Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM

EKOLOGI TUMBUHAN Penentuan Indeks Nilai Penting (INP) Tumbuhan Herba

Nama Nim Kelas

: A.S.Alonemarera : 101404037 : A

Kelompok : III

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Salah satu bagian ekologi adalah ekologi tumbuhan yang mempelajari berbagai komunitas tumbuhan. Setiap mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak mungkin melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati suatu komunitas, terutama apabila area tersebut sangat luas. Kadang kala kita tidak menggunakan luas minimum atau jumlah minimum yang menggunakan plot dalam meneliti vegetasi, tetapi menggunakan suatu garis imaginer lurus dengan penggunakan metode transek. Di alam jarang sekali ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Kumpulan berbagai jenis organisme disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas tumbuhan (vegetasi), komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas itu berhubungan erat dan saling bergantung. Ilmu untuk menelaah komunitas (masyarakat) ini disebut sinekologi. Di dalam komunitas percampuran jenis-jenis tidak demikian saja terjadi, melainkan setiap spesies menempati ruang tertentu sebagai kelompok yang saling mengatur di antara mereka. Kelompok ini disebut populasi sehingga populasi merupakan kumpulan individu-individu dari satu macam spesies. Metode transek digunakan untuk mengetahui persen penutupan dari suatu vegetasi, sehingga tujuannya pun sama dengan metode-metode yang lain yaitu untuk mengetahui suatu komunitas tanpa meneliti secara keseluruhan. Oleh karena itu, maka penting kiranya untuk melaksanakan praktikum ini guna memperkenalkan kepada mahasiswa tentang bagimana cara untuk mengetahui suatu komunitas dengan metode transek tanpa meneliti secara keseluruhan.

B. Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan luas penutupan tajuk tumbuhan herba dengan menggunakan kisaran penutupan tajuk herba dari Braun Blanquet dan penentuan indeks nilai penting (INP) tumbuhan herba.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi adalah ilmu yang sudah ada sejak beratus tahun lalu, pencetusnya adalah Ernest Haekel seorang zoologist berkebangsaan Jerman, kata oekologie berasal dari kata Oikos yang artinya rumah.dan logos yang artinya ilmu sehingga secara harafiah dimaksudkan kajian mengenai mahkluk hidup di habitat atau dalam lingkungannya. Pengkajian pada tingkat hirarkhi makluk hidup disamping memerlukan dukungan dan bantuan dari ilmu lain juga perkembangan teknologi serta alat, tidak terkecuali dengan ekologi tumbuhan yang sangat terkait dengan perkembangan ilmu morphologi tumbuhan dan klasifikasi tumbuhalam serta alat yang dipergunakan untuk kajian lebih dalam (Widoretno, 2012) Pernyataan organisme-organisme hidup dan lingkungan tidak hidupnya (abiotik) berhubungan erat tak terpisahkan dan saling pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. Satuan yang mencakup semua organisme di dalam suatu ruang atau daerah yang saling mempengaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik, dan daur-daur bahan yang jelas. Dari segi fungsional ekosistem dapat dianalisis dengan baik menurut segi: (i) sirkuit-sirkuit energy, (ii) rantai-rantai makanan, (iii) pola-pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang, (iv) daur-daur makan (biogeokimia, (v) perkembangan dan evolusi, dan (vi) pengendalian (cybernetics). Baik biotik maupun abiotik

mempengaruhi sifat-sifat lainnya dan kedua perlu pemeliharaan kehidupan seperti yang kita miliki di atas bumi ini (Odum, 1998). Sistem kehidupan ini selalu terjadi hubungan timbal mempengaruhi antara makhluk hidup dengan balik yang saling hidupnya

lingkungan/tempat

membentuk suatu ekosistem. Salah satu unsur yang paling penting adalah komunitas, yang dalam dunia tumbuhan lebih dikenal dengan istilah vegetasi (Hariyadi, 1991). Vegetasi dalam (komunitas) tanaman diberi nama atau digolongkan berdasarkan spesies atau makhluk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional. Dalam mempelajari vegetasi, pengamat melakukan penelitian. Unit penyusun vegetasi (komunitas) adalah populasi. Oleh karena itu semua individu yang berada di tempat pengamatan dilakukan dengan cara mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area, waktu dan biaya. Sehingga pelaksanaanya peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan(sampling) dalam menganalisa vegetasi dapat berupa bidang (plot/kuadran) garis atau titik (Suprianto, 2001). Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah (flora) dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang (spatial) dan waktu (temporal). Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan (growth form atau life form) tumbuhan dominan (terbesar, paling melimpah, dan tumbuhan karakteristik). Contoh bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan

