Anda di halaman 1dari 62

PEDOMAN PENULISANBUKUAJAR

Universitas Padjadjaran

ii

KATA PENGANTAR

Buku ajar merupakan jenis buku yang diperuntukkan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar serta dipakai untuk menyertai bahan kuliah (text book) lain. Buku ajar pada dasarnya merupakan materi perkuliahan yang disusun dan dirancang oleh dosen secara sistematis dan dalam struktur dan format tertentu agar dapat memfasilitasi mahasiswa dalam mengembangkan daya nalar dan keinginan untuk selalu mencari sumber informasi lain yang akan melengkapi pengetahuannya. Saat ini, dalam perkuliahan yang sering terjadi adalah dosen dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya, memberikan atau menyajikan materi perkuliahan kepada mahasiswa. Dosen berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa. Kondisi ini membuat mahasiswa lebih bersikap pasif dan menunggu untuk memperoleh materi perkuliahan oleh dosennya, akibatnya mahasiswa menjadi kurang memiliki inisiatif untuk secara aktif mencari sendiri informasi dan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) untuk menambah wawasannya. Akibat yang paling dikhawatirkan adalah adanya kebergantungan mahasiswa kepada dosen sebagai sumber informasi menjadi sangat tinggi. Di lain pihak, di era globalisasi di mana informasi terus menerus bertambah setiap saat, fungsi dosen sebagai sumber tunggal informasi menjadi kurang relevan. Dosen harus mampu berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa belajar dan memahami berbagai informasi yang didapatkannya untuk dapat diterapkan pada bidang ilmu yang dipelajarinya. Sebagai individu yang menginjak usia dewasa, mahasiswa mempunyai tugas perkembangan yang harus dicapainya, yaitu mencapai kemandirian, termasuk di dalamnya mencapai kemandirian dalam belajar. Oleh karena itu, mahasiswa harus mulai dituntut untuk belajar
iii

mandiri ketika ia berada di perguruan tinggi, yang berbeda kondisinya ketika ia masih berada di tingkat pendidikan yang lebih rendah. Salah satu sarana yang dapat digunakan untuk memfasilitasi mahasiswa belajar mandiri adalah tersedianya buku ajar. Sebagai fasilitator, seorang dosen dengan pengalaman yang dimilikinya, diharapkan dapat menuangkan pengalaman dan pengetahuannya ke dalam suatu naskah buku ajar. Untuk mencapai hal tersebut, buku ajar yang baik adalah buku ajar yang dirancang sesuai dengan persyaratan tertentu, seperti kualitas penyajian, pemakaian bahasa yang baik, benar serta sesuai dengan kaidah kebahasaan, yang akan mendorong mahasiswa menggunakan kemampuan berbahasa yang baik secara lisan ataupun tulisan. Isi buku ajar juga hendaknya menggugah mahasiswa berpikir kritis, analitis, dan komprehensif, serta menggugah mahasiswa mencari informasi lebih lanjut dengan membaca buku-buku lain yang dirujuk oleh penulis buku ajar tersebut. Buku ajar hendaknya memberikan kontribusi terhadap pengembangan mata kuliah tertentu pada program studi dan dapat secara langsung digunakan pada perkuliahan. Untuk memenuhi kebutuhan bagaimana sebaiknya buku ajar dirancang agar dapat memenuhi suatu standar aturan baku penulisan buku ajar yang berkualitas, perlu dibuat suatu Buku Pedoman Penulisan Buku Ajar. Pedoman Penulisan Buku Ajar ini disusun untuk dapat digunakan oleh staf pengajar di lingkungan Universitas Padjadjaran, serta dalam rangka mencapai Visi dan Misi Universitas Padjadjaran, yaitu menyediakan pendidikan unggul yang berkualitas, maka perlu ada pedoman standar bagi semua pengajar Universitas Padjadjaran untuk menjadi penulis buku ajar. Pedoman Penulisan Buku Ajar ini disusun dengan mengacu pada Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 184/U/2001 tentang Pedoman Pengawasan, Pengendalian dan Pembinaan Program Diploma, Sarjana dan Pasca Sarjana di Perguruan Tinggi. Selain itu, Pedoman Penulisan Buku Ajar ini tersusun sebagai hasil dari Lokakarya Penyusunan Pedoman Bahan Ajar di Universitas
iv

Padjadjaran yang diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2010. Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ganjar Kurnia memberikan arahan bahwa buku ajar merupakan salah satu Indikator Kinerja Kunci (IKK) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kinerja dosen, yang pada gilirannya akan meningkatkan mutu dan citra Unpad di masyarakat. Akhirul kata, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim penyusun pedoman penulisan buku ajar Universitas Padjadjaran sehingga dapat diterbitkannya buku Pedoman Penulisan Buku Ajar. Buku pedoman ini merupakan edisi pertama yang masih mengharapkan sumbang saran bagi penyempurnaan edisi berikutnya. Buku Pedoman ini diharapkan menjadi acuan bagi para dosen dalam upaya mencapai pendidikan yang berkualitas. Semoga amal ibadah ini dapat dicatat Allah swt dan selalu mendapat kekuatan dan bimbingan-Nya dalam memajukan pendidikan di Universitas Padjadjaran khususnya dan di Indonesia umumnya. Amin.

Bandung, Januari 2011 Penyusun.

vi

DAFTAR ISI Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Penyusunan ............................. 1 B. Tujuan Penyusunan Pedoman ........................... 3 Buku Ajar A. Pengertian Buku Ajar ....................................... 4 B. Fungsi Buku Ajar ............................................. 6 C. Perancangan Buku Ajar dalam Kurikulum ....... 8 Penulisan Buku Ajar A. Telaah Kurikulum ............................................. 10 B. Penyusunan Silabus .......................................... 11 C. Struktur Buku Ajar ........................................... 18 D. Pemilihan Materi .............................................. 19 E. Prinsip-Prinsip Pemilihan Bahan Ajar .............. 20 F. Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar ........ 21 G. Sumber Bahan Ajar .......................................... 30 H. Penyajian Materi Buku Ajar ............................. 33 I. Bahasa dan Keterbacaan ................................... 38 Aturan Teknis Penulisan dan Pengajuan Naskah Buku Ajar A. Ketentuan Umum .............................................. 41 B. Ketentuan Khusus ............................................. 42 C. Ketentuan Administratif/ Sistem Insentif ..... 45 D. Alur Pengajuan Naskah Buku Ajar .................. 47

Bab II

Bab III

Bab IV

Daftar Pustaka

vii

viii

KEPUTUSANREKTOR UNIVERSITASPADJADJARAN Nomor:1393/H6.1/KEP/PP/2011 TENTANG PEDOMANPENULISANBUKUAJAR UNIVERSITASPADJADJARAN DENGANRAHMATTUHANYANGMAHAESA REKTORUNIVERSITASPADJADJARAN Menimbang : a. bahwa dalam upaya memberikan pedoman bagi penulis, penelaah, penerbit dan pengguna buku ajar dalam penyusunan buku ajar seluruh mata kuliah di lingkungan Universitas Padjadjaran, dipandang perlu adanya pedoman yang dapat memenuhi kualitas standarpendidikan; b. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf (a) di atas,perluditerbitkanKeputusanRektor. Mengingat : 1. UndangUndang Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan LembaranNegaraRepublikIndonesiaNomor4301); 2. UndangundangRepublikIndonesiaNomor10tahun 2004,tentangPembentukanPeraturanPerundang undangan((LembaranNegaraRepublikIndonesia Tahun2004Nomor4389); 3. PeraturanPemerintahNomor37tahun1957,tentang Pendirian Universitas Padjadjaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 91, Tambahan LembaranNegaraRepublikIndonesia1422); 4. PeraturanPemerintahNomor17Tahun2010,tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
ix

Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor3859); 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 14/M Tahun 2007 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Padjadjaran,Periode20072011; 6. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0436/O/1992, tentang StatutaUniversitasPadjadjaran; 7. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0203/O/1995 jo Nomor 282/0/1999, tentang Organisasi dan Tata Kerja UniversitasPadjadjaran; 8. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 232/U/2000, tentang Pedoman PenyusunanKurikulumPendidikanTinggidanPenilaian HasilBelajarMahasiswa: 9. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor045/U/2002,tentangKurikulumInti PendidikanTinggi; 10.Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 260/KMK.05/2008, tentang Penetapan Universitas Padjadjaran pada Departemen Pendidikan Nasional sebagai Instansi pemerintahan yang menerapkan pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum; MEMUTUSKAN:

