kendala sehingga mengakibatkan pencapaian akseptor KB aktif tiap tahunnya masih di bawah target nasional.306 jiwa. 2003).

Implant 7. pengetahuan.22 KB aktif 982 (42. keyakinan. sehingga hanya beberapa jenis alat kontrasepsi saja yang tersedia dan jumlahnya belum mencukupi.04%. determinan perilaku atau tindakan seseorang dipengaruhi oleh 3 faktor. Kondom 1. yakni faktor predisposisi (pengetahuan.44%. kurangnya dukungan dari petugas kesehatan. serta alat kontrasepsi yang kurang tersedia di sarana kesehatan. faktor pendukung (tersedia atau tidak tersedianya fasilitas). diduga beberapa aspek yang menjadi faktor penyebab masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi adalah kurangnya informasi tentang alat kontrasepsi. . dan sebagainya). Pencapaian akseptor KB aktif masih rendah dibandingkan dengan target nasional yaitu 75% (Dinas Kesehatan Kab. Rokan Hulu. perilaku.94%. Informasi yang diperoleh dari Kepala Bidang Kependudukan dan KB Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu tahun 2007.44%. nilai-nilai. budaya. faktor yang memperkuat atau mendorong (sikap. keahlian dan dukungan petugas) dalam melayani kesehatan di masyarakat.02%. Menurut Green dan Kreuter (2005). Pil 35.09%) dengan pemakaian kontrasepsi IUD 8. Suntik 46. sikap. kepercayaan. Hal ini disebabkan karena dana yang tersedia untuk pengadaan alat kontrasepsi terbatas. 2008). Berdasarkan pengamatan di lapangan. biaya untuk membeli dan memasang kontrasepsi yang tidak terjangkau.12% dan lain-lain 1. diketahui bahwa pengadaan alat kontrasepsi untuk masyarakat belum mencukupi dan tidak terdistribusi secara merata.

Hasil penelitian Sakhnan (2001) melaporkan faktor usia. jumlah anak. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. Masih rendahnya partisipasi pria ber-KB antara lain disebabkan kondisi lingkungan sosial budaya masyarakat yang masih kurang mendukung. pengambil keputusan dalam keluarga) dan pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi implant. nilai anak bagi keluarga. jarak lokasi ke pelayanan KB. pengetahuan dan kesadaran pria dan keluarganya masih rendah. serta keterbatasan penerimaan dan aksesibilitas terhadap pelayanan KB dan kesehatan reproduksi (BKKBN. 2005). psiko-sosial. Hasil penelitian Meutia (1997) menunjukkan bahwa ada pengaruh karakteristik (pekerjaan. jumlah anak. demografi. pengetahuan. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. agama. Syamsiah (2002) mengatakan bahwa faktor sosial budaya adalah semua faktor yang ada di masyarakat yang mempengaruhi penerimaan suatu jenis alat kontrasepsi antara lain: sosio-ekonomi. .23 Manuaba (1998) mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya tingkat ekonomi. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh faktor predisposisi (umur. sikap). pengetahuan. pendidikan. perilaku petugas merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan ibu PUS dalam program KB. dan pengetahuan.

1.2.3. jumlah anak. pengambil . 1. Permasalahan Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah faktor predisposisi (umur. Hipotesis Faktor predisposisi (umur. pengambil keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008. 1. sikap). keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. jumlah anak. pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Tujuan Penelitian Untuk menganalisis pengaruh faktor predisposisi (umur. pengetahuan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. sikap). jumlah anak. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan. sikap). faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pendidikan.4.24 pengambil keputusan) terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. pengetahuan. pendidikan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. pengetahuan.

Manfaat Akademis Untuk menambah wawasan bagi peneliti lain guna pengembangan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat khususnya di bidang administrasi kesehatan komunitas.25 keputusan) berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. . 1.5. 2. Bagi Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dan informasi bagi penyusunan kebijakan terkait dengan KB dan penggunaan alat kontrasepsi dan kebijakan menyangkut pelayanan publik dalam bidang kesehatan masyarakat. Manfaat Penelitian 1.

10 .26 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. faktor-faktor yang mendukung (enabling factor). ketersediaan makanan yang bergizi. tempat pembuangan sampah. poliklinik. rumah sakit. yakni faktor predisposisi (predisposing factor).1. polindes. Perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor. Konsep Perilaku Kesehatan Menurut Green dan Kreuter (2005). kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok. a) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor) Faktor-faktor ini mencakup: pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan. b) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat. dan faktor-faktor yang memperkuat atau mendorong (reinforcing factor). tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. dan sebagainya. yakni perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). posyandu. sistem nilai yang dianut masyarakat. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas. tingkat pendidikan. dokter atau bidan praktek swasta. Faktor-faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya perilaku. maka sering disebut faktor pemudah. tempat pembuangan tinja. tingkat sosial ekonomi. misalnya: air bersih. dan sebagainya. pos obat desa.

peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. c) Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma). dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Dalam perkembangannya. para petugas. sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. dan dukungan fasilitas saja. Untuk berperilaku sehat. penciuman. masyarakat memerlukan sarana dan prasarana pendukung. . melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat.27 dan sebagainya. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. atau faktor pemungkin. rasa dan raba. Di samping itu undang-undang juga diperlukan untuk memperkuat perilaku masyarakat tersebut. lebih-lebih para petugas kesehatan. yakni: 1. tokoh agama (toga). masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. yakni indera penglihatan. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. tokoh agama. maka faktor-faktor ini disebut faktor pendukung. pendengaran. teori Green ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang. Untuk berperilaku sehat.

dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. pengertian KB. b) Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. manfaat KB dan dimana memperoleh pelayanan KB. Selanjutnya Notoatmodjo (2007) mengatakan bahwa pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan: a) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. Termasuk kedalam pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.28 Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat . menguraikan. Contohnya adalah mendapatkan informasi tentang KB. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. menyatakan dan sebagainya. 1986). Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan. mendefenisikan.

tetapi masih di dalam satu struktur organisasi. Misalnya. meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. dapat menyesuaikan. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum. dan sebagainya. d) Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. membedakan. dapat merencanakan. dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. metode. rumus. e) Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. menyebutkan contoh. dan masih ada kaitannya satu sama lain. dapat menyusun. c) Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. . dapat meringkaskan.29 menjelaskan. menyimpulkan. prinsip. seperti dapat menggambarkan (membuat bagan). Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. memisahkan. mengelompokkan. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja.

Sikap (Attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri. Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya terhadap informasi KB. 2. tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Notoatmodjo (2003) yang mengutip pendapat Newcomb. akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. pengertian dan manfaat KB. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial.30 f) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. serta . Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup.

fasilitas dan sarananya. terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah. saudaranya dan sebagainya) untuk pergi ke sarana kesehatan untuk mendapatkan pelayanan KB adalah suatu bukti bahwa ibu tersebut telah mempunyai sikap positif. . sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu: (Notoatmodjo. dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. c) Menghargai (Valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. b) Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya. Misalnya sikap orang terhadap KB dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang KB. adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.31 kesediaannya mendatangi tempat pelayanan KB. mengerjakan. Seperti halnya dengan pengetahuan. 2003) a) Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain (tetangganya. juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri.

Sikap ibu yang positif terhadap alat kontrasepsi harus mendapat konfirmasi dari suaminya. dan lain-lain. Selain fasilitas. 3. meskipun mendapat tantangan dari suami atau mertuanya. misalnya dari suami atau istri. sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon secara positif maupun negatif terhadap orang. objek ataupun situasi tertentu. orangtua atau mertua. Misalnya. Sikap mengandung suatu penilaian emosional (senang. . seorang ibu mau memakai alat kontrasepsi. sedih. benci. untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau kondisi yang memungkinkan. juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihak lain. dan lain-lain) dan memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda. dan ada fasilitas yang mudah dicapai agar ibu tersebut dapat memakai alat kontrasepsi. Praktek atau tindakan (Practice) Menurut Sarwono (2007).32 d) Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. Beberapa tingkatan praktek adalah: a) Persepsi (Perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). antara lain adalah fasilitas.

yaitu: (1) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan. . (2) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan. maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga. keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek tertentu. Program Keluarga Berencana Nasional 2. atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. c) Mekanisme (Mechanism) Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis.2.1. (4) Menentukan jumlah anak dalam keluarga. Mochtar (1995) mengatakan keluarga berencana adalah suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah anak dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. d) Adopsi (Adoption) Adopsi adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. yang dikutip oleh Hartanto (2004).33 b) Respons terpimpin (Guided response) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua. 2. (3) Mengatur interval di antara kehamilan.2. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Pengertian Keluarga Berencana Menurut WHO (1970).

2. Perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia Permulaan pemikiran tentang KB di Indonesia tidak mempersoalkan angka kelahiran tetapi tingginya angka kematian ibu akibat terlalu sering melahirkan. Hal inilah yang menggugah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia kala itu Sarwono Prawirohardjo untuk mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada tanggal 23 Desember 1957. 1999). 2003). Konsep yang dikembangkan oleh PKBI adalah kesehatan ibu dan anak yang memberi inspirasi bagi pendirian Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang kemudian di kelola oleh Pemerintah Orde Baru.2.000 kelahiran bahkan tidak jarang ibu meninggal bersama bayinya (Wiknjosastro.34 Berdasarkan dua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa keluarga berencana adalah usaha-usaha yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun individu untuk mengatur jarak kelahirannya dengan menggunakan alat atau metode kontrasepsi. Secara umum tujuan keluarga berencana adalah untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera dalam upaya untuk menjarangkan kehamilan dan membatasi jumlah anak dua orang saja. disusul dengan keluarnya Keputusan . 2. upaya ini juga dapat menyehatkan kondisi sosial ekonomi keluarga (Saifuddin. berkisar pada 800 per 100. Keputusan pemerintah untuk menjadikan KB sebagai program nasional dan dinyatakan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.

Dengan program yang baru ini pemerintah memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi organisasi profesi serta sektor swasta lainnya dalam memberikan pelayanan KB. maka beberapa hal yang menyangkut tersedianya pelayanan yang mudah dicapai dan dijangkau masyarakat serta kualitas yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perlu diusahakan (KBKKBN. Memasuki Pelita V. Dengan demikian ketergantungan program KB terhadap pemerintah semakin berkurang. 1990). Proses pembangunan konsep KB mandiri berawal dari diperkenalkannya konsep alih peran kemudian berkembang menjadi alih kelola dan selanjutnya mengkristalkan menjadi KB Mandiri. pemerintah dalam hal ini BKKBN telah memperkenalkan satu program baru yang disebut dengan Gerakan KB Mandiri. Agar masyarakat mau membiayai sendiri pelayanan KB. Falsafah KB Mandiri pada hakekatnya merupakan keadaan dan sikap mental dari pemerintah maupun pengelola/pelaksana KB baik secara individu maupun kelompok dalam mengelola dan melaksanakan KB atas kemauan sendiri tanpa tergantung dari orang lain dalam memelopori menjadi peserta KB. 8 Tahun 1970 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).35 Presiden No. Untuk menunjang pelaksanaan KB Mandiri pada tahun 1988 telah dicanangkan program KB Lingkaran Biru (LIBI) dan akhirnya dilontarkan suatu kegiatan pemasaran sosial LIBI lengkap dengan logonya guna memperkenalkan .

Kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Untuk memperluas pilihan alat kontrasepsi terhadap kebutuhan ber-KB. tetapi suatu usaha yang bersamaan untuk lebih memberikan banyak pilihan kontrasepsi kepada peserta KB mandiri yang pada akhirnya dapat diharapkan memberikan kepuasan kepada akseptor (BKKBN.36 sederetan pelayanan swasta maupun alat kontrasepsi untuk KB. 2. Kontrasepsi 2. Metode sederhana tanpa alat/obat a.2. 2. menjarangkan kehamilan. Maka kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma tersebut.3. Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi adalah alat atau obat yang digunakan untuk menunda. Metode Amenorea Laktasi (MAL) b.3. maka tanggal 1 Juli 1992 telah diresmikan oleh Presiden Suharto sebuah lambang baru yaitu Lingkaran Emas (LIMAS). Metode KB alamiah (KBA) . Jenis Metode Kontrasepsi Metode/cara kontrasepsi menurut jenisnya dibagi menjadi: (Manuaba. serta menghentikan kesuburan. sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (ovum) yang matang dengan sperma yang akan mengakibatkan kehamilan. Pemasaran KB LIMAS bukan satu pengganti pemasaran kontrasepsi LIBI. 1998) 1. Kontra berarti mencegah atau melawan.1.3. 1992).

Susuk KB ( Bawah Kulit/AKBK) d. Suntikan KB c. Pil KB b. Sanggama terputus (coitus interruptus) 2. Metode sederhana dengan alat/obat (barrier) a. Pada wanita: Metode Operasi Wanita (MOW/Tubektomi) b. IUD ( Dalam Rahim/AKDR) 4. Metode efektif a. Diafragma c. Spermisida 3. Namun perlu diingat adanya aksioma (azas) kontrasepsi. Kondom b. . (2) cara yang terbaik hasilnya (efektif) adalah cara yang digunakan oleh pasangan dengan teguh secara terus menerus. Metode mantap dengan cara operasi a. (3) penerimaan pasangan terhadap suatu cara adalah unsur yang penting untuk berhasilnya suatu cara kontrasepsi. yaitu: (1) cara apapun yang dipakai adalah lebih baik daripada tidak memakai sama sekali.37 c. Pada pria: Metode Operasi Pria (MOP/Vasektomi) Cara-cara kontrasepsi tersebut mempunyai tingkat efektifitas yang berbedabeda dalam memberikan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan.

misalnya di banyak negara-negara sedang bekembang. 2004). gizi (di negara-negara sedang berkembang) dan pengukuran pendapatan tidak langsung lainnya.3. Faktor sosial lain yang juga mempengaruhi adalah suku dan agama. banyak sikap yang dapat menghalangi KB. juga jenis rumah. penggunaan kontrasepsi lebih banyak pada wanita yang berumur akhir 20-30 an yang sudah memiliki anak tiga atau lebih. Beberapa faktor sosio-psikologi yang penting antara lain .3. tetapi juga karena metode-metode tersebut mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan nasional KB. 2. dan seksualitas wanita atau biaya untuk memperoleh kontrasepsi (Muryani. Determinan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Berthrand (1980). Faktor sosio-psikologi Sikap dan keyakinan merupakan kunci penerimaan KB. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah sebagai berikut: 1. Indikator status sosio-ekonomi termasuk pendidikan yang dicapai. Faktor sosio-demografi Penerimaan KB lebih banyak pada mereka yang memiliki standard hidup yang lebih tinggi. kesehatan individu. Beberapa faktor demografi tertentu juga mempengaruhi penerimaan KB di beberapa negara. Bukan hanya karena terbatasnya jumlah metode yang tersedia. pendapatan keluarga dan status pekerjaan.38 Banyak orang kesulitan untuk menentukan pilihan kontrasepsi yang tepat. 2.

3. informasi dan edukasi (KIE) merupakan salah satu faktor praktis yang dapat diukur bila pelayanan KB tidak tersedia. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pelayanan KB antara lain keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB.39 adalah ukuran keluarga ideal. sikap terhadap KB. jarak ke pusat pelayanan dan keterlibatan dengan media massa. komunikasi suami isteri. Faktor yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan Program komunikasi. pengetahuan tentang sumber kontrasepsi. Secara ringkas faktor-faktor tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut: . pentingnya nilai anak laki. Sikap dan kepercayaan tersebut perlu untuk mencegah isu yang berhubungan termasuk segi pelayanan dan efek samping alat kontrasepsi. persepsi terhadap kematian anak.

permanen atau reversibel b. aman e. e. faktor-faktor penting bagi pasangan untuk memilih metode kontrasepsi adalah apakah metode tersebut: a. c. a. d. g. b. 1980 Gambar 2. mudah didapat .40 a. Faktor sosio-demografi Pendidikan Pendapatan Status pekerjaan Perumahan Status gizi Umur Suku Agama Faktor sosio-psikologi Ukuran keluarga ideal Pentingnya nilai anak laki Sikap terhadap KB Komunikasi suami-istri Persepsi terhadap kematian anak Faktor yang berhubungan dengan pelayanan Keterlibatan dalam kegiatan yang berhubungan dengan KB Pengetahuan tentang kontrasepsi Jarak ke pusat pelayanan Paparan dengan media massa Pemakaian Kontrasepsi a. e. efektif c. murah d. d.1. Sumber : Bertrand. f. c. d. b. h. c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi Menurut WHO dalam Wiknjosastro (1999). b.

Sebaliknya. harus digunakan setiap saat pasangan berhubungan seksual Karakteristik pasangan seperti umur. pasangan yang tidak menginginkan anak lagi mungkin menilai keefektifan metode lebih dari kemudahan penggunaan. Kadang-kadang informasi yang diberikan tidak benar sehingga menimbulkan kesalahan pengertian tentang penggunaan kontrasepsi.41 f. memiliki efek samping yang tidak diinginkan h. mudah digunakan dan tidak putus pakai g. Tidak semua faktor ini sama pentingnya pada tiap pasangan. melindungi terhadap penyakit hubungan seksual j. membutuhkan kerjasama pasangan k. Menurut Affandi dalam Mutiara (1998). seorang wanita yang menginginkan menunda kelahiran mungkin lebih menilai kenyamanan dan kemudahan penggunaan daripada keefektifan metode. Sebagai contoh. Pemilihan metode kontrasepsi mungkin juga dipengaruhi oleh informasi yang diterima dari teman atau kerabat. faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian kontrasepsi adalah: . Kepentingan faktor-faktor ini mungkin berubah dari waktu ke waktu karena keinginan pasangan untuk mengganti metode kontrasepsi yang digunakan. jumlah dan jenis kelamin anak. dan frekuensi hubungan seksual juga mungkin mempengaruhi. dapat digunakan pada saat menyusui i.

. Kurun waktu yang paling aman adalah umur 20-35 tahun dengan pengaturan: 1. Pilihan ini sangat pula tergantung pada pengetahuannya tentang kontrasepsi tersebut. berapa perbedaan jarak umur antara anak. Faktor subyektif Bagaimanapun baiknya suatu alat kontrasepsi baik dipandang dari sudut kesehatan maupun rasionalitasnya namun belumlah tentu dirasakan cocok dan dipilih oleh akseptor/calon akseptor. Kemudian menyelesaikan besarnya keluarga sewaktu istri berusia 30-35 tahun dengan kontrasepsi mantap b. baik yang didapat dari keluarga/kerabat maupun yang didapat dari petugas kesehatan atau tokoh masyarakat. anak kedua lahir sebelum ibunya berumur 30 tahun 3. anak pertama lahir sesudah ibunya berumur 20 tahun 2. Faktor pola perencanaan keluarga. berapa sebaiknya jumlah anak sesuai kondisi.42 a. jarak antara anak pertama dan kedua sekurang-kurangnya 2 tahun atau diusahakan jangan ada 2 anak balita dalam kesempatan yang sama. Dalam perencanaan keluarga harus diketahui kapan kurun waktu reproduksi sehat. Seorang wanita secara biologik memasuki usia reproduksinya beberapa tahun sebelum mencapai umur dimana kehamilan dan persalinan dapat berlangsung dengan aman dan kesuburan ini akan berlangsung terus menerus sampai 10-15 tahun sesudah kurun waktu dimana kehamilan dan persalinan itu berlangsung dengan aman. Adalah mengenai penentuan besarnya jumlah keluarga yang menyangkut waktu yang tepat untuk mengakhiri kesuburan.

