Anda di halaman 1dari 20

(Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. Vol. 16, No.

1, Maret 2012 : 1-12) RANCANG BANGUN ALAT PENGAYAK PUPUK ORGANIK Santosa1), Mislaini R.1), dan Bustami Savutera2) 1) Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Telp. / Fax. 0751-777413 , Kampus Limau Manis, Padang 25163 e-mail : santosa764@yahoo.co.id 2) Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas, Padang

Telah dilakukan penelitian tentang rancang bangun alat pengayak pupuk organik. Penelitian dilakukan pada pada bulan Februari sampai dengan Maret 2010 di Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas Padang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan rancang bangun alat pengayak pupuk organik, memisahkan ukuran bahan ke dalam fraksi yang mempunyai ukuran seragam dari ukuran mula-mula, melalui proses pengayakan, kebutuhan daya listrik dan melakukan analisis ekonomi mesin pengayak pupuk organik. Tahapan penelitian ini meliputi rancangan fungsional dan struktural, tahap pembuatan alat, serta tahap pengujian alat. Dari analisis teknis didapatkan kapasitas rata rata pengayakan yaitu sebesar 80,77 kg/jam, rendemen pengayakan 98,4%, kebutuhan daya listrik sebesar 0,38 kW, biaya pokok pengayakan pupuk organik 376,02/kg.

Kata kunci : alat pengayak, rancang bangun, pupuk organik

PENDAHULUAN

Pupuk organik berasal dari bahan-bahan yang dapat diperbaharui, dilakukan daur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan pupuk organik yang digunakan bisa dibuat dari pupuk kandang. Perlu diingat bahwa pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang sudah matang bukan yang baru keluar dari hewannya. Bisa juga menggunakan kompos, baik kompos dari limbah pertanian, kompos dari sampah organik, atau humus yang langsung diambil dari tanah. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak baik

sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman dan hewan. Kelangkaan pupuk yang sering mendera petani, tidak saja mengganggu proses bercocok tanam petani, tetapi juga menimbulkan masalah baru yaitu bertambahnya biaya yang harus dikeluarkan petani. Ketergantungan petani kepada pupuk pabrik (anorganik) merupakan salah satu permasalahan bagi petani, di samping harga yang mahal pupuk pabrik juga sulit untuk didapatkan. Hal tersebut seharusnya disikapi petani untuk mengubah pola pengolahan lahan dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari alam. Hal tersebut mampu menekan tingginya ongkos produksi pertanian sehingga kehidupan petani menjadi lebih baik. Dengan menggunakan pupuk organik atau kompos yang berasal dari alam, biaya produksi petani menjadi lebih rendah serta pembuatan pupuk organik tergolong mudah disamping itu penggunaan pupuk organik mampu menyuburkan unsur hara dalam tanah. Untuk mengatasi masalah kelangkaan pupuk kimia, Departemen Pertanian mengupayakan pemasyarakatan penggunaan pupuk organik dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan petani akan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam eksploitasi sumber daya lahan. Selain itu, penyediaan pupuk organik bertujuan untuk serta mengantisipasi permintaan global akan produk pertanian organik yang dipercaya mempunyai nilai kesehatan yang lebih baik dibandingkan produk konvensional serta lebih berwawasan lingkungan. Kebutuhan pupuk organik yang semakin meningkat mendorong berkembangnya unit produksi pupuk organik di masyarakat. Untuk lebih mudahnya tanah menyerap pupuk organik, maka perlu

dilakukan penghalusan dengan cara pengayakan agar mendapatkan hasil yang seragam tanpa mengurangi unsur atau kandungan dari pupuk serta meningkatkan hasil pertanian dan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang selama ini sering digunakan petani (Wahyono dkk., 2003). Pengayakan (screening) adalah suatu metode untuk memisahkan partikel menurut ukuran semata-mata, pengayakan pupuk organik disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan. Bagi pemupukan pertanian di kebun dan tanaman keras