Menetapkan: PERTAMA : KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN TENTANG PEDOMAN PENULISAN BUKU AJAR UNIVERSITASPADJADJARAN; KEDUA : Pedoman sebagaimana dalam lampiran keputusan ini merupakan panduan dan petunjuk pelaksanaan untuk dosen di semua fakultas dan semua jenjang program, baikprogrampendidikanakademik,pendidikanspesialis, pendidikan profesional maupun pendidikan vokasi di
x

lingkungan Universitas Padjadjaran tahun akademik 2011/2012 dalam menulis buku ajar agar dapat membantuprosespembelajaranyangmemenuhistandar kualitaspendidikan; KETIGA : Ketentuanlainyangbelumcukupdiaturdalampedoman dimaksud ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya,akandiaturlebihlanjutolehParaDekan fakultas; : Keputusaniniberlakusejaktanggalditetapkan; : Jika dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diadakan perbaikan atau perubahan sebagaimanamestinya. DitetapkandiBandung Padatanggal23Februari2011 REKTOR, PROF.GANJARKURNIA Tembusan: 1. SekretarisSenatUnpad; 2. ParaPembantuRektorUnpad; 3.ParaDekan,KetuaLembagadanDirekturPPsUnpad; 4.ParaKepalaBirodilingkunganUnpad;

KEEMPAT KELIMA

xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyusunan Pada dasarnya setiap penyelenggara pendidikan memiliki sistem yang terencana untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai lulusan seperti yang diharapkan, penyelenggara pendidikan menetapkan suatu kurikulum. Kurikulum pendidikan tinggi, menurut Kepmendiknas No. 232/U/2000, merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar perguruan tinggi. Jadi, kurikulum bisa diartikan sebagai sebuah program yang berupa dokumen program dan proses pendidikan (pelaksanaan program). Sebagai sebuah dokumen program, kurikulum diwujudkan dalam bentuk rincian mata kuliah ataupun blok mata kuliah berdasarkan IPTEKS (ilmu pengetahuan, teknologi dan seni) program studi, silabus (bahan ajar), rancangan pembelajaran, dan sistem evaluasi pembelajaran. Kurikulum sebagai sebuah pelaksanaan program adalah bentuk pembelajaran yang nyata dilakukan (actual curriculum). Perubahan sebuah kurikulum sering hanya diarahkan pada penggubahan dokumen, tetapi pelaksanaan pembelajaran, penciptaan suasana belajar, dan cara evaluasi atau penilaian pembelajaran sering tidak dilakukan. Dalam tataran kekinian, perubahan kurikulum sudah sepatutnya bukan hanya menyangkut perubahan dalam
1

tataran dokumen kurikulum, tetapi juga menyangkut perubahan pada tataran bentuk pembelajaran yang nyatanyata dilaksanakan. Oleh karena itu, dengan cara pandang seperti itu, menuntut perubahan kurikulum akan selalu diikuti oleh perubahan-perubahan lainnya yang terkait dengan perubahan pola atau pendekatan pembelajaran agar menghasilkan lulusan yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mencapai hasil lulusan yang berkualitas itu, perlu ditumbuhkan suasana belajar dan pembelajaran secara efektif. Pembelajaran akan berlangsung efektif apabila dilengkapi dengan media pembelajaran, yang salah satunya dari media pembelajaran itu adalah tersedianya buku ajar atau handout. Buku ajar sebagai salah satu media pembelajaran disusun berdasarkan prinsip mengutamakan proses pencapaian hasil pembelajaran, bukan semata-mata mengutamakan mencapai hasil pembelajaran. Oleh sebab, buku ajar yang disusun dengan lebih mengutamakan hasil pembelajaran akan mengakibatkan buku ajar itu hanya sebatas sebagai tempat bahan ajar dihapalkan. Sebaliknya, buku ajar yang lebih diarahkan untuk pencapaian proses pembelajaran, dapat mengarahkan mahasiswa memiliki kemampuan yang berkenaan dengan apektif (pemahaman), kognitif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Sebagai refleksi atas kemampuan itu, mahasiswa akan mampu memecahkan permasalahan, baik yang diajukan dalam latihan maupun dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, buku ajar diharapkan akan mampu membantu dosen untuk meningkatkan cara pengajarannya selain untuk membantu mahasiswa meningkatkan kemampuannya dalam menyerap IPTEKS yang dipelajarinya. Buku ajar yang sedemikian itu tentunya dirancang sebaik-baiknya dan disusun seefektif dan seefisien
2

mungkin agar mahasiswa dan dosen terbantu dalam proses pembelajaran sesuai dengan disiplin keilmuannya dan mencapai kompetensi yang dirumuskan. Dalam konteks itulah, buku pedoman penulisan buku ajar ini disusun sebagai upaya membantu proses pembelajaran sekaligus dapat pula memenuhi standar kualitas pendidikan. Buku pedoman ini disusun dengan merujuk pada pedoman penulisan buku ajar yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan sejumlah sumber lain yang terkait dengan penyusunan buku ajar. B. Tujuan Penyusunan Pedoman 1. Memberikan panduan bagi penulis, penelaah, penerbit dan pengguna buku ajar dalam penulisan buku ajar seluruh mata kuliah di lingkungan Universitas Padjadjaran; 2. Diharapkan penulisan buku ajar dapat memenuhi kualitas standar pendidikan sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.

BAB II BUKU AJAR A. Pengertian Buku Ajar Penulisan buku ajar sering dimulai dari ketersediaan bahan ajar yang baik untuk mendukung pembelajaran. Oleh karena itu, bahan ajar yang baik dirancang sesuai dengan prinsipprinsip instruksional ataupun active learning, untuk mencapai tujuan pembelajaran (kompetensi) suatu mata kuliah. Bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi perkuliahan yang disusun secara sistematis yang digunakan dosen dan mahasiswa dalam proses perkuliahan. Bahan ajar mempunyai struktur dan urutan yang sistematis, menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi mahasiswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar mahasiswa sehingga menyediakan bimbingan belajar mahasiswa untuk mempelajari bahan tersebut, memberikan kesempatan latihan bagi mahasiswa, menyediakan ringkasan, dan secara umum berorientasi pada mahasiswa secara individual (learner oriented). Biasanya bahan ajar bersifat mandiri, artinya dapat dipelajari oleh mahasiswa secara mandiri karena sistematis dan lengkap. Dalam pengertian itu, bahan ajar bukanlah buku teks (textbook). Buku teks merupakan terbitan yang berisi bahasan yang jangkauannya lebih luas dari sekadar disampaikan di ruang kuliah. Karena itu, perbedaan antara buku teks dan buku ajar tidak hanya terletak pada format, tata letak dan perwajahannya, tetapi juga pada orientasi dan pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya.
4

Buku ajar adalah jenis buku yang diperuntukkan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar, dan digunakan sebagai sarana pembelajaran untuk menyertai perkuliahan. Oleh karena itu, buku ajar sering disusun berdasarkan karakteristik proses instruksional di mana pun proses instruksional dilangsungkan, baik dalam sistem pembelajaran tatap muka maupun dalam sistem pembelajaran jarak jauh. Penyusunan buku ajar dapat dilakukan oleh dosen, baik secara mandiri maupun berkelompok sebagai upaya memenuhi kebutuhan mahasiswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Secara umum ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk menyusun buku ajar, yaitu (1) menulis sendiri (starting from scratch), (2) pengemasan kembali informasi (information repackaging atau text transformation); dan (3) penataan informasi (compilation atau wrap around text) Dalam praktiknya, penulisan buku ajar merupakan gabungan dari ketiga cara tersebut ke dalam satu cara, yaitu pengemasan kembali informasi. Penyusunan buku melalui cara pengemasan kembali informasi, dosen tidak menulis buku ajar sendiri dari awal (from nothing atau from scratch), tetapi dosen memanfaatkan buku-buku lain, textbook, paper pada suatu jurnal yang bereputasi, dan informasi lain yang sudah ada untuk dikemas kembali sehingga berbentuk buku ajar yang memenuhi karaktersitik buku ajar yang dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses instruksional. Tentunya, pengemasan kembali informasi memerlukan keterampilan dosen untuk menulis ulang atau menggubah dan melengkapi informasi-informasi untuk menjadi suatu buku ajar. Dalam proses ini, dosen perlu menentukan seberapa banyak perubahan yang perlu dilakukan terhadap bahan yang sudah tersedia, kemudian apakah perubahan itu mungkin dilakukan terhadap bahan
5

