Anda di halaman 1dari 9

PELAYANAN GEREJA DAN ATURANNYA

PENDAHULUAN

Pelayanan gereja merupakan kegiatan yang dilakukan oleh gereja didasarkan pada visi dan misi gereja. Adapun visi dari setiap gereja bersumber dari Firman Tuhan yang tertulis di dalam Injil Markus 16 : 15 16, yang mengatakan : Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Demikianlah nas Markus 16 : 15-16 menjadi sumber visi dari semua gereja yang mendasarkan iman kepercayaannya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan. Pada hakikatnya gereja merupakan persekutuan orang percaya yang secara rohani digambarkan sebagai Tubuh Kristus, dengan Kristus sebagai Kepala Gereja. Sementara itu, dalam perjalanan menuju visinya, gereja dalam pengertian tersebut memiliki dua tugas pelayanan utama. Kedua tugas pelayanan tersebut adalah tugas pelayanan ke luar, yaitu memberitakan Injil (pekabaran Injil), dan tugas pelayanan ke dalam, yaitu memelihara kondisi seluruh warga jemaat agar bisa melaksanakan pekabaran Injl sebagai misi utama gereja. Kata Injil berasal dari bahasa Yunani euaggelion yang berarti kabar baik atau gembira. Kabar baik atau gembira tersebut diyatakan dalam Injil Yohanes 14 : 6, yang menyatakan : Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui aku.

Dari ayat tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa kegiatan utama dalam pelayanan pekabaran Injil adalah memberitakan jalan keselamatan di dalam Yesus Kristus (Prodjowijono, 2008).

PELAYANAN GEREJA

Seperti dijelaskan pada bab sebelumnya, pelayanan atau tugas gereja dibagi menjadi dua, yaitu pelayanan atau tugas ke luar dan ke dalam.

Pelayanan yang bersifat keluar

Meliputi baik tugas pemberitaan Injil (kerygma) maupun tugas pelayanan sosial (diakonia). Adapun tugas pelayanan sosial merupakan tugas di bawah tugas pemberitaan Injil yang tidak dapat dipisahkan dari tugas pemberitaan Injil karena tugas utama gereja adalah menginjili dunia, dan bukan menyempurnakan kesejahteraan sosial masyarakat. Penginjilan adalah usaha memberitakan kabar mahabaik tentang Yesus Kristus, yang melalui kematian dan kebangkitan-Nya, menebus dosa umat manusia, sehingga mereka yang mau percaya dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat, memeroleh pengampunan Allah dan kehidupan kekal.

Pelayanan yang bersifat ke dalam

Setiap gereja merupakan suatu persekutuan yang berkumpul bersama untuk menyembah Allah. Gereja terdiri dari seluruh keluarga Allah yang berkumpul untuk bersekutu (koinonia dalam persekutuan dengan semua orang percaya -- apapun kondisi masing-masing mereka -bersaudara, saling mengasihi dan membantu bagi terwujudnya perkembangan masing-masing. Semua orang percaya wajib dibangun dalam iman yang benar, melalui pelajaran yang benar dan sakramen-sakramen gereja, bagi tercapainya tujuan bersama, yaitu menjadi serupa dengan Kristus. Jemaat harus dilengkapi untuk dapat hidup benar dan setia melakukan kewajibankewajibannya, baik terhadap gereja, sesama orang percaya, maupun terhadap tugas ke luar gereja.

Secara umum tugas dan pelayanan gereja dibagi menjadi 3 yaitu Marturia, Koinonia dan Diakonia.

