Anda di halaman 1dari 2

Actio Pauliana Adalah suatu upaya hukum untuk membatalkan transaksi yang dilakukan oleh debitor untuk kepentingan

debitor yang dapat merugikan pihak kreditor. Upaya ini dilakukan dalam jangka 1 tahun sebelum putusan pernyataan pailit diucapkan. Adapun yang menjadi dasar hukum dari Actio Pauliana adalah Pasal 1341 KUHPdt dan Pasal 42 UU No.37 Tahun 2004. Actio pauliana adalah kewenangan untuk menuntut pembatalan perbuatan-perbuatan hukum debitor yang merugikan kreditornya, misalnya hibah yang sengaja dilakukan debitor sebelum dirinya dinyatakan pailit yang mengurangi/membuat mustahil pemenuhan pembayaran utang-utangnya.

Syarat-syarat pembatalan Tuntutan pembatalan berdasarkan actio pauliana pada umumnya (sesuai KUH Perdata) harus memenuhi tiga syarat: 1. Menyangkut perbuatan hukum yang tidak wajib dilakukan oleh debitor; 2. Perbuatan tersebut mengakibatkan kerugian pada satu atau lebih kreditor; 3. Debitor bersangkutan, maupun pihak dengan atau untuk siapa perbuatan tersebut dilakukan, mengetahui bahwa akibat perbuatan tersebut merugikan kreditor. Dalam proses kepailitan (pasca putusan pailit), ada beberapa varian dari actio pauliana, yaitu: 1. Pembatalan perbuatan hukum yang tidak wajib dilakukan; 2. Pembatalan hibah; 3. Pembatalan perbuatan hukum yang wajib dilakukan. Syarat-syarat yang berlaku untuk pembatalan perbuatan hukum yang tidak wajib dilakukan, pada dasarnya serupa dengan syarat-syarat pembatalan berdasarkan actio pauliana pada umumnya. Perbedaannya, dimungkinkan berlakunya pembuktian terbalik, berdasarkan sangkaan bahwa pihak-pihak yang melakukan perbuatan hukum terkait mengetahui bahwa tindakan mereka merugikan kreditor-kreditor dari debitor bersangkutan, apabila perbuatan hukum itu dilakukan satu tahun sebelum debitor dinyatakan pailit.

Adapun persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar perbuatan debitor dapat dilakukan Actio Pauliana:

1. Merupakan suatu perjanjian dimana kewajiban debitor jauh melebihi kewajiban dengan siapa perjanjian tersebut dibuat. 2. Merupakan pembayaran atas atau pemberian jaminan terhadap utang yang belum jatuh tempo atau belum atau tidak dapat ditagih Dalam Actio Pauliana ada beberap elemen penting yang harus dipenuhi, antara lain:

Adanya perbuatan tertentu Mempunyai akibat hukum

Yang perlu diketahui bahwa actio paulina dilakukan oleh kurator dan kreditor. Contoh lain dilakukannnya Actio Pauliana selain pada Jual Beli adalah Hibah yang dilakukan oleh Debitor serta Pembayaran utang yang belum atau tidak dapat ditagih.

Insolvensi adalah keadaan tidak mampu membayar. Insolvensi terjadi bilamana dalam suatu kepailitan tidak ditawarkan perdamaian atau perdamaian tidak disetujui. Dalam hal ini Kurator harus memulai pemberesan dan menjual semua harta pailit dengan ijin hakim pengawas. Setelah harta pailit terjual, Kurator wajib segera melaksanakan pembayaran yang telah

ditetapkan, kecuali terhadap kreditur yang diterima dengan syarat, tidak dapat diberikan pembayaran sepanjang belum ada keputusan mengenai piutangnya tersebut . Setelah seluruh kewajiban terhadap kreditur dibayar penuh maka kepailitan berakhir.

Insolvensi, yaitu suatu keadaan dimana debitur dinyatakan benar-benar tidak mampu membayar, atau dengan kata lain harta debitur lebih sedikit jumlahnya dengan hutangnya. Hal tentang insolvensi ini sangat menentukan nasib debitur, apakah akan ada eksekusi atau terjadi restrukturisasi hutang dengan damai. Saat terjadinya insolvensi (pasal 178 UUK) yaitu: (a) saat verifikasi tidak ditawarkan perdamaian, (b) penawaran perdamaian ditolak, (c) pengesahan perdamaian ditolak oleh hakim. Dengan adanya insolvensi maka harta pailit segera dieksekusi dan dibagi kepada para kreditur.