yang sudah ada. Apakah perubahan itu mungkin dilakukan dalam batas waktu yang ditentukan, dengan sumber daya yang tersedia serta seizin atau sepengetahuan penulis asli. Pengemasan kembali informasi merupakan cara penyusunan buku ajar yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan penulisan dari awal. Namun, proses ini dapat menjadi lebih lama sebab memerlukan proses memperoleh izin dari pengarang asli. Hasil pengemasan kembali informasi merupakan seperangkat buku ajar yang digubah dari bukubuku lain atau textbook atau informasi yang tersedia di berbagai sumber menjadi suatu buku ajar yang berkualitas dan dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa dalam proses instruksional. B. Fungsi Buku Ajar Pada umumnya, tidak semua dosen dapat menyediakan waktu untuk memberikan bantuan maksimal guna mendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa. Hal ini mungkin disebabkan oleh berbagai penyebab, meliputi hambatan teknis dan non-teknis yang menghalangi dosen untuk menjadi fasilitator yang baik. Salah satunya adalah buku ajar dan atau buku teks (textbook) yang tersedia di pasaran belum dapat memenuhi keperluan proses pembelajaran dari segi kualitas dan aspek bahasa yang kebanyakan textbook ditulis dalam bahasa asing. Selain itu, padatnya jadwal perkuliahan untuk menyelesaikan materi perkuliahan yang sesuai dengan kurikulum agar tujuan pembelajaran tercapai, juga menjadi kendala dalam menyediakan buku ajar yang berkualitas. Hal lain yang perlu dikemukakan bahwa pada umumnya dosen banyak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk
6

menyajikan materi perkuliahan, artinya, komunikasi hanya dari dosen kepada mahasiswa. Situasi perkuliahan seolah menjadi pasif, mahasiswa yang mengikuti perkuliahan tanpa diberikan kesempatan terlebih dahulu untuk mempersiapkan diri karena mereka tahu mereka hanya akan mendengarkan ceramah dosennya. Situasi seperti itu, tentunya tidak menguntungkan dalam proses pembelajaran. Agar proses pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk menjadikan mahasiswa memiliki kompetensi sesuai dengan bidang kajian ataupun IPTEKS program studi yang dipelajarinya, perlu dirancang buku ajar yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip instruksional. Karena itu, buku ajar dapat membantu mahasiswa dalam proses belajar dan juga membantu mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang diharapkan. Dalam konteks ini, buku ajar menyediakan fasilitas bagi kegiatan pembelajaran mandiri, baik tentang substansinya maupun tentang penyajiannya. Dengan demikian, buku ajar berfungsi memfasilitasi kegiatan pembelajaran mandiri mahasiswa, baik tentang substansi maupun tentang penyajiannya yang memasukkan sejumlah prinsip yang dapat meningkatkan kompetensi yang hendak dimiliki mahasiswa. Terkait dengan fungsi buku ajar tersebut, manfaat buku ajar tidak hanya bagi kepentingan pengembangan kompetensi mahasiswa tetapi juga bagi dosen itu sendiri. Sebab, melalui buku ajar, dosen memiliki kebebasan dalam memilih, mengembangkan, dan menyajikan materi sejalan dengan prinsip-prinsip instruksional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Semua tertuang dan disajikan dalam buku ajar sebab buku ajar yang baik akan membantu dosen dalam menentukan materi apa yang akan disampaikan, sekaligus
7

dapat menampilkan sejumlah alternatif materi yang dapat digabungkan dengan materi dari sejumlah sumber lainnya. Penyajian buku ajar yang sesuai dengan prinsip-prinsip instruksional pembelajaran, akan menimbulkan minat dan perhatian mahasiswa untuk memahami isi buku. Kualitas buku ajar dalam pengertian itu bergantung pada kegunaannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian, buku ajar yang baik, tentunya bukan hanya sekedar kumpulan ide, namun terletak pada rancangan terprogram dan sistematik sehingga menjadi karya yang bermanfaat, ringkas tetapi juga bermakna bagi pencapaian tujuan pembelajaran. C. Perancangan Buku Ajar Dalam Kurikulum Perancangan buku ajar didasarkan asumsi bahwa mahasiswa mempunyai tingkat heterogenitas yang tinggi antara satu sama lain. Dengan asumsi itu, setiap mahasiswa berbeda dari mahasiswa lainnya, dalam hal kemampuan belajar, pengalaman belajar, kebutuhan belajar, keinginan belajar, tujuan belajar dan gaya belajar. Sejalan dengan itu, buku ajar yang dihasilkan bersifat luwes (fleksibel) untuk dapat mengakomodasi heterogenitas dan alur belajar berdasarkan perilaku, dan beragam gaya belajar mahasiswa. Buku ajar yang dirancang, disusun dan disesuaikan dengan kurikulum, namun hubungannya tidak bersifat kaku. Buku ajar harus demikian karena dalam hubungan rancangan penyusunan buku ajar ini, kurikulum memerlukan penafsiran, penjelasan, perincian, pengayaan dan pemanduan terhadap kompetensi, hasil belajar, indikator, dan materi pokok. Terkait dengan perancangan penyusunan buku ajar ini, penulis buku ajar perlu memperpersiapkan terlebih
8

dahulu silabus dan metode pembelajaran, serta mempersiapkan bahan-bahan yang berhubungan dengan penyajiannya. Sudah barang tentu, penyusunan buku ajar selalu didasarkan pada prinsip dinamika kualitas atau prinsip perbaikan kualitas agar selalu dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kurikulum dan tuntutan bidang kajian atau IPTEKS. Dalam kaitan itu, prinsip perbaikan berkelanjutan pada kualitas buku ajar akan mendorong perubahan bertahap atas rancangan buku ajar. Prinsip perbaikan pada buku ajar, sejalan pula dengan sifat dinamis suatu kurikulum.

BAB III PENULISAN BUKU AJAR A. Telaah Kurikulum Seperti dikemukakan di atas buku ajar perlu dirancang berdasarkan asumsi bahwa mahasiswa mempunyai tingkat heterogenitas yang tinggi antara satu sama lain dalam hal kemampuan belajar, pengalaman belajar, kebutuhan belajar, keinginan belajar, tujuan belajar dan gaya belajarnya. Perbedaan-perbedaan tersebut merupakan masukan yang berguna bagi pengajar dalam proses penyusunan buku ajar bagi mahasiswa. Buku ajar yang disusun oleh dosen dan dirancang sedemikian rupa lengkap dengan pedoman bagi mahasiswa dan pedoman bagi pengajarnya bertujuan memudahkan kedua pihak berinteraksi dalam proses pembelajaran. Untuk itu, buku ajar perlu diberi batasan sehingga tidak terlampau berat dipelajari oleh mahasiswa pada saat tertentu. Untuk itu, perlu mencakup/mengintegrasikan aspek pembimbingan belajar bagi mahasiswa jika menghadapi konsep atau prinsip atau materi perkuliahan yang sukar. Selain itu, memasukkan pertanyaan yang perlu dipikirkan oleh mahasiswa dan tugastugas yang mengaktifkan mahasiswa serta ditulis dalam bahasa yang komunikatif dan mudah dipahami. Langkah pertama menyusun buku ajar adalah meninjau kurikulum, yang di dalamnya terdapat struktur mata kuliah. Tinjauan mata kuliah merupakan gambaran keseluruhan mata kuliah secara sepintas. Biasanya bagian ini terdapat di halaman paling depan buku ajar, namun penulisannya dapat dilakukan menyusul setelah materi ajar tersusun secara lengkap. Tinjauan mata kuliah umumnya terdiri dari:
10

1. Deskripsi singkat mata kuliah yang diambil dari RKBM (Rencana Kegiatan Belajar Mengajar) ataupun Rencana Pembelajaran; 2. Kegunaan mata kuliah bagi mahasiswa di kemudian hari, untuk mahasiswa yang mengikuti mata kuliah tersebut atau untuk yang mengerjakan kegiatan lapangan perlu pula penjelasan keterkaitan mata kuliah ini dengan mata kuliah lain, juga penjelasan mata kuliah berseri atau prasyarat; 3. Tujuan Instruksional Umum (yang diambil dari RKBM) atau kompetensi yang ingin dicapai; 4. Susunan (urutan) buku ajar dari bab pertama sampai bab terakhir serta keterkaitan setiap bab dengan bahan pembelajaran lain, seperti bahan ajar dari media audio visual, dan foto; 5. Petunjuk bagi mahasiswa untuk mempelajari buku ajar. B. Penyusunan Silabus Silabus adalah suatu rencana yang mengatur kegiatan pembelajaran dan pengelolaan kelas serta penilaian hasil belajar suatu mata kuliah. Silabus ini merupakan bagian dari kurikulum sebagai penjabaran Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian hasil belajar. Dengan demikian, pengembangan silabus ini minimal harus mampu menjawab pertanyaan sebagai berikut: 1. Kompetensi apakah yang harus dimiliki oleh mahasiswa ? 2. Bagaimana cara membentuk kompetensi tersebut ? 3. Bagaimana cara mengetahui bahwa mahasiswa telah mencapai kompetensi tersebut ?