masih bisa ditolerir ukuran besar. Sementara bagi tanaman hias di taman, diperlukan pupuk organik ukuran kecil ( lolos mesh 80-100). Untuk memisahkan bahan-bahan yang telah dihancurkan berdasarkan keseragaman ukuran partikel-partikel bahan dilakukan dengan pengayakan dengan menggunakan standar ayakan. Pengayak (screen) dengan berbagai desain telah digunakan secara luas pada proses pemisahan bahan pangan berdasarkan ukuran yang terdapat pada mesin-mesin sortasi, tetapi pengayak juga digunakan sebagai alat pembersih, memisahkan kontaminan yang berbeda ukurannya dari bahan baku. Pengayak dengan berbagai desain telah digunakan secara luas pada proses pemisahan bahan pangan berdasarkan ukuran utamanya, tetapi pengayak juga digunakan sebagai alat pembersih, memisahkan kontaminan yang berbeda ukurannya dari bahan baku.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan rancang bangun alat pengayak pupuk organik, memisahkan ukuran bahan ke dalam fraksi yang mempunyai ukuran seragam dari ukuran mula-mula melalui proses pengayakan, melakukan perhitungan kebutuhan daya listrik, dan melakukan analisis ekonomi mesin pengayak pupuk organik.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Maret 2010 yang dilakukan di Laboratorium Produksi dan Manajemen Alat dan Mesin
Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas Padang.

Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu besi siku, besi as (poros baja), pulley, belt, serta kotoran ternak (sapi), jerami dan serbuk gergaji kayu,dengan kadar air 20 %, sedangkan alat yang dipakai adalah gergaji besi, mesin bubut, bor besi, peralatan las, gerinda, meteran, stopwatch, dan alat tulis, serta peralatan yang mendukung.

Metode Penelitian Urutan proses pada penelitian ini adalah pembuatan alat pengayak pupuk organik dan pengujian rancangan alat yang telah dirancang, pencaraian kendala alat di lapangan dan dilakukan perbaikan kembali, setelah itu dilakukan pengujian alat kembali (uji teknis) dengan melakukan pengayakan pupuk organik dengan tiga tingkat kehalusan secara berturut - turut 8 mesh, 28 mesh dan 100 mesh. Masing masing ukuran mesh dilakukan tiga kali ulangan dengan berat pupuk organik 6 kg.

Inventaris Ide Ide untuk merancang alat pengayak pupuk organik ini timbul setelah melihat pengayakan pasir secara manual dan membutuhkan dua orang tenaga kerja untuk melakukan pengayakan serta memerlukan tenaga lebih.

Cara Kerja Alat Pengayak Prinsip kerja alat pengayak pupuk organik ini adalah sebagai berikut, motor listrik sebagai penggerak awal pemutar pulley dan diteruskan oleh poros ke pulley penggerak ayakan. Pupuk organik dimasukkan ke dalam ayakan untuk proses pengayakan, kemudian pupuk organik melewati tiga tingkat kehalusan ayakan. Pupuk organik yang lolos ayakan terhalus ditampung oleh panci penampung. Pupuk organik yang masih kasar bisa dilakukan penghalusan dengan ditumbuk sebelum dilakukan pengayakan lagi. Gerakan partikel pada permukaan ayakan itu dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan kekuatan yang digunakan oleh permukaan. Dengan kemiringan ayakan sebesar 50 menyebabkan adanya dorongan yang cukup dari permukaan sehingga partikel ringan terdorong ke bawah. Gerakan biasanya bersifat translasi (translation) cepat pada kapasitas besar, sentuhan yang kontinyu, berguling (turn over) yang menyebabkan orientasi pergantian partikel serta pengeluaran (ejecting) yaitu pembuangan keluar partikel, yang menyebabkan material bergerak menyebar. Cara kerja alat pengayak dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Cara Kerja Alat Pengayak

Screening merupakan proses pemisahan bahan galian berdasarkan ukuran. Berat atau ringannya ukuran material disebabkan karena berat jenis dari material itu sendiri, dan juga gaya gravitasi yang mempengaruhinya. Mineral yang dapat melewati lubang ayakan sering disebut oversize, sedangkan mineral yang tidak lolos dari lubang ayakan disebur undersize. Pada proses screening zat padat itu dijatuhkan atau dilemparkan ke permukaan screening. Partikel yang di bawah ukuran atau yang kecil (undersize), atau halusan (fines), lulus melewati bukaan screen, sedang yang di atas ukuran atau yang besar (oversize), atau buntut (tails) tidak lulus.