MARTURIA

Berasal dari bahasa Yunani : Marturia = kesaksian. Marturein dalam Perjanjian Baru memberi arti antara lain: 1. memberi kesaksian tentang fakta atau kebenaran (Lukas 24:48 : Matius 23:31) 2. memberi kesaksian baik tentang seseorang (Lukas 4:22; Ibr 2:4) 3. membawakan khotbah untuk pekabaran Injil (Kis 23:11) disini bersaksi sebagai istilah pengutusan/pekabaran Injil. Kita yang hidup sekarang ini memang bukanlah saksi mata dari karya penyelamatan Yesus Kristus, tetapi kitalah saksi keyakinan, sehingga kehidupan kitapun harus diwarnai dengan keyakinan itu. Dalam bentuk khotbah kita bisa memberi kesaksian tetapi lebih dari itu kehidupan kita adalah khotbah yang hidup. Allah mengutus anakNya Yesus Kristus, Kristus pun mengutus murid-muridNya kedalam dunia (Yoh 20:21), supaya kabar keselamatan (Injil) diproklamirkan. Tugas ini diberikan Allah kepada setiap orang yang percaya dengan karunia masing-masing, agar dapat diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan. Borrong dkk (2002), menjelaskan ada beberapa sikap yang harus dimiliki gereja khususnya dalam pemberitaan Injil, yaitu a. Memberitakan Firman Tugas sebagai pemberita adalah memproklamasikan inti sari Injil yakni Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit. Rasul Paulus di dalam II Timotius 4 : 2, mengatakan Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegurlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Perkataan beritakanlah merupakan kalimat imperatif mengandung makna suatu amanat tentang pemberitaan Firman, harus dilakukan sehingga semua orang mendengar kebenaran Firman Allah. b. Menderita karena Injil Tugas pelayanan memberitakan Injil adalah tugas yang mulia, tetapi penuh resiko. Banyak pelayan-pelayan Tuhan yang harus menderita dalam pelayanan pemberitaan Injil bahkan kehilangan nyawanya. Contoh nyata di dalam Alkitab adalah rasul Paulus. Dalam pekabaran Injil, rasul Paulus pernah dilempari (Kisah Para Rasul 14 : 19), masuk keluar penjara (Kisah Para Rasul 16 : 24), ia diadili (Kisah Para Rasul 22 : 30-33; 11 : 24-26). Namun semua penderitaan yang dialami rasul Paulus, tidak mengendurkan semangatnya dan tidak membiat

dia mau untuk memberitakan Injil. Sebaliknya ia semakin berani dan rela menderita demi Injil. Untuk itulah diperlukan, sikap hidup yang siap menderita karena pemberitaan Injil. c. Memelihara Injil Gereja harus bisa memelihara Injil sebagai harta yang indah agar tidak hilang atau rusak oleh ulah penyesat atau guru-guru palsu. Sekarang ini semakin banyak bermunculan guru-guru palsu, pengajaran-pengajaran sesat dan gerakan antikris, hal ini akan menambah berat tugas gereja untuk memelihara Injil.

KOINONIA Koinonia berasal dari bahasa Yunani Koinon yaitu : Koinonein artinya bersekutu, Koinonos artinya teman,sekutu. Koinonia artinya persekutuan. Kata koinonia, baik dalam Alkitab, maupun dalam masyarakat Yunani pada waktu itu tidak terbatas pada salah satu pengertian saja, melainkan mempunyai arti yang luas sesuai dengan keadaan yang berlaku pada waktu itu dan situasi tertentu. Dalam masyarakat Yunani kata koinonia seringkali dipakai untuk mengambarkan hubungan manusia dengan ilah-ilah. Hubungan itu dibayangkan sebagai hubungan antar teman (koinonos). Koinonein berarti bergaul secara akrab dengan ilah-ilah, supaya mencapai hubungan mistik yang membawa kepada kebahagiaan yang hebat. Itulah sebabnya dalam Septuaginta (Perjanjian Lama yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yuniani) kata koinonia tidak pernah mengambarkan hubungan antara Allah dengan manusia. Didalam PL kata hamba (Ibr :ebed) dipakai,bukan teman untuk menggambarkan hubungan Allah dengan manusia. Manusia adalah hamba Allah. Allah sebagai khalik dan manusia sebagai mahluk. Namun dalam Perjanjian Baru ada perubahan : karena melalui Yesus Kristus manusia dapat dipersatukan kembali dengan Allah. Dalam Kristus Allah datang dan menemui manusia. Dalam PB kata Koinonia ,mempunyai beberapa pengertian : a. Mengambil bagian bersama-sama dengan orang lain dalam sesuatu.

Lukas 5 :10 : waktu Tuhan Yesus menyuruh murid-murid menjala ikan, mka mereka melaksanakan perintah Tuhan. Mereka mendapat banyak ikan. Karena banyaknya mereka semua harus mengambil bagian dalam hal menarik jala. Disini koinonia sebagai persekutuan para pekerja. Dalam I Kor 10:16 arti persekutuan (koinonia) adalah mengambil bagian dalam penderitaan dan kematian Yesus Kristus didalam persekutuan Perjamuan Kudus.

b. Memberi bagian kepada seseorang. Sebagai contoh untuk memahami kononia dalam lingkup ini, Filipi 4:15 (baca) kata mengadakan perhitungan adalah terjemahan dari kata koinonein dalam arti memberi bagian. Paulus memberi jemaat filipi bagian dalam mengabarkan Injil,sedangkan jemaat Filipi tanpa diminta memberi Paulus bagian untuk penghidupannya. Itulah salah satu segi dari persektuan yaitu Saling memberi bagian kepada orang lain. c. Koinonia sebagai Persekutuan penuh (absolut). Dalam Galatia 2:9, digambarkan bahwa Paulus dan Bernabas dengan berjabatan tangan sebagai tanda persekutuan diterima secara penuh dalam persekutuan yang dijadikan oleh iman bersama kepada Kristus. Tanda hubungan erat antara kedua belah pihak, bahwa mereka bersekutu dalam Kristus.