11

Silabus ini akan sangat bermanfaat sebagai pedoman bagi pengajar karena berisi petunjuk secara keseluruhan mengenai tujuan dan ruang lingkup materi yang harus dipelajari oleh mahasiswa. Selain itu, juga menerangkan kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus digunakan dalam proses pembelajaran kepada mahasiswa. Dengan berpedoman pada silabus diharapkan pengajar akan dapat mengajar lebih baik, tanpa khawatir akan keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, strategi belajar mengajar, atau keluar dari sistem evaluasi yang seharusnya. 1. Komponen Silabus Menurut para ahli pembuat kurikulum, terdapat banyak macam komponen silabus yang tersusun dalam suatu matrik silabus. Hal inilah yang harus dicermati dan dipilih oleh suatu institusi dalam mengelompokkan komponen-komponen tersebut. Setiap institusi berdasarkan kriteria atau standar yang diacu dapat menentukan sendiri komponen apa yang dipilih dan disusun pada matrik dalam menyusun silabus suatu mata kuliah. Pada prinsipnya semakin rinci silabus akan semakin memudahkan pengajar dalam menjabarkannya ke dalam Rencana Pembelajaran (RP). Adapun komponen silabus suatu mata kuliah, tersebut di bawah ini. a. Identitas Mata Kuliah Identitas mata kuliah dapat meliputi nama mata kuliah atau blok mata kuliah, kode mata kuliah, bobot mata kuliah, semester, dan mata kuliah prasyarat jika ada. b. Standar Kompetensi (SK) Standar Kompetensi adalah seperangkat kompetensi yang dibakukan sebagai hasil belajar materi pokok
12

tertentu dalam satuan pendidikan (program studi) dan merupakan kompetensi bidang pengembangan dan materi pokok per satuan pendidikan per satu kelas yang harus dicapai mahasiswa selama satu semester. c. Kompetensi Dasar (KD) Kompetensi Dasar adalah rincian kompetensi dalam setiap aspek materi pokok yang harus dilatihkan kepada mahasiswa sehingga kompetensi dapat diukur dan diamati. Kompetensi Dasar sebaiknya selalu dilakukan perbaikan dan pengayaan guna memenuhi keinginan stakeholders. d. Indikator Indikator merupakan wujud Kompetensi Dasar yang lebih spesifik, yang merupakan cerminan kemampuan mahasiswa dalam suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar yang telah dilalui. Bila serangkaian indikator dalam suatu kompetensi dasar sudah dapat dicapai mahasiswa, berarti target Kompetensi Dasar tersebut sudah terpenuhi. e. Pengalaman Belajar Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan oleh mahasiswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar dikembangkan untuk mencapai Kompetensi Dasar melalui strategi pembelajaran. Dengan melakukan pengalaman belajar yang tepat mahasiswa diharapkan dapat mencapai dan mempunyai kemampuan kognitif, afektif, dan psikomorik yang sekaligus telah mengintegrasikan kecakapan hidup (life skill).

13

f. Materi Pokok Bagian struktur keilmuan suatu bahan kajian yang dapat berupa pengertian, konsep, gugus isi atau konteks, proses, bidang ajar, dan keterampilan. g. Waktu Merupakan lama waktu dalam menit yang dibutuhkan mahasiswa mampu menguasi Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan. h. Sumber Pustaka Sumber pustaka adalah kumpulan referensi yang dirujuk atau yang dianjurkan, sebagai sumber informasi yang harus dikuasai oleh mahasiswa. i. Rancangan Tugas Berisi tujuan tugas, uraian tugas, dan kriteria penilaian tugas. j. Penilaian Penilaian ini berisi butir-butir indikator yang dapat menunjukkan tingkat keberhasilan mahasiswa dalam usaha mencapai kompetensi yang telah dirumuskan. 2. Cara Penyusunan Silabus Adapun langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan dalam penyusunan silabus suatu mata kuliah atau blok mata kuliah, sebagai berikut: a. Identifikasi Mata Kuliah atau Blok Mata Kuliah Tuliskan identitas Program studi, nama mata kuliah atau blok mata kuliah, kode mata kuliah, bobot SKS, semester, dan mata kuliah prasyarat bila ada (bersumber pada kurikulum yang sudah ada).

14

b. Perumusan Standar Kompetensi (SK) Rumuskan Standar Kompetensi (SK) dari setiap mata kuliah yang didasarkan pada tujuan akhir mata kuliah tersebut. Tuliskan dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. c. Perumusan Kompetensi Dasar (KD) (1) Jabarkan Standar Kompetensi yang telah dirumuskan menjadi beberapa Kompetensi Dasar untuk memudahkan pencapaian dan pengukurannya. Tuliskan dengan kata kerja operasional seperti pada Standar Kompetensi yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Bila perlu, gunakan kata kerja yang paling tinggi tingkatannya dalam ranah yang terkait. (2) Bilamana perlu dan masih dianggap relevan, dapat ditambahkan beberapa Kompetensi Dasar lagi. d. Perumusan Indikator Tuliskan indikator dengan kata kerja operasional, yang merupakan penjabaran Kompetensi Dasar. Kata kerja operasional pada rumusan indikator dapat dirinci sesuai dengan kegiatan yang dilakukan dan dapat ditulis secara terpisah antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perlu diketahui bahwa sangatlah mungkin untuk mencapai satu Kompetensi Dasar dengan beberapa indikator. e. Penentuan Materi Pokok Materi pokok adalah pokok/subpokok bahasan, merupakan materi bahan ajar yang dibutuhkan mahasiswa untuk mencapai Kompetensi Dasar yang
15

telah ditentukan dengan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Prinsip relevansi, artinya ada kesesuaian antara uraian materi pokok dengan Kompetensi Dasar yang ingin dicapai. (2) Prinsip konsistensi, artinya ada keajegan antara materi pokok dan uraian materi pokok dengan Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi. (3) Prinsip edukasi, artinya adanya kecukupan materi yang diberikan untuk mencapai Kompetensi Dasar. Keseluruhan materi pokok yang dijabarkan dari setiap Kompetensi Dasar, perlu dibuat bagan alur agar runtut dan sistematis dalam pembelajaran. f. Pemilihan Pengalaman Belajar Tuliskan pengalaman belajar dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur dengan mudah. Pengalaman belajar merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa secara berurutan untuk mencapai Kompetensi Dasar. (1) Sebaiknya penentuan urutan langkah pembelajaran diperhatikan, terlebih untuk materi bahasan yang memerlukan prasyarat tertentu. (2) Sebaiknya urutan langkah pembelajaran disusun berdasarkan pendekatan yang bersifat spiral, dari mudah ke yang lebih sukar, dari kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks, dan sebaiknya urutan pembelajarannya terstruktur. (3) Sebaiknya rumusan pengalaman belajar memberikan inspirasi terhadap metode pembelajaran atau metode mengajar.
16