Proses Rancangan Untuk mengambil keputusan terhadap pembuatan alat ini, harus berdasarkan pada analisis rancangan struktural dan fungsional yang telah dilakukan. Di samping itu, juga harus dipertimbangkan dari segi aspek sosial

ekonomi dan aspek teknis. Mengingat tingkat teknologi yang berkembang di masyarakat masih lamban dan dari segi ekonomi yang diharapkan harganya terjangkau, sehingga alat pengayak dapat dimiliki secara perorangan atau kelompok pada masyarakat.

Analisis Rancangan Fungsional Alat ini terdiri dari empat bagian utama yaitu : a) Rangka utama (frame) merupakan kerangka dasar dari alat ini yang berfungsi untuk mendukung dan sekaligus merupakan dudukan dari komponen komponen yang lain, sehingga akan dibuat kokoh agar alat ini stabil. b) Poros berfungsi untuk menahan beban dari ayakan serta untuk mentransmisikan daya dari motor listrik ke pulley sebagai penggerak ayakan. c) Transmisi daya berfungsi sebagai penyalur tenaga, pada alat ini sistem transmisi yang digunakan pulley dan belt, dan belt yang digunakan ialah tipe V-belt. Daya yang berasal dari motor listrik diteruskan pada pulley yang kemudian akan memutar poros sehingga dapat menarik dan mendorong ayakan. d) Motor listrik merupakan sumber tenaga untuk menggerakkan ayakkan dengan transmisi pulley dan belt .

Analisis Rancangan Struktural a. Rangka utama Rangka utama terbuat dari besi siku 40 x 40 dan besi siku dengan ukuran dimensi, lebar alat 50 cm, panjang alat 120 cm, dan tinggi 100 cm yang merupakan kerangka dasar alat. Penggunaan besi siku pada rangka utama bertujuan agar rangka utama dapat lebih kokoh pada saat menahan berat komponen penyusun alat serta menahan getaran pada proses pengayakan pupuk organik. b. Kerangka Ayakan

Kerangka ayakan terbuat dari besi siku yang memiliki dimensi, lebar alat 45 cm dan panjang alat 75 cm. Penggunaan besi siku pada ayakan bertujuan untuk menahan beban pupuk organik yang diayak dan tidak terjadi tumpahan pupuk organik. c. Motor listrik Sumber tenaga yang digunakan pada alat ini merupakan tenaga motor listrik dengan tujuan agar daya yang dihasilkan lebih besar dibandingkan daya yang dibutuhkan. Besarnya daya listrik yang dibutuhkan untuk proses pengayakan dapat dicari dengan rumus: P = V x I ................................................................................... (1)

dengan P adalah daya listrik (watt), V adalah tegangan listrik (volt), dan I adalah kuat arus listrik yang dipakai pada motor (ampere). d. Transmisi daya Pemindahan daya dari motor listrik ke pengayak dihubungkan dengan pulley hal ini bertujuan mengurangi kebisingan. Daya yang hilang karena efisiensi pulley dapat dicari dengan persamaan : Ph = Pi (1 - ) .................................................................... (2)

dengan Ph adalah daya yang hilang karna efisiensi pulley (watt), Pi adalah daya input (watt), dan adalah efisiensi pulley ( % ). e. Poros Poros adalah suatu bagian stasioner yang berputar, berpenampang bulat dimana terpasang pully sebagai pemindah daya. Poros berfungsi sebagai penyalur tenaga dari motor listrik ke ayakan. T( N.m ) = 9,74 x 105 x
P( kw) RPM

...................................................

(3)

dengan T adalah torsi yang bekerja ( N.m), dan P adalah daya yang ditransmisikan (kW). Besarnya torsi yang bekerja pada poros dapt dihitung dari persamaan (3) daya input sebesar 0,3675 kW dan RPM pada pulley sebesar 1420 RPM.

T( N.m ) = 9,74 x 105 x T( N.m ) = 9,74 x 105 x T( N.m ) = 252,074 kg.mm

P( kw) RPM
0,3675

1.420

T( N.m ) = 252,074 kg.mm x 9,8 N/kg x 1 m/ 1000 mm T( N.m ) = 2,50 N.m Sumber tenaga yang dipakai adalah satu unit motor listrik. Dalam rancangan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kerja, penghematan biaya, waktu dan hasil pengayakan yang seragam.