. Biasanya pemilihan kontrasepsi juga disesuaikan dengan maksud penggunaan kontrasepsi tersebut. Suntikan c. IUD a. d. atau menghentikan sama sekali penggunaan kontraspsi.43 c. e. Faktor obyektif Pemilihan kontrasepsi yang digunakan disesuaikan dengan keadaan wanita (kondisi fisik dan umur) serta disesuaikan dengan fase-fase menurut kurun waktu reproduksinya. dipengaruhi oleh berbagai faktor. c. Faktor motivasi a. Konsep Pemilihan Alat Kontrasepsi yang Rasional Fase Mencegah Kehamilan Fase Menjarangkan Kehamilan Fase Mengakhiri Kehamilan a. akan merubah metode. c. 30-35 tahun Kontap IUD Implant Suntikan Pil Kelangsungan pemakaian kontrasepsi sangat tergantung dari motivasi dan penerimaan pasangan suami istri. Mereka yang menggunakan kontrasepsi dengan tujuan untuk membatasi kelahiran mempunyai tingkat kemantapan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bertujuan untuk menunda kehamilan. b. Motivasi akseptor KB untuk terus menggunakan kontrasepsi yang lama. d. b. Lebih lanjut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.1. Pil b. 20-21 tahun IUD Suntikan Pil Implant Umur d.

tingkat harapan hidup saat lahir e. persentase penduduk wanita berumur 20-24 tahun yang belum pernah kawin g. persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang sakit selama seminggu j. persentase rumah tangga yang memiliki radio b. persentase penduduk yang tinggal di daerah kota d. persentase penduduk wanita berumur 15-24 tahun yang belum pernah kawin h. persentase penduduk yang dapat berbahasa Indonesia f. faktor-faktor yang mempengaruhi kesertaan dalam program KB adalah: 1. persentase rumah tangga yang memiliki televisi c. rata-rata jumlah anak yang masih hidup b. meliputi: a.44 Menurut Soeradji. angka fertilitas total 2. meliputi: a. Faktor demografi. dalam Mutiara (1998). jumlah guru SD per 10. dkk. kepadatan penduduk per km2 e.000 penduduk usia sekolah i. persentase penduduk umur 10 tahun atau lebih yang mendapatkan perawatan tenaga medis k. tingkat kematian bayi d. Faktor sosial. rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup c. persentase penduduk usia sekolah yang masih bersekolah .

45

l. persentase wanita yang pernah kawin umur 15-49 tahun 3. Faktor ekonomi, meliputi: a. rasio ketergantungan antara penduduk umur 0-9 dan 55+ tahun terhadap yang berumur 10-54 tahun b. persentase wanita yang bekerja c. partisipasi angkatan kerja wanita d. persentase wanita yang bekerja pada pekerjaan tradisional e. persentase petani yang tidak memiliki tanah f. rata-rata luas sawah 4. Faktor infra struktur, meliputi : a. persentase rumah tangga yang mendapatkan leding b. jumlah gedung SD per 10.000 penduduk usia sekolah c. jumlah gedung SMTP per 10.000 penduduk usia sekolah d. persentase sawah dengan irigasi e. persentase tanah sawah 5. Faktor input, meliputi : a. jumlah dokter per 10.000 wanita umur 20-24 tahun b. jumlah bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun c. jumlah pembantu bidan per 10.000 wanita umur 20-24 tahun d. jumlah klinik KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun e. jumlah petugas lapangan KB per 10.000 wanita umur 20-24 tahun

46

f. jumlah pembantu pembina KB desa per 10.000 wanita umur 20-24 tahun g. rata-rata hari kerja klinik per minggu Kelima faktor-faktor tersebut dapat digambarkan seperti gambar di bawah ini: Faktor Demografi

Faktor Sosial Faktor Input Faktor Ekonomi Kesertaan dalam program KB

Faktor Infra Struktur Sumber : Soeradji, dkk. dalam Mutiara (1998) Gambar 2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesertaan Dalam Program KB Menurut Utomo dalam Mutiara (1998), penggunaan kontrasepsi dipengaruhi oleh umur, jumlah anak hidup, tingkat pendidikan dan frekuensi pemaparan terhadap media massa. Umur mempengaruhi jumlah anak hidup dan tingkat pendidikan, dan tingkat pendidikan mempengaruhi frekuensi pemaparan terhadap media massa. Konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

47

Jumlah Anak Hidup

Frekuensi Pemaparan Terhadap Media Massa

Penggunaan Kontrasepsi

Tingkat Pendidikan Sumber : Utomo dalam Mutiara (1998)

Umur

Gambar 2.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Kontrasepsi Berdasarkan klasifikasi beberapa penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemakaian alat kontrasepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: A. Umur Masa kehamilan reproduksi wanita pada dasarnya dapat dibagi dalam tiga periode, yakni kurun reproduksi muda (15-19 tahun), kurun reproduksi sehat (20-35 tahun), dan kurun reproduksi tua (36-45 tahun). Pembagian ini didasarkan atas data epidemiologi bahwa risiko kehamilan dan persalinan baik bagi ibu maupun bagi anak lebih tinggi pada usia kurang dari 20 tahun, paling rendah pada usia 20-35 tahun dan meningkat lagi secara tajam setelah lebih dari 35 tahun. Jenis kontrasepsi yang sebaiknya dipakai disesuaikan dengan tahap masa reproduksi tersebut

(Siswosudarmo, 2001). Sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (1993) yang mengatakan bahwa umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam

15 dan 0. dengan pendidikan yang tinggi seseorang dapat lebih mudah untuk menerima ide atau masalah baru seperti penerimaan. Pendidikan Tingkat pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru. Orang yang berpendidikan lebih tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Sementara wanita yang berumur 30-34 tahun dan 35-39 tahun kemungkinannya untuk menggunakan kontrasepsi hanya sekitar 0. Ini mengisyaratkan bahwa ada penurunan penggunaan kontrasepsi pada kelompok wanita yang lebih tua. Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dang di Vietnam dalam Mutiara (1998) dilaporkan bahwa ada hubungan yang kuat antara umur dengan penggunaan kontrasepsi.73 kali dibandingkan dengan yang berumur 40 tahun atau lebih. Pendidikan juga akan meningkatkan kesadaran wanita terhadap manfaat yang dapat dinikmati bila ia mempunyai jumlah . Wanita yang berumur < 20 tahun kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. dan keinginan terhadap jenis kelamin tertentu. Pendidikan juga mempengaruhi pola berpikir pragmatis dan rasional terhadap adat kebiasaan. Demikian pula halnya dengan menentukan pola perencanaan keluarga dan pola dasar penggunaan kontrasepsi serta peningkatan kesejahteraan keluarga (Manuaba.38. 1998).48 pemakaian alat kontrasepsi. pembatasan jumlah anak. Mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda. B.

Jumlah anak Mantra (2006) mengatakan bahwa kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Pola yang sama juga dijumpai dengan pendidikan suami. Wanita dengan jumlah anak 4 orang atau lebih memiliki kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi . C.88 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi.55 kali dibandingkan dengan wanita yang berpendidikan menengah atau tinggi. Penelitian Dang dalam Mutiara (1998) menunjukkan bahwa pendidikan berhubungan bermakna dengan penggunaan kontrasepsi. Wanita yang tidak sekolah kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Hal ini berarti jumlah anak akan sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan dapat meningkatkan taraf hidup keluarga secara maksimal.49 anak sedikit. 2006). Wanita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung membatasi jumlah kelahiran dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah (Soekanto. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. Hasil penelitian Dang dalam Mutiara (1998) melaporkan ada hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan penggunaan kontrasepsi. Sementara wanita yang berpendidikan dasar kemungkinan untuk menggunakan kontrasepsi sebesar 0.

pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Pengetahuan Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. E.73 kali dibandingkan dengan wanita yang memiliki 2 orang anak atau kurang. D. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. .50 sebesar 1. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. 1986). Soeradji. sebab dari pengalaman dan hasil penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng (long lasting) daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Gerungan. dkk. Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Menurut Manuaba (1998). Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi.

Dukungan petugas kesehatan Untuk mengubah atau mendidik masyarakat seringkali diperlukan pengaruh dari tokoh-tokoh atau pemimpin masyarakat (community leaders). seniman. misalnya dalam masyarakat tertentu kata-kata kepala suku selalu diikuti. tetapi dapat juga tokoh-tokoh lain (professional. F. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. pakar.51 Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. keberhasilan program KB di Indonesia antara lain karena melibatkan ulama. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Untuk dapat digunakan. iklan-iklan obat atau pasta gigi di televisi menampilkan tokoh yang berpakaian dokter atau dokter gigi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). melalui kontak langsung oleh petugas program KB. Promosi metode tersebut – melalui media. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi. petugas kesehatan. dan sebagainya) tergantung pada jenis masalah atau perubahan yang bersangkutan (Sarwono. Untuk mengubah atau mendidik masyarakat diperlukan tokoh panutan yang dapat merupakan pemimpin masyarakat. Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. . ulama. ilmuwan. 2001).

Masyarakat di Indonesia khususnya di daerah pedesaan sebagai peran penentu dalam pengambilan keputusan dalam keluarga adalah suami. kebutuhan yang dirasakan. kemampuan . Ada 3 faktor yang mempengaruhi individu untuk bertindak yaitu faktor predisposisi (pengetahuan. dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian.4. saling kerjasama dalam pemakaian.52 G. nilai-nilai. Pengambil keputusan Program KB dapat terwujud dengan baik apabila ada dukungan dari pihakpihak tertentu. 2. membiayai pengeluaran kontrasepsi. keyakinan. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. karena suami/isteri sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Menurut Friedman (1998) dan Sarwono (2007) ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. Landasan Teori Konsep umum yang dijadikan sebagai landasan teori adalah teori Green dan Kreuter (2005) yang digunakan untuk menilai perilaku individu atau kelompok. sedangkan isteri hanya bersifat memberikan sumbang saran. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. sikap.

faktor pendukung (tersedia sarana dan prasarana) dan faktor pendorong (petugas kesehatan). ada tidaknya informasi dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak. perilaku kesehatan bertitik tolak dari niat seseorang. jenis kelamin. tanggung jawab.53 dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat). pendidikan. dukungan sosial. Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa determinan perilaku dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal serta menurut Robbins (1994). status perkawinan. Konsep tersebut dikombinasikan dengan teori Kar yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003). beberapa karakteristik individu meliputi umur. maka kerangka teori adalah sebagai berikut: . dan status masa kerja. Berdasarkan konsep tersebut.

dan komunitas Faktor Eksternal: 1. Pengetahuan 2. Robbins (1994). Keterampilan 5. kelompok. Nilai-nilai 5. Dukungan sosial Faktor Internal: 1. Politik) Sumber: Green dan Kreuter (2005). Lingkungan Biologik 3. Kemudahan untuk mencapai sumber daya 3. Pembuat keputusan 6. Notoatmodjo (2007). Kepercayaan 4. Lingkungan Sosial (Budaya. Kelompok dan Komunitas . Gambar 2. Lingkungan fisik 2. Teman 5.54 Faktor Predisposisi: 1. Pekerja 4. Sikap 3. Ekonomi.4. Panutan 3. Ketersediaan waktu Faktor Pendorong: 1. Tingkat emosional 3. Kerangka Teori Determinan Perilaku Individu. Masa kerja Genetika Perilaku dari individu. Jenis kelamin 4. Tingkat kecerdasan 2. Peraturan/Hukum 4. Ketersediaan sumber daya 2. Sikap dan perilaku petugas kesehatan 2. Kebangsaan 5. Usia 6. Persepsi Faktor Pendukung: 1.

jumlah anak. faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. sedangkan variabel dependen adalah pemakaian alat kontrasepsi. Dukungan petugas kesehatan 2. sikap). Kerangka Konsep Berdasarkan kerangka teori tersebut. maka peneliti merumuskan kerangka konsep penelitian sebagai berikut: Variabel Independen Faktor Predisposisi : 1. pengetahuan. Pengambil keputusan Gambar 2. Pendidikan 3. Jumlah anak 4. faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Faktor Pendorong : 1. Variabel Dependen Pemakaian alat kontrasepsi .5. Kerangka Konsep Penelitian Variabel independen dalam penelitian ini adalah faktor predisposisi (umur. Pengetahuan 5. Umur 2. Ketersediaan alat kontrasepsi 2. Sikap Faktor Pendukung : 1.55 2.5. pengambil keputusan). pendidikan. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi).

masih di bawah Indikator Indonesia Sehat 2010 yaitu 75%. Responden berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥2 b. Responden berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak 40 . 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu dengan tingkat akseptor KB aktif (current user) 42%.56 BAB 3 METODE PENELITIAN 3. 3.1. Sampel adalah seluruh isteri dari PUS yang tinggal menetap di Kecamatan Rambah Samo dengan kriteria sebagai berikut: a. Penelitian berlangsung selama 6 (enam) bulan yaitu pada bulan Juli 2008 sampai dengan Desember 2008.3. faktor pendukung dan faktor pendorong terhadap pemakaian alat kontrasepsi pada istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian survei dengan tipe explanatory research yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh antara faktor predisposisi. dan berdasarkan data di Puskesmas pada tahun 2007 berjumlah 2.333. Populasi dan Sampel Populasi adalah seluruh PUS yang ada di Kecamatan Rambah Samo.

Teknik pengambilan sampel dilakukan secara sampel berimbang (proportional sampling). 1997) n {Z1 / 2 Po(1Po)Z12 Pa(1Pa) }2 (PaPo) Keterangan: n : besar sampel Z1-α/2=1. 59(10. sebab banyaknya subjek yang terdapat pada setiap wilayah tidak sama..96 Z1-α/2 : nilai deviasi normal pada tingkat kemaknaan α = 0. yaitu istri yang berumur < 20 tahun (untuk menunda kehamilan) dan berumur > 35 tahun (untuk mengakhiri kesuburan).35 ≈ 88 (sampel minimal) Dengan mempertimbangkan faktor non respons sebanyak 10%. Teknik tersebut dilakukan untuk menyempurnakan penggunaan sampel wilayah.05 Z1-β : kekuatan uji (ditetapkan peneliti) bila β Po Pa 10%.42)2 n 88 . Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: (Lemeshow et. maka besar sampel yang diambil adalah 88 + 8.590. 96 0. maka Z1-β = 1. 59) }2 (0. 282 0. 42(10.8 = 96. sehingga sampel yang diteliti adalah seperti tabel berikut: .282 : proporsi PUS yang menjadi akseptor KB aktif : 42% : proporsi PUS yang diharapkan menjadi akseptor KB aktif : 59% n {1.8 dibulatkan menjadi 100 responden. 42)1.al.57 Kriteria ini dibuat dengan asumsi kelompok umur tersebut merupakan golongan istri yang sebaiknya memakai alat kontrasepsi sesuai dengan tujuan KB.

4. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Uji coba dilakukan pada bulan Juli 2008 terhadap 30 orang istri PUS yang berada di Kecamatan Rambah Samo Barat yang memiliki karakteristik yang sama dengan istri PUS di lokasi penelitian.1. Kantor Camat Rambah Samo. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.58 Tabel 3. Sebelum data dikumpulkan. terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen yang bertujuan untuk memastikan bahwa alat bantu yang akan digunakan (kuesioner) memiliki validitas dan reliabilitas.26 Besar Sampel 29 24 18 17 12 100 Setelah ditentukan banyaknya sampel pada setiap wilayah selanjutnya sampel ditentukan dengan cara sampel acak sederhana (Simple Random Sampling) yaitu mengambil sebagian dengan menggunakan tabel random (Pratiknya.333 Rekapitulasi Perhitungan Sampel 665/2333 x 100 = 28. 3. .35 409/2333 x 100 = 17.50 568/2333 x 100 = 24. dan BPS Kabupaten Rokan Hulu. Metode Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dari responden dengan metode wawancara menggunakan kuesioner sebagai panduan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi dan laporan yang tersedia di Puskesmas Rambah Samo. Besar Sampel yang Diteliti di Wilayah Kecamatan Rambah Samo Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 Nama Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Karya Mulya Masda Makmur Jumlah Jumlah PUS 665 568 409 405 286 2.36 286/2333 x 100 = 12. 2003).53 405/2333 x 100 = 17.

4345 0. dinyatakan reliabel dan jika r Cronbach Alpha < r tabel.9105 .6752 0.8090 0. maka pertanyaan valid dan jika nilai r hitung < r tabel. maka pertanyaan tidak valid (Riduwan.7457 0.6752 0. dengan ketentuan jika nilai r hitung > r tabel.7502 0. Teknik menghitung indeks reliabilitas dengan metode Cronbach Alpha.5843 0. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Penelitian Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi pada Istri PUS di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Pengetahuan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 7 8 1 2 3 4 5 r hitung 0.8655 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0.8655 0. yaitu menganalisis reliabilitas alat ukur lebih dari satu kali pengukuran dengan ketentuan jika r Cronbach Alpha > r tabel.4975 0.8843 Sikap 0.59 Uji validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur dan dilakukan dengan mengukur korelasi antara masing-masing item pertanyaan dengan skor total menggunakan rumus korelasi Pearson Product Moment (r).2. dinyatakan tidak reliabel (Riduwan. Uji reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya/diandalkan.8212 0.8212 0. 2002). 2002).7208 0. Hasil uji validitas dan reliabilitas kuesioner penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3.

2. pendidikan. sedangkan variabel terikat (dependent variable) adalah pemakaian alat kontrasepsi. pengambil keputusan). di atas dapat dilihat bahwa semua pertanyaan mempunyai r hitung lebih besar dari r tabel pada df = 28. demikian juga alpha lebih besar dari r tabel (0. α = 5% sebesar 0. dengan demikian kuesioner yang digunakan untuk penelitian sudah valid dan reliabel (Triton. Variabel Dukungan Petugas Kesehatan Butir Pertanyaan 1 2 3 4 5 6 r hitung 0.5. sikap). . 2006). faktor pendorong (ketersediaan alat kontrasepsi.361. 1.7908 0. keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). pengetahuan.4966 Status Valid Valid Valid Valid Valid Valid Cronbach Alpha Status Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel 0. dan faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan. Variabel dan Definisi Operasional Variabel bebas (independent variable) adalah faktor predisposisi (umur.7908 0.5818 0.60 Lanjutan Tabel 3. Pemakaian alat kontrasepsi adalah realisasi responden untuk memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi sebagai suatu cara atau metode untuk mencegah atau menjarangkan kehamilan maupun untuk mengakhiri kesuburan. 3.7908 0. Umur adalah jumlah tahun hidup responden pada saat wawancara yang dihitung dari ulang tahun terakhir (dibulatkan pada yang lebih mendekati).8301 Berdasarkan Tabel 3. 2.7908 0.2. jumlah anak.361).

Sikap adalah kecenderungan responden untuk memberikan penilaian atau pendapat tentang setuju atau tidak setuju dalam kaitannya dengan keputusan pemakaian alat kontrasepsi yang menyangkut sikap terhadap NKKBS. 5. 4. 9. . tujuan/manfaat. Pengetahuan adalah pengertian/pemahaman responden tentang alat kontrasepsi yang mencakup arti. efek samping. 7. 8. Pendidikan adalah jenjang sekolah formal tertinggi yang pernah ditempuh dan diselesaikan oleh responden dengan memperoleh tanda tamat belajar. Dukungan petugas kesehatan adalah pendapat atau persepsi responden terhadap keterlibatan petugas kesehatan dalam memberikan informasi ataupun penjelasan yang lengkap tentang alat kontrasepsi. jenis alat kontrasepsi. waktu tempuh dan biaya yang dikeluarkan oleh responden. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi adalah kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap pelayanan alat kontrasepsi dilihat dari segi jarak. Jumlah anak adalah banyaknya anak hidup yang dimiliki oleh responden pada saat penelitian.61 3. 6. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah ada atau tidak adanya alat kontrasepsi di puskesmas yang dibutuhkan oleh responden sesuai dengan keinginannya. jenis alat kontrasepsi yang cocok untuk ibu menyusui dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki.

jika ijazah terakhir SLTP/sederajat Skala : Ordinal . Dasar. Menengah. Tidak Pakai alat kontrasepsi Skala : Ordinal Variabel independen 1. Tinggi.62 10. Risiko tinggi : < 20 dan > 35 tahun Skala : Ordinal 2. Ya/Pakai alat kontrasepsi 1.6. jika ijazah terakhir minimal Diploma tiga (D3) 1. dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan konsep tinggi rendahnya risiko yang dihadapi oleh ibu pada waktu hamil dan bersalin. 3. Umur. berdasarkan Program Pendidikan Wajib Belajar 9 Tahun dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu: 0. Pengambil keputusan adalah orang yang menentukan responden untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan yaitu pemakaian alat kontrasepsi. dibagi menjadi 2 kategori: 0. Pemakaian alat kontrasepsi adalah responden yang pada saat wawancara memakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. 0. jika ijazah terakhir SLTA/sederajat 2. Pendidikan. Risiko rendah : 20-35 tahun 1. Metode Pengukuran Variabel dependen 1.