g. Alokasi Waktu Tuliskan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai satu Kompetensi Dasar dengan mempertimbangkan tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi, tingkat pentingnya materi yang dipelajari, serta cara penyampaian materi (meliputi kegiatan Tatap muka (T), Praktikum (P), Lapangan/Klinis (L/K ) dengan ketentuan: T : P : L/K = 1 : 2 : 3). Artinya Bobot 1 SKS apabila dilakukan dengan tatap muka dilaksanakan dengan waktu 60, untuk Praktek diperlukan waktu 2 x 60, dan bila melalui lapangan/klinis (L/K) perlu waktu 3 x 60. h. Sumber/Bahan/Alat Buatlah analisis kebutuhan terhadap sumber pembelajaran, alat dan bahan yang akan digunakan (didasarkan pada relevansi, konsistensi, dan edukasi). Penulisan sumber pustaka berdasarkan kaidah atau aturan yang telah diakui secara umum. Adapun yang dimaksud (a) sumber adalah buku-buku rujukan atau referensi berupa buku teks, paper suatu jurnal, laporan penelitian atau bahan ajar lainnya, b) alat dan bahan adalah peralatan dan bahan-bahan yang digunakan untuk membelajarkan mahasiswa agar Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikatorindikator, dan pengalaman belajar yang telah direncanakan berhasil dicapai (didasarkan pada 3E: Ekonomis, Efisien, dan Efektif). i. Rancangan Tugas Rancangan tugas berisi tujuan tugas, uraian tugas (objek, hal-hal yang harus dikerjakan dan batasanbatasan tugas, metode/cara pengerjaan tugas, deskripsi luaran tugas), dan bagian penilaian tugas.
17

j. Penilaian Tentukan teknik penilaian yang dapat digunakan untuk mencapai Kompetensi Dasar. Sebaiknya penyusunan alat penilaian didasarkan pada indikator indikator yang telah dirumuskan, sehingga alat penilaian tersebut betul-betul mengukur apa yang seharusnya diukur. Alat penilaian dapat berupa tes lisan atau tertulis, chek list, laporan parktikum/kunjungan lapangan, resume materi dan lain-lain. C. Struktur Buku Ajar Struktur buku ajar terdiri dari tiga komponen utama, yaitu (1) halaman pendahuluan, (2) halaman naskah (batang tubuh), dan (3) halaman penyudah. 1. Halaman Pendahuluan berisi antara lain: a. Halaman Judul (judul, pengarang, ISBN, dll.) b. Daftar Isi (petunjuk bagi pembaca) c. Daftar Gambar (informasi keberadaan gambar) d. Daftar Tabel (informasi keberadaan tabel) e. Pengantar (ditulis ahli yang diminta penulis/penerbit) f. Prakata (ditulis penulis tentang apa isi buku, alasan mengapa buku ditulis, siapa calon pembaca, ucapan terima kasih dll.) 2. Halaman Nas (batang tubuh), terdiri dari: a. Bagian Awal yang berisi tujuan pembelajaran b. Bagian Isi yang berisi uraian setiap bab yang disertai ilustrasi materi c. Bagian Penutup d. Setiap bab diakhiri dengan rangkuman dan latihan 3. Halaman Penyudah, terdiri dari: a. Lampiran
18

b. Pustaka c. Penjurus (indeks) d. Takarir (glossary) D. Pemilihan Materi Berkenaan dengan pemilihan bahan ajar ini, secara umum masalah dimaksud meliputi cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran, dan sebagainya. Masalah lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih sumber di mana bahan ajar itu didapatkan. Ada kecenderungan sumber bahan ajar dititikberatkan pada buku. Padahal, banyak sumber bahan ajar selain buku yang dapat digunakan. Buku pun tidak harus satu macam dan tidak harus sering berganti seperti terjadi selama ini. Berbagai buku dapat dipilih sebagai sumber bahan ajar. Selain itu, masalah yang sering dihadapi pengajar berkenaan dengan bahan ajar adalah pengajar memberikan bahan ajar atau materi pembelajaran terlalu luas atau terlalu sedikit, terlalu mendalam atau terlalu dangkal, urutan penyajian yang tidak tepat, dan jenis materi bahan ajar yang tidak sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai oleh mahasiswa. Berkenaan dengan buku sumber sering terjadi setiap ganti semester atau ganti tahun ganti buku. Sehubungan dengan itu, perlu disusun rambu-rambu pemilihan dan pemanfaatan bahan ajar untuk membantu pengajar agar mampu memilih materi pembelajaran atau bahan ajar dan memanfaatkannya dengan tepat. Ramburambu dimaksud antara lain berisikan konsep dan prinsip pemilihan materi pembelajaran, penentuan cakupan, urutan, kriteria dan langkah-langkah pemilihan, perlakuan/pemanfaatan, serta sumber materi pembelajaran.
19

Seperti diuraikan sebelumnya, materi pembelajaran (bahan ajar) merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu mahasiswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Secara garis besar, bahan ajar atau materi pembelajaran berisikan ranah apektif, psikomotorik, dan kognitif yang harus dipelajari mahasiswa. Masalah-masalah yang timbul berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran menyangkut jenis, cakupan, urutan, perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran dan sumber bahan ajar. Jenis materi pembelajaran perlu diidentifikasi atau ditentukan dengan tepat karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi, media, dan cara mengevaluasi yang berbeda-beda. Cakupan atau ruang lingkup serta kedalaman materi pembelajaran perlu diperhatikan agar tidak kurang dan tidak lebih. Urutan (sequence) perlu diperhatikan agar pembelajaran menjadi runtut. Perlakuan (cara mengajarkan/menyampaikan dan mempelajari) perlu dipilih setepat-tepatnya agar tidak salah mengajarkan atau mempelajarinya (misalnya perlu kejelasan apakah suatu materi harus dihafalkan, dipahami, atau diaplikasikan). E. Prinsip-Prinsip Pemilihan Bahan Ajar Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsipprinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi
20

dasar. Sebagai misal, jika kompetensi yang diharapkan dikuasai mahasiswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta atau bahan hafalan. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa empat macam, bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Misalnya, kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa adalah pengoperasian software yang meliputi pembukaan menu, pemasukan data, penyimpanan data, dan pemanggilan data maka materi yang diajarkan juga harus meliputi cara membuka menu, teknik pemasukan data dan penyimpanan serta pemanggilan data. Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu mahasiswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya. F. Langkah-Langkah Pemilihan Bahan Ajar Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, langkah pertama adalah mengetahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh pengajar di satu pihak dan harus dipelajari mahasiswa di lain pihak, hendaknya berisikan materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang
21

tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau merujuk pada standar kompetensi. Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah kedua adalah mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar. Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut 1. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar Sebelum ditentukan materi pembelajaran, terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari atau dikuasai mahasiswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Setiap aspek standar kompetensi tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda untuk membantu pencapaiannya. 2. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Materi
22

pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987). Materi jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain sebagainya. Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakikat, inti isi. Materi jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigm dan teorema. Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut, misalnya, langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan leaflet atau cara-cara pembuatan teknologi tepat guna. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi pemberian respon, penerimaan (apresisasi), internalisasi, dan penilaian. Materi pembelajaran aspek motorik terdiri dari gerakan awal, semirutin, dan rutin. 3. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai sehingga mempermudah mahasiswa dalam mencapai standar kompetensi. Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang sesuai dengan aspekaspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, pengajar akan mendapatkan
23

kemudahan dalam cara mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa. Identifikasi jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya. Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda. Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hafalan adalah dengan menggunakan jembatan keledai, jembatan ingatan (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah demonstrasi. Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek afektif (sikap) atau psikomotorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi pembelajaran a. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa mengingat nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya ya, materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah fakta. Contoh: Nama-nama dan peristiwa sejarah, nama-nama organ tubuh manusia dan lain-lain.
24

b. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya ya berarti materi yang harus diajarkan adalah konsep. Contoh: Seorang pengajar menunjukkan beberapa subjek, kemudian mahasiswa diminta untuk mengklasifikasikan atau mengelompokkan mana yang termasuk subjek tertentu dan memilahnya dari subjek lain. c. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa menjelaskan atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat sesuatu? Bila ya, materi yang harus diajarkan adalah prosedur. Contoh: Langkah-langkah mengatasi permasalahan dalam mewujudkan masyarakat demokrasi; langkah-langkah cara membuat magnit buatan; cara-cara membuat kompos, cara membaca sajak, cara mengoperasikan kamera digital, dsb. d. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa menentukan hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya ya, berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori prinsip.
25