Tahapan Penelitian a) Tahap pembuatan alat Tahap ini meliputi semua kegiatan dalam pembuatan komponen-komponen alat dan perakitannya yang meliputi : 1. Rangka utama, alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan rangka utama ialah besi siku, las listrik, gerinda, dan gergaji besi. 2. Ayakan, alat-alat yang dibutuhkan untuk pembuatan ayakan ialah besi siku, dan kawat ayakan. 3. Panci penampung, alat-alat yang dibutuhkan ialah besi plat.

Tahap Pengujian Alat Tahap pengujian alat adalah tahap melakukan uji teknis untuk mengidentifikasi alat apakah alat dapat dioperasikan dengan baik, langkahlangkah pengujian alat dapat dilakukan sebagai berikut : (1) motor listrik dihidupkan, (2) komoditi yang diayak diletakkan di atas ayakan, dan (3)

dilakukan pengamatan hasil ayakan dan proses pengayakannya.

Pelaksanaan Penelitian Pada tahap pelaksanaan penelitian, hal-hal yang akan dilakukan yaitu: a. Penyiapan bahan pupuk organik untuk pengujian pengamatan

Persiapan bahan pupuk organik untuk pengamatan didapatkan dari CV. Agro Utama Payakumbuh sebagai disributor pupuk organik di Sumatra Barat, pupuk yang dipakai adalah pupuk yang siap untuk diayak sebelum dikemas, bahan bahan pupuk organik yang diayak terdiri dari: kotoran ternak, jerami dan serbuk gergaji. b. Persiapan Alat Alat pengayak pupuk organik yang digunakan yaitu, satu unit motor listrik, sebagai tenaga pengayak, besi siku, besi U dan ayakan yang terbuat dari kawat. c. Pengoperasian Alat Pengoperasian alat dilakukan di Laboratorium Produksi dan Manajemen
Alat dan Mesin Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas,

dilakukan dengan tiga jenis kehalusan (8 mesh, 28 mesh, dan 100 mesh). d. Operator Jumlah operator dalam melakukan pengayakan ini adalah satu orang. Mesin pengayak ini sangat sederhana dan dapat digunakan berbagai macam jenis ayakan dengan kehalusan yang seragam dan sesuai dengan keinginan pengayakan.

Pengamatan Kapasitas Pengayakan Waktu pengayakan adalah waktu yang digunakan untuk satu kali proses pengayakan atau waktu yang dipakai mulai dari pemasukan bahan kedalam pengayakan sampai menghasilkan hasil yang diinginkan. Kapasitas mesin pengayak dapat ditentukan dengan menghitung jumlah pupuk yang diayak dibagi dengan waktu dari pengayakan. Ka = Bp/t ........................................................................................ dengan Ka adalah (4)

kapasitas alat pengayak pupuk organik (kg/jam), Bp adalah adalah waktu pengayakan (jam).

berat pupuk hasil ayakan (kg), dan t

Modulus Kehalusan dan Indeks Keseragaman

10

Modulus kehalusan atau fineness modulus (FM) adalah jumlah berat fraksi-fraksi yang tertinggal dalam ayakan yang memiliki mesh 8, 28, dan 100 mesh ( Hall dan Davis, 1978 ). Modulus Kehalusan (FM) =M/N ..................................................... (5)

dengan M adalah berat bahan yang lolos ayakan (kg), dan N adalah berat bahan yang tertahan pada ayakan (%). Indeks keseragaman adalah perbandingan antara besar, sedang, dan kecil pastikel-partikel dari bahan yang dihasilkan mesin pengayak ini. Indeks Keseragaman = X : Y : Z ..................................................... (6)

dengan X adalah hasil pengayakan kasar, Y adalah hasil pengayakan sedang, dan Z adalah hasil Pengayakan halus.

Diameter Rata-Rata Hasil Pengayakan Diameter rata-rata hasil pengayakan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : D = 0,0041 x 2 FM ........................................................................... dengan D adalah diameter rata-rata hasil ayakan (inci), dan FM modulus kehalusan (finenenss modulus ). adalah (7)

Rendemen Pengayakan Rendemen luas pengayakan ini dapat dihitung dengan persamaan berikut:

output x100% ........................................................ input

(8)

dengan adalah rendemen (%), output adalah berat pupuk hasil ayakan (kg), dan input adalah berat pupuk yang akan diayak (kg). Analisis Ekonomi Analisis ekonomi adalah untuk menentukan biaya pokok dan titik impas dari mesin pengayak pupuk organik.