1989). dikelompokkan atas 2 kategori berdasarkan tujuan program KB yaitu: 0. Masing-masing jawaban yang benar diberi nilai 1 dan jawaban Tidak Tahu diberi nilai 0. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 8 buah dan responden bisa menjawab lebih dari satu jawaban sesuai dengan pilihan yang telah tersedia. Rendah. sehingga total skor maksimal adalah 31 dan skor minimal 0 (Arikunto. Jumlah pertanyaan sebanyak 5 buah. Tinggi. > 2 orang Skala : Ordinal 4. Sikap Diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot. 2006). apabila total skor responden > Median 1. Jumlah anak. jika responden menjawab Setuju diberi nilai . Pengetahuan Pengetahuan diukur dengan memberikan skor terhadap kuesioner dengan pemberian bobot (Singarimbun dan Efendy. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 5. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel pengetahuan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (13.63 3. ≤ 2 orang 1.5) yaitu: 0.

Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa total skor variabel sikap tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (2) yaitu: 0.5 km 1. 1. jika jarak dari rumah ke puskesmas > 2. apabila total skor responden > Median 1. sehingga nilai minimal adalah 0 dan nilai maksimal 5. jika responden menjawab alat kontrasepsi selalu tersedia dan sesuai dengan keinginan. Baik. Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi Jarak : berdasarkan kriteria yang dibuat oleh BPS dalam mengelompokkan ratarata jarak terdekat (km) dari rumah tangga ke fasilitas umum (BPS.64 1 dan jika menjawab Tidak Setuju diberi nilai 0. Skala : Ordinal 7. jika responden menjawab alat kontrasepsi tidak selalu tersedia dan tidak sesuai dengan keinginan. Ketersediaan alat kontrasepsi adalah 0. Tidak baik. Dekat. Jauh. Tersedia. jika jarak dari rumah ke puskesmas ≤ 2. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 6.5 km Skala : Ordinal . maka jarak dikategorikan sebagai berikut: 0. 2007a). Tidak tersedia.

65 Validasi data jarak dilakukan dengan menggunakan speedometer pada kendaraan sepeda motor. jika waktu tempuh tidak lebih dari 30 menit 1. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov diketahui bahwa total . Untuk mengukur dukungan petugas kesehatan adalah dengan memberikan skor 1 untuk jawaban Ya dan skor 0 untuk jawaban Tidak. Waktu : jika waktu yang dibutuhkan oleh responden untuk sampai di sarana kesehatan termasuk jika responden memiliki sarana transportasi (sepeda. jika waktu tempuh lebih dari 30 menit Skala : Ordinal Biaya : jika responden mengatakan tidak mengeluarkan biaya atau mengeluarkan biaya untuk pelayanan yang diterima. mobil) dan dengan memperhitungkan kondisi jalan yang mayoritas jalan tanah maka waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke sarana kesehatan dikategorikan sebagai berikut: 0. Mahal. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut terjangkau 1. Jauh. jika responden mengeluarkan biaya dan biaya tersebut tidak terjangkau Skala : Ordinal 8. Dukungan petugas kesehatan. Murah. sepeda motor. maka dikategorikan sebagai berikut: 0. Dekat. Jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 6 buah. sehingga total skor minimal adalah 0 dan skor maksimal 6.

faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi). 2. Tidak mendukung. Baik. faktor pendorong (dukungan petugas . Mendukung. pendidikan istri. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah musyawarah suami dan isteri.7. Pengambil keputusan dalam keluarga 0. jika yang mengambil keputusan terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah salah satu pihak atau orang lain diluar suami-istri. 1. Skala : Ordinal 3. pendukung dan pendorong serta variabel dependen yaitu pemakaian alat kontrasepsi.66 skor variabel dukungan petugas kesehatan tidak berdistribusi normal sehingga skor total tersebut dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai Median (3) yaitu: 0. jumlah anak. apabila total skor responden > Median 1. Analisis Bivariat Analisis bivariat digunakan untuk melihat sejauhmana hubungan variabel independen yaitu faktor predisposisi (umur. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi masing-masing variabel independen yang meliputi faktor predisposisi. Tidak baik. apabila total skor responden ≤ Median Skala : Ordinal 9. Metode Analisis Data 1. pengetahuan dan sikap).

.67 kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga) dengan variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dengan menggunakan uji chi square.25. pendukung dan pendorong) terhadap variabel dependen (pemakaian alat kontrasepsi) sehingga diketahui variabel independen yang dominan pengaruhnya terhadap variabel dependen dengan menggunakan regresi logistik ganda (multiple logistic regression) metode Forward Stepwise (Likelihood Ratio). Analisis Multivariat Analisis multivariat adalah untuk melihat pengaruh antara variabel independen (faktor predisposisi. 3. Syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat adalah jika pada analisis bivariat variabel independen memiliki nilai Sig < 0.

121 jiwa perempuan dengan tingkat 52 .9 km2 terdiri dari 5 desa.batas wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Rambah Hilir dan Kepenuhan Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Rokan IV Koto Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kunto Darussalam Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rambah Jarak dari ibukota kabupaten ± 17 km.1. Kependudukan Jumlah penduduk Kecamatan Rambah Samo Tahun 2007 adalah 11.293 jiwa yang terdiri dari 6. 15 dusun dan 25 Rukun Warga (RW) dengan rincian: Desa Rambah Utama dengan 2 dusun dan 8 RW Desa Rambah Baru dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Pasir Makmur dengan 2 dusun dan 4 RW Desa Karya Mulya dengan 6 dusun dan 6 RW Desa Masda Makmur dengan 3 dusun dan 3 RW 4.1. dengan luas wilayah 249.2. Keadaan Geografis Kecamatan Rambah Samo merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Rokan Hulu.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian 4. dengan batas .172 jiwa laki-laki dan 5.68 BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.

analis 1 orang.1. perawat 5 orang. Puskesmas tersebut juga didukung oleh 1 (satu) unit puskesmas keliling.3.69 kepadatan penduduk 45. bidan 3 orang. Setiap hari Rabu bidan di desa tersebut harus hadir di puskesmas untuk membantu pelayanan kesehatan karena pada hari tersebut jumlah pasien biasanya lebih banyak dari hari lainnya disebabkan karena adanya hari pasar yang waktunya seminggu sekali di desa Rambah Utama. 2 (dua) unit sepeda motor yang berfungsi untuk pelayanan rujukan jika diperlukan. Tabel 4. staf administrasi 5 orang. Distribusi jumlah penduduk menurut kepala keluarga dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut. Bidan di desa sebanyak 5 orang dan tinggal di poliklinik bersalin desa (polindes) masing-masing. dokter gigi 1 orang. perawat gigi 1 orang. Sarana dan Prasarana Kesehatan Sarana kesehatan yang ada adalah puskesmas yang terletak di desa Rambah Utama dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak 22 orang yang terdiri dari dokter umum 1 orang. .1. Juga telah tersedia seperangkat komputer untuk mempermudah proses administrasi.19 jiwa per kilometer persegi. Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga dan Jenis Kelamin di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Desa Rambah Utama Rambah Baru Pasir Makmur Marga Mulya Masda Makmur Jumlah KK 798 698 658 669 464 3287 Laki-laki 1371 1296 1256 1356 893 6172 Perempuan 1215 1056 1026 1150 674 5121 Jumlah 2586 2352 2282 2505 1567 11293 Sumber : Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2008 4.

ada juga puskesmas pembantu (pustu) yang terletak di desa Pasir Makmur dan Masda Makmur. Sedangkan pendidikan suami mayoritas SMP (40%) . Analisis Univariat 4. Berdasarkan kriteria tersebut didapat bahwa umur istri tidak ada yang < 20 tahun. sedangkan yang berumur 20-35 tahun sebesar 60% dan yang berumur > 35 tahun sebesar 40%.2. yang berumur kurang dari 40 tahun sebesar 71% dan yang berumur lebih dari 40 tahun 29%. SMA (27%).70 Seiring dengan perkembangan teknologi daerah ini sekarang telah dapat dijangkau oleh jaringan telepon seluler sehingga lebih mempermudah sistem komunikasi. 4. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian berjumlah 100 orang dan merupakan istri dari PUS yang berumur 20-35 tahun yang telah memiliki anak ≥ 2 dan berumur < 20 tahun dan > 35 tahun meskipun tidak memiliki anak. Pendidikan istri adalah tingkat SD (36%) selanjutnya SMP (30%). Umur suami dikelompokkan menjadi 2 kelompok berdasarkan nilai tengah (median) yaitu berumur kurang dari 40 tahun dan lebih dari 40 tahun. Seluruh responden diberikan pertanyaan yang sama dan dari wawancara diketahui bahwa 28 orang responden sedang memakai alat kontrasepsi dan 72 orang tidak memakai alat kontrasepsi tetapi pernah menggunakan salah satu metode kontrasepsi sehingga mereka tahu tentang alat kontrasepsi.1. D3 (6%) dan S1 sebesar 1%. tetapi pustu tersebut tidak dioperasionalkan dengan maksimal karena kurangnya petugas kesehatan. Selain puskesmas induk.2.

Jenis alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah Pil (39. jarak kelahiran <56 bulan sebanyak 39% dan ≥56 bulan sebanyak 61%.00 30. Alasan responden belum ikut KB karena masih ingin punya anak (67%).29%). Spiral (21.71 kemudian SD (31%) diikuti tingkat SMA (22%). ingin punya anak perempuan (5%). masih ingin punya anak laki-laki (18%).28%). Rata-rata jarak kelahiran anak dihitung dari nilai median dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu <56 bulan dan ≥56 bulan.43%) dan Implant (14.00 60.00 36.2.00 29. mayoritas responden memiliki anak > 2 orang (64%) sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebanyak 36%. D3 (4%) dan S1 sebesar 3%.00 1. Berdasarkan jumlah anak.00 27.00 . Distribusi Karakteristik Responden di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Karakteristik Umur istri (tahun) < 20 20-35 >35 Pendidikan istri SD SMP SMA D3 S1 Umur suami (tahun) <40 ≥40 f 0 60 40 36 30 27 6 1 71 29 Persentase (%) 0.00 6.00 71. Mayoritas respoden tidak ikut KB (72%) dan yang ikut KB 28%. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. dilarang suami (7%) dan karena alasan kesehatan (3%).00 40. Suntik (25%).

55 6.43 14.00 66.00 39.00 28.00 61. 66% dari klinik KB/puskesmas. 14% dari radio/televisi dan 13% dari suami/orangtua/mertua.00 40.00 54. Seluruh responden menjawab pengertian KB yaitu suatu .72 Lanjutan Tabel 4. Pengetahuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden mendapat informasi dari PPLKB/PLKB.00 21.00 4.00 46.2.29 25.78 39.00 4.2.00 72. 36% dari dokter/bidan praktek swasta.00 0.94 2.00 22.00 3. Karakteristik Pendidikan Suami SD SMP SMA D3 S1 Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Peserta KB Ya Tidak Alat Kontrasepsi yang digunakan (n = 28) Spiral Implant Suntik Pil Kondom MOP/MOW Alasan belum ikut KB (n = 72) Masih ingin punya anak Ingin punya anak laki-laki Ingin punya anak perempuan Dilarang suami Alasan Kesehatan Rata-rata Jarak Kelahiran <56 bulan ≥56 bulan f 31 40 22 4 3 46 54 28 72 6 4 7 11 0 0 48 13 4 5 2 39 61 Persentase (%) 31.28 0.2. 23% dari surat kabar/majalah.06 5.67 18.

Semua responden menyebutkan manfaat pemakaian alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan. Kondom (13%) dan Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) sebanyak 11%. kelainan haid/perdarahan/bercak darah (58%). Secara rinci indikator pengetahuan dapat dilihat pada tabel berikut ini: . bahagia dan sejahtera.73 usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Implant/Susuk (67%). infeksi atau keputihan (17%) dan perubahan berat badan/gemuk (13%). Semua responden menjawab alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah pil dan jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki kondom. memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak (64%). Seluruh responden menyebutkan efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi adalah rasa nyeri/mules. Pil (18%). 63% menjawab sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran dan 30% sebagai suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak). penundaan/penjarangan kelahiran (39%) dan pembatasan kelahiran (22%). mual/muntah/pusing (35%). Seluruh responden menjawab tujuan KB sebagai usaha membentuk keluarga kecil. untuk mengatur jarak kehamilan (59%) dan untuk mengakhiri kesuburan (27%). Suntik (41%). Seluruh responden mengetahui jenis alat kontrasepsi spiral/IUD.

Distribusi Responden Menurut Indikator Pengetahuan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengetahuan Sumber informasi tentang KB/alat kontrasepsi Petugas Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PPLKB) Puskesmas Dokter/Bidan Praktek Swasta Surat kabar/Majalah Radio/Televisi Suami/Orangtua/mertua Tidak tahu Pengertian KB adalah Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.00 63.00 13.00 100.00 27.00 22.00 13.00 0.00 39.00 18.00 30. bahagia dan sejahtera Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak Penundaan/penjarangan kelahiran Pembatasan kelahiran Tidak tahu Manfaat pemakaian alat kontrasepsi adalah Untuk mencegah terjadinya kehamilan Untuk mengatur jarak kehamilan Untuk mengakhiri kesuburan Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi apa saja yang diketahui Spiral/IUD Implant/Susuk Suntik Pil Kondom Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) Tidak tahu f 100 66 36 23 14 13 0 Persentase (%) 100.00 23.00 0.00 41.00 66.00 100.00 0.00 11.00 59.3.00 100 63 30 0 100 64 39 22 0 100 59 27 0 100 67 41 18 13 11 0 100.74 Tabel 4.00 64.00 0. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) Tidak tahu Tujuan KB adalah Membentuk keluarga kecil. Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran.00 67.00 36.00 .00 0.00 14.00 100.

00 100 58 35 17 13 0 100 39 0 100 36 0 4.00 100. 58% setuju pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran.00 58. 52% setuju KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.00 35. bahagia dan berkualitas. Indikator Pengetahuan Efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi Rasa nyeri/mules Kelainan haid/perdarahan/bercak darah Mual/muntah/pusing Infeksi/Keputihan Perubahan berat badan/gemuk Tidak tahu Alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui adalah Pil Suntik Tidak tahu Jenis alat kontrasepsi untuk laki-laki adalah Kondom MOP/Tubektomi Tidak tahu f Persentase (%) 100.00 0.75 Lanjutan Tabel 4. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: . Sikap Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57% responden setuju manfaat KB untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Sebanyak 58% responden tidak setuju mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak dan 55% responden tidak setuju anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan.00 100.00 39.00 13.3.00 0.00 36.00 0.2.3.00 17.

00 Setuju n % 57 57. bahagia dan berkualitas Pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran Mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak.00 55. Anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan Tidak Setuju n % 43 43. Ketersediaan Alat Kontrasepsi Berdasarkan ketersediaan alat kontrasepsi.00 58. seperti data pada tabel berikut: .5.00 42. Distribusi Responden Menurut Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Ketersediaan Alat Kontrasepsi Alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas Jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di puskesmas Ya n 57 51 % 57. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah: Tabel 4.00 58 55 58.00 4.00 51.00 49 49.00 52 58 52. 57% responden mengatakan alat kontrasepsi selalu tersedia di puskesmas dan 51% mengatakan alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia.4.00 42 45 42.00 Responden menjawab jika alat kontrasepsi tidak tersedia di puskesmas maka 33% mendapatkannya di klinik swasta.4.76 Tabel 4.00 48 42 48.00 Tidak n % 43 43. Distribusi Responden Menurut Indikator Sikap di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Sikap Manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil.2. 58% di praktek dokter/bidan dan 9% di apotek.00 45.

Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi Responden yang menjawab jarak rumah ke puskesmas <2. mereka menjawab bahwa mereka mendapatkan alat kontrasepsi di klinik swasta sebanyak 42.28% dan di apotek sebanyak 17. Responden yang mengatakan mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB sebanyak 95% dan tidak mengeluarkan biaya sebanyak 5%. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut ini: .77 Tabel 4.28 17.7. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Bagi Responden yang Ikut KB di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 12 11 5 % 42.86 39.86%.86%.2.00 58. Lebih lanjut dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4.86 4. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk sampai ke puskesmas 55% mengatakan <30 menit dan 45% mengatakan >30 menit. praktek dokter/bidan sebanyak 39. sedangkan. Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Tempat Mendapatkan Alat Kontrasepsi Klinik swasta Praktek Dokter/Bidan Apotek f 33 58 9 % 33.5 km.5 km sebanyak 43% dan 57% mengatakan lebih dari 2.5.6.00 Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan jumlah responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang.00 9.

6.00 4.00 33. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Keterjangkauan Jarak rumah ke puskesmas Waktu yang dibutuhkan ke puskesmas Mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB Dekat / Ya Jauh / Tidak n % n % 43 43. 33% menggunakan sepeda dan 20% menggunakan sepeda motor.0 5 5.00 95 905. Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan.2.00 Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai puskesmas 47% responden menjawab dengan berjalan kaki.00 20. Dukungan Petugas Kesehatan Dukungan petugas dalam indikator ini adalah perawat dan bidan yang bekerja di poliklinik Kesehatan Ibu dan Anak dan Keluarga Berencana (KIA/KB) puskesmas dan bertugas dalam pelayanan kesehatan resproduksi ibu dan remaja termasuk pelayanan KB pada PUS.9. 71% responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.8.00 45 45.00 55 55. Jenis Alat Transportasi yang Digunakan Untuk Mencapai Puskesmas di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Jenis Alat Transportasi Jalan Kaki Sepeda Sepeda Motor f 47 33 20 Persentase (%) 47. 73% mengatakan petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau .00 57 57.78 Tabel 4.

00 27.00 55.00 52.00 42 48 39 42.00 48. 52% mengatakan petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan 61% responden mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan.00 Responden menjawab pelayanan yang tidak puas karena petugas kurang ramah (47%). Responden yang mengatakan petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi sebanyak 58%.00 n 29 27 45 Tidak % 29. Secara rinci dapat dilihat seperti tabel berikut: .00 45. Distribusi Proporsi Responden Berdasarkan Indikator Dukungan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Dukungan Petugas Kesehatan Petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi Petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya Petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi Petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan Ya n 71 73 55 % 71.10.00 61. petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan (52%) dan alat/fasilitas tidak lengkap (1%). Data selengkapnya seperti pada tabel berikut: Tabel 4.79 menggunakan kontrasepsi.00 39. 55% mengatakan petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya.00 58 52 61 58.00 73.