Contoh: Hubungan antara penawaran dan permintaan suatu barang dalam lalu lintas ekonomi. Jika permintaan naik, sedangkan penawaran tetap, maka harga akan naik. e. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa memilih berbuat atau tidak berbuat berdasarkan pertimbangan baik buruk, suka tidak suka, indah tidak indah? Jika jawabannya Ya, materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek afektif, sikap, atau nilai. Contoh: Ali memilih menolong ibunya yang sedang sakit meskipun terlambat masuk kuliah setelah di perkuliahan diajarkan pentingnya mentaati peraturan belajar. f. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa berupa melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya Ya, materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah aspek motorik. Contoh: Dalam pembelajaran fotografi, mahasiswa diharapkan mampu melihat sudut pandang yang menarik (focus of interest) yang menghasilkan foto yang baik dan indah. Materi pembelajaran yang harus diajarkan adalah teknik fotografi. 4. Memilih sumber bahan ajar Setelah jenis materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber bahan ajar. Materi
26

pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber, seperti buku teks, jurnal, laporan penelitian, majalah, koran, internet, dan media audiovisual. 5. Menentukan cakupan dan urutan bahan ajar Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam menentukan cakupan, ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran akan menghindarkan pengajar dari mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu mendalam. Ketepatan urutan penyajian (sequencing) akan memudahkan bagi mahasiswa mempelajari materi pembelajaran. a. Penentuan cakupan bahan ajar Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan apakah materinya berupa aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur), aspek afektif dan aspek psikomotorik, sebab nantinya jika sudah dibawa ke kelas, tiap-tiap jenis materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda. Selain diperhatikan jenis materi pembelajaran, juga harus diperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya. Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan berapa banyak materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran, sedangkan kedalaman materi menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang
27

terkandung di dalamnya harus dipelajari/dikuasai oleh mahasiswa. Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam pengertian cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Misalnya, jika suatu pelajaran dimaksudkan untuk memberikan kemampuan kepada mahasiswa di bidang jual beli, uraian materinya mencakup (1) penguasaan atas konsep pembelian, penjualan, laba, dan rugi; (2) rumus menghitung laba dan rugi jika diketahui pembelian dan penjualan; dan (3) penerapan/aplikasi rumus menghitung laba dan rugi. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang harus dipelajari oleh mahasiswa terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai. Misalnya, dalam mata kuliah Bahasa Indonesia: Salah satu kompetensi dasar yang diharapkan dimiliki mahasiswa Membuat Surat Dinas . Setelah diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai kemampuan Membuat Surat Dinas tersebut termasuk jenis prosedur. Jika kita analisis, secara garis besar cakupan materi yang harus dipelajari mahasiswa agar mampu membuat surat dinas meliputi(1) Pembuatan draft atau konsep surat, (2) Pengetikan surat, (3) Pemberian nomor agenda dan (4) Pengiriman.Setiap jenis dari keempat materi tersebut masih dapat diperinci lebih lanjut.

28

b. Penentuan urutan buku ajar Urutan penyajian (sequencing) buku ajar sangat penting untuk menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan mahasiswa dalam mempelajarinya. Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu pendekatan prosedural, dan hierarkis. (a) Pendekatan prosedural. Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misalnya, langkah-langkah menelpon, langkah-langkah mengoperasikan peralatan kamera video. (b) Pendekatan hierarkis Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya. Contoh : Urutan Hierarkis (berjenjang) Soal ceritera tentang perhitungan laba rugi dalam jual beli Agar mahasiswa mampu menghitung laba atau rugi dalam jual beli (penerapan rumus/dalil), mahasiswa terlebih dahulu harus
29

mempelajari konsep/pengertian laba, rugi, penjualan, pembelian, modal dasar (penguasaan konsep). Setelah itu mahasiswa perlu mempelajari rumus/dalil menghitung laba, dan rugi (penguasaan dalil). Selanjutnya, mahasiswa menerapkan dalil atau prinsip jual beli (penguasaan penerapan dalil).

G. Sumber Bahan Ajar Sumber bahan ajar merupakan tempat di mana bahan ajar dapat diperoleh. Dalam mencari sumber bahan ajar, mahasiswa dapat dilibatkan untuk mencarinya. Berbagai sumber dapat kita gunakan untuk mendapatkan materi pembelajaran dari setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sumber-sumber dimaksud disebutkan di bawah ini: 1. Buku teks Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai sumber bahan ajar untuk suatu jenis mata pelajaran tidak harus hanya satu jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas. 2. Artikel pada jurnal (penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah/review article) Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya masing-masing yang telah dikaji
30

kebenarannya dan diperiksa oleh sejawat yang kompeten di bidangnya. 3. Laporan hasil penelitian Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang aktual atau mutakhir. 4. Pakar Bidang Ilmu Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dsb. 5. Profesional Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu. Kalangan perbankan, misalnya, tentu ahli di bidang ekonomi dan keuangan. Sehubungan dengan itu, bahan ajar yang berkenaan dengan eknomi dan keuangan dapat ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di perbankan. 6. Buku kurikulum Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena berdasarkan kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi bahan dapat ditemukan. Materi yang tercantum dalam kurikulum hanya berisikan pokok-pokok materi. Pengajarlah yang harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar yang terperinci. 7. Penerbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan.
31

Penerbitan berkala, seperti koran banyak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar suatu mata kuliah. Penyajian dalam koran atau mingguan menggunakan bahasa populer yang mudah dipahami. 8. Internet Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran harian untuk berbagai mata kuliah dapat kita peroleh melalui internet. Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi. 9. Media audiovisual (TV, Video, VCD, kaset audio) Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai jenis mata kuliah. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut, di hutan belantara melalui siaran televisi. 10. Lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi) Berbagai lingkungan, seperti lingkungan alam, lingkungan sosial, lingkungan seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebagai sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis pasir, gelombang pasang, misalnya, kita dapat menggunakan lingkungan alam berupa pantai sebagai sumber. Perlu diingat, dalam menyusun rencana pembelajaran, buku-buku atau terbitan tersebut hanya merupakan bahan rujukan. Artinya, tidaklah tepat jika hanya menggantungkan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber bahan ajar. Tidak tepat pula tindakan mengganti buku pelajaran pada setiap pergantian semester atau
32

pergantian tahun. Buku-buku pelajaran atau buku teks yang ada perlu dipelajari untuk dipilih dan digunakan sebagai sumber yang relevan dengan materi yang telah dipilih untuk diajarkan. Mengajar bukanlah menyelesaikan satu buku, tetapi membantu mahasiswa mencapai kompetensi. Karena itu, hendaknya pengajar menggunakan banyak sumber materi. Bagi pengajar, sumber utama untuk mendapatkan materi pembelajaran adalah buku teks dan buku penunjang yang lain. H. Penyajian Materi Buku Ajar Penyajian materi buku ajar di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut: (1) tujuan pembelajaran, (2) penahapan pembelajaran, (3) menarik minat dan perhatian mahasiswa, (4) kemudahan untuk dipahami, (5) keaktifan mahasiswa, (6) hubungan bahan, (7) norma, (8) ilustrasi, (9) soal dan latihan. 1. Tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran selalu dicantumkan dalam setiap buku ajar pada bagian pembuka/awal bahasan suatu materi. Informasi tentang tujuan pembelajaran dapat dilihat dalam silabus. Tujuan ini tergolong aspek isi buku ajar yang tidak dapat diubah-ubah sesuai dengan kompetensi dasar. Sebaiknya rumusan tujuan dikemukakan secara komunikatif. 2. Penahapan pembelajaran. Penulisan buku ajar hendaknya mendasarkan diri pada proses belajar mahasiswa. Proses ini dimulai dari yang mudah ke arah yang sulit. Dari yang sederhana menuju yang rumit dari yang bersifat kongkret ke arah yang
33

abstrak. Tatalah urutan penyampaian materi berdasarkan tingkat/gradasi kerumitan keilmuan. 3. Menarik minat dan perhatian mahasiswa Proses pembelajaran adalah proses yang interaktif, oleh karena itu rancangan buku ajar harus dapat menarik minat dan perhatian mahasiswa. Kondisi yang interaktif perlu diciptakan dalam materi buku ajar, untuk itu perlu diungkapkan contoh nyata yang berangkat dari pengalaman. Secara psikologis, seseorang akan lebih mudah terdorong untuk merasa senang dan mau mempelajari sesuatu lewat media buku ajar jika penyajian materi bertolak dari pemaparan pengalaman nyata, bukti, dan fakta. Kemudian, dilanjutkan ke tahapan kajian teoritis dan konsep (prinsip keseimbangan teori dan praktik) 4. Kemudahan untuk dipahami Indikator kemudahan buku ajar dipahami oleh mahasiswa adalah penjelasan materi, gagasan, dan wacana dilakukan secara terorganisasi dan sistematis. Langkah termudah untuk menemukan indikator kemudahan untuk dipahami adalah mengaitkan penjelasan dengan kemampuan membaca cepat mahasiswa. Jika dengan membaca cepat seseorang dapat menyerap ide, dan dengan mudah dapat memperoleh informasi dan pengetahuan yang dibutuhkan dengan segera, indikator kemudahan untuk dipahami telah didapat. Sesuai dengan karakteristik bahasa ilmiah, ide yang hendak disampaikan sebaiknya diungkapkan secara langsung; tidak berbelit-belit. Pemilihan kosakata dan istilah yang maknanya mudah dipahami serta penjelasan melalui uraian dan contoh nyata adalah strategi mencapai kemudahan materi untuk dipahami. Buku ajar yang baik selayaknya menghindari
34