(annual), pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak kerdil (Hardjosuwarno, 1990). Mengamati unit penyusun vegetasi yang luas secara tepat sangat sulit dilakukan karena pertimbangan kompleksitas, luas area waktu dan biaya. Oleh karena itu dalam pelaksanaannya peneliti bekerja dengan melakukan pencuplikan (sampling). Unit cuplikan atau unit sampling dalam analisis vegetasi dapat berupa bidang (plot, kuadrat, garis atau titik). Dalam perkembangannya unit cuplikan yang dipergunakan untuk suatu analisis vegetasi menggambarkan metode yang di gunakan. Dengan demikian dalam pencuplikan mengenai suatu vegetasi digunakan berbagai alternative metode diantaranya: metode kuadrat, metode garis dan metode titik (Suprianto, 2001). Kimbal (1999) menyatakan bahwa Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuhtumbuhan. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Dalam sampling ini ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh dan teknik analisa vegetasi yang digunakan. Dengan analisis vegetasi dapat diperoleh informasi kuantitatif tentang struktur dan komposisi suatu komunitas tumbuhan. Dari segi floristis ekologis pengambilan sampling dengan cara random sampling hanya mungkin digunakan apabila lapangan dan vegetasinya homogen,

misalnya padang rumput dan hutan tanaman. Pada umumnya untuk keperluan penelitian ekologi hutan lebih tepat dipakai systematic sampling, bahkan purposive sampling pun boleh digunakan pada keadaan tertentu. Luas daerah contoh vegetasi yang akan diambil datanya sangat bervariasi untuk setiap bentuk vegetasi mulai dari 1 dm2 sampai 100 m2. Suatu syarat untuk daerah pengambilan contoh haruslah representatif bagi seluruh vegetasi yang dianalisis. Keadaan ini dapat dikembalikan kepada sifat umum suatu vegetasi yaitu vegetasi berupa komunitas tumbuhan yang dibentuk oleh populasi-populasi. Jadi peranan individu suatu jenis tumbuhan sangat penting. Sifat komunitas akan ditentukan oleh keadaan individuindividu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperhatikan individu-individu atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representatif bila didalamnya terdapat semua atau sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut (Suprianto, 2001). Dengan demikian pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan.yang disebut luas minimum (Odum, 1998). Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara di mana tumbuhan atau hewan tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebarannya bergantung pada sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri. Keragaman itu tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam secara kasar dapat dikelaskan menjadi tiga kategori: (i) penyebaran teratur atau

seragam, di mana individu-individu terdapat pada tempat tertentu dalam komunitas, (ii) keberadaan acak atau kebetulan, di mana individu-individu menyebar dalam beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya, (iii) penyebaran berumpun, di mana individu-individu selalu ada dalam kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah (Michael,1994). Hipotesis individualistic (individualistric hypothesis), yang pertama kali diutarakan oleh H.A Gleason, menggambarkan komunitas sebagai suatu persekutuan yang terjadi secara kebetulan pada spesies-spesies yang ditemukan di daerah yang sama, yang semata-mata karena spesies-spesies itu kebetulan mempunyai kebutuhan abiotik yang sama, misalnya suhu, curah hujan, dan jenis tanah. Pandangan alternative, hipotesis interaktif (interactive hypothesis), yang didukung oleh F.E. Clements, melihat komunitas sebagai suatu kumpulan spesies yang berhubungan dekat, yang terlibat persekutuan tersebut karena interaksi biotic yang bersifat wajib, sehingga menyebabkan komunitas itu berfungsi sebagai suatu unit yang bersatu padu (Kimbal, 1990). Menurut Herianto (2009) Bentuk komunitas disuatu tempat ditentukan oleh keadaan dan sifat-sifat individu sebagai reaksi terhadap faktor lingkungan yang ada, dimana individu ini akan membentuk populasi didalam komunitas tersebut. Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (species richness), jumlah spesies yang mereka miliki. Mereka juga berbeda dalam hubungannya dalam kelimpahan relatif (relative abundance) spesies. Beberapa komunutas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang

jarang, sementara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang sama dengan jumlah spesies yang semuanya umum ditemukan. Keanekaragaman jenis seringkali disebut heterogenitas jenis, yaitu karakteristik unik dari komunitas suatu organisasi biologi dan merupakan gambaran struktur dari komunitas Komunitas yang mempunyai keanekaragaman tinggi lebih stabil dibandingkan dengan komunitas yang memiliki keanekaaragaman jenis rendah. Analisa vegetasi adalah salah satu cara untuk mempelajari tentang susunan (komposisi) jenis dan bentuk struktur vegetasi (masyarakat tumbuhan). Analisi vegetasi dibagi atas tiga metode yaitu : (1) mnimal area, (2) metode kuadrat dan (3) metode jalur atau transek. Salah satu metode dalam analisa vegetasi tumbuhan yaitu dengan menggunakan metode transek. Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya paling baik dilakukan dengan transek.Cara ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi. Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies ricaness) jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam dalam kelimpahan relatif (relatif abdance), spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang semenetara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang di dalam komunitas mempunyai dampak yang sangat besar pada ciri umumnya, konsep ini memiliki suatu komunitas yang berbeda kekayaan spesies yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara beranekaragam. Mepertimbangkan

kedua komponen keanekaragaman yaitu kekayaan spesies dan kelimpahan relatif (Campbell, 2002). Menurut Anonim (2012) Analisis kuantitatif komunitas tumbuhan.Untuk analisis ada beberapa metode pengambilan sampel, yaitu: 1. Metode kuadrat (Quadrat methode) 2. Metode transek (Transeck methode) 3. Metode loop (Loop methode) 4. Metode titik (Point less/point methode) 5. Metode Garis (Line method) Menurut Lestari (2012) Metode transek biasa digunakan untuk mengetahui vegetasi tertentu seperti padang rumput dan lain-lain atau suatu vegetasi yang sifatnya masih homogen.Terdapat 3 metode transek: 1. Metode Line Intercept (line transect) Metode line intercept biasa digunakan oleh ahli ekologi untuk mempelajari komunitas padang rumput. Dalam cara ini terlebih dahulu ditentukan dua titik sebagai pusat garis transek. Panjang garis transek dapat 10 m, 25 m, 50 m, 100 m. Tebal garis transek biasanya 1 cm. Pada garis transek itu kemudian dibuat segmen-segmen yang panjangnya bisa 1 m, 5 m, 10 m. Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/ dijumpai. Metode transek-kuadrat dilakukan dengan cara menarik garis tegak lurus, kemudian di atas garis tersebut ditempatkan kuadrat ukuran 10 X 10 m, jarak antar kuadrat ditetapkan secara sistematis terutama berdasarkan perbedaan

struktur vegetasi. Selanjutnya, pada setiap kuadrat dilakukan perhitungan jumlah individual (pohon dewasa, pohon remaja, anakan), diameter pohon, dan prediksi tinggi pohon untuk setiap jenis. pengamatan terhadap tumbuhan dilakukan pada segmen-segmen tersebut. Selanjutnya mencatat, menghitung dan mengukur panjang penutupan semua spesies tumbuhan pada segmen-segmen tersebut. Cara mengukur panjang penutupan adalah memproyeksikan tegak lurus bagian basal atau aerial coverage yang terpotong garis transek ketanah. 2. Metode Belt Transect Metode ini biasa digunakan untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini juga paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topograpi, dan elevasi. Transek dibuat memotong garis-garis topograpi, dari tepi laut kepedalaman, memotong sungai atau menaiki dan menuruni lereng pegunungan. Lebar transek yang umum digunakan adalah 10-20 meter, dengan jarak antar antar transek 200-1000 meter tergantung pada intensitas yang dikehendaki. Untuk kelompok hutan yang luasnya 10.000 ha, intensitas yang dikendaki 2 %, dan hutan yang luasnya 1.000 ha intensitasnya 10 %. Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik. 3. Metode Strip Sensus Metode ini sebenarnya sama dengan metode line transect, hanya saja penerapannya untuk mempelajari ekologi vertebrata teresterial (daratan). Metode strip sensus