Jadi koinonia (persekutuan) mempunyai dasar dan tujuan yang berasal dari Yesus Kristus. Dasar dan tujuan ini tidak dapat diganti dengan dasar dan tujuan yang lain.jikalau persekutuan ini menganti dasar, yang sudah diletakkan oleh dan di dalam Yesus Kristus maka persekutuan ini kehilangan hakekatnya dan secara azasi bukan persekutuan (koinonia) lagi. Koinonia adalah persekutuan jemaat di dalam Kristus, walaupun banyak anggota namun membentuk satu tubuh Kristus. Di dalam Koinonia ini kita tidak hanya sekedar bersekutu, tetapi kita mengambarkan Injil Kerajaan Allah melalui perkataan / kesaksian (Marturia) maupun perbuatan /pelayanan (Diakonia) dimana saja kita berada.

DIAKONIA Diakonia berasal dari bahasa Yunani, Diakonein = melayani, kata benda Diakonia = pelayanan, kata benda Diakonos = pelayan. a. Diakonein (melayani) dalam Perjanjian Baru Pandangan Yesus terhadap pelayanan berasal dari titah di dalam PL tentang kasih terhadap sesama manusia. Diakonein artinya : melayani di meja (selewir). Dalam PB diakonein mempunyai arti sebenarnya melayani di meja (Lukas 17:8; Yoh 12:2). Disekitar meja sangat terasa perbedaan tingkat antara mereka yang sementara makan yaitu orang besar dan mereka yang menanggalkan jubahnya atau orang yang melayani meja. Yesus merubah secara total arti melayani, karena Dia membalikkan hubungan antara melayani dan dilayani (Lukas 22:26-30). Diantara murid-muridNya yang memimpin adalah Yesus yang juga

adalah diakonos (pelayan). Arti kata diakonein sebagai melayani meja diperluas juga dengan pemahaman mengumpulkan bahan makanan, menyiapkan makanan (Kis 6:2). Diakonein artinya :memperhambakan diri atau mengabdi. Disini artinya diperluas, Yesus menyebut dalam Matius 25:42-44 pelbagai perbuatan seperti memberi makan, minum,memberi penginapan,memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan orang yang berada di penjara, itu diakonein. Diakonein =pelayanan ini adalah maksud dan tujuan orang Kristen terhadap sesama manusia, sekaligus juga menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus. Dari pandangan yang dasariah ini Yesus menyimpulkan sehubungan dengan sifatNya sendiri menurut Markus 19:43-45 dan matius 20:26-28, bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang. Diakonein sebagai cara hidup jemaat Kristus. Dengan apa yang kita pahami dari bahasan diatas menjadi jelas maksud dari melayani di dalam jemaat. Setiap karunia atau kharisma menurut I Petrus 4:10 merupakan pemberian yang dipercayakan kepada setiap orang dengan maksud supaya mereka yang mendapat karunia itu memanfaatkannya dan mengunakan karunia yang Tuhan berikan untuk melayani. Diakonein sebagai mengumpulkan persembahan atau kolekte. Pelayanan khusus yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan Paulus adalah pengumpulan dan penyerahan kolekte bagi orang kudus di Yeruselem (2 Kor 8:19). Pelayanan kasih ini adalah teladan sebagaimana orang Kristen saling memperhatikan dan saling membantu berdasarkan kasih Kristus. Diakonein sebagai nama untuk pelayanan jabatan khusus. Dalam I Tim 3:10,13 kata kerja Diakonein dipakai untuk nama jabatan seorang syamas/syamaset/diaken. b. Cara Berdiakonia antara lain : Diakonia sebagai pertolongan secangkir air atas nama Yesus. Ada berbagai cara orang Kristen atau badan-badan gereja atau lembaga Kristen didalam pelayanan pada sesama. Pelayanan ini merupakaan pengaktaan kasih Kristus. (contoh bagi bahan makanan, pakaian, obat dll). Prinsip motivasinya adalah mendemonstrasikan kasih Kristus dalam perbuatan nyata. Pertolongan ini disebut dengan diakonia kharitatif. Teologia secangkir air itu penting dalam rangka diakonia jemaat tetapi itu hanya salah satu unsur saja dalam berdiakonia. Karena pemahaman diakonia itu punya pengertian yang luas. Ketaatan dan