penggunaan kata atau istilah dalam bahasa asing yang sulit, bahasa pergaulan sehari-hari, dan atau bahasa daerah yang tidak relevan. 5. Keaktifan mahasiswa Setiap mahasiswa sudah tentu memiliki daya kreatif yang akan berkembang jika ada stimuli. Untuk meningkatkannya, dilakukan melalui pengolahan daya nalar sekaligus aktivitas fisik yang tinggi. Pengolahan ini dapat direkayasa melalui penyajian materi buku ajar, misalnya, materi disajikan secara bervariasi. Prinsip keseimbangan teori dan praktik menegaskan bahwa uraian dalam bentuk teks akan bermanfaat jika ada tambahan ilustrasi: gambar, foto atau bagan yang mendukung. Sejumlah buku ajar terbitan luar negeri, bahkan menggabungkan antara teks, gambar, dan warna dengan tujuan akhir untuk merangsang daya kreatif para pembacanya. Selain itu, disajikan pula bahan ajar yang menimbulkan tantangan intelektual bagi para mahasiswa sehingga mereka terdorong untuk melakukan pencarian sejumlah sumber belajar dan sumber informasi serta pengetahuan lain yang cocok. 6. Hubungan bahan Bahan ajar dihubungkan satu sama lain sehingga saling memperkuat. Gunakanlah materi yang tercakup dalam konsep yang sama untuk menjelaskan pengertian keseluruhan. Upayakan untuk selalu mengaitkan penjelasan pada satu bab tertentu yang sedang dan atau akan dibahas dengan bab lain yang sudah dibahas. Strategi ini akan bermanfaat dalam membentuk

35

kompetensi yang diinginkan secara utuh sehingga proses pembelajaran berlangsung secara efektif. 7. Norma Norma adalah kesepakatan terkait dengan ukuran yang berlaku dan diakui secara umum tentang baik buruk. Di antara norma yang berlaku dalam tulis-menulis adalah selalu mencantumkan daftar pustaka atau rujukan pada akhir buku ajar. Pada sejumlah buku ajar daftar pustaka dicantumkan pada akhir setiap bab. Daftar pustaka membantu proses pengayaan pengalaman dan pengetahuan para pembaca. Sebagai sebuah karya ilmiah, pencantuman nama lengkap para pengarang adalah keharusan. Hal ini merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan akademis, serta penghindaran atas praktik pembajakan buku ajar. 8. Ilustrasi Ilustrasi adalah bagian penting buku ajar. Ilustrasi bersifat suplemen atau alat bantu, Untuk itu, ilustrasi jangan dibiarkan berbicara sendiri tanpa penjelasan atau narasi. Apa yang disajikan dalam ilustrasi harus dituliskan dan diterjemahkan oleh penulis dalam bentuk narasi agar mudah dipahami oleh pembaca. Ilustrasi dapat berupa tabel dan gambar. a. Tabel Tabel diberi nomor urut dengan angka Arab. Judul tabel biasanya ditempatkan di atas tabel. Perhatikan format penulisan judul tabel: di tengah, cetak miring, atau left justification adakalanya kata Tabel dan nomornya dicetak tebal. Sistem penulisan satuan peubah yang ditabulasikan selalu diperhatikan dengan cermat. Jumlah angka
36

belakang koma juga harus diperhatikan sesuai dengan angka bermakna. Apabila ada singkatan dalam tabel, berilah penjelasan pada catatan kaki. Syarat yang selalu ditekankan dalam pembuatan tabel adalah bahwa tabel tersebut harus dapat berdiri sendiri. Seseorang yang menemukan tabel tersebut terpisah dari teks harus bisa memahami dan menafsirkan tabel itu tanpa harus membaca teks. Untuk tabel dengan banyak kolom, gunakan bentuk cetakan landscape. Hal lainnya dalam pemuatan tabel adalah pencantuman sumbernya. b. Gambar (grafik, foto, diagram, bagan, peta, denah, dan gambar lainnya). Adanya gambar membuat buku ajar akan menjadi lebih menarik. Gambar meliputi grafik, foto, diagram, bagan, peta, denah, dan gambar lainnya. Simbol yang digunakan sebaiknya dijelaskan dalam judul, jangan dimasukkan ke dalam gambar itu sendiri (seperti umumnya pada pembuatan grafik dengan komputer saat ini) sumbu yang digunakan juga cukup satu sumbu x dan satu sumbu y. Kalau penulis bermaksud menggabungkan beberapa data dalam satu sumbu yang satuannya berbeda, gambar tidak perlu diberi bingkai, bisa menggunakan dua sumbu y. Penomoran gambar menggunakan angka Arab, pencantuman judul gambar diletakkan di bawah gambar dan berada dengan format tengah. Gambar yang tidak dibuat sendiri, harus mencantumkan sumbernya.

37

9. Soal dan latihan Soal dan latihan adalah strategi untuk mengukur penguasaan mahasiswa atas materi yang disajikan. Soal dan latihan juga sekaligus ditujukan bagi penguatan atas penguasaan materi. Soal dan latihan berfungsi sebagai alat mengukur dan memperkuat penguasaan materi. Oleh karena itu, penyusunannya harus disesuaikan dengan materi yang telah disampaikan dan bersifat gradual. Soal dan latihan perlu dipertimbangkan proporsinya dari segi konsep yang dibahas, gradasi kerumitan, kognisi mahasiswa, dan bervariasi sehingga mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, logis, sistematis dan analitis. Selain itu, soal dan latihan harus selaras dengan kebenaran konsep keilmuan yang ada dalam buku ajar. Pada dasarnya soal dan latihan adalah cara untuk mengulang dan memperkuat kembali pengetahuan yang telah didapat. I. Bahasa Dan Keterbacaan Bahasa pada dasarnya merupakan sarana dominasi dan kekuasaan sosial. Seperti yang dikatakan Habermas bahwa bahasa senantiasa berfungsi sebagai pelegitimasi antar hubungan berbagai kekuatan yang terorganisasi. Itu berarti, bahasa pada prinsipnya bersifat ideologis. Dalam perkembangan selanjutnya bahasa menjadi alat hegemoni. Hal yang perlu diperhatikan oleh pengajar pada saat menulis buku ajar adalah panjang wacana bagi setiap tingkat pendidikan. Dalam menulis buku ajar, ada sebuah aspek yang perlu diperhatikan, yakni masalah keterbacaan. Keterbacaan adalah tingkat kemudahan suatu tulisan untuk dipahami maksudnya. Tingkat keterbacaan yang tinggi akan
38

menambah kemampuan pembacanya dalam hal pemahaman, pembelajaran, penerimaan informasi, kemampuan mengingat, kecepatan membaca. Jadi, dalam penyusunan buku ajar harus diperhatikan pula unsur-unsur kebahasaan berkaitan dengan keterbacaan. a. Panjang Wacana Ketetapan panjang wacana dapat dilihat dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang pedagogi dan sudut pandang kurikulum. b. Panjang Kalimat Dalam masalah keterbacaan, penelitian menunjukkan bahwa kalimat yang terlalu panjang tidak akan mudah dipahami oleh pembacanya. Masalah keterbacaan itu sebagaimana ditunjukkan oleh jumlah kata yang tersusun dalam kalimat, yaitu: 8 kata atau kurang 11 kata 14 kata 17 kata 21 kata 25 kata 29 kata lebih c. Pilihan Kata. Pilihan kata harus ditinjau dari dua sudut. Pertama, kandungan makna kata. Kedua, proses pembentukan kata. Kandungan makna kata berkaitan dengan tingkat kesulitan makna. Artinya, mungkin saja kata itu mudah
39

Sangat mudah dipahami Mudah dipahami Agak mudah dipahami Standar Agak sulit dipahami Sulit dipahami Sangat sulit dipahami

dilafalkan dan merupakan kata dasar, namun maknanya sulit. Proses pembentukan kata juga berkaitan dengan tingkat pendidikan anak.