meliputi, berjalan disepanjang garis transek, dan mencatat spesies-spesies yang diamati disepanjang garis transek tersebut. Data yang dicatat berupa indeks populasi (indeks kepadatan). Metode transek sangat baik digunakan Untuk mempelajari suatu kelompok hutan yang luas dan belum diketahui keadaan sebelumnya. Cara ini paling efektif untuk mempelajari perubahan keadaan vegetasi menurut keadaan tanah, topografi dan elevasi (Lestari, 2012)

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Alat a. b. Patok Kamera e. f. Meteran Kayu pasak : Sabtu, 06 Oktober 2012 : Pkl. 09.10 s.d. 15.00 Wita : Area Selatan Fakultas Tehnik Universitas Negeri Makassar

c. Penggaris d. Tali raffia

g. Plot 1x1 m h. Alat tulis

2. Bahan : a. Tanaman yang ada di dalam plot pada lahan dengan vegetasi yang heterogen C. Prosedur Kerja 1. Memilih suatu komunitas dengan tingkat heterogenitas tumbuhannya cukup tinggi dengan membagi 3 lokasi yaitu daerah terbuka, setengah ternaung, dan ternaung. 2. Membuat tiang patok garis transek secara vertical atau tegak lurus, dimana pada kedua titik patok tersebut dihubungkan dengan tali raffia sepanjang 100 meter. 3. Menempatkan plot pada garis transek tersebut dengan ukuran 1 x 1 m . 4. Hal ini dilakukan berulang sebanyak 10 kali pada garis transek tersebut dengan jarak antar plot yaitu 9 meter

5. Mencatat nama tiap spesies herba yang ada dalam satu plot dan menghitung luas tajuknya 6. Melakukan hal yang sama pada lokasi lain (ternaung dan setengah ternaung). 7. Menganalisis data yang diperoleh dengan parameter frekuensi mutlak dan relative serta dominansi mutlak dan relative masing-masing spesies guna memperoleh indeks nilai pentingnya D. Teknik Analisis dan Pengolahan Data Teknik analisis data yang kami gunakan adalah observasi, sedangkan teknik pengolahan data yang kami gunakan adalah program R-software.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. 1. Hasil Daerah terang (transek 1)

2.

Daerah terang (transek 2)

3.

Daerah terang (transek 3)

4.

Tempat terang (transek 4)

5.

Daerah terang (transek 5)

6.

Daerah setengah ternaung (transek 6)

7.

Daerah setengah ternaung (transek 7)

8. Daerah setengah ternaung (transek 8)

9.

Daerah setengah ternaung (transek 9)

10. Tempat setengah ternaung (transek 10)

11. Daerah ternaung (transek 11)

12. Daerah ternaung (transek 12)

13. Daerah ternaung (transek 13)

14. Daerah ternaung (transek 14)

15. Daerah ternaung (transek 15)

B. Pembahasan Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan indeks nilai penting (INP) tumbuhan herba dengan memanfaatkan tetapan kisaran penutupan tajuk herba dari Braun Blanquet. Ada tiga lokasi yang kami gunakan sebagai area pengamatan, yakni daerah terang, setengan ternaung dan daerah ternaung. a. Daerah Terang Spesies yang memiliki indeks nilai penting pada transek 1 adalah Arondinella setosa, transek 2 adalah Arondinella setosa, transek 3 adalah Axonopus compressus, transek 4 Arondinella setosa, dan transek 5 adalah Panicum maximum. Dari sederet nama spesies yang memiliki nilai indeks penting dari 5 transek pada daerah terang, maka spesies Arondinella setosa yang lebih mendominasi dalam pemerolehan indeks nilai penting tertinggi. Maka dapat dikatakan bahwa spesies Arondinella setosa adalah spesies yang paling mendominasi seluruh plot di daerah terang. b. Daerah setengah ternaung Spesies yang memiliki indeks nilai penting pada transek 6 adalah Imperata cylindrica, transek 7 adalah Passiflora foetida, transek 8 adalah Arondinella setosa, transek 9 Passiflora foetida, dan transek 10 adalah Imperata cylindrica.