13% menjawab istri dan 36% menjawab musyawarah suami-istri.00 52.86 . Distribusi Responden yang Ikut KB Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 12 11 5 Persentase (%) 42. istri sebanyak 39.2.00 Lebih lanjut jika dirinci berdasarkan responden yang ikut KB yaitu sebanyak 28 orang.86%.00 f 47 52 1 0 Persentase (%) 47. Data selengkapnya sebagai berikut: Tabel 4.80 Tabel 4. Pengambil Keputusan Dalam Keluarga Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah: Tabel 4.86 39.86%.28% dan musyawarah suami dan istri sebanyak 17. maka dapat dilihat bahwa pengambil keputusan dalam keluarga adalah suami sebanyak 42.7.00 1. 51% responden menjawab suami.11.12. Distribusi Proporsi Responden Menurut Pengambil Keputusan dalam Keluarga di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Indikator Pengambil Keputusan Suami Istri Musyawarah Suami dan Istri f 51 13 36 Persentase (%) 51. Alasan Tidak Puas Terhadap Pelayanan Petugas Kesehatan di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Alasan Tidak Puas Petugas kurang ramah Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan Alat/fasilitas tidak lengkap Biaya terlalu mahal 4.00 0.13.00 36.28 17.00 13.

Faktor Predisposisi Berdasarkan Tabel 4.2. Berdasarkan kategori jumlah anak.5 sehingga 47% responden kategori tinggi dan 53% kategori rendah.8.12 dapat diketahui bahwa penggolongan umur responden 40% umur risiko tinggi dan 60% umur risiko rendah.81 4. Setelah dihitung didapat nilai mediannya 13. Pendidikan responden 66% adalah pendidikan dasar. Sikap responden juga dikategorikan menjadi 2 yaitu baik dan tidak baik berdasarkan nilai median. 64% memiliki anak > 2 orang dan 36% memiliki anak ≤ 2 orang. 27% pendidikan menengah dan 7% responden dengan pendidikan tinggi. Secara rinci faktor predisposisi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: . Pengetahuan responden dikategorikan menjadi 2 yaitu tinggi dan rendah berdasarkan nilai median. Dari perhitungan diperoleh nilai median adalah 2 maka 36% adalah kategori baik dan 64% kategori tidak baik.

00 47.00 36.00 64.13.82 Tabel 4.00 46.00 f Persentase (%) 4.00 27.00 66.00 40.00 7. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel berikut: . Sedangkan berdasarkan biaya yang dikeluarkan 47% mengatakan murah dan 53% mengatakan mahal.2.00 53. Faktor Pendukung Tabel 4.14. Berdasarkan jarak ke puskesmas 29% kategori dekat dan 71% kategori jauh. Waktu tempuh 63% kategori dekat dan 37% kategori jauh.9.00 54. menunjukkan bahwa yang menyatakan alat kontrasepsi tersedia 48% dan tidak tersedia sebanyak 52%. Distribusi Responden Menurut Faktor Predisposisi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Isteri Tinggi Menengah Dasar Jumlah Anak ≤ 2 orang > 2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak Baik 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 60.

00 47.15. Responden yang menyatakan bahwa pengambil keputusan untuk pemakaian alat kontrasepsi dengan kategori baik sebanyak 38% dan tidak baik 62%.Jarak Dekat (≤2. Faktor Pendorong Dukungan petugas kesehatan dikategorikan menjadi 2 berdasarkan nilai median yaitu mendukung dan tidak mendukung.Biaya Mahal 4.00 29. sehingga berdasarkan kategori yang telah ditentukan tersebut diperoleh bahwa 48% responden menyatakan petugas kesehatan mendukung dalam hal pemakaian alat kontrasepsi dan 52% menyatakan tidak mendukung.00 63.00 71.00 37. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai median 3.10.5 km) .Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) Murah .5 km) Jauh (> 2.83 Tabel 4. Lebih rinci dapat dilihat pada tabel berikut: f 48 52 29 71 63 37 47 53 Persentase (%) 48.00 53.00 52. Distribusi Responden Menurut Faktor Pendukung di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendukung Ketersediaan Alat kontrasepsi Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi .00 .2.

033). Distribusi Responden Menurut Faktor Pendorong di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Faktor Pendorong Dukungan Petugas Kesehatan Mendukung Tidak Mendukung Pengambil Keputusan Musyawarah Suami dan istri Selain suami dan istri f 48 52 38 62 Persentase (%) 48.3.3.1. .84 Tabel 4.00 52.16. pendukung dan pendorong) dengan dependen (pemakaian alat kontrasepsi) dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang bermakna antara kedua variabel tersebut dilakukan uji statistik dengan uji chi-square.00 62.3%. 4.0% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor predisposisi (umur. Analisis Bivariat Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara variabel independen (faktor predisposisi.00 38. jumlah anak. pengetahuan dan sikap) dengan pemakaian alat kontrasepsi. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan umur dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0.0% sedangkan umur risiko rendah yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 36.00 4. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15. pendidikan.7% dan yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 63.

3%.7% dan tidak memakai sebanyak 59.8% dan tidak memakai sebanyak 53.0% sedangkan sikap yang tidak baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.2% dan tidak memakai 84. Responden dengan pengetahuan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.1% sedangkan yang memiliki anak ≤ 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 15.4%. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.016).3% dan tidak memakai sebanyak 88.1% dan tidak memakai sebanyak 42. responden dengan pendidikan menengah memakai alat kontrasepsi sebanyak 40. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jumlah anak dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.7% dan tidak memakai 80. Sedangkan pendidikan dasar yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 19. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan pengetahuan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. responden dengan pendidikan tinggi yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 57. Responden yang memiliki anak > 2 orang memakai alat kontrasepsi sebanyak 38.9%.8%.6% dan tidak memakai sebanyak 84.2% sedangkan responden dengan pengetahuan rendah memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.3%.9% dan tidak memakai sebanyak 61.0% dan tidak memakai sebanyak 50.025).7%.000) Responden dengan sikap yang baik memakai alat kontrasepsi sebanyak 50. Hasil uji statistik .85 Berdasarkan pendidikan.

50 59.70 15.80 11.60 38 34 3 16 53 39 33 25 47 18 54 63. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.2.00 Sig 0. Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendukung (ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 100.00 100.10 53.001 100.00 57.70 19.40 Total n 60 40 7 27 66 46 54 47 53 36 64 % 100.80 61.3.86 menunjukkan ada hubungan sikap dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.30 84.00 0.90 46.030 100.1% .70 15.00 84. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.16.30 85.17.20 88.000 100.00 0.033 Faktor Predisposisi Umur Risiko rendah Risiko tinggi Pendidikan Tinggi Menengah Dasar Jumlah anak ≤2 orang >2 orang Pengetahuan Tinggi Rendah Sikap Baik Tidak baik 4.00 100. Hubungan Faktor Predisposisi dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 22 6 4 11 13 7 21 22 6 18 10 36.00 15. Variabel keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi diukur berdasarkan 3 (tiga) sub variabel yaitu jarak rumah ke puskesmas.10 40. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan alat kontrasepsi tersedia dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 52.001).30 80.00 42.20 38.70 50.016 100.00 100. waktu tempuh dan biaya.00 100.00 0.00 100.00 0.30 50.

7%.8% dan tidak memakai 53.5%. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 35. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan waktu tempuh dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.3% dan tidak memakai 89.9%. Berdasarkan waktu tempuh.3% dan tidak memakai sebanyak 88.87 dan tidak memakai sebanyak 47. Sedangkan responden yang mengatakan alat kontrasepsi tidak tersedia tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 5. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan jarak rumah dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. responden dengan kategori dekat memakai alat kontrasepsi sebanyak 36.2%.7%.8% dan tidak memakai sebanyak 94. Data selengkapnya sebagai berikut: . Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan ketersediaan alat kontrasepsi dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.000).2% dan tidak memakai sebanyak 64.023).5% dan tidak memakai 63.8%. Responden dengan kategori jauh memakai alat kontrasepsi sebanyak 13. Untuk biaya yang dikeluarkan. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan biaya yang dikeluarkan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.5%. Responden yang jarak rumah dekat dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 10.025).2%. responden dengan kategori murah memakai alat kontrasepsi sebanyak 46.000).5% dan tidak memakai 86. Sedangkan kategori mahal yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 11.

Hubungan Faktor Pendukung dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 25 3 52.00 100.3.000 Murah Mahal 100. .18.5% dan tidak memakai sebanyak 86.00 100.70 64.00 0.30 35. menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan mendukung dan memakai alat kontrasepsi sebanyak 43.80 23 49 47.8% dan tidak memakai sebanyak 56.5 km) .20 88.00 0.000 100.50 46.Biaya 4. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan dukungan petugas kesehatan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig = 0.025 100.3.88 Tabel 4.00 100.Waktu Dekat (≤ 30 menit) Jauh (> 30 menit) .20 Total Sig n 48 52 % 0.50 86.70 29 71 63 37 47 53 100.20 36. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.002).10 5.50 53. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi Pada analisis ini dilakukan tabulasi silang antara faktor pendorong (dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan) dengan pemakaian alat kontrasepsi.00 100.90 94.80 11.5%.30 26 46 40 32 25 47 89.80 63.50 13.3%.00 0.5 km) Jauh (> 2.18.00 Faktor Pendukung Ketersediaan Tersedia Tidak tersedia Keterjangkauan .Jarak Dekat (≤2. Sedangkan responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung tetapi memakai alat kontrasepsi sebanyak 13.023 3 25 23 5 22 6 10.

4. Sedangkan responden dengan kategori tidak baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 29.89 Berdasarkan pengambil keputusan dalam keluarga.70 71.50 26.80 13. pengetahuan.30 86.00 100.19.00 Total Sig n 48 52 38 62 % 0.949).949 100. pendidikan. Hubungan Faktor Pendorong dengan Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Pemakaian Alat Kontrasepsi Ya Tidak n % n % 21 7 10 18 43.00 27 45 28 44 56. Hasil uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Analisis Multivariat Berdasarkan analisis bivariat diperoleh bahwa variabel umur. responden dengan kategori baik yang memakai alat kontrasepsi sebanyak 26.30 29.0%.25).00 100.7%. waktu tempuh.00 0. kemudian variabel yang Signifikan .50 73.3% dan tidak memakai sebanyak 73. Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. ketersediaan alat kontrasepsi. Berikutnya adalah pemilihan model yang dilakukan secara hierarkis dengan cara semua variabel dimasukkan ke dalam model.00 Faktor Pendorong Dukungan petugas Kesehatan Mendukung Tidak mendukung Pengambil keputusan Baik (suami dan istri) Tidak Baik (selain suami dan istri) 4. sikap.0% dan tidak memakai sebanyak 72.002 100. jarak. biaya dan dukungan petugas kesehatan memenuhi syarat untuk masuk ke dalam model pengujian multivariat (Sig<0. jumlah anak.

Hasil Akhir Analisis Regresi Logistik Ganda Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Alat Kontrasepsi di Kecamatan Rambah Samo Tahun 2008 Variabel Penelitian Jumlah anak Pengetahuan Sikap Ketersediaan alat kontrasepsi Dukungan Petugas Kesehatan B -2. Ini menunjukkan variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi pemakaian alat kontrasepsi.20.457 9.893-129.05) dimasukkan ke dalam model secara bertahap (Forward Stepwise).893129.551).442 Sig 0.112. artinya variabel tersebut tidak dikeluarkan dari model dan merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi.041 0. pengetahuan.459 Hasil tabel di atas merupakan akhir analisis multivariat uji regresi logistik ganda karena jumlah anak. sikap dan dukungan petugas kesehatan (95% CI: 3.245 Exp (B) 0. pengetahuan.063-17. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan telah memiliki nilai < 0.024-0. Berdasarkan nilai Koefisien B yang tertinggi adalah variabel ketersediaan alat kontrasepsi yaitu 3.118 6.112 2.575 1.005-44.448 3. Hasil akhir analisis multivariat dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.817 1.014 0.135 1.025 1.551 2.151 4.014 3.001 0. .454-26.90 (>0.05.253 22.005 CI 95% 0.008 0. Besar pengaruh variabel tersebut dilihat dari nilai Exp (B) dimana dari hasil analisis terlihat bahwa jika alat kontrasepsi tersedia maka peluang responden untuk memakai alat kontrasepsi 22 kali dibandingkan jika alat kontrasepsi tidak tersedia setelah dikontrol oleh variabel jumlah anak. sikap.

sedangkan sisanya sebesar 9% dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya (seperti faktor umur. waktu tempuh. pekerjaan. sikap. pengambil keputusan dalam keluarga dan lain-lain). pendidikan.91 Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 91% yang artinya variabel jumlah anak. . pengetahuan. ketersediaan alat kontrasepsi dan dukungan petugas kesehatan bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi sebesar 91%. jarak. biaya.

tetapi lebih mengutamakan banyaknya jumlah anak yang dimiliki. 1993). Hasil uji chi square memperlihatkan bahwa ada hubungan umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori umur risiko tinggi 40% dan kategori risiko rendah 60%. pendidikan. Jika jumlah anak telah dirasa 76 . Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa responden dengan umur risiko tinggi yang tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 85% dan yang memakai 15%. pengetahuan dan sikap.1. 1. Pada penelitian ini umur tidak berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi karena responden pada kategori umur risiko tinggi justru banyak yang tidak memakai alat kontrasepsi. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam pemakaian alat kontrasepsi. sedangkan pada hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh umur terhadap pemakaian alat kontrasepsi. mereka yang berumur tua mempunyai peluang lebih kecil untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan dengan yang muda (Notoatmodjo. Umur yang semakin meningkat tidak menjadi alasan utama responden untuk memakai alat kontrasepsi.033). Faktor Predisposisi Faktor predisposisi dalam penelitian ini adalah umur. jumlah anak.92 BAB 5 PEMBAHASAN 5.

Alasan inilah yang mengakibatkan responden tidak memakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi rasional harus mempertimbangkan umur akseptor. Analisa BKKBN tentang SDKI 2002/2003 mengatakan bahwa umur di bawah 20 tahun dan di atas 35 tahun sangat berisiko terhadap kehamilan dan melahirkan. Faktor umur sangat berpengaruh terhadap aspek reproduksi manusia terutama dalam pengaturan jumlah anak yang dilahirkan dan waktu persalinan. . Jawaban yang diberikan oleh responden mayoritas mengatakan masih ingin punya anak. dilarang suami dan alasan kesehatan. bila umur lebih dari 35 tahun. sehingga berhubungan erat dengan pemakaian alat kontrasepsi. ingin punya anak laki-laki.5% dan yang memiliki anak ≤ 2 orang sebesar 52. 1999). yang kelak berhubungan pula dengan kesehatan ibu. maka responden akan mengusahakan dengan sungguh-sungguh untuk memakai alat kontrasepsi Hasil tabulasi silang antara kategori umur dengan jumlah anak didapat bahwa umur dengan risiko tinggi yang memiliki anak > 2 orang sebesar 47. Sedangkan umur dengan kategori risiko rendah yang memiliki anak > 2 orang sebesar 38.5%. ingin punya anak perempuan.93 cukup. makin tua umur istri maka pemilihan alat kontrasepsi ke arah alat yang mempunyai efektifitas lebih tinggi yakni metode kontrasepsi jangka panjang. Umur juga berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi. maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang (BKKBN.6%.4% dan yang memiliki anak ≤ 2 76 orang sebesar 21.

Pada penelitian ini didapat bahwa 71% pendidikan suami adalah pendidikan dasar. pemakaian alat kontrasepsinya makin menurun. 2.3% tidak memakai kontrasepsi. lebih mandiri dan rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan. 1986). bersikap. Demikian juga sebaliknya makin rendah tingkat pendidikan. responden yang tidak memakai alat kontrasepsi makin meningkat. Pengaruh Pendidikan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kategori pendidikan dasar 66% dan 80. Semakin tinggi tingkat pendidikan akan jelas mempengaruhi seorang pribadi dalam berpendapat. sedangkan hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan tidak ada pengaruh pendidikan terhadap pemakaian alat kontrasepsi.012). berpikir.94 Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Hasibuan (2001) yang menunjukkan bahwa ada pengaruh umur terhadap pemakaian metoda kontrasepsi (Sig=0. tingkat pendidikan suami yang mayoritas .030). Hal ini juga akan mempengaruhi secara langsung seseorang dalam hal pengetahuannya akan orientasi hidupnya termasuk dalam merencanakan keluarganya (Gerungan. Dari tabulasi silang dapat dilihat bahwa peningkatan pendidikan tidak diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi atau dengan kata lain makin tinggi tingkat pendidikan. Hasil uji chi square memperlihatkan ada hubungan pendidikan dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. 22% menengah dan 7% tinggi.

3. pemakaian alat kontrasepsi ini juga dihubungkan dengan alasan responden yang masih menginginkan anak atau jenis kelamin tertentu seperti telah diuraikan diatas sehingga meskipun telah memiliki anak 2 orang responden belum memakai alat kontrasepsi.008). Tujuan normatif program KB adalah untuk menciptakan NKKBS. Seorang istri mungkin menggunakan alat kontrasepsi setelah mempunyai jumlah anak tertentu dan juga umur anak yang masih hidup. Pengaruh Jumlah Anak terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh jumlah anak terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Kemungkinan seorang istri untuk menambah kelahiran tergantung kepada jumlah anak yang telah dilahirkannya. Sedangkan jumlah anak > 2 orang menunjukkan bahwa respons terhadap pelayanan KB dan kontrasepsi belum baik. Istilah “dua anak saja” belum menjadi tujuan pokok dalam keluarga. Semakin sering seorang wanita melahirkan anak. maka diharapkan keluarga sudah harus mampu membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi keluarga dengan cara mengatur . maka akan semakin memiliki risiko kematian dalam persalinan. Selain tingkat pendidikan yang masih rendah. artinya makin banyak anak yang dimiliki oleh responden akan diikuti dengan peningkatan pemakaian alat kontrasepsi.95 tingkat dasar tersebut diperkirakan menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan masih rendahnya pemakaian alat kontrasepsi.

96 kelahiran anak supaya diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. dalam Mutiara (1998) melaporkan bahwa pada awal progam KB. penggunaan alat kontrasepsi adalah mereka yang telah mempunyai anak cukup banyak. Gejala ini melandasi pengaruh jumlah anak terhadap penggunaan alat kontrasepsi. Menurut Hatmadji (2004) yang mengutip pendapat Leibenstein. Masyarakat di daerah penelitian pada umumnya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan yang memerlukan sumber daya manusia sebagai tenaga kerja untuk mengelolanya. dilarang suami 5% dan alasan kesehatan 2%. Soeradji. anak dilihat dari dua segi kegunaannya yaitu (utility) dan biaya (cost). Dengan berjalannya waktu dan pelaksanaan program maka lebih banyak wanita dengan paritas yang lebih kecil akan menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini mungkin salah satu penyebab yang berpengaruh terhadap banyaknya jumlah anak yang dimiliki. anak merupakan sumber daya yang diharapkan dapat membantu orangtua dalam bekerja dan berusaha. ingin punya anak laki-laki 13%. Hal ini menunjukkan bahwa 2 orang anak masih dianggap kurang atau belum cukup. dapat memberikan balas jasa ekonomi atau membantu dalam kegiatan berproduksi serta merupakan sumber yang dapat menghidupi orang tua di . Kegunaannya ialah memberikan kepuasan. Jawaban yang diberikan oleh responden tentang alasan mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi adalah 48% mengatakan masih ingin punya anak. ingin punya anak perempuan 4%. dkk.

kenyamanan dan keamanan. Demikian juga sebaliknya jika pengetahuan responden tinggi maka pemakaian alat kontrasepsi juga akan meningkat. Pengaruh Pengetahuan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. kecocokan. sehingga dengan demikian kesadaran mereka tinggi untuk terus memanfaatkan pelayanan. Hal ini sesuai dengan pendapat Blum yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) yang mengatakan bahwa tindakan seorang individu termasuk kemandirian dan tanggung jawabnya dalam berperilaku sangat dipengaruhi oleh domain kognitif atau pengetahuan.014). juga dalam memilih tempat pelayanan yang lebih sesuai dan lengkap karena wawasan sudah lebih baik. . 4. Tindakan kemandirian setiap individu yang lebih nyata akan lebih langgeng dan bertahan apabila hal ini didasari oleh pengetahuan yang kuat. pilihan efektif tidaknya. Pengetahuan peserta KB yang baik tentang hakekat program KB akan mempengaruhi mereka dalam memilih metode/alat kontrasepsi yang akan digunakan termasuk keleluasaan atau kebebasan pilihan. artinya bahwa semakin rendah pengetahuan responden maka pemakaian alat kontrasepsi juga rendah.97 masa depan. Sedangkan pengeluaran untuk membesarkan anak adalah biaya dari mempunyai anak tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan berbanding lurus dengan pemakaian alat kontrasepsi.

sehingga akseptor tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang kontrasepsi.98 Penelitian Prihastuti (2005) menunjukkan bahwa informasi yang diberikan petugas kepada akseptor tentang metode KB-nya masih kurang memadai. Pada umumnya responden dianggap sebagai pasien saja tanpa dibekali dengan pendidikan yang baik tentang KB dan kesehatan reproduksi (KR). para PLKB inilah sebagai garda depan dalam menyukseskan program KB. Juga sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa secara statistik diperoleh hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. Dari . karena responden tidak mendapatkan pendidikan yang memadai untuk menambah wawasan mereka tentang alat kontrasepsi.001). setelah desentralisasi PLKB tidak dapat lagi melaksanakan tugas seperti dulu karena telah dilebur dengan lembaga lain. demikian juga dengan pendidikan suami. Hal lain yang mempengaruhi adalah petugas PLKB yang tidak ada lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Pendidikan yang rendah akan berhubungan dengan pengetahuan yang rendah pula. Pengetahuan responden yang rendah berhubungan juga dengan tingkat pendidikan yang masih rendah yaitu mayoritas berada pada ketegori pendidikan dasar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Meutia (1997) yang mengatakan bahwa ada pengaruh pengetahuan akseptor KB terhadap utilitas alat kontrasepsi Implant (Sig=0. Hal inilah yang berdampak pada rendahnya pemanfaatan pelayanan KB.001). Pada awal program.