40

BAB IV ATURAN TEKNIS PENULISAN DAN PENGAJUAN NASKAH BUKU AJAR A. Ketentuan Umum 1. Naskah buku ajar disusun dalam bahasa Indonesia dengan ragam ilmiah yang baik, jelas, dan benar. Program Studi Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Bahasa Arab, Bahasa Perancis, Bahasa Jerman, Bahasa Rusia, dan Bahasa Sunda dapat menulis naskah buku ajar mata kuliah dalam bahasa asing ataupun bahasa daerah program studi yang bersangkutan. 2. Naskah buku ajar dirancang untuk mahasiswa serta merupakan bahan ajar mata kuliah tertentu yang memiliki bobot 4, 3, dan 2 SKS. 3. Naskah buku ajar diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan mata kuliah tertentu, memperkuat pemahaman tentang ilmu tertentu sebagai referensi mahasiswa, dan secara langsung digunakan pada perkuliahan program studi yang bersangkutan. 4. Tata cara penulisan buku ajar menggunakan Pedoman Penulisan Buku Ajar Universitas Padjadjaran. 5. Naskah buku ajar adalah karya sendiri, bukan hasil plagiat dan belum pernah dipublikasikan di mana pun, kecuali dalam bentuk diktat perkuliahan. 6. Penulis naskah adalah dosen pengampu mata kuliah yang diajarkan di lingkungan Universitas Padjadjaran.

41

7. Setiap pengajar di lingkungan civitas academica Universitas Padjadjaran mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi penulis naskah buku ajar. B. Ketentuan Khusus 1. Ketentuan Penyusunan Naskah a. Naskah berangkat dari disiplin keilmuan tertentu yang dikuasai oleh penulis. b. Naskah merupakan karya ilmiah penulis, bukan terjemahan, bukan saduran, dan bukan kompilasi pandangan para ahli (kecuali jika diperlukan untuk studi banding). c. Naskah harus berada dan dibedakan sedemikian rupa dari buku ajar sejenis yang telah beredar di pasaran. d. Naskah yang dutamakan adalah naskah buku ajar yang telah didukung oleh hasil-hasil penelitian penulis. e. Sifat pembahasannya merupakan sintesis, hasil analis penulis yang menunjukkan alur pikir logis atas topik yang dibahas. f. Isi naskah hendaknya menggugah pembaca untuk berpikir kritis, analitis dan komprehensif serta menimbulkan gagasan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. g. Organisasi buku secara umum meliputi: Bagian, Bab, Subbab, dan Lampiran. Untuk organisasi buku ajar lebih lanjut lihat Bab II Buku Ajar, Subbab F, Sistematika Buku Ajar.

42

h. Jika dimungkinkan, lengkapi buku ajar dengan glossary dan indeks pada bagian akhir. 2. Ketentuan Teknis Penulisan a. Huruf yang digunakan adalah Times New Roman font 12 dengan jarak spasi 1,5, berjumlah minimum 200 halaman, tidak termasuk glossary. b. Ukuran kertas naskah A4 dengan pengaturan margin (dalam cm), kiri-atas:4-4, dan kanan-bawah: 3-3. c. Naskah diterima tim penilai awal dalam bentuk CD beserta tiga kopi naskah tercetak (print out). d. Sertakan CV penulis atau para penulis di bagian akhir naskah, tidak lebih dari 100 kata. e. Bila jumlah penulis lebih dari satu orang (tim penulis), semua nama penulis harus dicantumkan. f. Bila jumlah penulis lebih dari tiga orang, penulis utama yang dicantumkan, sedangkan penulis lainnya dicantumkan ke dalam tiap-tiap bab ataupun topik/materi bahasan. 3. Ketentuan Pengusulan a. Naskah buku ajar diajukan melalui fakultas dalam bentuk draft buku ajar yang akan ditulis beserta contoh satu bab lengkap. b. Naskah buku ajar yang sudah selesai 100% ataupun yang mendekati 100% dapat diajukan, disertai gambaran umum tentang buku ajar yang hendak diselesaikan. c. Penetapan buku ajar yang akan didanai diumumkan secara transparan dalam rapat jurusan/fakultas, berdasarkan kebijakan yang dipilih program studi
43

untuk menentukan prioritas pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan program yang bersangkutan. d. Outline dan contoh bab buku ajar yang akan ditulis atau hendak diselesaikan, akan dinilai oleh satu orang penilai (penelaah) yang merupakan pakar di bidangnya (baik dari Universitas Padjadjaran maupun dari luar Universitas Padjadjaran) yang ditentukan oleh program studi terkait setelah mendengar masukan dari tim penilai naskah awal/tim pengelola naskah. e. Hasil penilaian pakar akan diserahkan kembali kepada program studi, yang selanjutnya disampaikan kepada tim penilai kualitas naskah akhir, yang kemudian menetapkan naskah terpilih dalam sebuah surat keputusan. f. Naskah terpilih yang akan disempurnakan harus diselesaikan dalam waktu maksimum tiga bulan. Jika dalam waktu yang telah ditentukan naskah belum selesai ditulis, dapat diperpanjang sampai batas waktu tertentu yang disepakati kemudian. Bila waktu perpanjangan gagal dipenuhi oleh penulis, kontrak dibatalkan. g. Bila terdapat waktu pengabaian atas penambahan tenggang waktu yang disengaja atas penyelesaian naskah, tanpa adanya kondisi-kondisi di luar kemampuan (force majeure) yang dapat diterima, penulis tidak berhak mengikuti seleksi pendanaan dalam jangka waktu tiga tahun terhitung masa pengabaian atas penambahan tenggang waktu.

44

4. Ketentuan Penilaian a. Penilaian dilakukan dalam hal: (1) Keaslian karya, diferensiasi karya. orisinalitas gagasan dan

(2) Relevansi karya tulis dengan bobot SKS mata kuliah yang dikembangkan. (3) Keselarasan dengan aturan pedoman penulisan buku ajar yang berlaku umum. (4) Keruntutan alur pikir penulisan dan kejelasan benang merah pembahasan ide dalam keseluruhan naskah. (5) Kesesuian dengan prinsip-prinsip penulisan buku ajar. b. Seorang atau tim pakar sebagai penilai kualitas naskah berhak memberikan masukan dan merevisi naskah setelah berkonsultasi dengan penulis. Mekanisme ini akan melibatkan tim pengelola naskah. c. Naskah akhir yang telah disetujui akan diserahkan kepada Pembantu Rektor Bidang Perencanaan dan Sistem Informasi sesuai dengan ketentuan butir C.3. C. Ketentuan Administratif / Sistem Insentif 1. Setiap karya tulis yang lolos seleksi akan didanai penyelesaiannya oleh Universitas Padjadjaran sesuai aturan yang berlaku. 2. Manajemen fee untuk setiap penilai/ external reviewer ditentukan sesuai aturan yang berlaku.
45

3. Dana penulisan akan dituntaskan pada saat naskah buku ajar telah diselesaikan 100% dan dinyatakan diterima. 4. Bila buku diterbitkan, selama tiga tahun pertama, penulis mendapat royalty 40% dari penjualan bersih. Pada cetakan selanjutnya, nilai royalty akan dimusyawarahkan kembali. 5. Hak cipta ada pada penulis dan hak penerbitan ada pada Universitas Padjadjaran. 6. Setiap penulis wajib menandatangani dan mematuhi aturan kontrak penulisan.

46

D. Alur Pengajuan Naskah Buku Ajar

47

Daftar Pustaka Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Pedoman Penulisan Buku Pelajaran: Penjelasan Standar Mutu Buku Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Lewis, R & Paine, N. (1985). How to Comuncate with the Learner. London, Counsil for Education Technology. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Program Pascasarjana UPI. (2004). Panduan Penulisan Naskah Buku Teks Program Pascasarjana UPI. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung. Rachmawati W.S. (2004). Anatomi Buku Ajar. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta. Reigeluth, C. (1987). Lesson blueprints based upon the elaboration theory of instruction. In C. Reigeluth (ed.), Instructional Design Theories in Action. Hillsdale, NJ: Erlbaum Associates. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

48

TimPenyusun: HuseinH.Bahti IsisIkhwansyah AdeMakmurK MunirohAbdurachman FunnyMustikasariElita NonoCarsono EditorBahasa: Wahya

49