Dari sederet nama spesies yang memiliki nilai indeks penting dari 5 transek pada daerah terang, maka spesies Imperata cylindrica yang lebih mendominasi dalam pemerolehan indeks nilai penting tertinggi. Maka dapat dikatakan bahwa spesies Imperata cylindrica adalah spesies yang paling mendominasi seluruh plot di daerah setengah ternaung. c. Daerah ternaung Spesies yang memiliki indeks nilai penting tertinggi dari transek 11 sampai transek 15 adalah Imperata cylindrica. Maka dapat dikatakan bahwa spesies Imperata cylindrica adalah spesies yang paling mendominasi seluruh plot di daerah ternaung Analisa vegetasi adalah suatu cara untuk mempelajari struktur (bentuk) dan komposisi (jenis) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Sedangkan komposisi adalah jenis-jenis yang membangun suatu komunitas hutan. Untuk mengetahui komposisi dari suatu vegetasi terlebih dahulu diketahui sejumlah karakteristik tertentu dari vegetasi tersebut diantaranya; kerapatan, penyebaran, dominansi dan nilai penting dari masing-masing jenis. Dominasi suatu jenis ditentukan oleh indeks nilai pentingnya. Jenis vegetasi yang dominan adalah yang paling tinggi indeks nilai pentingnya. Indeks nilai penting adalah jumlah dari frekuensi relatif, dominasi relatif dan kerapatan relatif. Namun dalam praktikum ini, hanya menggunakan 2 variabel untuk menghitung indeks nilai penting, yakni frekuensi relatif dan dominansi relatif Sebaran suatu spesies dikontrol oleh faktor lingkungannya terutama berlaku bagi organisme yang mempunyai kisaran kemampuan adaptasi yang sempi. Tumbuhan

dalam fase awal kehidupannya sering mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Faktor-faktor yang membatasi distribusi antara lain iklim, faktor edafis dan interaksi dengan tumbuhan lain..

BAB V KESIMPULAN
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang kami peroleh pada masing-masing transek di 3 area pengamatan, dengan menggunakan kisaran penutupan tajuk dari Braun Blanquet dalam penentuan luas penutupan tajuk tumbuhan herba, maka diperoleh indeks nilai penting tertinggi masing-masing transek adalah: transek 1 adalah Arondinella setosa, transek 2 adalah Arondinella setosa, transek 3 adalah Axonopus compressus, transek 4 Arondinella setosa, dan transek 5 adalah Panicum maximum, transek 6 adalah Imperata cylindrica, transek 7 adalah Passiflora foetida, transek 8 adalah Arondinella setosa, transek 9 Passiflora foetida, dan transek 10 adalah Imperata cylindrical, transek 11 sampai transek 15 adalah Imperata cylindrical.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Analisis Kuantitatif Komunitas Tumbuhan. http://ekologi.edu.net. Diakses 01 Oktober 2012 Campbell, Neil A, Reece, Mitchell. 2002. Biologi Edisi V Jilid 3. Jakarta: Erlangga Hariyadi, Wito. 1991. Biologi. Surabaya: SIC Surabaya. Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Negeri Gadjah Mada. Heriyanto. 2009. Ekologi tumbuhan. http://heriyanto-riyan.blogspot.com/. Diakses 01 Oktober 2012 Kimball. 1999. Biologi Edisi kelima Jilid II . Jakarta : Erlangga Kimball, John W. 1990. Biologi. Jakarta: Erlangga Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Dinas Kehutanan. Jakarta. Odum, Eugene P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. UGM Press. Jogjakarta. Suprianto. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UPI. Widoretno. 2012. Ekologi Tumbuhan. http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/ekologitumbuhan/. Diakses 01 Oktober 2012 Lestari, Endah. 2012. Metode Transek. http://ndhhlestari.blogspot.com/2012/02/metode-transek.html. diakses 01 Oktober 2012