Biaya Pokok Biaya pokok dapat dihitung dengan persamaan berikut:

11

BP

(BT / x ) BTT .................................................................... Ka

(9) adalah

dengan BP adalah biaya pokok pengayakan pupuk organik (Rp/kg), BT

biaya tetap (Rp/th), BTT adalah biaya tidak tetap (Rp/jam), Ka adalah kapasitas pengayak pupuk organik (kg/jam), dan x adalah jam kerja pengayakan (jam/th).

Titik Impas (BEP) Titik impas (BEP) menyatakan berat pupuk organik hasil ayakan yang terjadi keseimbangan antara untung dan rugi per unit waktu. Titik impas ini ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:

BEP

BT .......................................... (10) ( Hj ( Hb / ) ( BTT / Ka))


adalah harga jual pupuk yang

dengan BEP adalah titik impas (kg/th), BT adalah biaya tetap (Rp/th), Hb harga beli pupuk organik sebelum diayak (Rp/kg), Hj sudah terayak (Rp/kg), Ka

adalah kapasitas alat pengayak pupuk organik adalah rendemen

(kg/jam), BTT adalah biaya tidak tetap (Rp/jam), dan pengayakan (%).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pupuk organik sebelum diayak dan pupuk setelah diayak dapat dilihat pada Gambar 2.

(a)

(b)

Gambar 2. Pupuk Sebelum diayak (a), Pupuk Hasil Pengayakan (b)

Hasil Rancangan

12

Pada awal pembuatan alat pengayak ini kendala yang dihadapi adalah basarnya getaran yang dihasilkan yang diakibatkan oleh perbandingan pulley yang kecil, setelah dilakukan perbaikan maka didapatkan perbandingan pulley adalah 1: 2, meskipun getarannya masih ada tetapi sudah mendekati normal. Dalam merancang juga harus diperhatikan hubungan manusia dengan mesin. Tiga faktor penting dalam produksi yaitu: tenaga kerja, alat kerja, dan objek kerja. Posisi badan yang tidak sesuai, walau melakukan pekerjaan yang ringan akan berakibat buruk pada tubuh. Keamanan dan kesehatan kerja merupakan faktor yang sangat penting. Ada tiga prinsip yang harus diperhatikan yaitu: Enginering; pengembangan teknik untuk mesin yang aman, Education; pendidikan untuk memberikan pengetahuan keselamatan kerja kepada pekerja, Enforcemen; menjaga keamanan dengan standart kerja atau undang-undang (Hayoshi dan Mandang, 1990). Alat pengayak pupuk organik ini berbentuk persegi panjang dengan dimensi panjang 120 cm, lebarnya 50 cm dengan tinggi alat 100 cm. Hal ini tidak sesuai dengan rancangan sebelumnya pada alat pengayak pasir dengan menggunakan satu ayakan yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 200 cm, lebarnya 150 cm, dan tinggi 100 cm, ini disebabkan karena perubahan pada alat pengayak pupuk organik dengan menggunakan tiga tingkatan ayakan. Bak pengayak merupakan tempat untuk menyaring atau memisahkan pupuk yang halus dan kasar yang sesuai dengan masing masing tingkat ayakan, dibuat dengan panjang75 cm, dan lebar 45 cm, dengan permukaan menggunakan sudut 50 terhadap bidang horisontal. Pengeluaran hasil pengayakan (outlet) pada alat ini dibuat saluran yang mengerucut terletak di bawah ayakan dengan membentuk sudut 450 terhadap bidang datar.

13

Gambar 3. Alat Pengayak Pupuk Organik

Putaran poros motor listrik 0,5 HP adalah 1420 rpm. Diameter pulley motor adalah 15 cm, diameter pulley pengayakan adalah 30 cm dan putaran poros pada alat pengayak pupuk organik adalah 720 rpm. Kebutuhan panjang keliling sabuk ( L ) untuk transmisi daya dari alat pengayak pupuk organik ini yang efektif adalah sebesar 57,3 cm. Daya yang hilang karna efisiensi pulley adalah sebesar 7,35 watt dan torsi yang bekerja pada poros adalah sebesar 2,50 N.m.