kerendahan hati gereja yang terdiri dari persekutuan orang percaya hendaknya terwujud dalam pola penatalayanan dan bukan pola tuan melainkan pola hamba, pola melayani. Yesus menghendaki pelayanan kepadaNya terwujud dalam pelayanan kepada orangorang yang paling hina, terhadap merekalah gereja melayani. Diakonia dan Pembangunan. Sisi lain diakonia adalah diakonia social yang berupa upaya untuk membangun masyarakat yang bertanggung jawab. Itu berarti menuntut keterlibatan jemaat dalam pembangunan, jadi diakonia adalah pembangunan. Diakonia berarti sikap kritis kenabian gereja untuk memulihkan dan meluruskan arah pembangunan yang keliru dan mengangkat mereka yang tersisihkan dan terlupakan dalam pembangunan. Jadi diakonia bukanlah jalan untuk mencapai sukses.Diakonia adalah pelayanan yang berjalan, berbicara, dan berbuat bersama-sama dengan mereka yang hina. Diakonia adalah belajar sambil berbuat di tengah-tengah kehinaan.

Dengan ulasan diatas, kita pun harus mampu untuk memahami tugas panggilan gereja di dalam kehadirannya di dunia ini yakni Koinonia, Marturia dan Diakonia. Ketiganya saling behubungan satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Tugas yang satu akan menjadi sempurna ketika berada di dalam keterkaitannya dengan tugas yang lain, begitu juga sebaliknya. Koinonia sebagai persekutuan yang hidup harus menjalankan peran marturia dan diakonianya.

ATURAN ATURAN DALAM PELAYANAN GEREJA Di dalam Alkitab Perjanjian Baru tidak memuat peraturan peraturan lengkap mengenai pelayanan gereja. Yang ada di dalam Perjanjian Baru hanyalah kesaksian tentang peraturan peraturan itu, yaitu bagaimana caranya Jemaat dalam situasinya masing-masing pada waktu itu telah menyusun diri dan pelayanannya. Sungguhpun demikian kita dapat belajar dari kesaksian dalam Perjanjian Baru tentang peraturan gereja. Yang paling penting di antaranya ialah, bahwa peraturan-peraturan itu hanya berfungsi sebagai alat atau saluran dari pelayanan Jemaat, yaitu meneruskan pelayanan itu. Artinya melayani dan menjaga supaya pelayanan itu dapat berlangsung dengan baik. Sebagai alat atau saluran pelayanan, peraturan- peraturan iitu terbuka untuk perbaikan. Peraturan-peraturan itu tidak mutlak, yang mutlak ialah Yeus Kristus, Firman Allah yang hidup yang mereka layani. Peraturan-peraturan gereja setiap waktu dapat dikoreksi atau diganti kalau pelayanan menghendakinya (Abineno, 2008). Peraturan-peraturan gereja dibuat untuk mengatur hubungan-hubungan lahiriah dalam gereja sebagai lembaga dan hubungan gereja yang satu dengan gereja yang lain dan antara gereja dan negara. Kalau hal ini tidak dilakukan, gereja tidak dapat memenuhi tugas dan panggilannya dengan baik. Tanpa peraturan-peraturan yang baik, gereja bukan saja memberikan kesempatan untuk timbulnya rupa-rupa salah paham dan kekacauan tetapi juga dapat membawa dirinya ke dalam bahaya (Abineno, 2006). Salah satu contoh peraturan peraturan gereja yang dikueluarkan oleh Calvin (1541), yaitu dalam tata gereja itu ditentukan 4 jabatan. Jabatan pertama adalah jabatan pendeta bertanggung jawab untuk khotbah dan disiplin, jabatan kedua adalah jabatan pengajar bertanggung jawab dalam katekisasi dan pengajaran theologia, jabatan ketiga adalah jabatan penatua bertanggung jawab dalam hal disiplin namun anggotanya dipilih dari antara dewandewan kota, dan jabatan keempat adalah jabatan syamas (diaken) bertanggung jawab dalam pelayanan terhadap orang-orang miskin (Berkhoff, 2009).

SUMBER PUSTAKA

Abineno, J. L. Ch. 2006. Garis-garis Besar Hukum Gereja. Gunung Mulia. Jakarta. Abineno, J. L. Ch. 2008. Pokok-pokok Penting dari Iman Kristen. Gunung Mulia. Jakarta Anonim. 1986. Majalah Hikmat Kekal Edisi Mei/Juni 1986. Yayasan MST. Jakarta. Berkhof, H. 2009. Sejarah Gereja. Gunung Mulia. Jakarta Borrong R. P. dkk. 2002. Berakar di dalam Dia dan Dibangun di atas Dia. Gunung Mulia. Jakarta. Prodjiwijono, S. 2008. Manajemen Gereja : Sebuah Alternatif. BPK Gunung Mulia. Jakarta. http://pdtvani.blogspot.com/2009/05/tri-tugas-gereja.html