041). Pengaruh Sikap terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh sikap terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. sehingga berpengaruh terhadap pola pikir dan bertindak termasuk dalam pemakaian alat kotrasepsi. 5. Sikap responden yang mayoritas tidak baik berhubungan pula dengan pendidikan yang lebih banyak pada kategori pendidikan dasar dan tingkat pengetahuan yang juga mayoritas pada kategori rendah.99 penelitian terlihat bahwa 100% responden mengetahui KB dan alat kontrasepsi dari PLKB tetapi sekarang hal itu tidak ada lagi akibatnya responden tidak mendapatkan informasi yang mereka harapkan. manfaat dan juga kegunaan pemakaian alat kontrasepsi. maka dia juga akan memberi tindakan atau tanggapan yang negatif pula yaitu dengan tidak menggunakannya atau memakainya. Sikap yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penerimaan terhadap tujuan yang ditawarkan dalam program KB. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. pengertian . Contohnya adalah seperti sikap setuju atau tidaknya mereka terhadap informasi alat kontrasepsi dan KB. Artinya bahwa ketika responden memberi penilaian yang kurang baik terhadap program KB dan pemakaian alat kontrassepsi. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa sikap responden yang belum baik juga diikuti dengan pemakaian alat kontrasepsi yang masih rendah.

juga kesediaan mereka memenuhi kebutuhan sendiri. Faktor Pendukung Faktor pendukung dalam penelitian ini adalah ketersediaan alat kontrasepsi dan keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi. demikian pula jika alat kontrasepsi tidak tersedia maka responden yang tidak memakai juga akan meningkat. 1. Menurut Manuaba (1998). fasilitas dan sarananya. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau.000). Pengaruh Ketersediaan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang bermakna antara ketersediaan pelayanan alat kontrasepsi terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Pardosi (2005) yang mengatakan bahwa diperoleh hubungan yang bermakna antara sikap dengan tingkat kemandirian akseptor KB aktif dalam pemanfaatan program KB mandiri LIMAS (Sig=0. serta kesediaannya mendatangi tempat pelayanan.100 alat kontrasepsi dan manfaatnya. sedangkan .2. faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi.001). 5. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat pemakaian atau pemanfaatan alat kontrasepsi berbanding lurus dengan ketersediaan alat kontrasepsinya. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Jika alat kontrasepsi tersedia maka akan diikuti dengan pemakaian yang meningkat.

Sedangkan Suntik KB kadang tidak tersedia sehingga akseptor KB mendapatkannya di praktek dokter atau bidan. dan kalaupun ada pembagian dari Dinas Kesehatan Kabupaten atau Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil jumlahnya sangat sedikit dan biasanya diberikan jika ada acara-acara tertentu yang berhubungan dengan KB dan kesehatan. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi). Berdasarkan informasi yang diperoleh dari puskesmas Rambah Samo ternyata tidak semua jenis/metode kontrasepsi tersedia. Implant dan IUD tidak tersedia karena harganya yang cukup mahal.101 kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. Promosi metode tersebut – melalui media. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. melalui kontak langsung oleh petugas program KB. Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap responden didapat bahwa responden yang memakai kontrasepsi pada umumnya menggunakan metode kontrasepsi pil (39%) dan suntik (25%) yang harganya tergolong murah. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Untuk dapat digunakan. Secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah. Suntik dan . Memberikan konsultasi medis mungkin dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya promosi. oleh dokter dan sebagainya – dapat meningkatkan secara nyata pemilihan metode kontrasepsi.

.000. 300. Berbeda dengan suntik dan pil yang bisa mereka dapatkan dengan harga murah meskipun dengan pemakaian jangka waktu yang relatif pendek (sekali tiap bulan atau tiga bulan) untuk suntik dan harus diminum setiap hari untuk pil. Meskipun secara nominal harga ini tergolong mahal tetapi jika dihitung dengan manfaat pemakaian jangka waktu yang lama maka sebenarnya metode ini lebih murah.sampai Rp. 5. 200.untuk sekali suntik dan untuk pil bisa mereka dapatkan secara gratis atau membayar sebanyak Rp. 15. PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi.000. Sejak BKKBN dilebur .000. Harga ini tergolong murah jika mereka harus menggunakan alat kontrasepsi spiral atau implant yang harganya tergolong mahal dan mereka harus mengeluarkan dana rata-rata Rp.. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). Jika dahulu masalah alat kontrasepsi ditangani oleh BKKBN sekarang hal tersebut sudah berubah.000.-. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB.-. tetapi karena responden harus mengeluarkan biaya sekaligus maka nilai tersebut terasa mahal. Ketersediaan ini juga berkaitan dengan struktur organisasi pada lembaga BKKBN yang berubah setelah orde baru.102 pil biasanya mereka dapatkan di puskesmas dengan mengeluarkan biaya rata-rata Rp.

Untuk menjamin akses penduduk miskin terhadap pelayanan kesehatan. kuratif dan rehabilitatif) bagi . preventif. Pengadaan alat kontrasepsi menjadi terhenti. Kurangnya advokasi kepada legislatif dan eksekutif juga merupakan hal yang mengakibatkan rendahnya dana yang dialokasikan untuk pengadaan alat kontrasepsi. 2005). Ruang lingkup Program Jamkesmas pada tahun 2008 diutamakan pada upaya pelayanan kesehatan perorangan (promotif. sejak tahun 2005 Pemerintah melaksanakan mekanisme asuransi kesehatan yang dikenal dengan Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Askeskin). Untuk pengadaan di Dinas Kesehatan sendiri juga mengalami kendala karena terbentur dengan masalah biaya yang terbatas dan lebih banyak diprioritaskan pada pengadaan obat-obatan dan vaksin. padahal kesehatan merupakan hak semua orang dan pemerintah seharusnya menjaminnya (Prihastuti. karena kedua belah pihak merasa bahwa masalah alat kontrasepsi bukan urusannya dan lebih memprioritaskan pada program-program yang pokok. Selain itu terjadi pula lempar tanggung jawab. Hal inilah yang mengakibatkan akseptor susah untuk mendapatkan alat kontrasepsi. Pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin pada tahun 2008 dinamakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).103 dan digabung dengan Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan maka kegiatan BKKBN menjadi tidak berjalan. Tidak semua anggota legislatif yang concern pada masalah tersebut dan menganggap bahwa program KB merupakan urusan keluarga. hanya menunggu pengadaan dari BKKBN pusat.

Pelayanan KB termasuk dalam pelayanan rawat jalan tingkat primer. Oleh karena itulah diharapkan pemerintah pusat khususnya pemerintah daerah memberi perhatian khusus dalam hal ini. Untuk penduduk miskin biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian alat kontrasepsi tersebut tentu juga memberatkan selain juga mereka harus mengeluarkan biaya untuk hidup sehari-hari. sehingga dapat memberi solusi untuk dapat membantu atau meringankan beban penduduk miskin dengan tetap memberi pelayanan kesehatan KB dan kontrasepsi dengan gratis. Hal ini diungkapkan oleh Herlianto (2008) yang mangatakan bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya.104 peserta Jamkesmas. Dengan pelayanan tersebut diharapkan akseptor KB yang sedang memakai alat kontrasepsi tidak menjadi drop out karena putus pakai. disamping upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang terbatas pada upaya pencegahan yang bersifat sekunder. namun alat kontrasepsi disediakan oleh BKKBN. . Kendala inilah yang harus segera diatasi masyarakat menjadi mengeluarkan biaya untuk membeli alat kontrasepsi yang sebenarnya bisa mereka dapatkan secara gratis. Hal ini mengakibatkan cakupan pelayanan alat kontrasepsi menjadi tidak satu kesatuan karena terkendala pada pengadaan alat kontrasepsi yang disediakan oleh BKKBN.

Hal ini dapat dilihat dari responden yang jarak rumahnya dekat tetapi 89. Jarak bukanlah sesuatu hal yang dapat menghalangi mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan alat kontrasepsi. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. waktu tempuh dan biaya berhubungan dengan pemakaian alat kontrasepsi. sedangkan responden yang jarak rumahnya jauh dan .000). waktu tempuh dan biaya. Masing-masing sub variabel tersebut setelah diuji dengan uji chi-square menunjukkan hubungan yang Signifikan dengan pemakaian alat kontrasepsi. Pengaruh Keterjangkauan Pelayanan Alat Kontrasepsi terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi Keterjangkauan pelayanan dalam hal ini dilihat dari 3 (tiga) kategori yaitu dari segi jarak. sehingga dapat dikatakan bahwa jarak.105 Menurut Rochmah dalam Hutauruk (2005).7% tidak memakai alat kontrasepsi. Jika mereka membutuhkan pelayanan maka seharusnya mereka tidak akan memperhitungkan jarak dan kondisi jalan. Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0. yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hasil ini menunjukkan bahwa jauh dekatnya jarak di lokasi penelitian akan mempengaruhi mereka dalam pemanfaatan pelayanan. 2.

Meskipun sebenarnya jarak merupakan suatu kondisi yang menghambat seseorang dalam melakukan suatu tindakan atau perbuatan. waktu tempuh ataupun biaya tempuh. sosial budaya terhadap pelayanan kesehatan modern. faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan yaitu aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan seperti jarak tempuh dan waktu yang terbuang untuk pergi ke fasilitas. yang dimaksudkan dalam hal ini adalah tempat memfasilitasi atau menghambat pemanfaatan. Fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada belum digunakan dengan efisien oleh masyarakat karena lokasi pusat-pusat pelayanan tidak berada dalam radius masyarakat banyak dan lebih banyak berpusat di kota-kota dan lokasi sarana yang tidak terjangkau dari segi perhubungan. Hubungan antara akses geografis dan volume dari pelayanan bergantung dari jenis pelayanan dan jenis sumber daya yang ada. atau keramahan petugas . Menurut Depkes RI (2007).8%.106 tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 64. biaya. Ini adalah hubungan antara lokasi suplai dan lokasi dari klien yang dapat diukur dengan jarak. waktu tempuh atau biaya tempuh. Menurut Rafael dalam Hutauruk (2005). pemanfaatan pelayanan kesehatan berhubungan dengan akses geografis. Jika mereka membutuhkan alat kontrasepsi tersebut maka mereka tidak akan mempermasalahkan jarak ke puskesmas. kendala. Peningkatan akses dipengaruhi oleh berkurangnya jarak. Dari kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa jarak bukan suatu hal yang dapat menyebabkan responden menjadi terganggu untuk mendapatkan alat kontrasepsi.

Mereka dihadapkan pada terbatasnya pilihan yang ada dan sesuai dengan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden adalah berprofesi sebagai petani sehingga dilihar dari segi ekonomi mereka berada pada golongan ekonomi menengah ke bawah. Keterjangkauan dari segi biaya pada umumnya banyak berhubungan dengan ketersediaan seperti yang telah dibahas sebelumnya. Hal ini akan berpengaruh pada kemampuan mereka untuk membayar atau membeli barang dan jasa termasuk untuk membeli alat kontrasepsi. Keterjangkauan dari segi biaya berhubungan dengan tersedia atau tidak tersedianya alat kontrasepsi tersebut. Tempat pelayanan yang tidak strategis atau sangat sulit dicapai menyebabkan berkurangnya pemanfaatan pelayanan kesehatan. dapat ditempuh dalam waktu ≤ 30 menit (63%) dengan berjalan kaki (47%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jarak rumah reponden 29% dekat dengan puskesmas. menggunakan sepeda (33%) ataupun sepeda motor (30%). pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. Menurut Manuaba (1998).107 pelayanan kesehatan. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar jelas berhubungan dengan masalah ekonomi. Sedangkan dari segi biaya 95% responden mengeluarkan biaya untuk mendapatkan alat kontrasepsi dengan harga yang bervariasi sesuai dengan pilihan metode kontrasepsi. faktor-faktor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi. Calon akseptor yang masih ragu-ragu dalam pemakaian alat kontrasepsi akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah mendapat dorongan Dukungan Petugas Kesehatan terhadap Pemakaian Alat . Faktor Pendorong Faktor pendorong dalam penelitian ini adalah dukungan petugas kesehatan dan pengambil keputusan dalam keluarga. sedangkan petugas kesehatan mendukung dan mereka memakai alat kontrasepsi sebanyak 43. 1. Pengaruh Kontasepsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengatakan petugas kesehatan tidak mendukung dan mereka tidak memakai alat kontrasepsi sebanyak 86.5%. penyuluhan dan menjelaskan tentang alat kontrasepsi.3. sehingga mayoritas pilihannya adalah metode kontrasepsi pil dan suntik yang dari segi biaya tergolong murah meskipun jangka waktu pemakaiannya singkat. Petugas kesehatan yang dimaksud dalam hal ini adalah bidan atau perawat yang bertugas di klinik kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana (KIA/KB). Petugas kesehatan berperan dalam memberikan informasi. 5. Petugas kesehatan sangat banyak berperan dalam tahap akhir pemakaian alat kontrasepsi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan petugas kesehatan terhadap pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0.108 kondisi keuangan.8%.005).

Pelayanan yang kurang baik seperti ini akan menjadi citra buruk bagi pelayanan kesehatan terutama petugas kesehatan itu sendiri. sehingga pelayanan kepada masyarakat tidak optimal. Banyak masyarakat yang akhirnya enggan datang untuk berobat ataupun konsultasi tentang masalah kesehatannya karena sering kecewa bidan tidak berada di tempat. Kecamatan Rambah Samo sendiri telah mempunyai polindes di tiap-tiap desa.109 maupun anjuran dari petugas kesehatan. Setelah memberikan penjelasan tentang alat kontrasepsi petugas PLKB akan merujuk calon akseptor ke puskesmas untuk proses pemasangan alat kontrasepsi. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perubahan sistem organisasi peran petugas PLKB banyak . Petugas PLKB biasanya membujuk para calon akseptor agar mau memakai alat kontrasepsi. peran petugas PLKB dalam hal pemakaian alat kontrasepsi juga tidak dapat diabaikan. namun dalam kenyataannya para bidan di desa tidak tinggal menetap di polindes tersebut. Kerjasama ini sudah berjalan sejak zaman orde baru yang mengakibatkan meningkatnya akseptor KB. Selain petugas kesehatan. Petugas kesehatan merupakan pihak yang mengambil peran dalam tahap akhir proses pemakaian alat kontrasepsi. agar lebih meningkatkan mutu pelayanan dengan memberi sanksi yang tegas jika petugas kesehatan terutama bidan di desa yang tidak mau melaksanakan tugas dengan sungguh-sungguh. Hal ini tentu harus mendapat perhatian dari kepala puskesmas Kecamatan Rambah Samo maupun Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. Bidan hanya datang setengah hari saja dan mereka pada umumnya tinggal menetap di ibukota kecamatan.

sehingga mereka hanya dapat melayani para calon akseptor yang datang ke puskesmas. sehingga calon akseptor yang belum mengambil keputusan akhirnya memutuskan untuk memakai alat kontrasepsi setelah diyakinkan oleh petugas kesehatan.110 mengalami perubahan. Di puskesmas inilah petugas kesehatan memegang peran penting karena mereka harus dapat meyakinkan para calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. sehingga otomatis peran tersebut digantikan oleh petugas kesehatan. Dengan kekuatan yang mereka miliki petugas kesehatan biasanya mampu menekan ataupun mendorong calon akseptor untuk memakai alat kontrasepsi. Di daerah penelitian sendiri petugas PLKB sudah tidak ada lagi. Namun dalam perkembangannya tugas tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik. Depkes RI (2007) mengatakan bahwa tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat pemakaian alat kontrasepsi. Meskipun sering tidak memiliki pilihan dalam hal jenis alat kontrasepsi yang dikehendaki. Petugas kesehatan juga tidak memiliki dana yang cukup untuk program tersebut. . namun mereka menyerahkan hal tersebut kepada petugas kesehatan. Petugas kesehatan menjadi pihak yang mengkampanyekan program KB kepada masyarakat.

menyarankan untuk pemeriksaan rutin dan mengatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan. Dalam pelayanan kontrasepsi. tidak sekedar hubungan antara orang sakit dengan petugas kesehatan. menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi.111 Berdasarkan indikator dukungan petugas kesehatan. sehingga anjuran atau keputusan yang dibuat akan dilaksanakan oleh masyarakat. Hubungan tersebut lebih memudahkan mereka jika calon akseptor ingin memakai alat kontrasepsi. Petugas kesehatan juga merupakan sosok yang masih dianggap panutan di masyarakat. Petugas kesehatan juga menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih serta efek sampingnya. mempunyai kesadaran dan kemampuan untuk melakukan pilihan . Adanya hubungan yang akrab antara perawat/bidan dengan masyarakat lebih memudahkan mereka dalam menggerakkan masyarakat. hubungan antara penyedia pelayanan dengan konsumen kontrasepsi tidak sama dengan hubungan dokter dengan pasien. Juliantoro (2000) mengatakan bahwa dalam pelayanan kontrasepsi. Demikian juga dalam hal pemakaian alat kontrasepsi. memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi. mayoritas responden mengatakan petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi. Konsumen kontrasepsi adalah orang yang datang dalam keadaan sehat. klien bukanlah orang sakit yang ingin disembuhkan dengan sikap pasrah terhadap segala keputusan yang diambil penyedia layanan.

Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan dapat mengubah pola/cara pikir mereka dalam menghadapi para konsumen kontrasepsi. mereka harus tetap meningkatkan kemampuan dan keahlian sehingga dapat memberikan informasi dan penyuluhan kepada masyarakat sehingga NKKBS dapat diterima dengan positif. Dengan kata lain tidak ada perbedaan antara musyawarah suami-istri dengan suami atau istri saja dalam mengambil keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi. sehingga program KB terus berlanjut dan berkesinambungan.112 sehingga pelayanan KB harus berbeda dengan pelayanan orang sakit. karena suami/isteri . Friedman (1998) dan Sarwono (2007) mengatakan bahwa ikatan suami isteri yang kuat sangat membantu ketika keluarga menghadapi masalah. Hasil uji chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pengambil keputusan dalam keluarga dengan pemakaian alat kontrasepsi (Sig=0. Bila hal ini diperhatikan maka pemanfaatan pelayanan KB dapat meningkat. Maksudnya adalah bahwa dalam hal pemakaian alat kontrasepsi suami dan istri tidak begitu mempermasalahkan musyawarah. Pengaruh Pengambil Keputusan dalam Keluarga terhadap Pemakaian Alat Kontasepsi. 2. keputusan dapat diambil oleh suami atau istri saja dengan memperhatikan segala risiko yang mungkin timbul akibat dari pemakaian alat kontrasepsi.949). Program KB masih harus tetap disosialisasikan kepada masyarakat seperti yang dilakukan oleh petugas PLKB pada masa yang lalu.

113 sangat membutuhkan dukungan dari pasangannya. saling kerjasama dalam pemakaian. 5. . membayar biaya pengeluaran untuk kontrasepsi dan memperhatikan tanda bahaya pemakaian. Adanya keterkaitan antara pendapatan dengan kemampuan membayar berhubungan dengan masalah ekonomi. Dukungan tersebut akan tercipta apabila hubungan interpersonal keduanya baik. sedangkan kemampuan membayar bisa tergantung variabel non ekonomi dalam hal selera atau persepsi individu terhadap suatu barang atau jasa (Manuaba. pertama kali suatu metode kontrasepsi harus tersedia dan mudah didapat. Ketersediaan alat kontrasepsi terwujud dalam bentuk fisik. Hal itu disebabkan orang yang paling bertanggung jawab terhadap keluarganya adalah pasangan itu sendiri. Faktor Paling Dominan terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi Berdasarkan uji regresi logistik ganda. Hartanto (2004) mengatakan bahwa metoda kontrasepsi tidak dapat dipakai istri tanpa kerjasama suami dan saling percaya. Untuk dapat digunakan. 1998). Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa faktor-fakor yang mempengaruhi alasan pemilihan metode kontrasepsi diantaranya adalah tingkat ekonomi. tersedia atau tidaknya fasilitas atau sarana kesehatan (tempat pelayanan kontrasepsi).4. Keadaan ideal bahwa pasangan suami istri harus bersama memilih metoda kontrasepsi yang terbaik. pekerjaan dan tersedianya layanan kesehatan yang terjangkau. diketahui bahwa variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Herlianto (2008). Hasil penelitian Hutauruk (2006) juga menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara ketersediaan pelayanan KB dengan utilisasi pelayanan KB (Sig=0.000).114 Disamping itu daya beli individu juga dapat mempengaruhi penggunaan kontrasepsi. bahwa ditengah otonomi daerah akseptor KB sulit untuk memanfaatkan pelayanan KB karena keterbatasan biaya untuk memperoleh alat/metode KB dan mengakibatkan terjadinya drop out karena akseptor KB tidak lagi memperoleh pelayanan KB gratis dalam safari KB seperti pada tahun-tahun sebelumnya. baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Konsumen tidak dapat memilih metode yang sesuai dengan tujuan kontrasepsinya karena alat tidak tersedia sehingga faktor ini akan berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan KB. . PUS tidak memanfaatkan pelayanan KB karena penyedia pelayanan KB tidak menyediakan semua metode kontrasepsi. Suatu pelayanan hanya bisa digunakan apabila jasa tersebut tersedia atau bisa didapat tanpa mempertimbangkan sulit atau mudahnya penggunaannya. Rochmah dalam Hutauruk (2006) mengatakan yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor organisasional yaitu ketersediaan sumber daya. Petugas cenderung memprioritaskan dan membatasi suatu metode tertentu karena keterbatasan persediaan. Menurut Kartono dalam Hutauruk (2006). secara tidak langsung daya beli individu ini juga dipengaruhi oleh ada tidaknya subsidi dari pemerintah.

Saran 1.001) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. Proporsi istri PUS yang tidak memakai alat kontrasepsi sebesar 72%. sikap (Sig=0. biaya (Sig=0. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang Signifikan antara umur (Sig=0.008).000).016). jumlah anak (Sig=0.001).014).030). Variabel yang dominan berpengaruh terhadap pemakaian alat kontrasepsi adalah ketersediaan alat kontrasepsi (Koefisien B = 3. 3. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian.1. pengetahuan (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0. sikap (Sig=0.023).005) terhadap pemakaian alat kontrasepsi 4.112). Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan kerjasama dan pendekatan kepada penentu kebijakan 99 . 2.002) dengan pemakaian alat kontrasepsi. pengetahuan (Sig=0. Hasil analisis multivariat menunjukkan ada pengaruh yang bermakna antara jumlah anak (Sig=0.041). pendidikan (Sig=0. waktu tempuh (Sig=0.000) dan dukungan petugas kesehatan (Sig=0. ketersediaan alat kontrasepsi (Sig=0.1.000).033). 6. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1.115 BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.025). jarak (Sig=0.

116 lainnya dalam mengalokasikan dana untuk pelayanan alat kontrasepsi gratis kepada masyarakat khususnya kepada keluarga miskin. 2. 3. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu perlu melakukan peningkatan kemampuan petugas kesehatan sehingga mampu memberikan informasi tentang alat kontrasepsi dan dapat memahami serta menyadari bahwa akseptor memiliki hak reproduksi sehat dan hak konsumen pengguna alat kontrasepsi. . Juga perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar dapat memahami dan menerima norma keluarga kecil sehingga diharapkan mampu membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui pengaturan atau pembatasan kelahiran anak.

id diakses tanggal 10 Juni 2009. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Indikator Kesejahteraan Rakyat 2006. Audience Research for Improving Family Planning Comunication Program. _______. 2007b. Badan Pusat Statistik. 2009. Analisis Berita Kependudukan: Triwulan Keempat 2003. Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional.go. 2004. ______. 1980. Informasi Aspek Medis Alat Kontrasepsi LIMAS. BKKBN.. Beni. Penerbit Pustaka Pelajar. 2006. 256 Tahun XXXII. University of Chicago BKKBN. Jakarta. Parametrik dan Non Parametrik. _________________. 1995. No. Tahun 33 (4): 1-8. Warta Demografi. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. _______.. T. Jakarta. BPS. Cornelius. Dua Dasawarsa Gerakan KB Nasional. BPS.117 DAFTAR PUSTAKA Ancok. 101 . BPS. S. Penerbit Rineka Cipta. _______. 2005. 1999. 2004. Jakarta. Jumlah Penduduk Miskin Berkurang di 2007. Jakarta. Bertrand. Jakarta. R. Nuansa Psikologi Pembangunan. Penerbit Andi. Jakarta. 2003. Yogyakarta. Statistik 60 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta. Edisi Revisi VI. _______. J. . Hasil Pelaksanaan Program KB Nasional. 1992. _________________. Jakarta. Memecahkan Kasus Statistik Deskriptif. Dj. Jakarta.. 2003. Arikunto. http//www. Tingkat dan Perkembangan Pemakaian Alat Kontrasepsi Menurut Parameter Demografi Sosioekonomi di Indonesia Tahun 1994-1997. Communication Laboratory Community & Family Studi Center. 2005.. No. 1990. _______. Cukilan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Statistik Indonesia 2007.. Prosedur Penelitian. 2007a. Yogyakarta. 255 Tahun XXXI. Jakarta.bkkbn.

com/rubrik/arsipaktual. http//www.H. Herlianto. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Rokan Hulu. Jakarta.. 1998. 2005. Green. Bandung. Friedman. D. Fourth Edition. Jakarta. 2001. H. Medan. _________. Keperawatan Keluarga: Teori dan Praktek. Jakarta. Psikologi Sosial. _________. 2000. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.. Fertilitas (Kelahiran) dalam Dasar-dasar Demografi. 2001.. 2004. 2006. Hutauruk. Jakarta. Jakarta. . Hasibuan. Sistem Kesehatan Nasional. D..118 Depkes RI. Ledakan Pertumbuhan Penduduk: Keluarga Berencana Tetap Menjadi Kunci. Penerbit Pustaka Sinar Harapan. Analisis Situasi dan Bimbingan Teknis Pengelolaan Pelayanan KB. Pasirpengaraian.R. Jakarta. A. Hatmadji. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 2008.A. 30 Tahun Cukup. 2007.media-indonesia. New York. Pasirpengaraian. L. Skripsi.W. Profil Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007. W. McGraw Hill. diakses tanggal 30 Agustus 2008. Hartanto. Health Program Planning: An Educational and Ecological Approach. and Kreuter M... 2004. Tesis. 2004. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 1986. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.E. Gerungan. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Metoda Kontrasepsi di Kelurahan Sidorame Barat II Kecamatan Medan Perjuangan Kodya Medan Tahun 2001. 2008. Medan.. 2008. S. Profil Kesehatan Indonesia 2005.. Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hulu. M. Profil Kependudukan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2007.. Eresco. KB dan Kontrasepsi. Hubungan Karakteristik Wanita Usia Subur (WUS) dan Kualitas Pelayanan KB dengan Utilisasi Pelayanan KB di Kabupaten Tapanuli Tengah Tahun 2006. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Juliantoro.. S.

Mantra . . Tesis. 2003. Skripsi..W.B.. E. dan Sikap Akseptor KB Terhadap Utilitas Alat Kontrasepsi Implant di Kelurahan Kota Matsum-1 Kotamadya Medan. http//www. Mochtar. 2008. Penerbit Buku Kedokteran EGC. PT RajaGrafindo Persada. Medan. Skripsi. Yogyakarta. Yogyakarta. 1998.B. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. S..al. Penerbit Buku Kedokteran EGC.id/ditfor/download. Menyisir dari Pinggir. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.go. 2006. Mutiara. Jakarta. Jakarta. Notoatmodjo. 1997.. Jakarta. Ilmu Kebidanan. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan (Terjemahan Dibyo Pramono). Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Kemandirian Akseptor KB Aktif dalam Pemanfaatan Program KB Mandiri di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Bulan Kec. .. Penerbit Rineka Cipta. Medan Baru Kodya Medan Tahun 2005. Yogyakarta Manuaba. A. dan Klar. T. Pardosi. Pratiknya. R.bkkbn.I. 1998. Penerbit Rineka Cipta. Hosmer Jr. 1997.. 2005.W. Pengetahuan.119 Kasmiyati... Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. D. Lemeshow. Pemantauan Pasangan Usia Subur Melalui Mini Survei Indonesia 2007. V. 2003. J. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Penggunaan Kontrasepsi di Wilayah Indonesia Timur (Analisis Data SDKI 1994). Jakarta. ______________. Jakarta. Cetakan 2. Gadjah Mada University Press. I. Meutia. Depok. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara... Medan.php?type=p&prgid=175 diakses tanggal 17 September 2008 . Kusuma. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. et. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Pustaka Pelajar. 2005.G. STARH-INSIST. 1995. 2007.. Edisi 2. Demografi Umum. S. I. Pengaruh Karakteristik. Sinopsis Obstetri Edisi 2.

Yogyakarta. S. Sakhnan.. Jakarta. Speroff. Jakarta. 2006. Sosiologi Kesehatan: Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya. S.B.. dan Ismael.. Siswosudarmo.W. S. S. 2002. Edisi 2. Metode dan Teknik Penyusunan Tesis.. Sastroasmoro. Yogyakarta. Cetakan Kedua. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. S. Gadjah Mada University Press. 2001. LP3ES. Penerbit Balai Pustaka. Bandung. 2005. Menuju Kesehatan Madani. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Penerbit Pustaka Pelajar.. Robbins. LP3ES. Jakarta. 2007. Pedoman Klinis Kontrasepsi. Sarwono. LP3Y dan STARH. Alphabet. I. Teori Organisasi. Yogyakarta. S. Akseptor KB Terengah di Otonomi Daerah. 2001. P.. Yogyakarta. Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.. . Gadjah Mada University Press. Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo... PT RajaGrafindo Persada. Metode Penelitian Survei. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Metodologi Penelitian. __________. S. dkk. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta. Jakarta. Jakarta. PT RajaGrafindo Persada. dan Efendi.. L... Bandung. Singarimbun. Penerbit Arcan. 2003. Sciortino. Tekonologi Kontrasepsi.120 Prihastuti. Tesis. Sarwono. Anak Tak Terbilang. Jakarta. Depok. Alkon Hilang. Saifuddin. 1995. 2003..P. S. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. M. Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Ibu PUS dalam Program KB Pada Suku Talang Mamak di Desa Seberial Indragiri Hulu Propinsi Riau Tahun 2000. 2005. Soekanto. Cetakan Keempat. Suryabrata. A. M.. 1999. 1989. dan Darney. 2001. R.. Psikologi Sosial.. 1994. Yogyakarta. 2004. S. Riduwan.

2002. Edisi Ketiga. Yogyakarta. 2008. Depok. 2007. Medan. Jakarta. SPSS 13 Terapan Riset Statistik Parametrik. AKK Sekolah Pasca Sarjana.undp. 1999.121 Syamsiah.. Penerbit Andi. Universitas Sumatera Utara. H. Peranan Dukungan Suami Istri Dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi Pada Peserta KB di Soak Bayu Kab Musi Banyuasin Sumatera Selatan Tahun 2002. USU Press. diakses tanggal 28 Februari 2008. Ilmu Kebidanan. UNDP. 2006. . Panduan Penelitian Proposal dan Tesis.org/end/reports/ . Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. http:/hdr. Skripsi.Going Beyond Income. Indonesia the Human Development Index . Triton. Wiknjosastro. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Apakah ibu peserta KB? (Jika Tidak. sebutkan. Ingin punya anak perempuan e. apa alasan ibu belum ber-KB a. alat kontrasepsi apa yang digunakan saat ini? a. Lain-lain... Pendidikan 5. Belum punya anak b.. Ya 2... Spiral b. Masih ingin punya anak c. Umur Suami 6. Responden 2. Suntik d. Dilarang suami g.122 Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI PADA ISTRI PUS DI KECAMATAN RAMBAH SAMO KABUPATEN ROKAN HULU Nomor Kuesioner Nama pewawancara : Hari/tanggal A : Identitas responden 1. Pendidikan Suami 7. Nama 3. 10.. Alasan kesehatan f. Kondom f. Tidak 9.. lanjut ke pertanyaan No. Pil e. 106 . Jika Ya. MOP/MOW g. Ingin punya anak laki-laki d..10) 1. Implant/Susuk c. No.. Lain-lain ……. Jumlah Anak : : : : : : : 8. Jika Tidak.. Umur 4...

. 2. Tidak tahu 2. PPLKB/PLKB 2.... Pembatasan kelahiran 5.. Jenis alat kontrasepsi apa saja yang ibu ketahui? 1. bahagia dan sejahtera 2. bulan 2..... Penundaan/penjarangan kelahiran 4. Untuk mengakhiri kesuburan 4. Menurut ibu. Menurut ibu.. Memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak 3. Surat kabar/Majalah 5.. Untuk mengatur jarak kehamilan 3. apakah manfaat pemakaian alat kontrasepsi? 1..... Suatu usaha dengan kesadaran sendiri membatasi kelahiran untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.. Puskesmas 3.123  11.. Suatu cara yang dianjurkan pemerintah untuk membatasi jumlah anak (idealnya adalah 2 anak) 4. Spiral/IUD . Menurut ibu...... bulan 3.. pengertian KB adalah? 1... Tidak tahu 3... Tidak tahu 5.. Suami/Orangtua/mertua 7.. Berapa rata-rata jarak kehamilan dengan anak sebelumnya….. Membentuk keluarga kecil. Dokter/Bidan Praktek Swasta 4. Anak kedua........ 1... 3.... Anak ketiga ... dan seterusnya... Salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengaturan kelahiran... Anak pertama. apakah tujuan KB? 1..bulan 4........ Tidak tahu 4.. Untuk mencegah terjadinya kehamilan 2.. B Pengetahuan tentang alat kontrasepsi (Jawaban bisa lebih dari 1) 1. Darimanakah ibu mengetahui tentang KB/alat kontrasepsi? 1... Radio/Televisi 6.

124

2. Implant/Susuk 3. Suntik 4. Pil 5. Kondom 6. Tubektomi/Vasektomi (MOP/MOW) 7. Tidak tahu 6. Menurut ibu, apa sajakah efek samping dari penggunaan alat kontrasepsi? 1. Rasa nyeri/mules 2. Kelainan haid/perdarahan/bercak darah 3. Mual/muntah/pusing 4. Infeksi/Keputihan 5. Perubahan berat badan/gemuk 6. Tidak tahu 7. Menurut ibu, apakah alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu menyusui? 1. Pil 2. Suntik 3. Tidak tahu 8. Menurut ibu, apa saja jenis kontrasepsi untuk laki-laki? 1. Kondom 2. MOP/Tubektomi 3. Tidak tahu C Sikap (Pilih satu jawaban saja) 1. Menurut ibu, manfaat KB adalah untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 2. Menurut ibu, KB bertujuan untuk merencanakan keluarga kecil, bahagia dan berkualitas 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ……………………….

125

3. Menurut ibu, pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu cara untuk menunda kehamilan dan menjarangkan kelahiran 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 4. Menurut ibu, mempunyai anak yang banyak tidak akan membawa rezeki yang banyak. 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. 5. Menurut ibu, anak laki-laki nilainya sama dengan anak perempuan 1. Setuju 2. Tidak setuju Alasan ………………………. D Ketersediaan Alat Kontrasepsi: (Pilih satu jawaban saja) 1. Pada saat ibu ingin ikut KB, apakah alat kontrasepsi selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah jenis alat kontrasepsi yang diinginkan selalu tersedia di sarana kesehatan? 1. Ya 2. Tidak Jika Tidak, dimana ibu mendapatkan alat kontrasepsi? 1. Klinik swasta 2. Praktek Dokter/Bidan 3. Apotek 4. Lain-lain, sebutkan………………… Keterjangkauan pelayanan alat kontrasepsi (Pilih satu jawaban saja) 1. Berapakah jarak rumah ibu ke sarana kesehatan? 1. ≤ 2,5 km

E

126

2. > 2,5 km 2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk sampai di tempat pelayanan kesehatan? 1. ≤ 30 menit 2. > 30 menit Jenis alat transportasi apa yang ibu gunakan untuk mencapai tempat tersebut? 1. Jalan kaki 2. Sepeda 3. Sepeda motor 4. Mobil 3. Apakah ibu mengeluarkan biaya untuk memperoleh pelayanan KB? 1. Ya 2. Tidak Bila ibu membayar untuk ber-KB, berapa biaya yang harus dikeluarkan? (Sebutkan nominalnya dalam rupiah) ………… 1. s/d 100.000,2. 100.000 s/d 200.000,3. > 200.000,Dukungan Petugas Kesehatan: (Pilih satu jawaban saja) 1. Apakah petugas kesehatan melakukan penyuluhan rutin tentang KB dan alat kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 2. Apakah petugas kesehatan menyarankan agar ibu ikut KB atau menggunakan kontrasepsi? 1. Ya 2. Tidak 3. Apakah petugas kesehatan menjelaskan terlebih dahulu tentang alat kontrasepsi yang akan dipilih dan efek sampingnya? 1. Ya 2. Tidak

F

Isteri 3. Apakah petugas kesehatan memberi kesempatan atau kebebasan dalam memilih alat kontrasepsi? 1. Tidak Jika tidak puas.. Apakah pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan memuaskan? 1. sebutkan………… G Pengambil Keputusan: Siapakah yang mengambil keputusan tentang pemakaian alat kontrasepsi dalam keluarga? 1. Ya 2. Musyawarah suami-isteri 4. Ya 2. Apakah petugas kesehatan menyarankan untuk pemeriksaan rutin? 1. WAWANCARA SELESAI TERIMAKASIH ATAS WAKTU DAN KESEMPATAN YANG TELAH DIBERIKAN . apakah penyebabnya? 1. Petugas tidak mampu memberi informasi seperti yang diharapkan 3. Mertua/orangtua 5.127  4. Tidak 5. Petugas kurang ramah 2. Petugas kesehatan Alasan ……………………. Tetangga/teman dekat 6. Suami 2. Biaya terlalu mahal 5. Ya 2. Alat/fasilitas tidak lengkap 4. Tidak 6. Lain-lain.