Uji Kerja Alat Kapasitas Pengayakan Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan yang dilakukan terhadap pengayakan pupuk organik sebanyak 6 kg dengan kadar air 20 %, maka kapasitas pengayakan pupuk organik dengan tiga kali ulangan dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Kapasitas Pengayakan Ulangan 1 2 3 Rata rata Kapasitas Pengayakan (kg/jam) 84,29 73,75 84,29 80,77

Jadi, kapasitas rata rata dari alat pengayak pupuk organik ini yaitu sebesar 80,77 kg/jam.

Modulus Kehalusan dan Indeks Keseragaman

14

Gerakan partikel pada permukaan ayakan itu dipengaruhi oleh gaya gravitasi dan kekuatan yang digunakan oleh permukaan. Dengan kemiringan ayakan 50 menyebabkan adanya dorongan yang cukup dari permukaan sehingga partikel ringan terdorong ke bawah. Dari hasil pengayakan dan perhitungan didapatkan kehalusan dari pupuk organik seperti terlihat pada Tabel 2 dan 3.

Tabel 2. Modulus Kehalusan Pengayakan Mesh Ukuran lubang (mm) (*) Ulangan 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 0 Berat bahan yang tertahan 3,2 3,6 3,2 3,3 1,9 1,7 2,1 1,9 0,8 0,6 0,6 0.63 0 Persentase (%) 54,24 61,02 54,24 56,50 32,20 28,81 35,60 32,20 13,56 10,17 10,17 11,30 0

2,36

28

0,58

100

0,15

Panci 0 (*) Sumber : Brown (1950)

Pengayak dengan berbagai desain telah digunakn secara luas pada proses pemisahan bahan pangan berdasarkan ukuran utamnya. Bahan-bahan yang lolos melewati lubang ayakan mempunyai ukuran lebih seragam dan bahan yang tertahan dikembalikan untuk dilakukan penggilingan ulang. Untuk melakukan analisis hasil penghancuran bahan organik dilakukan dengan ayakan standar yang disusun secara seri dalam satu tumpukan, pada bagian bawah dari tumpukan susunan ayakan ditempatkan panci sebagai penampung produk akhir. Penyusunan ayakan dimulai dari ayakan yang mempunyai ukuran mesh kawat lebih besar sampai ke ukuran mesh lebih kecil agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan mesh.

15

Jika ayakan lebih dari dua ayakan yang berbeda ukuran lubangnya, maka akan diperoleh fraksi-fraksi padatan dengan ukuran padatan sesuai dengan ukuran lubang ayakan. Pengayakan biasanya dilakukan dalam keadaan kering untuk material kasar dapat optimal sampai dengan ukuran 10 inchi (10 mesh). Sedangkan pengayakan dalam keadaan basah biasanya untuk material yang halus mulai dari ukuran 20 inchi sampai dengan ukuran 35 inchi (Brown, 1950). Modulus kehalusan dari masing-masing ulangan hasil pengayakan dapat dilihat pada Tabel 2, didapatkan persentase terbesar pada masing-masing mesh dari setiap ulangan adalah mesh 8 pada ulangan dua sebesar 61,02 %, mesh 28 pada ulangan tiga sebesar 35,60 %, dan mesh 100 terdapat pada ulangan satu sebesar 13,56 %.
60
50 54,24

ulangan I

Presentase (%)

40 30 20 10 0 13,56 32,2

Mesh28 Gambar 4. Modulus Kehalusan Pengayakan

100

ulangan II
70 60 50 40 30 20 10 0 persentase (%)

61,02

28,81 1,17 100

Mesh

28

Gambar 5. Modulus Kehalusan Pengayakan

16

ulangan III
60 persentase (%) 50 40 30 20 10 0 10,17 35,6 54,23

28 Mesh

100

Gambar 6. Modulus Kehalusan Pengayakan Analisis data ukuran partikel menggunakan screen shaker. Penyajian data distribusi ukuran suatu campuran (particle size distribution) ditinjau dari jumlah campuran partikel diayak dalam suatu susunan ayakan masing-masing padatan yang diperoleh, ditimbang dan dijumlahkan, setiap ayakan ukuran tertentu dihitung fraksi massa partikel yang lolos Fraksi massa yang tertahan dan diameter dan diameter rata-ratanya, data fraksi massa dan diameter ditabulasikan, disajikan dalam grafik, seperti pada Gambar 4, 5, dan 6. Modulus kehalusan dari masing masing ulangan hasil pengayakan dapat dilihat pada Tabel 2, didapatkan persentase terbesar pada masing masing mesh dari setiap ulangan adalah mesh 8 pada ulangan dua sebesar 61,02 %, mesh 28 pada ulangan tiga sebesar 35,60 %, dan mesh 100 terdapat pada ulangan satu sebesar 13,56 %. Tabel 4. Indeks Keseragaman Pengayakan Ulangan 1 2 3 Indeks Keseragaman ( kasar : sedang : halus ) 5:4:1 6:3:1 5:4:1

Menurut Fellow (1988), pengayakan merupakan satuan operasi pemisahan dari berbagai ukuran bahan untuk dipisahkan dalam dua atau tiga fraksi dengan menggunakan ayakan .setiap bahan yang keluar dari ayakan mempunyai ukuran yang seragam. Perbandingan fraksi kasar, sedang, dan halus harus berjumlah 10

17

( Ervan dan Sarif, 1989 ). Dari hasil pengamatan didapatkan indek keseragaman (kasar : sedang : halus) masing masing ulangan dapat dilihat pada Tabel 4.

Diameter Hasil Ayakan Pupuk Organik Diameter hasil ayakan pupuk organik disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Diameter Hasil Ayakan Pupuk Organik Ulangan 1 2 3 Rata rata Diameter (mm) 1,397 1,600 1,473 1,49

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa 8 mesh menghasilkan modulus kehalusan 3,33 perbandingan kasar : sedang : halus yaitu 5 : 4 : 1 dan diameter kehalusan hasil pengayakan 1,397 mm, yang merupakan hasil kasar yang perlu dilakukan penggilingan dan pengayakan lagi sebelum dikemas. Menurut Abdullah et al. (1989), kehalusan hasil gilingan ditentukan oleh ukuran lubang saringan yang digunakan selain faktor tambahan yaitu kecepatan putaran per menit (rpm) dan laju pengumpan pada alat. Dalam penelitian ini untuk mengukur kehalusan pengayakan pupuk organik digunakan seperangkat saringan (ayakan) yang berukuran 8 mesh, 28 mesh, dan 100 mesh. Perbandingan kehalusan adalah antara butiran kasar : sedang : halus. Pada proses pengayakan, bahan dibagi menjadi bahan kasar yang tetinggal dan bahan halus yang lolos melalui ayakan. Bahan yang tertinggal hanyalah partikel-partikel yang berukuran lebih besar daripada lubang ayakan, sedangkan bahan yang lolos berukuran lebih kecil daripada lubang-lubang itu. Dalam praktek sering terjadi penyimpangan. Penyimpangan dapat dinyatakan dalam efisiensi, yaitu perbandingan antara jumlah bahan yang lolos dalam kenyataannya dan jumlah bahan yang lolos secara teoritik. Efisiensi selalu lebih kecil dari satu atau kurang dari 100 %. Bagaimanapun, tingkatan efisiensi tersebut sangat berarti, terutama dalam penerapannya sebagai tujuan utama dari suatu kegiatan (Brennan, 1968).

18

Rendemen Pengayakan Pupuk Organik Rendemen ditentukan dengan membagi berat bahan yang dimasukkan dengan berat bahan yang dihasilkan kemudian dikali 100 %. Berdasarkan analisis data didapatkan rendemen dari alat pengayak pupuk organik adalah 98,3 %. Pada alat pengayak pupuk organik ini mempunyai kapasitas 84,29 kg/jam dengan dimensi rangka utama alat ( p x l x t ) adalah 120 cm x 50 cm x 100 cm, motor penggerak menggunakan motor listrik 0,5 HP, dan kerangka ayakan mempunyai dimensi 75 cm x 45 cm, sedangkan pada alat pengayak pasir yang menggunakan satu ayakan mempunyai kapasitas alat 1 ton/jam dengan dimensi rangka utama alat (p x l x t ) adalah 200 cm x 150 cm x 100 cm, motor penggerak ( electromotor ) adalah motor 0,5 HP dan kerangka ayakan pasir ini mempunyai dimensi 175 cm x 125 cm dengan kemiringan ayakan 100 yang bertujuan untuk mengalirkan material yang tersaring (pasir yang tidak halus ) maupun yang tidak tersaring ( pasir halus ) mengalir ke tempat yang telah disediakan atau tempat penampungan, didapatkan kapsitas alat pengayak pasir sebesar 0,046 kg/jam, sedangkan pada alat pengayak pupuk organik didapatkan kapasitas alat sebesar 0,025 kg/jam. Kapasitas alat pengayakan ini didapatkan dari nilai masing

masing kapasitas alat dibagi luas alat pengayak. Kebutuhan daya listrik dari alat pengayak pupuk organik ini untuk proses pengayakan sebesar 382,8 watt atau 0,38 kW.