6752 .7333 .5862 5.7667 .9437 .8628 .2333 Scale Corrected Variance Item.8541 . 8. 2.0000 5.5862 5.7457 .0 30. 7.0 30.Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 5.8667 6.3457 .5644 5.9609 5.1333 5.8092 2.2667 5.4975 .7502 .0 N of Items = 8 .8090 .8599 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .6094 8 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 5.6333 Std Dev . 6.7208 .2333 5.8843 30.S C A L E (A L P H A) Mean 1.1000 5.0 30.3457 .6333 . P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 P8 .8849 .128 Lampiran 2 Uji Validitas dan Reliabilitas Data Reliability PENGETAHUAN ***** Method 1 (space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .1000 5.0 30.0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5.8700 .4901 Cases 30.6103 5.0851 4.8597 .4302 .8667 .7667 .0 30.6000 .6752 .0 30.4498 .0 30.0000 5.4302 . 3.8941 .0586 4.4345 . 5.4901 .8667 .8700 .4983 . 4.

8655 .1276 1.8702 .8851 .0 30.8667 .0644 2.0 30.8851 .1713 1.8667 .2667 3. 3.8212 .S C A L E (A L P H A) Mean 1.0 112 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 3.8702 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = . 4.9399 .9105 30.7667 .0 N of Items = 5 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 2.4302 Cases 30. 2.8655 .9126 . 5.8212 .7685 5 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted S1 S2 S3 S4 S5 3.0 30.5843 .4901 .1333 3.0333 3.0333 3.4302 .3457 .9000 3.0 30.1333 Scale Corrected Variance Item. S1 S2 S3 S4 S5 .6333 .7667 Std Dev .3457 .1713 1.9126 2.129 Reliability SIKAP ****** Method 1(space saver) will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S .

1826 .Alpha if Item Total if Item Deleted Correlation Deleted 1.7861 .4667 1.3790 .9299 .1826 .0 Statistics for SCALE N of Mean Variance Std Dev Variables 5. 5.7908 .4302 Cases 30.5000 4.130 Reliability Dukungan Petugas Kesehatan ****** Method 1 (space saver)will be used for this analysis ****** _ R E L I A B I L I T Y A N A L Y S I S . 3.1552 1.9667 .5000 4.1552 1.5818 .7861 .9667 . 6.7861 .7000 Scale Corrected Variance Item.0 30.5000 4.8682 Reliability Coefficients N of Cases = Alpha = .2243 6 Item-total Statistics Scale Mean if Item Deleted PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 4. 4.9069 .7667 Std Dev .1826 .7861 .5000 4.0 30.1552 .9667 .8220 .0 30.4989 1.9667 .1826 . 2.0 30.6333 4.7908 .0 N of Items = 6 . PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 .1552 1.4966 .7908 .7908 .S C A L E (A L P H A) Mean 1.8301 30.8333 .0 30.

131 Lampiran 3 Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov .

143 Total Sikap Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.54 2.600 -.734 7.431 0 5 5 2. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 3.747 .824 .40 4.293 1.823 .049 1. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound Statistic 16.50 .58 17.00 2.82 2.00 2.098 -.00 3.478 .00 .151 Total dukungan petugas Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.54 15.466 8 31 23 13.241 .54 2. Error .73 3.514 0 6 6 2.241 .68 13.132 Descriptives  Total Pengetahuan Mean 95% Confidence Interval for Mean 5% Trimmed Mean Median Variance Std.943 Std.478 .26 2.00 .70 3.06 14.392 -. Deviation Minimum Maximum Range Interquartile Range Skewness Kurtosis Lower Bound Upper Bound 2.478 115 .241 .50 55.

Lilliefors Significance Correction .287 100 .000 a Shapiro-Wilk Statistic .901 df 100 100 100 Sig.000 .000 .000 .000 a.248 100 . .880 .000 .883 .159 100 . .133 Tests of Normality  Total Pengetahuan Total Sikap Total dukungan petugas Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig.

0 1.0 4.0 93.0 30.0 93.0 40.0 71.0 100.0 30.0 27.0 6.0 27.0 22.0 117 .134 Lampiran 4 Analisis Univariat (Distribusi Frekuensi) Frequency Table Umur Istri Kategori Umur Suami DDKISTRI  Valid sd smp sma d3 pt Total Frequency 36 30 27 6 1 100 Percent 36.0 Cumulative Percent 36.0 Valid Percent 36.0 Valid Percent 31.0 22.0 100.0 97.0 Pendidikan Suami  Valid SD SMP SMA D3 S1 Total Frequency 31 40 22 4 3 100 Percent 31.0 66.0 99.0 Cumulative Percent 31.0 6.0 1.0 100.0 100.0 100.0 40.0 3.0 3.0 4.0 100.

0 29.0 40.0  Valid <40 tahun >=40 tahun Total Frequency 71 29 100 Percent 71.0 100.0 Valid Percent 60.0 100.0 100.0 100.0 40.0 29.0 100.0 Cumulative Percent 71.0 100.0 Valid Percent 71. Valid 20-35 tahun >35 tahun Total Frequency 60 40 100 Percent 60.0 Cumulative Percent 60.0 117 .

0 46.0 Valid Percent 72.0 100.0 2.0 13.0 11.0 Cumulative Percent 39.0 95.0  Valid <56 bulan >= 56 bulan Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 100.0 100.0 2.0 78.0 82.0 Cumulative Percent 72.0 4.0 7.0 13.0 72.0 6.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 28.0 48.0 100.0 46.135 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 100.0 100.0 Valid Percent 39.0 5.0 100.0 6.0 Alat kontrasepsi yang digunakan  Valid tidak kb spiral implant/susuk suntik pil Total Frequency 72 6 4 7 11 100 Percent 72.0 48.0 Cumulative Percent 28.0 Valid Percent 28.0 72.0 Valid Percent 28.0 .0 100.0 100.0 Pemakaian Alkon  Valid Ya/Pakai Tidak Total Frequency 28 72 100 Percent 28.0 76.0 100.0 Valid Percent 54.0 4.0 4.0 11.0 100.0 Alasan ibu belum ber-kb  Valid Berkb masih ingin punya anak ingin anak laki-laki ingin anak perempuan Alasan kesehatan Dilarang Suami Total Frequency 28 48 13 4 2 5 100 Kategori Jarak Lahir Percent 28.0 100.0 5.0 7.0 89.0 100.0 89.0 61.0 4.0 93.0 61.0 Cumulative Percent 54.

0 42.0 45.0 42.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 Sikap Valid Percent 48.0 100.0 100.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 100.0 100.0 SIkap Valid Percent 42.0 Cumulative Percent 42.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 55 45 100 Percent 55.0 Valid Percent 55.0 100.0 52.0 Sikap Valid Percent 43.0 100.0 100.0 57.0 100.0 100.0 .0 100.0 Sikap Valid Percent 58.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 Cumulative Percent 43.0 100.0 Cumulative Percent 58.0 58.0 57.136 Sikap  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0  Valid Tidak Setuju Setuju Total Frequency 58 42 100 Percent 58.0 100.0 52.0 Cumulative Percent 55.0 45.0 58.

0 Cumulative Percent 33.0 100.0 100.0 100.0 58.0 100.0 9.0 100.0 57.0 57.0 Valid Percent 49.0 57.0 100.0 91.0 100.0 100.0 9.5 km >2.0 Tempat mendapatkan alkon  Valid Klinik swasta Praktek dokter/bidan Apotik Total Frequency 33 58 9 100 Percent 33.0 51.0 Valid Percent 43.0 58.0 100.0 100.0 .0 Jarak ke sarkes  Valid <2.0 100.0 Cumulative Percent 49.5 km Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 Cumulative Percent 43.137 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 43 57 100 Percent 43.0 Waktu Tempuh Valid Percent 43.0 100.0 51.0 Cumulative Percent 55.0 Valid Percent 33.0 100.0 Ketersediaan Alkon  Valid Tidak Ya Total Frequency 49 51 100 Percent 49.0 100.0  Valid <30 mnt >30 mnt Total Freqenucy 55 45 100 Percent 55.0 100.0 57.0 Valid Percent 55.0 Cumulative Percent 43.0 45.0 45.

0 71.0 100.138 Biaya yg dikeluarkan  Valid Tidak Terjangkau Terjangkau Total Frequency 51 49 100 Percent 51.0 100.0 20.0 71.0 Valid Percent 51.0 .0 Cumulative Percent 27.0 100.0 Valid Percent 45.0 49.0 100.0 100.0 100.0 100.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 45 55 100 Percent 45.0 100.0 73.0 55.0 Valid Percent 47.0 100.0 Jenis alat transportasi yang dimiliki  Valid Jalan kaki Sepeda Sepeda Motor Total Frequency 47 33 20 100 Percent 47.0 Valid Percent 27.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 27 73 100 Percent 27.0 100.0 55.0 49.0 Cumulative Percent 47.0 100.0 33.0 100.0 100.0 73.0 Valid Percent 29.0 20.0 80.0 Cumulative Percent 29.0 Cumulative Percent 51.0 100.0 33.0 100.0 Cumulative Percent 45.

0 Valid Percent 39.0 100.139 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 42 58 100 Percent 42.0 61.0 Valid Percent 42.0 Cumulative Percent 51.0 100.0 100.0 99.0 Cumulative Percent 42.0 36.0 52.0 Valid Percent 47.0 100.0 Alasan Tidak puas atas pelayanan petugas kesehatan  Valid Petugas kurang ramah petugas tidak mampu memberi informasi Fasilitas tidak lengkap Total Frequency 47 52 1 100 Percent 47.0 13.0 52.0 100.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga  Valid Suami Isteri Musyawarah Total Frequency 51 13 36 100 Percent 51.0 52.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 52.0 100.0 100.0 100.0 .0 Cumulative Percent 39.0 36.0 100.0 Valid Percent 48.0 1.0 58.0 100.0 100.0 64.0 100.0 Cumulative Percent 47.0 58.0 Valid Percent 51.0 Dukungan Petugas  Valid Tidak Ya Total Frequency 39 61 100 Percent 39.0 100.0 61.0 13.0 100.0 1.0 Cumulative Percent 48.0 100.

0 27.0 100.0 100.0 53.0 100.0 Cumulative Percent 54.0 Cumulative Percent 7.0 64.0 100.0 100.140 Kategori Umur Istri  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 40 60 100 Percent 40.0 66.0 100.0 Valid Percent 40.0 60.0 46.0 100.0 46.0 100.0 100.0 Kategori Sikap Valid Percent 47.0 60.0 Kategori Jumlah Anak  Valid > 2 orang <= 2 orang Total Frequency 54 46 100 Percent 54.0 100.0 100.0 Kategori Pengetahuan  Valid Tinggi Rendah Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 66.0 100.0  Valid Baik Tidak baik Total Frequency 36 64 100 Percent 36.0 Valid Percent 54.0 Pendidikan istri  Valid Tinggi Menengah Dasar Total Frequency 7 27 66 100 Percent 7.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 Valid Percent 36.0 .0 53.0 100.0 27.0 Cumulative Percent 47.0 34.0 64.0 Valid Percent 7.0 Cumulative Percent 36.0 100.

0 100.0 100.0 52.0 Cumulative Percent 48.0 100.0 52.0 100.0 52.0 53.0 100.0 100.0 Kategori Dukungan Petugas  Valid Mendukung Tidak mendukung Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 Valid Percent 48.0 53.0 100.0 37.0 .0 Biaya yg dikeluarkan  Valid Murah Mahal Total Frequency 47 53 100 Percent 47.0 100.0 Valid Percent 63.0 Cumulative Percent 48.0 Waktu Tempuh  Valid Dekat Jauh Total Frequency 63 37 100 Percent 63.0 Cumulative Percent 29.0 100.0 Cumulative Percent 47.0 100.0 52.0 100.141 Kategori Ketersediaan Alkon  Valid Tersedia Tidak Tersedia Total Frequency 48 52 100 Percent 48.0 100.0 71.0 Valid Percent 47.0 100.0 Cumulative Percent 63.0 71.0 100.0 Valid Percent 48.0 37.0 Jarak ke sarkes  Valid Dekat Jauh Total Frequency 29 71 100 Percent 29.0 100.0 Valid Percent 29.

0% Musyawarah .0 100.0% Total 17 17.0 100.0% 3 3.0 Pengambil Keputusan dalam Keluarga * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Pengambil Keputusan dalam Keluarga Suami Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Isteri Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Total Count Expected Count % within Pengambil Keputusan dalam Keluarga Pemakaian Alkon Ya 17 17.0 62.0 100.0 100.0 100.0 100.0% 28 28.0 Valid Percent 38.0% 28 28.0% 3 3.0 62.0 100.0% 8 8.0 100.0% 8 8.0 100.0 Cumulative Percent 38.142 Kategori Pengambil Keputusan  Valid Baik Tidak Baik Total Frequency 38 62 100 Percent 38.0 100.0 100.

0 100.0 100.0 100.0% Praktek dokter/bidan Count .0% 11 11.0 100.0 100.0% 28 28.0 100.0 100.143 Tempat mendapatkan alkon * Pemakaian Alkon Crosstabulation  Tempat mendapatkan Klinik swasta alkon Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Apotik Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Total Count Expected Count % within Tempat mendapatkan alkon Pemakaian Alkon Ya 12 12.0% 5 5.0% 28 28.0% 5 5.0 100.0% 11 11.0% Total 12 12.

015 .0 100.0 72.033 .0% 66 66.0 100.7% 13 18. (1-sided) .1% 11 7.0 100.0 28.915 b df 1 1 1 1 Asymp.3% 34 28.0 42.0% 127 .533 100 a.023 .144 Lampiran 5 Analisis Bivariat Kategori Umur Istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Umur Istri Risiko Rendah Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Risiko Tinggi Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Total Count Expected Count % within Kategori Umur Istri Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya 22 16.0 100.8 36.2 15. Sig.0% Total 60 60.0 100.0% 100 100.0 28.9% 16 19.0% 72 72.018 . 0 cells (.015 5.8 85.7% 6 11. (2-sided) Exact Sig.4 59.0% Tidak 38 43. Pendidikan istri * Pemakaian Alkon Crosstab  Pendidikan istri Tinggi Count Expected Count % within Pendidikan istri Menengah Count Expected Count % within Pendidikan istri Dasar Count Expected Count % within Pendidikan istri Total Count Expected Count % within Pendidikan istri Pemakaian Alkon Ya 4 2.0% Tidak 3 5.0 100.3% 72 72.20.589 4.0 57.0% 28 28.0%) have expected count less than 5.0% Total 7 7.3% 53 47.7% 28 28.0% 40 40.5 80.0 100.5 19.2 63.0% 27 27.6 40.566 5.019 Exact Sig. (2-sided) . Computed only for a 2x2 table b.0% 100 100.0 72.0%  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 5. The minimum expected count is 11.

0 100.9 61.013 .0%) have expected count less than 5. Sig.025 . Sig.1 38.0% > 2 orang Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.380 a 7.0% 84.009 . (2-sided) . The minimum expected count is 1.0% 54 54. (2-sided) .904 b 5.1 15.9 33.185 6. 1 cells (16.1% 72 72.835 100 df 1 1 1 1 Asymp. Kategori Jumlah Anak * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Jumlah Anak <= 2 orang Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Count Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Expected Count % within Kategori Jumlah Anak Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 7 39 12.036 7.0% Total 46 46.0 28.780 7.272 100 df 2 2 1 Asymp. (2-sided) Exact Sig.007 a.030 .8% 33 38. The minimum expected count is 12. Computed only for a 2x2 table b.96. 0 cells (.0 100.9% 28 28.2% 21 15.7%) have expected count less than 5.016 . .0 72.145 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value 7.0 100. (1-sided) .007 a.009 Exact Sig.007 .0% 100 100.88.

2% 47 38.0% 54 46.8 46.0%) have expected count less than 5.9 15.0 28.0 100.6% 28 28.0 100.0 72. Computed only for a 2x2 table b.000 .0% Tidak 18 25. 0 cells (.4% 72 72.9 50. (2-sided) Exact Sig.146 Kategori Pengetahuan * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Pengetahuan Tinggi Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Expected Count % within Kategori Pengetahuan Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.1 84.0 100.0% Total 36 36.1 50.3% 28 28.0% 53 53.851 16.000 Exact Sig.000 .561 13. The minimum expected count is 13.405 100 b df 1 1 1 1 Asymp.16.000 a.2 88.0 100. Kategori Sikap * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Sikap Baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Tidak baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Total Count Expected Count % within Kategori Sikap Pemakaian Alkon Ya 18 10.2 33. (1-sided) .7% 72 72.0% 53.0% 64 64.0% Rendah Total Count  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 15. Sig.000 .0% .190 15.0 28.0% Total 47 47.0% 100 100.0 72.0% 10 17.8% 6 14.0 100.0% 100 100.0 100. (2-sided) .000 .8 11.

6 52.000 .4 94.0 28.369 100 df 1 1 1 1 Asymp.000 .0 100.000 a. The minimum expected count is 13.000 a.000 Exact Sig.0% Total  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 26. (2-sided) .209 13. Sig.000 .504b 11.000 Exact Sig.08.000 .2% 72 72.0%) have expected count less than 5. 0 cells (.292 100 df 1 1 1 1 Asymp.0 72.000 . (2-sided) Exact Sig.147 Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 13.193 26.000 . (1-sided) . (1-sided) . Computed only for a 2x2 table b.309 29.0% Total 48 48.1% 3 14.0%) have expected count less than 5.001 . 0 cells (.000 .0% 100 100.44. Computed only for a 2x2 table b.557 b 24. (2-sided) Exact Sig. Sig.0 100. . Kategori Ketersediaan Alkon * Pemakaian Alkon Crosstab  Kategori Ketersediaan Alkon Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Tidak Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Chi-Square Tests Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 23 13.8% 28 28.0 100. The minimum expected count is 10. (2-sided) .0% 52 52.853 13.6 5.4 34.9% 49 37.0% 47.

009 a.2% 28 28. Waktu Tempuh * Pemakaian Alkon Crosstab  Waktu Tempuh Dekat Count Expected Count % within Waktu Tempuh Jauh Count Expected Count % within Waktu Tempuh Total Count Expected Count % within Waktu Tempuh Pemakaian Alkon Ya 23 17. Sig.252 100 df 1 1 1 1 Asymp.7% 46 51.0% 100 100.142 7.0 72.148 Jarak ke sarkes * Pemakaian Alkon Crosstab  Jarak ke sarkes Dekat Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Jauh Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Total Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Pemakaian Alkon Ya 3 8.012 .0 100.5% 5 10.5% 28 28.0 100.0% Total 29 29.315 b 5.0% Tidak 40 45.0% Tidak 26 20.0 72.023 .0% 71 71.0 100.0%) have expected count less than 5. (2-sided) .12.014 .007 .0% 100 100.012 Exact Sig.1 10.0 100.1 64.9 35.3% 25 19.9 89. (2-sided) Exact Sig.0 28.0% Chi-Square Tests  Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a Value 6.0% .5% 32 26. Computed only for a 2x2 table b.0 100.4 13.6 86.0% Total 63 63.0 28.8% 72 72. 0 cells (.0 100.4 63.178 6. (1-sided) . The minimum expected count is 8.6 36.5% 72 72.0% 37 37.

149

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 6.114 b 5.026 6.592 6.052 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .013 .025 .010 .014

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.020

.011

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.36.

Biaya yg dikeluarkan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Biaya yg dikeluarkan Murah Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Total Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Chi-Square Tests

Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13.2 33.8 46.8% 6 14.8 11.3% 28 28.0 28.0% 53.2% 47 38.2 88.7% 72 72.0 72.0%

Total 47 47.0 100.0% 53 53.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Mahal


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 15.561 b 13.851 16.190 15.405 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .000 .000 .000 .000

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.000

.000

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.16.