Biaya Pokok Pengayakan Untuk perhitungan biaya pokok pengayakan diperlukan data biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap ini terdiri dari biaya penyusutan Rp 540.000,-, biaya bunga modal sebesar Rp 115.500,-, sedangkan biaya tidak tetap terdiri dari biaya perawatan atau pemeliharaan Rp 540/Jam, biaya operator sebesar Rp 3500/Jam. Berdasarkan hasil pengayakan didapatkan biaya pokok dari pupuk organik adalah Rp 376,02/kg.

Titik Impas (BEP)

19

Titik impas (BEP) menyatakan berat pupuk organik hasil ayakan yang terjadi keseimbangan antara untung dan rugi per unit waktu. Dari analisis data didapatkan titik impas alat pengayak pupuk organik sebesar 698,71 kg/th.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Telah dihasilkan rancang bangun alat pengayak pupuk organik serta dilakukan analisis biaya maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Kapasitas rata rata dari alat pengayakan didapatkan sebesar 80,77 kg/jam. 2. Rata rata modulus pengayakan hasil pengamatan masing masing mesh berturut turut yaitu : mesh 8 adalah 3,3 kg, mesh 28 adalah 1,9 dan mesh 100 adalah sebesar 0,63 kg, sedangkan indeks keseragamannya (kasar, sedang, halus) berturut turut yaitu : mesh 8 adalah 5 : 4 : 1, mesh 28 adalah 6 : 3 : 1, dan mesh 100 adalah 5 : 4 : 1. 3. Perbandingan kapasitas pengayakan pupuk organik dengan kapasitas alat pengayak pasir adalah 0,025 kg/jam/cm2 : 0,046 kg/jam/cm2, dengan cara membandingkan luas dari masing masing kedua alat pengayak tersebut. 4. Rendemen pengayakan dari alat pengayak pupuk organik ini cukup besar yaitu sebesar 98,4 %. 5. Biaya pokok pengayakan sebesar Rp 376,02 / kg dan lebih murah dari pengayakan manual yang membutuhkan tenaga, waktu dan biaya yang besar pula dan kebutuhan daya listrik pada alat ini adalah sebesar 0,38 kW.

Saran Pada penelitian ini dianjurkan untuk menyusun ayakan sesuai ukuran mesh karena akan mempengaruhi hasil akhir saat ditimbang dan mengakibatkan penghitungan hasil akhir yang tidak sempurna, serta mengurangi getaran yang dihasilkan oleh alai pengayak ini agar proses pengayakan menjadi sempurna.

20

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, K. , Syarief , A., Nugroho, dan Subekti. 1989. Teknik Pengolahan Hasil Pertanian Pangan. Bogor. Pusat Antar Universitas-Pangan dan Gizi IPB. Bogor. Brown. 1950. Screening Distantina. U. S. Sieve Series and tyler Equivalents.Inc. Fellow, P.J. 1988. Food Processing Technology. Principle and Practice. Ellis Horwood. New York. Hall, C. W dan D. C. Davis. 1978. Processing Equipment for Agricultural Products. USA. The AVI Publishing Compani Inc. Hayoshi, N. dan T. Mandang. 1990. Pengantar Ketenagakerjaan di Bidang Pertanian. Keteknikan Pertanian Tingkat Lanjut. Bogor. IPB, Bogor. hal 267. Wahyono, dkk. 2003. Kompos. http://Peternakan. Litbang. Deptan. go. id/ data htm/download/Files/juknis %20 kompos. Pdf. [19 Mei 2009 ]. Catatan : Makalah tersebut telah dimuat pada jurnal sebagai berikut : Santosa, Mislaini, dan Bustami Savutera. 2012. Rancang Bangun Alat Pengayak Pupuk Organik. Jurnal Teknologi Pertanian Andalas. Vol. 16, No. 1, Maret 2012 : 1-12.