150

Kategori Dukungan Petugas * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Dukungan Petugas Mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Tidak mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Total Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas

Pemakaian Alkon Ya 21 13.4 43.8% 7 14.6 13.5% 28 28.0 28.0% Tidak 27 34.6 56.3% 45 37.4 86.5% 72 72.0 72.0% Total 48 48.0 100.0% 52 52.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value 11.358 b 9.905 11.714 11.245 100

df 1 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .001 .002 .001 .001

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.001

.001

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.44.

Kategori Pengambil Keputusan * Pemakaian Alkon
Crosstab


Kategori Pengambil Keputusan Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Tidak Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan

Pemakaian Alkon Ya Tidak 10 28 10.6 27.4 26.3% 18 17.4 29.0% 28 28.0 28.0% 73.7% 44 44.6 71.0% 72 72.0 72.0%

Total 38 38.0 100.0% 62 62.0 100.0% 100 100.0 100.0%

Total

151

Chi-Square Tests


Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases
a

Value .086 .004 .087
b

df 1 1 1

Asymp. Sig. (2-sided) .769 .949 .768

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

.822

.478

.085 100

1

.770

a. Computed only for a 2x2 table b. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.64.

0 72.b Predicted Pemakaian Alkon Observed Ya Step 0 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a. If weight is in effect.000 (2) .E.0 .0 Variables in the Equation  B Step 0 Constant .000 Block 0: Beginning Block Classification Table a.223 Wald 17. b. The cut value is .000 .0 . see classification table for the total number of cases.944 S. Dependent Variable Encoding Categorical Variables Codings  Frequency Pendidikan Tinggi istri Menengah Dasar 7 27 66 Parameter coding (1) 1.0 100.000 1.983 df 1 Sig.152 Lampiran 6 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total a N 100 0 100 0 100 Percent 100.0 100.000 .000 Exp(B) 2.000 . .0 100.571 135 .0 a. Constant is included in the model.500 0 0 Tidak 28 72 Percentage Correct . .

Original Value Ya Tidak Internal Value 0 1 .

.000 .904 15.561 13.561 11.675 .000 .280 Model Summary df 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 4 4 1 5 5 Sig.075 .000 .000 Step 1 2 3 4 5 -2 Log likelihood 89.557 6.193 11.469 Nagelkerke R Square .504 26.000 .021 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Sig.727 55.193 29.193 29.000 Block 1: Method = Forward Stepwise (Likelihood Ratio) Omnibus Tests of Model Coefficients  Step 1 Step Block Model Step 2 Step Block Model Step 3 Step Block Model Step 4 Step Block Model Step 5 Step Block Model Chi-square 29.358 53.000 .982 66.013 .334 .000 .025 .417 40.641 .863 58.114 15.171 2.587 .000 .012 .000 .310 Cox & Snell R Square .018 .000 .786 52.011 .315 6.365 .001 .009 .395 6. .084 .589 7.408 .417 63.253 .000 .609 40.863 4.000 .481 .153 Variables not in the Equation  Step 0 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Score 5.380 3.000 .036 .609 11.000 .469 58.445 .000 .398 77.196 59.001 .978 6.280 63.001 .395 52.

351 8.000 .893 2.118 6.699 7.326 S.3 83.023 1.702 .072 4.206 .083 -1.0 78.033 10.454 1.686 df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Sig.707 .005 6.005 .806 15.206 .721 .0% C.817 1.134 9.609 .442 . c. .828 .528 .447 .841 21.0 64.773 .450 184.211 36.000 .809 Wald 18.754 .920 .700 . e.448 3.517 -2. d.266 95.897 -2.089 36.807 .083 9.645 .189 .302 1.418 3. .245 -1.173 2.014 .457 9.093 43.475 2.618 .000 .230 5.894 .148 27.8 91. .6 95.045 6.151 4.002 .3 83.925 1.001 .593 2.045 .254 -.670 2.187 12.858 64.747 .513 .714 .016 .002 .1 74.170 .E.014 129.025 17.021 7.888 .305 .691 3.758 .926 . Variable(s) entered on step 5: SIKAPKAT.008 .110 8.000 .791 .307 9.for EXP(B) Lower Upper 4.100 5. Variable(s) entered on step 2: JHLANAKK.453 . b.551 44.459 SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK d 4 TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK e 5 TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant a.I.6 90.093 4.877 -.322 8.041 .442 21.253 22.0 78.403 .511 .0 64. Variable(s) entered on step 3: DUKUNGKA.385 184.575 26.371 5.066 2.3 90.0  Step SEDIAKAT a 1 Constant Step JHLANAKK b 2 SEDIAKAT Constant Step JHLANAKK 3 c B 2.187 -2.463 .252 2.112 2.005 .775 .086 .135 1.101 Exp(B) 17.753 .001 .063 3.500 Variables in the Equation 22 3 6 69 22 7 6 65 18 7 10 65 18 7 10 65 Ya 25 23 Tidak 3 49 Percentage Correct 89.488 111.882 .736 .910 3.289 .3 68.154 Classification Table a Predicted Pemakaian Alkon Observed Step 1 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 2 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 3 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 4 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 5 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.597 .002 .423 32.832 9.661 . Variable(s) entered on step 1: SEDIAKAT.474 18. The cut value is .720 .004 .024 1.3 90. Variable(s) entered on step 4: TAHUKAT.3 87.

786 11.011 .001 .036 .699 -55.295 -44.313 -31.098 -42.882 -31.001 .000 .179 -35.000 . of the df 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Change .454 6.000 .001 .095 10.203 -32.155 Model if Term Removed Change in -2 Log Likelihood 29.000 .898 8.089 -48.193 11.417 17.009 .803 4.116 Model Log Variable Step 1 Step 2 SEDIAKAT JHLANAKK SEDIAKAT Step 3 JHLANAKK SEDIAKAT DUKUNGKA Step 4 JHLANAKK TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Step 5 JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Likelihood -59.953 -38.864 -36.469 24.710 11.631 10.765 -33.803 6.991 -35.703 -40.001 .417 33.057 -29.000 .000 .424 13.001 .713 Sig.982 31.004 .

133 .464 .305 9.031 .398 6.061 .061 .845 5.001 .403 .116 .994 3.925 2.117 .156 Variables not in the Equation  Step 1 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Score 4.690 .269 .283 .011 .806 4.001 .000 .078 .126 2.108 5.069 .251 .524 .042 .222 5.537 2.369 .365 1.104 .003 .048 .253 .143 .323 Step 2 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Step 3 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Step 4 Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Step 5 .991 .308 2.076 .117 .006 .065 .415 .318 10.608 .159 .786 8.515 7.489 . .501 .001 .043 .980 .326 .975 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 2 1 1 1 1 1 1 1 8 1 2 1 1 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 1 1 6 Sig.734 .933 .956 3.610 .358 .997 .001 .053 11.010 .177 27.142 2.518 3.057 .113 .105 .145 .365 11.127 .698 16.034 .446 4.150 3.065 .004 .845 1.819 .484 6.624 4.456 3.958 .484 1.092 .000 6.147 2.003 .124 .328 .665 .456 1.478 .000 5.036 33.319 .

0% Total 36 36.2 88.0% Kategori Pengetahuan Tinggi Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Count Expected Count % within Kategori Pengetahuan Expected Count % within Kategori Pengetahuan Chi-Square Tests Rendah Total Count Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 15.0% Total 47 47.0% 54 46.3% 28 28.000 .0% 100 100. Computed only for a 2x2 table b. (1-sided) .000 .190 1 1 1 1 Asymp.0%) have expected count less than 5.0 100.405 100 a df b 15.0% 10 17.7% 72 72.561 13. (2-sided) Exact Sig.9 50.0 100.851 16.000 a.8 46.9 15.0 100.0% 53 53.0 100. The minimum expected count is 13.0 100.16.0% Tidak 18 25.8 11.6% 28 28. (2-sided) .0 72.0% .0 28.0 100.0% 53.0 72.1 84.1 50. 0 cells (.146 Kategori Pengetahuan * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Tidak 22 25 13. Kategori Sikap * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Kategori Sikap Baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Tidak baik Count Expected Count % within Kategori Sikap Total Count Expected Count % within Kategori Sikap 18 10.4% 72 72. Sig.0% 64 64.2% 47 38.2 33.000 .8% 6 14.000 Exact Sig.000 .0% 100 100.0 28.

0% Total 48 48.0%) have expected count less than 5.0%) have expected count less than 5.193 26. 0 cells (.0 100. The minimum expected count is 10. (1-sided) Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a 26.0% 52 52.0 28. Computed only for a 2x2 table b.000 Total Exact Sig.000 . (2-sided) . Kategori Ketersediaan Alkon * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 23 13.147 Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases a df 1 1 1 1 13.209 13.000 .853 13.08. (2-sided) .000 .000 . The minimum expected count is 13.0 100.6 5. (2-sided) Exact Sig.9% 49 37.4 94.292 100 .0 100.504b 11.557 b 24.000 a.000 . 0 cells (. (2-sided) Exact Sig.000 a.309 29. Computed only for a 2x2 table b. . Sig.369 100 Asymp. Sig.1% 3 14.001 .0 72.000 .44.8% 28 28. (1-sided) .000 .0% 100 100.4 34.0% Kategori Ketersediaan Alkon Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Tidak Tersedia Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Count Expected Count % within Kategori Ketersediaan Alkon Chi-Square Tests Value df 1 1 1 1 Asymp.000 Exact Sig.2% 72 72.0% 47.6 52.

0 72.0% 71 71.0 72.9 35. 0 cells (.0% Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 6.009 a.0 100.0% 37 37.1 64.4 63.0 100.315 b 5. (2-sided) Exact Sig.007 Exact Sig.0 28.0 28.012 a df 1 1 1 6.5% 5 10. (2-sided) .4 13.6 86. Computed only for a 2x2 table b.5% 28 28.0 100.0% .7% 46 51.0 100.0% Tidak 26 20.023 . The minimum expected count is 8.2% 28 28.0 100.012 .252 100 1 .8% 72 72.1 10. (1-sided) .148 Jarak ke sarkes * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Jarak ke sarkes Dekat Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Jauh Count Expected Count % within Jarak ke sarkes Total Count Expected Count % within Jarak ke sarkes 3 8.142 7.178 Asymp.0% Tidak 40 45.0% 100 100.9 89.3% 25 19.12.6 36.0% Total 63 63.5% 72 72.0%) have expected count less than 5.0 100.0% 100 100.014 .5% 32 26. Sig.0% Total 29 29. Waktu Tempuh * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Waktu Tempuh Dekat Count Expected Count % within Waktu Tempuh Jauh Count Expected Count % within Waktu Tempuh Total Count Expected Count % within Waktu Tempuh 23 17.

8 53. Computed only for a 2x2 table b.052 100 1 . (2-sided) . (2-sided) . Computed only for a 2x2 table b.114 b 5.2 46.592 Asymp.0 100.0% 53 53.026 6.000 .000 Exact Sig. The minimum expected count is 13. 0 cells (.561 b 13.0% 100 100.0 100.36.405 100 1 . The minimum expected count is 10.0% Total 47 47.000 .000 .3% 28 28.8 11.8% 6 14.16. (2-sided) Exact Sig.149 Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 6. Biaya yg dikeluarkan * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Biaya yg dikeluarkan Murah Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Total Count Expected Count % within Biaya yg dikeluarkan Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 15. (1-sided) . (2-sided) Exact Sig. .010 Exact Sig.7% 72 72. 0 cells (.851 16.000 a Tidak 25 33.0 28.2% 47 38.190 Asymp.014 a df 1 1 1 6.0 100.0%) have expected count less than 5.0% Mahal df 1 1 1 15.0%) have expected count less than 5.011 a. Sig.2 88.000 a.0 72.020 . Sig.025 . (1-sided) .013 .0% 22 13.

0% 100 100.0 72.6 27. (2-sided) .6 56.4 43. (1-sided) .5% 28 28.358 b 9.0 100.0 100.150 Kategori Dukungan Petugas * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Kategori Dukungan Petugas Mendukung Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas Total Count Expected Count % within Kategori Dukungan Petugas 21 13.0% 73. The minimum expected count is 13.0% Tidak mendukung Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.714 Asymp.905 11.0% Total 38 38.0% 28 28. Computed only for a 2x2 table b.0% 100 100.3% 18 17.4 86.0% Total 48 48.002 .6 13. (2-sided) Exact Sig.001 a df 1 1 1 11.6 71. Sig.001 .7% 44 44.8% 7 14.0% Kategori Pengambil Keputusan Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Tidak Baik Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Count Expected Count % within Kategori Pengambil Keputusan Total .0 100.001 Exact Sig.0 72.0 100.3% 45 37.0 28.4 29.5% 72 72.0% 62 62.4 26.245 100 1 .0 100.0 28.44.0% 72 72.0% Tidak 27 34.001 a.0%) have expected count less than 5.001 .0% 52 52. 0 cells (.0 100. Kategori Pengambil Keputusan * Pemakaian Alkon Crosstab Pemakaian Alkon Ya Tidak 10 28 10.

(2-sided) . Computed only for a 2x2 table b.64.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.085 100 1 . (2-sided) Exact Sig.822 .087 1 1 1 Asymp.151 Chi-Square Tests Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases . Sig. .086 . 0 cells (.768 Exact Sig.769 .949 .770 a df b .478 a.004 . (1-sided) .

0 . The cut value is .0 100.b Predicted Pemakaian Alkon Ya Tidak 0 28 72 0 Percentage Correct . Dependent Variable Encoding Categorical Variables Codings Block 0: Beginning Block Classification Table a.152 Lampiran 6 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik Ganda) Case Processing Summary Unweighted Cases Selected Cases Included in Analysis Missing Cases Total Unselected Cases Total a N 100 0 100 0 100 Percent 100.0 Observed Step 0 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage a.0 . see classification table for the total number of cases.0 100.0 100. b.0 a. Constant is included in the model.500 Variables in the Equation 135 .0 72. If weight is in effect.

571 .000 (2) .E.000 B Step 0 Constant .000 .Original Value Ya Tidak Internal Value 0 1 Parameter coding Frequency Pendidikan Tinggi istri Menengah Dasar 7 27 66 (1) 1.944 S.000 . . .983 df 1 Sig.000 .223 Wald 17.000 Exp(B) 2.000 1.

000 .013 .587 .561 11.001 .000 .000 .589 7.380 3.469 58.395 52.000 .280 Model Summary Step 1 2 3 4 5 -2 Log likelihood 89. .863 58.001 .310 Cox & Snell R Square .114 15.786 52.395 6.171 2.280 63.417 40.000 .084 .036 .978 6.609 11.000 .000 .018 .408 .012 .253 .417 63.153 Variables not in the Equation Step 0 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Score 5.358 53. .001 .193 11.193 29.365 .000 .727 55.000 .982 66.398 77.193 29.000 .504 26.011 .445 .021 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 11 Sig.075 .000 .481 .641 .609 40.561 13.469 Nagelkerke R Square .025 .557 6.863 4.196 59.904 15.000 .675 df 1 1 1 1 2 2 1 3 3 1 4 4 1 5 5 Sig.000 Block 1: Method = Forward Stepwise (Likelihood Ratio) Omnibus Tests of Model Coefficients Step 1 Step Block Model Step 2 Step Block Model Step 3 Step Block Model Step 4 Step Block Model Step 5 Step Block Model Chi-square 29.315 6.000 .009 .000 .334 .000 .

6 90.045 6.0% C.021 7.005 6.3 87.551 44.025 17.063 3.253 22.858 64.I.597 .807 .593 2.371 5.0 Observed Step 1 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 2 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 3 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 4 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage Step 5 Pemakaian Alkon Ya Tidak Overall Percentage 7 7 7 3 a.066 2. Variable(s) entered on step 1: SEDIAKAT.806 15.454 1.791 .893 2.832 9.721 .041 .500 Variables in the Equation Wald df 18.024 1.3 83.775 .151 4.083 9.575 26.418 3.245 -1.100 5.894 .447 .754 . .0 64.252 2.475 2. .6 95.1 74.230 5.841 21.609 . e.086 .474 18.001 .110 8.045 .008 .118 6.0 18 64.000 .699 7.254 -.488 111. Variable(s) entered on step 5: SIKAPKAT.307 9. b.266 2.001 . c.691 3.457 9.135 1.720 .0 22 78.897 -2.661 .442 21.517 -2.773 .206 .513 .511 .618 .707 .016 .828 .083 -1.112 2.000 .000 .747 .3 90.170 .189 .463 .817 1.023 1.187 -2.089 36.005 .289 .004 .154 Classification Table a Predicted Pemakaian Alkon Ya Tidak 25 3 49 10 65 10 65 6 65 6 69 23 18 Percentage Correct 89.645 . d.714 .326 .173 2. The cut value is .093 43.528 .351 8.702 .002 .322 8.187 12.453 .002 .809 Sig.for EXP(B) Lower Upper 4.700 .206 .920 .926 .072 4.002 . Variable(s) entered on step 2: JHLANAKK.448 3.403 .3 90.000 .670 2.0 22 78.459 SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK d 4 TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant Step JHLANAKK e 5 TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Constant a.E.305 . .101 Exp(B) 17.134 9.033 10.014 .877 -.442 .888 .686 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 95.385 184.005 .148 27.3 68.882 .753 B Step SEDIAKAT a 1 Constant Step JHLANAKK b 2 SEDIAKAT Constant Step JHLANAKK 3 c S.211 36.925 1.014 129.8 91.910 3.3 83. Variable(s) entered on step 3: DUKUNGKA. Variable(s) entered on step 4: TAHUKAT.423 32.302 1.093 4.450 184.736 .758 .

203 -32.036 .057 -29.864 -36.116 Sig.786 11.011 .000 .000 .713 Change in -2 Log Likelihood 29.765 -33.631 10.000 .803 6.193 11.803 4.155 Model if Term Removed Model Log SEDIAKAT JHLANAKK SEDIAKAT Step 3 JHLANAKK SEDIAKAT DUKUNGKA Step 4 JHLANAKK TAHUKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Step 5 JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT SEDIAKAT DUKUNGKA Likelihood -59.710 11.009 .424 13.001 .089 -48.295 -44.179 -35.001 .313 -31.982 31.417 17.000 .454 6.703 -40.001 Variable Step 1 Step 2 df . of the 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Change .469 24.004 .001 .417 33.095 10.000 .882 -31.699 -55.001 .898 8.953 -38.991 -35.000 .098 -42.

092 .501 .159 .143 .956 3.845 1.034 .464 .053 11.980 .326 .283 .011 .456 1.478 .001 .624 4.398 6.078 .042 .253 .484 1. .328 .489 .365 1.665 .142 2.515 7.124 .819 .147 2.734 .043 .537 2.786 8.305 9.061 .698 16.117 .994 3.113 .065 .518 3.323 Step 2 Step 3 Step 4 Step 5 .150 3.116 .003 .845 5.000 .061 .975 df 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 9 1 2 1 1 1 1 1 1 1 8 1 2 1 1 1 1 1 1 7 1 2 1 1 1 1 1 6 Sig.105 .806 4.001 .000 6.010 .925 2.177 27.222 5.610 .127 .369 .690 .608 .006 .156 Variables not in the Equation Step 1 Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JHLANAKK TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA DUKUNGKA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) TAHUKAT SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) SIKAPKAT JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Variables UMURKAT DIDIK DIDIK(1) DIDIK(2) JARAK WAKTU BIAYA Overall Statistics Score 4.001 .997 .358 .076 .524 .057 .104 .117 .048 .001 .318 10.365 11.319 .415 .446 4.108 5.456 3.000 5.031 .004 .991 .133 .003 .036 33.251 .933 .308 2.145 .269 .403 .065 .958 .069 .484 6.126 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful